Author Archives: yayasanpalung

Peringati Hari Bumi 2019, Yayasan Palung Ajak Semua untuk Peduli Nasib Bumi

Kutipan :
“Jika tidak mampu memperbaiki, maka jangan merusak bumi”

“Lestarikan yang Tersisa untuk Masa Depan”

Jika tidak mampu memperbaiki, maka jangan merusak bumi. Itu tema yang diambil oleh Yayasan Palung, pada hari bumi 22 April tahun ini dengan mengajak semua siapa saja tanpa terkecuali untuk peduli kepada nasib bumi.

Dalam rangka memperingati hari bumi, Yayasan Palung dan para relawan rencananya akan mengadakan beberapa rangkaian kegiatan untuk peduli terhadap nasib bumi dengan cara-cara sederhana.

Seperti misalnya, Yayasan Palung bersama Relawan Taruna Penjaga Alam (RK-TAJAM) sebagai perpanjangan tangan Yayasan Palung untuk menyampaikan pesan-pesan konservasi ke masyarakat akan melaksakan kegiatan Bakti Sosial dan Long March (jalan santai). Kegiatan tersebut sebagai bentuk aksi nyata untuk mengajak masyarakat agar lebih peduli dan mau membiasakan diri dengan gaya hidup ramah lingkungan.

Rencananya serangkaian kegiatan hari bumi 2019 yang dilakukan oleh Yayasan Palung dan RK-Tajam akan dilaksanakan di Taman Kota – Area Pasar Baru – Bundaran Ketapang Mandiri, Minggu 21 April 2019, pukul 06.00 WIB-Selesai. Untuk peserta dalam kegiatan tersebut akan melibatkan semua anggota RK-TAJAM, Sispala, Komunitas Pecinta Alam.

“Rencananya, sebelum semua rangkaian kegiatan dimulai, seluruh partisipan berkumpul di Taman Kota dan melakukan pemungutan sampah kemudian berjalan menuju area pasar baru dan di perjalanan sambil memungut sampah di pinggir jalan. Sampai di area pasar baru partisipan akan di bagi mejadi 4 kelompok dan membersihkan 4 titik di area tersebut. Setelah selesai melakukan pungut sampah di area pasar baru peserta kembali ke taman kota melewati bundaran Ketapang Mandiri dan melakukan kampanye dengan bentuk orasi. Partisipan kembali ke Taman kota  untuk sarapan dan doorprize”, ujar Haning Pertiwi dari Yayasan Palung, selaku pembina relawan sekaligus penanggungjawab kegiatan.

Sedangkan di tempat terpisah, Relawan REBONK binaan Yayasan Palung di Kabupaten Kayong Utara, rencananya akan mengadakan serangkaian kegiatan dengan melakukan penanaman mangrove (bakau) dan bersih-bersih pantai. Rencananya kegiatan tersebut akan dilaksanakan pada Sabtu, 27 April 2019, pukul 07.00 WIB- selesai, di Pantai Pasir Mayang, Kecamatan Sukadana. 

Baner kegiatan Hari Bumi 2019 yang akan dilaksanakan Yayasan Palung dan Relawan Rebonk di Sukadana. Foto dok : Simon/Yayasan Palung

Dalam melakukan penanaman mangrove, Relawan Rebonk dan Yayasan Palung dalam kegiatan ini juga akan melibatkan beberapa komunitas seperti; Sispala Land, Sispala Ganasanda, Sispala Peramasakti, Kelompok Petani, Kelompok Nelayan, SMAN 2 Sukadana, SMP Negeri 5 Sukadana.

Victoria Gehrke, dari Yayasan Palung mengatakan alasan mengapa hari bumi penting untuk diperingati dan mengapa kita harus peduli dengan nasib bumi; “Dunia lebih sadar daripada sebelumnya tentang perlunya kasih sayang dan perlindungan bagi lingkungan dan satwa liar. Orang Indonesia lebih memahami kerusakan lingkungan dan perubahan iklim daripada kebanyakan orang, karena mereka menghadapinya setiap hari dan hidup dengan konsekuensinya. Setiap orang memiliki kekuatan untuk melakukan perubahan, mari bekerja bersama dan menjadi contoh bagi dunia. Biarkan suara kita didengar untuk melindungi Bumi dan semua yang hidup di dalamnya”.

Berharap semua rangkaian kegiatan hari bumi nantinya bisa berjalan sesuai dengan rencana. Jika bukan kita semua, siapa lagi yang peduli dengan bumi.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Iklan

“REBONK” Jadilah Penggerak Bukan Sekedar Pengikut, Tunjukan Aksimu 


Foto bersama setelah semua rangkaian kegiatan Pelantikan Rebonk angkatan ke-9 selesai dilakukan. Foto dok : Yayasan Palung

“Jadilah penggerak, bukan Sekedar Pengikut”, pesan tersebut disampaikan oleh pembina relawan kepada anggota Relawan Rebonk yang baru, pada Minggu 5-7 April 2019, kemarin di Dam Aik Keladi, Dusun Mentubang, Desa Harapan Mulia, Kec. Sukadana, Kayong Utara.

