Category Archives: Kegiatan Yayasan Palung

22 Organisasi dan Komunitas di Kayong Utara Melakukan Aksi Peduli Tsunami Selat Sunda

Foto 1 : Beberapa dari peserta dari gabungan organisasi dan komunitas di Kayong Utara saat melakukan penggalangan dana untuk aksi peduli tsunami Selat Sunda, pada 2-3 Januari 2019, kemarin. Foto dok: Yayasan Palung

Tanggal 2-3 Januari 2019 kemarin, sejumlah organisasi dan komunitas di Kabupaten Kayong Utara melakukan aksi peduli  tsunami Selat Sunda. Aksi Kayong peduli tsunami Selat Sunda tersebut merupakan aksi peduli (penggalangan dana) untuk membantu meringankan beban saudara/saudari kita yang mengalami musibah.

Pada saat melakukan aksi peduli (penggalangan dana), peserta dari gabungan organisasi dan komunitas melakukan aksi di beberapa kecamatan yang ada di Kayong Utara, yaitu Kecamatan Sukadana, Kecamatan Simpang Hilir, dan Kecamatan Teluk Batang.

Aksi peduli tersebut dilakukan oleh dari 22 organisasi dan komunitas yang ada di kabupaten Kayong Utara.


Foto 2 : Beberapa dari peserta dari gabungan organisasi dan komunitas di Kayong Utara saat melakukan penggalangan dana untuk aksi peduli tsunami Selat Sunda, pada 2-3 Januari 2019, kemarin. Foto dok: Yayasan Palung

Adapun organisasi dan komunitas yang ikut serta dan berpartisipasi dalam aksi Kayong Utara peduli tersebut diikuti oleh 22 organisasi dan komunitas antara lain; Kayong Informasi Peduli, genPi kayong Utara, Ikatan Pemuda Surau Baitussalam, Kayong Visual ART, Friends Journey, Sispala Tapal, POM Kayong Utara, Kayong Mania, Content Creator KKU, Supermoto Kayong Utara, Penikmat Senja, Kayong Utara Skateboard, REBONK, Laskar Berkarya Kalbar, Siapala Grepala, Sispala Garda Pena, EAK, Amfibi Reptile Indonesia, BNP Chapter Kayong Utara, Pandara, Sispala LAND, dan Sispala Gana Sanda. 


Foto 3 : Peserta dari gabungan organisasi dan komunitas di Kayong Utara Berfoto bersama saat melakukan penggalangan dana untuk aksi peduli tsunami Selat Sunda, pada 2-3 Januari 2019, kemarin. Foto dok: Yayasan Palung

Aksi gabungan peduli tsunami Selat Sunda ini didukung oleh Kayong Informasi Instagram. Dari 22 organisasi dan komunitas yang berada di Kayong Utara di bagi dibeberapa titik pada saat melakukan penggalangan dana, yaitu di Sukadana, Simpang Hilir, dan Teluk Batang.

Aksi gabungan tersebut dilakukan pada waktu pagi dari pukul 07.00-11.00 WIB dan dilanjut pada pukul 14.00-16.00 WIB. Di hari pertama, kegiatan aksi gabungan peduli tsunami selat sunda, mereka melakukan brifing dan pembagian lokasi selama 15 menit. Di daerah Sukadana terdapat beberapa titik lokasi yaitu di bundaran Tugu Durian, Simpang Empat, Pantai Pulau Datok, dan Gang Serong. Di Simpang Hilir terdapat 2 titik yaitu di tugu simpang empat Polsek, dan Simpang 3 pasar, dan di daerah Teluk Batang terdapat 2 titik yaitu pelabuhan dan simpang empat.


Beberapa dari peserta dari gabungan organisasi dan komunitas di Kayong Utara saat melakukan penggalangan dana untuk aksi peduli tsunami Selat Sunda, pada 2-3 Januari 2019, kemarin.

Selama melakukan aksi peduli pada tanggal 2-3 januari 2019 kemarin, ada sesuatu yang unik dari salah satu organisasi saat melakukan aksi, seperti yang dilakukan organisasi REBONK (Relawan Bentangor untuk Konservasi), saat mereka melakukan aksi peduli (penggalangan dana) dengan memakai topeng dengan bentuk salah satu hewan yang dilindungi oleh undang-undang. Alasan mereka memakai topeng pada saat aksi peduli adalah agar terlihat lebih unik dan dapat menghibur masyarakat yang memberi sumbangan.

Selain memakai topeng, organisasi REBONK mempunyai ide untuk melakukan aksi peduli, yaitu dengan cara menghibur pengunjung yang berada di pantai Pulau Datok dengan memainkan gitar dan bernyanyi. Masyarakat Kayong Utara dan sekitanya begitu antusias dengan aksi Kayong Utara peduli tsunami Selat Sunda tersebut, terlihat banyak masyarakat yang menyumbangkan uang mereka dengan iklas saat kami melakukan penggalangan dana, bahkan ada juga masyarakat memberi makanan dan minuman kepada pemuda yang melakukan aksi peduli.

Hari terakhir aksi gabungan Kayong Utara peduli tsunami Selat Sunda pada tanggal 3 Januari 2019, pukul 11.00 WIB, mereka berkumpul di pantai pulau datok untuk melakukan penghitungan dana yang telah terkumpul selama dua hari aksi peduli pada tanggal 2-3 Januari 2019 di tiga titik kecamatan yang ada di kabupaten Kayong Utara. Hasil perhitungan (rekapitulasi) aksi gabungan Kayong Utara peduli tsunami Selat Sunda yang diikuti 22 organisasi dan komunitas yang ada di kabupaten Kayong Utara pada 2-3 Januari 2019 adalah Total dari keseluruhan dana yang terkumpul sebanyak Rp 35.592.600 dan keseluruhan dana yang terkumpul akan disalurkan melalui Rumah Zakat Provinsi Kalbar, agar bisa sampai kepada saudara-saudari kita di Selat Sunda.

Maskur, yang merupakan salah satu panitia aksi peduli mengatakan; Alhamduillah kegiatannya cukup sukses dan hasilnya memuaskan, untuk kedepannya semoga tidak ada lagi bencana yang menimpa Negara Indonesia.

