Category Archives: Laporan Umum

Ucapan Terima Kasih

Oleh2. Dok. YP.jpg

Oleh-oleh dari Disney Conservation FUND dan National Geographic

Kami dari Yayasan Palung  dan (Gunung Palung Orangutan Conservation Program) mengucapkan terima kasih kepada Disney Conservation FUND dan National Geographic atas oleh-olehnya berupa:

  • Buku
  • Baju
  • Topi
  • Pin
  • gantungan kunci
  • Note book dan Magnet Kulkas

 

Hendri Gunawan dari Yayasan Palung memakai topi dari Disney Conservation FUND.jpg

Hendri Gunawan dari Yayasan Palung memakai topi dari Disney Conservation FUND

Semoga semakin bermanfaat untuk konservasi alam liar (wild life).

 

Ini Kajadian Lingkungan yang Terjadi Sepanjang Tahun 2016 di Indonesia ?

 

Kabut asap yang melanda di Tanah Borneo berdampak juga pada satwa terlebih orangutan. foto Tim Laman

Kabut asap yang melanda di Tanah Borneo berdampak juga pada satwa terlebih orangutan dan makhluk hidup lainnya. Foto Tim Laman

Walaupun tahun 2016 telah berlalu dan tahun 2017 mulai berjalan, mungkin tidak ada salahnya bagi kita semua untuk melihat, mencatat, mengingat kembali peristiwa lingkungan yang terjadi sepanjang 2016 lalu di Indonesia yang tidak lain karena tidak terlepas dari campur tangan manusia.

Setidaknya dalam rentang waktu selama 12 bulan, di tahun 2016 banyak peristiwa berhadapan langsung (yang dialami secara langsung) dan tak langsung dengan kita semua di beberapa wilayah  Tanah Air (Indonesia).

Ragam kejadian tentang lingkungan yang terjadi berdasarkan beberapa catatan singkat yang terjadi di Indonesia antara lain adalah:

Pertama, Banjir di beberapa wilayah di Indonesia seperti yang terjadi pada periode Januari- Februari 2016 antara lain di Bali, Bangka Belitung, Banten, Daerah Istimewa Yogyakarta, DKI Jakarta, Gorontalo, Jambi, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Lampung, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Riau, Daerah Istimewa Aceh, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, dan Sumatra Selatan (sumber ; CCN Indonesia).  Beberapa tempat di beberapa wilayah yang menjadi langganan banjir pun tidak pelak menjadi kegaduan sekaligus peristiwa bencana air mata. Berulang dari bulan ke bulan hingga dari tahun ke tahun seolah banjir tak kunjung pergi. Bahkan di penghunjung tahun 2016, beberapa wilayah di Bandung banjir seolah enggan pergi.

banjir-foto-dok-kompas-ismail-zakaria

Banjir. Foto dok. Kompas/Ismail Zakaria

Bisa jadi ada benarnya bila banjir datang tak lain dikarenakan daya tampung air telah penuh (resapan air) berupa hutan sudah semakin jauh berkurang ataupun bahkan sudah hilang. Selain juga karena saluran air tersumbat oleh semakin banyaknya sampah. Hadirnya banjir ataupun juga banjir bandang juga terkadang berbarengan dengan terjadinya  tanah longsor. Tidak jarang korban memakan korban jiwa serta harta.

Kedua, Kebakaran lahan yang menimbulkan Kabut Asap. Kabut asap yang masih terjadi di beberapa tempat seperti di Sumatera dan Kalimantan pada bulan Agustus tahun lalu walau tidah separah ketika pada tahun 2015 silam. Terjadinya kabut asap tidak lain karena adanya pembakaran lahan. Bahkan di tahun 2016, kepolisian Republik Indonesia telah menangkap 463 individu yang diduga pembakar hutan dan lahan. Jumlah itu meningkat drastis dari 2015, yaitu 196 orang (sumber ; BBC Indonesia). Lumpuhnya transportasi udara menjadi salah satu sebab dari terjadinya bencana kabut asap.

kobaran api di wilayah kecamatan sungai laur yg dijumpai, diperkirakan untuk perladangan atau perkebunan

kobaran api di wilayah kecamatan sungai laur yg dijumpai, diperkirakan untuk perladangan atau perkebunan. Foto dok. Yayasan Palung

