Category Archives: Info Orangutan

Terkait Lingkungan Hidup, Kadisdik Ketapang Apresiasi Program Yayasan Palung

Kepala Dinas Pendidikan Ketapang, H Jahilin, di ruang kerjanya. Foto dok. Tribun Pontianak

Kepala Dinas Pendidikan Ketapang, H Jahilin, di ruang kerjanya, Kamis (5/4). Foto dok. Tribun Pontianak

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Subandi 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KETAPANG – Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Ketapang, H Jahilin mengapresiasi dan berterimakasih kepada Yayasan Palung (YP). Lantaran sejak 2012 hingga 2018 komitmen mengkuliahkan para pelajar hingga 31 orang dan di antaranya dari Ketapang.

“Kita sangat mengapresiasi program YP tersebut apalagi terkait untuk keberlangsungan lingkungan hidup flora dan fauna,” kata Jahilin kepada wartawan di Ketapang, Kamis (5/4).

Ia menilai adanya progam itu berarti ada pelajar yang memang dididik dan arahkan untuk menjaga kelestarian alam.

“Apalagi sekarang hal itu sangat penting karena hutan kita semakin sedikit sehingga flora dan fauna terancam punah,” ucapnya.

“Jadi dengan adanya pelajar di Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara yang diberi beasiswa oleh YP tersebut. Harapan kita para pelajar ini nantinya bisa menyelamatkan keberlangsungan hidup flora dan fauna di daerah kita,” lanjutnya.

Ia berharap selain para pelajar yang dikuliahkan oleh YP tersebut. Pelajar lain dan masyarakat juga memiliki kesadaran untuk menjaga keberlangsungan hidup alam. “Misalnya menjaga kelestarian orangutan agar tidak punah nantinya,” tuturnya.

Artikel ini telah tayang di tribunpontianak.co.id dengan judul Terkait Lingkungan Hidup, Kadisdik Ketapang Apresiasi Program Yayasan Palung, http://pontianak.tribunnews.com/2018/04/05/terkait-lingkungan-hidup-kadisdik-ketapang-apresiasi-programyayasan-palung.
Penulis: Subandi
Editor: Jamadin

Sumber Berita : tribunpontianak.co.id
 

Iklan

Ada Enam Pelajar Penerima Beasiswa Orangutan Kalimantan Tahun ini

Saat seleksi beasiswa, peserta seleksi menyampaikan presentasi.JPG

Saat seleksi beasiswa, peserta seleksi menyampaikan presentasi. Foto dok. Yayasan Palung

Setelah melakukan seleksi, Yayasan Palung  resmi mengumumkan enam pelajar penerima beasiswa S-1 melalui Program Peduli Orangutan Kalimantan atau Bornean Orangutan Caring Scholarship (BOCS) 2018, pada 29 Maret lalu.

Penerima beasiswa Bornean Orangutan Caring Scholarship (BOCS) 2018 dari hasil seleksi tahap akhir yang dilaksanakan pada 29 Maret 2018 adalah:

  1. Mega Oktavia Gunawan (SMK Negeri 1 Ketapang): Fakultas Kehutanan Prodi Kehutanan
  2. Aisyah (SMA Negeri 1 Matan Hilir Utara): FISIP Prodi Hubungan Internasional
  3. Cantika Peggi Nur Iskandar Putri (SMK Negeri 1 Sukadana): Fakultas Hukum
  4. Ari Marlina (SMK Negeri 1 Ketapang): Fakultas Kehutanan Prodi Kehutanan
  5. Fitri Meliyana (SMA Negeri 3 Simpang Hilir): FMIPA Prodi Biologi
  6. Anju Eranti (SMA Negeri 1 Sandai): FISIP Prodi Hubungan Internasional

Enam penerima beasiswa  BOCS tersebut, sebelumnya terlebih dahulu telah melalui tahapan seleksi dari awal hingga seleksi akhir. Adapun sebagai juri dalam seleksi penerima beasiswa adalah Juri: Ir. Evy Wardenaar, M.P (Fahutan UNTAN), Dr. Wahyono, M.Pd (STAI AL-Hauld), Akhdiyatul, S.ST., M.T (Politeknik Ketapang) dan Mariamah Achmad S.Hut (Yayasan Palung).