Penulis : Egi Iskandar – Relawan REBONK, Angkatan 8

Editor : Petrus Kanisius – Yayasan Palung

Iklan

PPO 2018, Ajakan Kepada Semua Pihak untuk Peduli Lingkungan dan Perlindungan Orangutan

WhatsApp Image 2018-11-22 at 11.40.44

Yayasan Palung Memperingati Pekan Peduli Orangutan 2018 Sekaligus melakukan Ekspedisi Pendidikan Lingkungan ke Sekolah-sekolah di Jelai Hulu. Foto Dok : Yayasan Palung

Serangkaian kegiatan Pekan Peduli Orangutan (PPO) 2018 telah dilakukan oleh Yayasan Palung dengan para pihak (Para Relawan; Relawan Tajam dan REBONK, penerima beasiswa orangutan kalimantan dan dengan lembaga atau pun juga pihak sekolah) selama sepekan di bebapa tempat sejak tanggal 12-17 November 2017, pekan lalu.

Tidak hanya seru, tetapi juga serangkaian kegiatan PPO tahun ini diperingati oleh Yayasan Palung dibeberapa tempat. Kegiatan utama (kegiatan puncak) yang dilakukan oleh Yayasan Palung seperti di Kecamatan Jelai Hulu, pada tanggal 12-17 November 2018 dengan berbagai kegiatan antara lain; wokshop singkat dengan membuat pesan kampanye tentang lingkungan dan membuat bottle planter (membuat pot bunga dari botol plastik bekas) yang dilakukan SMA 1 Jelai Hulu.

WhatsApp Image 2018-11-22 at 11.56.36

Pekan Peduli Orangutan 2018. Foto dok : Yayasan Palung

Workshop  singkat dengan membuat pesan kampanye tentang lingkungan sebagai salah satu cara untuk menggugah kepedulian terhadap nasib lingkungan dan perlindungan orangutan. Sama halnya dengan kegiatan bottle planter sebagai salah satu ajakan untuk peduli lingkungan, lebih khusus botol plastik bekas yang sejatinya bisa dimanfaatkan menjadi barang yang berguna jika dikreasikan menjadi sesuatu seperti dijadikan pot bunga yang bisa menjadi hiasan dan dipajang di sekolah.

Untuk melihat lebih banyak foto PPO 2018 

Sedangkan Relawan REBONK Yayasan Palung di Sukadana, pada tanggal 18 November 2018, memperingati Pekan Peduli Orangutan dengan melakukan penanaman pohon bersama dengan Sispala TAPAL (SMKN 1 Simpang Hilir), setidaknya 20 orang yang ikut ambil bagian melakukan penanaman pohon tersebut. Penanam pohon buah dan bakti sosial (mengambil sampah) yang berlokasi halaman SMAN 2 Sukadana.

Setelah selesai penanaman dan baksos, saat menjelang siang  mereka kembali ke bentangor untuk melanjutkan kegiatan diskusi pengelolaan sampah non organik yang lebih tepatnya sampah plastik.  Selanjutnya sampah plastik tersebut dijadikan sebagai bata ringan (eco-brick) yang di sampaikan oleh Egi Iskandar dan Aggi Saputra (Relawan REBONK), dia menyampaikan bagaimana menggelola sampah plastik yang baik, seuatu yang sederhana namun punya manfaat positif. Beberapa plastik bekas dibersihkan dan kemudian di gunting kecil-kecil, selanjutnya dimasukan kedalam botol platik yang sudah bersih, kemudian plastik yang sudah dimasukan harus di pres menggunak tongkat kayu yang berfungsi untuk memadatkan dan tidak adanya ruang udara di dalam botol platik tersebut. Kita semua tau bahwa jika di bakar akan menimbulkan dampak negatif pada polusi udada, namun jika di biarkan begitu saja juga akan sulit terurai sehingga menjadi tumpukan yang sangat tidak enak di pandang oleh mata manusia. Dibuatnya eco-brick dengan maksud bisa dimanfaatkan sebagai bata ringan yang bisa dijadikan kursi, meja dan hiasan.

Pada kesempatan Pekan Peduli Orangutan 2018, di Pontianak, para pihak ikut bersama memperingati PPO, misalnya dengan melakukan aksi pesan kampanye, aksi teatrikal dan musik akustik yang dilakukan oleh Para Penerima Beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan BOCS di Taman Digulis Universitas Tanjungpura bersama dengan  Pongo Ranger Community (Relawan dari Yayasan IAR Indonesia) dan Yayasan Titian, Sabtu (17/11/2018), pekan lalu. Selain itu juga mereka melakukan pemutaran film dan diskusi tentang film Asimetris di Aboretum Sylva PC UNTAN.

Kegiatan lainnya dilakukan oleh Relawan Konservasi Taruna Penjaga Alam (RK-TAJAM) dan Yayasan Palung, mereka membuat film pendek tentang lingkungan dan orangutan. Selain itu juga, pada 21 November 2018, mereka membuat kreasi barang bekas untuk tong sampah dari kreasi bekas-bekas Kaleng cat plastik selanjutnya mereka kreasikan dan mereka cat bersama guru dan  siswa-siswi SDN 12 Delta Pawan. Selanjutnya tong-tong sampah tersebut dipasang di SDN 12 Delta Pawan. Kaleng cat plastik tersebut merupakan sumbangsih dari Putra Ranadiwangsa.

Mariamah Achmad, Manager Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung, mengatakan,  “Bagi pelajar yang ingin berbuat nyata untuk perlindungan orangutan, menanami pohon pakan orangutan di hutan mungkin belum sanggup, melarang orang dewasa berburu satwa liar di hutan mungkin tidak didengar, membuat kebijakan perlindungan orangutan dan habitat belum punya wewenang. Nah yang bisa dilakukan oleh para pelajar untuk memaknai nilai penting orangutan untuk menghindari kepunahan sesuai dengan tema PPO 2018 adalah melakukan hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari dan yang bisa dilakukan dalam kapasitas mereka,  misal kreasi barang bekas”.

Selanjutnya juga Mayi, demikian ia biasa disapa mengatakan, Yayasan Palung memfasilitasi hal tersebut dalam PPO 2018 ini dengan melakukan dua workshop, yakni membuat pot bunga dari bekas botol air mineral dan membuat pesan kampanye perlindungan orangutan untuk disebarkan melalui media sosial. Aksi ini dapat dimaknai sebagai sumbangsih para pelajar bagi upaya perlindungan lingkungan dan alam yang lebih besar.

