Category Archives: Laporan Umum

Rayakan Hari Orangutan Internasional 2018, Yayasan Palung Lakukan Ragam Kegiatan untuk Menjaga Si Petani Hutan Melalui Budaya

Cerita tentang satwa dilindungi saat IOD 2018 (2).JPG

Relawan Tajam  Yayasan Palung Bercerita tentang satwa dilindungi saat acara IOD 2018 di Citimall Ketapang pada (19/8), kemarin. Foto dok : Yayasan Palung

Minggu (19/8/2018) kemarin, Dunia Internasional  memperingati Hari Orangutan Internasional atau International Orangutan Day (IOD)/ atau biasanya disebut juga World Orangutan Day (WOD)/Hari Orangutan Sedunia 2018. Tahun ini, Yayasan Palung bersama para relawan untuk bersama mengajak  untuk peduli terhadap si petani hutan (orangutan), salah satunya melalui budaya.

Dalam gelaran untuk merayakan hari orangutan internasional 2018 kemarin, Yayasan Palung bersama para relawan Tajam, RebonK dan Penerima Beasiswa Orangutan Kalimantan (BOCS) menyelenggarakan berbagai kegiatan yang dilaksanakan di Citimall Ketapang, diantaranya seperti panggung boneka (puppet show) yang disuguhkan oleh relawan Tajam, penampilan teater dari relawan Bentangor, dan lomba Syair gulung di tingkat Sekolah Dasar.

teater saat IOD.JPG

Aksi teatrikal (teater) yang ditampilkan oleh Relawan RebonK Yayasan Palung saat acara Hari Orangutan Internasional (19/8), kemarin. Foto dok : Yayasan Palung

Ada pun tema yang diketengahkan oleh Yayasan Palung pada Hari Orangutan Internasional tahun 2018 adalah; “Menjaga Si Petani Hutan Melalui Budaya”, Si Petani hutan yang dimaksud pun tidak lain adalah orangutan.  Menjaga si petani hutan melalui budaya menjadi satu ajakan kepada semua pihak untuk peduli terkait nasib dari orangutan saat ini karena berbagai ancaman yang ada pada satwa endemik tersebut.

Kegiatan dimulai pada pukul 13.00 Wib, dibuka secara resmi oleh Direktur Yayasan Palung. Ragam rangkaian kegiatan seperti perlombaan Syair Gulung, diselang seling dengan adanya suguhan penampilan panggung boneka (puppet show) yang bercerita tentang kehidupan satwa liar di hutan seperti orangutan, burung enggang dan bekantan. Orangutan sebagai satwa yang sangat terancam punah, dan burung enggang sebagai satwa penyebar biji (si petani hutan). Sedangkan bekantan merupakan satwa endemik yang hanya hidup di pulau Kalimantan saja.

Sedangkan atraksi aksi teatikal (teater) bercerita tentang menjaga  kehidupan di hutan. Dalam teater tersebut, relawan RebonK mengajak menjaga hutan  peninggalan nenek moyang. Sebagai tokoh dalam cerita, Pak Amat yang di Perankan oleh Egi, RebonK sebagai sosok penjaga hutan yang bijaksana serta tidak tergoda dengan bujuk rayu dan berhasil menangkal segala ancaman yang datang seperti penebangan liar atau pun ilegal loging dan perburuan liar live music  dari Egi’s & Friend yang menampilkan lagu-lagu tentang lingkungan.

Egi's and Friend band saat mengisi acara IOD.JPG

Egi’s and Friend band saat mengisi acara IOD 2018. Foto dok : Yayasan Palung

Pada perlombaan Syair Gulung, peserta lomba melantunkan syarir gulung yang merupakan bagian dari budaya. Peserta lomba syair sebagian besar menyampaikan pesan kepada khalayak (masyarakat luas) dan ajakan terkait pesan-pesan moral lingkungan, dan kecintaan mereka tanpa harus memiliki atau memilihara satwa dilindungi. Sebagai Pemenang pertama dalam lomba Syair Gulung adalah Uti Al Faldan, dari MIN Ketapang. Sedangkan pemenang kedua adalah Girink Clara Belo dari SDN 05 Delta Pawan, pemenang ketiga Syarif Levi Nasira Sahab dari SDN 04 Benua Kayong dan pemenang keempat adalah Safitri  Kirani dari SDN 20 Delta Pawan. Untuk hadiah, para pemenang mendapatkan hadiah berupa paket hadiah, plakat dan sertifikat.

peserta lomba berfoto bersama.JPG

Peserta lomba berfoto bersama setelah pengumuman lomba Syair Gulung dalam acara IOD 2018. Foto dok : Yayasan Palung

Sebagai juri dalam perlombaan Syair Gulung di tingkat Sekolah Dasar dalam rangka IOD 2018 tersebut adalah Raden Abdillah dan Wijaya.