Setidaknya 16 relawan muda Rebonk angkatan 9 yang telah dilantik,
Beberapa kegiatan yang dilakukan selama 3 hari dalam pelantikan relawan Rebonk (Relawan Bentangor untuk Konservasi) angkatan ke-9. Relawan Rebonk merupakan para relawan muda binaan Yayasan Palung. Dalam kegiatan tersebut mereka isi dengan berbagai kegiatan diantaranya melakukan diskusi tentang kerelawanan, materi tentang konservasi, materi terkait flora dan fauna.

Selanjutnya, Berbagi cerita tentang kerelawanan dan motivasi dari staf Yayasan Palung dan direktur Yayasan Palung, Terri Lee Breeden menyempatkan diri untuk hadir dalam kegitatan tersebut. Terri menyampaikan, bahwa relawan harus memiliki semangat dan motivasi tinggi untuk melakukan hal-hal kecil terutama peduli dengan lingkungan sekitar tentunya dengan berbagai aksi nyata.

16 orang Relawan Rebonk angkatan ke-9 yang baru dilantik. Foto dok : Yayasan Palung

Relawan tak hanya konservasi, tetapi juga membaur dengan masyarakat

Kegiatan diskusi bersama dengan masyarakat setempat untuk menggali informasi potensi dan sejarah di dusun tempat kami berkegiatan. Selain itu, Relawan Rebonk angkatan ke-9 juga diajak untuk membaur bersama masyarakat. Pada kesempatan berdiskusi bersama masyarakat, mereka (relawan) diajak untuk membiasakan diri berani tampil dan membaur di masyarakat. Termasuk anggota relawan yang lama dan baru diajak untuk berani tampil memimpin jalannya diskusi.

Ketika berdiskusi, banyak informasi dan motivasi yang didapat oleh relawan rebonk yang baru dari masyarakat setempat. Diantaranya Relawan Rebonk bisa menggali informasi tentang sejarah asal usul nama daerah dusun Mentubang yang asal muasal namanya dari kata (antu bang). Di wilyah tersebut berdasarkan keterangan dari masyarakat, daerah yang memiliki potensi wisata seperti di Batu Tritip dengan pantainya, hutan mangrove, sekitar 9 ha hutan mangrove, Harapan Mulia hingga Simpang Hilir. Selain itu, di Dusun Mentubang, rencananya Kepala Dusun bersama masyrakat akan menjadikan lahan-lahan pertanian menjadi potensi wisata pertanian. 

Saat Relawan Rebonk berdiskusi bersama dengan masyarakat di dusun Mentubang. Foto dok : Yayasan Palung

sebagian besar masyarakat Mentubang adalah petani yaitu sekitar 60 %, nelayan 20%, sisanya swasta. Adapun pertanian masyarakat di desa Mentubang adalah padi, berbagai jenis kacang dan sayur-sayuran, durian, mangga, kelapa, sahang dan pisang. Berdasarkan keterangan  Erkan, selaku Kepala dusun Mentubang mengatakan, di dusun mereka ada sekitar 29 hektar kebun kelapa dan ada 50 – 100 ha berupa kebun durin.

Adat istiadat masyarakat pun masih kuat di jalankan di Mentubang misalnya adat istiadat naik ayun dan potong rambut (untuk anak yang baru lahir), adat tumbang apam (adat alih nama/adat ganti nama). Adat istiadat mandi Pengantin (Acara adat sebelum dilangsungkan pernikahan) dan mandi bunting (acara ibu hamil mandi saat kandungan berusia 7 bulanan).

Setelah melakukan diskusi dengan masyarakat, kegiatan yang bertajuk pelantikan anggota Rebonk, angkatan ke-9 melakukan Baksos (bakti sosial) bersama masyarakat dan pemuda Masjid dengan melakukan bersih-bersih di pemakaman umum masyarakat setempat.

Ketika Relawan Rebonk melaksanakan Baksos bersama masyarakat di pemakaman umum masyarakat. Foto dok : Sidiq Rebonk
diskusi bersama Relawan terkait materi kerelawanan. Foto dok : Yayasan Palung

Beberapa pesan oleh Pembina Rebonk untuk anggota baru angkatan ke-9 : JADILAH PENGGERAK BUKAN SEKEDAR PENGIKUT…!!!. Tidak hanya itu, dalam kesempatan itu juga disampaikan bahwa relawan itu harus memiliki ketulusan dan kesadaran terlebih harus berani menyebarkan virus konservasi dengan aksi-aksi nyata yang berpihak kepada lingkungan dan alam sekitar.  

