Category Archives: Info Orangutan

Video: Pesona Alam Liar di Gunung Palung

Klik Link Berikut untuk menonton : Pesona Alam Liar di Gunung Palung

Ini sedikit cerita tentang  Pesona Alam Liar di Gunung Palung (Taman Nasional Gunung Palung/TNGP) yang letaknya di 2 Kabupaten (Ketapang dan Kayong Utara) Kalimantan Barat yang di dokumentasikan lewat video.

Pesona Alam Liar yang ada di Gunung Palung atau lebih tepatnya kehidupan alam liar  ini merupakan hasil pendokumentasian dari teman-teman peneliti di Stasiun Peneliti Cabang Panti/SPCP. Setiap waktu mereka (para peneliti) melakukan aktivitas penelitian dari Subuh hingga senja menyapa.

Beberapa satwa yang hidup di alam liar yang bisa dijumpai di Gunung Palung antara lain; orangutan, kelempiau, enggang, kelasi dan enggang serta ragam kehidupan alam liar lainnya seperti ular, kura-kura ataupun juga keindahan kupu-kupu. Rimbunnya hutan dengan aneka ragam tumbuh-tumbuhan yang unik dan endemik seperti anggrek hitam terdapat di sini. Selain juga gemericik air jernih masih dapat  dijumpai di tempat ini.

Semoga pesona alam dan kehidupan alam liar di Gunung Palung dapat menjadi satu kesatuan yang dapat menjadi nilai tambah terutama ilmu pengetahuan dan kekayaan alam untuk kehidupan hingga nanti. Dengan demikian juga mejadi kewajiban kita bersama pula untuk menjaganya agar terus lestari.

Video dan Foto Pesona Alam Liar di Gunung Palung ini  beberapa dari sekian banyak kekayaan flora dan fauna yang ada. Berharap indahnya pesona alam liar ini bisa dan boleh berlanjut demi kehidupan yang harmoni dan berkelanjutan hingga nanti dan lestari.

Petrus Kanisius (Pit)-Yayasan Palung

 

#RainforestLive : Melihat Indahnya Alam Liar di Gunung Palung yang Berhasil Diabadikan oleh Peneliti

P5251969.JPG

Orangutan yang berdiam di Alam Liar Gunung Palung. Foto dok. Brodie Philp (YP/GPOCP)

Tak jarang, beberapa waktu sebelum matahari muncul para peneliti sudah harus bergegas dan berlomba dengan waktu untuk melalukan aktivitas mereka meneliti. Ya benar saja, bila peneliti meneliti dan mengikuti  orangutan mereka harus siap berangkat subuh untuk melihat tingkah laku/ perilaku orangutan di alam liar.

Kemarin (8/6) Gunung Palung Orangutan Project/Yayasan Palung bersama 9 lembaga lingkungan lainnya yang terdiri dari;  The Orangutan Tropical Peatland Project, Orangutan Land Trust, Orangutan Foundation UK, HUTAN Kinabatangan Orang-utan Conservation Program, Selamatkan Yaki, Sumatran Orangutan Conservation Program, Integrated Conservation, Burung Indonesia, Harapan Rainforest, Integrated Conservation dan Royal Society for the Protection of Birds memperingati #RainforestLive.

Tujuannya untuk mengajak kita semua untuk melihat apa saja dialam liar dan apa saja aktivitas (kegiatan), keseharian para peneliti di alam liar, dengan berbagi cerita dan apa saja yang berhasil para peneliti, menjelajahi hutan hujan seperti misalnya di Kalimantan dan Sumatera menjadi sebuah jawaban bahwa alam liar begitu menarik untuk dilihat, dijelajah dan di teliti. Di waktu sebelum terbitnya mentari hingga senja menyapa (malam hari) itulah waktu yang dipakai para peneliti untuk melakukan kegiatan mereka.

