Category Archives: BOCS

Tidak Hanya Belajar di Kelas tetapi Turun Secara Langsung di Alam

IMG-20180824-WA0006

Saat belajar secara langsung dengan anak-anak di alam tentang tumbuhan (morfologi daun). Foto dok : Yayasan Palung

Tidak terasa perkulihan  pada semester dua di Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura (UNTAN) telah saya lalui, ketika liburan semester genap berlangsung sebagai salah seorang penerima BOCS (Bornean Orangutan Caring Scholarship) atau Beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan saya berkewajiban untuk magang. Seperti penerima-penerima BOCS sebelumnya, waktu dan tempat magang bagi penerima BOCS baru telah ditentukah dari pihak Yayasan Palung.

Hanya ada dua tempat lokasi magang, yaitu Kantor Yayasan Palung Ketapang dan Kantor Yayasan Palung (Bentangor). Untuk magang kali ini saya ditempatkan di Kantor Yayasan Palung (Bentangor) Kabupaten Kayong Utara.

Selama lebih dari tiga minggu magang (di bulan Agustus 2018), banyak pengalaman dan keseruan yang saya dapatkan. Saya telah melakukan berbagai kegiatan baik mengikuti program Sustainable Livelihoods (SL) atau program pemberdayaan dan pendampingan terhadap masyarakat, dan program Pendidikan Lingkungan (PL).

Pada minggu pertama, kegiatan saya awali dengan mengikuti acara Kayong Expo 2018 atau pameran di Pantai Pulau Datok. Kegiatan tersebut berlangsung selama lima hari. Yayasan Palung bekerja sama dengan Lembaga Pengolahan Hutan Desa (LPHD) membuka lapak produk Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) dari pengrajin dan petani binaan Yayasan Palung. Sebagai tenaga magang, saya bertugas menjaga lapak dan menjelaskan kepada pengunjung yang saya ketahui tentang produk-produk hasil olahan HHBK. Aktifitas ini menjadi sangat menarik karena antusias warga lokal atau luar yang sangat berminat untuk membeli produk-produk yang dipamerkan, seperti: tikar, lekar, tas, madu, minyak kelapa, dan lain-lain.

Sedangkan di minggu kedua, saya terfokus pada Program SL. Kegiatan yang kami lakukan adalah Pemetaan Damplot di  kebun durian petani Meteor Garden di Dusun Pampang, Desa Pampang Harapan, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Kayong Utara, selama tiga hari. Seperti yang kita ketahui kebun para petani Meteor Garden berbatasan langsung dengan kawasan Taman Nasional Gunung Palung (TNGP).

Sebagai daerah yang rawan konflik pemangku kepentingan, jadi perlu adanya pengambilan data sebagai penanda kebun durian milik para petani Meteor Garden. Sebagai asisten tim survey, saya bertugas mengambil data titik koordinat tanaman durian. Adapula kegiatan membibitan cabai di rumah pembibitan kelompok petani Meteor Garden. Disini saya membantu petani selama proses pembibitan. Mulai dari menggemburkan tanah dan mencampurnya dengan kompos organic, mengisi polibag, hingga pembibitan.

IMG-20180824-WA0005

Saat memberikan materi tentang satwa dilindungi kepada anak-anak dengan media boneka. Foto dok : Yayasan Palung

Kemudian pada minggu ketiga, saya mengikuti kegiatan Pendidikan Lingkungan (PL) di SD 19 Sukadana. Dalam kegiatan ini Yayasan Palung mengajak siswa-siswi belajar lingkungan melalui Puppet Show dan Fieldtrip. Bersama satu orang Relawan Konservasi REBONK dan kedua teman saya dari BOCS, kami mempertunjukan Puppet Show (atau pertujukan boneka satwa) dihadapan 60 orang siswa-siswi dari kelas satu hingga kelas empat. Materi yang kami sampaikan berupa pengenalan satwa dan status keterancaman satwa yang dilindungi, reperti orangutan, bekantan, enggang, dan teringgiling. Pendidikan lingkungan melalui Puppet Show dengan menggunakan boneka satwa disampaikan agar materi dapat terserap dengan mudah dan menarik. Selanjutnya kami melanjutkan kegiatan belajar di alam di jalur fieldtrip Yayasan Palung Bentangor. Saya juga berkesempatan untuk menyampaikan materi tentang morfologi daun, Hasil Hutan Buakn Kayu (HHBK), dan pupuk kompos.

