Category Archives: Relawan Konservasi

Cerita Pendek : Kindness (Kebaikan)

Orangutan yang mendiami hutan Gunung Palung. Foto dok. Brodie Philp, Yayasan Palung

Orangutan yang mendiami hutan Gunung Palung. Foto dok. Brodie Philp, Yayasan Palung

Alkisah, tinggallah satu induk Orangutan bersama anaknya, yang bernama Pongo. Suatu kali, Pongo ingin merasakan buah Ara tepat di depan matanya. Sambil digendong ibu nya, Pongo bertanya, “Bu, bolehkah Pongo ambil buah itu?”. Ibu nya yang mendengar itu lantas berkata, “Tentu saja. Jangan lupa untuk meminta izin terlebih dahulu”. Pongo mengerennyutkan dahinya, “ Pohon saja tidak bisa berbicara, bagaimana Pongo tahu jika dia mengizinkan ku?”

“ Jika dia menggoyangkan daunnya,maka dia mengizinkan mu”.

Pongo yang mendengar itu lantas meminta izin pada pohon Ara yang besar nan lebat tersebut. Sungguh mustahil menurutnya jika pohon itu berinteraksi dengannya.

“Hai, Pohon Ara, bolehkah Pongo meminta buah mu yang lezat ini?”

Tak lama berselang, pohon ara pun menggoyahkan daunnya. Pongo yang melihat itu awalnya ragu, lalu memetik 4 buah ara, termasuk untuk ibunya.

“Ibu benar!…. Ia mengizinkanku!”… seru Pongo.

“Baguslah jika begitu,” balas Ibu nya.

Setelah memberi buah itu, Pongo mencoba untuk mengetahui kenapa pohon bisa begitu. Dia sangat penasaran.

“Bu, kenapa bisa begitu? Kenapa dia bisa hidup? Sedangkan dia saja tak bisa berbicara”

Pongo harus tahu, jika awalnya, pohon tidak seperti itu,”

Mulailah Ibu Pongo berdongeng tentang Kisah Pohon dan Alam. Dulu dulu dulu sekali, mereka hidup bahagia. Bahkan bisa berbicara satu sama lain. Namun, pohon yang berperilaku angkuh, merasa diri nya lah yang paling hebat.

“Apa kalian ini?! Tanpa keberadaan ku, kalian tak bisa hidup. bahkan Alam tak sanggup menanggung semua keperluan hidup kalian. Karena aku, kalian bisa makan! Kalian bisa tetap bernafas! Kalian terhindar dari tanah longsor! Kalian bisa tetap mendapatkan air yang jernih karena penyaringan yang dilakukan akar ku!”, ucap pohon songong.

Alam yang mendengar itu murka, tak terima telah direndahkan oleh pohon, dia langsung berseru;

“Hei, Pohon! Kuperingatkan kau! Karena aku, kau masih bisa hidup sampai sekarang. Kau pikir, siapa yang sudah memberi mu air untuk minum?. Siapa yang memberimu cahaya untuk berfotosintesis?. Siapa yang memberi mu tanah untuk tinggal dan bertahan?. Siapa yang memberi mu angin untuk menyebarkan serbuk sari mu agar generasi mu tetap ada di muka bumi ini?. Tanpa aku, kau bukanlah apa-apa!”.

Pohon dan alam bertengkar, hingga turunlah Tuhan ke Bumi. Dia tampak marah dengan perilaku pohon dan alam yang egois.

“Hei, Pohon dan Alam! Sesengguhnya, Aku-lah yang menciptakan kalian agar saling melengkapi kekurangan kalian. Karena kalian bersikap demikian, akan kucabut kelebihan kalian dalam  berbicara!”.

Akhirnya, Pohon dan Alam tak dapat lagi berbicara. Pongo yang mendengar Kisah itu hanya mengangguk. Paham apabila hidup tak senantiasa tentang kelebihan, namun juga saling melengkapi kekurangan. Ibu Pongo yang telah menceritakan kisah itu, memeluk Pongo dengan erat.

“Apapun yang terjadi, tetaplah lakukan kebaikan. Hindari sikap angkuh mu dan perhatikan sekitar mu, Nak”, nasihat Ibu Pongo pada buah hati tercintanya.

Pongo hanya tersenyum dan memeluk Ibunya lebih erat.

