Category Archives: Info Orangutan

Inilah Nama-nama Penerima Beasiswa Orangutan Kalimantan Tahun 2017

IMG_3040.JPG

Salah satu peserta seleksi beasiswa BOCS  saat menyampaikan presentasi esai dihadapan para juri seleksi. Foto dok. Yayasan Palung

Setelah melalui rangkaian seleksi beasiswa Bornean Orangutan Caring Scholarship (BOCS) tahap pertama tanggal 18 maret 2017, terseleksi 33 orang dari 18 sekolah.

Sedangkang seleksi tahap II atau tahap akhir terpilih 6 orang yang berhak menerima beasiswa dan berhak mendapat biaya kuliah gratis di Perguruan Tinggi Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak.

Adapun nama-nama 6 orang penerima beasiswa BOCS  tahun 2017 adalah sebagai berikut :

Nama Calon Asal Sekolah
Ratiah SMA Negeri 3 Simpang Hilir
Hanna Adelia Runtu SMA Negeri 3 Ketapang
Ilham Pratama SMA Negeri 2 Ketapang
Mita Anggraini MAN Ketapang
Siti Nurbaiti SMA Negeri 1 Sungai Laur
Rafikah SMA Negeri 3 Simpang Hilir

Ucapan selamat kepada 6 penerima beasiswa BOCS angkatan ke -6, tahun 2017. Pengumuman ini berdasarkan berita acara Pada hari Kamis tanggal Tiga Puluh bulan Maret tahun Dua Ribu Tujuh Belas bertempat di Kantor Yayasan Palung telah dilakukan seleksi tahap akhir Beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan (Bornean Orangutan Caring Scholarship) 2017 yaitu berupa penilaian terhadap presentasi dan wawancara.

Demikian pengumuman sekaligus pemberitahuan resmi disampaikan, atas perhatian diucapan terima kasih.

Lagu Si Pongo

Female = BethInfant = Benny

Female = Beth Infant = Benny

Lagu Si pongo

Lagu : SI PONGO

Lagu Ciptaan: Yayasan Palung

Si po-ngo  Si po-ngo dia tinggal di hutan
Si po-ngo  Si po-ngo makan buah bu-ahan
Si po-ngo  a-da-lah se ekor o-rang-u-tan
Si Po-ngo  Si po-ngo perlu te-man te-man

Pongo pu-nya ba-pak yang besar dan galak
Po-ngo tak se-ring berte-mu dia
Bapak pongo su-ka main sendirian
Di-a tidak ban-tu ibu dan anaknya

kembali ke reff;

Pongo punya i-bu yang baik dan pe-nyayang
Ibu me-ngajar-kan tentang kehidu-pan
Po-ngo dan i-bu  di hutan bersa-ma
Pongo tanpa i-bu sungguh kasihan

kembali ke reff;

Hu-tan si po-ngo kemana habisnya
Di ma-na si po-ngo dapat makanannya
Jaga lah hu-tan dan pepohonannya
Sebelum si Po-ngo lapar dan punah.

Potret Orangutan dalam Ancaman Nyata di Habitat Hidupnya

Stop!!! Merusak Hutan, Lindungi Kehidupan Orangutan. Foto dok. Yayasan Palung

Prihatin, sedih dan mungkin itu yang bisa dikatakan saat ini terhadap nasib orangutan. Keberlangsungan nafas hidup makhluk hidup saat ini tidak bisa di sangakal dalam ancaman nyata (sangat terancam) di habitat hidupnya berupa hutan. Hutan sebagai rumah kian sempit dan terhimpit dari hari ke hari hingga saat ini.

Ancaman nyata menyempitnya atau bahkan hilangnya habitat hidup orangutan salah satunya disebabkan beberapa hal diantaranya; perluasan lahan berskala besar digunakan untuk perkebunan, pertambangan, pertanian hingga pembangunan menjadi penyebab utama sangat terancamnya nasib hidup orangutan dan beberapa satwa lainnya.

Tidak hanya itu, kebakaran lahan dan ilegal logging tidak kalah hebatnya merampas hutan sebagai rumah dari orangutan. Selain juga masih maraknya perburuan dan perdagangan satwa menjadi persoalan yang boleh dikata seakan tidak berhenti terjadi.

Hilangnya luasan tutupan hutan menjadi ancaman serius bagi orangutan dan satwa lainnya (makhluk hidup) yang mendiami hutan.

Jika dibiarkan tanpa adanya perhatian dan kepedulian, bukan tidak mungkin orangutan dan satwa lainnya yang mendiami hutan akan hilang atau punah.

