Category Archives: Penelitian

PPO 2018, Ajakan Kepada Semua Pihak untuk Peduli Lingkungan dan Perlindungan Orangutan

WhatsApp Image 2018-11-22 at 11.40.44

Yayasan Palung Memperingati Pekan Peduli Orangutan 2018 Sekaligus melakukan Ekspedisi Pendidikan Lingkungan ke Sekolah-sekolah di Jelai Hulu. Foto Dok : Yayasan Palung

Serangkaian kegiatan Pekan Peduli Orangutan (PPO) 2018 telah dilakukan oleh Yayasan Palung dengan para pihak (Para Relawan; Relawan Tajam dan REBONK, penerima beasiswa orangutan kalimantan dan dengan lembaga atau pun juga pihak sekolah) selama sepekan di bebapa tempat sejak tanggal 12-17 November 2017, pekan lalu.

Tidak hanya seru, tetapi juga serangkaian kegiatan PPO tahun ini diperingati oleh Yayasan Palung dibeberapa tempat. Kegiatan utama (kegiatan puncak) yang dilakukan oleh Yayasan Palung seperti di Kecamatan Jelai Hulu, pada tanggal 12-17 November 2018 dengan berbagai kegiatan antara lain; wokshop singkat dengan membuat pesan kampanye tentang lingkungan dan membuat bottle planter (membuat pot bunga dari botol plastik bekas) yang dilakukan SMA 1 Jelai Hulu.

WhatsApp Image 2018-11-22 at 11.56.36

Pekan Peduli Orangutan 2018. Foto dok : Yayasan Palung

Workshop  singkat dengan membuat pesan kampanye tentang lingkungan sebagai salah satu cara untuk menggugah kepedulian terhadap nasib lingkungan dan perlindungan orangutan. Sama halnya dengan kegiatan bottle planter sebagai salah satu ajakan untuk peduli lingkungan, lebih khusus botol plastik bekas yang sejatinya bisa dimanfaatkan menjadi barang yang berguna jika dikreasikan menjadi sesuatu seperti dijadikan pot bunga yang bisa menjadi hiasan dan dipajang di sekolah.

Untuk melihat lebih banyak foto PPO 2018 

Sedangkan Relawan REBONK Yayasan Palung di Sukadana, pada tanggal 18 November 2018, memperingati Pekan Peduli Orangutan dengan melakukan penanaman pohon bersama dengan Sispala TAPAL (SMKN 1 Simpang Hilir), setidaknya 20 orang yang ikut ambil bagian melakukan penanaman pohon tersebut. Penanam pohon buah dan bakti sosial (mengambil sampah) yang berlokasi halaman SMAN 2 Sukadana.

Setelah selesai penanaman dan baksos, saat menjelang siang  mereka kembali ke bentangor untuk melanjutkan kegiatan diskusi pengelolaan sampah non organik yang lebih tepatnya sampah plastik.  Selanjutnya sampah plastik tersebut dijadikan sebagai bata ringan (eco-brick) yang di sampaikan oleh Egi Iskandar dan Aggi Saputra (Relawan REBONK), dia menyampaikan bagaimana menggelola sampah plastik yang baik, seuatu yang sederhana namun punya manfaat positif. Beberapa plastik bekas dibersihkan dan kemudian di gunting kecil-kecil, selanjutnya dimasukan kedalam botol platik yang sudah bersih, kemudian plastik yang sudah dimasukan harus di pres menggunak tongkat kayu yang berfungsi untuk memadatkan dan tidak adanya ruang udara di dalam botol platik tersebut. Kita semua tau bahwa jika di bakar akan menimbulkan dampak negatif pada polusi udada, namun jika di biarkan begitu saja juga akan sulit terurai sehingga menjadi tumpukan yang sangat tidak enak di pandang oleh mata manusia. Dibuatnya eco-brick dengan maksud bisa dimanfaatkan sebagai bata ringan yang bisa dijadikan kursi, meja dan hiasan.

Pada kesempatan Pekan Peduli Orangutan 2018, di Pontianak, para pihak ikut bersama memperingati PPO, misalnya dengan melakukan aksi pesan kampanye, aksi teatrikal dan musik akustik yang dilakukan oleh Para Penerima Beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan BOCS di Taman Digulis Universitas Tanjungpura bersama dengan  Pongo Ranger Community (Relawan dari Yayasan IAR Indonesia) dan Yayasan Titian, Sabtu (17/11/2018), pekan lalu. Selain itu juga mereka melakukan pemutaran film dan diskusi tentang film Asimetris di Aboretum Sylva PC UNTAN.

Kegiatan lainnya dilakukan oleh Relawan Konservasi Taruna Penjaga Alam (RK-TAJAM) dan Yayasan Palung, mereka membuat film pendek tentang lingkungan dan orangutan. Selain itu juga, pada 21 November 2018, mereka membuat kreasi barang bekas untuk tong sampah dari kreasi bekas-bekas Kaleng cat plastik selanjutnya mereka kreasikan dan mereka cat bersama guru dan  siswa-siswi SDN 12 Delta Pawan. Selanjutnya tong-tong sampah tersebut dipasang di SDN 12 Delta Pawan. Kaleng cat plastik tersebut merupakan sumbangsih dari Putra Ranadiwangsa.

Mariamah Achmad, Manager Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung, mengatakan,  “Bagi pelajar yang ingin berbuat nyata untuk perlindungan orangutan, menanami pohon pakan orangutan di hutan mungkin belum sanggup, melarang orang dewasa berburu satwa liar di hutan mungkin tidak didengar, membuat kebijakan perlindungan orangutan dan habitat belum punya wewenang. Nah yang bisa dilakukan oleh para pelajar untuk memaknai nilai penting orangutan untuk menghindari kepunahan sesuai dengan tema PPO 2018 adalah melakukan hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari dan yang bisa dilakukan dalam kapasitas mereka,  misal kreasi barang bekas”.

Selanjutnya juga Mayi, demikian ia biasa disapa mengatakan, Yayasan Palung memfasilitasi hal tersebut dalam PPO 2018 ini dengan melakukan dua workshop, yakni membuat pot bunga dari bekas botol air mineral dan membuat pesan kampanye perlindungan orangutan untuk disebarkan melalui media sosial. Aksi ini dapat dimaknai sebagai sumbangsih para pelajar bagi upaya perlindungan lingkungan dan alam yang lebih besar.

Sedangkan Direktur Yayasan Palung, Terri Lee Breeden mengatakan, “Setiap tahun Yayasan Palung merayakan Pekan Peduli Orangutan. Tujuan acara ini adalah untuk meningkatkan kesadaran di seluruh dunia tentang penderitaan orangutan. Tema tahun ini adalah ‘Memaknai Nilai Penting Orangutan untuk Menghindari Kepunahan’, Karena penghancuran hutan hujan Indonesia, populasi orangutan menurun drastis. Kami telah kehilangan lebih dari 50% populasi mereka dalam beberapa dekade. Kerusakan ini terutama disebabkan oleh ekspansi cepat perkebunan kelapa sawit dan pertambangan di seluruh bentang alam”.

Lebih lanjut menurut Terri, beberapa langkah perlu dilakukan, kita perlu membuat pilihan yang berkelanjutan tentang bagaimana kita mengubah lanskap (bentang alam). Kerusakan ini memungkinkan orang kaya untuk menjadi lebih kaya, tetapi masyarakat lokal sering dibiarkan dengan dampak lingkungan yang merusak termasuk kualitas air yang buruk, banjir ekstrim, dan kebakaran. Kami membutuhkan komunitas-komunitas ini untuk mengadvokasi pengelolaan lanskap berkelanjutan yang akan bermanfaat bagi perusahaan, masyarakat dan orangutan yang menyebut Indonesia sebagai rumah.

