Category Archives: Gunung Palung

Terkait Lingkungan Hidup, Kadisdik Ketapang Apresiasi Program Yayasan Palung

Kepala Dinas Pendidikan Ketapang, H Jahilin, di ruang kerjanya. Foto dok. Tribun Pontianak

Kepala Dinas Pendidikan Ketapang, H Jahilin, di ruang kerjanya, Kamis (5/4). Foto dok. Tribun Pontianak

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Subandi 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KETAPANG – Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Ketapang, H Jahilin mengapresiasi dan berterimakasih kepada Yayasan Palung (YP). Lantaran sejak 2012 hingga 2018 komitmen mengkuliahkan para pelajar hingga 31 orang dan di antaranya dari Ketapang.

“Kita sangat mengapresiasi program YP tersebut apalagi terkait untuk keberlangsungan lingkungan hidup flora dan fauna,” kata Jahilin kepada wartawan di Ketapang, Kamis (5/4).

Ia menilai adanya progam itu berarti ada pelajar yang memang dididik dan arahkan untuk menjaga kelestarian alam.

“Apalagi sekarang hal itu sangat penting karena hutan kita semakin sedikit sehingga flora dan fauna terancam punah,” ucapnya.

“Jadi dengan adanya pelajar di Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara yang diberi beasiswa oleh YP tersebut. Harapan kita para pelajar ini nantinya bisa menyelamatkan keberlangsungan hidup flora dan fauna di daerah kita,” lanjutnya.

Ia berharap selain para pelajar yang dikuliahkan oleh YP tersebut. Pelajar lain dan masyarakat juga memiliki kesadaran untuk menjaga keberlangsungan hidup alam. “Misalnya menjaga kelestarian orangutan agar tidak punah nantinya,” tuturnya.

Artikel ini telah tayang di tribunpontianak.co.id dengan judul Terkait Lingkungan Hidup, Kadisdik Ketapang Apresiasi Program Yayasan Palung, http://pontianak.tribunnews.com/2018/04/05/terkait-lingkungan-hidup-kadisdik-ketapang-apresiasi-programyayasan-palung.
Penulis: Subandi
Editor: Jamadin

Sumber Berita : tribunpontianak.co.id
 

Iklan

Ada Enam Pelajar Penerima Beasiswa Orangutan Kalimantan Tahun ini

Saat seleksi beasiswa, peserta seleksi menyampaikan presentasi.JPG

Saat seleksi beasiswa, peserta seleksi menyampaikan presentasi. Foto dok. Yayasan Palung

Setelah melakukan seleksi, Yayasan Palung  resmi mengumumkan enam pelajar penerima beasiswa S-1 melalui Program Peduli Orangutan Kalimantan atau Bornean Orangutan Caring Scholarship (BOCS) 2018, pada 29 Maret lalu.

Penerima beasiswa Bornean Orangutan Caring Scholarship (BOCS) 2018 dari hasil seleksi tahap akhir yang dilaksanakan pada 29 Maret 2018 adalah:

  1. Mega Oktavia Gunawan (SMK Negeri 1 Ketapang): Fakultas Kehutanan Prodi Kehutanan
  2. Aisyah (SMA Negeri 1 Matan Hilir Utara): FISIP Prodi Hubungan Internasional
  3. Cantika Peggi Nur Iskandar Putri (SMK Negeri 1 Sukadana): Fakultas Hukum
  4. Ari Marlina (SMK Negeri 1 Ketapang): Fakultas Kehutanan Prodi Kehutanan
  5. Fitri Meliyana (SMA Negeri 3 Simpang Hilir): FMIPA Prodi Biologi
  6. Anju Eranti (SMA Negeri 1 Sandai): FISIP Prodi Hubungan Internasional

Enam penerima beasiswa  BOCS tersebut, sebelumnya terlebih dahulu telah melalui tahapan seleksi dari awal hingga seleksi akhir. Adapun sebagai juri dalam seleksi penerima beasiswa adalah Juri: Ir. Evy Wardenaar, M.P (Fahutan UNTAN), Dr. Wahyono, M.Pd (STAI AL-Hauld), Akhdiyatul, S.ST., M.T (Politeknik Ketapang) dan Mariamah Achmad S.Hut (Yayasan Palung).