Perlu perhatian dari semua pihak tanpa terkecuali untuk kelestarian orangutan dan habitatnya demi keberlanjutan semua makhluk hidup termasuk kita manusia.

Dengan menyelamatkan orangutan dan hutan berarti juga menyelamatkan kehidupan agar lebih baik hingga selamanya dan lestari.

Lihat  Video : Nasib orangutan dan hutan yang hidupnya semakin terancam serta terampas. Video dok. GREEN a film by Patrick Rouxel.

Semoga saja…

Orangutan Dilindungi tetapi Sangat Terancam di Habitatnya

orangutan-di-tipe-sarang-a-saat-beristirahat-di-hutan-hujan-gunung-palung-foto-dok-tim-laman-dan-yayasan-palung

Mungkin kata itu yang cocok untuk dikatakan terkait mereka (satwa atau primata) dilindungi yang saat ini keberadaannya sangat terancam punah. Hal ini nyata adanya, ragam jenis satwa sudah semakin sulit dan sempit keberadaannya salah satunya di habitat hidupnya.

Mereka bukan karena tidak diperhatikan, malah mereka menjadi prioritas utama. Dengan kata lain, satwa atau primata  yang dilindungi justru keberadaanya dalam ancaman nyata (semakin terancam) serius di habitatnya berupa hutan.

Di hutan tropis Indonesia, setidaknya terdapat  sekitar 40.000 jenis tumbuhan, 350.000 jenis hewan, 5.000 jenis jamur, dan 1.500 jenis Monera. Bahkan banyak jenis makhluk hidup yang merupakan makhluk hidup endemik. (sumber data; Ilmu Hutan). Dengan demikian ragam satwa, tumbuhan menjadi satu kesatuan yang sejatinya tidak terpisahkan. Apabila satu kesatuan ekosistem diantara mereka terganggu makan akn berdampak pada yang lainnya. misalnya saja keberadaan hutan sangat berpengaruh kepada jumlah populasi satwa yang mendiami wilayah tersebut. Hutan menipis maka satwa/primata akan semakin sulit untuk bertahan hidup, termasuk populasi mereka yang sulit berkembang biak hingga populasi mereka semakin menurun/berkurang jumlahnya yang menyebabkan mereka harus dilindungi.

Mengapa mereka (primata atau satwa) dilindungi tetapi Terancam dan terhimpit di Habitatnya?

Beberapa alasan primata/satwa dilindungi salah satunya karena jumlah populasi sudah langka atau semakin langka. Atau dengan kata lain, tidak sedikit jumlah satwa yang dikatakan mendapat predikat terancam, sangat terancam dan mungkin yang lebih parahnya lagi adalah punah di habitat hidupnya, tetapi jangan sampai terjadi di Indonesia. Di beberapa wilayah di Indonesia misalnya persebaran satwa dilindungi yang sangat terancam punah adalah orangutan (orangutan kalimantan dan orangutan sumatera).

Untuk membaca selengkapnya dapat lihat di link yang ditulis sebelumnya di kompasiana : Orangutan Dilindungi tetapi Sangat Terancam dan Terhimpit di Habitatnya

Berikut Beberapa Tumbuhan dan Satwa Endemik yang Berasal dari Kalimantan

tumbuhan sejenis Amorphophallus titanum

Foto :Tumbuhan sejenis Amorphophallus sp. Foto dok. M. Rizal Alqadrie, YP

Tumbuhan dan satwa merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan di lingkungannya yang tidak lain adalah hutan, tidak terkecuali di daerah hutan hujan seperti di Kalimantan. Tentunya, tumbuhan, hutan dan satwa begitu penting bagi keberlanjutan bumi hingga nanti.  Bayangkan bila tumbuhan, hutan dan satwa tidak ada apa yang terjadi?.

Beberapa tumbuhan dan satwa  endemik yang ada di Kalimantan antara lain adalah :

Tumbuhan endemik yang berasal dari Borneo (Kalimantan); anggrek hitam (Coelogyne pandurata), bunga bangkai (Amorphpophallus titanium). Sedangkan tumbuhan buah seperti durian hutan, teratong, durian burung, pekawai, jantak /jatak, Melinsum/linsum (salak Kalimantan) dan Asam maram. Beberapa tumbuhan-tumbuhan ini sangat istimewa bagi manusia dan satwa. Dari buah-buahan tumbuhan ini manusia bisa terbantu dari segi ekonomi dengan memanfaatkannya sebagai penghasilan. Hal yang sama juga, dari tersedianya buah-buahan dari tumbuhan hutan menjadikan satwa/hewan dapat bertahan hidup.

