Kesling Demi Pelayanan Kesling, Rela Menyusuri Jalan Berlumpur

Jalan yang penuh lumpur yang kami lalui saat melakukan pelayanan Kesling di Dusun Pangkalan Jihing. Foto dok. Yayasan Palung

Jalan yang penuh lumpur yang kami lalui saat melakukan pelayanan Kesling di Dusun Pangkalan Jihing. Foto dok. Yayasan Palung

Mungkin kata itu yang cocok untuk saya gambarkan dan rasakan terkait keadaan jalan yang kami tempuh ketika kami dari Yayasan Palung bersama dengan Yayasan ASRI melakukan pelayanan kesling (kesehatan lingkungan) di Dusun Pangkalan Jihing, selama 3 hari (13-15 Maret 2016), kemarin.

Perjalanan panjang menyusuri waktu hingga rela menyusuri lumpur, memang tidak semua jalur atau jalan penuh lumpur. Akan tetapi, sejatinya hanya beberapa titik. Ada dua titik jalur jalan yang tergolong rusak cukup parah adalah jalur dari dusun Cali menuju dusun Pangkalan Jihing, Desa Pangkalan Teluk, Kec. Nanga Tayap, Kab. Ketapang, Kalbar. Selanjutnya titik jalan yang rusak di ruas jalan dari dusun Cali menuju ruas jalan ke arah Sumber Periangan, Desa Semblangaan, Nanga Tayap.

Salah satu jalur jalan yang cukup parah rusaknya dari Cali menuju Pangkalan Jihing. Foto dok. Yayasan Palung

Salah satu jalur jalan yang cukup parah rusaknya dari Cali menuju Pangkalan Jihing. Foto dok. Yayasan Palung

Dari jalur yang  rusak, kami mengalami dua kali amblas saat kami pulang dan pergi dari kegiatan. Kubangan lumpur tersebut cukup membuat kami harus bergaul, si driver mobil kami tidak hanya harus bergaul bercampur (rela sesekali turun dari mobil untuk memasang tali, menempelkan badan hingga tubuh, baju dan celana tertempel lumpur) untuk ditarik mobil. Amblas yang kami alami cukup memaakan waktu hingga puluhan menit. Sesekali kami mendorong mobil namun tetap amblas. Beruntung kami dibantu oleh mobil dari teman-teman dari Yayasan ASRI untuk menarik mobil yang kami tumpangi.

Menyusuri lumpur dan perjalan panjang, ya karena kami setidaknya kami harus menyusuri jalan tanah yang harus kami tempuh 2 jam  lebih perjalanan untuk tiba di dusun Pangkalan Jihing.

Saat teman-teman Yayasan ASRI melakukan pemeriksaan pasien yang berobat. Foto dok. Yayasan Palung

Saat teman-teman Yayasan ASRI melakukan pemeriksaan pasien yang berobat. Foto dok. Yayasan Palung

Untuk rangkaian kegiatan pelayanan Kesling (Kesehatan Lingkungan) di Dusun Cali, Yayasan Palung diajak oleh Yayasan ASRI atas kerjasama. Sesekali Yayasan Palung ikut dalam kegiatan Kesling yang dilakukan oleh Yayasan ASRI. Yayasan ASRI selalu rutin melakukan pelayanan kesehatan (pengobatan) bagi warga masyarakat di dusun Pangkalan Jihing setiap bulannya. Warga masyarakat yang berobat dibayar dengan bibit pohon. Sedangkan Yayasan Palung melakukan pemutaran film lingkungan dan puppet show (panggung boneka) sebagai kampanye penyadartahuan/sosialisasi perlindungan satwa di Tanah Kayong ke Sekolah-sekolah dan masyarakat.

Pada malam harinya, kami melakukan pemutaran film lingkungan, film lingkungan yang kami putar adalah film tentang keterancaman nasib hidup orangutan (film Mission Critical Orangutan on The Edge), Potret Keadaan Hutan Indonesia (State of Indonesia’s Forest) 2009-2013 dan film hiburan; Warkop DKI Reborn. Tampak masyarakat antusias dan senang dari film yang mereka tonton.

Pelayanan kesehatan bagi masyarakat, Yayasan ASRI melakukan pengobatan silih berganti kepada warga masyarakat. Ragam keluhan mayarakat yang berobat diantaranya batuk pilek ( flu), demam, periksa kandungan dan ada suntik KB. Setidaknya ada kurang lebih 20 orang pasien yang melakukan pemeriksaan.

Dalam kegiatan puppet show, siswa-siswi Sekolah Dasar Negeri 20 Nanga Tayap yang ada di Dusun Pangkalan Jihing terlihat sangat antusias memainkan boneka satwa dilindungi yang kami mainkan. Kami juga menjelaskan tentang gambar-gambar satwa dilindungi seperti orangutan, bekantan, kelasi, kelempiau, burung enggang dan trenggiling di Tanah Kayong (KKU dan Ketapang) Kalbar.

Saat kami melakukan pendidikan lingkungan melalui media boneka. Foto dok. Yayasan Palung.jpg

Saat kami melakukan pendidikan lingkungan melalui media boneka. Foto dok. Yayasan Palung

Kami juga menceritakan melalui media boneka tentang; peranan penting satwa dilindungi terlebih habitatnya berupa hutan harus terus tetap ada dan lestari. Kami menceritakan, hutan sebagai sumber hidup bagi semua makhluk hidup. Termasuk hutan sebagai penyedia sumber air bersih dan pencegah segala gangguan akibat dari hilangnya hutan (bencana). Siswa-siswi kami ajak menyanyikan lagu Si Pongo; Si Pongo, Si Pongo dia tinggal hutan. Si Pongo, Si Pongo makan buah-buahan…. Hutan si Pongo kemana habisnya, dimana Si Pongo dapat makanannya… Jagalah hutan dan pepohonannya sebelum Si Pongo lapar dan punah….