Selain kegiatan PPO 2018, Yayasan Palung berkesempatan untuk berkunjung ke sekolah-sekolah di Kecamatan Jelai Hulu, seperti di SDN 1 dan SDN 17 di Kecamatan Jelai hulu, SDN 3 dan SDN 5 di Desa Tanggerang, Kec. Jelai Hulu. Beberapa kegiatan kami lakukan adalah puppet show (panggung boneka) terkait satwa dilindungi terutama orangutan. Selain itu juga kami melakukan diskusi dengan masyarakat terkait informasi kekinian yang ada di desa mereka sekaligus sosialisasi tentang perlindungan dan satwa-sawa dilindungi dan pemutaran film lingkungan.

Serangkaian kegian Pekan Peduli Orangutan 2018 berjalan sesuai rencana dan mendapat sambutan baik dari masyarakat dan pihak sekolah. Berharap, dengan diadakan kegiatan PPO 2018 dengan ragam kegiatan tersebut bisa menggugah masyarakat, pihak sekolah untuk semakin peduli lagi terhadap nasib lingkungan hidup dan orangutan.

Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di Tribun Pontianak :
http://pontianak.tribunnews.com/2018/11/23/ppo-2018-ajakan-kepada-semua-pihak-untuk-peduli-lingkungan-dan-perlindungan-orangutan.

 

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Iklan

Survei Bentang Alam Daya Dukung Daya Tampung Kabupaten Kayong Utara di 8 Desa

 

IMG_20181029_153502

Saat tim survei (Perkim LH, Bapeda KKU dan YP melakukan Ground Check di lokasi. Foto dok : Yayasan Palung

Untuk membantu menyelesaikan draft akhir kajian DDDT Kabupaten Kayong Utara 2018, Yayasan Palung dan Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (PerkimLH) Kabupaten Kayong Utara melakukan Ground Check (survei lapangan) di 8 lokasi desa, yang dilaksanakan selama 3 hari (29 – 31 Oktober 2018) kemarin.

IMG_20181029_153610

Saat tim survei (Perkim LH, Bapeda KKU dan YP melakukan Ground Check di lokasi. Foto 2 dok : Yayasan Palung

Bersama Tim DDDT KKU yang lain (Dinas LH, Pihak Konsultan dan Bapeda KKU). Lokasi survei ada 8 lokasi di Kecamatan Seponti, Simpang Hilir, Sukadana dan Teluk Batang. Kajian Daya Dukung dan Daya Tampung (DDDT) Kabupaten Kayong Utara 2018. DDDT ini merupakan salah satu bagian dari strategi Yayasan Palung (YP) untuk bekerjasama dan mendukung langsung Pemerintah Daerah KKU dalam menjalankan rencana pembangunan daerah yang searah dengan visi dan misi  Yayasan Palung.

Hal ini dibuktikan dalam draft dokumen akhir DDDT ini, Yayasan Palung berperan menjadi sumber data untuk mengisi poin keanekaragaman hayati dan memperlihatkan langsung sebaran orangutan yang ada diluar kawasan.

Disamping itu, Yayasan Palung juga akan berperan dalam penguatan peran komunitas atau masyarakat untuk analisis jasa pangan dan jasa lingkungan di Kabupaten Kayong Utara. Inilah yang kemudian yang saya sebut sebagai strategi dalam mendorong kebijakan pemerintah yang pro dan tepat sasaran terhadap konservasi orangutan dan masyarakat setempat.

IMG_20181030_144636

Saat tim survei (Perkim LH, Bapeda KKU dan YP melakukan Ground Check di lokasi. Foto 3 dok : Yayasan Palung

Dokumen DDDT ini menjadi salah satu dokumen strategis pemerintah daerah untuk menentukan RPJMD/ Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah selama per 5 tahun. Sederhananya, apabila konservasi orangutan dan habitatnya masuk dalam Dokumen DDDT maka secara hukum, RPJMD wajib menyusun rencana pembangunan yang tidak melanggar acuan DDDT karena pelanggaran tersebut akan masuk dalam kategori korupsi.

Dengan demikian, maka DDDT akan mendorong pemerintah daerah untuk menerapkan pembangunan yang berkelanjutan/SDG’s (Sustainable Development Goals), karena nasib orangutan dan masyarakat lokal secara langsung ada ditangan pemerintah daerah, bukan pemerintah pusat.

Penulis : Wendy F. Tamariska dan Syahik Nur Bani- Yayasan Palung

Membuat Topi Sulap dari Kardus Bekas untuk Mengurangi Sampah

Banyak cara sebetulnya yang bisa dilakukan untuk memanfaatkan sampah, seperti misalnya kardus. Kardus bekas bisa dikreasikan menjadi barang-barang bermanfaat (layak pakai) yang cantik seperti topi.

Ayo teman-teman kita berkreasi dengan memanfaatkan barang bekas menjadi sesuatu yang bermanfaat sebagai cara kita bersama untuk mengurangi sampah-sampah dengan cara-cara sederhana.

Bagaimana cara membuatnya?. Berikut ada beberapa alat dan bahan untuk disiapkan terlebih dahulu sebelum membuat topi.

Ada pun alat dan bahan untuk membuat kreasi ini adalah kardus bekas, kertas lipat (origami), lem lilin (Lem Fox), pulpen, cutter, jangka, gunting, pita kain dan asesoris hiasan lainnya.

Cara membuat topi sebagai berikut:

  1. Ukur lingkar kepala orang yang akan memakai topi sulap. Gunakan jangka untuk menggambar lingkaran seukuran kepala pada kardus. Anda juga bisa menggunakan piring sebagai panduan untuk membantu menggambar lingkaran. Buat 2 lingkaran. Lingkaran bagian dalam dan lingkaran bagian luar.
  2. Potong kardus tersebut mengikuti garis lingkaran luar dan garis lingkaran dalam.
  3. Guntinglah kardus berbentuk persegi panjang. Panjangnya sesuai dengan panjang lingkaran dalam.
  4. Gulung kardus persegi panjang tersebut agar mudah membentuk silinder.
  5. Tempel kardus persegi panjang tersebut pada lingkaran dalam sehingga membentuk silinder.
  6. Setelah menempel dengan baik, tempelkan bagian tutup topi (potongan kardus dari lingkaran dalam).
  7. Topi sulap sudah jadi.
  8. Selanjutnya topi dihias sesuai keinginan.

Semoga tutorial ini bermanfaat ya, berharap dengan cara seperti ini kita semua dapat mengurangi sampah. Semoga saja…

Tulisan dan Video : Simon Tampubolon-Yayasan Palung

Editor : Petrus Kanisius

 

Liana si Penumpang pada Pohon dan Pemberi Manfaat bagi Satwa

Tumbuhan Liana yang menumpang pada pohon. Foto dok. Syahik Nur Bani,YP

Tumbuhan Liana yang menumpang pada pohon. Foto dok. Syahik Nur Bani,YP

Tumbuhan ini jika boleh dikata adalah tumbuhan Penumpang pada tumbuhan lain, mungkin itu kata yang cocok untuk dikatakan kepada tumbuhan liana. Tumbuhan ini pun sangat banyak sekali tumbuh dan hidup di wilayah hutan hujan tropis, tidak terkecuali di Taman Nasional Gunung  Palung (TNGP) yang diketahui banyak memberikan manfaat bagi satwa.

