Category Archives: Gunung Palung

Berikut Beberapa Jenis Satwa Dilindungi di Tanah Kayong

Rayap dan serangga termasuk makanan orangutan. Foto dok. Tim Laman dan Yayasan Palung

Orangutan Jantan yang ada di Gunung Palung. Foto dok. Tim Laman

Satwa dilindungi sudah sepatutnya kita jaga dan lindungi di habitat hidupnya. Mengingat, keberadaan populasinya terancam ataupun sangat terancam punah di habitat hidupnya akibat beragam kegiatan ataupun aktivitas manusia seperti pembukaan lahan  berskala besar.

satwa-dilindungi-di-tanah-kayong-foto-dok-yayasan-palung

 

Foto data dok. Yayasan Palung

Perlu peran dari semua pihak untuk menjaga dan melindungi satwa yang masih ada dan tersisa di Tanah Kayong  (sebutan untuk Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara), Kalimantan Barat, Indonesia.

satwa-dilindungi-di-tanah-kayong-foto-dok-yayasan-palung-2

Foto data dok. Yayasan Palung

Melestarikan dan menjaga hutan agar tetap lestari, berarti juga memberikan juga kehidupan bagi banyak makhluk hidup tidak terkecuali banyak primata (satwa) dilindungi yang saat ini.

Sedangkan satwa langka yang menjadi prioritas di Indonesia saat ini ada 25 satwa endemik/terancam punah.

25-satwa-langka-prioritas-sumber-data-dok-klhk

Semoga saja satwa dilindungi dapat terlindungi dan lestari di habitat hidupnya di seluruh wilayah Indonesia.

Resensi Buku : “Menjaga yang Tersisa”, Mari Merawat Bumi dan Isinya untuk Selamanya

Cover Buku, Menjaga yang Tersisa, Foto Dok. YP.jpg

Cover Buku, Menjaga yang Tersisa, Foto Dok. YP

Tidak bisa disangkal, bumi beserta segala isinya (makhluk hidup) tidak terkecuali hutan dan satwa serta manusia merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dalam kehidupan ini. Bagaimana bila bumi yang tersisa dibiarkan begitu saja tanpa diperhatikan dan tidak untuk dijaga, bayangkan bila bumi tidak tersisa.

Buku yang ditulis oleh Yohanes Terang  Menjaga yang Tersisa;  Sajak dan Renungan dari Laman Satong,  sedikit banyak menjadi pengingat sekaligus ajakan bagi kita semua tanpa terkeculi untuk merenungkan tentang keadaan dan keberadaan bumi yang saat ini keadaannya (nasibnya) terletak pada tanggungjawab dan kebijaksanaan kita. Mengingat,  bumi sudah semakin renta, rimba raya dan satwa kian memprihatinkan keberadaannya. Hutan semakin menyusut, satwa semakin sempit dan sulit untuk bertahan hidup. Terkadang kita manusia pun tidak luput dari apa dampak dari semakin menipisnya luasan tutupan hutan.

Ungkapan sajak, renungan dan puisi yang tersaji dibuku yang tebalnya 115 halaman tersebut berkisah tentang awal mulanya sebaagung  namun kini dunia telah renta. Seperti pada halaman  11,  dituliskan Dunia Telah renta.

Semula semula  kujumpa serbaagung

Gunung-gunung menjulang hijau tinggi membusung

Jurang-jurang panjang dalam menerima suara gaung

Air yang gemericik, satwa  bersenandung.

Menunjukkan besarnya kuasa Sang Pencipta

Namun, tiba-tiba berubah seketika

Akibat tidak ada lagi cinta  tersimpan dalam dada

Kini pohon-pohon raksasa tak lagi dijumpa

Berjuta-juta tanaman kecil merana tertimpa

Oleh ibu bapanya.

Kicauan satwa tak lagi terdengar

Telah sirna entah kemana

Seolah-olah bisu tanpa kata

Habitatnya terobrak-abrik

Ketenangan tercabik-cabik

Semuanya tak ada lagi yang menarik

Terlihat semua sudah sikap menampik

Kini masih adakah?

Yang berjiwa mulia?

Untuk mempertahankan yang tersisa

Agar tak lagi terjadi seperti yang ada.

Kini kucoba untuk melakukannya sampai aku dijemput oleh-Nya.

Ungkapan ketulusan dari hati yang terdalam bapak Yohanes Terang secara nyata bercerita tentang fakta yang terjadi sesuai realita yang terjadi (menimpa) dunia.

Agar tidak lupa, seperti pada halaman 16, pembaca diingatkan kembali dengan renungan;

Awal mula bumi diciptakan sempurna  tak ada yang palsu

Pencipta menciptakan atau menyertakan berjuta rupa, bentuk, arti dan warna

Satu diantranya adalah manusia sebagai pewaris, pelindung dan penajaga agar tidak habis bagi anak cucu.