Para juri seleksi beasiswa dan di tengah direktur Yayasan Pa.JPG

Para juri seleksi beasiswa dan di tengah direktur Yayasan Palung. Foto dok. YP

Seperti diketahui, Beasiswa Orangutan Kalimantan  atas dasar adanya kerjasama Yayasan Palung (YP) dan Orangutan Republik Foundation (OURF), sejak tahun 2012 silam.

Semua peserta seleksi BOCS saat mendengarkan pengumuman hasil seleksi.JPG

Semua peserta seleksi BOCS saat mendengarkan pengumuman hasil seleksi. Foto dok. YP

Direktur Yayasan Palung, Terri Lee Breeden mengatakan, Program BOCS adalah salah satu favorit saya yang diimplementasikan Yayasan Palung. Program ini bertujuan untuk menciptakan generasi pemuda berpendidikan universitas yang akan bekerja untuk konservasi. Tahun ini, proses seleksi sangat sulit. Kami memiliki banyak pelamar yang luar biasa.

Untuk para pemenang, saya ingin mengucapkan selamat. Saya berharap untuk melihat kerja keras dan semangat terhadap konservasi. Untuk yang lain, saya berharap kepada penerima beasiswa tetap melanjutkan pendidikan tinggi dan bekerja menuju konservasi dalam kehidupan sehari-hari Anda, imbuh Terri lagi.

Mariamah Achmad Manager Program Pendidikan Lingkungan dan Media Kampanye Yayasan Palung sekaligus yang menangani program BOCS mengatakan, Sejak dimulainya program BOCS pada tahun 2012 hingga 2018 sudah terdapat 31 orang penerima BOCS, diantaranya 4 orang sudah sarjana dan selebihnya sedang aktif kuliah. Mereka berasal dari berbagai daerah di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara yaitu 20 orang dari Kabupaten Ketapang dan 11 orang dari Kabupaten Kayong Utara.

“Kami sangat senang mendapatkan  enam orang lagi para penerima beasiswa dari program BOCS. Program ini sudah kami jalankan dalam 7 tahun ini. Yayasan Palung sangat peduli dengan peningkatan pendidikan generasi muda di tanah Kayong, sangat baik memperbanyak generasi muda yang peduli terhadap konservasi yang memiliki berbagai latar belakang disiplin ilmu. Ini merupakan salah satu investasi penting untuk masa depan alam dan lingkungan Indonesia”, ujar Mayi.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

 

 

Hari Kasih Sayang, Tak Hanya Soal Pasangan tetapi “Mereka (Orangutan)” Juga Perlu

Pesan kami semua, Kami sayang orangutan. Yayasan Palung

Pesan kami semua, Kami sayang orangutan. Yayasan Palung

Kasih sayang sudah menjadi hak dan kewajiban bagi kita semua untuk melaksanakannya (menerapkannya/melakukannya/mempraktekannya) dalam tatanan kehidupan sehari-hari kita kepada siapa saja tanpa memilah dan memilih.

Kecenderungan saat ini, kasih sayang itu hanya identik dengan wanita atau pasangan kita semata. Lalu, bagaimana kasih sayang kita kepada  “mereka”?. siapa mereka itu?.

“Mereka” yang dimaksud tidak lain dan tidak bukan adalah orangtua kita, saudara/i kita dan sesama kita. Tidak hanya itu, “mereka” satwa, tumbuhan dan lingkungan juga memerlukan cinta dan kasih sayang yang sejatinya tak lekang oleh waktu.

