Category Archives: Kegiatan Yayasan Palung

Ucapan Terima Kasih

Oleh2. Dok. YP.jpg

Oleh-oleh dari Disney Conservation FUND dan National Geographic

Kami dari Yayasan Palung  dan (Gunung Palung Orangutan Conservation Program) mengucapkan terima kasih kepada Disney Conservation FUND dan National Geographic atas oleh-olehnya berupa:

  • Buku
  • Baju
  • Topi
  • Pin
  • gantungan kunci
  • Note book dan Magnet Kulkas

 

Hendri Gunawan dari Yayasan Palung memakai topi dari Disney Conservation FUND.jpg

Hendri Gunawan dari Yayasan Palung memakai topi dari Disney Conservation FUND

Semoga semakin bermanfaat untuk konservasi alam liar (wild life).

 

Berkembang Biak Selama Bertahun-tahun, Namun Hidupnya Hanya 6 Bulan

Jenis Capung yang ada di TNGP. Foto dok. Weni

Jenis Capung yang ada di TNGP. Foto dok. Weni

Nama dari jenis serangga ini tidak lain adalah capung.  Lebih khususnya  jenis capung (ordo; Odonata). Jenis capung di dunia 75 % nya ada di Indonesia jelas Weni Julaika, Mahasiswi Fakultas MIPA, jurusan Biologi, Universitas Tanjungpura (UNTAN) Pontianak, saat mempresentasikan di Kantor Yayasan Palung terkait hasil penelitiannya di Stasiun Penelitian Cabang Panti, Taman Nasional Gunung Palung (TNGP)  untuk tugas akhir, Jumat (16/6/2017), pekan lalu.

Untuk membaca tulisan ini selengkapnya baca link: http://v20106.kompasiana.com/pit_kanisius/ia-berkembang-biak-selama-bertahun-tahun-namun-hidupnya-hanya-6-bulan_5948dd72e217d20ee6042322

Yuk, Berkenalan dengan Si Pengurai dan Penyuka Kotoran

Beberapa foto dari jenis kumbang. Foto capture dari presentasi Cacih

Beberapa foto dari jenis kumbang. Foto capture dari presentasi Cacih

Berdasarkan pemaparan dari presentasinya pada Jumat pekan lalu (16/6) di Kantor Yayasan Palung, Cacih demikian dia akrab di sapa menjelaskan tingkat keberagaman kumbang cukup banyak ia jumpai  dengan berhasil mengidentifikasi 19 jenis kumbang kotoran dari keluarga  Scarabaeinae.

Adanya kumbang kotoran sedikit banyak membantu menguraikan kotoran yang ada. Beberapa jenis kumbang diketahui tersebar diseluruh daratan dunia kecuali di kutub dan lautan.Ternyata di dunia, tercatat tak kurang ada 35.000 hingga 400.000 spesies dari jenis serangga yang satu ini di Dunia. (Sumber; Biota- Unimed dan Wikipedia).

Baca Selengkapnya di Link : http://v20106.kompasiana.com/pit_kanisius/yuk-berkenalan-dengan-si-pengurai-dan-penyuka-kotoran_594a34d59178b226c15e10a3

Petrus Kanisius- Yayasan Palung

Hutan Indonesia, antara “Lahan Perang, Eksploitasi, Eksplorasi dan Penelitian”

Kobaran api yang melahap luasan hutan di Ketapang, beberapa tahun lalu. Foto dok. Yayasan Palung

Kobaran api yang melahap luasan hutan di Ketapang, beberapa tahun lalu. Foto dok. Yayasan Palung

Tidak bisa disangkal hutan-hutan yang ada di wilayah Indonesia tidak terkecuali hutan Kalimantan selalu menjadi primadona. Menjadi primadona tidak lain karena selalu dinanti (semakin naik daun). Namunkeberadaan hutan Indonesia lebih khusus di Kalimantan saat ini jika boleh dikata antara “Lahan Perang, Eksploitasi dan Eksplorasi serta Penelitian“.

Tidak hanya tentang keindahannya, tetapi juga tentang manfaat yang dihasilkan dari hutan sehingga dengan demikian membuat orang-orang berlomba dan menjadikan hutan sebagai primadona saat ini.

Benar saja luasan tutupan Indonesia mencapai 162 juta hektar. Lahan hutan terluas itu ada di Papua (32,36 juta hektar luasnya). Kemudian hutan Kalimantan (28,23 juta hektar), Sumatera (14,65 juta hektar), Sulawesi (8,87 juta hektar), Maluku dan Maluku Utara (4,02 juta hektar), Jawa (3,09 juta hektar), serta Bali dan Nusa Tenggara (2,7 juta hektar), sumber data Kompas.

