Category Archives: Relawan Konservasi

Rayakan Hari Orangutan Internasional 2018, Yayasan Palung Lakukan Ragam Kegiatan untuk Menjaga Si Petani Hutan Melalui Budaya

Cerita tentang satwa dilindungi saat IOD 2018 (2).JPG

Relawan Tajam  Yayasan Palung Bercerita tentang satwa dilindungi saat acara IOD 2018 di Citimall Ketapang pada (19/8), kemarin. Foto dok : Yayasan Palung

Minggu (19/8/2018) kemarin, Dunia Internasional  memperingati Hari Orangutan Internasional atau International Orangutan Day (IOD)/ atau biasanya disebut juga World Orangutan Day (WOD)/Hari Orangutan Sedunia 2018. Tahun ini, Yayasan Palung bersama para relawan untuk bersama mengajak  untuk peduli terhadap si petani hutan (orangutan), salah satunya melalui budaya.

Dalam gelaran untuk merayakan hari orangutan internasional 2018 kemarin, Yayasan Palung bersama para relawan Tajam, RebonK dan Penerima Beasiswa Orangutan Kalimantan (BOCS) menyelenggarakan berbagai kegiatan yang dilaksanakan di Citimall Ketapang, diantaranya seperti panggung boneka (puppet show) yang disuguhkan oleh relawan Tajam, penampilan teater dari relawan Bentangor, dan lomba Syair gulung di tingkat Sekolah Dasar.

teater saat IOD.JPG

Aksi teatrikal (teater) yang ditampilkan oleh Relawan RebonK Yayasan Palung saat acara Hari Orangutan Internasional (19/8), kemarin. Foto dok : Yayasan Palung

Ada pun tema yang diketengahkan oleh Yayasan Palung pada Hari Orangutan Internasional tahun 2018 adalah; “Menjaga Si Petani Hutan Melalui Budaya”, Si Petani hutan yang dimaksud pun tidak lain adalah orangutan.  Menjaga si petani hutan melalui budaya menjadi satu ajakan kepada semua pihak untuk peduli terkait nasib dari orangutan saat ini karena berbagai ancaman yang ada pada satwa endemik tersebut.

Kegiatan dimulai pada pukul 13.00 Wib, dibuka secara resmi oleh Direktur Yayasan Palung. Ragam rangkaian kegiatan seperti perlombaan Syair Gulung, diselang seling dengan adanya suguhan penampilan panggung boneka (puppet show) yang bercerita tentang kehidupan satwa liar di hutan seperti orangutan, burung enggang dan bekantan. Orangutan sebagai satwa yang sangat terancam punah, dan burung enggang sebagai satwa penyebar biji (si petani hutan). Sedangkan bekantan merupakan satwa endemik yang hanya hidup di pulau Kalimantan saja.

Sedangkan atraksi aksi teatikal (teater) bercerita tentang menjaga  kehidupan di hutan. Dalam teater tersebut, relawan RebonK mengajak menjaga hutan  peninggalan nenek moyang. Sebagai tokoh dalam cerita, Pak Amat yang di Perankan oleh Egi, RebonK sebagai sosok penjaga hutan yang bijaksana serta tidak tergoda dengan bujuk rayu dan berhasil menangkal segala ancaman yang datang seperti penebangan liar atau pun ilegal loging dan perburuan liar live music  dari Egi’s & Friend yang menampilkan lagu-lagu tentang lingkungan.

Egi's and Friend band saat mengisi acara IOD.JPG

Egi’s and Friend band saat mengisi acara IOD 2018. Foto dok : Yayasan Palung

Pada perlombaan Syair Gulung, peserta lomba melantunkan syarir gulung yang merupakan bagian dari budaya. Peserta lomba syair sebagian besar menyampaikan pesan kepada khalayak (masyarakat luas) dan ajakan terkait pesan-pesan moral lingkungan, dan kecintaan mereka tanpa harus memiliki atau memilihara satwa dilindungi. Sebagai Pemenang pertama dalam lomba Syair Gulung adalah Uti Al Faldan, dari MIN Ketapang. Sedangkan pemenang kedua adalah Girink Clara Belo dari SDN 05 Delta Pawan, pemenang ketiga Syarif Levi Nasira Sahab dari SDN 04 Benua Kayong dan pemenang keempat adalah Safitri  Kirani dari SDN 20 Delta Pawan. Untuk hadiah, para pemenang mendapatkan hadiah berupa paket hadiah, plakat dan sertifikat.

peserta lomba berfoto bersama.JPG

Peserta lomba berfoto bersama setelah pengumuman lomba Syair Gulung dalam acara IOD 2018. Foto dok : Yayasan Palung

Sebagai juri dalam perlombaan Syair Gulung di tingkat Sekolah Dasar dalam rangka IOD 2018 tersebut adalah Raden Abdillah dan Wijaya.

Dalam kata sambutannya, Direktur Program Yayasan Palung, Terri Lee Breeden mengatakan; “Acara kami yang diadakan di Citi Mall untuk International Orangutan Day 2018 adalah sukses besar”.

