Category Archives: Laporan Umum

Berikut Ini Daftar Tumbuhan dan Satwa di Indonesia yang Dilindungi

 

 

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Keterangan  Foto: Enggang dan Orangutan merupakan satwa yang Sangat Terancam  di habitatnya (hutan). Foto dok. Yayasan Palung

Sebanyak 1.771 jenis burung di dunia diketahui berada di Indonesia, bahkan 562 jenis di antaranya berstatus dilindungi. Status ini ditetapkan berdasarkan Peraturan Menteri LHK No. P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018, tentang Jenis Tumbuhan Satwa yang Dilindungi, yang terbit pada tanggal 29 Juni 2018.

Selain jenis burung, dalam peraturan tersebut juga tercantum jenis lain yang dilindungi, yaitu 137 jenis mamalia, 37 jenis reptil, 26 jenis insekta, 20 jenis ikan, 127 jenis tumbuhan, 9 jenis dari krustasea, moluska dan xiphosura, serta satu jenis amfibi, sehingga total ada 919 jenis.

Berikut daftar nama satwa yang dilindungi oleh Undang-Undang, Baca dan klik di : Daftar-Satwa-dan-Tumbuhan-Dilindungi-P20-2018

Selain itu, ada juga 10 Satwa yang terancam punah yang ada di Indonesia,

Berikut nama 10 satwa tersebut :

  1. Orangutan Kalimantan dan Sumatera

Orangutan merupakan salah satu bangsa kera yang sangat mirip dengan manusia. Di seluruh dunia, jumlah orangutan terus berkurang. Hingga saat ini, hanya tersisa sekitar 55 ribu individu saja. Banyak di antaranya yang hidup di pulau Kalimantan dan 200 lainnya di Sumatera.

Jumlah orangutan yang terus menurun diakibatkan populasi mereka yang membutuhkan hutan lebat. Tak hanya itu, habitat mereka direbut oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab untuk pembukaan lahan paksa.

  1. Komodo  di Pulau Komodo

Pada tahun 2017, jumlah spesies kadal raksasa ini hanya sekitar 3.012 ekor saja. Angka ini sudah termasuk peningkatan dari jumlah di tahun-tahun sebelumnya. Karena kelangkaannya, pemerintah menjadikan pulau Komodo di Nusa Tenggara Timur menjadi taman nasional dan habitat asli komodo.Salah satu yang membuat komodo sulit berkembang biak adalah proses perkawinan mereka.

  1. Penyu

Ada 7 spesies penyu, 6 spesies penyu diantanya hidup di Indonesia. Karena banyaknya spesies penyu yang berhasil hidup di Indonesia, pemerintah juga melindungi hewan ini dengan membuatkan penangkaran di berbagai daerah. Di antaranya adalah di pulau Tanjung Benoa-Bali, Kepulauan Seribu, dan Lombok.

Untungnya, masyarakat di Indonesia percaya bahwa penyu merupakan hewan pembawa keberuntungan. Sehingga, mereka juga banyak membantu dalam pemeliharaan penyu.

      4.Tarsius tarsier

Tarsius tarsier, primata langka yang hidup di Sulawesi dan Kalimantan. Primata ini memiliki ciri bertubuh kecil berwarna cokelat dengan mata besar, dan senang bergelantungan di ranting pohon mirip seperti koala. Tarsius tidak bisa menjejakkan kakinya di tanah, karena dia terus melompat dari satu pohon ke pohon yang lain.

Aksi pembukaan lahan hutan secara ilegal membuat populasi hewan ini makin berkurang. Alhasil, pemerintah menjadikan hewan kecil ini dilindungi. Tarsius dapat dijumpai di hutan-hutan yang ada di Sulawesi.

  1. Harimau Sumatera

Harimau Sumatera diperkirakan punah pada 2050. Paling mengkhawatirkan karena terancam punah, jumlah sub spesies harimau Sumatera hanya sekitar 300-400 saja yang hidup di alam bebas. Banyaknya pembukaan lahan kelapa sawit secara ilegal membuat habitat harimau terganggu. Bahkan, populasinya diperkirakan akan musnah pada 2050 jika dibiarkan.

  1. Badak Bercula Satu

Badak bercula satu merupakan satu dari lima spesies badak yang masih hidup di dunia. Di pulau Jawa, hewan ini hanya dapat ditemui di Taman Nasional Badak daerah Ujung Kulon, Banten. Karena dulunya banyak yang memburu culanya, jumlah spesies badak ini terus menurun. Kini hanya tersisa 50-60 ekor saja.

  1. Burung Cenderawasih

Burung cenderawasih, satwa kebanggaan khas Papua. Meski telah banyak dikirim keberbagai negara, keempat jenis burung cendrawasih hanya dapat ditemukan di Papua. Wisata pemantauan burung cendrawasih dapat dikunjungi pada Isio, Jalan Korea, dan Gantebang yang berada di distrik Nimbokrang, Kabupaten Jayapura.

  1. Anoa

Di Sulawesi, kamu bisa melihat Anoa, banteng terkecil di dunia. Anoa juga memiliki nama julukan yang diberikan masyarakat sekitar, yakni sapiutan. Artinya sapi yang hidup di hutan. Karena masih satu family dengan banteng, kecepatan berlarinya mencapai 10 km/jam.