Dari luasan tutupan hutan Kalimantan yang mencapai 28, 23 juta Ha, terluas kedua setelah hutan Papua. Sebuah kekhawatiran saat ini, hutan menjadi primadona yang entah kapan berakhir karena selalu dinanti. Dinantinya luasan tutupan hutan di Kalimantan boleh jadi akan berimbas pada sendi-sendi kehidupan masyarakat pula di sekitar hutan.

Hutan dijadikan sebagai lahan perang umat manusia, hal ini tercermin dengan adanya eksploitasi, eksplorasi dan penelitian terhadap hutan.

Hutan tidak jarang dijadikan sebagai politik pemanfaatan yang berlebihan terhadap suatu dan tidak jarang tanpa melihat kepatutan dan hak-hak masyarakat akar rumput. Eksplorasi terhadap sumber kekayaan alam terlebih hutan yang dilakukan secara masif menjadi ketakutan tak berujung hingga nanti.

Mungkin saja, hutan Kalimantan akan tinggal cerita dan kenangan 10-20 tahun kedepan. Hal inilah yang menjadi sebuah tanya tentang masa depan hutan Indonesia. Data mencatat, hutan primer Indonesia paling cepat hilang dari masa ke masa pun bersinggungan langsung dengan masa depan kehidupan masyarakat lokal. Diperkirakan apabila hutan Kalimantan kehilangan 75% Hilangnya luasan tutupan hutan berdampak pada hilang atau habisnya ragam tumbuhan dan satwa endemik, kekhawatiran akan terkikisnya atau hilangnya adat tradisi masyarakat lokal juga diperkirakan akan terjadi.

Sumber konflik sudah hampir pasti hadir dalam hal ini. Tidak sedikit rentetan contoh kasus yang sering kali abai terhadap hak-hak masyarakat lokal di Nusantara ini. Tidak perlu menyebutkan secara runut kejadian per kejadian yang asal muasalnya karena perebutan batas lahan. Dengan kejadian tersebut pula tidak jarang akan memakan korban baik secara perorangan ataupun juga per wilayah.

Pribahasa setelah terantuk barulah tengadah acap kali hadir dalam setiap masyarakat kita. Setelah terjadinya sesuatu barulah repot-repot untuk mencari solusi tanpa dari awal melihat dampak, sebab dan akibat.

Tidak jarang hutan yang dikorbankan atau yang menjadi korban dari eksplorasi dan eksploitasi juga bertentangan dengan ranah hak-hak akar rumput.

Benar saja, hutan sebagai sumber keberlanjutan makhluk hidup juga sudah semestinya menjadi bahan untuk diteliti dengan maksud pula mencari cara bagaimana mempelajari dan menyelamatkan dari sisa-sisa hutan yang tersisa.

Hutan sebagai harta karun yang tak ternilai kini pun menjadi dilema. Dimanfaatkan namun juga diambang kehancuran menjelang terkikis habis. Satu-satunya harapan semoga hutan di Indonesia, lebih khusus di Kalimantan, Sumatera dan Papua masih boleh (di/ter) selamatkan dari sekarang hingga nanti.

Banyak cara untuk menyelamatkan hutan Indonesia dengan ragam kepedulian dari berbagai lembaga konservasi ataupun juga dari pemerintah mencari cara menyelamatkan hutan Indonesia. Tetapi juga terkadang nasib hutan tak jarang dikorbankan demi kepentingan bisnis dari para pengusaha dan penguasa yang acap kali lupa dari fungsi hutan yang sesungguhnya.

Hutan juga tak ubah sebagai buah simalakama; dimakan, bapak mati. Tidak dimakan ibu yang mati. Serba salah singkatnya. Disatu sisi hutan perlu dimanfaatkan namun jangan dimusahkan atau dikorbankan. Hutan perlu diselamatkan sebagai keberlanjutan semua makhluk hidup hingga nanti. Bila tidak diselamatkan, hutan akan menjadi kenangan dan kita akan menanggung resiko dari dampak yang ditimbulkan.

Tulisan ini sebelumnya dimuat di Kompasiana, baca di : http://v20106.kompasiana.com/pit_kanisius/hutan-indonesia-antara-lahan-perang-eksploitasi-eksplorasi-dan-penelitian_593fa5e1f27a6104368b7665

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

 

6  Keluarga Baru Penerima Beasiswa Orangutan Kalimantan

Penerima Beasiswa BOCS berfoto bersama pengurus YP dan OURF di Ketapang, 23 mei 2017

Penerima Beasiswa BOCS berfoto bersama pengurus YP dan OURF di Ketapang, 23 mei 2017.