Dalam kata sambutannya, Direktur Program Yayasan Palung, Terri Lee Breeden mengatakan; “Acara kami yang diadakan di Citi Mall untuk International Orangutan Day 2018 adalah sukses besar”.

Selain itu lebih lanjut menurut Terri, Ia merasa terkesan pada kapasitas para kelompok relawan, yang mana para relawan muda kami bekerja untuk mengatur dan melakukan pertunjukan yang hebat. Kami menjangkau khalayak luas dan dapat menyampaikan pesan tentang ancaman yang dihadapi orangutan saat ini dan apa yang dapat kita semua lakukan untuk membantu melindungi mereka dan habitat hutan mereka. Saya ingin berterima kasih kepada semua orang atas kerja keras mereka dan menantikan acara seperti ini di tahun-tahun mendatang’’, ujar Terri lagi.

Winda Lestari, Relawan Tajam angkatan pertama sekaligus sebagai ketua panitia kegiatan IOD 2018 mengatakan;  Kegiatan seperti ini (IOD/WOD 2018) sangat bagus sekali dilakukan karena rangkaian kegiatan sudah menjadi aksi kampanye untuk satwa yang dilindungi seperti perlombaan syair gulung pun tersaji dan tersirat pesan moral konservasi. Selain itu juga syair gulung menjadi aksi yang nyata melalui budaya.

Sementara itu, Junardi dari Mahasiswa penerima Beasiswa BOCS mengatakan, kegiatan hari orangutan internasional yang diselenggarakan sudah berjalan dengan sukses, berharap di tahun-tahun mendatang kegiatan seperti ini bisa lagi diselenggarakan dengan peserta yang lebih banyak dan di tempat-tempat yang strategis agar bisa menjangkau masyarakat.

Pada kegiatan tersebut, terlihat antusias dari para tamu undangan dan para peserta lomba yang ikut ambil bagian dalam acara IOD tersebut. Pada malam harinya, Yayasan Palung bersama para relawan dan Mahasiswa BOCS melakukan pemutaran film lingkungan di Citimall. Ada pun film lingkungan yang diputar sebagai media penyadartahuan/kampanye  dan hiburan kepada pengunjung. Ada pun film  yang di putar antara lain adalah film Asimetris, film Indonesia Diambang Kepunahan dan film Sampah Man.

Saat pemutaran film lingkungan dalam rangka IOD 2018 di Citimall Ketapang sebagai upaya kampanye penyadartahuan  (1).jpg

Saat pemutaran film lingkungan dalam rangka IOD 2018 di Citimall Ketapang sebagai upaya kampanye penyadartahuan kepada masyarakat luas. Foto dok : Yayasan Palung

Lewat IOD/WOD 2018 ajakan kepada semua untuk peduli pada satwa lebih khusus orangutan dan satwa dilindungi lainnya. Selain juga merupakan satu cara penyampaian kampanye penyadartahuan kepada masyarakat luas untuk ikut berperan serta ambil bagian berperan dan berharap ada semangat yang semakin tumbuh dari semua pihak untuk semakin peduli pada nasib hutan dan satwa sebelum terlambat. Berharap Si Petani Hutan bisa lestari hingga nanti. Semua rangkaian kegiatan Hari orangutan Internasional 2018 berjalan sesuai rencana dan sukses.

berfoto bersama setelah selesai kegiatan IOD atau WOD 2018.JPG

Berfoto bersama setelah selesai kegiatan IOD atau WOD 2018. Foto dok : Yayasan Palung

Sebelumnya berita terkait kegiatan Hari Orangutan Internasional (International Orangutan Day/IOD) 2018 yang digelar/dilakukan Yayasan Palung, dimuat di Tribun Pontianak online :

http://pontianak.tribunnews.com/2018/08/23/rayakan-peringatan-iod-2018-yp-gelar-beragam-kegaiatan-di-citimall-ketapang

Rekaman Radio di Radio GS tentang feature hari orangutan internasional 2018 di link :

https://soundcloud.com/yayasan-palung/feature-radio-gs-tentang-kegiatan-hari-orang-utan-sedunia-2018-dirayakan-oleh-ypmp3

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

 

 

Iklan

Ajari Cara Kreatif Kepada Anak-anak untuk Memanfaatkan Sampah

IMG-20180713-WA0007

Anak-anak yang tergabung dalam Bentangor Kids terlihat bersemangat membuat kreasi barang bekas berupa kardus untuk dijadikan topi (12/7) kemarin di Bentangor, Yayasan Palung. Foto dok. Yayasan Palung

Banyak cara kreatif yang bisa dilakukan untuk memanfaatkan sampah secara bijaksana menjadi barang bermanfaat, seperti yang dilakukan beberapa orang anak yang tergabung dalam Kelompok Bentangor Kids, di Kantor Yayasan Palung Bentangor Pampang Center, Sukadana, KKU, Kalbar, Kamis (12/7/2018) kemarin.