Penulis : Ilham Pratama, Mahasiswa Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura, Penerima Beasiswa BOCS

Iklan

Rayakan Hari Orangutan Internasional 2018, Yayasan Palung Lakukan Ragam Kegiatan untuk Menjaga Si Petani Hutan Melalui Budaya

Cerita tentang satwa dilindungi saat IOD 2018 (2).JPG

Relawan Tajam  Yayasan Palung Bercerita tentang satwa dilindungi saat acara IOD 2018 di Citimall Ketapang pada (19/8), kemarin. Foto dok : Yayasan Palung

Minggu (19/8/2018) kemarin, Dunia Internasional  memperingati Hari Orangutan Internasional atau International Orangutan Day (IOD)/ atau biasanya disebut juga World Orangutan Day (WOD)/Hari Orangutan Sedunia 2018. Tahun ini, Yayasan Palung bersama para relawan untuk bersama mengajak  untuk peduli terhadap si petani hutan (orangutan), salah satunya melalui budaya.

Dalam gelaran untuk merayakan hari orangutan internasional 2018 kemarin, Yayasan Palung bersama para relawan Tajam, RebonK dan Penerima Beasiswa Orangutan Kalimantan (BOCS) menyelenggarakan berbagai kegiatan yang dilaksanakan di Citimall Ketapang, diantaranya seperti panggung boneka (puppet show) yang disuguhkan oleh relawan Tajam, penampilan teater dari relawan Bentangor, dan lomba Syair gulung di tingkat Sekolah Dasar.

teater saat IOD.JPG

Aksi teatrikal (teater) yang ditampilkan oleh Relawan RebonK Yayasan Palung saat acara Hari Orangutan Internasional (19/8), kemarin. Foto dok : Yayasan Palung

Ada pun tema yang diketengahkan oleh Yayasan Palung pada Hari Orangutan Internasional tahun 2018 adalah; “Menjaga Si Petani Hutan Melalui Budaya”, Si Petani hutan yang dimaksud pun tidak lain adalah orangutan.  Menjaga si petani hutan melalui budaya menjadi satu ajakan kepada semua pihak untuk peduli terkait nasib dari orangutan saat ini karena berbagai ancaman yang ada pada satwa endemik tersebut.

Kegiatan dimulai pada pukul 13.00 Wib, dibuka secara resmi oleh Direktur Yayasan Palung. Ragam rangkaian kegiatan seperti perlombaan Syair Gulung, diselang seling dengan adanya suguhan penampilan panggung boneka (puppet show) yang bercerita tentang kehidupan satwa liar di hutan seperti orangutan, burung enggang dan bekantan. Orangutan sebagai satwa yang sangat terancam punah, dan burung enggang sebagai satwa penyebar biji (si petani hutan). Sedangkan bekantan merupakan satwa endemik yang hanya hidup di pulau Kalimantan saja.

Sedangkan atraksi aksi teatikal (teater) bercerita tentang menjaga  kehidupan di hutan. Dalam teater tersebut, relawan RebonK mengajak menjaga hutan  peninggalan nenek moyang. Sebagai tokoh dalam cerita, Pak Amat yang di Perankan oleh Egi, RebonK sebagai sosok penjaga hutan yang bijaksana serta tidak tergoda dengan bujuk rayu dan berhasil menangkal segala ancaman yang datang seperti penebangan liar atau pun ilegal loging dan perburuan liar live music  dari Egi’s & Friend yang menampilkan lagu-lagu tentang lingkungan.

Egi's and Friend band saat mengisi acara IOD.JPG

Egi’s and Friend band saat mengisi acara IOD 2018. Foto dok : Yayasan Palung

Pada perlombaan Syair Gulung, peserta lomba melantunkan syarir gulung yang merupakan bagian dari budaya. Peserta lomba syair sebagian besar menyampaikan pesan kepada khalayak (masyarakat luas) dan ajakan terkait pesan-pesan moral lingkungan, dan kecintaan mereka tanpa harus memiliki atau memilihara satwa dilindungi. Sebagai Pemenang pertama dalam lomba Syair Gulung adalah Uti Al Faldan, dari MIN Ketapang. Sedangkan pemenang kedua adalah Girink Clara Belo dari SDN 05 Delta Pawan, pemenang ketiga Syarif Levi Nasira Sahab dari SDN 04 Benua Kayong dan pemenang keempat adalah Safitri  Kirani dari SDN 20 Delta Pawan. Untuk hadiah, para pemenang mendapatkan hadiah berupa paket hadiah, plakat dan sertifikat.

peserta lomba berfoto bersama.JPG

Peserta lomba berfoto bersama setelah pengumuman lomba Syair Gulung dalam acara IOD 2018. Foto dok : Yayasan Palung

Sebagai juri dalam perlombaan Syair Gulung di tingkat Sekolah Dasar dalam rangka IOD 2018 tersebut adalah Raden Abdillah dan Wijaya.

Dalam kata sambutannya, Direktur Program Yayasan Palung, Terri Lee Breeden mengatakan; “Acara kami yang diadakan di Citi Mall untuk International Orangutan Day 2018 adalah sukses besar”.