Malam (23/5/2017) Kemarin, selepas senja menyapa keenam orang remaja yang terdiri dari 5 perempuan dan 1 pria terlihat senyum semringah. Senyum semringah itu terpancar dari mereka bukan tanpa alasan, karena mereka baru saja resmi menjadi keluarga baru penerima beasiswa orangutan Kalimantan (Beasiswa BOCS tahun 2017).

Setelah empat bulan berlalu, keenam remaja yang berasal dari Dua Kabupaten: Kayong Utara dan Ketapang itu terdiri dari Ratiah berasal dari SMA Negeri 3 Simpang Hilir, Hanna Adelia Runtu dari SMA Negeri 3 Ketapang (mengambil jurusan Fakultas Kehutanan), Ilham Pratama dari SMA Negeri 2 Ketapang (Fakultas Kehutanan), Mita Anggraini dari MAN Ketapang (mengambil FISIP Hubungan Internasional), Siti Nurbaiti dari SMA Negeri 1 Sungai Laur (mengambil jurusan FMIPA Biologi) dan Rafikah dari SMA Negeri 3 Simpang Hilir (mengambil jurusan FKIP Sosiologi). Keenam penerima beasiswa BOCS akan kuliah di Universitas Tanjungpura Pontianak.

Dalam acara penganugerahan beasiswa BOCS 2017, diawali dengan makan malam bersama dengan para tamu undangan dan 6 penerima beasiswa selanjutnya penjelasan terkait beasiswa BOCS. BOCS adalah Program beasiswa yang dirancang untuk membiayai pendidikan mahasiswa yang berprestasi dengan tujuan menambah  Sumber Daya Manusia (SDM) dibidang konservasi orangutan dengan keahlian dari berbagai disiplin ilmu, demikian dikatakan Mariamah Achmad selaku manager Program Pendidikan Lingkungan dan media kampanye dari Yayasan Palung sekaligus juga yang menangani program BOCS ketika menjelaskan kepada tamu undangan saat penganugerahan beasiswa BOCS tahun 2017.

Hendri Gunawan, SH selaku penerima beasiswa BOCS yang telah selesai menyelesaikan studi berkat adanya beasiswa BOCS berkesempatan untuk memberikan pandangan sekaligus juga memberikan semangat dan motivasi bagi penerima beasiswa BOCS tahun 2017. Hendri, demikian sapaannya sehari-hari mengatakan, bila kuliah harus ada prioritas, semangat, kerja keras dan tekad yang kuat. Karena kuliah bukan hal yang mudah, namun jika ada prioritas, semangat dan kerja keras semua rintangan ketika kuliah bisa dilalui dengan mudah.

Garry Luis Shapiro, dari Orangutan Republik sekaligus sebagai motor adanya program BOCS  di Sumatera dan Kalimantan mengatakan dalam kata sambutannya saat malam penganugerahan beasiswa BOCS  (23/5) mengatakan; adanya beasiswa BOCS sebagai salah satu bentuk perhatiannya kepada generasi muda lebih khusus di Ketapang untuk terus semangat melanjutkan studi di perguruan tinggi. Lebih lanjut Garry menambahkan, tidak hanya asal kuliah tetapi penerima beasiswa BOCS harus memiliki tanggungjawab yang konsisten sebagai generasi penerus tidak terkecuali konservasi orangutan dan hutan dimanapun setelah mereka bermasyarakat nantinya ataupun juga kegiatan lainnya yang ada disekitar.

Garry juga menceritakan saat ini dia merasa sangat dan bergembira sekali. Gembiranya hingga saat ini telah ada 25 orang dari jumlah seluruh penerima beasiswa BOCS sejak pertama hingga tahun 2017 dan telah menamatkan 3 orang penerima beasiswa. Mereka yang lulus antara lain adalah; Rinta Islami, S.Hut, Risa Aprillia, S.Pd dan Hendri Gunawan, SH.

Pak Garry juga berharap di tahun-tahun yang akan datang penerima beasiswa dapat bertambah dan semakin banyak donatur yang bisa membantu, jelasnya lagi.