Saat kami berada di dusun Pangkalan Jihing menemukan ada salah satu warga masyarakat yang memilihara satwa dilindungi. Satwa yang dipelihara tersebut adalah anak burung enggang. Menurut penutuan warga tersebut, anak burung enggang dipelihara karena kasihan sebab lobang kayu (dawak) tempat hidup anak enggang tersebut telah tumbang/roboh. Seperti terlihat, anak enggang tersebut diumpan dengan nasi oleh pemiliharanya.

Serangkaian kegiatan yang kami lakukan berjalan sesuai dengan rencana dan mendapat sambutan baik dari warga masyarakat di dusun Pangkalan Jihing. Selanjutnya, pada hari ketiga, kami mengakhiri rangkaian kegiatan dan kembali ke Kab. Ketapang, sedangkan teman-teman dari Yayasan ASRI kembali ke Kab. Kayong Utara. Dari Yayasan Palung yang hadir dalam kegiatan Kesling tersebut adalah Ranti Naruri, Petrus Kanisius dan dua orang anak magang; Ridho Pratama dan Maulina serta driver bang Panji. Sedangkan dari Yayasan ASRI adalah dr. Vita, Evans Juniansyah, Aulia dan  bang Okto.

Dalam perjalanan pulang menuju ke Ketapang, mobil yang kami tumpangi mengalami amblas lagi, karena jalan yang kami lewati rusak, berlumpur dalam sehingga mobil cukup sulit melaluinya, kami pun kembali ditarik. Namunpun demikian, kami tetap senang dalam melakukan rangkaian kegiatan tersebut.

Baca juga tulisan yang sama di Kesling Demi Pelayanan Kesling, Rela Menyusuri Jalan Berlumpur

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

 

 

 

 

 

 

Asyiknya Fieldtrip Bersama Para Pihak di Hutan Lubuk Baji Kawasan Penyangga TNGP

WS_Lubuk Baji_ 170321_074.JPG

Saat peserta Fieldtrip menuju Lubuk Baji. Foto dok. Wahyu Susanto

Tak hanya kunjungan lapangan (fieldtrip), namun menjelajahi hutan bisa dikata banyak hal yang dapat dilakukan diantaranya mengembangkan sinergisitas dengan para pihak. Setidaknyanya itulah yang Yayasan Palung (GPOCP) dan BTNGP dengan Para Pihak lakukan selama tiga hari (14-16 Maret 2017) kemarin, di Lubuk Baji yang merupakan Kawasan Penyangga Taman Nasional Gunung Palung.

Selama berkegiatan, terlihat capek dari raut wajah peserta yang baru pertama alias jaran mengunjungi hutan. Apabila boleh dikata, mereka terlihat capek, ngos-ngosan menjelajahi dan naik turun bukit selain jarang mengunjungi hutan juga karena faktor usia dan postur badan yang berisi. Hehehe…

Akan tetapi, rasa capek yang mereka rasakan dijamin terbayar lunas dengan hamparan hutan di sekitar kawasan menuju hingga saat berada (sampai) di kawasan Lubuk Baji, TNGP. Benar saja, ragam suara enggang, kelempiau sesekali akrab terdengar tak jauh dari kami, namun enggan menampakan dirinya. Demikian juga suara pancuran air terjun Lubuk Bengkik atau juga Riam Lubuk Baji begitu bergemuruh terdengar. Sesekali beberapa peserta tidak sabar untuk turun karena tergoda dan berkendak membasmi keringat yang telah menyatu saat dalam perjalanan dan melepas dahaga dengan segar dan sejuknya air yang terjun tiada berhenti turun dari ketinggian kurang lebih 10 meter tentu hal yang mengasyikan dan menyenangkan.

WS_Lubuk Baji_ 170321_117.JPG

Merasakan kesegaran air terjun Lubuk Baji. Foto dok. Wahyu Susanto

Satu setengah jam perjalanan dari Dam Begasing menuju Lubuk Baji. Setelah sampai, sebagian besar peserta fieldtrip para pihak bersiap membasuh tubuh alias mandi dengan segar dan sejuknya air sungai yang mengalir di dekat Camp Lubuk Baji.

Di hari pertama, beberapa kegiatan seperti pemaparan beberapa program kegiatan yang dilakukan oleh Yayasan Palung disampaikan kepada para pihak. Terri Breeden, selaku direktur Yayasan Palung mempresentasikan kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Yayasan Palung diantaranya melalui Program Perlindungan Satwa, Pendidikan Lingkungan dan media kampanye, Program Livelihood telah bersentuhan langsung dengan masyarakat. Seperti misalnya melalui beberapa program yang Yayasan Palung memiliki dampak postif dan bisa berlanjut hingga saat ini. Sedangkan presentasi tentang penelitian disampaikan oleh Wahyu Tri Susanto sebagai Direktur Penelitian Yayasan Palung. Wahyu, menjelaskan Gunung Palung, sebagai Taman Nasional, Gunung Palung memiliki  tipe habitat yang lengkap (8 tipe habitat hutan). monitoring satwa; tidak hanya orangutan, tetapi satwa lain seperti kelasi kelempiau dan keanekaraman tumbuhan bisa dijumpai ditempat ini. Jika pengunjung ramai dan agak ribut sedikit sulit untuk bersua/berjumpa dengan orangutan. Selain itu, di TNGP memiliki kelimpahan  satwa.

Demikian juga dengan TNGP menyampaikan presentasi kepada para pihak. Penjelasan terkait luas wilayah TNGP yang semula 90.000 ha, kini bertambah menjadi 108.000 ha. Dimana 80 % nya berada di wilayah KKU, 20 % nya berada di Ketapang. Lubuk Baji merupakan zona pemanfaatan; saat ini LB adalah untuk wisata. 3 prinsip dalam pengelolaan kawasan; perlindungan, pengawetan dan pemanfaatan. Harapan kedepannya, ada kesempatan bersama untuk tujuan rumusan sinergisitas antar pihak, demikian dipaparkan oleh Bapak Bambang selaku Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah 1 Sukadana.

