Category Archives: Relawan Konservasi

Membuat Topi Sulap dari Kardus Bekas untuk Mengurangi Sampah

Banyak cara sebetulnya yang bisa dilakukan untuk memanfaatkan sampah, seperti misalnya kardus. Kardus bekas bisa dikreasikan menjadi barang-barang bermanfaat (layak pakai) yang cantik seperti topi.

Ayo teman-teman kita berkreasi dengan memanfaatkan barang bekas menjadi sesuatu yang bermanfaat sebagai cara kita bersama untuk mengurangi sampah-sampah dengan cara-cara sederhana.

Bagaimana cara membuatnya?. Berikut ada beberapa alat dan bahan untuk disiapkan terlebih dahulu sebelum membuat topi.

Ada pun alat dan bahan untuk membuat kreasi ini adalah kardus bekas, kertas lipat (origami), lem lilin (Lem Fox), pulpen, cutter, jangka, gunting, pita kain dan asesoris hiasan lainnya.

Cara membuat topi sebagai berikut:

  1. Ukur lingkar kepala orang yang akan memakai topi sulap. Gunakan jangka untuk menggambar lingkaran seukuran kepala pada kardus. Anda juga bisa menggunakan piring sebagai panduan untuk membantu menggambar lingkaran. Buat 2 lingkaran. Lingkaran bagian dalam dan lingkaran bagian luar.
  2. Potong kardus tersebut mengikuti garis lingkaran luar dan garis lingkaran dalam.
  3. Guntinglah kardus berbentuk persegi panjang. Panjangnya sesuai dengan panjang lingkaran dalam.
  4. Gulung kardus persegi panjang tersebut agar mudah membentuk silinder.
  5. Tempel kardus persegi panjang tersebut pada lingkaran dalam sehingga membentuk silinder.
  6. Setelah menempel dengan baik, tempelkan bagian tutup topi (potongan kardus dari lingkaran dalam).
  7. Topi sulap sudah jadi.
  8. Selanjutnya topi dihias sesuai keinginan.

Semoga tutorial ini bermanfaat ya, berharap dengan cara seperti ini kita semua dapat mengurangi sampah. Semoga saja…

Tulisan dan Video : Simon Tampubolon-Yayasan Palung

Editor : Petrus Kanisius

 

Iklan

Asyik…. Relawan Berbagi Ilmu tentang P2GD Sebagai Modal Dasar untuk Pertolongan Pertama

WhatsApp Image 2018-10-23 at 13.03.05

Evan Juliansyah (salah seorang Perawat dari Yayasan ASRI sekaligus juga Relawan REBONK) Saat Berbagi ilmu kepada sesama relawan dan Sispala. Foto dok. Simon Tampubolon/YP.

Tidak kurang 25 peserta terlihat hadir dalam acara rutin, yaitu pertemuan relawan RebonK. Kali ini mereka berkesempatan untuk mengadakan pertemuan rutin sekaligus berbagi ilmu tentang P2GD (Pertolongan Pertama Gawat Darurat) yang berlangsung pada hari Sabtu (13/10/2018) kemarin, di Kantor Pusat Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung, di Desa Pampang Harapan.

Dalam kesempatan tersebut, Relawan Bentangor Untuk Konservasi (RebonK) ternyata tidak sendiri tetapi juga ternyata mengundang teman-teman dari Sispala Land (SMKN 1 Sukadana) untuk berpartisipasi pada berbagi ilmu tentang P2GD tersebut.

WhatsApp Image 2018-10-23 at 13.23.27

Saat Evan menyampaikan materi (berbagi ilmu) tentang P2GD kepada Relawan RebonK dan Sispala Land. Foto dok. Simon Tampubolon/YP

Evan Juliansyah (salah seorang Perawat dari Yayasan ASRI) berkesempatan untuk berbagi ilmu atau materi terkait pertolongan pertama gawat darurat (P2GD). Evan, demikian ia disapa sehari-hari, dengan sukarela ia berbagi ilmu yang ia miliki. Seperti pada kesempatan tersebut, Evan berbagi ilmu misalnya untuk penangan dan pertolongan pertama pada luka; seperti luka ringan, luka berdarah sedikit, luka berdarah banyak, luka bersih dan luka kotor. Selain itu juga, menjelaskan bagaimana untuk penanganan dan pertolongan pertama terhadap bibit ular, patah tulang, pingsan, sesak nafas, luka bakar dan pertolongan bagi yang mengalami hipotermia (kedinginan).

Beberapa materi tersebut sangat penting untuk disampaikan kepada relawan dan sispala, salah satu alasannya karena mereka sering kali bersentuhan langsung dengan berbagai kegiatan di luar rungan (di hutan), dengan adanya pelatihan (berbagi ilmu) tersebut setidaknya dapat memberikan pemahaman kepada relawan atau pun Sispala agar mereka dapat menolong (pertolongan pertama) bagi sesama mereka jika ada terjadi insiden yang tak terduga seperti luka atau seperti yang lainnya.