Lebih lanjut, Pembina Rebonk Simon Tampubolon, dari Yayasan Palung mengatakan, “Jika kamu tidak mampu untuk terbang, maka lari. Jika kamu tidak bisa lari, maka jalan. Jika kamu tidak mampu berjalan maka merangkaklah. Lakukan apapun yang bisa kamu lakukan yang penting terus bergerak”.

Saat dilaksanakannya pelantikan anggota relawan Rebonk angkatan ke-9. Foto dok : Yayasan Palung

Hal yang sama juga disampaikan Abdul Samad dari Yayasan Palung yang saat itu mewakili F. Wendy Tamariska (selaku pendiri relawan Rebonk), mengatakan; “Relawan Rebonk tidak harus berani menunjukan aksi-aksi nyata untuk peduli dengan lingkungan sekitar di Tanah Kayong. Relawan harus berani berperan, peka dengan kesadaran dan memberi contoh baik kepada masyarakat dan lingkungan dengan aksi peduli tentang apa saja yang bisa dilakukan terutama terhadap lingkungan sekitar seperti menanam pohon, aksi-aksi peduli sosial. Tunjukan aksi-aksi kalian tentunya dengan kegiatan yang positif”

Rangkaian acara selanjutnya adalah pelantikan anggota baru relawan Rebonk yang baru  (RebonK angkatan ke-9). Pada acara pelantikan Relawan Rebonk, hadir pula peserta undangan dari Relawan Tajam dan Sispala Land. Setelah rangkaian acara pelantikan selesai dilakukan, selanjutnya semua peserta (panitia dan peserta) melakukan bersih-bersih sampah di sekitar tempat kami berkegiatan (di lokasi sekitar pertanian/kebun masyarakat, di kebun bapak Aspen). Semua rangkaian kegiatan berjalan sesuai rencana dan mendapat sambutan baik dari masyarakat dusun Mentubang.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Masyarakat di Desa Sepotong Inginkan Hutan Mereka Dijadikan Hutan Desa


Saat Yayasan Palung melakukan diskusi dengan masyarakat di Desa Sepotong beberapa waktu lalu. Foto dok : Yayasan Palung

Keinginan masyarakat di Desa Sepotong, Kecamatan Sungai Laur untuk menjadikan hutan mereka dijadikan hutan desa tercetus Kami dari Yayasan Palung mengadakan ekspedisi pendidikan lingkungan di dua desa (desa Sepotong dan desa Kepari), tanggal 19-23 Maret 2019, kemarin.

Saat diskusi dengan masyarakat, perwakilan dari pemerintah desa di Desa Sepotong sangat tertarik dan berharap apabila hutan di desa mereka dijadikan hutan desa. ­­Keinginan mereka tersebut bermula ketika kami menjelasan beberapa kegiatan dan program yang dilakukan oleh Yayasan Palung sekaligus ketika kami menyampaikan sosialisasi satwa dilindungi. Penjabaran dari beberapa program kegiatan Yayasan Palung diantaranya adalah pendampingan hutan desa di 5 desa yang ada di Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara tersebut menjadi ketertarikan tersendiri bagi masyarakat di Desa Sepotong juga untuk menjadikan hutan mereka menjadi hutan desa.

Beberapa hal terkait keinginan mereka menjadikan hutan mereka menjadi hutan desa diantaranya seperti; Ada sebagian besar luasan hutan di sekitar mereka (hutan yang ada di sekitar masyarakat) adalah beberapa diantaranya sudah padang ilalang yang sangat rentan terhadap kebakaran dan pernah terbakar pada beberapa tahun lalu, mereka berharap semoga dengan adanya hutan desa, wilayah tersebut bisa ditanam kembali. Selain itu, di hutan tersebut merupakan wilayah yang menjadi sumber air bersih bagi warga. Hal lainnya yang tak kalah pentingnya di sekitaran hutan milik masyarakat, dalam hal ini hutan milik desa terdapat tanam tumbuh hasil hutan bukan kayu salah satunya tanaman obat dan beberapa diantaranya tanaman asli.

Leri Valentino selaku Sekdes Desa Sepotong mengatakan, harapan masyarakat yang berkeinginan untuk menjadikan hutan mereka menjadi hutan desa tak lain sebagai upaya menyelamatkan hutan yang masih tersisa dan menjadi harapan satu-satunya di desa Sepotong. Beberapa hutan memang masih ada, tetapi sesuatu yang ditakutkan adalah hutan tidak tersisa. Leri menambahkan, jika nanti hutan mereka bisa dijadikan hutan desa maka hutan mereka otomatis terjaga dan masyarakat bisa mengolah hasil hutan bukan kayunya seperti jenis rotan dan tanaman obat.