Sedangkan Direktur Yayasan Palung, Terri Lee Breeden mengatakan, “Setiap tahun Yayasan Palung merayakan Pekan Peduli Orangutan. Tujuan acara ini adalah untuk meningkatkan kesadaran di seluruh dunia tentang penderitaan orangutan. Tema tahun ini adalah ‘Memaknai Nilai Penting Orangutan untuk Menghindari Kepunahan’, Karena penghancuran hutan hujan Indonesia, populasi orangutan menurun drastis. Kami telah kehilangan lebih dari 50% populasi mereka dalam beberapa dekade. Kerusakan ini terutama disebabkan oleh ekspansi cepat perkebunan kelapa sawit dan pertambangan di seluruh bentang alam”.

Lebih lanjut menurut Terri, beberapa langkah perlu dilakukan, kita perlu membuat pilihan yang berkelanjutan tentang bagaimana kita mengubah lanskap (bentang alam). Kerusakan ini memungkinkan orang kaya untuk menjadi lebih kaya, tetapi masyarakat lokal sering dibiarkan dengan dampak lingkungan yang merusak termasuk kualitas air yang buruk, banjir ekstrim, dan kebakaran. Kami membutuhkan komunitas-komunitas ini untuk mengadvokasi pengelolaan lanskap berkelanjutan yang akan bermanfaat bagi perusahaan, masyarakat dan orangutan yang menyebut Indonesia sebagai rumah.

Selain kegiatan PPO 2018, Yayasan Palung berkesempatan untuk berkunjung ke sekolah-sekolah di Kecamatan Jelai Hulu, seperti di SDN 1 dan SDN 17 di Kecamatan Jelai hulu, SDN 3 dan SDN 5 di Desa Tanggerang, Kec. Jelai Hulu. Beberapa kegiatan kami lakukan adalah puppet show (panggung boneka) terkait satwa dilindungi terutama orangutan. Selain itu juga kami melakukan diskusi dengan masyarakat terkait informasi kekinian yang ada di desa mereka sekaligus sosialisasi tentang perlindungan dan satwa-sawa dilindungi dan pemutaran film lingkungan.

Serangkaian kegian Pekan Peduli Orangutan 2018 berjalan sesuai rencana dan mendapat sambutan baik dari masyarakat dan pihak sekolah. Berharap, dengan diadakan kegiatan PPO 2018 dengan ragam kegiatan tersebut bisa menggugah masyarakat, pihak sekolah untuk semakin peduli lagi terhadap nasib lingkungan hidup dan orangutan.

Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di Tribun Pontianak :
http://pontianak.tribunnews.com/2018/11/23/ppo-2018-ajakan-kepada-semua-pihak-untuk-peduli-lingkungan-dan-perlindungan-orangutan.

 

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Pekan Peduli Orangutan 2018, Memaknai Nilai Penting Orangutan untuk Menghindari Kepunahan

Orangutan Caring Week atau Pekan Peduli Orangutan 2018.jpg_1

Orangutan Caring Week atau Pekan Peduli Orangutan 2018.

Setiap tahun, pada tanggal 11-17 Nopember, warga dunia yang peduli pada pelestarian orangutan selalu menggelar rangkaian kegiatan Pekan Peduli Orangutan (PPO). Kegiatan ini dimaksudkan untuk terus mengingatkan kepada khalayak bahwa keberadaan satwa langka ini di alam liar harus terus diberikan perlindungan, Yayasan Palung rencananya juga akan memperingatinya pada  12 – 17 Nopember 2018, pekan depan.

Banyak faktor yang menyebabkan orangutan sangat terancam punah, tidak terkecuali luasan lahan yang semakin menyempit sebagai ekosistem dan keberlanjutan nafas hidup mereka. Selain juga terkait penegakan hukum yang masih lemah terhadap pelaku pelanggaran UU No. 5 Tahun 1990, tentang Keanekaragaman Hayati dan Ekosistem dan peraturan perundangan lainnya yang terkait dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya konservasi alam yang masih dalam tataran normatif belum banyak yang sampai kepada aksi nyata.

Yayasan Palung bersama banyak lembaga dan warga dunia pada tahun 2018 memperingati Pekan Peduli Orangutan dengan mengangkat tema: “Valuing Orangutans over Profits to Avoid Extinction” (Memaknai Nilai Penting Orangutan untuk Menghindari Kepunahan).

Lembaga-lembaga yang merayakan OCW atau PPO 2018

Lembaga-lembaga yang merayakan OCW atau PPO 2018. Foto dok. #OCW2018

Adapun rangkaian kegiatan untuk memperingati Pekan Peduli Orangutan tahun 2018, Yayasan Palung akan mengadakan serangkain kegiatan yang akan dilakukan di SMAN 1 Jelai Hulu, serangkaian kegiatan yang rencananya akan dilakukan seperti aksi kecil untuk pelestarian satwa kebanggaan Indonesia ini, dengan harapan walaupun kecil mudah-mudahan berdampak besar pada ingatan siswa dan semua yang terlibat.

Kegiatan ini (PPO 2018) rencananya akan dilakukan secara bersama antara staf Yayasan Palung, guru dan siswa SMAN 1 Jelai Hulu antara lain adalah Workshop Membuat “Bottle Planter”, dan Workshop Membuat Pesan Kampanye Perlindungan Orangutan Kalimantan, kegiatan tersebut akan diselenggarakan oleh Yayasan Palung di Jelai Hulu.

Selain itu juga, serangkaian kegian lainnya di sela-sela PPO 2018, kami juga akan melakukan serangkaian kegiatan seperti  berkunjung ke sekolah-sekolah untuk berbagi informasi terkait lingkungan. Selain itu, diadakan pemutaran film lingkungan diskusi bersama masyarakat kait isu-isu kekinian yang ada di wilayah yang kami kunjungi tersebut.

Mengingat, mengapa kita semua (semua pihak) perlu dan penting untuk menjaga dan melindungi satwa seperti orangutan, diantaranya adalah; Pertama, Populasi satwa di alam liar semakin tahun kian menurun akibat dari tekanan aktivitas manusia seperti perambahan hutan, penebangan kayu, pembukaan daerah pertanian dan masifnya pembukaan lahan untuk perkebunan sawit skala besar, hutan tanaman industri dan pertambangan.

Hal lainnya lagi diperparah oleh adanya perburuan satwa untuk diperdagangkan bagian-bagian tubuhnya, dipelihara atau pun juga bahkan ada yang dimakan. Selanjutnya juga, keberadaan satwa liar seperti orangutan di hutan, dapat membantu meregenerasi hutan sehingga tercipta kesinambungan manfaat hutan bagi kehidupan manusia.

Selain itu, satwa yang ada di Indonesia merupakakan kekayaan flora dan fauna Indonesia yang tidak ternilai harganya. Keberadaan satwa liar menjadi kekayaan alam Indonesia yang keberadaannya menjadi sumber pengetahuan dan ispirasi serta kebanggaan bangsa Indonesia.