Ia bukan pohon, tetapi tumbuhan. Hidup menempel (menumpang) serta menjalar pada pohon sebagai penopangnya untuk mendapakan cahaya matahari. Tidak hanya itu, tumbuhan liana bukan tumbuhan parasit (tumbuhan yang merugikan tumbuhan lain) seperti ficus sp (kayu ara) misalnya.

Menariknya, tumbuhan liana ternyata banyak memberikan manfaat bagi satwa. Seperti misalnya akar liana yang menjalar atau menggantung bisa menjadi arena bermain bagi satwa dan buah dari liana menjadi makanan favorit satwa.

Tidak hanya buah, tetapi satwa seperti orangutan sangat suka memakan daun muda dan kulit dari liana. Untuk buah, orangutan sangat senang memakan buah liana jenis Willugbeia sp (buah jantak) karena rasanya manis.

Beberapa satwa seperti monyet ekor panjang, kelempiau, kelasi dan orangutan diketahui sangat menyukai tumbuhan liana sebagai makanan. Selain liana dari jenis akar kuning ada jenis lainnya yang dimanfaatkan oleh binatang disana seperti, tapal kaki kuda (Bahuinia sp), cakar elang/pancingan (Uncaria sp), Combretum spdan lain-lain.

Seperti diketahui, kelimpahan liana di Stasius Penelitian Cabang Panti (SPCP) di Taman Nasional Gunung Palung (TNGP) sangat padat baik dari dataran rendah hingga dataran tinggi. Diketahui pula, keberadaan tumbuhan liana sebagai penanda (ciri khas) bahwa hutan di Indonesia merupakan hutan hujan tropis.

“Tumbuhan liana merupakan tumbuhan yang memiliki batang yang keras namun untuk mendapatkan cahaya matahari untuk berfotosintesis (proses pertukaran CO2 dan O2). Liana membutuhkan lain seperti pohon. Akar liana  berbeda dengan Ficus sp.  Ficus  sp (kayu ara) organ tubuhnya menempel pada pohon.

Liana  merupakan salah satu tumbuhan parasit karena dapat memberi luka pada tumbuhan lain, tetapi liana bukanlah parasit yang ganas”, ujar Riduwan salah satu mahasiswa Kehutanan Universitas Tanjungpura yang melakukan penelitiannya selama 1 setengah bulan di Cabang Panti, Taman Nasional Gunung Palung ketika menyampaikan perentasi hasil penelitiannya di Kantor Yayasan Palung beberapa hari lalu.

Untuk membaca lebih lengkapnya, klik : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/5ba3411a43322f5cbf3ba9b3/liana-si-penumpang-pada-pohon-dan-pemberi-manfaat-bagi-satwa

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Asyiknya Bisa Tinggal Bersama di Cabang Panti dan Meneliti Feses (kotoran) Orangutan

IMG-20180910-WA0016

Isma Fatiha saat meneliti feses (kotoran) orangutan di laboratorium di Cabang Panti, TNGP. Foto dok : Isma/Yayasan Palung

Perkenalkan nama saya Ishma Fatiha, mahasiswa Biologi UIN Jakarta. Sudah 6 bulan saya tinggal di Kalimantan, pulau yang orang bilang “penuh cerita mistis”, tepatnya di Stasiun Riset Cabang Panti, Taman Nasional Gunung Palung. Awalnya gak kepikiran gimana harus tinggal 6 bulan di tengah hutan, waktu itu hanya pikir ya jalanin ajalah ya mau gimana juga. Sebelum datang pun sudah diberitahu bagaimana kondisi di CP, dari mulai jalan menuju ke sana yang harus jalan kaki 18 Km, bagaimana di camp, jarang ada sinyal juga dan sebagainya.

Pertama datang ke CP itu tanggal 11 Februari 2018. Mulai jalan dari Tanjung Gunung, sekitar jam 3 sore dan sampai di camp jam 8 malam. Saat itu sangat tidak menikmati perjalanan, mungkin karena baru pertama kali. Rasanya capek banget dan saat sampai di camp pun sudah tidak ada mood untuk lihat-lihat (gelap juga sih, ga bisa liat-liat). Intinya sampai camp langsung mandi, makan dan tidur. Dan keesokan paginya saat bangun dan keluar camp, baru sadar kalo sudah ditengah hutan dan itu indah banget.

IMG-20180910-WA0015

Isma saat melakukan pengecekan sampel feses orangutan di laboratorium. Foto dok : Isma/Yayasan Palung

Hari kedua di sana, hanya istirahat dan presentasi tentang penelitian yang mau dilakukan disana. Selain itu juga diajak lihat-lihat seluruh isi camp, mulai dari camp Cabang Panti, camp nyamuk, camp litho, gudang makanan, sungai tempat mandi dan lab. Sebenarnya paling ‘wow banget’ sama lab, karena aku kan pakai lab untuk proyek penelitianku dan ini lab lapangan paling lengkap yang pernah aku liat selama ini. Meskipun ya namanya juga di lapangan, ada aja kendalanya sih, tapi enjoy banget buat kerja disana bahkan sampai malam. Yang paling gak ngebosenin pas kerja di lab itu karena bisa sambil liat ke hutan sih. Kadang lagi kerja tiba-tiba sekelompok macaca datang dan makan di mangifera samping camp. Atau ada rangkong dan trogon yang bertengger di pohon sekitar camp, colugo entah dari mana muncul dan hinggap di batang pohon dan bahkan orangutan (re: Bibi-Bayas) yang seringkali datang buat makan mangifera dan cempedak dekat camp.

Pada waktu awal-awal datang di camp sedang tidak ada orangutan. Jadi hanya ikut asisten untuk cari orangutan sekalian menghafal trail (jejak) atau rintis yang ada di Cabang Panti. Saat pertama jalan disana semua rintis terlihat sama dan rasanya bakal tersesat terus kalau jalan sendiri. Tapi kelamaan malah lebih suka untuk cari orangutan sendiri. Karena lebih fokus dan bisa liat-liat hal lain juga yang kadang gak disadari pas jalan sama orang lain dan juga malah lebih cepat hafal rintis ketika jalan sendiri. Yaa.. karena mau gak mau harus cari jalan buat balik ke camp. Selama 6 bulan disana kayaknya hampir setiap hari pergi ke hutan buat cari orangutan, tapi frekuensi ketemunya sedikit banget. Sampai kadang lupa kalo kesana buat orangutan dan malah keasyikan liat rangkong (yang gak ada sih di tempatku), atau hal lain yang menarik disana.

Bicara ketemu orangutan, aku ingat pertama ketemu orangutan itu langsung ketemu 3 individu, Tari- Telur- Tawni. Mereka ibu- remaja- anak. Waktu itu sih yang ketemu pertama itu Brodie. Kemudian dia hubungi lewat radio. Jadi asisten tahu dimana orangutan itu dan bisa langsung follow. Aku inget mikir wow ternyata ini orangutan di hutan yang sebenarnya, dan disitulah pertama tau gimana rasanya ikut orangutan sampai ke sarangnya juga gimana susahnya ikut pergerakan mereka. Kalau pengalaman pertama ikut orangutan tanpa asisten itu ikut sama Tari-Tawni juga dan juvenil yang tidak dikenal. Waktu itu hanya berdua dengan Uci dan orangutan tidur sangat malam. Hasilnya, semua orang di camp panik karena kami masih baru dan belum hafal rintis, dan mereka pikir kami tersesat.