 

—TAMAT—

 

Minggu, 17 Desember 2017

Desa Pampang Harapan, Kabupaten Kayong Utara, Kalbar

Mega Oktavia G., (Relawan TAJAM Yayasan Palung, Sekolah di SMKN 1 Ketapang)

Iklan

Relawan TABONK Bergabung di Tanah Kayong untuk Suarakan Konservasi

Keseruan saat peserta RelawanTabonK (Tajam -RebonK) mengikuti kegiatan untuk suarakan konservasi di Tanah Kayong. Foto dok. Yayasan Palung

Keseruan saat peserta RelawanTabonK (Tajam -RebonK) mengikuti kegiatan untuk suarakan konservasi di Tanah Kayong. Foto dok. Yayasan Palung

Walaupun rangkaian acara kegiatan tersebut berlangsung pada bulan Desember tahun lau, namun sayang untuk dilewati karena berbagi keseruan dan kebersamaannya yang tak lain memiliki misi khusus suarakan konservasi di Tanah Kayong.

Tampak terlihat antusias dari para peserta yang mengikuti kegiatan yang dikhususkan bagi Relawan Tajam dan RebonK (TABONK) tersebut. Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari (15-18 Desember 2017) tahun lalu diadakan di Kantor Yayasan Palung, Desa Pampang Harapan, Kabupaten Kayong Utara, Kalbar.

Saat  peserta berdiskusi dan belajar bersama. Foto dok. Yayasan Palung

Saat peserta berdiskusi dan belajar bersama. Foto dok. Yayasan Palung

Rangkaian kegiatan yang mereka ikuti antara lain seperti manajemen organisasi, dasar-dasar kerelawanan, berbagi ilmu dan diskusi tentang organisasi Tajam dan Rebonk serta rangkaian kegiatan lainnya.

 

Sesuai dengan sloganTabonK; “Yom Kite Begabong”, selama tiga hari kegitan tersebut, ragam keceriaan dan ide mereka satukan yang terbingkai dalam diskusi untuk belajar bersama terkait apa yang terjadi saat ini dan mungkin yang akan terjadi di masa depan terkait lingkungan.

Tak sedikit ide dan paparan terkait diskusi yang dilakukan, adapun tema yang diangkat dalam diskusi tersebut adalah “Dampak Kerusakan Hutan”.

Adapun Diskusi dalam kegiatan tersebut dipandu oleh Haris Munandar selaku pembina para relawan.

Dalam diskusi yang dilaksanakan tersebut, berbagai aspek dari apa yang terjadi jika lingkungan rusak dan dampak-dampak yang disebabkan oleh kerusan lingkungan seperti; Dampak sosial, ekonomi, lingkungan, politik dan dampak secara menyeluruh, tidak terkecuali pemanasan global telah terjadi di seluruh dunia.

Tidak hanya itu, dalam diskusi tersebut juga ada beberapa tawaran dari hasil diskusi yang bisa dilakukan untuk mengatasi dampak kerusakan hutan antara lain; melakukan reboisasi (penanaman kembali), Tidak menebang pohon dan Penegakan hukum dari negara untuk mengatasi persoalan lingkungan.

Relawan dibekali ilmu baru seperti Public Speaking sebagai bekali untuk berani tampil dan percaya diri. Foto dok. Yayasan Palung

Relawan dibekali ilmu baru seperti Public Speaking sebagai bekali untuk berani tampil dan percaya diri. Foto dok. Yayasan Palung

Beberapa rangkaian kegiatan lainnya seperti muatan saling belajar seperti dilakukan diantaranya seperti publik speaking, belajar menulis (dasar-dasar jurnalistik), materi terkait bijaksana dalam menggunakan media sosial dalam penyebaran informasi kepada publik dan membangun kebersamaan, toleransi dan keberagaman.

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, sebagai pemateri adalah dari tim pendidikan lingkungan Yayasan Palung.

Kegiatan yang diikuti 50 orang yang tergabung dalam RelawanTabonK tersebut terlihat tidak hanya soal keseruan, keakrababan dan kebersamaan, namun juga soal ilmu baru yang mereka dapatkan serta tawaran apa yang mereka bisa lakukan untuk konservasi lingkungan melalui hal-hal sederhana yang mereka lakukan di Tanah Kayong (sebutan untuk dua Kabupaten; Ketapang dan Kayong Utara).