Pino, Perangkat Desa Sepotong, tanam tumbuh seperti tanaman obat, tanaman bumbu dan tanaman asli cukup banyak di wilayah kami. Keinginan kami ingin menjadikan tanaman tersebut sebagai ikon dan menjadi potensi yang mungkin bisa dijual. Besar harapan kami agar Yayasan Palung mendampingi desa kami.

Tidak hanya hutan di wilayah itu yang menjadi potensi, kearifan lokal berupa adat istiadat juga masih terjaga di sana. Mereka (masyarakat di sana) masih menjalankan adat tradisi nenek moyang misalnya seperti tradisi gotong royong saat panen dan adat tradisi ketika sanak saudara ada yang meninggal dunia. Khusus adat orang meninggal, kebetulan saat kami melakukan ekspedisi di ada salah satu keluarga yang meninggal dunia di desa tersebut. Secara adat tradisi masyarakat di sana apabila ada masyarakat kampung yang meninggal maka di desa tersebut wajib untuk berkabung (berbelasungkawa) dan tidak melakukan aktivitas lain seperti ke ladang atau kegiatan lainnya. Masyarakat di kampung pun diwajibkan menyumbangkan apa saja yang ada. Beras, garam, micin atau pun sumbangan uang seberapa pun itu. Partisipasi masyarakat terlihat ketika ada keluarga yang berkabung dengan berbela rasa (berbelasungkawa) menyempatkan diri mereka ikut ambil bagian misalnya membantu memasak, menghadiri (melayat), membantu persiapan pemakaman tidak terkecuali menyiapkan perlengkapan, menjalankan adat istiadat kematian yang disebut bekipak dan berjaga hingga pemakaman dilakukan. Kami pun ikut berparisipasi saat prosesi adat. Setelah prosesi pemakaman barulah kegiatan yang sifatnya keramaian boleh dilakukan.

Termasuk kami melakukan rangkaian kegiatan diskusi dengan masyarakat dan melakukan pemutaran film lingkungan ke masyarakat. Hari-hari sebelumnya kami menyempatkan diri untuk berbagi informasi tentang lingkungan di sekolah ke SD Usaba Sepotong dan SDN 25 Sungai laur dengan kegiatan Puppet show (panggung boneka) bercerita tentang hutan, hutan dan satwa dilindungi. Kami juga melakukan lecture (ceramah lingkungan) terkait satwa dilindungi di SMPN 5 Sungai Laur.

Ketika kami menyampaikan lecture di SMPN 5 Sungai Laur. Foto dok : Yayasan Palung

Setelah semua rangkaian kegiatan di Desa Sepotong, kami melanjutkan ekspedisi ke desa Kepari pada tanggal 22 Maret 2019. Rangkaian kegiatan di Desa Kepari kami lakukan di SDN 13 dengan melakukan puppet show. Sore harinya kami melakukan diskusi masyarakat dan pada malam harinya kami melakukan pemutaran film lingkungan sebagai media kami untuk menyampaikan pendidikan lingkungan dan penyadartahuan kepada masyarakat.

Pemutaran film kami lakukan sebagai media informasi dan penyadartahuan kepada masyarakat. Foto dok: Yayasan Palung

Semua rangkaian kegiatan yang kami lakukan di dua desa (Sepotong dan Kepari) berjalan sesuai rencana dan mendapat sambutan baik dari pihak sekolah dan masyarakat. Keesokan harinya kami menyudahi semua rangkaian kegiatan ekspedisi dan pulang ke Ketapang.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

13 Relawan Tajam Yayasan Palung Resmi Dilantik


Relawan Tajam Yayasan Palung berfoto setelah acara pelantikan. Foto dok : Yayasan Palung

Mereka (relawan Tajam) Yayasan Palung angkatan ke-8 secara resmi dilantik. Kegiatan pelantikan anggota Relawan Tajam dilaksanakan pada 15-17 Maret 2019 di Riam Kinjil, Matan Hilir Selatan yang letaknya di kawasan penyangga Taman Nasional Gunung Palung.

Ada 13 orang (4 laki-laki dan 9 orang perempuan) anggota baru Relawan Tajam yang dilantik kemarin. Mereka adalah relawan muda yang berasal dari berbagai sekolah yang ada di Kabupaten Ketapang.

Relawan Tajam sebelum dilantik terlebih dahulu memperoleh peningkatan kapasitas dari Yayasan Palung seperti keorganisasian, kerelawanan, cara mengembangkan potensi dan motivasi diri sebagai bekal mereka (relawan) untuk menyebarkan virus konservasi dengan tindakan-tindakan sederhana tetapi nyata (berkegiatan untuk peduli lingkungan; termasuk aksi-aksi sosial dan bakti sisial). Tidak hanya itu, Relawan Tajam juga aktif merencanakan program kerja mereka seperti penanaman, daur ulang kertas dan botol plastik.

