Category Archives: Penelitian

Cerita Singkat, 11 Hari Kursus Lapangan (Belajar) di Jantung Taman Nasional Gunung Palung

Ujian Sensus Satwa Field Course di Gunung Palung

Ujian Sensus Satwa Field Course (kursus/Kuliah Lapangan) di Gunung Palung. Foto dok : Yayasan Palung

“Pada tahun ini  kuliah lapangan sangat berbeda dari tahun sebelumnya, karena kami mendapatkan materi presentasi tentang 25 tahun Penelitian orangutan di Cabang Panti dari ahli serta pakar Orangutan yaitu Prof. Cheryl Knott.  Ini merupakan kesempatan langka bisa belajar tentang perilaku orangutan yang DNA nya 98% mirip dengan manusia”, Syahik Nurbani.

Seperti yang Anda ingat, beberapa tahun belakangan ini tim Gunung Palung Orangutan Conservation Program (GPOCP) dapat berpartisipasi dalam kursus lapangan yang dipandu oleh Prof. Andrew Marshall, dari University of Michigan, dan staf Taman Nasional di Stasiun Penelitian Cabang Panti, di jantung Taman Nasional Gunung Palung (TNGP). Pada pertengahan Juli bulan lalu, kami Staf GPOCP termasuk saya Syahik Nurbani, Koorinator Survei, dan Hendri Gunawan Petugas Pendidikan Lingkungan, berjalan ke camp Cabang Panti yang merupakan Zona inti dari Taman Nasional Gunung Palung ikut berpartisipasi dalam kursus sensus satwa dan pengenalan jenis tumbuhan.

Dengan kursus ini dapat menyediakan informasi berharga tentang keberadaan satwa dan tumbuhan. Kursus ini ditawarkan kepada organisasi lokal termasuk staf Balai Taman Nasional Gunung Palung (BTNGP), Pusat Konservasi Sumber Daya Alam, yang dikenal secara lokal sebagai BKSDA, dan GPOCP. Ada total 15 peserta yang menghabiskan 11 hari belajar tentang flora dan fauna daerah tersebut.

Foto Materi Identifikasi Tumbuhan Field Course di Gunung Palung (3)

Foto Materi Identifikasi Tumbuhan Field Course di Gunung Palung. Foto dok : Yayasan Palung

Endro Setiawan, kepala penelitian di Cabang Panti dari Balai Taman Nasional Gunung Palung, memimpin kursus dan memberikan presentasi tentang banyaknya flora dan fauna yang akan ditemui peserta saat di Cabang Panti. Taman Nasional Gunung Palung mencakup delapan tipe habitat yang berbeda, yang merupakan rumah bagi salah satu populasi orangutan liar terbesar yang tersisa, spesies yang sangat terancam punah.

Selama kursus, peserta diperkenalkan ke hutan hujan tropis, keanekaragaman hayati Taman Nasional Gunung Palung, ekologi tanaman dan hewan, fotografi, identifikasi jejak hewan dan belajar cara memasang perangkap kamera dengan benar, di antara topik lainnya. Kami juga mendapatkan praktek lapangan dalam identifikasi tumbuhan, survei hewan, dan sensus satwa. Setelah mendapatkan materi kami diberikan ujian sensus satwa kami berjalan menysuri transek yang ada kemudian mengumpulkan informasi tentang apa pun hewan yang menyentuh garis. Baik itu pertemuan secara langsung atau pun tidak yaitu melalui bekas jejak, kotoran, cakaran dan lain-lain. Dan dari hasil tersebut saya mendapatkan hasil nilai yang tertinggi, saya terkejut karena tidak menyangka menjadi terbaik.

Foto Praktek Identifikasi Tumbuhan Field Course di Gunung Palung (2)

Foto Praktek Identifikasi Tumbuhan Field Course di Gunung Palung. Foto dok : Yayasan Palung

Para peserta kursus lapangan belajar cara memasang perangkap kamera dengan benar. Kamera-kamera ini memungkinkan tim untuk mendokumentasikan hewan-hewan, karena mereka sulit dideteksi oleh rute sensus berjalan manusia. Tujuannya adalah untuk mendokumentasikan keragaman Cabang Panti lebih baik dan melihat apakah primata menggunakan tanah. Kami benar-benar beruntung. Dalam waktu singkat mereka ada di sana, tim ini mampu menangkap seekor kancil dan musang.

Foto Materi Orangutan Field Course di Gunung Palung

Materi Orangutan yang disampaikan oleh Cheryl Knott kepada peserta Field Course. Foto dok : Yayasan Palung

Pada tahun ini sangat berbeda dari tahun sebelumnya, karena kami mendapatkan materi presentasi tentang 25 tahun Penelitian orangutan di Cabang Panti dari ahli serta pakar Orangutan yaitu Prof. Cheryl Knott.  Ini merupakan kesempatan langka bisa belajar tentang perilaku orangutan yang DNA nya 98% mirip dengan manusia.

Dengan mempelajari perilaku hewan tersebut (orangutan), setidaknya kita dapat mengetahui cara bagaimana agar mereka tidak punah di alamnya dan dapat lestari di habitat mereka hingga nanti.

Saat kami melakukan praktek lapangan kami berjumpa dengan orangutan yang sedang “party” jalan dan mencari makan bersama-sama. Dari pantauan kami ada beberapa orangutan yang sedang party ada Bosman (Flanged Male), Walimah (Female) dan Berani (Female) sedang makan buah pada satu pohon yang sama. Bosman tiba-tiba mendekati Walimah yang sedang makan dan tidak lama kemudian mereka kopulasi. Prof. Cheryl Knott, menyatakan bahwa para peserta benar-benar beruntung. Dalam waktu singkat mereka ada di sana, dapat berjumpa dengan orangutan dan juga mampu mengamati perilaku orangutan yang sedang kopulasi.

Foto Semua Peserta Field Course di Gunung Palung

Foto Semua Peserta Field Course di Gunung Palung. Foto dok : Yayasan Palung

Selanjutnya kami mendapatkan materi presentasi tentang, fotografi dari ahli fotografer terkenal dunia yaitu Tim Laman. Lagi-lagi ini kesempatan langka bisa belajar tentang fotografi alam liar, foto-foto yang ditampilkan merupakan foto yang bagus sekali dan kami diajarkan cara untuk mendapatkan foto yang baik, dari memanjat pohon sampai harus menunggu selama berhari-hari untuk dapat kualitas foto yang bagus. Kami jadi tertarik ingin belajar fotografi sampai mendapatkan foto-foto yang bagus baik satwa dan tumbuhan. Semua pihak belajar informasi yang berharga dan teknik pengumpulan data lapangan. Pengetahuan yang diperoleh dari bagian identifikasi jejak hewan di lapangan membantu kelompok-kelompok tersebut karena mereka lebih sadar tentang apa yang harus dicari. Secara keseluruhan, pelatihannya sangat sukses.

Penulis : Syahik Nurbani (Koorinator Survei YP/GPOCP)

Editor : Petrus Kanisius

Iklan

Hendri Gunawan: Asyiknya Mengunjungi Surga Hijau (Hutan Hujan Gunung Palung) di Tanah Borneo

FB_IMG_1533545050945

Hendri Gunawan bersama teman-temannya ketika kuliah lapangan di Taman Nasional Gunung Palung. Foto dok : Hendri G. / Yayasan Palung

Saya Hendri Gunawan, saya dilahirkan di sebuah pulau yang disebut orang sebagai paru-paru dunia, yaitu Kalimantan. Sebagai orang asli Kalimantan, saya sangat bangga dengan bentang alam yang sangat indah ini, salah satunya adalah Taman Nasional Gunung Palung (TNGP) yang berada di sebelah Barat pulau Kalimantan dan merupakan Taman Nasional Terlengkap di Indonesia.

Meskipun kecil, kita dapat menjumpai delapan tipe ekosistem hanya dalam satu kawasan saja dari hutan pegunungan hingga hutan mangrove di pantai serta terdapat ratusan jenis hewan dan ribuan jenis Tumbuhan yang menghuni Hutan ini. Keberagaman tersebut menyebabkan Taman Nasional Gunung Palung kaya akan keaneka ragaman hayati. Hal yang cukup mengejutkan bagi pendatang yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Taman Nasional ini.

Taman Nasional Gunung Palung memiliki sebuah stasiun riset yang merupakan stasiun riset tertua di Indonesia yang masih aktif saat ini bernama Stasiun Riset Cabang Panti (SRCP). Banyak mahasiswa dari dalam maupun luar negeri yang melakukan penelitian untuk meraih gelar S1 sampai S3 dan bahkan melahirkan beberapa Profesor. Tidak pernah terbesit dipikiran saya bahwa saya akan sampai ke SRCP, tidak semua orang dapat kesana karena akan melewati serangkaian perizinan yang rumit dan saya merupakan salah satu orang yang beruntung.

Kedatangan saya ke SRCP Taman Nasional Gunung Palung merupakan suatu rangkaian acara dari Kuliah Lapangan Ekologi Hutan Tropis dan Teknik Survei Vertebrata yang diselenggarakan oleh pihak SRCP bekerja sama dengan University Of Michigan USA yang dilaksanakan selama 12 hari. Rangkaian kegiatan ini terdiri dari berbagai kegiatan diantaranya ekologi tumbuhan dan vertebrata hutan hujan tropis, pemasangan camera trap, karakteristik tumbuhan, pengenalan penelitian ilmiah, orangutan dan pengambilan sampel serta statistik. Ada sekitar 15 orang yang terlibat dalam kuliah lapangan ini dan masing-masing memiliki keahliannya sendiri. Kami yang pada awalnya tidak saling mengenal tiba-tiba menjadi sangat akrab satu sama lain.

Banyak ilmu bermanfaat serta pengalaman berharga yang saya dapatkan selama hampir dua pekan berada di SRCP tersebut, berawal dari sebuah ungkapan singkat seorang profesor asal Universitas Michigan, Amerika bernama Andrew J. Marshall, (kami memanggilnya pak Andi); “saya merasa kembali ke rumah jika saya berada disini”, itu adalah kalimat yang terlontar, saat kami sedang menyaksikan presentasi beliau satu hari sebelum berangkat ke SRCP Taman Nasional Gunung Palung.

Saat itu saya semakin penasaran dengan ucapan beliau (Andrew J. Marshall), sebenarnya apa latar belakang yang membuat beliau berkata demikian. Ketika kami berangkat menuju SRCP kami melewati beberapa tipe ekosistem, mulai dari hutan rawa gambut, hutan rawa air tawar, kemudian hutan dataran rendah, kerangas hingga hutan dataran tinggi. Di dalam perjalan kami menjumpai banyak sekali jenis tumbuhan yang besar dengan kanopi yang sangat rapat hingga sinar matari sulit tembus sampai ke permukaan tanah, kami juga bertemu dengan beberapa sarang orangutan, juga banyak sekali suara burung yang merdu serta jangkrik yang tidak pernah putus mengiringi perjalan kami sampai ke Camp SRCP. Tiba di sana saya terkagum dengan suasana camp SRCP, di dalam hutan belantara terdapat 3 buah bangunan yang sederhana namun luas dengan fasilitas penelitian yang sangat mendukung untuk projek penelitian.

Camp tersebut dikelilingi oleh pohon-pohon raksasa sebagai rumah bagi satwa aboreal (mamalia yang hidup di atas pohon) penghuni hutan tersebut serta dibagian depan terdapat aliran sungai yang sangat jernih dengan terdapat banyak jenis ikan, mereka sebut sungai itu dengan nama Sungai Panti.

Dalam kuliah lapangan tersebut kami dibagi menjadi empat team, “fungi” itulah nama team kami. Dari berbagai kegiatan yang dilakukan, ada satu kegiatan favotit saya yaitu survei satwa, karena dalam kegiatan ini saya dapat berjalan mengelilingi hutan dengan menikmati udara yang segar dan menjumpai berbagai jenis satwa serta mendengar bermacam-macam suara satwa yang ada di kawasan SRCP, ini sangat menyenangkan bagi saya.

Saat itu, kami sedang melakukan survei satwa sekitar pukul 7:00 pagi, begitu indahnya alunan suara burung saat itu yang berpadu dengan  jangkrik ditambah dengan suara enggang  dan kelempiau dari kejauhan serta sesekali terdengar kelasi juga mengeluarkan suaranya sebagai menghuni rimba Borneo tersebut.

Team kami terlalu asyik menjalankan survei satwa dengan mengikuti suara kelempiau yang dikenal dengan sebutan sang sirine hutan, sehingga kami memutuskan untuk mengikuti kemana kelempiau itu pergi agar dapat melihat langsung sang sirine hutan tersebut. Kami terlalu menikmati suasana hutan sehingga kami tidak sadar bahwa kami telah sangat jauh melangkah dan membuat kami tersesat. Hari semakin siang dan kami belum menemukan jalan pulang, kami terus berjalan dan kami beremu dengan para asisten dan peneliti orangutan yang sedang mengamati tingkah laku orangutan.

Hal yang sangat jarang dijumpai, kali ini saya melihat langsung orangutan jantan yang bernama Bosman sedang kawin dengan orangutan betina yang bernama Walimah, mereka kawin diatas pohon yang besar yaitu pohon Mahang (Makaranga sp.) yang diselimuti oleh pohon Kayu Ara (Ficus sp.) dan satu individu orangutan betina bernama Brani di pohon lain. Sekitar 15 menit saya ikut mengamati sekaligus menggali informasi kepada asisten peneliti tentang perilaku orangutan yang saat ini lebih dari tiga dekade mereka teliti. Sangat menakjubkan, saya melihat 3 individu orangutan sekaligus dlam satu waktu. Terbayar sudah, ini kali pertama saya melihat orangutan dan tingkah lakunya dikehidupan alam liar.

IMG20180720144553.jpg

Hendri Gunawan ketika berkesempatan berfoto dengan pohon Dipterocarpaceae  (jenis  kayu meranti) di TNGP. Foto dok. Hendri G. / Yayasan Palung

Tidak hanya itu pengalaman menarik yang kami dapatkan selama berada di sana,  team kami juga memasang camera trap disebuah pohon kecil di tepi sungai, dan hasilnya kami merekam seekor kancil yang sedang melintas pada malam hari menuju sungai untuk minum. Keesokan harinya sang profesor Andew J. Marshall mengajak kami untuk melakukan perjalanan ke hutan dataran tinggi sehari penuh menuju puncak, kami mulai pagi sekali sekitar pukul 7.00 karena perjalanan cukup jauh dan mendaki, dalam perjalanan saya mendapatkan informasi bahwa terdapat lebih dari 90 jenis pohon Dipterocarpaceae atau dalam bahasa lokal orang menyebutnya meranti-merantian yang ada di Taman Nasional Gunung Palung dan tingginya dapat mencapai 30 meter. Wah, ini sangat mengagumkan sekaligus membuat saya semakin bingung dan penasaran.

Di ketinggian tertentu kami juga menjumpai jenis pohon Poteria dan beberapa jenis Cemara gunung, semakin tinggi kami melangkah semakin kecil pepohonan serta semakin banyak lumut tebal yang kami temui, semakin dingin suhu yang kami rasakan padahal saat itu tepat pukul 1:00 siang.

Ditengah perjalanan saya juga menemui sebuah tumbuhan yang menurut saya sangat unik yaitu sebuah tumbuhan yang memiliki batang, ruas, dan daun seperti bambu namun tumbuh menjalar seperti rotan, dan berbagai jenis pohon Liana yang yang mengakar dari dasar tanah menuju ranting-ranting pohon raksasa, sesekali juga bertemu dengan damar yang wangi seperti parfum,  juga menjumpai beberapa bekas cakar beruang yang terlihat pada batang pohon, dan menemui banyak jenis jamur.

IMG20180722160702

Indahnya hutan dan pemandangan di sekeliling, seperti dua pohon jenis Dipterocarpaceae ini. Foto dok. Hendri G. / Yayasan Palung

Begitu Indah Taman Nasional Gunung Palung dengan segala pesona dan ekosistem terlengkapnya, saya mendapatkan jawaban dari pertanyaan saya sendiri tentang mengapa seorang ilmuan bernama Andrew J. Marshall asal Amerika mengatakan bahwa dia merasa kembali kerumah jika sedang berada di Taman Nasional Gunung Palung. Ternyata Hutan Hujan Tropis Taman Nasional Gunung Palung merupakan hamparan Surga Hijau dari Borneo yang menyimpan sejuta keindahan flora dan fauna yang membuat mata saya terpana. Pengalaman saya ini hanyalah satu dari ribuan informasi yang mungkin belum saya ketahui dibalik indahnya Taman Nasional Gunung Palung. Semoga cerita saya dapat memperkaya sudut pandang kita dalam memaknai konservasi dan terus menjaga alam yang Indah ini.

Hendri Gunawan (Tim Pendidikan Lingkungan)-Yayasan Palung

Presentasi Pra Keberangkatan Penelitian dan Magang Mahasiswa Penerima Beasiswa Orangutan Kalimantan di SPCP

 

IMG_20180801_121623_HDR

Ridwan saat menyampaikan presentasi tentang “Identifikasi Tumbuhan Liana Sebagai Pakan Primata”kemarin (1/8) di Kantor Yayasan Palung. Presentasi dilakukan sebelum melakukan penelitian. Foto dok : Yayasan Palung

Rabu (1/8/2018), Tiga orang Mahasiswa penerima Bornean Orangutan Carring Schoolarship (BOCS) yaitu Ridwan, Junardi dan Ulda melakukan presentasi di Kantor Yayasan Palung (YP).

Sebelum berangkat ke Stasiun Penelitian Cabang Panti (SPCP), di Taman Nasional Gunung Palung (TNGP), mereka terlebih daahulu melakukan presentasi terkait maksud dan tujuan mereka melakukan kegiatan penelitian dan magang rentang waktu dua kegiatan tersebut (penelitian dan magang) adalah sama yaitu selama satu bulan.

Ridwan menyampaikan persentasi dengan judul Identifikasi Tumbuhan Liana Sebagai Pakan Primata dan Junardi dengan judul Fenologi Pohon Pakan Orangutan. Keduanya melakukan persentasi dengan disaksikan oleh 15 orang yaitu mahasiswa magang, staff YP) dan ikut disaksikan oleh Direktur Yayasan Palung, Terri Lee Breeden. Presentasi ini bertujuan untuk melihat kelengkapan materi dan kesiapan pembawaan mereka sebelum melakukan persentasi didepan pihak TNGP.

Presentasi pertama dilakukan oleh Ridwan pada pukul 12.15 WIB, tentang Identifikasi Tumbuhan Liana Sebagai Pakan Primata. Penelitian akan dilaksankan dengan metode sampling yaitu mengambil sampel dari keseluruhan lokasi dengan membuat plot (titik pengamatan) pada jalur pengamatan.

Ridwan akan mengambil sampel pada 5 habitat (granit dataran rendah, granit datara tinggi, rawa gambut, alluvial, dan batu berpasir) dari 8 jenis habitat yang ada di Taman Nasional Gunung Palunng. Pada masing-masing habitat akan dibuat 1 plot untuk mengamati keberadaan objek. Ridwan mengatakan yang akan menjadi hambatan pada penelitiannya adalah kemungkinan bahwa liana tersebut terlalu tinggi sehingga menyulitkan dalam pengambilan sampel herbarium.

Semua yang hadir sangat antusias mendengarkan dan suasana semakin hidup ditambah dengan beberapa pertanyaan yang diajukan kepada Ridwan. Salah satunya adalah tentang metode penelitian yang dilakukan oleh Ridwan apakah akan efektif dengan menggunakan 1 plot untuk tiap habitat?.

Setelah dilakukan pembahasan terkait hal tersebut, didapatkan hasil bahwa pada tiap ekosistem harus dibuat minimal 3 plot pengamatan secara acak (random) agar data yang didapatkan lebih bervariasi.

Kemudian dari hasil presentasi yang disampaikan Ridwan, YP menyaranakan  agar Ridwan mengganti metode penelitiannya dan memperbaiki beberapa kesalahan pada penulisan materi presentasinya. Setelah 30 menit waktu berjalan, presentasi pertama selesai dan ditutup dengan tepuk tangan dari semua yang hadir.

IMG_20180801_133228

Junardi saat melakukan presentasi tentang Fenologi Pohon Pakan Orangutan di Kantor Yayasan Palung, kemarin.

Presentasi kedua oleh Junardi, dilakuakan pada pukul 13.30 WIB yang membahas tentang Fenologi Pohon Pakan Orangutan. Junardi melakukan pengamatan dengan metode observasi ketika ia dan Ulda magang nantinya. Metode observasi adalah metode yang dirasa cocok dengan kegiatan pengamatan fenologi tumbuhan hutan yaitu dengan turun langsung untuk mengamati objek secara dekat untuk medapatkan data dan ikut dengan para peneliti melakukan penelitin nantinya ketika mereka berada di sana (Gunung Palung).

Untuk melakukan pengamatan pada fenologi sendiri harus dengan melakukan pengamatan pada tumbuhan mulai dari biji hingga mampu menghasilkan biji untuk melihat pengaruh iklim dan lingkungan terhadap tampilan fisik objek yang diamati.

Beberapa pertanyaan muncul setelah Junardi selesai presentasi, salah satunya adalah jenis apakah yang akan menjadi objek pengamatan Junardi. Pertanyaan ini muncul karena mengingat bahwa pengamatan yang bertujuan untuk melihat fenologi pada satu jenis pohon membutuhkan waktu yang lama. Diskusi pun terus berlangsung dan  hasil dari presentasi tersebut.

Junardi memfokuskan pengamatannya terkait fenologi yang akan diamati  dengan pertimbangan waktu magang yang hanya satu bulan. “Misalnya hanya mengamati fenologi tumbuhan yang sedang dalam fase berbunga menuju fase buah” saran salah satu tim BOCS. Presentasi kedua berakhir dan ditutup dengan tepuk tangan dari semua yang hadir.

Presentasi berikutnya disampaikan pula oleh AprianaUlda, terkait rencana magangnya dengan focusnya pada penelitiaannya tentang bakteri pada kotoran orangutan.

IMG_20180801_135308

Apriana Ulda ketika menyampaikan presentasinya. Foto dok : Yayasan Palung

Mariamah Achmad Manager Pendidikan Lingkungan (PL) menjelaskan hal ini dilakukan agar mereka lebih baik dalam persiapan sebelum melakukan presentasi didepan pihak SPCP.

Presentasi berlangsung lancar hingga akhir. Pertanyaan, jawaban, dan sanggahan membuat kegiatan persentasi menjadi hidup dan tidak membosankan. Masukkan yang diberikan oleh tim BOCS bertujuan untuk menambah pengtahuan tentang keadaan di lapangan dan apa saja yang sebaikanya dilakukan agar kegiatan penelitian dan magang dapat berjalan dengan lancar.

Erina Safitri (Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura / BOCS angaktan 2017)

Film Dokumenter: Surga Yang Tersembunyi di Taman Nasional Gunung Palung

Surga Yang Tersembunyi di TNGP

Untuk menonton klik link  : “A Hidden Paradise” (Surga Yang Tersembunyi)
Berikut ini merupakan film dokumenter yang berjudul : “A Hidden Paradise” (Surga Yang Tersembunyi)

Cerita singkat dari film ini menceritakan tentang keindahan serta kekayaan keanekaragaman hayati yang tak ternilai di Taman Nasional Gunung Palung (TNGP).

Tidak hanya tentang keindahan dan keanekaragaman hayati saja, akan tetapi juga menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi tumbuhan dan satwa.

Hadirnya film ini setidaknya menjadi bagian yang harus kita syukuri karena kita diingatkan untuk menjaga dan melestarikan TNGP sebagai surga yang tersembunyi untuk keberlanjutan nafas semua makhluk hidup.

(Pit-YP)

Para Peneliti Di Stasiun Penelitian Cabang Panti, Taman Nasional Gunung Palung (TNGP) 

Selama 23 tahun, peneliti dari GPOCP telah menghabiskan lebih dari 70,000 jam belajar dan orangutan liar. Foto dok. Yayasan Palung dan GPOCP.

Selama 23 tahun, peneliti dari GPOCP telah menghabiskan lebih dari 70,000 jam belajar dan orangutan liar. (data tahun 1986-2015) Foto dok. Yayasan Palung dan GPOCP.

Selain meneliti perilaku, aktivitas dan nutrisi orangutan, beberapa di antaranya meneliti pakan (makanan) orangutan dan beberapa penelitian lainnya terkait kelempiau, kelasi. Selain itu juga  ada peneliti yang meneliti tumbuh-tumbuhan. Sebagian besar peneliti  berasal dari luar negeri seperti dari Harvard University, Boston University, Michigan University, (USA), Cambridge University (UK). Ada juga peneliti dari dalam negeri (Indonesia) termasuk asisten peneliti yang ikut membantu di Stasiun Penelitian Cabang Panti. Dari data yang ada, tercatat sebayak 91 orang dari Indonesia yang meneliti di Stasiun Penelitian Cabang Panti dan 83 orang peneliti dari luar negeri. Jika di total telah ada 174 peneliti yang meneliti di Kawasan TNGP, (data peneliti dari tahun 1986-2015, data Yayasan Palung (GPOCP) dan BTNGP).

Yang menarik, beberapa peneliti seperti Timothy Gordon Laman atau lebih dikenal dengan Tim Laman, dari Harvard University (USA) melakukan penelitian dengan rentang waktu penelitian (tahun 1987-1988). Campbell Owen Webb, dari Dartmouth College (UK) melakukan penelitian (1991-sekarang), Andrew John Marshall, dari Harvard University dan Michigan University (USA) melakukan penelitian dari (tahun 1996-sekarang). Selain itu ada juga Cheryl Denise Knott, dari Boston University (USA) melakukan penelitian dari tahun (1991-sekarang). Mereka masih rutin untuk selalu berkunjung dan masih aktif meneliti di kawasan TNGP, lebih tepatnya di Stasiun Riset Cabang Panti. Beberapa penelitian menarik mereka adalah meneliti perilaku, reproduksi dan nutrisi orangutan, seperti yang diteliti oleh Cheryl Knott. Tim Laman melakukan penelitian, pelatihan manajemen hutan; pertanian, kehutanan sebagai teknik konservasi, sedangkan Andrew John Marshall dan Campbell Owen Webb melakukan penelitian tumbuh-tumbuhan, ekologi dan perilaku orangutan.

camp-cabang-panti-di-tngp-sebagai-tempat-rumah-bagi-para-peneliti-yang-melakukan-penelitian-foto-dok-yayasan-palung

Camp  Stasiun Penelitian Cabang Panti (TNGP). foto dok. Mariamah Achmad

Beberapa perilaku, reproduksi dan tingkat kecerdasan dari orangutan menjadi minat para peneliti. Mengingat, orangutan sebagai kera besar memiliki kemiripan 96,4 % dengan manusia. Orangutan betina juga mengalami datang bulan (menstruasi) dan mengandung 8,5 bulan- hingga ada yang 9bulan. Hal yang menarik lainnya dari Taman Nasional Gunung Palung, karena; di kawasan ini merupakan satu-satunya kawasan hutan tropika Dipterocarpaceae (jenis kayu meranti) yang terbaik dan terluas di Kalimantan. Taman Nasional Gunung Palung memiliki 7 tipe hutan tropis dan 9 tipe habitat secara keseluruhan. Sedangkan beberapa peneliti dari Indonesia yang melakukan penelitian sebagian besar adalah mahasiswa-mahasiswi dari berbagai universitas seperti dari Universitas Tanjungpura, Universitas Nasional, Universitas Gadjah Mada dan beberapa universitas lainnya. Selain itu, ada juga dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Adapun menurut data pada tahun 2001, jumlah populasi orangutan yang mendiami kawasan TNGP kurang lebih berjumlah 2.500 individu orangutan, data Yayasan Palung dan BTNGP. Belum ada data terbaru ataupun survei lagi untuk menghitung populasi di sana. Untuk menjangkau Stasiun Penelitian Cabang Panti, Kawasan TNGP diperlukan waktu 7-8 jam perjalanan dengan berjalan kaki. Sedangkan jika menggunakan sampan bermesin bisa ditempuh dengan waktu 6-8 jam. Hingga saat ini, para peneliti masih melakukan penelitian mereka di Stasiun Riset Cabang Panti (SRCP) di Kawasan Taman Nasional Gunung Palung (TNGP). Para peneliti sangat terbantu karena adanya kerjasama yang baik dengan pihak Balai Taman Nasional Gunung Palung (BTNGP). Berharap semoga saja mereka bisa memberikan kontribusi bagi dunia ilmu pengetahuan (science), selanjutnya juga semoga orangutan tetap ada, terjaga dan tidak punah. Semoga saja… (Pit-YP)

Bunga Bangkai dan Rafflesia, Sering Dianggap Sama, Padahal Berbeda

Amorphopalus titanum atau bunga bangkai (kiri) dan Rafflesia arnoldi (kanan). Foto dok. Kompas

Amorphopalus titanum atau bunga bangkai (kiri) dan Rafflesia arnoldi (kanan). Foto dok. Kompas

Selama ini banyak yang menyatakan bunga bangkai itu sama dengan raflesia. Tidak sedikit pula dari kita yang menyangka bunga bangkai nama latinnya raflesia. Namun, tenyata keduanya sesungguhnya berbeda.

Tentu ini menjadi salah satu ke khawatiran jika kita salah menjelaskannya kepada orang lain terkait menyamakan dan salah penafsiran terkait bunga bangkai dan raflesia itu sama. Salah kaprah dan sudah pasti itu menjelaskan sesuatu menjadi salah kepada orang lain jika terus menerus tidak diluruskan. Karena hal tersebut sudah terjadi sejak lama. Ya, benar saja anggapan selama ini bahwa bunga bangkai itu sama raflesia, pada hal nyatanya keduanya sangat berbeda.

Lalu apa perbedaan bunga bangkai dan raflesia?

Dari nama saja berbeda, bunga raflesia nama latinya Rafflesia dan bunga bangkai nama latinnya Amorphpophallus titanium. Bunga raflesia terdiri dari beberapa jenis, demikian juga dengan bunga bangkai yang memiliki banyak jenis.

Bunga raflesia seperti di Bengkulu, Sumatera dengan nama latinnya Rafflesia arnoldii (status keberadaannya saat ini berdasarkan data IUCN adalah rentan/Vurnerable-VU). Ada pula Rafflesia magnifica(status IUCN menyebutkan keberadaannya sangat terancam punah/Critically Endangered- CR).

Sedangkang jenis bunga bangkai cukup banyak seperti; Amorphophallus gigas dan jenis lainnya adalah Amorphophallus moeleri dan Amorphophallus variabilis. Berdasarkan data IUCN memasukkan bunga bangkai dalam status rentan/Vurnerable-VU.

Bunga bangkai, sudah pasti menimbulkan (mengeluarkan) bau yang sangat busuk menusuk hidung. Bau yang ditimbulkan bunga raflesia dan bunga bangkai tersebut tidak lain sebagai cara bagi bunga untuk menarik minat serangga ketika bunga dalam proses penyerbukan.

Adapun habitat bunga bangkai umumnya merupakan tumbuhan khas dataran rendah yang tumbuh di daerah beriklim tropis dan subtropis mulai dari kawasan Afrika barat hingga ke Kepulauan Pasifik, termasuk di Indonesia. Bunga Titan Arum dapat ditemukan pada habitat hutan tropis di Sumatera dan Kalimantan, khususnya pada ketinggian diantara 120 sampai 365 meter diatas permukaan laut, (data dari WWF).

Bunga Raflesia merupakan ikon Indonesia di Internasional (dalam Kompas travel), karena tananaman ini langka. Bunga raflesia termasuk tumbuhan parasit (tumbuhan yang menumpang pada tumbuhan lainnya).

Ciri-ciri fisik dari tumbuhan (raflesia dan bunga bangkai) juga berbeda. Perbedaan yang paling terlihat antara kedua bunga ini adalah bunga Rafflesia berwarna merah dan memiliki bentuk bunga melingkar dengan diameter mencapai 1 meter dan ketinggian 0,5 meter. Sedangkan bunga bangkai berwarna merah dan hijau dan memiliki ketinggian 4 meter dan diameter 1,5 meter, (Adi Pancoro, dalam catatan anak bertanya guru menjawab).

Ada pun cara berkembang biak, dalam satu tanaman bunga rafflesia memiliki dua jenis kelamin atau disebut bunga berumah dua. Sedangkan Amorphopallus itu ada yang berkelamin jantan, ada juga yang berkelamin betina, berbeda tumbuhan. Amorphophallus relatif lebih mudah dibiakkan dengan biji. Sebaliknya biji Rafflesia sulit didapat karena bunga jantan dan betina sukar didapati mekar bersamaan (sumber Kompas Travel).

Selain berbeda (bunga bangkai dan raflesia) ternyata raflesia juga unik. Uniknya bunga raflesia tidak memiliki akar, daun dan tangkai. Bunga Rafflesia hanya memiliki mahkota dan hanya bertahan selama satu minggu. Terlebih, tumbuhan ini pun tidak memiliki daun sehingga tidak mampu berfotosintesis (Tirto).

Semoga saja kita tidak salah dan bisa membedakan mana bunga raflesia dan mana bunga bangkai (bisa membedakan), selain juga kita berharap agar tumbuhan ini bisa lestari hingga nanti, mengingat beragam ancaman yang ada saat ini seperti perluasan lahan yang semakin masif menjadi satu kekhawatiran saat ini. Dengan kata lain, apabila hutan terjaga dan masih tersisa maka tumbuhan bunga raflesia dan bunga bangkai bisa tumbuh dan lestari hingga selamanya.

Tulisan ini sebelumnya dimuat di : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/5b3f34355e13733c22010a93/bunga-bangkai-dan-raflesia-keduanya-sering-dianggap-sama-tetapi-sesungguhnya-berbeda

Sumber tulisan: Diolah dari berbagi sumber

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

 

Membuat Racun Rumput dengan Campuran Air Kelapa dan bahan lainnya

WhatsApp Image 2018-06-28 at 15.14.23

Asbandi, kamis (28/6) kemarin, ketika membuat racun rumput dengan bahan air kelapa dan bahan lainnya. Foto dok : Yayasan Palung

Ada cara efektif untuk mengurangi biaya belanja. Salah satunya dengan membuat racun rumput dengan campuran air kelapa dan bahan lainnya.

Cara ini dilakukan oleh Asbandi dari tim SL Yayasan Palung , ia bersama Wawan Angriandi  yang juga dari Yayasan Palung membuat racun rumput  dengan mencampurkan air kelapa dan ragi dan dipermentasikan minimal dua minggu (semakin lama lebih baik).

Berikut bahan-bahan untuk membuat racun rumput :

  • 1 liter racun roundup
  • 5 liter air kelapa
  • Garam; 2,5 ons
  • 1 botol cuka makan
  • Ragi : 2 bungkus besar ragi (200 biji ragi); terlebih dahulu ragi ditumbuk hingga halus.

Semua bahan-bahan tersebut dicampur dan diaduk pada suatu wadah atau tempat hingga merata. Selanjutnya, racun rumput ditutup rapat (dipermentasikan). Setelah 2 minggu racun rumput dengan campuran air kelapa siap untuk dipakai.

Cara penggunaan racun rumput :

Racun tumput tersebut dapat digunakan untuk membasmi rumput, kita terlebih dahulu menakar/mencampurkan 3 gelas racun  dengan air untuk 1 tangki penyemprot.

Untuk takaran 1 liter indukan racun rumput dapat digunakan pada lahan 1 hektar sawah yang telah dibuka (sawah jadi).

Pit-Yayasan Palung

 

Melihat Hutan Hujan sebagai Nafas yang Mulai Menghilang

Batu Daya yang semakin tak berdaya karena semakin terhimpit dan sempit. Foto dok. Petrus Kanisius

Batu Daya yang semakin tak berdaya karena semakin terhimpit dan sempit. Foto dok. Petrus Kanisius

Melihat, tetapi juga merasakan tajuk-tajuk pepohonan yang mulai menghilang, setidaknya itu yang kualami  dan kulalui ketika melewati sepajang jalan mudik  menuju kampung halaman untuk  mengisi hari libur panjang di bulan Juni yang juga bertepatan dengan hari libur Idul Fitri, kemarin.

Tajuk-tajuk yang dimaksud tak lain adalah rebahnya pepohonan yang semakin sulit dan kalah bersaing untuk berdiri kokoh. Sama halnya dengan batu daya yang sudah semakin terhimpit tak berdaya. Hal ini mengingatkanku kepada World Rainforest Day (hari hutan hujan dunia) yang diperingati pada 22 Juni, besok.

Alasannya tak lain, seluas mata memandang ketika melewati jalur alternatif (jalan perusahaan) begitu tampak terlihat tajuk-tajuk pepohonan semakin rebah tak berdaya kalah bersaing dengan tanaman pengganti yang bukan tanaman asli.  Sedih, itu rasa yang kurasakan. Namun, sedih itu tak bertepi, apa mungkin hutan-hutan itu bisa kembali tumbuh menjulang tinggi?. Entahlah… hanya bisa berharap, hutan-hutan masih bisa nantinya menjulang tinggi untuk berjuta-juta kehidupan boleh berlanjut hingga nanti.

Pemandangan yang kontras dan ironi, itu sebagai penanda tanda. Iya, kontras dan ironinya di sekitar area tajuk-tajuk pepohonan yang rebah tak berdaya itu ada pemandangan yang sangat menarik yaitu Batu Daya. Dibalik keindahannya tetapi juga ancaman nyata mulai nyata terlihat. Ancaman apa itu?. Satu yang pasti, balutan batu yang dulunya berpadu indah dengan berdiri kokohnya tajuk-tajuk pepohonan kini sudah semakin sempit terhimpit.

Andai kata hutan-hutan (tajuk-tajuk pepohonan) itu menghilang bagaimana nasib-nasib ragam kehidupan lain tidak terkecuali manusia, tumbuhan dan hewan (satwa/primata) yang berada di wilayah tersebut. Seperti di ketahui, Batu Daya, letaknya di Kec. Simpang Dua, Kabupaten Ketapang, Kalbar.

Batu Daya, sedikit memikat dengan panoramanya sebagai para penikmat keindahan, namun  sudah sedikit dirusak keindahannya dan keutuhannya, bukan tak mungkin batu yang berdiri kokok itu semakin tegak berdirinya. Apabila boleh dikata, Batu Daya yang sudah kehilangan daya. Andai kata hutan terkikis habis, tak sedikit dampak yang mengancam. Dampak kekeringan mungkin itu yang pasti terjadi ketika hutan tak bersisa, banjir juga mungkin akan menghampiri bila tajuk-tajuk itu jikalau nantinya tinggal cerita.

Bukan tidak mungkin primata seperti orangutan, kelempiau dan kelasi akan terkena pula imbasnya.  Demikian juga nasib enggang dan satwa lainnya. hal yang sama pula pasti terjadi pada tumbuhan atau pun tanaman endemik yang ada di wilayah tersebut.

Satu harapan agar hutan hujan boleh berlanjut dengan syarat ada perhatian dari semuanya secara bersama pula. Perhatian sederhana dari hal-hal kecil dan kepedulian mungkin sebagai satu cara seperti penanaman dan aturan tata kelola yang berkelanjutan. Serta hal yang terpenting lainnya adalah tidak membuka lahan baru lagi di kawasan itu.

Apabila hal tersebut bisa dilakukan maka hutan hujan tropis yang juga letaknya tak jauh dari Taman Nasional Gunung Palung tersebut sebagai penyangga yang kiranya juga sayang rasanya jika hilang tak bersisa di kemudian hari.

Banyak contoh yang terjadi ketika hutan hujan tak lagi bersisa, banjir, tanah longsor, kekeringan dan kebakaran sudah menunjuk taringnya serta kita terkena imbasnya.

Mengingat, hutan hujan memiliki fungsi yang tak terkira bagi tatanan kehidupan semua makhluk hingga kapanpun. Nafas hidup semua makhluk hidup tergantung kepada keadaan hutan hujan tropis saat ini. Tidak terbayangkan apabila tatanan kehidupan tanpa hutan hujan apakah bisa berlanjut atau tidak. Semoga ada asa untuk menyelamatkan hutan hujan yang semakin terhimpit dan sempit ini agar nafas bisa berlanjut.

Tulisan ini sebelumnya dimuat di Kompasiana : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/5b2b3175ab12ae20a855af22/melihat-hutan-hujan-sebagai-nafas-yang-mulai-menghilang-dan-tak-berdaya

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

 

Manfaat Pohon Beringin Tak Terkira, tapi Dapat “Mematikan”

Rangkong badak atau rhinoceros hornbill (Buceros rhinoceros) sedang memakan buah Ficus stupenda. Foto dok. Tim Laman dan Yayasan Palung

Rangkong badak atau rhinoceros hornbill (Buceros rhinoceros) sedang memakan buah Ficus stupenda. Foto dok. Tim Laman dan Yayasan Palung

Memiliki banyak manfaat bagi kehidupan tetapi ada juga yang bisa merenggut kehidupan. Tidak bisa dielakkan, tidak sedikit makhluk hidup terbantu dan bisa bertahan hidup karena tumbuhan ini. Lalu pertanyaannya, tumbuhan apakah itu?

Kebanyakan orang menyebutnya kayu ara, atau nama ilmiahnya disebut Ficus spp., disebut fig trees atau figs dalam bahasa Inggris. Di Indonesia banyak sekali penamaan untuk pohon ini. Selain kayu ara, ada yang menyebutnya pohon beringin, kayu are atau keraye di Kalimantan Barat, lebih khusus di Tanah Kayong (sebutan untuk Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara).

Tumbuhan ini memiliki banyak manfaat bagi kehidupan mulai dari akar-akarnya bisa menampung air untuk mahluk hidup, hingga buahnya sebagai sumber pakan bagi burung enggang maupun jenis burung-burung kecil lainnya. Monyet dan orangutan juga gemar menyantap buahnya….

Tulisan ini sebelumnya dimuat di Kompasiana, Baca Selengkapnya : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/5b029c05f13344379c7b1b02/pohon-ini-memiliki-manfaat-tak-terkira-untuk-kehidupan-tetapi-ada-juga-yang-membunuh

Petrus Kanisius- Yayasan Palung

Terkait Lingkungan Hidup, Kadisdik Ketapang Apresiasi Program Yayasan Palung

Kepala Dinas Pendidikan Ketapang, H Jahilin, di ruang kerjanya. Foto dok. Tribun Pontianak

Kepala Dinas Pendidikan Ketapang, H Jahilin, di ruang kerjanya, Kamis (5/4). Foto dok. Tribun Pontianak

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Subandi 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KETAPANG – Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Ketapang, H Jahilin mengapresiasi dan berterimakasih kepada Yayasan Palung (YP). Lantaran sejak 2012 hingga 2018 komitmen mengkuliahkan para pelajar hingga 31 orang dan di antaranya dari Ketapang.

“Kita sangat mengapresiasi program YP tersebut apalagi terkait untuk keberlangsungan lingkungan hidup flora dan fauna,” kata Jahilin kepada wartawan di Ketapang, Kamis (5/4).

Ia menilai adanya progam itu berarti ada pelajar yang memang dididik dan arahkan untuk menjaga kelestarian alam.

“Apalagi sekarang hal itu sangat penting karena hutan kita semakin sedikit sehingga flora dan fauna terancam punah,” ucapnya.

“Jadi dengan adanya pelajar di Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara yang diberi beasiswa oleh YP tersebut. Harapan kita para pelajar ini nantinya bisa menyelamatkan keberlangsungan hidup flora dan fauna di daerah kita,” lanjutnya.

Ia berharap selain para pelajar yang dikuliahkan oleh YP tersebut. Pelajar lain dan masyarakat juga memiliki kesadaran untuk menjaga keberlangsungan hidup alam. “Misalnya menjaga kelestarian orangutan agar tidak punah nantinya,” tuturnya.

Artikel ini telah tayang di tribunpontianak.co.id dengan judul Terkait Lingkungan Hidup, Kadisdik Ketapang Apresiasi Program Yayasan Palung, http://pontianak.tribunnews.com/2018/04/05/terkait-lingkungan-hidup-kadisdik-ketapang-apresiasi-programyayasan-palung.
Penulis: Subandi
Editor: Jamadin

Sumber Berita : tribunpontianak.co.id