Sedangkan satwa/hewan endemik asal Kalimantan antara lain adalah; Orangutan, Bekantan, Burung enggang. Ketiga satwa ini keadaannya dari hari kehari semakin memprihatinkan keberadaannya dikarena habitat hidup mereka berupa hutan kian semakin sempit.

Rayap dan serangga termasuk makanan orangutan. Foto dok. Tim Laman dan Yayasan Palung

Orangutan Jantan yang ada di Gunung Palung. Foto dok. Tim Laman

Orangutan misalnya, satwa endemik yang disebut kera besar ini mendiami dua pulau (Sumatera dan Kalimantan)  dan memiliki kemiripan DNA dengan manusia mencapai 96,4 %. Saat ini orangutan masuk dalam status IUCN dalam daftar sangat terancam punah.

Monyet belanda, demikian monyet yang memiliki hidung mancung disebut. Habitat hidup dari bekantan adalah di sekitar hutan  tepian sungai. Keberadaan satwa ini juga sangat dilindungi karena satwa ini hanya terdapat di pulau Kalimantan.

Sedangkan nasib dari burung enggang tidak kalah terancamnya. Dari tahun ke tahun kepak sayap dari burung enggang yang menjadi ikon kota Pontianak ini kian sayup terdengar karena sering diburu paruhnya. Sepanjang tahun nasib hidup burung enggang kian tragis dialamnya berupa hutan. hal yang sama juga bagi kelempiau, kelasi dan beberapa satwa lainnya tidak terkecuali tarsius dan kukang.

Beberapa tumbuhan dan satwa yang berdiam di hutan sebagai habitat hidupnya tidak terkecuali memiliki fungsi merupakan rantai makanan (penyeimbang ekosistem). Adanya tumbuhan, hutan dan satwa memiliki peranan penting bagi keberlanjutan atau keharmonisan makhluk hidup lainnya yang sayang jika tidak berlanjut.

Tumbuhan, hutan dan satwa juga memiliki peranan penting bagi satukesatuan bagi semua makhuk hidup lainnya. Tidak bisa disangkal, tumbuhan, hutan dan satwa sangat berguna/bermanfaat bagi manusia dan lingkungan. Hutan dan tumbuhan memiliki peran bagi tersediannya oksigen, penyedia perpustakaan bagi ilmu pengetahuan dan sebagai pencegah terjadinya berbagai ancaman yang bisa saja mendera seperti banjir, longsor dan kekeringan.

Demikian juga halnya satwa endemik seperti orangutan dan burung enggang yang memiliki fungsi sebagai penyembang (spesies payung). Mengapa? Disebut sebagai spesies payung karena satwa yang dimasud adalah sebagai penyebar biji-bijian sebagai cikal bakal reboisasi hutan secara alami. Tumbuhan pun begitu penting bagi tatanan kehidupan lainnya (makhluk lainnya) sama halnya dengan hutan. Tumbuhan memiliki peranan penting bagi penyedia obat-obatan alami (obat-obat tradisional).

Adanya satwa dan tumbuhan sebagai indikator (penanda) hutan sebagai habitat hidup masih baik adanya. Sebaliknya bila hutan, tumbuhan dan satwa sudah semakin berkurang atau bahkan sangat terancam punah/hilang pasti keberlanjutan makhluk hidup termasuk manusia dijamin akan sulit bertahan (berlanjut) secara lestari bila tidak ada tumbuhan, hutan dan satwa.

Perlu perhatian semua pihak jika tumbuhan, hutan dan satwa boleh berlanjut. Salah satunya kepedulian, kebijaksanaan serta perlindungan. Dengan demikian tumbuhan, hutan dan satwa dapat terjaga dengan baik pula demi keberlanjutan makhluk hidup terlebih kita manusia.

Tulisan ini sebelumnya dimuat di Blog mongabay Indonesia Berikut Beberapa Tumbuhan dan Satwa Endemik yang Berasal dari Borneo

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Prihatin, Ada Pembantaian Keji Terhadap Orangutan di Kapuas

orangutan-yang-dibunuh-dan-di-konsumsi-oleh-pemburu-borneonews_-roni-sahala

Orangutan yang dibunuh dan di konsumsi oleh pemburu. Borneonews/Roni Sahala

Tidak hanya dibunuh, kejamnya lagi, daging orangutan tersebut mereka  makan (para pemburu) beramai-ramai. Tentu perbuatan seperti ini tidak seharusnya dilakukan dan terjadi. Selain juga tindakan (perbuatan) tersebut keji dan melanggar hukum, hal ini terjadi di Kapuas, Kalteng, (14/2/2017) kemarin.

