Category Archives: Laporan Umum

Peduli Produk Lokal, Yayasan Palung Adakan Pelatihan Pengembangan Produk Tikar Pandan

Ibu Ida mengajak peserta pelatihan untuk berkreasi pengembagan produk dan desain anyaman tikar pandan. Foto dok. Yayasan Palung

Ibu Ida mengajak peserta pelatihan untuk berkreasi pengembagan produk dan desain anyaman tikar pandan. Foto dok. Yayasan Palung

Yayasan Palung bersama Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF) dan pihak terkait lainnya menyelenggarakan pelatihan.

Khususnya mengenai pengembangan produk dan desain anyaman tikar pandan dan lidi nipah.

Kegiatan dilaksanakan tiga hari di Desa Penjalaan Kecamatan Simpang Hilir Kabupaten Kayong Utara belum lama ini.

Pesertanya 22 orang yakni enam orang laki-laki dan 16 perempuan.

Ketua UKM Ida Craff, Saparida menjadi faslitator pengembangan produk dan anyaman tikar pandan. Sedangkan fasilitator pengembangan anyaman lidi nipah adalah Darwani AnggotaPengarin Kelompok Karya Sejahtera.

Pak Darwani saat menunjukkan cara menganyam lekar kepada ibu-ibu peserta pelatihan. Foto dok. Yayasan Palung

Bapak Darwani saat menunjukkan cara menganyam lekar kepada ibu-ibu peserta pelatihan. Foto dok. Yayasan Palung

Manager Program Perlindungan Satwa (PPS) Yayasan Palung, Edi Rahman, mengatakan pada kegiatan ini para peserta diajarkan mengembangkan anyaman tikar pandan. Selanjutnya dijadikan berbagai produk kerajinan lain seperti tas.

Kemydian tudung saji, box buku, kipas, tempat tissu, tempat toples dan toples. Sedangkan lidi nipah dikembangkan menjadi anyaman lekar atau tempat nasi dan tempat buah. Para peserta juga diajarkan tentang metode pewarnaan tikar pandan.

Sehingga selama pelatihan itu dihasilkan secara langsung beberapa buah tas besar dan kecil, box buku tenpat toples.

Kemudian tudung saji ukuran besar dan ukuran kecil, toples kue, kipas tempat tissu, Lekar, keranjang buah dan lain-lain.

Edi berharap adanya pelatihan ini para peserta dapat mendesain anyaman tikar pandan dan lidi nipah menjadi berbagai produk kerajinan. Sehingga bisa menjadi pendapatan alternatif khususnya masyarakat wilayah tersebut.

Terlebih potensi bahan baku tersedia cukup banyak di wilayah itu.

Demi mendukung produk anyaman masyarakat itu Yayasan Palung membantu tiga mesin jahit untuk peserta dari Desa Padu Banjar, Nipah Kuning dan Desa Penjalaan.

Kemudian agar para peserta terus mendapatkan pembinaan.

Pelatihan Pengembagan Produk dan Desain Anyaman Tikar Pandan dan Lidi Nipah. Foto dok. Yayasan Palung

Pelatihan Pengembagan Produk dan Desain Anyaman Tikar Pandan dan Lidi Nipah. Foto dok. Yayasan Palung

Maka direncanakan kedepannya akan dilakukan audensi dengan Dinas Perindustrian Perdagangan UKM dan Koperasi Kabupaten Kayong Utara serta sama pihak terkait lainnya.

Artikel ini sebelumnya telah di terbitkan oleh tribunpontianak.co.id,  dengan judul : Peduli Produk Tradisional, Yayasan Palung Gelar Pelatihan Pengembangan Produk Tikar Pandan, http://pontianak.tribunnews.com/2018/04/11/peduli-produk-tradisional-yayasan-palung-gelar-pelatihan-pengembangan-produk-tikar-pandan  

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Iklan

Terkait Lingkungan Hidup, Kadisdik Ketapang Apresiasi Program Yayasan Palung

Kepala Dinas Pendidikan Ketapang, H Jahilin, di ruang kerjanya. Foto dok. Tribun Pontianak

Kepala Dinas Pendidikan Ketapang, H Jahilin, di ruang kerjanya, Kamis (5/4). Foto dok. Tribun Pontianak

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Subandi 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KETAPANG – Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Ketapang, H Jahilin mengapresiasi dan berterimakasih kepada Yayasan Palung (YP). Lantaran sejak 2012 hingga 2018 komitmen mengkuliahkan para pelajar hingga 31 orang dan di antaranya dari Ketapang.

