Category Archives: Berita umum dan khusus

Lagu Si Pongo

Female = BethInfant = Benny

Female = Beth Infant = Benny

Lagu Si pongo

Lagu : SI PONGO

Lagu Ciptaan: Yayasan Palung

Si po-ngo  Si po-ngo dia tinggal di hutan
Si po-ngo  Si po-ngo makan buah bu-ahan
Si po-ngo  a-da-lah se ekor o-rang-u-tan
Si Po-ngo  Si po-ngo perlu te-man te-man

Pongo pu-nya ba-pak yang besar dan galak
Po-ngo tak se-ring berte-mu dia
Bapak pongo su-ka main sendirian
Di-a tidak ban-tu ibu dan anaknya

kembali ke reff;

Pongo punya i-bu yang baik dan pe-nyayang
Ibu me-ngajar-kan tentang kehidu-pan
Po-ngo dan i-bu  di hutan bersa-ma
Pongo tanpa i-bu sungguh kasihan

kembali ke reff;

Hu-tan si po-ngo kemana habisnya
Di ma-na si po-ngo dapat makanannya
Jaga lah hu-tan dan pepohonannya
Sebelum si Po-ngo lapar dan punah.

Potret Orangutan dalam Ancaman Nyata di Habitat Hidupnya

Stop!!! Merusak Hutan, Lindungi Kehidupan Orangutan. Foto dok. Yayasan Palung

Prihatin, sedih dan mungkin itu yang bisa dikatakan saat ini terhadap nasib orangutan. Keberlangsungan nafas hidup makhluk hidup saat ini tidak bisa di sangakal dalam ancaman nyata (sangat terancam) di habitat hidupnya berupa hutan. Hutan sebagai rumah kian sempit dan terhimpit dari hari ke hari hingga saat ini.

Ancaman nyata menyempitnya atau bahkan hilangnya habitat hidup orangutan salah satunya disebabkan beberapa hal diantaranya; perluasan lahan berskala besar digunakan untuk perkebunan, pertambangan, pertanian hingga pembangunan menjadi penyebab utama sangat terancamnya nasib hidup orangutan dan beberapa satwa lainnya.

Tidak hanya itu, kebakaran lahan dan ilegal logging tidak kalah hebatnya merampas hutan sebagai rumah dari orangutan. Selain juga masih maraknya perburuan dan perdagangan satwa menjadi persoalan yang boleh dikata seakan tidak berhenti terjadi.

Hilangnya luasan tutupan hutan menjadi ancaman serius bagi orangutan dan satwa lainnya (makhluk hidup) yang mendiami hutan.

Jika dibiarkan tanpa adanya perhatian dan kepedulian, bukan tidak mungkin orangutan dan satwa lainnya yang mendiami hutan akan hilang atau punah.

Perlu perhatian dari semua pihak tanpa terkecuali untuk kelestarian orangutan dan habitatnya demi keberlanjutan semua makhluk hidup termasuk kita manusia.

Dengan menyelamatkan orangutan dan hutan berarti juga menyelamatkan kehidupan agar lebih baik hingga selamanya dan lestari.

Lihat  Video : Nasib orangutan dan hutan yang hidupnya semakin terancam serta terampas. Video dok. GREEN a film by Patrick Rouxel.

Semoga saja…

Berikut Beberapa Jenis Satwa Dilindungi di Tanah Kayong

Rayap dan serangga termasuk makanan orangutan. Foto dok. Tim Laman dan Yayasan Palung

Orangutan Jantan yang ada di Gunung Palung. Foto dok. Tim Laman

Satwa dilindungi sudah sepatutnya kita jaga dan lindungi di habitat hidupnya. Mengingat, keberadaan populasinya terancam ataupun sangat terancam punah di habitat hidupnya akibat beragam kegiatan ataupun aktivitas manusia seperti pembukaan lahan  berskala besar.

satwa-dilindungi-di-tanah-kayong-foto-dok-yayasan-palung

 

Foto data dok. Yayasan Palung

Perlu peran dari semua pihak untuk menjaga dan melindungi satwa yang masih ada dan tersisa di Tanah Kayong  (sebutan untuk Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara), Kalimantan Barat, Indonesia.

satwa-dilindungi-di-tanah-kayong-foto-dok-yayasan-palung-2

Foto data dok. Yayasan Palung

Melestarikan dan menjaga hutan agar tetap lestari, berarti juga memberikan juga kehidupan bagi banyak makhluk hidup tidak terkecuali banyak primata (satwa) dilindungi yang saat ini.

Sedangkan satwa langka yang menjadi prioritas di Indonesia saat ini ada 25 satwa endemik/terancam punah.

25-satwa-langka-prioritas-sumber-data-dok-klhk

Semoga saja satwa dilindungi dapat terlindungi dan lestari di habitat hidupnya di seluruh wilayah Indonesia.

Resensi Buku : “Menjaga yang Tersisa”, Mari Merawat Bumi dan Isinya untuk Selamanya

Cover Buku, Menjaga yang Tersisa, Foto Dok. YP.jpg

Cover Buku, Menjaga yang Tersisa, Foto Dok. YP

Tidak bisa disangkal, bumi beserta segala isinya (makhluk hidup) tidak terkecuali hutan dan satwa serta manusia merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dalam kehidupan ini. Bagaimana bila bumi yang tersisa dibiarkan begitu saja tanpa diperhatikan dan tidak untuk dijaga, bayangkan bila bumi tidak tersisa.

