Category Archives: Info Orangutan

Mengapa Kita Penting untuk Merayakan Pekan Peduli Orangutan?

Stiker PPO 2017. Foto dok. Yayasan Palung

Stiker PPO 2017. Foto dok. Tim Laman dan Yayasan Palung

Setiap tahun Pekan Peduli Orangutan (PPO) selalu diperingati setiap November. “Act Now Preserve to Future adalah tema yang diusung pada tahun ini, atau kurang lebih jika diterjemahkan “Bertindak Sekarang untuk Mempertahankan Masa Depan”.

Mengapa Pekan Peduli Orangutan Itu Perlu Dirayakan?

Terri Lee Breeden selaku Direktur Program Yayasan Palung mengatakan, Orangutan sangat terancam punah, artinya tidak banyak yang tersisa. Jika kita tidak bekerja sekarang untuk menyelamatkan orangutan dan habitatnya maka mereka akan punah dalam masa hidup kita. Tidak adil rasanya jika generasi mendatang tidak peduli dan mengusir hewan ini.

Lebih lanjut, Terri, demikian sapaannya sehari-hari mengatakan, Yayasan Palung mengajak orang-orang dari seluruh dunia, terutama di Ketapang dan Kayong Utara untuk mengikuti Pekan Peduli Orangutan. Tujuan kami adalah untuk melakukan penyadartahuan kepada semua lapisan masyarakat tentang mengapa orangutan sangat istimewa dan aktivitas sederhana yang dapat mereka lakukan untuk membantu menyelamatkan orangutan.

Tahun ini, Yayasan Palung sebagai lembaga konservasi orangutan bersama dengan para relawan dalam rangka memperingati PPO 2017 akan melakukan serangkaian kegiatan seperti lomba mewarnai gambar orangutan untuk anak-anak usia dini tingkat Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar di Desa Pampang Harapan, Sabtu (18/11/2017), pekan ini. Gambar-gambar orangutan hasil dari lomba mewarnai tersebut selanjutnya di posting di dalam media sosial dengan hastag (#) #OrangutanCaringWeek #OrangutanCaringWeek2017 #YayasanPalung #PPO #PPO2017

Tidak hanya itu, Relawan RebonK (Relawan Bentangor untuk Konservasi) juga akan menyuguhkan drama yang bercerita tentang kisah hidup orangutan di hutan.

Selanjutnya, pada malam harinya rencananya akan dilakukan pemutaran film lingkungan yang lokasinya di halaman Kantor Yayasan Palung tepatnya di samping kantor Desa Pampang Harapan. Rencananya film-film yang akan diputar adalah film konservasi dan satwa dilindungi tidak terkecuali film orangutan sekaligus juga melakukan sosialisasi tentang satwa dilindungi, ujar Hendri Gunawan, selaku panitia kegiatan dan pembina para relawan.

Di tempat yang berbeda, teman-teman Penerima Beasiswa Orangutan Kalimantan (BOCS) yang juga akan mengadakan serangkaian kegitan dalam rangka PPO 2017. Adapun kegiatan yang dilakukan adalah Pendidikan Lingkungan di Panti Asuhan “NURUL IMAN” Sungai Rengas, Pontianak, pada Minggu (19/11/2017). Di Panti Asuhan, teman-teman BOCS akan melakukan rangkaian kegiatan seperti Penyampaian materi tentang; Manusia, Hutan dan Orangutan. Dilanjutkan dengan Pemutaran film pendek dan diskusi, ujar Ranti Selaku pembina teman-teman BOCS.

Berharap, semoga kegiatan PPO 2017 dapat berjalan sesuai dengan rencana dan mendapat respon baik dari masyarakat sebagai sumber informasi dan penyadartahuan untuk peduli terhadap orangutan sebagai satwa endemik dan habitatnya.

Tulisan ini juga dimuat di Kompasiana

UC Media

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Iklan

Pongo tapanuliensis, Spesies Baru Orangutan yang Baru Saja Ditemukan oleh Para Peneliti

Persamaan dan perbedaan orangutan tapanuli dengan orangutan kalimantan dan orangutan sumatera. Foto dok. di batangtoru.org

Persamaan dan perbedaan orangutan tapanuli dengan orangutan kalimantan dan orangutan sumatera. Foto dok. di batangtoru.org

Memiliki bulu yang tebal, lebih keriting dan memiliki kumis, setidaknya itulah keunikan atau ciri khas orangutan yang baru ditemukan. Orangutan tersebut berdasarkan hasil penelitian dari peneliti disebut sebagai spesies baru orangutan yang ada setelah orangutan Kalimantan dan orangutan Sumatera.

