Category Archives: Berita umum dan khusus

Stop Membeli Produk yang Berasal dari Hewan Dilindungi!

“Stop Membeli Produk yang Berasal dari Hewan Dilindungi! Karena Membeli sama dengan Mendukung Kejahatan dan Mempercepat Kepunahannya”

Petugas BKSDA Kalimantan Barat menunjukkan barang bukti yang disita dari sebuah toko aksesoris di Singkawang, Kalbar 22 April 2016 tahun lalu. Foto dok. KOMPAS.com, YOHANES KURNIA IRAWAN.jpg

Petugas BKSDA Kalimantan Barat menunjukkan barang bukti yang disita dari sebuah toko aksesoris di Singkawang, Kalbar 22 April 2016 tahun lalu. Foto dok. KOMPAS.com, YOHANES KURNIA IRAWAN

Jika kita sayang dia (satwa/hewan dilindungi) dan inginkan satwa/hewan dilindungi tetap ada tentu kita tidak mendukung adanya produk-produk yang dijual dipasaran. Membeli produk-produk yang berasal dari satwa dilindungi sama saja artinya dengan mendukung kejahatan dan mempercepat kepunahan mereka (satwa/hewan dilindungi).

Produk-produk yang berasal dari bagian-bagian/tubuh hewan dilindungi tentu saja tidak boleh sama sekali dilakukan. Apa lagi berkaca kepada penguatan UU no. 5 tahun 1990 tentang Perlindungan satwa dilindungi. Dalam UU no 5 tahun 1990 tersebut, menyebutkan bagi pelanggar/pelaku yang melakukan transaksi jual beli satwa/hewan dilindungi maka akan dikenakan sanksi 5 tahun penjara dan denda 100 juta rupiah.

Sebut saja, produk-produk yang berasal dari tubuh-tubuh hewan/hewan dilindungi tidak sedikit kita jumpai dijual bebas dipasaran, bahkan ada bagian tubuh/hewan yang dijual secara online pula. Berbagai alasan dan cara yang ditawarkan oleh oknum ataupun pelaku yang menjajakan bagian-bagian dari satwa dilindungi seperti tanpa beban dan itu seharus tidak boleh terjadi. Kondisi seperti ini tentunya sangat disayangkan dan memprihatinkan terjadi…

Baca Selengkapnya di : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/stop-membeli-produk-yang-berasal-dari-hewan-dilindungi_591003c42123bdda0f1fce40
Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Berjumpa Ragam Peninggalan Tradisi Budaya Leluhur di Desa Demit, Ketika Kami Melaksanakan Ekspedisi Pendidikan Lingkungan

Teronong warisan kakek-nenek, untuk tempat menyimpan lebah madu. Foto dok. Pit Yayasan Palung

Teronong warisan kakek-nenek, untuk tempat menyimpan lebah madu. Foto dok. Pit Yayasan Palung

Ragam jenis anyaman-anyaman tradisional budaya leluhur seperti bahan dari bahan baku bambu masih kami jumpai di Desa Demit. Anyaman seperti Kampik, ragak atau bakul dengan beraneka motif tersebut menurut masyarakat setempat termasuk sudah jarang dijumpai mengingat orang tua yang menganyam beraneka motif tersebut sudah tidak banyak lagi yang bisa menganyamnya karena kesulitan menganyam motifnya dan beberapa peninggalan tradisi leluhur lainnya. Hal tersebut saya dan kawan-kawan dari Yayasan Palung menjumpainya ketika melakukan ekspedisi di beberapa desa di Kecamatan Sandai, Ketapang, Kalbar  (25-29 April 2017), bulan lalu.

Keberadaan aneka anyaman tersebut selain beruntung kami jumpai, tetapi juga karena ada sosok pelestari budaya tradisi masyarakat setempat (di desa Demit). Tidak hanya anyam-anyaman, tetapi juga beberapa ciri khas alat (perlengkapan) bagi masyarakat dalam menjalani kehidupan sehari-hari di  desa tersebut pula. Sosok yang boleh dikata pelestari budaya tersebut adalah bapak Alteban, 44 tahun.

Secara tidak sengaja, kata itulah yang dapat saya katakan. Tidak sengajanya, ketika kami kami ngobrol-ngobrol ringan bapak 3 anak tersebut bercerita tentang keseharian beliau sedang membuat/menganyam uncang (kerepai) tempat atau wadah yang dulu adalah tempat peluru senapan. Tetapi uncang (kerepai) yang ia buat saat ini tidak lagi digunakan untuk wadah untuk peluru senapan tetapi hanya untuk aksesoris seperti gantungan kunci, untuk tempat (wadah ) rokok, dompet ataupun juga untuk tempat handpone. Uncang/kerepai, bahan-bahannya terbuat dari kulit kayu gentoli dan rotan.

Kulit kayu dibentuk selanjutnya dibalut dengan anyaman rotan. Bila boleh dikata, uncang/kerepai adalah tas jaman dulu yang sekarang mulai dilesarikan lagi karena bentuknya yang unik dan menarik. Adapun untuk harga, uncang/kerepai yang ukurannya kecil (untuk gantungan kunci) harganya 50 ribu rupiah. Ukuran sedang untuk tempat handpone/tempat dompet harganya 200 ribu rupiah dan ukuran yang paling besar (bisa digunakan untuk tempat laptop) harganya 500-600 ribu rupiah.