Seperti misalnya, para peneliti dari luar dan dalam negeri yang melakukan penelitian di Gunung Palung (Taman Nasional Gunung Palung), lebih tepatnya di Stasiun Penelitian Cabang Panti (SPCP) melakukan ragam penelitian seperti penelitian terhadap orangutan, kelempiau dan kelasi ataupun juga beragam penelitian lainnya seperti penelittian tumbuhan yang terdapat di Gunung Palung.

Aktivitas mereka (para peneliti) pun sudah pasti erat kaitannya dengan kegiatan seperti rutinitas penelitian dengan berbagai cara pula. Seperti misalnya Brodie Philp (Manager Peneneliti orangutan GPOCP), ia berhasil merekam berbagai tingkah polah satwa/hewan seperti orangutan saat makan, mendokumentasikan kura-kura, ular, serangga ataupun juga keindahan langit malam di hutan hujan.

Tidak hanya itu, keindahan jamur menyala di malam hari, cantiknya warna kupu-kupu yang hinggap di dedaunan indahnya aliran air yang mengalir dan foto para asisten peneliti yang mengikuti orangutan juga terangkum dalam foto-foto dokumentasi Brodie Philp (YP/GPOCP) berikut ini:

little snake.JPG

Ular yang dijumpai di alam liar Gunung Palung. Foto dok. Brodie Philp

IMG_0278.JPG

Serangga 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Suasana malam hari di alam liar

mush 4.jpg

Jamur 

Brodie Philp bersama dengan para peneliti lainnya dan didampingi pula oleh asisten peneliti serta para peneliti muda yang juga meneliti untuk tugas akhir melakukan penelitian setiap harinya. Tidak bisa disangkal keindahan alam liar yang berhasil diabadikan oleh para peneliti ini setidaknya memberikan gambaran yang jelas bahwa ciptaan dari Sang Pencipta begitu indah dan baik adanya untuk selalu dihargai sebagai sesama makhluk ciptaan hingga nanti karena harmoninya alam semesta memberi arti kita kita semua agar bisa menikmati/melihat dari keindahan tersebut dan dapat dijadikan sebagai sumber ilmu pengetahuan.

Semoga keindahan alam liar di banyak tempat dapat terekam dan diabadikan sebagai sumber dari ilmu pengetahuan hingga nanti. Semoga. #RainforestLive  #RainforestLive2017.

Tulisan ini juga dimuat di  Kompasiana, selengkapnya : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/melihat-indahnya-alam-liar-di-gunung-palung-yang-berhasil-diabadikan-oleh-peneliti_5938e72c139773871c9b9e98

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

 

Ini Video Unik Orangutan di Gunung Palung : Kiss Squeak dengan Daun


Unik dan menarik orangutan yang dimaksud adalah perilaku atau budaya terkait Kiss Squeak. Apa itu Kiss Squeak?. Pada umumnya, kiss squeak (budaya orangutan ketika merasa terancam di tempat hidupnya ketika ada orangutan lain yang berusaha mendekati wilayahnya, maka orangutan yang merasa terancam tersebut akan mengeluarkan suara Kiss Squeak).

Ini Videonya

Untuk informasi lebih lengkap dapat dibaca di : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/ini-fakta-unik-orangutan-di-gunung-palung_591d701e4423bd66479594fb

Petrus Kanisius- Yayasan Palung

Berbagi Cerita tentang Kehidupan Orangutan Lewat Radio

IMG-20170520-WA0006.jpg

Wahyu Susanto dan Desi Kurniawati saat berbagi cerita tentang orangutan lewat radio. Foto dok. Yayasan Palung

Kamis (18/5/2017) kemarin, lewat Radio Kabupaten Ketapang (RKK) teman-teman dari Peneliti orangutan yang meneliti di Stasiun Penelitian Cabang Panti (SPCP), Taman Nasional Gunung Palung (TNGP) berbagi Cerita tentang kehidupan orangutan di alam liar melalui penelitian.