Pongo tapanuliensis itulah nama latinnya dan orangutan tapanuli demikian ia disebut dan dinamakan kini oleh para peneliti. Mengapa nama orangutan tapanuli ia disebut?. Setidaknya ini menjadi  kabar bahagia sekaligus tantangan baru dengan keberadaannya (orangutan tapanuli) yang katanya sangat endemik atau langka karena populasinya dan habitatnya yang sangat sedikit ditemukan di wilayah Tapanuli, lebih khusus di Batang Toru.

Hasil survei populasi terakhir dari kerjasama para peneliti yang terdiri dari antara Universitas Nasional, Institut Pertanian Bogor, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, University of Zurich, Switzerland, Yayasan Ekosistem Lestari (Sumatran Orangutan Conservation Programme) dan Yayasan Orangutan Sumatera Lestari (Orangutan Information Center) menyebutkan saat ini,  adanya kurang dari 800 Orangutan Tapanuli yang tersisa di Ekosistem Batang Toru (Wich et al. 2016). Tak banyak lagi,  menjadikan status Orangutan Tapanuli sebagai spesies kera besar terlangka di dunia. Dengan demikian konservasi jenis ini menjadi perhatian dunia, dimana fokus utamanya adalah mempertahankan habitatnya saat ini. Orangutan Tapanuli akan dimasukkan ke dalam daftar spesies “sangat terancam punah” (Critically Endangered) berdasarkan IUCN Red List.

Mulanya, Orangutan Tapanuli dianggap sebagai populasi orangutan paling selatan dari spesies Orangutan Sumatera, Pongo abelii(Wich et al. 2003; Utami-Atmoko et al. 2017). Di tahun 2015, berdasarkan studi sebagian bahan genetik (polimorfisme nukleotida tunggal daerah d-loop mitokondria dan alel spesifik mikrosatelit) populasi Orangutan Sumatera di Batang Toru menunjukkan besarnya perbedaan dengan populasi orangutannya di utara Danau Toba (Rianti et al. 2015, Rianti et al. in prep.) sehingga cukup diarahkan menjadi rujukan subspesies baru untuk spesies Orangutan Sumatera (Pongo abeliitapanuliensis; Rianti 2015).

Apakah Pongotapanuliensis atau Orangutan tapanuli memiliki perbedaan dan kesamaan yang menonjol dengan kedua spesies sebelumnya (Pongo pygmaeus dan Pongo abelii) ?.

Berdasarkan kerjasama penelitian secara lebih mendalam oleh kelompok peneliti Indonesia dan mancanegara dalam bidang genomik, morfologi, ekologi, dan perilaku, dihasilkan fakta bahwa Orangutan Tapanuli secara taksonomi lebih dekat dengan Orangutan Kalimantan, Pongo pygmaeusdan perbedaan yang cukup besar terhadap populasi Pongo abelii, populasi Orangutan Sumatera di Batang Toru diajukan sebagai spesies baru bernama Pongo tapanuliensis(Nater et al. 2017). Orangutan tapanuli memiliki ukuran tengkorak dan tulang rahangnya lebih kecil. Orangutan jantan melakukan “long calls” (panggilan jarak jauh) dengan durasi panjang dan keras; panggilan jarak jauh Orangutan Tapanuli memiliki teriakan yang berbeda dari panggilan jarak jauh yang dilakukan oleh Orangutan Sumatera dan Orangutan Kalimantan. Sedangkan frekwensi pembuatan sarang untuk istirahat atau tidur malam lebih rendah daripada Orangutan Sumatera dan hampir sama dengan Orangutan Kalimantan. (Laporan dari para peneliti tentang Pongo tapanuliensis, Sumber: batangtoru.org).

Adanya penemuan spesies baru orangutan tapanuli ini tidak bisa disangkal menjadi berita bahagia bagi masyarakat Indonesia terlebih bagi para peneliti dan semakin menambah daftar kekayaan anggota baru keluarga satwa yang ada di Indonesia bahkan di dunia. Selain juga menjadi salah satu harapan agar para pihak untuk semakin peduli untuk menjaga, melindungi populasi dan habitat orangutan tapanuli agar tetap terjaga dan lestari hingga nanti.