“Kita sangat mengapresiasi program YP tersebut apalagi terkait untuk keberlangsungan lingkungan hidup flora dan fauna,” kata Jahilin kepada wartawan di Ketapang, Kamis (5/4).

Ia menilai adanya progam itu berarti ada pelajar yang memang dididik dan arahkan untuk menjaga kelestarian alam.

“Apalagi sekarang hal itu sangat penting karena hutan kita semakin sedikit sehingga flora dan fauna terancam punah,” ucapnya.

“Jadi dengan adanya pelajar di Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara yang diberi beasiswa oleh YP tersebut. Harapan kita para pelajar ini nantinya bisa menyelamatkan keberlangsungan hidup flora dan fauna di daerah kita,” lanjutnya.

Ia berharap selain para pelajar yang dikuliahkan oleh YP tersebut. Pelajar lain dan masyarakat juga memiliki kesadaran untuk menjaga keberlangsungan hidup alam. “Misalnya menjaga kelestarian orangutan agar tidak punah nantinya,” tuturnya.

Artikel ini telah tayang di tribunpontianak.co.id dengan judul Terkait Lingkungan Hidup, Kadisdik Ketapang Apresiasi Program Yayasan Palung, http://pontianak.tribunnews.com/2018/04/05/terkait-lingkungan-hidup-kadisdik-ketapang-apresiasi-programyayasan-palung.
Penulis: Subandi
Editor: Jamadin

Sumber Berita : tribunpontianak.co.id
 

Sejak 2012, Total Pelajar Yang Dikuliahkan Yayasan Palung Sebanyak 31 Orang

Semua peserta seleksi BOCS saat mendengarkan pengumuman hasil seleksi

Semua peserta seleksi BOCS saat mendengarkan pengumuman hasil seleksi. Foto dok. YP

Sejak dimulainya Program Peduli Orangutan Kalimantan atau Bornean Orangutan Caring Scholarship (BOCS).

Khususnya program Penerimaan Beasiswa BOCS atau Besiswa Orangutan Kalimantan sejak 2012 silam.

Pada 2018 ini dengan diterimanya enam pelajar lagi maka total penerima beasiswa tersebut menjadi 31 orang. Ini diungkapkan Manager Program Pendidikan Lingkungan dan Media Kampanye YP, Mariamah Achmad.

Baca: Ini Nama-nama Penerima Beasiswa Orangutan Kalimantan Program YP

Di antaranya empat orang sudah sarjana dan selebihnya sedang aktif kuliah di (Untan) Universitas Tanjungpura Pontianak.

31 pelajar yang dikuliahkan melalui Program BOCS tersebut. 20 orang dari Ketapang dan 11 orang dari Kabupaten Kayong Utara.

“Mereka berasal dari berbagai daerah di dua kabupaten tersebut,” ungkapnya.

Baca: Ini Nama-nama Penerima Beasiswa Orangutan Kalimantan Program YP

Mariamah mengaku sangat senang mendapatkan enam pelajr lagi menjadi penerima beasiswa Program BOCS.

“Program ini sudah kami jalankan tujuh tahun. Jadi YP sangat peduli dengan peningkatan pendidikan generasi muda,” ujarnya.

Artikel ini telah tayang di tribunpontianak.co.id dengan judul Sejak 2012, Total Pelajar Yang Dikuliahkan Yayasan Palung Sebanyak 31 Orang, http://pontianak.tribunnews.com/2018/04/05/sejak-2012-total-pelajar-yang-dikuliahkanyayasan-palungsebanyak-31-orang.
Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Ada Enam Pelajar Penerima Beasiswa Orangutan Kalimantan Tahun ini

Saat seleksi beasiswa, peserta seleksi menyampaikan presentasi.JPG

Saat seleksi beasiswa, peserta seleksi menyampaikan presentasi. Foto dok. Yayasan Palung

Setelah melakukan seleksi, Yayasan Palung  resmi mengumumkan enam pelajar penerima beasiswa S-1 melalui Program Peduli Orangutan Kalimantan atau Bornean Orangutan Caring Scholarship (BOCS) 2018, pada 29 Maret lalu.

