Category Archives: Kegiatan Yayasan Palung

Rayakan Hari Bumi, YP Ajak Peduli Persoalan Sampah di Hutan Kota Ketapang

Banner Hari Bumi 2018. Foto dok.Yayasan Palung

Banner Hari Bumi 2018 Yayasan Palung. Foto Desain : Mega, RK. Tajam dan Yayasan Palung

Tidak bisa disangkal, persoalan sampah yang ada di Hutan Kota Ketapang cukup banyak. Persoalan sampah tersebut tidak lain berasal dari oknum-oknum pengunjung yang tak jarang membuang sampah tidak pada tempatnya. Walaupun hari bumi sudah lewat pada 22 April lalu, akan tetapi Yayasan Palung (YP) berencana akan melakukan rangkaian kegiatan hari bumi tahun ini, yang rencananya akan diadakan dilakukan pada hari Minggu 29 April 2018 mendatang.

Adapun tema yang diusung oleh Yayasan Palung pada hari bumi tahun 2018, “Di mana Bumi Dipijak, Di situ Langit Dijunjung”.

Sedangkan maksud dan tujuan kegiatan ini adalah :

  1. Memberikan penyadartahuan dan kepedulian tentang kebersihan lingkungan kepada para pengunjung Hutan Kota.
  2. Mengajak peran serta pemerintah (Perkimlh dan KPH) untuk terlibat aktif dalam menjaga kebersihan hutan kota.

Dalam rangkaian kegiatan Hari bumi yang akan dilakukan tersebut, Yayasan Palung mengajak para pihak seperti misalnya;  PERKIMLH (Kebersihan) Kab. Ketapang, Relawan Konservasi Yayasan Palung (RK.Tajam dan RK. RebonK), KPH Selatan, Radio Kabupaten Ketapang (RKK) dan Siswa Pecinta Alam (SISPALA) yang ada di Ketapang.

Sedangkan bentuk kegiatan seperti; Bersih sampah di lokasi Hutan Kota, Pemasangan plang kampanye penyadartahuan terkait sampah, Pembersihan sampah, Pengangkutan sampah dan Pembuatan film tentang bersih-bersih sampah ujar Rizal Alqadrie, selaku ketua panitia kegiatan.

Permasalahan sampah sering terjadi di berbagai tempat, tidak hanya di tempat umum melainkan di lingkungan sekitar kita juga mengalami permasalahan tersebut. Masalah ini sering menjadi ancaman aspek keindahan dan kebersihan, namun lebih lagi memberikan dampak negatif bagi kelestarian lingkungan dan kesehatan bagi masyarakat jika tidak ditangani dengan baik. Salah satunya sekarang mengancam tempat keberlangsungan makhluk hidup yang berada di Hutan Kota Ketapang.

Mengingat Hutan Kota merupakan salah satu aset kota Ketapang, karena keberadaannya yang berada ditengah pusat ketapang sehingga mudah sekali bagi masyarakat untuk berkunjung hanya sebatas untuk melihat dan menjadikan sebagai tempat pendidikan bagi sekolah serta menikmati alam yang ada disana. Akan tetapi, kesadaran masyarakat terhadap hutan kota tersebut sangat minim sekali dikarenakan masih saja membuang sampah sembarangan dan pengelolaan sampah yang tidak baik membuat sampah berserakan di lokasi tersebut. Berharap, kegiatan berjalan sesuai rencana.

Petrus Kanisius- Yayasan Palung

Iklan

Olah Pupuk Kompos, Tekan Biaya hingga Satu Juta Rupiah

Petani mengolah pupuk organik untuk menggantikan pupuk yang mengandung bahan kimia, juga sebagai efesiensi biaya pertanian. Foto dok. Yayasan Palung

Petani mengolah pupuk organik untuk menggantikan pupuk yang mengandung bahan kimia, juga sebagai efesiensi biaya pertanian. Foto dok. Yayasan Palung

Melalui Program Sustainable Livelihood (SL), Yayasan Palung (YP) berinisiatif dampingi kelompok Tani di Desa Pampang Harapan Kecamatan Sukadana. Meteor Garden, itulah nama kelompok tani yang mendapatkan pendampingan guna meningkatkan hasil pertanian tersebut.

