Arsip Blog

Mengapa Kita Penting untuk Merayakan Pekan Peduli Orangutan?

Stiker PPO 2017. Foto dok. Yayasan Palung

Stiker PPO 2017. Foto dok. Tim Laman dan Yayasan Palung

Setiap tahun Pekan Peduli Orangutan (PPO) selalu diperingati setiap November. “Act Now Preserve to Future adalah tema yang diusung pada tahun ini, atau kurang lebih jika diterjemahkan “Bertindak Sekarang untuk Mempertahankan Masa Depan”.

Mengapa Pekan Peduli Orangutan Itu Perlu Dirayakan?

Terri Lee Breeden selaku Direktur Program Yayasan Palung mengatakan, Orangutan sangat terancam punah, artinya tidak banyak yang tersisa. Jika kita tidak bekerja sekarang untuk menyelamatkan orangutan dan habitatnya maka mereka akan punah dalam masa hidup kita. Tidak adil rasanya jika generasi mendatang tidak peduli dan mengusir hewan ini.

Lebih lanjut, Terri, demikian sapaannya sehari-hari mengatakan, Yayasan Palung mengajak orang-orang dari seluruh dunia, terutama di Ketapang dan Kayong Utara untuk mengikuti Pekan Peduli Orangutan. Tujuan kami adalah untuk melakukan penyadartahuan kepada semua lapisan masyarakat tentang mengapa orangutan sangat istimewa dan aktivitas sederhana yang dapat mereka lakukan untuk membantu menyelamatkan orangutan.

Tahun ini, Yayasan Palung sebagai lembaga konservasi orangutan bersama dengan para relawan dalam rangka memperingati PPO 2017 akan melakukan serangkaian kegiatan seperti lomba mewarnai gambar orangutan untuk anak-anak usia dini tingkat Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar di Desa Pampang Harapan, Sabtu (18/11/2017), pekan ini. Gambar-gambar orangutan hasil dari lomba mewarnai tersebut selanjutnya di posting di dalam media sosial dengan hastag (#) #OrangutanCaringWeek #OrangutanCaringWeek2017 #YayasanPalung #PPO #PPO2017

Tidak hanya itu, Relawan RebonK (Relawan Bentangor untuk Konservasi) juga akan menyuguhkan drama yang bercerita tentang kisah hidup orangutan di hutan.

Selanjutnya, pada malam harinya rencananya akan dilakukan pemutaran film lingkungan yang lokasinya di halaman Kantor Yayasan Palung tepatnya di samping kantor Desa Pampang Harapan. Rencananya film-film yang akan diputar adalah film konservasi dan satwa dilindungi tidak terkecuali film orangutan sekaligus juga melakukan sosialisasi tentang satwa dilindungi, ujar Hendri Gunawan, selaku panitia kegiatan dan pembina para relawan.

Di tempat yang berbeda, teman-teman Penerima Beasiswa Orangutan Kalimantan (BOCS) yang juga akan mengadakan serangkaian kegitan dalam rangka PPO 2017. Adapun kegiatan yang dilakukan adalah Pendidikan Lingkungan di Panti Asuhan “NURUL IMAN” Sungai Rengas, Pontianak, pada Minggu (19/11/2017). Di Panti Asuhan, teman-teman BOCS akan melakukan rangkaian kegiatan seperti Penyampaian materi tentang; Manusia, Hutan dan Orangutan. Dilanjutkan dengan Pemutaran film pendek dan diskusi, ujar Ranti Selaku pembina teman-teman BOCS.

Berharap, semoga kegiatan PPO 2017 dapat berjalan sesuai dengan rencana dan mendapat respon baik dari masyarakat sebagai sumber informasi dan penyadartahuan untuk peduli terhadap orangutan sebagai satwa endemik dan habitatnya.

Tulisan ini juga dimuat di Kompasiana

UC Media

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Iklan

GPOCP Beri Kuliah Umum tentang Penelitian dan Konservasi Orangutan dan Primata

Beberapa peserta yang menyempatkan diri berfoto bersama. Foto dok. Yayasan Palung

Beberapa peserta yang menyempatkan diri berfoto bersama. Foto dok. Yayasan Palung

Rabu pagi (20/9/2017), tampak berbeda dari hari-hari biasanya di Fakultas MIPA Universitas Tanjungpura Pontianak. Berbedanya, tidak lain ialah karena adanya kuliah umum yang disampaikan oleh Gunung Palung Orangutan Conservation Program (GPOCP) terkait penelitian, konservasi primata di Taman  Nasional Gunung Palung (TNGP).