Mengembangkan sinergisitas yang tidak lain sebagai upaya pelestarian dan perlindungan lingkungan hidup merupakan tanggung jawab bersama seluruh komponen di dalam sebuah negara yaitu masyarakat, organisasi non pemerintah, pemerintah dan pihak swasta yang berada di dua wilayah kabupaten (Kayong Utara dan Ketapang), Kalbar. Para pihak terutama pemerintah dan organisasi non pemerintah memiliki agenda masing-masing dalam upaya tersebut yang perlu disinergiskan agar dapat saling mengisi dan mendukung. Dengan kata lain kegiatan ini bertujuan; Pertama, Mengembangkan sinergisitas program antara Yayasan Palung, Stasiun Riset Cabang Panti (SPCP), Balai Taman Nasional Gunung Palung (BTNGP) dan SKPD Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara. Kedua, Meningkatkan kerjasama antara para pihak dan ketiga, Rekreasi dan Refreshing ke Taman Nasional Gunung Palung. Atau dengan kata lain tujuan dari kegiatan ini singkatnya adalah membangun sinergisitas para pihak untuk perlindungan kawasan dengan ragam kegiatan yang mungkin bisa disingkronkan untuk dilakukan secara bersama-sama pula.

WS_Lubuk Baji_ 170321_166.JPG

Terri Breeden saat menyampaikan presentasi kepada para pihak. Foto dok. Wahyu Susanto

Di hari kedua, peserta diajak untuk mendiskusikan apa-apa saja kegiatan yang bisa dilakukan secara bersama-sama para pihak. Mengingat, Kawasan TNGP dan masyarakat menjadi tanggungjawab semua pihak untuk perlindungan kawasan dan mengembangkan potensi-potensi yang ada di sekitar kawasan. Seperti misalnya, Lubuk Baji yang berada didalam kawasan penyangga yang tidak lain juga sebagai sebagai zona pemanfaatan untuk  ekowisata, penelitian dan pendidikan. Kawasan Lubuk Baji sangat berpotensi sebagai sumber air bersih karena kawasan hutan di wilayah ini masih terjaga. Demikian juga dengan ragam tumbuh-tumbuhan seperti anggrek dan satwa. Selanjutnya, dilanjutkan dengan diskusi rencana tindak lanjut (RTL) antara lain berupa kerjasama antara instansi yang hadir dan juga melibatkan instansi yang tidak hadir. Pentingnya kersama  dari berbagai pihak di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara ini sangat penting untuk perlindungan kawasan konservasi.

Para pihak yang mengikuti kegiatan ini menyambut baik dengan adanya rencana kerjasama (sinegisitas) bersama disekitar kawasan TNGP. Setelah penyusunan RTL, dilajutkan pembacaan puisi lingkungan oleh Yohanes Terang, Aktivis dan tokoh masyarakat, penulis buku; Menjaga Yang Tersisa, Beliau sekaligus juga sebagai Pembina Yayasan Palung. Puisi tentang, Gunung Palung Yang Agung Nafas Penyambung.

Pada hari ketiga, kegiatan diisi dengan kegiatan santai karena hari terakhir berkegiatan. Sekitar pukul 05.30 Wib untuk melakukan Pengamatan Fauna dan Hunting Sunrise ke Batu Bulan. Dari Batu Bulan, jika cuaca bersahabat kita akan melihat pemandangan yang memanjakan mata antara lain melihatnya mentari yang muncul dan pemandangan persawahan masyarakat di Desa Sedahan Jaya, Kab. KKU dan tampak Gunung Palung didepan. Tidak jarang ada yang mengatakan dari Batu Bulan  tak ubah berada di negeri diatas awan.

Sekilas tentang asal usul Lubuk Baji

Nama Lubuk Baji berlatar belakang legenda seseorang pekerja yang kehilangan sebuah baji (pasak) di sekitar sebuah lubuk. Si pekerja terus melakukan pencaharian tetapi tidak ditemukan. Sejak saat itulah tempat ini dinamakan Lubuk Baji. Lubuk Baji memiliki ketinggian kurang lebih 10 meter, dengan suasana sejuk dikelilingi pepohonan menjadi tempat yang menarik untuk beristrahat dan sekedar berfoto.

Asal Usul Batu Bulan

Menurut masyarakat setempat, saat bulan purnama batu ini (batu bulan) seperti memantulkan cahaya bulan purnama bila dilihat dari arah perkampungan terdekat, sehingga masyarakat menamakan batu ini batu bulan.

Direktur Yayasan mengatakan; melalui fieldtrip ini merupakan sukses besar, ini sebagai kesempatan yang indah untuk semua organisasi yang bekerja untuk melindungi Kawasan Taman Nasional Gunung Palung dan lanskap sekitarnya untuk mengalami keindahan daerah ini yang ditawarkan. Kami mampu untuk keluar dari kantor dan bekerja sama untuk membuat komitmen baru untuk konservasi dan masyarakat lokal.

WS_Lubuk Baji_ 170321_255.JPG

Peserta Fieldtrip saat merasakan sunrise di Batu Bulan. Foro dok. Wahyu Susanto

Setidaknya ada 16 orang peserta fieldtrip para pihak yang terdiri dari BTNGP, Yayasan Palung, SPCP BKSDA SKW 1 Ketapang, Bappeda Kab. Ketapang dan Kab.Kayong Utara dan Kepolisian Resort KKU. Fieldtrip yang dilaksanakan oleh para pihak tersebut berjalan sesuai rencana, sebelum pulang kami menyempatkan diri untuk operasi semut (membersihkan sampah) dan berfoto bersama.