Keberagaman keanekaraman hayati yang terdapat di wilayah Indonesia tidak terkecuali satwa menjadi dasar kuat yang harus terus menerus untuk dilindungi, dijaga, dan dilestarikan. Bukan malah mengorbankannya dengan merelakan mereka malang, miris, menangis, atau pun membiarkan mereka mati terbunuh sia-sia, sengaja atau pun tak sengaja atau pula bahkan hilang regenerasi (punah) dimakan zaman.

Foto-foto dari serangkaian kegiatan dan foto para siswa yang melaksanakan kegiatan PPO 2018 juga akan diunggah ke media sosial, baik secara individu oleh siswa maupun oleh Yayasan Palung dengan menyertakan hastag/tagar #OrangutanCaringWeek2018 #yayasanpalung #SMAN1JelaiHulu #GoGreen #GreenCraft #JelaiHulu4Orangutans #OrangutanKalimantan sehingga aksi peringatan PPO ini tersebar secara luas, dan terkumpul informasinya dengan warga dunia yang melakukan aksi yang sama di belahan dunia yang lain /secara global.

Beberapa rangkaian kegian yang dilakukan ini, setidaknya sebagai bentuk penyadartahuan kepada pihak sekolah dan masyarakat luas terkait perlunya semua pihak untuk peduli sejak dini terhadap keberlanjutan nasib hidup dan terhindar dari kepunahan.

Dengan cara-cara sederhana berhrap orangutan dapat lestari dan diselamatkan dari ancaman kepunahan. Berharap pula, semoga rangkaian kegiatan Pekan Peduli Orangutan (PPO) 2018 yang akan diadakan di Jelai Hulu dapat berjalan sesuai rencana.

Tulisan ini juga dimuat di : Tribun Pontianak 

dan Kompasiana.com

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Survei Bentang Alam Daya Dukung Daya Tampung Kabupaten Kayong Utara di 8 Desa

 

IMG_20181029_153502

Saat tim survei (Perkim LH, Bapeda KKU dan YP melakukan Ground Check di lokasi. Foto dok : Yayasan Palung

Untuk membantu menyelesaikan draft akhir kajian DDDT Kabupaten Kayong Utara 2018, Yayasan Palung dan Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (PerkimLH) Kabupaten Kayong Utara melakukan Ground Check (survei lapangan) di 8 lokasi desa, yang dilaksanakan selama 3 hari (29 – 31 Oktober 2018) kemarin.

IMG_20181029_153610

Saat tim survei (Perkim LH, Bapeda KKU dan YP melakukan Ground Check di lokasi. Foto 2 dok : Yayasan Palung

Bersama Tim DDDT KKU yang lain (Dinas LH, Pihak Konsultan dan Bapeda KKU). Lokasi survei ada 8 lokasi di Kecamatan Seponti, Simpang Hilir, Sukadana dan Teluk Batang. Kajian Daya Dukung dan Daya Tampung (DDDT) Kabupaten Kayong Utara 2018. DDDT ini merupakan salah satu bagian dari strategi Yayasan Palung (YP) untuk bekerjasama dan mendukung langsung Pemerintah Daerah KKU dalam menjalankan rencana pembangunan daerah yang searah dengan visi dan misi  Yayasan Palung.

Hal ini dibuktikan dalam draft dokumen akhir DDDT ini, Yayasan Palung berperan menjadi sumber data untuk mengisi poin keanekaragaman hayati dan memperlihatkan langsung sebaran orangutan yang ada diluar kawasan.

Disamping itu, Yayasan Palung juga akan berperan dalam penguatan peran komunitas atau masyarakat untuk analisis jasa pangan dan jasa lingkungan di Kabupaten Kayong Utara. Inilah yang kemudian yang saya sebut sebagai strategi dalam mendorong kebijakan pemerintah yang pro dan tepat sasaran terhadap konservasi orangutan dan masyarakat setempat.

IMG_20181030_144636

Saat tim survei (Perkim LH, Bapeda KKU dan YP melakukan Ground Check di lokasi. Foto 3 dok : Yayasan Palung

Dokumen DDDT ini menjadi salah satu dokumen strategis pemerintah daerah untuk menentukan RPJMD/ Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah selama per 5 tahun. Sederhananya, apabila konservasi orangutan dan habitatnya masuk dalam Dokumen DDDT maka secara hukum, RPJMD wajib menyusun rencana pembangunan yang tidak melanggar acuan DDDT karena pelanggaran tersebut akan masuk dalam kategori korupsi.

Dengan demikian, maka DDDT akan mendorong pemerintah daerah untuk menerapkan pembangunan yang berkelanjutan/SDG’s (Sustainable Development Goals), karena nasib orangutan dan masyarakat lokal secara langsung ada ditangan pemerintah daerah, bukan pemerintah pusat.

Penulis : Wendy F. Tamariska dan Syahik Nur Bani- Yayasan Palung

Asyik…. Relawan Berbagi Ilmu tentang P2GD Sebagai Modal Dasar untuk Pertolongan Pertama

WhatsApp Image 2018-10-23 at 13.03.05

Evan Juliansyah (salah seorang Perawat dari Yayasan ASRI sekaligus juga Relawan REBONK) Saat Berbagi ilmu kepada sesama relawan dan Sispala. Foto dok. Simon Tampubolon/YP.

Tidak kurang 25 peserta terlihat hadir dalam acara rutin, yaitu pertemuan relawan RebonK. Kali ini mereka berkesempatan untuk mengadakan pertemuan rutin sekaligus berbagi ilmu tentang P2GD (Pertolongan Pertama Gawat Darurat) yang berlangsung pada hari Sabtu (13/10/2018) kemarin, di Kantor Pusat Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung, di Desa Pampang Harapan.

Dalam kesempatan tersebut, Relawan Bentangor Untuk Konservasi (RebonK) ternyata tidak sendiri tetapi juga ternyata mengundang teman-teman dari Sispala Land (SMKN 1 Sukadana) untuk berpartisipasi pada berbagi ilmu tentang P2GD tersebut.