Pada kuliah umum yang dimulai sejak pukul 08.00 Wib tersebut, acara dibuka langsung oleh wakil dekan I Fakultas MIPA Untan, Mulyadi S. Si, M.Si.

Kuliah umum yang disampaikan terdiri dari empat presentasi. Pertama, terkait konservasi orangutan di Gunung Palung yang disampaikan Terri Lee Breeden, selaku direktur Program Konservasi Yayasan Palung.

Kedua di Brodie Philp (Manager Peneliti Orangutan), terkait penelitian orangutan. Ketiga, disampaikan Elizabeth Barrow, dari program Kelempiau dan Kelasi (KKL) terkait penelitian primata.

Selanjutnya juga disampaikan presentasi terkait prosedur untuk kegiatan magang dan penelitian di Cabang Panti, TNGP. Sebagai pemateri adalah Wahyu Susanto, selaku Direktur Penelitian Yayasan Palung.

 

Dalam pemaparannya pada presentasi, Terri menjelaskan terkait program konservasi yang Yayasan Palung lakukan terkait ancaman dan strategi. Salah satunya, saat ini berdasarkan data dapat dikatakan bahwa masih terjadinya orangutan kehilangan habitatnya di Zona Penyangga TNGP,  masih maraknya perburuan liar, masih minimnya peluang pendapatan ekonomi masyarakat lokal, masih rendahnya pengetahuan masalah lingkungan dan kepedulian serta masih minimnya informasi terkait populasi dan status orangutan. Dengan demikian perlu strategi untuk mengatasi masalah tersebut diantaranya dengan melakukan berbagai kegiatan atau program konservasi seperti; Hutan desa, penyelamatan satwa, mata pencaharian berkelanjutan, pendidikan lingkungan dan kampanye penyadartahuan.

Terri Lee Breeden Saat menyampaikan presentasi tentang program konservasi. Foto dok. Yayasan Palung

Terri Lee Breeden Saat menyampaikan presentasi tentang program konservasi. Foto dok. Yayasan Palung

Brodie menyampaikan sejarah dimulainya penelitian di Cabang Panti, Gunung Palung sejak tahun 1985 silam. Selain itu juga keunikan tipe habitat hutan di gunung palung yang boleh dikatakan terlengkap karena memiliki 8 tipe habitat yaitu; hutan rawa gambut (peat swamp forest), hutan rawa air tawar (fresh water forest), hutan tanah alluvial (alluvial forest), hutan dataran rendah berbatu (lowland granite forest), hutan dataran rendah berbatu-pasir (lowland sandstone forest), hutan dataran tinggi berbatu (upland granite forest) dan hutan pegunungan (montane forest).

Brodie Philp saat menyampaikan presentasinya. Foto dok. Yayasan Palung

Brodie Philp saat menyampaikan presentasinya. Foto dok. Yayasan Palung

Sedangkan Elizabeth Barrow menyampaikan materi tentang keberadaan populasi kelempiau. Terkait dinamika populasi kelempiau yang ada di Cabang Panti, seperti populasi kelempiau yang hidup diatas 800 mdpl lebih sedikit dibandingkan populasi kelemipau yang berada dibawah 800 mdpl ternyata lebih banyak dan subur.

Elizabeth Barrow saat menyampaikan prsentasinya. Foto dok. Yayasan Palung

Elizabeth Barrow saat menyampaikan prsentasinya. Foto dok. Yayasan Palung

Sedangkan Wahyu Susanto menyampaikan beberapa prosedur terkait magang dan penelitian diataranya, Mahasiswa/i harus terlebih dahulu mengurusi surat ijin atau surat tugas magang atau penelitian dari kampus dan mengurus surat ijin masuk kawasan (SIMAKSI) terlebih dahulu kepada Balai Taman Nasional Gunung Palung (BTNGP).