Selain itu lebih lanjut menurut Terri, Ia merasa terkesan pada kapasitas para kelompok relawan, yang mana para relawan muda kami bekerja untuk mengatur dan melakukan pertunjukan yang hebat. Kami menjangkau khalayak luas dan dapat menyampaikan pesan tentang ancaman yang dihadapi orangutan saat ini dan apa yang dapat kita semua lakukan untuk membantu melindungi mereka dan habitat hutan mereka. Saya ingin berterima kasih kepada semua orang atas kerja keras mereka dan menantikan acara seperti ini di tahun-tahun mendatang’’, ujar Terri lagi.

Winda Lestari, Relawan Tajam angkatan pertama sekaligus sebagai ketua panitia kegiatan IOD 2018 mengatakan;  Kegiatan seperti ini (IOD/WOD 2018) sangat bagus sekali dilakukan karena rangkaian kegiatan sudah menjadi aksi kampanye untuk satwa yang dilindungi seperti perlombaan syair gulung pun tersaji dan tersirat pesan moral konservasi. Selain itu juga syair gulung menjadi aksi yang nyata melalui budaya.

Sementara itu, Junardi dari Mahasiswa penerima Beasiswa BOCS mengatakan, kegiatan hari orangutan internasional yang diselenggarakan sudah berjalan dengan sukses, berharap di tahun-tahun mendatang kegiatan seperti ini bisa lagi diselenggarakan dengan peserta yang lebih banyak dan di tempat-tempat yang strategis agar bisa menjangkau masyarakat.

Pada kegiatan tersebut, terlihat antusias dari para tamu undangan dan para peserta lomba yang ikut ambil bagian dalam acara IOD tersebut. Pada malam harinya, Yayasan Palung bersama para relawan dan Mahasiswa BOCS melakukan pemutaran film lingkungan di Citimall. Ada pun film lingkungan yang diputar sebagai media penyadartahuan/kampanye  dan hiburan kepada pengunjung. Ada pun film  yang di putar antara lain adalah film Asimetris, film Indonesia Diambang Kepunahan dan film Sampah Man.

Saat pemutaran film lingkungan dalam rangka IOD 2018 di Citimall Ketapang sebagai upaya kampanye penyadartahuan  (1).jpg

Saat pemutaran film lingkungan dalam rangka IOD 2018 di Citimall Ketapang sebagai upaya kampanye penyadartahuan kepada masyarakat luas. Foto dok : Yayasan Palung

Lewat IOD/WOD 2018 ajakan kepada semua untuk peduli pada satwa lebih khusus orangutan dan satwa dilindungi lainnya. Selain juga merupakan satu cara penyampaian kampanye penyadartahuan kepada masyarakat luas untuk ikut berperan serta ambil bagian berperan dan berharap ada semangat yang semakin tumbuh dari semua pihak untuk semakin peduli pada nasib hutan dan satwa sebelum terlambat. Berharap Si Petani Hutan bisa lestari hingga nanti. Semua rangkaian kegiatan Hari orangutan Internasional 2018 berjalan sesuai rencana dan sukses.

berfoto bersama setelah selesai kegiatan IOD atau WOD 2018.JPG

Berfoto bersama setelah selesai kegiatan IOD atau WOD 2018. Foto dok : Yayasan Palung

Sebelumnya berita terkait kegiatan Hari Orangutan Internasional (International Orangutan Day/IOD) 2018 yang digelar/dilakukan Yayasan Palung, dimuat di Tribun Pontianak online :

http://pontianak.tribunnews.com/2018/08/23/rayakan-peringatan-iod-2018-yp-gelar-beragam-kegaiatan-di-citimall-ketapang

Rekaman Radio di Radio GS tentang feature hari orangutan internasional 2018 di link :

https://soundcloud.com/yayasan-palung/feature-radio-gs-tentang-kegiatan-hari-orang-utan-sedunia-2018-dirayakan-oleh-ypmp3

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

 

 

Iklan

Ajari Cara Kreatif Kepada Anak-anak untuk Memanfaatkan Sampah

IMG-20180713-WA0007

Anak-anak yang tergabung dalam Bentangor Kids terlihat bersemangat membuat kreasi barang bekas berupa kardus untuk dijadikan topi (12/7) kemarin di Bentangor, Yayasan Palung. Foto dok. Yayasan Palung

Banyak cara kreatif yang bisa dilakukan untuk memanfaatkan sampah secara bijaksana menjadi barang bermanfaat, seperti yang dilakukan beberapa orang anak yang tergabung dalam Kelompok Bentangor Kids, di Kantor Yayasan Palung Bentangor Pampang Center, Sukadana, KKU, Kalbar, Kamis (12/7/2018) kemarin.

Ya, Kelompok Bentangor Kids belajar sembari bermain, mereka berhasil membuat kreasi dengan cara mengolah sampah menjadi barang-barang bermanfaat tidak terkecuali seperti topi.

Terlihat, mereka sangat asyik menggunting dan mengukur, dan diantaranya juga ada yang menempel (merekatkan) lem pada bagian-bagian dan sisi-sisi kardus yang telah dirancang dengan berbagai bentuk topi, topi-topi hasil kreasi mereka yang telah dibuat selanjutnya dipercantik dengan ikatan pita agar terlihat menarik. Topi yang terbuat dari kardus pun selesai mereka kerjakan. Topi kardus, ya karena topi-topi yang mereka buat tersebut terbuat dari kardus.