Dengan berjalannya waktu dan bergantinya hari, tak terasa telah terjadi degradasi dengan berkurangnya nilai, bentuk dan rasa

Kemanusiaan, bukit, lautan, flora, fauna telah telah ternoda  oleh kekuasaan, kepentingan.

Uang yang membuat manusia lupa. Kita dengar dalam cerita, kita pantau lewat media, kita lihat dengan mata tentang semua peristiwa yang mendera.

Hai manusia ingatlah rentetan peristiwa yang memilukan yang menyayat banyak hati, tanda-tanda akan terjadi isak tangis, gertak gigi, pabila kita tak sanggup menyelamatkan bumi tempat kita berada.

Ajakan kepada para pemimpinpun disampaikan untuk peduli pada bumi ibu pertiwi sebagai tempat dan keberlanjutan nafas hidup hingga nanti. Seperti yang dituliskan pada halaman 110.

 Jabatanmu seorang  petinggi,

Menjunjung tinggi sumpah janji seorang abdi.

 Berbuat selau mendengarkan suara hati 

Terobosan  yang tepat mencari solusi

Mengurangi degradasi

Mengangkat derajat negeri ini

Agar sejajar dengan bangsa lain di atas bumi.

Di halaman 108, pembaca diajak untuk bersukaria, bila alam terjaga lestari selamanya maka  hutan kembali menghijau, satwa kembali berkicau, pikiran pun tak lagi galau. Kita semua suka,  kita semua bahagia bila semuanya bisa lestari untuk selamanya.

Buku ini sangat direkomendasikan bagi semua kalangan karena sangat syarat makna dan pesan moral tentang ajaran hidup/kehidupan berupa bumi tempat berpijak. Menjaga yang Tersisa (hutan, satwa dan segala isi) bumi menjadi tanggungjawab kita semua secara bersama pula pula. Bumi yang tersisa ini sebagai tempat hidup sudah sejati untuk dijaga, dipelihara dan dilestarikan hingga nanti. Mari merawat bumi hingga nanti (selamanya) sebelum terlambat, demi kehidupan yang lebih baik.

Judul Buku : Menjaga yang Tersisa;  Sajak dan Renungan dari Laman Satong

Penulis : Yohanes Terang

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Tebal : 115 Halaman

ISBN : 978-602-03-1499-0

Tulisan ini sebelumnya dimuat di sesawi.net Menjaga yang Tersisa, Mari Merawat Bumi dan Isinya Selamanya

Petrus Kanisius, Yayasan Palung

 

 

Cerita Sukses Pengrajin Pandan dari Kayong Utara

Tikar pandan dari kreasi jari jemari pengajin. Foto dok. Yayasan Palung.jpg

Tikar pandan dari kreasi jari jemari pengajin. Foto dok. Yayasan Palung

 

“ Hasil dari menganyam daun pandan, pengrajin bisa merenovasi rumah dan dapat membeli Perhiasan”

Setidaknya salah satu program pendampingan masyarakat yang berada dikawasan Taman Nasional Gunung Palung (TNGP) salah satunya adalah untuk mengangkat perekonomian masyarakat melalui bidang kerajinan tradisional yang ada di Kabupaten Kayong Utara (KKU). Potensi SDA dan SDM yang ada di sekitar TNGP sangat mendukung untuk meningkatkan keterampilan dan kesejahteraan masyarakat lokal melalui pemanfaatan hasil hutan bukan kayu berupa pandan dan nipah.  Hal inilah yang mendorong Yayasan Palung untuk membina para pengrajin hasil hutan bukan kayu (HHBK) hingga para pengrajin menuai cerita sukses, salah satunya dengan mengayam pandan mereka meningkatan ekonomi sehari-hari, tidak terkecuali merenovasi rumah hingga dapat membeli perhiasan.

dari-menganyam-pengrajin-bisa-merenovsi-rumah-membeli-kendaraan-dan-perhiasan-foto-dok-yayasan-palung

Dari menganyam, pengrajin bisa merenovsi rumah, membeli kendaraan dan perhiasan. Foto dok. Yayasan Palung

Sudah 5 tahun sejak tahun 2011, Tim Sustainable Livelihood (SL-YP) melakukan pembinaan dan pendampingan kepada komunitas pengrajin tradisional yang ada disekitar TNGP. Banyak cerita sukses yang dialami dan dirasakan masyarakat baik itu peningkatan kapasitas melalui kegiatan pelatihan. Terbangunnya pola fikir dan pengetahuan akan hal-hal yang baru telah mengantar beberapa pengrajin menjadi narasumber atau dengan kata lain menjadi instruktur/pelatihan yang diadakan oleh lembaga mitra bahkan instansi Pemerintah Daerah. Lancarnya pemasaran produk yang terjalin berkat kerjasama (bersama) DEKRANASDA KKU telah membuat komunitas pengrajin menjadi lebih dikenal oleh masyarakat luas yang salah satunya mampu meningkatnya pendapatan komunitas pengrajin secara signifikan pada kehidupan masyarakat atau komunitas pengrajin tersebut.

para-pengrajin-sering-mengadakan-pertemuan-rutin-foto-dok-yayasan-palung

Para pengrajin sering mengadakan pertemuan rutin. Foto dok. Yayasan Palung

Sudah cukup banyak testimoni (kesaksian) pengrajin yang merasakan hasil dari penjualan kerajinan pandan tersebut dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga masyarakat pengrajin. Mulai dari membeli kendaraan (motor), membeli perhiasan, merenovasi rumah, membantu biaya pendidikan anak, membeli perabot rumah tangga, hingga kepada pemenuhan akan kebutuhan sandang dan pangan.