Adalah Wahyu Susanto yang juga merupakan Direktur Penelitian Yayasan Palung berkesempatan hadir untuk berbagi cerita lewat radio yang disiarkan melalui radio RKK, FM 95.20 MHz- 1044 KHz gelombang 288 meter dan di pandu oleh Desi Kurniawati.

IMG-20170520-WA0004.jpg

Wahyu Susanto saat berbagi cerita di radio RKK. Foto dok. Yayasan Palung

Ragam cerita seperti rutinitas peneliti yang mengikuti kehidupan orangutan mulai dari pagi hingga sore hari, perilaku orangutan dan manfaat penting dari orangutan sebagai satwa endemik yang memiliki ragam manfaat bagi kehidupan satwa lainnya termasuk bagi manusia.

Diceritakan juga mengapa penelitian itu penting lebih khusus orangutan, salah satunya karena sebagai upaya agar orangutan bisa untuk terus berlaanjut hingga nanti (tidak punah) dan perlu adanya penelitian sebagai sumber ilmu pengetahuan.

Berbagi informasi terkait orangutan sangat perlu disampaikan kepada semua pihak, mengingat kehidupan orangutan di alam liar lebih khusus karena orangutan adalah satwa yang sudah sangat terancam punah yang harus dilestarikan hingga nanti.

Pit -Yayasan Palung

Stop Membeli Produk yang Berasal dari Hewan Dilindungi!

“Stop Membeli Produk yang Berasal dari Hewan Dilindungi! Karena Membeli sama dengan Mendukung Kejahatan dan Mempercepat Kepunahannya”

Petugas BKSDA Kalimantan Barat menunjukkan barang bukti yang disita dari sebuah toko aksesoris di Singkawang, Kalbar 22 April 2016 tahun lalu. Foto dok. KOMPAS.com, YOHANES KURNIA IRAWAN.jpg

Petugas BKSDA Kalimantan Barat menunjukkan barang bukti yang disita dari sebuah toko aksesoris di Singkawang, Kalbar 22 April 2016 tahun lalu. Foto dok. KOMPAS.com, YOHANES KURNIA IRAWAN

Jika kita sayang dia (satwa/hewan dilindungi) dan inginkan satwa/hewan dilindungi tetap ada tentu kita tidak mendukung adanya produk-produk yang dijual dipasaran. Membeli produk-produk yang berasal dari satwa dilindungi sama saja artinya dengan mendukung kejahatan dan mempercepat kepunahan mereka (satwa/hewan dilindungi).

Produk-produk yang berasal dari bagian-bagian/tubuh hewan dilindungi tentu saja tidak boleh sama sekali dilakukan. Apa lagi berkaca kepada penguatan UU no. 5 tahun 1990 tentang Perlindungan satwa dilindungi. Dalam UU no 5 tahun 1990 tersebut, menyebutkan bagi pelanggar/pelaku yang melakukan transaksi jual beli satwa/hewan dilindungi maka akan dikenakan sanksi 5 tahun penjara dan denda 100 juta rupiah.

Sebut saja, produk-produk yang berasal dari tubuh-tubuh hewan/hewan dilindungi tidak sedikit kita jumpai dijual bebas dipasaran, bahkan ada bagian tubuh/hewan yang dijual secara online pula. Berbagai alasan dan cara yang ditawarkan oleh oknum ataupun pelaku yang menjajakan bagian-bagian dari satwa dilindungi seperti tanpa beban dan itu seharus tidak boleh terjadi. Kondisi seperti ini tentunya sangat disayangkan dan memprihatinkan terjadi…

Baca Selengkapnya di : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/stop-membeli-produk-yang-berasal-dari-hewan-dilindungi_591003c42123bdda0f1fce40
Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Berbagi Cerita Saat di Stasiun Penelitian Cabang Panti, Gunung Palung    

DSCN0558.JPG

Foto ketika memproses sampel feses dengan metode FPS. Foto  dok. Becky C.