Anak-anak yang tergabung dalam Kelompok Bentangor Kids, mereka rela meluangkan waktu dan tenaga untuk bersama-sama belajar sembari bermain sekaligus  memanfaatkan sampah dari sisa-sisa kardus yang tidak terpakai lagi itu selanjutnya mereka olah menjadi topi yang bagus, menarik dan bisa dipakai/digunakan walau hanya terbuat dari kardus.

IMG-20180713-WA0010

Seorang anak dari Kelompok Bentangor Kids terlihat tertawa lepas karena ia berhasil membuat topi. Foto dok. Yayasan Palung

Dari hasil kreasi dan kreatif mereka (Bentangor Kids) terciptalah topi yang cantik dan menarik yang setidaknya bisa melindungi kepala dari teriknya mata hari ketika bermain.

Tidak disangka, sampah dari sisa-sisa rumah tangga ternyata bisa dimanfaatkan dan diolah dengan berbagai cara kreatif seperti ini, kata Simon Tampubolon, selaku pembimbing dan pembina anak-anak Bentangor Kids.

Lebih lanjut menurut Simon, dengan memanfaatkan barang-barang bekas dan mengolah (mendaurnya) menjadi sesuatu yang bermanfaat, maka persoalan sampah lebih khusus sampah rumah tangga bisa diminimalisir dan sudah sepatutnya cara mereka seperti ini untuk diikuti sebagai langkah bersama peduli dengan persoalan sampah yang selama ini belum juga kunjung usai.

Mengingat, persoalan sampah yang ada saat ini memang memerlukan cara kreatif bagaimana untuk mengolahnya. Apa lagi persoalan  hingga kini pun belum kunjung usai, ditambah lagi oleh prilaku oknum tertentu yang enggan dan empati tanpa peduli. Banyak diantara kita di Indonesia yang acuh-tak acuh dengan sampah, salah satunya membuang sampah sembarangan tanpa peduli dan tanpa melihat dampak atau pun peluang (manfaat) dari sampah itu apa sejatinya.

Saat mereka berkreasi membuat topi yang terbuat dari kardus, mereka didampingi oleh kakak-kakak mereka dari RebonK (relawan Yayasan Palung) dan dari Yayasan Palung.

Hal lainnya pula, persoalan sampah bisa dikatakan sudah menjadi tugas bersama siapa pun itu untuk saling bahu membahu mencari cara untuk kreatif dan bijaksana dengan persoalan.

Berharap, semoga ada lagi kreasi-kreasi lainnya yang bisa diciptakan oleh anak-anak ini salah satunya  dengan cara sederhana dan kreatif seperti ini benar-benar bisa diikuti oleh siapa saja, dengan demikian secara tidak langsung pula peduli dengan lingkungan sekitar dan memilihara bumi setidaknya dengan cara-cara seperti ini.

IMG-20180712-WA0007

Mereka terlihat senang memakai topi hasil dari kreasi mereka sendiri. Foto dok. Yayasan Palung

Semoga saja cara-cara kreatif seperti yang dilakukan oleh anak-anak dari Kelompok Bentangor Kids ini bisa diikuti oleh yang lainnya seusianya.

Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di Kompasiana : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/5b4845e1cf01b45f610dbe33/ajari-cara-kreatif-kepada-anak-anak-untuk-memanfaatkan-sampah

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

 

 

Salam Kenal Kami dari Kelompok Bentangor Kids yang Bermain Sembari Belajar

WhatsApp Image 2018-05-30 at 10.39.20 (2)

Anak-anak yang tergabung dalam Kelompok Bentangor Kids. Foto dok. Yayasan Palung

Bermain sembari belajar atau sebaliknya, itulah mereka Kelompok Bentangor Kids. Mereka pun bisa belajar bersama dengan sesama mereka, atau terkadang belajar dengan kakak-kakak dari Yayasan Palung.

Anak-anak yang tergabung dalam Kelompok Bentangor Kids, biasanyas selepas mereka pulang sekolah  manfaatkan waktu luang untuk berkunjung ke Pusat Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung, Bentangor Pampang Center di Desa Pampang Harapan, KKU, Kalbar.

Mereka biasanya bermain, belajar dan membaca buku. Kebetulan di Bentangor ada perpustakaan mini, beberapa buku memang diperuntukan bagi anak-anak. Seperti misalnya buku-buku cerita daerah, buku tentang lingkungan, hewan dan alam serta buku-buku tentang satwa. Tak jarang, selain mereka berkunjung untuk bermain mereka juga belajar. Mereka juga belajar bahasa Indonesia, bahasa Inggris dan matematika.

Mereka (Kelompok Bentangor Kids) secara resmi dibentuk pada hari Selasa (29/5/2018) kemarin, walaupun sesungguhnya aktivitas mereka sudah ada sejak beberapa tahun silam.

Pada kesempatan kemarin, Yayasan Palung akan memberikan materi-materi konservasi lingkungan, kerajinan tangan, permainan tradisional, outbound dan aktivitas-aktivitas lainnya yang bisa membangun karakter anak.

Adapun tujuan dari BukBer tersebut sebagai sarana silaturahmi dan sosialisasi tentang pusat Pendidikan Lingkungan “Bentangor” Yayasan Palung.