Selain itu lebih lanjut menurut Terri, Ia merasa terkesan pada kapasitas para kelompok relawan, yang mana para relawan muda kami bekerja untuk mengatur dan melakukan pertunjukan yang hebat. Kami menjangkau khalayak luas dan dapat menyampaikan pesan tentang ancaman yang dihadapi orangutan saat ini dan apa yang dapat kita semua lakukan untuk membantu melindungi mereka dan habitat hutan mereka. Saya ingin berterima kasih kepada semua orang atas kerja keras mereka dan menantikan acara seperti ini di tahun-tahun mendatang’’, ujar Terri lagi.

Winda Lestari, Relawan Tajam angkatan pertama sekaligus sebagai ketua panitia kegiatan IOD 2018 mengatakan;  Kegiatan seperti ini (IOD/WOD 2018) sangat bagus sekali dilakukan karena rangkaian kegiatan sudah menjadi aksi kampanye untuk satwa yang dilindungi seperti perlombaan syair gulung pun tersaji dan tersirat pesan moral konservasi. Selain itu juga syair gulung menjadi aksi yang nyata melalui budaya.

Sementara itu, Junardi dari Mahasiswa penerima Beasiswa BOCS mengatakan, kegiatan hari orangutan internasional yang diselenggarakan sudah berjalan dengan sukses, berharap di tahun-tahun mendatang kegiatan seperti ini bisa lagi diselenggarakan dengan peserta yang lebih banyak dan di tempat-tempat yang strategis agar bisa menjangkau masyarakat.

Pada kegiatan tersebut, terlihat antusias dari para tamu undangan dan para peserta lomba yang ikut ambil bagian dalam acara IOD tersebut. Pada malam harinya, Yayasan Palung bersama para relawan dan Mahasiswa BOCS melakukan pemutaran film lingkungan di Citimall. Ada pun film lingkungan yang diputar sebagai media penyadartahuan/kampanye  dan hiburan kepada pengunjung. Ada pun film  yang di putar antara lain adalah film Asimetris, film Indonesia Diambang Kepunahan dan film Sampah Man.

Saat pemutaran film lingkungan dalam rangka IOD 2018 di Citimall Ketapang sebagai upaya kampanye penyadartahuan  (1).jpg

Saat pemutaran film lingkungan dalam rangka IOD 2018 di Citimall Ketapang sebagai upaya kampanye penyadartahuan kepada masyarakat luas. Foto dok : Yayasan Palung

Lewat IOD/WOD 2018 ajakan kepada semua untuk peduli pada satwa lebih khusus orangutan dan satwa dilindungi lainnya. Selain juga merupakan satu cara penyampaian kampanye penyadartahuan kepada masyarakat luas untuk ikut berperan serta ambil bagian berperan dan berharap ada semangat yang semakin tumbuh dari semua pihak untuk semakin peduli pada nasib hutan dan satwa sebelum terlambat. Berharap Si Petani Hutan bisa lestari hingga nanti. Semua rangkaian kegiatan Hari orangutan Internasional 2018 berjalan sesuai rencana dan sukses.

berfoto bersama setelah selesai kegiatan IOD atau WOD 2018.JPG

Berfoto bersama setelah selesai kegiatan IOD atau WOD 2018. Foto dok : Yayasan Palung

Sebelumnya berita terkait kegiatan Hari Orangutan Internasional (International Orangutan Day/IOD) 2018 yang digelar/dilakukan Yayasan Palung, dimuat di Tribun Pontianak online :

http://pontianak.tribunnews.com/2018/08/23/rayakan-peringatan-iod-2018-yp-gelar-beragam-kegaiatan-di-citimall-ketapang

Rekaman Radio di Radio GS tentang feature hari orangutan internasional 2018 di link :

https://soundcloud.com/yayasan-palung/feature-radio-gs-tentang-kegiatan-hari-orang-utan-sedunia-2018-dirayakan-oleh-ypmp3

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

 

 

Keanekaragaman Tumbuhan Liana di  Cabang Panti (TNGP)

Jantak3

Buah Jantak jenis liana Willughbeia sp. Foto dok : Riduwan/YP

Perkenalkan nama saya Riduwan. Saat ini, saya sedang melakukan penelitian mengenai potensi tumbuhan liana di Stasiun Penelitian Cabang Panti, (Kawasan yang berada di Taman Nasional Gunung Palung). Ada pun tujuan penelitian saya adalah untuk tugas akhir/ skripsi. Penelitian dilakukan selama kurang lebih satu setengah bulan. Saat ini penelitian sudah berjalan selama kurang lebih 13 hari. Penelitian yang saya lakukan adalah pada 5 tipe habitat yang berbeda, diantaranya rawa gambut, batu berpasir, alluvial, granit dataran rendah, dan granit dataran tinggi.

Ada pun metode yang saya gunakan dalalam penelitian saya adalah setiap satu tipe habitat saya ambil 5 plot dengan cara diacak atau random sampling dengan panjang jalur utama 50 meter dan sub plot sebelah kanan dan kiri masing-masing 10 meter.