Kelompok tani tersebut terdiri dari 12 orang petani. Mereka tetap bertani di lahan mereka masing-masing. Pembentukan kelompok tani Meteor Garden dilakukan oleh YP bersama dengan Petugas Penyuluh Pertanian (PPL) Desa Pampang. “Ahli pertanian adalah petani itu sendiri, bukan pendamping, pembina atau profesor pertanian,” kata F Wendi Tamariska, manager Program SL-YP.

Wendi menjelaskan, pihaknya akan membangun kerja sama melalui demplot masing-masing dengan konsep agroforestri (tanaman campuran), agar bisa tetap membantu pertumbuhan hutan sembari bertani. Pihaknya juga akan bersama-sama mengembangkan pertanian holtikultura kelompok tani ini.

“Dengan harapan ke depan kita bisa berkontribusi dan menjadi contoh bagi petani lainnya di tingkat Kabupaten Kayong Utara,” jelasnya.

PPL di Desa Pampang, Siti Hanipah, mengatakan, dia mendampingi Desa Pampang dari tahun 2016. Awalnya dia berharap akan melanjutkan kelompok yang sudah ada, tapi begitu melihat komitmen petani yang dibentuk Yayasan Palung sudah menunjukkan kesungguhan dalam membangun petani yang berkomitmen. “Semoga apa yang diharapkan kelompok petani yang baru terbentuk ini dengan Yayasan Palung bisa terwujud,” harapnya.

Digambarkan dia, 10 orang kelompok tani Meteor Garden ini bertani di lahan mereka sendiri. Mereka, menurut dia, selalu gotong royong ketika mengolah lahan, menanam, atau pun saat panen. Gotong royong yang dimaksudkan dia seperti menyiapkan lahan untuk ditanam dengan berbagai aneka tanaman, terutama tebu dan tanaman sisipan seperti sayur-sayuran serta tanaman pagarnya adalah tanaman buah-buahan.

“Hingga saat ini, mereka sudah dua kali siklus masa panen. Salah satunya sayur terong, sekitar 200 kilogram sayur terong yang mereka jual kepada penampung sayur di Kayong Utara dan Ketapang,” ujarnya.

Untuk mengurangi biaya besar, dia menggambarkan bagaimana mereka menggunakan pupuk kompos yang diolah oleh mereka sendiri, di rumah kompos milik Yayasan Palung di Desa Pampang Harapan. Dengan menggunakan pupuk kompos, mereka ini, menurut dia, bisa mengurangi biaya pengeluaran setiap bulannya untuk pupuk dan racun rumput, dengan biaya penghematan sekitar Rp1 juta.

Sekretaris Desa Pampang Harapan, Suwandi, sangat mendukung kegiatan ini. “Kami tetap mendukung program ini yang telah dibentuk oleh pihak Yayasan Palung dengan komitmen yang dibangun. Petani di Pampang banyak tapi tidak produktif. Harapan kami pemerintah desa dengan Yayasan Palung bisa bekerjasama, ujarnya.

Tulisan ini telah dimuat di Pontianak Post dengan link tulisan : http://www.pontianakpost.co.id/olah-pupuk-kompos-tekan-biaya-hingga-rp1-juta

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Inisiatif Yayasan Palung  Dampingi Kelompok Tani Meteor Garden

Petani Meteor Garden Pak Ishak Panen Terong . Foto dok. Yayasan Palung

Saat Petani Meteor Garden Panen Terong . Foto dok. Yayasan Palung

Melalui Program Sustainable Livelihood (SL), Yayasan Palung berinisiatif untuk dampingi kelompok Tani di Desa Pampang Harapan, Kec. Sukadana, Kabupaten Kayong Utara. Meteor Garden, itulah nama kelompok tani tersebut. Kelompok tani tersebut terdiri dari 12 orang petani.

Mereka (petani-red) tetap bertani di lahan mereka masing-masing. Pembentukan kelompok tani Meteor Garden dilakukan oleh YP bersama dengan PPL (Penyuluh Pertanian) Desa Pampang pada Jumat (23/3/2018), bulan lalu di Kantor Yayasan Palung, Bentangor Pampang Center.