Hal lainnnya juga yang tidak kalah terpengaruh dari dampak kabut asap adalah anak sekolah yang bersekolah, dampak dari adanya kabut asap peserta didik diliburkan. Selain juga negara kita kerap mendapat cap sebagai pengekspor asap. Adanya kabut asap tidak hanya mengganggu tetapi juga menghambat/menghentikan pendapatan bagi beberapa maskapai penerbagan dan yang pasti juga menjadi kerugian bagi para pelaku ekonomi ataupun juga masyarakat biasa yang beraktivitas sehari-hari. Sedangkan bagi anak sekolah, proses belajar mengajar di sekolah menjadi terganggu lagi-lagi karena asap. Semakin luas pembukaan lahan berskala besar menjadi tutupan hutan dari  tahun ke tahun semakin berkurang menjelang terkikis habis.

Selanjutnya keterancaman satwa di habitat hidupnya menjadi catatan penting pada tahun 2016, Misalnya, pada tahun 2016 saja berdasarkan data penyelamatan satwa yang dilakukan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat saja telah menyelamatkan 1053 Tumbuhan dan Satwa dilindungi dari tangan para kolektor, dan penjual ilegal. Tidak bisa disangkal, perburuan dan semakin menyempitnya habitat hidup satwa seperti orangutan, kelempiau, burung enggang, trenggiling dan tumbuhan endemik berupa hutan seperti kian menyempit, nyata terancam dan terjadi saat ini.

Anak orangutan yang dipelihara oleh masyarakat di Kec. Manis Mata, Ketapang. Foto YP

Pemiliharaan dan perburuan serta semakin menyempitnya habitat orangutan menjadi ancaman serius yang terjadi saat ini. Foto dok. Yayasan Palung

paruh-enggang-yang-diburu-oleh-para-pemburu_-foto-1-dok-yayasan-palung-nop-2014

Paruh Enggang yang diburu oleh para pemburu. Foto dok. Yayasan Palung, Nop 2014

Demikian juga nasib badak, harimau dan beberapa satwa lainnya tidak kalah terancam adalah burung surga (cendrawasih). Bahkan dari tahun ke tahun jumlah dari beberapa makhluk hidup yang disebutkan tersebut kian menurun populasinya (terancam punah).

Kejadian-kejadian (peristiwa) yang terjadi pada semua makhluk hidup sejatinya menjadi sebuah permenungan kita bersama untuk menjadi perhatian bagi semua. Jika lingkungan tempat kita berdiam aman, nyaman maka sudah sepatutnya kita untuk menghargai dan memperlakukan lingkungan hidup (bumi dan segala isinya) untuk kita perlakukan secara bijaksana.

Mengingat, bumi tempat kita hidup bersama beserta segala isinya menjadi sepatutnya untuk kita jaga, rawat dan lestarikan sebagai satu kesatuan makhluk hidup yang memberi dan menerima. Semoga di tahun 2017 lingkungan kita (bumi kita) bisa terjaga dengan baik dan kejadian-kejadian bencana bisa diminimalisir atau dapat dicegah dan tidak memakan korban jiwa dan segala makhluk dapat bernafas dengan lega di tempat hidupnya masing-masing.

Tulisan ini pernah dimuat di : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/apa-saja-kejadian-lingkungan-yang-terjadi-sepanjang-tahun-2016-di-indonesia_586b6d1ab77a61de061bcb6b

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Aku Lutung Merah, Rumahku di Rimba

foto-kelasi-di-tngp-rizal-alqadrie

Kelasi yag tinggal di hutan Gunung Palung. Foto Rizal Alqadrie

Haii… aku lutung merah, karena rambutku berwarna merah. Rimba raya atau hutan adalah rumahku. Tertawaku lebar dan sedikit nyaring, demikian aku dikatakan oleh banyak orang.

Aku tertawa katanya sich mirip tertawanya manusia. kak… kak… kak… kak… kak… kak… Berulang-ulang biasanya aku tertawa.

O iya, aku tinggal selalu beramai-ramai. Dengan beramai-ramai  atau berkelompok aku bisa dengan leluasa mencari makan dan bermain di rimba. Rimba tidak lain ialah hutan. Dalam satu  kelompokku biasanya kami berjumlah 8 ekor.

Biasanya juga, kami dipimpin oleh pejantan dewasa.  Aku memiliki ekor yang panjang lho, maka aku disebut kelompok monyet atau orang mengenalku lutung merah.