Baca juga tulisan yang sama di : Yayasan Palung bersama BTNGP Adakan Fieldtrip dengan Para Pihak

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

 

 

 

 

Lagu Si Pongo

Female = BethInfant = Benny

Female = Beth Infant = Benny

Lagu Si pongo

Lagu : SI PONGO

Lagu Ciptaan: Yayasan Palung

Si po-ngo  Si po-ngo dia tinggal di hutan
Si po-ngo  Si po-ngo makan buah bu-ahan
Si po-ngo  a-da-lah se ekor o-rang-u-tan
Si Po-ngo  Si po-ngo perlu te-man te-man

Pongo pu-nya ba-pak yang besar dan galak
Po-ngo tak se-ring berte-mu dia
Bapak pongo su-ka main sendirian
Di-a tidak ban-tu ibu dan anaknya

kembali ke reff;

Pongo punya i-bu yang baik dan pe-nyayang
Ibu me-ngajar-kan tentang kehidu-pan
Po-ngo dan i-bu  di hutan bersa-ma
Pongo tanpa i-bu sungguh kasihan

kembali ke reff;

Hu-tan si po-ngo kemana habisnya
Di ma-na si po-ngo dapat makanannya
Jaga lah hu-tan dan pepohonannya
Sebelum si Po-ngo lapar dan punah.

Potret Orangutan dalam Ancaman Nyata di Habitat Hidupnya

Stop!!! Merusak Hutan, Lindungi Kehidupan Orangutan. Foto dok. Yayasan Palung

Prihatin, sedih dan mungkin itu yang bisa dikatakan saat ini terhadap nasib orangutan. Keberlangsungan nafas hidup makhluk hidup saat ini tidak bisa di sangakal dalam ancaman nyata (sangat terancam) di habitat hidupnya berupa hutan. Hutan sebagai rumah kian sempit dan terhimpit dari hari ke hari hingga saat ini.

Ancaman nyata menyempitnya atau bahkan hilangnya habitat hidup orangutan salah satunya disebabkan beberapa hal diantaranya; perluasan lahan berskala besar digunakan untuk perkebunan, pertambangan, pertanian hingga pembangunan menjadi penyebab utama sangat terancamnya nasib hidup orangutan dan beberapa satwa lainnya.

Tidak hanya itu, kebakaran lahan dan ilegal logging tidak kalah hebatnya merampas hutan sebagai rumah dari orangutan. Selain juga masih maraknya perburuan dan perdagangan satwa menjadi persoalan yang boleh dikata seakan tidak berhenti terjadi.

Hilangnya luasan tutupan hutan menjadi ancaman serius bagi orangutan dan satwa lainnya (makhluk hidup) yang mendiami hutan.

Jika dibiarkan tanpa adanya perhatian dan kepedulian, bukan tidak mungkin orangutan dan satwa lainnya yang mendiami hutan akan hilang atau punah.

Perlu perhatian dari semua pihak tanpa terkecuali untuk kelestarian orangutan dan habitatnya demi keberlanjutan semua makhluk hidup termasuk kita manusia.

Dengan menyelamatkan orangutan dan hutan berarti juga menyelamatkan kehidupan agar lebih baik hingga selamanya dan lestari.

Lihat  Video : Nasib orangutan dan hutan yang hidupnya semakin terancam serta terampas. Video dok. GREEN a film by Patrick Rouxel.

Semoga saja…

Data Investigasi dan Penyelamatan Orangutan Oleh Yayasan Palung  di Tanah Kayong

dokumentasi-kasus-pemeliharaan-orangutan-foto-dok-yayasan-palung

Dokumentasi Kasus Pemeliharaan Orangutan. Foto dok. Yayasan Palung

Seperti diketahui, saat ini populasi Orangutan liar di Kalimantan Barat khususnya Kabupaten Ketapang dan Kabupaten kayong Utara hampir dipastikan secara terus menerus populasi orangutan dalam beberapa decade terakhir ini semakin menurun akibat hilangnya hutan dataran rendah. Berdasarkan rekapitulasi data investigasi dan penyelamatan dari Yayasan Palung dari tahun 2004-2016, menyebutkan  jumlah orangutan yang tidak sedikit yang diinvestigasi dan diselamatkan terkait berbagai ancaman terhadap populasi dan habitat orangutan.

 

Adapun data dari tahun ke tahun terkait  rekapitulasi investigasi dan penyelamatan terhadap orangutan di Kalimantan Barat, lebih khusus di dua Kabupaten, Ketapang dan Kayong Utara adalah 161 individu orangutan yang diinvestigasi dan diselamatkan (rescue) ada 150 individu orangutan.

Dari data tersebut, setidaknya hal ini terjadi erat terkaitnya dengan ancaman habitat dan populasi orangutan. Tidak bisa disangkal, kecepatan penurunan populasi orangutan dan habitatnya dengan ditandai masuknya investasi di kawasan hutan yang masih terdapat populasi orangutan diantaranya investasi pembukaan lahan berskala besar seperti perkebunan dan pertambangan.

Hal lain terkait ancaman orangutan di habitat adalah Di tengah upaya penyelamatan orangutan yang gencar didengungkan, tetapi praktek pemusnahan secara terselubung terus saja berlangsung. Perburuan dan perdagangan orangutan menjadi usaha untuk meraup keuntungan. Orangutan di dua Kabupaten ini selalu diburu, ditangkap untuk menjadi hewan peliharaan rumah, dan diperdagangkan. Meski ancaman hukuman bagi pelaku perburuan dan perdagangan orangutan cukup berat namun praktek ini masih marak terjadi.  Mengingat, dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dengan tegas menyebut, “Setiap orang dilarang menangkap, membunuh, memiliki, memelihara dan memperniagakan satwa dilindungi dalam keadaan hidup, mati atau bagianbagian tubuhnya. Pelanggaran terhadap Undang-undang ini dihukum 5 tahun penjara atau denda 100 juta rupiah”.