Anoa memiliki sepasang tanduk yang menyerupai banteng. Hanya saja, ukuran anoa jauh lebih kecil dibandingkan banteng pada umumnya. Sayangnya, banyak pihak yang tak bertanggung jawab memburu hewan ini untuk dikonsumsi.

Kini, populasi anoa di Sulawesi hanya tersisa sekitar 2.469 ekor saja. Hal ini membuat anoa menjadi salah satu satwa yang dilindingi pemerintah Indonesia. Ada pun habitat hidupnya di hutan yang masih perawan, yakni di daerah Gunung Ambang.

  1. Burung Maleo

Spesies burung maleo hidup di dataran rendah dan perbukitan Sulawesi. Maleo senkawor masih sering dijumpai di daerah Gorontalo. Namun, jumlahnya tidak banyak, hanya sekitar 10.000 ekor saja. Menurunnya populasi maleo dikarenakan ukuran telurnya yang sangat besar, yakni 5 kalinya dibanding telur ayam.

Hal ini membuat banyak yang tertarik untuk mengambilnya. Untungnya, setelah dinobatkan menjadi satwa yang dilindungi, populasi burung ini mulai meningkat secara perlahan.

  1. Corak merak

Corak merak yang colorful  hanya ada di Jawa dan Sumatera. Merak memang dapat ditemui di Malaysia dan India. Hanya saja, ada yang berbeda dengan merak di Jawa dan Sumatera. Mereka memiliki bulu yang lebih berwarna dan sedap dipandang.  Di beberapa negara, merak hanya memiliki satu corak saja, seperti biru atau hijau. Sedangkan di Indonesia, coraknya lebih beragam, salah satunya merak putih.

Meski bukan pejabat pemerintahan, kita sebagai warga negara yang baik harus turut serta menjaga habitat dan ekosistem mereka dengan baik. Jangan sampai mereka punah di tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab.

“Terdapat penambahan daftar jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi dalam P.20/2018, yaitu sebanyak 241 jenis atau 26 persen dari daftar yang tercantum dalam lampiran Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 1999 (PP.7/1999), tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa,” jelas Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Wiratno dalam keterangan tertulis, Selasa (7/8/2018).

Masyarakat dapat menghubungi Call Center Direktorat KKH Gedung Manggala Wanabhakti Blok VII Lantai 7 Jalan Jenderal Gatot Subroto, Jakarta (telepon: 081315003113).

Tulisan diolah dari berbagai sumber

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Iklan

Survei Bentang Alam Daya Dukung Daya Tampung Kabupaten Kayong Utara di 8 Desa

 

IMG_20181029_153502

Saat tim survei (Perkim LH, Bapeda KKU dan YP melakukan Ground Check di lokasi. Foto dok : Yayasan Palung

Untuk membantu menyelesaikan draft akhir kajian DDDT Kabupaten Kayong Utara 2018, Yayasan Palung dan Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (PerkimLH) Kabupaten Kayong Utara melakukan Ground Check (survei lapangan) di 8 lokasi desa, yang dilaksanakan selama 3 hari (29 – 31 Oktober 2018) kemarin.

IMG_20181029_153610

Saat tim survei (Perkim LH, Bapeda KKU dan YP melakukan Ground Check di lokasi. Foto 2 dok : Yayasan Palung

Bersama Tim DDDT KKU yang lain (Dinas LH, Pihak Konsultan dan Bapeda KKU). Lokasi survei ada 8 lokasi di Kecamatan Seponti, Simpang Hilir, Sukadana dan Teluk Batang. Kajian Daya Dukung dan Daya Tampung (DDDT) Kabupaten Kayong Utara 2018. DDDT ini merupakan salah satu bagian dari strategi Yayasan Palung (YP) untuk bekerjasama dan mendukung langsung Pemerintah Daerah KKU dalam menjalankan rencana pembangunan daerah yang searah dengan visi dan misi  Yayasan Palung.

Hal ini dibuktikan dalam draft dokumen akhir DDDT ini, Yayasan Palung berperan menjadi sumber data untuk mengisi poin keanekaragaman hayati dan memperlihatkan langsung sebaran orangutan yang ada diluar kawasan.

Disamping itu, Yayasan Palung juga akan berperan dalam penguatan peran komunitas atau masyarakat untuk analisis jasa pangan dan jasa lingkungan di Kabupaten Kayong Utara. Inilah yang kemudian yang saya sebut sebagai strategi dalam mendorong kebijakan pemerintah yang pro dan tepat sasaran terhadap konservasi orangutan dan masyarakat setempat.

IMG_20181030_144636

Saat tim survei (Perkim LH, Bapeda KKU dan YP melakukan Ground Check di lokasi. Foto 3 dok : Yayasan Palung

Dokumen DDDT ini menjadi salah satu dokumen strategis pemerintah daerah untuk menentukan RPJMD/ Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah selama per 5 tahun. Sederhananya, apabila konservasi orangutan dan habitatnya masuk dalam Dokumen DDDT maka secara hukum, RPJMD wajib menyusun rencana pembangunan yang tidak melanggar acuan DDDT karena pelanggaran tersebut akan masuk dalam kategori korupsi.

Dengan demikian, maka DDDT akan mendorong pemerintah daerah untuk menerapkan pembangunan yang berkelanjutan/SDG’s (Sustainable Development Goals), karena nasib orangutan dan masyarakat lokal secara langsung ada ditangan pemerintah daerah, bukan pemerintah pusat.