Wahyu Susanto Saat menyampaikan Presentasinya tentang prosedur magang dan penelitian di SPCP. Foto dok. Yayasan Palung

Terkait kuliah umum yang disampaikan tersebut tampak antusias dari peserta mengikuti kegiatan. Beberapa peserta menyakan terkait daerah jelajah orangutan dan kelempiau, ternyata daerah wilayah jelajahnya terjadi tumbang tindih. Menariknya, dari informasi dari para peneliti menjelaskan berdasarkan penelitian mereka menyatakan bahwa tidak masalah adanya tumbang tindih antara orangutan dengan kelasi dan kelempiau. Akan tetapi yang sering terjadi konflik malah antara kelempiau dan kelasi.

Selain itu juga mahasiswa menanyakan terkait pengaruh cuaca dan perilaku orangutan, bila orangutan pada musim hujan bisa membuat payung dan pada musim panas orangutan keseringan membuat sarang.

Jenis penyakit yang ada terdapat pada orangutan berdasarkan sampel feses. Terkait jenis penyakit, orangutan dapat menularkan penyakit diantaranya adalah parasit apakah penyakit berasal dari orangutan atau dari manusia. dari suhu feses juga peneliti dapat mengetahui orangutan sakit atau tidaknya, misalnya sakit demam.

Adapun tujuan dari kuliah umum ini diselenggara tidak lain adalah sebagai bentuk untuk berbagi ilmu pengetahuan tentang dunia konservasi orangutan dan primata yang dikhususkan bagi mahasiswa, ujar Wahyu Susanto.

Terselenggaranya kegiatan ini juga atas dasar kerjasama program penelitian dari GOPCP (Yayasan Palung) dan Universitas Tanjungpura Pontianak, khususnya Fakultas MIPA dan Kehutanan, kata Wahyu.

Peserta yang ikut dalam kuliah umum. Foto dok. Yayasan Palung

Peserta yang ikut dalam kuliah umum. Foto dok. Yayasan Palung

Dalam kuliah umum tersebut dihadiri lebih dari 50 peserta dari Fakultas MIPA, Kehutanan, beberapa peserta juga  dari fakultas lain dan dari mahasiswa penerima beasiswa orangutan (BOCS). Kegiatan berakhir pukul 11.00 Wib dan mendapat sambutan baik dari para peserta yang hadir dalam kegiatan tersebut.

Tulisan ini juga dimuat di Tribun Pontianak cetak dan online, untuk membaca klik di : GPOCP Beri Kuliah umum tentang Orangutan

Dimuat juga di URI.co.id , untuk membaca klik : GPOCP Beri Kuliah Umum Tentang Observasi Orangutan

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

 

YP Mengajak Anak Sekolah  Belajar Bersama tentang Gambut  Lewat Puppet dan Lecture

Saat Mariamah Achmad menyampaikan materi tentang Gambut. Foto dok. Yayasan Palung.jpg

Saat Mariamah Achmad menyampaikan materi tentang Gambut. Foto dok. Yayasan Palung

Senin dan Selasa (21-22/8/2017) pekan lalu, kami berkesempatan menyambangi sekolah-sekolah untuk belajar bersama dengan anak sekolah di wilayah Muara Pawan dan Matan Hilir Utara (MHU) tentang gambut.

Tidak bisa disangkal, gambut merupakan salah satu habitat orangutan. Terlebih di wilayah-wilayah yang merupakan kantong habitat orangutan. Pada kesempatan tersebut, kami memberikan penyadartahuan tekait satwa dilindungi dan habitatnya di sekolah-sekolah yang ada di Wilayah Muara Pawan dan Matan Hilir Utara (MHU).

Dalam kesempatan puppet show tersebut, kami menceritakan satwa-satwa dilindungi dan beberapa diantaranya mendiami wilayah gambut.

Di hari pertama, Senin (21/8), kami berkesempatan mengajak anak-anak belajar bersama tentang Gambut. Dalam kegiatan tersebut, Yayasan Palung berkesempatan menyambangi SDN 10 Muara Pawan untuk belajar bersama tentang gambut lewat cerita puppet show (media boneka) dan SMPN 2 Muara Pawan, kami menyampaikan lecture (ceramah lingkungan). Kesempatan kedua, Selasa (22/8), kami berkesempatan mngunjungi SDN 1 dan SMPN 2 Matan Hilir Utara (MHU).