Inisiatif untuk memberikan nama Bentangor Kids adalah teman-teman kantor Yayasan Palung. Bentangor merupakan kepanjangan yang memiliki arti; Belajar tentang orangutan. Kelompok Bentangor Kids  merupakan anak-anak yang berdomisili di sekitar Pusat Pendidikan Lingkungan “Bentangor” Yayasan Palung mengetahui program Yayasan Palung dan mengenal staf Yayasan Palung.

Bentangor Kids merupakan anak-anak yang berusia 8-12 tahun (anak-anak seusia Sekolah Dasar dan mereka masih aktif sekolah). Sebagai bagian dari peningkatan kapasitas masyarakat yang berdiam di sekitar kawasan Taman Nasional Gunung Palung, Yayasan Palung bekerjasama dengan Relawan Konservasi RebonK (Relawan Bentangor untuk Konservasi) berencana menjalankan Program Bentangor Kids.

Sebagai pendamping mereka (Kelompok Bentangor Kids) didampingi oleh Kakak-kakak dari Yayasan Palung seperti Simon Tampubolon, Hendri Gunawan dan Wawan Anggriandi selain juga ada kakak-kakak dari Relawan RebonK.

Berharap, Kelompok Bentangor Kids bisa belajar dan mendapat ilmu pengetahuan agar mereka pun memiliki peningkatan kapasitas untuk semakin mencintai lingkungan, alam di sekitar mereka.

Baca juga :Asyiknya Bisa Buka bersama Anak-anak Kelompok Belajar Bentangor Kids

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

 

Rayakan Hari Bumi, YP Ajak Peduli Persoalan Sampah di Hutan Kota Ketapang

Banner Hari Bumi 2018. Foto dok.Yayasan Palung

Banner Hari Bumi 2018 Yayasan Palung. Foto Desain : Mega, RK. Tajam dan Yayasan Palung

Tidak bisa disangkal, persoalan sampah yang ada di Hutan Kota Ketapang cukup banyak. Persoalan sampah tersebut tidak lain berasal dari oknum-oknum pengunjung yang tak jarang membuang sampah tidak pada tempatnya. Walaupun hari bumi sudah lewat pada 22 April lalu, akan tetapi Yayasan Palung (YP) berencana akan melakukan rangkaian kegiatan hari bumi tahun ini, yang rencananya akan diadakan dilakukan pada hari Minggu 29 April 2018 mendatang.

Adapun tema yang diusung oleh Yayasan Palung pada hari bumi tahun 2018, “Di mana Bumi Dipijak, Di situ Langit Dijunjung”.

Sedangkan maksud dan tujuan kegiatan ini adalah :

  1. Memberikan penyadartahuan dan kepedulian tentang kebersihan lingkungan kepada para pengunjung Hutan Kota.
  2. Mengajak peran serta pemerintah (Perkimlh dan KPH) untuk terlibat aktif dalam menjaga kebersihan hutan kota.

Dalam rangkaian kegiatan Hari bumi yang akan dilakukan tersebut, Yayasan Palung mengajak para pihak seperti misalnya;  PERKIMLH (Kebersihan) Kab. Ketapang, Relawan Konservasi Yayasan Palung (RK.Tajam dan RK. RebonK), KPH Selatan, Radio Kabupaten Ketapang (RKK) dan Siswa Pecinta Alam (SISPALA) yang ada di Ketapang.

Sedangkan bentuk kegiatan seperti; Bersih sampah di lokasi Hutan Kota, Pemasangan plang kampanye penyadartahuan terkait sampah, Pembersihan sampah, Pengangkutan sampah dan Pembuatan film tentang bersih-bersih sampah ujar Rizal Alqadrie, selaku ketua panitia kegiatan.

Permasalahan sampah sering terjadi di berbagai tempat, tidak hanya di tempat umum melainkan di lingkungan sekitar kita juga mengalami permasalahan tersebut. Masalah ini sering menjadi ancaman aspek keindahan dan kebersihan, namun lebih lagi memberikan dampak negatif bagi kelestarian lingkungan dan kesehatan bagi masyarakat jika tidak ditangani dengan baik. Salah satunya sekarang mengancam tempat keberlangsungan makhluk hidup yang berada di Hutan Kota Ketapang.

Mengingat Hutan Kota merupakan salah satu aset kota Ketapang, karena keberadaannya yang berada ditengah pusat ketapang sehingga mudah sekali bagi masyarakat untuk berkunjung hanya sebatas untuk melihat dan menjadikan sebagai tempat pendidikan bagi sekolah serta menikmati alam yang ada disana. Akan tetapi, kesadaran masyarakat terhadap hutan kota tersebut sangat minim sekali dikarenakan masih saja membuang sampah sembarangan dan pengelolaan sampah yang tidak baik membuat sampah berserakan di lokasi tersebut. Berharap, kegiatan berjalan sesuai rencana.