Tidak bisa disangkal, cinta dan kasih sayang kepada sesama, kepada lingkungan (alam semesta), kepada satwa kini serasa sudah semakin memudar.

Tengoklah cinta yang bertepuk sebelah tangan terhadap lingkungan sehingga alam lingkungan berurai air mata tertumpah yang tak jarang menjadi banjir bandang yang menerjang sesuka hatinya. Satwa yang disiksa dan meregang nyawa…

Baca Selengkapnya : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/5a83d762f13344305913c112/hari-kasih-sayang-tak-hanya-soal-pasangan-tetapi-mereka-juga-perlu

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Apa Salah dan Dosamu Orangutan?

baby kiss sweets. Foto dok. Tim Laman

Baby Kiss Sweets. Foto dok. Tim Laman

Engkau dipuja dan didera ini adanya nyata

Itu yang tersaji kala engkau  hidup dan menetap di habitatmu

Dipuja ketika dirimu disayang dan didera ketika dirimu terus terusik mendera

Letupan demi letupan senapan tak segan merampas hak hidupmu

Derai air matamu terlihat tak kuasa tercurah tumpah mengengok pongahnya dunia

Pahit getir mungkin atau memang ini yang dirasa sebab tak kuasa

Tak kuasa menahan ratusan peluru tak segan bersarang merengkuh hampir di seluruh tubuh,

hingga tak jarang meregang nyawa

berkata mengata,

apa dosamu kini ?

bertanya karena sebab,

sejauh mata memandang terlihat tiada ampun membabat habitat

tanpa ampun dan belas kasihan

memutus jalur alur keturunanmu

dipenjara, dipelihara dan tak jarang disiksa

memutus mata rantai peranmu sebagai penyebar biji, penjaga dan pemilihara tanam tumbuh di rimba raya

Realita tentu sebagai penanda

Kini, apa yang ditakut-takuti benar terjadi

Tajuk menjulang tinggi kini kian terkikis berganti tanam tumbuh baru,

gedung bertingkat pencakar langit

tengok korban di lubang-lubang pengganti,

lihat deru arus menerjang tak beraturan menghantam dan membawa kesegala arah

tanpa ada yang mengira kapan akan terjadi dan berlalu

cumbu belaian kasih kepadamu menanti disapa menyapa

inginku mengalahkan koar suara deru mesin yang tak jemu berisik saban waktu

tetapi mampukah?

Lagi-lagi dan lagi itu yang terjadi, tak bosan terus berulang

Rinai rintik tak lagi sanggup terserap tanah dan akar,

Tak sanggup menampung jua menopang tajuk-tajuk rimbun yang kian rebah karena lelah tak berdaya

Ingin menjalar namun terlanjur dikikis hingga menjelang habis

Rona nanar tak jarang berpadu mengadu,

Mencari, memilah, berkisah

Tentang dirimu yang dipuja juga didera

Tetapi apa dosamu sehingga engkau selalu didera menderita sampai merenggut nyawamu

Satwa endemik yang disematkan kepadamu dan sebutanmu sebagai spesies kunci apakah nanti bisa lestari hingga nanti atau tinggal cerita,

Hanya bertanya, apa dosamu orangutan?

Hanya itu.

 

Tulisan ini sebelumnya telah di muat di Kompasiana: https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/5a7bf9fecbe5232f000e4e82/puisi-apa-salah-dan-dosamu-orangutan

Ketapang, Kalbar 08 Februari 2018

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

 

Video Keragaman Satwa di Gunung Palung

Banyak hal yang telah dilakukan oleh para peneliti saat mereka melakukan aktivitas penelitian di Kawasan Taman Nasional Gunung Palung. Salah satunya keragaman satwa yang berhasil di dokumentasikan lewat video.

Terima kasih kepada Brodie Philp (Manager Penelitian OH) yang telah mendokumentasikan aktivitas satwa melalui video. Terima Kasih juga kepada Rizal Alqadrie yang telah menjahitnya (mengeditnya) menjadi film singkat. Selamat menyaksikandan semoga bermanfaat sebagai sumber informasi dan ilmu pengetahuan.