Aneka anyaman tersebut boleh dikata sudah langka karena sudah tidak banyak lagi, generasi muda tidak bisa lagi menganyam motif rumit tersebut. Tercatat menurut pengakuan bapak Alteban, saat ini di desanya tersisa 1 orang generasi yang bisa menganyam motif dari aneka anyaman tersebut. Adapun motif anyaman yang dimaksud adalah motif paku ikan (motif anyaman berbentuk tanaman paku-pakuan). Beberapa anyaman ragak/bakul/kampik saat masyarakat menugal padi, anyaman ini sebagai wadah benih padi. Dikata sebagai pelestari budaya, Alteban juga menunjukan beberapa barang-barang yang merupakan budaya tradisional masyarakat yang sudah dikatakan langka. Barang-barang tradisional (peninggalan jaman dulu) dari nenek-kakek ujar bapak Alteban. Bapak Alteban memperlihatkan barang-barang peninggalan nenek-kakek yang lainnya adalah Tronong, demikian masyarakat  Demit menyebutnya.
Menurut cerita Alteban, Tronong merupakan wadah (tempat) menyerupai penangkin. Bagi masyarakat setempat, dulunya Tronong digunakan oleh masyarakat untuk tempat menyimpan madu saat memanjat/menjatak lebah madu. Saat mengambil lebah madu, seseorang harus membawa tronong dan tebaok. Tebaok adalah bahan yang terbuat dari jenis kayu akar nama kayunya kebak (tebaok digunakan untuk pengasapan sarang lebah madu), ujar Alteban.

Saya dan kawan-kawan yang berkesempatan datang ke Desa Demit juga diberi oleh-oleh buah hutan, buah kekupak namanya. Menurut masyarakat setempat, buah kekupak sangat berguna untuk penangkal roh jahat. Dengan kata lain, buah kekupak memiliki fungsi untuk menangkal roh jahat dan menghindari dari marabahaya. Sebagian besar anak kecil di Desa Demit menggunakan kekupak untuk dijadikan kalung sebagai penjaga agar terhindar dari penyakit dan marabahaya serta sebagai pelindung semangat jiwanya.

Lebih lanjut Alteban bercerita tebaok yang digunakan untuk pengusir lebah madu saat mengambil madu, ternyata di masyarakat setempat tebaok dipercaya untuk mengusir ragam penyakit. Caranya, tebaok yang dibakar, abunya diusapkan kebagian tubuh (badan yang sakit).

Alteban juga memperlihatkan tombak yang menurut ceritanya peninggalan dari Sang Kakeknya, adapula mandau. Bagi masyarakat di Demit, bapak Alteban selalu diundang saat ada acara kampungnya atau di Sandai ketika ada tamu datang karena selain sebagai sosok pelestari budaya, Alteban juga sangat trampil menari. Sebagian besar, masyarakat di Demit adalah petani padi dan penoreh getah (penyadap karet). Beberapa masyarakatnya juga adalah pekerja dan pekerja di perkebunan sawit. Ada juga masyarakat yang membuat sengkalan (tempat untuk mengiris bawang/bumbu dapur) dapat juga digunakan untuk alas pemotong daging. Sangkalan dibuat dari sisa-sisa potongan batang kayu leban dan ulin. Bila leban harganya 20 ribu rupiah. Sedangkan sengkalan dari kayu ulin harganya 40-50 ribu rupiah.

Saat kami lecture, materi yang kami sampaikan adalah manfaat hutan dan orangutan bagi manusia. Saat bermain boneka/panggung boneka di Sekolah Dasar (SD) kami bertutur tentang hutan dan orangutan yang kondisinya semakin terhimpit.
Sedangkan diskusi, kami mendengar keluh kesah ataupun juga potensi yang ada didesa. Saat pemutaran film, kami juga  menyampaikan sosialisasi tentang satwa dilindungi seperti orangutan, kelempiau, bekantan, trenggiling, enggang dan lain sebagainya.

Adapun asal usul nama Desa Demit, menurut masyarakat setempat awalnya karena di desa tersebut kala itu 3 kali pindah kampung dan akhirnya menetap di Desa Demit. Menurut cerita Pak Jamin, salah seorang tokoh masyarakat di desa Demit menuturkan; dulu,  karena wabah penyakit berupa diare dan ada satu kejadian dalam waktu singkat 5 ibu-ibu kala itu melahirkan bayi, tetapi bayinya meninggal. Sebagian besar masyarakat menganggap peristiwa tersebut sebagai wabah penyakit hantu (demit). Dari dulu hingga sekarang telah berumur 30 tahun. Untuk menjangkau daerah ini (Desa Demit) dilalaui dengan jarak tempuh 105,97 km dari Ketapang.

Semua rangkaian kegiatan ekspedisi ke desa-desa yang kami Yayasan Palung lakukan berjalan sesuai dengan rencana dan lancar dan mendapat sambutan baik dari masyarakat.

Petrus Kanisius – Yayasan Palung

Tulisan Selengkapnya dapat dibaca di : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/berjumpa-ragam-peninggalan-tradisi-budaya-leluhur-di-desa-demit_590a9fa81fafbdb6083a9e58

Yayasan Palung Akan Adakan Serangkaian Kegiatan untuk Peringatan Hari Bumi 2017

Logo kegiatan hari bumi 2017

Logo kegiatan hari bumi 2017

 

“Tanam Pohon, Stop Sampah Plastik untuk Kesehatan Bumi Kita”

Setiap tahunnya, setiap tanggal 22 April 2017 selalu diperingati sebagai hari bumi. Tindakan nyata untuk merawat bumi salah satu cara yang harus dilakukan seperti menanam dan mengurangi sampah plastik. Mengingat, bumi saat ini mengalami perubahan yang sangat drastis akibat tekanan dari meningkatnya populasi manusia penghuni bumi dan perubahan iklim yang terus terjadi di seluruh belahan dunia. Bumi sudah semakin tua dan renta, kesehatannya juga perlu dijaga oleh kita sebagai penghuninya.

Yayasan Palung sebagai organisasi masyarakat sipil yang bekerja di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara (Tanah Kayong) menjadikan hari bumi sebagai momentum untuk mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap Tanah Kayong.

 

Adapun  tema yang diketengahkan pada Hari Bumi 2017 adalah “Tanam Pohon dan Stop Sampah Plastik Untuk Kesehatan Bumi Kita” untuk Peringatan.