Buku yang ditulis oleh Yohanes Terang  Menjaga yang Tersisa;  Sajak dan Renungan dari Laman Satong,  sedikit banyak menjadi pengingat sekaligus ajakan bagi kita semua tanpa terkeculi untuk merenungkan tentang keadaan dan keberadaan bumi yang saat ini keadaannya (nasibnya) terletak pada tanggungjawab dan kebijaksanaan kita. Mengingat,  bumi sudah semakin renta, rimba raya dan satwa kian memprihatinkan keberadaannya. Hutan semakin menyusut, satwa semakin sempit dan sulit untuk bertahan hidup. Terkadang kita manusia pun tidak luput dari apa dampak dari semakin menipisnya luasan tutupan hutan.

Ungkapan sajak, renungan dan puisi yang tersaji dibuku yang tebalnya 115 halaman tersebut berkisah tentang awal mulanya sebaagung  namun kini dunia telah renta. Seperti pada halaman  11,  dituliskan Dunia Telah renta.

Semula semula  kujumpa serbaagung

Gunung-gunung menjulang hijau tinggi membusung

Jurang-jurang panjang dalam menerima suara gaung

Air yang gemericik, satwa  bersenandung.

Menunjukkan besarnya kuasa Sang Pencipta

Namun, tiba-tiba berubah seketika

Akibat tidak ada lagi cinta  tersimpan dalam dada

Kini pohon-pohon raksasa tak lagi dijumpa

Berjuta-juta tanaman kecil merana tertimpa

Oleh ibu bapanya.

Kicauan satwa tak lagi terdengar

Telah sirna entah kemana

Seolah-olah bisu tanpa kata

Habitatnya terobrak-abrik

Ketenangan tercabik-cabik

Semuanya tak ada lagi yang menarik

Terlihat semua sudah sikap menampik

Kini masih adakah?

Yang berjiwa mulia?

Untuk mempertahankan yang tersisa

Agar tak lagi terjadi seperti yang ada.

Kini kucoba untuk melakukannya sampai aku dijemput oleh-Nya.

Ungkapan ketulusan dari hati yang terdalam bapak Yohanes Terang secara nyata bercerita tentang fakta yang terjadi sesuai realita yang terjadi (menimpa) dunia.

Agar tidak lupa, seperti pada halaman 16, pembaca diingatkan kembali dengan renungan;

Awal mula bumi diciptakan sempurna  tak ada yang palsu

Pencipta menciptakan atau menyertakan berjuta rupa, bentuk, arti dan warna

Satu diantranya adalah manusia sebagai pewaris, pelindung dan penajaga agar tidak habis bagi anak cucu.

Dengan berjalannya waktu dan bergantinya hari, tak terasa telah terjadi degradasi dengan berkurangnya nilai, bentuk dan rasa

Kemanusiaan, bukit, lautan, flora, fauna telah telah ternoda  oleh kekuasaan, kepentingan.

Uang yang membuat manusia lupa. Kita dengar dalam cerita, kita pantau lewat media, kita lihat dengan mata tentang semua peristiwa yang mendera.

Hai manusia ingatlah rentetan peristiwa yang memilukan yang menyayat banyak hati, tanda-tanda akan terjadi isak tangis, gertak gigi, pabila kita tak sanggup menyelamatkan bumi tempat kita berada.

Ajakan kepada para pemimpinpun disampaikan untuk peduli pada bumi ibu pertiwi sebagai tempat dan keberlanjutan nafas hidup hingga nanti. Seperti yang dituliskan pada halaman 110.

 Jabatanmu seorang  petinggi,

Menjunjung tinggi sumpah janji seorang abdi.

 Berbuat selau mendengarkan suara hati 

Terobosan  yang tepat mencari solusi

Mengurangi degradasi

Mengangkat derajat negeri ini

Agar sejajar dengan bangsa lain di atas bumi.

Di halaman 108, pembaca diajak untuk bersukaria, bila alam terjaga lestari selamanya maka  hutan kembali menghijau, satwa kembali berkicau, pikiran pun tak lagi galau. Kita semua suka,  kita semua bahagia bila semuanya bisa lestari untuk selamanya.

Buku ini sangat direkomendasikan bagi semua kalangan karena sangat syarat makna dan pesan moral tentang ajaran hidup/kehidupan berupa bumi tempat berpijak. Menjaga yang Tersisa (hutan, satwa dan segala isi) bumi menjadi tanggungjawab kita semua secara bersama pula pula. Bumi yang tersisa ini sebagai tempat hidup sudah sejati untuk dijaga, dipelihara dan dilestarikan hingga nanti. Mari merawat bumi hingga nanti (selamanya) sebelum terlambat, demi kehidupan yang lebih baik.

Judul Buku : Menjaga yang Tersisa;  Sajak dan Renungan dari Laman Satong

Penulis : Yohanes Terang

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Tebal : 115 Halaman

ISBN : 978-602-03-1499-0

Tulisan ini sebelumnya dimuat di sesawi.net Menjaga yang Tersisa, Mari Merawat Bumi dan Isinya Selamanya

Petrus Kanisius, Yayasan Palung

 

 

Berikut Beberapa Tumbuhan dan Satwa Endemik yang Berasal dari Kalimantan

tumbuhan sejenis Amorphophallus titanum

Foto :Tumbuhan sejenis Amorphophallus sp. Foto dok. M. Rizal Alqadrie, YP

Tumbuhan dan satwa merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan di lingkungannya yang tidak lain adalah hutan, tidak terkecuali di daerah hutan hujan seperti di Kalimantan. Tentunya, tumbuhan, hutan dan satwa begitu penting bagi keberlanjutan bumi hingga nanti.  Bayangkan bila tumbuhan, hutan dan satwa tidak ada apa yang terjadi?.