Kasus perburuan, pemeliharaan serta perdagangan Orangutan di dua Kabupaten ini (Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara) juga merupakan salah satu ancaman yang sangat serius bagi kelestarian Orangutan serta satwa lainnya. Perburuan Orangutan di dua kabupaten ini kebanyakan bersifat opurtunis artinya Orangutan bukan menjadi buruan utama para pemburu. Kasus perburuan sering terjadi ketika para pemburu mencari rusa, babi, kijang dan sebagainya secara kebetulan menjumpai Orangutan. Ketika hal itu terjadi biasanya Orangutanlangsung di buru dengan cara membunuh induk serta mengambil anak Orangutan baik untuk dipelihara maupun dijual kepada orang yang memiliki hoby memelihara. Sedangkan induk Orangutan yang mati kadang-kadang diambil untuk di kosumsi sebagai makanan.

Seperti misalnya pada tahun 2004-2014, Akibat masih terjadinya perburuan secara oportunis tersebut membawa dampak terhadap kasus pemeliharaan serta perdagangan Orangutan di Kabupaten
Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara. Berdasarkan hasil monitoring yang dilakukan Yayasan Palung sejak tahun 2004 s/d 2014 teridentifikasi 145 kasus pemeliharaan Orangutan, 89 Kelempiau, 28 satwa lainnya (Beruang Madu, Bekantan, Trenggiling, Burung Enggang, dan sebagainya) yang dilakukan masyarakat. Kasus pemeliharaan khususnya Orangutan terjadi baik di pemukiman masyarakat, areal perkebunan sawit, dan areal pertambangan.

Dari 117 satwa lainnya yang teridentifikasi pada tahun 2004 hingga tahun 2014 sebanyak 79 %, 89 ekor adalah Kelempiau. Hal ini membuktikan bahwa kera sangat terancam di daerah Ketapang dan Kayong Utara. Selain itu juga dilihat dari tabel 1 diatas bahwa hasil monitoring setiap tahunnya tidak bisa dijadikan kesimpulan bahwa tingkat kasus pemeliharaan menunjukkan tren penurunan atau kenaikan. Dimana pada tahun 2004, Yayasan Palung mulai melakukan monitoring seluruh wilayah kecamatan yang ada di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara baik wilayah yang berada di pesisir pantai maupun di wilayah pedalaman.

Orangutan Borneo merupakan salah satu jenis primata yang menjadi bagian penting dari kekayaan keanekaragaman hayati dan merupakan satu-satunya kera besar yang hidup di Asia. Orangutan Borneo sebagian besar mendiami hutan dataran dan hutan rawa di Sabah, bagian barat daya Sarawak, Kalimantan Timur, serta bagian barat daya Kalimantan antara Sungai Kapuas dan Sungai Barito. Oleh karena itu, populasi Orangutan Borneo disepakati dibedakan menjadi tiga sub spesies yaitu Pongo pygmaeus pygmaeus yang terdapat di bagian barat laut Kalimantan yaitu Utara dari Sungai Kepuas sampai ke timur laut Sarawak, Pongo pygmaeus wurmbii yang hidup dibagian selatan dan barat daya Kalimantan yaitu antara sebelah selatan Sungai Kapuas dan barat Sungai Barito dan Pongo pygmaeus morio yang hidup di Sabah sampai Sungai Mahakam di Kalimantan Timur.

Seperti di ketahui, penyelamatan orangutan dan habitatnya berarti menyelamatkan ekosistem dari kehancuran yang bisa memberi bencana bagi masyarakat luas. Menyelamatkan orangutan dan habitatnya berarti menjamin kesejahteraan masyarakat di masa yang akan datang karena habitat orangutan yang terpelihara dengan baik akan menjamin kelangsungan jasa ekologi yang penting yang diutuhkan oleh masyarakat luas. Sampai saat ini, yang menjadi persoalan lain adalah tempat hidup baru bagi orangutan yang telah diselamatkan. Seperti diketahui, saat ini orangutan yang diselamatkan (rescue) kesulitan rumah baru mereka berupa hutan. Banyak kawasan hutan yang telah terbuka dan tidak layak untuk tempat pelepasliaran orangutan.

Oleh karena itu kepada semua pihak yang terlibat, baik pemerintah pusat, provinsi, Kabupaten pihak swasta serta masyarakat luas harus benar-benar melaksanakan komitmen penyelamatan Orangutan di Kalimantan Barat khususnya di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara. Semoga orangutan di Tanah Kayong (Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara) dapat terjaga  dan semua pihak dalam mendukung konservasi Orangutan sebagai makhluk ciptaan Yang Maha Kuasa yang juga sebagai satwa endemik dapat lestari hingga nanti.

Tulisan ini juga sebelumnya pernah dimuat di Kompasiana : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/ini-data-investigasi-dan-penyelamatan-orangutan-tahun-2004-2016-ditanah-kayong_58747d3e4f7a61c9125e61fa

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

 

Orangutan Dilindungi tetapi Sangat Terancam di Habitatnya

orangutan-di-tipe-sarang-a-saat-beristirahat-di-hutan-hujan-gunung-palung-foto-dok-tim-laman-dan-yayasan-palung

Mungkin kata itu yang cocok untuk dikatakan terkait mereka (satwa atau primata) dilindungi yang saat ini keberadaannya sangat terancam punah. Hal ini nyata adanya, ragam jenis satwa sudah semakin sulit dan sempit keberadaannya salah satunya di habitat hidupnya.

Mereka bukan karena tidak diperhatikan, malah mereka menjadi prioritas utama. Dengan kata lain, satwa atau primata  yang dilindungi justru keberadaanya dalam ancaman nyata (semakin terancam) serius di habitatnya berupa hutan.