“Ahli pertanian adalah petani itu sendiri bukan pendamping, pembina, atau profesor pertanian”, ujar F. Wendi Tamariska, selaku Manager Program SL-YP.

Lebih lanjut, Wendi sapaan akrabnya sehari-hari mengatakan, “kita akan membangun kerjasama melalui demplot masing-masing dengan konsep agroforestri (tanaman campuran) agar kita bisa tetap membantu pertumbuhan hutan sembari bertani dan kita akan bersama-sama mengembangkan pertanian holtikultura kelompok tani kita ini”.

“Dengan harapan kedepan kita bisa berkontribusi dan menjadi contoh bagi petani lainnya di tingkat Kabupaten Kayong Utara”, ujarnya lagi.

Ibu Siti Hanipah ( PPL di Desa Pampang ) mengatakan, “saya mendampingi desa pampang dari tahun 2016. Awalnya saya berharap akan melanjutkan kelompok yang sudah ada, tapi begitu melihat komitmen petani yang di bentuk Yayasan Palung sudah menunjukkan kesungguhan dalam membangun petani yang berkomitmen, semoga apa yang di harapkan kelompok petani yang baru terbentuk ini dengan Yayasan Palung bisa terwujud.

Seperti dikeahui, 10 orang kelompok tani Meteor Garden bertani di lahan mereka sendiri. Mereka selalu gotong royong ketika mengolah lahan, menanam ataupun saat panen.

Seperti misalnya, mereka (para petani) menyiapkan lahan untuk di tanam dengan berbagai aneka tanaman utamanya tebu dan tanaman sisipannya sayur-sayuran serta tanaman pagarnya adalah tanaman buah-buahan.

No Nama

 

Jabatan Jenis Kelamin Luas Lahan
1 Ishak Ketua L 10 x 116 M²
2 Zakaria Sekretaris L 22 x 116 M²
3 Yanto Bendahara L 30 x 116 M²
4 Hermansyah Anggota L 10 x 200 M²
5 Baharudin Anggota L 10 x 116 M²
6 Jainal Anggota L 10 x 116 M²
7 Idris Anggota L 15 x 140 M²
8 Hasanah Anggota L 65 x 50 M²
9 Dedi Kasino Anggota L 15 x 80 M²
10 Aryadi Anggota L 15 x 80 M²

 

Hingga saat ini mereka sudah dua kali siklus masa panen. Salah satunya sayur terong, sekitar 200 kilogram sayur terong yang mereka jual kepada penampung sayur di Kabupaten Kayong Utara dan Ketapang.

Untuk mengurangi biaya besar mereka menggunakan pupuk kompos yang diolah oleh mereka sendiri di rumah kompos milik Yayasan Palung di Desa Pampang Harapan. Menurut pengakuan para petani, dengan menggunakan pupuk kompos, mereka bisa mengurangi biaya pengeluaran setiap bulannya untuk pupuk dan racun rumput, dengan biaya penghematan sekitar Rp 1 juta.

Suwandi selaku sekretaris Desa Pampang Harapan senada untuk mendukung, “Kami tetap mendukung program ini yang telah dibentuk oleh pihak Yayasan Palung dengan komitmen yang dibangun”.

Lebih lanjut kata Sekdes Pampang mengtatakan, “petani di Pampang banyak tapi tidak produktif. Harapan kami pemerintah desa dengan yayasan palung bisa bekerjasama. Pihak Desa berharap kepada pihak Yayasan Palung meminta damping dengan yayasan palung dengan sungguh-sungguh”. Kelompok ini sudah terarah dan mantap, ujarnya lagi.

Dalam proses legalisasi kelompok tani, peserta yang hadir antara lain Kelompok Meteor Garden : 10 Orang, PPL Pertanian Desa Pampang : 1 Orang (Siti Hanipah), Pemerintahan Desa: 1 Orang (Suwandi) Sekretaris Desa, dari GAPOKTAN: 1 Orang (Abdul Samad), Staff YP : 3 Orang (Wendy,Samad, Asbandi). Rencananya kelompok tani ini akan didaftarkan di dinas pertanian KKU.

