Category Archives: Info Orangutan

Asyiknya Bisa Tinggal Bersama di Cabang Panti dan Meneliti Feses (kotoran) Orangutan

IMG-20180910-WA0016

Isma Fatiha saat meneliti feses (kotoran) orangutan di laboratorium di Cabang Panti, TNGP. Foto dok : Isma/Yayasan Palung

Perkenalkan nama saya Ishma Fatiha, mahasiswa Biologi UIN Jakarta. Sudah 6 bulan saya tinggal di Kalimantan, pulau yang orang bilang “penuh cerita mistis”, tepatnya di Stasiun Riset Cabang Panti, Taman Nasional Gunung Palung. Awalnya gak kepikiran gimana harus tinggal 6 bulan di tengah hutan, waktu itu hanya pikir ya jalanin ajalah ya mau gimana juga. Sebelum datang pun sudah diberitahu bagaimana kondisi di CP, dari mulai jalan menuju ke sana yang harus jalan kaki 18 Km, bagaimana di camp, jarang ada sinyal juga dan sebagainya.

Pertama datang ke CP itu tanggal 11 Februari 2018. Mulai jalan dari Tanjung Gunung, sekitar jam 3 sore dan sampai di camp jam 8 malam. Saat itu sangat tidak menikmati perjalanan, mungkin karena baru pertama kali. Rasanya capek banget dan saat sampai di camp pun sudah tidak ada mood untuk lihat-lihat (gelap juga sih, ga bisa liat-liat). Intinya sampai camp langsung mandi, makan dan tidur. Dan keesokan paginya saat bangun dan keluar camp, baru sadar kalo sudah ditengah hutan dan itu indah banget.

IMG-20180910-WA0015

Isma saat melakukan pengecekan sampel feses orangutan di laboratorium. Foto dok : Isma/Yayasan Palung

Hari kedua di sana, hanya istirahat dan presentasi tentang penelitian yang mau dilakukan disana. Selain itu juga diajak lihat-lihat seluruh isi camp, mulai dari camp Cabang Panti, camp nyamuk, camp litho, gudang makanan, sungai tempat mandi dan lab. Sebenarnya paling ‘wow banget’ sama lab, karena aku kan pakai lab untuk proyek penelitianku dan ini lab lapangan paling lengkap yang pernah aku liat selama ini. Meskipun ya namanya juga di lapangan, ada aja kendalanya sih, tapi enjoy banget buat kerja disana bahkan sampai malam. Yang paling gak ngebosenin pas kerja di lab itu karena bisa sambil liat ke hutan sih. Kadang lagi kerja tiba-tiba sekelompok macaca datang dan makan di mangifera samping camp. Atau ada rangkong dan trogon yang bertengger di pohon sekitar camp, colugo entah dari mana muncul dan hinggap di batang pohon dan bahkan orangutan (re: Bibi-Bayas) yang seringkali datang buat makan mangifera dan cempedak dekat camp.

Pada waktu awal-awal datang di camp sedang tidak ada orangutan. Jadi hanya ikut asisten untuk cari orangutan sekalian menghafal trail (jejak) atau rintis yang ada di Cabang Panti. Saat pertama jalan disana semua rintis terlihat sama dan rasanya bakal tersesat terus kalau jalan sendiri. Tapi kelamaan malah lebih suka untuk cari orangutan sendiri. Karena lebih fokus dan bisa liat-liat hal lain juga yang kadang gak disadari pas jalan sama orang lain dan juga malah lebih cepat hafal rintis ketika jalan sendiri. Yaa.. karena mau gak mau harus cari jalan buat balik ke camp. Selama 6 bulan disana kayaknya hampir setiap hari pergi ke hutan buat cari orangutan, tapi frekuensi ketemunya sedikit banget. Sampai kadang lupa kalo kesana buat orangutan dan malah keasyikan liat rangkong (yang gak ada sih di tempatku), atau hal lain yang menarik disana.

Bicara ketemu orangutan, aku ingat pertama ketemu orangutan itu langsung ketemu 3 individu, Tari- Telur- Tawni. Mereka ibu- remaja- anak. Waktu itu sih yang ketemu pertama itu Brodie. Kemudian dia hubungi lewat radio. Jadi asisten tahu dimana orangutan itu dan bisa langsung follow. Aku inget mikir wow ternyata ini orangutan di hutan yang sebenarnya, dan disitulah pertama tau gimana rasanya ikut orangutan sampai ke sarangnya juga gimana susahnya ikut pergerakan mereka. Kalau pengalaman pertama ikut orangutan tanpa asisten itu ikut sama Tari-Tawni juga dan juvenil yang tidak dikenal. Waktu itu hanya berdua dengan Uci dan orangutan tidur sangat malam. Hasilnya, semua orang di camp panik karena kami masih baru dan belum hafal rintis, dan mereka pikir kami tersesat.

IMG-20180910-WA0017

Isma ketika mengambil sampel feses orangutan di hutan. Foto dok : Isma/Yayasan Palung

Setelah sekitar 3 minggu di camp, aku baru mulai ambil sampel feses dan kerja di lab untuk proyek penelitianku. Kenapa lama?, Ya karena harus menyesuaikan diri, latihan pakai alat lapangan dan lab dan juga karena sulitnya cari orangutan saat itu. Udah gitu ada orangutan pun belum tentu ada feses. Karena tidak bisa diprediksi apakah orangutan defekasi hari itu atau apa jumlahnya cukup untuk semua analisis. Dan hal yang jadi tantangan juga pas lagi koleksi sampel feses, mulai dari harus cari dimana fesesnya jatuh sampai resiko ketimpa feses orangutan. Pernah sekali ketimpa feses orangutan. Kesel sih, tapi seneng juga karena dapet sampel (btw harus hati-hati sama feses orangutan karena potensi zoonosis itu). Ya itu pelajaran juga sih harus liat-liat kalo mau ambil sampel. Analisis di lab juga jadi satu tantangan. Itu karena listrik hanya ada di sore hari dan alat lab butuh listrik juga. Jadi kadang ngelab sampai malam banget kalau lagi banyak sampel (dan kadang sendirian karena semua orang udah selesai kerja).

Tapi meski lama, enaknya disana semua orang mau bantu kami untuk belajar (banyak banget sih yang harus dipelajari) dan bahkan juga bantu proyek kami. Itusih yang buat betah banget. Ya karena hidup di tempat yang sama, dalam waktu yang lama, di hutan ketemu dia, di camp dia lagi, jadi kekeluargaannya kerasa banget. Semua orang berusaha agar satu sama lain tuh betah dan gak bosen. Ya kadang ngeselin sih karena bercandanya berlebihan, tapi mungkin itu jadi hal yang nanti bakal diingat pas sudah tidak di CP.