Penulis : Wendy F. Tamariska dan Syahik Nur Bani- Yayasan Palung

Rayakan Hari Orangutan Internasional 2018, Yayasan Palung Lakukan Ragam Kegiatan untuk Menjaga Si Petani Hutan Melalui Budaya

Cerita tentang satwa dilindungi saat IOD 2018 (2).JPG

Relawan Tajam  Yayasan Palung Bercerita tentang satwa dilindungi saat acara IOD 2018 di Citimall Ketapang pada (19/8), kemarin. Foto dok : Yayasan Palung

Minggu (19/8/2018) kemarin, Dunia Internasional  memperingati Hari Orangutan Internasional atau International Orangutan Day (IOD)/ atau biasanya disebut juga World Orangutan Day (WOD)/Hari Orangutan Sedunia 2018. Tahun ini, Yayasan Palung bersama para relawan untuk bersama mengajak  untuk peduli terhadap si petani hutan (orangutan), salah satunya melalui budaya.

Dalam gelaran untuk merayakan hari orangutan internasional 2018 kemarin, Yayasan Palung bersama para relawan Tajam, RebonK dan Penerima Beasiswa Orangutan Kalimantan (BOCS) menyelenggarakan berbagai kegiatan yang dilaksanakan di Citimall Ketapang, diantaranya seperti panggung boneka (puppet show) yang disuguhkan oleh relawan Tajam, penampilan teater dari relawan Bentangor, dan lomba Syair gulung di tingkat Sekolah Dasar.

teater saat IOD.JPG

Aksi teatrikal (teater) yang ditampilkan oleh Relawan RebonK Yayasan Palung saat acara Hari Orangutan Internasional (19/8), kemarin. Foto dok : Yayasan Palung

Ada pun tema yang diketengahkan oleh Yayasan Palung pada Hari Orangutan Internasional tahun 2018 adalah; “Menjaga Si Petani Hutan Melalui Budaya”, Si Petani hutan yang dimaksud pun tidak lain adalah orangutan.  Menjaga si petani hutan melalui budaya menjadi satu ajakan kepada semua pihak untuk peduli terkait nasib dari orangutan saat ini karena berbagai ancaman yang ada pada satwa endemik tersebut.

Kegiatan dimulai pada pukul 13.00 Wib, dibuka secara resmi oleh Direktur Yayasan Palung. Ragam rangkaian kegiatan seperti perlombaan Syair Gulung, diselang seling dengan adanya suguhan penampilan panggung boneka (puppet show) yang bercerita tentang kehidupan satwa liar di hutan seperti orangutan, burung enggang dan bekantan. Orangutan sebagai satwa yang sangat terancam punah, dan burung enggang sebagai satwa penyebar biji (si petani hutan). Sedangkan bekantan merupakan satwa endemik yang hanya hidup di pulau Kalimantan saja.

Sedangkan atraksi aksi teatikal (teater) bercerita tentang menjaga  kehidupan di hutan. Dalam teater tersebut, relawan RebonK mengajak menjaga hutan  peninggalan nenek moyang. Sebagai tokoh dalam cerita, Pak Amat yang di Perankan oleh Egi, RebonK sebagai sosok penjaga hutan yang bijaksana serta tidak tergoda dengan bujuk rayu dan berhasil menangkal segala ancaman yang datang seperti penebangan liar atau pun ilegal loging dan perburuan liar live music  dari Egi’s & Friend yang menampilkan lagu-lagu tentang lingkungan.

Egi's and Friend band saat mengisi acara IOD.JPG

Egi’s and Friend band saat mengisi acara IOD 2018. Foto dok : Yayasan Palung

Pada perlombaan Syair Gulung, peserta lomba melantunkan syarir gulung yang merupakan bagian dari budaya. Peserta lomba syair sebagian besar menyampaikan pesan kepada khalayak (masyarakat luas) dan ajakan terkait pesan-pesan moral lingkungan, dan kecintaan mereka tanpa harus memiliki atau memilihara satwa dilindungi. Sebagai Pemenang pertama dalam lomba Syair Gulung adalah Uti Al Faldan, dari MIN Ketapang. Sedangkan pemenang kedua adalah Girink Clara Belo dari SDN 05 Delta Pawan, pemenang ketiga Syarif Levi Nasira Sahab dari SDN 04 Benua Kayong dan pemenang keempat adalah Safitri  Kirani dari SDN 20 Delta Pawan. Untuk hadiah, para pemenang mendapatkan hadiah berupa paket hadiah, plakat dan sertifikat.

peserta lomba berfoto bersama.JPG

Peserta lomba berfoto bersama setelah pengumuman lomba Syair Gulung dalam acara IOD 2018. Foto dok : Yayasan Palung

Sebagai juri dalam perlombaan Syair Gulung di tingkat Sekolah Dasar dalam rangka IOD 2018 tersebut adalah Raden Abdillah dan Wijaya.

Dalam kata sambutannya, Direktur Program Yayasan Palung, Terri Lee Breeden mengatakan; “Acara kami yang diadakan di Citi Mall untuk International Orangutan Day 2018 adalah sukses besar”.

Selain itu lebih lanjut menurut Terri, Ia merasa terkesan pada kapasitas para kelompok relawan, yang mana para relawan muda kami bekerja untuk mengatur dan melakukan pertunjukan yang hebat. Kami menjangkau khalayak luas dan dapat menyampaikan pesan tentang ancaman yang dihadapi orangutan saat ini dan apa yang dapat kita semua lakukan untuk membantu melindungi mereka dan habitat hutan mereka. Saya ingin berterima kasih kepada semua orang atas kerja keras mereka dan menantikan acara seperti ini di tahun-tahun mendatang’’, ujar Terri lagi.