Makanan kesukaanku buah-buahan dan pucuk daun. Saban waktu dari pagi hingga menjelang senja aku menjelajah hutan untuk mengisi perutku ketika aku lapar dan saat aku ingin bermain dengan teman-temanku.

Kini, kami hidup semakin tidak aman dan tidak tentram. Kami sering diusir, diburu hingga ada yang tega membunuh kami.

Tidak hanya itu, rumah kami berupa hutan juga sudah semakin sedikit. Aku dan teman-temanku semakin terhimpit di tempat asal kami berdiam. Keberadaan kami di hutan Kalimantan memang belum terancam punah, tetapi kami dalam bahaya. Jumlah kami mungkin sedikit lebih banyak dari teman kami Pongo. Nama asliku adalah Kelasi, Presbytis rubicunda,itu nama latinku.

Aku tinggal dihutan bersama teman-temanku yang saling ramah dan bertegur sapa, biasanya kami bersama-sama mencari buah.

Hilangnya hutan menjadi kekhatiran kami hanya satu sekarang ini. Kami takut harus berpindah atau terusir. Karena, rumahku berupa hutan merupakan yang paling istimewa.

Mengapa rimba atau hutan sebagai rumah yang begitu istimewa?. Dari hutan, kami bisa memperoleh sumber makanan dengan gratis.

Demikian juga kata teman-temanku manusia, jika hutan bisa terjaga maka sumber air mereka bisa terus tersedia.

Karena, hutan yang merupakan rumah kami itu, sebagai sumber dari segala sumber kehidupan semua mahluk hidup.

Aku ingin, semua kita bisa bersama makhluk lainnya termasuk manusia bisa menjaga kami. Dengan demikian kita bisa hidup dengan damai dan bisa terus senang ria hutan rimba.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

 

Tulis ini juga dapat dilihat di link : http://fiksiana.kompasiana.com/pit_kanisius/aku-lutung-merah-rumahku-di-rimba_58355ba063afbd141258c467

PPO 2016 :Orangutan Kalimantan dan Sumatera Sangat Terancam Punah, Ini yang Yayasan Palung Bisa Lakukan

foto-bersama-setelah-kegiatan-ppo-2016-di-sman-1-sungai-laur

Foto bersama setelah kegiatan PPO 2016, di SMAN 1 Sungai Laur. Foto Yayasan Palung

Dalam Rangka Pekan Peduli Orangutan 2016, dengan mengusung tema “Critically Endangered and Critically In Need atau Terancam Punah dan Sangat Membutuhkan Perhatian”.

http://pontianak.tribunnews.com/2016/11/11/orangutan-terancam-punah-di-hutan-kalimantan-dan-sumatera

Rangkaian kegiatan PPO yang dimulai dari tanggal 13 hingga 19 November 2016 seperti;
– Lomba pembuatan komik orangutan bagi siswa SMA/MA yang ada di Kec. Delta Pawan Ketapang dan Puppet Show dan perpustakaan keliling oleh relawan Tajam Yayasan Palung.

relawan-tajam-puppet-show-dan-perpustakaan-keliling-dalam-kegiatan-ppo-2016-foto-dok-yp

Relawan Tajam puppet show dan perpustakaan keliling dalam kegiatan PPO 2016 . Foto dok. YP

relawan-rebonk-saat-melakukan-aksi-long-march-foto-dok-yp

Relawan RebonK saat melakukan aksi long march. Foto dok. YP

– Relawan RebonK dan Penerima beasiswa orangutan (BOCS) melakukan long march dan Baksos untuk membrsihkan sampah di sepanjang jalan dari Tugu Durian ke sekitar taman dan sekitar Masjid. sedangkan penerima BOCS melakukan pawai dari GOR, Stadion SSA sampai Bundaran Bambu di Kota Pontianak yang pada hari Minggu, (13/11) pukul 06.30 hingga 11.00 WIB. Kegiatannya seperti orasi, pembacaan puisi dan pembacaan syair gulung.

dsc_0214

Penerima Beasiswa BOCS melakukan aksi dalam kegiatan PPO 2016. Foto Yayasan Palung dan BOCS

membaca-syair-gulung-dan-kampanye-ttg-orangutan

Membaca syair gulung dan kampanye tentang orangutan. Foto Yayasan Palung
Kemudian Tim Pendidikan Lingkungan dan Media Kampanye Yayasan Palung mengadakan Ekspedisi Pendidikan ke Kecamatan-kecamatan di Ketapang. Seperti PPO 2016 kegiatan bersamaan dengan Ekspedisi Pendidikan Lingkungan di Kecamatan Sungai Laur (di Desa Sinar Kuri) dan Kecamatan (di Desa Mekar Raya) Simpang Dua.