WhatsApp Image 2018-10-23 at 13.23.27

Saat Evan menyampaikan materi (berbagi ilmu) tentang P2GD kepada Relawan RebonK dan Sispala Land. Foto dok. Simon Tampubolon/YP

Evan Juliansyah (salah seorang Perawat dari Yayasan ASRI) berkesempatan untuk berbagi ilmu atau materi terkait pertolongan pertama gawat darurat (P2GD). Evan, demikian ia disapa sehari-hari, dengan sukarela ia berbagi ilmu yang ia miliki. Seperti pada kesempatan tersebut, Evan berbagi ilmu misalnya untuk penangan dan pertolongan pertama pada luka; seperti luka ringan, luka berdarah sedikit, luka berdarah banyak, luka bersih dan luka kotor. Selain itu juga, menjelaskan bagaimana untuk penanganan dan pertolongan pertama terhadap bibit ular, patah tulang, pingsan, sesak nafas, luka bakar dan pertolongan bagi yang mengalami hipotermia (kedinginan).

Beberapa materi tersebut sangat penting untuk disampaikan kepada relawan dan sispala, salah satu alasannya karena mereka sering kali bersentuhan langsung dengan berbagai kegiatan di luar rungan (di hutan), dengan adanya pelatihan (berbagi ilmu) tersebut setidaknya dapat memberikan pemahaman kepada relawan atau pun Sispala agar mereka dapat menolong (pertolongan pertama) bagi sesama mereka jika ada terjadi insiden yang tak terduga seperti luka atau seperti yang lainnya.

Selain materi, mereka (peserta) juga diajak untuk praktek (simulasi) untuk pertolongan pertama/ penanganan. Beberapa relawan terlihat bersedia untuk dibalut tangannya yang mencontohkan bila terjadi patah tulang atau pun juga penanganan bagi yang mengalami sesak nafas.

WhatsApp Image 2018-10-23 at 13.16.35

Praktek Simulasi Pertolongan Pertama Gawat Darurat kepada yang mengalami cidera parah (patah tulang). Foto dok. Simon Tampubolon/YP

Evan, yang juga merupakan salah satu anggota dari Relawan RebonK yang aktif dan sering kali berkegiatan seperti secara sukarela berbagi ilmu kepada sesamanya yang tergabung dalam relawan atau pun sispala.

Kegiatan Pertemuan rutin sekaligus bebagi ilmu tentang P2GD tersebut berlangsung dari pukul 09.00 Wib hingga pukul 12.00 Wib. Setelah itu, pada pukul 13.00 Wib- 15.00 Wib, relawan RebonK yang berjumlah 20 orang dan dari Sispala Land berjumlah 5 orang tersebut diajak untuk menonton film lingkungan yaitu film orangutan. Pada kesempatan tersebut, dari Yayasan Palung yang mendampingi kegiatan itu adalah Simon Tampubolon dan Wawan Anggriandi.

Semua rangkaian kegiatan berjalan sesuai rencana dan mendapat sambutan baik dari peserta yang hadir tampak asyik mengikuti semua rangkaian kegiatan tersebut. Berharap, relawan konservasi bisa saling berbagi ilmu sebagai pengetahuan dasar sekaligus juga sebagai muatan/peningkatan kapasitas mereka sebagai relawan.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Bertutur Tentang Satwa Dilindung dengan Media Boneka (Puppet Show) kepada Anak Sekolah

IMG_20181018_082807

Saat bercerita/bertutur dengan media boneka (Puppet Show) bercerita tentang satwa dilindungi kepada anak-anak di sekolah-sekolah. Foto dok : Yayasan Palung

Kamis (18/10) pagi, Yayasan Palung berkesempatan untuk bertutur kepada anak sekolah tentang satwa dilindungi di SDN 13 Sukabangun, Ketapang, Kalbar. Setelah Rabu(17/10) kemarin, kami juga bertutur di SDN 04 Delta Pawan, Ketapang.
Bertutur dengan media boneka tentang satwa dilindungi sebagai satu cara dari banyak cara yang bisa dilakukan saat ini kepada anak usia dini. Alasannya mereka dapat dengan mudah menerima informasi dari edukasi yang disampaikan dengan cara bertutur. Selain juga, sebagai salah satu  cara kami untuk melakukan pendidikan lingkungan dan penyadartahuan kepada anak usia dini.
Pada kempatan tersebut, kami bertutur  tentang kehidupan satwa dilindungi dialam liar. Mereka (satwa) juga memiliki peranan penting bagi makhluk hidup lainnya untuk terus berlanjut hingga nanti.
Ada pun tokoh-tokoh yg diceritakan dalam cerita tersebut antara lain satwa dilindungi dan terancam punah seperti orangutan, burung enggang/rangkong, kelempiau, selain itu ada bekantan yg tidak hanya dilindungi dan terancam punah tetapi juga satwa yang dikenal dengan sebutan si hidung mancung tersebut merupakan satwa khas (endemik) Kalimantan.
Pada cerita disebutkan satwa seperti orangutan dan enggang adalah petani hutan karena mereka sebagai prnyebar biji-bijian yg nantinya akan tumbuh menjadi tunas pohon-pohon baru (hutan) yang juga memiliki banyak manfaatnya bagi mahkluk hidup lainnya, sebagai contoh, adanya hutan adanya kehidupan, adanya hutan dapat memberi manfaat berupa nafas dan penyedia/penampung air serta penangkal terjadinya bencana seperti banjir dan tanah longsor.
Selain juga kami juga bertutur/bercerita bahwa satwa tidak boleh dipelihara dan kontak langsung seperti halnya orangutan karena bisa saja menyebarkan penyakit dan yang terpenting, satwa dilindungi diatur oleh undang-undang dan jika melanggar bisa terkena sanksi berupa denda atau pun hukuman penjara.
Terlihat, antusias dan semangat dari siswa-siswi kelas 4 yang mengikuti kegiatan tersebut.
Pada kesempatan tersebut, penutur yang bercerita dari Yayasan Palung adalah Haning Pertiwi, Petrus Kanisius, dan 4 siswa-siswi magang : Eti, Neneng dan Dewi  dari SMKN 1 Sukadana dan Iin dari SMKN 1 Ketapang.
Berharap dengan adanya puppet show tentang satwa dilindungi ini, siswa-siswi ada informasi dan pengetahuan baru. Selain itu, semoga saja ada tumbuh kecintaan mereka untuk menjaga dan melindungi satwa-satwa dilindungi dengan cara-cara sederhana.
(Petrus Kanisius – Yayasan Palung).

Ironis, 5 Burung yang Dulu Dilindungi Kini “Dikeluarkan”

Lima burung yang dikeluarkan dari daftar dilindungi. Grafis dok. Profauna

Lima burung yang dikeluarkan dari daftar dilindungi. Grafis dok. Profauna

Mulanya mereka ini ( lima burung) masuk dalam daftar dilindungi, namun kini nasib berkata lain mereka dikeluarkan dari daftar satwa dilindungi.