Beberapa tumbuhan dan satwa  endemik yang ada di Kalimantan antara lain adalah :

Tumbuhan endemik yang berasal dari Borneo (Kalimantan); anggrek hitam (Coelogyne pandurata), bunga bangkai (Amorphpophallus titanium). Sedangkan tumbuhan buah seperti durian hutan, teratong, durian burung, pekawai, jantak /jatak, Melinsum/linsum (salak Kalimantan) dan Asam maram. Beberapa tumbuhan-tumbuhan ini sangat istimewa bagi manusia dan satwa. Dari buah-buahan tumbuhan ini manusia bisa terbantu dari segi ekonomi dengan memanfaatkannya sebagai penghasilan. Hal yang sama juga, dari tersedianya buah-buahan dari tumbuhan hutan menjadikan satwa/hewan dapat bertahan hidup.

Sedangkan satwa/hewan endemik asal Kalimantan antara lain adalah; Orangutan, Bekantan, Burung enggang. Ketiga satwa ini keadaannya dari hari kehari semakin memprihatinkan keberadaannya dikarena habitat hidup mereka berupa hutan kian semakin sempit.

Rayap dan serangga termasuk makanan orangutan. Foto dok. Tim Laman dan Yayasan Palung

Orangutan Jantan yang ada di Gunung Palung. Foto dok. Tim Laman

Orangutan misalnya, satwa endemik yang disebut kera besar ini mendiami dua pulau (Sumatera dan Kalimantan)  dan memiliki kemiripan DNA dengan manusia mencapai 96,4 %. Saat ini orangutan masuk dalam status IUCN dalam daftar sangat terancam punah.

Monyet belanda, demikian monyet yang memiliki hidung mancung disebut. Habitat hidup dari bekantan adalah di sekitar hutan  tepian sungai. Keberadaan satwa ini juga sangat dilindungi karena satwa ini hanya terdapat di pulau Kalimantan.

Sedangkan nasib dari burung enggang tidak kalah terancamnya. Dari tahun ke tahun kepak sayap dari burung enggang yang menjadi ikon kota Pontianak ini kian sayup terdengar karena sering diburu paruhnya. Sepanjang tahun nasib hidup burung enggang kian tragis dialamnya berupa hutan. hal yang sama juga bagi kelempiau, kelasi dan beberapa satwa lainnya tidak terkecuali tarsius dan kukang.

Beberapa tumbuhan dan satwa yang berdiam di hutan sebagai habitat hidupnya tidak terkecuali memiliki fungsi merupakan rantai makanan (penyeimbang ekosistem). Adanya tumbuhan, hutan dan satwa memiliki peranan penting bagi keberlanjutan atau keharmonisan makhluk hidup lainnya yang sayang jika tidak berlanjut.

Tumbuhan, hutan dan satwa juga memiliki peranan penting bagi satukesatuan bagi semua makhuk hidup lainnya. Tidak bisa disangkal, tumbuhan, hutan dan satwa sangat berguna/bermanfaat bagi manusia dan lingkungan. Hutan dan tumbuhan memiliki peran bagi tersediannya oksigen, penyedia perpustakaan bagi ilmu pengetahuan dan sebagai pencegah terjadinya berbagai ancaman yang bisa saja mendera seperti banjir, longsor dan kekeringan.

Demikian juga halnya satwa endemik seperti orangutan dan burung enggang yang memiliki fungsi sebagai penyembang (spesies payung). Mengapa? Disebut sebagai spesies payung karena satwa yang dimasud adalah sebagai penyebar biji-bijian sebagai cikal bakal reboisasi hutan secara alami. Tumbuhan pun begitu penting bagi tatanan kehidupan lainnya (makhluk lainnya) sama halnya dengan hutan. Tumbuhan memiliki peranan penting bagi penyedia obat-obatan alami (obat-obat tradisional).

Adanya satwa dan tumbuhan sebagai indikator (penanda) hutan sebagai habitat hidup masih baik adanya. Sebaliknya bila hutan, tumbuhan dan satwa sudah semakin berkurang atau bahkan sangat terancam punah/hilang pasti keberlanjutan makhluk hidup termasuk manusia dijamin akan sulit bertahan (berlanjut) secara lestari bila tidak ada tumbuhan, hutan dan satwa.

Perlu perhatian semua pihak jika tumbuhan, hutan dan satwa boleh berlanjut. Salah satunya kepedulian, kebijaksanaan serta perlindungan. Dengan demikian tumbuhan, hutan dan satwa dapat terjaga dengan baik pula demi keberlanjutan makhluk hidup terlebih kita manusia.

Tulisan ini sebelumnya dimuat di Blog mongabay Indonesia Berikut Beberapa Tumbuhan dan Satwa Endemik yang Berasal dari Borneo

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Prihatin, Ada Pembantaian Keji Terhadap Orangutan di Kapuas

orangutan-yang-dibunuh-dan-di-konsumsi-oleh-pemburu-borneonews_-roni-sahala

Orangutan yang dibunuh dan di konsumsi oleh pemburu. Borneonews/Roni Sahala

Tidak hanya dibunuh, kejamnya lagi, daging orangutan tersebut mereka  makan (para pemburu) beramai-ramai. Tentu perbuatan seperti ini tidak seharusnya dilakukan dan terjadi. Selain juga tindakan (perbuatan) tersebut keji dan melanggar hukum, hal ini terjadi di Kapuas, Kalteng, (14/2/2017) kemarin.

Mengutip dari laman detik.com, peristiwa  itu diketahui setelah masyarakat melaporkan  kejadian tersebut kepada Wakil Ketua Komisi IV DPR Daniel Johan. Komisi IV sendiri memang membidangi masalah kehutanan.

Baca;https://news.detik.com/berita/d-3422098/anggota-dpr-terima-aduan-orangutan-di-kalteng-dibunuh-dan-dimasak dan http://www.borneonews.co.id/berita/52114-ngeri-bangkai-orangutan-ini-diolah-untuk-dimakan .