sebelum-pemutaran-film-kami-menyempatkan-untuk-menyampaikan-materi-tentang-satwa-dilindungi-foto-dok-yayasan-palung

Sebelum pemutaran film, kami menyempatkan untuk menyampaikan materi tentang satwa dilindungi. Foto dok. Yayasan Palung

Inilah sebagian pesan dari siswa di SMAN 1 Sungai Laur. Foto dok. Yayasan Palung.JPG

Inilah sebagian pesan dari siswa di SMAN 1 Sungai Laur. Foto dok. Yayasan Palung

saat-pemutaran-film-lingkungan-di-desa-sinar-kuri-foto-dok-yayasan-palung

Salah satu pesan dari kreasi menggambar dan pesan untuk hutan dan orangutan dari siswa-siswi SMAN 1 Sungai Laur. Foto dok. Yayasan Palung.JPG

Salah satu pesan dari kreasi menggambar dan pesan untuk hutan dan orangutan dari siswa-siswi SMAN 1 Sungai Laur. Foto dok. Yayasan Palung

_MG_2571.JPG

Edward Tang saat memberikan materi dan diskusi tentang manfaat dari hutan bagi kehidupan. Foto Yayasan Palung

_MG_2608.JPG

Foto bersama masyarakat di Desa Sinar Kuri, Kec. Sungai Laur. Foto Yayasan Palung

Baca selengkapnya juga tulisan tentang kegiatan Pekan Peduli Orangutan 2016 di beberapa tempat yang Yayasan Palung lakukan : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/orangutan-sangat-terancam-punah-di-desa-ini-orangutan-terakhir-terlihat-tahun-1980-an_58342981537a61220ba8867a

#OrangutanCaringWeek2016 #PPO2016 #YayasanPalung #Orangutan#OCW2016

 

Memperingati Pekan Peduli Orangutan 2016, Yayasan Palung Akan Adakan Serangkaian Kegiatan

Baner PPO 2016.png

Banner PPO 2016

Tahun ini, untuk memperingati Pekan Peduli Orangutan (PPO) 2016, Yayasan Palung mengetengahkan tema; Critically Endangered and Critically In Need (Terancam Punah dan Sangat Membutuhkan Perhatian). Setidaknya tema ini menjadi tanda keprihatinan tentang keberadaan hidup dan tempat orangutan di alamnya saat ini, di hutan Kalimantan dan Sumatera.

Adapun rangkaian kegiatan PPO 2016 kali ini bertujuan untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat tentang status keterancaman Orangutan di alam liar saat ini. Selain itu juga mengajak masyarakat untuk peduli terhadap pelestarian dan habitat orangutan.

Adapun Rangkaian kegiatan yang akan Yayasan Palung dilaksanakan dalam kegiatan PPO kali ini dimulai dari tanggal 13 hingga tanggal 19 November 2016. Selain Yayasan Palung, Rangkaian kegiatan lainnya juga akan dilakukan oleh Relawan Konservasi Tajam di Ketapang,  Relawan REBONK di Kayong Utara, Penerima Beasiswa Orangutan (BOCS) yang sedang studi di Pontianak.

Relawan Konservasi Taruna Penjaga alam (RK-Tajam) Yayasan Palung akan mengadakan lomba pembuatan komik, dengan tema “Upaya Pelestarian Perlindungan Terhadap Orangutan dan Habitatnya yang Terancam Punah”. Siswa-Siwi SMA/MA/SMK di Kec. Delta Pawan. Maksimal diwakili 3 orang perwakilan dari setiap sekolah di Wilayah Kota Ketapang. Kompetisi komik ini dilaksanakan pada hari Senin, 14 – 17 November 2016. Pengumpulan komik dan biodata diri pada Jumat, 18 November 2016, di Kantor Yayasan Palung, Jl. Kolonel Sugiono, Gg. H. Tarmizi No.05, Kelurahan Sampit, Kec. Delta Pawan, Kab. Ketapang.