IMG-20180910-WA0017

Isma ketika mengambil sampel feses orangutan di hutan. Foto dok : Isma/Yayasan Palung

Setelah sekitar 3 minggu di camp, aku baru mulai ambil sampel feses dan kerja di lab untuk proyek penelitianku. Kenapa lama?, Ya karena harus menyesuaikan diri, latihan pakai alat lapangan dan lab dan juga karena sulitnya cari orangutan saat itu. Udah gitu ada orangutan pun belum tentu ada feses. Karena tidak bisa diprediksi apakah orangutan defekasi hari itu atau apa jumlahnya cukup untuk semua analisis. Dan hal yang jadi tantangan juga pas lagi koleksi sampel feses, mulai dari harus cari dimana fesesnya jatuh sampai resiko ketimpa feses orangutan. Pernah sekali ketimpa feses orangutan. Kesel sih, tapi seneng juga karena dapet sampel (btw harus hati-hati sama feses orangutan karena potensi zoonosis itu). Ya itu pelajaran juga sih harus liat-liat kalo mau ambil sampel. Analisis di lab juga jadi satu tantangan. Itu karena listrik hanya ada di sore hari dan alat lab butuh listrik juga. Jadi kadang ngelab sampai malam banget kalau lagi banyak sampel (dan kadang sendirian karena semua orang udah selesai kerja).

Tapi meski lama, enaknya disana semua orang mau bantu kami untuk belajar (banyak banget sih yang harus dipelajari) dan bahkan juga bantu proyek kami. Itusih yang buat betah banget. Ya karena hidup di tempat yang sama, dalam waktu yang lama, di hutan ketemu dia, di camp dia lagi, jadi kekeluargaannya kerasa banget. Semua orang berusaha agar satu sama lain tuh betah dan gak bosen. Ya kadang ngeselin sih karena bercandanya berlebihan, tapi mungkin itu jadi hal yang nanti bakal diingat pas sudah tidak di CP.

Sebenarnya susah banget buat nulis ini. Bingung, gak tau apa yang harus ditulis. Padahal 6 bulan tapi terasa singkat banget. I try to keep track of everything in my head, big things to little things, but its like trying to hold on to a fistful of sand. Meski rasanya banyak yang ingin diceritakan tapi bingung. Intinya i hope i will have a chance to come to CP again someday (saya berharap, saya punya kesempatan untuk berkunjung ke CP suatu hari nanti).

Penulis : Ishma Fatiha, Mahasiswa Biologi UIN Jakarta

Ini Cerita Menarik Saya Selama Enam Bulan Meneliti di Cabang Panti

Uci Agustina

Uci Agustina saat berada di lapangan (melakukan tugas penelitian). Foto dok : Uci Agustina/Yayasan Palung

Perkenalkan, nama saya Uci Agustina, mahasiswi dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Tahun ini, saya sudah memasuki tahap skripsi dimana saya harus melakukan penelitian terlebih dahulu. Alhamdulillah saya bisa melakukan penelitian di Cabang Panti, Taman Nasional Gunung Palung, Kalimantan Barat.

Ya, mulai sekarang dan enam bulan ke depan kami akan tinggal dan menjadi bagian dari keluarga Cabang Panti. Hari pertama kami disana tidak langsung turun ke lapangan, tapi kami belajar mengenal alat-alat di laboratorium terlebih dahulu. Keesokannya, kami ikut asisten untuk mencari orangutan sesuai dengan track yang sudah dibagi oleh manager. Pencarian orangutan dimulai pada pukul 07.30 Wib dan berakhir pada pukul 14.30 Wib. Biasanya kami membawa bekal makan siang secukupnya, kadang kami juga membawa mie instant untuk dijadikan camilan, tanpa di rebus terlebih dahulu.

Saya akan menceritakan pengalaman saya selama penelitian di sana. Saya ke sana dengan rekan mahasiswi saya bernama Ishma Fatiha yang juga satu jurusan dengan saya dan kami melaksanakan penelitian selama 6 bulan. Kami harus menempuh perjalanan kurang lebih 18 km atau 4-6 jam untuk tiba di Cabang Panti (capek banget, gila).

Saat itu, kami pergi bersama asisten orangutan, namanya Syainullah. Kami berangkat dari desa terakhir sekitar pukul 15.00 Wib dan sampai di camp jam 20.00 Wib. Sungguh melelahkan, apalagi kami belum pernah sekali pun menempuh perjalanan sejauh itu. Sesampainya di sana, kami berkenalan dengan penghuni camp. Ada staf Taman Nasional, ada asisten orangutan, asisten OFP (One Forest Project) dan juga juru masak.

DSC00214.JPG

Uci dan Para Asisten Peneliti  berfoto bersama dengan Ibu Cheryl Knott. Foto dok : Uci/Yayasan Palung

Jika kami menemukan orangutan, kami ikuti sampai orangutan membuat sarang. Biasanya orangutan diikuti sampai 5 hari berturut-turut. Jika sudah sampai 5 hari, maka orangutan dilepas. Saya sendiri mengambil data tentang perilaku makan orangutan yang berarti saya harus mengikuti orangutan selama 5 hari berturut-turut. Capek sih, tapi ya mau bagaimana lagi. Gak ikut berarti gak dapat data.

Saya pernah ikut full orangutan sampai 10 hari dan itu saat bulan puasa. 10 hari berturut-turut tanpa istirahat, pengalaman yang luar biasa sekali yaah. Asisten pun tidak pernah ikut orangutan sampai 10 hari berturut-turut, biasanya mereka bergantian kalau mau ikut, kecuali kalau banyak orangutan yang ditemukan. Selama disana, saya mendapatkan pengalaman baru, teman baru dan keluarga baru. Waktu pertama kali lihat orangutan rasanya senang banget, karena untuk melihat orangutan liar itu langka banget, di Jakarta hanya bisa melihat orangutan yang ada di kandang.

Di Camp Cabang Panti kebanyakan orang-orang lokal dan mayoritas orang islam. Sebelum saya ke Kalimantan, pikiran-pikiran negatif selalu muncul (tahunya orang Kalimantan itu mayoritas suku Dayak), takut di apa-apain ya kan. Ternyata anggapan saya terlalu berlebihan, kenyataannya orang Kalimantan tidak semuanya dari suku Dayak, kalaupun ada dari suku Dayak mereka baik-baik dan ramah. Di camp kebanyakan laki-laki, yang perempuan hanya sedikit, mungkin hanya sedikit dari kalangan perempuan yang suka kerja di hutan.

Saya dan Ishma pernah dipasangkan untuk mecari orangutan berdua dan hari itu kami menemukan orangutan, namanya Tari dan Tawni (orangutan ibu dan anak). Saat itu kami juga bertemu dengan Uteh  Randa yaitu staf OFP, beliau yang akan memberi tahu orang-orang di camp bahwa kami menemukan orangutan. Setelah sore hari, orangutan tak kunjung membuat sarang, kami pun kesal dibuatnya, orangutannya masih makan padahal cuacanya sudah gelap. Orangutan baru membuat sarang sekitar pukul 18.00 Wib. Setelah itu kami langsung cepat-cepat menandai pohon sarang dan menarik benang sampai rintis terdekat. Saat itu kami tidak membawa parang, hutannya rapat sekali, banyak rotan pula. Kami hanya bisa mengandalkan potongan kayu untuk menebas rotan-rotan ataupun liana agar kami bisa lewat (nebasnya gak banyak kok, seperlunya saja).