Di hutan tropis Indonesia, setidaknya terdapat  sekitar 40.000 jenis tumbuhan, 350.000 jenis hewan, 5.000 jenis jamur, dan 1.500 jenis Monera. Bahkan banyak jenis makhluk hidup yang merupakan makhluk hidup endemik. (sumber data; Ilmu Hutan). Dengan demikian ragam satwa, tumbuhan menjadi satu kesatuan yang sejatinya tidak terpisahkan. Apabila satu kesatuan ekosistem diantara mereka terganggu makan akn berdampak pada yang lainnya. misalnya saja keberadaan hutan sangat berpengaruh kepada jumlah populasi satwa yang mendiami wilayah tersebut. Hutan menipis maka satwa/primata akan semakin sulit untuk bertahan hidup, termasuk populasi mereka yang sulit berkembang biak hingga populasi mereka semakin menurun/berkurang jumlahnya yang menyebabkan mereka harus dilindungi.

Mengapa mereka (primata atau satwa) dilindungi tetapi Terancam dan terhimpit di Habitatnya?

Beberapa alasan primata/satwa dilindungi salah satunya karena jumlah populasi sudah langka atau semakin langka. Atau dengan kata lain, tidak sedikit jumlah satwa yang dikatakan mendapat predikat terancam, sangat terancam dan mungkin yang lebih parahnya lagi adalah punah di habitat hidupnya, tetapi jangan sampai terjadi di Indonesia. Di beberapa wilayah di Indonesia misalnya persebaran satwa dilindungi yang sangat terancam punah adalah orangutan (orangutan kalimantan dan orangutan sumatera).

Untuk membaca selengkapnya dapat lihat di link yang ditulis sebelumnya di kompasiana : Orangutan Dilindungi tetapi Sangat Terancam dan Terhimpit di Habitatnya

Berikut Beberapa Jenis Satwa Dilindungi di Tanah Kayong

Rayap dan serangga termasuk makanan orangutan. Foto dok. Tim Laman dan Yayasan Palung

Orangutan Jantan yang ada di Gunung Palung. Foto dok. Tim Laman

Satwa dilindungi sudah sepatutnya kita jaga dan lindungi di habitat hidupnya. Mengingat, keberadaan populasinya terancam ataupun sangat terancam punah di habitat hidupnya akibat beragam kegiatan ataupun aktivitas manusia seperti pembukaan lahan  berskala besar.

satwa-dilindungi-di-tanah-kayong-foto-dok-yayasan-palung

 

Foto data dok. Yayasan Palung

Perlu peran dari semua pihak untuk menjaga dan melindungi satwa yang masih ada dan tersisa di Tanah Kayong  (sebutan untuk Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara), Kalimantan Barat, Indonesia.

satwa-dilindungi-di-tanah-kayong-foto-dok-yayasan-palung-2

Foto data dok. Yayasan Palung

Melestarikan dan menjaga hutan agar tetap lestari, berarti juga memberikan juga kehidupan bagi banyak makhluk hidup tidak terkecuali banyak primata (satwa) dilindungi yang saat ini.

Sedangkan satwa langka yang menjadi prioritas di Indonesia saat ini ada 25 satwa endemik/terancam punah.

25-satwa-langka-prioritas-sumber-data-dok-klhk

Semoga saja satwa dilindungi dapat terlindungi dan lestari di habitat hidupnya di seluruh wilayah Indonesia.

Ini Suasana Keakraban Kami Yayasan Palung (GPOCP) dan  GPOP dalam Rapat Tahunan

img-20170216-wa0011

Ini Keakraban kami saat rapat tahunan beberapa waktu lalu. Foto dok. Wahyu Susanto

Inilah keakraban kami Yayasan Palung/GPOCP  dan GPOP (Tim Konservasi dan Tim Peneliti) disela-sela rutinitas dan aktivitas.

Foto ini adalah saat kami Rapat tahunan untuk merencanakan apa yang akan kami kerjakan di tahun-tahun berikutnya.

Semoga segala rencana dan harapan dapat dituai.

Amin…

Mengenal Lebih Dekat Stasiun Penelitian Cabang Panti dan Ini yang Menarik Disana

Kantong Semar biasanya hidup di hutan rawa gambut dan di hutan pegunungan Gunung Palung. Foto dok GPOCP dan Yayasan Palung.jpg

Kantong Semar biasanya hidup di hutan rawa gambut dan di hutan pegunungan Gunung Palung. Foto dok GPOCP dan Yayasan Palung

Tidak bisa disangkal, beragam jenis hutan yang tersebar di wilayah hutan tropis Gunung Palung, tidak hanya hutan tetapi juga satwanya. Salah satunya adalah orangutan sebagai salah satu satwa endemik yang ada di Dunia.

Setidaknya itulah yang menjadi daya tarik bagi para ilmuan baik dari dalam atau pun luar negeri untuk mengunjungi tempat ini, lebih tepatnya di Stasiun Penelitian Cabang Panti (SPCP), Taman Nasional Gunung Palung.

camp-cabang-panti-di-tngp-sebagai-tempat-rumah-bagi-para-peneliti-yang-melakukan-penelitian-foto-dok-yayasan-palung

Camp Cabang Panti, di TNGP sebagai tempat (rumah) bagi para peneliti yang melakukan penelitian. Foto dok.Yayasan Palung

Tentu, hal ini menjadi kekayaan sekaligus unik dan terlengkap  yang mungkin di tempat lain belum tentu ada. Apa saja kah yang unik dari hutan di Cabang Panti, Gunung Palung?.