Sebenarnya susah banget buat nulis ini. Bingung, gak tau apa yang harus ditulis. Padahal 6 bulan tapi terasa singkat banget. I try to keep track of everything in my head, big things to little things, but its like trying to hold on to a fistful of sand. Meski rasanya banyak yang ingin diceritakan tapi bingung. Intinya i hope i will have a chance to come to CP again someday (saya berharap, saya punya kesempatan untuk berkunjung ke CP suatu hari nanti).

Penulis : Ishma Fatiha, Mahasiswa Biologi UIN Jakarta

Iklan

Tidak Hanya Belajar di Kelas tetapi Turun Secara Langsung di Alam

IMG-20180824-WA0006

Saat belajar secara langsung dengan anak-anak di alam tentang tumbuhan (morfologi daun). Foto dok : Yayasan Palung

Tidak terasa perkulihan  pada semester dua di Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura (UNTAN) telah saya lalui, ketika liburan semester genap berlangsung sebagai salah seorang penerima BOCS (Bornean Orangutan Caring Scholarship) atau Beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan saya berkewajiban untuk magang. Seperti penerima-penerima BOCS sebelumnya, waktu dan tempat magang bagi penerima BOCS baru telah ditentukah dari pihak Yayasan Palung.

Hanya ada dua tempat lokasi magang, yaitu Kantor Yayasan Palung Ketapang dan Kantor Yayasan Palung (Bentangor). Untuk magang kali ini saya ditempatkan di Kantor Yayasan Palung (Bentangor) Kabupaten Kayong Utara.

Selama lebih dari tiga minggu magang (di bulan Agustus 2018), banyak pengalaman dan keseruan yang saya dapatkan. Saya telah melakukan berbagai kegiatan baik mengikuti program Sustainable Livelihoods (SL) atau program pemberdayaan dan pendampingan terhadap masyarakat, dan program Pendidikan Lingkungan (PL).

Pada minggu pertama, kegiatan saya awali dengan mengikuti acara Kayong Expo 2018 atau pameran di Pantai Pulau Datok. Kegiatan tersebut berlangsung selama lima hari. Yayasan Palung bekerja sama dengan Lembaga Pengolahan Hutan Desa (LPHD) membuka lapak produk Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) dari pengrajin dan petani binaan Yayasan Palung. Sebagai tenaga magang, saya bertugas menjaga lapak dan menjelaskan kepada pengunjung yang saya ketahui tentang produk-produk hasil olahan HHBK. Aktifitas ini menjadi sangat menarik karena antusias warga lokal atau luar yang sangat berminat untuk membeli produk-produk yang dipamerkan, seperti: tikar, lekar, tas, madu, minyak kelapa, dan lain-lain.

Sedangkan di minggu kedua, saya terfokus pada Program SL. Kegiatan yang kami lakukan adalah Pemetaan Damplot di  kebun durian petani Meteor Garden di Dusun Pampang, Desa Pampang Harapan, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Kayong Utara, selama tiga hari. Seperti yang kita ketahui kebun para petani Meteor Garden berbatasan langsung dengan kawasan Taman Nasional Gunung Palung (TNGP).

Sebagai daerah yang rawan konflik pemangku kepentingan, jadi perlu adanya pengambilan data sebagai penanda kebun durian milik para petani Meteor Garden. Sebagai asisten tim survey, saya bertugas mengambil data titik koordinat tanaman durian. Adapula kegiatan membibitan cabai di rumah pembibitan kelompok petani Meteor Garden. Disini saya membantu petani selama proses pembibitan. Mulai dari menggemburkan tanah dan mencampurnya dengan kompos organic, mengisi polibag, hingga pembibitan.

IMG-20180824-WA0005

Saat memberikan materi tentang satwa dilindungi kepada anak-anak dengan media boneka. Foto dok : Yayasan Palung

Kemudian pada minggu ketiga, saya mengikuti kegiatan Pendidikan Lingkungan (PL) di SD 19 Sukadana. Dalam kegiatan ini Yayasan Palung mengajak siswa-siswi belajar lingkungan melalui Puppet Show dan Fieldtrip. Bersama satu orang Relawan Konservasi REBONK dan kedua teman saya dari BOCS, kami mempertunjukan Puppet Show (atau pertujukan boneka satwa) dihadapan 60 orang siswa-siswi dari kelas satu hingga kelas empat. Materi yang kami sampaikan berupa pengenalan satwa dan status keterancaman satwa yang dilindungi, reperti orangutan, bekantan, enggang, dan teringgiling. Pendidikan lingkungan melalui Puppet Show dengan menggunakan boneka satwa disampaikan agar materi dapat terserap dengan mudah dan menarik. Selanjutnya kami melanjutkan kegiatan belajar di alam di jalur fieldtrip Yayasan Palung Bentangor. Saya juga berkesempatan untuk menyampaikan materi tentang morfologi daun, Hasil Hutan Buakn Kayu (HHBK), dan pupuk kompos.

Penulis : Ilham Pratama, Mahasiswa Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura, Penerima Beasiswa BOCS

Rayakan Hari Orangutan Internasional 2018, Yayasan Palung Lakukan Ragam Kegiatan untuk Menjaga Si Petani Hutan Melalui Budaya

Cerita tentang satwa dilindungi saat IOD 2018 (2).JPG

Relawan Tajam  Yayasan Palung Bercerita tentang satwa dilindungi saat acara IOD 2018 di Citimall Ketapang pada (19/8), kemarin. Foto dok : Yayasan Palung

Minggu (19/8/2018) kemarin, Dunia Internasional  memperingati Hari Orangutan Internasional atau International Orangutan Day (IOD)/ atau biasanya disebut juga World Orangutan Day (WOD)/Hari Orangutan Sedunia 2018. Tahun ini, Yayasan Palung bersama para relawan untuk bersama mengajak  untuk peduli terhadap si petani hutan (orangutan), salah satunya melalui budaya.

Dalam gelaran untuk merayakan hari orangutan internasional 2018 kemarin, Yayasan Palung bersama para relawan Tajam, RebonK dan Penerima Beasiswa Orangutan Kalimantan (BOCS) menyelenggarakan berbagai kegiatan yang dilaksanakan di Citimall Ketapang, diantaranya seperti panggung boneka (puppet show) yang disuguhkan oleh relawan Tajam, penampilan teater dari relawan Bentangor, dan lomba Syair gulung di tingkat Sekolah Dasar.

teater saat IOD.JPG

Aksi teatrikal (teater) yang ditampilkan oleh Relawan RebonK Yayasan Palung saat acara Hari Orangutan Internasional (19/8), kemarin. Foto dok : Yayasan Palung

Ada pun tema yang diketengahkan oleh Yayasan Palung pada Hari Orangutan Internasional tahun 2018 adalah; “Menjaga Si Petani Hutan Melalui Budaya”, Si Petani hutan yang dimaksud pun tidak lain adalah orangutan.  Menjaga si petani hutan melalui budaya menjadi satu ajakan kepada semua pihak untuk peduli terkait nasib dari orangutan saat ini karena berbagai ancaman yang ada pada satwa endemik tersebut.