Mengutip dari laman detik.com, peristiwa  itu diketahui setelah masyarakat melaporkan  kejadian tersebut kepada Wakil Ketua Komisi IV DPR Daniel Johan. Komisi IV sendiri memang membidangi masalah kehutanan.

Baca;https://news.detik.com/berita/d-3422098/anggota-dpr-terima-aduan-orangutan-di-kalteng-dibunuh-dan-dimasak dan http://www.borneonews.co.id/berita/52114-ngeri-bangkai-orangutan-ini-diolah-untuk-dimakan .

Sebagai satwa yang sangat terancam punah (endemik) atau dengan kata lain masuk dalam daftar merah/red list dan dilindungi oleh Undang-undang  sudah sepatutnya untuk terus dijaga dan dilindungi apa lagi membunuh atau memakan orangutan sebagai satwa yang dilindungi tersebut. Baca;http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/orangutan-sangat-terancam-punah-apa-yang-harus-dilakukan_5822e879cb23bd1023027133.

Peristiwa yang terjadi ini pun seakan menambah derita panjang tentang nasib satwa yang dilindungi keadaannya (kondisinya) kini semakin terancam akibat semakin menyempit untuk perluasan lahan berskala besar dan diperparah lagi dengan kasus perburuan yang juga masih saja masif terjadi.

Suatu tidakan yang boleh dikatakan keji tersebut sudah seharusnya untuk dikecam dan berharap harus ada sangsi tegas dan tindakan untuk efek jera terhadap pelaku sesuai dengan sanksi tata aturan yang berlaku. Dengan harapan tidak ada lagi terjadi kasus-kasus seperti ini secara berulang dan jangan sampai terjadi pada satwa-satwa dilindungi terlebih orangutan sebagai satwa endemik.

Mengingat, satwa dilindungi semakin terancam dan semakin langka menjelang terkikis habis termasuk habitat satwa berupa hutan. Maka dari itu, perlu upaya-upaya perlindungan dan kelestarian satwa-satwa dilindungi dengan ragam pendekatan kepada masyarakat seperti sosialisasi (penyadartahuan) tentang satwa dilindungi, edukasi dan informasi satwa dilindungi  dan beragam kegiatan lainnya yang mungkin bisa untuk mencegah hal ini agar tidak terjadi lagi.

Selain itu juga harus ada sanksi tegas terhadap para pelaku yang melakukan kejahatan terhadap satwa dilindungi. Tentunya, diperlukan peran serta dari semua pihak secara bersama pula tanpa terkecuali untuk menjaga dan melestarikannya (pelestarian), termasuk perlindungan terhadap hak hidup dari satwa dilindungi lainnya.

Nasib hidup satwa dilindungi untuk terus berlanjut dan lestari  ada pada kepedulian dari kita semua tidak hanya pemerintah, lembaga-lembaga konservasi lingkungan dan lembaga yang focus pada kelestarian satwa serta siapa saja. Apabila tidak, maka akan dikhawatirkan kasus-kasus seperti ini akan terulang dan satwa dilindungi akan semakin terancam punah bahkan punah di alamnya dalam waktu  singkat. Berharap, semoga aparat penegak hukum bertindak tegas dan segera memproses secara hukum supaya kasus seperti ini tidak terulang lagi.

Tulisan ini juga sebelumnya telah dimuat di Kompasiana :Astaga, Ada Pembantaian Keji terhadap Orangutan di Kapuas

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Hasil Investigasi dan Penyelamatan Orangutan dari Tahun 2004-2016 di Tanah Kayong

dokumentasi-kasus-pemeliharaan-orangutan-foto-dok-yayasan-palung

Seperti diketahui, saat ini populasi Orangutan liar di Kalimantan Barat khususnya Kabupaten Ketapang dan Kabupaten kayong Utara hampir dipastikan secara terus menerus populasi orangutan dalam beberapa decade terakhir ini semakin menurun akibat hilangnya hutan dataran rendah. Berdasarkan rekapitulasi data investigasi dan penyelamatan dari Yayasan Palung dari tahun 2004-2016, menyebutkan  jumlah orangutan yang tidak sedikit yang diinvestigasi dan diselamatkan terkait berbagai ancaman terhadap populasi dan habitat orangutan.

rekapitulasi-hasil-investigasi-dan-penyelamatan-orangutan-di-kalbar-yayasan-palung-tahun-2004-2016

Adapun data dari tahun ke tahun terkait  rekapitulasi investigasi dan penyelamatan terhadap orangutan di Kalimantan Barat, lebih khusus di dua Kabupaten, Ketapang dan Kayong Utara adalah 161 individu orangutan yang diinvestigasi dan diselamatkan (rescue) ada 150 individu orangutan.