Winda Lestari, Relawan Tajam angkatan pertama sekaligus sebagai ketua panitia kegiatan IOD 2018 mengatakan;  Kegiatan seperti ini (IOD/WOD 2018) sangat bagus sekali dilakukan karena rangkaian kegiatan sudah menjadi aksi kampanye untuk satwa yang dilindungi seperti perlombaan syair gulung pun tersaji dan tersirat pesan moral konservasi. Selain itu juga syair gulung menjadi aksi yang nyata melalui budaya.

Sementara itu, Junardi dari Mahasiswa penerima Beasiswa BOCS mengatakan, kegiatan hari orangutan internasional yang diselenggarakan sudah berjalan dengan sukses, berharap di tahun-tahun mendatang kegiatan seperti ini bisa lagi diselenggarakan dengan peserta yang lebih banyak dan di tempat-tempat yang strategis agar bisa menjangkau masyarakat.

Pada kegiatan tersebut, terlihat antusias dari para tamu undangan dan para peserta lomba yang ikut ambil bagian dalam acara IOD tersebut. Pada malam harinya, Yayasan Palung bersama para relawan dan Mahasiswa BOCS melakukan pemutaran film lingkungan di Citimall. Ada pun film lingkungan yang diputar sebagai media penyadartahuan/kampanye  dan hiburan kepada pengunjung. Ada pun film  yang di putar antara lain adalah film Asimetris, film Indonesia Diambang Kepunahan dan film Sampah Man.

Saat pemutaran film lingkungan dalam rangka IOD 2018 di Citimall Ketapang sebagai upaya kampanye penyadartahuan  (1).jpg

Saat pemutaran film lingkungan dalam rangka IOD 2018 di Citimall Ketapang sebagai upaya kampanye penyadartahuan kepada masyarakat luas. Foto dok : Yayasan Palung

Lewat IOD/WOD 2018 ajakan kepada semua untuk peduli pada satwa lebih khusus orangutan dan satwa dilindungi lainnya. Selain juga merupakan satu cara penyampaian kampanye penyadartahuan kepada masyarakat luas untuk ikut berperan serta ambil bagian berperan dan berharap ada semangat yang semakin tumbuh dari semua pihak untuk semakin peduli pada nasib hutan dan satwa sebelum terlambat. Berharap Si Petani Hutan bisa lestari hingga nanti. Semua rangkaian kegiatan Hari orangutan Internasional 2018 berjalan sesuai rencana dan sukses.

berfoto bersama setelah selesai kegiatan IOD atau WOD 2018.JPG

Berfoto bersama setelah selesai kegiatan IOD atau WOD 2018. Foto dok : Yayasan Palung

Sebelumnya berita terkait kegiatan Hari Orangutan Internasional (International Orangutan Day/IOD) 2018 yang digelar/dilakukan Yayasan Palung, dimuat di Tribun Pontianak online :

http://pontianak.tribunnews.com/2018/08/23/rayakan-peringatan-iod-2018-yp-gelar-beragam-kegaiatan-di-citimall-ketapang

Rekaman Radio di Radio GS tentang feature hari orangutan internasional 2018 di link :

https://soundcloud.com/yayasan-palung/feature-radio-gs-tentang-kegiatan-hari-orang-utan-sedunia-2018-dirayakan-oleh-ypmp3

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

 

 

Ajari Cara Kreatif Kepada Anak-anak untuk Memanfaatkan Sampah

IMG-20180713-WA0007

Anak-anak yang tergabung dalam Bentangor Kids terlihat bersemangat membuat kreasi barang bekas berupa kardus untuk dijadikan topi (12/7) kemarin di Bentangor, Yayasan Palung. Foto dok. Yayasan Palung

Banyak cara kreatif yang bisa dilakukan untuk memanfaatkan sampah secara bijaksana menjadi barang bermanfaat, seperti yang dilakukan beberapa orang anak yang tergabung dalam Kelompok Bentangor Kids, di Kantor Yayasan Palung Bentangor Pampang Center, Sukadana, KKU, Kalbar, Kamis (12/7/2018) kemarin.

Ya, Kelompok Bentangor Kids belajar sembari bermain, mereka berhasil membuat kreasi dengan cara mengolah sampah menjadi barang-barang bermanfaat tidak terkecuali seperti topi.

Terlihat, mereka sangat asyik menggunting dan mengukur, dan diantaranya juga ada yang menempel (merekatkan) lem pada bagian-bagian dan sisi-sisi kardus yang telah dirancang dengan berbagai bentuk topi, topi-topi hasil kreasi mereka yang telah dibuat selanjutnya dipercantik dengan ikatan pita agar terlihat menarik. Topi yang terbuat dari kardus pun selesai mereka kerjakan. Topi kardus, ya karena topi-topi yang mereka buat tersebut terbuat dari kardus.

Anak-anak yang tergabung dalam Kelompok Bentangor Kids, mereka rela meluangkan waktu dan tenaga untuk bersama-sama belajar sembari bermain sekaligus  memanfaatkan sampah dari sisa-sisa kardus yang tidak terpakai lagi itu selanjutnya mereka olah menjadi topi yang bagus, menarik dan bisa dipakai/digunakan walau hanya terbuat dari kardus.

