Category Archives: Penelitian

Asyiknya Fieldtrip Bersama Para Pihak di Hutan Lubuk Baji Kawasan Penyangga TNGP

WS_Lubuk Baji_ 170321_074.JPG

Saat peserta Fieldtrip menuju Lubuk Baji. Foto dok. Wahyu Susanto

Tak hanya kunjungan lapangan (fieldtrip), namun menjelajahi hutan bisa dikata banyak hal yang dapat dilakukan diantaranya mengembangkan sinergisitas dengan para pihak. Setidaknyanya itulah yang Yayasan Palung (GPOCP) dan BTNGP dengan Para Pihak lakukan selama tiga hari (14-16 Maret 2017) kemarin, di Lubuk Baji yang merupakan Kawasan Penyangga Taman Nasional Gunung Palung.

Selama berkegiatan, terlihat capek dari raut wajah peserta yang baru pertama alias jaran mengunjungi hutan. Apabila boleh dikata, mereka terlihat capek, ngos-ngosan menjelajahi dan naik turun bukit selain jarang mengunjungi hutan juga karena faktor usia dan postur badan yang berisi. Hehehe…

Akan tetapi, rasa capek yang mereka rasakan dijamin terbayar lunas dengan hamparan hutan di sekitar kawasan menuju hingga saat berada (sampai) di kawasan Lubuk Baji, TNGP. Benar saja, ragam suara enggang, kelempiau sesekali akrab terdengar tak jauh dari kami, namun enggan menampakan dirinya. Demikian juga suara pancuran air terjun Lubuk Bengkik atau juga Riam Lubuk Baji begitu bergemuruh terdengar. Sesekali beberapa peserta tidak sabar untuk turun karena tergoda dan berkendak membasmi keringat yang telah menyatu saat dalam perjalanan dan melepas dahaga dengan segar dan sejuknya air yang terjun tiada berhenti turun dari ketinggian kurang lebih 10 meter tentu hal yang mengasyikan dan menyenangkan.

WS_Lubuk Baji_ 170321_117.JPG

Merasakan kesegaran air terjun Lubuk Baji. Foto dok. Wahyu Susanto

Satu setengah jam perjalanan dari Dam Begasing menuju Lubuk Baji. Setelah sampai, sebagian besar peserta fieldtrip para pihak bersiap membasuh tubuh alias mandi dengan segar dan sejuknya air sungai yang mengalir di dekat Camp Lubuk Baji.

Di hari pertama, beberapa kegiatan seperti pemaparan beberapa program kegiatan yang dilakukan oleh Yayasan Palung disampaikan kepada para pihak. Terri Breeden, selaku direktur Yayasan Palung mempresentasikan kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Yayasan Palung diantaranya melalui Program Perlindungan Satwa, Pendidikan Lingkungan dan media kampanye, Program Livelihood telah bersentuhan langsung dengan masyarakat. Seperti misalnya melalui beberapa program yang Yayasan Palung memiliki dampak postif dan bisa berlanjut hingga saat ini. Sedangkan presentasi tentang penelitian disampaikan oleh Wahyu Tri Susanto sebagai Direktur Penelitian Yayasan Palung. Wahyu, menjelaskan Gunung Palung, sebagai Taman Nasional, Gunung Palung memiliki  tipe habitat yang lengkap (8 tipe habitat hutan). monitoring satwa; tidak hanya orangutan, tetapi satwa lain seperti kelasi kelempiau dan keanekaraman tumbuhan bisa dijumpai ditempat ini. Jika pengunjung ramai dan agak ribut sedikit sulit untuk bersua/berjumpa dengan orangutan. Selain itu, di TNGP memiliki kelimpahan  satwa.

Demikian juga dengan TNGP menyampaikan presentasi kepada para pihak. Penjelasan terkait luas wilayah TNGP yang semula 90.000 ha, kini bertambah menjadi 108.000 ha. Dimana 80 % nya berada di wilayah KKU, 20 % nya berada di Ketapang. Lubuk Baji merupakan zona pemanfaatan; saat ini LB adalah untuk wisata. 3 prinsip dalam pengelolaan kawasan; perlindungan, pengawetan dan pemanfaatan. Harapan kedepannya, ada kesempatan bersama untuk tujuan rumusan sinergisitas antar pihak, demikian dipaparkan oleh Bapak Bambang selaku Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah 1 Sukadana.