Mariamah Achmad, Sebagai pemateri sekaligus Manager Pendidikan Lingkungan dan media kampanye dari Yayasan Palung menjelaskan saat lecture mengatakaan; Gambut merupakan tanah yang lebih banyak mengandung unsur organik, tanah gambut banyak ditemukan didaerah yang tergenang air serta tanah gambut merupakan jenis tanah yang pembentukannya dihambat oleh kadar asam di airnya terlalu tinggi sehingga memperlambat pembusukan unsur-unsur organik yang ada di dalamnya.

Saat memainkan puppet show dan bercerita satwa dilindungi dan habitatnya. Foto dok. Yayasan Palung.jpg

Saat memainkan puppet show dan bercerita satwa dilindungi dan habitatnya. Foto dok. Yayasan Palung

Lebih lanjut, Mayi sapaan akrabnya menjelaskan, fungsi dari tanah gambut ialah sebagai bahan sumber energi dan juga keseimbangan ekosistem, sedangkan hutan gambut berfungsi sebagai penyuplai air dan mencegah banjir, serta menjadi tempat hidup yang nyaman bagi satwa-satwa yang ada didalamya termasuk orangutan dan juga satwa dan tumbuhan  endemik kalimantan. Beberapa satwa endemik yang mendiami hutan gambut dan rawa gambut seperti bekantan yang hidup ditepian sungai. Ada pula rusa dan beruang. Sedangkan beberapa tumbuhan yang hidup dihutan rawa gambut seperti ramin, meranti, nyatoh, ubah, punak, medang, kantong semar, rotan dan sagu.

Mayi juga mengatan, peran dari semua pihak menjadi sangat penting untuk menjaga dan melindungi lahan gambut, termasuk generasi muda sejak dini.

Saat tanya jawab dengan siswa-siswi yang mengikuti lecture. Foto dok. Yayasan Palung.jpg

Saat tanya jawab dengan siswa-siswi yang mengikuti lecture. Foto dok. Yayasan Palung

Penyampaian puppet show dan lecture kepada anak sekolah di tingkat Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah sebagai salah satu cara Yayasan Palung untuk mengkampanyekan dan penyadartahun kepada siswa-siswi usia dini terkait perlunya menjaga lahan gambut yang ada karena peran dan fungsi dari gambut yang sangat penting bagi semua makhluk hidup terlebih gambut dalam.

Di tempat terpisah, Syahik Nurbani, Koordinator Survei dari Yayasan Palung mengatakan, Fungsi hutan gambut secara ekologis penyimpan karbon, penghasil oksigen, menjaga keanekaragaman hayati yaitu sebagai tempat pemijahan ikan dan satwa liar lainnya. lebih lanjut menurutnya gambut memiliki fungsi lainnya sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan antara lain memelihara kesuburan tanah, mengatur tata air, mencegah banjir.

Tak kurang  43 murid yang mengikuti kegiatan puppet show di SDN 10 Muara Pawan, 38 murid di SMPN 2 Muara Pawan yang ikut ambil bagian dalam lecture. Sedangkan yang hadir dalam puppet show di SDN 01 diikuti oleh 60 murid dan lecture di SMPN 2 Matan Hilir Utara (MHU) diikuti oleh 81 murid.

Dalam kegiatan puppet show dan lecture di dua kecamatan tersebut dilakukan oleh tim Pendidikan Lingkungan dan media kampanye Yayasan Palung, ikut serta pula penerima beasiswa BOCS.

Kegiatan yang dilasanakan tersebut berjalan sesuai rencana dan mendapat sambutan baik dari pihak sekolah serta siswa-siswi yang hadir.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Ini Video Unik Orangutan di Gunung Palung : Kiss Squeak dengan Daun


Unik dan menarik orangutan yang dimaksud adalah perilaku atau budaya terkait Kiss Squeak. Apa itu Kiss Squeak?. Pada umumnya, kiss squeak (budaya orangutan ketika merasa terancam di tempat hidupnya ketika ada orangutan lain yang berusaha mendekati wilayahnya, maka orangutan yang merasa terancam tersebut akan mengeluarkan suara Kiss Squeak).

Ini Videonya

Untuk informasi lebih lengkap dapat dibaca di : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/ini-fakta-unik-orangutan-di-gunung-palung_591d701e4423bd66479594fb

Petrus Kanisius- Yayasan Palung