Category Archives: Berita umum dan khusus

Ucapan Terima Kasih

Oleh2. Dok. YP.jpg

Oleh-oleh dari Disney Conservation FUND dan National Geographic

Kami dari Yayasan Palung  dan (Gunung Palung Orangutan Conservation Program) mengucapkan terima kasih kepada Disney Conservation FUND dan National Geographic atas oleh-olehnya berupa:

  • Buku
  • Baju
  • Topi
  • Pin
  • gantungan kunci
  • Note book dan Magnet Kulkas

 

Hendri Gunawan dari Yayasan Palung memakai topi dari Disney Conservation FUND.jpg

Hendri Gunawan dari Yayasan Palung memakai topi dari Disney Conservation FUND

Semoga semakin bermanfaat untuk konservasi alam liar (wild life).

 

Manfaat Lahan Gambut Bagi Kehidupan yang Kian Tergadai

Kebakaran hutan dan lahan yg terjadi di Desa Pelang, Ketapang, Kalbar tahun 2015.

Kebakaran hutan dan lahan pada tahun 2015 yang terjadi di Desa Pelang, Ketapang, Kalbar. Foto dok. Yayasan Palung

Indonesia  memiliki hutan dan lahan gambut terluas di dunia, setidaknya kata itu yang cocok untuk dikatakan. Tersedianya lahan gambut yang luasnya mencapai 21-22 juta hektar (sumber data; Mongabay Indonesia) tersebut  sudah pasti pula memiliki sedikit banyak manfaat bagi kehidupan semua makhluk hidup yang mendiami bumi ini.

Lahan gambut  atau tanah gambut memang ditakdirkan untuk tidak subur karena memiliki tingkat keasaman tanah yang tinggi, apa lagi jika diganti dengan tumbuhan atau tanaman lainnya, hanya tumbuhan yang cocoklah yang bisa tumbuh di lahan gambut. Adapun ragam tumbuhan yang dapat tumbuh baik di rawa gambut seperti meranti, punak, jelutung, kompas atau kempas  dan ramin adalah  tanaman asli gambut.

Selain juga tanaman sekunder yang cocok untuk tumbuh di lahan gambut seperti karet, nanas, sagu yang memiliki manfaat ekonomis sebagai alternatif pendapatan masyarakat secara berkelanjutan. Ketersediaan ragam tumbuhan asli gambut pun menyimpan tidak sedikit oksigen dan karbon yang salah satunya sebagai sumber hidup tidak sedikit bagi nafas makhluk hidup.

Bagi nafas dan keberlanjutan makhluk, ini yang menjadi tanda manfaat nyata tekait kondisi gambut saat ini. Luasan lahan gambut begitu banyak yang terampas, tergadai hingga menjelang terkikis habis. Kondisi inilah sejatinya menjadi sebuah tanda tanya, apakah  hutan dan lahan gambut terus menerus akan bisa bertahan dan dapat (di/ter)selamatkan?.

Apabila hutan dan lahan gambut dapat (di/ter)selamatkan, sudah pasti keberlanjutan nafas hidup semua makhluk hidup yang berada di wilayah gambut akan selalu memperoleh manfaat baik. Salah satunya terhindar dari kebakaran, tidak rentan terhadap banjir dan kebakaran lahan dan kabut asap. Hal yang sama juga terjadi baik adanya bagi makhluk hidup seperti satwa/primata, rumah atau habitat mereka (satwa) tetap terjaga.

Demikian juga halnya apabila lahan gambut kian digerus maka akan terjadi sebaliknya kita semua makhluk hidup akan menerima dampak langsung. Tidak sedikit contoh kasus. Lihat dampak kebakaran lahan dan kabut asap, berdasarkan data dari BBC Indonesia menyebutkan; setidaknya dampak ekonomi yang ditimbulkan akibat kabut asap mencapai 200 trilliun.(Sumber:http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/10/151026_indonesia_kabutasap ).

Hal yang sama juga terjadi, ketika hilangnya luasan hutan dan lahan gambut akan selalu berdampak tidak baik bagi lingkungan hidup dan makhluk hidup disekitarnya atau lingkungan lainnya. Hilangnya luasan hutan dan lahan gambut berarti juga menghilangkan tidak sedikit oksigen dan karbon. Sementara karbon yang ada sangat bermanfaat bagi lingkungan dan keberlangsungan makhluk hidup tidak terkeculi untuk mengatasi terjadinya peningkatan suhu di bumi.