Mengembangkan sinergisitas yang tidak lain sebagai upaya pelestarian dan perlindungan lingkungan hidup merupakan tanggung jawab bersama seluruh komponen di dalam sebuah negara yaitu masyarakat, organisasi non pemerintah, pemerintah dan pihak swasta yang berada di dua wilayah kabupaten (Kayong Utara dan Ketapang), Kalbar. Para pihak terutama pemerintah dan organisasi non pemerintah memiliki agenda masing-masing dalam upaya tersebut yang perlu disinergiskan agar dapat saling mengisi dan mendukung. Dengan kata lain kegiatan ini bertujuan; Pertama, Mengembangkan sinergisitas program antara Yayasan Palung, Stasiun Riset Cabang Panti (SPCP), Balai Taman Nasional Gunung Palung (BTNGP) dan SKPD Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara. Kedua, Meningkatkan kerjasama antara para pihak dan ketiga, Rekreasi dan Refreshing ke Taman Nasional Gunung Palung. Atau dengan kata lain tujuan dari kegiatan ini singkatnya adalah membangun sinergisitas para pihak untuk perlindungan kawasan dengan ragam kegiatan yang mungkin bisa disingkronkan untuk dilakukan secara bersama-sama pula.

WS_Lubuk Baji_ 170321_166.JPG

Terri Breeden saat menyampaikan presentasi kepada para pihak. Foto dok. Wahyu Susanto

Di hari kedua, peserta diajak untuk mendiskusikan apa-apa saja kegiatan yang bisa dilakukan secara bersama-sama para pihak. Mengingat, Kawasan TNGP dan masyarakat menjadi tanggungjawab semua pihak untuk perlindungan kawasan dan mengembangkan potensi-potensi yang ada di sekitar kawasan. Seperti misalnya, Lubuk Baji yang berada didalam kawasan penyangga yang tidak lain juga sebagai sebagai zona pemanfaatan untuk  ekowisata, penelitian dan pendidikan. Kawasan Lubuk Baji sangat berpotensi sebagai sumber air bersih karena kawasan hutan di wilayah ini masih terjaga. Demikian juga dengan ragam tumbuh-tumbuhan seperti anggrek dan satwa. Selanjutnya, dilanjutkan dengan diskusi rencana tindak lanjut (RTL) antara lain berupa kerjasama antara instansi yang hadir dan juga melibatkan instansi yang tidak hadir. Pentingnya kersama  dari berbagai pihak di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara ini sangat penting untuk perlindungan kawasan konservasi.

Para pihak yang mengikuti kegiatan ini menyambut baik dengan adanya rencana kerjasama (sinegisitas) bersama disekitar kawasan TNGP. Setelah penyusunan RTL, dilajutkan pembacaan puisi lingkungan oleh Yohanes Terang, Aktivis dan tokoh masyarakat, penulis buku; Menjaga Yang Tersisa, Beliau sekaligus juga sebagai Pembina Yayasan Palung. Puisi tentang, Gunung Palung Yang Agung Nafas Penyambung.

Pada hari ketiga, kegiatan diisi dengan kegiatan santai karena hari terakhir berkegiatan. Sekitar pukul 05.30 Wib untuk melakukan Pengamatan Fauna dan Hunting Sunrise ke Batu Bulan. Dari Batu Bulan, jika cuaca bersahabat kita akan melihat pemandangan yang memanjakan mata antara lain melihatnya mentari yang muncul dan pemandangan persawahan masyarakat di Desa Sedahan Jaya, Kab. KKU dan tampak Gunung Palung didepan. Tidak jarang ada yang mengatakan dari Batu Bulan  tak ubah berada di negeri diatas awan.

Sekilas tentang asal usul Lubuk Baji

Nama Lubuk Baji berlatar belakang legenda seseorang pekerja yang kehilangan sebuah baji (pasak) di sekitar sebuah lubuk. Si pekerja terus melakukan pencaharian tetapi tidak ditemukan. Sejak saat itulah tempat ini dinamakan Lubuk Baji. Lubuk Baji memiliki ketinggian kurang lebih 10 meter, dengan suasana sejuk dikelilingi pepohonan menjadi tempat yang menarik untuk beristrahat dan sekedar berfoto.

Asal Usul Batu Bulan

Menurut masyarakat setempat, saat bulan purnama batu ini (batu bulan) seperti memantulkan cahaya bulan purnama bila dilihat dari arah perkampungan terdekat, sehingga masyarakat menamakan batu ini batu bulan.

Direktur Yayasan mengatakan; melalui fieldtrip ini merupakan sukses besar, ini sebagai kesempatan yang indah untuk semua organisasi yang bekerja untuk melindungi Kawasan Taman Nasional Gunung Palung dan lanskap sekitarnya untuk mengalami keindahan daerah ini yang ditawarkan. Kami mampu untuk keluar dari kantor dan bekerja sama untuk membuat komitmen baru untuk konservasi dan masyarakat lokal.

WS_Lubuk Baji_ 170321_255.JPG

Peserta Fieldtrip saat merasakan sunrise di Batu Bulan. Foro dok. Wahyu Susanto

Setidaknya ada 16 orang peserta fieldtrip para pihak yang terdiri dari BTNGP, Yayasan Palung, SPCP BKSDA SKW 1 Ketapang, Bappeda Kab. Ketapang dan Kab.Kayong Utara dan Kepolisian Resort KKU. Fieldtrip yang dilaksanakan oleh para pihak tersebut berjalan sesuai rencana, sebelum pulang kami menyempatkan diri untuk operasi semut (membersihkan sampah) dan berfoto bersama.