Inilah yang dialami dan dirasakan oleh dua orang pengrajin yaitu Ibu Ayu Baiti kelompok HHBK Karya Sejahtera dari Desa Sejahtera dan Ibu Rajemah kelompok HHBK Peramas Indah dari Desa Pangkalan Buton di Kabupaten Kayong Utara.

Melalui penjualan kerajinan pandan Ibu Ayu Baiti dari kelompok HHBK Karya Sejahtera mampu membeli perhiasan  berupa gelang dan dua buah cincin emas. Ini adalah desakan dari anak-anaknya karena mengingat usianya yang sudah hampir mencapai 55 tahun. Sebenarnya tidak hanya membeli perhiasan saja, menurut Ibu Ayu Baiti pada tahun 2012 setelah pembentukan kelompok Karya Sejahtera, beliau mendapatkan hasil dari penjualan produk kerajinan pandan melalui event pameran Expo KKU dan mendapatkan hasil sekitar Rp 2,5 juta. Uang yang terkumpul dijadikannya sebagai uang muka untuk beli (kredit) motor dan untuk pembayaran setiap bulannya beliau menggunakan uang dari hasil penjualan kerajinan pandan yang difasilitasi oleh Yayasan Palung dan DEKRANASDA KKU. Hingga 3 tahun lebih lamanya, kredit motor tersebut akhirnya bisa dilunasi oleh Bu Ayu Baiti melalui penjualan kerajinan pandan.

tikar-pandan-foto-dok-yayasan-palung

Tikar Pandan. Foto dok. Yayasan Palung

Cerita serupa dialami oleh Ibu Rajemah dari kelompok HHBK Peramas Indah. Pendapatan dari hasil kerajinan pandan digunakannya untuk merenovasi rumahnya yaitu membuat teras rumah dengan menggunakan lantai keramik. Menurut ibu Rajemah ini untuk kenang-kenangan dari hasil kerajinan pandan. Tidak hanya dengan melakukan renovasi rumah, Bu Rajemah bisa membiayai anaknya ke Perguruan Tinggi di Pontianak dari hasil penjualan kerajinan ini. Karena penghasilan setiap bulan dari penjualan ini cukup untuk biaya anak sekolah dan kadang-kadang sudah melebihi dalam pemenuhan akan kebutuhan sehari-hari dalam rumah tangganya.

Bu Ayu Baiti dan Bu Rajemah merupakan contoh pengrajin yang menikmati hasil dari program ekonomi alternatif Yayasan Palung melalui pendekatan anyaman kerajinan tradisional ini. Sebenarnya masih banyak masyarakat  pengrajin atau penerima manfaat yang merasakan hasil dan keuntungan dari program tersebut. Sebut saja Ibu Hatimah, Ibu Aisyah, Ibu Ramlah, Ibu Ida, Ibu Norani, Bu Asnah, Bu Salmiah, Pak Darwani dan masih banyak lagi pengrajin lainnya. Menurut masyarakat pengrajin, hasil penjualan kerajinan mereka sejak bersama Yayasan Palung telah meningkat secara signifikan dan bahkan bisa membuat mereka untuk menabung. Hasil penjualan setiap bulan bisa digunakan untuk kebutuhan biaya makan dan minum dan bahkan bisa digunakan untuk memenuhi keperluan lain selain ditabung.

Ini adalah cerita sukses dari masyarakat pengrajin HHBK yang berada disekitar kawasan TNGP. Informasi yang dituliskan dalam artikel ini diperoleh dari kegiatan monitoring yang secara rutin dilakukan oleh tim SL-YP ke masyarakat pengrajin. Semoga program ini bisa terus bermanfaat bagi masyarakat disekitar TNGP. Salam lestari.