Pit-Yayasan Palung

Cerita Pendek : Kindness (Kebaikan)

Orangutan yang mendiami hutan Gunung Palung. Foto dok. Brodie Philp, Yayasan Palung

Orangutan yang mendiami hutan Gunung Palung. Foto dok. Brodie Philp, Yayasan Palung

Alkisah, tinggallah satu induk Orangutan bersama anaknya, yang bernama Pongo. Suatu kali, Pongo ingin merasakan buah Ara tepat di depan matanya. Sambil digendong ibu nya, Pongo bertanya, “Bu, bolehkah Pongo ambil buah itu?”. Ibu nya yang mendengar itu lantas berkata, “Tentu saja. Jangan lupa untuk meminta izin terlebih dahulu”. Pongo mengerennyutkan dahinya, “ Pohon saja tidak bisa berbicara, bagaimana Pongo tahu jika dia mengizinkan ku?”

“ Jika dia menggoyangkan daunnya,maka dia mengizinkan mu”.

Pongo yang mendengar itu lantas meminta izin pada pohon Ara yang besar nan lebat tersebut. Sungguh mustahil menurutnya jika pohon itu berinteraksi dengannya.

“Hai, Pohon Ara, bolehkah Pongo meminta buah mu yang lezat ini?”

Tak lama berselang, pohon ara pun menggoyahkan daunnya. Pongo yang melihat itu awalnya ragu, lalu memetik 4 buah ara, termasuk untuk ibunya.

“Ibu benar!…. Ia mengizinkanku!”… seru Pongo.

“Baguslah jika begitu,” balas Ibu nya.

Setelah memberi buah itu, Pongo mencoba untuk mengetahui kenapa pohon bisa begitu. Dia sangat penasaran.

“Bu, kenapa bisa begitu? Kenapa dia bisa hidup? Sedangkan dia saja tak bisa berbicara”

Pongo harus tahu, jika awalnya, pohon tidak seperti itu,”

Mulailah Ibu Pongo berdongeng tentang Kisah Pohon dan Alam. Dulu dulu dulu sekali, mereka hidup bahagia. Bahkan bisa berbicara satu sama lain. Namun, pohon yang berperilaku angkuh, merasa diri nya lah yang paling hebat.

“Apa kalian ini?! Tanpa keberadaan ku, kalian tak bisa hidup. bahkan Alam tak sanggup menanggung semua keperluan hidup kalian. Karena aku, kalian bisa makan! Kalian bisa tetap bernafas! Kalian terhindar dari tanah longsor! Kalian bisa tetap mendapatkan air yang jernih karena penyaringan yang dilakukan akar ku!”, ucap pohon songong.

Alam yang mendengar itu murka, tak terima telah direndahkan oleh pohon, dia langsung berseru;

“Hei, Pohon! Kuperingatkan kau! Karena aku, kau masih bisa hidup sampai sekarang. Kau pikir, siapa yang sudah memberi mu air untuk minum?. Siapa yang memberimu cahaya untuk berfotosintesis?. Siapa yang memberi mu tanah untuk tinggal dan bertahan?. Siapa yang memberi mu angin untuk menyebarkan serbuk sari mu agar generasi mu tetap ada di muka bumi ini?. Tanpa aku, kau bukanlah apa-apa!”.

Pohon dan alam bertengkar, hingga turunlah Tuhan ke Bumi. Dia tampak marah dengan perilaku pohon dan alam yang egois.

“Hei, Pohon dan Alam! Sesengguhnya, Aku-lah yang menciptakan kalian agar saling melengkapi kekurangan kalian. Karena kalian bersikap demikian, akan kucabut kelebihan kalian dalam  berbicara!”.