Sedangkan tujuan kegiatan hari bumi yang dilakukan tidak lain untuk;

  1. Mengkampanyekan pelestarian alam dan lingkungan di Tanah Kayong.
  2. Mengajak masyarakat untuk menanam pohon dan mengurangi terjadinya sampah plastik.
  3. Ajang silaturahim antara Pemerintah, Penggiat Konservasi dan Masyarakat Kayong Utara.

Beberapa kegiatan yang akan dilakukan dalam peringatan Hari Bumi 2017  antara lain:

  1. Jalan Sehat dari Bundaran Tugu durian ke Tugu Sail Selat Karimata Pantai Pulau Datok dan Door prize,
  2. Penanaman pohon secara simbolis di Pantai Pulau Datok,
  3. Bersih Pantai Pulau Datok,
  4. Live event Radio Kayong Utara.

Waktu dan Lokasi Kegiatan :  Hari / tanggal   : 23 April 2017, pukul 06:30 WIB-Selesai Lokasi : Bundaran Tugu Durian -Tugu Sail Selat Karimata Pantai Pulau Datok.

Seluruh peserta kegiatan ini berkumpul di Bundaran Tugu Durian, kemudian berjalan bersama menuju Tugu Sail Selat Karimata di Pantai Pulau Datok. Setibanya di Pantai Pulau Datok dilakukan penanaman pohon secara simbolis oleh perwakilan peserta, kemudian bersih pantai, kegiatan diakhiri dengan door prize. Semua kegiatan pendukung dilakukan di sekitar Tugu Sail Selat Karimata.

Peserta Kegiatan direncanakan diikuti oleh para pihak antara lain; Pemerintah Daerah Kabupaten Kayong Utara (Disbudparpora, KLH, Dinas Pendidikan, Dinas PMD, BAPPEDA KKU, Dekranasda, Dinas Perkebunan Pertanian dan Pangan, Dinas PU, Dinas Perikanan), Kepolisian Resor KKU, Koramil KKU, SPTN I Sukadana BTNGP, Resor Sukadana dan Karimata BKSDA KSW I Ketapang, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah KKU, HS68 dan Tirkana, Penggiat Lingkungan (Yayasan ASRI, Simpang Mandiri Production, SISPALA SMKN 1 Sukadana, SISPALA SMKN 2 Sukadana, SISPALA SMKN 3 Simpang Hilir) serta Masyarakat Sukadana dan sekitarnya.

Kegiatan Hari Bumi 2017 ini diselenggarakan oleh Yayasan Palung dengan melibatkan Relawan Konservasi REBONK sebagai panitia pelaksana kegiatan, dan bekerjasama dengan para pihak.

Sedangkan Relawan Konservasi Taruna Penjaga Alam (RK.Tajam) Yayasan Palung akan mengadakan serangkaian kegiatan di Pantai Sungai Kinjil dengan beragam kegiatan seperti; Bermain boneka orangutan/Puppet show, Operasi semut di sekitar pantai  dan pembagian tong sampah dari barang bekas. Adapun kegiatan rencananya akan dilaksanakan pada 24 April 2017.

Tidak bisa disangkal, bumi menjadi rumah bagi semua makhluk hidup yang keadaannya sedapat mungkin untuk terus dijaga dan dirawat. Peringatan Hari Bumi yang rutin dirayakan setiap bulan April oleh penduduk dunia, sebagai salah satu cara untuk mengingatkan kepada khalayak tentang kondisi bumi dan seperti “alert/peringatan” untuk meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan bumi.

Kesehatan bumi sudah semakin terganggu, tidak sedikit contoh bencana yang terjadi seperti banjir, angin puting beliung, badai, longsor, gempa bumi dan beragam kejadian lainnya. Hal ini tentu perlu menjadi perhatian khusus kita semua secara bersama pula.

Ada banyak cara yang kita dapat lakukan, tindakan nyata menjadi pilihan yang harus dilakukan demi menjaga kesehatan bumi dan keselamatan kita sebagai makhluk hidup yang mendiaminya (bumi/sebagai rumah) yang aman dan nyaman. Dengan harapan bentang alam yang sangat kaya ini daya dukungnya selalu layak untuk menopang kehidupan masyarakat di Tanah Kayong.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

 

 

 

 

 

 

Belajar Tentang Gambut Bersama Masyarakat dan Bertani Agroforestri yang Berkelanjutan

Peserta pelatihan mengunjungi kebun karet warga masyarakat di Desa Padu Banjar. Foto dok. Yayasan Palung.JPG

Peserta pelatihan mengunjungi kebun karet warga masyarakat di Desa Padu Banjar. Foto dok. Yayasan Palung

Tidak bisa disangkal sebagian besar lahan pertanian, kebun masyarakat di wilayah Simpang Hilir KKU adalah lahan gambut. Seperti tahun lalu, wilyah ini juga menjadi wilayah terdampak dari Karhutla, hal tersebut benar adanya ketika kami (Yayasan Palung) selama sepekan (6-12 April 2017) menyambangi dan mengadakan serangkaian kegiatan pelatihan berbasis mitigasi lahan di lima desa hutan desa, Kec. Simpang hilir, KKU.

Seperti terlihat, rata-rata di wilayah Simpang Hilir adalah gambut dalam yang  tidak lain menyimpan banyak kandungan air dan di kawasan lahan gambut menyimpan karbon. Di Simpang Hilir Kedalaman gambut  rata-rata 3 hingga 4 meter.

Adapun rangkaian kegiatan dalam pelatihan mitigasi berbasis lahan yang dilakukan dalam bingkai Training Of Trainer (TOT) / Pelatihan untuk Pelatih tersebut antara lain; Pelatihan Rehabilitasi Lahan Gambut dan Silvikultur Tumbuhan HHBK, Pelatihan Agroforestry Berbasis Kelapa, Pelatihan Agroforestry Berbasis Karet.