Penulis : Wendi Tamariska, Sy. Abdul Samad  dan Petrus Kanisius-Yayasan Palung

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hasil Investigasi dan Penyelamatan Orangutan dari Tahun 2004-2016 di Tanah Kayong

dokumentasi-kasus-pemeliharaan-orangutan-foto-dok-yayasan-palung

Seperti diketahui, saat ini populasi Orangutan liar di Kalimantan Barat khususnya Kabupaten Ketapang dan Kabupaten kayong Utara hampir dipastikan secara terus menerus populasi orangutan dalam beberapa decade terakhir ini semakin menurun akibat hilangnya hutan dataran rendah. Berdasarkan rekapitulasi data investigasi dan penyelamatan dari Yayasan Palung dari tahun 2004-2016, menyebutkan  jumlah orangutan yang tidak sedikit yang diinvestigasi dan diselamatkan terkait berbagai ancaman terhadap populasi dan habitat orangutan.

rekapitulasi-hasil-investigasi-dan-penyelamatan-orangutan-di-kalbar-yayasan-palung-tahun-2004-2016

Adapun data dari tahun ke tahun terkait  rekapitulasi investigasi dan penyelamatan terhadap orangutan di Kalimantan Barat, lebih khusus di dua Kabupaten, Ketapang dan Kayong Utara adalah 161 individu orangutan yang diinvestigasi dan diselamatkan (rescue) ada 150 individu orangutan.

Dari data tersebut, setidaknya hal ini terjadi erat terkaitnya dengan ancaman habitat dan populasi orangutan. Tidak bisa disangkal, kecepatan penurunan populasi orangutan dan habitatnya dengan ditandai masuknya investasi di kawasan hutan yang masih terdapat populasi orangutan diantaranya investasi pembukaan lahan berskala besar seperti perkebunan dan pertambangan.

Hal lain terkait ancaman orangutan di habitat adalah Di tengah upaya penyelamatan orangutan yang gencar didengungkan, tetapi praktek pemusnahan secara terselubung terus saja berlangsung. Perburuan dan perdagangan orangutan menjadi usaha untuk meraup keuntungan. Orangutan di dua Kabupaten ini selalu diburu, ditangkap untuk menjadi hewan peliharaan rumah, dan diperdagangkan. Meski ancaman hukuman bagi pelaku perburuan dan perdagangan orangutan cukup berat namun praktek ini masih marak terjadi.  Mengingat, dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dengan tegas menyebut, “Setiap orang dilarang menangkap, membunuh, memiliki, memelihara dan memperniagakan satwa dilindungi dalam keadaan hidup, mati atau bagianbagian tubuhnya. Pelanggaran terhadap Undang-undang ini dihukum 5 tahun penjara atau denda 100 juta rupiah”.

Kasus perburuan, pemeliharaan serta perdagangan Orangutan di dua Kabupaten ini (Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara) juga merupakan salah satu ancaman yang sangat serius bagi kelestarian Orangutan serta satwa lainnya. Perburuan Orangutan di dua kabupaten ini kebanyakan bersifat opurtunis artinya Orangutan bukan menjadi buruan utama para pemburu. Kasus perburuan sering terjadi ketika para pemburu mencari rusa, babi, kijang dan sebagainya secara kebetulan menjumpai Orangutan. Ketika hal itu terjadi biasanya Orangutanlangsung di buru dengan cara membunuh induk serta mengambil anak Orangutan baik untuk dipelihara maupun dijual kepada orang yang memiliki hoby memelihara. Sedangkan induk Orangutan yang mati kadang-kadang diambil untuk di kosumsi sebagai makanan.

Seperti misalnya pada tahun 2004-2014, Akibat masih terjadinya perburuan secara oportunis tersebut membawa dampak terhadap kasus pemeliharaan serta perdagangan Orangutan di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara. Berdasarkan hasil monitoring yang dilakukan Yayasan Palung sejak tahun 2004 s/d 2014 teridentifikasi 145 kasus pemeliharaan Orangutan, 89 Kelempiau, 28 satwa lainnya (Beruang Madu, Bekantan, Trenggiling, Burung Enggang, dan sebagainya) yang dilakukan masyarakat. Kasus pemeliharaan khususnya Orangutan terjadi baik di pemukiman masyarakat, areal perkebunan sawit, dan areal pertambangan.

Data kasus pemiliharaan orangutan dan satwa lainnya tahun 2004-2014 di Kab. Ketapang dan KKU.jpg

Dari 117 satwa lainnya yang teridentifikasi pada tahun 2004 hingga tahun 2014 sebanyak 79 %, 89 ekor adalah Kelempiau. Hal ini membuktikan bahwa kera sangat terancam di daerah Ketapang dan Kayong Utara. Selain itu juga dilihat dari tabel 1 diatas bahwa hasil monitoring setiap tahunnya tidak bisa dijadikan kesimpulan bahwa tingkat kasus pemeliharaan menunjukkan tren penurunan atau kenaikan. Dimana pada tahun 2004, Yayasan Palung mulai melakukan monitoring seluruh wilayah kecamatan yang ada di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara baik wilayah yang berada di pesisir pantai maupun di wilayah pedalaman.