DSC00213.JPG

Isma, Ibu Cheryl dan Uci. Foto dok : Uci/Yayasan Palung

Setelah sampai di rintis, kami pun bergegas pulang. Awalnya kami bingung ingin melewati jalan yang mana, karena saya sempat melihat seperti ada pohon tumbang di depan. Kata Ishma, tidak ada pohon tumbang sama sekali (aneh sekali), kami sampai berdebat saat itu. Setelah beberapa menit, sayapun memberanikan diri untuk jalan ke arah rintis yang ada pohon tumbang tersebut dan benar sekali ternyata tidak ada pohon tumbang (kenapa bisa gitu ya? Aneh sekali). Setelah itu kamipun bergegas pulang dan kami jalannya cepat-cepat sekali karena sudah sangat malam. Di perjalanan kami mendengar suara-suara aneh dan kami hiraukan saja. Sesampainya kami di rintis SK-JM (Rintis dekat camp), kami mendengar suara teriakan “ada senter, ada senter”.

Kami pun bingung saat itu, orang-orang di camp kenapa ya (ngomong dalam hati). Sesampainya di camp kami langsung disambut oleh semua penghuni camp, ternyata mereka mengira kami tersesat di hutan, dan asisten-asisten sudah bersiap-siap untuk pergi ke hutan melakukan pencarian. Erin Kane sampai menangis saat itu. Erin Kane merupakan murid ibu Cheryl Knott dari Boston University. Saat itu dia menjadi manager sementara karena manager baru belum tiba di Cabang Panti.

Singkat cerita, bulan Agustus merupakan bulan terakhir kami melakukan penelitian disana, tepatnya tanggal 5 Agustus. Pada tanggal 4 Agustus kami presentasi hasil penelitian selama 6 bulan. Pada kesempatan itu kami juga pamitan dan mengutarakan kesan dan pesan kami selama penelitian di sana.

Kami tidak melakukan sesi foto sama sekali, camp sepi, hanya ada sebagian orang di sana. Asisten banyak yang turun karena saat Ibu Cheryl ke sana belum ada yang libur sama sekali. Keesokannya yaitu tanggal 5 Agustus 2018, kami pun turun bersama dengan 2 porter. Saat itu rasanya berat sekali mau meninggalkan camp, karena terlalu banyak kenangan di sana. Kami turun saat siang hari karena ingin berlama-lama di camp. Asisten orangutan saat itu sedang mengikuti 2 orangutan, jadi kami sudah berpamitan terlebih dahulu saat malam hari setelah presentasi.

 Uci Agustina, Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Keanekaragaman Tumbuhan Liana di  Cabang Panti (TNGP)

Jantak3

Buah Jantak jenis liana Willughbeia sp. Foto dok : Riduwan/YP

Perkenalkan nama saya Riduwan. Saat ini, saya sedang melakukan penelitian mengenai potensi tumbuhan liana di Stasiun Penelitian Cabang Panti, (Kawasan yang berada di Taman Nasional Gunung Palung). Ada pun tujuan penelitian saya adalah untuk tugas akhir/ skripsi. Penelitian dilakukan selama kurang lebih satu setengah bulan. Saat ini penelitian sudah berjalan selama kurang lebih 13 hari. Penelitian yang saya lakukan adalah pada 5 tipe habitat yang berbeda, diantaranya rawa gambut, batu berpasir, alluvial, granit dataran rendah, dan granit dataran tinggi.

Ada pun metode yang saya gunakan dalalam penelitian saya adalah setiap satu tipe habitat saya ambil 5 plot dengan cara diacak atau random sampling dengan panjang jalur utama 50 meter dan sub plot sebelah kanan dan kiri masing-masing 10 meter.

Pelaksaan di lapangan sudah saya selesaikan kurang lebih hampir 50%, ada beberapa liana yang telah saya temukan diantaranya dari genus : Combretum sp, Uncaria sp, Willughbeia sp, Strychnos sp, Bauhinia sp dan Gnetum sp. Keberadaan liana ini ternyata secara tidak langsung memiliki peran terhadap kehidupan binatang di sana, terutama binatang pemakan buah (Frugivora) seperti Orangutan, kelasi monyet ekor panjang dan kelempiau.

Bunga Gnetum (2).jpg

Bunga Gnetum, Foto dok : Riduwan/YP

Ada beberapa tumbuhan liana yang dapat menghasilkan buah seperti liana dari genus Willughbeia sp atau  dikenal dengan nama buah jantak, Strychnos sp, dan Combretum sp. Tumbuhan ini ternyata bisa tumbuh diketinggian 40 -700 mdpl ini berdasarkan penelitian yang saya lakukan di SPCP, dan keberadaan tumbuhan liana ini dapat menambah kekayaan vegetasi yang ada di Taman Nasional Gunung Palung.

Stasiun Penelitian Cabang Panti atau biasa di singkat SPCP merupakan suatu kawasan yang letaknya berada di zona ini taman nasional gunung palung dengan luas sekitar 2.100 ha. Saat ini kawasan SPCP memiliki 8 tipe habitat yang berbeda, diantaranya yaitu : rawa gambut, rawa air tawar, kerangas, batu berpasir, alluvial (tanah sedikit berpasir/kaya akan unsur hara), granit dataran rendah, granit dataran tinggi, dan pegunungan.

Stasiun Penelitian Cabang Panti kaya akan flora maupun faunanya, baik yang statusnya masih melimpah maupun yang sudah di lindungi. Salah satu kekayaan flora yang berada disana adalah tumbuhan liana. Tumbuhan liana adalah tumbuhan yang hidupnya membutuhkan penopang tumbuhan lain seperti pohon guna untuk menjulang keatas dengan tujuan untuk memperoleh cahaya matahari, namun akar dari tumbuhan ini masih menempel pada tanah. Berbeda dengan tumbuhan ficus yang 100% hidupnya menempel pada pohon.

Menurut saya, liana menurut saya sangat bermanfaat bagi manusia salah satunya adalah akar kuning bermanfaat untuk obat dalam. Akar kuning direbus lalu airnya diminum. Buah dari jenis liana ini dimanfaatkan oleh binatang seperti orangutan, kelasi, kelempiau, dan monyet ekor panjang. Selain liana dari jenis akar kuning ada jenis lainnya yang dimanfaatkan oleh binatang disana seperti, buah jantak (Willugbeia sp), tapal kaki kuda (Bahuinia sp), cakar elang/pancingan (Uncaria sp), Combretum sp, dll. Saya menemukan liana disana kurang lebih 10 jenis liana.

Bauhinia

Tapal (tapak kaki kuda)/Bauhinia. Foto dok : Riduwan/YP

Diketahui pula, Keberadaan tumbuhan liana sebagai penanda (ciri khas) bahwa hutan di Indonesia merupakan hutan hujan tropis.

Kelimpahan liana di SPCP sangat padat baik dari dataran rendah hingga dataran tinggi. Liana yang ada ini harus tetap terjaga kelestariannya. Seperti diketahui, bahwa tumbuhan liana ini sangat banyak manfaatnya terutama untuk satwa primata selain untuk sumber pakan bagi primata ternyata batang liana dimanfaatkan oleh orangutan untuk bermain, seperti untuk pindah dari tempat satu ke tempat lainnya.

Tak salah kiranya bila tumbuhan ini patut untuk dilestarikan keberadaannya karena memiliki banyak manfaat dan fungsi bagi kehidupan.

Penulis : Riduwan, (Mahasiswa Untan Fakultas Kehutanan, Penerima Beasiswa Orangutan Kalimantan/BOCS)

 

 

 

 

Cerita Singkat, 11 Hari Kursus Lapangan (Belajar) di Jantung Taman Nasional Gunung Palung

Ujian Sensus Satwa Field Course di Gunung Palung

Ujian Sensus Satwa Field Course (kursus/Kuliah Lapangan) di Gunung Palung. Foto dok : Yayasan Palung

“Pada tahun ini  kuliah lapangan sangat berbeda dari tahun sebelumnya, karena kami mendapatkan materi presentasi tentang 25 tahun Penelitian orangutan di Cabang Panti dari ahli serta pakar Orangutan yaitu Prof. Cheryl Knott.  Ini merupakan kesempatan langka bisa belajar tentang perilaku orangutan yang DNA nya 98% mirip dengan manusia”, Syahik Nurbani.