Para juri seleksi beasiswa dan di tengah direktur Yayasan Pa.JPG

Para juri seleksi beasiswa dan di tengah direktur Yayasan Palung. Foto dok. YP

Seperti diketahui, Beasiswa Orangutan Kalimantan  atas dasar adanya kerjasama Yayasan Palung (YP) dan Orangutan Republik Foundation (OURF), sejak tahun 2012 silam.

Semua peserta seleksi BOCS saat mendengarkan pengumuman hasil seleksi.JPG

Semua peserta seleksi BOCS saat mendengarkan pengumuman hasil seleksi. Foto dok. YP

Direktur Yayasan Palung, Terri Lee Breeden mengatakan, Program BOCS adalah salah satu favorit saya yang diimplementasikan Yayasan Palung. Program ini bertujuan untuk menciptakan generasi pemuda berpendidikan universitas yang akan bekerja untuk konservasi. Tahun ini, proses seleksi sangat sulit. Kami memiliki banyak pelamar yang luar biasa.

Untuk para pemenang, saya ingin mengucapkan selamat. Saya berharap untuk melihat kerja keras dan semangat terhadap konservasi. Untuk yang lain, saya berharap kepada penerima beasiswa tetap melanjutkan pendidikan tinggi dan bekerja menuju konservasi dalam kehidupan sehari-hari Anda, imbuh Terri lagi.

Mariamah Achmad Manager Program Pendidikan Lingkungan dan Media Kampanye Yayasan Palung sekaligus yang menangani program BOCS mengatakan, Sejak dimulainya program BOCS pada tahun 2012 hingga 2018 sudah terdapat 31 orang penerima BOCS, diantaranya 4 orang sudah sarjana dan selebihnya sedang aktif kuliah. Mereka berasal dari berbagai daerah di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara yaitu 20 orang dari Kabupaten Ketapang dan 11 orang dari Kabupaten Kayong Utara.

“Kami sangat senang mendapatkan  enam orang lagi para penerima beasiswa dari program BOCS. Program ini sudah kami jalankan dalam 7 tahun ini. Yayasan Palung sangat peduli dengan peningkatan pendidikan generasi muda di tanah Kayong, sangat baik memperbanyak generasi muda yang peduli terhadap konservasi yang memiliki berbagai latar belakang disiplin ilmu. Ini merupakan salah satu investasi penting untuk masa depan alam dan lingkungan Indonesia”, ujar Mayi.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

 

 

Hak Asasi Manusia dan Hak Asasi Hewan, Bukankah Sama Pentingnya?

Orangutan yang keluar di habitatnya dan mendekati pemukiman masyarakat beberapa waktu lalu, Maret 2018. Foto dok. Yayasan Palung

Orangutan yang keluar di habitatnya dan mendekati pemukiman masyarakat, awal bulan Maret 2018. Foto dok. Yayasan Palung

Hewan hidup di hutan bukan di kandang, tidak terkurung dan tidak dipelihara semestinya demikian adanya. Demikian juga dengan manusia yang menjalani tatanan kehidupannya di dunia ini dengan kebebasan tanpa batas, tetapi tidak sebebas-bebasnya, tidak terpasung, terkurung dan terpenjara.

Hak asasi manusia dan hak asasi hewan sama pentingnya, dengan kata lain (human welfare) dan hewan (animal welfare) keduanya sama-sama memiliki hak pemenuhan untuk berperilaku alami namun sering kali dilanggar.