Baca juga tulisan ini di Kompasiana : Ini Dia Spesies, Baru Orangutan yang Baru Saja Ditemukan

Bacaan  lengkap tentang Pongo_tapanuliensis

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

 

Sekolah Lapangan tentang Agroforestri untuk 5 Desa di Lokasi Hutan Desa Kecamatan Simpang Hilir

IMG_20171021_085416.jpg

Saat Sekolah Lapangan dan demplot agroforstri berbasis kelapa yang diadakan di Desa Pulau Kumbang. Foto dok. Yayasan Palung

Seperti terlihat, beberapa ibu dan Bapak-bapak tampak bersemangat untuk membersihkan lahan yang persis berada di dalam salah satu kebun kelapa milik warga mulai dari kemarin hingga hari ini (20-24/10/2017), mengadakan kegiatan yang bertajuk sekolah lapangan yang berlokasi di Desa Pulau Kumbang, Kayong Utara, Kalbar.

Tak lain, sekolah lapangan yang diadakan itu sebagai salah satu langkah menangkap potensi atau pun peluang jika boleh dikatakan sebagai potensi pendapatan alternatif ekonomi masyarakat yang berkelanjutan, dengan harapan jenis tanaman semusim yang ditanam dan dicampur (agroforestri) dapat menghasilan tanpa terpaku pada satu jenis tanaman.

Tanaman sejenis (kelapa) telah berpadu dengan aneka tanaman semusim jenis lainnya. Foto dok. Yayasan Palung.jpeg

Tanaman sejenis (kelapa) telah berpadu dengan aneka tanaman semusim jenis lainnya. Foto dok. Yayasan Palung

Kegiatan tersebut dilakukan oleh Yayasan Palung dan ICCTF bersama 5 kelompok mereka berasal dari 5 Desa hutan desa di Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara, Kalbar. Seperti diketahui di Wilayah Desa Pulau Kumbang, Desa Pemangkat, Desa Penjalaan, Desa Padu Banjar dan Desa Nipah Kuning merupakan wilayah yang memiliki beberapa tanaman sentra seperti karet, nanas dan kelapa yang menjadi sumber penghasilan dan pendapatan masyarakat selama ini.

Seperti di ketahui, di 5 wilayah Desa itu sebagian besar adalah lahan gambut dalam yang tidak bisa dibuka, namun ada beberapa lahan merupakan yang lahannya tidak gambut dan lahan yang tidak dicampur dengan tanaman lainnya.

Adapun mengapa kegiatan tersebut dilakukan, mengingat di wilayah tersebut beberapa masyarakat sebelumnya menanam tanaman pertanian berbasis pada satu tanaman saja. Namun, tanaman agroforestri sejatinya dapat dicampur dengan jenis tanaman lainnya. Hal tersebut sebagai salah satu tujuan agar petani tidak bergantung kepada satu jenis tanaman saja melainkan dapat berharap banyak kepada jenis tanaman lainnya.

Dalam kegiatan sekolah lapangan tersebut, 5 kelompok dari 5 desa yang terdiri dari 25 orang itu, setelah melakukan pembersihan lahan selanjutnya mereka mencangkul, membuat bedeng setelahnya langsung menanam tanaman campuran (tanaman semusim) tanaman obat dan bumbu seperti jahe, liak merah kunyit, serai dan kencur. Mereka juga menanam pinang sebagai pagar pembatas tanaman dan tanaman pisang. Selain juga tanaman tersebut diselang-seling dengan tanaman nanas. Mereka didampingi oleh tenaga penyuluh pertanian dengan membuat lahan percontohan (demplot) di lahan warga masyarakat dengan luasan kurang lebih 1 hektar.

Tampak seperti terlihat berjejer rapi, tanaman kelapa telah berpadu dengan aneka tanaman semusim lainnya yang baru saja mereka tanam.

Rencananya juga, sekolah lapangan akan dilanjutkan di Desa Padu Banjar dan dilaksanakan pada 25-29 Oktober 2017. Sekolah lapangan tersebut akan melanjutkan penanaman agroforestri berbasis karet.

Pada kegiatan sekolah lapangan tersebut, mereka (peserta) sekolah lapangan didampingi oleh tenaga penyuluh dari Dinas Pertanian Kabupaten Kayong Utara.

Salah satu Kelompok terlihat memagari tanaman mereka setelah sebelumnya menanamnya. Foto dok. Yayasan Palung.jpeg

Salah satu Kelompok terlihat memagari tanaman mereka setelah sebelumnya menanamnya. Foto dok. Yayasan Palung

Berharap, semoga saja tanaman yang mereka tanam dapat menjadi sumber ekonomi dan berkelanjutan sampai selamanya. Dengan demikian pula, mereka juga bisa berharap banyak kepada tanaman yang mereka tanam bisa menjadi sumber penghasilan baru dan tidak terpaku pada satu jenis tanaman saja. Semoga…

Baca juga tulisan yang sama di Kompasiana : Mengintip Sekolah Lapangan, Belajar Agroforestri, Jangan Terpaku pada Satu Jenis Tanaman

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

 

Jaga Tradisi, Rawat Bumi di Panen Raya 2017

Capture foto dari Net TV ketika Yayasan Palung pameran PARARA 2017

Capture foto dari Net TV ketika Yayasan Palung pameran PARARA 2017

Festival Panen Raya Nusantara (PARARA) kembali digelar tahun ini. Festival yang sudah memasuki penyelenggaraan kedua ini digelar di Taman Menteng, Jakarta, pada 13-15 Oktober 2017, kemarin.