Jika boleh dikata, Stasiun Penelitian Cabang Panti merupakan rumah bagi jutaan spesies hewan dan tumbuhan hidup didalamnya. Stasiun penelitian yang terletak di Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat. Cabang Panti, memiliki luas wilayah 2.100 hektare dengan 7 jenis hutan yang tersebar di dalamnya seperti; rawa air tawar, rawa gambut, batuan berpasir dataran rendah, granit dataran tinggi, pegunungan, kerangas dan tanah alluvial. Fakta-fakta menakjubkan tersebut yang membuat saya terkagum-kagum.

Bermula ketika saya ditawari program magang di Stasiun Penelitian Cabang Panti, saya sanggupi itu karena sudah sejak lama saya dengar tentang Stasiun Penelitian dan saya belum pernah kesampaian untuk pergi kesana. Untuk perjalanan pertama saya naik kesana tanggal 8 April 2017 yang lalu, butuh waktu cukup lama kurang lebih sekitar 7 jam perjalanan. Saya berangkat menuju tempat yang dimaksud bersama Beth Barrow, Manajer Proyek KKL, Becky Curtis, (Asisten manager Orang Hutan), dan Terry Breden, Direktur Program Yayasan Palung . Tawaran itu menurut saya sangat menyenangkan.

Ketika sampai di Cabang Panti, saya semakin kagum dengan paparan pemandangan yang indah dimana banyak bangunan-bangunan sederhana ditengah hutan lebat ini dengan banyak orang ramah didalamnya, menakjubkan dan salah satu bangunan tersebut seperti camp besar, camp nyamuk, camp litho dan camp pantai.

DSCN0427.JPG

Salah satu bangunan di Cabang Panti (camp litho dan camp nyamuk). Foto dok. M.Syainullah

Hari berganti hari dan saya masih bersemangat untuk belajar di sana sampai saya mulai terbiasa untuk berjalan sendiri dihutan.

Beragam hal yang saya pelajari selama disana seperti mengikuti orangutan dari mulai bangun pagi sekali sekitar pukul setengah 3 pagi untuk bersiap-siap turun kehutan dan berharap bisa sampai disarangnya sebelum dia (orangutan) bangun dan mulai beraktifitas.

DSCN0956.JPG

Walimah, salah satu orangutan yang saya ikuti selama di Cabang Panti. Foto dok. M. Syainullah

Untuk mengambil sampel urin dan feses (kotoran orangutan) idealnya ketika orangutan pertama kali bangun pagi karna setiap dia bangun pagi orangutan langsung buang air besar dan kecil sehingga memudahkan saya untuk mengambil sampel tersebut setelah itu saya memproses sampel urin dan feses tersebut di camp dengan metode-metode yang telah diajarkan kepada saya salah satunya seperti metode FPS dan metode pembekuan sampel urin.

Mungkin banyak yang penasaran untuk apa saya capek-capek memproses sampel kotoran dari mulai di lapangan hingga di laboraturium, jawabanya adalah, banyak seperti untuk identifikasi orangutan dengan proses identifikasi DNA dan untuk mengetahui seberapa luas penyebaran biji yang dilakukan oleh orangutan. Lalu pada malam harinya saya istirahat dan bersiap untuk beraktifitas esok hari dan saya rasa setiap hari adalah hari yang menakjubkan ketika saya berada di Cabang Panti.

DSCN0249.JPG

Saat mengikuti orangutan di Cabang Panti

Salah satu orangutan yang saya ikuti adalah Walimah, orangutan betina ini seperti sudah terbiasa dengan adanya manusia yang mengamati disekelilingnya. Seperti ketika orangutan mengeluarkan suara kiss squeak (budaya orangutan ketika merasa terancam jika ada orangutan lain yang berusaha mendekati wilayahnya). Biasanya suara tersebut terdengar seperti suara kecupan yang nyaring.

Selama disana ketika belajar bagaimana cara memahami budaya orangutan, saya sadar bahwa penting untuk melindungi orangutan dengan melihat peranan orangutan yang begitu penting bagi hutan sebagai salah satu penyebar biji sebagai cikal bakal hutan tetap ada bagi kehidupan serta bermanfaat sebagai penjabaran ilmu pengetahuan, salah satunya seperti penelitian dan konservasi.