Kita sesama makhluk hidup telah diciptakan berbeda-beda dan dititahkan untuk hidup berdampingan satu dengan yang lainnya tanpa harus menyakiti atapun mengusik satu sama lainnya pula, memiliki hak yang sama yaitu bebas secara alamiah bukan bebas sebebas-bebasnya atau bebas karena paksaan.

Memiliki rupa yang tidak sama lalu kita mendiskriminasi hak sesorang atau hak kehewanan karena sesuatu kepentingan ataupun oleh ego segelintir orang.  Sebagai contoh; hilangnya habitat hidup hewan yang terusir oleh karena pembukaan lahan berskala besar. Tidak hanya itu, persoalan konflik antara manusia versus hewan juga sering kali terjadi, tentu ini menjadi bukti nyata hak salah satunya dirampas.

Hak-hak dasar hewan non-manusia harus dianggap sederajat (memiliki hak yang sama) sebagaimana hak-hak dasar manusia (lihat Wise, Steven M. “Animal Rights”). Dengan kata lain, hewan hak asasi hewan menyatakan bahwa hewan harus dipandang sebagai orang, bukan benda. Sebagai catatan juga, satu kesatuan makhluk hidup merupakan kesatuan yang utama dan penting di bumi ini sebagai penyeimbang dan saling menghargai satu dengan yang lainnya.

Dari titah Undang-Undang No. 16 Tahun 2009 pun menegaskan bahwa kesejahteraan hewan dari segala perilakunya wajib kita jalankan dan sejatinya perlu diterapkan dan ditegakkan.

Hak pemenuhan hidup (hak manusia dan hak hewan) dalam menjalani tatanan kehidupan sejatinya tidak bisa dipaksakan untuk berperilaku yang tidak sesuai dengan perilaku alamiah kita dan juga hewan. Jika itu terjadi sudah pasti telah memaksakan kodrat si hewan yang dimaksud karen mereka kehilangan hak alamiahnya.

Satu harapan, semoga saja hak dasar hewan menjadi perhatian kita semua dan bersama untuk menghargai sesama sebagai makhluk hidup ciptaan Ilahi yang saling harmonis.

Petrus Kanisius (Pit)-Yayasan Palung

Hari Kasih Sayang, Tak Hanya Soal Pasangan tetapi “Mereka (Orangutan)” Juga Perlu

Pesan kami semua, Kami sayang orangutan. Yayasan Palung

Pesan kami semua, Kami sayang orangutan. Yayasan Palung

Kasih sayang sudah menjadi hak dan kewajiban bagi kita semua untuk melaksanakannya (menerapkannya/melakukannya/mempraktekannya) dalam tatanan kehidupan sehari-hari kita kepada siapa saja tanpa memilah dan memilih.

Kecenderungan saat ini, kasih sayang itu hanya identik dengan wanita atau pasangan kita semata. Lalu, bagaimana kasih sayang kita kepada  “mereka”?. siapa mereka itu?.

“Mereka” yang dimaksud tidak lain dan tidak bukan adalah orangtua kita, saudara/i kita dan sesama kita. Tidak hanya itu, “mereka” satwa, tumbuhan dan lingkungan juga memerlukan cinta dan kasih sayang yang sejatinya tak lekang oleh waktu.

Tidak bisa disangkal, cinta dan kasih sayang kepada sesama, kepada lingkungan (alam semesta), kepada satwa kini serasa sudah semakin memudar.