Kegiatan dimulai pada pukul 13.00 Wib, dibuka secara resmi oleh Direktur Yayasan Palung. Ragam rangkaian kegiatan seperti perlombaan Syair Gulung, diselang seling dengan adanya suguhan penampilan panggung boneka (puppet show) yang bercerita tentang kehidupan satwa liar di hutan seperti orangutan, burung enggang dan bekantan. Orangutan sebagai satwa yang sangat terancam punah, dan burung enggang sebagai satwa penyebar biji (si petani hutan). Sedangkan bekantan merupakan satwa endemik yang hanya hidup di pulau Kalimantan saja.

Sedangkan atraksi aksi teatikal (teater) bercerita tentang menjaga  kehidupan di hutan. Dalam teater tersebut, relawan RebonK mengajak menjaga hutan  peninggalan nenek moyang. Sebagai tokoh dalam cerita, Pak Amat yang di Perankan oleh Egi, RebonK sebagai sosok penjaga hutan yang bijaksana serta tidak tergoda dengan bujuk rayu dan berhasil menangkal segala ancaman yang datang seperti penebangan liar atau pun ilegal loging dan perburuan liar live music  dari Egi’s & Friend yang menampilkan lagu-lagu tentang lingkungan.

Egi's and Friend band saat mengisi acara IOD.JPG

Egi’s and Friend band saat mengisi acara IOD 2018. Foto dok : Yayasan Palung

Pada perlombaan Syair Gulung, peserta lomba melantunkan syarir gulung yang merupakan bagian dari budaya. Peserta lomba syair sebagian besar menyampaikan pesan kepada khalayak (masyarakat luas) dan ajakan terkait pesan-pesan moral lingkungan, dan kecintaan mereka tanpa harus memiliki atau memilihara satwa dilindungi. Sebagai Pemenang pertama dalam lomba Syair Gulung adalah Uti Al Faldan, dari MIN Ketapang. Sedangkan pemenang kedua adalah Girink Clara Belo dari SDN 05 Delta Pawan, pemenang ketiga Syarif Levi Nasira Sahab dari SDN 04 Benua Kayong dan pemenang keempat adalah Safitri  Kirani dari SDN 20 Delta Pawan. Untuk hadiah, para pemenang mendapatkan hadiah berupa paket hadiah, plakat dan sertifikat.

peserta lomba berfoto bersama.JPG

Peserta lomba berfoto bersama setelah pengumuman lomba Syair Gulung dalam acara IOD 2018. Foto dok : Yayasan Palung

Sebagai juri dalam perlombaan Syair Gulung di tingkat Sekolah Dasar dalam rangka IOD 2018 tersebut adalah Raden Abdillah dan Wijaya.

Dalam kata sambutannya, Direktur Program Yayasan Palung, Terri Lee Breeden mengatakan; “Acara kami yang diadakan di Citi Mall untuk International Orangutan Day 2018 adalah sukses besar”.

Selain itu lebih lanjut menurut Terri, Ia merasa terkesan pada kapasitas para kelompok relawan, yang mana para relawan muda kami bekerja untuk mengatur dan melakukan pertunjukan yang hebat. Kami menjangkau khalayak luas dan dapat menyampaikan pesan tentang ancaman yang dihadapi orangutan saat ini dan apa yang dapat kita semua lakukan untuk membantu melindungi mereka dan habitat hutan mereka. Saya ingin berterima kasih kepada semua orang atas kerja keras mereka dan menantikan acara seperti ini di tahun-tahun mendatang’’, ujar Terri lagi.

Winda Lestari, Relawan Tajam angkatan pertama sekaligus sebagai ketua panitia kegiatan IOD 2018 mengatakan;  Kegiatan seperti ini (IOD/WOD 2018) sangat bagus sekali dilakukan karena rangkaian kegiatan sudah menjadi aksi kampanye untuk satwa yang dilindungi seperti perlombaan syair gulung pun tersaji dan tersirat pesan moral konservasi. Selain itu juga syair gulung menjadi aksi yang nyata melalui budaya.

Sementara itu, Junardi dari Mahasiswa penerima Beasiswa BOCS mengatakan, kegiatan hari orangutan internasional yang diselenggarakan sudah berjalan dengan sukses, berharap di tahun-tahun mendatang kegiatan seperti ini bisa lagi diselenggarakan dengan peserta yang lebih banyak dan di tempat-tempat yang strategis agar bisa menjangkau masyarakat.

Pada kegiatan tersebut, terlihat antusias dari para tamu undangan dan para peserta lomba yang ikut ambil bagian dalam acara IOD tersebut. Pada malam harinya, Yayasan Palung bersama para relawan dan Mahasiswa BOCS melakukan pemutaran film lingkungan di Citimall. Ada pun film lingkungan yang diputar sebagai media penyadartahuan/kampanye  dan hiburan kepada pengunjung. Ada pun film  yang di putar antara lain adalah film Asimetris, film Indonesia Diambang Kepunahan dan film Sampah Man.

Saat pemutaran film lingkungan dalam rangka IOD 2018 di Citimall Ketapang sebagai upaya kampanye penyadartahuan  (1).jpg

Saat pemutaran film lingkungan dalam rangka IOD 2018 di Citimall Ketapang sebagai upaya kampanye penyadartahuan kepada masyarakat luas. Foto dok : Yayasan Palung

Lewat IOD/WOD 2018 ajakan kepada semua untuk peduli pada satwa lebih khusus orangutan dan satwa dilindungi lainnya. Selain juga merupakan satu cara penyampaian kampanye penyadartahuan kepada masyarakat luas untuk ikut berperan serta ambil bagian berperan dan berharap ada semangat yang semakin tumbuh dari semua pihak untuk semakin peduli pada nasib hutan dan satwa sebelum terlambat. Berharap Si Petani Hutan bisa lestari hingga nanti. Semua rangkaian kegiatan Hari orangutan Internasional 2018 berjalan sesuai rencana dan sukses.

berfoto bersama setelah selesai kegiatan IOD atau WOD 2018.JPG

Berfoto bersama setelah selesai kegiatan IOD atau WOD 2018. Foto dok : Yayasan Palung

Sebelumnya berita terkait kegiatan Hari Orangutan Internasional (International Orangutan Day/IOD) 2018 yang digelar/dilakukan Yayasan Palung, dimuat di Tribun Pontianak online :

http://pontianak.tribunnews.com/2018/08/23/rayakan-peringatan-iod-2018-yp-gelar-beragam-kegaiatan-di-citimall-ketapang

Rekaman Radio di Radio GS tentang feature hari orangutan internasional 2018 di link :

https://soundcloud.com/yayasan-palung/feature-radio-gs-tentang-kegiatan-hari-orang-utan-sedunia-2018-dirayakan-oleh-ypmp3

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

 

 

Ini Cerita Menarik Saya Selama Enam Bulan Meneliti di Cabang Panti

Uci Agustina

Uci Agustina saat berada di lapangan (melakukan tugas penelitian). Foto dok : Uci Agustina/Yayasan Palung

Perkenalkan, nama saya Uci Agustina, mahasiswi dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Tahun ini, saya sudah memasuki tahap skripsi dimana saya harus melakukan penelitian terlebih dahulu. Alhamdulillah saya bisa melakukan penelitian di Cabang Panti, Taman Nasional Gunung Palung, Kalimantan Barat.