Tahun ini tema festival PARARA adalah “Jaga Tradisi, Rawat Bumi”. Dikutip dari situs   panenrayanusantara.com, menjaga tradisi dan merawat Bumi merupakan bentuk kearifan leluhur bangsa Indonesia yang terbukti berhasil dalam mempertahankan kelestarian sumber daya alamnya.

Leluhur bangsa Indonesia hanya mengambil sumber daya alam sesuai kebutuhan dan secara kolektif melakukan pengawasan akan kelestarian alam. PARARA mengajak masyarakat untuk kembali pada praktik leluhur Indonesia, yaitu menjaga tradisi dan merawat Bumi agar sumber daya alam tetap lestari.

PARARA 2017 bukan sekadar perayaan, namun juga terobosan bagi community enterprises (perusahaan berbasis masyarakat) yang berkelanjutan. Festival ini berusaha menjadi katalisator guna mendukung penjualan produk-produk lokal yang berkelanjutan dengan menggaet para pengambil keputusan serta konsumen.

Isu kebijakan lintas sektoral yang mempengaruhi keberhasilan, atau bahkan kegagalan, inisiatif masyarakat di bidang ini akan dibahas selama festival berlangsung. Melanjutkan kesuksesan penyelenggaraan tahun 2015, PARARA 2017 akan menjadi ruang bersama yang mempertemukan produsen, konsumen, serta para pelaku pendukung lainnya untuk berinteraksi dan berkolaborasi guna mempromosikan konsumsi dan pola produksi berkelanjutan di Indonesia.

Yayasan Palung yang juga merupakan bagian dari konsorsium PARARA ikut ambil bagian dalam kegiatan Festival PARARA 2017 dengan menampilkan produk kewirausahaan dari kelompok perajin dampingan Yayasan Palung dari Kabupaten Kayong Utara.

Dalam rangkaian festival PARARA 2017, Yayasan Palung mengikutsertakan 6 perajin yang tersebar di desa-desa di KKU seperti perajin dari Desa Pangkalan Buton dan Desa Sejatera. Para perajin tersebut berasal dari kelompok UKM Ida Craft, UKM Peramas Indah dan Kelompok Karya Sejahtera.

Adapun kreasi yang ditampilkan melalui Stan pameran, YP  menampilkan produk-produk lokal seperti kerajinan dan tananaman obat serta rempah-rempah yang berasal dari produk hutan. Semua produk tersebut merupakan produk-produk hasil hutan bukan kayu (hhbk) yang tersebar di sekitar wilayah Taman Nasional Gunung Palung, Kabupaten Kayong Utara.

 Tulisan ini juga dimuat di: https://student.cnnindonesia.com/inspirasi/20171011103628-454-247609/merawat-bumi-di-festival-panen-raya

Video liputan saat PARARA 2017 Digelar

Petrus Kanisius- Yayasan Palung

Si Pongo Endemik dari Hutan Kalimantan dan Sumatera

Orangutan remaja di Gunung Palung. Foto dok. Yayasan Palung.jpeg

Orangutan remaja di Gunung Palung. Foto dok. Yayasan Palung

Pongo adalah nama panggilanku, namaku ada juga yang menyebutku orang utan atau ada pula yang menyebutku orangutan. O iya terkait namaku banyak sekali, ada juga lho yang menyebutku mayas atau mawas. Aku dan kawan-kawanku pongo lainnya berasal dari hutan-hutan Kalimantan dan Sumatera.

Mengapa kami disebut Pongo ya ?. Pongo merupakan nama latinku yaitu Pongo pygmaeus dari Kalimantan dan Pongo abelli dari Sumatera.

Sepanjang waktu aku selalu mengitari (menjelajahi) hutan mencari makan berupa buah-buahan hutan, kulit kayu, serangga, rayap dan daun-daun muda. Sembari bermain dan bersanda gurau dengan sahabat dan sejenisku. Ketika malam hari kami ingin merasakan tidur yang nyenyak, nyaman dan mimpi yang indah. Menjelang malam, aku selalu selalu disibukan untuk membuat sarang baru.