Tengoklah cinta yang bertepuk sebelah tangan terhadap lingkungan sehingga alam lingkungan berurai air mata tertumpah yang tak jarang menjadi banjir bandang yang menerjang sesuka hatinya. Satwa yang disiksa dan meregang nyawa…

Baca Selengkapnya : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/5a83d762f13344305913c112/hari-kasih-sayang-tak-hanya-soal-pasangan-tetapi-mereka-juga-perlu

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Apa Salah dan Dosamu Orangutan?

baby kiss sweets. Foto dok. Tim Laman

Baby Kiss Sweets. Foto dok. Tim Laman

Engkau dipuja dan didera ini adanya nyata

Itu yang tersaji kala engkau  hidup dan menetap di habitatmu

Dipuja ketika dirimu disayang dan didera ketika dirimu terus terusik mendera

Letupan demi letupan senapan tak segan merampas hak hidupmu

Derai air matamu terlihat tak kuasa tercurah tumpah mengengok pongahnya dunia

Pahit getir mungkin atau memang ini yang dirasa sebab tak kuasa

Tak kuasa menahan ratusan peluru tak segan bersarang merengkuh hampir di seluruh tubuh,

hingga tak jarang meregang nyawa

berkata mengata,

apa dosamu kini ?

bertanya karena sebab,

sejauh mata memandang terlihat tiada ampun membabat habitat

tanpa ampun dan belas kasihan

memutus jalur alur keturunanmu

dipenjara, dipelihara dan tak jarang disiksa

memutus mata rantai peranmu sebagai penyebar biji, penjaga dan pemilihara tanam tumbuh di rimba raya

Realita tentu sebagai penanda

Kini, apa yang ditakut-takuti benar terjadi

Tajuk menjulang tinggi kini kian terkikis berganti tanam tumbuh baru,

gedung bertingkat pencakar langit

tengok korban di lubang-lubang pengganti,

lihat deru arus menerjang tak beraturan menghantam dan membawa kesegala arah

tanpa ada yang mengira kapan akan terjadi dan berlalu

cumbu belaian kasih kepadamu menanti disapa menyapa

inginku mengalahkan koar suara deru mesin yang tak jemu berisik saban waktu

tetapi mampukah?

Lagi-lagi dan lagi itu yang terjadi, tak bosan terus berulang

Rinai rintik tak lagi sanggup terserap tanah dan akar,

Tak sanggup menampung jua menopang tajuk-tajuk rimbun yang kian rebah karena lelah tak berdaya

Ingin menjalar namun terlanjur dikikis hingga menjelang habis

Rona nanar tak jarang berpadu mengadu,

Mencari, memilah, berkisah

Tentang dirimu yang dipuja juga didera

Tetapi apa dosamu sehingga engkau selalu didera menderita sampai merenggut nyawamu

Satwa endemik yang disematkan kepadamu dan sebutanmu sebagai spesies kunci apakah nanti bisa lestari hingga nanti atau tinggal cerita,

Hanya bertanya, apa dosamu orangutan?

Hanya itu.

 

Tulisan ini sebelumnya telah di muat di Kompasiana: https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/5a7bf9fecbe5232f000e4e82/puisi-apa-salah-dan-dosamu-orangutan

Ketapang, Kalbar 08 Februari 2018

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

 

Video Keragaman Satwa di Gunung Palung

Banyak hal yang telah dilakukan oleh para peneliti saat mereka melakukan aktivitas penelitian di Kawasan Taman Nasional Gunung Palung. Salah satunya keragaman satwa yang berhasil di dokumentasikan lewat video.

Terima kasih kepada Brodie Philp (Manager Penelitian OH) yang telah mendokumentasikan aktivitas satwa melalui video. Terima Kasih juga kepada Rizal Alqadrie yang telah menjahitnya (mengeditnya) menjadi film singkat. Selamat menyaksikandan semoga bermanfaat sebagai sumber informasi dan ilmu pengetahuan.

Pit-Yayasan Palung

Tahun 2018 : Kami Kembali Menyediakan Enam Beasiswa Orangutan Kalimantan

Beberapa Penerima BOCS yang terdahulu melakukan kampanye bersama dalam rangka Pekan Peduli Orangutan di Pontianak. Foto dok. Yayasan Palung

Beberapa Penerima BOCS yang terdahulu melakukan kampanye bersama dalam rangka Pekan Peduli Orangutan di Pontianak. Foto dok. Yayasan Palung

Tahun 2018 ini, Yayasan Palung kembali menyediakan enam beasiswa orangutan Kalimantan. Pemberian beasiswa kami lakukan sejak 2012 Yayasan Palung (YP) dan Orangutan Republik Foundation (OURF) bekerjasama menyediakan beasiswa program S-1 melalui Program Peduli Orangutan Kalimantan (Bornean Orangutan Caring Scholarship).