Sebagai satwa yang sangat terancam punah (endemik) atau dengan kata lain masuk dalam daftar merah/red list dan dilindungi oleh Undang-undang  sudah sepatutnya untuk terus dijaga dan dilindungi apa lagi membunuh atau memakan orangutan sebagai satwa yang dilindungi tersebut. Baca;http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/orangutan-sangat-terancam-punah-apa-yang-harus-dilakukan_5822e879cb23bd1023027133.

Peristiwa yang terjadi ini pun seakan menambah derita panjang tentang nasib satwa yang dilindungi keadaannya (kondisinya) kini semakin terancam akibat semakin menyempit untuk perluasan lahan berskala besar dan diperparah lagi dengan kasus perburuan yang juga masih saja masif terjadi.

Suatu tidakan yang boleh dikatakan keji tersebut sudah seharusnya untuk dikecam dan berharap harus ada sangsi tegas dan tindakan untuk efek jera terhadap pelaku sesuai dengan sanksi tata aturan yang berlaku. Dengan harapan tidak ada lagi terjadi kasus-kasus seperti ini secara berulang dan jangan sampai terjadi pada satwa-satwa dilindungi terlebih orangutan sebagai satwa endemik.

Mengingat, satwa dilindungi semakin terancam dan semakin langka menjelang terkikis habis termasuk habitat satwa berupa hutan. Maka dari itu, perlu upaya-upaya perlindungan dan kelestarian satwa-satwa dilindungi dengan ragam pendekatan kepada masyarakat seperti sosialisasi (penyadartahuan) tentang satwa dilindungi, edukasi dan informasi satwa dilindungi  dan beragam kegiatan lainnya yang mungkin bisa untuk mencegah hal ini agar tidak terjadi lagi.

Selain itu juga harus ada sanksi tegas terhadap para pelaku yang melakukan kejahatan terhadap satwa dilindungi. Tentunya, diperlukan peran serta dari semua pihak secara bersama pula tanpa terkecuali untuk menjaga dan melestarikannya (pelestarian), termasuk perlindungan terhadap hak hidup dari satwa dilindungi lainnya.

Nasib hidup satwa dilindungi untuk terus berlanjut dan lestari  ada pada kepedulian dari kita semua tidak hanya pemerintah, lembaga-lembaga konservasi lingkungan dan lembaga yang focus pada kelestarian satwa serta siapa saja. Apabila tidak, maka akan dikhawatirkan kasus-kasus seperti ini akan terulang dan satwa dilindungi akan semakin terancam punah bahkan punah di alamnya dalam waktu  singkat. Berharap, semoga aparat penegak hukum bertindak tegas dan segera memproses secara hukum supaya kasus seperti ini tidak terulang lagi.

Tulisan ini juga sebelumnya telah dimuat di Kompasiana :Astaga, Ada Pembantaian Keji terhadap Orangutan di Kapuas

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Cerita Sukses Pengrajin Pandan dari Kayong Utara

Tikar pandan dari kreasi jari jemari pengajin. Foto dok. Yayasan Palung.jpg

Tikar pandan dari kreasi jari jemari pengajin. Foto dok. Yayasan Palung

 

“ Hasil dari menganyam daun pandan, pengrajin bisa merenovasi rumah dan dapat membeli Perhiasan”

Setidaknya salah satu program pendampingan masyarakat yang berada dikawasan Taman Nasional Gunung Palung (TNGP) salah satunya adalah untuk mengangkat perekonomian masyarakat melalui bidang kerajinan tradisional yang ada di Kabupaten Kayong Utara (KKU). Potensi SDA dan SDM yang ada di sekitar TNGP sangat mendukung untuk meningkatkan keterampilan dan kesejahteraan masyarakat lokal melalui pemanfaatan hasil hutan bukan kayu berupa pandan dan nipah.  Hal inilah yang mendorong Yayasan Palung untuk membina para pengrajin hasil hutan bukan kayu (HHBK) hingga para pengrajin menuai cerita sukses, salah satunya dengan mengayam pandan mereka meningkatan ekonomi sehari-hari, tidak terkecuali merenovasi rumah hingga dapat membeli perhiasan.

dari-menganyam-pengrajin-bisa-merenovsi-rumah-membeli-kendaraan-dan-perhiasan-foto-dok-yayasan-palung

Dari menganyam, pengrajin bisa merenovsi rumah, membeli kendaraan dan perhiasan. Foto dok. Yayasan Palung

Sudah 5 tahun sejak tahun 2011, Tim Sustainable Livelihood (SL-YP) melakukan pembinaan dan pendampingan kepada komunitas pengrajin tradisional yang ada disekitar TNGP. Banyak cerita sukses yang dialami dan dirasakan masyarakat baik itu peningkatan kapasitas melalui kegiatan pelatihan. Terbangunnya pola fikir dan pengetahuan akan hal-hal yang baru telah mengantar beberapa pengrajin menjadi narasumber atau dengan kata lain menjadi instruktur/pelatihan yang diadakan oleh lembaga mitra bahkan instansi Pemerintah Daerah. Lancarnya pemasaran produk yang terjalin berkat kerjasama (bersama) DEKRANASDA KKU telah membuat komunitas pengrajin menjadi lebih dikenal oleh masyarakat luas yang salah satunya mampu meningkatnya pendapatan komunitas pengrajin secara signifikan pada kehidupan masyarakat atau komunitas pengrajin tersebut.

para-pengrajin-sering-mengadakan-pertemuan-rutin-foto-dok-yayasan-palung

Para pengrajin sering mengadakan pertemuan rutin. Foto dok. Yayasan Palung

Sudah cukup banyak testimoni (kesaksian) pengrajin yang merasakan hasil dari penjualan kerajinan pandan tersebut dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga masyarakat pengrajin. Mulai dari membeli kendaraan (motor), membeli perhiasan, merenovasi rumah, membantu biaya pendidikan anak, membeli perabot rumah tangga, hingga kepada pemenuhan akan kebutuhan sandang dan pangan.

Inilah yang dialami dan dirasakan oleh dua orang pengrajin yaitu Ibu Ayu Baiti kelompok HHBK Karya Sejahtera dari Desa Sejahtera dan Ibu Rajemah kelompok HHBK Peramas Indah dari Desa Pangkalan Buton di Kabupaten Kayong Utara.

Melalui penjualan kerajinan pandan Ibu Ayu Baiti dari kelompok HHBK Karya Sejahtera mampu membeli perhiasan  berupa gelang dan dua buah cincin emas. Ini adalah desakan dari anak-anaknya karena mengingat usianya yang sudah hampir mencapai 55 tahun. Sebenarnya tidak hanya membeli perhiasan saja, menurut Ibu Ayu Baiti pada tahun 2012 setelah pembentukan kelompok Karya Sejahtera, beliau mendapatkan hasil dari penjualan produk kerajinan pandan melalui event pameran Expo KKU dan mendapatkan hasil sekitar Rp 2,5 juta. Uang yang terkumpul dijadikannya sebagai uang muka untuk beli (kredit) motor dan untuk pembayaran setiap bulannya beliau menggunakan uang dari hasil penjualan kerajinan pandan yang difasilitasi oleh Yayasan Palung dan DEKRANASDA KKU. Hingga 3 tahun lebih lamanya, kredit motor tersebut akhirnya bisa dilunasi oleh Bu Ayu Baiti melalui penjualan kerajinan pandan.

tikar-pandan-foto-dok-yayasan-palung

Tikar Pandan. Foto dok. Yayasan Palung

Cerita serupa dialami oleh Ibu Rajemah dari kelompok HHBK Peramas Indah. Pendapatan dari hasil kerajinan pandan digunakannya untuk merenovasi rumahnya yaitu membuat teras rumah dengan menggunakan lantai keramik. Menurut ibu Rajemah ini untuk kenang-kenangan dari hasil kerajinan pandan. Tidak hanya dengan melakukan renovasi rumah, Bu Rajemah bisa membiayai anaknya ke Perguruan Tinggi di Pontianak dari hasil penjualan kerajinan ini. Karena penghasilan setiap bulan dari penjualan ini cukup untuk biaya anak sekolah dan kadang-kadang sudah melebihi dalam pemenuhan akan kebutuhan sehari-hari dalam rumah tangganya.

Bu Ayu Baiti dan Bu Rajemah merupakan contoh pengrajin yang menikmati hasil dari program ekonomi alternatif Yayasan Palung melalui pendekatan anyaman kerajinan tradisional ini. Sebenarnya masih banyak masyarakat  pengrajin atau penerima manfaat yang merasakan hasil dan keuntungan dari program tersebut. Sebut saja Ibu Hatimah, Ibu Aisyah, Ibu Ramlah, Ibu Ida, Ibu Norani, Bu Asnah, Bu Salmiah, Pak Darwani dan masih banyak lagi pengrajin lainnya. Menurut masyarakat pengrajin, hasil penjualan kerajinan mereka sejak bersama Yayasan Palung telah meningkat secara signifikan dan bahkan bisa membuat mereka untuk menabung. Hasil penjualan setiap bulan bisa digunakan untuk kebutuhan biaya makan dan minum dan bahkan bisa digunakan untuk memenuhi keperluan lain selain ditabung.

Ini adalah cerita sukses dari masyarakat pengrajin HHBK yang berada disekitar kawasan TNGP. Informasi yang dituliskan dalam artikel ini diperoleh dari kegiatan monitoring yang secara rutin dilakukan oleh tim SL-YP ke masyarakat pengrajin. Semoga program ini bisa terus bermanfaat bagi masyarakat disekitar TNGP. Salam lestari.

Penulis : Wendi Tamariska, Sy. Abdul Samad  dan Petrus Kanisius-Yayasan Palung

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Siapkan Enam Beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan di Tahun 2017

foto-komik-bocs-2017-yayasan-palung

Foto Komik BOCS 2017. Yayasan Palung

Klik di sini untuk melihat komik BOCS 2017 :komik-bocs-tahun-2017-dok-yayasan-palung-dan-bocs

Siapkan Diri Kamu Untuk Peruntungan Beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan (BOCS). Seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini  Yayasan Palung (YP) bersama dengan Orangutan Republik Foundation (OURF) menyediakan 6 (enam) beasiswa program S-1 melalui Program Peduli Orangutan Kalimantan (Bornean Orangutan Caring Scholarship) 2017.

Mengingat, Yayasan Palung merupakan lembaga non profit yang bekerja untuk konservasi orangutan dan habitat serta pengembangan masyarakat. Yayasan Palung bekerja dengan semua pihak yang mempunyai tujuan sama untuk perlindungan terhadap orangutan dan habitat di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara, Kalimantan Barat.

Adapun tujuan dari program beasiswa ini antara lain adalah untuk ; Pertama, Melahirkan generasi intelektual Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara yang mempunyai komitmen dan kepedulian yang tinggi terhadap upaya perlindungan dan penyelamatan Orangutan Kalimantan dan habitatnya. Kedua, Memberikan dukungan moril dan materil kepada generasi muda Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara untuk meneruskan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Ketiga, Memajukan kerjasama pendidikan tentang potensi kekayaan alam lokal antara pihak-pihak di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara.

Sedangkan untuk syarat dan ketentuan Penerima Beasiswa orangutan antara lain;  1. Yang berhak menerima beasiswa ini adalah calon mahasiswa/i yang berasal dari Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara, diutamakan yang kurang mampu secara ekonomi.  2. Diusulkan oleh pihak sekolah dan atau atas usulan siswa bersangkutan namun meminta rekomendasi dari pihak sekolah. Setiap sekolah berhak mengusulkan 2 (dua) orang siswa. 3. Diperuntukkan bagi calon mahasiswa/i yang berencana kuliah di Universitas Tanjungpura, Pontianak, Propinsi Kalimantan Barat. 4. Bersedia melakukan penelitian skripsi berkaitan dengan aspek-aspek perlindungan dan penyelamatan Orangutan Kalimantan. 5. Memiliki prestasi yang baik, berkomitmen untuk konservasi dan mempunyai motivasi yang tinggi untuk belajar / kuliah hingga selesai.

Sedangkan Persyaratan Pendaftaran: Formulir pendaftaran dapat diperoleh di sekolah masing-masing, diisi dengan lengkap ;

  •       Menyertakan fotocopy berkas sebagai berikut:
    1. Raport dari semester 1 – 5 sebagai kualifikasi akademis
    2. Surat pengantar dari kepala sekolah
    3. Surat dukungan / referensi dari wali kelas / guru yang mengetahui keadaan siswa
    4. Fotocpy Kartu Keluarga (KK)
  • Membuat motivation letter atau pernyataan motivasi yang berisi tentang Biografi (menceritakan tentang diri dan keluarga Anda, alasan Anda harus diterima sebagai penerima beasiswa, fakultas dan jurusan di Universitas Tanjungpura Pontianak, yang dipilih dan alasan memilihnya), minimum 200 kata. Pernyataan motivasi ini bisa ditulis tangan atau diketik, diserahkan sebanyak 3 (tiga) rangkap.
  • Membuat Esai tentang manfaat pendidikan yang akan Anda terima bagi daerah Anda. [Ceritakan berangkat dari apa yang terjadi / keadaan alam dan lingkungan di daerah anda saat ini, apa peran pemerintah, swasta dan masyarakat terkait dengan keadaan tersebut. Berdasarkan keadaan tersebut, apa perbedaan yang akan Anda lakukan ketika sudah menjadi sarjana untuk konservasi di daerah Anda]. Esai dibuat dengan ketentuan, buah pikiran sendiri / orisinil dengan panjang 1000 kata, menggunakan gaya bahasa populer dengan kaidah 5 W 1 H (What, Who, When, Where, Why, How).
  • Berkas pendaftaran dapat diserahkan langsung ke Yayasan Palung (baik kantor di Ketapang maupun di Bentangor Desa Pampang Kec. Sukadana) atau melalui jasa pengiriman paling lambat 14 Maret 2017.

Sedangkan tahap seleksi dimulai dengan seleksi berkas, motivation letter dan esai. Peserta yang lulus seleksi tahap I ini akan mengikuti tahap seleksi II / akhir. Surat pemberitahuan hasil seleksi tahap I akan dikirim ke sekolah-sekolah, juga akan ada pemberitahuan kepada pendaftar melalui telpon dan pesan singkat (sms) pada 17 Maret 2017.

Seleksi lanjutan, yaitu presentasi dan wawancara. Peserta seleksi diwajibkan mempresentasikan motivation letter, alasan memilih fakultas dan jurusan di UNTAN dan esai yang disajikan dalam power point (ppt), serta menjawab pertanyaan yang diajukan oleh tim juri. Seleksi ini akan dilaksanakan pada 28 Maret 2017 di Kantor Yayasan Palung di Ketapang. Nilai seleksi tahap I tidak ditambahkan pada nilai seleksi tahap II, nilai seleksi tahap I hanya untuk penentuan peserta seleksi tahap II.

Sedangkan pengumuman penerima beasiswa yang lulus seleksi tahap akhir akan disampaikan melalui surat resmi kepada pihak sekolah pada tanggal 28 Maret 2017. Selanjutnya, penerima beasiswa yang lulus seleksi akan menandatangani Kesepakatan Penerima Beasiswa pada Malam Anugrah Beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan pada Juni 2017 (jadwal masih tentatif).

Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Yayasan Palung, Jl. Kol. Sugiono Gg. H. Tarmizi No. 5 Ketapang. (Telp/Fax: 3036367) dan Pusat Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung  Bentangor, Dusun Pampang Desa Pampang Harapan, Kec. Sukadana, KKU.

By : Yayasan Palung

 

 

 

 

 

Lewat Radio Gaungkan Konservasi Lingkungan

edward-tang-saat-menjadi-narasumber-di-radio-rku-foto-dok-tang-yayasan-palung

Edward Tang saat menjadi Narasumber di radio RKU. Foto dok. Tang, Yayasan Palung

Sejujurnya tidak sedikit media yang bisa dipakai sebagai sarana penyampain informasi berkaitan dengan konservasi, tidak terkecuali lewat radio. Melalui radio cara ini  dapat menggaungkan konservasi kepada masyarakat dapat dilakukan secara sederhana, dikupas dengan menarik dan masyarakat memperoleh informasi baru dengan mudah.

Hal inilah yang dilakukan oleh radio RKU (Radio Kayong Utara) 101,5 FM bersama Yayasan Palung sebagai bentuk kerjasama untuk melakukan kampanye konservasi yang tujuan sebagai bentuk kampanye penyadartahuan kepada masyarakat di Kabupaten Kayong Utara, Kalbar.

Adapun bentuk kerjasamanya antara lain adalah Yayasan Palung (YP) berkesempatan hadir untuk memberikan informasi, dalam hal ini YP selalu diminta untuk mengisi acara atau pun juga menjadi narasumber terkait tema-tema lingkungan.

Seperti misalnya, di beberapa kesempatan Yayasan Palung memberikan informasi lingkungan dengan mengetengahkan tema dan pembahasan tentang Pemanasan global, pada (18/12/2016), tahun lalu. Sebagai narasumber Edward Tang, Koordinator Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung dan Emiwati, salah satu penyiar radio RKU membahas tentang, peran hutan sebagai salah satu penangkal efek rumah kaca, betapa pentingnya hutan sebagai penyaring pencemaran udara. Demikian juga disampaikan oleh Tang, dengan adanya hutan maka suhu masih bisa tetap stabil atau normal. selian itu karena adanya hutan di sukadana, bisa dibuktikan dengan berlimpahnya ketersediaan air bersih yang tidak dimiliki oleh kabupate lain seperti Ketapang. Apabila hutan tidak cukup banyak tersedia dapat pula menyebabkan anomali cuaca (cuaca tidak menentu) yang tidak jarang juga merugikan masyarakat seperti petani, nelayan dan masyarakat kebanyakan.

Selain itu juga pada (8 Januari 2017) pekan lalu, Edward Tang kembali hadir bersama radio RKU untuk menyampaikan materi terkait “Peran Hutan bagi Kesejahteraan Masyarakat”, materi siaran ini disampaikan sebagai salah satu tujuan penyampaian informasi dan konservasi bagi masyarakat di Wilayah Sukadana dan sekitarnya untuk bersama-sama menjaga hutan sebagai penyambung nafas, sumber kehidupan hingga nanti.

Dalam sesi tanya jawab via telepon radio, ada masukan dari pendengar radio yang mengabarkan terkait Gunung Cik Kadir yang letaknya di Kawasan Pantai Pulau Datok, Sukadana, penelpon mengabarkan bahwa Gunung Cik Kadir tanahnya kerap kali diambil, bahkan bagian gunung ada yang telah hilang karena tanahnya diambil (dikeruk) sehingga sangat mengganggu pemandangan yang seharusnya hijau dan indah karena tepat berada di kawasan wisata Pantai Pulau datok. Selain itu juga, penelpon menanyakan tentang tapal batas mereka dengan Taman Nasional, tetapi untuk menjawab tersebut pemateri radio Edward Tang menjawab; Ia tidak memiliki kewenangan untuk menjelaskan batas-batas Taman Nasional.  Lebih lanjut menurutnya, ada instansi yang memiliki kewenangan untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Sekilas tentang Radio RKU. Radio RKU, 101,5 FM merupakan radio lokal milik Pemerintah Daerah Kabupaten Kayong Utara, Kalbar.  Radio tersebut baru berdiri sejak pertengahan tahun 2016 lalu. Radio RKU sebagai media yang disediakan oleh pemerintah setempat dalam menyebarkan informasi kepada masyarakatnya terkait program-program pemerintah, informasi pendidikan, budaya dan lingkungan.

Beberapa relawan REBONK (Relawan Konservasi) binaan Yayasan Palung berkesempatan juga untuk diajak oleh pihak dari radio RKU untuk secara sukarela menyiarkan dan menggaungkan konservasi di Tanah Kayong. Semoga dengan kampanye lewat radio semakin memberikan pengaruh besar bagi masyarakat untuk semakin peduli dengan lingkungan sosial, budaya dan lingkungan hidup di sekitar mereka terutama hutan. semoga saja…

Tulisan ini juga dimuat di Kompasiana.com : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/lewat-radio-gaungkan-konservasi-lingkungan_5875c32ff49273d8048b456f

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Hasil Investigasi dan Penyelamatan Orangutan dari Tahun 2004-2016 di Tanah Kayong

dokumentasi-kasus-pemeliharaan-orangutan-foto-dok-yayasan-palung

Seperti diketahui, saat ini populasi Orangutan liar di Kalimantan Barat khususnya Kabupaten Ketapang dan Kabupaten kayong Utara hampir dipastikan secara terus menerus populasi orangutan dalam beberapa decade terakhir ini semakin menurun akibat hilangnya hutan dataran rendah. Berdasarkan rekapitulasi data investigasi dan penyelamatan dari Yayasan Palung dari tahun 2004-2016, menyebutkan  jumlah orangutan yang tidak sedikit yang diinvestigasi dan diselamatkan terkait berbagai ancaman terhadap populasi dan habitat orangutan.

rekapitulasi-hasil-investigasi-dan-penyelamatan-orangutan-di-kalbar-yayasan-palung-tahun-2004-2016

Adapun data dari tahun ke tahun terkait  rekapitulasi investigasi dan penyelamatan terhadap orangutan di Kalimantan Barat, lebih khusus di dua Kabupaten, Ketapang dan Kayong Utara adalah 161 individu orangutan yang diinvestigasi dan diselamatkan (rescue) ada 150 individu orangutan.

Dari data tersebut, setidaknya hal ini terjadi erat terkaitnya dengan ancaman habitat dan populasi orangutan. Tidak bisa disangkal, kecepatan penurunan populasi orangutan dan habitatnya dengan ditandai masuknya investasi di kawasan hutan yang masih terdapat populasi orangutan diantaranya investasi pembukaan lahan berskala besar seperti perkebunan dan pertambangan.

Hal lain terkait ancaman orangutan di habitat adalah Di tengah upaya penyelamatan orangutan yang gencar didengungkan, tetapi praktek pemusnahan secara terselubung terus saja berlangsung. Perburuan dan perdagangan orangutan menjadi usaha untuk meraup keuntungan. Orangutan di dua Kabupaten ini selalu diburu, ditangkap untuk menjadi hewan peliharaan rumah, dan diperdagangkan. Meski ancaman hukuman bagi pelaku perburuan dan perdagangan orangutan cukup berat namun praktek ini masih marak terjadi.  Mengingat, dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dengan tegas menyebut, “Setiap orang dilarang menangkap, membunuh, memiliki, memelihara dan memperniagakan satwa dilindungi dalam keadaan hidup, mati atau bagianbagian tubuhnya. Pelanggaran terhadap Undang-undang ini dihukum 5 tahun penjara atau denda 100 juta rupiah”.

Kasus perburuan, pemeliharaan serta perdagangan Orangutan di dua Kabupaten ini (Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara) juga merupakan salah satu ancaman yang sangat serius bagi kelestarian Orangutan serta satwa lainnya. Perburuan Orangutan di dua kabupaten ini kebanyakan bersifat opurtunis artinya Orangutan bukan menjadi buruan utama para pemburu. Kasus perburuan sering terjadi ketika para pemburu mencari rusa, babi, kijang dan sebagainya secara kebetulan menjumpai Orangutan. Ketika hal itu terjadi biasanya Orangutanlangsung di buru dengan cara membunuh induk serta mengambil anak Orangutan baik untuk dipelihara maupun dijual kepada orang yang memiliki hoby memelihara. Sedangkan induk Orangutan yang mati kadang-kadang diambil untuk di kosumsi sebagai makanan.

Seperti misalnya pada tahun 2004-2014, Akibat masih terjadinya perburuan secara oportunis tersebut membawa dampak terhadap kasus pemeliharaan serta perdagangan Orangutan di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara. Berdasarkan hasil monitoring yang dilakukan Yayasan Palung sejak tahun 2004 s/d 2014 teridentifikasi 145 kasus pemeliharaan Orangutan, 89 Kelempiau, 28 satwa lainnya (Beruang Madu, Bekantan, Trenggiling, Burung Enggang, dan sebagainya) yang dilakukan masyarakat. Kasus pemeliharaan khususnya Orangutan terjadi baik di pemukiman masyarakat, areal perkebunan sawit, dan areal pertambangan.

Data kasus pemiliharaan orangutan dan satwa lainnya tahun 2004-2014 di Kab. Ketapang dan KKU.jpg

Dari 117 satwa lainnya yang teridentifikasi pada tahun 2004 hingga tahun 2014 sebanyak 79 %, 89 ekor adalah Kelempiau. Hal ini membuktikan bahwa kera sangat terancam di daerah Ketapang dan Kayong Utara. Selain itu juga dilihat dari tabel 1 diatas bahwa hasil monitoring setiap tahunnya tidak bisa dijadikan kesimpulan bahwa tingkat kasus pemeliharaan menunjukkan tren penurunan atau kenaikan. Dimana pada tahun 2004, Yayasan Palung mulai melakukan monitoring seluruh wilayah kecamatan yang ada di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara baik wilayah yang berada di pesisir pantai maupun di wilayah pedalaman.

Orangutan Borneo merupakan salah satu jenis primata yang menjadi bagian penting dari kekayaan keanekaragaman hayati dan merupakan satu-satunya kera besar yang hidup di Asia. Orangutan Borneo sebagian besar mendiami hutan dataran dan hutan rawa di Sabah, bagian barat daya Sarawak, Kalimantan Timur, serta bagian barat daya Kalimantan antara Sungai Kapuas dan Sungai Barito. Oleh karena itu, populasi Orangutan Borneo disepakati dibedakan menjadi tiga sub spesies yaitu Pongo pygmaeus pygmaeus yang terdapat di bagian barat laut Kalimantan yaitu Utara dari Sungai Kepuas sampai ke timur laut Sarawak, Pongo pygmaeus wurmbii yang hidup dibagian selatan dan barat daya Kalimantan yaitu antara sebelah selatan Sungai Kapuas dan barat Sungai Barito dan Pongo pygmaeus morio yang hidup di Sabah sampai Sungai Mahakam di Kalimantan Timur.

Seperti di ketahui, penyelamatan orangutan dan habitatnya berarti menyelamatkan ekosistem dari kehancuran yang bisa memberi bencana bagi masyarakat luas. Menyelamatkan orangutan dan habitatnya berarti menjamin kesejahteraan masyarakat di masa yang akan datang karena habitat orangutan yang terpelihara dengan baik akan menjamin kelangsungan jasa ekologi yang penting yang diutuhkan oleh masyarakat luas. Sampai saat ini, yang menjadi persoalan lain adalah tempat hidup baru bagi orangutan yang telah diselamatkan. Seperti diketahui, saat ini orangutan yang diselamatkan (rescue) kesulitan rumah baru mereka berupa hutan. Banyak kawasan hutan yang telah terbuka dan tidak layak untuk tempat pelepasliaran orangutan.

Oleh karena itu kepada semua pihak yang terlibat, baik pemerintah pusat, provinsi, Kabupaten pihak swasta serta masyarakat luas harus benar-benar melaksanakan komitmen penyelamatan Orangutan di Kalimantan Barat khususnya di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara. Semoga orangutan di Tanah Kayong (Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara) dapat terjaga  dan semua pihak dalam mendukung konservasi Orangutan sebagai makhluk ciptaan Yang Maha Kuasa yang juga sebagai satwa endemik dapat lestari hingga nanti.

Tulisan ini juga pernah dimuat di Kompasiana.com : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/ini-data-investigasi-dan-penyelamatan-orangutan-tahun-2004-2016-ditanah-kayong_58747d3e4f7a61c9125e61fa

Petrus Kanisius-Yayasan Palung