Category Archives: YP

Berikut Ini Daftar Tumbuhan dan Satwa di Indonesia yang Dilindungi

 

 

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Keterangan  Foto: Enggang dan Orangutan merupakan satwa yang Sangat Terancam  di habitatnya (hutan). Foto dok. Yayasan Palung

Sebanyak 1.771 jenis burung di dunia diketahui berada di Indonesia, bahkan 562 jenis di antaranya berstatus dilindungi. Status ini ditetapkan berdasarkan Peraturan Menteri LHK No. P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018, tentang Jenis Tumbuhan Satwa yang Dilindungi, yang terbit pada tanggal 29 Juni 2018.

Selain jenis burung, dalam peraturan tersebut juga tercantum jenis lain yang dilindungi, yaitu 137 jenis mamalia, 37 jenis reptil, 26 jenis insekta, 20 jenis ikan, 127 jenis tumbuhan, 9 jenis dari krustasea, moluska dan xiphosura, serta satu jenis amfibi, sehingga total ada 919 jenis.

Berikut daftar nama satwa yang dilindungi oleh Undang-Undang, Baca dan klik di : Daftar-Satwa-dan-Tumbuhan-Dilindungi-P20-2018

Selain itu, ada juga 10 Satwa yang terancam punah yang ada di Indonesia,

Berikut nama 10 satwa tersebut :

  1. Orangutan Kalimantan dan Sumatera

Orangutan merupakan salah satu bangsa kera yang sangat mirip dengan manusia. Di seluruh dunia, jumlah orangutan terus berkurang. Hingga saat ini, hanya tersisa sekitar 55 ribu individu saja. Banyak di antaranya yang hidup di pulau Kalimantan dan 200 lainnya di Sumatera.

Jumlah orangutan yang terus menurun diakibatkan populasi mereka yang membutuhkan hutan lebat. Tak hanya itu, habitat mereka direbut oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab untuk pembukaan lahan paksa.

  1. Komodo  di Pulau Komodo

Pada tahun 2017, jumlah spesies kadal raksasa ini hanya sekitar 3.012 ekor saja. Angka ini sudah termasuk peningkatan dari jumlah di tahun-tahun sebelumnya. Karena kelangkaannya, pemerintah menjadikan pulau Komodo di Nusa Tenggara Timur menjadi taman nasional dan habitat asli komodo.Salah satu yang membuat komodo sulit berkembang biak adalah proses perkawinan mereka.

  1. Penyu

Ada 7 spesies penyu, 6 spesies penyu diantanya hidup di Indonesia. Karena banyaknya spesies penyu yang berhasil hidup di Indonesia, pemerintah juga melindungi hewan ini dengan membuatkan penangkaran di berbagai daerah. Di antaranya adalah di pulau Tanjung Benoa-Bali, Kepulauan Seribu, dan Lombok.

Untungnya, masyarakat di Indonesia percaya bahwa penyu merupakan hewan pembawa keberuntungan. Sehingga, mereka juga banyak membantu dalam pemeliharaan penyu.

      4.Tarsius tarsier

Tarsius tarsier, primata langka yang hidup di Sulawesi dan Kalimantan. Primata ini memiliki ciri bertubuh kecil berwarna cokelat dengan mata besar, dan senang bergelantungan di ranting pohon mirip seperti koala. Tarsius tidak bisa menjejakkan kakinya di tanah, karena dia terus melompat dari satu pohon ke pohon yang lain.

Aksi pembukaan lahan hutan secara ilegal membuat populasi hewan ini makin berkurang. Alhasil, pemerintah menjadikan hewan kecil ini dilindungi. Tarsius dapat dijumpai di hutan-hutan yang ada di Sulawesi.

  1. Harimau Sumatera

Harimau Sumatera diperkirakan punah pada 2050. Paling mengkhawatirkan karena terancam punah, jumlah sub spesies harimau Sumatera hanya sekitar 300-400 saja yang hidup di alam bebas. Banyaknya pembukaan lahan kelapa sawit secara ilegal membuat habitat harimau terganggu. Bahkan, populasinya diperkirakan akan musnah pada 2050 jika dibiarkan.

  1. Badak Bercula Satu

Badak bercula satu merupakan satu dari lima spesies badak yang masih hidup di dunia. Di pulau Jawa, hewan ini hanya dapat ditemui di Taman Nasional Badak daerah Ujung Kulon, Banten. Karena dulunya banyak yang memburu culanya, jumlah spesies badak ini terus menurun. Kini hanya tersisa 50-60 ekor saja.

  1. Burung Cenderawasih

Burung cenderawasih, satwa kebanggaan khas Papua. Meski telah banyak dikirim keberbagai negara, keempat jenis burung cendrawasih hanya dapat ditemukan di Papua. Wisata pemantauan burung cendrawasih dapat dikunjungi pada Isio, Jalan Korea, dan Gantebang yang berada di distrik Nimbokrang, Kabupaten Jayapura.

  1. Anoa

Di Sulawesi, kamu bisa melihat Anoa, banteng terkecil di dunia. Anoa juga memiliki nama julukan yang diberikan masyarakat sekitar, yakni sapiutan. Artinya sapi yang hidup di hutan. Karena masih satu family dengan banteng, kecepatan berlarinya mencapai 10 km/jam.

Anoa memiliki sepasang tanduk yang menyerupai banteng. Hanya saja, ukuran anoa jauh lebih kecil dibandingkan banteng pada umumnya. Sayangnya, banyak pihak yang tak bertanggung jawab memburu hewan ini untuk dikonsumsi.

Kini, populasi anoa di Sulawesi hanya tersisa sekitar 2.469 ekor saja. Hal ini membuat anoa menjadi salah satu satwa yang dilindingi pemerintah Indonesia. Ada pun habitat hidupnya di hutan yang masih perawan, yakni di daerah Gunung Ambang.