Mengingat Yayasan Palung sebagai lembaga non profit profit yang bekerja untuk konservasi orangutan dan habitat serta pengembangan masyarakat. Yayasan Palung bekerja dengan semua pihak yang mempunyai tujuan sama untuk perlindungan terhadap orangutan dan habitat di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara, Kalimantan Barat.

Adapun tujuan program beasiswa orangutan tersebut antara lain adalah : Pertama, Melahirkan generasi intelektual Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara yang mempunyai komitmen dan kepedulian yang tinggi terhadap upaya perlindungan dan penyelamatan Orangutan Kalimantan dan habitatnya. Kedua, Memberikan dukungan moril dan materil kepada generasi muda untuk meneruskan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Ketiga, Memajukan kerjasama pendidikan tentang potensi kekayaan alam lokal antara pihak-pihak di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara.

Setiap penerima beasiswa diberikan dana beasiswa dengan limit USD 1.500, untuk membiayai:

  1. Daftar Masuk Universitas
  2. Daftar Ulang selama 8 semester
  3. Biaya Penelitian
  4. Biaya Penulisan Skripsi
  5. Biaya lain dipenuhi selama masih dalam limit dana beasiswa
  6. Bagi Penerima Beasiswa yang mendapat UKT III, IV dan V, pembiayaan dihentikan jika sudah mencapai limit dana beasiswa, walaupun tidak memenuhi poin 1-4.
  7. Peningkatan kapasitas dari Yayasan Palung

Syarat dan ketentuan pendaftaran dapat di unduh dan dibaca di Blog Yayasan Palung: https://yayasanpalung.wordpress.com. Lihat di link Brosur : Brosur Beasiswa Orangutan Kalimantan (BOCS)_ 2018_pdf,  Lihat syarat dan ketentuan : YP_BOCS_Bahan Brosur_Borneo Orangutan Caring Scholarship_2018

Berkas pendaftaran dapat diserahkan langsung ke Yayasan Palung (kantor Ketapang atau Bentangor Desa Pampang Kec. Sukadana) atau melalui jasa pengiriman paling lambat 14 Maret 2018.

Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi:

  • Yayasan Palung, Jl. Kol. Sugiono Gg. H. Tarmizi No. 5 Ketapang. Telp/Fax: 3036367
  • Pusat Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung / Bentangor, Dusun Pampang Desa Pampang Harapan, Kec. Sukadana, KKU
  • Ranti Naruri: 0852-4563-4919
  • Hendri Gunawan: 0896-9346-9745

Yayasan Palung

 

 

 

 

Cerita Pendek : Kindness (Kebaikan)

Orangutan yang mendiami hutan Gunung Palung. Foto dok. Brodie Philp, Yayasan Palung

Orangutan yang mendiami hutan Gunung Palung. Foto dok. Brodie Philp, Yayasan Palung

Alkisah, tinggallah satu induk Orangutan bersama anaknya, yang bernama Pongo. Suatu kali, Pongo ingin merasakan buah Ara tepat di depan matanya. Sambil digendong ibu nya, Pongo bertanya, “Bu, bolehkah Pongo ambil buah itu?”. Ibu nya yang mendengar itu lantas berkata, “Tentu saja. Jangan lupa untuk meminta izin terlebih dahulu”. Pongo mengerennyutkan dahinya, “ Pohon saja tidak bisa berbicara, bagaimana Pongo tahu jika dia mengizinkan ku?”

“ Jika dia menggoyangkan daunnya,maka dia mengizinkan mu”.