Seperti yang Anda ingat, beberapa tahun belakangan ini tim Gunung Palung Orangutan Conservation Program (GPOCP) dapat berpartisipasi dalam kursus lapangan yang dipandu oleh Prof. Andrew Marshall, dari University of Michigan, dan staf Taman Nasional di Stasiun Penelitian Cabang Panti, di jantung Taman Nasional Gunung Palung (TNGP). Pada pertengahan Juli bulan lalu, kami Staf GPOCP termasuk saya Syahik Nurbani, Koorinator Survei, dan Hendri Gunawan Petugas Pendidikan Lingkungan, berjalan ke camp Cabang Panti yang merupakan Zona inti dari Taman Nasional Gunung Palung ikut berpartisipasi dalam kursus sensus satwa dan pengenalan jenis tumbuhan.

Dengan kursus ini dapat menyediakan informasi berharga tentang keberadaan satwa dan tumbuhan. Kursus ini ditawarkan kepada organisasi lokal termasuk staf Balai Taman Nasional Gunung Palung (BTNGP), Pusat Konservasi Sumber Daya Alam, yang dikenal secara lokal sebagai BKSDA, dan GPOCP. Ada total 15 peserta yang menghabiskan 11 hari belajar tentang flora dan fauna daerah tersebut.

Foto Materi Identifikasi Tumbuhan Field Course di Gunung Palung (3)

Foto Materi Identifikasi Tumbuhan Field Course di Gunung Palung. Foto dok : Yayasan Palung

Endro Setiawan, kepala penelitian di Cabang Panti dari Balai Taman Nasional Gunung Palung, memimpin kursus dan memberikan presentasi tentang banyaknya flora dan fauna yang akan ditemui peserta saat di Cabang Panti. Taman Nasional Gunung Palung mencakup delapan tipe habitat yang berbeda, yang merupakan rumah bagi salah satu populasi orangutan liar terbesar yang tersisa, spesies yang sangat terancam punah.

Selama kursus, peserta diperkenalkan ke hutan hujan tropis, keanekaragaman hayati Taman Nasional Gunung Palung, ekologi tanaman dan hewan, fotografi, identifikasi jejak hewan dan belajar cara memasang perangkap kamera dengan benar, di antara topik lainnya. Kami juga mendapatkan praktek lapangan dalam identifikasi tumbuhan, survei hewan, dan sensus satwa. Setelah mendapatkan materi kami diberikan ujian sensus satwa kami berjalan menysuri transek yang ada kemudian mengumpulkan informasi tentang apa pun hewan yang menyentuh garis. Baik itu pertemuan secara langsung atau pun tidak yaitu melalui bekas jejak, kotoran, cakaran dan lain-lain. Dan dari hasil tersebut saya mendapatkan hasil nilai yang tertinggi, saya terkejut karena tidak menyangka menjadi terbaik.

Foto Praktek Identifikasi Tumbuhan Field Course di Gunung Palung (2)

Foto Praktek Identifikasi Tumbuhan Field Course di Gunung Palung. Foto dok : Yayasan Palung

Para peserta kursus lapangan belajar cara memasang perangkap kamera dengan benar. Kamera-kamera ini memungkinkan tim untuk mendokumentasikan hewan-hewan, karena mereka sulit dideteksi oleh rute sensus berjalan manusia. Tujuannya adalah untuk mendokumentasikan keragaman Cabang Panti lebih baik dan melihat apakah primata menggunakan tanah. Kami benar-benar beruntung. Dalam waktu singkat mereka ada di sana, tim ini mampu menangkap seekor kancil dan musang.

Foto Materi Orangutan Field Course di Gunung Palung

Materi Orangutan yang disampaikan oleh Cheryl Knott kepada peserta Field Course. Foto dok : Yayasan Palung

Pada tahun ini sangat berbeda dari tahun sebelumnya, karena kami mendapatkan materi presentasi tentang 25 tahun Penelitian orangutan di Cabang Panti dari ahli serta pakar Orangutan yaitu Prof. Cheryl Knott.  Ini merupakan kesempatan langka bisa belajar tentang perilaku orangutan yang DNA nya 98% mirip dengan manusia.

Dengan mempelajari perilaku hewan tersebut (orangutan), setidaknya kita dapat mengetahui cara bagaimana agar mereka tidak punah di alamnya dan dapat lestari di habitat mereka hingga nanti.

Saat kami melakukan praktek lapangan kami berjumpa dengan orangutan yang sedang “party” jalan dan mencari makan bersama-sama. Dari pantauan kami ada beberapa orangutan yang sedang party ada Bosman (Flanged Male), Walimah (Female) dan Berani (Female) sedang makan buah pada satu pohon yang sama. Bosman tiba-tiba mendekati Walimah yang sedang makan dan tidak lama kemudian mereka kopulasi. Prof. Cheryl Knott, menyatakan bahwa para peserta benar-benar beruntung. Dalam waktu singkat mereka ada di sana, dapat berjumpa dengan orangutan dan juga mampu mengamati perilaku orangutan yang sedang kopulasi.

Foto Semua Peserta Field Course di Gunung Palung

Foto Semua Peserta Field Course di Gunung Palung. Foto dok : Yayasan Palung

Selanjutnya kami mendapatkan materi presentasi tentang, fotografi dari ahli fotografer terkenal dunia yaitu Tim Laman. Lagi-lagi ini kesempatan langka bisa belajar tentang fotografi alam liar, foto-foto yang ditampilkan merupakan foto yang bagus sekali dan kami diajarkan cara untuk mendapatkan foto yang baik, dari memanjat pohon sampai harus menunggu selama berhari-hari untuk dapat kualitas foto yang bagus. Kami jadi tertarik ingin belajar fotografi sampai mendapatkan foto-foto yang bagus baik satwa dan tumbuhan. Semua pihak belajar informasi yang berharga dan teknik pengumpulan data lapangan. Pengetahuan yang diperoleh dari bagian identifikasi jejak hewan di lapangan membantu kelompok-kelompok tersebut karena mereka lebih sadar tentang apa yang harus dicari. Secara keseluruhan, pelatihannya sangat sukses.

Penulis : Syahik Nurbani (Koorinator Survei YP/GPOCP)

Editor : Petrus Kanisius

Hendri Gunawan: Asyiknya Mengunjungi Surga Hijau (Hutan Hujan Gunung Palung) di Tanah Borneo

FB_IMG_1533545050945

Hendri Gunawan bersama teman-temannya ketika kuliah lapangan di Taman Nasional Gunung Palung. Foto dok : Hendri G. / Yayasan Palung

Saya Hendri Gunawan, saya dilahirkan di sebuah pulau yang disebut orang sebagai paru-paru dunia, yaitu Kalimantan. Sebagai orang asli Kalimantan, saya sangat bangga dengan bentang alam yang sangat indah ini, salah satunya adalah Taman Nasional Gunung Palung (TNGP) yang berada di sebelah Barat pulau Kalimantan dan merupakan Taman Nasional Terlengkap di Indonesia.

Meskipun kecil, kita dapat menjumpai delapan tipe ekosistem hanya dalam satu kawasan saja dari hutan pegunungan hingga hutan mangrove di pantai serta terdapat ratusan jenis hewan dan ribuan jenis Tumbuhan yang menghuni Hutan ini. Keberagaman tersebut menyebabkan Taman Nasional Gunung Palung kaya akan keaneka ragaman hayati. Hal yang cukup mengejutkan bagi pendatang yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Taman Nasional ini.

Taman Nasional Gunung Palung memiliki sebuah stasiun riset yang merupakan stasiun riset tertua di Indonesia yang masih aktif saat ini bernama Stasiun Riset Cabang Panti (SRCP). Banyak mahasiswa dari dalam maupun luar negeri yang melakukan penelitian untuk meraih gelar S1 sampai S3 dan bahkan melahirkan beberapa Profesor. Tidak pernah terbesit dipikiran saya bahwa saya akan sampai ke SRCP, tidak semua orang dapat kesana karena akan melewati serangkaian perizinan yang rumit dan saya merupakan salah satu orang yang beruntung.

Kedatangan saya ke SRCP Taman Nasional Gunung Palung merupakan suatu rangkaian acara dari Kuliah Lapangan Ekologi Hutan Tropis dan Teknik Survei Vertebrata yang diselenggarakan oleh pihak SRCP bekerja sama dengan University Of Michigan USA yang dilaksanakan selama 12 hari. Rangkaian kegiatan ini terdiri dari berbagai kegiatan diantaranya ekologi tumbuhan dan vertebrata hutan hujan tropis, pemasangan camera trap, karakteristik tumbuhan, pengenalan penelitian ilmiah, orangutan dan pengambilan sampel serta statistik. Ada sekitar 15 orang yang terlibat dalam kuliah lapangan ini dan masing-masing memiliki keahliannya sendiri. Kami yang pada awalnya tidak saling mengenal tiba-tiba menjadi sangat akrab satu sama lain.

Banyak ilmu bermanfaat serta pengalaman berharga yang saya dapatkan selama hampir dua pekan berada di SRCP tersebut, berawal dari sebuah ungkapan singkat seorang profesor asal Universitas Michigan, Amerika bernama Andrew J. Marshall, (kami memanggilnya pak Andi); “saya merasa kembali ke rumah jika saya berada disini”, itu adalah kalimat yang terlontar, saat kami sedang menyaksikan presentasi beliau satu hari sebelum berangkat ke SRCP Taman Nasional Gunung Palung.

Saat itu saya semakin penasaran dengan ucapan beliau (Andrew J. Marshall), sebenarnya apa latar belakang yang membuat beliau berkata demikian. Ketika kami berangkat menuju SRCP kami melewati beberapa tipe ekosistem, mulai dari hutan rawa gambut, hutan rawa air tawar, kemudian hutan dataran rendah, kerangas hingga hutan dataran tinggi. Di dalam perjalan kami menjumpai banyak sekali jenis tumbuhan yang besar dengan kanopi yang sangat rapat hingga sinar matari sulit tembus sampai ke permukaan tanah, kami juga bertemu dengan beberapa sarang orangutan, juga banyak sekali suara burung yang merdu serta jangkrik yang tidak pernah putus mengiringi perjalan kami sampai ke Camp SRCP. Tiba di sana saya terkagum dengan suasana camp SRCP, di dalam hutan belantara terdapat 3 buah bangunan yang sederhana namun luas dengan fasilitas penelitian yang sangat mendukung untuk projek penelitian.

Camp tersebut dikelilingi oleh pohon-pohon raksasa sebagai rumah bagi satwa aboreal (mamalia yang hidup di atas pohon) penghuni hutan tersebut serta dibagian depan terdapat aliran sungai yang sangat jernih dengan terdapat banyak jenis ikan, mereka sebut sungai itu dengan nama Sungai Panti.

Dalam kuliah lapangan tersebut kami dibagi menjadi empat team, “fungi” itulah nama team kami. Dari berbagai kegiatan yang dilakukan, ada satu kegiatan favotit saya yaitu survei satwa, karena dalam kegiatan ini saya dapat berjalan mengelilingi hutan dengan menikmati udara yang segar dan menjumpai berbagai jenis satwa serta mendengar bermacam-macam suara satwa yang ada di kawasan SRCP, ini sangat menyenangkan bagi saya.

Saat itu, kami sedang melakukan survei satwa sekitar pukul 7:00 pagi, begitu indahnya alunan suara burung saat itu yang berpadu dengan  jangkrik ditambah dengan suara enggang  dan kelempiau dari kejauhan serta sesekali terdengar kelasi juga mengeluarkan suaranya sebagai menghuni rimba Borneo tersebut.

Team kami terlalu asyik menjalankan survei satwa dengan mengikuti suara kelempiau yang dikenal dengan sebutan sang sirine hutan, sehingga kami memutuskan untuk mengikuti kemana kelempiau itu pergi agar dapat melihat langsung sang sirine hutan tersebut. Kami terlalu menikmati suasana hutan sehingga kami tidak sadar bahwa kami telah sangat jauh melangkah dan membuat kami tersesat. Hari semakin siang dan kami belum menemukan jalan pulang, kami terus berjalan dan kami beremu dengan para asisten dan peneliti orangutan yang sedang mengamati tingkah laku orangutan.

Hal yang sangat jarang dijumpai, kali ini saya melihat langsung orangutan jantan yang bernama Bosman sedang kawin dengan orangutan betina yang bernama Walimah, mereka kawin diatas pohon yang besar yaitu pohon Mahang (Makaranga sp.) yang diselimuti oleh pohon Kayu Ara (Ficus sp.) dan satu individu orangutan betina bernama Brani di pohon lain. Sekitar 15 menit saya ikut mengamati sekaligus menggali informasi kepada asisten peneliti tentang perilaku orangutan yang saat ini lebih dari tiga dekade mereka teliti. Sangat menakjubkan, saya melihat 3 individu orangutan sekaligus dlam satu waktu. Terbayar sudah, ini kali pertama saya melihat orangutan dan tingkah lakunya dikehidupan alam liar.

IMG20180720144553.jpg

Hendri Gunawan ketika berkesempatan berfoto dengan pohon Dipterocarpaceae  (jenis  kayu meranti) di TNGP. Foto dok. Hendri G. / Yayasan Palung

Tidak hanya itu pengalaman menarik yang kami dapatkan selama berada di sana,  team kami juga memasang camera trap disebuah pohon kecil di tepi sungai, dan hasilnya kami merekam seekor kancil yang sedang melintas pada malam hari menuju sungai untuk minum. Keesokan harinya sang profesor Andew J. Marshall mengajak kami untuk melakukan perjalanan ke hutan dataran tinggi sehari penuh menuju puncak, kami mulai pagi sekali sekitar pukul 7.00 karena perjalanan cukup jauh dan mendaki, dalam perjalanan saya mendapatkan informasi bahwa terdapat lebih dari 90 jenis pohon Dipterocarpaceae atau dalam bahasa lokal orang menyebutnya meranti-merantian yang ada di Taman Nasional Gunung Palung dan tingginya dapat mencapai 30 meter. Wah, ini sangat mengagumkan sekaligus membuat saya semakin bingung dan penasaran.

Di ketinggian tertentu kami juga menjumpai jenis pohon Poteria dan beberapa jenis Cemara gunung, semakin tinggi kami melangkah semakin kecil pepohonan serta semakin banyak lumut tebal yang kami temui, semakin dingin suhu yang kami rasakan padahal saat itu tepat pukul 1:00 siang.

Ditengah perjalanan saya juga menemui sebuah tumbuhan yang menurut saya sangat unik yaitu sebuah tumbuhan yang memiliki batang, ruas, dan daun seperti bambu namun tumbuh menjalar seperti rotan, dan berbagai jenis pohon Liana yang yang mengakar dari dasar tanah menuju ranting-ranting pohon raksasa, sesekali juga bertemu dengan damar yang wangi seperti parfum,  juga menjumpai beberapa bekas cakar beruang yang terlihat pada batang pohon, dan menemui banyak jenis jamur.