  1. Burung Maleo

Spesies burung maleo hidup di dataran rendah dan perbukitan Sulawesi. Maleo senkawor masih sering dijumpai di daerah Gorontalo. Namun, jumlahnya tidak banyak, hanya sekitar 10.000 ekor saja. Menurunnya populasi maleo dikarenakan ukuran telurnya yang sangat besar, yakni 5 kalinya dibanding telur ayam.

Hal ini membuat banyak yang tertarik untuk mengambilnya. Untungnya, setelah dinobatkan menjadi satwa yang dilindungi, populasi burung ini mulai meningkat secara perlahan.

  1. Corak merak

Corak merak yang colorful  hanya ada di Jawa dan Sumatera. Merak memang dapat ditemui di Malaysia dan India. Hanya saja, ada yang berbeda dengan merak di Jawa dan Sumatera. Mereka memiliki bulu yang lebih berwarna dan sedap dipandang.  Di beberapa negara, merak hanya memiliki satu corak saja, seperti biru atau hijau. Sedangkan di Indonesia, coraknya lebih beragam, salah satunya merak putih.

Meski bukan pejabat pemerintahan, kita sebagai warga negara yang baik harus turut serta menjaga habitat dan ekosistem mereka dengan baik. Jangan sampai mereka punah di tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab.

“Terdapat penambahan daftar jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi dalam P.20/2018, yaitu sebanyak 241 jenis atau 26 persen dari daftar yang tercantum dalam lampiran Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 1999 (PP.7/1999), tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa,” jelas Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Wiratno dalam keterangan tertulis, Selasa (7/8/2018).

Masyarakat dapat menghubungi Call Center Direktorat KKH Gedung Manggala Wanabhakti Blok VII Lantai 7 Jalan Jenderal Gatot Subroto, Jakarta (telepon: 081315003113).

Tulisan diolah dari berbagai sumber

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Iklan

Pekan Peduli Orangutan 2018, Memaknai Nilai Penting Orangutan untuk Menghindari Kepunahan

Orangutan Caring Week atau Pekan Peduli Orangutan 2018.jpg_1

Orangutan Caring Week atau Pekan Peduli Orangutan 2018.

Setiap tahun, pada tanggal 11-17 Nopember, warga dunia yang peduli pada pelestarian orangutan selalu menggelar rangkaian kegiatan Pekan Peduli Orangutan (PPO). Kegiatan ini dimaksudkan untuk terus mengingatkan kepada khalayak bahwa keberadaan satwa langka ini di alam liar harus terus diberikan perlindungan, Yayasan Palung rencananya juga akan memperingatinya pada  12 – 17 Nopember 2018, pekan depan.

Banyak faktor yang menyebabkan orangutan sangat terancam punah, tidak terkecuali luasan lahan yang semakin menyempit sebagai ekosistem dan keberlanjutan nafas hidup mereka. Selain juga terkait penegakan hukum yang masih lemah terhadap pelaku pelanggaran UU No. 5 Tahun 1990, tentang Keanekaragaman Hayati dan Ekosistem dan peraturan perundangan lainnya yang terkait dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya konservasi alam yang masih dalam tataran normatif belum banyak yang sampai kepada aksi nyata.

Yayasan Palung bersama banyak lembaga dan warga dunia pada tahun 2018 memperingati Pekan Peduli Orangutan dengan mengangkat tema: “Valuing Orangutans over Profits to Avoid Extinction” (Memaknai Nilai Penting Orangutan untuk Menghindari Kepunahan).

Lembaga-lembaga yang merayakan OCW atau PPO 2018

Lembaga-lembaga yang merayakan OCW atau PPO 2018. Foto dok. #OCW2018

Adapun rangkaian kegiatan untuk memperingati Pekan Peduli Orangutan tahun 2018, Yayasan Palung akan mengadakan serangkain kegiatan yang akan dilakukan di SMAN 1 Jelai Hulu, serangkaian kegiatan yang rencananya akan dilakukan seperti aksi kecil untuk pelestarian satwa kebanggaan Indonesia ini, dengan harapan walaupun kecil mudah-mudahan berdampak besar pada ingatan siswa dan semua yang terlibat.

Kegiatan ini (PPO 2018) rencananya akan dilakukan secara bersama antara staf Yayasan Palung, guru dan siswa SMAN 1 Jelai Hulu antara lain adalah Workshop Membuat “Bottle Planter”, dan Workshop Membuat Pesan Kampanye Perlindungan Orangutan Kalimantan, kegiatan tersebut akan diselenggarakan oleh Yayasan Palung di Jelai Hulu.

Selain itu juga, serangkaian kegian lainnya di sela-sela PPO 2018, kami juga akan melakukan serangkaian kegiatan seperti  berkunjung ke sekolah-sekolah untuk berbagi informasi terkait lingkungan. Selain itu, diadakan pemutaran film lingkungan diskusi bersama masyarakat kait isu-isu kekinian yang ada di wilayah yang kami kunjungi tersebut.

Mengingat, mengapa kita semua (semua pihak) perlu dan penting untuk menjaga dan melindungi satwa seperti orangutan, diantaranya adalah; Pertama, Populasi satwa di alam liar semakin tahun kian menurun akibat dari tekanan aktivitas manusia seperti perambahan hutan, penebangan kayu, pembukaan daerah pertanian dan masifnya pembukaan lahan untuk perkebunan sawit skala besar, hutan tanaman industri dan pertambangan.

Hal lainnya lagi diperparah oleh adanya perburuan satwa untuk diperdagangkan bagian-bagian tubuhnya, dipelihara atau pun juga bahkan ada yang dimakan. Selanjutnya juga, keberadaan satwa liar seperti orangutan di hutan, dapat membantu meregenerasi hutan sehingga tercipta kesinambungan manfaat hutan bagi kehidupan manusia.