Orangutan Borneo merupakan salah satu jenis primata yang menjadi bagian penting dari kekayaan keanekaragaman hayati dan merupakan satu-satunya kera besar yang hidup di Asia. Orangutan Borneo sebagian besar mendiami hutan dataran dan hutan rawa di Sabah, bagian barat daya Sarawak, Kalimantan Timur, serta bagian barat daya Kalimantan antara Sungai Kapuas dan Sungai Barito. Oleh karena itu, populasi Orangutan Borneo disepakati dibedakan menjadi tiga sub spesies yaitu Pongo pygmaeus pygmaeus yang terdapat di bagian barat laut Kalimantan yaitu Utara dari Sungai Kepuas sampai ke timur laut Sarawak, Pongo pygmaeus wurmbii yang hidup dibagian selatan dan barat daya Kalimantan yaitu antara sebelah selatan Sungai Kapuas dan barat Sungai Barito dan Pongo pygmaeus morio yang hidup di Sabah sampai Sungai Mahakam di Kalimantan Timur.

Seperti di ketahui, penyelamatan orangutan dan habitatnya berarti menyelamatkan ekosistem dari kehancuran yang bisa memberi bencana bagi masyarakat luas. Menyelamatkan orangutan dan habitatnya berarti menjamin kesejahteraan masyarakat di masa yang akan datang karena habitat orangutan yang terpelihara dengan baik akan menjamin kelangsungan jasa ekologi yang penting yang diutuhkan oleh masyarakat luas. Sampai saat ini, yang menjadi persoalan lain adalah tempat hidup baru bagi orangutan yang telah diselamatkan. Seperti diketahui, saat ini orangutan yang diselamatkan (rescue) kesulitan rumah baru mereka berupa hutan. Banyak kawasan hutan yang telah terbuka dan tidak layak untuk tempat pelepasliaran orangutan.

Oleh karena itu kepada semua pihak yang terlibat, baik pemerintah pusat, provinsi, Kabupaten pihak swasta serta masyarakat luas harus benar-benar melaksanakan komitmen penyelamatan Orangutan di Kalimantan Barat khususnya di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara. Semoga orangutan di Tanah Kayong (Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara) dapat terjaga  dan semua pihak dalam mendukung konservasi Orangutan sebagai makhluk ciptaan Yang Maha Kuasa yang juga sebagai satwa endemik dapat lestari hingga nanti.

Tulisan ini juga pernah dimuat di Kompasiana.com : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/ini-data-investigasi-dan-penyelamatan-orangutan-tahun-2004-2016-ditanah-kayong_58747d3e4f7a61c9125e61fa

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

 

(Puisi) Yang Pernah Ada Telah Hilang  

 

Dahulu negeri ini surga bagi yang empunya.

Hutan yang luas menghijau, tanah subur makmur, air jernih satwa berkicau.

Manusianya beradat, bertata krama saling menjaga dan menyapa dari hilir sampai ke hulu.

Hutan penuh pohon raksasa, mengundang selera.

Penguasa dan pengusaha, sebagai barang dagangan dalam negeri sampai ke manca negara.

Satwa langka tak luput dari incaran ibu bapanya dijagal.

Anak-anaknya ditangkap untuk tontonan penghibur putra putri orang miskin yang banyak uangnya.

Perlu kita ingatkan anak cucu.

Kita berharap, masih adakah yang tersisa?.

Kalau tidak ada, perkara besar siap menghadang mereka.

yohanes-terang-foto-dok-andi-fahrizalmongabay

Yohanes Terang. Foto dok. Andi Fahrizal Mongabay

Manjau, 15 Mei 2015

Penyampai pesan, Yohanes Terang (Tokoh Masyarakat, Aktivis lingkungan dan Dewan Pengawas Yayasan Palung)

 

Ini Kajadian Lingkungan yang Terjadi Sepanjang Tahun 2016 di Indonesia ?

 

Kabut asap yang melanda di Tanah Borneo berdampak juga pada satwa terlebih orangutan. foto Tim Laman

Kabut asap yang melanda di Tanah Borneo berdampak juga pada satwa terlebih orangutan dan makhluk hidup lainnya. Foto Tim Laman

Walaupun tahun 2016 telah berlalu dan tahun 2017 mulai berjalan, mungkin tidak ada salahnya bagi kita semua untuk melihat, mencatat, mengingat kembali peristiwa lingkungan yang terjadi sepanjang 2016 lalu di Indonesia yang tidak lain karena tidak terlepas dari campur tangan manusia.

Setidaknya dalam rentang waktu selama 12 bulan, di tahun 2016 banyak peristiwa berhadapan langsung (yang dialami secara langsung) dan tak langsung dengan kita semua di beberapa wilayah  Tanah Air (Indonesia).