IMG-20180713-WA0010

Seorang anak dari Kelompok Bentangor Kids terlihat tertawa lepas karena ia berhasil membuat topi. Foto dok. Yayasan Palung

Dari hasil kreasi dan kreatif mereka (Bentangor Kids) terciptalah topi yang cantik dan menarik yang setidaknya bisa melindungi kepala dari teriknya mata hari ketika bermain.

Tidak disangka, sampah dari sisa-sisa rumah tangga ternyata bisa dimanfaatkan dan diolah dengan berbagai cara kreatif seperti ini, kata Simon Tampubolon, selaku pembimbing dan pembina anak-anak Bentangor Kids.

Lebih lanjut menurut Simon, dengan memanfaatkan barang-barang bekas dan mengolah (mendaurnya) menjadi sesuatu yang bermanfaat, maka persoalan sampah lebih khusus sampah rumah tangga bisa diminimalisir dan sudah sepatutnya cara mereka seperti ini untuk diikuti sebagai langkah bersama peduli dengan persoalan sampah yang selama ini belum juga kunjung usai.

Mengingat, persoalan sampah yang ada saat ini memang memerlukan cara kreatif bagaimana untuk mengolahnya. Apa lagi persoalan  hingga kini pun belum kunjung usai, ditambah lagi oleh prilaku oknum tertentu yang enggan dan empati tanpa peduli. Banyak diantara kita di Indonesia yang acuh-tak acuh dengan sampah, salah satunya membuang sampah sembarangan tanpa peduli dan tanpa melihat dampak atau pun peluang (manfaat) dari sampah itu apa sejatinya.

Saat mereka berkreasi membuat topi yang terbuat dari kardus, mereka didampingi oleh kakak-kakak mereka dari RebonK (relawan Yayasan Palung) dan dari Yayasan Palung.

Hal lainnya pula, persoalan sampah bisa dikatakan sudah menjadi tugas bersama siapa pun itu untuk saling bahu membahu mencari cara untuk kreatif dan bijaksana dengan persoalan.

Berharap, semoga ada lagi kreasi-kreasi lainnya yang bisa diciptakan oleh anak-anak ini salah satunya  dengan cara sederhana dan kreatif seperti ini benar-benar bisa diikuti oleh siapa saja, dengan demikian secara tidak langsung pula peduli dengan lingkungan sekitar dan memilihara bumi setidaknya dengan cara-cara seperti ini.

IMG-20180712-WA0007

Mereka terlihat senang memakai topi hasil dari kreasi mereka sendiri. Foto dok. Yayasan Palung

Semoga saja cara-cara kreatif seperti yang dilakukan oleh anak-anak dari Kelompok Bentangor Kids ini bisa diikuti oleh yang lainnya seusianya.

Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di Kompasiana : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/5b4845e1cf01b45f610dbe33/ajari-cara-kreatif-kepada-anak-anak-untuk-memanfaatkan-sampah

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

 

 

“Yum Kite Budidaye Ikan”, Petani Sejahtera dan Hutan Terjaga

Para peserta yang mengikuti pelatihan budidaya ikan air tawar dan air payau. Foto dok. Yayasan Palung

Para peserta yang mengikuti pelatihan budidaya ikan air tawar dan air payau. Foto dok. Yayasan Palung

Judul di atas menjadi salah satu cara atau ajakan kepada masyarakat untuk melakukan sesuatu, salah satunya lewat pelatihan dasar budidaya ikan air tawar dan air payau yang dilakukan selama 3 hari (3-5/7/2018) kemarin, di Kantor Yayasan Palung, Bentangor Pampang Center, KKU, Kalbar.

Yum Kite Budidaye Ikan merupakan bahasa lokal atau bahasa Melayu masyarakat di Kayong Utara  yang kurang lebih artinya; Ayo Kita Budidaya Ikan. Ya, ajakan tersebut dilakukan oleh Yayasan Palung kepada masyarakat sebagai salah satu cara agar masyarakat (lebih khusus petani) mampu mencari cara pendapatan alternatif tanpa harus merusak hutan.

Peserta terlihat serius ketika mendengarkan penjelasan dari narasumber tentang budidaya ikan air tawar dan air payau. Foto dok. A. Samad, YP

Peserta terlihat serius ketika mendengarkan penjelasan dari narasumber tentang budidaya ikan air tawar dan air payau. Foto dok. A. Samad, YP

Seperti diketahui, penghasilan petani pasti dari hasil bertani (berladang dan berkebun sayur) dan pasti itu memerlukan lahan yang cukup banyak. Budidaya ikan air tawar dan air payau merupakan selain sebagai alternatif pendapatan masyarakat, juga sebagai langkah untuk mengurangi aktivitas masyarakat membuka lahan.

merupakan suatu cara yang bisa dilakukan oleh masyarakat dengan biaya yang cukup murah. Mengapa dikatakan cukup murah, jika ingin memilihara ikan tidak mesti harus mengeluarkan banyak biaya, kolam yang bisa digunakan untuk budidaya ikan air tawar dan air payau adalah Kolam buatan, seperti kolam terpal dengan biaya terbatas atau pun kolam permanen seperti kolam tanah atau pun kolam semen jika mampu dengan biaya cukup besar.

Sedangkan untuk bibit, Petani akan di bantu oleh Yayasan Palung untuk menjebatani dan mendistribusikan bantuan bibit dari Dinas Perikanan dan Yayasan Palung sendiri akan memberikan bantuan bibit, ujar Abdul Samad , staf dari tim SL Yayasan Palung.