Pelaksaan di lapangan sudah saya selesaikan kurang lebih hampir 50%, ada beberapa liana yang telah saya temukan diantaranya dari genus : Combretum sp, Uncaria sp, Willughbeia sp, Strychnos sp, Bauhinia sp dan Gnetum sp. Keberadaan liana ini ternyata secara tidak langsung memiliki peran terhadap kehidupan binatang di sana, terutama binatang pemakan buah (Frugivora) seperti Orangutan, kelasi monyet ekor panjang dan kelempiau.

Bunga Gnetum (2).jpg

Bunga Gnetum, Foto dok : Riduwan/YP

Ada beberapa tumbuhan liana yang dapat menghasilkan buah seperti liana dari genus Willughbeia sp atau  dikenal dengan nama buah jantak, Strychnos sp, dan Combretum sp. Tumbuhan ini ternyata bisa tumbuh diketinggian 40 -700 mdpl ini berdasarkan penelitian yang saya lakukan di SPCP, dan keberadaan tumbuhan liana ini dapat menambah kekayaan vegetasi yang ada di Taman Nasional Gunung Palung.

Stasiun Penelitian Cabang Panti atau biasa di singkat SPCP merupakan suatu kawasan yang letaknya berada di zona ini taman nasional gunung palung dengan luas sekitar 2.100 ha. Saat ini kawasan SPCP memiliki 8 tipe habitat yang berbeda, diantaranya yaitu : rawa gambut, rawa air tawar, kerangas, batu berpasir, alluvial (tanah sedikit berpasir/kaya akan unsur hara), granit dataran rendah, granit dataran tinggi, dan pegunungan.

Stasiun Penelitian Cabang Panti kaya akan flora maupun faunanya, baik yang statusnya masih melimpah maupun yang sudah di lindungi. Salah satu kekayaan flora yang berada disana adalah tumbuhan liana. Tumbuhan liana adalah tumbuhan yang hidupnya membutuhkan penopang tumbuhan lain seperti pohon guna untuk menjulang keatas dengan tujuan untuk memperoleh cahaya matahari, namun akar dari tumbuhan ini masih menempel pada tanah. Berbeda dengan tumbuhan ficus yang 100% hidupnya menempel pada pohon.

Menurut saya, liana menurut saya sangat bermanfaat bagi manusia salah satunya adalah akar kuning bermanfaat untuk obat dalam. Akar kuning direbus lalu airnya diminum. Buah dari jenis liana ini dimanfaatkan oleh binatang seperti orangutan, kelasi, kelempiau, dan monyet ekor panjang. Selain liana dari jenis akar kuning ada jenis lainnya yang dimanfaatkan oleh binatang disana seperti, buah jantak (Willugbeia sp), tapal kaki kuda (Bahuinia sp), cakar elang/pancingan (Uncaria sp), Combretum sp, dll. Saya menemukan liana disana kurang lebih 10 jenis liana.

Bauhinia

Tapal (tapak kaki kuda)/Bauhinia. Foto dok : Riduwan/YP

Diketahui pula, Keberadaan tumbuhan liana sebagai penanda (ciri khas) bahwa hutan di Indonesia merupakan hutan hujan tropis.

Kelimpahan liana di SPCP sangat padat baik dari dataran rendah hingga dataran tinggi. Liana yang ada ini harus tetap terjaga kelestariannya. Seperti diketahui, bahwa tumbuhan liana ini sangat banyak manfaatnya terutama untuk satwa primata selain untuk sumber pakan bagi primata ternyata batang liana dimanfaatkan oleh orangutan untuk bermain, seperti untuk pindah dari tempat satu ke tempat lainnya.

Tak salah kiranya bila tumbuhan ini patut untuk dilestarikan keberadaannya karena memiliki banyak manfaat dan fungsi bagi kehidupan.

Penulis : Riduwan, (Mahasiswa Untan Fakultas Kehutanan, Penerima Beasiswa Orangutan Kalimantan/BOCS)

 

 

 

 

Berbagi Cerita Bersama Penerima Beasiswa BOCS di Radio Kabupaten Ketapang tentang Konservasi

Berfoto bersama setelah kegiatan siaran radio di Radio Kabupaten Ketapang (RKK) selesai. Foto dok. BOCS

Berfoto bersama setelah kegiatan siaran radio di Radio Kabupaten Ketapang (RKK) selesai. Foto dok :  BOCS

Sebuah pengalaman luar biasa bagi kami selaku penerima beasiswa BOCS (Bornean Orangutans Caring Schoolarship) dimana pada hari kamis 9 agustus 2018 tepatnya, kami melakukan siaran di RKK (Radio Kabupaten Ketapang) sebagai narasumber. Siaran yang betajuk Bincang Hijau ini di pandu oleh Kak Via selaku penyiar di RKK. Tujuan dari siaran ini yaitu membahas tentang beasiswa BOCS itu sendiri dan juga peran kami sebagai penerima beasiswa terhadap konservasi.