Baca juga tulisan yang sama di : Yayasan Palung bersama BTNGP Adakan Fieldtrip dengan Para Pihak

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

 

 

 

 

Orangutan Dilindungi tetapi Sangat Terancam di Habitatnya

orangutan-di-tipe-sarang-a-saat-beristirahat-di-hutan-hujan-gunung-palung-foto-dok-tim-laman-dan-yayasan-palung

Mungkin kata itu yang cocok untuk dikatakan terkait mereka (satwa atau primata) dilindungi yang saat ini keberadaannya sangat terancam punah. Hal ini nyata adanya, ragam jenis satwa sudah semakin sulit dan sempit keberadaannya salah satunya di habitat hidupnya.

Mereka bukan karena tidak diperhatikan, malah mereka menjadi prioritas utama. Dengan kata lain, satwa atau primata  yang dilindungi justru keberadaanya dalam ancaman nyata (semakin terancam) serius di habitatnya berupa hutan.

Di hutan tropis Indonesia, setidaknya terdapat  sekitar 40.000 jenis tumbuhan, 350.000 jenis hewan, 5.000 jenis jamur, dan 1.500 jenis Monera. Bahkan banyak jenis makhluk hidup yang merupakan makhluk hidup endemik. (sumber data; Ilmu Hutan). Dengan demikian ragam satwa, tumbuhan menjadi satu kesatuan yang sejatinya tidak terpisahkan. Apabila satu kesatuan ekosistem diantara mereka terganggu makan akn berdampak pada yang lainnya. misalnya saja keberadaan hutan sangat berpengaruh kepada jumlah populasi satwa yang mendiami wilayah tersebut. Hutan menipis maka satwa/primata akan semakin sulit untuk bertahan hidup, termasuk populasi mereka yang sulit berkembang biak hingga populasi mereka semakin menurun/berkurang jumlahnya yang menyebabkan mereka harus dilindungi.

Mengapa mereka (primata atau satwa) dilindungi tetapi Terancam dan terhimpit di Habitatnya?

Beberapa alasan primata/satwa dilindungi salah satunya karena jumlah populasi sudah langka atau semakin langka. Atau dengan kata lain, tidak sedikit jumlah satwa yang dikatakan mendapat predikat terancam, sangat terancam dan mungkin yang lebih parahnya lagi adalah punah di habitat hidupnya, tetapi jangan sampai terjadi di Indonesia. Di beberapa wilayah di Indonesia misalnya persebaran satwa dilindungi yang sangat terancam punah adalah orangutan (orangutan kalimantan dan orangutan sumatera).

Untuk membaca selengkapnya dapat lihat di link yang ditulis sebelumnya di kompasiana : Orangutan Dilindungi tetapi Sangat Terancam dan Terhimpit di Habitatnya

Berikut Beberapa Jenis Satwa Dilindungi di Tanah Kayong

Rayap dan serangga termasuk makanan orangutan. Foto dok. Tim Laman dan Yayasan Palung

Orangutan Jantan yang ada di Gunung Palung. Foto dok. Tim Laman

Satwa dilindungi sudah sepatutnya kita jaga dan lindungi di habitat hidupnya. Mengingat, keberadaan populasinya terancam ataupun sangat terancam punah di habitat hidupnya akibat beragam kegiatan ataupun aktivitas manusia seperti pembukaan lahan  berskala besar.

satwa-dilindungi-di-tanah-kayong-foto-dok-yayasan-palung

 

Foto data dok. Yayasan Palung

Perlu peran dari semua pihak untuk menjaga dan melindungi satwa yang masih ada dan tersisa di Tanah Kayong  (sebutan untuk Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara), Kalimantan Barat, Indonesia.

satwa-dilindungi-di-tanah-kayong-foto-dok-yayasan-palung-2

Foto data dok. Yayasan Palung

Melestarikan dan menjaga hutan agar tetap lestari, berarti juga memberikan juga kehidupan bagi banyak makhluk hidup tidak terkecuali banyak primata (satwa) dilindungi yang saat ini.

Sedangkan satwa langka yang menjadi prioritas di Indonesia saat ini ada 25 satwa endemik/terancam punah.

25-satwa-langka-prioritas-sumber-data-dok-klhk

Semoga saja satwa dilindungi dapat terlindungi dan lestari di habitat hidupnya di seluruh wilayah Indonesia.

Ini Suasana Keakraban Kami Yayasan Palung (GPOCP) dan  GPOP dalam Rapat Tahunan

img-20170216-wa0011

Ini Keakraban kami saat rapat tahunan beberapa waktu lalu. Foto dok. Wahyu Susanto

Inilah keakraban kami Yayasan Palung/GPOCP  dan GPOP (Tim Konservasi dan Tim Peneliti) disela-sela rutinitas dan aktivitas.