Pertama, Di Gunung Palung  setidaknya terdapat tujuh jenis hutan dari 8 tipe hutan yang berbeda, hutan yang dimaksud adalah; 1. hutan rawa gambut di ketinggian 5-10 mdpl,  2. Kedua, hutan rawa air tawar di ketinggian 5-10 mdpl, 3. Hutan tanah alluvial di ketinggian 10-50 mdpl, 4. Hutan batu berpasir dataran rendah di ketinggian di 20-200 mdpl, 5. Hutan granit dataran rendah di ketinggian  200-400 mdpl, 6. Hutan granit dataran tinggi di ketinggian  350- 800 mdpl,  7. Hutan Pegunungan di ketinggian 750-1100 mdpl (Marshall, Andrew j, 2008) dan 8. Hutan kerangas yang paling sedikit luasannya yaitu 7,6 ha dari total luas Cabang Panti. Lokasi ini merupakan lokasi yang cocok untuk menganalisa perilaku reproduksi tumbuhan berkayu di level alpha dan beta dari keberagaman jenis tumbuhan. Selain itu, bisa meneliti perilaku beragam satwa seperti orangutan dan beberapa satwa lainnya seperti kelempiau, kelasi serta satwa lainnya. Burung endemik seperti enggang, ayam hutan dan satwa lainnya.

orangutan-dan-bayinya-di-tngp-foto-dok-yayasan-palung-dan-tim-laman-5698bdcf149373dc04b4bd31

Orangutan Betina dan Bayinya di Gunung Palung. Foto dok. Tim Laman

Sebagian besar kawasan SPCP merupakan hamparan perbukitan dan gunung. Hanya rawa gambut dan rawa air tawar yang merupakan hamparan dataran rendah. Di area SPCP terdapat hamparan Gunung Palung dengan ketinggian 1.116 mdpl dan Gunung Panti dengan ketinggian  1.050  mdpl. Keunikan jenis dan tipe hutan tersebut memiliki banyak manfaat bagi keberlangsungan makhluk hidup dan manusia lebih khusus sebagai perpustakaan yang paling penting bagi ilmu pengetahuan  dan penelitian. Kedua,tidak hanya penelitian yang menyangkut ekologi dan biologi satwa dan tumbuhan seperti primata terutama orangutan tetapi juga pendataan  jenis tumbuhan  di TNGP tetapi juga penelitian jenis-jenis tumbuhan dipterocarp (meranti dan balau/Shorea, mersawa/Anisoptera, keruing/Dipterocarpus dan kapur/Dryobalanops).
meranti-atau-shorea-sp-yang-sedang-berbuah-merupakan-jenis-pohon-dipterocarpaceae-foto-dok-yayasan-palung-gpocp-dan-tim-laman

Tumbuhan dipterocarpaceae yang ada di Gunung Palung. Foto dok. YP, GPOCP dan Tim Laman

Selain itu juga terdapat tumbuh-tumbuhan obat, jenis lumut, paku-pakuan, jenis palem, liana dan kantong semar serta tumbuhan lainnya. Obyek lainnya yang menarik adalah jenis fauna diantaranya jenis-jenis herpetofauna, serangga, ikan dan jenis mamalia  seperti  beruang madu,  kucing dan jenis tupai salah satunya tupai vampir.

Sedangkan Hasil dari penelitian di Stasiun Riset Cabang Panti, TNGP menyebutkan setidaknya ada ditemukan tumbuhan dan pohon yang menjadi pakan atau makan orangutan di Gunung Palung. Orangutan mengkonsumsi lebih dari 300 jenis tumbuhan yang terdiri dari: 60% terdiri dari buah, 20% bunga, 10% daun muda dan kulit kayu serta 10% serangga (seperti rayap). Tumbuhan dominan yang dikonsumsi buahnya oleh orangutan dan beberapa satwa lainnya adalah dari family Sapindaceae/sapindales (rambutan, kedondong, matoa dan langsat), Lauraceae (alpukat dan medang), Fagaceae (petai dan kacang kedelai atau termasuk jenis kacang-kacangan), Myrtaceae/myrtales (jenis jambu-jambuan), Moraceae (ficus/kayu ara) dan lain-lainnya.

Menurut Wahyu Susanto, selaku Direktur penelitian GPOCP/Yayasan Palung mengatakan, di Gunung Palung terdapat kurang lebih 2500 individu orangutan. Sedangkan orangutan yang teridentifikasi mendiami area penelitian Cabang Panti berdasarkan penelitian dan pemberian nama oleh para peneliti sejak tahun  2008-2016 tercatat ada 98 individu orangutan. Adapun lokasi penelitian SPCP sekitar 2100 hektar. Sedangkan luasan Taman Nasional Gunung Palung adalah 90.000 hektar.

Hingga saat ini tercatat setidaknya 150 peneliti dalam dan luar negeri yang melakukan penelitian di SPCP. Untuk menjangkau Stasiun Penelitian Cabang Panti melalui dua akses; jalaur air dan jalur darat. Jalur air melalui Sungai Rantau Panjang dengan menggunakan sampan atau longboat. Jalur ini digunakan untuk mengangkut logistik yang dikirim melalui Melano, dusun Semanjak, dengan jarak tempuh 7 sampai 12 jam. Lama atau tidaknya jarak tempuh tergantung kondisi air, apabila kemarau sungai kering sehingga waktu tempuh bisa semakin lama. Sedangkan jalur darat menuju SPCP melalui dusun Tanjung Gunung dengan berjalan kaki dengan jarak kurang lebih 16 km dan bisa ditempuh dengan  dalam waktu 4 hingga 6 jam perjalanan.

Apabila para peneliti ingin melakukan penelitian terlebih dahulu mengajukan SIMAKSI (Surat Ijin Masuk Kawasan Konservasi) terlebih dahulu kepada Balai Taman Nasional Gunung Palung.

Bahan tulisan ini merupakan ringkasan yang sumbernya dari : buku saku (booklet) BTNGP yang berjudul; Stasiun Penelitian Cabang Panti “The Heaven of Science”, ditulis oleh Endro Setiawan,tebal buku 29 halaman, cetak tahun 2015.