Ya, Kelompok Bentangor Kids belajar sembari bermain, mereka berhasil membuat kreasi dengan cara mengolah sampah menjadi barang-barang bermanfaat tidak terkecuali seperti topi.

Terlihat, mereka sangat asyik menggunting dan mengukur, dan diantaranya juga ada yang menempel (merekatkan) lem pada bagian-bagian dan sisi-sisi kardus yang telah dirancang dengan berbagai bentuk topi, topi-topi hasil kreasi mereka yang telah dibuat selanjutnya dipercantik dengan ikatan pita agar terlihat menarik. Topi yang terbuat dari kardus pun selesai mereka kerjakan. Topi kardus, ya karena topi-topi yang mereka buat tersebut terbuat dari kardus.

Anak-anak yang tergabung dalam Kelompok Bentangor Kids, mereka rela meluangkan waktu dan tenaga untuk bersama-sama belajar sembari bermain sekaligus  memanfaatkan sampah dari sisa-sisa kardus yang tidak terpakai lagi itu selanjutnya mereka olah menjadi topi yang bagus, menarik dan bisa dipakai/digunakan walau hanya terbuat dari kardus.

IMG-20180713-WA0010

Seorang anak dari Kelompok Bentangor Kids terlihat tertawa lepas karena ia berhasil membuat topi. Foto dok. Yayasan Palung

Dari hasil kreasi dan kreatif mereka (Bentangor Kids) terciptalah topi yang cantik dan menarik yang setidaknya bisa melindungi kepala dari teriknya mata hari ketika bermain.

Tidak disangka, sampah dari sisa-sisa rumah tangga ternyata bisa dimanfaatkan dan diolah dengan berbagai cara kreatif seperti ini, kata Simon Tampubolon, selaku pembimbing dan pembina anak-anak Bentangor Kids.

Lebih lanjut menurut Simon, dengan memanfaatkan barang-barang bekas dan mengolah (mendaurnya) menjadi sesuatu yang bermanfaat, maka persoalan sampah lebih khusus sampah rumah tangga bisa diminimalisir dan sudah sepatutnya cara mereka seperti ini untuk diikuti sebagai langkah bersama peduli dengan persoalan sampah yang selama ini belum juga kunjung usai.

Mengingat, persoalan sampah yang ada saat ini memang memerlukan cara kreatif bagaimana untuk mengolahnya. Apa lagi persoalan  hingga kini pun belum kunjung usai, ditambah lagi oleh prilaku oknum tertentu yang enggan dan empati tanpa peduli. Banyak diantara kita di Indonesia yang acuh-tak acuh dengan sampah, salah satunya membuang sampah sembarangan tanpa peduli dan tanpa melihat dampak atau pun peluang (manfaat) dari sampah itu apa sejatinya.

Saat mereka berkreasi membuat topi yang terbuat dari kardus, mereka didampingi oleh kakak-kakak mereka dari RebonK (relawan Yayasan Palung) dan dari Yayasan Palung.

Hal lainnya pula, persoalan sampah bisa dikatakan sudah menjadi tugas bersama siapa pun itu untuk saling bahu membahu mencari cara untuk kreatif dan bijaksana dengan persoalan.

Berharap, semoga ada lagi kreasi-kreasi lainnya yang bisa diciptakan oleh anak-anak ini salah satunya  dengan cara sederhana dan kreatif seperti ini benar-benar bisa diikuti oleh siapa saja, dengan demikian secara tidak langsung pula peduli dengan lingkungan sekitar dan memilihara bumi setidaknya dengan cara-cara seperti ini.

IMG-20180712-WA0007

Mereka terlihat senang memakai topi hasil dari kreasi mereka sendiri. Foto dok. Yayasan Palung

Semoga saja cara-cara kreatif seperti yang dilakukan oleh anak-anak dari Kelompok Bentangor Kids ini bisa diikuti oleh yang lainnya seusianya.

Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di Kompasiana : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/5b4845e1cf01b45f610dbe33/ajari-cara-kreatif-kepada-anak-anak-untuk-memanfaatkan-sampah

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

 

 

“Yum Kite Budidaye Ikan”, Petani Sejahtera dan Hutan Terjaga

Para peserta yang mengikuti pelatihan budidaya ikan air tawar dan air payau. Foto dok. Yayasan Palung

Para peserta yang mengikuti pelatihan budidaya ikan air tawar dan air payau. Foto dok. Yayasan Palung

Judul di atas menjadi salah satu cara atau ajakan kepada masyarakat untuk melakukan sesuatu, salah satunya lewat pelatihan dasar budidaya ikan air tawar dan air payau yang dilakukan selama 3 hari (3-5/7/2018) kemarin, di Kantor Yayasan Palung, Bentangor Pampang Center, KKU, Kalbar.