Kami Pongo adalah jenis kera besar yang ada di dunia selain sahabat-sahabat kami seperti Gorila, Simpanse dan Bonobo, mereka tinggal jauh di hutan-hutan Afrika. Mengapa kami disebut kera ya ?, kami disebut kera karena kami tidak memiliki ekor. Sedangkan yang berekor adalah monyet seperti bekantan, kelasi, lutung dan beruk.

Ada juga teman kami sebangsa kera, tetapi mereka kera kecil. Ya, teman-teman kami tersebut adalah kelempiau.

Mengapa kami disebut endemik, ya karena penyebaran populasi dan habitat kami tidak ada di lokasi lain, hanya tersebar di Pulau Borneo dan Sumatera.

Terancam punah karena banyak hal yang terjadi menimpa nasib kami (Pongo) dan sesama kami binatang lainnya. Kami sudah semakin sulit menjelajahi hutan dan berkembang biak. Sedihnya lagi kami selain hilangnya luasan hutan di Sumatera dan Kalimantan juga karena kami sering diburu, dibunuh, dipelihara, diperjualbelikan serta di konsumsi. Itu yang membuat kami (Pongo) sedih teman-temanku manusia.

Jika boleh dikata, aku Pongo dari Kalimantan dan teman-temanku Pongo dari Sumatera kini dilindungi oleh undang-undang lho, tepatnya UU no. 5 tahun 1990. Setiap orang dilarang melukai, membunuh, memilihara satwa dilindungi, mengangkut atau memperdagangkan/memperniagakan. Jika melanggar dihukum dengan hukuman penjara 5 tahun dan denda 100 juta rupiah. Semoga semua orang dapat peduli dan melindungiku ya?.

Kami (Pongo) dikenal sebagai penyebar biji, dari biji dari sisa-sisa makanan kami kami tebar/sebar/tanam kembali. Adanya kami hutan di sekitar kami pun masih ada, masih bisa tersemai.

Aku dan teman-temanku Pongo yang lainnya kini semakin sulit, hutan sebagai tempat hidup dan berkembang biak kami selama ini sudah semakin habis. Bagaimana nasibku nanti jika hutan sebagai rumah dan nafas hidupku hilang?.

Aku dan sesamaku Pongo yang lainnya hanya bisa berharap, agar hutan sebagai penyambung nyawa kami bisa berlanjut dan sesamaku manusia bisa menjaga melestarikan kami selamanya.

Tulisan ini juga dimuat di :

CNN Indonesia : https://student.cnnindonesia.com/edukasi/20171013103618-445-248129/si-pongo-endemik-dari-hutan-kalimantan-dan-sumatera

Medium.com : https://medium.com/@petruskanisiuspit/cerpen-si-pongo-endemik-dari-hutan-kalimantan-dan-sumatera-84c46092a7ac

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

 

Cheryl Knott Raih Pongo Award 2017 Atas Konservasi Orangutan di Kalimantan

Cheryl Knott saat menyampaikan kata sambutan ketika menerima penghargaan lingkungan Pongo Award 2017. Foto dok. Yayasan Palung.jpg

Cheryl Knott saat menyampaikan kata sambutan ketika menerima penghargaan lingkungan Pongo Award 2017. Foto dok. Yayasan Palung

Hari sabtu (7/10/2017) pekan lalu, merupakan hari yang sangat bahagia dan bersejarah bagi Dr. Cheryl Knott dan GPOCP. Alasannya, tak lain karena dihari itu beliau menerima pengargaan lingkungan dengan nama; Pongo Award 2017.

Award tersebut diberikan atas dasar upaya dedikasi Cheryl Knott dalam melakukan penelitian dan melestarikan spesies orangutan di Kalimantan dan memberdayakn masyarakat melalui penyadartahuan selama kurang lebih seperempat abad.

Penghargaan diserahkan secara langsung oleh Yayasan Orangutan Republik di Pasadena, California, Amerika Serikat.

Seperti diketahui Yayasan Orangutan Republik merupakan mitra kami dalam beasiswa peduli orangutan Kalimantan. Terima kasih kepada Orang Utan Republik dan Gary Shapiro untuk menghormati kita dengan cara ini, kata Cheryl Knott dalam sambutannya ketika menerima penghargaan tersebut.