Penerima beasiswa Bornean Orangutan Caring Scholarship (BOCS) 2018 dari hasil seleksi tahap akhir yang dilaksanakan pada 29 Maret 2018 adalah:

  1. Mega Oktavia Gunawan (SMK Negeri 1 Ketapang): Fakultas Kehutanan Prodi Kehutanan
  2. Aisyah (SMA Negeri 1 Matan Hilir Utara): FISIP Prodi Hubungan Internasional
  3. Cantika Peggi Nur Iskandar Putri (SMK Negeri 1 Sukadana): Fakultas Hukum
  4. Ari Marlina (SMK Negeri 1 Ketapang): Fakultas Kehutanan Prodi Kehutanan
  5. Fitri Meliyana (SMA Negeri 3 Simpang Hilir): FMIPA Prodi Biologi
  6. Anju Eranti (SMA Negeri 1 Sandai): FISIP Prodi Hubungan Internasional

Enam penerima beasiswa  BOCS tersebut, sebelumnya terlebih dahulu telah melalui tahapan seleksi dari awal hingga seleksi akhir. Adapun sebagai juri dalam seleksi penerima beasiswa adalah Juri: Ir. Evy Wardenaar, M.P (Fahutan UNTAN), Dr. Wahyono, M.Pd (STAI AL-Hauld), Akhdiyatul, S.ST., M.T (Politeknik Ketapang) dan Mariamah Achmad S.Hut (Yayasan Palung).

Para juri seleksi beasiswa dan di tengah direktur Yayasan Pa.JPG

Para juri seleksi beasiswa dan di tengah direktur Yayasan Palung. Foto dok. YP

Seperti diketahui, Beasiswa Orangutan Kalimantan  atas dasar adanya kerjasama Yayasan Palung (YP) dan Orangutan Republik Foundation (OURF), sejak tahun 2012 silam.

Semua peserta seleksi BOCS saat mendengarkan pengumuman hasil seleksi.JPG

Semua peserta seleksi BOCS saat mendengarkan pengumuman hasil seleksi. Foto dok. YP

Direktur Yayasan Palung, Terri Lee Breeden mengatakan, Program BOCS adalah salah satu favorit saya yang diimplementasikan Yayasan Palung. Program ini bertujuan untuk menciptakan generasi pemuda berpendidikan universitas yang akan bekerja untuk konservasi. Tahun ini, proses seleksi sangat sulit. Kami memiliki banyak pelamar yang luar biasa.

Untuk para pemenang, saya ingin mengucapkan selamat. Saya berharap untuk melihat kerja keras dan semangat terhadap konservasi. Untuk yang lain, saya berharap kepada penerima beasiswa tetap melanjutkan pendidikan tinggi dan bekerja menuju konservasi dalam kehidupan sehari-hari Anda, imbuh Terri lagi.

Mariamah Achmad Manager Program Pendidikan Lingkungan dan Media Kampanye Yayasan Palung sekaligus yang menangani program BOCS mengatakan, Sejak dimulainya program BOCS pada tahun 2012 hingga 2018 sudah terdapat 31 orang penerima BOCS, diantaranya 4 orang sudah sarjana dan selebihnya sedang aktif kuliah. Mereka berasal dari berbagai daerah di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara yaitu 20 orang dari Kabupaten Ketapang dan 11 orang dari Kabupaten Kayong Utara.

“Kami sangat senang mendapatkan  enam orang lagi para penerima beasiswa dari program BOCS. Program ini sudah kami jalankan dalam 7 tahun ini. Yayasan Palung sangat peduli dengan peningkatan pendidikan generasi muda di tanah Kayong, sangat baik memperbanyak generasi muda yang peduli terhadap konservasi yang memiliki berbagai latar belakang disiplin ilmu. Ini merupakan salah satu investasi penting untuk masa depan alam dan lingkungan Indonesia”, ujar Mayi.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

 

 

Hari Kasih Sayang, Tak Hanya Soal Pasangan tetapi “Mereka (Orangutan)” Juga Perlu

Pesan kami semua, Kami sayang orangutan. Yayasan Palung

Pesan kami semua, Kami sayang orangutan. Yayasan Palung

Kasih sayang sudah menjadi hak dan kewajiban bagi kita semua untuk melaksanakannya (menerapkannya/melakukannya/mempraktekannya) dalam tatanan kehidupan sehari-hari kita kepada siapa saja tanpa memilah dan memilih.