Sebelum dikukuhkan menjadi anggota Tajam angkatan ke-8,  panitia yang tak lain adalah anggota Tajam angkatan 1-7 ditunjuk sebagai panitia. Dalam kegiatan pelantikan anggota Tajam yang baru, beberapa kegiatan yang mereka lakukan antara lain seperti diskusi terkait analisa isu konservasi, mereka juga masing-masing menceritakan tentang cerita mereka (personal story). Mereka juga diajak untuk melatih konsentrasi dan menyatu dengan alam (untuk melatih kepekaan) dengan metode sound scape forest (mendengarkan suara alam).

Anggota Relawan Tajam angkatan ke-8 saat melakukan praktek pengamatan satwa. Foto dok : Yayasan Palung

Selain itu, panitia dan peserta (Relawan Tajam angkatan ke-8) diajak untuk melakukan pengamatan satwa air, pengamatan flora dan fauna, bersih-bersih di sekitar kawasan tempat berkegiatan dan dilanjutkan dengan pelantikan anggota relawan Tajam yang baru.

Relawan Tajam berfoto bersama setelah rangkaian kegiatan selesai. Foto dok : Yayasan Palung

Sebelum mengakhiri seluruh rangkaian kegiatan, mereka (Relawan Tajam)  membuat rencana tindak lanjut (RTL) terkait program kegiatan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya setelah mereka menjadi resmi relawan Tajam.

Dari Yayasan Palung sebagai pendamping dalam rangkaian kegiatan pelantikan Relawan Tajam yang baru (Tajam angkatan ke-8) adalah Haning Pertiwi dan Hendri Gunawan. Kegiatan pelantikan ini dibantu oleh teman-teman Relawan REBONK (relawan Yayasan Palung yang ada di Kabupaten Kayong Utara); Sidiq dan Fauzen. Relawan Tajam angkatan  pertama, Winda dan Sola, Tajam angkatan ke-3. Serta pendamping lainnya 2 orang dari Balai Taman Nasional Gunung Palung.

Setelah pelantikan, semua anggota Tajam yang lama dan baru terlihat tanpa ragu membaur satu dengan yang lainnya.

Semua rangkaian kegiatan pelantikan Relawan Tajam yang baru  berjalan sesuai rencana, hanya terkendala cuaca hujan yang cukup deras. Diakhir kegiatan, peserta menyempatan diri untuk berfoto bersama.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Yayasan Palung Lakukan Singkronisasi Program dengan Para Pihak


Saat menyampaikan singkronisasi program dengan para pihak, termasuk bekerjasama dengan Kementrian Desa (Kemendes PDTT). Foto dok : Yayasan Palung

Kamis (14/3/2019) kemarin, Yayasan Palung melakukan singkronisasi program dengan para pihak, bertempat di Kantor Yayasan Palung Bentangor Pampang Center, di Desa Pampang Harapan, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Kayong Utara.

Sinergitas program di desa dampingan Yayasan Palung untuk perhutanan sosial. Mensinergikan program kerja ke berbagai pihak sangatlah penting agar beberapa desa yang menjadi dampingan bisa bersinergi untuk menghindari hal-hal seperti tumbang tindihnya program dan pentingnya kerjasama para pihak dirasa sangat perlu, kata Desi Kurniawati selaku koordinator program perhutanan sosial Yayasan Palung.

Edi Rahman dari Yayasan Palung saat memberikan penjelasan terkait singkronisasi program dengan para pihak. Foto : Yayasan Palung

Program di beberapa desa ini akan dirancang Yayasan Palung dengan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi. Untuk mendapatkan program yang sangat dibutuhkan masyarakat maka dilakukan pertemuan ini untuk mengali gagasan dan ide program yang llangsung dari masyarakat. Dalam pertemuan ini di hadiri beberapa pihak diantaranya bappeda Kabupaten Kayong  utara dan BTNGP. Hasil akhir dari pertemuan ini adalah adanya kerjasama dalam bentuk MoU antara Kemendes Desa PDTT dan Yayasan Palung dalam bentuk program kegiatan di beberapa wilayah desa di kecamatan Simpang Hilir.

Kegiatan yang dimulai pukul 09.00 WIB tersebut, dihadiri 6 desa yang memiliki kawasan Hutan Desa dengan jumlah 25 orang (Kepala Desa, LPHD dan Tokoh masyarakat). Desa-desa yang dijadikan target tersebut adalah desa yang memiliki status Sangat tertinggal, Tertinggal dan berkembang. Sehingga dengan rencana program kerjasama dengan Kemendes PDT ini diharapkan desa-desa yang wilayah intervensi dapat menjadi desa maju bahkan bisa menjadi desa mandiri. Ke 6 desa tersebut adalah (Desa Penjalaan, Desa Pulau Kumbang, Desa Nipah Kuning,  Desa Pemangkat dan Desa Padu Banjar dan desa Rantau Panjang).