Pongo yang mendengar itu lantas meminta izin pada pohon Ara yang besar nan lebat tersebut. Sungguh mustahil menurutnya jika pohon itu berinteraksi dengannya.

“Hai, Pohon Ara, bolehkah Pongo meminta buah mu yang lezat ini?”

Tak lama berselang, pohon ara pun menggoyahkan daunnya. Pongo yang melihat itu awalnya ragu, lalu memetik 4 buah ara, termasuk untuk ibunya.

“Ibu benar!…. Ia mengizinkanku!”… seru Pongo.

“Baguslah jika begitu,” balas Ibu nya.

Setelah memberi buah itu, Pongo mencoba untuk mengetahui kenapa pohon bisa begitu. Dia sangat penasaran.

“Bu, kenapa bisa begitu? Kenapa dia bisa hidup? Sedangkan dia saja tak bisa berbicara”

Pongo harus tahu, jika awalnya, pohon tidak seperti itu,”

Mulailah Ibu Pongo berdongeng tentang Kisah Pohon dan Alam. Dulu dulu dulu sekali, mereka hidup bahagia. Bahkan bisa berbicara satu sama lain. Namun, pohon yang berperilaku angkuh, merasa diri nya lah yang paling hebat.

“Apa kalian ini?! Tanpa keberadaan ku, kalian tak bisa hidup. bahkan Alam tak sanggup menanggung semua keperluan hidup kalian. Karena aku, kalian bisa makan! Kalian bisa tetap bernafas! Kalian terhindar dari tanah longsor! Kalian bisa tetap mendapatkan air yang jernih karena penyaringan yang dilakukan akar ku!”, ucap pohon songong.

Alam yang mendengar itu murka, tak terima telah direndahkan oleh pohon, dia langsung berseru;

“Hei, Pohon! Kuperingatkan kau! Karena aku, kau masih bisa hidup sampai sekarang. Kau pikir, siapa yang sudah memberi mu air untuk minum?. Siapa yang memberimu cahaya untuk berfotosintesis?. Siapa yang memberi mu tanah untuk tinggal dan bertahan?. Siapa yang memberi mu angin untuk menyebarkan serbuk sari mu agar generasi mu tetap ada di muka bumi ini?. Tanpa aku, kau bukanlah apa-apa!”.

Pohon dan alam bertengkar, hingga turunlah Tuhan ke Bumi. Dia tampak marah dengan perilaku pohon dan alam yang egois.

“Hei, Pohon dan Alam! Sesengguhnya, Aku-lah yang menciptakan kalian agar saling melengkapi kekurangan kalian. Karena kalian bersikap demikian, akan kucabut kelebihan kalian dalam  berbicara!”.

Akhirnya, Pohon dan Alam tak dapat lagi berbicara. Pongo yang mendengar Kisah itu hanya mengangguk. Paham apabila hidup tak senantiasa tentang kelebihan, namun juga saling melengkapi kekurangan. Ibu Pongo yang telah menceritakan kisah itu, memeluk Pongo dengan erat.

“Apapun yang terjadi, tetaplah lakukan kebaikan. Hindari sikap angkuh mu dan perhatikan sekitar mu, Nak”, nasihat Ibu Pongo pada buah hati tercintanya.

Pongo hanya tersenyum dan memeluk Ibunya lebih erat.

 

—TAMAT—

 

Minggu, 17 Desember 2017

Desa Pampang Harapan, Kabupaten Kayong Utara, Kalbar

Mega Oktavia G., (Relawan TAJAM Yayasan Palung, Sekolah di SMKN 1 Ketapang)

Relawan TABONK Bergabung di Tanah Kayong untuk Suarakan Konservasi

Keseruan saat peserta RelawanTabonK (Tajam -RebonK) mengikuti kegiatan untuk suarakan konservasi di Tanah Kayong. Foto dok. Yayasan Palung

Keseruan saat peserta RelawanTabonK (Tajam -RebonK) mengikuti kegiatan untuk suarakan konservasi di Tanah Kayong. Foto dok. Yayasan Palung

Walaupun rangkaian acara kegiatan tersebut berlangsung pada bulan Desember tahun lau, namun sayang untuk dilewati karena berbagi keseruan dan kebersamaannya yang tak lain memiliki misi khusus suarakan konservasi di Tanah Kayong.