Yum Kite Budidaye Ikan merupakan bahasa lokal atau bahasa Melayu masyarakat di Kayong Utara  yang kurang lebih artinya; Ayo Kita Budidaya Ikan. Ya, ajakan tersebut dilakukan oleh Yayasan Palung kepada masyarakat sebagai salah satu cara agar masyarakat (lebih khusus petani) mampu mencari cara pendapatan alternatif tanpa harus merusak hutan.

Peserta terlihat serius ketika mendengarkan penjelasan dari narasumber tentang budidaya ikan air tawar dan air payau. Foto dok. A. Samad, YP

Peserta terlihat serius ketika mendengarkan penjelasan dari narasumber tentang budidaya ikan air tawar dan air payau. Foto dok. A. Samad, YP

Seperti diketahui, penghasilan petani pasti dari hasil bertani (berladang dan berkebun sayur) dan pasti itu memerlukan lahan yang cukup banyak. Budidaya ikan air tawar dan air payau merupakan selain sebagai alternatif pendapatan masyarakat, juga sebagai langkah untuk mengurangi aktivitas masyarakat membuka lahan.

merupakan suatu cara yang bisa dilakukan oleh masyarakat dengan biaya yang cukup murah. Mengapa dikatakan cukup murah, jika ingin memilihara ikan tidak mesti harus mengeluarkan banyak biaya, kolam yang bisa digunakan untuk budidaya ikan air tawar dan air payau adalah Kolam buatan, seperti kolam terpal dengan biaya terbatas atau pun kolam permanen seperti kolam tanah atau pun kolam semen jika mampu dengan biaya cukup besar.

Sedangkan untuk bibit, Petani akan di bantu oleh Yayasan Palung untuk menjebatani dan mendistribusikan bantuan bibit dari Dinas Perikanan dan Yayasan Palung sendiri akan memberikan bantuan bibit, ujar Abdul Samad , staf dari tim SL Yayasan Palung.

Lebih lanjut Samad, demikian ia disapa sehari-hari mengatakan; Dari dinas perikanan KKU akan membantu dan mensuport kepada petani budidaya ikan dalam hal kebutuhan yang diperlukan dalam budidaya ikan, dengan menggunakan proposal. Selanjutnya juga  dinas perikananan akan membantu kapan saja  kepada petani jika berkeinginan melakukan budidaya ikan memerlukan bantuan teknis dari dinas perikanan akan siap.

“Sedangkan dari dinas lingkungan hidup, akan membantu dan mendukung dari segi pengelolaan dalam dampak terhadap lingkungan seperti : uji Ph air dan tanah (menguji tingkat keasaman tanah).

Dalam pelatihan budidaya ikan tersebut hadir sebagai pemateri adalah Samson Tarigan dari Sumatra Utara. Pada kesempatan tersebut, peserta diberikan pelatihan bagaimana cara membudidayakan ikan yang baik.

Peserta ketika melakukan praktek budidaya ikan air tawar dan air payau. Foto dok. A. Samad, YP

Peserta ketika melakukan praktek budidaya ikan air tawar dan air payau. Foto dok. A. Samad, YP

Pada kesempatan tersebut pula, peserta pelatihan diajak untuk praktek budidaya ikan nila di kolam milik masyarakat yaitu pak Azhari dan ikan lele di kolam pak Jamhuri.

Peserta yang ikut hadir dalam pelatihan dasar budidaya air tawar dan air payau tersebut diikuti oleh 15 orang yang tediri dari masyarakat dari Desa Pampang, Desa Harapan Mulia dan desa pangkalan buton. Selain itu juga ada 2 orang peserta dari Dinas Perikanan Kab. Kayong Utara, dan 2 orang dari Dinas Lingkungan Hidup, KKU dan 5 orang dari Yayasan Palung.

“Pada pelatihan budidaya ikan air tawar dan air payau tersebut, mendapat respon yang sangat baik dari para peserta pelatihan, bahkan mereka berencana akan membuat kolam ikan”, ujar F. Wendi Tamariska selaku manager program Sustainable Livelihood (SL) Yayasan Palung sekaligus penggagas adanya pelatihan budidaya ikan tersebut.

Lebih lanjut menurut Wendi, demikian ia disapa sehari-hari mengatakan; Berharap, semakin banyak masyarakat yang berkeinginan untuk melakukan budidaya ikan air tawar. Mengingat, selain memiliki manfaat ekonomis (bisa dijual) juga bisa sebagai penambah gizi yang menyehatkan dan gratis. Selain juga dengan cara budidaya ikan air tawar seperti ini menjadi satu cara agar mengurangi aktifitas masyarakat di hutan (membuka) lahan, dengan adanya budidaya. Yum kite budidaye ikan!, masyarakat sejahtera dan hutan terjaga, tuturnya lagi.

Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di Kompasiana : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/5b4dc3beab12ae014425d2f5/yum-kite-budidaya-ikan-petani-sejahtera-hutan-terjaga

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

 

Membuat Racun Rumput dengan Campuran Air Kelapa dan bahan lainnya

WhatsApp Image 2018-06-28 at 15.14.23

Asbandi, kamis (28/6) kemarin, ketika membuat racun rumput dengan bahan air kelapa dan bahan lainnya. Foto dok : Yayasan Palung

Ada cara efektif untuk mengurangi biaya belanja. Salah satunya dengan membuat racun rumput dengan campuran air kelapa dan bahan lainnya.

Cara ini dilakukan oleh Asbandi dari tim SL Yayasan Palung , ia bersama Wawan Angriandi  yang juga dari Yayasan Palung membuat racun rumput  dengan mencampurkan air kelapa dan ragi dan dipermentasikan minimal dua minggu (semakin lama lebih baik).

Berikut bahan-bahan untuk membuat racun rumput :

  • 1 liter racun roundup
  • 5 liter air kelapa
  • Garam; 2,5 ons
  • 1 botol cuka makan
  • Ragi : 2 bungkus besar ragi (200 biji ragi); terlebih dahulu ragi ditumbuk hingga halus.

Semua bahan-bahan tersebut dicampur dan diaduk pada suatu wadah atau tempat hingga merata. Selanjutnya, racun rumput ditutup rapat (dipermentasikan). Setelah 2 minggu racun rumput dengan campuran air kelapa siap untuk dipakai.

Cara penggunaan racun rumput :

Racun tumput tersebut dapat digunakan untuk membasmi rumput, kita terlebih dahulu menakar/mencampurkan 3 gelas racun  dengan air untuk 1 tangki penyemprot.

Untuk takaran 1 liter indukan racun rumput dapat digunakan pada lahan 1 hektar sawah yang telah dibuka (sawah jadi).

Pit-Yayasan Palung

 

Manfaat Pohon Beringin Tak Terkira, tapi Dapat “Mematikan”

Rangkong badak atau rhinoceros hornbill (Buceros rhinoceros) sedang memakan buah Ficus stupenda. Foto dok. Tim Laman dan Yayasan Palung

Rangkong badak atau rhinoceros hornbill (Buceros rhinoceros) sedang memakan buah Ficus stupenda. Foto dok. Tim Laman dan Yayasan Palung

Memiliki banyak manfaat bagi kehidupan tetapi ada juga yang bisa merenggut kehidupan. Tidak bisa dielakkan, tidak sedikit makhluk hidup terbantu dan bisa bertahan hidup karena tumbuhan ini. Lalu pertanyaannya, tumbuhan apakah itu?

Kebanyakan orang menyebutnya kayu ara, atau nama ilmiahnya disebut Ficus spp., disebut fig trees atau figs dalam bahasa Inggris. Di Indonesia banyak sekali penamaan untuk pohon ini. Selain kayu ara, ada yang menyebutnya pohon beringin, kayu are atau keraye di Kalimantan Barat, lebih khusus di Tanah Kayong (sebutan untuk Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara).

Tumbuhan ini memiliki banyak manfaat bagi kehidupan mulai dari akar-akarnya bisa menampung air untuk mahluk hidup, hingga buahnya sebagai sumber pakan bagi burung enggang maupun jenis burung-burung kecil lainnya. Monyet dan orangutan juga gemar menyantap buahnya….

Tulisan ini sebelumnya dimuat di Kompasiana, Baca Selengkapnya : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/5b029c05f13344379c7b1b02/pohon-ini-memiliki-manfaat-tak-terkira-untuk-kehidupan-tetapi-ada-juga-yang-membunuh

Petrus Kanisius- Yayasan Palung

Puisi:  Cerita dan Pesanku Ibu Bumi untuk Anak Cucuku

Bumi sebagai ibu dan rumah bersama yang sudah semakin sakit. Foto dok. bobo.id

Bumi sebagai ibu dan rumah bersama yang sudah semakin sakit. Foto dok. bobo.id

Aku (ibu bumi) terlahir dititahkan Sang Pencipta sebagai Ibu

Ibu yang menjaga anak-anaknya

alam semesta raya itu awalnya aku

Sebagai ibu aku tak lupa memberi ruang dan nafas kepada segala makhluk

Aku sebagai titipan Ilahi diberi mandat

Aku jalankan mandat itu

Tetapi entah mengapa, terkadang aku dilahirkan tak serta merta merasa

Merasa memilikiku sebagai ibu ? ,

Tingkah polah dari sekian banyak anak dan cucuku, kalian terkadang pongah kepadaku.

Sakit derita itu sudah pasti, namun kutahan, ku mencoba bertahan semampuku, kurasakan saja.

Waktu terus berlalu, umurku sudah semakin tua menjelang renta,

Sikap peduli dari anak-anakku kurasa tak sebanding dari derita yang kurasa,

Tetapi, biarlah kurasakan saja semampuku,

Bila dikata bebanku sudah semakin berat, jawabanku; iya benar adanya demikian.

Rambut di kepalaku sudah semakin gugur dan memutih, tak tertahan karena uban diusiaku yang sudah semakin menua.