Foto ini adalah saat kami Rapat tahunan untuk merencanakan apa yang akan kami kerjakan di tahun-tahun berikutnya.

Semoga segala rencana dan harapan dapat dituai.

Amin…

Mengenal Lebih Dekat Stasiun Penelitian Cabang Panti dan Ini yang Menarik Disana

Kantong Semar biasanya hidup di hutan rawa gambut dan di hutan pegunungan Gunung Palung. Foto dok GPOCP dan Yayasan Palung.jpg

Kantong Semar biasanya hidup di hutan rawa gambut dan di hutan pegunungan Gunung Palung. Foto dok GPOCP dan Yayasan Palung

Tidak bisa disangkal, beragam jenis hutan yang tersebar di wilayah hutan tropis Gunung Palung, tidak hanya hutan tetapi juga satwanya. Salah satunya adalah orangutan sebagai salah satu satwa endemik yang ada di Dunia.

Setidaknya itulah yang menjadi daya tarik bagi para ilmuan baik dari dalam atau pun luar negeri untuk mengunjungi tempat ini, lebih tepatnya di Stasiun Penelitian Cabang Panti (SPCP), Taman Nasional Gunung Palung.

camp-cabang-panti-di-tngp-sebagai-tempat-rumah-bagi-para-peneliti-yang-melakukan-penelitian-foto-dok-yayasan-palung

Camp Cabang Panti, di TNGP sebagai tempat (rumah) bagi para peneliti yang melakukan penelitian. Foto dok.Yayasan Palung

Tentu, hal ini menjadi kekayaan sekaligus unik dan terlengkap  yang mungkin di tempat lain belum tentu ada. Apa saja kah yang unik dari hutan di Cabang Panti, Gunung Palung?.

Pertama, Di Gunung Palung  setidaknya terdapat tujuh jenis hutan dari 8 tipe hutan yang berbeda, hutan yang dimaksud adalah; 1. hutan rawa gambut di ketinggian 5-10 mdpl,  2. Kedua, hutan rawa air tawar di ketinggian 5-10 mdpl, 3. Hutan tanah alluvial di ketinggian 10-50 mdpl, 4. Hutan batu berpasir dataran rendah di ketinggian di 20-200 mdpl, 5. Hutan granit dataran rendah di ketinggian  200-400 mdpl, 6. Hutan granit dataran tinggi di ketinggian  350- 800 mdpl,  7. Hutan Pegunungan di ketinggian 750-1100 mdpl (Marshall, Andrew j, 2008) dan 8. Hutan kerangas yang paling sedikit luasannya yaitu 7,6 ha dari total luas Cabang Panti. Lokasi ini merupakan lokasi yang cocok untuk menganalisa perilaku reproduksi tumbuhan berkayu di level alpha dan beta dari keberagaman jenis tumbuhan. Selain itu, bisa meneliti perilaku beragam satwa seperti orangutan dan beberapa satwa lainnya seperti kelempiau, kelasi serta satwa lainnya. Burung endemik seperti enggang, ayam hutan dan satwa lainnya.

orangutan-dan-bayinya-di-tngp-foto-dok-yayasan-palung-dan-tim-laman-5698bdcf149373dc04b4bd31

Orangutan Betina dan Bayinya di Gunung Palung. Foto dok. Tim Laman

Sebagian besar kawasan SPCP merupakan hamparan perbukitan dan gunung. Hanya rawa gambut dan rawa air tawar yang merupakan hamparan dataran rendah. Di area SPCP terdapat hamparan Gunung Palung dengan ketinggian 1.116 mdpl dan Gunung Panti dengan ketinggian  1.050  mdpl. Keunikan jenis dan tipe hutan tersebut memiliki banyak manfaat bagi keberlangsungan makhluk hidup dan manusia lebih khusus sebagai perpustakaan yang paling penting bagi ilmu pengetahuan  dan penelitian. Kedua,tidak hanya penelitian yang menyangkut ekologi dan biologi satwa dan tumbuhan seperti primata terutama orangutan tetapi juga pendataan  jenis tumbuhan  di TNGP tetapi juga penelitian jenis-jenis tumbuhan dipterocarp (meranti dan balau/Shorea, mersawa/Anisoptera, keruing/Dipterocarpus dan kapur/Dryobalanops).
meranti-atau-shorea-sp-yang-sedang-berbuah-merupakan-jenis-pohon-dipterocarpaceae-foto-dok-yayasan-palung-gpocp-dan-tim-laman

Tumbuhan dipterocarpaceae yang ada di Gunung Palung. Foto dok. YP, GPOCP dan Tim Laman

Selain itu juga terdapat tumbuh-tumbuhan obat, jenis lumut, paku-pakuan, jenis palem, liana dan kantong semar serta tumbuhan lainnya. Obyek lainnya yang menarik adalah jenis fauna diantaranya jenis-jenis herpetofauna, serangga, ikan dan jenis mamalia  seperti  beruang madu,  kucing dan jenis tupai salah satunya tupai vampir.