Ragam kejadian tentang lingkungan yang terjadi berdasarkan beberapa catatan singkat yang terjadi di Indonesia antara lain adalah:

Pertama, Banjir di beberapa wilayah di Indonesia seperti yang terjadi pada periode Januari- Februari 2016 antara lain di Bali, Bangka Belitung, Banten, Daerah Istimewa Yogyakarta, DKI Jakarta, Gorontalo, Jambi, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Lampung, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Riau, Daerah Istimewa Aceh, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, dan Sumatra Selatan (sumber ; CCN Indonesia).  Beberapa tempat di beberapa wilayah yang menjadi langganan banjir pun tidak pelak menjadi kegaduan sekaligus peristiwa bencana air mata. Berulang dari bulan ke bulan hingga dari tahun ke tahun seolah banjir tak kunjung pergi. Bahkan di penghunjung tahun 2016, beberapa wilayah di Bandung banjir seolah enggan pergi.

banjir-foto-dok-kompas-ismail-zakaria

Banjir. Foto dok. Kompas/Ismail Zakaria

Bisa jadi ada benarnya bila banjir datang tak lain dikarenakan daya tampung air telah penuh (resapan air) berupa hutan sudah semakin jauh berkurang ataupun bahkan sudah hilang. Selain juga karena saluran air tersumbat oleh semakin banyaknya sampah. Hadirnya banjir ataupun juga banjir bandang juga terkadang berbarengan dengan terjadinya  tanah longsor. Tidak jarang korban memakan korban jiwa serta harta.

Kedua, Kebakaran lahan yang menimbulkan Kabut Asap. Kabut asap yang masih terjadi di beberapa tempat seperti di Sumatera dan Kalimantan pada bulan Agustus tahun lalu walau tidah separah ketika pada tahun 2015 silam. Terjadinya kabut asap tidak lain karena adanya pembakaran lahan. Bahkan di tahun 2016, kepolisian Republik Indonesia telah menangkap 463 individu yang diduga pembakar hutan dan lahan. Jumlah itu meningkat drastis dari 2015, yaitu 196 orang (sumber ; BBC Indonesia). Lumpuhnya transportasi udara menjadi salah satu sebab dari terjadinya bencana kabut asap.

kobaran api di wilayah kecamatan sungai laur yg dijumpai, diperkirakan untuk perladangan atau perkebunan

kobaran api di wilayah kecamatan sungai laur yg dijumpai, diperkirakan untuk perladangan atau perkebunan. Foto dok. Yayasan Palung

Hal lainnnya juga yang tidak kalah terpengaruh dari dampak kabut asap adalah anak sekolah yang bersekolah, dampak dari adanya kabut asap peserta didik diliburkan. Selain juga negara kita kerap mendapat cap sebagai pengekspor asap. Adanya kabut asap tidak hanya mengganggu tetapi juga menghambat/menghentikan pendapatan bagi beberapa maskapai penerbagan dan yang pasti juga menjadi kerugian bagi para pelaku ekonomi ataupun juga masyarakat biasa yang beraktivitas sehari-hari. Sedangkan bagi anak sekolah, proses belajar mengajar di sekolah menjadi terganggu lagi-lagi karena asap. Semakin luas pembukaan lahan berskala besar menjadi tutupan hutan dari  tahun ke tahun semakin berkurang menjelang terkikis habis.

Selanjutnya keterancaman satwa di habitat hidupnya menjadi catatan penting pada tahun 2016, Misalnya, pada tahun 2016 saja berdasarkan data penyelamatan satwa yang dilakukan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat saja telah menyelamatkan 1053 Tumbuhan dan Satwa dilindungi dari tangan para kolektor, dan penjual ilegal. Tidak bisa disangkal, perburuan dan semakin menyempitnya habitat hidup satwa seperti orangutan, kelempiau, burung enggang, trenggiling dan tumbuhan endemik berupa hutan seperti kian menyempit, nyata terancam dan terjadi saat ini.

Anak orangutan yang dipelihara oleh masyarakat di Kec. Manis Mata, Ketapang. Foto YP

Pemiliharaan dan perburuan serta semakin menyempitnya habitat orangutan menjadi ancaman serius yang terjadi saat ini. Foto dok. Yayasan Palung

paruh-enggang-yang-diburu-oleh-para-pemburu_-foto-1-dok-yayasan-palung-nop-2014

Paruh Enggang yang diburu oleh para pemburu. Foto dok. Yayasan Palung, Nop 2014

Demikian juga nasib badak, harimau dan beberapa satwa lainnya tidak kalah terancam adalah burung surga (cendrawasih). Bahkan dari tahun ke tahun jumlah dari beberapa makhluk hidup yang disebutkan tersebut kian menurun populasinya (terancam punah).

Kejadian-kejadian (peristiwa) yang terjadi pada semua makhluk hidup sejatinya menjadi sebuah permenungan kita bersama untuk menjadi perhatian bagi semua. Jika lingkungan tempat kita berdiam aman, nyaman maka sudah sepatutnya kita untuk menghargai dan memperlakukan lingkungan hidup (bumi dan segala isinya) untuk kita perlakukan secara bijaksana.