Selain materi, mereka (peserta) juga diajak untuk praktek (simulasi) untuk pertolongan pertama/ penanganan. Beberapa relawan terlihat bersedia untuk dibalut tangannya yang mencontohkan bila terjadi patah tulang atau pun juga penanganan bagi yang mengalami sesak nafas.

WhatsApp Image 2018-10-23 at 13.16.35

Praktek Simulasi Pertolongan Pertama Gawat Darurat kepada yang mengalami cidera parah (patah tulang). Foto dok. Simon Tampubolon/YP

Evan, yang juga merupakan salah satu anggota dari Relawan RebonK yang aktif dan sering kali berkegiatan seperti secara sukarela berbagi ilmu kepada sesamanya yang tergabung dalam relawan atau pun sispala.

Kegiatan Pertemuan rutin sekaligus bebagi ilmu tentang P2GD tersebut berlangsung dari pukul 09.00 Wib hingga pukul 12.00 Wib. Setelah itu, pada pukul 13.00 Wib- 15.00 Wib, relawan RebonK yang berjumlah 20 orang dan dari Sispala Land berjumlah 5 orang tersebut diajak untuk menonton film lingkungan yaitu film orangutan. Pada kesempatan tersebut, dari Yayasan Palung yang mendampingi kegiatan itu adalah Simon Tampubolon dan Wawan Anggriandi.

Semua rangkaian kegiatan berjalan sesuai rencana dan mendapat sambutan baik dari peserta yang hadir tampak asyik mengikuti semua rangkaian kegiatan tersebut. Berharap, relawan konservasi bisa saling berbagi ilmu sebagai pengetahuan dasar sekaligus juga sebagai muatan/peningkatan kapasitas mereka sebagai relawan.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Bertutur Tentang Satwa Dilindung dengan Media Boneka (Puppet Show) kepada Anak Sekolah

IMG_20181018_082807

Saat bercerita/bertutur dengan media boneka (Puppet Show) bercerita tentang satwa dilindungi kepada anak-anak di sekolah-sekolah. Foto dok : Yayasan Palung

Kamis (18/10) pagi, Yayasan Palung berkesempatan untuk bertutur kepada anak sekolah tentang satwa dilindungi di SDN 13 Sukabangun, Ketapang, Kalbar. Setelah Rabu(17/10) kemarin, kami juga bertutur di SDN 04 Delta Pawan, Ketapang.
Bertutur dengan media boneka tentang satwa dilindungi sebagai satu cara dari banyak cara yang bisa dilakukan saat ini kepada anak usia dini. Alasannya mereka dapat dengan mudah menerima informasi dari edukasi yang disampaikan dengan cara bertutur. Selain juga, sebagai salah satu  cara kami untuk melakukan pendidikan lingkungan dan penyadartahuan kepada anak usia dini.
Pada kempatan tersebut, kami bertutur  tentang kehidupan satwa dilindungi dialam liar. Mereka (satwa) juga memiliki peranan penting bagi makhluk hidup lainnya untuk terus berlanjut hingga nanti.
Ada pun tokoh-tokoh yg diceritakan dalam cerita tersebut antara lain satwa dilindungi dan terancam punah seperti orangutan, burung enggang/rangkong, kelempiau, selain itu ada bekantan yg tidak hanya dilindungi dan terancam punah tetapi juga satwa yang dikenal dengan sebutan si hidung mancung tersebut merupakan satwa khas (endemik) Kalimantan.
Pada cerita disebutkan satwa seperti orangutan dan enggang adalah petani hutan karena mereka sebagai prnyebar biji-bijian yg nantinya akan tumbuh menjadi tunas pohon-pohon baru (hutan) yang juga memiliki banyak manfaatnya bagi mahkluk hidup lainnya, sebagai contoh, adanya hutan adanya kehidupan, adanya hutan dapat memberi manfaat berupa nafas dan penyedia/penampung air serta penangkal terjadinya bencana seperti banjir dan tanah longsor.
Selain juga kami juga bertutur/bercerita bahwa satwa tidak boleh dipelihara dan kontak langsung seperti halnya orangutan karena bisa saja menyebarkan penyakit dan yang terpenting, satwa dilindungi diatur oleh undang-undang dan jika melanggar bisa terkena sanksi berupa denda atau pun hukuman penjara.
Terlihat, antusias dan semangat dari siswa-siswi kelas 4 yang mengikuti kegiatan tersebut.
Pada kesempatan tersebut, penutur yang bercerita dari Yayasan Palung adalah Haning Pertiwi, Petrus Kanisius, dan 4 siswa-siswi magang : Eti, Neneng dan Dewi  dari SMKN 1 Sukadana dan Iin dari SMKN 1 Ketapang.
Berharap dengan adanya puppet show tentang satwa dilindungi ini, siswa-siswi ada informasi dan pengetahuan baru. Selain itu, semoga saja ada tumbuh kecintaan mereka untuk menjaga dan melindungi satwa-satwa dilindungi dengan cara-cara sederhana.
(Petrus Kanisius – Yayasan Palung).