Baca juga tulisan ini di Kompasiana Ini yang Unik dan Menarik di Stasiun Penelitian Cabang Panti

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Resensi Buku : “Menjaga yang Tersisa”, Mari Merawat Bumi dan Isinya untuk Selamanya

Cover Buku, Menjaga yang Tersisa, Foto Dok. YP.jpg

Cover Buku, Menjaga yang Tersisa, Foto Dok. YP

Tidak bisa disangkal, bumi beserta segala isinya (makhluk hidup) tidak terkecuali hutan dan satwa serta manusia merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dalam kehidupan ini. Bagaimana bila bumi yang tersisa dibiarkan begitu saja tanpa diperhatikan dan tidak untuk dijaga, bayangkan bila bumi tidak tersisa.

Buku yang ditulis oleh Yohanes Terang  Menjaga yang Tersisa;  Sajak dan Renungan dari Laman Satong,  sedikit banyak menjadi pengingat sekaligus ajakan bagi kita semua tanpa terkeculi untuk merenungkan tentang keadaan dan keberadaan bumi yang saat ini keadaannya (nasibnya) terletak pada tanggungjawab dan kebijaksanaan kita. Mengingat,  bumi sudah semakin renta, rimba raya dan satwa kian memprihatinkan keberadaannya. Hutan semakin menyusut, satwa semakin sempit dan sulit untuk bertahan hidup. Terkadang kita manusia pun tidak luput dari apa dampak dari semakin menipisnya luasan tutupan hutan.

Ungkapan sajak, renungan dan puisi yang tersaji dibuku yang tebalnya 115 halaman tersebut berkisah tentang awal mulanya sebaagung  namun kini dunia telah renta. Seperti pada halaman  11,  dituliskan Dunia Telah renta.

Semula semula  kujumpa serbaagung

Gunung-gunung menjulang hijau tinggi membusung

Jurang-jurang panjang dalam menerima suara gaung

Air yang gemericik, satwa  bersenandung.

Menunjukkan besarnya kuasa Sang Pencipta

Namun, tiba-tiba berubah seketika

Akibat tidak ada lagi cinta  tersimpan dalam dada

Kini pohon-pohon raksasa tak lagi dijumpa

Berjuta-juta tanaman kecil merana tertimpa

Oleh ibu bapanya.

Kicauan satwa tak lagi terdengar

Telah sirna entah kemana

Seolah-olah bisu tanpa kata

Habitatnya terobrak-abrik

Ketenangan tercabik-cabik

Semuanya tak ada lagi yang menarik

Terlihat semua sudah sikap menampik

Kini masih adakah?

Yang berjiwa mulia?

Untuk mempertahankan yang tersisa

Agar tak lagi terjadi seperti yang ada.

Kini kucoba untuk melakukannya sampai aku dijemput oleh-Nya.

Ungkapan ketulusan dari hati yang terdalam bapak Yohanes Terang secara nyata bercerita tentang fakta yang terjadi sesuai realita yang terjadi (menimpa) dunia.

Agar tidak lupa, seperti pada halaman 16, pembaca diingatkan kembali dengan renungan;

Awal mula bumi diciptakan sempurna  tak ada yang palsu

Pencipta menciptakan atau menyertakan berjuta rupa, bentuk, arti dan warna

Satu diantranya adalah manusia sebagai pewaris, pelindung dan penajaga agar tidak habis bagi anak cucu.

Dengan berjalannya waktu dan bergantinya hari, tak terasa telah terjadi degradasi dengan berkurangnya nilai, bentuk dan rasa

Kemanusiaan, bukit, lautan, flora, fauna telah telah ternoda  oleh kekuasaan, kepentingan.

Uang yang membuat manusia lupa. Kita dengar dalam cerita, kita pantau lewat media, kita lihat dengan mata tentang semua peristiwa yang mendera.

Hai manusia ingatlah rentetan peristiwa yang memilukan yang menyayat banyak hati, tanda-tanda akan terjadi isak tangis, gertak gigi, pabila kita tak sanggup menyelamatkan bumi tempat kita berada.

Ajakan kepada para pemimpinpun disampaikan untuk peduli pada bumi ibu pertiwi sebagai tempat dan keberlanjutan nafas hidup hingga nanti. Seperti yang dituliskan pada halaman 110.

 Jabatanmu seorang  petinggi,

Menjunjung tinggi sumpah janji seorang abdi.

 Berbuat selau mendengarkan suara hati 

Terobosan  yang tepat mencari solusi

Mengurangi degradasi

Mengangkat derajat negeri ini

Agar sejajar dengan bangsa lain di atas bumi.

Di halaman 108, pembaca diajak untuk bersukaria, bila alam terjaga lestari selamanya maka  hutan kembali menghijau, satwa kembali berkicau, pikiran pun tak lagi galau. Kita semua suka,  kita semua bahagia bila semuanya bisa lestari untuk selamanya.

Buku ini sangat direkomendasikan bagi semua kalangan karena sangat syarat makna dan pesan moral tentang ajaran hidup/kehidupan berupa bumi tempat berpijak. Menjaga yang Tersisa (hutan, satwa dan segala isi) bumi menjadi tanggungjawab kita semua secara bersama pula pula. Bumi yang tersisa ini sebagai tempat hidup sudah sejati untuk dijaga, dipelihara dan dilestarikan hingga nanti. Mari merawat bumi hingga nanti (selamanya) sebelum terlambat, demi kehidupan yang lebih baik.

Judul Buku : Menjaga yang Tersisa;  Sajak dan Renungan dari Laman Satong

Penulis : Yohanes Terang

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Tebal : 115 Halaman

ISBN : 978-602-03-1499-0

Tulisan ini sebelumnya dimuat di sesawi.net Menjaga yang Tersisa, Mari Merawat Bumi dan Isinya Selamanya

Petrus Kanisius, Yayasan Palung