Sedangkan Relawan REBONK,  pada tanggal 13 November 2016 akan mengadakan rangkaian kegiatan di Sukadana, Kabupaten Kayong Utara. Rencananya Relawan REBONK bersama beberapa perwakilan dari  dari SMKN 1 Sukadana, SMK Al-Aqwam, SMAN 1 dan SMAN 2 Sukadana akan mengadakan Orasi dan Long march dari Siduk Menuju Tugu Durian, selanjutnya melakukan aksi Treatrikal. Dilanjutkan dengan kegiatan Bakti Sosial dengan membersihkan sampah di sepanjang jalan dari Tugu Durian, Sekitar Taman hingga Pantai Pulau Datok. Diperkirakan akan dihadiri oleh peserta kurang lebih 50 orang dalam kegiatan ini.

Tidak hanya itu, Penerima Beasiswa Orangutan (BOCS) yang sedang studi di Pontianak juga akan melakukan kegiatan hampir serupa. Kegiatan Pawai dari GOR, Stadion SSA sampai Bundaran Bambu. Kegiatan rencananya dilaksanakan pada hari Minggu, 13 november 2016 pukul  06.30 wib -11.00 Wib. Adapun rangkaian acara adalah seperti; Orasi, Pembacaan puisi dan Pembacaan syair gulung.

Selain itu, Tim Pendidikan Lingkungan dan Media Kampanye  Yayasan Palung mengadakan Ekspedisi Pendidikan ke Kecamatan-kecamatan di Lingkup wilayah Ketapang dan KKU. Seperti PPO 2016 yang kegiatan bersamaan dengan Ekspedisi Pendidikan Lingkungan di Kecamatan Sungai Laur dan Kecamatan Simpang Dua. Hal ini dilaksanakan sebagai bentuk ajakan, kepedulian bersama melalui kampanye penyadartahuan dan Pendidikan  kepada masyarakat dan pihak sekolah dengan rangkaian kegiatan yang dilakukan di bulan November ini. Adapun bentuk kegiatan, Diskusi Masyarakat, Lecture (ceramah lingkungan), puppet show (panggung boneka)  di sekolah dan pemutaran film lingkungan serta kegiatan puncak Pekan Peduli Orangutan 2016 di Kecamatan Sungai Laur pada tanggal 18 November 2016.

Direktur Yayasan Palung Terri Breeden, mengatakan;  pada kegiatan PPO tahun 2016, Yayasan Palung berharap dan mengajak melalui pendidikan konservasi dan kampanye penyadartahuan kepada masyarakat tentang spesies orangutan yang sangat terancam punah, semoga ada kesadaran dan kepedulian lebih dari kita semua. Lebih lanjut, Terri, demikian ia disapa menegaskan, Yayasan Palung ingin menampilkan aksi lokal bagi orang untuk secara aktif melindungi hutan hujan untuk orangutan, tetapi juga untuk diri mereka sendiri.

Semoga kegiatan Pekan Peduli Orangutan 2016 bisa berjalan sesuai rencana dan mendapat sambutan baik dari masyarakat.

OCW_PPO 2016.jpg

Banner OCW 2016

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

 

Tim Laman Menjadi Pemenang Fotografer Satwa Liar Tahun 2016

tim-laman-saat-menerima-penghargaan-wildlife-photographer-of-the-year-2016-foto-dok-cvfznkbxgaausgd-58088da0be22bd7451632b7e

Tim Laman Saat Menerima penghargaan Wildlife Photographer of the Year 2016. Foto dok. CvFZNkbXgAAuSGd

Foto orangutan yang sedang memanjat kayu ara atau pohon beringin (Ficus) di Kawasan Taman Nasional Gunung Palung. Orangutan itu bernama Net. Kegagahannya Net memanjat pohon itulah yang berhasil diabadikan seorang fotografer satwa liar (alam liar) Tim Laman dan foto tersebut mengantarkan Pak Tim, demikian dia disapa sehari-hari menjadi pemenang fotografer satwa liar tahun 2016. Mengabadikan banyak foto tentang keindahan alam dan satwa memang telah lama dilakoni oleh Tim Laman.

orangutan-yang-memanjat-pohon-di-hutan-hujan-gunung-palung-foto-inilah-yang-menghantarkan-tim-laman-sebagai-pemenang-dok-tim-laman

Orangutan yang memanjat pohon di hutan hujan Gunung Palung. Foto inilah yang menghantarkan Tim Laman sebagai pemenang dok. Tim Laman