Sedangkan Hasil dari penelitian di Stasiun Riset Cabang Panti, TNGP menyebutkan setidaknya ada ditemukan tumbuhan dan pohon yang menjadi pakan atau makan orangutan di Gunung Palung. Orangutan mengkonsumsi lebih dari 300 jenis tumbuhan yang terdiri dari: 60% terdiri dari buah, 20% bunga, 10% daun muda dan kulit kayu serta 10% serangga (seperti rayap). Tumbuhan dominan yang dikonsumsi buahnya oleh orangutan dan beberapa satwa lainnya adalah dari family Sapindaceae/sapindales (rambutan, kedondong, matoa dan langsat), Lauraceae (alpukat dan medang), Fagaceae (petai dan kacang kedelai atau termasuk jenis kacang-kacangan), Myrtaceae/myrtales (jenis jambu-jambuan), Moraceae (ficus/kayu ara) dan lain-lainnya.

Menurut Wahyu Susanto, selaku Direktur penelitian GPOCP/Yayasan Palung mengatakan, di Gunung Palung terdapat kurang lebih 2500 individu orangutan. Sedangkan orangutan yang teridentifikasi mendiami area penelitian Cabang Panti berdasarkan penelitian dan pemberian nama oleh para peneliti sejak tahun  2008-2016 tercatat ada 98 individu orangutan. Adapun lokasi penelitian SPCP sekitar 2100 hektar. Sedangkan luasan Taman Nasional Gunung Palung adalah 90.000 hektar.

Hingga saat ini tercatat setidaknya 150 peneliti dalam dan luar negeri yang melakukan penelitian di SPCP. Untuk menjangkau Stasiun Penelitian Cabang Panti melalui dua akses; jalaur air dan jalur darat. Jalur air melalui Sungai Rantau Panjang dengan menggunakan sampan atau longboat. Jalur ini digunakan untuk mengangkut logistik yang dikirim melalui Melano, dusun Semanjak, dengan jarak tempuh 7 sampai 12 jam. Lama atau tidaknya jarak tempuh tergantung kondisi air, apabila kemarau sungai kering sehingga waktu tempuh bisa semakin lama. Sedangkan jalur darat menuju SPCP melalui dusun Tanjung Gunung dengan berjalan kaki dengan jarak kurang lebih 16 km dan bisa ditempuh dengan  dalam waktu 4 hingga 6 jam perjalanan.

Apabila para peneliti ingin melakukan penelitian terlebih dahulu mengajukan SIMAKSI (Surat Ijin Masuk Kawasan Konservasi) terlebih dahulu kepada Balai Taman Nasional Gunung Palung.

Bahan tulisan ini merupakan ringkasan yang sumbernya dari : buku saku (booklet) BTNGP yang berjudul; Stasiun Penelitian Cabang Panti “The Heaven of Science”, ditulis oleh Endro Setiawan,tebal buku 29 halaman, cetak tahun 2015.

Baca juga tulisan ini di Kompasiana Ini yang Unik dan Menarik di Stasiun Penelitian Cabang Panti

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Ternyata Ini Perbedaan Katak dan Kodok

katak-dan-kodok-foto-capture-dari-info-hewan-pinterest

Katak dan kodok. Foto Capture dari Info Hewan – pinterest.com

Di hutan hujan, terlebih di Indonesia dari Sabang hingga Merauke hampir dipastikan kita akan menjumpai kedua hewan Amfibi ini  (hewan yang hidup di air dan  darat). Baik katak atau pun kodok sangat sering kita jumpai saat kita berada di hutan, di tepian sungai ataupun di jalan. Katak dan Kodok dilihat sepintas terlihat sama, tetapi ternyata keduanya memiliki perbedaan.

Apa saja perbedaan Katak dan kodok yang dimaksud?. Margie Surahman, Mahasiswa FMIPA Universitas Tanjungpura mempresentasi hasil penelitian skripsinya tentang Katak di Stasiun Penelitian Cabang Panti (SPCP) Kalimantan Barat, pada Kamis  (5/1/2017), pekan lalu.