Berharap, semoga TabonK bisa mengajak semua bergabung untuk suarakan konservasi. (Petrus Kanisius – Yayasan Palung).

 

 

 

Mengapa Kita Penting untuk Merayakan Pekan Peduli Orangutan?

Stiker PPO 2017. Foto dok. Yayasan Palung

Stiker PPO 2017. Foto dok. Tim Laman dan Yayasan Palung

Setiap tahun Pekan Peduli Orangutan (PPO) selalu diperingati setiap November. “Act Now Preserve to Future adalah tema yang diusung pada tahun ini, atau kurang lebih jika diterjemahkan “Bertindak Sekarang untuk Mempertahankan Masa Depan”.

Mengapa Pekan Peduli Orangutan Itu Perlu Dirayakan?

Terri Lee Breeden selaku Direktur Program Yayasan Palung mengatakan, Orangutan sangat terancam punah, artinya tidak banyak yang tersisa. Jika kita tidak bekerja sekarang untuk menyelamatkan orangutan dan habitatnya maka mereka akan punah dalam masa hidup kita. Tidak adil rasanya jika generasi mendatang tidak peduli dan mengusir hewan ini.

Lebih lanjut, Terri, demikian sapaannya sehari-hari mengatakan, Yayasan Palung mengajak orang-orang dari seluruh dunia, terutama di Ketapang dan Kayong Utara untuk mengikuti Pekan Peduli Orangutan. Tujuan kami adalah untuk melakukan penyadartahuan kepada semua lapisan masyarakat tentang mengapa orangutan sangat istimewa dan aktivitas sederhana yang dapat mereka lakukan untuk membantu menyelamatkan orangutan.

Tahun ini, Yayasan Palung sebagai lembaga konservasi orangutan bersama dengan para relawan dalam rangka memperingati PPO 2017 akan melakukan serangkaian kegiatan seperti lomba mewarnai gambar orangutan untuk anak-anak usia dini tingkat Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar di Desa Pampang Harapan, Sabtu (18/11/2017), pekan ini. Gambar-gambar orangutan hasil dari lomba mewarnai tersebut selanjutnya di posting di dalam media sosial dengan hastag (#) #OrangutanCaringWeek #OrangutanCaringWeek2017 #YayasanPalung #PPO #PPO2017

Tidak hanya itu, Relawan RebonK (Relawan Bentangor untuk Konservasi) juga akan menyuguhkan drama yang bercerita tentang kisah hidup orangutan di hutan.

Selanjutnya, pada malam harinya rencananya akan dilakukan pemutaran film lingkungan yang lokasinya di halaman Kantor Yayasan Palung tepatnya di samping kantor Desa Pampang Harapan. Rencananya film-film yang akan diputar adalah film konservasi dan satwa dilindungi tidak terkecuali film orangutan sekaligus juga melakukan sosialisasi tentang satwa dilindungi, ujar Hendri Gunawan, selaku panitia kegiatan dan pembina para relawan.

Di tempat yang berbeda, teman-teman Penerima Beasiswa Orangutan Kalimantan (BOCS) yang juga akan mengadakan serangkaian kegitan dalam rangka PPO 2017. Adapun kegiatan yang dilakukan adalah Pendidikan Lingkungan di Panti Asuhan “NURUL IMAN” Sungai Rengas, Pontianak, pada Minggu (19/11/2017). Di Panti Asuhan, teman-teman BOCS akan melakukan rangkaian kegiatan seperti Penyampaian materi tentang; Manusia, Hutan dan Orangutan. Dilanjutkan dengan Pemutaran film pendek dan diskusi, ujar Ranti Selaku pembina teman-teman BOCS.

Berharap, semoga kegiatan PPO 2017 dapat berjalan sesuai dengan rencana dan mendapat respon baik dari masyarakat sebagai sumber informasi dan penyadartahuan untuk peduli terhadap orangutan sebagai satwa endemik dan habitatnya.

Tulisan ini juga dimuat di Kompasiana

UC Media

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Video Profil Staf (GPOCP)Yayasan Palung

Asyiknya Field Trip di Sungai Beringin Taman Nasional Gunung Palung

Foto bersama peserta fieldtrip di Sungai Beringin. Yayasan Palung.jpg

Foto bersama peserta fieldtrip di Sungai Beringin.  Foto : Hen/Yayasan Palung

Selama tiga hari (25-27/8/2017), sejak pagi team Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung  melakukan fieldtrip (kunjungan lapangan) di Sungai Beringin, namun sebelum sampai di Sungai Beringin team fieldtrip terlebih dahulu harus menuju Kilometer 12 Jalan Siduk-Nanga Tayap menggunakan sepeda motor, dengan jarak tempuh  dua jam perjalanan.