Mengingat, bumi tempat kita hidup bersama beserta segala isinya menjadi sepatutnya untuk kita jaga, rawat dan lestarikan sebagai satu kesatuan makhluk hidup yang memberi dan menerima. Semoga di tahun 2017 lingkungan kita (bumi kita) bisa terjaga dengan baik dan kejadian-kejadian bencana bisa diminimalisir atau dapat dicegah dan tidak memakan korban jiwa dan segala makhluk dapat bernafas dengan lega di tempat hidupnya masing-masing.

Tulisan ini pernah dimuat di : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/apa-saja-kejadian-lingkungan-yang-terjadi-sepanjang-tahun-2016-di-indonesia_586b6d1ab77a61de061bcb6b

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Survei Sarang Orangutan dengan Menggunakan Drone

foto-survei-drone-1

Saat melakukan survei sarang orangutan di beberapa desa di sekitar Kawasan Taman Nasional Gunung Palung, pada bulan november tahun lalu. Foto dok. YP/GPOCP

Pada tanggal (12/11/2016) tahun lalu, Yayasan palung melakukan survei sarang orangutan menggunakan drone jenis Fixed-wings. Survei ini bertujuan untuk menilai update status populasi orangutan di Taman Nasional Gunung Palung, dengan cara pendekatan baru yaitu dengan menggunakan pesawat drone berjenis Fixed-wings.

Drone ialah sebuah pesawat tanpa awak (Unmaned Aerial Vehicle (UAV) dimana perangkat ini mendukung untuk pengambilan data secara fotogrametri. Survei drone dilakukan selama 11 hari, pada 6 transek (Batu barat, Matan, Selingsing, Sempurna dan Kubing). Setiap transek memiliki beberapa kontur mulai dari Hutan rawa gambut, dataran rendah hingga hutan pegunungan. Saat melakukan survei di lapangan cuaca sering berubah menjadi mendung kemudian hujan, hal ini menyulitkan kami untuk mengambil data survei sarang karena drone hanya dapat terbang dengan cuaca yang cerah. Sehingga pada saat di transek Matan kami harus menunggu selama 2 hari hingga cuaca cerah untuk mendapatkan hasil data foto yang terbaik.

foto-survei-drone-2

Saat melakukan survei sarang orangutan di beberapa desa di sekitar Kawasan Taman Nasional Gunung Palung, pada bulan november tahun lalu. Foto 2, dok. YP/GPOCP

Saat kami mencoba menemukan transek di Sempurna tiba-tiba jalan transek terputus sehingga kami harus mencari jalan alternatif untuk menuju transek, saya mencoba menerbangkan drone berjenis multi-rotor ini relatif mudah dikendalikan dan hovering. Dan akhirnya kami bisa menemukan jalan kaki sekitar 4 jam menuju ke transek sempurna dan melanjutkan survei sarang orangutan dengan menggunakan pesawat fixed-wings.

Pengamatan sarang dilakukan dengan menganalisis hasil foto dari atas pesawat, Hasil yang didapat berupa foto hasil pesawat fixed-wings dengan ketinggian 300 m hasilnya dari foto tersebut ditemukan beberapa sarang orangutan. Hasil foto yang didapat melalui drone sangat bagus dan daerah yang disurvei bisa lebih luas. Seperti pada gambar yang telah teranalisis di bawah ini.

foto-survei-drone-3

Hasil foto yang didapatkan dari survei di sekitar Kawasan Taman Nasional Gunung Palung, pada bulan november tahun lalu. Foto dok. YP/GPOCP

By : Syahik Nurbani-Yayasan Palung (GPOCP)

Cerita tentang Kehidupan Orangutan

orangutan-nan-rawan-foto-capture-sampul-majalah-natgeo-indonesia

Keadaan (nasib) hidup orangutan saat ini dalam ancaman serius. Satwa endemik ini keberadaanny dialam bebas lebih khusus di hutan Kalimantan dan Sumatera semakin terancam punah.Orangutan Sangat Terancam Punah, Apa yang Harus Dilakukan

Bergantung di Dahan nan Lapuk

Perilaku yang sukar dipahami dan unik membuat orangutan selalu untuk selalu dinantikan oleh para peneliti baik dari dalam ataupun dari luar negeri. Mengingat, orangutan merupakan satwa yang memiliki peranan paling penting sebagai spesies payung.

Ini Istimewanya orangutan sebagai Spesies Payung

Tetapi, saat ini ancaman kepunahan selalu mengancam kehidupan oragutan dan satwa lainnya. Beberapa ancaman terhadap keberlanjutan makhluk hidup lebih khusus orangutan adalah semakin sempitnya area (wilayah) karena pembukaan lahan skala besar.

Perlu perhatian dari semua pihak untuk terus menjaga dan melindungi orangutan yang disebut juga sebagai kera besar yang ada di Asia, lebih tepatnya di hutan Kalimantan dan Sumatera (Indonesia).