Akhirnya, Pohon dan Alam tak dapat lagi berbicara. Pongo yang mendengar Kisah itu hanya mengangguk. Paham apabila hidup tak senantiasa tentang kelebihan, namun juga saling melengkapi kekurangan. Ibu Pongo yang telah menceritakan kisah itu, memeluk Pongo dengan erat.

“Apapun yang terjadi, tetaplah lakukan kebaikan. Hindari sikap angkuh mu dan perhatikan sekitar mu, Nak”, nasihat Ibu Pongo pada buah hati tercintanya.

Pongo hanya tersenyum dan memeluk Ibunya lebih erat.

 

—TAMAT—

 

Minggu, 17 Desember 2017

Desa Pampang Harapan, Kabupaten Kayong Utara, Kalbar

Mega Oktavia G., (Relawan TAJAM Yayasan Palung, Sekolah di SMKN 1 Ketapang)

Mengapa Kita Penting untuk Merayakan Pekan Peduli Orangutan?

Stiker PPO 2017. Foto dok. Yayasan Palung

Stiker PPO 2017. Foto dok. Tim Laman dan Yayasan Palung

Setiap tahun Pekan Peduli Orangutan (PPO) selalu diperingati setiap November. “Act Now Preserve to Future adalah tema yang diusung pada tahun ini, atau kurang lebih jika diterjemahkan “Bertindak Sekarang untuk Mempertahankan Masa Depan”.

Mengapa Pekan Peduli Orangutan Itu Perlu Dirayakan?

Terri Lee Breeden selaku Direktur Program Yayasan Palung mengatakan, Orangutan sangat terancam punah, artinya tidak banyak yang tersisa. Jika kita tidak bekerja sekarang untuk menyelamatkan orangutan dan habitatnya maka mereka akan punah dalam masa hidup kita. Tidak adil rasanya jika generasi mendatang tidak peduli dan mengusir hewan ini.

Lebih lanjut, Terri, demikian sapaannya sehari-hari mengatakan, Yayasan Palung mengajak orang-orang dari seluruh dunia, terutama di Ketapang dan Kayong Utara untuk mengikuti Pekan Peduli Orangutan. Tujuan kami adalah untuk melakukan penyadartahuan kepada semua lapisan masyarakat tentang mengapa orangutan sangat istimewa dan aktivitas sederhana yang dapat mereka lakukan untuk membantu menyelamatkan orangutan.

Tahun ini, Yayasan Palung sebagai lembaga konservasi orangutan bersama dengan para relawan dalam rangka memperingati PPO 2017 akan melakukan serangkaian kegiatan seperti lomba mewarnai gambar orangutan untuk anak-anak usia dini tingkat Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar di Desa Pampang Harapan, Sabtu (18/11/2017), pekan ini. Gambar-gambar orangutan hasil dari lomba mewarnai tersebut selanjutnya di posting di dalam media sosial dengan hastag (#) #OrangutanCaringWeek #OrangutanCaringWeek2017 #YayasanPalung #PPO #PPO2017

Tidak hanya itu, Relawan RebonK (Relawan Bentangor untuk Konservasi) juga akan menyuguhkan drama yang bercerita tentang kisah hidup orangutan di hutan.

Selanjutnya, pada malam harinya rencananya akan dilakukan pemutaran film lingkungan yang lokasinya di halaman Kantor Yayasan Palung tepatnya di samping kantor Desa Pampang Harapan. Rencananya film-film yang akan diputar adalah film konservasi dan satwa dilindungi tidak terkecuali film orangutan sekaligus juga melakukan sosialisasi tentang satwa dilindungi, ujar Hendri Gunawan, selaku panitia kegiatan dan pembina para relawan.