Ya, mulai sekarang dan enam bulan ke depan kami akan tinggal dan menjadi bagian dari keluarga Cabang Panti. Hari pertama kami disana tidak langsung turun ke lapangan, tapi kami belajar mengenal alat-alat di laboratorium terlebih dahulu. Keesokannya, kami ikut asisten untuk mencari orangutan sesuai dengan track yang sudah dibagi oleh manager. Pencarian orangutan dimulai pada pukul 07.30 Wib dan berakhir pada pukul 14.30 Wib. Biasanya kami membawa bekal makan siang secukupnya, kadang kami juga membawa mie instant untuk dijadikan camilan, tanpa di rebus terlebih dahulu.

Saya akan menceritakan pengalaman saya selama penelitian di sana. Saya ke sana dengan rekan mahasiswi saya bernama Ishma Fatiha yang juga satu jurusan dengan saya dan kami melaksanakan penelitian selama 6 bulan. Kami harus menempuh perjalanan kurang lebih 18 km atau 4-6 jam untuk tiba di Cabang Panti (capek banget, gila).

Saat itu, kami pergi bersama asisten orangutan, namanya Syainullah. Kami berangkat dari desa terakhir sekitar pukul 15.00 Wib dan sampai di camp jam 20.00 Wib. Sungguh melelahkan, apalagi kami belum pernah sekali pun menempuh perjalanan sejauh itu. Sesampainya di sana, kami berkenalan dengan penghuni camp. Ada staf Taman Nasional, ada asisten orangutan, asisten OFP (One Forest Project) dan juga juru masak.

DSC00214.JPG

Uci dan Para Asisten Peneliti  berfoto bersama dengan Ibu Cheryl Knott. Foto dok : Uci/Yayasan Palung

Jika kami menemukan orangutan, kami ikuti sampai orangutan membuat sarang. Biasanya orangutan diikuti sampai 5 hari berturut-turut. Jika sudah sampai 5 hari, maka orangutan dilepas. Saya sendiri mengambil data tentang perilaku makan orangutan yang berarti saya harus mengikuti orangutan selama 5 hari berturut-turut. Capek sih, tapi ya mau bagaimana lagi. Gak ikut berarti gak dapat data.

Saya pernah ikut full orangutan sampai 10 hari dan itu saat bulan puasa. 10 hari berturut-turut tanpa istirahat, pengalaman yang luar biasa sekali yaah. Asisten pun tidak pernah ikut orangutan sampai 10 hari berturut-turut, biasanya mereka bergantian kalau mau ikut, kecuali kalau banyak orangutan yang ditemukan. Selama disana, saya mendapatkan pengalaman baru, teman baru dan keluarga baru. Waktu pertama kali lihat orangutan rasanya senang banget, karena untuk melihat orangutan liar itu langka banget, di Jakarta hanya bisa melihat orangutan yang ada di kandang.

Di Camp Cabang Panti kebanyakan orang-orang lokal dan mayoritas orang islam. Sebelum saya ke Kalimantan, pikiran-pikiran negatif selalu muncul (tahunya orang Kalimantan itu mayoritas suku Dayak), takut di apa-apain ya kan. Ternyata anggapan saya terlalu berlebihan, kenyataannya orang Kalimantan tidak semuanya dari suku Dayak, kalaupun ada dari suku Dayak mereka baik-baik dan ramah. Di camp kebanyakan laki-laki, yang perempuan hanya sedikit, mungkin hanya sedikit dari kalangan perempuan yang suka kerja di hutan.

Saya dan Ishma pernah dipasangkan untuk mecari orangutan berdua dan hari itu kami menemukan orangutan, namanya Tari dan Tawni (orangutan ibu dan anak). Saat itu kami juga bertemu dengan Uteh  Randa yaitu staf OFP, beliau yang akan memberi tahu orang-orang di camp bahwa kami menemukan orangutan. Setelah sore hari, orangutan tak kunjung membuat sarang, kami pun kesal dibuatnya, orangutannya masih makan padahal cuacanya sudah gelap. Orangutan baru membuat sarang sekitar pukul 18.00 Wib. Setelah itu kami langsung cepat-cepat menandai pohon sarang dan menarik benang sampai rintis terdekat. Saat itu kami tidak membawa parang, hutannya rapat sekali, banyak rotan pula. Kami hanya bisa mengandalkan potongan kayu untuk menebas rotan-rotan ataupun liana agar kami bisa lewat (nebasnya gak banyak kok, seperlunya saja).

DSC00213.JPG

Isma, Ibu Cheryl dan Uci. Foto dok : Uci/Yayasan Palung

Setelah sampai di rintis, kami pun bergegas pulang. Awalnya kami bingung ingin melewati jalan yang mana, karena saya sempat melihat seperti ada pohon tumbang di depan. Kata Ishma, tidak ada pohon tumbang sama sekali (aneh sekali), kami sampai berdebat saat itu. Setelah beberapa menit, sayapun memberanikan diri untuk jalan ke arah rintis yang ada pohon tumbang tersebut dan benar sekali ternyata tidak ada pohon tumbang (kenapa bisa gitu ya? Aneh sekali). Setelah itu kamipun bergegas pulang dan kami jalannya cepat-cepat sekali karena sudah sangat malam. Di perjalanan kami mendengar suara-suara aneh dan kami hiraukan saja. Sesampainya kami di rintis SK-JM (Rintis dekat camp), kami mendengar suara teriakan “ada senter, ada senter”.

Kami pun bingung saat itu, orang-orang di camp kenapa ya (ngomong dalam hati). Sesampainya di camp kami langsung disambut oleh semua penghuni camp, ternyata mereka mengira kami tersesat di hutan, dan asisten-asisten sudah bersiap-siap untuk pergi ke hutan melakukan pencarian. Erin Kane sampai menangis saat itu. Erin Kane merupakan murid ibu Cheryl Knott dari Boston University. Saat itu dia menjadi manager sementara karena manager baru belum tiba di Cabang Panti.