Menurut Terri Breeden, Direktur Yayasan Palung mengatakan; Program BOCS merupakan  salah satu program favorit saya, dengan adanya program BOCS ini memungkinkan dan menumbuhkan semangat konservasi yang terlatih di Kalimantan Barat.  Lebih lanjut menurutnya, 6 beasiswa yang diberikan dapat juga semoga dapat menciptakan mereka sebagai cendikiawan baru, saya sangat antusias untuk melihat masa depan  mereka lebih khusus konservasi.

Beasiswa BOCS terlaksana berkat adanya kerjasama antara Yayasan Palung, Orangutan Republik dan Orangutan Outreach.

Dalam acara malam penganugerahan beasiswa BOCS 2017 tersebut dihadiri oleh tamu undangan antara lain dari YIARI, Yayasan ASRI, BKSDA W 1 Ketapang, BTNGP, orangtua dari 6 penerima beasiswa dan Yayasan Palung. Kegiatan berjalan sesuai rencana dan diakhiri dengan berfoto bersama.

Petrus Kanisius- Yayasan Palung

Berita terkait BOCS dimuat di Tribun Pontianak, berikut linknya :

http://pontianak.tribunnews.com/2017/05/28/enam-pelajar-ketapang-dan-kayong-utara-terima-beasiswa-bocs

http://pontianak.tribunnews.com/2017/05/28/enam-pelajar-penerima-beasiswa-bocs-2017-diharapkan-jadi-cendikiawan-bersemangat-konservasi

 

Ini Video Unik Orangutan di Gunung Palung : Kiss Squeak dengan Daun


Unik dan menarik orangutan yang dimaksud adalah perilaku atau budaya terkait Kiss Squeak. Apa itu Kiss Squeak?. Pada umumnya, kiss squeak (budaya orangutan ketika merasa terancam di tempat hidupnya ketika ada orangutan lain yang berusaha mendekati wilayahnya, maka orangutan yang merasa terancam tersebut akan mengeluarkan suara Kiss Squeak).

Ini Videonya

Untuk informasi lebih lengkap dapat dibaca di : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/ini-fakta-unik-orangutan-di-gunung-palung_591d701e4423bd66479594fb

Petrus Kanisius- Yayasan Palung

Stop Membeli Produk yang Berasal dari Hewan Dilindungi!

“Stop Membeli Produk yang Berasal dari Hewan Dilindungi! Karena Membeli sama dengan Mendukung Kejahatan dan Mempercepat Kepunahannya”

Petugas BKSDA Kalimantan Barat menunjukkan barang bukti yang disita dari sebuah toko aksesoris di Singkawang, Kalbar 22 April 2016 tahun lalu. Foto dok. KOMPAS.com, YOHANES KURNIA IRAWAN.jpg

Petugas BKSDA Kalimantan Barat menunjukkan barang bukti yang disita dari sebuah toko aksesoris di Singkawang, Kalbar 22 April 2016 tahun lalu. Foto dok. KOMPAS.com, YOHANES KURNIA IRAWAN

Jika kita sayang dia (satwa/hewan dilindungi) dan inginkan satwa/hewan dilindungi tetap ada tentu kita tidak mendukung adanya produk-produk yang dijual dipasaran. Membeli produk-produk yang berasal dari satwa dilindungi sama saja artinya dengan mendukung kejahatan dan mempercepat kepunahan mereka (satwa/hewan dilindungi).

Produk-produk yang berasal dari bagian-bagian/tubuh hewan dilindungi tentu saja tidak boleh sama sekali dilakukan. Apa lagi berkaca kepada penguatan UU no. 5 tahun 1990 tentang Perlindungan satwa dilindungi. Dalam UU no 5 tahun 1990 tersebut, menyebutkan bagi pelanggar/pelaku yang melakukan transaksi jual beli satwa/hewan dilindungi maka akan dikenakan sanksi 5 tahun penjara dan denda 100 juta rupiah.

Sebut saja, produk-produk yang berasal dari tubuh-tubuh hewan/hewan dilindungi tidak sedikit kita jumpai dijual bebas dipasaran, bahkan ada bagian tubuh/hewan yang dijual secara online pula. Berbagai alasan dan cara yang ditawarkan oleh oknum ataupun pelaku yang menjajakan bagian-bagian dari satwa dilindungi seperti tanpa beban dan itu seharus tidak boleh terjadi. Kondisi seperti ini tentunya sangat disayangkan dan memprihatinkan terjadi…

Baca Selengkapnya di : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/stop-membeli-produk-yang-berasal-dari-hewan-dilindungi_591003c42123bdda0f1fce40
Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Berjumpa Ragam Peninggalan Tradisi Budaya Leluhur di Desa Demit, Ketika Kami Melaksanakan Ekspedisi Pendidikan Lingkungan