Berikut Video saat Fieldtrip : Video Fieldtrip Yayasan Palung bersama SMPN 3 MHU

Setibanya di tempat pembibitan Yayasan ASRI, Yayasan Palung terlebih dahulu berhenti sejenak untuk menunggu  peserta fieldtrip yang terdiri dari murid kelas 9 yang berjumlah 28 orang dan 2 orang guru pendamping dari SMPN 3 Matan Hilir Utara (MHU), Ketapang.

Setelah rombongan peserta tiba, selanjutnya semua peserta harus melewati jalan setapak dan penuh lumpur, beberapa diantara mereka meggunakan sepeda motor dan beberapa diantaranya memilih untuk berjalan kaki saja untuk menuju lokasi fieldtrip.

Peserta dibagi menjadi 4 kelompok yaitu kelompok orangtan, kelasi, bekantan dan siberuk. Selanjutnya team dan peserta melanjutkan perjalanan menuju Sungai Beringin di Kawasan penyangga Taman Nasional Gunung Palung dengan jarak tempuh dua jam berjalan kaki.

Setelah tiba di lokasi, team dan peserta mendirikan tenda dan istirahat, mandi, serta menyiapkan makan malam. Setelah makan malam, peserta melakukan evaluasi perjalanan serta pemberian materi tentang Taman Nasional Gunung Palung oleh mariamah Achmad serta materi tentang analisis satwa pagi yang akan dilaksanakan praktek esok harinya, kemudian mereka istirahat dan tidur.

Hari kedua, Sabtu (26/8) pukul 04.30 WIB, kegiatan yang dilakukan antaran lain seperti pengamatan satwa pagi hingga pukul 06.30 WIB. Kegiatan selanjutnya adalah senam pagi dan mempersiapkan sarapan.

Adapun kegiatan lainnya adalah presentasi tentang hasil pengamatan satwa yang telah diamati. Setelah presentasi selesai dilaksanakan dilanjutkan dengan makan siang.

Peserta fieldtrip juga diberikan muatan materi dan praktek tentang morfologi daun. Sebagai pemateri  adalah  Victor Samudra dan Nursholihin. Selanjutnya juga peserta diajak untuk bermain  (game spider) yang dipandu oleh Hendri Gunawan. Setelah selesai bermain bersama, semua peserta dan team bersih-bersih dan menyiapkan makan malam.

Usai makan malam dilanjutkan dengan malam keakraban yang diisi dengan pentas seni dipandu oleh supriadi, dan kemudian istirahat.

Saat kami melaksanakan fieldtrip banyak hal yang kami jumpai antara lain air sungai yang masih jernih dan kesegarannya dapat kami rasakan. Perjumpaan dengan sarang orangutan dan melihat sepasang burung enggang sedang mengitari lokasi tempat kami berkegiatan. Sayangnya kami tidak  bisa mengabadikan foto enggang karena kami sedang berkegiatan.

Hari ketiga, Minggu (27/8)  pukul 06.00 Wib, peserta dan team melakukan senam pagi, setelah itu peserta mempresentasikan hasil praktek lapangan tentang morfologi daun, kemudian mempersiapkan makan bersama dan makan bersama, setelah itu bersih-bersih di area bivak dan packing barang-barang untuk pulang, setelah semua selesai peserta dan team melakukan game bersama yaitu game samson, kemudian kami berkesempatan untuk berfoto bersama selanjutnya mengakhiri seluruh rangkaian kegiatan fieldtrip. Seluruh rangkaian kegiatan fieldtrip berjalan sesuai rencana.

Hen & Pit-Yayasan Palung

Yayasan Palung Gelar Peringatan Hari Orangutan Sedunia 2017 dengan Ragam Kegiatan

Foto bersama dalam rangkaian Hari Orangutan Sedunia 2017. Foto dok. Yayasan Palung.JPG

Foto bersama dalam rangkaian Hari Orangutan Sedunia 2017. Foto dok. Yayasan Palung

Yayasan Palung (YP) menyelenggarakan berbagai kegiatan dalam rangka memperingati World Orangutan Day (WOD) atau Hari Orangutan Sedunia 2017. Di antaranya bakti sosial, tanam pohon, diskusi dan panggung boneka di Pantai Kinjil Ketapang, Minggu (20/8/2017).