Rayakan Hari Orangutan Internasional 2018, Yayasan Palung Lakukan Ragam Kegiatan untuk Menjaga Si Petani Hutan Melalui Budaya

Cerita tentang satwa dilindungi saat IOD 2018 (2).JPG

Relawan Tajam  Yayasan Palung Bercerita tentang satwa dilindungi saat acara IOD 2018 di Citimall Ketapang pada (19/8), kemarin. Foto dok : Yayasan Palung

Minggu (19/8/2018) kemarin, Dunia Internasional  memperingati Hari Orangutan Internasional atau International Orangutan Day (IOD)/ atau biasanya disebut juga World Orangutan Day (WOD)/Hari Orangutan Sedunia 2018. Tahun ini, Yayasan Palung bersama para relawan untuk bersama mengajak  untuk peduli terhadap si petani hutan (orangutan), salah satunya melalui budaya.

Dalam gelaran untuk merayakan hari orangutan internasional 2018 kemarin, Yayasan Palung bersama para relawan Tajam, RebonK dan Penerima Beasiswa Orangutan Kalimantan (BOCS) menyelenggarakan berbagai kegiatan yang dilaksanakan di Citimall Ketapang, diantaranya seperti panggung boneka (puppet show) yang disuguhkan oleh relawan Tajam, penampilan teater dari relawan Bentangor, dan lomba Syair gulung di tingkat Sekolah Dasar.

teater saat IOD.JPG

Aksi teatrikal (teater) yang ditampilkan oleh Relawan RebonK Yayasan Palung saat acara Hari Orangutan Internasional (19/8), kemarin. Foto dok : Yayasan Palung

Ada pun tema yang diketengahkan oleh Yayasan Palung pada Hari Orangutan Internasional tahun 2018 adalah; “Menjaga Si Petani Hutan Melalui Budaya”, Si Petani hutan yang dimaksud pun tidak lain adalah orangutan.  Menjaga si petani hutan melalui budaya menjadi satu ajakan kepada semua pihak untuk peduli terkait nasib dari orangutan saat ini karena berbagai ancaman yang ada pada satwa endemik tersebut.

Kegiatan dimulai pada pukul 13.00 Wib, dibuka secara resmi oleh Direktur Yayasan Palung. Ragam rangkaian kegiatan seperti perlombaan Syair Gulung, diselang seling dengan adanya suguhan penampilan panggung boneka (puppet show) yang bercerita tentang kehidupan satwa liar di hutan seperti orangutan, burung enggang dan bekantan. Orangutan sebagai satwa yang sangat terancam punah, dan burung enggang sebagai satwa penyebar biji (si petani hutan). Sedangkan bekantan merupakan satwa endemik yang hanya hidup di pulau Kalimantan saja.

Sedangkan atraksi aksi teatikal (teater) bercerita tentang menjaga  kehidupan di hutan. Dalam teater tersebut, relawan RebonK mengajak menjaga hutan  peninggalan nenek moyang. Sebagai tokoh dalam cerita, Pak Amat yang di Perankan oleh Egi, RebonK sebagai sosok penjaga hutan yang bijaksana serta tidak tergoda dengan bujuk rayu dan berhasil menangkal segala ancaman yang datang seperti penebangan liar atau pun ilegal loging dan perburuan liar live music  dari Egi’s & Friend yang menampilkan lagu-lagu tentang lingkungan.

Egi's and Friend band saat mengisi acara IOD.JPG

Egi’s and Friend band saat mengisi acara IOD 2018. Foto dok : Yayasan Palung

Pada perlombaan Syair Gulung, peserta lomba melantunkan syarir gulung yang merupakan bagian dari budaya. Peserta lomba syair sebagian besar menyampaikan pesan kepada khalayak (masyarakat luas) dan ajakan terkait pesan-pesan moral lingkungan, dan kecintaan mereka tanpa harus memiliki atau memilihara satwa dilindungi. Sebagai Pemenang pertama dalam lomba Syair Gulung adalah Uti Al Faldan, dari MIN Ketapang. Sedangkan pemenang kedua adalah Girink Clara Belo dari SDN 05 Delta Pawan, pemenang ketiga Syarif Levi Nasira Sahab dari SDN 04 Benua Kayong dan pemenang keempat adalah Safitri  Kirani dari SDN 20 Delta Pawan. Untuk hadiah, para pemenang mendapatkan hadiah berupa paket hadiah, plakat dan sertifikat.

peserta lomba berfoto bersama.JPG

Peserta lomba berfoto bersama setelah pengumuman lomba Syair Gulung dalam acara IOD 2018. Foto dok : Yayasan Palung

Sebagai juri dalam perlombaan Syair Gulung di tingkat Sekolah Dasar dalam rangka IOD 2018 tersebut adalah Raden Abdillah dan Wijaya.