Peserta dari 5 desa yang ikut pelatihan saat berfoto bersama setelah kegiatan selesai. Foto dok. Yayasan Palung

Peserta dari 5 desa yang ikut pelatihan saat berfoto bersama setelah kegiatan selesai. Foto dok. Yayasan Palung

Dalam rangkaian kegiatan TOT tersebut dihadirkan pemateri Jusupta Tarigan dari NTFP-EP Indonesia, menjadi narasumber sekaligus menjadi pelatih dalam kegiatan pelatihan. Bang JT sapaan akrabnya menyampaikan terkait bagaimana memulihkan lahan gambut dari sisa-sisa kebakaran tahun lalu. Adanya kegiatan inipun sebagai bagian bersama masyarakat untuk rencana tindak lanjut (RTL) perbaikan lahan gambut yang terbakar dengan menyulamnya dengan  aneka tanaman yang cocok di lahan gambut…

Baca selengkapnya di :Belajar Tentang Gambut Bersama Masyarakat dan Bertani Agroforestri yang Berkelanjutan

 

(Puisi) Yayasan Palung

Yohanes Terang. Foto dok. Pit.jpg

Foto Yohanes Terang. dok. Pit

Puisi tentang Yayasan Palung

Yayasan Palung, engkau tercipta disaat semua sendi kehidupan telah mengalami degradasi hampir diambang batas

Yayasan Palung tugasmu, sangat mulia, gagasanmu sangat tepat mencari solusi laksana sampai semua tuntas

Program yang tepat sarana sempurna menuju harapan agar tetap tersedia kapanpun tidak akan hilang dan tak pernah habis

Hasil yang baik harta berharg sebagai titipan bagi dan anak cucu mereka terus menerus

Eksploitasi, kebakaran hutan, sarana terciptanya pada alam hingga tidak nyaman untuk didiami tak enak untuk dihuni membuat hidup ini was-was dan cemas

Konservasi, hutan desa sebuah cara berguna pencegah duka nestapa yang terjadi pada bumi dimana kita bernafas

Kayong Utara tempat kita bersama menyatukan pakat; YP, pemerintah, masyarakat, Berpikir Bersama untuk berusaha bersama (BBUBB) menuju Kayong Utara sejahtera berjalan sampai ujung batas.

Sukadana, KKU 3 April 2017

Pesan disampaikan saat acara Kick Off Program Berbasis Lahan

Penyampaian pesan

Yohanes Terang

Inilah Nama-nama Penerima Beasiswa Orangutan Kalimantan Tahun 2017

IMG_3040.JPG

Salah satu peserta seleksi beasiswa BOCS  saat menyampaikan presentasi esai dihadapan para juri seleksi. Foto dok. Yayasan Palung

Setelah melalui rangkaian seleksi beasiswa Bornean Orangutan Caring Scholarship (BOCS) tahap pertama tanggal 18 maret 2017, terseleksi 33 orang dari 18 sekolah.

Sedangkang seleksi tahap II atau tahap akhir terpilih 6 orang yang berhak menerima beasiswa dan berhak mendapat biaya kuliah gratis di Perguruan Tinggi Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak.

Adapun nama-nama 6 orang penerima beasiswa BOCS  tahun 2017 adalah sebagai berikut :

Nama Calon Asal Sekolah
Ratiah SMA Negeri 3 Simpang Hilir
Hanna Adelia Runtu SMA Negeri 3 Ketapang
Ilham Pratama SMA Negeri 2 Ketapang
Mita Anggraini MAN Ketapang
Siti Nurbaiti SMA Negeri 1 Sungai Laur
Rafikah SMA Negeri 3 Simpang Hilir

Ucapan selamat kepada 6 penerima beasiswa BOCS angkatan ke -6, tahun 2017. Pengumuman ini berdasarkan berita acara Pada hari Kamis tanggal Tiga Puluh bulan Maret tahun Dua Ribu Tujuh Belas bertempat di Kantor Yayasan Palung telah dilakukan seleksi tahap akhir Beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan (Bornean Orangutan Caring Scholarship) 2017 yaitu berupa penilaian terhadap presentasi dan wawancara.

Demikian pengumuman sekaligus pemberitahuan resmi disampaikan, atas perhatian diucapan terima kasih.

Panen Madu Secara Lestari, Bersembunyi di Dalam Kelambu

Melindungi diri dengan kelambu saat panen lebah madu. Foto dok. Yayasan Palung

Melindungi diri dengan kelambu saat panen lebah madu. Foto dok. Yayasan Palung

Saat melakukan praktek pemanenan (panen) lebah madu peserta rela bersembuyi  di dalam kelambu untuk menghindari diri dari sengatan lebah. Hal inilah yang dilakukan oleh 5 Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) di Simpang Hilir, Kabupten Kayong Utara mengikuti pelatihan budidaya lebah madu secara lestari Senin (27/2) hingga Kamis (2/3/2017) pekan lalu.

Pelatihan tersebut dilakukan di dua Desa (Penepian Raya dan Ujung Said) di Kapuas Hulu, Kalbar. Kegiatan yang dilakukan selama empat hari tersebut setidaknya memberikan banyak manfaat bagi 5 LPHD yang ada di Kayong Utara. Mengingat, budidaya lebah madu bisa saja di adopsi oleh desa manapun sejatinya termasuk di Kayong Utara, potensi lebah madu secara lestari sangat memungkin dilakukan tidak hanya sebagai sumber penghasilan tetapi juga bagi keberlanjutan hutan. Demikian Ungkap Edi Rahman, dari Yayasan Palung yang juga sebagai pendamping dari lima LPHD yang ada di Desa-desa di Simpang Hilir (Desa Penjalaan, Desa Padu Banjar, Desa Nipah Kuning, Desa Pemangkat dan Desa Pulau Kumbang).