Mengutip dari halaman change.org terkait tentang; “Tolak P92/2018 dan Kembalikan Status Perlindungan 5 Jenis Burung ini!”, mengajak para pihak untuk menandatangani petisi untuk dukungan mengembalikan lima jenis burung ke dalam daftar dilindungi.

Iya, berdasarkan keluarnya Revisi  terkait Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No.92 Tahun 2018 (PermenLHK 92/2018) sebagai perubahan atas PermenLHK 20/2018.

Hanya dalam kurun waktu kurang dari 3 bulan, bukan hanya TIGA namun LIMA spesies burung dikeluarkan dari daftar, yaitu kucica hutan/murai batu, jalak suren, dan cucak rawa serta dua spesies tambahan lainnya yaitu anis-bentet kecil (Colluricincla megarhyncha) dan anis-bentet sangihe (Colluricincla sanghirensis), demikian disebutkan di petisi tersebut sekaligus juga mempertanyakan revisi dan mendesak untuk menggembalikan status 5 jenis burung agar tetap dalam daftar dilindungi.

Atas keluarnya peraturan menteri tersebut membuat ratusan lembaga konservasi kecewa. Benar saja, kekecewaan sangat beralasan sekali, menginggat sudah semestinya nasib dari kelima burung tersebut sejatinya harus tetap dilindungi.

(Ironis memang terkait status dilindungi sejatinya harus tetap disematkan kepada burung-burung tersebut), disatu sisi segala upaya yang terus dilakukan oleh lembaga konservasi untuk melindungi malah bertolak belakang dengan peraturan menteri  mengeluarkan burung-burung tersebut dari daftar dilindungi)

Ada pun 5 daftar nama burung tersebut adalah: Anis-bentet sangihe (Colluricincla sanghirensis), Cucak rawa, Kucica hutan/murai batu, Jalak Suren dan Anis-bentet kecil (Colluricincla megarhyncla).

Revisi itu dinilai tanpa kajian ilmiah yang mendalam sehingga menimbulkan kekecewaan ratusan organisasi konservasi terhadap kebijakan Menteri LHK, Siti Nurbaya yang merevisi peraturan menteri no.20 yang mengeluarkan 5 jenis satwa (burung) dari daftar satwa dilindungi tersebut. Dukungan untuk mengembalikan status dilindungi kepada kelima burung tersebut melalui petisi sudah semestinya harus dilakukan, Tolak P92/2018 dan Kembalikan Status Perlindungan 5 Jenis Burung ini!.

Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di kompasiana, untuk membaca lebih lengkap klik di link https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/5baddb62ab12ae0f23340267/ironisnya-nasibmu-lima-burung-dulu-dilindungi-tetapi-kini-dikeluarkan

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Liana si Penumpang pada Pohon dan Pemberi Manfaat bagi Satwa

Tumbuhan Liana yang menumpang pada pohon. Foto dok. Syahik Nur Bani,YP

Tumbuhan Liana yang menumpang pada pohon. Foto dok. Syahik Nur Bani,YP

Tumbuhan ini jika boleh dikata adalah tumbuhan Penumpang pada tumbuhan lain, mungkin itu kata yang cocok untuk dikatakan kepada tumbuhan liana. Tumbuhan ini pun sangat banyak sekali tumbuh dan hidup di wilayah hutan hujan tropis, tidak terkecuali di Taman Nasional Gunung  Palung (TNGP) yang diketahui banyak memberikan manfaat bagi satwa.

Ia bukan pohon, tetapi tumbuhan. Hidup menempel (menumpang) serta menjalar pada pohon sebagai penopangnya untuk mendapakan cahaya matahari. Tidak hanya itu, tumbuhan liana bukan tumbuhan parasit (tumbuhan yang merugikan tumbuhan lain) seperti ficus sp (kayu ara) misalnya.

Menariknya, tumbuhan liana ternyata banyak memberikan manfaat bagi satwa. Seperti misalnya akar liana yang menjalar atau menggantung bisa menjadi arena bermain bagi satwa dan buah dari liana menjadi makanan favorit satwa.

Tidak hanya buah, tetapi satwa seperti orangutan sangat suka memakan daun muda dan kulit dari liana. Untuk buah, orangutan sangat senang memakan buah liana jenis Willugbeia sp (buah jantak) karena rasanya manis.

Beberapa satwa seperti monyet ekor panjang, kelempiau, kelasi dan orangutan diketahui sangat menyukai tumbuhan liana sebagai makanan. Selain liana dari jenis akar kuning ada jenis lainnya yang dimanfaatkan oleh binatang disana seperti, tapal kaki kuda (Bahuinia sp), cakar elang/pancingan (Uncaria sp), Combretum spdan lain-lain.

Seperti diketahui, kelimpahan liana di Stasius Penelitian Cabang Panti (SPCP) di Taman Nasional Gunung Palung (TNGP) sangat padat baik dari dataran rendah hingga dataran tinggi. Diketahui pula, keberadaan tumbuhan liana sebagai penanda (ciri khas) bahwa hutan di Indonesia merupakan hutan hujan tropis.

“Tumbuhan liana merupakan tumbuhan yang memiliki batang yang keras namun untuk mendapatkan cahaya matahari untuk berfotosintesis (proses pertukaran CO2 dan O2). Liana membutuhkan lain seperti pohon. Akar liana  berbeda dengan Ficus sp.  Ficus  sp (kayu ara) organ tubuhnya menempel pada pohon.

Liana  merupakan salah satu tumbuhan parasit karena dapat memberi luka pada tumbuhan lain, tetapi liana bukanlah parasit yang ganas”, ujar Riduwan salah satu mahasiswa Kehutanan Universitas Tanjungpura yang melakukan penelitiannya selama 1 setengah bulan di Cabang Panti, Taman Nasional Gunung Palung ketika menyampaikan perentasi hasil penelitiannya di Kantor Yayasan Palung beberapa hari lalu.

Untuk membaca lebih lengkapnya, klik : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/5ba3411a43322f5cbf3ba9b3/liana-si-penumpang-pada-pohon-dan-pemberi-manfaat-bagi-satwa

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Tidak Hanya Belajar di Kelas tetapi Turun Secara Langsung di Alam

IMG-20180824-WA0006

Saat belajar secara langsung dengan anak-anak di alam tentang tumbuhan (morfologi daun). Foto dok : Yayasan Palung

Tidak terasa perkulihan  pada semester dua di Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura (UNTAN) telah saya lalui, ketika liburan semester genap berlangsung sebagai salah seorang penerima BOCS (Bornean Orangutan Caring Scholarship) atau Beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan saya berkewajiban untuk magang. Seperti penerima-penerima BOCS sebelumnya, waktu dan tempat magang bagi penerima BOCS baru telah ditentukah dari pihak Yayasan Palung.