Untuk Membaca lebih lanjut artikel ini, selengkapnya dapat dilihat dilink : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/potret-orangutan-indonesia-bawa-fotografer-natgeo-raih-penghargaan_58088eae707a61251e4d8b4d

Pelatihan Membangunan Manajemen Hutan Secara Berkelanjutan dengan Pemanfaatan Tanaman Gaharu dari Hasil Budidaya yang Memiliki Potensi Nilai Tinggi

Pel. Gaharu (26)

Para peserta pelatihan gaharu sangat serius mendengarkan penjelasan dari pemateri pelatihan. Foto dok. Yayasan Palung

Tanaman Gaharu merupakan produk Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yang saat ini sudah mulai langka terutama Gaharu Alam. Ini akibat maraknya perburuan gaharu alam karena besarnya permintaan pasar. Bahkan orang-orang yang tidak berkompeten ikut memburu gaharu alam menyebabkan pohon gaharu yang tidak menghasilkan gaharu juga ikut ditebang dan tidak diimbangi dengan penanaman kembali. Bahkan kawasan hutan yang sudah banyak berubah menjadi areal perkebunan dan pertambangan juga menjadi faktor penyumbang kelangkaan gaharu Alam ini. Masyarakat tidak bisa lagi mengandalkan gaharu alam ini untuk memenuhi permintaan pasar sebab semakin langkanya gaharu alam serta adanya regulasi atau aturan yang menetapkan gaharu sebagai species dilindungi dan masuk dalam apendiks II yang tidak boleh diperdagangkan.

Untuk memenuhi tingginya permintaan pasar ini maka salah satu cara yang ditempuh adalah dengan mendorongnya masyarakat untuk membudidayakan tanaman gaharu. Untuk mendorong serta menggalakan budidaya gaharu ini maka melalui Dinas Kehutanan dan Perkebunan kabupaten Kayong Utara bekerjasama dengan Universitas Tanjungpura Pontianak dan Yayasan Palung mengadakan pelatihan kepada masyarakat sekitar kawasan hutan dengan melibatkan beberapa desa di kecamatan Sukadana, kecamatan Simpang Hilir serta beberapa Mahasiswa Magang dari Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura. Pelatihan ini mengambil tema “Membangun Manajemen Hutan Secara Berkelanjutan Dengan Pemanfaatan Tanaman Penghasil Gaharu Hasil Budidaya” yang dilaksanakan di Aula Pembibitan Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Kayong Utara, pada 11-12 Agustus 2016, pekan lalu.

Pel. Gaharu (41)

Peserta pelatihan melakukan inokulan (penyuntikan) pada gaharu. Foto dok. Yayasan Palung

Peserta yang diundang dalam pelatihan ini khususnya peserta dari Kecamatan Simpang Hilir Berkaitan adalah anggota Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) dan tokoh masyarakt dari Desa Penjalaan, Desa Nipah Kuning, Desa Pemangkat, Desa Pulau Kumbang dan Desa Padu Banjar. Desa-desa ini menjadi wilayah dampingan Yayasan Palung dalam program Hutan Desa dan pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK). Tak kurang, 40 orang peserta yang ikut dalam pelatihan tersebut.

Materi pelatihan ini disampaikan oleh Bapak Abdul Mu’in, Bapak Burhanuddin, Bapak Sudirman Mu’in, Ibu Dwi Astiani, Ibu Wiwik Ekyastuti, Ibu Emi Roslinda. Semua Fasilitator tersebut merupakan pengajar (Dosen) Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura. Materi yang disampaikan adalah terkait Teknik budidaya tanaman gaharu, hama tanaman penghasil gaharu, teknik pembentukan gubal gaharu, pemanenan dan penanganan pasca panen. Selain materi tersebut, juga disampaikan materi tentang hasil analisis vegetasi dan survey sarang Orangutan di kawasan Hutan Lindung Sungai Paduan yang disampaikan langsung oleh Yayasan Palung. Sekilas dari hasil survei, memastikan di darah tersebut (Sungai Paduan) merupakan salah satu habitat orangutan.