Yayasan OURF (Orang Utan Republik) seperti diketahui merupakan badan amal yang didukung publik dengan misi menyelamatkan orangutan liar melalui inisiatif pendidikan dan proyek kolaboratif yang inovatif. GPOCP sebagai mitra OURF bersama organisasi dan masyarakat Indonesia berupaya untuk mempromosikan pendidikan penjangkauan dan solusi berkelanjutan untuk konservasi orangutan dan habitat hutan hujan jangka panjang salah satunya melalui program beasiswa peduli orangutan. Program pendidikan yang sensitif dan efektif untuk mendorong tindakan konservasi berbasis masyarakat dikembangkan dan dilaksanakan untuk menyelamatkan habitat hutan dan spesiesnya.

Berikut biodata singkat Prof. Cheryl Knott, PhD. Berumur 54 tahun dan merupakan salah seorang profesor Biologi Antropologi di Boston University. Beliau juga mengajar di universitas yang sama. Sebelumnya, Cheryl pernah mengajar di Harvard University. Ibu Cheryl, begitu dia sering disapa juga meneliti tentang orangutan di Stasiun Penelitian Cabang Panti (SPCP), Taman Nasional Gunung Palung (TNGP) sejak tahun 1992 hingga saat ini. Cheryl Knott juga merupakan Eksekutif Direktur Yayasan Palung (YP) atau Gunung Palung Orangutan Conservation Program (GPOCP).

Berharap, semoga hutan dan orangutan bisa lestari hingga nanti sebagai sumber ilmu pengetahuan lebih khusus orangutan sebagai satwa endemik yang saat ini keberadaannya semakin terancam punah.

Tulisan ini juga dimuat di UC News; Ilmuan Cheryl Knott Raih Pongo Award 2017 Atas Konservasi Orangutan di Kalimantan : http://tz.ucweb.com/10_1Eeta

CNN Indonesia : https://student.cnnindonesia.com/inspirasi/20171013161158-454-248216/penghargaan-untuk-sang-pelestari-orangutan

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Video Profil Staf (GPOCP)Yayasan Palung

Ilmu Pengetahuan tentang Primata oleh Cheryl Knott

Saat penjelasan tentang taksonomi primata. Foto dok. Yayasan Palung.jpg

Bahan bacaan ini merupakan presentasi dari Cheryl Knoot salah satu hasil penelitian terkait primata (kera besar) yang ada didunia.

Baca di sini : Presentasi Ibu Cheryl Knott tentang Primata (Kera Besar)

GPOCP Beri Kuliah Umum tentang Penelitian dan Konservasi Orangutan dan Primata

Beberapa peserta yang menyempatkan diri berfoto bersama. Foto dok. Yayasan Palung

Beberapa peserta yang menyempatkan diri berfoto bersama. Foto dok. Yayasan Palung

Rabu pagi (20/9/2017), tampak berbeda dari hari-hari biasanya di Fakultas MIPA Universitas Tanjungpura Pontianak. Berbedanya, tidak lain ialah karena adanya kuliah umum yang disampaikan oleh Gunung Palung Orangutan Conservation Program (GPOCP) terkait penelitian, konservasi primata di Taman  Nasional Gunung Palung (TNGP).

Pada kuliah umum yang dimulai sejak pukul 08.00 Wib tersebut, acara dibuka langsung oleh wakil dekan I Fakultas MIPA Untan, Mulyadi S. Si, M.Si.

Kuliah umum yang disampaikan terdiri dari empat presentasi. Pertama, terkait konservasi orangutan di Gunung Palung yang disampaikan Terri Lee Breeden, selaku direktur Program Konservasi Yayasan Palung.

Kedua di Brodie Philp (Manager Peneliti Orangutan), terkait penelitian orangutan. Ketiga, disampaikan Elizabeth Barrow, dari program Kelempiau dan Kelasi (KKL) terkait penelitian primata.

Selanjutnya juga disampaikan presentasi terkait prosedur untuk kegiatan magang dan penelitian di Cabang Panti, TNGP. Sebagai pemateri adalah Wahyu Susanto, selaku Direktur Penelitian Yayasan Palung.

 

Dalam pemaparannya pada presentasi, Terri menjelaskan terkait program konservasi yang Yayasan Palung lakukan terkait ancaman dan strategi. Salah satunya, saat ini berdasarkan data dapat dikatakan bahwa masih terjadinya orangutan kehilangan habitatnya di Zona Penyangga TNGP,  masih maraknya perburuan liar, masih minimnya peluang pendapatan ekonomi masyarakat lokal, masih rendahnya pengetahuan masalah lingkungan dan kepedulian serta masih minimnya informasi terkait populasi dan status orangutan. Dengan demikian perlu strategi untuk mengatasi masalah tersebut diantaranya dengan melakukan berbagai kegiatan atau program konservasi seperti; Hutan desa, penyelamatan satwa, mata pencaharian berkelanjutan, pendidikan lingkungan dan kampanye penyadartahuan.