Selain itu, satwa yang ada di Indonesia merupakakan kekayaan flora dan fauna Indonesia yang tidak ternilai harganya. Keberadaan satwa liar menjadi kekayaan alam Indonesia yang keberadaannya menjadi sumber pengetahuan dan ispirasi serta kebanggaan bangsa Indonesia.

Keberagaman keanekaraman hayati yang terdapat di wilayah Indonesia tidak terkecuali satwa menjadi dasar kuat yang harus terus menerus untuk dilindungi, dijaga, dan dilestarikan. Bukan malah mengorbankannya dengan merelakan mereka malang, miris, menangis, atau pun membiarkan mereka mati terbunuh sia-sia, sengaja atau pun tak sengaja atau pula bahkan hilang regenerasi (punah) dimakan zaman.

Foto-foto dari serangkaian kegiatan dan foto para siswa yang melaksanakan kegiatan PPO 2018 juga akan diunggah ke media sosial, baik secara individu oleh siswa maupun oleh Yayasan Palung dengan menyertakan hastag/tagar #OrangutanCaringWeek2018 #yayasanpalung #SMAN1JelaiHulu #GoGreen #GreenCraft #JelaiHulu4Orangutans #OrangutanKalimantan sehingga aksi peringatan PPO ini tersebar secara luas, dan terkumpul informasinya dengan warga dunia yang melakukan aksi yang sama di belahan dunia yang lain /secara global.

Beberapa rangkaian kegian yang dilakukan ini, setidaknya sebagai bentuk penyadartahuan kepada pihak sekolah dan masyarakat luas terkait perlunya semua pihak untuk peduli sejak dini terhadap keberlanjutan nasib hidup dan terhindar dari kepunahan.

Dengan cara-cara sederhana berhrap orangutan dapat lestari dan diselamatkan dari ancaman kepunahan. Berharap pula, semoga rangkaian kegiatan Pekan Peduli Orangutan (PPO) 2018 yang akan diadakan di Jelai Hulu dapat berjalan sesuai rencana.

Tulisan ini juga dimuat di : Tribun Pontianak 

dan Kompasiana.com

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Survei Bentang Alam Daya Dukung Daya Tampung Kabupaten Kayong Utara di 8 Desa

 

IMG_20181029_153502

Saat tim survei (Perkim LH, Bapeda KKU dan YP melakukan Ground Check di lokasi. Foto dok : Yayasan Palung

Untuk membantu menyelesaikan draft akhir kajian DDDT Kabupaten Kayong Utara 2018, Yayasan Palung dan Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (PerkimLH) Kabupaten Kayong Utara melakukan Ground Check (survei lapangan) di 8 lokasi desa, yang dilaksanakan selama 3 hari (29 – 31 Oktober 2018) kemarin.

IMG_20181029_153610

Saat tim survei (Perkim LH, Bapeda KKU dan YP melakukan Ground Check di lokasi. Foto 2 dok : Yayasan Palung

Bersama Tim DDDT KKU yang lain (Dinas LH, Pihak Konsultan dan Bapeda KKU). Lokasi survei ada 8 lokasi di Kecamatan Seponti, Simpang Hilir, Sukadana dan Teluk Batang. Kajian Daya Dukung dan Daya Tampung (DDDT) Kabupaten Kayong Utara 2018. DDDT ini merupakan salah satu bagian dari strategi Yayasan Palung (YP) untuk bekerjasama dan mendukung langsung Pemerintah Daerah KKU dalam menjalankan rencana pembangunan daerah yang searah dengan visi dan misi  Yayasan Palung.

Hal ini dibuktikan dalam draft dokumen akhir DDDT ini, Yayasan Palung berperan menjadi sumber data untuk mengisi poin keanekaragaman hayati dan memperlihatkan langsung sebaran orangutan yang ada diluar kawasan.

Disamping itu, Yayasan Palung juga akan berperan dalam penguatan peran komunitas atau masyarakat untuk analisis jasa pangan dan jasa lingkungan di Kabupaten Kayong Utara. Inilah yang kemudian yang saya sebut sebagai strategi dalam mendorong kebijakan pemerintah yang pro dan tepat sasaran terhadap konservasi orangutan dan masyarakat setempat.

IMG_20181030_144636

Saat tim survei (Perkim LH, Bapeda KKU dan YP melakukan Ground Check di lokasi. Foto 3 dok : Yayasan Palung

Dokumen DDDT ini menjadi salah satu dokumen strategis pemerintah daerah untuk menentukan RPJMD/ Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah selama per 5 tahun. Sederhananya, apabila konservasi orangutan dan habitatnya masuk dalam Dokumen DDDT maka secara hukum, RPJMD wajib menyusun rencana pembangunan yang tidak melanggar acuan DDDT karena pelanggaran tersebut akan masuk dalam kategori korupsi.

Dengan demikian, maka DDDT akan mendorong pemerintah daerah untuk menerapkan pembangunan yang berkelanjutan/SDG’s (Sustainable Development Goals), karena nasib orangutan dan masyarakat lokal secara langsung ada ditangan pemerintah daerah, bukan pemerintah pusat.

Penulis : Wendy F. Tamariska dan Syahik Nur Bani- Yayasan Palung

Membuat Topi Sulap dari Kardus Bekas untuk Mengurangi Sampah

Banyak cara sebetulnya yang bisa dilakukan untuk memanfaatkan sampah, seperti misalnya kardus. Kardus bekas bisa dikreasikan menjadi barang-barang bermanfaat (layak pakai) yang cantik seperti topi.

Ayo teman-teman kita berkreasi dengan memanfaatkan barang bekas menjadi sesuatu yang bermanfaat sebagai cara kita bersama untuk mengurangi sampah-sampah dengan cara-cara sederhana.

Bagaimana cara membuatnya?. Berikut ada beberapa alat dan bahan untuk disiapkan terlebih dahulu sebelum membuat topi.

