Arsip Blog

Manfaat Lahan Gambut Bagi Kehidupan yang Kian Tergadai

Kebakaran hutan dan lahan yg terjadi di Desa Pelang, Ketapang, Kalbar tahun 2015.

Kebakaran hutan dan lahan pada tahun 2015 yang terjadi di Desa Pelang, Ketapang, Kalbar. Foto dok. Yayasan Palung

Indonesia  memiliki hutan dan lahan gambut terluas di dunia, setidaknya kata itu yang cocok untuk dikatakan. Tersedianya lahan gambut yang luasnya mencapai 21-22 juta hektar (sumber data; Mongabay Indonesia) tersebut  sudah pasti pula memiliki sedikit banyak manfaat bagi kehidupan semua makhluk hidup yang mendiami bumi ini.

Lahan gambut  atau tanah gambut memang ditakdirkan untuk tidak subur karena memiliki tingkat keasaman tanah yang tinggi, apa lagi jika diganti dengan tumbuhan atau tanaman lainnya, hanya tumbuhan yang cocoklah yang bisa tumbuh di lahan gambut. Adapun ragam tumbuhan yang dapat tumbuh baik di rawa gambut seperti meranti, punak, jelutung, kompas atau kempas  dan ramin adalah  tanaman asli gambut.

Selain juga tanaman sekunder yang cocok untuk tumbuh di lahan gambut seperti karet, nanas, sagu yang memiliki manfaat ekonomis sebagai alternatif pendapatan masyarakat secara berkelanjutan. Ketersediaan ragam tumbuhan asli gambut pun menyimpan tidak sedikit oksigen dan karbon yang salah satunya sebagai sumber hidup tidak sedikit bagi nafas makhluk hidup.

Bagi nafas dan keberlanjutan makhluk, ini yang menjadi tanda manfaat nyata tekait kondisi gambut saat ini. Luasan lahan gambut begitu banyak yang terampas, tergadai hingga menjelang terkikis habis. Kondisi inilah sejatinya menjadi sebuah tanda tanya, apakah  hutan dan lahan gambut terus menerus akan bisa bertahan dan dapat (di/ter)selamatkan?.

Apabila hutan dan lahan gambut dapat (di/ter)selamatkan, sudah pasti keberlanjutan nafas hidup semua makhluk hidup yang berada di wilayah gambut akan selalu memperoleh manfaat baik. Salah satunya terhindar dari kebakaran, tidak rentan terhadap banjir dan kebakaran lahan dan kabut asap. Hal yang sama juga terjadi baik adanya bagi makhluk hidup seperti satwa/primata, rumah atau habitat mereka (satwa) tetap terjaga.

Demikian juga halnya apabila lahan gambut kian digerus maka akan terjadi sebaliknya kita semua makhluk hidup akan menerima dampak langsung. Tidak sedikit contoh kasus. Lihat dampak kebakaran lahan dan kabut asap, berdasarkan data dari BBC Indonesia menyebutkan; setidaknya dampak ekonomi yang ditimbulkan akibat kabut asap mencapai 200 trilliun.(Sumber:http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/10/151026_indonesia_kabutasap ).

Hal yang sama juga terjadi, ketika hilangnya luasan hutan dan lahan gambut akan selalu berdampak tidak baik bagi lingkungan hidup dan makhluk hidup disekitarnya atau lingkungan lainnya. Hilangnya luasan hutan dan lahan gambut berarti juga menghilangkan tidak sedikit oksigen dan karbon. Sementara karbon yang ada sangat bermanfaat bagi lingkungan dan keberlangsungan makhluk hidup tidak terkeculi untuk mengatasi terjadinya peningkatan suhu di bumi.

Salah satu cara agar hutan ataupun lahan gambut dapat lestari dan berlanjut tidak lain dengan ada peran serta, perhatian dan tindakan nyata dari semua pihak, siapapun itu tanpa terkecuali. Dengan adanya perhatian dari semua pihak tersebut pula setidaknya mempermudah dalam bagaimana mengelola lahan secara bijaksana dan lestari.

Mengingat, hutan dan lahan gambut merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dalam tatanan kehidupan makhluk hidup. Tidak sedikit cara yang dapat dilakukan oleh semua untuk menjaga satu kesatuan makhluk hidup lebih khusus lahan gambut sebagai tempat (habitat hidup) semua makhluk hidup pula.

Apabila hutan dan lahan gambut dapat dikelola dengan bijaksana salah satunya agar ada tata aturan yang tegas dapat diberlakukan secara adil dan tidak memihak. Selain itu juga, tidak lagi membuka lahan baru berskala besar lebih khusus hutan gambut, rawa gambut atau lahan gambut  hampir pasti segala makhluk hidup yang mendiami bumi dapat bernyanyi riang dan dapat berlanjut sampai nanti dan lestari.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung