Category Archives: Kegiatan Yayasan Palung

Cerita Sukses Pengrajin Pandan dari Kayong Utara

Tikar pandan dari kreasi jari jemari pengajin. Foto dok. Yayasan Palung.jpg

Tikar pandan dari kreasi jari jemari pengajin. Foto dok. Yayasan Palung

 

“ Hasil dari menganyam daun pandan, pengrajin bisa merenovasi rumah dan dapat membeli Perhiasan”

Setidaknya salah satu program pendampingan masyarakat yang berada dikawasan Taman Nasional Gunung Palung (TNGP) salah satunya adalah untuk mengangkat perekonomian masyarakat melalui bidang kerajinan tradisional yang ada di Kabupaten Kayong Utara (KKU). Potensi SDA dan SDM yang ada di sekitar TNGP sangat mendukung untuk meningkatkan keterampilan dan kesejahteraan masyarakat lokal melalui pemanfaatan hasil hutan bukan kayu berupa pandan dan nipah.  Hal inilah yang mendorong Yayasan Palung untuk membina para pengrajin hasil hutan bukan kayu (HHBK) hingga para pengrajin menuai cerita sukses, salah satunya dengan mengayam pandan mereka meningkatan ekonomi sehari-hari, tidak terkecuali merenovasi rumah hingga dapat membeli perhiasan.

dari-menganyam-pengrajin-bisa-merenovsi-rumah-membeli-kendaraan-dan-perhiasan-foto-dok-yayasan-palung

Dari menganyam, pengrajin bisa merenovsi rumah, membeli kendaraan dan perhiasan. Foto dok. Yayasan Palung

Sudah 5 tahun sejak tahun 2011, Tim Sustainable Livelihood (SL-YP) melakukan pembinaan dan pendampingan kepada komunitas pengrajin tradisional yang ada disekitar TNGP. Banyak cerita sukses yang dialami dan dirasakan masyarakat baik itu peningkatan kapasitas melalui kegiatan pelatihan. Terbangunnya pola fikir dan pengetahuan akan hal-hal yang baru telah mengantar beberapa pengrajin menjadi narasumber atau dengan kata lain menjadi instruktur/pelatihan yang diadakan oleh lembaga mitra bahkan instansi Pemerintah Daerah. Lancarnya pemasaran produk yang terjalin berkat kerjasama (bersama) DEKRANASDA KKU telah membuat komunitas pengrajin menjadi lebih dikenal oleh masyarakat luas yang salah satunya mampu meningkatnya pendapatan komunitas pengrajin secara signifikan pada kehidupan masyarakat atau komunitas pengrajin tersebut.

para-pengrajin-sering-mengadakan-pertemuan-rutin-foto-dok-yayasan-palung

Para pengrajin sering mengadakan pertemuan rutin. Foto dok. Yayasan Palung

Sudah cukup banyak testimoni (kesaksian) pengrajin yang merasakan hasil dari penjualan kerajinan pandan tersebut dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga masyarakat pengrajin. Mulai dari membeli kendaraan (motor), membeli perhiasan, merenovasi rumah, membantu biaya pendidikan anak, membeli perabot rumah tangga, hingga kepada pemenuhan akan kebutuhan sandang dan pangan.

Inilah yang dialami dan dirasakan oleh dua orang pengrajin yaitu Ibu Ayu Baiti kelompok HHBK Karya Sejahtera dari Desa Sejahtera dan Ibu Rajemah kelompok HHBK Peramas Indah dari Desa Pangkalan Buton di Kabupaten Kayong Utara.

Melalui penjualan kerajinan pandan Ibu Ayu Baiti dari kelompok HHBK Karya Sejahtera mampu membeli perhiasan  berupa gelang dan dua buah cincin emas. Ini adalah desakan dari anak-anaknya karena mengingat usianya yang sudah hampir mencapai 55 tahun. Sebenarnya tidak hanya membeli perhiasan saja, menurut Ibu Ayu Baiti pada tahun 2012 setelah pembentukan kelompok Karya Sejahtera, beliau mendapatkan hasil dari penjualan produk kerajinan pandan melalui event pameran Expo KKU dan mendapatkan hasil sekitar Rp 2,5 juta. Uang yang terkumpul dijadikannya sebagai uang muka untuk beli (kredit) motor dan untuk pembayaran setiap bulannya beliau menggunakan uang dari hasil penjualan kerajinan pandan yang difasilitasi oleh Yayasan Palung dan DEKRANASDA KKU. Hingga 3 tahun lebih lamanya, kredit motor tersebut akhirnya bisa dilunasi oleh Bu Ayu Baiti melalui penjualan kerajinan pandan.

tikar-pandan-foto-dok-yayasan-palung

Tikar Pandan. Foto dok. Yayasan Palung

Cerita serupa dialami oleh Ibu Rajemah dari kelompok HHBK Peramas Indah. Pendapatan dari hasil kerajinan pandan digunakannya untuk merenovasi rumahnya yaitu membuat teras rumah dengan menggunakan lantai keramik. Menurut ibu Rajemah ini untuk kenang-kenangan dari hasil kerajinan pandan. Tidak hanya dengan melakukan renovasi rumah, Bu Rajemah bisa membiayai anaknya ke Perguruan Tinggi di Pontianak dari hasil penjualan kerajinan ini. Karena penghasilan setiap bulan dari penjualan ini cukup untuk biaya anak sekolah dan kadang-kadang sudah melebihi dalam pemenuhan akan kebutuhan sehari-hari dalam rumah tangganya.

Bu Ayu Baiti dan Bu Rajemah merupakan contoh pengrajin yang menikmati hasil dari program ekonomi alternatif Yayasan Palung melalui pendekatan anyaman kerajinan tradisional ini. Sebenarnya masih banyak masyarakat  pengrajin atau penerima manfaat yang merasakan hasil dan keuntungan dari program tersebut. Sebut saja Ibu Hatimah, Ibu Aisyah, Ibu Ramlah, Ibu Ida, Ibu Norani, Bu Asnah, Bu Salmiah, Pak Darwani dan masih banyak lagi pengrajin lainnya. Menurut masyarakat pengrajin, hasil penjualan kerajinan mereka sejak bersama Yayasan Palung telah meningkat secara signifikan dan bahkan bisa membuat mereka untuk menabung. Hasil penjualan setiap bulan bisa digunakan untuk kebutuhan biaya makan dan minum dan bahkan bisa digunakan untuk memenuhi keperluan lain selain ditabung.

Ini adalah cerita sukses dari masyarakat pengrajin HHBK yang berada disekitar kawasan TNGP. Informasi yang dituliskan dalam artikel ini diperoleh dari kegiatan monitoring yang secara rutin dilakukan oleh tim SL-YP ke masyarakat pengrajin. Semoga program ini bisa terus bermanfaat bagi masyarakat disekitar TNGP. Salam lestari.

Penulis : Wendi Tamariska, Sy. Abdul Samad  dan Petrus Kanisius-Yayasan Palung

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lewat Radio Gaungkan Konservasi Lingkungan

edward-tang-saat-menjadi-narasumber-di-radio-rku-foto-dok-tang-yayasan-palung

Edward Tang saat menjadi Narasumber di radio RKU. Foto dok. Tang, Yayasan Palung

Sejujurnya tidak sedikit media yang bisa dipakai sebagai sarana penyampain informasi berkaitan dengan konservasi, tidak terkecuali lewat radio. Melalui radio cara ini  dapat menggaungkan konservasi kepada masyarakat dapat dilakukan secara sederhana, dikupas dengan menarik dan masyarakat memperoleh informasi baru dengan mudah.

Hal inilah yang dilakukan oleh radio RKU (Radio Kayong Utara) 101,5 FM bersama Yayasan Palung sebagai bentuk kerjasama untuk melakukan kampanye konservasi yang tujuan sebagai bentuk kampanye penyadartahuan kepada masyarakat di Kabupaten Kayong Utara, Kalbar.

Adapun bentuk kerjasamanya antara lain adalah Yayasan Palung (YP) berkesempatan hadir untuk memberikan informasi, dalam hal ini YP selalu diminta untuk mengisi acara atau pun juga menjadi narasumber terkait tema-tema lingkungan.

Seperti misalnya, di beberapa kesempatan Yayasan Palung memberikan informasi lingkungan dengan mengetengahkan tema dan pembahasan tentang Pemanasan global, pada (18/12/2016), tahun lalu. Sebagai narasumber Edward Tang, Koordinator Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung dan Emiwati, salah satu penyiar radio RKU membahas tentang, peran hutan sebagai salah satu penangkal efek rumah kaca, betapa pentingnya hutan sebagai penyaring pencemaran udara. Demikian juga disampaikan oleh Tang, dengan adanya hutan maka suhu masih bisa tetap stabil atau normal. selian itu karena adanya hutan di sukadana, bisa dibuktikan dengan berlimpahnya ketersediaan air bersih yang tidak dimiliki oleh kabupate lain seperti Ketapang. Apabila hutan tidak cukup banyak tersedia dapat pula menyebabkan anomali cuaca (cuaca tidak menentu) yang tidak jarang juga merugikan masyarakat seperti petani, nelayan dan masyarakat kebanyakan.

Selain itu juga pada (8 Januari 2017) pekan lalu, Edward Tang kembali hadir bersama radio RKU untuk menyampaikan materi terkait “Peran Hutan bagi Kesejahteraan Masyarakat”, materi siaran ini disampaikan sebagai salah satu tujuan penyampaian informasi dan konservasi bagi masyarakat di Wilayah Sukadana dan sekitarnya untuk bersama-sama menjaga hutan sebagai penyambung nafas, sumber kehidupan hingga nanti.

Dalam sesi tanya jawab via telepon radio, ada masukan dari pendengar radio yang mengabarkan terkait Gunung Cik Kadir yang letaknya di Kawasan Pantai Pulau Datok, Sukadana, penelpon mengabarkan bahwa Gunung Cik Kadir tanahnya kerap kali diambil, bahkan bagian gunung ada yang telah hilang karena tanahnya diambil (dikeruk) sehingga sangat mengganggu pemandangan yang seharusnya hijau dan indah karena tepat berada di kawasan wisata Pantai Pulau datok. Selain itu juga, penelpon menanyakan tentang tapal batas mereka dengan Taman Nasional, tetapi untuk menjawab tersebut pemateri radio Edward Tang menjawab; Ia tidak memiliki kewenangan untuk menjelaskan batas-batas Taman Nasional.  Lebih lanjut menurutnya, ada instansi yang memiliki kewenangan untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Sekilas tentang Radio RKU. Radio RKU, 101,5 FM merupakan radio lokal milik Pemerintah Daerah Kabupaten Kayong Utara, Kalbar.  Radio tersebut baru berdiri sejak pertengahan tahun 2016 lalu. Radio RKU sebagai media yang disediakan oleh pemerintah setempat dalam menyebarkan informasi kepada masyarakatnya terkait program-program pemerintah, informasi pendidikan, budaya dan lingkungan.

Beberapa relawan REBONK (Relawan Konservasi) binaan Yayasan Palung berkesempatan juga untuk diajak oleh pihak dari radio RKU untuk secara sukarela menyiarkan dan menggaungkan konservasi di Tanah Kayong. Semoga dengan kampanye lewat radio semakin memberikan pengaruh besar bagi masyarakat untuk semakin peduli dengan lingkungan sosial, budaya dan lingkungan hidup di sekitar mereka terutama hutan. semoga saja…

Tulisan ini juga dimuat di Kompasiana.com : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/lewat-radio-gaungkan-konservasi-lingkungan_5875c32ff49273d8048b456f

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Yayasan dan Greenpeace Adakan Pelatihan GIS dan Investigasi Bagi Masyarakat Lokal

img-20161206-wa0003

Pemateri menyampaikan materi tentang investigasi dan GIS

Bertempat di kantor Yayasan Palung, sekitar 23 peserta  terlihat sangat antusias dan semangat ketika mengikuti pelatihan (belajar) Global Iinformation System (GIS) dan Investigasi sebagai panduan dasar bagi masyarakat lokal ketika bertugas di lapangan. Pelatihan yang diselenggarakan tersebut berlangsung sejak hari selasa hingga rabu (6-7 Desember 2016), kemarin.

Kegiatan yang terselenggara atas kerjasama yang terjalin antara Yayasan Palung dan Greenpeace tidak lain sebagai panduan singkat, pengetahuan dasar bagi peserta pelatihan untuk meningkatkan pengetahun bagi masyarakat lokal dengan harapan mampu menererpkannya ketika bertugas di lapangan.

Pengenalan tentang dasar-dasar GIS dan Investigasi diharapkan dapat berguna dan diaplikasikan ketika di lapangan melakukan pemetaan titik api, investigasi dan lain sebagainya. Demikian dikatakan oleh Sapta, salah satu pemateri pada saat pelatihan berlangsung.

Sebelum penyampaian materi pelatihan, diawali dengan maksud dan tujuan diadakannya pelatihan. Adapun maksud dan tujuan dari kegiatan ini tidak lain adalah, menciptakan SDM yang handal dalam bidang GIS serta menciptakan SDM yang mampu menerapkan informasi dan teknologi spasial secara profesional. Selain itu juga bertujuan untuk membangun SDM yang handal dibidang investigasi dalam mengungkap suatu kejadian atau fakta di lapangan serta menyiapkan tenaga-tenaga yang handal dalam menjalankan investigasi.

Dalam kegiatan tersebut, hari pertama, Selasa (6/12/2016), pemateri dari Greenpeace, Gex Alzaman menyampaikan materi terkait tehnik investigasi. Bagimana cara melakukan tugas investigasi yang baik salah satunya dengan melakukan berbagai cara seperti penyamaran. Selain itu juga dalam melakukan investigasi harus dilengkapi dengan berbagai alat pendukung antara lain seperti kamera dan Global Positioning System (GPS) dan perlengkapan lainnya termasuk bagaimana mengatasi resiko yang harus dihadapi ketika sedang bertugas di lapangan.

Pada hari ke dua pelatihan, Rabu (7/12/2016), peserta diajak untuk mengenal, menggunakan alat-alat seperti GPS, peserta pelatihan diajak mempraktekannya dengan mencari lokasi dan mengambil titik-titi koordinat yang telah ditentukan oleh pemateri melalui peta GPS yang ada di handphone. Selanjutnya peserta memasukan data yang dipraktekkan tersebut kedalam program GIS.

Dalam melakukan praktek peserta dibagi dalam tiga kelompok, ketiga kelompok diwajibkan dengan berjalan kaki, di tengah teriknya mentari untuk mengambil titik-titik koordinat sesuai petunjuk berdasarkan peta yang telah ditentukan dengan jarak pengambilan titik keseluruan di area 2-3 km di wilayah Ketapang (di mulai dari Jl. Kol. Sugiyono- Jembatan Pawan I). Para peserta tampak bersemangat ketika  diminta oleh panitia untuk mengambil titik-titik koordinat dan memotret tempat yang ditentukan titik, seperti misalnya; titik pertama pertama memulai pengambilan titik, penentuan titik jalan, bundaran ataupun tempat ibadah dan lain sebagainya. Tujuan dari praktek ini tidak lain, ketika di lapangan peserta pelatihan dapat mengambil titik dan menentukan titik koordinat suatu wilayah, tempat dan lain sebagainya sebagai sebuah data dalam melakukan investigasi selanjutnya masing-masing dari tiga kelompok mempresentasisikan hasil dari praktek pengambilan titik-titik koordinat mereka dimasukkan (ditransfer) kedalam peta data pada program GIS. Adapun sebagai pemateri di hari kedua adalah Sapta dari Greenpeace Indonesia.

Peserta yang ikut dan hadir sebagai peserta, terdiri dari masyarakat lokal seperti perwakilan dari Aliansi Masyarakat Adat (AMA) Kendawangan, Jelai Hulu, Pasukan Pemadam Api, Yayasan Palung dan Relawan, Yayasan IAR Indonesia dan Balai Konservasi Wilayah 1 Ketapang dan Manggala Agni.

Agus Trianto dari GPOCP/YP, salah seorang peserta pelatihan mengutarakan pendapatnya terkait pelatihan yang dia ikuti, “Pelatihan GIS dan Investigasi yang diselenggarakan ini sangat bermanfaat bagi peserta khususnya diri saya yang terkadang terlibat dengan kegiatan yang berkaitan dengan GIS”.

Selain itu menurut Nun Fauzen salah seorang peserta dari Relawan RebonK  mengatakan, “pelatihan ini sangat membantu masyarakat lokal khususnya saya karena hasil dari pelatihan ini bisa diterapkan dapat membantu masyarakat lokal dalam melindungi lahan dan hutan yang dikelola dan dijaga oleh masyarakat”.

Sedangkan Terri Breeden selaku Direktur Yayasan Palung, mengatakan; Yayasan Palung sangat senang bekerjasama dan berkoordinasi dengan Greenpeace Indonesia untuk memberikan pengetahuan tentang GPS dan GIS dan pelatihan Investigasi kepada masyarakat lokal. Selain itu, keahlian yang diperoleh dari pelatihan ini akan sangat menguntungkan masyarakat di Seluruh Kalbar dengan manajemen lahan yang lebih baik, ujar Terri lebih lanjut.

Pelatihan GIS dan Investigasi yang diselenggarakan selama dua hari tersebut mendapat sambutan baik dari para peserta dan berjalan sesuai dengan rencana. Selanjutnya juga Tim Yayasan Palung dan Greenpeace Indonesia mengadakan pelatihan bagi masyarakat lokal di wilayah hutan lindung Gambut Sungai Paduan diadakan pelatihan dan kampanye pemadaman api dari tanggal 9 hingga 14 Desember 2016.

Tulisan ini juga dapat dibaca di : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/masyarakat-lokal-belajar-gis-dan-investigasi-sebagai-panduan-singkat-ketika-bertugas_584a6ff709b0bde50e6f5bf2

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

 

 

Aku Lutung Merah, Rumahku di Rimba

foto-kelasi-di-tngp-rizal-alqadrie

Kelasi yag tinggal di hutan Gunung Palung. Foto Rizal Alqadrie

Haii… aku lutung merah, karena rambutku berwarna merah. Rimba raya atau hutan adalah rumahku. Tertawaku lebar dan sedikit nyaring, demikian aku dikatakan oleh banyak orang.

Aku tertawa katanya sich mirip tertawanya manusia. kak… kak… kak… kak… kak… kak… Berulang-ulang biasanya aku tertawa.

O iya, aku tinggal selalu beramai-ramai. Dengan beramai-ramai  atau berkelompok aku bisa dengan leluasa mencari makan dan bermain di rimba. Rimba tidak lain ialah hutan. Dalam satu  kelompokku biasanya kami berjumlah 8 ekor.

Biasanya juga, kami dipimpin oleh pejantan dewasa.  Aku memiliki ekor yang panjang lho, maka aku disebut kelompok monyet atau orang mengenalku lutung merah.

Makanan kesukaanku buah-buahan dan pucuk daun. Saban waktu dari pagi hingga menjelang senja aku menjelajah hutan untuk mengisi perutku ketika aku lapar dan saat aku ingin bermain dengan teman-temanku.

Kini, kami hidup semakin tidak aman dan tidak tentram. Kami sering diusir, diburu hingga ada yang tega membunuh kami.

Tidak hanya itu, rumah kami berupa hutan juga sudah semakin sedikit. Aku dan teman-temanku semakin terhimpit di tempat asal kami berdiam. Keberadaan kami di hutan Kalimantan memang belum terancam punah, tetapi kami dalam bahaya. Jumlah kami mungkin sedikit lebih banyak dari teman kami Pongo. Nama asliku adalah Kelasi, Presbytis rubicunda,itu nama latinku.

Aku tinggal dihutan bersama teman-temanku yang saling ramah dan bertegur sapa, biasanya kami bersama-sama mencari buah.

Hilangnya hutan menjadi kekhatiran kami hanya satu sekarang ini. Kami takut harus berpindah atau terusir. Karena, rumahku berupa hutan merupakan yang paling istimewa.

Mengapa rimba atau hutan sebagai rumah yang begitu istimewa?. Dari hutan, kami bisa memperoleh sumber makanan dengan gratis.

Demikian juga kata teman-temanku manusia, jika hutan bisa terjaga maka sumber air mereka bisa terus tersedia.

Karena, hutan yang merupakan rumah kami itu, sebagai sumber dari segala sumber kehidupan semua mahluk hidup.

Aku ingin, semua kita bisa bersama makhluk lainnya termasuk manusia bisa menjaga kami. Dengan demikian kita bisa hidup dengan damai dan bisa terus senang ria hutan rimba.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

 

Tulis ini juga dapat dilihat di link : http://fiksiana.kompasiana.com/pit_kanisius/aku-lutung-merah-rumahku-di-rimba_58355ba063afbd141258c467

Di Desa Ini Orang Utan Terakhir Kali Terlihat Tahun 80-an

induk-dan-bayi-orangutan-di-gunung-palung-sedang-bercengkrama-foto-dok-tim-laman-dan-yayasan-palung

Bayi orangutan dan Induknya di Gunung Palung. Foto dok. Yayasan Palung dan Tim Laman

“Kami mendapatkan informasi di Desa yang kami kunjungi, mereka (masyarakat) terakhir kali melihat orangutan pada tahun 1980-an”.

Pekan lalu, seperti biasanya di bulan November, tepatnya dari tanggal (13-19/11/2016) Yayasan Palung memperingati Pekan Peduli Orangutan. Ragam kegiatan yang kami Yayasan Palung lakukan terkait nasib orangutan yang sangat terancam punah, salah satunya dengan melakukan kampanye penyadartahuan kepada masyarakat dan dilingkup sekolah dengan berbagai kegiatan.

Kami mendapatkan informasi di desa tersebut mereka (masyarakat) terakhir kali melihat orangutan pada tahun 1980-an. Namun saat ini,tidak ada lagi dikarenakan salah satunya oleh perburuan untuk di konsumsi. Selain juga karena disebabkan hilangnya hutan karena konversi perusahaan sawit.

Menurut pemaparan bapak Margono, Kadus Kalam, Desa Sinar Kuri mengatakan dalam sesi diskusi; nilai ekonomi dari hasil hutan seperti buahan, rotan, dan hasil hutan lainnya masih ada di desanya. seperti ginseng dan pasak bumi. Selain itu, bapak Anton, selaku Kaur Desa mengatakan, ada obat ginjal tanaman seperti kumis kucing, daun simpur dan putri malu direbus menjadi satu. Sedangkan untuk Obat typus, urat leletup yang digunakan akarnya dibersihkan dan diminum.

Selengkapnya dapat dibaca dan dilihat di link : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/di-desa-ini-orang-utan-terakhir-kali-terlihat-tahun-80-an_58342981537a61220ba8867a

PPO 2016 :Orangutan Kalimantan dan Sumatera Sangat Terancam Punah, Ini yang Yayasan Palung Bisa Lakukan

foto-bersama-setelah-kegiatan-ppo-2016-di-sman-1-sungai-laur

Foto bersama setelah kegiatan PPO 2016, di SMAN 1 Sungai Laur. Foto Yayasan Palung

Dalam Rangka Pekan Peduli Orangutan 2016, dengan mengusung tema “Critically Endangered and Critically In Need atau Terancam Punah dan Sangat Membutuhkan Perhatian”.

http://pontianak.tribunnews.com/2016/11/11/orangutan-terancam-punah-di-hutan-kalimantan-dan-sumatera

Rangkaian kegiatan PPO yang dimulai dari tanggal 13 hingga 19 November 2016 seperti;
– Lomba pembuatan komik orangutan bagi siswa SMA/MA yang ada di Kec. Delta Pawan Ketapang dan Puppet Show dan perpustakaan keliling oleh relawan Tajam Yayasan Palung.

relawan-tajam-puppet-show-dan-perpustakaan-keliling-dalam-kegiatan-ppo-2016-foto-dok-yp

Relawan Tajam puppet show dan perpustakaan keliling dalam kegiatan PPO 2016 . Foto dok. YP

relawan-rebonk-saat-melakukan-aksi-long-march-foto-dok-yp

Relawan RebonK saat melakukan aksi long march. Foto dok. YP

– Relawan RebonK dan Penerima beasiswa orangutan (BOCS) melakukan long march dan Baksos untuk membrsihkan sampah di sepanjang jalan dari Tugu Durian ke sekitar taman dan sekitar Masjid. sedangkan penerima BOCS melakukan pawai dari GOR, Stadion SSA sampai Bundaran Bambu di Kota Pontianak yang pada hari Minggu, (13/11) pukul 06.30 hingga 11.00 WIB. Kegiatannya seperti orasi, pembacaan puisi dan pembacaan syair gulung.

dsc_0214

Penerima Beasiswa BOCS melakukan aksi dalam kegiatan PPO 2016. Foto Yayasan Palung dan BOCS

membaca-syair-gulung-dan-kampanye-ttg-orangutan

Membaca syair gulung dan kampanye tentang orangutan. Foto Yayasan Palung
Kemudian Tim Pendidikan Lingkungan dan Media Kampanye Yayasan Palung mengadakan Ekspedisi Pendidikan ke Kecamatan-kecamatan di Ketapang. Seperti PPO 2016 kegiatan bersamaan dengan Ekspedisi Pendidikan Lingkungan di Kecamatan Sungai Laur (di Desa Sinar Kuri) dan Kecamatan (di Desa Mekar Raya) Simpang Dua.

sebelum-pemutaran-film-kami-menyempatkan-untuk-menyampaikan-materi-tentang-satwa-dilindungi-foto-dok-yayasan-palung

Sebelum pemutaran film, kami menyempatkan untuk menyampaikan materi tentang satwa dilindungi. Foto dok. Yayasan Palung

Inilah sebagian pesan dari siswa di SMAN 1 Sungai Laur. Foto dok. Yayasan Palung.JPG

Inilah sebagian pesan dari siswa di SMAN 1 Sungai Laur. Foto dok. Yayasan Palung

saat-pemutaran-film-lingkungan-di-desa-sinar-kuri-foto-dok-yayasan-palung

Salah satu pesan dari kreasi menggambar dan pesan untuk hutan dan orangutan dari siswa-siswi SMAN 1 Sungai Laur. Foto dok. Yayasan Palung.JPG

Salah satu pesan dari kreasi menggambar dan pesan untuk hutan dan orangutan dari siswa-siswi SMAN 1 Sungai Laur. Foto dok. Yayasan Palung

_MG_2571.JPG

Edward Tang saat memberikan materi dan diskusi tentang manfaat dari hutan bagi kehidupan. Foto Yayasan Palung

_MG_2608.JPG

Foto bersama masyarakat di Desa Sinar Kuri, Kec. Sungai Laur. Foto Yayasan Palung

Baca selengkapnya juga tulisan tentang kegiatan Pekan Peduli Orangutan 2016 di beberapa tempat yang Yayasan Palung lakukan : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/orangutan-sangat-terancam-punah-di-desa-ini-orangutan-terakhir-terlihat-tahun-1980-an_58342981537a61220ba8867a

#OrangutanCaringWeek2016 #PPO2016 #YayasanPalung #Orangutan#OCW2016

 

Memperingati Pekan Peduli Orangutan 2016, Yayasan Palung Akan Adakan Serangkaian Kegiatan

Baner PPO 2016.png

Banner PPO 2016

Tahun ini, untuk memperingati Pekan Peduli Orangutan (PPO) 2016, Yayasan Palung mengetengahkan tema; Critically Endangered and Critically In Need (Terancam Punah dan Sangat Membutuhkan Perhatian). Setidaknya tema ini menjadi tanda keprihatinan tentang keberadaan hidup dan tempat orangutan di alamnya saat ini, di hutan Kalimantan dan Sumatera.

Adapun rangkaian kegiatan PPO 2016 kali ini bertujuan untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat tentang status keterancaman Orangutan di alam liar saat ini. Selain itu juga mengajak masyarakat untuk peduli terhadap pelestarian dan habitat orangutan.

Adapun Rangkaian kegiatan yang akan Yayasan Palung dilaksanakan dalam kegiatan PPO kali ini dimulai dari tanggal 13 hingga tanggal 19 November 2016. Selain Yayasan Palung, Rangkaian kegiatan lainnya juga akan dilakukan oleh Relawan Konservasi Tajam di Ketapang,  Relawan REBONK di Kayong Utara, Penerima Beasiswa Orangutan (BOCS) yang sedang studi di Pontianak.

Relawan Konservasi Taruna Penjaga alam (RK-Tajam) Yayasan Palung akan mengadakan lomba pembuatan komik, dengan tema “Upaya Pelestarian Perlindungan Terhadap Orangutan dan Habitatnya yang Terancam Punah”. Siswa-Siwi SMA/MA/SMK di Kec. Delta Pawan. Maksimal diwakili 3 orang perwakilan dari setiap sekolah di Wilayah Kota Ketapang. Kompetisi komik ini dilaksanakan pada hari Senin, 14 – 17 November 2016. Pengumpulan komik dan biodata diri pada Jumat, 18 November 2016, di Kantor Yayasan Palung, Jl. Kolonel Sugiono, Gg. H. Tarmizi No.05, Kelurahan Sampit, Kec. Delta Pawan, Kab. Ketapang.

Sedangkan Relawan REBONK,  pada tanggal 13 November 2016 akan mengadakan rangkaian kegiatan di Sukadana, Kabupaten Kayong Utara. Rencananya Relawan REBONK bersama beberapa perwakilan dari  dari SMKN 1 Sukadana, SMK Al-Aqwam, SMAN 1 dan SMAN 2 Sukadana akan mengadakan Orasi dan Long march dari Siduk Menuju Tugu Durian, selanjutnya melakukan aksi Treatrikal. Dilanjutkan dengan kegiatan Bakti Sosial dengan membersihkan sampah di sepanjang jalan dari Tugu Durian, Sekitar Taman hingga Pantai Pulau Datok. Diperkirakan akan dihadiri oleh peserta kurang lebih 50 orang dalam kegiatan ini.

Tidak hanya itu, Penerima Beasiswa Orangutan (BOCS) yang sedang studi di Pontianak juga akan melakukan kegiatan hampir serupa. Kegiatan Pawai dari GOR, Stadion SSA sampai Bundaran Bambu. Kegiatan rencananya dilaksanakan pada hari Minggu, 13 november 2016 pukul  06.30 wib -11.00 Wib. Adapun rangkaian acara adalah seperti; Orasi, Pembacaan puisi dan Pembacaan syair gulung.

Selain itu, Tim Pendidikan Lingkungan dan Media Kampanye  Yayasan Palung mengadakan Ekspedisi Pendidikan ke Kecamatan-kecamatan di Lingkup wilayah Ketapang dan KKU. Seperti PPO 2016 yang kegiatan bersamaan dengan Ekspedisi Pendidikan Lingkungan di Kecamatan Sungai Laur dan Kecamatan Simpang Dua. Hal ini dilaksanakan sebagai bentuk ajakan, kepedulian bersama melalui kampanye penyadartahuan dan Pendidikan  kepada masyarakat dan pihak sekolah dengan rangkaian kegiatan yang dilakukan di bulan November ini. Adapun bentuk kegiatan, Diskusi Masyarakat, Lecture (ceramah lingkungan), puppet show (panggung boneka)  di sekolah dan pemutaran film lingkungan serta kegiatan puncak Pekan Peduli Orangutan 2016 di Kecamatan Sungai Laur pada tanggal 18 November 2016.

Direktur Yayasan Palung Terri Breeden, mengatakan;  pada kegiatan PPO tahun 2016, Yayasan Palung berharap dan mengajak melalui pendidikan konservasi dan kampanye penyadartahuan kepada masyarakat tentang spesies orangutan yang sangat terancam punah, semoga ada kesadaran dan kepedulian lebih dari kita semua. Lebih lanjut, Terri, demikian ia disapa menegaskan, Yayasan Palung ingin menampilkan aksi lokal bagi orang untuk secara aktif melindungi hutan hujan untuk orangutan, tetapi juga untuk diri mereka sendiri.

Semoga kegiatan Pekan Peduli Orangutan 2016 bisa berjalan sesuai rencana dan mendapat sambutan baik dari masyarakat.

OCW_PPO 2016.jpg

Banner OCW 2016

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

 

Ini Tipe dan Ragamnya Sarang Orangutan di Hutan

orangutan-di-tipe-sarang-a-saat-beristirahat-di-hutan-hujan-gunung-palung-foto-dok-tim-laman-dan-yayasan-palung

Orangutan di tipe sarang A, saat beristirahat di hutan hujan Gunung Palung Foto dok. Tim Laman dan Yayasan Palung

Sama halnya dengan manusia, orangutan juga memiliki rumah. Namun, rumah dari orangutan disebut sarang. Manusia juga memiliki model dan tipe rumah, orangutan juga memiliki tipe-tipe (jenis posisi) yang disebut sarang sebagai tempat hidup, berlindung, makan, minum dan beristirahat mereka di hutan. Satwa endemik ini dikenal sebagai makhluk hidup Aboreal (satwa yang menghabiskan sebagian besar waktu hidupnya di atas pohon untuk makan, minum, istirahat dan tidur di sarang) dan orangutan membuat sarang setiap harinya pada saat sore ataupun malam ketika mereka tidur. Adapun sarang dari orangutan yang wilayah hidupnya di Indonesia, hanya ada di hutan hujan Kalimantan dan Sumatera. Sarang dari orangutan memiliki model (posisi) dan kelas berdasarkan umurnya sarang…

Untuk membaca selengkapnya dapat dilihat di link berikut :

Ternyata Orangutan Juga Membuat Sarang Lho, Ini Tipe dan Ragamnya!

 

Tim Laman Menjadi Pemenang Fotografer Satwa Liar Tahun 2016

tim-laman-saat-menerima-penghargaan-wildlife-photographer-of-the-year-2016-foto-dok-cvfznkbxgaausgd-58088da0be22bd7451632b7e

Tim Laman Saat Menerima penghargaan Wildlife Photographer of the Year 2016. Foto dok. CvFZNkbXgAAuSGd

Foto orangutan yang sedang memanjat kayu ara atau pohon beringin (Ficus) di Kawasan Taman Nasional Gunung Palung. Orangutan itu bernama Net. Kegagahannya Net memanjat pohon itulah yang berhasil diabadikan seorang fotografer satwa liar (alam liar) Tim Laman dan foto tersebut mengantarkan Pak Tim, demikian dia disapa sehari-hari menjadi pemenang fotografer satwa liar tahun 2016. Mengabadikan banyak foto tentang keindahan alam dan satwa memang telah lama dilakoni oleh Tim Laman.

orangutan-yang-memanjat-pohon-di-hutan-hujan-gunung-palung-foto-inilah-yang-menghantarkan-tim-laman-sebagai-pemenang-dok-tim-laman

Orangutan yang memanjat pohon di hutan hujan Gunung Palung. Foto inilah yang menghantarkan Tim Laman sebagai pemenang dok. Tim Laman

Untuk Membaca lebih lanjut artikel ini, selengkapnya dapat dilihat dilink : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/potret-orangutan-indonesia-bawa-fotografer-natgeo-raih-penghargaan_58088eae707a61251e4d8b4d

Tim dari Pusat Lakukan Verifikasi Hutan Desa di Kayong Utara

tim-dari-pusat-lakukan-verifikasi-hutan-desa-di-kayong-utara-foto-dok-yp

Tim dari pusat lakukan verifikasi Hutan Desa di Kayong Utara. Foto dok. YP

Kedatangan Tim Verifikasi Hutan Desa ini menindaklanjuti Surat Rekomendasi Bupati Kabupaten Kayong Nomor: 522/829/Hutbun-C tertanggal 23 Agustus 2016 Perihal Usulan Penetapan Areal Kerja (PAK) Hutan Desa. Tim yang berjumlah 22 orang tersebut, terdiri dari enam orang dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, 10 orang dari Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan (PSKL) Zona Kalimantan, satu orang dari BPKH Wilayah III Kalimantan Barat, dua orang mewakili Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Barat, dan tiga orang dari Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Kayong Utara.

Selengkapnya dapat dibaca di : http://www.pontianakpost.com/hutan-desa-segera-terealisasi