Minggu (20/8) pagi di Kabupaten Kayong Utara (KKU) juga ada dilaksanakn kegiatan. Relawan RebonK Yayasan Palung bersama Sispala Land SMKN 1 KKU,  Perwakilan dari Konsorsium Palung.

Kemudian Kelompok Sadar Wisata Desa Sungai Belit (Kopdarwis), Perwakilan BTNGP dan siswa SMAN 2 KKU memperingati WOD di Bukit Begentar yang lokasinya berada di Kawasan Penyangga Taman Nasional Gunung Palung (TNGP).

Tulisan Selengkapnya Baca di :

http://pontianak.tribunnews.com/2017/08/22/yayasan-palung-gelar-peringatan-hari-orangutan-sedunia-ini-harapannya

http://www.pontianakpost.co.id/peringatan-hari-orangutan-sedunia-di-ketapang

Pit-Yayasan Palung

Orangutan di TNGP Menarik Minat BBC Untuk Film Dokumenter

20232002_10213756487534829_903233718350449524_o.jpg

Tim Laman beserta keluarga  dan BBC temu kangen dengan Keluarga Besar Yayasan Palung

Setelah Mendapat ijin dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Pusat Pengembangan Perfilman Indonesia, Tim Laman beserta rombongan bersiap untuk mengambil gambar (membuat/memproduksi) film tentang orangutan di Gunung Palung.

Rencana tersebut diketahui saat  Tim Laman  dan Cheryl Knott ( pasangan suami istri) mengadakan temu kangen bersama keluarga  besar Yayasan Palung.  Ternyata Tim Laman membawa serta keluarga dan rombongan British Broadcasting Corporation (BBC), Kamis (20/7) kemarin malam.

Kebersamaan, keseruan dan kehangatan sangat kami rasakan,  ini terlihat dari raut wajah semua yang hadir saat  temu kangen malam itu.

Baca Selengkapnya di : http://pontianak.tribunnews.com/2017/07/23/orangutan-di-tngp-tarik-minat-bbc-untuk-pembuatan-film-dokumenter

 

Berbagi Cerita Saat di Stasiun Penelitian Cabang Panti, Gunung Palung    

DSCN0558.JPG

Foto ketika memproses sampel feses dengan metode FPS. Foto  dok. Becky C.

Jika boleh dikata, Stasiun Penelitian Cabang Panti merupakan rumah bagi jutaan spesies hewan dan tumbuhan hidup didalamnya. Stasiun penelitian yang terletak di Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat. Cabang Panti, memiliki luas wilayah 2.100 hektare dengan 7 jenis hutan yang tersebar di dalamnya seperti; rawa air tawar, rawa gambut, batuan berpasir dataran rendah, granit dataran tinggi, pegunungan, kerangas dan tanah alluvial. Fakta-fakta menakjubkan tersebut yang membuat saya terkagum-kagum.

Bermula ketika saya ditawari program magang di Stasiun Penelitian Cabang Panti, saya sanggupi itu karena sudah sejak lama saya dengar tentang Stasiun Penelitian dan saya belum pernah kesampaian untuk pergi kesana. Untuk perjalanan pertama saya naik kesana tanggal 8 April 2017 yang lalu, butuh waktu cukup lama kurang lebih sekitar 7 jam perjalanan. Saya berangkat menuju tempat yang dimaksud bersama Beth Barrow, Manajer Proyek KKL, Becky Curtis, (Asisten manager Orang Hutan), dan Terry Breden, Direktur Program Yayasan Palung . Tawaran itu menurut saya sangat menyenangkan.

Ketika sampai di Cabang Panti, saya semakin kagum dengan paparan pemandangan yang indah dimana banyak bangunan-bangunan sederhana ditengah hutan lebat ini dengan banyak orang ramah didalamnya, menakjubkan dan salah satu bangunan tersebut seperti camp besar, camp nyamuk, camp litho dan camp pantai.