Dari data tersebut, setidaknya hal ini terjadi erat terkaitnya dengan ancaman habitat dan populasi orangutan. Tidak bisa disangkal, kecepatan penurunan populasi orangutan dan habitatnya dengan ditandai masuknya investasi di kawasan hutan yang masih terdapat populasi orangutan diantaranya investasi pembukaan lahan berskala besar seperti perkebunan dan pertambangan.

Hal lain terkait ancaman orangutan di habitat adalah Di tengah upaya penyelamatan orangutan yang gencar didengungkan, tetapi praktek pemusnahan secara terselubung terus saja berlangsung. Perburuan dan perdagangan orangutan menjadi usaha untuk meraup keuntungan. Orangutan di dua Kabupaten ini selalu diburu, ditangkap untuk menjadi hewan peliharaan rumah, dan diperdagangkan. Meski ancaman hukuman bagi pelaku perburuan dan perdagangan orangutan cukup berat namun praktek ini masih marak terjadi.  Mengingat, dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dengan tegas menyebut, “Setiap orang dilarang menangkap, membunuh, memiliki, memelihara dan memperniagakan satwa dilindungi dalam keadaan hidup, mati atau bagianbagian tubuhnya. Pelanggaran terhadap Undang-undang ini dihukum 5 tahun penjara atau denda 100 juta rupiah”.

Kasus perburuan, pemeliharaan serta perdagangan Orangutan di dua Kabupaten ini (Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara) juga merupakan salah satu ancaman yang sangat serius bagi kelestarian Orangutan serta satwa lainnya. Perburuan Orangutan di dua kabupaten ini kebanyakan bersifat opurtunis artinya Orangutan bukan menjadi buruan utama para pemburu. Kasus perburuan sering terjadi ketika para pemburu mencari rusa, babi, kijang dan sebagainya secara kebetulan menjumpai Orangutan. Ketika hal itu terjadi biasanya Orangutanlangsung di buru dengan cara membunuh induk serta mengambil anak Orangutan baik untuk dipelihara maupun dijual kepada orang yang memiliki hoby memelihara. Sedangkan induk Orangutan yang mati kadang-kadang diambil untuk di kosumsi sebagai makanan.

Seperti misalnya pada tahun 2004-2014, Akibat masih terjadinya perburuan secara oportunis tersebut membawa dampak terhadap kasus pemeliharaan serta perdagangan Orangutan di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara. Berdasarkan hasil monitoring yang dilakukan Yayasan Palung sejak tahun 2004 s/d 2014 teridentifikasi 145 kasus pemeliharaan Orangutan, 89 Kelempiau, 28 satwa lainnya (Beruang Madu, Bekantan, Trenggiling, Burung Enggang, dan sebagainya) yang dilakukan masyarakat. Kasus pemeliharaan khususnya Orangutan terjadi baik di pemukiman masyarakat, areal perkebunan sawit, dan areal pertambangan.

Data kasus pemiliharaan orangutan dan satwa lainnya tahun 2004-2014 di Kab. Ketapang dan KKU.jpg

Dari 117 satwa lainnya yang teridentifikasi pada tahun 2004 hingga tahun 2014 sebanyak 79 %, 89 ekor adalah Kelempiau. Hal ini membuktikan bahwa kera sangat terancam di daerah Ketapang dan Kayong Utara. Selain itu juga dilihat dari tabel 1 diatas bahwa hasil monitoring setiap tahunnya tidak bisa dijadikan kesimpulan bahwa tingkat kasus pemeliharaan menunjukkan tren penurunan atau kenaikan. Dimana pada tahun 2004, Yayasan Palung mulai melakukan monitoring seluruh wilayah kecamatan yang ada di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara baik wilayah yang berada di pesisir pantai maupun di wilayah pedalaman.

Orangutan Borneo merupakan salah satu jenis primata yang menjadi bagian penting dari kekayaan keanekaragaman hayati dan merupakan satu-satunya kera besar yang hidup di Asia. Orangutan Borneo sebagian besar mendiami hutan dataran dan hutan rawa di Sabah, bagian barat daya Sarawak, Kalimantan Timur, serta bagian barat daya Kalimantan antara Sungai Kapuas dan Sungai Barito. Oleh karena itu, populasi Orangutan Borneo disepakati dibedakan menjadi tiga sub spesies yaitu Pongo pygmaeus pygmaeus yang terdapat di bagian barat laut Kalimantan yaitu Utara dari Sungai Kepuas sampai ke timur laut Sarawak, Pongo pygmaeus wurmbii yang hidup dibagian selatan dan barat daya Kalimantan yaitu antara sebelah selatan Sungai Kapuas dan barat Sungai Barito dan Pongo pygmaeus morio yang hidup di Sabah sampai Sungai Mahakam di Kalimantan Timur.