Selain itu menurut Edi, Sapaan akrabnya lebih lanjut mengatakan; dengan adanya panen lebah madu secara lestari sangat memungkinkan hutan tetap dijaga oleh masyarakat.  Seperti di dua Desa (melalui Lembaga Pengelolan Hutan Desa masing-masing) masyarakat sangat sadar dengan adanya budidaya lebah madu secara lestari/masyarakat sebagian besar menggantungkan hidup mereka di sana sebagai pembudidaya lebah madu dan dikatakan sangat berhasil.

Tentu ini juga sangat mungkin dikembangkan di daerah/wilayah 5 desa yang didampingi oleh Yayasan Palung, Pelatihan yang diikuti pun tidak lain semoga desa-desa di Simpang Hilir yang mengikuti pelatihan ini dapat mengikuti jejak dua desa (Ujung Said dan Penepian Raya) tempat dimana kami belajar, ungkap Edi lebih lanjut.

Ketika panen, selain berlindung didalam kelambu, si pemanen juga harus melindungi tangan dengan sarung tangan dan melindungi muka dengan jaring dimuka agar tidak disengat. Si pemanen harus mengusir lebah-lebah yang menempel disarang dengan cara pengasapan agar lebah terbang meninggalkan sarang dan panen madu bisa aman dilakukan.

Lebah yang bersarang di tikung. Foto dok. Yayasan Palung

Lebah yang bersarang di tikung. Foto dok. Yayasan Palung

Benar saja, mayoritas masyarakat di Desa Penepian Raya dan Ujung Said adalah desa yang saat ini telah berhasil mengembangkan desanya dengan sumber penghasilan dari hasil panen lebah madu. Menurut cerita dan pengakuan masyarakat di dua desa ini, setidaknya dalam setahun masyarakat dapat menghasilkan panen dengan rata-rata 1000 kg lebah madu pertahun. Bahkan saat tahun 2013 silam, di dua desa ini bisa panen hingga 23 ton, saat panen raya. Bayangkan saja betapa besar penghasilan dari mereka yang membudidaya lebah madu. Adapun hasil dari lebah madu tergantung bunga pohon di sekitar sarang. Setidaknya kisaran harga madu saat ini di hargai Rp 120 ribu/kg, berapa besar hasil yang mereka dapatkan melalui budidaya lebah madu secara lestari ini.

Saat melakukan pemanenan lebah madu. Foto dok. Yayasan Palung

Saat melakukan pemanenan lebah madu. Foto dok. Yayasan Palung

Saat melakukan pelatihan, peserta dari 5 desa, Kec. Simpang Hilir, KKU melakukan beragam pelatihan seperti pelatihan pembuatan tikung (tikung; kayu yang dibuatkan sebagai tempat bersarangnya lebah madu, biasanya papan yang dibuat agak cekung sebagai rongga tempat bersarangnya lebah madu). Tikung dibuat agar lebah-lebah mau bersarang dan menghasilkan madu. Tikung dibuat dari kayu yang nama lokalnya disebut kayu cempedak air. Setelah dibuatkan tikung, selanjutnya dipasang di ranting-ranting pohon di pinggiran sungai yang tingginya kurang lebih diketinggian 1,5-2 meter.

Biasanya, 3 minggu berselang hingga satu bulan lebah madu sudah mulai bersarang dan menghasilkan madu. Dalam satu sarang, saat panen beragam pula, ada yang 2 kg-8 kg.

Masyarakat di Desa Ujung Said dan Penepian Raya memiliki pekerjaan utama adalah sebagai budidaya lebah madu secara lestari dan nelayan ikan sungai. Hampir ribuan tikung dipasang ditepian-tepian sungai oleh masyaraka di dua desa ini. Tidak mudah memang untuk menjangkau kedua daerah ini (Ujung Said dan Penepian Raya) karena harus menyusuri jalan darat dan sebagian besar menyusuri jalur sungai untuk bisa sampai ke wilayah tersebut.

Beberapa desa di Kec. Simpang Hilir, KKU seperti Desa Penjalaan dan Desa Padu Banjar LPHDnya kini telah mencoba memasang setidaknya sekitar 60 tikung di sepanjang sungai Perawas.

Hadirnya budidaya lebah madu secara lestari ini juga boleh dikata sebagai salah satu bentuk (cara) masyarakat mengelola hutan secara berkelanjutan pula. Karena dengan masih utuhnya hutan (adanya pohon/hutan) di pesisir sungai otomatis lebah madu juga ada. Semoga saja, pelatihan yang diikuti ini dapat menular (berhasil) dikembangkan di desa-desa yang ada di Simpang Hilir, KKU yang mengikuti pelatihan ini. Semoga saja…

Baca juga tulisan yang sama di : Saat Panen Lebah Madu Secara Lestari, Bersembunyi Didalam Kelambu Takut Disengat

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

 

Kesling Demi Pelayanan Kesling, Rela Menyusuri Jalan Berlumpur

Jalan yang penuh lumpur yang kami lalui saat melakukan pelayanan Kesling di Dusun Pangkalan Jihing. Foto dok. Yayasan Palung

Jalan yang penuh lumpur yang kami lalui saat melakukan pelayanan Kesling di Dusun Pangkalan Jihing. Foto dok. Yayasan Palung

Mungkin kata itu yang cocok untuk saya gambarkan dan rasakan terkait keadaan jalan yang kami tempuh ketika kami dari Yayasan Palung bersama dengan Yayasan ASRI melakukan pelayanan kesling (kesehatan lingkungan) di Dusun Pangkalan Jihing, selama 3 hari (13-15 Maret 2016), kemarin.

Perjalanan panjang menyusuri waktu hingga rela menyusuri lumpur, memang tidak semua jalur atau jalan penuh lumpur. Akan tetapi, sejatinya hanya beberapa titik. Ada dua titik jalur jalan yang tergolong rusak cukup parah adalah jalur dari dusun Cali menuju dusun Pangkalan Jihing, Desa Pangkalan Teluk, Kec. Nanga Tayap, Kab. Ketapang, Kalbar. Selanjutnya titik jalan yang rusak di ruas jalan dari dusun Cali menuju ruas jalan ke arah Sumber Periangan, Desa Semblangaan, Nanga Tayap.

Salah satu jalur jalan yang cukup parah rusaknya dari Cali menuju Pangkalan Jihing. Foto dok. Yayasan Palung

Salah satu jalur jalan yang cukup parah rusaknya dari Cali menuju Pangkalan Jihing. Foto dok. Yayasan Palung

Dari jalur yang  rusak, kami mengalami dua kali amblas saat kami pulang dan pergi dari kegiatan. Kubangan lumpur tersebut cukup membuat kami harus bergaul, si driver mobil kami tidak hanya harus bergaul bercampur (rela sesekali turun dari mobil untuk memasang tali, menempelkan badan hingga tubuh, baju dan celana tertempel lumpur) untuk ditarik mobil. Amblas yang kami alami cukup memaakan waktu hingga puluhan menit. Sesekali kami mendorong mobil namun tetap amblas. Beruntung kami dibantu oleh mobil dari teman-teman dari Yayasan ASRI untuk menarik mobil yang kami tumpangi.

Menyusuri lumpur dan perjalan panjang, ya karena kami setidaknya kami harus menyusuri jalan tanah yang harus kami tempuh 2 jam  lebih perjalanan untuk tiba di dusun Pangkalan Jihing.

Saat teman-teman Yayasan ASRI melakukan pemeriksaan pasien yang berobat. Foto dok. Yayasan Palung

Saat teman-teman Yayasan ASRI melakukan pemeriksaan pasien yang berobat. Foto dok. Yayasan Palung

Untuk rangkaian kegiatan pelayanan Kesling (Kesehatan Lingkungan) di Dusun Cali, Yayasan Palung diajak oleh Yayasan ASRI atas kerjasama. Sesekali Yayasan Palung ikut dalam kegiatan Kesling yang dilakukan oleh Yayasan ASRI. Yayasan ASRI selalu rutin melakukan pelayanan kesehatan (pengobatan) bagi warga masyarakat di dusun Pangkalan Jihing setiap bulannya. Warga masyarakat yang berobat dibayar dengan bibit pohon. Sedangkan Yayasan Palung melakukan pemutaran film lingkungan dan puppet show (panggung boneka) sebagai kampanye penyadartahuan/sosialisasi perlindungan satwa di Tanah Kayong ke Sekolah-sekolah dan masyarakat.

Pada malam harinya, kami melakukan pemutaran film lingkungan, film lingkungan yang kami putar adalah film tentang keterancaman nasib hidup orangutan (film Mission Critical Orangutan on The Edge), Potret Keadaan Hutan Indonesia (State of Indonesia’s Forest) 2009-2013 dan film hiburan; Warkop DKI Reborn. Tampak masyarakat antusias dan senang dari film yang mereka tonton.

Pelayanan kesehatan bagi masyarakat, Yayasan ASRI melakukan pengobatan silih berganti kepada warga masyarakat. Ragam keluhan mayarakat yang berobat diantaranya batuk pilek ( flu), demam, periksa kandungan dan ada suntik KB. Setidaknya ada kurang lebih 20 orang pasien yang melakukan pemeriksaan.

Dalam kegiatan puppet show, siswa-siswi Sekolah Dasar Negeri 20 Nanga Tayap yang ada di Dusun Pangkalan Jihing terlihat sangat antusias memainkan boneka satwa dilindungi yang kami mainkan. Kami juga menjelaskan tentang gambar-gambar satwa dilindungi seperti orangutan, bekantan, kelasi, kelempiau, burung enggang dan trenggiling di Tanah Kayong (KKU dan Ketapang) Kalbar.

Saat kami melakukan pendidikan lingkungan melalui media boneka. Foto dok. Yayasan Palung.jpg

Saat kami melakukan pendidikan lingkungan melalui media boneka. Foto dok. Yayasan Palung

Kami juga menceritakan melalui media boneka tentang; peranan penting satwa dilindungi terlebih habitatnya berupa hutan harus terus tetap ada dan lestari. Kami menceritakan, hutan sebagai sumber hidup bagi semua makhluk hidup. Termasuk hutan sebagai penyedia sumber air bersih dan pencegah segala gangguan akibat dari hilangnya hutan (bencana). Siswa-siswi kami ajak menyanyikan lagu Si Pongo; Si Pongo, Si Pongo dia tinggal hutan. Si Pongo, Si Pongo makan buah-buahan…. Hutan si Pongo kemana habisnya, dimana Si Pongo dapat makanannya… Jagalah hutan dan pepohonannya sebelum Si Pongo lapar dan punah….

Saat kami berada di dusun Pangkalan Jihing menemukan ada salah satu warga masyarakat yang memilihara satwa dilindungi. Satwa yang dipelihara tersebut adalah anak burung enggang. Menurut penutuan warga tersebut, anak burung enggang dipelihara karena kasihan sebab lobang kayu (dawak) tempat hidup anak enggang tersebut telah tumbang/roboh. Seperti terlihat, anak enggang tersebut diumpan dengan nasi oleh pemiliharanya.

Serangkaian kegiatan yang kami lakukan berjalan sesuai dengan rencana dan mendapat sambutan baik dari warga masyarakat di dusun Pangkalan Jihing. Selanjutnya, pada hari ketiga, kami mengakhiri rangkaian kegiatan dan kembali ke Kab. Ketapang, sedangkan teman-teman dari Yayasan ASRI kembali ke Kab. Kayong Utara. Dari Yayasan Palung yang hadir dalam kegiatan Kesling tersebut adalah Ranti Naruri, Petrus Kanisius dan dua orang anak magang; Ridho Pratama dan Maulina serta driver bang Panji. Sedangkan dari Yayasan ASRI adalah dr. Vita, Evans Juniansyah, Aulia dan  bang Okto.

Dalam perjalanan pulang menuju ke Ketapang, mobil yang kami tumpangi mengalami amblas lagi, karena jalan yang kami lewati rusak, berlumpur dalam sehingga mobil cukup sulit melaluinya, kami pun kembali ditarik. Namunpun demikian, kami tetap senang dalam melakukan rangkaian kegiatan tersebut.

Baca juga tulisan yang sama di Kesling Demi Pelayanan Kesling, Rela Menyusuri Jalan Berlumpur

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

 

 

 

 

 

 

Asyiknya Fieldtrip Bersama Para Pihak di Hutan Lubuk Baji Kawasan Penyangga TNGP

WS_Lubuk Baji_ 170321_074.JPG

Saat peserta Fieldtrip menuju Lubuk Baji. Foto dok. Wahyu Susanto

Tak hanya kunjungan lapangan (fieldtrip), namun menjelajahi hutan bisa dikata banyak hal yang dapat dilakukan diantaranya mengembangkan sinergisitas dengan para pihak. Setidaknyanya itulah yang Yayasan Palung (GPOCP) dan BTNGP dengan Para Pihak lakukan selama tiga hari (14-16 Maret 2017) kemarin, di Lubuk Baji yang merupakan Kawasan Penyangga Taman Nasional Gunung Palung.

Selama berkegiatan, terlihat capek dari raut wajah peserta yang baru pertama alias jaran mengunjungi hutan. Apabila boleh dikata, mereka terlihat capek, ngos-ngosan menjelajahi dan naik turun bukit selain jarang mengunjungi hutan juga karena faktor usia dan postur badan yang berisi. Hehehe…

Akan tetapi, rasa capek yang mereka rasakan dijamin terbayar lunas dengan hamparan hutan di sekitar kawasan menuju hingga saat berada (sampai) di kawasan Lubuk Baji, TNGP. Benar saja, ragam suara enggang, kelempiau sesekali akrab terdengar tak jauh dari kami, namun enggan menampakan dirinya. Demikian juga suara pancuran air terjun Lubuk Bengkik atau juga Riam Lubuk Baji begitu bergemuruh terdengar. Sesekali beberapa peserta tidak sabar untuk turun karena tergoda dan berkendak membasmi keringat yang telah menyatu saat dalam perjalanan dan melepas dahaga dengan segar dan sejuknya air yang terjun tiada berhenti turun dari ketinggian kurang lebih 10 meter tentu hal yang mengasyikan dan menyenangkan.

WS_Lubuk Baji_ 170321_117.JPG

Merasakan kesegaran air terjun Lubuk Baji. Foto dok. Wahyu Susanto

Satu setengah jam perjalanan dari Dam Begasing menuju Lubuk Baji. Setelah sampai, sebagian besar peserta fieldtrip para pihak bersiap membasuh tubuh alias mandi dengan segar dan sejuknya air sungai yang mengalir di dekat Camp Lubuk Baji.

Di hari pertama, beberapa kegiatan seperti pemaparan beberapa program kegiatan yang dilakukan oleh Yayasan Palung disampaikan kepada para pihak. Terri Breeden, selaku direktur Yayasan Palung mempresentasikan kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Yayasan Palung diantaranya melalui Program Perlindungan Satwa, Pendidikan Lingkungan dan media kampanye, Program Livelihood telah bersentuhan langsung dengan masyarakat. Seperti misalnya melalui beberapa program yang Yayasan Palung memiliki dampak postif dan bisa berlanjut hingga saat ini. Sedangkan presentasi tentang penelitian disampaikan oleh Wahyu Tri Susanto sebagai Direktur Penelitian Yayasan Palung. Wahyu, menjelaskan Gunung Palung, sebagai Taman Nasional, Gunung Palung memiliki  tipe habitat yang lengkap (8 tipe habitat hutan). monitoring satwa; tidak hanya orangutan, tetapi satwa lain seperti kelasi kelempiau dan keanekaraman tumbuhan bisa dijumpai ditempat ini. Jika pengunjung ramai dan agak ribut sedikit sulit untuk bersua/berjumpa dengan orangutan. Selain itu, di TNGP memiliki kelimpahan  satwa.

Demikian juga dengan TNGP menyampaikan presentasi kepada para pihak. Penjelasan terkait luas wilayah TNGP yang semula 90.000 ha, kini bertambah menjadi 108.000 ha. Dimana 80 % nya berada di wilayah KKU, 20 % nya berada di Ketapang. Lubuk Baji merupakan zona pemanfaatan; saat ini LB adalah untuk wisata. 3 prinsip dalam pengelolaan kawasan; perlindungan, pengawetan dan pemanfaatan. Harapan kedepannya, ada kesempatan bersama untuk tujuan rumusan sinergisitas antar pihak, demikian dipaparkan oleh Bapak Bambang selaku Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah 1 Sukadana.

Mengembangkan sinergisitas yang tidak lain sebagai upaya pelestarian dan perlindungan lingkungan hidup merupakan tanggung jawab bersama seluruh komponen di dalam sebuah negara yaitu masyarakat, organisasi non pemerintah, pemerintah dan pihak swasta yang berada di dua wilayah kabupaten (Kayong Utara dan Ketapang), Kalbar. Para pihak terutama pemerintah dan organisasi non pemerintah memiliki agenda masing-masing dalam upaya tersebut yang perlu disinergiskan agar dapat saling mengisi dan mendukung. Dengan kata lain kegiatan ini bertujuan; Pertama, Mengembangkan sinergisitas program antara Yayasan Palung, Stasiun Riset Cabang Panti (SPCP), Balai Taman Nasional Gunung Palung (BTNGP) dan SKPD Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara. Kedua, Meningkatkan kerjasama antara para pihak dan ketiga, Rekreasi dan Refreshing ke Taman Nasional Gunung Palung. Atau dengan kata lain tujuan dari kegiatan ini singkatnya adalah membangun sinergisitas para pihak untuk perlindungan kawasan dengan ragam kegiatan yang mungkin bisa disingkronkan untuk dilakukan secara bersama-sama pula.

WS_Lubuk Baji_ 170321_166.JPG

Terri Breeden saat menyampaikan presentasi kepada para pihak. Foto dok. Wahyu Susanto

Di hari kedua, peserta diajak untuk mendiskusikan apa-apa saja kegiatan yang bisa dilakukan secara bersama-sama para pihak. Mengingat, Kawasan TNGP dan masyarakat menjadi tanggungjawab semua pihak untuk perlindungan kawasan dan mengembangkan potensi-potensi yang ada di sekitar kawasan. Seperti misalnya, Lubuk Baji yang berada didalam kawasan penyangga yang tidak lain juga sebagai sebagai zona pemanfaatan untuk  ekowisata, penelitian dan pendidikan. Kawasan Lubuk Baji sangat berpotensi sebagai sumber air bersih karena kawasan hutan di wilayah ini masih terjaga. Demikian juga dengan ragam tumbuh-tumbuhan seperti anggrek dan satwa. Selanjutnya, dilanjutkan dengan diskusi rencana tindak lanjut (RTL) antara lain berupa kerjasama antara instansi yang hadir dan juga melibatkan instansi yang tidak hadir. Pentingnya kersama  dari berbagai pihak di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara ini sangat penting untuk perlindungan kawasan konservasi.

Para pihak yang mengikuti kegiatan ini menyambut baik dengan adanya rencana kerjasama (sinegisitas) bersama disekitar kawasan TNGP. Setelah penyusunan RTL, dilajutkan pembacaan puisi lingkungan oleh Yohanes Terang, Aktivis dan tokoh masyarakat, penulis buku; Menjaga Yang Tersisa, Beliau sekaligus juga sebagai Pembina Yayasan Palung. Puisi tentang, Gunung Palung Yang Agung Nafas Penyambung.

Pada hari ketiga, kegiatan diisi dengan kegiatan santai karena hari terakhir berkegiatan. Sekitar pukul 05.30 Wib untuk melakukan Pengamatan Fauna dan Hunting Sunrise ke Batu Bulan. Dari Batu Bulan, jika cuaca bersahabat kita akan melihat pemandangan yang memanjakan mata antara lain melihatnya mentari yang muncul dan pemandangan persawahan masyarakat di Desa Sedahan Jaya, Kab. KKU dan tampak Gunung Palung didepan. Tidak jarang ada yang mengatakan dari Batu Bulan  tak ubah berada di negeri diatas awan.

Sekilas tentang asal usul Lubuk Baji

Nama Lubuk Baji berlatar belakang legenda seseorang pekerja yang kehilangan sebuah baji (pasak) di sekitar sebuah lubuk. Si pekerja terus melakukan pencaharian tetapi tidak ditemukan. Sejak saat itulah tempat ini dinamakan Lubuk Baji. Lubuk Baji memiliki ketinggian kurang lebih 10 meter, dengan suasana sejuk dikelilingi pepohonan menjadi tempat yang menarik untuk beristrahat dan sekedar berfoto.

Asal Usul Batu Bulan

Menurut masyarakat setempat, saat bulan purnama batu ini (batu bulan) seperti memantulkan cahaya bulan purnama bila dilihat dari arah perkampungan terdekat, sehingga masyarakat menamakan batu ini batu bulan.

Direktur Yayasan mengatakan; melalui fieldtrip ini merupakan sukses besar, ini sebagai kesempatan yang indah untuk semua organisasi yang bekerja untuk melindungi Kawasan Taman Nasional Gunung Palung dan lanskap sekitarnya untuk mengalami keindahan daerah ini yang ditawarkan. Kami mampu untuk keluar dari kantor dan bekerja sama untuk membuat komitmen baru untuk konservasi dan masyarakat lokal.

WS_Lubuk Baji_ 170321_255.JPG

Peserta Fieldtrip saat merasakan sunrise di Batu Bulan. Foro dok. Wahyu Susanto

Setidaknya ada 16 orang peserta fieldtrip para pihak yang terdiri dari BTNGP, Yayasan Palung, SPCP BKSDA SKW 1 Ketapang, Bappeda Kab. Ketapang dan Kab.Kayong Utara dan Kepolisian Resort KKU. Fieldtrip yang dilaksanakan oleh para pihak tersebut berjalan sesuai rencana, sebelum pulang kami menyempatkan diri untuk operasi semut (membersihkan sampah) dan berfoto bersama.

Baca juga tulisan yang sama di : Yayasan Palung bersama BTNGP Adakan Fieldtrip dengan Para Pihak

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

 

 

 

 

Lagu Si Pongo

Female = BethInfant = Benny

Female = Beth Infant = Benny

Lagu Si pongo

Lagu : SI PONGO

Lagu Ciptaan: Yayasan Palung

Si po-ngo  Si po-ngo dia tinggal di hutan
Si po-ngo  Si po-ngo makan buah bu-ahan
Si po-ngo  a-da-lah se ekor o-rang-u-tan
Si Po-ngo  Si po-ngo perlu te-man te-man

Pongo pu-nya ba-pak yang besar dan galak
Po-ngo tak se-ring berte-mu dia
Bapak pongo su-ka main sendirian
Di-a tidak ban-tu ibu dan anaknya

kembali ke reff;

Pongo punya i-bu yang baik dan pe-nyayang
Ibu me-ngajar-kan tentang kehidu-pan
Po-ngo dan i-bu  di hutan bersa-ma
Pongo tanpa i-bu sungguh kasihan

kembali ke reff;

Hu-tan si po-ngo kemana habisnya
Di ma-na si po-ngo dapat makanannya
Jaga lah hu-tan dan pepohonannya
Sebelum si Po-ngo lapar dan punah.