Foto bersama setelah kegiatan selesai. Foto dok : Yayasan Palung

Ada beberapa pembahasan dalam pertemuan singkronisasi program para pihak tersebut antara lain seperti yang diutarakan Edi Rahman, selaku manager program PPS-Hukum Yayasan Palung, “ada rencana yang akan disampaikan sehingga ini bisa menjadi rencana besar, semua desa wajib untuk menyampaikan usulan”.

Beberapa desa pun menceritakan keberhasilan mereka dalam mengelola perhutanan sosial di desa mereka dengan berbagai kegiatan dan berharap ada dukungan dari Kemendes PDTT dan para pihak pun menjadi harapan dari beberapa perwailan desa yang menghadiri pertemuan itu.

Beberapa usulan dan perlunya dukungan semua pihak antara lain seperti pengembangan pariwisata (wisata) seperti mangrove, pelatihan dan pengembangan produk.

Samsidar dari LPHD Padu Banjar mengatakan, “masalah yang ada di desanya seperti jalan dan air bersih. LPHD bergerak di pemberdayaan HHBK dan kelompok pengrajin. Produk unggulan adalah madu. Kekbutuhan untuk alat untuk produksi madu, alat transportasi panen madu ada juga ekowisata sungai melihat bekantan. Masalah penanggulangan kebakaran 2018 ingin menciptakan penanggulangan kebakaran dan ada alat-alat pemadam kebakaran. Kelompok perempuan juga aktif bikin tas dan kerajinan lidi nipah hanya kekurangan dari pemasaran”.

Menanggapi hal tersebut, Faridz Yazi, Kasubbag Perundang-undangan Kementrian Desa (PDT) dalam pertemuan tersebut mengatakan,  “Memiliki peran untuk meningkatkan perekonomian desa. Untuk urusan perangkat desa urusan kemendagri sedang untuk urusan ekonomi urusan Kemendes. Sebagai contoh di Aceh, kita (Kemendes) bantu untuk pemasaran kopi, Jawa Barat ada pengembangan kenari, minyak atsiri, dari nusa tenggara pengembangan buah alpukat mentega. Seperti Maluku, dengan pengembangan rumput laut. Pengembangannya saat ini sudah sampai pemasaran. Dari 77.000 desa baru 5 persen masuk ke kami (Kemendes)”.

Ragam kegiatan pemberdayaan di 5 Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) dampingan Yayasan Palung yang sudah ada sejak tahun 2017 dan telah berjalan hingga saat ini. Beberapa program seperti rehabilitasi lahan di area terbakar (dengan melakukan penanaman pohon) yang melibatkan Lembaga Pengelola Hutan Desa sudah dilakukan. Selain itu juga pengembangan produk produk hasil hutan bukan kayu seperti tikar pandan, kelapa untuk dijadikan minyak vco, budidaya lebah madu dengan cara tikung,  kerajinan tempurung kelapa dan pengembangan prodak lainnya seperti kopi dan kripik yang tersebar di masing-masing desa dampingan.

Ada dua rencana hutan desa baru yang akan diusulkan oleh Yayasan Palung untuk dijadikan hutan desa yaitu Desa Rantau Panjang dan Desa Batu Barat yang mungkin bisa menjadi ruang baru untuk pemberdayaan masyarakat dan perlu dukungan dari semua pihak terutama Kemendes, ujar Edi Rahman.

Lebih lanjut Edi Rahman, berharap, “Jika semua  bisa bersatu membantu untuk berbuat di desa-desa yang dimaksud,  seperti Yayasan Palung dapat melakukan apa, Pemda melakukan apa dan Kemendes melakukan apa dan BTNGP melakukan apa dengan program yang ada. Ini sudah tentu akan membantu dan membuat Kayong Utara menjadi kabupaten tidak tertingal”.

Semua rangkaian kegiatan singkronisasi program yang Yayasan Palung lakukan bersama para pihak tersebut berjalan sesuai rencana dan mendapat sambutan baik dari peserta yang hadir dalam kegiatan itu.

Tulisan ini sebelumnya pernah dimuat di Tribun Pontianak ; http://pontianak.tribunnews.com/2019/03/20/yayasan-palung-lakukan-singkronisasi-program-dengan-para-stakeholder

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Ini 3 Foto #Trashtag Challenge Kami, Aksi Nyata Sayangi Bumi dari Sampah

Before -After, Membersihkan sampah plastik dan pemasangan plang larangan membuang sampah sembangan. Foto Yayasan Palung

Ini beberapa foto kegiatan yang kami  Yayasan Palung lakukan (aksi nyata sayangi bumi dari sampah) dengan berbagai aksi nyata misalnya peduli sampah dan memanfaatkan sampah plastik.