Dalam kata sambutannya, Direktur Program Yayasan Palung, Terri Lee Breeden mengatakan; “Acara kami yang diadakan di Citi Mall untuk International Orangutan Day 2018 adalah sukses besar”.

Selain itu lebih lanjut menurut Terri, Ia merasa terkesan pada kapasitas para kelompok relawan, yang mana para relawan muda kami bekerja untuk mengatur dan melakukan pertunjukan yang hebat. Kami menjangkau khalayak luas dan dapat menyampaikan pesan tentang ancaman yang dihadapi orangutan saat ini dan apa yang dapat kita semua lakukan untuk membantu melindungi mereka dan habitat hutan mereka. Saya ingin berterima kasih kepada semua orang atas kerja keras mereka dan menantikan acara seperti ini di tahun-tahun mendatang’’, ujar Terri lagi.

Winda Lestari, Relawan Tajam angkatan pertama sekaligus sebagai ketua panitia kegiatan IOD 2018 mengatakan;  Kegiatan seperti ini (IOD/WOD 2018) sangat bagus sekali dilakukan karena rangkaian kegiatan sudah menjadi aksi kampanye untuk satwa yang dilindungi seperti perlombaan syair gulung pun tersaji dan tersirat pesan moral konservasi. Selain itu juga syair gulung menjadi aksi yang nyata melalui budaya.

Sementara itu, Junardi dari Mahasiswa penerima Beasiswa BOCS mengatakan, kegiatan hari orangutan internasional yang diselenggarakan sudah berjalan dengan sukses, berharap di tahun-tahun mendatang kegiatan seperti ini bisa lagi diselenggarakan dengan peserta yang lebih banyak dan di tempat-tempat yang strategis agar bisa menjangkau masyarakat.

Pada kegiatan tersebut, terlihat antusias dari para tamu undangan dan para peserta lomba yang ikut ambil bagian dalam acara IOD tersebut. Pada malam harinya, Yayasan Palung bersama para relawan dan Mahasiswa BOCS melakukan pemutaran film lingkungan di Citimall. Ada pun film lingkungan yang diputar sebagai media penyadartahuan/kampanye  dan hiburan kepada pengunjung. Ada pun film  yang di putar antara lain adalah film Asimetris, film Indonesia Diambang Kepunahan dan film Sampah Man.

Saat pemutaran film lingkungan dalam rangka IOD 2018 di Citimall Ketapang sebagai upaya kampanye penyadartahuan  (1).jpg

Saat pemutaran film lingkungan dalam rangka IOD 2018 di Citimall Ketapang sebagai upaya kampanye penyadartahuan kepada masyarakat luas. Foto dok : Yayasan Palung

Lewat IOD/WOD 2018 ajakan kepada semua untuk peduli pada satwa lebih khusus orangutan dan satwa dilindungi lainnya. Selain juga merupakan satu cara penyampaian kampanye penyadartahuan kepada masyarakat luas untuk ikut berperan serta ambil bagian berperan dan berharap ada semangat yang semakin tumbuh dari semua pihak untuk semakin peduli pada nasib hutan dan satwa sebelum terlambat. Berharap Si Petani Hutan bisa lestari hingga nanti. Semua rangkaian kegiatan Hari orangutan Internasional 2018 berjalan sesuai rencana dan sukses.

berfoto bersama setelah selesai kegiatan IOD atau WOD 2018.JPG

Berfoto bersama setelah selesai kegiatan IOD atau WOD 2018. Foto dok : Yayasan Palung

Sebelumnya berita terkait kegiatan Hari Orangutan Internasional (International Orangutan Day/IOD) 2018 yang digelar/dilakukan Yayasan Palung, dimuat di Tribun Pontianak online :

http://pontianak.tribunnews.com/2018/08/23/rayakan-peringatan-iod-2018-yp-gelar-beragam-kegaiatan-di-citimall-ketapang

Rekaman Radio di Radio GS tentang feature hari orangutan internasional 2018 di link :

https://soundcloud.com/yayasan-palung/feature-radio-gs-tentang-kegiatan-hari-orang-utan-sedunia-2018-dirayakan-oleh-ypmp3

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

 

 

Ajari Cara Kreatif Kepada Anak-anak untuk Memanfaatkan Sampah

IMG-20180713-WA0007

Anak-anak yang tergabung dalam Bentangor Kids terlihat bersemangat membuat kreasi barang bekas berupa kardus untuk dijadikan topi (12/7) kemarin di Bentangor, Yayasan Palung. Foto dok. Yayasan Palung

Banyak cara kreatif yang bisa dilakukan untuk memanfaatkan sampah secara bijaksana menjadi barang bermanfaat, seperti yang dilakukan beberapa orang anak yang tergabung dalam Kelompok Bentangor Kids, di Kantor Yayasan Palung Bentangor Pampang Center, Sukadana, KKU, Kalbar, Kamis (12/7/2018) kemarin.