Tampak terlihat antusias dari para peserta yang mengikuti kegiatan yang dikhususkan bagi Relawan Tajam dan RebonK (TABONK) tersebut. Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari (15-18 Desember 2017) tahun lalu diadakan di Kantor Yayasan Palung, Desa Pampang Harapan, Kabupaten Kayong Utara, Kalbar.

Saat  peserta berdiskusi dan belajar bersama. Foto dok. Yayasan Palung

Saat peserta berdiskusi dan belajar bersama. Foto dok. Yayasan Palung

Rangkaian kegiatan yang mereka ikuti antara lain seperti manajemen organisasi, dasar-dasar kerelawanan, berbagi ilmu dan diskusi tentang organisasi Tajam dan Rebonk serta rangkaian kegiatan lainnya.

 

Sesuai dengan sloganTabonK; “Yom Kite Begabong”, selama tiga hari kegitan tersebut, ragam keceriaan dan ide mereka satukan yang terbingkai dalam diskusi untuk belajar bersama terkait apa yang terjadi saat ini dan mungkin yang akan terjadi di masa depan terkait lingkungan.

Tak sedikit ide dan paparan terkait diskusi yang dilakukan, adapun tema yang diangkat dalam diskusi tersebut adalah “Dampak Kerusakan Hutan”.

Adapun Diskusi dalam kegiatan tersebut dipandu oleh Haris Munandar selaku pembina para relawan.

Dalam diskusi yang dilaksanakan tersebut, berbagai aspek dari apa yang terjadi jika lingkungan rusak dan dampak-dampak yang disebabkan oleh kerusan lingkungan seperti; Dampak sosial, ekonomi, lingkungan, politik dan dampak secara menyeluruh, tidak terkecuali pemanasan global telah terjadi di seluruh dunia.

Tidak hanya itu, dalam diskusi tersebut juga ada beberapa tawaran dari hasil diskusi yang bisa dilakukan untuk mengatasi dampak kerusakan hutan antara lain; melakukan reboisasi (penanaman kembali), Tidak menebang pohon dan Penegakan hukum dari negara untuk mengatasi persoalan lingkungan.

Relawan dibekali ilmu baru seperti Public Speaking sebagai bekali untuk berani tampil dan percaya diri. Foto dok. Yayasan Palung

Relawan dibekali ilmu baru seperti Public Speaking sebagai bekali untuk berani tampil dan percaya diri. Foto dok. Yayasan Palung

Beberapa rangkaian kegiatan lainnya seperti muatan saling belajar seperti dilakukan diantaranya seperti publik speaking, belajar menulis (dasar-dasar jurnalistik), materi terkait bijaksana dalam menggunakan media sosial dalam penyebaran informasi kepada publik dan membangun kebersamaan, toleransi dan keberagaman.

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, sebagai pemateri adalah dari tim pendidikan lingkungan Yayasan Palung.

Kegiatan yang diikuti 50 orang yang tergabung dalam RelawanTabonK tersebut terlihat tidak hanya soal keseruan, keakrababan dan kebersamaan, namun juga soal ilmu baru yang mereka dapatkan serta tawaran apa yang mereka bisa lakukan untuk konservasi lingkungan melalui hal-hal sederhana yang mereka lakukan di Tanah Kayong (sebutan untuk dua Kabupaten; Ketapang dan Kayong Utara).

Berharap, semoga TabonK bisa mengajak semua bergabung untuk suarakan konservasi. (Petrus Kanisius – Yayasan Palung).