Setidaknya ini cara-cara sederhana yang bisa kami lakukan (aksi nyata). Yayasan Palung tidak sendiri tetapi juga bersama berbagai pihak, tidak terkecuali mengajak anak-anak.

Tujuannya tidak lain adalah  agar sampah-sampah yang ada disekitar kita tidak terbuang sia-sia alias dapat dimanfaatkan. Selanjutnya, sampah-sampah botol plastik atau pun kertas bisa diolah dengan cara-cara kreatif dan sederhana menjadi sesuatu bermanfaat.

Memanfaatkan botol plastik menjadi barang-barang bermanfaat ada pula daur ulang kertas koran menjadi miniatur-miniatur seperti pohon, pembatas kertas dan bingkai foto.

Tidak hanya itu, botol plastik juga bisa dikreasikan atau dimanfaatkan untuk dijadikan pot bunga, tempat pensil, pulpen dan kunci.

Berikut beberapa foto aksi nyata sayangi bumi dari sampah dengan cara-cara sederhana

Foto pertama; (before/sebelum- after/sesudah) Aksi nyata peduli sampah di hutan Kota Ketapang dan memasang plang larangan membuang sampah sembarangan

Foto 1 : Before -After, Membersihkan sampah plastik dan pemasangan plang larangan membuang sampah sembangan. Foto Yayasan Palung

Aksi ini kami lakukan saat bertepatan dengan hari bumi, tahun lalu. Kami tidak sendiri, kami berhasil mengajak para pihak seperti dinas Perkim LH Kabupaten Ketapang, KPH, Radio Kabupaten Ketapang, Sispala-sispala yang ada di Kabupaten Ketapang, komunitas dan relawan Yayasan Palung untuk ambil bagian aksi peduli sampah yang mudah-mudahan bisa membantu mengurangi.

 Pada kesempatan aksi nyata peduli sampah di hutan Kota Ketapang tersebut, kami berhasil setidaknya ambil bagian untuk mengurangi dan mengumpulkan sampah plastik yang  ada di hutan Kota Ketapang.

Hal ini terbukti setelah sampah-sampah tersebut dipungut dan dikumpulkan, terkumpulnya puluhan kantong sampah plastik.

Sampah-sampah yang tersebar di Hutan Kota Ketapang tersebut tidak lain adalah berasal dari oknum pengunjung yang boleh dikata minim kesadaran sehingga membuang sampah sembarangan.

Pada kesempatan tersebut pula, untuk pengingat, agar tidak lupa kiranya kami memasang larangan untuk tidak membuang sampah sembarangan dengan mengemasnya dengan pesan-pesan yang kreatif dan menyentil.

Foto kedua; (before/sebelum- after/sesudah)  Memanfaatkan (mendaur ulang) kertas koran bekas menjadi miniatur cantik seperti pohon, pembatas kertas dan bingkai foto.

Foto 2 : Before -After, memanfaatkan atau mendaur ulang kertas koran menjadi miniatur yang cantik, pembatas buku dan bingkai foto. Foto dok. Yayasan Palung

Kreativitas itu terkadang muncul tiba-tiba. Berapa relawan kami dan anak sekolah yang magang tempat saya kerja ternyatamampu memanfaatkan kertas koran bekas yang mula-mulanya adalah sampah mereka sulap menjadi berbagai miniatur cantik seperti pohon, pembatas kertas dan bingkai foto. 

Dengan adanya cara seperti ini setidaknya kami bisa mengurangi sampah kertas dan bisa mendaurnya menjadi sesuatu yang bermanfaat.

Foto ketiga; (before/sebelum- after/sesudah) Cara sederhana memanfaatkan botol bekas yang tidak terpakai menjadi tempat pensil, pulpen dan kunci. Selain itu juga memanfaatkan botol bekas menjadi pot bunga.

Foto 3 : Before -After, memanfaatkan botol bekas menjadi tempat pensil, pulpen dan kunci. Selain itu juga memanfaatkan botol bekas menjadi pot bunga. Foto dok. Yayasan Palung

Tidak bisa disangkal, sampah botol plastik kemasan sekali pakai dari sisa-sisa minuman yang ada di rumah atau di kantor terkadang ada yang terbuang sia-sia jika tidak dibeli oleh pemulung, atau malah dibuang begitu saja.

Nah ternyata, jika kita mau kreatif botol-botol sisa/bekas tersebut bisa diolah menjadi barang yang bermanfaat menjadi tempat tempat pensil, pulpen dan kunci. Selain itu juga memanfaatkan botol bekas menjadi pot bunga.