Di tempat yang berbeda, teman-teman Penerima Beasiswa Orangutan Kalimantan (BOCS) yang juga akan mengadakan serangkaian kegitan dalam rangka PPO 2017. Adapun kegiatan yang dilakukan adalah Pendidikan Lingkungan di Panti Asuhan “NURUL IMAN” Sungai Rengas, Pontianak, pada Minggu (19/11/2017). Di Panti Asuhan, teman-teman BOCS akan melakukan rangkaian kegiatan seperti Penyampaian materi tentang; Manusia, Hutan dan Orangutan. Dilanjutkan dengan Pemutaran film pendek dan diskusi, ujar Ranti Selaku pembina teman-teman BOCS.

Berharap, semoga kegiatan PPO 2017 dapat berjalan sesuai dengan rencana dan mendapat respon baik dari masyarakat sebagai sumber informasi dan penyadartahuan untuk peduli terhadap orangutan sebagai satwa endemik dan habitatnya.

Tulisan ini juga dimuat di Kompasiana

UC Media

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Jaga Tradisi, Rawat Bumi di Panen Raya 2017

Capture foto dari Net TV ketika Yayasan Palung pameran PARARA 2017

Capture foto dari Net TV ketika Yayasan Palung pameran PARARA 2017

Festival Panen Raya Nusantara (PARARA) kembali digelar tahun ini. Festival yang sudah memasuki penyelenggaraan kedua ini digelar di Taman Menteng, Jakarta, pada 13-15 Oktober 2017, kemarin.

Tahun ini tema festival PARARA adalah “Jaga Tradisi, Rawat Bumi”. Dikutip dari situs   panenrayanusantara.com, menjaga tradisi dan merawat Bumi merupakan bentuk kearifan leluhur bangsa Indonesia yang terbukti berhasil dalam mempertahankan kelestarian sumber daya alamnya.

Leluhur bangsa Indonesia hanya mengambil sumber daya alam sesuai kebutuhan dan secara kolektif melakukan pengawasan akan kelestarian alam. PARARA mengajak masyarakat untuk kembali pada praktik leluhur Indonesia, yaitu menjaga tradisi dan merawat Bumi agar sumber daya alam tetap lestari.

PARARA 2017 bukan sekadar perayaan, namun juga terobosan bagi community enterprises (perusahaan berbasis masyarakat) yang berkelanjutan. Festival ini berusaha menjadi katalisator guna mendukung penjualan produk-produk lokal yang berkelanjutan dengan menggaet para pengambil keputusan serta konsumen.

Isu kebijakan lintas sektoral yang mempengaruhi keberhasilan, atau bahkan kegagalan, inisiatif masyarakat di bidang ini akan dibahas selama festival berlangsung. Melanjutkan kesuksesan penyelenggaraan tahun 2015, PARARA 2017 akan menjadi ruang bersama yang mempertemukan produsen, konsumen, serta para pelaku pendukung lainnya untuk berinteraksi dan berkolaborasi guna mempromosikan konsumsi dan pola produksi berkelanjutan di Indonesia.

Yayasan Palung yang juga merupakan bagian dari konsorsium PARARA ikut ambil bagian dalam kegiatan Festival PARARA 2017 dengan menampilkan produk kewirausahaan dari kelompok perajin dampingan Yayasan Palung dari Kabupaten Kayong Utara.

Dalam rangkaian festival PARARA 2017, Yayasan Palung mengikutsertakan 6 perajin yang tersebar di desa-desa di KKU seperti perajin dari Desa Pangkalan Buton dan Desa Sejatera. Para perajin tersebut berasal dari kelompok UKM Ida Craft, UKM Peramas Indah dan Kelompok Karya Sejahtera.

Adapun kreasi yang ditampilkan melalui Stan pameran, YP  menampilkan produk-produk lokal seperti kerajinan dan tananaman obat serta rempah-rempah yang berasal dari produk hutan. Semua produk tersebut merupakan produk-produk hasil hutan bukan kayu (hhbk) yang tersebar di sekitar wilayah Taman Nasional Gunung Palung, Kabupaten Kayong Utara.