Terri Lee Breeden Saat menyampaikan presentasi tentang program konservasi. Foto dok. Yayasan Palung

Terri Lee Breeden Saat menyampaikan presentasi tentang program konservasi. Foto dok. Yayasan Palung

Brodie menyampaikan sejarah dimulainya penelitian di Cabang Panti, Gunung Palung sejak tahun 1985 silam. Selain itu juga keunikan tipe habitat hutan di gunung palung yang boleh dikatakan terlengkap karena memiliki 8 tipe habitat yaitu; hutan rawa gambut (peat swamp forest), hutan rawa air tawar (fresh water forest), hutan tanah alluvial (alluvial forest), hutan dataran rendah berbatu (lowland granite forest), hutan dataran rendah berbatu-pasir (lowland sandstone forest), hutan dataran tinggi berbatu (upland granite forest) dan hutan pegunungan (montane forest).

Brodie Philp saat menyampaikan presentasinya. Foto dok. Yayasan Palung

Brodie Philp saat menyampaikan presentasinya. Foto dok. Yayasan Palung

Sedangkan Elizabeth Barrow menyampaikan materi tentang keberadaan populasi kelempiau. Terkait dinamika populasi kelempiau yang ada di Cabang Panti, seperti populasi kelempiau yang hidup diatas 800 mdpl lebih sedikit dibandingkan populasi kelemipau yang berada dibawah 800 mdpl ternyata lebih banyak dan subur.

Elizabeth Barrow saat menyampaikan prsentasinya. Foto dok. Yayasan Palung

Elizabeth Barrow saat menyampaikan prsentasinya. Foto dok. Yayasan Palung

Sedangkan Wahyu Susanto menyampaikan beberapa prosedur terkait magang dan penelitian diataranya, Mahasiswa/i harus terlebih dahulu mengurusi surat ijin atau surat tugas magang atau penelitian dari kampus dan mengurus surat ijin masuk kawasan (SIMAKSI) terlebih dahulu kepada Balai Taman Nasional Gunung Palung (BTNGP).

Wahyu Susanto Saat menyampaikan Presentasinya tentang prosedur magang dan penelitian di SPCP. Foto dok. Yayasan Palung

Terkait kuliah umum yang disampaikan tersebut tampak antusias dari peserta mengikuti kegiatan. Beberapa peserta menyakan terkait daerah jelajah orangutan dan kelempiau, ternyata daerah wilayah jelajahnya terjadi tumbang tindih. Menariknya, dari informasi dari para peneliti menjelaskan berdasarkan penelitian mereka menyatakan bahwa tidak masalah adanya tumbang tindih antara orangutan dengan kelasi dan kelempiau. Akan tetapi yang sering terjadi konflik malah antara kelempiau dan kelasi.

Selain itu juga mahasiswa menanyakan terkait pengaruh cuaca dan perilaku orangutan, bila orangutan pada musim hujan bisa membuat payung dan pada musim panas orangutan keseringan membuat sarang.

Jenis penyakit yang ada terdapat pada orangutan berdasarkan sampel feses. Terkait jenis penyakit, orangutan dapat menularkan penyakit diantaranya adalah parasit apakah penyakit berasal dari orangutan atau dari manusia. dari suhu feses juga peneliti dapat mengetahui orangutan sakit atau tidaknya, misalnya sakit demam.

Adapun tujuan dari kuliah umum ini diselenggara tidak lain adalah sebagai bentuk untuk berbagi ilmu pengetahuan tentang dunia konservasi orangutan dan primata yang dikhususkan bagi mahasiswa, ujar Wahyu Susanto.

Terselenggaranya kegiatan ini juga atas dasar kerjasama program penelitian dari GOPCP (Yayasan Palung) dan Universitas Tanjungpura Pontianak, khususnya Fakultas MIPA dan Kehutanan, kata Wahyu.

Peserta yang ikut dalam kuliah umum. Foto dok. Yayasan Palung

Peserta yang ikut dalam kuliah umum. Foto dok. Yayasan Palung

Dalam kuliah umum tersebut dihadiri lebih dari 50 peserta dari Fakultas MIPA, Kehutanan, beberapa peserta juga  dari fakultas lain dan dari mahasiswa penerima beasiswa orangutan (BOCS). Kegiatan berakhir pukul 11.00 Wib dan mendapat sambutan baik dari para peserta yang hadir dalam kegiatan tersebut.