Salah satu cara agar hutan ataupun lahan gambut dapat lestari dan berlanjut tidak lain dengan ada peran serta, perhatian dan tindakan nyata dari semua pihak, siapapun itu tanpa terkecuali. Dengan adanya perhatian dari semua pihak tersebut pula setidaknya mempermudah dalam bagaimana mengelola lahan secara bijaksana dan lestari.

Mengingat, hutan dan lahan gambut merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dalam tatanan kehidupan makhluk hidup. Tidak sedikit cara yang dapat dilakukan oleh semua untuk menjaga satu kesatuan makhluk hidup lebih khusus lahan gambut sebagai tempat (habitat hidup) semua makhluk hidup pula.

Apabila hutan dan lahan gambut dapat dikelola dengan bijaksana salah satunya agar ada tata aturan yang tegas dapat diberlakukan secara adil dan tidak memihak. Selain itu juga, tidak lagi membuka lahan baru berskala besar lebih khusus hutan gambut, rawa gambut atau lahan gambut  hampir pasti segala makhluk hidup yang mendiami bumi dapat bernyanyi riang dan dapat berlanjut sampai nanti dan lestari.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Ini Cara yang Bisa Kita Dilakukan untuk Melindungi, Menjaga dan Memilihara Lahan Gambut

Setidaknya Ini Penyebab Deforestasi Hutan, lebih khusus lahan gambut di Indonesia dan Dampaknya. Foto dok. Yayasan Palung

Setidaknya Ini Penyebab Deforestasi Hutan, lebih khusus lahan gambut di Indonesia dan Dampaknya. Foto dok. Yayasan Palung

Keberadaan lahan gambut yang ada saat ini berada dalam kondisi memprihatinkan menjelang terkikis habis. Perlu untuk diingat, lahan gambut banyak menyimpan karbon. Tidak sedikit cara sejatinya yang dapat dilakukan oleh kita semua masyarakat ataupun lembaga, pihak pemerintah untuk melakukan perlindungan terhadap lahan gambut.

Dengan arti kata, segala upaya ataupun cara dari banyak pihak termasuk masyarakat memiliki kewajiban yang sama untuk melindungi, menjaga dan memilihara lahan gambut. Beragam cara juga setidaknya bisa dilakukan demi keberlanjutan gambut yang tentunya banyak manfaat bagi banyak makhluk hidup pula antara lain penyedia karbon untuk mengatasi peningkatan suhu bumi (pemanasan global).

Kobaran api yang melahap luasan hutan di Ketapang, tahun 2015. Foto dok. Yayasan Palung

Kobaran api yang melahap luasan hutan di Ketapang, tahun 2015. Foto dok. Yayasan Palung

Seperti diketahui, lahan gambut apabila semakin dalam kedalamannya maka akan menyimpan banyak keanekaragaman hayati (tumbuhan dan hewan), dengan demikian gambut yang dalamnya 50 cm dan gambut dalam  1 meter sampai mencapai 10 meter. Semakin dalam gambut, maka diusahakan lahan gambut tidak dibuka karena kaya sumber manfaat bagi makhluk hidup.

Ilustrasi drainase kubah lahan gambut via mongabay Indonesia, Sumber_ RAN

Ilustrasi drainase kubah lahan gambut via Mongabay Indonesia, Sumber : RAN

Indonesia adalah pemilik kawasan lahan gambut tropis terluas di dunia dengan luasan sekitar 21-22 juta hektar (1,6 kali luas pulau Jawa), kebanyakan tersebar di Kalimantan, Sumatera dan Papua.  Papua adalah yang terluas dengan lebih kurang sepertiga lahan gambut yang ada di Indonesia (Sumber data : Mongabay Indonesia).

Merunut dari data tersebut dapat dikatakan betapa luasnya wilayah lahan gambut yang ada di Indonesia, lebih khusus di tiga wilayah; Sumatera, Kalimantan dan Papua. Di tiga wilayah ini pula dimana luasan lahan gambut dari tahun ke tahun kondisinya selalu menjadi primadona para investor dalam melakukan investasi besar-besaran yang tak jarang mengorbankan lahan gambut itu sendiri dan menimbulkan terjadinya deforestasi dan tidak jarang pula berujung kepada keringnya lahan dan rentannya terjadi kebakaran hutan dan lahan.

Luas-lahan-gambut-indonesia. sumber data Mongabay Indonesia

Luas lahan gambut Indonesia, sumber data : Mongabay Indonesia

Dari kejadian tersebut pula berimbas juga munculnya kabut asap. Kerentanan lahan gambut yang mudah terbakar tersebutlah yang menjadi dasar mengapa setiap waktunya gambut harus selalu untuk dilindungi, dijaga dan dipelihara.

Tidak sedikit cara yang dilakukan oleh banyak pihak mulai dari pihak pemerintah, lembaga ataupun organisasi ataupun juga masyarakat yang bersentuhan langsung mencari cara  agar lahan gambut dapat menjadi penopang segenap segala bernyawa (seluruh makhluk hidup).

Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk melindungi, menjaga dan memilihara gambut antara lain  dengan cara antara lain;

Pertama, melakukan penanaman kembali hutan gambut yang telah terdegradasi menjadi salah satu cara yang harus dilakukan agar hutan tetap tumbuh  menjadi sumber utama penyedia karbon. Sedapat mungkin  ditanam dengan tanaman asli gambut seperti tanaman meranti, kompas/kempas, ramin, jelutong dan tumbuhan-tumbuhan seperti palem dan kantong semar.  Dengan demikian, tatanan kehidupan makhluk hidup yang hidup disekitar lahan gambut dapat terselamatkan termasuk kita manusia. Tanaman asli gambut seperti diketahui bila tetap tumbuh dapat menyimpan unsur hara gambut dan menampung banyak lagi oksigen dan karbon. Manfaat lainnya juga dengan masih adanya pohon dan tumbuh-tumbuhan di sekitar lahan gambut memungkinkan segala satwa seperti misalnya; orangutan (di Sumatera dan Kalimantan), bekantan (di Kalimantan), harimau sumatera (sumatera) monyet ekor panjang (Sumatera dan Kalimantan) dan ragam jenis ikan seperti toman, tapah ataupun reptil seperti buaya muara (buaya senyulong) tidak kehilangan rumah atau habitat mereka.  Sedangkan di Papua adalah tanaman pohon sagu yang menjadi sumber makanan pokok warga masyarakat.

Kedua, kanal-kanal buatan atau yang dibangun oleh perusahaan yang katanya tujuan untuk mengeringkan lahan gambut harus dibuat sekat kanal. Dibuatnya sekat kanal salah satu tujuannya agar air dapat mengalir dan gambut selalu dalam keadaan basah. Intinya lahan gambut jangan dibuat kanal. Namun, kanal-kanal yang ada sedapat mungkin disekat agar dapat menampung dan mengaliri yang ada dan berada didalam kanal agar lahan gambut tetap basah.

Pembuatan sekat kanal sebagai salah satu cara agar lahan gambut tetap basah untuk mencegah Kebakaran hutan dan lahan. Foto dok. Yayasan Palung.jpg

Pembuatan sekat kanal sebagai salah satu cara agar lahan gambut tetap basah untuk mencegah Kebakaran hutan dan lahan. Foto dok. Yayasan Palung

Klik link berikut untuk melihat Video Sekat Kanal

Ketiga, lahan gambut yang tersedia berupa hutan sekunder atau hutan tersier, bila telah ditanam sebaiknya di remajakan dan diganti dengan tanaman campuran yang seperti tanaman nanas, karet dan  kelapa (tanaman agroforestri). Tujuannya bila tanaman tersebut dapat menghasilkan buah maka dapat dijadikan sumber penghasilan atau pendapatan ekonomi masyarakat yang berkelanjutan.

Turun lapangan atau praktek lapangan saat pelatihan, melihat dan mengukur kedalaman gambut. Foto dok. Yayasan Palung.jpg

Turun lapangan atau praktek lapangan saat pelatihan, melihat dan mengukur kedalaman gambut. Foto dok. Yayasan Palung

Selanjutnya yang terpenting untuk melindungi, menjaga dan memilihara serta melestarikan lahan gambut diperlukan sosialisasi secara terus menerus terutama kampanye penyadartahuan kepada masyarakat salah satunya juga mencari solusi pendapatan yang berkelanjutan tanpa merusak lahan gambut. Selain juga, perlunya kerjasama semua pihak secara bersama agar lahan gambut di Indonesia dapat memberikan sumber penghidupan bagi semua makhluk hidup hingga selamanya dan lestari.  Semoga…

Penulis : Petrus Kanisius-Yayasan Palung  

Bahan dan sumber bacaan tulisan :

http://blog.cifor.org/26501/hilangnya-lahan-gambut-mengemisi-karbon-senilai-2-800-tahun-dalam-sekejap-mata-riset?fnl=id

http://readersblog.mongabay.co.id/rb/2017/03/17/sosialisasi-program-mitigasi-berbasis-lahan-dan-penyusunan-program-unggulan-yang-berkelanjutan

http://www.mongabay.co.id/2014/06/20/gambut-for-beginners-tujuh-jawaban-penting-untuk-pemula

 

Berkembang Biak Selama Bertahun-tahun, Namun Hidupnya Hanya 6 Bulan

Jenis Capung yang ada di TNGP. Foto dok. Weni

Jenis Capung yang ada di TNGP. Foto dok. Weni

Nama dari jenis serangga ini tidak lain adalah capung.  Lebih khususnya  jenis capung (ordo; Odonata). Jenis capung di dunia 75 % nya ada di Indonesia jelas Weni Julaika, Mahasiswi Fakultas MIPA, jurusan Biologi, Universitas Tanjungpura (UNTAN) Pontianak, saat mempresentasikan di Kantor Yayasan Palung terkait hasil penelitiannya di Stasiun Penelitian Cabang Panti, Taman Nasional Gunung Palung (TNGP)  untuk tugas akhir, Jumat (16/6/2017), pekan lalu.

Untuk membaca tulisan ini selengkapnya baca link: http://v20106.kompasiana.com/pit_kanisius/ia-berkembang-biak-selama-bertahun-tahun-namun-hidupnya-hanya-6-bulan_5948dd72e217d20ee6042322

Ternyata Si Manis Ini Melahap 200 Ribu Semut Setiap Harinya

Si Manis javanica yang dijumpai di Bukit Tarak. Foto dok. Wawan, Pematang Gadung

Si Manis javanica yang dijumpai di Bukit Tarak. Foto dok. Wawan, Pematang Gadung

Bila setiap harinya Si Manis harus makan 200.000 semut, maka dalam satu tahun dipastikan lebih dari 7 juta semut dimakan.

Mengapa Si Manis memakan semut? Dan apakah Si Manis itu? Si Manis atau dalam bahasa latinnya Manis javanica (untuk lebih lengkap melihat profil Si Manis, bukaSi Manis)

Semut merupakan makanan pokok dari mamalia yang biasanya aktif di malam hari tersebut. Biasanya si manis atau trenggiling menggunakan lidahnya yang panjang untuk memakan semut. Tidak hanya semut, tetapi juga trenggiling memakan rayap. Rata-rata dalam sehari trenggiling mengonsumsi 200 ribu semut dan dalam setahun lebih dari 7 juta semut harus ia makan.

Karena semut sebagai makanan pokoknya, hampir dipastikan Si Manis mencari semut di sekitaran hutan yang masih baik. Mengingat, hutan yang baik masih terdapat banyak semut hutan. Demikian pula dengan serangga dan rayap.

Baca Selengkapnya di Link : http://v20106.kompasiana.com/pit_kanisius/ternyata-si-manis-ini-melahap-200-ribu-semut-setiap-harinya_594230aadd0fa87e8222f252

Petrus Kanisius- Yayasan Palung

Hutan Indonesia, antara “Lahan Perang, Eksploitasi, Eksplorasi dan Penelitian”

Kobaran api yang melahap luasan hutan di Ketapang, beberapa tahun lalu. Foto dok. Yayasan Palung

Kobaran api yang melahap luasan hutan di Ketapang, beberapa tahun lalu. Foto dok. Yayasan Palung

Tidak bisa disangkal hutan-hutan yang ada di wilayah Indonesia tidak terkecuali hutan Kalimantan selalu menjadi primadona. Menjadi primadona tidak lain karena selalu dinanti (semakin naik daun). Namunkeberadaan hutan Indonesia lebih khusus di Kalimantan saat ini jika boleh dikata antara “Lahan Perang, Eksploitasi dan Eksplorasi serta Penelitian“.

Tidak hanya tentang keindahannya, tetapi juga tentang manfaat yang dihasilkan dari hutan sehingga dengan demikian membuat orang-orang berlomba dan menjadikan hutan sebagai primadona saat ini.

Benar saja luasan tutupan Indonesia mencapai 162 juta hektar. Lahan hutan terluas itu ada di Papua (32,36 juta hektar luasnya). Kemudian hutan Kalimantan (28,23 juta hektar), Sumatera (14,65 juta hektar), Sulawesi (8,87 juta hektar), Maluku dan Maluku Utara (4,02 juta hektar), Jawa (3,09 juta hektar), serta Bali dan Nusa Tenggara (2,7 juta hektar), sumber data Kompas.

Dari luasan tutupan hutan Kalimantan yang mencapai 28, 23 juta Ha, terluas kedua setelah hutan Papua. Sebuah kekhawatiran saat ini, hutan menjadi primadona yang entah kapan berakhir karena selalu dinanti. Dinantinya luasan tutupan hutan di Kalimantan boleh jadi akan berimbas pada sendi-sendi kehidupan masyarakat pula di sekitar hutan.

Hutan dijadikan sebagai lahan perang umat manusia, hal ini tercermin dengan adanya eksploitasi, eksplorasi dan penelitian terhadap hutan.

Hutan tidak jarang dijadikan sebagai politik pemanfaatan yang berlebihan terhadap suatu dan tidak jarang tanpa melihat kepatutan dan hak-hak masyarakat akar rumput. Eksplorasi terhadap sumber kekayaan alam terlebih hutan yang dilakukan secara masif menjadi ketakutan tak berujung hingga nanti.

Mungkin saja, hutan Kalimantan akan tinggal cerita dan kenangan 10-20 tahun kedepan. Hal inilah yang menjadi sebuah tanya tentang masa depan hutan Indonesia. Data mencatat, hutan primer Indonesia paling cepat hilang dari masa ke masa pun bersinggungan langsung dengan masa depan kehidupan masyarakat lokal. Diperkirakan apabila hutan Kalimantan kehilangan 75% Hilangnya luasan tutupan hutan berdampak pada hilang atau habisnya ragam tumbuhan dan satwa endemik, kekhawatiran akan terkikisnya atau hilangnya adat tradisi masyarakat lokal juga diperkirakan akan terjadi.

Sumber konflik sudah hampir pasti hadir dalam hal ini. Tidak sedikit rentetan contoh kasus yang sering kali abai terhadap hak-hak masyarakat lokal di Nusantara ini. Tidak perlu menyebutkan secara runut kejadian per kejadian yang asal muasalnya karena perebutan batas lahan. Dengan kejadian tersebut pula tidak jarang akan memakan korban baik secara perorangan ataupun juga per wilayah.

Pribahasa setelah terantuk barulah tengadah acap kali hadir dalam setiap masyarakat kita. Setelah terjadinya sesuatu barulah repot-repot untuk mencari solusi tanpa dari awal melihat dampak, sebab dan akibat.

Tidak jarang hutan yang dikorbankan atau yang menjadi korban dari eksplorasi dan eksploitasi juga bertentangan dengan ranah hak-hak akar rumput.

Benar saja, hutan sebagai sumber keberlanjutan makhluk hidup juga sudah semestinya menjadi bahan untuk diteliti dengan maksud pula mencari cara bagaimana mempelajari dan menyelamatkan dari sisa-sisa hutan yang tersisa.

Hutan sebagai harta karun yang tak ternilai kini pun menjadi dilema. Dimanfaatkan namun juga diambang kehancuran menjelang terkikis habis. Satu-satunya harapan semoga hutan di Indonesia, lebih khusus di Kalimantan, Sumatera dan Papua masih boleh (di/ter) selamatkan dari sekarang hingga nanti.

Banyak cara untuk menyelamatkan hutan Indonesia dengan ragam kepedulian dari berbagai lembaga konservasi ataupun juga dari pemerintah mencari cara menyelamatkan hutan Indonesia. Tetapi juga terkadang nasib hutan tak jarang dikorbankan demi kepentingan bisnis dari para pengusaha dan penguasa yang acap kali lupa dari fungsi hutan yang sesungguhnya.

Hutan juga tak ubah sebagai buah simalakama; dimakan, bapak mati. Tidak dimakan ibu yang mati. Serba salah singkatnya. Disatu sisi hutan perlu dimanfaatkan namun jangan dimusahkan atau dikorbankan. Hutan perlu diselamatkan sebagai keberlanjutan semua makhluk hidup hingga nanti. Bila tidak diselamatkan, hutan akan menjadi kenangan dan kita akan menanggung resiko dari dampak yang ditimbulkan.

Tulisan ini sebelumnya dimuat di Kompasiana, baca di : http://v20106.kompasiana.com/pit_kanisius/hutan-indonesia-antara-lahan-perang-eksploitasi-eksplorasi-dan-penelitian_593fa5e1f27a6104368b7665

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

 

Video: Pesona Alam Liar di Gunung Palung

Klik Link Berikut untuk menonton : Pesona Alam Liar di Gunung Palung

Ini sedikit cerita tentang  Pesona Alam Liar di Gunung Palung (Taman Nasional Gunung Palung/TNGP) yang letaknya di 2 Kabupaten (Ketapang dan Kayong Utara) Kalimantan Barat yang di dokumentasikan lewat video.

Pesona Alam Liar yang ada di Gunung Palung atau lebih tepatnya kehidupan alam liar  ini merupakan hasil pendokumentasian dari teman-teman peneliti di Stasiun Peneliti Cabang Panti/SPCP. Setiap waktu mereka (para peneliti) melakukan aktivitas penelitian dari Subuh hingga senja menyapa.

Beberapa satwa yang hidup di alam liar yang bisa dijumpai di Gunung Palung antara lain; orangutan, kelempiau, enggang, kelasi dan enggang serta ragam kehidupan alam liar lainnya seperti ular, kura-kura ataupun juga keindahan kupu-kupu. Rimbunnya hutan dengan aneka ragam tumbuh-tumbuhan yang unik dan endemik seperti anggrek hitam terdapat di sini. Selain juga gemericik air jernih masih dapat  dijumpai di tempat ini.

Semoga pesona alam dan kehidupan alam liar di Gunung Palung dapat menjadi satu kesatuan yang dapat menjadi nilai tambah terutama ilmu pengetahuan dan kekayaan alam untuk kehidupan hingga nanti. Dengan demikian juga mejadi kewajiban kita bersama pula untuk menjaganya agar terus lestari.

Video dan Foto Pesona Alam Liar di Gunung Palung ini  beberapa dari sekian banyak kekayaan flora dan fauna yang ada. Berharap indahnya pesona alam liar ini bisa dan boleh berlanjut demi kehidupan yang harmoni dan berkelanjutan hingga nanti dan lestari.

Petrus Kanisius (Pit)-Yayasan Palung

 

#RainforestLive : Melihat Indahnya Alam Liar di Gunung Palung yang Berhasil Diabadikan oleh Peneliti

P5251969.JPG

Orangutan yang berdiam di Alam Liar Gunung Palung. Foto dok. Brodie Philp (YP/GPOCP)

Tak jarang, beberapa waktu sebelum matahari muncul para peneliti sudah harus bergegas dan berlomba dengan waktu untuk melalukan aktivitas mereka meneliti. Ya benar saja, bila peneliti meneliti dan mengikuti  orangutan mereka harus siap berangkat subuh untuk melihat tingkah laku/ perilaku orangutan di alam liar.

Kemarin (8/6) Gunung Palung Orangutan Project/Yayasan Palung bersama 9 lembaga lingkungan lainnya yang terdiri dari;  The Orangutan Tropical Peatland Project, Orangutan Land Trust, Orangutan Foundation UK, HUTAN Kinabatangan Orang-utan Conservation Program, Selamatkan Yaki, Sumatran Orangutan Conservation Program, Integrated Conservation, Burung Indonesia, Harapan Rainforest, Integrated Conservation dan Royal Society for the Protection of Birds memperingati #RainforestLive.

Tujuannya untuk mengajak kita semua untuk melihat apa saja dialam liar dan apa saja aktivitas (kegiatan), keseharian para peneliti di alam liar, dengan berbagi cerita dan apa saja yang berhasil para peneliti, menjelajahi hutan hujan seperti misalnya di Kalimantan dan Sumatera menjadi sebuah jawaban bahwa alam liar begitu menarik untuk dilihat, dijelajah dan di teliti. Di waktu sebelum terbitnya mentari hingga senja menyapa (malam hari) itulah waktu yang dipakai para peneliti untuk melakukan kegiatan mereka.

Seperti misalnya, para peneliti dari luar dan dalam negeri yang melakukan penelitian di Gunung Palung (Taman Nasional Gunung Palung), lebih tepatnya di Stasiun Penelitian Cabang Panti (SPCP) melakukan ragam penelitian seperti penelitian terhadap orangutan, kelempiau dan kelasi ataupun juga beragam penelitian lainnya seperti penelittian tumbuhan yang terdapat di Gunung Palung.

Aktivitas mereka (para peneliti) pun sudah pasti erat kaitannya dengan kegiatan seperti rutinitas penelitian dengan berbagai cara pula. Seperti misalnya Brodie Philp (Manager Peneneliti orangutan GPOCP), ia berhasil merekam berbagai tingkah polah satwa/hewan seperti orangutan saat makan, mendokumentasikan kura-kura, ular, serangga ataupun juga keindahan langit malam di hutan hujan.

Tidak hanya itu, keindahan jamur menyala di malam hari, cantiknya warna kupu-kupu yang hinggap di dedaunan indahnya aliran air yang mengalir dan foto para asisten peneliti yang mengikuti orangutan juga terangkum dalam foto-foto dokumentasi Brodie Philp (YP/GPOCP) berikut ini:

little snake.JPG

Ular yang dijumpai di alam liar Gunung Palung. Foto dok. Brodie Philp

IMG_0278.JPG

Serangga 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Suasana malam hari di alam liar

mush 4.jpg

Jamur 

Brodie Philp bersama dengan para peneliti lainnya dan didampingi pula oleh asisten peneliti serta para peneliti muda yang juga meneliti untuk tugas akhir melakukan penelitian setiap harinya. Tidak bisa disangkal keindahan alam liar yang berhasil diabadikan oleh para peneliti ini setidaknya memberikan gambaran yang jelas bahwa ciptaan dari Sang Pencipta begitu indah dan baik adanya untuk selalu dihargai sebagai sesama makhluk ciptaan hingga nanti karena harmoninya alam semesta memberi arti kita kita semua agar bisa menikmati/melihat dari keindahan tersebut dan dapat dijadikan sebagai sumber ilmu pengetahuan.

Semoga keindahan alam liar di banyak tempat dapat terekam dan diabadikan sebagai sumber dari ilmu pengetahuan hingga nanti. Semoga. #RainforestLive  #RainforestLive2017.

Tulisan ini juga dimuat di  Kompasiana, selengkapnya : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/melihat-indahnya-alam-liar-di-gunung-palung-yang-berhasil-diabadikan-oleh-peneliti_5938e72c139773871c9b9e98

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

 

6  Keluarga Baru Penerima Beasiswa Orangutan Kalimantan

Penerima Beasiswa BOCS berfoto bersama pengurus YP dan OURF di Ketapang, 23 mei 2017

Penerima Beasiswa BOCS berfoto bersama pengurus YP dan OURF di Ketapang, 23 mei 2017.

Malam (23/5/2017) Kemarin, selepas senja menyapa keenam orang remaja yang terdiri dari 5 perempuan dan 1 pria terlihat senyum semringah. Senyum semringah itu terpancar dari mereka bukan tanpa alasan, karena mereka baru saja resmi menjadi keluarga baru penerima beasiswa orangutan Kalimantan (Beasiswa BOCS tahun 2017).

Setelah empat bulan berlalu, keenam remaja yang berasal dari Dua Kabupaten: Kayong Utara dan Ketapang itu terdiri dari Ratiah berasal dari SMA Negeri 3 Simpang Hilir, Hanna Adelia Runtu dari SMA Negeri 3 Ketapang (mengambil jurusan Fakultas Kehutanan), Ilham Pratama dari SMA Negeri 2 Ketapang (Fakultas Kehutanan), Mita Anggraini dari MAN Ketapang (mengambil FISIP Hubungan Internasional), Siti Nurbaiti dari SMA Negeri 1 Sungai Laur (mengambil jurusan FMIPA Biologi) dan Rafikah dari SMA Negeri 3 Simpang Hilir (mengambil jurusan FKIP Sosiologi). Keenam penerima beasiswa BOCS akan kuliah di Universitas Tanjungpura Pontianak.

Dalam acara penganugerahan beasiswa BOCS 2017, diawali dengan makan malam bersama dengan para tamu undangan dan 6 penerima beasiswa selanjutnya penjelasan terkait beasiswa BOCS. BOCS adalah Program beasiswa yang dirancang untuk membiayai pendidikan mahasiswa yang berprestasi dengan tujuan menambah  Sumber Daya Manusia (SDM) dibidang konservasi orangutan dengan keahlian dari berbagai disiplin ilmu, demikian dikatakan Mariamah Achmad selaku manager Program Pendidikan Lingkungan dan media kampanye dari Yayasan Palung sekaligus juga yang menangani program BOCS ketika menjelaskan kepada tamu undangan saat penganugerahan beasiswa BOCS tahun 2017.

Hendri Gunawan, SH selaku penerima beasiswa BOCS yang telah selesai menyelesaikan studi berkat adanya beasiswa BOCS berkesempatan untuk memberikan pandangan sekaligus juga memberikan semangat dan motivasi bagi penerima beasiswa BOCS tahun 2017. Hendri, demikian sapaannya sehari-hari mengatakan, bila kuliah harus ada prioritas, semangat, kerja keras dan tekad yang kuat. Karena kuliah bukan hal yang mudah, namun jika ada prioritas, semangat dan kerja keras semua rintangan ketika kuliah bisa dilalui dengan mudah.

Garry Luis Shapiro, dari Orangutan Republik sekaligus sebagai motor adanya program BOCS  di Sumatera dan Kalimantan mengatakan dalam kata sambutannya saat malam penganugerahan beasiswa BOCS  (23/5) mengatakan; adanya beasiswa BOCS sebagai salah satu bentuk perhatiannya kepada generasi muda lebih khusus di Ketapang untuk terus semangat melanjutkan studi di perguruan tinggi. Lebih lanjut Garry menambahkan, tidak hanya asal kuliah tetapi penerima beasiswa BOCS harus memiliki tanggungjawab yang konsisten sebagai generasi penerus tidak terkecuali konservasi orangutan dan hutan dimanapun setelah mereka bermasyarakat nantinya ataupun juga kegiatan lainnya yang ada disekitar.

Garry juga menceritakan saat ini dia merasa sangat dan bergembira sekali. Gembiranya hingga saat ini telah ada 25 orang dari jumlah seluruh penerima beasiswa BOCS sejak pertama hingga tahun 2017 dan telah menamatkan 3 orang penerima beasiswa. Mereka yang lulus antara lain adalah; Rinta Islami, S.Hut, Risa Aprillia, S.Pd dan Hendri Gunawan, SH.

Pak Garry juga berharap di tahun-tahun yang akan datang penerima beasiswa dapat bertambah dan semakin banyak donatur yang bisa membantu, jelasnya lagi.

Menurut Terri Breeden, Direktur Yayasan Palung mengatakan; Program BOCS merupakan  salah satu program favorit saya, dengan adanya program BOCS ini memungkinkan dan menumbuhkan semangat konservasi yang terlatih di Kalimantan Barat.  Lebih lanjut menurutnya, 6 beasiswa yang diberikan dapat juga semoga dapat menciptakan mereka sebagai cendikiawan baru, saya sangat antusias untuk melihat masa depan  mereka lebih khusus konservasi.

Beasiswa BOCS terlaksana berkat adanya kerjasama antara Yayasan Palung, Orangutan Republik dan Orangutan Outreach.

Dalam acara malam penganugerahan beasiswa BOCS 2017 tersebut dihadiri oleh tamu undangan antara lain dari YIARI, Yayasan ASRI, BKSDA W 1 Ketapang, BTNGP, orangtua dari 6 penerima beasiswa dan Yayasan Palung. Kegiatan berjalan sesuai rencana dan diakhiri dengan berfoto bersama.

Petrus Kanisius- Yayasan Palung

Berita terkait BOCS dimuat di Tribun Pontianak, berikut linknya :

http://pontianak.tribunnews.com/2017/05/28/enam-pelajar-ketapang-dan-kayong-utara-terima-beasiswa-bocs

http://pontianak.tribunnews.com/2017/05/28/enam-pelajar-penerima-beasiswa-bocs-2017-diharapkan-jadi-cendikiawan-bersemangat-konservasi

 

Ini Video Unik Orangutan di Gunung Palung : Kiss Squeak dengan Daun


Unik dan menarik orangutan yang dimaksud adalah perilaku atau budaya terkait Kiss Squeak. Apa itu Kiss Squeak?. Pada umumnya, kiss squeak (budaya orangutan ketika merasa terancam di tempat hidupnya ketika ada orangutan lain yang berusaha mendekati wilayahnya, maka orangutan yang merasa terancam tersebut akan mengeluarkan suara Kiss Squeak).

Ini Videonya

Untuk informasi lebih lengkap dapat dibaca di : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/ini-fakta-unik-orangutan-di-gunung-palung_591d701e4423bd66479594fb

Petrus Kanisius- Yayasan Palung