 Tulisan ini juga dimuat di: https://student.cnnindonesia.com/inspirasi/20171011103628-454-247609/merawat-bumi-di-festival-panen-raya

Video liputan saat PARARA 2017 Digelar

Petrus Kanisius- Yayasan Palung

Si Pongo Endemik dari Hutan Kalimantan dan Sumatera

Orangutan remaja di Gunung Palung. Foto dok. Yayasan Palung.jpeg

Orangutan remaja di Gunung Palung. Foto dok. Yayasan Palung

Pongo adalah nama panggilanku, namaku ada juga yang menyebutku orang utan atau ada pula yang menyebutku orangutan. O iya terkait namaku banyak sekali, ada juga lho yang menyebutku mayas atau mawas. Aku dan kawan-kawanku pongo lainnya berasal dari hutan-hutan Kalimantan dan Sumatera.

Mengapa kami disebut Pongo ya ?. Pongo merupakan nama latinku yaitu Pongo pygmaeus dari Kalimantan dan Pongo abelli dari Sumatera.

Sepanjang waktu aku selalu mengitari (menjelajahi) hutan mencari makan berupa buah-buahan hutan, kulit kayu, serangga, rayap dan daun-daun muda. Sembari bermain dan bersanda gurau dengan sahabat dan sejenisku. Ketika malam hari kami ingin merasakan tidur yang nyenyak, nyaman dan mimpi yang indah. Menjelang malam, aku selalu selalu disibukan untuk membuat sarang baru.

Kami Pongo adalah jenis kera besar yang ada di dunia selain sahabat-sahabat kami seperti Gorila, Simpanse dan Bonobo, mereka tinggal jauh di hutan-hutan Afrika. Mengapa kami disebut kera ya ?, kami disebut kera karena kami tidak memiliki ekor. Sedangkan yang berekor adalah monyet seperti bekantan, kelasi, lutung dan beruk.

Ada juga teman kami sebangsa kera, tetapi mereka kera kecil. Ya, teman-teman kami tersebut adalah kelempiau.

Mengapa kami disebut endemik, ya karena penyebaran populasi dan habitat kami tidak ada di lokasi lain, hanya tersebar di Pulau Borneo dan Sumatera.

Terancam punah karena banyak hal yang terjadi menimpa nasib kami (Pongo) dan sesama kami binatang lainnya. Kami sudah semakin sulit menjelajahi hutan dan berkembang biak. Sedihnya lagi kami selain hilangnya luasan hutan di Sumatera dan Kalimantan juga karena kami sering diburu, dibunuh, dipelihara, diperjualbelikan serta di konsumsi. Itu yang membuat kami (Pongo) sedih teman-temanku manusia.

Jika boleh dikata, aku Pongo dari Kalimantan dan teman-temanku Pongo dari Sumatera kini dilindungi oleh undang-undang lho, tepatnya UU no. 5 tahun 1990. Setiap orang dilarang melukai, membunuh, memilihara satwa dilindungi, mengangkut atau memperdagangkan/memperniagakan. Jika melanggar dihukum dengan hukuman penjara 5 tahun dan denda 100 juta rupiah. Semoga semua orang dapat peduli dan melindungiku ya?.

Kami (Pongo) dikenal sebagai penyebar biji, dari biji dari sisa-sisa makanan kami kami tebar/sebar/tanam kembali. Adanya kami hutan di sekitar kami pun masih ada, masih bisa tersemai.

Aku dan teman-temanku Pongo yang lainnya kini semakin sulit, hutan sebagai tempat hidup dan berkembang biak kami selama ini sudah semakin habis. Bagaimana nasibku nanti jika hutan sebagai rumah dan nafas hidupku hilang?.

Aku dan sesamaku Pongo yang lainnya hanya bisa berharap, agar hutan sebagai penyambung nyawa kami bisa berlanjut dan sesamaku manusia bisa menjaga melestarikan kami selamanya.