Singkat cerita, bulan Agustus merupakan bulan terakhir kami melakukan penelitian disana, tepatnya tanggal 5 Agustus. Pada tanggal 4 Agustus kami presentasi hasil penelitian selama 6 bulan. Pada kesempatan itu kami juga pamitan dan mengutarakan kesan dan pesan kami selama penelitian di sana.

Kami tidak melakukan sesi foto sama sekali, camp sepi, hanya ada sebagian orang di sana. Asisten banyak yang turun karena saat Ibu Cheryl ke sana belum ada yang libur sama sekali. Keesokannya yaitu tanggal 5 Agustus 2018, kami pun turun bersama dengan 2 porter. Saat itu rasanya berat sekali mau meninggalkan camp, karena terlalu banyak kenangan di sana. Kami turun saat siang hari karena ingin berlama-lama di camp. Asisten orangutan saat itu sedang mengikuti 2 orangutan, jadi kami sudah berpamitan terlebih dahulu saat malam hari setelah presentasi.

 Uci Agustina, Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Berbagi Cerita Bersama Penerima Beasiswa BOCS di Radio Kabupaten Ketapang tentang Konservasi

Berfoto bersama setelah kegiatan siaran radio di Radio Kabupaten Ketapang (RKK) selesai. Foto dok. BOCS

Berfoto bersama setelah kegiatan siaran radio di Radio Kabupaten Ketapang (RKK) selesai. Foto dok :  BOCS

Sebuah pengalaman luar biasa bagi kami selaku penerima beasiswa BOCS (Bornean Orangutans Caring Schoolarship) dimana pada hari kamis 9 agustus 2018 tepatnya, kami melakukan siaran di RKK (Radio Kabupaten Ketapang) sebagai narasumber. Siaran yang betajuk Bincang Hijau ini di pandu oleh Kak Via selaku penyiar di RKK. Tujuan dari siaran ini yaitu membahas tentang beasiswa BOCS itu sendiri dan juga peran kami sebagai penerima beasiswa terhadap konservasi.

Siaran dimulai pada pukul 12.00 Wib-12.45 Wib untuk sesi rekaman yang mana hasilnya akan di siarkan pada pukul 14.00 pada hari itu. Kami (Erina Safitri, Siti Nurbaiti, Hanna Adelia Runtu, Mita Anggraini) mengawali siaran dengan berkenalan dengan para pendengar radio sekaligus memerkenalkan jurusan yang kami ambil serta hubungan jurusan dengan konservasi orangutan itu sendiri. Selama siaran banyak hal yang kami ceritakan mulai dari menjelaskan tentang beasiswa BOCS yang mungkin masih jarang sekali orang yang mengetahuinya.

Di pertengahan sesi tanya jawab kami juga ditanya tentang peran kami untuk konservasi orangutan dan habitatnya dan juga lingkungan. Disini kami menjelaskan bahwa kami sebagai generasi muda memiliki peran yang sangat besar akan konservasi mulai dari penyadaran diri sendiri tentang menjaga keaslian lingkungan juga terkadang melakukan motivasi-motivasi untuk menjaga lingkungan melalu media sosial.

Siaran tidak berakhir disitu saja,selanjutnya disesi akhir kak Via juga bertanya tentang persiapan kami untuk Hari Orangutan Sedunia yang akan diadakan pada tanggal 19 Agustus 2018,

Selanjutnya sampailah pada sesi penutup dimana kami menyampaikan pesan terhadap lingkungan. Pesan kami adalah ”lingkungan bukan miliku, lingkungan juga bukan milik kalian, tetapi lingkungan adalah milik kita bersama, maka marilah kita menjaganya bersama-sama agar kita bisa nyaman tiggal didalamnya”. Dengan disampaikannya pesan itu berakhirlah siaran kami pada hari itu. Kami merasa senang karena akhirnya siaran berjalan dengan lancar tanpa kendala.

 Penulis : Teman-teman Penerima Beasiswa BOCS (Erina Safitri, Siti Nurbaiti, Hanna Adelia Runtu, Mita Anggraini)

 

 

 

Cerita Singkat, 11 Hari Kursus Lapangan (Belajar) di Jantung Taman Nasional Gunung Palung

Ujian Sensus Satwa Field Course di Gunung Palung

Ujian Sensus Satwa Field Course (kursus/Kuliah Lapangan) di Gunung Palung. Foto dok : Yayasan Palung

“Pada tahun ini  kuliah lapangan sangat berbeda dari tahun sebelumnya, karena kami mendapatkan materi presentasi tentang 25 tahun Penelitian orangutan di Cabang Panti dari ahli serta pakar Orangutan yaitu Prof. Cheryl Knott.  Ini merupakan kesempatan langka bisa belajar tentang perilaku orangutan yang DNA nya 98% mirip dengan manusia”, Syahik Nurbani.

Seperti yang Anda ingat, beberapa tahun belakangan ini tim Gunung Palung Orangutan Conservation Program (GPOCP) dapat berpartisipasi dalam kursus lapangan yang dipandu oleh Prof. Andrew Marshall, dari University of Michigan, dan staf Taman Nasional di Stasiun Penelitian Cabang Panti, di jantung Taman Nasional Gunung Palung (TNGP). Pada pertengahan Juli bulan lalu, kami Staf GPOCP termasuk saya Syahik Nurbani, Koorinator Survei, dan Hendri Gunawan Petugas Pendidikan Lingkungan, berjalan ke camp Cabang Panti yang merupakan Zona inti dari Taman Nasional Gunung Palung ikut berpartisipasi dalam kursus sensus satwa dan pengenalan jenis tumbuhan.

Dengan kursus ini dapat menyediakan informasi berharga tentang keberadaan satwa dan tumbuhan. Kursus ini ditawarkan kepada organisasi lokal termasuk staf Balai Taman Nasional Gunung Palung (BTNGP), Pusat Konservasi Sumber Daya Alam, yang dikenal secara lokal sebagai BKSDA, dan GPOCP. Ada total 15 peserta yang menghabiskan 11 hari belajar tentang flora dan fauna daerah tersebut.

Foto Materi Identifikasi Tumbuhan Field Course di Gunung Palung (3)

Foto Materi Identifikasi Tumbuhan Field Course di Gunung Palung. Foto dok : Yayasan Palung

Endro Setiawan, kepala penelitian di Cabang Panti dari Balai Taman Nasional Gunung Palung, memimpin kursus dan memberikan presentasi tentang banyaknya flora dan fauna yang akan ditemui peserta saat di Cabang Panti. Taman Nasional Gunung Palung mencakup delapan tipe habitat yang berbeda, yang merupakan rumah bagi salah satu populasi orangutan liar terbesar yang tersisa, spesies yang sangat terancam punah.