Pel. Gaharu (81).JPG

Para peserta pelatihan saat mendengaran pemaparan materi dari pemateri pelatihan. Foto dok. Yayasan Palung

Untuk lebih memahami bagaimana memperoleh gubal gaharu maka langsung dilakukan praktek Penyuntikan pohon gaharu.  Dalam praktek ini para peserta diajarkan langsung bagaimana melakuan penyuntikan pada pohon gaharu untuk memperoleh gubal gaharu (baik melakukan pengeboran di batang gaharu, kedalaman lubang pengeboran, jarak antar lubang di batang gaharu serta memasukan cairan inokulan serta bahan-bahan apa saja yang perlu disiapkan sebelum melakukan penyuntikan pada pohon gaharu.

Menurut Edi Rahman, dengan pelatihan ini diharapkan para peserta termasuk anggota LPHD dapat memahami bagaimana tehnik budidaya Gaharu, Mengetahui hama apa saja yang menyerang tanaman gaharu serta cara mengatasinya, bagaimana memperoleh gubal gaharu (gubal gaharu adalah kayu berwarna kehitaman dan mengandung resin khas yang dihasilkan oleh sejumlah spesies pohon dari marga/genus Aquilaria, terutama A. Malaccensis). Resin ini digunakan dalam industri wangi-wangian (parfum dan setanggi) karena berbau harum pada tanaman Gaharu. Bagaimana penanganan pasca panen terutama terkait pasaran dan nilai jualnya. Namun yang tidak kalah penting adalah dengan adanya pelatihan ini diharapkan anggota LPHD dapat membudidayakan tanaman gaharu karena sangat cocok dan mudah dibudidayakan di wilayah Kabupaten Kayong Utara, yang merupakan salah satu sumber altenatif pendapatan masyarakat karena memiliki nilai ekonomis dan harga tinggi serta peluang pasar yang besar. Saat ini seperti diketahui, ada beberapa negara yang menjadi pengimpor gaharu diantaranya seperti Saudi Arabia, Kuwait, Turki, Yaman, Amerika Serikat, Uni Emirat Arab, Singapura dan Jepang. (Tim PPS Yayasan Palung).

Malam Keakraban Keluarga Besar Yayasan Palung (GPOCP)

IMG_3109

Foto bersama Keluarga Besar Yayasan Palung (GPOCP). Foto dok. Yayasan Palung

IMG_3080.JPG

Cheryl Knott menyerahkan buku kepada Cassie Freund sebagai ucapan terima kasih dan kenang-kenangan. Foto dok. Yayasan Palung.

Senin (1/8/2016) kemarin, Keluarga besar Yayasan Palung makan malam bersama bertempat di Cafe Culinary, Ketapang.

Sebenarnya ini acara rutin yang diakan setiap tahun setiap kunjungan Direktur Eksekutif Yayasan Palung, DR. Cheryl Knott ke Indonesia. kekhususan dari makan malam kali ini adalah, Cheryl membawa seluruh keluarganya yaitu suaminya Tim Laman yang juga berulang tahun yang ke 55 pada malam itu, dan kedua anaknya yaitu Russel dan Jessica.

IMG_3032

Malam keakraban sekaligus merayakan Ulang tahun Tim Laman. Foto dok. Yayasan Palung 

Selain itu momen ini juga merupakan penyambutan terhadap Triana selaku Direktur Lapangan dan Terri selaku Direktur Program Yayasan Palung (YP) yang baru, menggantikan Ibu Cassie Freund yang sekaligus serah terima jabatan di YP pada malam itu secara resmi.

Cassie Freund selanjutnya akan melanjutkan pendidikan Strata-III  (S3) dan kembali ke Amerika. Adapun suasana makan malam sekaligus malam keakraban bersama ini bercampur aduk, ada gembira, haru sekaligus sedih.

Dalam sanbutannya, Cassie menyampaikan pesan kepada semua kawan-kawan agar semakin maju dan terus semangat dalam membangun Yayasan Palung di tahun-tahun mendatang. Sedangkan Ibu Cheryl mengucapkan terima kasih kepada Cassie yang telah melaksanakan tugas dengan baik selama memimpin Yayasan Palung.

Selain itu juga, dari beberapa staf menyampaikan pesan dan kepada Cassie selama kepemimpinannya yang boleh dikata sangat membantu dalam hal perbaikan-perbaikan dan terobosan baru bagi Yayasan Palung. Hampir semua keluarga besar Yayasan Palung hadir dalam acara tersebut.