Margie Surahman, Mahasiswa FMIPA Universitas Tanjungpura mempresentasi hasil penelitian skripsinya tentang Katak di Stasiun Penelitian Cabang Panti (SPCP) Kalimantan Barat, pada Kamis  (5/1/2017), pekan lalu.

saat-margie-surahman-mahasiswa-fmipa-universitas-tanjungpura-mempresentasi-hasil-penelitian-skripsinya-tentang-katak-di-stasiun-penelitian-cabang-panti-spcp-kalimantan-barat-foto-dok-mayi-yayasa

Saat Margie Surahman, Mahasiswa FMIPA Universitas Tanjungpura mempresentasi hasil penelitian skripsinya tentang Katak di Stasiun Penelitian Cabang Panti (SPCP) Kalimantan Barat. Foto dok. Mayi, Yayasan Palung

Margie memaparkan persentasinya di Kantor Yayasan Palung. Margie menjelaskan, segala sesuatu tentang mahluk ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa, tidak terkecuali Katak dan kodok dapat dilihat dari Morfologi (tampak fisik) dan Morfometri (ukuran dan bentuk) dari hasil analisis dan penelitiannya.
Adapun ciri-ciri katak seperti memiliki kulit halus, berlendir, memiliki kaki yang panjang dan kuat serta berselaput. Dengan memiliki kaki yang panjang terlihat mempermudah katak dalam melompat ataupun memanjat, tutur Margie.

Sedangkan ciri-ciri khusus kodok antara lain adalah memiliki kulit yang kasar, bintik-bintik (bentol-bentol) timbul, lanjutnya lagi. Ukurannya Katak dengan nama latin Paedophryne amauensis merupakan katak terkecil dengan ukuran 7 mm ditemukan di Papua Nugini oleh para ilmuwan, (sumber data: BBC Indonesia).

Untuk Kodok ukuran terbesar di dunia bisa wisatawan jumpai di Kamerun dan sekitarnya. Namanya Goliath Frog dengan panjang 30 cm dan berat 3 kg, (Sumber: Travel Detik).

Makanan kesukaan dari kodok dan katak adalah jenis serangga seperti belalang kecil (jangkrik), kunang-kunang dan nyamuk.

Edward Tang, selaku Koordinator Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung, mengatakan; Katak dan kodok merupakan salah satu bio indikator (indikasi/tanda) yang terdapat di alam. Sehigga bila disalah satu ekosistem masih banyak ditemukan jenis jenis kodok maupun katak, bisa dipastikan bahwa kondisi ekosistem tersebut masih baik alias belum tercemar.

Menurut data dari Info Hewan menyebutkan; Dari segi klasifikasinya, Katak termasuk ke dalam famili Ranidae (ada sekitar 400 spesies), sementara Kodok termasuk ke dalam famili Bufonidae (ada sekitar 300 spesies). Katak memiliki mata yang menonjol, bulat dan berada pada posisi yang tinggi. Sedangkan mata kodok berada pada posisi yang rendah, serta tidak menonjol layaknya Katak.

Tulisan ini juga pernah di muat di Kompasiana, Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/setidaknya-inilah-perbedaan-katak-dan-kodok_5878b4b9537a61440917cd79

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Mengenal Jamur Makroskopis, Apa Manfaat dan Bahayanya Bagi Kehidupan?

beberapa-jenis-jamur-makroskopis-foto-dok-ogi-dan-yayasan-palung

Beberapa jenis jamur makroskopis. Foto dok. Ogi dan Yayasan Palung

Jamur (Fungi, spp) di masyarakat kita Indonesia secara khusus di hutan tropis banyak terdapat banyak jenis tumbuhan jamur. Tidak terkecuali jamur makroskopis yang ternyata memiliki manfaat dan sekaligus juga ada yang berbahaya.

Berdasarkan hasil penelitian jamur yang dilakukan oleh Ogi Prayogo, Mahasiswa Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak melakukan penelitian di Stasiun Penelitian Cabang Panti, Kawasan Taman Nasional Gunung Palung, awal Desember 2016, tahun lalu.

Adapun tujuan dari penelitian yang dilakukan tersebut tidak lain untuk menginventarisasi jenis-jenis jamur makroskopis yang terdapat di kawasan Cabang Panti Taman Nasional Gunung Palung.

Lalu, apa jamur Makroskopis itu?. Jamur makroskopis merupakan jamur yang memiliki tubuh buah, berukuran besar kurang lebih (1 mm), tersusun atas miselia dan dapat dilihat secara langsung dengan bentuk yang jelas. Jamur makroskopis penting untuk dilestarikan, karena dapat digunakan sebagai bahan pangan, obat-obatan serta berperan pada proses dekomposisi (jenis reaksi kimia dimana senyawa dipecah menjadi komponen yang lebih sederhana).

Dalam penjelasannya pada peresentasinya di Kantor Yayasan Palung pada awal Desember 2016, tahun lalu, Ogi sapaan akrabnya mengatakan; “Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan, diperoleh sekitar 150 jenis jamur yang berbeda dan telah teridentifikasi sebanyak 20 jenis”.

Dua puluh jenis jamur makroskopis dari hasil penelitian yang teridentifikasi antara lain adalah: Russula sardonia, Russula fragilis, Lactarius vellereus, Lactarius sp., Coltricia perennis, Calostoma sp., Scleroderma sp., Hydnum sp., Marasmius androsaceus, Marasmius sp., Fomes sp., Calocera cornea, Xylaria sp., Xylaria cosmosoides, Auricularia sp., Cookeina tricholoma, Hygrocybe coccinea , Hygrocybe Laeta dan Ganoderma sp.