Ada pun alat dan bahan untuk membuat kreasi ini adalah kardus bekas, kertas lipat (origami), lem lilin (Lem Fox), pulpen, cutter, jangka, gunting, pita kain dan asesoris hiasan lainnya.

Cara membuat topi sebagai berikut:

  1. Ukur lingkar kepala orang yang akan memakai topi sulap. Gunakan jangka untuk menggambar lingkaran seukuran kepala pada kardus. Anda juga bisa menggunakan piring sebagai panduan untuk membantu menggambar lingkaran. Buat 2 lingkaran. Lingkaran bagian dalam dan lingkaran bagian luar.
  2. Potong kardus tersebut mengikuti garis lingkaran luar dan garis lingkaran dalam.
  3. Guntinglah kardus berbentuk persegi panjang. Panjangnya sesuai dengan panjang lingkaran dalam.
  4. Gulung kardus persegi panjang tersebut agar mudah membentuk silinder.
  5. Tempel kardus persegi panjang tersebut pada lingkaran dalam sehingga membentuk silinder.
  6. Setelah menempel dengan baik, tempelkan bagian tutup topi (potongan kardus dari lingkaran dalam).
  7. Topi sulap sudah jadi.
  8. Selanjutnya topi dihias sesuai keinginan.

Semoga tutorial ini bermanfaat ya, berharap dengan cara seperti ini kita semua dapat mengurangi sampah. Semoga saja…

Tulisan dan Video : Simon Tampubolon-Yayasan Palung

Editor : Petrus Kanisius

 

Asyik…. Relawan Berbagi Ilmu tentang P2GD Sebagai Modal Dasar untuk Pertolongan Pertama

WhatsApp Image 2018-10-23 at 13.03.05

Evan Juliansyah (salah seorang Perawat dari Yayasan ASRI sekaligus juga Relawan REBONK) Saat Berbagi ilmu kepada sesama relawan dan Sispala. Foto dok. Simon Tampubolon/YP.

Tidak kurang 25 peserta terlihat hadir dalam acara rutin, yaitu pertemuan relawan RebonK. Kali ini mereka berkesempatan untuk mengadakan pertemuan rutin sekaligus berbagi ilmu tentang P2GD (Pertolongan Pertama Gawat Darurat) yang berlangsung pada hari Sabtu (13/10/2018) kemarin, di Kantor Pusat Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung, di Desa Pampang Harapan.

Dalam kesempatan tersebut, Relawan Bentangor Untuk Konservasi (RebonK) ternyata tidak sendiri tetapi juga ternyata mengundang teman-teman dari Sispala Land (SMKN 1 Sukadana) untuk berpartisipasi pada berbagi ilmu tentang P2GD tersebut.

WhatsApp Image 2018-10-23 at 13.23.27

Saat Evan menyampaikan materi (berbagi ilmu) tentang P2GD kepada Relawan RebonK dan Sispala Land. Foto dok. Simon Tampubolon/YP

Evan Juliansyah (salah seorang Perawat dari Yayasan ASRI) berkesempatan untuk berbagi ilmu atau materi terkait pertolongan pertama gawat darurat (P2GD). Evan, demikian ia disapa sehari-hari, dengan sukarela ia berbagi ilmu yang ia miliki. Seperti pada kesempatan tersebut, Evan berbagi ilmu misalnya untuk penangan dan pertolongan pertama pada luka; seperti luka ringan, luka berdarah sedikit, luka berdarah banyak, luka bersih dan luka kotor. Selain itu juga, menjelaskan bagaimana untuk penanganan dan pertolongan pertama terhadap bibit ular, patah tulang, pingsan, sesak nafas, luka bakar dan pertolongan bagi yang mengalami hipotermia (kedinginan).

Beberapa materi tersebut sangat penting untuk disampaikan kepada relawan dan sispala, salah satu alasannya karena mereka sering kali bersentuhan langsung dengan berbagai kegiatan di luar rungan (di hutan), dengan adanya pelatihan (berbagi ilmu) tersebut setidaknya dapat memberikan pemahaman kepada relawan atau pun Sispala agar mereka dapat menolong (pertolongan pertama) bagi sesama mereka jika ada terjadi insiden yang tak terduga seperti luka atau seperti yang lainnya.

Selain materi, mereka (peserta) juga diajak untuk praktek (simulasi) untuk pertolongan pertama/ penanganan. Beberapa relawan terlihat bersedia untuk dibalut tangannya yang mencontohkan bila terjadi patah tulang atau pun juga penanganan bagi yang mengalami sesak nafas.

WhatsApp Image 2018-10-23 at 13.16.35

Praktek Simulasi Pertolongan Pertama Gawat Darurat kepada yang mengalami cidera parah (patah tulang). Foto dok. Simon Tampubolon/YP

Evan, yang juga merupakan salah satu anggota dari Relawan RebonK yang aktif dan sering kali berkegiatan seperti secara sukarela berbagi ilmu kepada sesamanya yang tergabung dalam relawan atau pun sispala.

Kegiatan Pertemuan rutin sekaligus bebagi ilmu tentang P2GD tersebut berlangsung dari pukul 09.00 Wib hingga pukul 12.00 Wib. Setelah itu, pada pukul 13.00 Wib- 15.00 Wib, relawan RebonK yang berjumlah 20 orang dan dari Sispala Land berjumlah 5 orang tersebut diajak untuk menonton film lingkungan yaitu film orangutan. Pada kesempatan tersebut, dari Yayasan Palung yang mendampingi kegiatan itu adalah Simon Tampubolon dan Wawan Anggriandi.