Seperti di ketahui, penyelamatan orangutan dan habitatnya berarti menyelamatkan ekosistem dari kehancuran yang bisa memberi bencana bagi masyarakat luas. Menyelamatkan orangutan dan habitatnya berarti menjamin kesejahteraan masyarakat di masa yang akan datang karena habitat orangutan yang terpelihara dengan baik akan menjamin kelangsungan jasa ekologi yang penting yang diutuhkan oleh masyarakat luas. Sampai saat ini, yang menjadi persoalan lain adalah tempat hidup baru bagi orangutan yang telah diselamatkan. Seperti diketahui, saat ini orangutan yang diselamatkan (rescue) kesulitan rumah baru mereka berupa hutan. Banyak kawasan hutan yang telah terbuka dan tidak layak untuk tempat pelepasliaran orangutan.

Oleh karena itu kepada semua pihak yang terlibat, baik pemerintah pusat, provinsi, Kabupaten pihak swasta serta masyarakat luas harus benar-benar melaksanakan komitmen penyelamatan Orangutan di Kalimantan Barat khususnya di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara. Semoga orangutan di Tanah Kayong (Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara) dapat terjaga  dan semua pihak dalam mendukung konservasi Orangutan sebagai makhluk ciptaan Yang Maha Kuasa yang juga sebagai satwa endemik dapat lestari hingga nanti.

Tulisan ini juga pernah dimuat di Kompasiana.com : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/ini-data-investigasi-dan-penyelamatan-orangutan-tahun-2004-2016-ditanah-kayong_58747d3e4f7a61c9125e61fa

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

 

Di Desa Ini Orang Utan Terakhir Kali Terlihat Tahun 80-an

induk-dan-bayi-orangutan-di-gunung-palung-sedang-bercengkrama-foto-dok-tim-laman-dan-yayasan-palung

Bayi orangutan dan Induknya di Gunung Palung. Foto dok. Yayasan Palung dan Tim Laman

“Kami mendapatkan informasi di Desa yang kami kunjungi, mereka (masyarakat) terakhir kali melihat orangutan pada tahun 1980-an”.

Pekan lalu, seperti biasanya di bulan November, tepatnya dari tanggal (13-19/11/2016) Yayasan Palung memperingati Pekan Peduli Orangutan. Ragam kegiatan yang kami Yayasan Palung lakukan terkait nasib orangutan yang sangat terancam punah, salah satunya dengan melakukan kampanye penyadartahuan kepada masyarakat dan dilingkup sekolah dengan berbagai kegiatan.

Kami mendapatkan informasi di desa tersebut mereka (masyarakat) terakhir kali melihat orangutan pada tahun 1980-an. Namun saat ini,tidak ada lagi dikarenakan salah satunya oleh perburuan untuk di konsumsi. Selain juga karena disebabkan hilangnya hutan karena konversi perusahaan sawit.

Menurut pemaparan bapak Margono, Kadus Kalam, Desa Sinar Kuri mengatakan dalam sesi diskusi; nilai ekonomi dari hasil hutan seperti buahan, rotan, dan hasil hutan lainnya masih ada di desanya. seperti ginseng dan pasak bumi. Selain itu, bapak Anton, selaku Kaur Desa mengatakan, ada obat ginjal tanaman seperti kumis kucing, daun simpur dan putri malu direbus menjadi satu. Sedangkan untuk Obat typus, urat leletup yang digunakan akarnya dibersihkan dan diminum.

Selengkapnya dapat dibaca dan dilihat di link : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/di-desa-ini-orang-utan-terakhir-kali-terlihat-tahun-80-an_58342981537a61220ba8867a

PPO 2016 :Orangutan Kalimantan dan Sumatera Sangat Terancam Punah, Ini yang Yayasan Palung Bisa Lakukan

foto-bersama-setelah-kegiatan-ppo-2016-di-sman-1-sungai-laur

Foto bersama setelah kegiatan PPO 2016, di SMAN 1 Sungai Laur. Foto Yayasan Palung

Dalam Rangka Pekan Peduli Orangutan 2016, dengan mengusung tema “Critically Endangered and Critically In Need atau Terancam Punah dan Sangat Membutuhkan Perhatian”.

http://pontianak.tribunnews.com/2016/11/11/orangutan-terancam-punah-di-hutan-kalimantan-dan-sumatera