Ya, Kelompok Bentangor Kids belajar sembari bermain, mereka berhasil membuat kreasi dengan cara mengolah sampah menjadi barang-barang bermanfaat tidak terkecuali seperti topi.

Terlihat, mereka sangat asyik menggunting dan mengukur, dan diantaranya juga ada yang menempel (merekatkan) lem pada bagian-bagian dan sisi-sisi kardus yang telah dirancang dengan berbagai bentuk topi, topi-topi hasil kreasi mereka yang telah dibuat selanjutnya dipercantik dengan ikatan pita agar terlihat menarik. Topi yang terbuat dari kardus pun selesai mereka kerjakan. Topi kardus, ya karena topi-topi yang mereka buat tersebut terbuat dari kardus.

Anak-anak yang tergabung dalam Kelompok Bentangor Kids, mereka rela meluangkan waktu dan tenaga untuk bersama-sama belajar sembari bermain sekaligus  memanfaatkan sampah dari sisa-sisa kardus yang tidak terpakai lagi itu selanjutnya mereka olah menjadi topi yang bagus, menarik dan bisa dipakai/digunakan walau hanya terbuat dari kardus.

IMG-20180713-WA0010

Seorang anak dari Kelompok Bentangor Kids terlihat tertawa lepas karena ia berhasil membuat topi. Foto dok. Yayasan Palung

Dari hasil kreasi dan kreatif mereka (Bentangor Kids) terciptalah topi yang cantik dan menarik yang setidaknya bisa melindungi kepala dari teriknya mata hari ketika bermain.

Tidak disangka, sampah dari sisa-sisa rumah tangga ternyata bisa dimanfaatkan dan diolah dengan berbagai cara kreatif seperti ini, kata Simon Tampubolon, selaku pembimbing dan pembina anak-anak Bentangor Kids.

Lebih lanjut menurut Simon, dengan memanfaatkan barang-barang bekas dan mengolah (mendaurnya) menjadi sesuatu yang bermanfaat, maka persoalan sampah lebih khusus sampah rumah tangga bisa diminimalisir dan sudah sepatutnya cara mereka seperti ini untuk diikuti sebagai langkah bersama peduli dengan persoalan sampah yang selama ini belum juga kunjung usai.

Mengingat, persoalan sampah yang ada saat ini memang memerlukan cara kreatif bagaimana untuk mengolahnya. Apa lagi persoalan  hingga kini pun belum kunjung usai, ditambah lagi oleh prilaku oknum tertentu yang enggan dan empati tanpa peduli. Banyak diantara kita di Indonesia yang acuh-tak acuh dengan sampah, salah satunya membuang sampah sembarangan tanpa peduli dan tanpa melihat dampak atau pun peluang (manfaat) dari sampah itu apa sejatinya.

Saat mereka berkreasi membuat topi yang terbuat dari kardus, mereka didampingi oleh kakak-kakak mereka dari RebonK (relawan Yayasan Palung) dan dari Yayasan Palung.

Hal lainnya pula, persoalan sampah bisa dikatakan sudah menjadi tugas bersama siapa pun itu untuk saling bahu membahu mencari cara untuk kreatif dan bijaksana dengan persoalan.

Berharap, semoga ada lagi kreasi-kreasi lainnya yang bisa diciptakan oleh anak-anak ini salah satunya  dengan cara sederhana dan kreatif seperti ini benar-benar bisa diikuti oleh siapa saja, dengan demikian secara tidak langsung pula peduli dengan lingkungan sekitar dan memilihara bumi setidaknya dengan cara-cara seperti ini.

IMG-20180712-WA0007

Mereka terlihat senang memakai topi hasil dari kreasi mereka sendiri. Foto dok. Yayasan Palung

Semoga saja cara-cara kreatif seperti yang dilakukan oleh anak-anak dari Kelompok Bentangor Kids ini bisa diikuti oleh yang lainnya seusianya.

Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di Kompasiana : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/5b4845e1cf01b45f610dbe33/ajari-cara-kreatif-kepada-anak-anak-untuk-memanfaatkan-sampah

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

 

 

Salam Kenal Kami dari Kelompok Bentangor Kids yang Bermain Sembari Belajar

WhatsApp Image 2018-05-30 at 10.39.20 (2)

Anak-anak yang tergabung dalam Kelompok Bentangor Kids. Foto dok. Yayasan Palung

Bermain sembari belajar atau sebaliknya, itulah mereka Kelompok Bentangor Kids. Mereka pun bisa belajar bersama dengan sesama mereka, atau terkadang belajar dengan kakak-kakak dari Yayasan Palung.

Anak-anak yang tergabung dalam Kelompok Bentangor Kids, biasanyas selepas mereka pulang sekolah  manfaatkan waktu luang untuk berkunjung ke Pusat Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung, Bentangor Pampang Center di Desa Pampang Harapan, KKU, Kalbar.