Baca juga : (Dongeng) Namaku Pongo, Aku Tinggal di Hutan,

Selamatkan Hutan, Sayangi Orangutan

 

Aku Lutung Merah, Rumahku di Rimba

foto-kelasi-di-tngp-rizal-alqadrie

Kelasi yag tinggal di hutan Gunung Palung. Foto Rizal Alqadrie

Haii… aku lutung merah, karena rambutku berwarna merah. Rimba raya atau hutan adalah rumahku. Tertawaku lebar dan sedikit nyaring, demikian aku dikatakan oleh banyak orang.

Aku tertawa katanya sich mirip tertawanya manusia. kak… kak… kak… kak… kak… kak… Berulang-ulang biasanya aku tertawa.

O iya, aku tinggal selalu beramai-ramai. Dengan beramai-ramai  atau berkelompok aku bisa dengan leluasa mencari makan dan bermain di rimba. Rimba tidak lain ialah hutan. Dalam satu  kelompokku biasanya kami berjumlah 8 ekor.

Biasanya juga, kami dipimpin oleh pejantan dewasa.  Aku memiliki ekor yang panjang lho, maka aku disebut kelompok monyet atau orang mengenalku lutung merah.

Makanan kesukaanku buah-buahan dan pucuk daun. Saban waktu dari pagi hingga menjelang senja aku menjelajah hutan untuk mengisi perutku ketika aku lapar dan saat aku ingin bermain dengan teman-temanku.

Kini, kami hidup semakin tidak aman dan tidak tentram. Kami sering diusir, diburu hingga ada yang tega membunuh kami.

Tidak hanya itu, rumah kami berupa hutan juga sudah semakin sedikit. Aku dan teman-temanku semakin terhimpit di tempat asal kami berdiam. Keberadaan kami di hutan Kalimantan memang belum terancam punah, tetapi kami dalam bahaya. Jumlah kami mungkin sedikit lebih banyak dari teman kami Pongo. Nama asliku adalah Kelasi, Presbytis rubicunda,itu nama latinku.

Aku tinggal dihutan bersama teman-temanku yang saling ramah dan bertegur sapa, biasanya kami bersama-sama mencari buah.

Hilangnya hutan menjadi kekhatiran kami hanya satu sekarang ini. Kami takut harus berpindah atau terusir. Karena, rumahku berupa hutan merupakan yang paling istimewa.

Mengapa rimba atau hutan sebagai rumah yang begitu istimewa?. Dari hutan, kami bisa memperoleh sumber makanan dengan gratis.

Demikian juga kata teman-temanku manusia, jika hutan bisa terjaga maka sumber air mereka bisa terus tersedia.

Karena, hutan yang merupakan rumah kami itu, sebagai sumber dari segala sumber kehidupan semua mahluk hidup.

Aku ingin, semua kita bisa bersama makhluk lainnya termasuk manusia bisa menjaga kami. Dengan demikian kita bisa hidup dengan damai dan bisa terus senang ria hutan rimba.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

 

Tulis ini juga dapat dilihat di link : http://fiksiana.kompasiana.com/pit_kanisius/aku-lutung-merah-rumahku-di-rimba_58355ba063afbd141258c467

Di Desa Ini Orang Utan Terakhir Kali Terlihat Tahun 80-an

induk-dan-bayi-orangutan-di-gunung-palung-sedang-bercengkrama-foto-dok-tim-laman-dan-yayasan-palung

Bayi orangutan dan Induknya di Gunung Palung. Foto dok. Yayasan Palung dan Tim Laman

“Kami mendapatkan informasi di Desa yang kami kunjungi, mereka (masyarakat) terakhir kali melihat orangutan pada tahun 1980-an”.

Pekan lalu, seperti biasanya di bulan November, tepatnya dari tanggal (13-19/11/2016) Yayasan Palung memperingati Pekan Peduli Orangutan. Ragam kegiatan yang kami Yayasan Palung lakukan terkait nasib orangutan yang sangat terancam punah, salah satunya dengan melakukan kampanye penyadartahuan kepada masyarakat dan dilingkup sekolah dengan berbagai kegiatan.

Kami mendapatkan informasi di desa tersebut mereka (masyarakat) terakhir kali melihat orangutan pada tahun 1980-an. Namun saat ini,tidak ada lagi dikarenakan salah satunya oleh perburuan untuk di konsumsi. Selain juga karena disebabkan hilangnya hutan karena konversi perusahaan sawit.

Menurut pemaparan bapak Margono, Kadus Kalam, Desa Sinar Kuri mengatakan dalam sesi diskusi; nilai ekonomi dari hasil hutan seperti buahan, rotan, dan hasil hutan lainnya masih ada di desanya. seperti ginseng dan pasak bumi. Selain itu, bapak Anton, selaku Kaur Desa mengatakan, ada obat ginjal tanaman seperti kumis kucing, daun simpur dan putri malu direbus menjadi satu. Sedangkan untuk Obat typus, urat leletup yang digunakan akarnya dibersihkan dan diminum.

Selengkapnya dapat dibaca dan dilihat di link : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/di-desa-ini-orang-utan-terakhir-kali-terlihat-tahun-80-an_58342981537a61220ba8867a