Rangkaian kegiatan PPO yang dimulai dari tanggal 13 hingga 19 November 2016 seperti;
– Lomba pembuatan komik orangutan bagi siswa SMA/MA yang ada di Kec. Delta Pawan Ketapang dan Puppet Show dan perpustakaan keliling oleh relawan Tajam Yayasan Palung.

relawan-tajam-puppet-show-dan-perpustakaan-keliling-dalam-kegiatan-ppo-2016-foto-dok-yp

Relawan Tajam puppet show dan perpustakaan keliling dalam kegiatan PPO 2016 . Foto dok. YP

relawan-rebonk-saat-melakukan-aksi-long-march-foto-dok-yp

Relawan RebonK saat melakukan aksi long march. Foto dok. YP

– Relawan RebonK dan Penerima beasiswa orangutan (BOCS) melakukan long march dan Baksos untuk membrsihkan sampah di sepanjang jalan dari Tugu Durian ke sekitar taman dan sekitar Masjid. sedangkan penerima BOCS melakukan pawai dari GOR, Stadion SSA sampai Bundaran Bambu di Kota Pontianak yang pada hari Minggu, (13/11) pukul 06.30 hingga 11.00 WIB. Kegiatannya seperti orasi, pembacaan puisi dan pembacaan syair gulung.

dsc_0214

Penerima Beasiswa BOCS melakukan aksi dalam kegiatan PPO 2016. Foto Yayasan Palung dan BOCS

membaca-syair-gulung-dan-kampanye-ttg-orangutan

Membaca syair gulung dan kampanye tentang orangutan. Foto Yayasan Palung
Kemudian Tim Pendidikan Lingkungan dan Media Kampanye Yayasan Palung mengadakan Ekspedisi Pendidikan ke Kecamatan-kecamatan di Ketapang. Seperti PPO 2016 kegiatan bersamaan dengan Ekspedisi Pendidikan Lingkungan di Kecamatan Sungai Laur (di Desa Sinar Kuri) dan Kecamatan (di Desa Mekar Raya) Simpang Dua.

sebelum-pemutaran-film-kami-menyempatkan-untuk-menyampaikan-materi-tentang-satwa-dilindungi-foto-dok-yayasan-palung

Sebelum pemutaran film, kami menyempatkan untuk menyampaikan materi tentang satwa dilindungi. Foto dok. Yayasan Palung

Inilah sebagian pesan dari siswa di SMAN 1 Sungai Laur. Foto dok. Yayasan Palung.JPG

Inilah sebagian pesan dari siswa di SMAN 1 Sungai Laur. Foto dok. Yayasan Palung

saat-pemutaran-film-lingkungan-di-desa-sinar-kuri-foto-dok-yayasan-palung

Salah satu pesan dari kreasi menggambar dan pesan untuk hutan dan orangutan dari siswa-siswi SMAN 1 Sungai Laur. Foto dok. Yayasan Palung.JPG

Salah satu pesan dari kreasi menggambar dan pesan untuk hutan dan orangutan dari siswa-siswi SMAN 1 Sungai Laur. Foto dok. Yayasan Palung

_MG_2571.JPG

Edward Tang saat memberikan materi dan diskusi tentang manfaat dari hutan bagi kehidupan. Foto Yayasan Palung

_MG_2608.JPG

Foto bersama masyarakat di Desa Sinar Kuri, Kec. Sungai Laur. Foto Yayasan Palung

Baca selengkapnya juga tulisan tentang kegiatan Pekan Peduli Orangutan 2016 di beberapa tempat yang Yayasan Palung lakukan : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/orangutan-sangat-terancam-punah-di-desa-ini-orangutan-terakhir-terlihat-tahun-1980-an_58342981537a61220ba8867a

#OrangutanCaringWeek2016 #PPO2016 #YayasanPalung #Orangutan#OCW2016

 

Memperingati Pekan Peduli Orangutan 2016, Yayasan Palung Akan Adakan Serangkaian Kegiatan

Baner PPO 2016.png

Banner PPO 2016

Tahun ini, untuk memperingati Pekan Peduli Orangutan (PPO) 2016, Yayasan Palung mengetengahkan tema; Critically Endangered and Critically In Need (Terancam Punah dan Sangat Membutuhkan Perhatian). Setidaknya tema ini menjadi tanda keprihatinan tentang keberadaan hidup dan tempat orangutan di alamnya saat ini, di hutan Kalimantan dan Sumatera.