Hanya ada dua tempat lokasi magang, yaitu Kantor Yayasan Palung Ketapang dan Kantor Yayasan Palung (Bentangor). Untuk magang kali ini saya ditempatkan di Kantor Yayasan Palung (Bentangor) Kabupaten Kayong Utara.

Selama lebih dari tiga minggu magang (di bulan Agustus 2018), banyak pengalaman dan keseruan yang saya dapatkan. Saya telah melakukan berbagai kegiatan baik mengikuti program Sustainable Livelihoods (SL) atau program pemberdayaan dan pendampingan terhadap masyarakat, dan program Pendidikan Lingkungan (PL).

Pada minggu pertama, kegiatan saya awali dengan mengikuti acara Kayong Expo 2018 atau pameran di Pantai Pulau Datok. Kegiatan tersebut berlangsung selama lima hari. Yayasan Palung bekerja sama dengan Lembaga Pengolahan Hutan Desa (LPHD) membuka lapak produk Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) dari pengrajin dan petani binaan Yayasan Palung. Sebagai tenaga magang, saya bertugas menjaga lapak dan menjelaskan kepada pengunjung yang saya ketahui tentang produk-produk hasil olahan HHBK. Aktifitas ini menjadi sangat menarik karena antusias warga lokal atau luar yang sangat berminat untuk membeli produk-produk yang dipamerkan, seperti: tikar, lekar, tas, madu, minyak kelapa, dan lain-lain.

Sedangkan di minggu kedua, saya terfokus pada Program SL. Kegiatan yang kami lakukan adalah Pemetaan Damplot di  kebun durian petani Meteor Garden di Dusun Pampang, Desa Pampang Harapan, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Kayong Utara, selama tiga hari. Seperti yang kita ketahui kebun para petani Meteor Garden berbatasan langsung dengan kawasan Taman Nasional Gunung Palung (TNGP).

Sebagai daerah yang rawan konflik pemangku kepentingan, jadi perlu adanya pengambilan data sebagai penanda kebun durian milik para petani Meteor Garden. Sebagai asisten tim survey, saya bertugas mengambil data titik koordinat tanaman durian. Adapula kegiatan membibitan cabai di rumah pembibitan kelompok petani Meteor Garden. Disini saya membantu petani selama proses pembibitan. Mulai dari menggemburkan tanah dan mencampurnya dengan kompos organic, mengisi polibag, hingga pembibitan.

IMG-20180824-WA0005

Saat memberikan materi tentang satwa dilindungi kepada anak-anak dengan media boneka. Foto dok : Yayasan Palung

Kemudian pada minggu ketiga, saya mengikuti kegiatan Pendidikan Lingkungan (PL) di SD 19 Sukadana. Dalam kegiatan ini Yayasan Palung mengajak siswa-siswi belajar lingkungan melalui Puppet Show dan Fieldtrip. Bersama satu orang Relawan Konservasi REBONK dan kedua teman saya dari BOCS, kami mempertunjukan Puppet Show (atau pertujukan boneka satwa) dihadapan 60 orang siswa-siswi dari kelas satu hingga kelas empat. Materi yang kami sampaikan berupa pengenalan satwa dan status keterancaman satwa yang dilindungi, reperti orangutan, bekantan, enggang, dan teringgiling. Pendidikan lingkungan melalui Puppet Show dengan menggunakan boneka satwa disampaikan agar materi dapat terserap dengan mudah dan menarik. Selanjutnya kami melanjutkan kegiatan belajar di alam di jalur fieldtrip Yayasan Palung Bentangor. Saya juga berkesempatan untuk menyampaikan materi tentang morfologi daun, Hasil Hutan Buakn Kayu (HHBK), dan pupuk kompos.

Penulis : Ilham Pratama, Mahasiswa Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura, Penerima Beasiswa BOCS

Rayakan Hari Orangutan Internasional 2018, Yayasan Palung Lakukan Ragam Kegiatan untuk Menjaga Si Petani Hutan Melalui Budaya

Cerita tentang satwa dilindungi saat IOD 2018 (2).JPG

Relawan Tajam  Yayasan Palung Bercerita tentang satwa dilindungi saat acara IOD 2018 di Citimall Ketapang pada (19/8), kemarin. Foto dok : Yayasan Palung

Minggu (19/8/2018) kemarin, Dunia Internasional  memperingati Hari Orangutan Internasional atau International Orangutan Day (IOD)/ atau biasanya disebut juga World Orangutan Day (WOD)/Hari Orangutan Sedunia 2018. Tahun ini, Yayasan Palung bersama para relawan untuk bersama mengajak  untuk peduli terhadap si petani hutan (orangutan), salah satunya melalui budaya.

Dalam gelaran untuk merayakan hari orangutan internasional 2018 kemarin, Yayasan Palung bersama para relawan Tajam, RebonK dan Penerima Beasiswa Orangutan Kalimantan (BOCS) menyelenggarakan berbagai kegiatan yang dilaksanakan di Citimall Ketapang, diantaranya seperti panggung boneka (puppet show) yang disuguhkan oleh relawan Tajam, penampilan teater dari relawan Bentangor, dan lomba Syair gulung di tingkat Sekolah Dasar.

teater saat IOD.JPG

Aksi teatrikal (teater) yang ditampilkan oleh Relawan RebonK Yayasan Palung saat acara Hari Orangutan Internasional (19/8), kemarin. Foto dok : Yayasan Palung

Ada pun tema yang diketengahkan oleh Yayasan Palung pada Hari Orangutan Internasional tahun 2018 adalah; “Menjaga Si Petani Hutan Melalui Budaya”, Si Petani hutan yang dimaksud pun tidak lain adalah orangutan.  Menjaga si petani hutan melalui budaya menjadi satu ajakan kepada semua pihak untuk peduli terkait nasib dari orangutan saat ini karena berbagai ancaman yang ada pada satwa endemik tersebut.