Lebih lanjut Samad, demikian ia disapa sehari-hari mengatakan; Dari dinas perikanan KKU akan membantu dan mensuport kepada petani budidaya ikan dalam hal kebutuhan yang diperlukan dalam budidaya ikan, dengan menggunakan proposal. Selanjutnya juga  dinas perikananan akan membantu kapan saja  kepada petani jika berkeinginan melakukan budidaya ikan memerlukan bantuan teknis dari dinas perikanan akan siap.

“Sedangkan dari dinas lingkungan hidup, akan membantu dan mendukung dari segi pengelolaan dalam dampak terhadap lingkungan seperti : uji Ph air dan tanah (menguji tingkat keasaman tanah).

Dalam pelatihan budidaya ikan tersebut hadir sebagai pemateri adalah Samson Tarigan dari Sumatra Utara. Pada kesempatan tersebut, peserta diberikan pelatihan bagaimana cara membudidayakan ikan yang baik.

Peserta ketika melakukan praktek budidaya ikan air tawar dan air payau. Foto dok. A. Samad, YP

Peserta ketika melakukan praktek budidaya ikan air tawar dan air payau. Foto dok. A. Samad, YP

Pada kesempatan tersebut pula, peserta pelatihan diajak untuk praktek budidaya ikan nila di kolam milik masyarakat yaitu pak Azhari dan ikan lele di kolam pak Jamhuri.

Peserta yang ikut hadir dalam pelatihan dasar budidaya air tawar dan air payau tersebut diikuti oleh 15 orang yang tediri dari masyarakat dari Desa Pampang, Desa Harapan Mulia dan desa pangkalan buton. Selain itu juga ada 2 orang peserta dari Dinas Perikanan Kab. Kayong Utara, dan 2 orang dari Dinas Lingkungan Hidup, KKU dan 5 orang dari Yayasan Palung.

“Pada pelatihan budidaya ikan air tawar dan air payau tersebut, mendapat respon yang sangat baik dari para peserta pelatihan, bahkan mereka berencana akan membuat kolam ikan”, ujar F. Wendi Tamariska selaku manager program Sustainable Livelihood (SL) Yayasan Palung sekaligus penggagas adanya pelatihan budidaya ikan tersebut.

Lebih lanjut menurut Wendi, demikian ia disapa sehari-hari mengatakan; Berharap, semakin banyak masyarakat yang berkeinginan untuk melakukan budidaya ikan air tawar. Mengingat, selain memiliki manfaat ekonomis (bisa dijual) juga bisa sebagai penambah gizi yang menyehatkan dan gratis. Selain juga dengan cara budidaya ikan air tawar seperti ini menjadi satu cara agar mengurangi aktifitas masyarakat di hutan (membuka) lahan, dengan adanya budidaya. Yum kite budidaye ikan!, masyarakat sejahtera dan hutan terjaga, tuturnya lagi.

Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di Kompasiana : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/5b4dc3beab12ae014425d2f5/yum-kite-budidaya-ikan-petani-sejahtera-hutan-terjaga

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

 

Membuat Racun Rumput dengan Campuran Air Kelapa dan bahan lainnya

WhatsApp Image 2018-06-28 at 15.14.23

Asbandi, kamis (28/6) kemarin, ketika membuat racun rumput dengan bahan air kelapa dan bahan lainnya. Foto dok : Yayasan Palung

Ada cara efektif untuk mengurangi biaya belanja. Salah satunya dengan membuat racun rumput dengan campuran air kelapa dan bahan lainnya.

Cara ini dilakukan oleh Asbandi dari tim SL Yayasan Palung , ia bersama Wawan Angriandi  yang juga dari Yayasan Palung membuat racun rumput  dengan mencampurkan air kelapa dan ragi dan dipermentasikan minimal dua minggu (semakin lama lebih baik).

Berikut bahan-bahan untuk membuat racun rumput :

  • 1 liter racun roundup
  • 5 liter air kelapa
  • Garam; 2,5 ons
  • 1 botol cuka makan
  • Ragi : 2 bungkus besar ragi (200 biji ragi); terlebih dahulu ragi ditumbuk hingga halus.

Semua bahan-bahan tersebut dicampur dan diaduk pada suatu wadah atau tempat hingga merata. Selanjutnya, racun rumput ditutup rapat (dipermentasikan). Setelah 2 minggu racun rumput dengan campuran air kelapa siap untuk dipakai.

Cara penggunaan racun rumput :

Racun tumput tersebut dapat digunakan untuk membasmi rumput, kita terlebih dahulu menakar/mencampurkan 3 gelas racun  dengan air untuk 1 tangki penyemprot.

Untuk takaran 1 liter indukan racun rumput dapat digunakan pada lahan 1 hektar sawah yang telah dibuka (sawah jadi).

Pit-Yayasan Palung

 

Manfaat Pohon Beringin Tak Terkira, tapi Dapat “Mematikan”

Rangkong badak atau rhinoceros hornbill (Buceros rhinoceros) sedang memakan buah Ficus stupenda. Foto dok. Tim Laman dan Yayasan Palung

Rangkong badak atau rhinoceros hornbill (Buceros rhinoceros) sedang memakan buah Ficus stupenda. Foto dok. Tim Laman dan Yayasan Palung

Memiliki banyak manfaat bagi kehidupan tetapi ada juga yang bisa merenggut kehidupan. Tidak bisa dielakkan, tidak sedikit makhluk hidup terbantu dan bisa bertahan hidup karena tumbuhan ini. Lalu pertanyaannya, tumbuhan apakah itu?