Mereka biasanya bermain, belajar dan membaca buku. Kebetulan di Bentangor ada perpustakaan mini, beberapa buku memang diperuntukan bagi anak-anak. Seperti misalnya buku-buku cerita daerah, buku tentang lingkungan, hewan dan alam serta buku-buku tentang satwa. Tak jarang, selain mereka berkunjung untuk bermain mereka juga belajar. Mereka juga belajar bahasa Indonesia, bahasa Inggris dan matematika.

Mereka (Kelompok Bentangor Kids) secara resmi dibentuk pada hari Selasa (29/5/2018) kemarin, walaupun sesungguhnya aktivitas mereka sudah ada sejak beberapa tahun silam.

Pada kesempatan kemarin, Yayasan Palung akan memberikan materi-materi konservasi lingkungan, kerajinan tangan, permainan tradisional, outbound dan aktivitas-aktivitas lainnya yang bisa membangun karakter anak.

Adapun tujuan dari BukBer tersebut sebagai sarana silaturahmi dan sosialisasi tentang pusat Pendidikan Lingkungan “Bentangor” Yayasan Palung.

Inisiatif untuk memberikan nama Bentangor Kids adalah teman-teman kantor Yayasan Palung. Bentangor merupakan kepanjangan yang memiliki arti; Belajar tentang orangutan. Kelompok Bentangor Kids  merupakan anak-anak yang berdomisili di sekitar Pusat Pendidikan Lingkungan “Bentangor” Yayasan Palung mengetahui program Yayasan Palung dan mengenal staf Yayasan Palung.

Bentangor Kids merupakan anak-anak yang berusia 8-12 tahun (anak-anak seusia Sekolah Dasar dan mereka masih aktif sekolah). Sebagai bagian dari peningkatan kapasitas masyarakat yang berdiam di sekitar kawasan Taman Nasional Gunung Palung, Yayasan Palung bekerjasama dengan Relawan Konservasi RebonK (Relawan Bentangor untuk Konservasi) berencana menjalankan Program Bentangor Kids.

Sebagai pendamping mereka (Kelompok Bentangor Kids) didampingi oleh Kakak-kakak dari Yayasan Palung seperti Simon Tampubolon, Hendri Gunawan dan Wawan Anggriandi selain juga ada kakak-kakak dari Relawan RebonK.

Berharap, Kelompok Bentangor Kids bisa belajar dan mendapat ilmu pengetahuan agar mereka pun memiliki peningkatan kapasitas untuk semakin mencintai lingkungan, alam di sekitar mereka.

Baca juga :Asyiknya Bisa Buka bersama Anak-anak Kelompok Belajar Bentangor Kids

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

 

Rayakan Hari Bumi, YP Ajak Peduli Persoalan Sampah di Hutan Kota Ketapang

Banner Hari Bumi 2018. Foto dok.Yayasan Palung

Banner Hari Bumi 2018 Yayasan Palung. Foto Desain : Mega, RK. Tajam dan Yayasan Palung

Tidak bisa disangkal, persoalan sampah yang ada di Hutan Kota Ketapang cukup banyak. Persoalan sampah tersebut tidak lain berasal dari oknum-oknum pengunjung yang tak jarang membuang sampah tidak pada tempatnya. Walaupun hari bumi sudah lewat pada 22 April lalu, akan tetapi Yayasan Palung (YP) berencana akan melakukan rangkaian kegiatan hari bumi tahun ini, yang rencananya akan diadakan dilakukan pada hari Minggu 29 April 2018 mendatang.

Adapun tema yang diusung oleh Yayasan Palung pada hari bumi tahun 2018, “Di mana Bumi Dipijak, Di situ Langit Dijunjung”.

Sedangkan maksud dan tujuan kegiatan ini adalah :

  1. Memberikan penyadartahuan dan kepedulian tentang kebersihan lingkungan kepada para pengunjung Hutan Kota.
  2. Mengajak peran serta pemerintah (Perkimlh dan KPH) untuk terlibat aktif dalam menjaga kebersihan hutan kota.

Dalam rangkaian kegiatan Hari bumi yang akan dilakukan tersebut, Yayasan Palung mengajak para pihak seperti misalnya;  PERKIMLH (Kebersihan) Kab. Ketapang, Relawan Konservasi Yayasan Palung (RK.Tajam dan RK. RebonK), KPH Selatan, Radio Kabupaten Ketapang (RKK) dan Siswa Pecinta Alam (SISPALA) yang ada di Ketapang.

Sedangkan bentuk kegiatan seperti; Bersih sampah di lokasi Hutan Kota, Pemasangan plang kampanye penyadartahuan terkait sampah, Pembersihan sampah, Pengangkutan sampah dan Pembuatan film tentang bersih-bersih sampah ujar Rizal Alqadrie, selaku ketua panitia kegiatan.