Teronong warisan kakek-nenek, untuk tempat menyimpan lebah madu. Foto dok. Pit Yayasan Palung

Teronong warisan kakek-nenek, untuk tempat menyimpan lebah madu. Foto dok. Pit Yayasan Palung

Ragam jenis anyaman-anyaman tradisional budaya leluhur seperti bahan dari bahan baku bambu masih kami jumpai di Desa Demit. Anyaman seperti Kampik, ragak atau bakul dengan beraneka motif tersebut menurut masyarakat setempat termasuk sudah jarang dijumpai mengingat orang tua yang menganyam beraneka motif tersebut sudah tidak banyak lagi yang bisa menganyamnya karena kesulitan menganyam motifnya dan beberapa peninggalan tradisi leluhur lainnya. Hal tersebut saya dan kawan-kawan dari Yayasan Palung menjumpainya ketika melakukan ekspedisi di beberapa desa di Kecamatan Sandai, Ketapang, Kalbar  (25-29 April 2017), bulan lalu.

Keberadaan aneka anyaman tersebut selain beruntung kami jumpai, tetapi juga karena ada sosok pelestari budaya tradisi masyarakat setempat (di desa Demit). Tidak hanya anyam-anyaman, tetapi juga beberapa ciri khas alat (perlengkapan) bagi masyarakat dalam menjalani kehidupan sehari-hari di  desa tersebut pula. Sosok yang boleh dikata pelestari budaya tersebut adalah bapak Alteban, 44 tahun.

Secara tidak sengaja, kata itulah yang dapat saya katakan. Tidak sengajanya, ketika kami kami ngobrol-ngobrol ringan bapak 3 anak tersebut bercerita tentang keseharian beliau sedang membuat/menganyam uncang (kerepai) tempat atau wadah yang dulu adalah tempat peluru senapan. Tetapi uncang (kerepai) yang ia buat saat ini tidak lagi digunakan untuk wadah untuk peluru senapan tetapi hanya untuk aksesoris seperti gantungan kunci, untuk tempat (wadah ) rokok, dompet ataupun juga untuk tempat handpone. Uncang/kerepai, bahan-bahannya terbuat dari kulit kayu gentoli dan rotan.

Kulit kayu dibentuk selanjutnya dibalut dengan anyaman rotan. Bila boleh dikata, uncang/kerepai adalah tas jaman dulu yang sekarang mulai dilesarikan lagi karena bentuknya yang unik dan menarik. Adapun untuk harga, uncang/kerepai yang ukurannya kecil (untuk gantungan kunci) harganya 50 ribu rupiah. Ukuran sedang untuk tempat handpone/tempat dompet harganya 200 ribu rupiah dan ukuran yang paling besar (bisa digunakan untuk tempat laptop) harganya 500-600 ribu rupiah.

Aneka anyaman tersebut boleh dikata sudah langka karena sudah tidak banyak lagi, generasi muda tidak bisa lagi menganyam motif rumit tersebut. Tercatat menurut pengakuan bapak Alteban, saat ini di desanya tersisa 1 orang generasi yang bisa menganyam motif dari aneka anyaman tersebut. Adapun motif anyaman yang dimaksud adalah motif paku ikan (motif anyaman berbentuk tanaman paku-pakuan). Beberapa anyaman ragak/bakul/kampik saat masyarakat menugal padi, anyaman ini sebagai wadah benih padi. Dikata sebagai pelestari budaya, Alteban juga menunjukan beberapa barang-barang yang merupakan budaya tradisional masyarakat yang sudah dikatakan langka. Barang-barang tradisional (peninggalan jaman dulu) dari nenek-kakek ujar bapak Alteban. Bapak Alteban memperlihatkan barang-barang peninggalan nenek-kakek yang lainnya adalah Tronong, demikian masyarakat  Demit menyebutnya.
Menurut cerita Alteban, Tronong merupakan wadah (tempat) menyerupai penangkin. Bagi masyarakat setempat, dulunya Tronong digunakan oleh masyarakat untuk tempat menyimpan madu saat memanjat/menjatak lebah madu. Saat mengambil lebah madu, seseorang harus membawa tronong dan tebaok. Tebaok adalah bahan yang terbuat dari jenis kayu akar nama kayunya kebak (tebaok digunakan untuk pengasapan sarang lebah madu), ujar Alteban.

Saya dan kawan-kawan yang berkesempatan datang ke Desa Demit juga diberi oleh-oleh buah hutan, buah kekupak namanya. Menurut masyarakat setempat, buah kekupak sangat berguna untuk penangkal roh jahat. Dengan kata lain, buah kekupak memiliki fungsi untuk menangkal roh jahat dan menghindari dari marabahaya. Sebagian besar anak kecil di Desa Demit menggunakan kekupak untuk dijadikan kalung sebagai penjaga agar terhindar dari penyakit dan marabahaya serta sebagai pelindung semangat jiwanya.

Lebih lanjut Alteban bercerita tebaok yang digunakan untuk pengusir lebah madu saat mengambil madu, ternyata di masyarakat setempat tebaok dipercaya untuk mengusir ragam penyakit. Caranya, tebaok yang dibakar, abunya diusapkan kebagian tubuh (badan yang sakit).

Alteban juga memperlihatkan tombak yang menurut ceritanya peninggalan dari Sang Kakeknya, adapula mandau. Bagi masyarakat di Demit, bapak Alteban selalu diundang saat ada acara kampungnya atau di Sandai ketika ada tamu datang karena selain sebagai sosok pelestari budaya, Alteban juga sangat trampil menari. Sebagian besar, masyarakat di Demit adalah petani padi dan penoreh getah (penyadap karet). Beberapa masyarakatnya juga adalah pekerja dan pekerja di perkebunan sawit. Ada juga masyarakat yang membuat sengkalan (tempat untuk mengiris bawang/bumbu dapur) dapat juga digunakan untuk alas pemotong daging. Sangkalan dibuat dari sisa-sisa potongan batang kayu leban dan ulin. Bila leban harganya 20 ribu rupiah. Sedangkan sengkalan dari kayu ulin harganya 40-50 ribu rupiah.

Saat kami lecture, materi yang kami sampaikan adalah manfaat hutan dan orangutan bagi manusia. Saat bermain boneka/panggung boneka di Sekolah Dasar (SD) kami bertutur tentang hutan dan orangutan yang kondisinya semakin terhimpit.
Sedangkan diskusi, kami mendengar keluh kesah ataupun juga potensi yang ada didesa. Saat pemutaran film, kami juga  menyampaikan sosialisasi tentang satwa dilindungi seperti orangutan, kelempiau, bekantan, trenggiling, enggang dan lain sebagainya.

Adapun asal usul nama Desa Demit, menurut masyarakat setempat awalnya karena di desa tersebut kala itu 3 kali pindah kampung dan akhirnya menetap di Desa Demit. Menurut cerita Pak Jamin, salah seorang tokoh masyarakat di desa Demit menuturkan; dulu,  karena wabah penyakit berupa diare dan ada satu kejadian dalam waktu singkat 5 ibu-ibu kala itu melahirkan bayi, tetapi bayinya meninggal. Sebagian besar masyarakat menganggap peristiwa tersebut sebagai wabah penyakit hantu (demit). Dari dulu hingga sekarang telah berumur 30 tahun. Untuk menjangkau daerah ini (Desa Demit) dilalaui dengan jarak tempuh 105,97 km dari Ketapang.

Semua rangkaian kegiatan ekspedisi ke desa-desa yang kami Yayasan Palung lakukan berjalan sesuai dengan rencana dan lancar dan mendapat sambutan baik dari masyarakat.

Petrus Kanisius – Yayasan Palung

Tulisan Selengkapnya dapat dibaca di : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/berjumpa-ragam-peninggalan-tradisi-budaya-leluhur-di-desa-demit_590a9fa81fafbdb6083a9e58

Berbagi Cerita Saat di Stasiun Penelitian Cabang Panti, Gunung Palung    

DSCN0558.JPG

Foto ketika memproses sampel feses dengan metode FPS. Foto  dok. Becky C.

Jika boleh dikata, Stasiun Penelitian Cabang Panti merupakan rumah bagi jutaan spesies hewan dan tumbuhan hidup didalamnya. Stasiun penelitian yang terletak di Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat. Cabang Panti, memiliki luas wilayah 2.100 hektare dengan 7 jenis hutan yang tersebar di dalamnya seperti; rawa air tawar, rawa gambut, batuan berpasir dataran rendah, granit dataran tinggi, pegunungan, kerangas dan tanah alluvial. Fakta-fakta menakjubkan tersebut yang membuat saya terkagum-kagum.