Belum lagi kutu-kutu loncat yang terus menggerogoti kepalaku. Terkadang sisiran rambutku disisir, namun aku tak suka rambutku disisir serapi itu. Aku lebih suka tak bersisir sama sekali karena aku ingin apa adanya.

Dulu semasa mudaku rambutku terurai panjang dan bisa melindungi anak cucuku ketika panas.

Sakit penyakit jua sering ku dengarkan dari anak cucuku terkadang mereka sulit mengambil air, sulit bercocok tanam dan tak mudah lagi berdiam dan berlindung karena rambut ibu tak lagi seperti dulu bisa melindungi.

Jika boleh dikata, sakitku kini sudah semakin banyak (penyakitku sudah komplikasi). Kepalaku yang sudah semakin sakit karena rambutku tak lagi mampu bertahan, terkadang berguguran. Demam panas sering juga kurasakan. Jantung dan hatiku pun sudah terasa sakitnya. Aku hanya takut jika aku serangan jantung tiba-tiba. Maag kronisku pun tak kalah hebatnya, sakit sekali rasanya. Rasa ditikam-tikam

Terkadang, tak terasa aku muntah-muntah. Karena perutku sudah semakin banyak cacing yang menggerogoti. Terkadang pula ku hanya bisa menangis saja akan nasibku ini.

Berharap anak cucuku yang masih punya rasa kasih sayang kepadaku untuk bisa meramu obat pereda sakitku. Karena aku rasa sakitku sudah semakin sulit sembuh namun masih ada harap aku ingin sembuh dari sakit penyakit yang kuderita. Aku hanya berpesan, jaga dan rawatlah aku semampu kalian anak cucuku. Dengan merawatku pula kalian bisa ku rawat. Karena aku hanya ingin senyum bahagia bersama kalian anak cucuku dan melihatku dan menemaniku di masa tuaku. Ku berharap pula semoga umurku panjang sehingga aku juga bisa melihat tidak hanya anak cucu, tetapi cicit-cicitku nanti.

Ketapang, Kalbar, 09/05/2018

Tulisan ini sebelumnya dimuat di Kompasiana : Pesan Ibu Bumi untuk Anak Cucu

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Peduli Produk Lokal, Yayasan Palung Adakan Pelatihan Pengembangan Produk Tikar Pandan

Ibu Ida mengajak peserta pelatihan untuk berkreasi pengembagan produk dan desain anyaman tikar pandan. Foto dok. Yayasan Palung

Ibu Ida mengajak peserta pelatihan untuk berkreasi pengembagan produk dan desain anyaman tikar pandan. Foto dok. Yayasan Palung

Yayasan Palung bersama Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF) dan pihak terkait lainnya menyelenggarakan pelatihan.

Khususnya mengenai pengembangan produk dan desain anyaman tikar pandan dan lidi nipah.

Kegiatan dilaksanakan tiga hari di Desa Penjalaan Kecamatan Simpang Hilir Kabupaten Kayong Utara belum lama ini.

Pesertanya 22 orang yakni enam orang laki-laki dan 16 perempuan.

Ketua UKM Ida Craff, Saparida menjadi faslitator pengembangan produk dan anyaman tikar pandan. Sedangkan fasilitator pengembangan anyaman lidi nipah adalah Darwani AnggotaPengarin Kelompok Karya Sejahtera.

Pak Darwani saat menunjukkan cara menganyam lekar kepada ibu-ibu peserta pelatihan. Foto dok. Yayasan Palung

Bapak Darwani saat menunjukkan cara menganyam lekar kepada ibu-ibu peserta pelatihan. Foto dok. Yayasan Palung

Manager Program Perlindungan Satwa (PPS) Yayasan Palung, Edi Rahman, mengatakan pada kegiatan ini para peserta diajarkan mengembangkan anyaman tikar pandan. Selanjutnya dijadikan berbagai produk kerajinan lain seperti tas.

Kemydian tudung saji, box buku, kipas, tempat tissu, tempat toples dan toples. Sedangkan lidi nipah dikembangkan menjadi anyaman lekar atau tempat nasi dan tempat buah. Para peserta juga diajarkan tentang metode pewarnaan tikar pandan.

Sehingga selama pelatihan itu dihasilkan secara langsung beberapa buah tas besar dan kecil, box buku tenpat toples.

Kemudian tudung saji ukuran besar dan ukuran kecil, toples kue, kipas tempat tissu, Lekar, keranjang buah dan lain-lain.

Edi berharap adanya pelatihan ini para peserta dapat mendesain anyaman tikar pandan dan lidi nipah menjadi berbagai produk kerajinan. Sehingga bisa menjadi pendapatan alternatif khususnya masyarakat wilayah tersebut.

Terlebih potensi bahan baku tersedia cukup banyak di wilayah itu.