Kecenderungan saat ini, kasih sayang itu hanya identik dengan wanita atau pasangan kita semata. Lalu, bagaimana kasih sayang kita kepada  “mereka”?. siapa mereka itu?.

“Mereka” yang dimaksud tidak lain dan tidak bukan adalah orangtua kita, saudara/i kita dan sesama kita. Tidak hanya itu, “mereka” satwa, tumbuhan dan lingkungan juga memerlukan cinta dan kasih sayang yang sejatinya tak lekang oleh waktu.

Tidak bisa disangkal, cinta dan kasih sayang kepada sesama, kepada lingkungan (alam semesta), kepada satwa kini serasa sudah semakin memudar.

Tengoklah cinta yang bertepuk sebelah tangan terhadap lingkungan sehingga alam lingkungan berurai air mata tertumpah yang tak jarang menjadi banjir bandang yang menerjang sesuka hatinya. Satwa yang disiksa dan meregang nyawa…

Baca Selengkapnya : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/5a83d762f13344305913c112/hari-kasih-sayang-tak-hanya-soal-pasangan-tetapi-mereka-juga-perlu

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Petani Terapkan Budidaya Padi Infari 32 Dengan Metode Hazton

Penananam padi oleh para petani di lokasi. Foto dok. Yayasan Palung

Penananam padi oleh para petani di lokasi. Foto dok. Yayasan Palung

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KETAPANG – Sebagian besar penduduk di Kecamatan Simpang HilirKabupaten Kayong Utara merupakan petani dengan cara atau metode bertani tadah hujan. Ini diungkapkan Manager Program Perlindungan Satwa (PPS-Hukum) YP, Edi Rahman.

Ia mengungkapkan namun saat ini petani di Desa Penjalaan dan Pulau Kumbang Kecamtan Simpang Hilir. Hampir semuanya sudah mencoba menggunakan metode hazton dengan membuat demplot untuk budidaya padi infari 32.

“Tidak bisa disangkal bahwa petani memiliki peran sangat penting dalam menyediakan pangan bagi suatu negara,” kata Edi Rahman….

Baca Selengkapnya di : http://pontianak.tribunnews.com/2018/02/12/petani-terapkanbudidaya-padi-infari-32dengan-metode-hazton

Baca juga di :https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/5a81219bbde5755c57142dd2/mungkin-ini-cara-bertani-dan-budidaya-padi-yang-bisa-kita-terapkan

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Melatih Relawan Lokal Cinta Pelestarian Alam

Para Relawan Yayasan Palung yang tergabung dalam TABONK. Foto dok. Yayasan Palung

Para Relawan Yayasan Palung yang tergabung dalam TABONK. Foto dok. Yayasan Palung

Para pemuda itu tampak antusias mengikuti berbagai kegiatan. Mereka belajar mengenai dasar-dasar kerelawanan, manajemen organisasi, dan berbagai topik lain, khususnya topik mengenai lingkungan. Sebab mereka adalah relawan Tajam dan RebonK.

Kelompok relawan ini kerap menyuarakan mengenai konservasi di Tanah Kayong, Kalimantan Barat. Beberapa waktu lalu, mereka mengikuti semacam pelatihan di kantor Yayasan Palung, di Desa Pampang Harapan, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat.

Sesuai dengan slogan TabonK; “Yom Kite Begabong”, selama tiga hari kegitan tersebut, ragam keceriaan dan ide mereka satukan yang terbingkai dalam diskusi untuk belajar bersama terkait apa yang terjadi saat ini dan mungkin yang akan terjadi di masa depan terkait lingkungan.

Mereka juga mengikuti diskusi mengenai dampak kerusakan hutan. Tak sedikit ide yang mereka cetuskan terkait dengan kerusakan lingkungan dan dampaknya, seperti: dampak sosial, ekonomi, lingkungan, politik, dan dampak secara menyeluruh, termasuk pula pemanasan global.

Dalam diskusi tersebut, muncul ide untuk mengatasi dampak kerusakan hutan antara lain: melakukan reboisasi (penanaman kembali), tidak menebang pohon, dan penegakan hukum dari negara untuk mengatasi persoalan lingkungan….