Tulisan ini juga dimuat di Tribun Pontianak cetak dan online, untuk membaca klik di : GPOCP Beri Kuliah umum tentang Orangutan

Dimuat juga di URI.co.id , untuk membaca klik : GPOCP Beri Kuliah Umum Tentang Observasi Orangutan

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

 

Asyiknya Field Trip di Sungai Beringin Taman Nasional Gunung Palung

Foto bersama peserta fieldtrip di Sungai Beringin. Yayasan Palung.jpg

Foto bersama peserta fieldtrip di Sungai Beringin.  Foto : Hen/Yayasan Palung

Selama tiga hari (25-27/8/2017), sejak pagi team Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung  melakukan fieldtrip (kunjungan lapangan) di Sungai Beringin, namun sebelum sampai di Sungai Beringin team fieldtrip terlebih dahulu harus menuju Kilometer 12 Jalan Siduk-Nanga Tayap menggunakan sepeda motor, dengan jarak tempuh  dua jam perjalanan.

Berikut Video saat Fieldtrip : Video Fieldtrip Yayasan Palung bersama SMPN 3 MHU

Setibanya di tempat pembibitan Yayasan ASRI, Yayasan Palung terlebih dahulu berhenti sejenak untuk menunggu  peserta fieldtrip yang terdiri dari murid kelas 9 yang berjumlah 28 orang dan 2 orang guru pendamping dari SMPN 3 Matan Hilir Utara (MHU), Ketapang.

Setelah rombongan peserta tiba, selanjutnya semua peserta harus melewati jalan setapak dan penuh lumpur, beberapa diantara mereka meggunakan sepeda motor dan beberapa diantaranya memilih untuk berjalan kaki saja untuk menuju lokasi fieldtrip.

Peserta dibagi menjadi 4 kelompok yaitu kelompok orangtan, kelasi, bekantan dan siberuk. Selanjutnya team dan peserta melanjutkan perjalanan menuju Sungai Beringin di Kawasan penyangga Taman Nasional Gunung Palung dengan jarak tempuh dua jam berjalan kaki.

Setelah tiba di lokasi, team dan peserta mendirikan tenda dan istirahat, mandi, serta menyiapkan makan malam. Setelah makan malam, peserta melakukan evaluasi perjalanan serta pemberian materi tentang Taman Nasional Gunung Palung oleh mariamah Achmad serta materi tentang analisis satwa pagi yang akan dilaksanakan praktek esok harinya, kemudian mereka istirahat dan tidur.

Hari kedua, Sabtu (26/8) pukul 04.30 WIB, kegiatan yang dilakukan antaran lain seperti pengamatan satwa pagi hingga pukul 06.30 WIB. Kegiatan selanjutnya adalah senam pagi dan mempersiapkan sarapan.

Adapun kegiatan lainnya adalah presentasi tentang hasil pengamatan satwa yang telah diamati. Setelah presentasi selesai dilaksanakan dilanjutkan dengan makan siang.

Peserta fieldtrip juga diberikan muatan materi dan praktek tentang morfologi daun. Sebagai pemateri  adalah  Victor Samudra dan Nursholihin. Selanjutnya juga peserta diajak untuk bermain  (game spider) yang dipandu oleh Hendri Gunawan. Setelah selesai bermain bersama, semua peserta dan team bersih-bersih dan menyiapkan makan malam.

Usai makan malam dilanjutkan dengan malam keakraban yang diisi dengan pentas seni dipandu oleh supriadi, dan kemudian istirahat.

Saat kami melaksanakan fieldtrip banyak hal yang kami jumpai antara lain air sungai yang masih jernih dan kesegarannya dapat kami rasakan. Perjumpaan dengan sarang orangutan dan melihat sepasang burung enggang sedang mengitari lokasi tempat kami berkegiatan. Sayangnya kami tidak  bisa mengabadikan foto enggang karena kami sedang berkegiatan.

Hari ketiga, Minggu (27/8)  pukul 06.00 Wib, peserta dan team melakukan senam pagi, setelah itu peserta mempresentasikan hasil praktek lapangan tentang morfologi daun, kemudian mempersiapkan makan bersama dan makan bersama, setelah itu bersih-bersih di area bivak dan packing barang-barang untuk pulang, setelah semua selesai peserta dan team melakukan game bersama yaitu game samson, kemudian kami berkesempatan untuk berfoto bersama selanjutnya mengakhiri seluruh rangkaian kegiatan fieldtrip. Seluruh rangkaian kegiatan fieldtrip berjalan sesuai rencana.

Hen & Pit-Yayasan Palung