Petrus Kanisius- Yayasan Palung

Terkait Lingkungan Hidup, Kadisdik Ketapang Apresiasi Program Yayasan Palung

Kepala Dinas Pendidikan Ketapang, H Jahilin, di ruang kerjanya. Foto dok. Tribun Pontianak

Kepala Dinas Pendidikan Ketapang, H Jahilin, di ruang kerjanya, Kamis (5/4). Foto dok. Tribun Pontianak

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Subandi 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KETAPANG – Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Ketapang, H Jahilin mengapresiasi dan berterimakasih kepada Yayasan Palung (YP). Lantaran sejak 2012 hingga 2018 komitmen mengkuliahkan para pelajar hingga 31 orang dan di antaranya dari Ketapang.

“Kita sangat mengapresiasi program YP tersebut apalagi terkait untuk keberlangsungan lingkungan hidup flora dan fauna,” kata Jahilin kepada wartawan di Ketapang, Kamis (5/4).

Ia menilai adanya progam itu berarti ada pelajar yang memang dididik dan arahkan untuk menjaga kelestarian alam.

“Apalagi sekarang hal itu sangat penting karena hutan kita semakin sedikit sehingga flora dan fauna terancam punah,” ucapnya.

“Jadi dengan adanya pelajar di Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara yang diberi beasiswa oleh YP tersebut. Harapan kita para pelajar ini nantinya bisa menyelamatkan keberlangsungan hidup flora dan fauna di daerah kita,” lanjutnya.

Ia berharap selain para pelajar yang dikuliahkan oleh YP tersebut. Pelajar lain dan masyarakat juga memiliki kesadaran untuk menjaga keberlangsungan hidup alam. “Misalnya menjaga kelestarian orangutan agar tidak punah nantinya,” tuturnya.

Artikel ini telah tayang di tribunpontianak.co.id dengan judul Terkait Lingkungan Hidup, Kadisdik Ketapang Apresiasi Program Yayasan Palung, http://pontianak.tribunnews.com/2018/04/05/terkait-lingkungan-hidup-kadisdik-ketapang-apresiasi-programyayasan-palung.
Penulis: Subandi
Editor: Jamadin

Sumber Berita : tribunpontianak.co.id
 

Ada Enam Pelajar Penerima Beasiswa Orangutan Kalimantan Tahun ini

Saat seleksi beasiswa, peserta seleksi menyampaikan presentasi.JPG

Saat seleksi beasiswa, peserta seleksi menyampaikan presentasi. Foto dok. Yayasan Palung

Setelah melakukan seleksi, Yayasan Palung  resmi mengumumkan enam pelajar penerima beasiswa S-1 melalui Program Peduli Orangutan Kalimantan atau Bornean Orangutan Caring Scholarship (BOCS) 2018, pada 29 Maret lalu.

Penerima beasiswa Bornean Orangutan Caring Scholarship (BOCS) 2018 dari hasil seleksi tahap akhir yang dilaksanakan pada 29 Maret 2018 adalah:

  1. Mega Oktavia Gunawan (SMK Negeri 1 Ketapang): Fakultas Kehutanan Prodi Kehutanan
  2. Aisyah (SMA Negeri 1 Matan Hilir Utara): FISIP Prodi Hubungan Internasional
  3. Cantika Peggi Nur Iskandar Putri (SMK Negeri 1 Sukadana): Fakultas Hukum
  4. Ari Marlina (SMK Negeri 1 Ketapang): Fakultas Kehutanan Prodi Kehutanan
  5. Fitri Meliyana (SMA Negeri 3 Simpang Hilir): FMIPA Prodi Biologi
  6. Anju Eranti (SMA Negeri 1 Sandai): FISIP Prodi Hubungan Internasional

Enam penerima beasiswa  BOCS tersebut, sebelumnya terlebih dahulu telah melalui tahapan seleksi dari awal hingga seleksi akhir. Adapun sebagai juri dalam seleksi penerima beasiswa adalah Juri: Ir. Evy Wardenaar, M.P (Fahutan UNTAN), Dr. Wahyono, M.Pd (STAI AL-Hauld), Akhdiyatul, S.ST., M.T (Politeknik Ketapang) dan Mariamah Achmad S.Hut (Yayasan Palung).

Para juri seleksi beasiswa dan di tengah direktur Yayasan Pa.JPG

Para juri seleksi beasiswa dan di tengah direktur Yayasan Palung. Foto dok. YP

Seperti diketahui, Beasiswa Orangutan Kalimantan  atas dasar adanya kerjasama Yayasan Palung (YP) dan Orangutan Republik Foundation (OURF), sejak tahun 2012 silam.

Semua peserta seleksi BOCS saat mendengarkan pengumuman hasil seleksi.JPG

Semua peserta seleksi BOCS saat mendengarkan pengumuman hasil seleksi. Foto dok. YP

Direktur Yayasan Palung, Terri Lee Breeden mengatakan, Program BOCS adalah salah satu favorit saya yang diimplementasikan Yayasan Palung. Program ini bertujuan untuk menciptakan generasi pemuda berpendidikan universitas yang akan bekerja untuk konservasi. Tahun ini, proses seleksi sangat sulit. Kami memiliki banyak pelamar yang luar biasa.

Untuk para pemenang, saya ingin mengucapkan selamat. Saya berharap untuk melihat kerja keras dan semangat terhadap konservasi. Untuk yang lain, saya berharap kepada penerima beasiswa tetap melanjutkan pendidikan tinggi dan bekerja menuju konservasi dalam kehidupan sehari-hari Anda, imbuh Terri lagi.