Bermula ketika saya ditawari program magang di Stasiun Penelitian Cabang Panti, saya sanggupi itu karena sudah sejak lama saya dengar tentang Stasiun Penelitian dan saya belum pernah kesampaian untuk pergi kesana. Untuk perjalanan pertama saya naik kesana tanggal 8 April 2017 yang lalu, butuh waktu cukup lama kurang lebih sekitar 7 jam perjalanan. Saya berangkat menuju tempat yang dimaksud bersama Beth Barrow, Manajer Proyek KKL, Becky Curtis, (Asisten manager Orang Hutan), dan Terry Breden, Direktur Program Yayasan Palung . Tawaran itu menurut saya sangat menyenangkan.

Ketika sampai di Cabang Panti, saya semakin kagum dengan paparan pemandangan yang indah dimana banyak bangunan-bangunan sederhana ditengah hutan lebat ini dengan banyak orang ramah didalamnya, menakjubkan dan salah satu bangunan tersebut seperti camp besar, camp nyamuk, camp litho dan camp pantai.

DSCN0427.JPG

Salah satu bangunan di Cabang Panti (camp litho dan camp nyamuk). Foto dok. M.Syainullah

Hari berganti hari dan saya masih bersemangat untuk belajar di sana sampai saya mulai terbiasa untuk berjalan sendiri dihutan.

Beragam hal yang saya pelajari selama disana seperti mengikuti orangutan dari mulai bangun pagi sekali sekitar pukul setengah 3 pagi untuk bersiap-siap turun kehutan dan berharap bisa sampai disarangnya sebelum dia (orangutan) bangun dan mulai beraktifitas.

DSCN0956.JPG

Walimah, salah satu orangutan yang saya ikuti selama di Cabang Panti. Foto dok. M. Syainullah

Untuk mengambil sampel urin dan feses (kotoran orangutan) idealnya ketika orangutan pertama kali bangun pagi karna setiap dia bangun pagi orangutan langsung buang air besar dan kecil sehingga memudahkan saya untuk mengambil sampel tersebut setelah itu saya memproses sampel urin dan feses tersebut di camp dengan metode-metode yang telah diajarkan kepada saya salah satunya seperti metode FPS dan metode pembekuan sampel urin.

Mungkin banyak yang penasaran untuk apa saya capek-capek memproses sampel kotoran dari mulai di lapangan hingga di laboraturium, jawabanya adalah, banyak seperti untuk identifikasi orangutan dengan proses identifikasi DNA dan untuk mengetahui seberapa luas penyebaran biji yang dilakukan oleh orangutan. Lalu pada malam harinya saya istirahat dan bersiap untuk beraktifitas esok hari dan saya rasa setiap hari adalah hari yang menakjubkan ketika saya berada di Cabang Panti.

DSCN0249.JPG

Saat mengikuti orangutan di Cabang Panti

Salah satu orangutan yang saya ikuti adalah Walimah, orangutan betina ini seperti sudah terbiasa dengan adanya manusia yang mengamati disekelilingnya. Seperti ketika orangutan mengeluarkan suara kiss squeak (budaya orangutan ketika merasa terancam jika ada orangutan lain yang berusaha mendekati wilayahnya). Biasanya suara tersebut terdengar seperti suara kecupan yang nyaring.

Selama disana ketika belajar bagaimana cara memahami budaya orangutan, saya sadar bahwa penting untuk melindungi orangutan dengan melihat peranan orangutan yang begitu penting bagi hutan sebagai salah satu penyebar biji sebagai cikal bakal hutan tetap ada bagi kehidupan serta bermanfaat sebagai penjabaran ilmu pengetahuan, salah satunya seperti penelitian dan konservasi.

Muhammad Syainullah-Relawan Konservasi TAJAM

 

Yayasan Palung Akan Adakan Serangkaian Kegiatan untuk Peringatan Hari Bumi 2017

Logo kegiatan hari bumi 2017

Logo kegiatan hari bumi 2017

 

“Tanam Pohon, Stop Sampah Plastik untuk Kesehatan Bumi Kita”

Setiap tahunnya, setiap tanggal 22 April 2017 selalu diperingati sebagai hari bumi. Tindakan nyata untuk merawat bumi salah satu cara yang harus dilakukan seperti menanam dan mengurangi sampah plastik. Mengingat, bumi saat ini mengalami perubahan yang sangat drastis akibat tekanan dari meningkatnya populasi manusia penghuni bumi dan perubahan iklim yang terus terjadi di seluruh belahan dunia. Bumi sudah semakin tua dan renta, kesehatannya juga perlu dijaga oleh kita sebagai penghuninya.

Yayasan Palung sebagai organisasi masyarakat sipil yang bekerja di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara (Tanah Kayong) menjadikan hari bumi sebagai momentum untuk mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap Tanah Kayong.

 

Adapun  tema yang diketengahkan pada Hari Bumi 2017 adalah “Tanam Pohon dan Stop Sampah Plastik Untuk Kesehatan Bumi Kita” untuk Peringatan.

Sedangkan tujuan kegiatan hari bumi yang dilakukan tidak lain untuk;

  1. Mengkampanyekan pelestarian alam dan lingkungan di Tanah Kayong.
  2. Mengajak masyarakat untuk menanam pohon dan mengurangi terjadinya sampah plastik.
  3. Ajang silaturahim antara Pemerintah, Penggiat Konservasi dan Masyarakat Kayong Utara.

Beberapa kegiatan yang akan dilakukan dalam peringatan Hari Bumi 2017  antara lain:

  1. Jalan Sehat dari Bundaran Tugu durian ke Tugu Sail Selat Karimata Pantai Pulau Datok dan Door prize,
  2. Penanaman pohon secara simbolis di Pantai Pulau Datok,
  3. Bersih Pantai Pulau Datok,
  4. Live event Radio Kayong Utara.

Waktu dan Lokasi Kegiatan :  Hari / tanggal   : 23 April 2017, pukul 06:30 WIB-Selesai Lokasi : Bundaran Tugu Durian -Tugu Sail Selat Karimata Pantai Pulau Datok.

Seluruh peserta kegiatan ini berkumpul di Bundaran Tugu Durian, kemudian berjalan bersama menuju Tugu Sail Selat Karimata di Pantai Pulau Datok. Setibanya di Pantai Pulau Datok dilakukan penanaman pohon secara simbolis oleh perwakilan peserta, kemudian bersih pantai, kegiatan diakhiri dengan door prize. Semua kegiatan pendukung dilakukan di sekitar Tugu Sail Selat Karimata.

Peserta Kegiatan direncanakan diikuti oleh para pihak antara lain; Pemerintah Daerah Kabupaten Kayong Utara (Disbudparpora, KLH, Dinas Pendidikan, Dinas PMD, BAPPEDA KKU, Dekranasda, Dinas Perkebunan Pertanian dan Pangan, Dinas PU, Dinas Perikanan), Kepolisian Resor KKU, Koramil KKU, SPTN I Sukadana BTNGP, Resor Sukadana dan Karimata BKSDA KSW I Ketapang, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah KKU, HS68 dan Tirkana, Penggiat Lingkungan (Yayasan ASRI, Simpang Mandiri Production, SISPALA SMKN 1 Sukadana, SISPALA SMKN 2 Sukadana, SISPALA SMKN 3 Simpang Hilir) serta Masyarakat Sukadana dan sekitarnya.

Kegiatan Hari Bumi 2017 ini diselenggarakan oleh Yayasan Palung dengan melibatkan Relawan Konservasi REBONK sebagai panitia pelaksana kegiatan, dan bekerjasama dengan para pihak.

Sedangkan Relawan Konservasi Taruna Penjaga Alam (RK.Tajam) Yayasan Palung akan mengadakan serangkaian kegiatan di Pantai Sungai Kinjil dengan beragam kegiatan seperti; Bermain boneka orangutan/Puppet show, Operasi semut di sekitar pantai  dan pembagian tong sampah dari barang bekas. Adapun kegiatan rencananya akan dilaksanakan pada 24 April 2017.

Tidak bisa disangkal, bumi menjadi rumah bagi semua makhluk hidup yang keadaannya sedapat mungkin untuk terus dijaga dan dirawat. Peringatan Hari Bumi yang rutin dirayakan setiap bulan April oleh penduduk dunia, sebagai salah satu cara untuk mengingatkan kepada khalayak tentang kondisi bumi dan seperti “alert/peringatan” untuk meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan bumi.

Kesehatan bumi sudah semakin terganggu, tidak sedikit contoh bencana yang terjadi seperti banjir, angin puting beliung, badai, longsor, gempa bumi dan beragam kejadian lainnya. Hal ini tentu perlu menjadi perhatian khusus kita semua secara bersama pula.

Ada banyak cara yang kita dapat lakukan, tindakan nyata menjadi pilihan yang harus dilakukan demi menjaga kesehatan bumi dan keselamatan kita sebagai makhluk hidup yang mendiaminya (bumi/sebagai rumah) yang aman dan nyaman. Dengan harapan bentang alam yang sangat kaya ini daya dukungnya selalu layak untuk menopang kehidupan masyarakat di Tanah Kayong.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung