Author Archives: yayasanpalung

Berbagi Cerita tentang Kehidupan Orangutan Lewat Radio

IMG-20170520-WA0006.jpg

Wahyu Susanto dan Desi Kurniawati saat berbagi cerita tentang orangutan lewat radio. Foto dok. Yayasan Palung

Kamis (18/5/2017) kemarin, lewat Radio Kabupaten Ketapang (RKK) teman-teman dari Peneliti orangutan yang meneliti di Stasiun Penelitian Cabang Panti (SPCP), Taman Nasional Gunung Palung (TNGP) berbagi Cerita tentang kehidupan orangutan di alam liar melalui penelitian.

Adalah Wahyu Susanto yang juga merupakan Direktur Penelitian Yayasan Palung berkesempatan hadir untuk berbagi cerita lewat radio yang disiarkan melalui radio RKK, FM 95.20 MHz- 1044 KHz gelombang 288 meter dan di pandu oleh Desi Kurniawati.

IMG-20170520-WA0004.jpg

Wahyu Susanto saat berbagi cerita di radio RKK. Foto dok. Yayasan Palung

Ragam cerita seperti rutinitas peneliti yang mengikuti kehidupan orangutan mulai dari pagi hingga sore hari, perilaku orangutan dan manfaat penting dari orangutan sebagai satwa endemik yang memiliki ragam manfaat bagi kehidupan satwa lainnya termasuk bagi manusia.

Diceritakan juga mengapa penelitian itu penting lebih khusus orangutan, salah satunya karena sebagai upaya agar orangutan bisa untuk terus berlaanjut hingga nanti (tidak punah) dan perlu adanya penelitian sebagai sumber ilmu pengetahuan.

Berbagi informasi terkait orangutan sangat perlu disampaikan kepada semua pihak, mengingat kehidupan orangutan di alam liar lebih khusus karena orangutan adalah satwa yang sudah sangat terancam punah yang harus dilestarikan hingga nanti.

Pit -Yayasan Palung

Stop Membeli Produk yang Berasal dari Hewan Dilindungi!

“Stop Membeli Produk yang Berasal dari Hewan Dilindungi! Karena Membeli sama dengan Mendukung Kejahatan dan Mempercepat Kepunahannya”

Petugas BKSDA Kalimantan Barat menunjukkan barang bukti yang disita dari sebuah toko aksesoris di Singkawang, Kalbar 22 April 2016 tahun lalu. Foto dok. KOMPAS.com, YOHANES KURNIA IRAWAN.jpg

Petugas BKSDA Kalimantan Barat menunjukkan barang bukti yang disita dari sebuah toko aksesoris di Singkawang, Kalbar 22 April 2016 tahun lalu. Foto dok. KOMPAS.com, YOHANES KURNIA IRAWAN

Jika kita sayang dia (satwa/hewan dilindungi) dan inginkan satwa/hewan dilindungi tetap ada tentu kita tidak mendukung adanya produk-produk yang dijual dipasaran. Membeli produk-produk yang berasal dari satwa dilindungi sama saja artinya dengan mendukung kejahatan dan mempercepat kepunahan mereka (satwa/hewan dilindungi).

Produk-produk yang berasal dari bagian-bagian/tubuh hewan dilindungi tentu saja tidak boleh sama sekali dilakukan. Apa lagi berkaca kepada penguatan UU no. 5 tahun 1990 tentang Perlindungan satwa dilindungi. Dalam UU no 5 tahun 1990 tersebut, menyebutkan bagi pelanggar/pelaku yang melakukan transaksi jual beli satwa/hewan dilindungi maka akan dikenakan sanksi 5 tahun penjara dan denda 100 juta rupiah.

Sebut saja, produk-produk yang berasal dari tubuh-tubuh hewan/hewan dilindungi tidak sedikit kita jumpai dijual bebas dipasaran, bahkan ada bagian tubuh/hewan yang dijual secara online pula. Berbagai alasan dan cara yang ditawarkan oleh oknum ataupun pelaku yang menjajakan bagian-bagian dari satwa dilindungi seperti tanpa beban dan itu seharus tidak boleh terjadi. Kondisi seperti ini tentunya sangat disayangkan dan memprihatinkan terjadi…

Baca Selengkapnya di : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/stop-membeli-produk-yang-berasal-dari-hewan-dilindungi_591003c42123bdda0f1fce40
Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Berjumpa Ragam Peninggalan Tradisi Budaya Leluhur di Desa Demit, Ketika Kami Melaksanakan Ekspedisi Pendidikan Lingkungan

Teronong warisan kakek-nenek, untuk tempat menyimpan lebah madu. Foto dok. Pit Yayasan Palung

Teronong warisan kakek-nenek, untuk tempat menyimpan lebah madu. Foto dok. Pit Yayasan Palung

Ragam jenis anyaman-anyaman tradisional budaya leluhur seperti bahan dari bahan baku bambu masih kami jumpai di Desa Demit. Anyaman seperti Kampik, ragak atau bakul dengan beraneka motif tersebut menurut masyarakat setempat termasuk sudah jarang dijumpai mengingat orang tua yang menganyam beraneka motif tersebut sudah tidak banyak lagi yang bisa menganyamnya karena kesulitan menganyam motifnya dan beberapa peninggalan tradisi leluhur lainnya. Hal tersebut saya dan kawan-kawan dari Yayasan Palung menjumpainya ketika melakukan ekspedisi di beberapa desa di Kecamatan Sandai, Ketapang, Kalbar  (25-29 April 2017), bulan lalu.

Keberadaan aneka anyaman tersebut selain beruntung kami jumpai, tetapi juga karena ada sosok pelestari budaya tradisi masyarakat setempat (di desa Demit). Tidak hanya anyam-anyaman, tetapi juga beberapa ciri khas alat (perlengkapan) bagi masyarakat dalam menjalani kehidupan sehari-hari di  desa tersebut pula. Sosok yang boleh dikata pelestari budaya tersebut adalah bapak Alteban, 44 tahun.

Secara tidak sengaja, kata itulah yang dapat saya katakan. Tidak sengajanya, ketika kami kami ngobrol-ngobrol ringan bapak 3 anak tersebut bercerita tentang keseharian beliau sedang membuat/menganyam uncang (kerepai) tempat atau wadah yang dulu adalah tempat peluru senapan. Tetapi uncang (kerepai) yang ia buat saat ini tidak lagi digunakan untuk wadah untuk peluru senapan tetapi hanya untuk aksesoris seperti gantungan kunci, untuk tempat (wadah ) rokok, dompet ataupun juga untuk tempat handpone. Uncang/kerepai, bahan-bahannya terbuat dari kulit kayu gentoli dan rotan.

Kulit kayu dibentuk selanjutnya dibalut dengan anyaman rotan. Bila boleh dikata, uncang/kerepai adalah tas jaman dulu yang sekarang mulai dilesarikan lagi karena bentuknya yang unik dan menarik. Adapun untuk harga, uncang/kerepai yang ukurannya kecil (untuk gantungan kunci) harganya 50 ribu rupiah. Ukuran sedang untuk tempat handpone/tempat dompet harganya 200 ribu rupiah dan ukuran yang paling besar (bisa digunakan untuk tempat laptop) harganya 500-600 ribu rupiah.

Aneka anyaman tersebut boleh dikata sudah langka karena sudah tidak banyak lagi, generasi muda tidak bisa lagi menganyam motif rumit tersebut. Tercatat menurut pengakuan bapak Alteban, saat ini di desanya tersisa 1 orang generasi yang bisa menganyam motif dari aneka anyaman tersebut. Adapun motif anyaman yang dimaksud adalah motif paku ikan (motif anyaman berbentuk tanaman paku-pakuan). Beberapa anyaman ragak/bakul/kampik saat masyarakat menugal padi, anyaman ini sebagai wadah benih padi. Dikata sebagai pelestari budaya, Alteban juga menunjukan beberapa barang-barang yang merupakan budaya tradisional masyarakat yang sudah dikatakan langka. Barang-barang tradisional (peninggalan jaman dulu) dari nenek-kakek ujar bapak Alteban. Bapak Alteban memperlihatkan barang-barang peninggalan nenek-kakek yang lainnya adalah Tronong, demikian masyarakat  Demit menyebutnya.
Menurut cerita Alteban, Tronong merupakan wadah (tempat) menyerupai penangkin. Bagi masyarakat setempat, dulunya Tronong digunakan oleh masyarakat untuk tempat menyimpan madu saat memanjat/menjatak lebah madu. Saat mengambil lebah madu, seseorang harus membawa tronong dan tebaok. Tebaok adalah bahan yang terbuat dari jenis kayu akar nama kayunya kebak (tebaok digunakan untuk pengasapan sarang lebah madu), ujar Alteban.

Saya dan kawan-kawan yang berkesempatan datang ke Desa Demit juga diberi oleh-oleh buah hutan, buah kekupak namanya. Menurut masyarakat setempat, buah kekupak sangat berguna untuk penangkal roh jahat. Dengan kata lain, buah kekupak memiliki fungsi untuk menangkal roh jahat dan menghindari dari marabahaya. Sebagian besar anak kecil di Desa Demit menggunakan kekupak untuk dijadikan kalung sebagai penjaga agar terhindar dari penyakit dan marabahaya serta sebagai pelindung semangat jiwanya.

Lebih lanjut Alteban bercerita tebaok yang digunakan untuk pengusir lebah madu saat mengambil madu, ternyata di masyarakat setempat tebaok dipercaya untuk mengusir ragam penyakit. Caranya, tebaok yang dibakar, abunya diusapkan kebagian tubuh (badan yang sakit).

Alteban juga memperlihatkan tombak yang menurut ceritanya peninggalan dari Sang Kakeknya, adapula mandau. Bagi masyarakat di Demit, bapak Alteban selalu diundang saat ada acara kampungnya atau di Sandai ketika ada tamu datang karena selain sebagai sosok pelestari budaya, Alteban juga sangat trampil menari. Sebagian besar, masyarakat di Demit adalah petani padi dan penoreh getah (penyadap karet). Beberapa masyarakatnya juga adalah pekerja dan pekerja di perkebunan sawit. Ada juga masyarakat yang membuat sengkalan (tempat untuk mengiris bawang/bumbu dapur) dapat juga digunakan untuk alas pemotong daging. Sangkalan dibuat dari sisa-sisa potongan batang kayu leban dan ulin. Bila leban harganya 20 ribu rupiah. Sedangkan sengkalan dari kayu ulin harganya 40-50 ribu rupiah.

Saat kami lecture, materi yang kami sampaikan adalah manfaat hutan dan orangutan bagi manusia. Saat bermain boneka/panggung boneka di Sekolah Dasar (SD) kami bertutur tentang hutan dan orangutan yang kondisinya semakin terhimpit.
Sedangkan diskusi, kami mendengar keluh kesah ataupun juga potensi yang ada didesa. Saat pemutaran film, kami juga  menyampaikan sosialisasi tentang satwa dilindungi seperti orangutan, kelempiau, bekantan, trenggiling, enggang dan lain sebagainya.

Adapun asal usul nama Desa Demit, menurut masyarakat setempat awalnya karena di desa tersebut kala itu 3 kali pindah kampung dan akhirnya menetap di Desa Demit. Menurut cerita Pak Jamin, salah seorang tokoh masyarakat di desa Demit menuturkan; dulu,  karena wabah penyakit berupa diare dan ada satu kejadian dalam waktu singkat 5 ibu-ibu kala itu melahirkan bayi, tetapi bayinya meninggal. Sebagian besar masyarakat menganggap peristiwa tersebut sebagai wabah penyakit hantu (demit). Dari dulu hingga sekarang telah berumur 30 tahun. Untuk menjangkau daerah ini (Desa Demit) dilalaui dengan jarak tempuh 105,97 km dari Ketapang.

Semua rangkaian kegiatan ekspedisi ke desa-desa yang kami Yayasan Palung lakukan berjalan sesuai dengan rencana dan lancar dan mendapat sambutan baik dari masyarakat.

Petrus Kanisius – Yayasan Palung

Tulisan Selengkapnya dapat dibaca di : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/berjumpa-ragam-peninggalan-tradisi-budaya-leluhur-di-desa-demit_590a9fa81fafbdb6083a9e58

Berbagi Cerita Saat di Stasiun Penelitian Cabang Panti, Gunung Palung    

DSCN0558.JPG

Foto ketika memproses sampel feses dengan metode FPS. Foto  dok. Becky C.

Jika boleh dikata, Stasiun Penelitian Cabang Panti merupakan rumah bagi jutaan spesies hewan dan tumbuhan hidup didalamnya. Stasiun penelitian yang terletak di Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat. Cabang Panti, memiliki luas wilayah 2.100 hektare dengan 7 jenis hutan yang tersebar di dalamnya seperti; rawa air tawar, rawa gambut, batuan berpasir dataran rendah, granit dataran tinggi, pegunungan, kerangas dan tanah alluvial. Fakta-fakta menakjubkan tersebut yang membuat saya terkagum-kagum.

Bermula ketika saya ditawari program magang di Stasiun Penelitian Cabang Panti, saya sanggupi itu karena sudah sejak lama saya dengar tentang Stasiun Penelitian dan saya belum pernah kesampaian untuk pergi kesana. Untuk perjalanan pertama saya naik kesana tanggal 8 April 2017 yang lalu, butuh waktu cukup lama kurang lebih sekitar 7 jam perjalanan. Saya berangkat menuju tempat yang dimaksud bersama Beth Barrow, Manajer Proyek KKL, Becky Curtis, (Asisten manager Orang Hutan), dan Terry Breden, Direktur Program Yayasan Palung . Tawaran itu menurut saya sangat menyenangkan.

Ketika sampai di Cabang Panti, saya semakin kagum dengan paparan pemandangan yang indah dimana banyak bangunan-bangunan sederhana ditengah hutan lebat ini dengan banyak orang ramah didalamnya, menakjubkan dan salah satu bangunan tersebut seperti camp besar, camp nyamuk, camp litho dan camp pantai.

DSCN0427.JPG

Salah satu bangunan di Cabang Panti (camp litho dan camp nyamuk). Foto dok. M.Syainullah

Hari berganti hari dan saya masih bersemangat untuk belajar di sana sampai saya mulai terbiasa untuk berjalan sendiri dihutan.

Beragam hal yang saya pelajari selama disana seperti mengikuti orangutan dari mulai bangun pagi sekali sekitar pukul setengah 3 pagi untuk bersiap-siap turun kehutan dan berharap bisa sampai disarangnya sebelum dia (orangutan) bangun dan mulai beraktifitas.

DSCN0956.JPG

Walimah, salah satu orangutan yang saya ikuti selama di Cabang Panti. Foto dok. M. Syainullah

Untuk mengambil sampel urin dan feses (kotoran orangutan) idealnya ketika orangutan pertama kali bangun pagi karna setiap dia bangun pagi orangutan langsung buang air besar dan kecil sehingga memudahkan saya untuk mengambil sampel tersebut setelah itu saya memproses sampel urin dan feses tersebut di camp dengan metode-metode yang telah diajarkan kepada saya salah satunya seperti metode FPS dan metode pembekuan sampel urin.

Mungkin banyak yang penasaran untuk apa saya capek-capek memproses sampel kotoran dari mulai di lapangan hingga di laboraturium, jawabanya adalah, banyak seperti untuk identifikasi orangutan dengan proses identifikasi DNA dan untuk mengetahui seberapa luas penyebaran biji yang dilakukan oleh orangutan. Lalu pada malam harinya saya istirahat dan bersiap untuk beraktifitas esok hari dan saya rasa setiap hari adalah hari yang menakjubkan ketika saya berada di Cabang Panti.

DSCN0249.JPG

Saat mengikuti orangutan di Cabang Panti

Salah satu orangutan yang saya ikuti adalah Walimah, orangutan betina ini seperti sudah terbiasa dengan adanya manusia yang mengamati disekelilingnya. Seperti ketika orangutan mengeluarkan suara kiss squeak (budaya orangutan ketika merasa terancam jika ada orangutan lain yang berusaha mendekati wilayahnya). Biasanya suara tersebut terdengar seperti suara kecupan yang nyaring.

Selama disana ketika belajar bagaimana cara memahami budaya orangutan, saya sadar bahwa penting untuk melindungi orangutan dengan melihat peranan orangutan yang begitu penting bagi hutan sebagai salah satu penyebar biji sebagai cikal bakal hutan tetap ada bagi kehidupan serta bermanfaat sebagai penjabaran ilmu pengetahuan, salah satunya seperti penelitian dan konservasi.

Muhammad Syainullah-Relawan Konservasi TAJAM

 

Yayasan Palung Akan Adakan Serangkaian Kegiatan untuk Peringatan Hari Bumi 2017

Logo kegiatan hari bumi 2017

Logo kegiatan hari bumi 2017

 

“Tanam Pohon, Stop Sampah Plastik untuk Kesehatan Bumi Kita”

Setiap tahunnya, setiap tanggal 22 April 2017 selalu diperingati sebagai hari bumi. Tindakan nyata untuk merawat bumi salah satu cara yang harus dilakukan seperti menanam dan mengurangi sampah plastik. Mengingat, bumi saat ini mengalami perubahan yang sangat drastis akibat tekanan dari meningkatnya populasi manusia penghuni bumi dan perubahan iklim yang terus terjadi di seluruh belahan dunia. Bumi sudah semakin tua dan renta, kesehatannya juga perlu dijaga oleh kita sebagai penghuninya.

Yayasan Palung sebagai organisasi masyarakat sipil yang bekerja di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara (Tanah Kayong) menjadikan hari bumi sebagai momentum untuk mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap Tanah Kayong.

 

Adapun  tema yang diketengahkan pada Hari Bumi 2017 adalah “Tanam Pohon dan Stop Sampah Plastik Untuk Kesehatan Bumi Kita” untuk Peringatan.

Sedangkan tujuan kegiatan hari bumi yang dilakukan tidak lain untuk;

  1. Mengkampanyekan pelestarian alam dan lingkungan di Tanah Kayong.
  2. Mengajak masyarakat untuk menanam pohon dan mengurangi terjadinya sampah plastik.
  3. Ajang silaturahim antara Pemerintah, Penggiat Konservasi dan Masyarakat Kayong Utara.

Beberapa kegiatan yang akan dilakukan dalam peringatan Hari Bumi 2017  antara lain:

  1. Jalan Sehat dari Bundaran Tugu durian ke Tugu Sail Selat Karimata Pantai Pulau Datok dan Door prize,
  2. Penanaman pohon secara simbolis di Pantai Pulau Datok,
  3. Bersih Pantai Pulau Datok,
  4. Live event Radio Kayong Utara.

Waktu dan Lokasi Kegiatan :  Hari / tanggal   : 23 April 2017, pukul 06:30 WIB-Selesai Lokasi : Bundaran Tugu Durian -Tugu Sail Selat Karimata Pantai Pulau Datok.

Seluruh peserta kegiatan ini berkumpul di Bundaran Tugu Durian, kemudian berjalan bersama menuju Tugu Sail Selat Karimata di Pantai Pulau Datok. Setibanya di Pantai Pulau Datok dilakukan penanaman pohon secara simbolis oleh perwakilan peserta, kemudian bersih pantai, kegiatan diakhiri dengan door prize. Semua kegiatan pendukung dilakukan di sekitar Tugu Sail Selat Karimata.

Peserta Kegiatan direncanakan diikuti oleh para pihak antara lain; Pemerintah Daerah Kabupaten Kayong Utara (Disbudparpora, KLH, Dinas Pendidikan, Dinas PMD, BAPPEDA KKU, Dekranasda, Dinas Perkebunan Pertanian dan Pangan, Dinas PU, Dinas Perikanan), Kepolisian Resor KKU, Koramil KKU, SPTN I Sukadana BTNGP, Resor Sukadana dan Karimata BKSDA KSW I Ketapang, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah KKU, HS68 dan Tirkana, Penggiat Lingkungan (Yayasan ASRI, Simpang Mandiri Production, SISPALA SMKN 1 Sukadana, SISPALA SMKN 2 Sukadana, SISPALA SMKN 3 Simpang Hilir) serta Masyarakat Sukadana dan sekitarnya.

Kegiatan Hari Bumi 2017 ini diselenggarakan oleh Yayasan Palung dengan melibatkan Relawan Konservasi REBONK sebagai panitia pelaksana kegiatan, dan bekerjasama dengan para pihak.

Sedangkan Relawan Konservasi Taruna Penjaga Alam (RK.Tajam) Yayasan Palung akan mengadakan serangkaian kegiatan di Pantai Sungai Kinjil dengan beragam kegiatan seperti; Bermain boneka orangutan/Puppet show, Operasi semut di sekitar pantai  dan pembagian tong sampah dari barang bekas. Adapun kegiatan rencananya akan dilaksanakan pada 24 April 2017.

Tidak bisa disangkal, bumi menjadi rumah bagi semua makhluk hidup yang keadaannya sedapat mungkin untuk terus dijaga dan dirawat. Peringatan Hari Bumi yang rutin dirayakan setiap bulan April oleh penduduk dunia, sebagai salah satu cara untuk mengingatkan kepada khalayak tentang kondisi bumi dan seperti “alert/peringatan” untuk meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan bumi.

Kesehatan bumi sudah semakin terganggu, tidak sedikit contoh bencana yang terjadi seperti banjir, angin puting beliung, badai, longsor, gempa bumi dan beragam kejadian lainnya. Hal ini tentu perlu menjadi perhatian khusus kita semua secara bersama pula.

Ada banyak cara yang kita dapat lakukan, tindakan nyata menjadi pilihan yang harus dilakukan demi menjaga kesehatan bumi dan keselamatan kita sebagai makhluk hidup yang mendiaminya (bumi/sebagai rumah) yang aman dan nyaman. Dengan harapan bentang alam yang sangat kaya ini daya dukungnya selalu layak untuk menopang kehidupan masyarakat di Tanah Kayong.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

 

 

 

 

 

 

Belajar Tentang Gambut Bersama Masyarakat dan Bertani Agroforestri yang Berkelanjutan

Peserta pelatihan mengunjungi kebun karet warga masyarakat di Desa Padu Banjar. Foto dok. Yayasan Palung.JPG

Peserta pelatihan mengunjungi kebun karet warga masyarakat di Desa Padu Banjar. Foto dok. Yayasan Palung

Tidak bisa disangkal sebagian besar lahan pertanian, kebun masyarakat di wilayah Simpang Hilir KKU adalah lahan gambut. Seperti tahun lalu, wilyah ini juga menjadi wilayah terdampak dari Karhutla, hal tersebut benar adanya ketika kami (Yayasan Palung) selama sepekan (6-12 April 2017) menyambangi dan mengadakan serangkaian kegiatan pelatihan berbasis mitigasi lahan di lima desa hutan desa, Kec. Simpang hilir, KKU.

Seperti terlihat, rata-rata di wilayah Simpang Hilir adalah gambut dalam yang  tidak lain menyimpan banyak kandungan air dan di kawasan lahan gambut menyimpan karbon. Di Simpang Hilir Kedalaman gambut  rata-rata 3 hingga 4 meter.

Adapun rangkaian kegiatan dalam pelatihan mitigasi berbasis lahan yang dilakukan dalam bingkai Training Of Trainer (TOT) / Pelatihan untuk Pelatih tersebut antara lain; Pelatihan Rehabilitasi Lahan Gambut dan Silvikultur Tumbuhan HHBK, Pelatihan Agroforestry Berbasis Kelapa, Pelatihan Agroforestry Berbasis Karet.

Peserta dari 5 desa yang ikut pelatihan saat berfoto bersama setelah kegiatan selesai. Foto dok. Yayasan Palung

Peserta dari 5 desa yang ikut pelatihan saat berfoto bersama setelah kegiatan selesai. Foto dok. Yayasan Palung

Dalam rangkaian kegiatan TOT tersebut dihadirkan pemateri Jusupta Tarigan dari NTFP-EP Indonesia, menjadi narasumber sekaligus menjadi pelatih dalam kegiatan pelatihan. Bang JT sapaan akrabnya menyampaikan terkait bagaimana memulihkan lahan gambut dari sisa-sisa kebakaran tahun lalu. Adanya kegiatan inipun sebagai bagian bersama masyarakat untuk rencana tindak lanjut (RTL) perbaikan lahan gambut yang terbakar dengan menyulamnya dengan  aneka tanaman yang cocok di lahan gambut…

Baca selengkapnya di :Belajar Tentang Gambut Bersama Masyarakat dan Bertani Agroforestri yang Berkelanjutan

 

(Puisi) Yayasan Palung

Yohanes Terang. Foto dok. Pit.jpg

Foto Yohanes Terang. dok. Pit

Puisi tentang Yayasan Palung

Yayasan Palung, engkau tercipta disaat semua sendi kehidupan telah mengalami degradasi hampir diambang batas

Yayasan Palung tugasmu, sangat mulia, gagasanmu sangat tepat mencari solusi laksana sampai semua tuntas

Program yang tepat sarana sempurna menuju harapan agar tetap tersedia kapanpun tidak akan hilang dan tak pernah habis

Hasil yang baik harta berharg sebagai titipan bagi dan anak cucu mereka terus menerus

Eksploitasi, kebakaran hutan, sarana terciptanya pada alam hingga tidak nyaman untuk didiami tak enak untuk dihuni membuat hidup ini was-was dan cemas

Konservasi, hutan desa sebuah cara berguna pencegah duka nestapa yang terjadi pada bumi dimana kita bernafas

Kayong Utara tempat kita bersama menyatukan pakat; YP, pemerintah, masyarakat, Berpikir Bersama untuk berusaha bersama (BBUBB) menuju Kayong Utara sejahtera berjalan sampai ujung batas.

Sukadana, KKU 3 April 2017

Pesan disampaikan saat acara Kick Off Program Berbasis Lahan

Penyampaian pesan

Yohanes Terang

Inilah Nama-nama Penerima Beasiswa Orangutan Kalimantan Tahun 2017

IMG_3040.JPG

Salah satu peserta seleksi beasiswa BOCS  saat menyampaikan presentasi esai dihadapan para juri seleksi. Foto dok. Yayasan Palung

Setelah melalui rangkaian seleksi beasiswa Bornean Orangutan Caring Scholarship (BOCS) tahap pertama tanggal 18 maret 2017, terseleksi 33 orang dari 18 sekolah.

Sedangkang seleksi tahap II atau tahap akhir terpilih 6 orang yang berhak menerima beasiswa dan berhak mendapat biaya kuliah gratis di Perguruan Tinggi Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak.

Adapun nama-nama 6 orang penerima beasiswa BOCS  tahun 2017 adalah sebagai berikut :

Nama Calon Asal Sekolah
Ratiah SMA Negeri 3 Simpang Hilir
Hanna Adelia Runtu SMA Negeri 3 Ketapang
Ilham Pratama SMA Negeri 2 Ketapang
Mita Anggraini MAN Ketapang
Siti Nurbaiti SMA Negeri 1 Sungai Laur
Rafikah SMA Negeri 3 Simpang Hilir

Ucapan selamat kepada 6 penerima beasiswa BOCS angkatan ke -6, tahun 2017. Pengumuman ini berdasarkan berita acara Pada hari Kamis tanggal Tiga Puluh bulan Maret tahun Dua Ribu Tujuh Belas bertempat di Kantor Yayasan Palung telah dilakukan seleksi tahap akhir Beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan (Bornean Orangutan Caring Scholarship) 2017 yaitu berupa penilaian terhadap presentasi dan wawancara.

Demikian pengumuman sekaligus pemberitahuan resmi disampaikan, atas perhatian diucapan terima kasih.

Pembukaan Lahan Gambut di Sungai Putri Dihentikan, Angin Segar Bagi Habitat dan Orangutan untuk Terus Berlanjut

Pembangunan kanal di Sungai Putri mengancam habitat orangutan dan rentan kebakaran lahan. foto capture via BBC Indonesia.jpg

Pembangunan kanal di Sungai Putri mengancam habitat orangutan dan rentan kebakaran lahan. foto capture via BBC Indonesia

Dari judul diatas setidaknya menjadi kabar baik dan berita gembira bagi sebagian besar masyarakat dan beberapa lembaga lingkungan, sekaligus juga angin segar bagi habitat dan orangutan yang mendiami wilayah ini.

Angin segar dari penghentiaan pembukaan lahan yang sebagian besarnya gambut atau sekitar 50.000 ha lahan gambut tersebut menyimpan tidak sedikit cadangan sumber hidup bagi semua masa depan makhluk hidup tidak terkecuali manusia yang tinggal diwilayah tersebut. Mengingat, diwilayah tersebut didiami sekitar 1000 an lebih individu orangutan.

Benar saja, Gambut di Sungai Putri, Kec. Matan Hilir Utara, Ketapang, Kalbar merupan wilayah yang mana termasuk gambut dalam dan memiliki peranan penting bagi tidak sedikit makhluk hidup untuk berlanjut.

Di wilayah gambut inilah habitat ragam makhluk hidup dan orangutan. Foto dok. YIARI.jpg

Di wilayah gambut inilah habitat ragam makhluk hidup dan orangutan. Foto dok. YIARI

Kabar tersebut langsung dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menginstruksikan agar semua pembangunan di Sungai Putri, Kalimantan Barat, segera dihentikan karena masuk dalam Peta Indikatif Restorasi Gambut, (sumber; foresthints.news).

Iya benar saja, rata-rata kedalaman gambut di Sungai Putri adalah 6,62 meter, berdasarkan data HCV survei FFI tahun 2012. Dengan demikian boleh dikata gambut di Sungai Putri merupakan gambut dalam yang tidak sedikit memiliki arti penting bagi semua makhluk hidup yang mendiami wilayah ini untuk terus bisa berlanjut bila gambut ini tidak diganggu gugat.

Setidaknya dari data tentang kedalaman gambut ini (6,62 meter) merupakan setengah dari kedalaman tertinggi gambut yang paling dalam mencapai 12 meter. Gambut dalam (6,62 meter) di Sungai Putri menjadi salah satu alasan kuat sebagai wilayah yang harus dipertahankan. Tidak hanya sebagai keberlanjutan habitat (tempat hidup) bagi setidaknya kurang lebih seribuan lebih orangutan dan satwa lainnya, tetapi juga bagi manusia. Apabila wilayah ini dipertahankan sudah hampir pasti bisa menyelamatkan beragam satwa dan yang terpenting adalah tetap tersedianya sumber air.

Sebaliknya, bila wilayah gambut dibuka akan menimbulkan beberapa dampak yang tidak sedikit bagi masyarakat, antara lain; pertama, sumber air semakin sulit untuk didapat. Kedua, rentan terjadi kebakaran lahan. Mengingat, bila lahan gambut terbakar hampir pasti semakin sulit untuk dilakukan pemadamaman karena api yang tersulut dilahan gambut akan menyebar ke dasar  dan cenderung merambat. Hal lainnya adalah bila hilangnya gambut dalam menjadi kekhawatiran lainnya termasuk ancaman hilngnya bagi tidak sedikit makhluk hidup yang mendiami wilayah tersebut.

 

Seperti diberitakan sebelumnya, PT. Mohairson Pawan Khatulistiwa (PT. MPK) di wilayah ini sedang dibangun kanal sepanjang sembilan kilometer. Namun, setelah ada perintah penghentian dari pemerintah PT. MPK sudah berhenti beroperasinya diwilayah tersebut. (sumber; BBC Indonesia).

Hingga saat ini, belum diketahui pasti apakah PT. MPK akan diberi sanksi atau tidak oleh pihak pemerintah.

Mengingat juga wilayah gambut/hutan gambut memiliki arti penting bagi dunia konservasi (hutan rawa gambut memiliki nilai konservasi tinggi), tidak hanya sebagai tempat hidup dan berkembang biak makhluk hidup, tetapi juga sebagai penyimpan sumber air. Kabar baiknya apabila di wilayah ini bisa diselamatkan, setidaknya memberi harapan bagi semua makhluk hidup untuk terus berlanjut hingga nanti.

Semoga saja, lahan gambut yang ada di Sungai Putri ini dapat lestari dan menjadi tempat yang aman, nyaman bagi semua makhluk hidup hingga nanti. Berharap juga, wilayah-wilayah di Indonesia yang memiliki lahan gambut dapat terus untuk diselamatkan.

tulisan yang sama juga dapat dibaca di : Angin Segar bagi Habitat dan Orangutan dengan Dihentikannya Pembukaan Lahan Gambut di Sungai Putri

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

 

 

 

Panen Madu Secara Lestari, Bersembunyi di Dalam Kelambu

Melindungi diri dengan kelambu saat panen lebah madu. Foto dok. Yayasan Palung

Melindungi diri dengan kelambu saat panen lebah madu. Foto dok. Yayasan Palung

Saat melakukan praktek pemanenan (panen) lebah madu peserta rela bersembuyi  di dalam kelambu untuk menghindari diri dari sengatan lebah. Hal inilah yang dilakukan oleh 5 Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) di Simpang Hilir, Kabupten Kayong Utara mengikuti pelatihan budidaya lebah madu secara lestari Senin (27/2) hingga Kamis (2/3/2017) pekan lalu.

Pelatihan tersebut dilakukan di dua Desa (Penepian Raya dan Ujung Said) di Kapuas Hulu, Kalbar. Kegiatan yang dilakukan selama empat hari tersebut setidaknya memberikan banyak manfaat bagi 5 LPHD yang ada di Kayong Utara. Mengingat, budidaya lebah madu bisa saja di adopsi oleh desa manapun sejatinya termasuk di Kayong Utara, potensi lebah madu secara lestari sangat memungkin dilakukan tidak hanya sebagai sumber penghasilan tetapi juga bagi keberlanjutan hutan. Demikian Ungkap Edi Rahman, dari Yayasan Palung yang juga sebagai pendamping dari lima LPHD yang ada di Desa-desa di Simpang Hilir (Desa Penjalaan, Desa Padu Banjar, Desa Nipah Kuning, Desa Pemangkat dan Desa Pulau Kumbang).