Mariamah Achmad Manager Program Pendidikan Lingkungan dan Media Kampanye Yayasan Palung sekaligus yang menangani program BOCS mengatakan, Sejak dimulainya program BOCS pada tahun 2012 hingga 2018 sudah terdapat 31 orang penerima BOCS, diantaranya 4 orang sudah sarjana dan selebihnya sedang aktif kuliah. Mereka berasal dari berbagai daerah di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara yaitu 20 orang dari Kabupaten Ketapang dan 11 orang dari Kabupaten Kayong Utara.

“Kami sangat senang mendapatkan  enam orang lagi para penerima beasiswa dari program BOCS. Program ini sudah kami jalankan dalam 7 tahun ini. Yayasan Palung sangat peduli dengan peningkatan pendidikan generasi muda di tanah Kayong, sangat baik memperbanyak generasi muda yang peduli terhadap konservasi yang memiliki berbagai latar belakang disiplin ilmu. Ini merupakan salah satu investasi penting untuk masa depan alam dan lingkungan Indonesia”, ujar Mayi.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

 

 

Melatih Relawan Lokal Cinta Pelestarian Alam

Para Relawan Yayasan Palung yang tergabung dalam TABONK. Foto dok. Yayasan Palung

Para Relawan Yayasan Palung yang tergabung dalam TABONK. Foto dok. Yayasan Palung

Para pemuda itu tampak antusias mengikuti berbagai kegiatan. Mereka belajar mengenai dasar-dasar kerelawanan, manajemen organisasi, dan berbagai topik lain, khususnya topik mengenai lingkungan. Sebab mereka adalah relawan Tajam dan RebonK.

Kelompok relawan ini kerap menyuarakan mengenai konservasi di Tanah Kayong, Kalimantan Barat. Beberapa waktu lalu, mereka mengikuti semacam pelatihan di kantor Yayasan Palung, di Desa Pampang Harapan, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat.

Sesuai dengan slogan TabonK; “Yom Kite Begabong”, selama tiga hari kegitan tersebut, ragam keceriaan dan ide mereka satukan yang terbingkai dalam diskusi untuk belajar bersama terkait apa yang terjadi saat ini dan mungkin yang akan terjadi di masa depan terkait lingkungan.

Mereka juga mengikuti diskusi mengenai dampak kerusakan hutan. Tak sedikit ide yang mereka cetuskan terkait dengan kerusakan lingkungan dan dampaknya, seperti: dampak sosial, ekonomi, lingkungan, politik, dan dampak secara menyeluruh, termasuk pula pemanasan global.

Dalam diskusi tersebut, muncul ide untuk mengatasi dampak kerusakan hutan antara lain: melakukan reboisasi (penanaman kembali), tidak menebang pohon, dan penegakan hukum dari negara untuk mengatasi persoalan lingkungan….

Untuk membaca selengkapnya di : https://student.cnnindonesia.com/edukasi/20180207111639-445-274476/melatih-relawan-lokal-cinta-pelestarian-alam

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Cerita Pendek : Kindness (Kebaikan)

Orangutan yang mendiami hutan Gunung Palung. Foto dok. Brodie Philp, Yayasan Palung

Orangutan yang mendiami hutan Gunung Palung. Foto dok. Brodie Philp, Yayasan Palung

Alkisah, tinggallah satu induk Orangutan bersama anaknya, yang bernama Pongo. Suatu kali, Pongo ingin merasakan buah Ara tepat di depan matanya. Sambil digendong ibu nya, Pongo bertanya, “Bu, bolehkah Pongo ambil buah itu?”. Ibu nya yang mendengar itu lantas berkata, “Tentu saja. Jangan lupa untuk meminta izin terlebih dahulu”. Pongo mengerennyutkan dahinya, “ Pohon saja tidak bisa berbicara, bagaimana Pongo tahu jika dia mengizinkan ku?”

“ Jika dia menggoyangkan daunnya,maka dia mengizinkan mu”.

Pongo yang mendengar itu lantas meminta izin pada pohon Ara yang besar nan lebat tersebut. Sungguh mustahil menurutnya jika pohon itu berinteraksi dengannya.

“Hai, Pohon Ara, bolehkah Pongo meminta buah mu yang lezat ini?”

Tak lama berselang, pohon ara pun menggoyahkan daunnya. Pongo yang melihat itu awalnya ragu, lalu memetik 4 buah ara, termasuk untuk ibunya.

“Ibu benar!…. Ia mengizinkanku!”… seru Pongo.

“Baguslah jika begitu,” balas Ibu nya.

Setelah memberi buah itu, Pongo mencoba untuk mengetahui kenapa pohon bisa begitu. Dia sangat penasaran.

“Bu, kenapa bisa begitu? Kenapa dia bisa hidup? Sedangkan dia saja tak bisa berbicara”

Pongo harus tahu, jika awalnya, pohon tidak seperti itu,”

Mulailah Ibu Pongo berdongeng tentang Kisah Pohon dan Alam. Dulu dulu dulu sekali, mereka hidup bahagia. Bahkan bisa berbicara satu sama lain. Namun, pohon yang berperilaku angkuh, merasa diri nya lah yang paling hebat.