DSCN0427.JPG

Salah satu bangunan di Cabang Panti (camp litho dan camp nyamuk). Foto dok. M.Syainullah

Hari berganti hari dan saya masih bersemangat untuk belajar di sana sampai saya mulai terbiasa untuk berjalan sendiri dihutan.

Beragam hal yang saya pelajari selama disana seperti mengikuti orangutan dari mulai bangun pagi sekali sekitar pukul setengah 3 pagi untuk bersiap-siap turun kehutan dan berharap bisa sampai disarangnya sebelum dia (orangutan) bangun dan mulai beraktifitas.

DSCN0956.JPG

Walimah, salah satu orangutan yang saya ikuti selama di Cabang Panti. Foto dok. M. Syainullah

Untuk mengambil sampel urin dan feses (kotoran orangutan) idealnya ketika orangutan pertama kali bangun pagi karna setiap dia bangun pagi orangutan langsung buang air besar dan kecil sehingga memudahkan saya untuk mengambil sampel tersebut setelah itu saya memproses sampel urin dan feses tersebut di camp dengan metode-metode yang telah diajarkan kepada saya salah satunya seperti metode FPS dan metode pembekuan sampel urin.

Mungkin banyak yang penasaran untuk apa saya capek-capek memproses sampel kotoran dari mulai di lapangan hingga di laboraturium, jawabanya adalah, banyak seperti untuk identifikasi orangutan dengan proses identifikasi DNA dan untuk mengetahui seberapa luas penyebaran biji yang dilakukan oleh orangutan. Lalu pada malam harinya saya istirahat dan bersiap untuk beraktifitas esok hari dan saya rasa setiap hari adalah hari yang menakjubkan ketika saya berada di Cabang Panti.

DSCN0249.JPG

Saat mengikuti orangutan di Cabang Panti

Salah satu orangutan yang saya ikuti adalah Walimah, orangutan betina ini seperti sudah terbiasa dengan adanya manusia yang mengamati disekelilingnya. Seperti ketika orangutan mengeluarkan suara kiss squeak (budaya orangutan ketika merasa terancam jika ada orangutan lain yang berusaha mendekati wilayahnya). Biasanya suara tersebut terdengar seperti suara kecupan yang nyaring.

Selama disana ketika belajar bagaimana cara memahami budaya orangutan, saya sadar bahwa penting untuk melindungi orangutan dengan melihat peranan orangutan yang begitu penting bagi hutan sebagai salah satu penyebar biji sebagai cikal bakal hutan tetap ada bagi kehidupan serta bermanfaat sebagai penjabaran ilmu pengetahuan, salah satunya seperti penelitian dan konservasi.

Muhammad Syainullah-Relawan Konservasi TAJAM

 

Yayasan Palung Akan Adakan Serangkaian Kegiatan untuk Peringatan Hari Bumi 2017

Logo kegiatan hari bumi 2017

Logo kegiatan hari bumi 2017

 

“Tanam Pohon, Stop Sampah Plastik untuk Kesehatan Bumi Kita”

Setiap tahunnya, setiap tanggal 22 April 2017 selalu diperingati sebagai hari bumi. Tindakan nyata untuk merawat bumi salah satu cara yang harus dilakukan seperti menanam dan mengurangi sampah plastik. Mengingat, bumi saat ini mengalami perubahan yang sangat drastis akibat tekanan dari meningkatnya populasi manusia penghuni bumi dan perubahan iklim yang terus terjadi di seluruh belahan dunia. Bumi sudah semakin tua dan renta, kesehatannya juga perlu dijaga oleh kita sebagai penghuninya.

Yayasan Palung sebagai organisasi masyarakat sipil yang bekerja di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara (Tanah Kayong) menjadikan hari bumi sebagai momentum untuk mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap Tanah Kayong.

 

Adapun  tema yang diketengahkan pada Hari Bumi 2017 adalah “Tanam Pohon dan Stop Sampah Plastik Untuk Kesehatan Bumi Kita” untuk Peringatan.

Sedangkan tujuan kegiatan hari bumi yang dilakukan tidak lain untuk;

  1. Mengkampanyekan pelestarian alam dan lingkungan di Tanah Kayong.
  2. Mengajak masyarakat untuk menanam pohon dan mengurangi terjadinya sampah plastik.
  3. Ajang silaturahim antara Pemerintah, Penggiat Konservasi dan Masyarakat Kayong Utara.