Siaran dimulai pada pukul 12.00 Wib-12.45 Wib untuk sesi rekaman yang mana hasilnya akan di siarkan pada pukul 14.00 pada hari itu. Kami (Erina Safitri, Siti Nurbaiti, Hanna Adelia Runtu, Mita Anggraini) mengawali siaran dengan berkenalan dengan para pendengar radio sekaligus memerkenalkan jurusan yang kami ambil serta hubungan jurusan dengan konservasi orangutan itu sendiri. Selama siaran banyak hal yang kami ceritakan mulai dari menjelaskan tentang beasiswa BOCS yang mungkin masih jarang sekali orang yang mengetahuinya.

Di pertengahan sesi tanya jawab kami juga ditanya tentang peran kami untuk konservasi orangutan dan habitatnya dan juga lingkungan. Disini kami menjelaskan bahwa kami sebagai generasi muda memiliki peran yang sangat besar akan konservasi mulai dari penyadaran diri sendiri tentang menjaga keaslian lingkungan juga terkadang melakukan motivasi-motivasi untuk menjaga lingkungan melalu media sosial.

Siaran tidak berakhir disitu saja,selanjutnya disesi akhir kak Via juga bertanya tentang persiapan kami untuk Hari Orangutan Sedunia yang akan diadakan pada tanggal 19 Agustus 2018,

Selanjutnya sampailah pada sesi penutup dimana kami menyampaikan pesan terhadap lingkungan. Pesan kami adalah ”lingkungan bukan miliku, lingkungan juga bukan milik kalian, tetapi lingkungan adalah milik kita bersama, maka marilah kita menjaganya bersama-sama agar kita bisa nyaman tiggal didalamnya”. Dengan disampaikannya pesan itu berakhirlah siaran kami pada hari itu. Kami merasa senang karena akhirnya siaran berjalan dengan lancar tanpa kendala.

 Penulis : Teman-teman Penerima Beasiswa BOCS (Erina Safitri, Siti Nurbaiti, Hanna Adelia Runtu, Mita Anggraini)

 

 

 

Terkait Lingkungan Hidup, Kadisdik Ketapang Apresiasi Program Yayasan Palung

Kepala Dinas Pendidikan Ketapang, H Jahilin, di ruang kerjanya. Foto dok. Tribun Pontianak

Kepala Dinas Pendidikan Ketapang, H Jahilin, di ruang kerjanya, Kamis (5/4). Foto dok. Tribun Pontianak

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Subandi 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KETAPANG – Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Ketapang, H Jahilin mengapresiasi dan berterimakasih kepada Yayasan Palung (YP). Lantaran sejak 2012 hingga 2018 komitmen mengkuliahkan para pelajar hingga 31 orang dan di antaranya dari Ketapang.

“Kita sangat mengapresiasi program YP tersebut apalagi terkait untuk keberlangsungan lingkungan hidup flora dan fauna,” kata Jahilin kepada wartawan di Ketapang, Kamis (5/4).

Ia menilai adanya progam itu berarti ada pelajar yang memang dididik dan arahkan untuk menjaga kelestarian alam.

“Apalagi sekarang hal itu sangat penting karena hutan kita semakin sedikit sehingga flora dan fauna terancam punah,” ucapnya.

“Jadi dengan adanya pelajar di Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara yang diberi beasiswa oleh YP tersebut. Harapan kita para pelajar ini nantinya bisa menyelamatkan keberlangsungan hidup flora dan fauna di daerah kita,” lanjutnya.

Ia berharap selain para pelajar yang dikuliahkan oleh YP tersebut. Pelajar lain dan masyarakat juga memiliki kesadaran untuk menjaga keberlangsungan hidup alam. “Misalnya menjaga kelestarian orangutan agar tidak punah nantinya,” tuturnya.

Artikel ini telah tayang di tribunpontianak.co.id dengan judul Terkait Lingkungan Hidup, Kadisdik Ketapang Apresiasi Program Yayasan Palung, http://pontianak.tribunnews.com/2018/04/05/terkait-lingkungan-hidup-kadisdik-ketapang-apresiasi-programyayasan-palung.
Penulis: Subandi
Editor: Jamadin

Sumber Berita : tribunpontianak.co.id
 

Sejak 2012, Total Pelajar Yang Dikuliahkan Yayasan Palung Sebanyak 31 Orang

Semua peserta seleksi BOCS saat mendengarkan pengumuman hasil seleksi

Semua peserta seleksi BOCS saat mendengarkan pengumuman hasil seleksi. Foto dok. YP

Sejak dimulainya Program Peduli Orangutan Kalimantan atau Bornean Orangutan Caring Scholarship (BOCS).

Khususnya program Penerimaan Beasiswa BOCS atau Besiswa Orangutan Kalimantan sejak 2012 silam.

Pada 2018 ini dengan diterimanya enam pelajar lagi maka total penerima beasiswa tersebut menjadi 31 orang. Ini diungkapkan Manager Program Pendidikan Lingkungan dan Media Kampanye YP, Mariamah Achmad.