 

 

 

Mengapa Kita Penting untuk Merayakan Pekan Peduli Orangutan?

Stiker PPO 2017. Foto dok. Yayasan Palung

Stiker PPO 2017. Foto dok. Tim Laman dan Yayasan Palung

Setiap tahun Pekan Peduli Orangutan (PPO) selalu diperingati setiap November. “Act Now Preserve to Future adalah tema yang diusung pada tahun ini, atau kurang lebih jika diterjemahkan “Bertindak Sekarang untuk Mempertahankan Masa Depan”.

Mengapa Pekan Peduli Orangutan Itu Perlu Dirayakan?

Terri Lee Breeden selaku Direktur Program Yayasan Palung mengatakan, Orangutan sangat terancam punah, artinya tidak banyak yang tersisa. Jika kita tidak bekerja sekarang untuk menyelamatkan orangutan dan habitatnya maka mereka akan punah dalam masa hidup kita. Tidak adil rasanya jika generasi mendatang tidak peduli dan mengusir hewan ini.

Lebih lanjut, Terri, demikian sapaannya sehari-hari mengatakan, Yayasan Palung mengajak orang-orang dari seluruh dunia, terutama di Ketapang dan Kayong Utara untuk mengikuti Pekan Peduli Orangutan. Tujuan kami adalah untuk melakukan penyadartahuan kepada semua lapisan masyarakat tentang mengapa orangutan sangat istimewa dan aktivitas sederhana yang dapat mereka lakukan untuk membantu menyelamatkan orangutan.

Tahun ini, Yayasan Palung sebagai lembaga konservasi orangutan bersama dengan para relawan dalam rangka memperingati PPO 2017 akan melakukan serangkaian kegiatan seperti lomba mewarnai gambar orangutan untuk anak-anak usia dini tingkat Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar di Desa Pampang Harapan, Sabtu (18/11/2017), pekan ini. Gambar-gambar orangutan hasil dari lomba mewarnai tersebut selanjutnya di posting di dalam media sosial dengan hastag (#) #OrangutanCaringWeek #OrangutanCaringWeek2017 #YayasanPalung #PPO #PPO2017

Tidak hanya itu, Relawan RebonK (Relawan Bentangor untuk Konservasi) juga akan menyuguhkan drama yang bercerita tentang kisah hidup orangutan di hutan.

Selanjutnya, pada malam harinya rencananya akan dilakukan pemutaran film lingkungan yang lokasinya di halaman Kantor Yayasan Palung tepatnya di samping kantor Desa Pampang Harapan. Rencananya film-film yang akan diputar adalah film konservasi dan satwa dilindungi tidak terkecuali film orangutan sekaligus juga melakukan sosialisasi tentang satwa dilindungi, ujar Hendri Gunawan, selaku panitia kegiatan dan pembina para relawan.

Di tempat yang berbeda, teman-teman Penerima Beasiswa Orangutan Kalimantan (BOCS) yang juga akan mengadakan serangkaian kegitan dalam rangka PPO 2017. Adapun kegiatan yang dilakukan adalah Pendidikan Lingkungan di Panti Asuhan “NURUL IMAN” Sungai Rengas, Pontianak, pada Minggu (19/11/2017). Di Panti Asuhan, teman-teman BOCS akan melakukan rangkaian kegiatan seperti Penyampaian materi tentang; Manusia, Hutan dan Orangutan. Dilanjutkan dengan Pemutaran film pendek dan diskusi, ujar Ranti Selaku pembina teman-teman BOCS.

Berharap, semoga kegiatan PPO 2017 dapat berjalan sesuai dengan rencana dan mendapat respon baik dari masyarakat sebagai sumber informasi dan penyadartahuan untuk peduli terhadap orangutan sebagai satwa endemik dan habitatnya.

Tulisan ini juga dimuat di Kompasiana

UC Media

Petrus Kanisius-Yayasan Palung