“Apa kalian ini?! Tanpa keberadaan ku, kalian tak bisa hidup. bahkan Alam tak sanggup menanggung semua keperluan hidup kalian. Karena aku, kalian bisa makan! Kalian bisa tetap bernafas! Kalian terhindar dari tanah longsor! Kalian bisa tetap mendapatkan air yang jernih karena penyaringan yang dilakukan akar ku!”, ucap pohon songong.

Alam yang mendengar itu murka, tak terima telah direndahkan oleh pohon, dia langsung berseru;

“Hei, Pohon! Kuperingatkan kau! Karena aku, kau masih bisa hidup sampai sekarang. Kau pikir, siapa yang sudah memberi mu air untuk minum?. Siapa yang memberimu cahaya untuk berfotosintesis?. Siapa yang memberi mu tanah untuk tinggal dan bertahan?. Siapa yang memberi mu angin untuk menyebarkan serbuk sari mu agar generasi mu tetap ada di muka bumi ini?. Tanpa aku, kau bukanlah apa-apa!”.

Pohon dan alam bertengkar, hingga turunlah Tuhan ke Bumi. Dia tampak marah dengan perilaku pohon dan alam yang egois.

“Hei, Pohon dan Alam! Sesengguhnya, Aku-lah yang menciptakan kalian agar saling melengkapi kekurangan kalian. Karena kalian bersikap demikian, akan kucabut kelebihan kalian dalam  berbicara!”.

Akhirnya, Pohon dan Alam tak dapat lagi berbicara. Pongo yang mendengar Kisah itu hanya mengangguk. Paham apabila hidup tak senantiasa tentang kelebihan, namun juga saling melengkapi kekurangan. Ibu Pongo yang telah menceritakan kisah itu, memeluk Pongo dengan erat.

“Apapun yang terjadi, tetaplah lakukan kebaikan. Hindari sikap angkuh mu dan perhatikan sekitar mu, Nak”, nasihat Ibu Pongo pada buah hati tercintanya.

Pongo hanya tersenyum dan memeluk Ibunya lebih erat.

 

—TAMAT—

 

Minggu, 17 Desember 2017

Desa Pampang Harapan, Kabupaten Kayong Utara, Kalbar

Mega Oktavia G., (Relawan TAJAM Yayasan Palung, Sekolah di SMKN 1 Ketapang)

Relawan TABONK Bergabung di Tanah Kayong untuk Suarakan Konservasi

Keseruan saat peserta RelawanTabonK (Tajam -RebonK) mengikuti kegiatan untuk suarakan konservasi di Tanah Kayong. Foto dok. Yayasan Palung

Keseruan saat peserta RelawanTabonK (Tajam -RebonK) mengikuti kegiatan untuk suarakan konservasi di Tanah Kayong. Foto dok. Yayasan Palung

Walaupun rangkaian acara kegiatan tersebut berlangsung pada bulan Desember tahun lau, namun sayang untuk dilewati karena berbagi keseruan dan kebersamaannya yang tak lain memiliki misi khusus suarakan konservasi di Tanah Kayong.

Tampak terlihat antusias dari para peserta yang mengikuti kegiatan yang dikhususkan bagi Relawan Tajam dan RebonK (TABONK) tersebut. Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari (15-18 Desember 2017) tahun lalu diadakan di Kantor Yayasan Palung, Desa Pampang Harapan, Kabupaten Kayong Utara, Kalbar.

Saat  peserta berdiskusi dan belajar bersama. Foto dok. Yayasan Palung

Saat peserta berdiskusi dan belajar bersama. Foto dok. Yayasan Palung

Rangkaian kegiatan yang mereka ikuti antara lain seperti manajemen organisasi, dasar-dasar kerelawanan, berbagi ilmu dan diskusi tentang organisasi Tajam dan Rebonk serta rangkaian kegiatan lainnya.

 

Sesuai dengan sloganTabonK; “Yom Kite Begabong”, selama tiga hari kegitan tersebut, ragam keceriaan dan ide mereka satukan yang terbingkai dalam diskusi untuk belajar bersama terkait apa yang terjadi saat ini dan mungkin yang akan terjadi di masa depan terkait lingkungan.

Tak sedikit ide dan paparan terkait diskusi yang dilakukan, adapun tema yang diangkat dalam diskusi tersebut adalah “Dampak Kerusakan Hutan”.

Adapun Diskusi dalam kegiatan tersebut dipandu oleh Haris Munandar selaku pembina para relawan.

Dalam diskusi yang dilaksanakan tersebut, berbagai aspek dari apa yang terjadi jika lingkungan rusak dan dampak-dampak yang disebabkan oleh kerusan lingkungan seperti; Dampak sosial, ekonomi, lingkungan, politik dan dampak secara menyeluruh, tidak terkecuali pemanasan global telah terjadi di seluruh dunia.

Tidak hanya itu, dalam diskusi tersebut juga ada beberapa tawaran dari hasil diskusi yang bisa dilakukan untuk mengatasi dampak kerusakan hutan antara lain; melakukan reboisasi (penanaman kembali), Tidak menebang pohon dan Penegakan hukum dari negara untuk mengatasi persoalan lingkungan.