IMG20180722160702

Indahnya hutan dan pemandangan di sekeliling, seperti dua pohon jenis Dipterocarpaceae ini. Foto dok. Hendri G. / Yayasan Palung

Begitu Indah Taman Nasional Gunung Palung dengan segala pesona dan ekosistem terlengkapnya, saya mendapatkan jawaban dari pertanyaan saya sendiri tentang mengapa seorang ilmuan bernama Andrew J. Marshall asal Amerika mengatakan bahwa dia merasa kembali kerumah jika sedang berada di Taman Nasional Gunung Palung. Ternyata Hutan Hujan Tropis Taman Nasional Gunung Palung merupakan hamparan Surga Hijau dari Borneo yang menyimpan sejuta keindahan flora dan fauna yang membuat mata saya terpana. Pengalaman saya ini hanyalah satu dari ribuan informasi yang mungkin belum saya ketahui dibalik indahnya Taman Nasional Gunung Palung. Semoga cerita saya dapat memperkaya sudut pandang kita dalam memaknai konservasi dan terus menjaga alam yang Indah ini.

Hendri Gunawan (Tim Pendidikan Lingkungan)-Yayasan Palung

Presentasi Pra Keberangkatan Penelitian dan Magang Mahasiswa Penerima Beasiswa Orangutan Kalimantan di SPCP

 

IMG_20180801_121623_HDR

Ridwan saat menyampaikan presentasi tentang “Identifikasi Tumbuhan Liana Sebagai Pakan Primata”kemarin (1/8) di Kantor Yayasan Palung. Presentasi dilakukan sebelum melakukan penelitian. Foto dok : Yayasan Palung

Rabu (1/8/2018), Tiga orang Mahasiswa penerima Bornean Orangutan Carring Schoolarship (BOCS) yaitu Ridwan, Junardi dan Ulda melakukan presentasi di Kantor Yayasan Palung (YP).

Sebelum berangkat ke Stasiun Penelitian Cabang Panti (SPCP), di Taman Nasional Gunung Palung (TNGP), mereka terlebih daahulu melakukan presentasi terkait maksud dan tujuan mereka melakukan kegiatan penelitian dan magang rentang waktu dua kegiatan tersebut (penelitian dan magang) adalah sama yaitu selama satu bulan.

Ridwan menyampaikan persentasi dengan judul Identifikasi Tumbuhan Liana Sebagai Pakan Primata dan Junardi dengan judul Fenologi Pohon Pakan Orangutan. Keduanya melakukan persentasi dengan disaksikan oleh 15 orang yaitu mahasiswa magang, staff YP) dan ikut disaksikan oleh Direktur Yayasan Palung, Terri Lee Breeden. Presentasi ini bertujuan untuk melihat kelengkapan materi dan kesiapan pembawaan mereka sebelum melakukan persentasi didepan pihak TNGP.

Presentasi pertama dilakukan oleh Ridwan pada pukul 12.15 WIB, tentang Identifikasi Tumbuhan Liana Sebagai Pakan Primata. Penelitian akan dilaksankan dengan metode sampling yaitu mengambil sampel dari keseluruhan lokasi dengan membuat plot (titik pengamatan) pada jalur pengamatan.

Ridwan akan mengambil sampel pada 5 habitat (granit dataran rendah, granit datara tinggi, rawa gambut, alluvial, dan batu berpasir) dari 8 jenis habitat yang ada di Taman Nasional Gunung Palunng. Pada masing-masing habitat akan dibuat 1 plot untuk mengamati keberadaan objek. Ridwan mengatakan yang akan menjadi hambatan pada penelitiannya adalah kemungkinan bahwa liana tersebut terlalu tinggi sehingga menyulitkan dalam pengambilan sampel herbarium.

Semua yang hadir sangat antusias mendengarkan dan suasana semakin hidup ditambah dengan beberapa pertanyaan yang diajukan kepada Ridwan. Salah satunya adalah tentang metode penelitian yang dilakukan oleh Ridwan apakah akan efektif dengan menggunakan 1 plot untuk tiap habitat?.

Setelah dilakukan pembahasan terkait hal tersebut, didapatkan hasil bahwa pada tiap ekosistem harus dibuat minimal 3 plot pengamatan secara acak (random) agar data yang didapatkan lebih bervariasi.

Kemudian dari hasil presentasi yang disampaikan Ridwan, YP menyaranakan  agar Ridwan mengganti metode penelitiannya dan memperbaiki beberapa kesalahan pada penulisan materi presentasinya. Setelah 30 menit waktu berjalan, presentasi pertama selesai dan ditutup dengan tepuk tangan dari semua yang hadir.

IMG_20180801_133228

Junardi saat melakukan presentasi tentang Fenologi Pohon Pakan Orangutan di Kantor Yayasan Palung, kemarin.

Presentasi kedua oleh Junardi, dilakuakan pada pukul 13.30 WIB yang membahas tentang Fenologi Pohon Pakan Orangutan. Junardi melakukan pengamatan dengan metode observasi ketika ia dan Ulda magang nantinya. Metode observasi adalah metode yang dirasa cocok dengan kegiatan pengamatan fenologi tumbuhan hutan yaitu dengan turun langsung untuk mengamati objek secara dekat untuk medapatkan data dan ikut dengan para peneliti melakukan penelitin nantinya ketika mereka berada di sana (Gunung Palung).

Untuk melakukan pengamatan pada fenologi sendiri harus dengan melakukan pengamatan pada tumbuhan mulai dari biji hingga mampu menghasilkan biji untuk melihat pengaruh iklim dan lingkungan terhadap tampilan fisik objek yang diamati.

Beberapa pertanyaan muncul setelah Junardi selesai presentasi, salah satunya adalah jenis apakah yang akan menjadi objek pengamatan Junardi. Pertanyaan ini muncul karena mengingat bahwa pengamatan yang bertujuan untuk melihat fenologi pada satu jenis pohon membutuhkan waktu yang lama. Diskusi pun terus berlangsung dan  hasil dari presentasi tersebut.

Junardi memfokuskan pengamatannya terkait fenologi yang akan diamati  dengan pertimbangan waktu magang yang hanya satu bulan. “Misalnya hanya mengamati fenologi tumbuhan yang sedang dalam fase berbunga menuju fase buah” saran salah satu tim BOCS. Presentasi kedua berakhir dan ditutup dengan tepuk tangan dari semua yang hadir.

Presentasi berikutnya disampaikan pula oleh AprianaUlda, terkait rencana magangnya dengan focusnya pada penelitiaannya tentang bakteri pada kotoran orangutan.

IMG_20180801_135308

Apriana Ulda ketika menyampaikan presentasinya. Foto dok : Yayasan Palung

Mariamah Achmad Manager Pendidikan Lingkungan (PL) menjelaskan hal ini dilakukan agar mereka lebih baik dalam persiapan sebelum melakukan presentasi didepan pihak SPCP.

Presentasi berlangsung lancar hingga akhir. Pertanyaan, jawaban, dan sanggahan membuat kegiatan persentasi menjadi hidup dan tidak membosankan. Masukkan yang diberikan oleh tim BOCS bertujuan untuk menambah pengtahuan tentang keadaan di lapangan dan apa saja yang sebaikanya dilakukan agar kegiatan penelitian dan magang dapat berjalan dengan lancar.

Erina Safitri (Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura / BOCS angaktan 2017)