Permasalahan sampah sering terjadi di berbagai tempat, tidak hanya di tempat umum melainkan di lingkungan sekitar kita juga mengalami permasalahan tersebut. Masalah ini sering menjadi ancaman aspek keindahan dan kebersihan, namun lebih lagi memberikan dampak negatif bagi kelestarian lingkungan dan kesehatan bagi masyarakat jika tidak ditangani dengan baik. Salah satunya sekarang mengancam tempat keberlangsungan makhluk hidup yang berada di Hutan Kota Ketapang.

Mengingat Hutan Kota merupakan salah satu aset kota Ketapang, karena keberadaannya yang berada ditengah pusat ketapang sehingga mudah sekali bagi masyarakat untuk berkunjung hanya sebatas untuk melihat dan menjadikan sebagai tempat pendidikan bagi sekolah serta menikmati alam yang ada disana. Akan tetapi, kesadaran masyarakat terhadap hutan kota tersebut sangat minim sekali dikarenakan masih saja membuang sampah sembarangan dan pengelolaan sampah yang tidak baik membuat sampah berserakan di lokasi tersebut. Berharap, kegiatan berjalan sesuai rencana.

Petrus Kanisius- Yayasan Palung

Terkait Lingkungan Hidup, Kadisdik Ketapang Apresiasi Program Yayasan Palung

Kepala Dinas Pendidikan Ketapang, H Jahilin, di ruang kerjanya. Foto dok. Tribun Pontianak

Kepala Dinas Pendidikan Ketapang, H Jahilin, di ruang kerjanya, Kamis (5/4). Foto dok. Tribun Pontianak

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Subandi 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KETAPANG – Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Ketapang, H Jahilin mengapresiasi dan berterimakasih kepada Yayasan Palung (YP). Lantaran sejak 2012 hingga 2018 komitmen mengkuliahkan para pelajar hingga 31 orang dan di antaranya dari Ketapang.

“Kita sangat mengapresiasi program YP tersebut apalagi terkait untuk keberlangsungan lingkungan hidup flora dan fauna,” kata Jahilin kepada wartawan di Ketapang, Kamis (5/4).

Ia menilai adanya progam itu berarti ada pelajar yang memang dididik dan arahkan untuk menjaga kelestarian alam.

“Apalagi sekarang hal itu sangat penting karena hutan kita semakin sedikit sehingga flora dan fauna terancam punah,” ucapnya.

“Jadi dengan adanya pelajar di Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara yang diberi beasiswa oleh YP tersebut. Harapan kita para pelajar ini nantinya bisa menyelamatkan keberlangsungan hidup flora dan fauna di daerah kita,” lanjutnya.

Ia berharap selain para pelajar yang dikuliahkan oleh YP tersebut. Pelajar lain dan masyarakat juga memiliki kesadaran untuk menjaga keberlangsungan hidup alam. “Misalnya menjaga kelestarian orangutan agar tidak punah nantinya,” tuturnya.

Artikel ini telah tayang di tribunpontianak.co.id dengan judul Terkait Lingkungan Hidup, Kadisdik Ketapang Apresiasi Program Yayasan Palung, http://pontianak.tribunnews.com/2018/04/05/terkait-lingkungan-hidup-kadisdik-ketapang-apresiasi-programyayasan-palung.
Penulis: Subandi
Editor: Jamadin

Sumber Berita : tribunpontianak.co.id
 

Ada Enam Pelajar Penerima Beasiswa Orangutan Kalimantan Tahun ini

Saat seleksi beasiswa, peserta seleksi menyampaikan presentasi.JPG

Saat seleksi beasiswa, peserta seleksi menyampaikan presentasi. Foto dok. Yayasan Palung

Setelah melakukan seleksi, Yayasan Palung  resmi mengumumkan enam pelajar penerima beasiswa S-1 melalui Program Peduli Orangutan Kalimantan atau Bornean Orangutan Caring Scholarship (BOCS) 2018, pada 29 Maret lalu.

Penerima beasiswa Bornean Orangutan Caring Scholarship (BOCS) 2018 dari hasil seleksi tahap akhir yang dilaksanakan pada 29 Maret 2018 adalah:

  1. Mega Oktavia Gunawan (SMK Negeri 1 Ketapang): Fakultas Kehutanan Prodi Kehutanan
  2. Aisyah (SMA Negeri 1 Matan Hilir Utara): FISIP Prodi Hubungan Internasional
  3. Cantika Peggi Nur Iskandar Putri (SMK Negeri 1 Sukadana): Fakultas Hukum
  4. Ari Marlina (SMK Negeri 1 Ketapang): Fakultas Kehutanan Prodi Kehutanan
  5. Fitri Meliyana (SMA Negeri 3 Simpang Hilir): FMIPA Prodi Biologi
  6. Anju Eranti (SMA Negeri 1 Sandai): FISIP Prodi Hubungan Internasional

Enam penerima beasiswa  BOCS tersebut, sebelumnya terlebih dahulu telah melalui tahapan seleksi dari awal hingga seleksi akhir. Adapun sebagai juri dalam seleksi penerima beasiswa adalah Juri: Ir. Evy Wardenaar, M.P (Fahutan UNTAN), Dr. Wahyono, M.Pd (STAI AL-Hauld), Akhdiyatul, S.ST., M.T (Politeknik Ketapang) dan Mariamah Achmad S.Hut (Yayasan Palung).