Adapun rangkaian kegiatan PPO 2016 kali ini bertujuan untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat tentang status keterancaman Orangutan di alam liar saat ini. Selain itu juga mengajak masyarakat untuk peduli terhadap pelestarian dan habitat orangutan.

Adapun Rangkaian kegiatan yang akan Yayasan Palung dilaksanakan dalam kegiatan PPO kali ini dimulai dari tanggal 13 hingga tanggal 19 November 2016. Selain Yayasan Palung, Rangkaian kegiatan lainnya juga akan dilakukan oleh Relawan Konservasi Tajam di Ketapang,  Relawan REBONK di Kayong Utara, Penerima Beasiswa Orangutan (BOCS) yang sedang studi di Pontianak.

Relawan Konservasi Taruna Penjaga alam (RK-Tajam) Yayasan Palung akan mengadakan lomba pembuatan komik, dengan tema “Upaya Pelestarian Perlindungan Terhadap Orangutan dan Habitatnya yang Terancam Punah”. Siswa-Siwi SMA/MA/SMK di Kec. Delta Pawan. Maksimal diwakili 3 orang perwakilan dari setiap sekolah di Wilayah Kota Ketapang. Kompetisi komik ini dilaksanakan pada hari Senin, 14 – 17 November 2016. Pengumpulan komik dan biodata diri pada Jumat, 18 November 2016, di Kantor Yayasan Palung, Jl. Kolonel Sugiono, Gg. H. Tarmizi No.05, Kelurahan Sampit, Kec. Delta Pawan, Kab. Ketapang.

Sedangkan Relawan REBONK,  pada tanggal 13 November 2016 akan mengadakan rangkaian kegiatan di Sukadana, Kabupaten Kayong Utara. Rencananya Relawan REBONK bersama beberapa perwakilan dari  dari SMKN 1 Sukadana, SMK Al-Aqwam, SMAN 1 dan SMAN 2 Sukadana akan mengadakan Orasi dan Long march dari Siduk Menuju Tugu Durian, selanjutnya melakukan aksi Treatrikal. Dilanjutkan dengan kegiatan Bakti Sosial dengan membersihkan sampah di sepanjang jalan dari Tugu Durian, Sekitar Taman hingga Pantai Pulau Datok. Diperkirakan akan dihadiri oleh peserta kurang lebih 50 orang dalam kegiatan ini.

Tidak hanya itu, Penerima Beasiswa Orangutan (BOCS) yang sedang studi di Pontianak juga akan melakukan kegiatan hampir serupa. Kegiatan Pawai dari GOR, Stadion SSA sampai Bundaran Bambu. Kegiatan rencananya dilaksanakan pada hari Minggu, 13 november 2016 pukul  06.30 wib -11.00 Wib. Adapun rangkaian acara adalah seperti; Orasi, Pembacaan puisi dan Pembacaan syair gulung.

Selain itu, Tim Pendidikan Lingkungan dan Media Kampanye  Yayasan Palung mengadakan Ekspedisi Pendidikan ke Kecamatan-kecamatan di Lingkup wilayah Ketapang dan KKU. Seperti PPO 2016 yang kegiatan bersamaan dengan Ekspedisi Pendidikan Lingkungan di Kecamatan Sungai Laur dan Kecamatan Simpang Dua. Hal ini dilaksanakan sebagai bentuk ajakan, kepedulian bersama melalui kampanye penyadartahuan dan Pendidikan  kepada masyarakat dan pihak sekolah dengan rangkaian kegiatan yang dilakukan di bulan November ini. Adapun bentuk kegiatan, Diskusi Masyarakat, Lecture (ceramah lingkungan), puppet show (panggung boneka)  di sekolah dan pemutaran film lingkungan serta kegiatan puncak Pekan Peduli Orangutan 2016 di Kecamatan Sungai Laur pada tanggal 18 November 2016.

Direktur Yayasan Palung Terri Breeden, mengatakan;  pada kegiatan PPO tahun 2016, Yayasan Palung berharap dan mengajak melalui pendidikan konservasi dan kampanye penyadartahuan kepada masyarakat tentang spesies orangutan yang sangat terancam punah, semoga ada kesadaran dan kepedulian lebih dari kita semua. Lebih lanjut, Terri, demikian ia disapa menegaskan, Yayasan Palung ingin menampilkan aksi lokal bagi orang untuk secara aktif melindungi hutan hujan untuk orangutan, tetapi juga untuk diri mereka sendiri.

Semoga kegiatan Pekan Peduli Orangutan 2016 bisa berjalan sesuai rencana dan mendapat sambutan baik dari masyarakat.

OCW_PPO 2016.jpg

Banner OCW 2016

Petrus Kanisius-Yayasan Palung