Selain itu menurut Edi, Sapaan akrabnya lebih lanjut mengatakan; dengan adanya panen lebah madu secara lestari sangat memungkinkan hutan tetap dijaga oleh masyarakat.  Seperti di dua Desa (melalui Lembaga Pengelolan Hutan Desa masing-masing) masyarakat sangat sadar dengan adanya budidaya lebah madu secara lestari/masyarakat sebagian besar menggantungkan hidup mereka di sana sebagai pembudidaya lebah madu dan dikatakan sangat berhasil.

Tentu ini juga sangat mungkin dikembangkan di daerah/wilayah 5 desa yang didampingi oleh Yayasan Palung, Pelatihan yang diikuti pun tidak lain semoga desa-desa di Simpang Hilir yang mengikuti pelatihan ini dapat mengikuti jejak dua desa (Ujung Said dan Penepian Raya) tempat dimana kami belajar, ungkap Edi lebih lanjut.

Ketika panen, selain berlindung didalam kelambu, si pemanen juga harus melindungi tangan dengan sarung tangan dan melindungi muka dengan jaring dimuka agar tidak disengat. Si pemanen harus mengusir lebah-lebah yang menempel disarang dengan cara pengasapan agar lebah terbang meninggalkan sarang dan panen madu bisa aman dilakukan.

Lebah yang bersarang di tikung. Foto dok. Yayasan Palung

Lebah yang bersarang di tikung. Foto dok. Yayasan Palung

Benar saja, mayoritas masyarakat di Desa Penepian Raya dan Ujung Said adalah desa yang saat ini telah berhasil mengembangkan desanya dengan sumber penghasilan dari hasil panen lebah madu. Menurut cerita dan pengakuan masyarakat di dua desa ini, setidaknya dalam setahun masyarakat dapat menghasilkan panen dengan rata-rata 1000 kg lebah madu pertahun. Bahkan saat tahun 2013 silam, di dua desa ini bisa panen hingga 23 ton, saat panen raya. Bayangkan saja betapa besar penghasilan dari mereka yang membudidaya lebah madu. Adapun hasil dari lebah madu tergantung bunga pohon di sekitar sarang. Setidaknya kisaran harga madu saat ini di hargai Rp 120 ribu/kg, berapa besar hasil yang mereka dapatkan melalui budidaya lebah madu secara lestari ini.

Saat melakukan pemanenan lebah madu. Foto dok. Yayasan Palung

Saat melakukan pemanenan lebah madu. Foto dok. Yayasan Palung

Saat melakukan pelatihan, peserta dari 5 desa, Kec. Simpang Hilir, KKU melakukan beragam pelatihan seperti pelatihan pembuatan tikung (tikung; kayu yang dibuatkan sebagai tempat bersarangnya lebah madu, biasanya papan yang dibuat agak cekung sebagai rongga tempat bersarangnya lebah madu). Tikung dibuat agar lebah-lebah mau bersarang dan menghasilkan madu. Tikung dibuat dari kayu yang nama lokalnya disebut kayu cempedak air. Setelah dibuatkan tikung, selanjutnya dipasang di ranting-ranting pohon di pinggiran sungai yang tingginya kurang lebih diketinggian 1,5-2 meter.

Biasanya, 3 minggu berselang hingga satu bulan lebah madu sudah mulai bersarang dan menghasilkan madu. Dalam satu sarang, saat panen beragam pula, ada yang 2 kg-8 kg.

Masyarakat di Desa Ujung Said dan Penepian Raya memiliki pekerjaan utama adalah sebagai budidaya lebah madu secara lestari dan nelayan ikan sungai. Hampir ribuan tikung dipasang ditepian-tepian sungai oleh masyaraka di dua desa ini. Tidak mudah memang untuk menjangkau kedua daerah ini (Ujung Said dan Penepian Raya) karena harus menyusuri jalan darat dan sebagian besar menyusuri jalur sungai untuk bisa sampai ke wilayah tersebut.

Beberapa desa di Kec. Simpang Hilir, KKU seperti Desa Penjalaan dan Desa Padu Banjar LPHDnya kini telah mencoba memasang setidaknya sekitar 60 tikung di sepanjang sungai Perawas.

Hadirnya budidaya lebah madu secara lestari ini juga boleh dikata sebagai salah satu bentuk (cara) masyarakat mengelola hutan secara berkelanjutan pula. Karena dengan masih utuhnya hutan (adanya pohon/hutan) di pesisir sungai otomatis lebah madu juga ada. Semoga saja, pelatihan yang diikuti ini dapat menular (berhasil) dikembangkan di desa-desa yang ada di Simpang Hilir, KKU yang mengikuti pelatihan ini. Semoga saja…

Baca juga tulisan yang sama di : Saat Panen Lebah Madu Secara Lestari, Bersembunyi Didalam Kelambu Takut Disengat

Petrus Kanisius-Yayasan Palung