Kegiatan dimulai pada pukul 13.00 Wib, dibuka secara resmi oleh Direktur Yayasan Palung. Ragam rangkaian kegiatan seperti perlombaan Syair Gulung, diselang seling dengan adanya suguhan penampilan panggung boneka (puppet show) yang bercerita tentang kehidupan satwa liar di hutan seperti orangutan, burung enggang dan bekantan. Orangutan sebagai satwa yang sangat terancam punah, dan burung enggang sebagai satwa penyebar biji (si petani hutan). Sedangkan bekantan merupakan satwa endemik yang hanya hidup di pulau Kalimantan saja.

Sedangkan atraksi aksi teatikal (teater) bercerita tentang menjaga  kehidupan di hutan. Dalam teater tersebut, relawan RebonK mengajak menjaga hutan  peninggalan nenek moyang. Sebagai tokoh dalam cerita, Pak Amat yang di Perankan oleh Egi, RebonK sebagai sosok penjaga hutan yang bijaksana serta tidak tergoda dengan bujuk rayu dan berhasil menangkal segala ancaman yang datang seperti penebangan liar atau pun ilegal loging dan perburuan liar live music  dari Egi’s & Friend yang menampilkan lagu-lagu tentang lingkungan.

Egi's and Friend band saat mengisi acara IOD.JPG

Egi’s and Friend band saat mengisi acara IOD 2018. Foto dok : Yayasan Palung

Pada perlombaan Syair Gulung, peserta lomba melantunkan syarir gulung yang merupakan bagian dari budaya. Peserta lomba syair sebagian besar menyampaikan pesan kepada khalayak (masyarakat luas) dan ajakan terkait pesan-pesan moral lingkungan, dan kecintaan mereka tanpa harus memiliki atau memilihara satwa dilindungi. Sebagai Pemenang pertama dalam lomba Syair Gulung adalah Uti Al Faldan, dari MIN Ketapang. Sedangkan pemenang kedua adalah Girink Clara Belo dari SDN 05 Delta Pawan, pemenang ketiga Syarif Levi Nasira Sahab dari SDN 04 Benua Kayong dan pemenang keempat adalah Safitri  Kirani dari SDN 20 Delta Pawan. Untuk hadiah, para pemenang mendapatkan hadiah berupa paket hadiah, plakat dan sertifikat.

peserta lomba berfoto bersama.JPG

Peserta lomba berfoto bersama setelah pengumuman lomba Syair Gulung dalam acara IOD 2018. Foto dok : Yayasan Palung

Sebagai juri dalam perlombaan Syair Gulung di tingkat Sekolah Dasar dalam rangka IOD 2018 tersebut adalah Raden Abdillah dan Wijaya.

Dalam kata sambutannya, Direktur Program Yayasan Palung, Terri Lee Breeden mengatakan; “Acara kami yang diadakan di Citi Mall untuk International Orangutan Day 2018 adalah sukses besar”.

Selain itu lebih lanjut menurut Terri, Ia merasa terkesan pada kapasitas para kelompok relawan, yang mana para relawan muda kami bekerja untuk mengatur dan melakukan pertunjukan yang hebat. Kami menjangkau khalayak luas dan dapat menyampaikan pesan tentang ancaman yang dihadapi orangutan saat ini dan apa yang dapat kita semua lakukan untuk membantu melindungi mereka dan habitat hutan mereka. Saya ingin berterima kasih kepada semua orang atas kerja keras mereka dan menantikan acara seperti ini di tahun-tahun mendatang’’, ujar Terri lagi.

Winda Lestari, Relawan Tajam angkatan pertama sekaligus sebagai ketua panitia kegiatan IOD 2018 mengatakan;  Kegiatan seperti ini (IOD/WOD 2018) sangat bagus sekali dilakukan karena rangkaian kegiatan sudah menjadi aksi kampanye untuk satwa yang dilindungi seperti perlombaan syair gulung pun tersaji dan tersirat pesan moral konservasi. Selain itu juga syair gulung menjadi aksi yang nyata melalui budaya.

Sementara itu, Junardi dari Mahasiswa penerima Beasiswa BOCS mengatakan, kegiatan hari orangutan internasional yang diselenggarakan sudah berjalan dengan sukses, berharap di tahun-tahun mendatang kegiatan seperti ini bisa lagi diselenggarakan dengan peserta yang lebih banyak dan di tempat-tempat yang strategis agar bisa menjangkau masyarakat.

Pada kegiatan tersebut, terlihat antusias dari para tamu undangan dan para peserta lomba yang ikut ambil bagian dalam acara IOD tersebut. Pada malam harinya, Yayasan Palung bersama para relawan dan Mahasiswa BOCS melakukan pemutaran film lingkungan di Citimall. Ada pun film lingkungan yang diputar sebagai media penyadartahuan/kampanye  dan hiburan kepada pengunjung. Ada pun film  yang di putar antara lain adalah film Asimetris, film Indonesia Diambang Kepunahan dan film Sampah Man.

Saat pemutaran film lingkungan dalam rangka IOD 2018 di Citimall Ketapang sebagai upaya kampanye penyadartahuan  (1).jpg

Saat pemutaran film lingkungan dalam rangka IOD 2018 di Citimall Ketapang sebagai upaya kampanye penyadartahuan kepada masyarakat luas. Foto dok : Yayasan Palung

Lewat IOD/WOD 2018 ajakan kepada semua untuk peduli pada satwa lebih khusus orangutan dan satwa dilindungi lainnya. Selain juga merupakan satu cara penyampaian kampanye penyadartahuan kepada masyarakat luas untuk ikut berperan serta ambil bagian berperan dan berharap ada semangat yang semakin tumbuh dari semua pihak untuk semakin peduli pada nasib hutan dan satwa sebelum terlambat. Berharap Si Petani Hutan bisa lestari hingga nanti. Semua rangkaian kegiatan Hari orangutan Internasional 2018 berjalan sesuai rencana dan sukses.

berfoto bersama setelah selesai kegiatan IOD atau WOD 2018.JPG

Berfoto bersama setelah selesai kegiatan IOD atau WOD 2018. Foto dok : Yayasan Palung

Sebelumnya berita terkait kegiatan Hari Orangutan Internasional (International Orangutan Day/IOD) 2018 yang digelar/dilakukan Yayasan Palung, dimuat di Tribun Pontianak online :

http://pontianak.tribunnews.com/2018/08/23/rayakan-peringatan-iod-2018-yp-gelar-beragam-kegaiatan-di-citimall-ketapang

Rekaman Radio di Radio GS tentang feature hari orangutan internasional 2018 di link :

https://soundcloud.com/yayasan-palung/feature-radio-gs-tentang-kegiatan-hari-orang-utan-sedunia-2018-dirayakan-oleh-ypmp3

Petrus Kanisius-Yayasan Palung