Semua rangkaian kegiatan berjalan sesuai rencana dan mendapat sambutan baik dari peserta yang hadir tampak asyik mengikuti semua rangkaian kegiatan tersebut. Berharap, relawan konservasi bisa saling berbagi ilmu sebagai pengetahuan dasar sekaligus juga sebagai muatan/peningkatan kapasitas mereka sebagai relawan.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Bertutur Tentang Satwa Dilindung dengan Media Boneka (Puppet Show) kepada Anak Sekolah

IMG_20181018_082807

Saat bercerita/bertutur dengan media boneka (Puppet Show) bercerita tentang satwa dilindungi kepada anak-anak di sekolah-sekolah. Foto dok : Yayasan Palung

Kamis (18/10) pagi, Yayasan Palung berkesempatan untuk bertutur kepada anak sekolah tentang satwa dilindungi di SDN 13 Sukabangun, Ketapang, Kalbar. Setelah Rabu(17/10) kemarin, kami juga bertutur di SDN 04 Delta Pawan, Ketapang.
Bertutur dengan media boneka tentang satwa dilindungi sebagai satu cara dari banyak cara yang bisa dilakukan saat ini kepada anak usia dini. Alasannya mereka dapat dengan mudah menerima informasi dari edukasi yang disampaikan dengan cara bertutur. Selain juga, sebagai salah satu  cara kami untuk melakukan pendidikan lingkungan dan penyadartahuan kepada anak usia dini.
Pada kempatan tersebut, kami bertutur  tentang kehidupan satwa dilindungi dialam liar. Mereka (satwa) juga memiliki peranan penting bagi makhluk hidup lainnya untuk terus berlanjut hingga nanti.
Ada pun tokoh-tokoh yg diceritakan dalam cerita tersebut antara lain satwa dilindungi dan terancam punah seperti orangutan, burung enggang/rangkong, kelempiau, selain itu ada bekantan yg tidak hanya dilindungi dan terancam punah tetapi juga satwa yang dikenal dengan sebutan si hidung mancung tersebut merupakan satwa khas (endemik) Kalimantan.
Pada cerita disebutkan satwa seperti orangutan dan enggang adalah petani hutan karena mereka sebagai prnyebar biji-bijian yg nantinya akan tumbuh menjadi tunas pohon-pohon baru (hutan) yang juga memiliki banyak manfaatnya bagi mahkluk hidup lainnya, sebagai contoh, adanya hutan adanya kehidupan, adanya hutan dapat memberi manfaat berupa nafas dan penyedia/penampung air serta penangkal terjadinya bencana seperti banjir dan tanah longsor.
Selain juga kami juga bertutur/bercerita bahwa satwa tidak boleh dipelihara dan kontak langsung seperti halnya orangutan karena bisa saja menyebarkan penyakit dan yang terpenting, satwa dilindungi diatur oleh undang-undang dan jika melanggar bisa terkena sanksi berupa denda atau pun hukuman penjara.
Terlihat, antusias dan semangat dari siswa-siswi kelas 4 yang mengikuti kegiatan tersebut.
Pada kesempatan tersebut, penutur yang bercerita dari Yayasan Palung adalah Haning Pertiwi, Petrus Kanisius, dan 4 siswa-siswi magang : Eti, Neneng dan Dewi  dari SMKN 1 Sukadana dan Iin dari SMKN 1 Ketapang.
Berharap dengan adanya puppet show tentang satwa dilindungi ini, siswa-siswi ada informasi dan pengetahuan baru. Selain itu, semoga saja ada tumbuh kecintaan mereka untuk menjaga dan melindungi satwa-satwa dilindungi dengan cara-cara sederhana.
(Petrus Kanisius – Yayasan Palung).

Potret Buram Konflik dan Kejahatan terhadap Satwa Kian Merajalela di Indonesia

Si raja hutan ini ditemukan mati tergantung di pinggir jurang dengan tali sling melilit di pinggangnya

Harimau sumatera betina yang sedang bunting ditemukan mati akibat jeratan di Kabupaten Kuansing, Riau, Rabu (26/9/2018). Si raja hutan ini ditemukan mati tergantung di pinggir jurang dengan tali sling melilit di pinggangnya. Dok. BBKSDA Riau (Kompas.com/Idon Tanjung).

Konflik dan kejahatan terhadap satwa tampaknya kian merajalela terjadi di beberapa wilayah Indonesia. Tentu ini menjadi potret buram akan nasib dan keberlanjutan nafas hidup terhadap satwa-satwa dilindungi.

Iya benar saja, pada tahun 2018 saja, setidaknya ada dua peristiwa memilukan terjadi yaitu matinya harimau sumatera yang sedang bunting karena jerat pemburu, pada (27/9/2018), dan sebelumnya pada (6/1/2018), anak gajah Sumatera yang ditemukan mati di Kabupaten Pidie, Aceh.

Terjadinya konflik dan kejahatan terhadap dua satwa ini menjadi tanda nyata dan tanda tanya mengapa satwa seperti harimau dan gajah Sumatera menjadi primadona untuk diburu oleh para oknum pemburu? pada hal Undang-Undang sudah tegas mengatur dengan sanksi dan hukuman sebagai upaya memberikan efek jera kepada pelaku.

Merunut dari berbagai data yang tersaji, maraknya (merajalelanya) konflik dan kejahatan terhadap satwa antara lain karena:

Pertama, semakin meningkatnya permintaan pasar ilegal (pasar gelap) terhadap satwa dilindungi yang semakin merajalela dan semakin sulit dilacak karena berbagai modus.

Kedua, beberapa bagian tubuh dari satwa seperti hewan atau satwa dilindungi diminati sebagai bahan aksesoris yang selalu diminati.

Ketiga, masih minimnya pengetahuan atau pun penyadartahuan oleh pelaku kejahatan (pemburu satwa liar) terhadap satwa dilindungi.

Keempat, pelaku kejahatan satwa acap kali mengatasnamakan perburuan yang mereka lakukan sebagai kepentingan perut (sumber penghasilan) semata.

Kelima, hilangnya habitat satwa dilindungi berupa hutan menjadi satu ancaman yang tidak kalah hebatnya. Hilangnya sebagian besar luasan hutan sedikit banyak berdampak pada semakin sulitnya satwa-satwa dilindungi untuk berkembang biak dan melanjutkan nafas hidupnya.