Baca: Ini Nama-nama Penerima Beasiswa Orangutan Kalimantan Program YP

Di antaranya empat orang sudah sarjana dan selebihnya sedang aktif kuliah di (Untan) Universitas Tanjungpura Pontianak.

31 pelajar yang dikuliahkan melalui Program BOCS tersebut. 20 orang dari Ketapang dan 11 orang dari Kabupaten Kayong Utara.

“Mereka berasal dari berbagai daerah di dua kabupaten tersebut,” ungkapnya.

Baca: Ini Nama-nama Penerima Beasiswa Orangutan Kalimantan Program YP

Mariamah mengaku sangat senang mendapatkan enam pelajr lagi menjadi penerima beasiswa Program BOCS.

“Program ini sudah kami jalankan tujuh tahun. Jadi YP sangat peduli dengan peningkatan pendidikan generasi muda,” ujarnya.

Artikel ini telah tayang di tribunpontianak.co.id dengan judul Sejak 2012, Total Pelajar Yang Dikuliahkan Yayasan Palung Sebanyak 31 Orang, http://pontianak.tribunnews.com/2018/04/05/sejak-2012-total-pelajar-yang-dikuliahkanyayasan-palungsebanyak-31-orang.
Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Ada Enam Pelajar Penerima Beasiswa Orangutan Kalimantan Tahun ini

Saat seleksi beasiswa, peserta seleksi menyampaikan presentasi.JPG

Saat seleksi beasiswa, peserta seleksi menyampaikan presentasi. Foto dok. Yayasan Palung

Setelah melakukan seleksi, Yayasan Palung  resmi mengumumkan enam pelajar penerima beasiswa S-1 melalui Program Peduli Orangutan Kalimantan atau Bornean Orangutan Caring Scholarship (BOCS) 2018, pada 29 Maret lalu.

Penerima beasiswa Bornean Orangutan Caring Scholarship (BOCS) 2018 dari hasil seleksi tahap akhir yang dilaksanakan pada 29 Maret 2018 adalah:

  1. Mega Oktavia Gunawan (SMK Negeri 1 Ketapang): Fakultas Kehutanan Prodi Kehutanan
  2. Aisyah (SMA Negeri 1 Matan Hilir Utara): FISIP Prodi Hubungan Internasional
  3. Cantika Peggi Nur Iskandar Putri (SMK Negeri 1 Sukadana): Fakultas Hukum
  4. Ari Marlina (SMK Negeri 1 Ketapang): Fakultas Kehutanan Prodi Kehutanan
  5. Fitri Meliyana (SMA Negeri 3 Simpang Hilir): FMIPA Prodi Biologi
  6. Anju Eranti (SMA Negeri 1 Sandai): FISIP Prodi Hubungan Internasional

Enam penerima beasiswa  BOCS tersebut, sebelumnya terlebih dahulu telah melalui tahapan seleksi dari awal hingga seleksi akhir. Adapun sebagai juri dalam seleksi penerima beasiswa adalah Juri: Ir. Evy Wardenaar, M.P (Fahutan UNTAN), Dr. Wahyono, M.Pd (STAI AL-Hauld), Akhdiyatul, S.ST., M.T (Politeknik Ketapang) dan Mariamah Achmad S.Hut (Yayasan Palung).

Para juri seleksi beasiswa dan di tengah direktur Yayasan Pa.JPG

Para juri seleksi beasiswa dan di tengah direktur Yayasan Palung. Foto dok. YP

Seperti diketahui, Beasiswa Orangutan Kalimantan  atas dasar adanya kerjasama Yayasan Palung (YP) dan Orangutan Republik Foundation (OURF), sejak tahun 2012 silam.

Semua peserta seleksi BOCS saat mendengarkan pengumuman hasil seleksi.JPG

Semua peserta seleksi BOCS saat mendengarkan pengumuman hasil seleksi. Foto dok. YP

Direktur Yayasan Palung, Terri Lee Breeden mengatakan, Program BOCS adalah salah satu favorit saya yang diimplementasikan Yayasan Palung. Program ini bertujuan untuk menciptakan generasi pemuda berpendidikan universitas yang akan bekerja untuk konservasi. Tahun ini, proses seleksi sangat sulit. Kami memiliki banyak pelamar yang luar biasa.

Untuk para pemenang, saya ingin mengucapkan selamat. Saya berharap untuk melihat kerja keras dan semangat terhadap konservasi. Untuk yang lain, saya berharap kepada penerima beasiswa tetap melanjutkan pendidikan tinggi dan bekerja menuju konservasi dalam kehidupan sehari-hari Anda, imbuh Terri lagi.

Mariamah Achmad Manager Program Pendidikan Lingkungan dan Media Kampanye Yayasan Palung sekaligus yang menangani program BOCS mengatakan, Sejak dimulainya program BOCS pada tahun 2012 hingga 2018 sudah terdapat 31 orang penerima BOCS, diantaranya 4 orang sudah sarjana dan selebihnya sedang aktif kuliah. Mereka berasal dari berbagai daerah di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara yaitu 20 orang dari Kabupaten Ketapang dan 11 orang dari Kabupaten Kayong Utara.

“Kami sangat senang mendapatkan  enam orang lagi para penerima beasiswa dari program BOCS. Program ini sudah kami jalankan dalam 7 tahun ini. Yayasan Palung sangat peduli dengan peningkatan pendidikan generasi muda di tanah Kayong, sangat baik memperbanyak generasi muda yang peduli terhadap konservasi yang memiliki berbagai latar belakang disiplin ilmu. Ini merupakan salah satu investasi penting untuk masa depan alam dan lingkungan Indonesia”, ujar Mayi.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

 

 

Hari Kasih Sayang, Tak Hanya Soal Pasangan tetapi “Mereka (Orangutan)” Juga Perlu

Pesan kami semua, Kami sayang orangutan. Yayasan Palung

Pesan kami semua, Kami sayang orangutan. Yayasan Palung

Kasih sayang sudah menjadi hak dan kewajiban bagi kita semua untuk melaksanakannya (menerapkannya/melakukannya/mempraktekannya) dalam tatanan kehidupan sehari-hari kita kepada siapa saja tanpa memilah dan memilih.

Kecenderungan saat ini, kasih sayang itu hanya identik dengan wanita atau pasangan kita semata. Lalu, bagaimana kasih sayang kita kepada  “mereka”?. siapa mereka itu?.

“Mereka” yang dimaksud tidak lain dan tidak bukan adalah orangtua kita, saudara/i kita dan sesama kita. Tidak hanya itu, “mereka” satwa, tumbuhan dan lingkungan juga memerlukan cinta dan kasih sayang yang sejatinya tak lekang oleh waktu.

Tidak bisa disangkal, cinta dan kasih sayang kepada sesama, kepada lingkungan (alam semesta), kepada satwa kini serasa sudah semakin memudar.

Tengoklah cinta yang bertepuk sebelah tangan terhadap lingkungan sehingga alam lingkungan berurai air mata tertumpah yang tak jarang menjadi banjir bandang yang menerjang sesuka hatinya. Satwa yang disiksa dan meregang nyawa…

Baca Selengkapnya : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/5a83d762f13344305913c112/hari-kasih-sayang-tak-hanya-soal-pasangan-tetapi-mereka-juga-perlu

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Tahun 2018 : Kami Kembali Menyediakan Enam Beasiswa Orangutan Kalimantan

Beberapa Penerima BOCS yang terdahulu melakukan kampanye bersama dalam rangka Pekan Peduli Orangutan di Pontianak. Foto dok. Yayasan Palung

Beberapa Penerima BOCS yang terdahulu melakukan kampanye bersama dalam rangka Pekan Peduli Orangutan di Pontianak. Foto dok. Yayasan Palung

Tahun 2018 ini, Yayasan Palung kembali menyediakan enam beasiswa orangutan Kalimantan. Pemberian beasiswa kami lakukan sejak 2012 Yayasan Palung (YP) dan Orangutan Republik Foundation (OURF) bekerjasama menyediakan beasiswa program S-1 melalui Program Peduli Orangutan Kalimantan (Bornean Orangutan Caring Scholarship).

Mengingat Yayasan Palung sebagai lembaga non profit profit yang bekerja untuk konservasi orangutan dan habitat serta pengembangan masyarakat. Yayasan Palung bekerja dengan semua pihak yang mempunyai tujuan sama untuk perlindungan terhadap orangutan dan habitat di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara, Kalimantan Barat.

Adapun tujuan program beasiswa orangutan tersebut antara lain adalah : Pertama, Melahirkan generasi intelektual Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara yang mempunyai komitmen dan kepedulian yang tinggi terhadap upaya perlindungan dan penyelamatan Orangutan Kalimantan dan habitatnya. Kedua, Memberikan dukungan moril dan materil kepada generasi muda untuk meneruskan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Ketiga, Memajukan kerjasama pendidikan tentang potensi kekayaan alam lokal antara pihak-pihak di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara.

Setiap penerima beasiswa diberikan dana beasiswa dengan limit USD 1.500, untuk membiayai:

  1. Daftar Masuk Universitas
  2. Daftar Ulang selama 8 semester
  3. Biaya Penelitian
  4. Biaya Penulisan Skripsi
  5. Biaya lain dipenuhi selama masih dalam limit dana beasiswa
  6. Bagi Penerima Beasiswa yang mendapat UKT III, IV dan V, pembiayaan dihentikan jika sudah mencapai limit dana beasiswa, walaupun tidak memenuhi poin 1-4.
  7. Peningkatan kapasitas dari Yayasan Palung

Syarat dan ketentuan pendaftaran dapat di unduh dan dibaca di Blog Yayasan Palung: https://yayasanpalung.wordpress.com. Lihat di link Brosur : Brosur Beasiswa Orangutan Kalimantan (BOCS)_ 2018_pdf,  Lihat syarat dan ketentuan : YP_BOCS_Bahan Brosur_Borneo Orangutan Caring Scholarship_2018

Berkas pendaftaran dapat diserahkan langsung ke Yayasan Palung (kantor Ketapang atau Bentangor Desa Pampang Kec. Sukadana) atau melalui jasa pengiriman paling lambat 14 Maret 2018.

Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi:

  • Yayasan Palung, Jl. Kol. Sugiono Gg. H. Tarmizi No. 5 Ketapang. Telp/Fax: 3036367
  • Pusat Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung / Bentangor, Dusun Pampang Desa Pampang Harapan, Kec. Sukadana, KKU
  • Ranti Naruri: 0852-4563-4919
  • Hendri Gunawan: 0896-9346-9745

Yayasan Palung

 

 

 

 

Mengapa Kita Penting untuk Merayakan Pekan Peduli Orangutan?

Stiker PPO 2017. Foto dok. Yayasan Palung

Stiker PPO 2017. Foto dok. Tim Laman dan Yayasan Palung

Setiap tahun Pekan Peduli Orangutan (PPO) selalu diperingati setiap November. “Act Now Preserve to Future adalah tema yang diusung pada tahun ini, atau kurang lebih jika diterjemahkan “Bertindak Sekarang untuk Mempertahankan Masa Depan”.

Mengapa Pekan Peduli Orangutan Itu Perlu Dirayakan?

Terri Lee Breeden selaku Direktur Program Yayasan Palung mengatakan, Orangutan sangat terancam punah, artinya tidak banyak yang tersisa. Jika kita tidak bekerja sekarang untuk menyelamatkan orangutan dan habitatnya maka mereka akan punah dalam masa hidup kita. Tidak adil rasanya jika generasi mendatang tidak peduli dan mengusir hewan ini.

Lebih lanjut, Terri, demikian sapaannya sehari-hari mengatakan, Yayasan Palung mengajak orang-orang dari seluruh dunia, terutama di Ketapang dan Kayong Utara untuk mengikuti Pekan Peduli Orangutan. Tujuan kami adalah untuk melakukan penyadartahuan kepada semua lapisan masyarakat tentang mengapa orangutan sangat istimewa dan aktivitas sederhana yang dapat mereka lakukan untuk membantu menyelamatkan orangutan.

Tahun ini, Yayasan Palung sebagai lembaga konservasi orangutan bersama dengan para relawan dalam rangka memperingati PPO 2017 akan melakukan serangkaian kegiatan seperti lomba mewarnai gambar orangutan untuk anak-anak usia dini tingkat Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar di Desa Pampang Harapan, Sabtu (18/11/2017), pekan ini. Gambar-gambar orangutan hasil dari lomba mewarnai tersebut selanjutnya di posting di dalam media sosial dengan hastag (#) #OrangutanCaringWeek #OrangutanCaringWeek2017 #YayasanPalung #PPO #PPO2017

Tidak hanya itu, Relawan RebonK (Relawan Bentangor untuk Konservasi) juga akan menyuguhkan drama yang bercerita tentang kisah hidup orangutan di hutan.

Selanjutnya, pada malam harinya rencananya akan dilakukan pemutaran film lingkungan yang lokasinya di halaman Kantor Yayasan Palung tepatnya di samping kantor Desa Pampang Harapan. Rencananya film-film yang akan diputar adalah film konservasi dan satwa dilindungi tidak terkecuali film orangutan sekaligus juga melakukan sosialisasi tentang satwa dilindungi, ujar Hendri Gunawan, selaku panitia kegiatan dan pembina para relawan.

Di tempat yang berbeda, teman-teman Penerima Beasiswa Orangutan Kalimantan (BOCS) yang juga akan mengadakan serangkaian kegitan dalam rangka PPO 2017. Adapun kegiatan yang dilakukan adalah Pendidikan Lingkungan di Panti Asuhan “NURUL IMAN” Sungai Rengas, Pontianak, pada Minggu (19/11/2017). Di Panti Asuhan, teman-teman BOCS akan melakukan rangkaian kegiatan seperti Penyampaian materi tentang; Manusia, Hutan dan Orangutan. Dilanjutkan dengan Pemutaran film pendek dan diskusi, ujar Ranti Selaku pembina teman-teman BOCS.

Berharap, semoga kegiatan PPO 2017 dapat berjalan sesuai dengan rencana dan mendapat respon baik dari masyarakat sebagai sumber informasi dan penyadartahuan untuk peduli terhadap orangutan sebagai satwa endemik dan habitatnya.

Tulisan ini juga dimuat di Kompasiana

UC Media

Petrus Kanisius-Yayasan Palung