Beberapa kegiatan yang akan dilakukan dalam peringatan Hari Bumi 2017  antara lain:

  1. Jalan Sehat dari Bundaran Tugu durian ke Tugu Sail Selat Karimata Pantai Pulau Datok dan Door prize,
  2. Penanaman pohon secara simbolis di Pantai Pulau Datok,
  3. Bersih Pantai Pulau Datok,
  4. Live event Radio Kayong Utara.

Waktu dan Lokasi Kegiatan :  Hari / tanggal   : 23 April 2017, pukul 06:30 WIB-Selesai Lokasi : Bundaran Tugu Durian -Tugu Sail Selat Karimata Pantai Pulau Datok.

Seluruh peserta kegiatan ini berkumpul di Bundaran Tugu Durian, kemudian berjalan bersama menuju Tugu Sail Selat Karimata di Pantai Pulau Datok. Setibanya di Pantai Pulau Datok dilakukan penanaman pohon secara simbolis oleh perwakilan peserta, kemudian bersih pantai, kegiatan diakhiri dengan door prize. Semua kegiatan pendukung dilakukan di sekitar Tugu Sail Selat Karimata.

Peserta Kegiatan direncanakan diikuti oleh para pihak antara lain; Pemerintah Daerah Kabupaten Kayong Utara (Disbudparpora, KLH, Dinas Pendidikan, Dinas PMD, BAPPEDA KKU, Dekranasda, Dinas Perkebunan Pertanian dan Pangan, Dinas PU, Dinas Perikanan), Kepolisian Resor KKU, Koramil KKU, SPTN I Sukadana BTNGP, Resor Sukadana dan Karimata BKSDA KSW I Ketapang, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah KKU, HS68 dan Tirkana, Penggiat Lingkungan (Yayasan ASRI, Simpang Mandiri Production, SISPALA SMKN 1 Sukadana, SISPALA SMKN 2 Sukadana, SISPALA SMKN 3 Simpang Hilir) serta Masyarakat Sukadana dan sekitarnya.

Kegiatan Hari Bumi 2017 ini diselenggarakan oleh Yayasan Palung dengan melibatkan Relawan Konservasi REBONK sebagai panitia pelaksana kegiatan, dan bekerjasama dengan para pihak.

Sedangkan Relawan Konservasi Taruna Penjaga Alam (RK.Tajam) Yayasan Palung akan mengadakan serangkaian kegiatan di Pantai Sungai Kinjil dengan beragam kegiatan seperti; Bermain boneka orangutan/Puppet show, Operasi semut di sekitar pantai  dan pembagian tong sampah dari barang bekas. Adapun kegiatan rencananya akan dilaksanakan pada 24 April 2017.

Tidak bisa disangkal, bumi menjadi rumah bagi semua makhluk hidup yang keadaannya sedapat mungkin untuk terus dijaga dan dirawat. Peringatan Hari Bumi yang rutin dirayakan setiap bulan April oleh penduduk dunia, sebagai salah satu cara untuk mengingatkan kepada khalayak tentang kondisi bumi dan seperti “alert/peringatan” untuk meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan bumi.

Kesehatan bumi sudah semakin terganggu, tidak sedikit contoh bencana yang terjadi seperti banjir, angin puting beliung, badai, longsor, gempa bumi dan beragam kejadian lainnya. Hal ini tentu perlu menjadi perhatian khusus kita semua secara bersama pula.

Ada banyak cara yang kita dapat lakukan, tindakan nyata menjadi pilihan yang harus dilakukan demi menjaga kesehatan bumi dan keselamatan kita sebagai makhluk hidup yang mendiaminya (bumi/sebagai rumah) yang aman dan nyaman. Dengan harapan bentang alam yang sangat kaya ini daya dukungnya selalu layak untuk menopang kehidupan masyarakat di Tanah Kayong.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

 

 

 

 

 

 

Lewat Radio Gaungkan Konservasi Lingkungan

edward-tang-saat-menjadi-narasumber-di-radio-rku-foto-dok-tang-yayasan-palung

Edward Tang saat menjadi Narasumber di radio RKU. Foto dok. Tang, Yayasan Palung

Sejujurnya tidak sedikit media yang bisa dipakai sebagai sarana penyampain informasi berkaitan dengan konservasi, tidak terkecuali lewat radio. Melalui radio cara ini  dapat menggaungkan konservasi kepada masyarakat dapat dilakukan secara sederhana, dikupas dengan menarik dan masyarakat memperoleh informasi baru dengan mudah.