Tulisan ini sebelumnya pernah dimuat Tribun Pontianak, dengan judul : YP Bentuk dan Dampingi Kelompok Tani Meteor Garden klik: http://pontianak.tribunnews.com/2018/04/06/yp-bentuk-dan-dampingi-kelompok-tani-meteor-garden.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Terkait Lingkungan Hidup, Kadisdik Ketapang Apresiasi Program Yayasan Palung

Kepala Dinas Pendidikan Ketapang, H Jahilin, di ruang kerjanya. Foto dok. Tribun Pontianak

Kepala Dinas Pendidikan Ketapang, H Jahilin, di ruang kerjanya, Kamis (5/4). Foto dok. Tribun Pontianak

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Subandi 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KETAPANG – Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Ketapang, H Jahilin mengapresiasi dan berterimakasih kepada Yayasan Palung (YP). Lantaran sejak 2012 hingga 2018 komitmen mengkuliahkan para pelajar hingga 31 orang dan di antaranya dari Ketapang.

“Kita sangat mengapresiasi program YP tersebut apalagi terkait untuk keberlangsungan lingkungan hidup flora dan fauna,” kata Jahilin kepada wartawan di Ketapang, Kamis (5/4).

Ia menilai adanya progam itu berarti ada pelajar yang memang dididik dan arahkan untuk menjaga kelestarian alam.

“Apalagi sekarang hal itu sangat penting karena hutan kita semakin sedikit sehingga flora dan fauna terancam punah,” ucapnya.

“Jadi dengan adanya pelajar di Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara yang diberi beasiswa oleh YP tersebut. Harapan kita para pelajar ini nantinya bisa menyelamatkan keberlangsungan hidup flora dan fauna di daerah kita,” lanjutnya.

Ia berharap selain para pelajar yang dikuliahkan oleh YP tersebut. Pelajar lain dan masyarakat juga memiliki kesadaran untuk menjaga keberlangsungan hidup alam. “Misalnya menjaga kelestarian orangutan agar tidak punah nantinya,” tuturnya.

Artikel ini telah tayang di tribunpontianak.co.id dengan judul Terkait Lingkungan Hidup, Kadisdik Ketapang Apresiasi Program Yayasan Palung, http://pontianak.tribunnews.com/2018/04/05/terkait-lingkungan-hidup-kadisdik-ketapang-apresiasi-programyayasan-palung.
Penulis: Subandi
Editor: Jamadin

Sumber Berita : tribunpontianak.co.id
 

Sejak 2012, Total Pelajar Yang Dikuliahkan Yayasan Palung Sebanyak 31 Orang

Semua peserta seleksi BOCS saat mendengarkan pengumuman hasil seleksi

Semua peserta seleksi BOCS saat mendengarkan pengumuman hasil seleksi. Foto dok. YP

Sejak dimulainya Program Peduli Orangutan Kalimantan atau Bornean Orangutan Caring Scholarship (BOCS).

Khususnya program Penerimaan Beasiswa BOCS atau Besiswa Orangutan Kalimantan sejak 2012 silam.

Pada 2018 ini dengan diterimanya enam pelajar lagi maka total penerima beasiswa tersebut menjadi 31 orang. Ini diungkapkan Manager Program Pendidikan Lingkungan dan Media Kampanye YP, Mariamah Achmad.

Baca: Ini Nama-nama Penerima Beasiswa Orangutan Kalimantan Program YP

Di antaranya empat orang sudah sarjana dan selebihnya sedang aktif kuliah di (Untan) Universitas Tanjungpura Pontianak.

31 pelajar yang dikuliahkan melalui Program BOCS tersebut. 20 orang dari Ketapang dan 11 orang dari Kabupaten Kayong Utara.

“Mereka berasal dari berbagai daerah di dua kabupaten tersebut,” ungkapnya.

Baca: Ini Nama-nama Penerima Beasiswa Orangutan Kalimantan Program YP

Mariamah mengaku sangat senang mendapatkan enam pelajr lagi menjadi penerima beasiswa Program BOCS.

“Program ini sudah kami jalankan tujuh tahun. Jadi YP sangat peduli dengan peningkatan pendidikan generasi muda,” ujarnya.