By : Mayi & Edi- Yayasan Palung

Mengenal Satwa: Si Lutung Merah yang Cantik dan Dilindungi dari Kalimantan

Kelasi. Foto dok. gunungpalungnationalpark

 

Memiliki bulu berwarna kemerahan dan memiliki wajah berulas (bantalan pipi berkerut) kebiruan, memiliki jambul pendek sedikit berdiri. Sedidaknya itu yang menjadi ciri khusus dari salah satu spesies primata yang ada di Kalimantan, Indonesia.

Satwa yang disebut juga dengan nama lutung merah, yang dalam bahasa latinnya Presbytis rubicunda dan  termasuk keluarga (famili) Cercopithecidae.

Di seluruh wilayah hutan Kalimantan dan beberapa diantaranya terdapat di Sabah, Malaysia merupakan habitat hidup dari Satwa ini.

Menariknya lagi ciri khusus dari satwa ini, sewaktu masih bayi memiliki warna keputih-putihan dengan bercak hitam pada bagian bawah punggung dan melintang sebahu.

Seperti diketahui, biasanya lutung memiliki buru merah yang cantik. Hidup dari satwa ini adalah berkelompok, dalam satu kelompok 7-8 ekor dan dengan satu ekor jantan dewasa.

Sepanjang hari, kelasi atau lutung merah biasanya beraktivitas dan aktif di siang hari atau dalam kata lain termasuk satwa diurnal.

Si lutung merah, habitat hidupnya hutan-hutan primer dan sekunder. Tidak jarang mereka keluar dari hutan kemudian memasuki kawasan dan pemukiman warga untuk mencari makan apabila hutan tempat mereka berdiam telah rusak atau berkurang.

Adapun makanan favorit dari kelasi adalah dedaunan muda dan biji-bijian. Tidak jarang pula masyarakat yang memiliki kebun berbatasan langsung dengan kawasan hutan,  si lutung merah dianggap binatang nakal dan hama yang merusak tanaman mereka.

Ada cerita unik tentang kelasi di kalangan masyarakat di daerah Kayong (KKU dan Ketapang), Kalbar, Konon kalau menertawakan kelasi mengakibatkan cuaca menjadi hujan panas, namun cerita ini tidak terkonfirmasi sejak kapan mulanya beredar.

Sampai saat ini, keberadaan populasi lutung merah  di alam liar dari hari ke hari semakin terancam dikarenakan  beberapa penyebab utama seperti pembukaan lahan lahan berskala besar, kebakaran hutan, perburuan dan perdagangan satwa liar.

Sementara itu, perlindungan kelasi di Indonesia mengacu pada UU no 5 tahun 1990, tentang Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem, pasal 21 ayat 2 dan pasal 40 ayat 2. yang menyatakan; Dilarang menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memilihara, mengangkut, dan memperniagakan atau memperjualbelikan satwa dilindungi atau bagian-bagian lainnya dalam keadaan hidup atau mati, tertuang dalam (Pasal 21 ayat 2). Barangsiapa dengan sengaja melakukan pelanggaran sebagaimana ketentuan dimaksud akan dikenakan penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak 100 juta rupiah (pasal 40 ayat 2).

Selain itu juga, dalam Perundang-undangan Indonesia, kelasi dilindungi berdasarkan SK Mentan No. 247/Kpts/Um/4/1979 dan Peraturan Pemerintah  no. 7 tahun 1999.

Sedangkan dalam daftar Internasional, IUCN (International Union Conservation Nature), kelasi masuk dalam daftar resiko rendah( Lower Risk/least concern-LR/lc atau Apendiks II).

Semoga saja, kelasi si lutung merah dapat hidup dengan aman dan nyaman di habitatnya di pulau Kalimantan.

Sumber tulisan dari : Majalah Informasi Satwa (Majalah MiaS) Yayasan Palung, Buku Saku Pedoman jenis-jenis satwa liar yang dilindungi di Kalimantan dan dari berbagai sumber.

Baca juga tulisan di  http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/si-lutung-merah-yang-cantik-dan-dilindungi-dari-kalimantan_57a019078e7e61060cf0960b        

By : Petrus Kanisius- Yayasan Palung

   

 

Laporan Tahunan Yayasan Palung 2015

Laporan tahunan YP 2015

Laporan tahunan Yayasan Palung (GPOCP), tahun 2015

Berikut laporan tahunan Yayasan Palung (GPOCP) 2015 ;
terkait program-program dan kegiatan yang Yayasan Palung lakukan, dapat dilihat di :
http://pub.lucidpress.com/GPOCP-2015-Bahasa/