Selama kursus, peserta diperkenalkan ke hutan hujan tropis, keanekaragaman hayati Taman Nasional Gunung Palung, ekologi tanaman dan hewan, fotografi, identifikasi jejak hewan dan belajar cara memasang perangkap kamera dengan benar, di antara topik lainnya. Kami juga mendapatkan praktek lapangan dalam identifikasi tumbuhan, survei hewan, dan sensus satwa. Setelah mendapatkan materi kami diberikan ujian sensus satwa kami berjalan menysuri transek yang ada kemudian mengumpulkan informasi tentang apa pun hewan yang menyentuh garis. Baik itu pertemuan secara langsung atau pun tidak yaitu melalui bekas jejak, kotoran, cakaran dan lain-lain. Dan dari hasil tersebut saya mendapatkan hasil nilai yang tertinggi, saya terkejut karena tidak menyangka menjadi terbaik.

Foto Praktek Identifikasi Tumbuhan Field Course di Gunung Palung (2)

Foto Praktek Identifikasi Tumbuhan Field Course di Gunung Palung. Foto dok : Yayasan Palung

Para peserta kursus lapangan belajar cara memasang perangkap kamera dengan benar. Kamera-kamera ini memungkinkan tim untuk mendokumentasikan hewan-hewan, karena mereka sulit dideteksi oleh rute sensus berjalan manusia. Tujuannya adalah untuk mendokumentasikan keragaman Cabang Panti lebih baik dan melihat apakah primata menggunakan tanah. Kami benar-benar beruntung. Dalam waktu singkat mereka ada di sana, tim ini mampu menangkap seekor kancil dan musang.

Foto Materi Orangutan Field Course di Gunung Palung

Materi Orangutan yang disampaikan oleh Cheryl Knott kepada peserta Field Course. Foto dok : Yayasan Palung

Pada tahun ini sangat berbeda dari tahun sebelumnya, karena kami mendapatkan materi presentasi tentang 25 tahun Penelitian orangutan di Cabang Panti dari ahli serta pakar Orangutan yaitu Prof. Cheryl Knott.  Ini merupakan kesempatan langka bisa belajar tentang perilaku orangutan yang DNA nya 98% mirip dengan manusia.

Dengan mempelajari perilaku hewan tersebut (orangutan), setidaknya kita dapat mengetahui cara bagaimana agar mereka tidak punah di alamnya dan dapat lestari di habitat mereka hingga nanti.

Saat kami melakukan praktek lapangan kami berjumpa dengan orangutan yang sedang “party” jalan dan mencari makan bersama-sama. Dari pantauan kami ada beberapa orangutan yang sedang party ada Bosman (Flanged Male), Walimah (Female) dan Berani (Female) sedang makan buah pada satu pohon yang sama. Bosman tiba-tiba mendekati Walimah yang sedang makan dan tidak lama kemudian mereka kopulasi. Prof. Cheryl Knott, menyatakan bahwa para peserta benar-benar beruntung. Dalam waktu singkat mereka ada di sana, dapat berjumpa dengan orangutan dan juga mampu mengamati perilaku orangutan yang sedang kopulasi.

Foto Semua Peserta Field Course di Gunung Palung

Foto Semua Peserta Field Course di Gunung Palung. Foto dok : Yayasan Palung

Selanjutnya kami mendapatkan materi presentasi tentang, fotografi dari ahli fotografer terkenal dunia yaitu Tim Laman. Lagi-lagi ini kesempatan langka bisa belajar tentang fotografi alam liar, foto-foto yang ditampilkan merupakan foto yang bagus sekali dan kami diajarkan cara untuk mendapatkan foto yang baik, dari memanjat pohon sampai harus menunggu selama berhari-hari untuk dapat kualitas foto yang bagus. Kami jadi tertarik ingin belajar fotografi sampai mendapatkan foto-foto yang bagus baik satwa dan tumbuhan. Semua pihak belajar informasi yang berharga dan teknik pengumpulan data lapangan. Pengetahuan yang diperoleh dari bagian identifikasi jejak hewan di lapangan membantu kelompok-kelompok tersebut karena mereka lebih sadar tentang apa yang harus dicari. Secara keseluruhan, pelatihannya sangat sukses.

Penulis : Syahik Nurbani (Koorinator Survei YP/GPOCP)

Editor : Petrus Kanisius

Hendri Gunawan: Asyiknya Mengunjungi Surga Hijau (Hutan Hujan Gunung Palung) di Tanah Borneo

FB_IMG_1533545050945

Hendri Gunawan bersama teman-temannya ketika kuliah lapangan di Taman Nasional Gunung Palung. Foto dok : Hendri G. / Yayasan Palung

Saya Hendri Gunawan, saya dilahirkan di sebuah pulau yang disebut orang sebagai paru-paru dunia, yaitu Kalimantan. Sebagai orang asli Kalimantan, saya sangat bangga dengan bentang alam yang sangat indah ini, salah satunya adalah Taman Nasional Gunung Palung (TNGP) yang berada di sebelah Barat pulau Kalimantan dan merupakan Taman Nasional Terlengkap di Indonesia.

Meskipun kecil, kita dapat menjumpai delapan tipe ekosistem hanya dalam satu kawasan saja dari hutan pegunungan hingga hutan mangrove di pantai serta terdapat ratusan jenis hewan dan ribuan jenis Tumbuhan yang menghuni Hutan ini. Keberagaman tersebut menyebabkan Taman Nasional Gunung Palung kaya akan keaneka ragaman hayati. Hal yang cukup mengejutkan bagi pendatang yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Taman Nasional ini.

Taman Nasional Gunung Palung memiliki sebuah stasiun riset yang merupakan stasiun riset tertua di Indonesia yang masih aktif saat ini bernama Stasiun Riset Cabang Panti (SRCP). Banyak mahasiswa dari dalam maupun luar negeri yang melakukan penelitian untuk meraih gelar S1 sampai S3 dan bahkan melahirkan beberapa Profesor. Tidak pernah terbesit dipikiran saya bahwa saya akan sampai ke SRCP, tidak semua orang dapat kesana karena akan melewati serangkaian perizinan yang rumit dan saya merupakan salah satu orang yang beruntung.

Kedatangan saya ke SRCP Taman Nasional Gunung Palung merupakan suatu rangkaian acara dari Kuliah Lapangan Ekologi Hutan Tropis dan Teknik Survei Vertebrata yang diselenggarakan oleh pihak SRCP bekerja sama dengan University Of Michigan USA yang dilaksanakan selama 12 hari. Rangkaian kegiatan ini terdiri dari berbagai kegiatan diantaranya ekologi tumbuhan dan vertebrata hutan hujan tropis, pemasangan camera trap, karakteristik tumbuhan, pengenalan penelitian ilmiah, orangutan dan pengambilan sampel serta statistik. Ada sekitar 15 orang yang terlibat dalam kuliah lapangan ini dan masing-masing memiliki keahliannya sendiri. Kami yang pada awalnya tidak saling mengenal tiba-tiba menjadi sangat akrab satu sama lain.