Untuk membaca selengkapnya di : https://student.cnnindonesia.com/edukasi/20180207111639-445-274476/melatih-relawan-lokal-cinta-pelestarian-alam

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Apa Salah dan Dosamu Orangutan?

baby kiss sweets. Foto dok. Tim Laman

Baby Kiss Sweets. Foto dok. Tim Laman

Engkau dipuja dan didera ini adanya nyata

Itu yang tersaji kala engkau  hidup dan menetap di habitatmu

Dipuja ketika dirimu disayang dan didera ketika dirimu terus terusik mendera

Letupan demi letupan senapan tak segan merampas hak hidupmu

Derai air matamu terlihat tak kuasa tercurah tumpah mengengok pongahnya dunia

Pahit getir mungkin atau memang ini yang dirasa sebab tak kuasa

Tak kuasa menahan ratusan peluru tak segan bersarang merengkuh hampir di seluruh tubuh,

hingga tak jarang meregang nyawa

berkata mengata,

apa dosamu kini ?

bertanya karena sebab,

sejauh mata memandang terlihat tiada ampun membabat habitat

tanpa ampun dan belas kasihan

memutus jalur alur keturunanmu

dipenjara, dipelihara dan tak jarang disiksa

memutus mata rantai peranmu sebagai penyebar biji, penjaga dan pemilihara tanam tumbuh di rimba raya

Realita tentu sebagai penanda

Kini, apa yang ditakut-takuti benar terjadi

Tajuk menjulang tinggi kini kian terkikis berganti tanam tumbuh baru,

gedung bertingkat pencakar langit

tengok korban di lubang-lubang pengganti,

lihat deru arus menerjang tak beraturan menghantam dan membawa kesegala arah

tanpa ada yang mengira kapan akan terjadi dan berlalu

cumbu belaian kasih kepadamu menanti disapa menyapa

inginku mengalahkan koar suara deru mesin yang tak jemu berisik saban waktu

tetapi mampukah?

Lagi-lagi dan lagi itu yang terjadi, tak bosan terus berulang

Rinai rintik tak lagi sanggup terserap tanah dan akar,

Tak sanggup menampung jua menopang tajuk-tajuk rimbun yang kian rebah karena lelah tak berdaya

Ingin menjalar namun terlanjur dikikis hingga menjelang habis

Rona nanar tak jarang berpadu mengadu,

Mencari, memilah, berkisah

Tentang dirimu yang dipuja juga didera

Tetapi apa dosamu sehingga engkau selalu didera menderita sampai merenggut nyawamu

Satwa endemik yang disematkan kepadamu dan sebutanmu sebagai spesies kunci apakah nanti bisa lestari hingga nanti atau tinggal cerita,

Hanya bertanya, apa dosamu orangutan?

Hanya itu.

 

Tulisan ini sebelumnya telah di muat di Kompasiana: https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/5a7bf9fecbe5232f000e4e82/puisi-apa-salah-dan-dosamu-orangutan

Ketapang, Kalbar 08 Februari 2018

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

 

Tahun 2018 : Kami Kembali Menyediakan Enam Beasiswa Orangutan Kalimantan

Beberapa Penerima BOCS yang terdahulu melakukan kampanye bersama dalam rangka Pekan Peduli Orangutan di Pontianak. Foto dok. Yayasan Palung

Beberapa Penerima BOCS yang terdahulu melakukan kampanye bersama dalam rangka Pekan Peduli Orangutan di Pontianak. Foto dok. Yayasan Palung

Tahun 2018 ini, Yayasan Palung kembali menyediakan enam beasiswa orangutan Kalimantan. Pemberian beasiswa kami lakukan sejak 2012 Yayasan Palung (YP) dan Orangutan Republik Foundation (OURF) bekerjasama menyediakan beasiswa program S-1 melalui Program Peduli Orangutan Kalimantan (Bornean Orangutan Caring Scholarship).

Mengingat Yayasan Palung sebagai lembaga non profit profit yang bekerja untuk konservasi orangutan dan habitat serta pengembangan masyarakat. Yayasan Palung bekerja dengan semua pihak yang mempunyai tujuan sama untuk perlindungan terhadap orangutan dan habitat di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara, Kalimantan Barat.

Adapun tujuan program beasiswa orangutan tersebut antara lain adalah : Pertama, Melahirkan generasi intelektual Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara yang mempunyai komitmen dan kepedulian yang tinggi terhadap upaya perlindungan dan penyelamatan Orangutan Kalimantan dan habitatnya. Kedua, Memberikan dukungan moril dan materil kepada generasi muda untuk meneruskan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Ketiga, Memajukan kerjasama pendidikan tentang potensi kekayaan alam lokal antara pihak-pihak di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara.

Setiap penerima beasiswa diberikan dana beasiswa dengan limit USD 1.500, untuk membiayai:

  1. Daftar Masuk Universitas
  2. Daftar Ulang selama 8 semester
  3. Biaya Penelitian
  4. Biaya Penulisan Skripsi
  5. Biaya lain dipenuhi selama masih dalam limit dana beasiswa
  6. Bagi Penerima Beasiswa yang mendapat UKT III, IV dan V, pembiayaan dihentikan jika sudah mencapai limit dana beasiswa, walaupun tidak memenuhi poin 1-4.
  7. Peningkatan kapasitas dari Yayasan Palung

Syarat dan ketentuan pendaftaran dapat di unduh dan dibaca di Blog Yayasan Palung: https://yayasanpalung.wordpress.com. Lihat di link Brosur : Brosur Beasiswa Orangutan Kalimantan (BOCS)_ 2018_pdf,  Lihat syarat dan ketentuan : YP_BOCS_Bahan Brosur_Borneo Orangutan Caring Scholarship_2018

Berkas pendaftaran dapat diserahkan langsung ke Yayasan Palung (kantor Ketapang atau Bentangor Desa Pampang Kec. Sukadana) atau melalui jasa pengiriman paling lambat 14 Maret 2018.

Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi:

  • Yayasan Palung, Jl. Kol. Sugiono Gg. H. Tarmizi No. 5 Ketapang. Telp/Fax: 3036367
  • Pusat Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung / Bentangor, Dusun Pampang Desa Pampang Harapan, Kec. Sukadana, KKU
  • Ranti Naruri: 0852-4563-4919
  • Hendri Gunawan: 0896-9346-9745

Yayasan Palung

 

 

 

 

GPOCP Menyuarakan Perbaikan Lingkungan di Jerman

Aksi Mariamah Achmad, aktivis perempuan dan lingkungan di ajang People_s Climate Summit dalam rangkaian kegiatan Conference of the Parties (COP 23), November lalu. (Dok. Survival Media

Aksi Mariamah Achmad, aktivis perempuan dan lingkungan di ajang People’s Climate Summit dalam rangkaian kegiatan Conference of the Parties (COP 23), November lalu. (Dok. Survival Media)

Pada bulan November lalu, di Jerman diselenggarakan People’s Climate Summit dalam rangkaian kegiatan Conference of the Parties (COP 23). Dalam kesempatan tersebut, Gunung Palung Orangutan Concervation Program (GPOCP) atau Yayasan Palung melalui salah satu Manager Program Pendidikan Lingkungan sekaligus juga aktivis perempuan, Mariamah Achmad ikut hadir dan menyuarakan keadilan iklim.

Selama dua pekan berada di sana, banyak hal yang ia dapatkan dan cukup menarik untuk simak serta dibagikan kepada pembaca. Berikut cerita singkat selama dua pekan saat mengikuti kegiatan (COP 23) di Jerman, seperti yang ditulis oleh Mariamah Achmad:

Saya diundang untuk menghadiri People’s Climate Summit dalam rangkaian kegiatan Conference of the Parties (COP 23) di Jerman, yang mungkin adalah kesempatan sekali seumur hidup saya. Saya telah menjadi aktivis yang membawa kesadaran tentang hak lingkungan dan hak perempuan selama hampir dua dekade dan perjalanan ini seakan menjadi puncak dari semua yang telah saya lakukan.

FAMM Indonesia dan JASS Southeast Asia -kedua organisasi yang bekerja untuk memperkuat kapasitas dan pemberdayaan aktivis perempuan muda- mendukung perjalanan saya secara finansial. Prosesnya dimulai dengan sebuah wawancara dan seminggu kemudian saya menemukan bahwa saya akan segera menuju Frankfurt, Bonn, dan Bruehl, Jerman.