Tulisan ini juga dimuat di :

CNN Indonesia : https://student.cnnindonesia.com/edukasi/20171013103618-445-248129/si-pongo-endemik-dari-hutan-kalimantan-dan-sumatera

Medium.com : https://medium.com/@petruskanisiuspit/cerpen-si-pongo-endemik-dari-hutan-kalimantan-dan-sumatera-84c46092a7ac

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

 

Cheryl Knott Raih Pongo Award 2017 Atas Konservasi Orangutan di Kalimantan

Cheryl Knott saat menyampaikan kata sambutan ketika menerima penghargaan lingkungan Pongo Award 2017. Foto dok. Yayasan Palung.jpg

Cheryl Knott saat menyampaikan kata sambutan ketika menerima penghargaan lingkungan Pongo Award 2017. Foto dok. Yayasan Palung

Hari sabtu (7/10/2017) pekan lalu, merupakan hari yang sangat bahagia dan bersejarah bagi Dr. Cheryl Knott dan GPOCP. Alasannya, tak lain karena dihari itu beliau menerima pengargaan lingkungan dengan nama; Pongo Award 2017.

Award tersebut diberikan atas dasar upaya dedikasi Cheryl Knott dalam melakukan penelitian dan melestarikan spesies orangutan di Kalimantan dan memberdayakn masyarakat melalui penyadartahuan selama kurang lebih seperempat abad.

Penghargaan diserahkan secara langsung oleh Yayasan Orangutan Republik di Pasadena, California, Amerika Serikat.

Seperti diketahui Yayasan Orangutan Republik merupakan mitra kami dalam beasiswa peduli orangutan Kalimantan. Terima kasih kepada Orang Utan Republik dan Gary Shapiro untuk menghormati kita dengan cara ini, kata Cheryl Knott dalam sambutannya ketika menerima penghargaan tersebut.

Yayasan OURF (Orang Utan Republik) seperti diketahui merupakan badan amal yang didukung publik dengan misi menyelamatkan orangutan liar melalui inisiatif pendidikan dan proyek kolaboratif yang inovatif. GPOCP sebagai mitra OURF bersama organisasi dan masyarakat Indonesia berupaya untuk mempromosikan pendidikan penjangkauan dan solusi berkelanjutan untuk konservasi orangutan dan habitat hutan hujan jangka panjang salah satunya melalui program beasiswa peduli orangutan. Program pendidikan yang sensitif dan efektif untuk mendorong tindakan konservasi berbasis masyarakat dikembangkan dan dilaksanakan untuk menyelamatkan habitat hutan dan spesiesnya.

Berikut biodata singkat Prof. Cheryl Knott, PhD. Berumur 54 tahun dan merupakan salah seorang profesor Biologi Antropologi di Boston University. Beliau juga mengajar di universitas yang sama. Sebelumnya, Cheryl pernah mengajar di Harvard University. Ibu Cheryl, begitu dia sering disapa juga meneliti tentang orangutan di Stasiun Penelitian Cabang Panti (SPCP), Taman Nasional Gunung Palung (TNGP) sejak tahun 1992 hingga saat ini. Cheryl Knott juga merupakan Eksekutif Direktur Yayasan Palung (YP) atau Gunung Palung Orangutan Conservation Program (GPOCP).

Berharap, semoga hutan dan orangutan bisa lestari hingga nanti sebagai sumber ilmu pengetahuan lebih khusus orangutan sebagai satwa endemik yang saat ini keberadaannya semakin terancam punah.

Tulisan ini juga dimuat di UC News; Ilmuan Cheryl Knott Raih Pongo Award 2017 Atas Konservasi Orangutan di Kalimantan : http://tz.ucweb.com/10_1Eeta

CNN Indonesia : https://student.cnnindonesia.com/inspirasi/20171013161158-454-248216/penghargaan-untuk-sang-pelestari-orangutan

Petrus Kanisius-Yayasan Palung