Banyak ilmu bermanfaat serta pengalaman berharga yang saya dapatkan selama hampir dua pekan berada di SRCP tersebut, berawal dari sebuah ungkapan singkat seorang profesor asal Universitas Michigan, Amerika bernama Andrew J. Marshall, (kami memanggilnya pak Andi); “saya merasa kembali ke rumah jika saya berada disini”, itu adalah kalimat yang terlontar, saat kami sedang menyaksikan presentasi beliau satu hari sebelum berangkat ke SRCP Taman Nasional Gunung Palung.

Saat itu saya semakin penasaran dengan ucapan beliau (Andrew J. Marshall), sebenarnya apa latar belakang yang membuat beliau berkata demikian. Ketika kami berangkat menuju SRCP kami melewati beberapa tipe ekosistem, mulai dari hutan rawa gambut, hutan rawa air tawar, kemudian hutan dataran rendah, kerangas hingga hutan dataran tinggi. Di dalam perjalan kami menjumpai banyak sekali jenis tumbuhan yang besar dengan kanopi yang sangat rapat hingga sinar matari sulit tembus sampai ke permukaan tanah, kami juga bertemu dengan beberapa sarang orangutan, juga banyak sekali suara burung yang merdu serta jangkrik yang tidak pernah putus mengiringi perjalan kami sampai ke Camp SRCP. Tiba di sana saya terkagum dengan suasana camp SRCP, di dalam hutan belantara terdapat 3 buah bangunan yang sederhana namun luas dengan fasilitas penelitian yang sangat mendukung untuk projek penelitian.

Camp tersebut dikelilingi oleh pohon-pohon raksasa sebagai rumah bagi satwa aboreal (mamalia yang hidup di atas pohon) penghuni hutan tersebut serta dibagian depan terdapat aliran sungai yang sangat jernih dengan terdapat banyak jenis ikan, mereka sebut sungai itu dengan nama Sungai Panti.

Dalam kuliah lapangan tersebut kami dibagi menjadi empat team, “fungi” itulah nama team kami. Dari berbagai kegiatan yang dilakukan, ada satu kegiatan favotit saya yaitu survei satwa, karena dalam kegiatan ini saya dapat berjalan mengelilingi hutan dengan menikmati udara yang segar dan menjumpai berbagai jenis satwa serta mendengar bermacam-macam suara satwa yang ada di kawasan SRCP, ini sangat menyenangkan bagi saya.

Saat itu, kami sedang melakukan survei satwa sekitar pukul 7:00 pagi, begitu indahnya alunan suara burung saat itu yang berpadu dengan  jangkrik ditambah dengan suara enggang  dan kelempiau dari kejauhan serta sesekali terdengar kelasi juga mengeluarkan suaranya sebagai menghuni rimba Borneo tersebut.

Team kami terlalu asyik menjalankan survei satwa dengan mengikuti suara kelempiau yang dikenal dengan sebutan sang sirine hutan, sehingga kami memutuskan untuk mengikuti kemana kelempiau itu pergi agar dapat melihat langsung sang sirine hutan tersebut. Kami terlalu menikmati suasana hutan sehingga kami tidak sadar bahwa kami telah sangat jauh melangkah dan membuat kami tersesat. Hari semakin siang dan kami belum menemukan jalan pulang, kami terus berjalan dan kami beremu dengan para asisten dan peneliti orangutan yang sedang mengamati tingkah laku orangutan.

Hal yang sangat jarang dijumpai, kali ini saya melihat langsung orangutan jantan yang bernama Bosman sedang kawin dengan orangutan betina yang bernama Walimah, mereka kawin diatas pohon yang besar yaitu pohon Mahang (Makaranga sp.) yang diselimuti oleh pohon Kayu Ara (Ficus sp.) dan satu individu orangutan betina bernama Brani di pohon lain. Sekitar 15 menit saya ikut mengamati sekaligus menggali informasi kepada asisten peneliti tentang perilaku orangutan yang saat ini lebih dari tiga dekade mereka teliti. Sangat menakjubkan, saya melihat 3 individu orangutan sekaligus dlam satu waktu. Terbayar sudah, ini kali pertama saya melihat orangutan dan tingkah lakunya dikehidupan alam liar.

IMG20180720144553.jpg

Hendri Gunawan ketika berkesempatan berfoto dengan pohon Dipterocarpaceae  (jenis  kayu meranti) di TNGP. Foto dok. Hendri G. / Yayasan Palung

Tidak hanya itu pengalaman menarik yang kami dapatkan selama berada di sana,  team kami juga memasang camera trap disebuah pohon kecil di tepi sungai, dan hasilnya kami merekam seekor kancil yang sedang melintas pada malam hari menuju sungai untuk minum. Keesokan harinya sang profesor Andew J. Marshall mengajak kami untuk melakukan perjalanan ke hutan dataran tinggi sehari penuh menuju puncak, kami mulai pagi sekali sekitar pukul 7.00 karena perjalanan cukup jauh dan mendaki, dalam perjalanan saya mendapatkan informasi bahwa terdapat lebih dari 90 jenis pohon Dipterocarpaceae atau dalam bahasa lokal orang menyebutnya meranti-merantian yang ada di Taman Nasional Gunung Palung dan tingginya dapat mencapai 30 meter. Wah, ini sangat mengagumkan sekaligus membuat saya semakin bingung dan penasaran.

Di ketinggian tertentu kami juga menjumpai jenis pohon Poteria dan beberapa jenis Cemara gunung, semakin tinggi kami melangkah semakin kecil pepohonan serta semakin banyak lumut tebal yang kami temui, semakin dingin suhu yang kami rasakan padahal saat itu tepat pukul 1:00 siang.

Ditengah perjalanan saya juga menemui sebuah tumbuhan yang menurut saya sangat unik yaitu sebuah tumbuhan yang memiliki batang, ruas, dan daun seperti bambu namun tumbuh menjalar seperti rotan, dan berbagai jenis pohon Liana yang yang mengakar dari dasar tanah menuju ranting-ranting pohon raksasa, sesekali juga bertemu dengan damar yang wangi seperti parfum,  juga menjumpai beberapa bekas cakar beruang yang terlihat pada batang pohon, dan menemui banyak jenis jamur.