Relawan dibekali ilmu baru seperti Public Speaking sebagai bekali untuk berani tampil dan percaya diri. Foto dok. Yayasan Palung

Relawan dibekali ilmu baru seperti Public Speaking sebagai bekali untuk berani tampil dan percaya diri. Foto dok. Yayasan Palung

Beberapa rangkaian kegiatan lainnya seperti muatan saling belajar seperti dilakukan diantaranya seperti publik speaking, belajar menulis (dasar-dasar jurnalistik), materi terkait bijaksana dalam menggunakan media sosial dalam penyebaran informasi kepada publik dan membangun kebersamaan, toleransi dan keberagaman.

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, sebagai pemateri adalah dari tim pendidikan lingkungan Yayasan Palung.

Kegiatan yang diikuti 50 orang yang tergabung dalam RelawanTabonK tersebut terlihat tidak hanya soal keseruan, keakrababan dan kebersamaan, namun juga soal ilmu baru yang mereka dapatkan serta tawaran apa yang mereka bisa lakukan untuk konservasi lingkungan melalui hal-hal sederhana yang mereka lakukan di Tanah Kayong (sebutan untuk dua Kabupaten; Ketapang dan Kayong Utara).

Berharap, semoga TabonK bisa mengajak semua bergabung untuk suarakan konservasi. (Petrus Kanisius – Yayasan Palung).

 

 

 

Mengapa Kita Penting untuk Merayakan Pekan Peduli Orangutan?

Stiker PPO 2017. Foto dok. Yayasan Palung

Stiker PPO 2017. Foto dok. Tim Laman dan Yayasan Palung

Setiap tahun Pekan Peduli Orangutan (PPO) selalu diperingati setiap November. “Act Now Preserve to Future adalah tema yang diusung pada tahun ini, atau kurang lebih jika diterjemahkan “Bertindak Sekarang untuk Mempertahankan Masa Depan”.

Mengapa Pekan Peduli Orangutan Itu Perlu Dirayakan?

Terri Lee Breeden selaku Direktur Program Yayasan Palung mengatakan, Orangutan sangat terancam punah, artinya tidak banyak yang tersisa. Jika kita tidak bekerja sekarang untuk menyelamatkan orangutan dan habitatnya maka mereka akan punah dalam masa hidup kita. Tidak adil rasanya jika generasi mendatang tidak peduli dan mengusir hewan ini.

Lebih lanjut, Terri, demikian sapaannya sehari-hari mengatakan, Yayasan Palung mengajak orang-orang dari seluruh dunia, terutama di Ketapang dan Kayong Utara untuk mengikuti Pekan Peduli Orangutan. Tujuan kami adalah untuk melakukan penyadartahuan kepada semua lapisan masyarakat tentang mengapa orangutan sangat istimewa dan aktivitas sederhana yang dapat mereka lakukan untuk membantu menyelamatkan orangutan.

Tahun ini, Yayasan Palung sebagai lembaga konservasi orangutan bersama dengan para relawan dalam rangka memperingati PPO 2017 akan melakukan serangkaian kegiatan seperti lomba mewarnai gambar orangutan untuk anak-anak usia dini tingkat Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar di Desa Pampang Harapan, Sabtu (18/11/2017), pekan ini. Gambar-gambar orangutan hasil dari lomba mewarnai tersebut selanjutnya di posting di dalam media sosial dengan hastag (#) #OrangutanCaringWeek #OrangutanCaringWeek2017 #YayasanPalung #PPO #PPO2017

Tidak hanya itu, Relawan RebonK (Relawan Bentangor untuk Konservasi) juga akan menyuguhkan drama yang bercerita tentang kisah hidup orangutan di hutan.

Selanjutnya, pada malam harinya rencananya akan dilakukan pemutaran film lingkungan yang lokasinya di halaman Kantor Yayasan Palung tepatnya di samping kantor Desa Pampang Harapan. Rencananya film-film yang akan diputar adalah film konservasi dan satwa dilindungi tidak terkecuali film orangutan sekaligus juga melakukan sosialisasi tentang satwa dilindungi, ujar Hendri Gunawan, selaku panitia kegiatan dan pembina para relawan.

Di tempat yang berbeda, teman-teman Penerima Beasiswa Orangutan Kalimantan (BOCS) yang juga akan mengadakan serangkaian kegitan dalam rangka PPO 2017. Adapun kegiatan yang dilakukan adalah Pendidikan Lingkungan di Panti Asuhan “NURUL IMAN” Sungai Rengas, Pontianak, pada Minggu (19/11/2017). Di Panti Asuhan, teman-teman BOCS akan melakukan rangkaian kegiatan seperti Penyampaian materi tentang; Manusia, Hutan dan Orangutan. Dilanjutkan dengan Pemutaran film pendek dan diskusi, ujar Ranti Selaku pembina teman-teman BOCS.

Berharap, semoga kegiatan PPO 2017 dapat berjalan sesuai dengan rencana dan mendapat respon baik dari masyarakat sebagai sumber informasi dan penyadartahuan untuk peduli terhadap orangutan sebagai satwa endemik dan habitatnya.

Tulisan ini juga dimuat di Kompasiana

UC Media

Petrus Kanisius-Yayasan Palung