Artikel ini telah tayang di tribunpontianak.co.id dengan judul Sejak 2012, Total Pelajar Yang Dikuliahkan Yayasan Palung Sebanyak 31 Orang, http://pontianak.tribunnews.com/2018/04/05/sejak-2012-total-pelajar-yang-dikuliahkanyayasan-palungsebanyak-31-orang.
Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Ada Enam Pelajar Penerima Beasiswa Orangutan Kalimantan Tahun ini

Saat seleksi beasiswa, peserta seleksi menyampaikan presentasi.JPG

Saat seleksi beasiswa, peserta seleksi menyampaikan presentasi. Foto dok. Yayasan Palung

Setelah melakukan seleksi, Yayasan Palung  resmi mengumumkan enam pelajar penerima beasiswa S-1 melalui Program Peduli Orangutan Kalimantan atau Bornean Orangutan Caring Scholarship (BOCS) 2018, pada 29 Maret lalu.

Penerima beasiswa Bornean Orangutan Caring Scholarship (BOCS) 2018 dari hasil seleksi tahap akhir yang dilaksanakan pada 29 Maret 2018 adalah:

  1. Mega Oktavia Gunawan (SMK Negeri 1 Ketapang): Fakultas Kehutanan Prodi Kehutanan
  2. Aisyah (SMA Negeri 1 Matan Hilir Utara): FISIP Prodi Hubungan Internasional
  3. Cantika Peggi Nur Iskandar Putri (SMK Negeri 1 Sukadana): Fakultas Hukum
  4. Ari Marlina (SMK Negeri 1 Ketapang): Fakultas Kehutanan Prodi Kehutanan
  5. Fitri Meliyana (SMA Negeri 3 Simpang Hilir): FMIPA Prodi Biologi
  6. Anju Eranti (SMA Negeri 1 Sandai): FISIP Prodi Hubungan Internasional

Enam penerima beasiswa  BOCS tersebut, sebelumnya terlebih dahulu telah melalui tahapan seleksi dari awal hingga seleksi akhir. Adapun sebagai juri dalam seleksi penerima beasiswa adalah Juri: Ir. Evy Wardenaar, M.P (Fahutan UNTAN), Dr. Wahyono, M.Pd (STAI AL-Hauld), Akhdiyatul, S.ST., M.T (Politeknik Ketapang) dan Mariamah Achmad S.Hut (Yayasan Palung).

Para juri seleksi beasiswa dan di tengah direktur Yayasan Pa.JPG

Para juri seleksi beasiswa dan di tengah direktur Yayasan Palung. Foto dok. YP

Seperti diketahui, Beasiswa Orangutan Kalimantan  atas dasar adanya kerjasama Yayasan Palung (YP) dan Orangutan Republik Foundation (OURF), sejak tahun 2012 silam.

Semua peserta seleksi BOCS saat mendengarkan pengumuman hasil seleksi.JPG

Semua peserta seleksi BOCS saat mendengarkan pengumuman hasil seleksi. Foto dok. YP

Direktur Yayasan Palung, Terri Lee Breeden mengatakan, Program BOCS adalah salah satu favorit saya yang diimplementasikan Yayasan Palung. Program ini bertujuan untuk menciptakan generasi pemuda berpendidikan universitas yang akan bekerja untuk konservasi. Tahun ini, proses seleksi sangat sulit. Kami memiliki banyak pelamar yang luar biasa.

Untuk para pemenang, saya ingin mengucapkan selamat. Saya berharap untuk melihat kerja keras dan semangat terhadap konservasi. Untuk yang lain, saya berharap kepada penerima beasiswa tetap melanjutkan pendidikan tinggi dan bekerja menuju konservasi dalam kehidupan sehari-hari Anda, imbuh Terri lagi.

Mariamah Achmad Manager Program Pendidikan Lingkungan dan Media Kampanye Yayasan Palung sekaligus yang menangani program BOCS mengatakan, Sejak dimulainya program BOCS pada tahun 2012 hingga 2018 sudah terdapat 31 orang penerima BOCS, diantaranya 4 orang sudah sarjana dan selebihnya sedang aktif kuliah. Mereka berasal dari berbagai daerah di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara yaitu 20 orang dari Kabupaten Ketapang dan 11 orang dari Kabupaten Kayong Utara.