IMG20180722160702

Indahnya hutan dan pemandangan di sekeliling, seperti dua pohon jenis Dipterocarpaceae ini. Foto dok. Hendri G. / Yayasan Palung

Begitu Indah Taman Nasional Gunung Palung dengan segala pesona dan ekosistem terlengkapnya, saya mendapatkan jawaban dari pertanyaan saya sendiri tentang mengapa seorang ilmuan bernama Andrew J. Marshall asal Amerika mengatakan bahwa dia merasa kembali kerumah jika sedang berada di Taman Nasional Gunung Palung. Ternyata Hutan Hujan Tropis Taman Nasional Gunung Palung merupakan hamparan Surga Hijau dari Borneo yang menyimpan sejuta keindahan flora dan fauna yang membuat mata saya terpana. Pengalaman saya ini hanyalah satu dari ribuan informasi yang mungkin belum saya ketahui dibalik indahnya Taman Nasional Gunung Palung. Semoga cerita saya dapat memperkaya sudut pandang kita dalam memaknai konservasi dan terus menjaga alam yang Indah ini.

Hendri Gunawan (Tim Pendidikan Lingkungan)-Yayasan Palung

Film Dokumenter: Surga Yang Tersembunyi di Taman Nasional Gunung Palung

Surga Yang Tersembunyi di TNGP

Untuk menonton klik link  : “A Hidden Paradise” (Surga Yang Tersembunyi)
Berikut ini merupakan film dokumenter yang berjudul : “A Hidden Paradise” (Surga Yang Tersembunyi)

Cerita singkat dari film ini menceritakan tentang keindahan serta kekayaan keanekaragaman hayati yang tak ternilai di Taman Nasional Gunung Palung (TNGP).

Tidak hanya tentang keindahan dan keanekaragaman hayati saja, akan tetapi juga menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi tumbuhan dan satwa.

Hadirnya film ini setidaknya menjadi bagian yang harus kita syukuri karena kita diingatkan untuk menjaga dan melestarikan TNGP sebagai surga yang tersembunyi untuk keberlanjutan nafas semua makhluk hidup.

(Pit-YP)

Salam Kenal Kami dari Kelompok Bentangor Kids yang Bermain Sembari Belajar

WhatsApp Image 2018-05-30 at 10.39.20 (2)

Anak-anak yang tergabung dalam Kelompok Bentangor Kids. Foto dok. Yayasan Palung

Bermain sembari belajar atau sebaliknya, itulah mereka Kelompok Bentangor Kids. Mereka pun bisa belajar bersama dengan sesama mereka, atau terkadang belajar dengan kakak-kakak dari Yayasan Palung.

Anak-anak yang tergabung dalam Kelompok Bentangor Kids, biasanyas selepas mereka pulang sekolah  manfaatkan waktu luang untuk berkunjung ke Pusat Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung, Bentangor Pampang Center di Desa Pampang Harapan, KKU, Kalbar.

Mereka biasanya bermain, belajar dan membaca buku. Kebetulan di Bentangor ada perpustakaan mini, beberapa buku memang diperuntukan bagi anak-anak. Seperti misalnya buku-buku cerita daerah, buku tentang lingkungan, hewan dan alam serta buku-buku tentang satwa. Tak jarang, selain mereka berkunjung untuk bermain mereka juga belajar. Mereka juga belajar bahasa Indonesia, bahasa Inggris dan matematika.

Mereka (Kelompok Bentangor Kids) secara resmi dibentuk pada hari Selasa (29/5/2018) kemarin, walaupun sesungguhnya aktivitas mereka sudah ada sejak beberapa tahun silam.

Pada kesempatan kemarin, Yayasan Palung akan memberikan materi-materi konservasi lingkungan, kerajinan tangan, permainan tradisional, outbound dan aktivitas-aktivitas lainnya yang bisa membangun karakter anak.

Adapun tujuan dari BukBer tersebut sebagai sarana silaturahmi dan sosialisasi tentang pusat Pendidikan Lingkungan “Bentangor” Yayasan Palung.

Inisiatif untuk memberikan nama Bentangor Kids adalah teman-teman kantor Yayasan Palung. Bentangor merupakan kepanjangan yang memiliki arti; Belajar tentang orangutan. Kelompok Bentangor Kids  merupakan anak-anak yang berdomisili di sekitar Pusat Pendidikan Lingkungan “Bentangor” Yayasan Palung mengetahui program Yayasan Palung dan mengenal staf Yayasan Palung.

Bentangor Kids merupakan anak-anak yang berusia 8-12 tahun (anak-anak seusia Sekolah Dasar dan mereka masih aktif sekolah). Sebagai bagian dari peningkatan kapasitas masyarakat yang berdiam di sekitar kawasan Taman Nasional Gunung Palung, Yayasan Palung bekerjasama dengan Relawan Konservasi RebonK (Relawan Bentangor untuk Konservasi) berencana menjalankan Program Bentangor Kids.

Sebagai pendamping mereka (Kelompok Bentangor Kids) didampingi oleh Kakak-kakak dari Yayasan Palung seperti Simon Tampubolon, Hendri Gunawan dan Wawan Anggriandi selain juga ada kakak-kakak dari Relawan RebonK.

Berharap, Kelompok Bentangor Kids bisa belajar dan mendapat ilmu pengetahuan agar mereka pun memiliki peningkatan kapasitas untuk semakin mencintai lingkungan, alam di sekitar mereka.

Baca juga :Asyiknya Bisa Buka bersama Anak-anak Kelompok Belajar Bentangor Kids

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

 

Manfaat Pohon Beringin Tak Terkira, tapi Dapat “Mematikan”

Rangkong badak atau rhinoceros hornbill (Buceros rhinoceros) sedang memakan buah Ficus stupenda. Foto dok. Tim Laman dan Yayasan Palung

Rangkong badak atau rhinoceros hornbill (Buceros rhinoceros) sedang memakan buah Ficus stupenda. Foto dok. Tim Laman dan Yayasan Palung

Memiliki banyak manfaat bagi kehidupan tetapi ada juga yang bisa merenggut kehidupan. Tidak bisa dielakkan, tidak sedikit makhluk hidup terbantu dan bisa bertahan hidup karena tumbuhan ini. Lalu pertanyaannya, tumbuhan apakah itu?

Kebanyakan orang menyebutnya kayu ara, atau nama ilmiahnya disebut Ficus spp., disebut fig trees atau figs dalam bahasa Inggris. Di Indonesia banyak sekali penamaan untuk pohon ini. Selain kayu ara, ada yang menyebutnya pohon beringin, kayu are atau keraye di Kalimantan Barat, lebih khusus di Tanah Kayong (sebutan untuk Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara).

Tumbuhan ini memiliki banyak manfaat bagi kehidupan mulai dari akar-akarnya bisa menampung air untuk mahluk hidup, hingga buahnya sebagai sumber pakan bagi burung enggang maupun jenis burung-burung kecil lainnya. Monyet dan orangutan juga gemar menyantap buahnya….

Tulisan ini sebelumnya dimuat di Kompasiana, Baca Selengkapnya : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/5b029c05f13344379c7b1b02/pohon-ini-memiliki-manfaat-tak-terkira-untuk-kehidupan-tetapi-ada-juga-yang-membunuh

Petrus Kanisius- Yayasan Palung