Jamur makroskopis dapat dijadikan sebagai sumber pangan dan bahan obat-obatan. Jamur makroskopis yang dapat dimakan biasa dimanfaatkan masyarakat sebagai hidangan menu dalam menyantap makanan dan dapat pula digunakan sebagai obat-obatan. Yigibalom dkk. (2014) menyatakan bahwa kandungan protein pada jamur cukup tinggi, hal ini dapat dibuktikan melalui hasil penelitiannya di wilayah Beam, Distrik Makki, Papua terhadap kandungan protein jamur yang biasa dimanfaatkan oleh masyarakat lokal. Jamur yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat lokal Beam memiliki kadar protein antara 18,91% sampai 35,03%. Menurut Montoya dkk. (2002) dalam hasil penelitiannya dikatakan bahwa jamur makroskopis dapat digunakan pada pengobatan tradisional, seperti Lycoperdon perlatum dan Ustilago maydis. Selain sebagai obat, jamur Ustilago maydis juga dapat dimanfaatkan sebagai kosmetik. Jamur makroskopis juga bisa dimanfaatkan sebagai insektisida dan bahan bakar, seperti Amanita muscaria dan Fomitopsis pinicola. (Sumber data dari persentasi Ogi Prayogo, tahun 2016). Jamur makroskopis adalah salah satu dari komponen penting ekosistem hutan. Peran jamur makroskopis bagi ekosistem adalah sebagai dekomposer (pengurai) yang mempercepat siklus materi dalam ekosistem hutan dengan memainkan peran penting pada daur ulang nutrisi (Tapwal dkk. 2013). Jamur makroskopis dapat ditemukan di berbagai bahan organik  seperti tanah, humus, kayu, serasah dan kotoran hewan (Widhiastuti dan Nurtjahja, 2013).

Jamur makroskopis ada yang beracun dan tidak beracun jika dikonsumsi. Jamur beracun jika dikonsumsi dapat mengakibatkan gangguan pada saluran pencernaan. Menurut Badsar dkk. (2013) berdasarkan hasil penelitiannya terhadap kasus keracunan jamur pada pasien Rumah Sakit Rasht Iran, menyatakan bahwa gejala yang ditimbulkan dari akibat keracunan jamur adalah iritasi gastrointestinal. Gejala-gejala yang dapat dirasakan pada saat seseorang keracunan jamur adalah diare, sakit perut, mual dan muntah.

Jamur makroskopis juga ternyata memiliki ciri khas (karakteristik) seperti yang dikemukan oleh McKnight dan McKnight (1987) menyatakan bahwa Tudung (cap) pada jamur makroskopis dapat dijadikan karakterisasi untuk mengidentifikasi jenis karena memiliki bentuk morfologi yang berbeda-beda. Bagian-bagian dari tudung yang menjadi karakter identifikasi dikelompokkan menjadi beberapa kategori antara lain tekstur permukaan tudung, tipe sisik permukaan tudung, garis tepi tudung dan irisan membujur tudung. Variasi bentuk dari tudung adalah conic (kerucut), depressed (tertekan), humped (bungkuk), flat (datar), truncate (terpotong), bell-shaped (bentuk jam), funnelshaped (bentuk corong), elliptic (bulat panjang), ovoid (bulat telur), globose (bundar) dan cylindric (silinder). Tekstur permukaan tudung terdiri dari smooth (halus), powdery (bertepung), felty (berbulu) dan fibrillose (bergaris halus). Tipe sisik permukaan tudung dibagi menjadi recurved (bengkok), pyramidal (piramid), fibrillose (bergaris halus), scurfy (berbutir kasar). Garis tepi tudung dibedakan menjadi entire (rata), scalloped (bergigi), idented (bertakuk), crenate (beringgit), lobed (bercuping). Bentuk irisan memanjang tudung dapat dibagi menjadi straight (lurus), inrolled (melingkar kedalam), incurved (melengkung kedalam), upturned (menengadah), recurved (melengkung keluar).

Proses identifikasi pada bagian tudung dapat dilanjutkan melalui pengamatan bentuk lembaran insang (Lamella) dan jarak antar insang. Lembaran insang berdasarkan bentuknya dapat dibedakan menjadi beberapa tipe, seperti Free (bebas), adnexed (menempel), adnate (menempel lurus), decurrent (menempel sampai kearah bawah stipe) dan notched (bertakik). Jarak antar insang jika dilihat dari kerapatannya bisa dibagi menjadi distant (Jauh), sub-distant (agak jauh), close (dekat), crowded (rapat).