Butuh banyak koordinasi untuk mendapatkan visa dan dokumen prasyaratnya dalam waktu singkat. Saya sangat berterima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dan memberikan kesempatan tersebut.

Gawai lingkungan ini berlangsung dari 3-16 Nopember 2017. Saya menghadiri hingga 10 November 2017.

Hari pertama dimulai dengan kegiatan solidaritas Pasifik bersama Pacific Climate Warriors. Pulau-pulau kecil di Kepulauan Pasifik telah banyak dipengaruhi oleh perubahan iklim. Mereka memiliki kata-kata motivasi yang kuat untuk didengar oleh dunia: “We are not drowning, we are fighting!” (Kami tidak tenggelam, kami berjuang!).

Hari kedua adalah aksi global untuk keadilan iklim yang pada COP 23 ini fokus pada membawa kesadaran tentang penambangan batubara dan energi kotor. Pawai ini diikuti lebih dari 350 organisasi dari seluruh dunia yang hadir di sana.

Pada hari ketiga, kami mengunjungi tambang batubara yang telah menggali 4.000 hektare lahan hingga kedalaman 450 meter sejak tahun 1978. Pemandangan di sana tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Sejauh mata memandang bumi dikeruk hingga tak bersisa.

Beberapa hari berikutnya, saya menghadiri berbagai lokakarya tentang keadilan iklim, makanan, energi, dan hak-hak perempuan. Di sini saya berbicara tentang tantangan yang kita hadapi di Indonesia dan bagaimana kita dapat melawan perubahan iklim sebagai gerakan dunia dan menjamin hak-hak perempuan.

Saya berbicara tentang bagaimana wanita secara tradisional mencari makanan dan buah-buahan di hutan, mendapatkan ikan di sungai, dan merawat keluarga mereka dari alam.

Sudah sekian lama, banyak dari hutan ini dengan cepat telah digantikan oleh perkebunan kelapa sawit, tambang, atau telah ditebang secara legal maupun ilegal. Perubahan ini telah mengubah tanah dan mencemari air dan sungai. Para perempuan ini tidak bisa lagi mengumpulkan makanan untuk memberi makan keluarga mereka, menyebabkan mereka harus memperoleh penghasilan di luar rumah untuk memenuhi kebutuhan dasar.

Kadang-kadang meninggalkan anak-anaknya dengan tetangga atau dengan sedikit atau tanpa pengawasan orang dewasa. Karena bahan kimia yang digunakan di perkebunan industri ini, airnya tidak lagi cukup bersih untuk diminum dan menyebabkan reaksi kulit yang parah saat digunakan untuk mandi. Perubahan lahan secara drastis ini telah menciptakan banyak masalah bagi keluarga yang hidup di sekitar perkebunan kelapa sawit baik secara ekonomi dan sosial, maupun budaya, dan dalam hal kesehatan mereka.

Saya dapat berbagi cerita tentang keberhasilan pekerjaan yang kami lakukan di GPOCP termasuk program pendidikan lingkungan kami dalam berbagai kesempatan, di mana kami menjangkau lebih dari 5.000 siswa per tahun yang mengajarkan pentingnya lingkungan yang sehat. Saya juga mendiskusikan pekerjaan kami dengan masyarakat untuk melindungi 7.500 hektare hutan secara legal, yang mencegah usaha perkebunan berskala besar mengubah fungsi hutan untuk melindungi kepentingan masyarakat dalam jangka panjang terhadap alam, seperti penyerapan karbon dan air.

Sepuluh hari tetpatnya waktu kami berkegiatan di Jerman. Ini terasa singkat, namun merupakan kehormatan bagi saya untuk mewakili GPOCP, perempuan Indonesia berdiri bersama aktivis iklim dari seluruh dunia. Dengan tulus saya mengucapkan terima kasih kepada FAMM Indonesia, JASS, dan GPOCP atas motivasi, dukungan, dan kepercayaan mereka terhadap saya. Saya telah berteman dengan orang-orang yang berpikiran serupa dari seluruh dunia dan memiliki harapan baru akan kebaikan dunia tempat kita tinggal.

Tulisan ini sebelumnya dimuat di  https://student.cnnindonesia.com : Menyuarakan Perbaikan Lingkungan di Jerman

Petrus Kanisius- Yayasan Palung