Kebanyakan orang menyebutnya kayu ara, atau nama ilmiahnya disebut Ficus spp., disebut fig trees atau figs dalam bahasa Inggris. Di Indonesia banyak sekali penamaan untuk pohon ini. Selain kayu ara, ada yang menyebutnya pohon beringin, kayu are atau keraye di Kalimantan Barat, lebih khusus di Tanah Kayong (sebutan untuk Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara).

Tumbuhan ini memiliki banyak manfaat bagi kehidupan mulai dari akar-akarnya bisa menampung air untuk mahluk hidup, hingga buahnya sebagai sumber pakan bagi burung enggang maupun jenis burung-burung kecil lainnya. Monyet dan orangutan juga gemar menyantap buahnya….

Tulisan ini sebelumnya dimuat di Kompasiana, Baca Selengkapnya : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/5b029c05f13344379c7b1b02/pohon-ini-memiliki-manfaat-tak-terkira-untuk-kehidupan-tetapi-ada-juga-yang-membunuh

Petrus Kanisius- Yayasan Palung

Puisi:  Cerita dan Pesanku Ibu Bumi untuk Anak Cucuku

Bumi sebagai ibu dan rumah bersama yang sudah semakin sakit. Foto dok. bobo.id

Bumi sebagai ibu dan rumah bersama yang sudah semakin sakit. Foto dok. bobo.id

Aku (ibu bumi) terlahir dititahkan Sang Pencipta sebagai Ibu

Ibu yang menjaga anak-anaknya

alam semesta raya itu awalnya aku

Sebagai ibu aku tak lupa memberi ruang dan nafas kepada segala makhluk

Aku sebagai titipan Ilahi diberi mandat

Aku jalankan mandat itu

Tetapi entah mengapa, terkadang aku dilahirkan tak serta merta merasa

Merasa memilikiku sebagai ibu ? ,

Tingkah polah dari sekian banyak anak dan cucuku, kalian terkadang pongah kepadaku.

Sakit derita itu sudah pasti, namun kutahan, ku mencoba bertahan semampuku, kurasakan saja.

Waktu terus berlalu, umurku sudah semakin tua menjelang renta,

Sikap peduli dari anak-anakku kurasa tak sebanding dari derita yang kurasa,

Tetapi, biarlah kurasakan saja semampuku,

Bila dikata bebanku sudah semakin berat, jawabanku; iya benar adanya demikian.

Rambut di kepalaku sudah semakin gugur dan memutih, tak tertahan karena uban diusiaku yang sudah semakin menua.

Belum lagi kutu-kutu loncat yang terus menggerogoti kepalaku. Terkadang sisiran rambutku disisir, namun aku tak suka rambutku disisir serapi itu. Aku lebih suka tak bersisir sama sekali karena aku ingin apa adanya.

Dulu semasa mudaku rambutku terurai panjang dan bisa melindungi anak cucuku ketika panas.

Sakit penyakit jua sering ku dengarkan dari anak cucuku terkadang mereka sulit mengambil air, sulit bercocok tanam dan tak mudah lagi berdiam dan berlindung karena rambut ibu tak lagi seperti dulu bisa melindungi.

Jika boleh dikata, sakitku kini sudah semakin banyak (penyakitku sudah komplikasi). Kepalaku yang sudah semakin sakit karena rambutku tak lagi mampu bertahan, terkadang berguguran. Demam panas sering juga kurasakan. Jantung dan hatiku pun sudah terasa sakitnya. Aku hanya takut jika aku serangan jantung tiba-tiba. Maag kronisku pun tak kalah hebatnya, sakit sekali rasanya. Rasa ditikam-tikam

Terkadang, tak terasa aku muntah-muntah. Karena perutku sudah semakin banyak cacing yang menggerogoti. Terkadang pula ku hanya bisa menangis saja akan nasibku ini.

Berharap anak cucuku yang masih punya rasa kasih sayang kepadaku untuk bisa meramu obat pereda sakitku. Karena aku rasa sakitku sudah semakin sulit sembuh namun masih ada harap aku ingin sembuh dari sakit penyakit yang kuderita. Aku hanya berpesan, jaga dan rawatlah aku semampu kalian anak cucuku. Dengan merawatku pula kalian bisa ku rawat. Karena aku hanya ingin senyum bahagia bersama kalian anak cucuku dan melihatku dan menemaniku di masa tuaku. Ku berharap pula semoga umurku panjang sehingga aku juga bisa melihat tidak hanya anak cucu, tetapi cicit-cicitku nanti.

Ketapang, Kalbar, 09/05/2018

Tulisan ini sebelumnya dimuat di Kompasiana : Pesan Ibu Bumi untuk Anak Cucu

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Peduli Produk Lokal, Yayasan Palung Adakan Pelatihan Pengembangan Produk Tikar Pandan

Ibu Ida mengajak peserta pelatihan untuk berkreasi pengembagan produk dan desain anyaman tikar pandan. Foto dok. Yayasan Palung

Ibu Ida mengajak peserta pelatihan untuk berkreasi pengembagan produk dan desain anyaman tikar pandan. Foto dok. Yayasan Palung

Yayasan Palung bersama Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF) dan pihak terkait lainnya menyelenggarakan pelatihan.