Keenam, penegakan hukum yang masih minim terhadap pelaku kejahatan terhadap satwa dilindungi sehingga tidak ada efek jera oleh si pelaku.

Mengutip dari halaman news.detik.com menyebutkan, “Di Indonesia sendiri kejahatan satwa liar menduduki peringkat ketiga, setelah kejahatan narkoba dan perdagangan manusia, dengan nilai transaksi hasil penelusuran PPATK diperkirakan lebih dari Rp 13 triliun per tahun dan nilainya terus meningkat,” kata Siti Nurbaya dalam keterangan tertulis, pada Senin (30/4/2018) beberapa bulan lalu.

Hal lain sekiranya adalah pemberlakukan sanksi tegas bagi pelaku kejahatan terhadap satwa menjadi satu cara mujarab sebagai efek jera, mengingat selama ini pelaku kejahatan satwa hanya dihukum dengan sanksi ringan. Pada hal Undang-Undang No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Keanekaragaman Hayati dan Ekosistemnya, sudah mengatur jelas tentang hukuman dan konsekuensinya apabila melanggar.

Kejahatan terhadap satwa yang terjadi dan semakin masif sedikit banyak menjadi tantangan baru bagi para penegak hukum dan para lembaga yang peduli terhadap satwa dilindungi saat ini.

Di samping juga diperlukan langkah-langkah strategis seperti kampanye penyadartahuan kepada masyarakat luas yang harus terus menurus dilakukan oleh semua pihak. Mengingat, segala upaya perlindungan dan penyelamatan satwa sejatinya telah dilakukan oleh berbagai pihak antara lain BKSDA dan banyak lembaga atau organisasi lingkungan yang tersebar dibeberapa wilayah Indonesia harus didukung oleh semua pihak pula.

Selanjutnya juga yang tidak kalah pentingnya bagi masyarakat luas adalah jangan sekali-sekali membeli produk, bahan, aksesoris dan lain sebagainya dari bahan dasar hewan dilindungi atau bagian-bagiannya karena itu sama saja dengan mendukung aksi konflik dan kejahatan terhadap satwa.

Dengan kata lain, membeli atau pun mengkonsumsi produk atau barang-barang (bagian-bagian tubuh satwa) atau pun segala sesuatu yang berasal dari satwa dilindungi sama halnya dengan mendukung kepunahan terhadap satwa itu sendiri.

Tentu ini tidak bisa disangal dan menjadi potret buram yang setidaknya menjadi tantangan sekaligus menjadi keprihatinan semua sembari berharap ada langkah tepat agar tidak terjadi kembali kasus-kasus serupa terhadap satwa dilindungi yang saat ini nasibnya semakin kritis menjelang hilang alias punah.

Tidak kalah pentingnya juga terkait ruang bebas bagi satwa yaitu biarkan satwa-satwa dilindungi hidup di alam bebas tanpa terus dan harus terpenjara karena hewan memiliki hak yang sama untuk bebas dalam menjalani kehidupannya.

Biarlah hewan-hewan (satwa dilindungi) untuk hidup bebas di alamnya tanpa harus diusik atau terusik. Bukankah kita sesama makhluk harus selalu untuk saling menghargai satu sama lainnya dengan cara-cara yang bijaksana sehingga dengan demikian semua makhluk boleh hidup harmoni hingga lestari selamanya. Semoga saja…

Sumber tulisan ini : Diolah dari berbagai sumber

Tulisan ini sebelumnya telah dimut di Kompasiana : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/5bb70057ab12ae56ea177342/potret-buram-konflik-dan-kejahatan-terhadap-satwa-kian-merajalela-di-indonesia

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Ironis, 5 Burung yang Dulu Dilindungi Kini “Dikeluarkan”

Lima burung yang dikeluarkan dari daftar dilindungi. Grafis dok. Profauna

Lima burung yang dikeluarkan dari daftar dilindungi. Grafis dok. Profauna

Mulanya mereka ini ( lima burung) masuk dalam daftar dilindungi, namun kini nasib berkata lain mereka dikeluarkan dari daftar satwa dilindungi.

Mengutip dari halaman change.org terkait tentang; “Tolak P92/2018 dan Kembalikan Status Perlindungan 5 Jenis Burung ini!”, mengajak para pihak untuk menandatangani petisi untuk dukungan mengembalikan lima jenis burung ke dalam daftar dilindungi.

Iya, berdasarkan keluarnya Revisi  terkait Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No.92 Tahun 2018 (PermenLHK 92/2018) sebagai perubahan atas PermenLHK 20/2018.

Hanya dalam kurun waktu kurang dari 3 bulan, bukan hanya TIGA namun LIMA spesies burung dikeluarkan dari daftar, yaitu kucica hutan/murai batu, jalak suren, dan cucak rawa serta dua spesies tambahan lainnya yaitu anis-bentet kecil (Colluricincla megarhyncha) dan anis-bentet sangihe (Colluricincla sanghirensis), demikian disebutkan di petisi tersebut sekaligus juga mempertanyakan revisi dan mendesak untuk menggembalikan status 5 jenis burung agar tetap dalam daftar dilindungi.

Atas keluarnya peraturan menteri tersebut membuat ratusan lembaga konservasi kecewa. Benar saja, kekecewaan sangat beralasan sekali, menginggat sudah semestinya nasib dari kelima burung tersebut sejatinya harus tetap dilindungi.

(Ironis memang terkait status dilindungi sejatinya harus tetap disematkan kepada burung-burung tersebut), disatu sisi segala upaya yang terus dilakukan oleh lembaga konservasi untuk melindungi malah bertolak belakang dengan peraturan menteri  mengeluarkan burung-burung tersebut dari daftar dilindungi)

Ada pun 5 daftar nama burung tersebut adalah: Anis-bentet sangihe (Colluricincla sanghirensis), Cucak rawa, Kucica hutan/murai batu, Jalak Suren dan Anis-bentet kecil (Colluricincla megarhyncla).

Revisi itu dinilai tanpa kajian ilmiah yang mendalam sehingga menimbulkan kekecewaan ratusan organisasi konservasi terhadap kebijakan Menteri LHK, Siti Nurbaya yang merevisi peraturan menteri no.20 yang mengeluarkan 5 jenis satwa (burung) dari daftar satwa dilindungi tersebut. Dukungan untuk mengembalikan status dilindungi kepada kelima burung tersebut melalui petisi sudah semestinya harus dilakukan, Tolak P92/2018 dan Kembalikan Status Perlindungan 5 Jenis Burung ini!.

Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di kompasiana, untuk membaca lebih lengkap klik di link https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/5baddb62ab12ae0f23340267/ironisnya-nasibmu-lima-burung-dulu-dilindungi-tetapi-kini-dikeluarkan

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Liana si Penumpang pada Pohon dan Pemberi Manfaat bagi Satwa

Tumbuhan Liana yang menumpang pada pohon. Foto dok. Syahik Nur Bani,YP

Tumbuhan Liana yang menumpang pada pohon. Foto dok. Syahik Nur Bani,YP

Tumbuhan ini jika boleh dikata adalah tumbuhan Penumpang pada tumbuhan lain, mungkin itu kata yang cocok untuk dikatakan kepada tumbuhan liana. Tumbuhan ini pun sangat banyak sekali tumbuh dan hidup di wilayah hutan hujan tropis, tidak terkecuali di Taman Nasional Gunung  Palung (TNGP) yang diketahui banyak memberikan manfaat bagi satwa.

Ia bukan pohon, tetapi tumbuhan. Hidup menempel (menumpang) serta menjalar pada pohon sebagai penopangnya untuk mendapakan cahaya matahari. Tidak hanya itu, tumbuhan liana bukan tumbuhan parasit (tumbuhan yang merugikan tumbuhan lain) seperti ficus sp (kayu ara) misalnya.

Menariknya, tumbuhan liana ternyata banyak memberikan manfaat bagi satwa. Seperti misalnya akar liana yang menjalar atau menggantung bisa menjadi arena bermain bagi satwa dan buah dari liana menjadi makanan favorit satwa.

Tidak hanya buah, tetapi satwa seperti orangutan sangat suka memakan daun muda dan kulit dari liana. Untuk buah, orangutan sangat senang memakan buah liana jenis Willugbeia sp (buah jantak) karena rasanya manis.

Beberapa satwa seperti monyet ekor panjang, kelempiau, kelasi dan orangutan diketahui sangat menyukai tumbuhan liana sebagai makanan. Selain liana dari jenis akar kuning ada jenis lainnya yang dimanfaatkan oleh binatang disana seperti, tapal kaki kuda (Bahuinia sp), cakar elang/pancingan (Uncaria sp), Combretum spdan lain-lain.

Seperti diketahui, kelimpahan liana di Stasius Penelitian Cabang Panti (SPCP) di Taman Nasional Gunung Palung (TNGP) sangat padat baik dari dataran rendah hingga dataran tinggi. Diketahui pula, keberadaan tumbuhan liana sebagai penanda (ciri khas) bahwa hutan di Indonesia merupakan hutan hujan tropis.

“Tumbuhan liana merupakan tumbuhan yang memiliki batang yang keras namun untuk mendapatkan cahaya matahari untuk berfotosintesis (proses pertukaran CO2 dan O2). Liana membutuhkan lain seperti pohon. Akar liana  berbeda dengan Ficus sp.  Ficus  sp (kayu ara) organ tubuhnya menempel pada pohon.

Liana  merupakan salah satu tumbuhan parasit karena dapat memberi luka pada tumbuhan lain, tetapi liana bukanlah parasit yang ganas”, ujar Riduwan salah satu mahasiswa Kehutanan Universitas Tanjungpura yang melakukan penelitiannya selama 1 setengah bulan di Cabang Panti, Taman Nasional Gunung Palung ketika menyampaikan perentasi hasil penelitiannya di Kantor Yayasan Palung beberapa hari lalu.

Untuk membaca lebih lengkapnya, klik : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/5ba3411a43322f5cbf3ba9b3/liana-si-penumpang-pada-pohon-dan-pemberi-manfaat-bagi-satwa

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Asyiknya Bisa Tinggal Bersama di Cabang Panti dan Meneliti Feses (kotoran) Orangutan

IMG-20180910-WA0016

Isma Fatiha saat meneliti feses (kotoran) orangutan di laboratorium di Cabang Panti, TNGP. Foto dok : Isma/Yayasan Palung

Perkenalkan nama saya Ishma Fatiha, mahasiswa Biologi UIN Jakarta. Sudah 6 bulan saya tinggal di Kalimantan, pulau yang orang bilang “penuh cerita mistis”, tepatnya di Stasiun Riset Cabang Panti, Taman Nasional Gunung Palung. Awalnya gak kepikiran gimana harus tinggal 6 bulan di tengah hutan, waktu itu hanya pikir ya jalanin ajalah ya mau gimana juga. Sebelum datang pun sudah diberitahu bagaimana kondisi di CP, dari mulai jalan menuju ke sana yang harus jalan kaki 18 Km, bagaimana di camp, jarang ada sinyal juga dan sebagainya.

Pertama datang ke CP itu tanggal 11 Februari 2018. Mulai jalan dari Tanjung Gunung, sekitar jam 3 sore dan sampai di camp jam 8 malam. Saat itu sangat tidak menikmati perjalanan, mungkin karena baru pertama kali. Rasanya capek banget dan saat sampai di camp pun sudah tidak ada mood untuk lihat-lihat (gelap juga sih, ga bisa liat-liat). Intinya sampai camp langsung mandi, makan dan tidur. Dan keesokan paginya saat bangun dan keluar camp, baru sadar kalo sudah ditengah hutan dan itu indah banget.