“Kami sangat senang mendapatkan  enam orang lagi para penerima beasiswa dari program BOCS. Program ini sudah kami jalankan dalam 7 tahun ini. Yayasan Palung sangat peduli dengan peningkatan pendidikan generasi muda di tanah Kayong, sangat baik memperbanyak generasi muda yang peduli terhadap konservasi yang memiliki berbagai latar belakang disiplin ilmu. Ini merupakan salah satu investasi penting untuk masa depan alam dan lingkungan Indonesia”, ujar Mayi.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

 

 

Hak Asasi Manusia dan Hak Asasi Hewan, Bukankah Sama Pentingnya?

Orangutan yang keluar di habitatnya dan mendekati pemukiman masyarakat beberapa waktu lalu, Maret 2018. Foto dok. Yayasan Palung

Orangutan yang keluar di habitatnya dan mendekati pemukiman masyarakat, awal bulan Maret 2018. Foto dok. Yayasan Palung

Hewan hidup di hutan bukan di kandang, tidak terkurung dan tidak dipelihara semestinya demikian adanya. Demikian juga dengan manusia yang menjalani tatanan kehidupannya di dunia ini dengan kebebasan tanpa batas, tetapi tidak sebebas-bebasnya, tidak terpasung, terkurung dan terpenjara.

Hak asasi manusia dan hak asasi hewan sama pentingnya, dengan kata lain (human welfare) dan hewan (animal welfare) keduanya sama-sama memiliki hak pemenuhan untuk berperilaku alami namun sering kali dilanggar.

Kita sesama makhluk hidup telah diciptakan berbeda-beda dan dititahkan untuk hidup berdampingan satu dengan yang lainnya tanpa harus menyakiti atapun mengusik satu sama lainnya pula, memiliki hak yang sama yaitu bebas secara alamiah bukan bebas sebebas-bebasnya atau bebas karena paksaan.

Memiliki rupa yang tidak sama lalu kita mendiskriminasi hak sesorang atau hak kehewanan karena sesuatu kepentingan ataupun oleh ego segelintir orang.  Sebagai contoh; hilangnya habitat hidup hewan yang terusir oleh karena pembukaan lahan berskala besar. Tidak hanya itu, persoalan konflik antara manusia versus hewan juga sering kali terjadi, tentu ini menjadi bukti nyata hak salah satunya dirampas.

Hak-hak dasar hewan non-manusia harus dianggap sederajat (memiliki hak yang sama) sebagaimana hak-hak dasar manusia (lihat Wise, Steven M. “Animal Rights”). Dengan kata lain, hewan hak asasi hewan menyatakan bahwa hewan harus dipandang sebagai orang, bukan benda. Sebagai catatan juga, satu kesatuan makhluk hidup merupakan kesatuan yang utama dan penting di bumi ini sebagai penyeimbang dan saling menghargai satu dengan yang lainnya.

Dari titah Undang-Undang No. 16 Tahun 2009 pun menegaskan bahwa kesejahteraan hewan dari segala perilakunya wajib kita jalankan dan sejatinya perlu diterapkan dan ditegakkan.

Hak pemenuhan hidup (hak manusia dan hak hewan) dalam menjalani tatanan kehidupan sejatinya tidak bisa dipaksakan untuk berperilaku yang tidak sesuai dengan perilaku alamiah kita dan juga hewan. Jika itu terjadi sudah pasti telah memaksakan kodrat si hewan yang dimaksud karen mereka kehilangan hak alamiahnya.

Satu harapan, semoga saja hak dasar hewan menjadi perhatian kita semua dan bersama untuk menghargai sesama sebagai makhluk hidup ciptaan Ilahi yang saling harmonis.

Petrus Kanisius (Pit)-Yayasan Palung

Hari Kasih Sayang, Tak Hanya Soal Pasangan tetapi “Mereka (Orangutan)” Juga Perlu

Pesan kami semua, Kami sayang orangutan. Yayasan Palung

Pesan kami semua, Kami sayang orangutan. Yayasan Palung

Kasih sayang sudah menjadi hak dan kewajiban bagi kita semua untuk melaksanakannya (menerapkannya/melakukannya/mempraktekannya) dalam tatanan kehidupan sehari-hari kita kepada siapa saja tanpa memilah dan memilih.

Kecenderungan saat ini, kasih sayang itu hanya identik dengan wanita atau pasangan kita semata. Lalu, bagaimana kasih sayang kita kepada  “mereka”?. siapa mereka itu?.