Muhammad Syainullah-Relawan Konservasi TAJAM

 

Inilah Nama-nama Penerima Beasiswa Orangutan Kalimantan Tahun 2017

IMG_3040.JPG

Salah satu peserta seleksi beasiswa BOCS  saat menyampaikan presentasi esai dihadapan para juri seleksi. Foto dok. Yayasan Palung

Setelah melalui rangkaian seleksi beasiswa Bornean Orangutan Caring Scholarship (BOCS) tahap pertama tanggal 18 maret 2017, terseleksi 33 orang dari 18 sekolah.

Sedangkang seleksi tahap II atau tahap akhir terpilih 6 orang yang berhak menerima beasiswa dan berhak mendapat biaya kuliah gratis di Perguruan Tinggi Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak.

Adapun nama-nama 6 orang penerima beasiswa BOCS  tahun 2017 adalah sebagai berikut :

Nama Calon Asal Sekolah
Ratiah SMA Negeri 3 Simpang Hilir
Hanna Adelia Runtu SMA Negeri 3 Ketapang
Ilham Pratama SMA Negeri 2 Ketapang
Mita Anggraini MAN Ketapang
Siti Nurbaiti SMA Negeri 1 Sungai Laur
Rafikah SMA Negeri 3 Simpang Hilir

Ucapan selamat kepada 6 penerima beasiswa BOCS angkatan ke -6, tahun 2017. Pengumuman ini berdasarkan berita acara Pada hari Kamis tanggal Tiga Puluh bulan Maret tahun Dua Ribu Tujuh Belas bertempat di Kantor Yayasan Palung telah dilakukan seleksi tahap akhir Beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan (Bornean Orangutan Caring Scholarship) 2017 yaitu berupa penilaian terhadap presentasi dan wawancara.

Demikian pengumuman sekaligus pemberitahuan resmi disampaikan, atas perhatian diucapan terima kasih.

Lagu Si Pongo

Female = BethInfant = Benny

Female = Beth Infant = Benny

Lagu Si pongo

Lagu : SI PONGO

Lagu Ciptaan: Yayasan Palung

Si po-ngo  Si po-ngo dia tinggal di hutan
Si po-ngo  Si po-ngo makan buah bu-ahan
Si po-ngo  a-da-lah se ekor o-rang-u-tan
Si Po-ngo  Si po-ngo perlu te-man te-man

Pongo pu-nya ba-pak yang besar dan galak
Po-ngo tak se-ring berte-mu dia
Bapak pongo su-ka main sendirian
Di-a tidak ban-tu ibu dan anaknya

kembali ke reff;

Pongo punya i-bu yang baik dan pe-nyayang
Ibu me-ngajar-kan tentang kehidu-pan
Po-ngo dan i-bu  di hutan bersa-ma
Pongo tanpa i-bu sungguh kasihan

kembali ke reff;

Hu-tan si po-ngo kemana habisnya
Di ma-na si po-ngo dapat makanannya
Jaga lah hu-tan dan pepohonannya
Sebelum si Po-ngo lapar dan punah.

Potret Orangutan dalam Ancaman Nyata di Habitat Hidupnya

Stop!!! Merusak Hutan, Lindungi Kehidupan Orangutan. Foto dok. Yayasan Palung

Prihatin, sedih dan mungkin itu yang bisa dikatakan saat ini terhadap nasib orangutan. Keberlangsungan nafas hidup makhluk hidup saat ini tidak bisa di sangakal dalam ancaman nyata (sangat terancam) di habitat hidupnya berupa hutan. Hutan sebagai rumah kian sempit dan terhimpit dari hari ke hari hingga saat ini.