IMG-20180910-WA0015

Isma saat melakukan pengecekan sampel feses orangutan di laboratorium. Foto dok : Isma/Yayasan Palung

Hari kedua di sana, hanya istirahat dan presentasi tentang penelitian yang mau dilakukan disana. Selain itu juga diajak lihat-lihat seluruh isi camp, mulai dari camp Cabang Panti, camp nyamuk, camp litho, gudang makanan, sungai tempat mandi dan lab. Sebenarnya paling ‘wow banget’ sama lab, karena aku kan pakai lab untuk proyek penelitianku dan ini lab lapangan paling lengkap yang pernah aku liat selama ini. Meskipun ya namanya juga di lapangan, ada aja kendalanya sih, tapi enjoy banget buat kerja disana bahkan sampai malam. Yang paling gak ngebosenin pas kerja di lab itu karena bisa sambil liat ke hutan sih. Kadang lagi kerja tiba-tiba sekelompok macaca datang dan makan di mangifera samping camp. Atau ada rangkong dan trogon yang bertengger di pohon sekitar camp, colugo entah dari mana muncul dan hinggap di batang pohon dan bahkan orangutan (re: Bibi-Bayas) yang seringkali datang buat makan mangifera dan cempedak dekat camp.

Pada waktu awal-awal datang di camp sedang tidak ada orangutan. Jadi hanya ikut asisten untuk cari orangutan sekalian menghafal trail (jejak) atau rintis yang ada di Cabang Panti. Saat pertama jalan disana semua rintis terlihat sama dan rasanya bakal tersesat terus kalau jalan sendiri. Tapi kelamaan malah lebih suka untuk cari orangutan sendiri. Karena lebih fokus dan bisa liat-liat hal lain juga yang kadang gak disadari pas jalan sama orang lain dan juga malah lebih cepat hafal rintis ketika jalan sendiri. Yaa.. karena mau gak mau harus cari jalan buat balik ke camp. Selama 6 bulan disana kayaknya hampir setiap hari pergi ke hutan buat cari orangutan, tapi frekuensi ketemunya sedikit banget. Sampai kadang lupa kalo kesana buat orangutan dan malah keasyikan liat rangkong (yang gak ada sih di tempatku), atau hal lain yang menarik disana.

Bicara ketemu orangutan, aku ingat pertama ketemu orangutan itu langsung ketemu 3 individu, Tari- Telur- Tawni. Mereka ibu- remaja- anak. Waktu itu sih yang ketemu pertama itu Brodie. Kemudian dia hubungi lewat radio. Jadi asisten tahu dimana orangutan itu dan bisa langsung follow. Aku inget mikir wow ternyata ini orangutan di hutan yang sebenarnya, dan disitulah pertama tau gimana rasanya ikut orangutan sampai ke sarangnya juga gimana susahnya ikut pergerakan mereka. Kalau pengalaman pertama ikut orangutan tanpa asisten itu ikut sama Tari-Tawni juga dan juvenil yang tidak dikenal. Waktu itu hanya berdua dengan Uci dan orangutan tidur sangat malam. Hasilnya, semua orang di camp panik karena kami masih baru dan belum hafal rintis, dan mereka pikir kami tersesat.

IMG-20180910-WA0017

Isma ketika mengambil sampel feses orangutan di hutan. Foto dok : Isma/Yayasan Palung

Setelah sekitar 3 minggu di camp, aku baru mulai ambil sampel feses dan kerja di lab untuk proyek penelitianku. Kenapa lama?, Ya karena harus menyesuaikan diri, latihan pakai alat lapangan dan lab dan juga karena sulitnya cari orangutan saat itu. Udah gitu ada orangutan pun belum tentu ada feses. Karena tidak bisa diprediksi apakah orangutan defekasi hari itu atau apa jumlahnya cukup untuk semua analisis. Dan hal yang jadi tantangan juga pas lagi koleksi sampel feses, mulai dari harus cari dimana fesesnya jatuh sampai resiko ketimpa feses orangutan. Pernah sekali ketimpa feses orangutan. Kesel sih, tapi seneng juga karena dapet sampel (btw harus hati-hati sama feses orangutan karena potensi zoonosis itu). Ya itu pelajaran juga sih harus liat-liat kalo mau ambil sampel. Analisis di lab juga jadi satu tantangan. Itu karena listrik hanya ada di sore hari dan alat lab butuh listrik juga. Jadi kadang ngelab sampai malam banget kalau lagi banyak sampel (dan kadang sendirian karena semua orang udah selesai kerja).

Tapi meski lama, enaknya disana semua orang mau bantu kami untuk belajar (banyak banget sih yang harus dipelajari) dan bahkan juga bantu proyek kami. Itusih yang buat betah banget. Ya karena hidup di tempat yang sama, dalam waktu yang lama, di hutan ketemu dia, di camp dia lagi, jadi kekeluargaannya kerasa banget. Semua orang berusaha agar satu sama lain tuh betah dan gak bosen. Ya kadang ngeselin sih karena bercandanya berlebihan, tapi mungkin itu jadi hal yang nanti bakal diingat pas sudah tidak di CP.

Sebenarnya susah banget buat nulis ini. Bingung, gak tau apa yang harus ditulis. Padahal 6 bulan tapi terasa singkat banget. I try to keep track of everything in my head, big things to little things, but its like trying to hold on to a fistful of sand. Meski rasanya banyak yang ingin diceritakan tapi bingung. Intinya i hope i will have a chance to come to CP again someday (saya berharap, saya punya kesempatan untuk berkunjung ke CP suatu hari nanti).

Penulis : Ishma Fatiha, Mahasiswa Biologi UIN Jakarta