“Mereka” yang dimaksud tidak lain dan tidak bukan adalah orangtua kita, saudara/i kita dan sesama kita. Tidak hanya itu, “mereka” satwa, tumbuhan dan lingkungan juga memerlukan cinta dan kasih sayang yang sejatinya tak lekang oleh waktu.

Tidak bisa disangkal, cinta dan kasih sayang kepada sesama, kepada lingkungan (alam semesta), kepada satwa kini serasa sudah semakin memudar.

Tengoklah cinta yang bertepuk sebelah tangan terhadap lingkungan sehingga alam lingkungan berurai air mata tertumpah yang tak jarang menjadi banjir bandang yang menerjang sesuka hatinya. Satwa yang disiksa dan meregang nyawa…

Baca Selengkapnya : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/5a83d762f13344305913c112/hari-kasih-sayang-tak-hanya-soal-pasangan-tetapi-mereka-juga-perlu

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Petani Terapkan Budidaya Padi Infari 32 Dengan Metode Hazton

Penananam padi oleh para petani di lokasi. Foto dok. Yayasan Palung

Penananam padi oleh para petani di lokasi. Foto dok. Yayasan Palung

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KETAPANG – Sebagian besar penduduk di Kecamatan Simpang HilirKabupaten Kayong Utara merupakan petani dengan cara atau metode bertani tadah hujan. Ini diungkapkan Manager Program Perlindungan Satwa (PPS-Hukum) YP, Edi Rahman.

Ia mengungkapkan namun saat ini petani di Desa Penjalaan dan Pulau Kumbang Kecamtan Simpang Hilir. Hampir semuanya sudah mencoba menggunakan metode hazton dengan membuat demplot untuk budidaya padi infari 32.

“Tidak bisa disangkal bahwa petani memiliki peran sangat penting dalam menyediakan pangan bagi suatu negara,” kata Edi Rahman….

Baca Selengkapnya di : http://pontianak.tribunnews.com/2018/02/12/petani-terapkanbudidaya-padi-infari-32dengan-metode-hazton

Baca juga di :https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/5a81219bbde5755c57142dd2/mungkin-ini-cara-bertani-dan-budidaya-padi-yang-bisa-kita-terapkan

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Melatih Relawan Lokal Cinta Pelestarian Alam

Para Relawan Yayasan Palung yang tergabung dalam TABONK. Foto dok. Yayasan Palung

Para Relawan Yayasan Palung yang tergabung dalam TABONK. Foto dok. Yayasan Palung

Para pemuda itu tampak antusias mengikuti berbagai kegiatan. Mereka belajar mengenai dasar-dasar kerelawanan, manajemen organisasi, dan berbagai topik lain, khususnya topik mengenai lingkungan. Sebab mereka adalah relawan Tajam dan RebonK.

Kelompok relawan ini kerap menyuarakan mengenai konservasi di Tanah Kayong, Kalimantan Barat. Beberapa waktu lalu, mereka mengikuti semacam pelatihan di kantor Yayasan Palung, di Desa Pampang Harapan, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat.

Sesuai dengan slogan TabonK; “Yom Kite Begabong”, selama tiga hari kegitan tersebut, ragam keceriaan dan ide mereka satukan yang terbingkai dalam diskusi untuk belajar bersama terkait apa yang terjadi saat ini dan mungkin yang akan terjadi di masa depan terkait lingkungan.

Mereka juga mengikuti diskusi mengenai dampak kerusakan hutan. Tak sedikit ide yang mereka cetuskan terkait dengan kerusakan lingkungan dan dampaknya, seperti: dampak sosial, ekonomi, lingkungan, politik, dan dampak secara menyeluruh, termasuk pula pemanasan global.

Dalam diskusi tersebut, muncul ide untuk mengatasi dampak kerusakan hutan antara lain: melakukan reboisasi (penanaman kembali), tidak menebang pohon, dan penegakan hukum dari negara untuk mengatasi persoalan lingkungan….

Untuk membaca selengkapnya di : https://student.cnnindonesia.com/edukasi/20180207111639-445-274476/melatih-relawan-lokal-cinta-pelestarian-alam

Petrus Kanisius-Yayasan Palung