Sebagian besar tumbuhan jamur banyak dijumpai di daerah-daerah hutan hujan tropis yang lembab, dengan kelembaban yang tinggi jamur dapat tumbuh secara baik dan apabila terpapae sinar secara langsung maka jamur akan cepat rusak.

Sumber tulisan Presentasi Ogi dan dari berbagai sumber

Tulisan ini juga pernah dimuat di kompasiana :http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/jamur-makroskopis-manfaat-dan-bahayanya-bagi-kehidupan_586cc6adbb93738d0875e11d

Petrus Kanisius-Yayasan Palung 

Survei Sarang Orangutan dengan Menggunakan Drone

foto-survei-drone-1

Saat melakukan survei sarang orangutan di beberapa desa di sekitar Kawasan Taman Nasional Gunung Palung, pada bulan november tahun lalu. Foto dok. YP/GPOCP

Pada tanggal (12/11/2016) tahun lalu, Yayasan palung melakukan survei sarang orangutan menggunakan drone jenis Fixed-wings. Survei ini bertujuan untuk menilai update status populasi orangutan di Taman Nasional Gunung Palung, dengan cara pendekatan baru yaitu dengan menggunakan pesawat drone berjenis Fixed-wings.

Drone ialah sebuah pesawat tanpa awak (Unmaned Aerial Vehicle (UAV) dimana perangkat ini mendukung untuk pengambilan data secara fotogrametri. Survei drone dilakukan selama 11 hari, pada 6 transek (Batu barat, Matan, Selingsing, Sempurna dan Kubing). Setiap transek memiliki beberapa kontur mulai dari Hutan rawa gambut, dataran rendah hingga hutan pegunungan. Saat melakukan survei di lapangan cuaca sering berubah menjadi mendung kemudian hujan, hal ini menyulitkan kami untuk mengambil data survei sarang karena drone hanya dapat terbang dengan cuaca yang cerah. Sehingga pada saat di transek Matan kami harus menunggu selama 2 hari hingga cuaca cerah untuk mendapatkan hasil data foto yang terbaik.

foto-survei-drone-2

Saat melakukan survei sarang orangutan di beberapa desa di sekitar Kawasan Taman Nasional Gunung Palung, pada bulan november tahun lalu. Foto 2, dok. YP/GPOCP

Saat kami mencoba menemukan transek di Sempurna tiba-tiba jalan transek terputus sehingga kami harus mencari jalan alternatif untuk menuju transek, saya mencoba menerbangkan drone berjenis multi-rotor ini relatif mudah dikendalikan dan hovering. Dan akhirnya kami bisa menemukan jalan kaki sekitar 4 jam menuju ke transek sempurna dan melanjutkan survei sarang orangutan dengan menggunakan pesawat fixed-wings.

Pengamatan sarang dilakukan dengan menganalisis hasil foto dari atas pesawat, Hasil yang didapat berupa foto hasil pesawat fixed-wings dengan ketinggian 300 m hasilnya dari foto tersebut ditemukan beberapa sarang orangutan. Hasil foto yang didapat melalui drone sangat bagus dan daerah yang disurvei bisa lebih luas. Seperti pada gambar yang telah teranalisis di bawah ini.

foto-survei-drone-3

Hasil foto yang didapatkan dari survei di sekitar Kawasan Taman Nasional Gunung Palung, pada bulan november tahun lalu. Foto dok. YP/GPOCP

By : Syahik Nurbani-Yayasan Palung (GPOCP)

Cerita tentang Kehidupan Orangutan

orangutan-nan-rawan-foto-capture-sampul-majalah-natgeo-indonesia

Keadaan (nasib) hidup orangutan saat ini dalam ancaman serius. Satwa endemik ini keberadaanny dialam bebas lebih khusus di hutan Kalimantan dan Sumatera semakin terancam punah.Orangutan Sangat Terancam Punah, Apa yang Harus Dilakukan

Bergantung di Dahan nan Lapuk

Perilaku yang sukar dipahami dan unik membuat orangutan selalu untuk selalu dinantikan oleh para peneliti baik dari dalam ataupun dari luar negeri. Mengingat, orangutan merupakan satwa yang memiliki peranan paling penting sebagai spesies payung.

Ini Istimewanya orangutan sebagai Spesies Payung

Tetapi, saat ini ancaman kepunahan selalu mengancam kehidupan oragutan dan satwa lainnya. Beberapa ancaman terhadap keberlanjutan makhluk hidup lebih khusus orangutan adalah semakin sempitnya area (wilayah) karena pembukaan lahan skala besar.

Perlu perhatian dari semua pihak untuk terus menjaga dan melindungi orangutan yang disebut juga sebagai kera besar yang ada di Asia, lebih tepatnya di hutan Kalimantan dan Sumatera (Indonesia).

Baca juga : (Dongeng) Namaku Pongo, Aku Tinggal di Hutan,

Selamatkan Hutan, Sayangi Orangutan