Hal inilah yang dilakukan oleh radio RKU (Radio Kayong Utara) 101,5 FM bersama Yayasan Palung sebagai bentuk kerjasama untuk melakukan kampanye konservasi yang tujuan sebagai bentuk kampanye penyadartahuan kepada masyarakat di Kabupaten Kayong Utara, Kalbar.

Adapun bentuk kerjasamanya antara lain adalah Yayasan Palung (YP) berkesempatan hadir untuk memberikan informasi, dalam hal ini YP selalu diminta untuk mengisi acara atau pun juga menjadi narasumber terkait tema-tema lingkungan.

Seperti misalnya, di beberapa kesempatan Yayasan Palung memberikan informasi lingkungan dengan mengetengahkan tema dan pembahasan tentang Pemanasan global, pada (18/12/2016), tahun lalu. Sebagai narasumber Edward Tang, Koordinator Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung dan Emiwati, salah satu penyiar radio RKU membahas tentang, peran hutan sebagai salah satu penangkal efek rumah kaca, betapa pentingnya hutan sebagai penyaring pencemaran udara. Demikian juga disampaikan oleh Tang, dengan adanya hutan maka suhu masih bisa tetap stabil atau normal. selian itu karena adanya hutan di sukadana, bisa dibuktikan dengan berlimpahnya ketersediaan air bersih yang tidak dimiliki oleh kabupate lain seperti Ketapang. Apabila hutan tidak cukup banyak tersedia dapat pula menyebabkan anomali cuaca (cuaca tidak menentu) yang tidak jarang juga merugikan masyarakat seperti petani, nelayan dan masyarakat kebanyakan.

Selain itu juga pada (8 Januari 2017) pekan lalu, Edward Tang kembali hadir bersama radio RKU untuk menyampaikan materi terkait “Peran Hutan bagi Kesejahteraan Masyarakat”, materi siaran ini disampaikan sebagai salah satu tujuan penyampaian informasi dan konservasi bagi masyarakat di Wilayah Sukadana dan sekitarnya untuk bersama-sama menjaga hutan sebagai penyambung nafas, sumber kehidupan hingga nanti.

Dalam sesi tanya jawab via telepon radio, ada masukan dari pendengar radio yang mengabarkan terkait Gunung Cik Kadir yang letaknya di Kawasan Pantai Pulau Datok, Sukadana, penelpon mengabarkan bahwa Gunung Cik Kadir tanahnya kerap kali diambil, bahkan bagian gunung ada yang telah hilang karena tanahnya diambil (dikeruk) sehingga sangat mengganggu pemandangan yang seharusnya hijau dan indah karena tepat berada di kawasan wisata Pantai Pulau datok. Selain itu juga, penelpon menanyakan tentang tapal batas mereka dengan Taman Nasional, tetapi untuk menjawab tersebut pemateri radio Edward Tang menjawab; Ia tidak memiliki kewenangan untuk menjelaskan batas-batas Taman Nasional.  Lebih lanjut menurutnya, ada instansi yang memiliki kewenangan untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Sekilas tentang Radio RKU. Radio RKU, 101,5 FM merupakan radio lokal milik Pemerintah Daerah Kabupaten Kayong Utara, Kalbar.  Radio tersebut baru berdiri sejak pertengahan tahun 2016 lalu. Radio RKU sebagai media yang disediakan oleh pemerintah setempat dalam menyebarkan informasi kepada masyarakatnya terkait program-program pemerintah, informasi pendidikan, budaya dan lingkungan.

Beberapa relawan REBONK (Relawan Konservasi) binaan Yayasan Palung berkesempatan juga untuk diajak oleh pihak dari radio RKU untuk secara sukarela menyiarkan dan menggaungkan konservasi di Tanah Kayong. Semoga dengan kampanye lewat radio semakin memberikan pengaruh besar bagi masyarakat untuk semakin peduli dengan lingkungan sosial, budaya dan lingkungan hidup di sekitar mereka terutama hutan. semoga saja…

Tulisan ini juga dimuat di Kompasiana.com : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/lewat-radio-gaungkan-konservasi-lingkungan_5875c32ff49273d8048b456f

Petrus Kanisius-Yayasan Palung