Demi mendukung produk anyaman masyarakat itu Yayasan Palung membantu tiga mesin jahit untuk peserta dari Desa Padu Banjar, Nipah Kuning dan Desa Penjalaan.

Kemudian agar para peserta terus mendapatkan pembinaan.

Pelatihan Pengembagan Produk dan Desain Anyaman Tikar Pandan dan Lidi Nipah. Foto dok. Yayasan Palung

Pelatihan Pengembagan Produk dan Desain Anyaman Tikar Pandan dan Lidi Nipah. Foto dok. Yayasan Palung

Maka direncanakan kedepannya akan dilakukan audensi dengan Dinas Perindustrian Perdagangan UKM dan Koperasi Kabupaten Kayong Utara serta sama pihak terkait lainnya.

Artikel ini sebelumnya telah di terbitkan oleh tribunpontianak.co.id,  dengan judul : Peduli Produk Tradisional, Yayasan Palung Gelar Pelatihan Pengembangan Produk Tikar Pandan, http://pontianak.tribunnews.com/2018/04/11/peduli-produk-tradisional-yayasan-palung-gelar-pelatihan-pengembangan-produk-tikar-pandan  

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Terkait Lingkungan Hidup, Kadisdik Ketapang Apresiasi Program Yayasan Palung

Kepala Dinas Pendidikan Ketapang, H Jahilin, di ruang kerjanya. Foto dok. Tribun Pontianak

Kepala Dinas Pendidikan Ketapang, H Jahilin, di ruang kerjanya, Kamis (5/4). Foto dok. Tribun Pontianak

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Subandi 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KETAPANG – Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Ketapang, H Jahilin mengapresiasi dan berterimakasih kepada Yayasan Palung (YP). Lantaran sejak 2012 hingga 2018 komitmen mengkuliahkan para pelajar hingga 31 orang dan di antaranya dari Ketapang.

“Kita sangat mengapresiasi program YP tersebut apalagi terkait untuk keberlangsungan lingkungan hidup flora dan fauna,” kata Jahilin kepada wartawan di Ketapang, Kamis (5/4).

Ia menilai adanya progam itu berarti ada pelajar yang memang dididik dan arahkan untuk menjaga kelestarian alam.

“Apalagi sekarang hal itu sangat penting karena hutan kita semakin sedikit sehingga flora dan fauna terancam punah,” ucapnya.

“Jadi dengan adanya pelajar di Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara yang diberi beasiswa oleh YP tersebut. Harapan kita para pelajar ini nantinya bisa menyelamatkan keberlangsungan hidup flora dan fauna di daerah kita,” lanjutnya.

Ia berharap selain para pelajar yang dikuliahkan oleh YP tersebut. Pelajar lain dan masyarakat juga memiliki kesadaran untuk menjaga keberlangsungan hidup alam. “Misalnya menjaga kelestarian orangutan agar tidak punah nantinya,” tuturnya.

Artikel ini telah tayang di tribunpontianak.co.id dengan judul Terkait Lingkungan Hidup, Kadisdik Ketapang Apresiasi Program Yayasan Palung, http://pontianak.tribunnews.com/2018/04/05/terkait-lingkungan-hidup-kadisdik-ketapang-apresiasi-programyayasan-palung.
Penulis: Subandi
Editor: Jamadin

Sumber Berita : tribunpontianak.co.id
 

Sejak 2012, Total Pelajar Yang Dikuliahkan Yayasan Palung Sebanyak 31 Orang

Semua peserta seleksi BOCS saat mendengarkan pengumuman hasil seleksi

Semua peserta seleksi BOCS saat mendengarkan pengumuman hasil seleksi. Foto dok. YP

Sejak dimulainya Program Peduli Orangutan Kalimantan atau Bornean Orangutan Caring Scholarship (BOCS).

Khususnya program Penerimaan Beasiswa BOCS atau Besiswa Orangutan Kalimantan sejak 2012 silam.

Pada 2018 ini dengan diterimanya enam pelajar lagi maka total penerima beasiswa tersebut menjadi 31 orang. Ini diungkapkan Manager Program Pendidikan Lingkungan dan Media Kampanye YP, Mariamah Achmad.

Baca: Ini Nama-nama Penerima Beasiswa Orangutan Kalimantan Program YP

Di antaranya empat orang sudah sarjana dan selebihnya sedang aktif kuliah di (Untan) Universitas Tanjungpura Pontianak.

31 pelajar yang dikuliahkan melalui Program BOCS tersebut. 20 orang dari Ketapang dan 11 orang dari Kabupaten Kayong Utara.

“Mereka berasal dari berbagai daerah di dua kabupaten tersebut,” ungkapnya.

Baca: Ini Nama-nama Penerima Beasiswa Orangutan Kalimantan Program YP

Mariamah mengaku sangat senang mendapatkan enam pelajr lagi menjadi penerima beasiswa Program BOCS.