Ancaman nyata menyempitnya atau bahkan hilangnya habitat hidup orangutan salah satunya disebabkan beberapa hal diantaranya; perluasan lahan berskala besar digunakan untuk perkebunan, pertambangan, pertanian hingga pembangunan menjadi penyebab utama sangat terancamnya nasib hidup orangutan dan beberapa satwa lainnya.

Tidak hanya itu, kebakaran lahan dan ilegal logging tidak kalah hebatnya merampas hutan sebagai rumah dari orangutan. Selain juga masih maraknya perburuan dan perdagangan satwa menjadi persoalan yang boleh dikata seakan tidak berhenti terjadi.

Hilangnya luasan tutupan hutan menjadi ancaman serius bagi orangutan dan satwa lainnya (makhluk hidup) yang mendiami hutan.

Jika dibiarkan tanpa adanya perhatian dan kepedulian, bukan tidak mungkin orangutan dan satwa lainnya yang mendiami hutan akan hilang atau punah.

Perlu perhatian dari semua pihak tanpa terkecuali untuk kelestarian orangutan dan habitatnya demi keberlanjutan semua makhluk hidup termasuk kita manusia.

Dengan menyelamatkan orangutan dan hutan berarti juga menyelamatkan kehidupan agar lebih baik hingga selamanya dan lestari.

Lihat  Video : Nasib orangutan dan hutan yang hidupnya semakin terancam serta terampas. Video dok. GREEN a film by Patrick Rouxel.

Semoga saja…

Orangutan Dilindungi tetapi Sangat Terancam di Habitatnya

orangutan-di-tipe-sarang-a-saat-beristirahat-di-hutan-hujan-gunung-palung-foto-dok-tim-laman-dan-yayasan-palung

Mungkin kata itu yang cocok untuk dikatakan terkait mereka (satwa atau primata) dilindungi yang saat ini keberadaannya sangat terancam punah. Hal ini nyata adanya, ragam jenis satwa sudah semakin sulit dan sempit keberadaannya salah satunya di habitat hidupnya.

Mereka bukan karena tidak diperhatikan, malah mereka menjadi prioritas utama. Dengan kata lain, satwa atau primata  yang dilindungi justru keberadaanya dalam ancaman nyata (semakin terancam) serius di habitatnya berupa hutan.

Di hutan tropis Indonesia, setidaknya terdapat  sekitar 40.000 jenis tumbuhan, 350.000 jenis hewan, 5.000 jenis jamur, dan 1.500 jenis Monera. Bahkan banyak jenis makhluk hidup yang merupakan makhluk hidup endemik. (sumber data; Ilmu Hutan). Dengan demikian ragam satwa, tumbuhan menjadi satu kesatuan yang sejatinya tidak terpisahkan. Apabila satu kesatuan ekosistem diantara mereka terganggu makan akn berdampak pada yang lainnya. misalnya saja keberadaan hutan sangat berpengaruh kepada jumlah populasi satwa yang mendiami wilayah tersebut. Hutan menipis maka satwa/primata akan semakin sulit untuk bertahan hidup, termasuk populasi mereka yang sulit berkembang biak hingga populasi mereka semakin menurun/berkurang jumlahnya yang menyebabkan mereka harus dilindungi.

Mengapa mereka (primata atau satwa) dilindungi tetapi Terancam dan terhimpit di Habitatnya?

Beberapa alasan primata/satwa dilindungi salah satunya karena jumlah populasi sudah langka atau semakin langka. Atau dengan kata lain, tidak sedikit jumlah satwa yang dikatakan mendapat predikat terancam, sangat terancam dan mungkin yang lebih parahnya lagi adalah punah di habitat hidupnya, tetapi jangan sampai terjadi di Indonesia. Di beberapa wilayah di Indonesia misalnya persebaran satwa dilindungi yang sangat terancam punah adalah orangutan (orangutan kalimantan dan orangutan sumatera).

Untuk membaca selengkapnya dapat lihat di link yang ditulis sebelumnya di kompasiana : Orangutan Dilindungi tetapi Sangat Terancam dan Terhimpit di Habitatnya