Para juri seleksi beasiswa dan di tengah direktur Yayasan Pa.JPG

Para juri seleksi beasiswa dan di tengah direktur Yayasan Palung. Foto dok. YP

Seperti diketahui, Beasiswa Orangutan Kalimantan  atas dasar adanya kerjasama Yayasan Palung (YP) dan Orangutan Republik Foundation (OURF), sejak tahun 2012 silam.

Semua peserta seleksi BOCS saat mendengarkan pengumuman hasil seleksi.JPG

Semua peserta seleksi BOCS saat mendengarkan pengumuman hasil seleksi. Foto dok. YP

Direktur Yayasan Palung, Terri Lee Breeden mengatakan, Program BOCS adalah salah satu favorit saya yang diimplementasikan Yayasan Palung. Program ini bertujuan untuk menciptakan generasi pemuda berpendidikan universitas yang akan bekerja untuk konservasi. Tahun ini, proses seleksi sangat sulit. Kami memiliki banyak pelamar yang luar biasa.

Untuk para pemenang, saya ingin mengucapkan selamat. Saya berharap untuk melihat kerja keras dan semangat terhadap konservasi. Untuk yang lain, saya berharap kepada penerima beasiswa tetap melanjutkan pendidikan tinggi dan bekerja menuju konservasi dalam kehidupan sehari-hari Anda, imbuh Terri lagi.

Mariamah Achmad Manager Program Pendidikan Lingkungan dan Media Kampanye Yayasan Palung sekaligus yang menangani program BOCS mengatakan, Sejak dimulainya program BOCS pada tahun 2012 hingga 2018 sudah terdapat 31 orang penerima BOCS, diantaranya 4 orang sudah sarjana dan selebihnya sedang aktif kuliah. Mereka berasal dari berbagai daerah di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara yaitu 20 orang dari Kabupaten Ketapang dan 11 orang dari Kabupaten Kayong Utara.

“Kami sangat senang mendapatkan  enam orang lagi para penerima beasiswa dari program BOCS. Program ini sudah kami jalankan dalam 7 tahun ini. Yayasan Palung sangat peduli dengan peningkatan pendidikan generasi muda di tanah Kayong, sangat baik memperbanyak generasi muda yang peduli terhadap konservasi yang memiliki berbagai latar belakang disiplin ilmu. Ini merupakan salah satu investasi penting untuk masa depan alam dan lingkungan Indonesia”, ujar Mayi.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

 

 

Melatih Relawan Lokal Cinta Pelestarian Alam

Para Relawan Yayasan Palung yang tergabung dalam TABONK. Foto dok. Yayasan Palung

Para Relawan Yayasan Palung yang tergabung dalam TABONK. Foto dok. Yayasan Palung

Para pemuda itu tampak antusias mengikuti berbagai kegiatan. Mereka belajar mengenai dasar-dasar kerelawanan, manajemen organisasi, dan berbagai topik lain, khususnya topik mengenai lingkungan. Sebab mereka adalah relawan Tajam dan RebonK.

Kelompok relawan ini kerap menyuarakan mengenai konservasi di Tanah Kayong, Kalimantan Barat. Beberapa waktu lalu, mereka mengikuti semacam pelatihan di kantor Yayasan Palung, di Desa Pampang Harapan, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat.

Sesuai dengan slogan TabonK; “Yom Kite Begabong”, selama tiga hari kegitan tersebut, ragam keceriaan dan ide mereka satukan yang terbingkai dalam diskusi untuk belajar bersama terkait apa yang terjadi saat ini dan mungkin yang akan terjadi di masa depan terkait lingkungan.

Mereka juga mengikuti diskusi mengenai dampak kerusakan hutan. Tak sedikit ide yang mereka cetuskan terkait dengan kerusakan lingkungan dan dampaknya, seperti: dampak sosial, ekonomi, lingkungan, politik, dan dampak secara menyeluruh, termasuk pula pemanasan global.

Dalam diskusi tersebut, muncul ide untuk mengatasi dampak kerusakan hutan antara lain: melakukan reboisasi (penanaman kembali), tidak menebang pohon, dan penegakan hukum dari negara untuk mengatasi persoalan lingkungan….

Untuk membaca selengkapnya di : https://student.cnnindonesia.com/edukasi/20180207111639-445-274476/melatih-relawan-lokal-cinta-pelestarian-alam

Petrus Kanisius-Yayasan Palung