“Program ini sudah kami jalankan tujuh tahun. Jadi YP sangat peduli dengan peningkatan pendidikan generasi muda,” ujarnya.

Artikel ini telah tayang di tribunpontianak.co.id dengan judul Sejak 2012, Total Pelajar Yang Dikuliahkan Yayasan Palung Sebanyak 31 Orang, http://pontianak.tribunnews.com/2018/04/05/sejak-2012-total-pelajar-yang-dikuliahkanyayasan-palungsebanyak-31-orang.
Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Ada Enam Pelajar Penerima Beasiswa Orangutan Kalimantan Tahun ini

Saat seleksi beasiswa, peserta seleksi menyampaikan presentasi.JPG

Saat seleksi beasiswa, peserta seleksi menyampaikan presentasi. Foto dok. Yayasan Palung

Setelah melakukan seleksi, Yayasan Palung  resmi mengumumkan enam pelajar penerima beasiswa S-1 melalui Program Peduli Orangutan Kalimantan atau Bornean Orangutan Caring Scholarship (BOCS) 2018, pada 29 Maret lalu.

Penerima beasiswa Bornean Orangutan Caring Scholarship (BOCS) 2018 dari hasil seleksi tahap akhir yang dilaksanakan pada 29 Maret 2018 adalah:

  1. Mega Oktavia Gunawan (SMK Negeri 1 Ketapang): Fakultas Kehutanan Prodi Kehutanan
  2. Aisyah (SMA Negeri 1 Matan Hilir Utara): FISIP Prodi Hubungan Internasional
  3. Cantika Peggi Nur Iskandar Putri (SMK Negeri 1 Sukadana): Fakultas Hukum
  4. Ari Marlina (SMK Negeri 1 Ketapang): Fakultas Kehutanan Prodi Kehutanan
  5. Fitri Meliyana (SMA Negeri 3 Simpang Hilir): FMIPA Prodi Biologi
  6. Anju Eranti (SMA Negeri 1 Sandai): FISIP Prodi Hubungan Internasional

Enam penerima beasiswa  BOCS tersebut, sebelumnya terlebih dahulu telah melalui tahapan seleksi dari awal hingga seleksi akhir. Adapun sebagai juri dalam seleksi penerima beasiswa adalah Juri: Ir. Evy Wardenaar, M.P (Fahutan UNTAN), Dr. Wahyono, M.Pd (STAI AL-Hauld), Akhdiyatul, S.ST., M.T (Politeknik Ketapang) dan Mariamah Achmad S.Hut (Yayasan Palung).

Para juri seleksi beasiswa dan di tengah direktur Yayasan Pa.JPG

Para juri seleksi beasiswa dan di tengah direktur Yayasan Palung. Foto dok. YP

Seperti diketahui, Beasiswa Orangutan Kalimantan  atas dasar adanya kerjasama Yayasan Palung (YP) dan Orangutan Republik Foundation (OURF), sejak tahun 2012 silam.

Semua peserta seleksi BOCS saat mendengarkan pengumuman hasil seleksi.JPG

Semua peserta seleksi BOCS saat mendengarkan pengumuman hasil seleksi. Foto dok. YP

Direktur Yayasan Palung, Terri Lee Breeden mengatakan, Program BOCS adalah salah satu favorit saya yang diimplementasikan Yayasan Palung. Program ini bertujuan untuk menciptakan generasi pemuda berpendidikan universitas yang akan bekerja untuk konservasi. Tahun ini, proses seleksi sangat sulit. Kami memiliki banyak pelamar yang luar biasa.

Untuk para pemenang, saya ingin mengucapkan selamat. Saya berharap untuk melihat kerja keras dan semangat terhadap konservasi. Untuk yang lain, saya berharap kepada penerima beasiswa tetap melanjutkan pendidikan tinggi dan bekerja menuju konservasi dalam kehidupan sehari-hari Anda, imbuh Terri lagi.

Mariamah Achmad Manager Program Pendidikan Lingkungan dan Media Kampanye Yayasan Palung sekaligus yang menangani program BOCS mengatakan, Sejak dimulainya program BOCS pada tahun 2012 hingga 2018 sudah terdapat 31 orang penerima BOCS, diantaranya 4 orang sudah sarjana dan selebihnya sedang aktif kuliah. Mereka berasal dari berbagai daerah di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara yaitu 20 orang dari Kabupaten Ketapang dan 11 orang dari Kabupaten Kayong Utara.

“Kami sangat senang mendapatkan  enam orang lagi para penerima beasiswa dari program BOCS. Program ini sudah kami jalankan dalam 7 tahun ini. Yayasan Palung sangat peduli dengan peningkatan pendidikan generasi muda di tanah Kayong, sangat baik memperbanyak generasi muda yang peduli terhadap konservasi yang memiliki berbagai latar belakang disiplin ilmu. Ini merupakan salah satu investasi penting untuk masa depan alam dan lingkungan Indonesia”, ujar Mayi.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung