Category Archives: Info Orangutan

Video Profil Staf (GPOCP)Yayasan Palung

Iklan

Ilmu Pengetahuan tentang Primata oleh Cheryl Knott

Saat penjelasan tentang taksonomi primata. Foto dok. Yayasan Palung.jpg

Bahan bacaan ini merupakan presentasi dari Cheryl Knoot salah satu hasil penelitian terkait primata (kera besar) yang ada didunia.

Baca di sini : Presentasi Ibu Cheryl Knott tentang Primata (Kera Besar)

GPOCP Beri Kuliah Umum tentang Penelitian dan Konservasi Orangutan dan Primata

Beberapa peserta yang menyempatkan diri berfoto bersama. Foto dok. Yayasan Palung

Beberapa peserta yang menyempatkan diri berfoto bersama. Foto dok. Yayasan Palung

Rabu pagi (20/9/2017), tampak berbeda dari hari-hari biasanya di Fakultas MIPA Universitas Tanjungpura Pontianak. Berbedanya, tidak lain ialah karena adanya kuliah umum yang disampaikan oleh Gunung Palung Orangutan Conservation Program (GPOCP) terkait penelitian, konservasi primata di Taman  Nasional Gunung Palung (TNGP).

Pada kuliah umum yang dimulai sejak pukul 08.00 Wib tersebut, acara dibuka langsung oleh wakil dekan I Fakultas MIPA Untan, Mulyadi S. Si, M.Si.

Kuliah umum yang disampaikan terdiri dari empat presentasi. Pertama, terkait konservasi orangutan di Gunung Palung yang disampaikan Terri Lee Breeden, selaku direktur Program Konservasi Yayasan Palung.

Kedua di Brodie Philp (Manager Peneliti Orangutan), terkait penelitian orangutan. Ketiga, disampaikan Elizabeth Barrow, dari program Kelempiau dan Kelasi (KKL) terkait penelitian primata.

Selanjutnya juga disampaikan presentasi terkait prosedur untuk kegiatan magang dan penelitian di Cabang Panti, TNGP. Sebagai pemateri adalah Wahyu Susanto, selaku Direktur Penelitian Yayasan Palung.

 

Dalam pemaparannya pada presentasi, Terri menjelaskan terkait program konservasi yang Yayasan Palung lakukan terkait ancaman dan strategi. Salah satunya, saat ini berdasarkan data dapat dikatakan bahwa masih terjadinya orangutan kehilangan habitatnya di Zona Penyangga TNGP,  masih maraknya perburuan liar, masih minimnya peluang pendapatan ekonomi masyarakat lokal, masih rendahnya pengetahuan masalah lingkungan dan kepedulian serta masih minimnya informasi terkait populasi dan status orangutan. Dengan demikian perlu strategi untuk mengatasi masalah tersebut diantaranya dengan melakukan berbagai kegiatan atau program konservasi seperti; Hutan desa, penyelamatan satwa, mata pencaharian berkelanjutan, pendidikan lingkungan dan kampanye penyadartahuan.

Terri Lee Breeden Saat menyampaikan presentasi tentang program konservasi. Foto dok. Yayasan Palung

Terri Lee Breeden Saat menyampaikan presentasi tentang program konservasi. Foto dok. Yayasan Palung

Brodie menyampaikan sejarah dimulainya penelitian di Cabang Panti, Gunung Palung sejak tahun 1985 silam. Selain itu juga keunikan tipe habitat hutan di gunung palung yang boleh dikatakan terlengkap karena memiliki 8 tipe habitat yaitu; hutan rawa gambut (peat swamp forest), hutan rawa air tawar (fresh water forest), hutan tanah alluvial (alluvial forest), hutan dataran rendah berbatu (lowland granite forest), hutan dataran rendah berbatu-pasir (lowland sandstone forest), hutan dataran tinggi berbatu (upland granite forest) dan hutan pegunungan (montane forest).

Brodie Philp saat menyampaikan presentasinya. Foto dok. Yayasan Palung

Brodie Philp saat menyampaikan presentasinya. Foto dok. Yayasan Palung

Sedangkan Elizabeth Barrow menyampaikan materi tentang keberadaan populasi kelempiau. Terkait dinamika populasi kelempiau yang ada di Cabang Panti, seperti populasi kelempiau yang hidup diatas 800 mdpl lebih sedikit dibandingkan populasi kelemipau yang berada dibawah 800 mdpl ternyata lebih banyak dan subur.

Elizabeth Barrow saat menyampaikan prsentasinya. Foto dok. Yayasan Palung

Elizabeth Barrow saat menyampaikan prsentasinya. Foto dok. Yayasan Palung

Sedangkan Wahyu Susanto menyampaikan beberapa prosedur terkait magang dan penelitian diataranya, Mahasiswa/i harus terlebih dahulu mengurusi surat ijin atau surat tugas magang atau penelitian dari kampus dan mengurus surat ijin masuk kawasan (SIMAKSI) terlebih dahulu kepada Balai Taman Nasional Gunung Palung (BTNGP).

Wahyu Susanto Saat menyampaikan Presentasinya tentang prosedur magang dan penelitian di SPCP. Foto dok. Yayasan Palung

Terkait kuliah umum yang disampaikan tersebut tampak antusias dari peserta mengikuti kegiatan. Beberapa peserta menyakan terkait daerah jelajah orangutan dan kelempiau, ternyata daerah wilayah jelajahnya terjadi tumbang tindih. Menariknya, dari informasi dari para peneliti menjelaskan berdasarkan penelitian mereka menyatakan bahwa tidak masalah adanya tumbang tindih antara orangutan dengan kelasi dan kelempiau. Akan tetapi yang sering terjadi konflik malah antara kelempiau dan kelasi.

Selain itu juga mahasiswa menanyakan terkait pengaruh cuaca dan perilaku orangutan, bila orangutan pada musim hujan bisa membuat payung dan pada musim panas orangutan keseringan membuat sarang.

Jenis penyakit yang ada terdapat pada orangutan berdasarkan sampel feses. Terkait jenis penyakit, orangutan dapat menularkan penyakit diantaranya adalah parasit apakah penyakit berasal dari orangutan atau dari manusia. dari suhu feses juga peneliti dapat mengetahui orangutan sakit atau tidaknya, misalnya sakit demam.

Adapun tujuan dari kuliah umum ini diselenggara tidak lain adalah sebagai bentuk untuk berbagi ilmu pengetahuan tentang dunia konservasi orangutan dan primata yang dikhususkan bagi mahasiswa, ujar Wahyu Susanto.

Terselenggaranya kegiatan ini juga atas dasar kerjasama program penelitian dari GOPCP (Yayasan Palung) dan Universitas Tanjungpura Pontianak, khususnya Fakultas MIPA dan Kehutanan, kata Wahyu.

Peserta yang ikut dalam kuliah umum. Foto dok. Yayasan Palung

Peserta yang ikut dalam kuliah umum. Foto dok. Yayasan Palung

Dalam kuliah umum tersebut dihadiri lebih dari 50 peserta dari Fakultas MIPA, Kehutanan, beberapa peserta juga  dari fakultas lain dan dari mahasiswa penerima beasiswa orangutan (BOCS). Kegiatan berakhir pukul 11.00 Wib dan mendapat sambutan baik dari para peserta yang hadir dalam kegiatan tersebut.

Tulisan ini juga dimuat di Tribun Pontianak cetak dan online, untuk membaca klik di : GPOCP Beri Kuliah umum tentang Orangutan

Dimuat juga di URI.co.id , untuk membaca klik : GPOCP Beri Kuliah Umum Tentang Observasi Orangutan

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

 

Asyiknya Field Trip di Sungai Beringin Taman Nasional Gunung Palung

Foto bersama peserta fieldtrip di Sungai Beringin. Yayasan Palung.jpg

Foto bersama peserta fieldtrip di Sungai Beringin.  Foto : Hen/Yayasan Palung

Selama tiga hari (25-27/8/2017), sejak pagi team Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung  melakukan fieldtrip (kunjungan lapangan) di Sungai Beringin, namun sebelum sampai di Sungai Beringin team fieldtrip terlebih dahulu harus menuju Kilometer 12 Jalan Siduk-Nanga Tayap menggunakan sepeda motor, dengan jarak tempuh  dua jam perjalanan.

Berikut Video saat Fieldtrip : Video Fieldtrip Yayasan Palung bersama SMPN 3 MHU

Setibanya di tempat pembibitan Yayasan ASRI, Yayasan Palung terlebih dahulu berhenti sejenak untuk menunggu  peserta fieldtrip yang terdiri dari murid kelas 9 yang berjumlah 28 orang dan 2 orang guru pendamping dari SMPN 3 Matan Hilir Utara (MHU), Ketapang.

Setelah rombongan peserta tiba, selanjutnya semua peserta harus melewati jalan setapak dan penuh lumpur, beberapa diantara mereka meggunakan sepeda motor dan beberapa diantaranya memilih untuk berjalan kaki saja untuk menuju lokasi fieldtrip.

Peserta dibagi menjadi 4 kelompok yaitu kelompok orangtan, kelasi, bekantan dan siberuk. Selanjutnya team dan peserta melanjutkan perjalanan menuju Sungai Beringin di Kawasan penyangga Taman Nasional Gunung Palung dengan jarak tempuh dua jam berjalan kaki.

Setelah tiba di lokasi, team dan peserta mendirikan tenda dan istirahat, mandi, serta menyiapkan makan malam. Setelah makan malam, peserta melakukan evaluasi perjalanan serta pemberian materi tentang Taman Nasional Gunung Palung oleh mariamah Achmad serta materi tentang analisis satwa pagi yang akan dilaksanakan praktek esok harinya, kemudian mereka istirahat dan tidur.

Hari kedua, Sabtu (26/8) pukul 04.30 WIB, kegiatan yang dilakukan antaran lain seperti pengamatan satwa pagi hingga pukul 06.30 WIB. Kegiatan selanjutnya adalah senam pagi dan mempersiapkan sarapan.

Adapun kegiatan lainnya adalah presentasi tentang hasil pengamatan satwa yang telah diamati. Setelah presentasi selesai dilaksanakan dilanjutkan dengan makan siang.

Peserta fieldtrip juga diberikan muatan materi dan praktek tentang morfologi daun. Sebagai pemateri  adalah  Victor Samudra dan Nursholihin. Selanjutnya juga peserta diajak untuk bermain  (game spider) yang dipandu oleh Hendri Gunawan. Setelah selesai bermain bersama, semua peserta dan team bersih-bersih dan menyiapkan makan malam.

Usai makan malam dilanjutkan dengan malam keakraban yang diisi dengan pentas seni dipandu oleh supriadi, dan kemudian istirahat.

Saat kami melaksanakan fieldtrip banyak hal yang kami jumpai antara lain air sungai yang masih jernih dan kesegarannya dapat kami rasakan. Perjumpaan dengan sarang orangutan dan melihat sepasang burung enggang sedang mengitari lokasi tempat kami berkegiatan. Sayangnya kami tidak  bisa mengabadikan foto enggang karena kami sedang berkegiatan.

Hari ketiga, Minggu (27/8)  pukul 06.00 Wib, peserta dan team melakukan senam pagi, setelah itu peserta mempresentasikan hasil praktek lapangan tentang morfologi daun, kemudian mempersiapkan makan bersama dan makan bersama, setelah itu bersih-bersih di area bivak dan packing barang-barang untuk pulang, setelah semua selesai peserta dan team melakukan game bersama yaitu game samson, kemudian kami berkesempatan untuk berfoto bersama selanjutnya mengakhiri seluruh rangkaian kegiatan fieldtrip. Seluruh rangkaian kegiatan fieldtrip berjalan sesuai rencana.

Hen & Pit-Yayasan Palung

YP Mengajak Anak Sekolah  Belajar Bersama tentang Gambut  Lewat Puppet dan Lecture

Saat Mariamah Achmad menyampaikan materi tentang Gambut. Foto dok. Yayasan Palung.jpg

Saat Mariamah Achmad menyampaikan materi tentang Gambut. Foto dok. Yayasan Palung

Senin dan Selasa (21-22/8/2017) pekan lalu, kami berkesempatan menyambangi sekolah-sekolah untuk belajar bersama dengan anak sekolah di wilayah Muara Pawan dan Matan Hilir Utara (MHU) tentang gambut.

Tidak bisa disangkal, gambut merupakan salah satu habitat orangutan. Terlebih di wilayah-wilayah yang merupakan kantong habitat orangutan. Pada kesempatan tersebut, kami memberikan penyadartahuan tekait satwa dilindungi dan habitatnya di sekolah-sekolah yang ada di Wilayah Muara Pawan dan Matan Hilir Utara (MHU).

Dalam kesempatan puppet show tersebut, kami menceritakan satwa-satwa dilindungi dan beberapa diantaranya mendiami wilayah gambut.

Di hari pertama, Senin (21/8), kami berkesempatan mengajak anak-anak belajar bersama tentang Gambut. Dalam kegiatan tersebut, Yayasan Palung berkesempatan menyambangi SDN 10 Muara Pawan untuk belajar bersama tentang gambut lewat cerita puppet show (media boneka) dan SMPN 2 Muara Pawan, kami menyampaikan lecture (ceramah lingkungan). Kesempatan kedua, Selasa (22/8), kami berkesempatan mngunjungi SDN 1 dan SMPN 2 Matan Hilir Utara (MHU).

Mariamah Achmad, Sebagai pemateri sekaligus Manager Pendidikan Lingkungan dan media kampanye dari Yayasan Palung menjelaskan saat lecture mengatakaan; Gambut merupakan tanah yang lebih banyak mengandung unsur organik, tanah gambut banyak ditemukan didaerah yang tergenang air serta tanah gambut merupakan jenis tanah yang pembentukannya dihambat oleh kadar asam di airnya terlalu tinggi sehingga memperlambat pembusukan unsur-unsur organik yang ada di dalamnya.

Saat memainkan puppet show dan bercerita satwa dilindungi dan habitatnya. Foto dok. Yayasan Palung.jpg

Saat memainkan puppet show dan bercerita satwa dilindungi dan habitatnya. Foto dok. Yayasan Palung

Lebih lanjut, Mayi sapaan akrabnya menjelaskan, fungsi dari tanah gambut ialah sebagai bahan sumber energi dan juga keseimbangan ekosistem, sedangkan hutan gambut berfungsi sebagai penyuplai air dan mencegah banjir, serta menjadi tempat hidup yang nyaman bagi satwa-satwa yang ada didalamya termasuk orangutan dan juga satwa dan tumbuhan  endemik kalimantan. Beberapa satwa endemik yang mendiami hutan gambut dan rawa gambut seperti bekantan yang hidup ditepian sungai. Ada pula rusa dan beruang. Sedangkan beberapa tumbuhan yang hidup dihutan rawa gambut seperti ramin, meranti, nyatoh, ubah, punak, medang, kantong semar, rotan dan sagu.

Mayi juga mengatan, peran dari semua pihak menjadi sangat penting untuk menjaga dan melindungi lahan gambut, termasuk generasi muda sejak dini.

Saat tanya jawab dengan siswa-siswi yang mengikuti lecture. Foto dok. Yayasan Palung.jpg

Saat tanya jawab dengan siswa-siswi yang mengikuti lecture. Foto dok. Yayasan Palung

Penyampaian puppet show dan lecture kepada anak sekolah di tingkat Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah sebagai salah satu cara Yayasan Palung untuk mengkampanyekan dan penyadartahun kepada siswa-siswi usia dini terkait perlunya menjaga lahan gambut yang ada karena peran dan fungsi dari gambut yang sangat penting bagi semua makhluk hidup terlebih gambut dalam.

Di tempat terpisah, Syahik Nurbani, Koordinator Survei dari Yayasan Palung mengatakan, Fungsi hutan gambut secara ekologis penyimpan karbon, penghasil oksigen, menjaga keanekaragaman hayati yaitu sebagai tempat pemijahan ikan dan satwa liar lainnya. lebih lanjut menurutnya gambut memiliki fungsi lainnya sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan antara lain memelihara kesuburan tanah, mengatur tata air, mencegah banjir.

Tak kurang  43 murid yang mengikuti kegiatan puppet show di SDN 10 Muara Pawan, 38 murid di SMPN 2 Muara Pawan yang ikut ambil bagian dalam lecture. Sedangkan yang hadir dalam puppet show di SDN 01 diikuti oleh 60 murid dan lecture di SMPN 2 Matan Hilir Utara (MHU) diikuti oleh 81 murid.

Dalam kegiatan puppet show dan lecture di dua kecamatan tersebut dilakukan oleh tim Pendidikan Lingkungan dan media kampanye Yayasan Palung, ikut serta pula penerima beasiswa BOCS.

Kegiatan yang dilasanakan tersebut berjalan sesuai rencana dan mendapat sambutan baik dari pihak sekolah serta siswa-siswi yang hadir.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Profesor Cheryl Knott  Berikan Ilmu Pengetahuan tentang Primata

Saat penjelasan tentang taksonomi primata. Foto dok. Yayasan Palung.jpg

Saat  Cheryl Menjelaskan tentang taksonomi primata. Foto dok. Yayasan Palung

Menurut Cheryl untuk membedakan kera dan monyet cukup mudah. Jika berbuntut atau berekor maka disebut monyet sedangkan jika tidak berekor disebut kera. Hal tersebut disampaikan olehnya pada Senin (14/8/2017), pekan lalu.

Cheryl juga memaparkan tentang perilaku dan sejarah hidup dari primata-primata yang dimaksud berdasarkan sejarah hidup banyak. Diantara binatang berkembang biaknya cepat dan sebaliknya primata berkembang biaknya membutuhkan rentang waktu yang lama.

Baca Selengkapnya di : http://pontianak.tribunnews.com/2017/08/21/profesordariboston-universityberikan-pembelajaran-di-ketapang

Pit-Yayasan Palung

Yayasan Palung Gelar Peringatan Hari Orangutan Sedunia 2017 dengan Ragam Kegiatan

Foto bersama dalam rangkaian Hari Orangutan Sedunia 2017. Foto dok. Yayasan Palung.JPG

Foto bersama dalam rangkaian Hari Orangutan Sedunia 2017. Foto dok. Yayasan Palung

Yayasan Palung (YP) menyelenggarakan berbagai kegiatan dalam rangka memperingati World Orangutan Day (WOD) atau Hari Orangutan Sedunia 2017. Di antaranya bakti sosial, tanam pohon, diskusi dan panggung boneka di Pantai Kinjil Ketapang, Minggu (20/8/2017).

Minggu (20/8) pagi di Kabupaten Kayong Utara (KKU) juga ada dilaksanakn kegiatan. Relawan RebonK Yayasan Palung bersama Sispala Land SMKN 1 KKU,  Perwakilan dari Konsorsium Palung.

Kemudian Kelompok Sadar Wisata Desa Sungai Belit (Kopdarwis), Perwakilan BTNGP dan siswa SMAN 2 KKU memperingati WOD di Bukit Begentar yang lokasinya berada di Kawasan Penyangga Taman Nasional Gunung Palung (TNGP).

Tulisan Selengkapnya Baca di :

http://pontianak.tribunnews.com/2017/08/22/yayasan-palung-gelar-peringatan-hari-orangutan-sedunia-ini-harapannya

http://www.pontianakpost.co.id/peringatan-hari-orangutan-sedunia-di-ketapang

Pit-Yayasan Palung

Orangutan di TNGP Menarik Minat BBC Untuk Film Dokumenter

20232002_10213756487534829_903233718350449524_o.jpg

Tim Laman beserta keluarga  dan BBC temu kangen dengan Keluarga Besar Yayasan Palung

Setelah Mendapat ijin dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Pusat Pengembangan Perfilman Indonesia, Tim Laman beserta rombongan bersiap untuk mengambil gambar (membuat/memproduksi) film tentang orangutan di Gunung Palung.

Rencana tersebut diketahui saat  Tim Laman  dan Cheryl Knott ( pasangan suami istri) mengadakan temu kangen bersama keluarga  besar Yayasan Palung.  Ternyata Tim Laman membawa serta keluarga dan rombongan British Broadcasting Corporation (BBC), Kamis (20/7) kemarin malam.

Kebersamaan, keseruan dan kehangatan sangat kami rasakan,  ini terlihat dari raut wajah semua yang hadir saat  temu kangen malam itu.

Baca Selengkapnya di : http://pontianak.tribunnews.com/2017/07/23/orangutan-di-tngp-tarik-minat-bbc-untuk-pembuatan-film-dokumenter

 

Video: Pesona Alam Liar di Gunung Palung

Klik Link Berikut untuk menonton : Pesona Alam Liar di Gunung Palung

Ini sedikit cerita tentang  Pesona Alam Liar di Gunung Palung (Taman Nasional Gunung Palung/TNGP) yang letaknya di 2 Kabupaten (Ketapang dan Kayong Utara) Kalimantan Barat yang di dokumentasikan lewat video.

Pesona Alam Liar yang ada di Gunung Palung atau lebih tepatnya kehidupan alam liar  ini merupakan hasil pendokumentasian dari teman-teman peneliti di Stasiun Peneliti Cabang Panti/SPCP. Setiap waktu mereka (para peneliti) melakukan aktivitas penelitian dari Subuh hingga senja menyapa.

Beberapa satwa yang hidup di alam liar yang bisa dijumpai di Gunung Palung antara lain; orangutan, kelempiau, enggang, kelasi dan enggang serta ragam kehidupan alam liar lainnya seperti ular, kura-kura ataupun juga keindahan kupu-kupu. Rimbunnya hutan dengan aneka ragam tumbuh-tumbuhan yang unik dan endemik seperti anggrek hitam terdapat di sini. Selain juga gemericik air jernih masih dapat  dijumpai di tempat ini.

Semoga pesona alam dan kehidupan alam liar di Gunung Palung dapat menjadi satu kesatuan yang dapat menjadi nilai tambah terutama ilmu pengetahuan dan kekayaan alam untuk kehidupan hingga nanti. Dengan demikian juga mejadi kewajiban kita bersama pula untuk menjaganya agar terus lestari.

Video dan Foto Pesona Alam Liar di Gunung Palung ini  beberapa dari sekian banyak kekayaan flora dan fauna yang ada. Berharap indahnya pesona alam liar ini bisa dan boleh berlanjut demi kehidupan yang harmoni dan berkelanjutan hingga nanti dan lestari.

Petrus Kanisius (Pit)-Yayasan Palung

 

#RainforestLive : Melihat Indahnya Alam Liar di Gunung Palung yang Berhasil Diabadikan oleh Peneliti

P5251969.JPG

Orangutan yang berdiam di Alam Liar Gunung Palung. Foto dok. Brodie Philp (YP/GPOCP)

Tak jarang, beberapa waktu sebelum matahari muncul para peneliti sudah harus bergegas dan berlomba dengan waktu untuk melalukan aktivitas mereka meneliti. Ya benar saja, bila peneliti meneliti dan mengikuti  orangutan mereka harus siap berangkat subuh untuk melihat tingkah laku/ perilaku orangutan di alam liar.

Kemarin (8/6) Gunung Palung Orangutan Project/Yayasan Palung bersama 9 lembaga lingkungan lainnya yang terdiri dari;  The Orangutan Tropical Peatland Project, Orangutan Land Trust, Orangutan Foundation UK, HUTAN Kinabatangan Orang-utan Conservation Program, Selamatkan Yaki, Sumatran Orangutan Conservation Program, Integrated Conservation, Burung Indonesia, Harapan Rainforest, Integrated Conservation dan Royal Society for the Protection of Birds memperingati #RainforestLive.

Tujuannya untuk mengajak kita semua untuk melihat apa saja dialam liar dan apa saja aktivitas (kegiatan), keseharian para peneliti di alam liar, dengan berbagi cerita dan apa saja yang berhasil para peneliti, menjelajahi hutan hujan seperti misalnya di Kalimantan dan Sumatera menjadi sebuah jawaban bahwa alam liar begitu menarik untuk dilihat, dijelajah dan di teliti. Di waktu sebelum terbitnya mentari hingga senja menyapa (malam hari) itulah waktu yang dipakai para peneliti untuk melakukan kegiatan mereka.

Seperti misalnya, para peneliti dari luar dan dalam negeri yang melakukan penelitian di Gunung Palung (Taman Nasional Gunung Palung), lebih tepatnya di Stasiun Penelitian Cabang Panti (SPCP) melakukan ragam penelitian seperti penelitian terhadap orangutan, kelempiau dan kelasi ataupun juga beragam penelitian lainnya seperti penelittian tumbuhan yang terdapat di Gunung Palung.

Aktivitas mereka (para peneliti) pun sudah pasti erat kaitannya dengan kegiatan seperti rutinitas penelitian dengan berbagai cara pula. Seperti misalnya Brodie Philp (Manager Peneneliti orangutan GPOCP), ia berhasil merekam berbagai tingkah polah satwa/hewan seperti orangutan saat makan, mendokumentasikan kura-kura, ular, serangga ataupun juga keindahan langit malam di hutan hujan.

Tidak hanya itu, keindahan jamur menyala di malam hari, cantiknya warna kupu-kupu yang hinggap di dedaunan indahnya aliran air yang mengalir dan foto para asisten peneliti yang mengikuti orangutan juga terangkum dalam foto-foto dokumentasi Brodie Philp (YP/GPOCP) berikut ini:

little snake.JPG

Ular yang dijumpai di alam liar Gunung Palung. Foto dok. Brodie Philp

IMG_0278.JPG

Serangga 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Suasana malam hari di alam liar

mush 4.jpg

Jamur 

Brodie Philp bersama dengan para peneliti lainnya dan didampingi pula oleh asisten peneliti serta para peneliti muda yang juga meneliti untuk tugas akhir melakukan penelitian setiap harinya. Tidak bisa disangkal keindahan alam liar yang berhasil diabadikan oleh para peneliti ini setidaknya memberikan gambaran yang jelas bahwa ciptaan dari Sang Pencipta begitu indah dan baik adanya untuk selalu dihargai sebagai sesama makhluk ciptaan hingga nanti karena harmoninya alam semesta memberi arti kita kita semua agar bisa menikmati/melihat dari keindahan tersebut dan dapat dijadikan sebagai sumber ilmu pengetahuan.

Semoga keindahan alam liar di banyak tempat dapat terekam dan diabadikan sebagai sumber dari ilmu pengetahuan hingga nanti. Semoga. #RainforestLive  #RainforestLive2017.

Tulisan ini juga dimuat di  Kompasiana, selengkapnya : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/melihat-indahnya-alam-liar-di-gunung-palung-yang-berhasil-diabadikan-oleh-peneliti_5938e72c139773871c9b9e98

Petrus Kanisius-Yayasan Palung