Khususnya mengenai pengembangan produk dan desain anyaman tikar pandan dan lidi nipah.

Kegiatan dilaksanakan tiga hari di Desa Penjalaan Kecamatan Simpang Hilir Kabupaten Kayong Utara belum lama ini.

Pesertanya 22 orang yakni enam orang laki-laki dan 16 perempuan.

Ketua UKM Ida Craff, Saparida menjadi faslitator pengembangan produk dan anyaman tikar pandan. Sedangkan fasilitator pengembangan anyaman lidi nipah adalah Darwani AnggotaPengarin Kelompok Karya Sejahtera.

Pak Darwani saat menunjukkan cara menganyam lekar kepada ibu-ibu peserta pelatihan. Foto dok. Yayasan Palung

Bapak Darwani saat menunjukkan cara menganyam lekar kepada ibu-ibu peserta pelatihan. Foto dok. Yayasan Palung

Manager Program Perlindungan Satwa (PPS) Yayasan Palung, Edi Rahman, mengatakan pada kegiatan ini para peserta diajarkan mengembangkan anyaman tikar pandan. Selanjutnya dijadikan berbagai produk kerajinan lain seperti tas.

Kemydian tudung saji, box buku, kipas, tempat tissu, tempat toples dan toples. Sedangkan lidi nipah dikembangkan menjadi anyaman lekar atau tempat nasi dan tempat buah. Para peserta juga diajarkan tentang metode pewarnaan tikar pandan.

Sehingga selama pelatihan itu dihasilkan secara langsung beberapa buah tas besar dan kecil, box buku tenpat toples.

Kemudian tudung saji ukuran besar dan ukuran kecil, toples kue, kipas tempat tissu, Lekar, keranjang buah dan lain-lain.

Edi berharap adanya pelatihan ini para peserta dapat mendesain anyaman tikar pandan dan lidi nipah menjadi berbagai produk kerajinan. Sehingga bisa menjadi pendapatan alternatif khususnya masyarakat wilayah tersebut.

Terlebih potensi bahan baku tersedia cukup banyak di wilayah itu.

Demi mendukung produk anyaman masyarakat itu Yayasan Palung membantu tiga mesin jahit untuk peserta dari Desa Padu Banjar, Nipah Kuning dan Desa Penjalaan.

Kemudian agar para peserta terus mendapatkan pembinaan.

Pelatihan Pengembagan Produk dan Desain Anyaman Tikar Pandan dan Lidi Nipah. Foto dok. Yayasan Palung

Pelatihan Pengembagan Produk dan Desain Anyaman Tikar Pandan dan Lidi Nipah. Foto dok. Yayasan Palung

Maka direncanakan kedepannya akan dilakukan audensi dengan Dinas Perindustrian Perdagangan UKM dan Koperasi Kabupaten Kayong Utara serta sama pihak terkait lainnya.

Artikel ini sebelumnya telah di terbitkan oleh tribunpontianak.co.id,  dengan judul : Peduli Produk Tradisional, Yayasan Palung Gelar Pelatihan Pengembangan Produk Tikar Pandan, http://pontianak.tribunnews.com/2018/04/11/peduli-produk-tradisional-yayasan-palung-gelar-pelatihan-pengembangan-produk-tikar-pandan  

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Terkait Lingkungan Hidup, Kadisdik Ketapang Apresiasi Program Yayasan Palung

Kepala Dinas Pendidikan Ketapang, H Jahilin, di ruang kerjanya. Foto dok. Tribun Pontianak

Kepala Dinas Pendidikan Ketapang, H Jahilin, di ruang kerjanya, Kamis (5/4). Foto dok. Tribun Pontianak

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Subandi 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KETAPANG – Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Ketapang, H Jahilin mengapresiasi dan berterimakasih kepada Yayasan Palung (YP). Lantaran sejak 2012 hingga 2018 komitmen mengkuliahkan para pelajar hingga 31 orang dan di antaranya dari Ketapang.

“Kita sangat mengapresiasi program YP tersebut apalagi terkait untuk keberlangsungan lingkungan hidup flora dan fauna,” kata Jahilin kepada wartawan di Ketapang, Kamis (5/4).

Ia menilai adanya progam itu berarti ada pelajar yang memang dididik dan arahkan untuk menjaga kelestarian alam.

“Apalagi sekarang hal itu sangat penting karena hutan kita semakin sedikit sehingga flora dan fauna terancam punah,” ucapnya.

“Jadi dengan adanya pelajar di Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara yang diberi beasiswa oleh YP tersebut. Harapan kita para pelajar ini nantinya bisa menyelamatkan keberlangsungan hidup flora dan fauna di daerah kita,” lanjutnya.

Ia berharap selain para pelajar yang dikuliahkan oleh YP tersebut. Pelajar lain dan masyarakat juga memiliki kesadaran untuk menjaga keberlangsungan hidup alam. “Misalnya menjaga kelestarian orangutan agar tidak punah nantinya,” tuturnya.

Artikel ini telah tayang di tribunpontianak.co.id dengan judul Terkait Lingkungan Hidup, Kadisdik Ketapang Apresiasi Program Yayasan Palung, http://pontianak.tribunnews.com/2018/04/05/terkait-lingkungan-hidup-kadisdik-ketapang-apresiasi-programyayasan-palung.
Penulis: Subandi
Editor: Jamadin

Sumber Berita : tribunpontianak.co.id