Semua kita sejatinya bisa untuk melakukan aksi peduli terhadap sampah demi keberlanjutan bumi. Dengan syarat, kita mau memanfaatkan sampah-sampah bekas menjadi barang-barang yang bermanfaat.

Setidaknya dengan cara-cara seperti ini kita diajak secara bersama-sama pula agar tumbuh rasa kepedulian terhadap lingkungan disekitar kita sehingga dengan demikian kita ikut memilihara, merawat dan menyayangi sekaligus ikut ambil bagian menyelamatkan bumi.

Tulisan ini sebelumnya dimuat di Kompasiana : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/5c8a0d000b531c39823b4632/ini-3-foto-kami-trashtag-challenge-aksi-nyata-sayangi-bumi-dari-sampah?page=all

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Sampah, antara Musuh atau Sahabat


Kita diantara Sampah. Foto : National Geographic Indonesia

Sampah tak bisa disangkal menjadi suatu yang sangat berbahaya sekaligus sahabat. Benarkah demikian adanya?.

Kampanye dimana-mana saat ini terkait upaya bagaimana mengurangi sampah plastik (diet plastik) dengan tujuan agar sampah bisa dikurangi atau pun agar tidak menjadi persoalan yang berdampak kepada masyarakat luas. 

Hal yang sama pula, beberapa diantara masyarakat memanfaatkan sisa-sisa sampah menjadi sahabat sekaligus berperan sebagai penyambung hidup. Dua hal ini (sampah antara musuh dan sahabat) atau mungkin boleh dikata sampah itu musuh atau sahabat?, tidak terlepas dari bagaimana cara melihatnya.

Sampah dikatakan sebagai musuh jika ia tidak diperhatikan atau tidak diperdulikan. Sejatinya beberapa dampak nyata terlihat dari apa yang ditimbulkan oleh sampah itu sendiri. Kemudian ditambah lagi dengan perilaku masyarakat (tindakan/kebiasaan) kita. 

Tatanan kehidupan dan perilaku oknum masyarakat acap kali tak mengindahkan apa-apa saja konsekuensi dari apa yang dilakukan dan yang terjadi terkait sampah yang tanpa sadar atau tidak sadar (di/ter)buang begitu saja.

Mungkin ada benar adanya jika mengatakan (persoalan sampah yang selalu menjadi soal) lebih kepada kekepedulian dan kesadaran dari sekian banyak oknum yang tanpa peduli dan mungkin juga tak tahu tentang pengarus sampah. Apabila dibilang budaya mungkin juga ia, karena banyak pula oknum masyarakat yang  tak peduli dari apa yang mereka buat yang sebenarnya beresiko dan berdampak kepada orang banyak.

Kesadaran yang masih minim bagaimana memperlakukan sampah pun sering kali diabaikan. Sampah-sampah dibuang seenaknya, walau pun terkadang tersedia kotak sampah. Tak jarang pula pengguna jalan raya seperti mereka oknum yang menggunakan mobil dan sepeda motor dengan tenang dan mudahnya membuang sampah di jalan seolah tanpa berdosa tak memikirkan dampak-dampak dari apa yang mereka lakukan.

Bungkus plastik makanan, tisu, puntung rokok, botol plastik kemasan, hingga wadah makanan streofom pun sering dijumpai di jalan-jalan raya. Sepertinya itu bukan salah petugas kebersihan, karena mereka pun (petugas kebersihan) tak mungkin sepanjang waktu membersihkan ruas jalan.  

Hal yang sama pula terjadi di tempat-tempat umum terlebih lapangan-lapangan luas tempat perhelatan konser dan pantai atau pun juga tempat wisata hampir pasti sampah dijamin banyak  terlihat dan menumpuk. Nah ini yang selalu dan terus terjadi.

Dampak-dampak akibat dari sampah pun semakin terlihat dan nyata. Tak sedikit sampah yang (di/ter)buang sia-sia dan menyebabkan banyak hal. Beberapa diantaranya; Selokan mampet (tersumbat), sampah mengapung di air dan di lautan hingga pandangan tak sedap karena tak jarang sampah-sampah plastik berterbangan dan menumpuk di ruas jalan.

Jika sampah menumpuk di sungai, apakah tidak mencemari? Sudah pasti tercemar dan rentan menimbulkan penyakit. Terlebih airnya pasti kotor dan tak dapat di konsumsi lagi. Tetapi, di beberapa tempat kumuh di tempat terpencil dan terkecuali kota-kota besar di pinggiran, hal ini terjadi (sampah berpadu di sungai dan hal yang menyedihkan, air trsebut digunakan sebagai tempat mandi cuci kakus). 

Apa itu sehat? Jawabannya sudah pasti tidak sehat, tetapi karena keadaan maka mau tidak mau (semua dilakukan di sungai). Sejatinya, persoalan membuang sampah ke aratan, lautan atau pun sungai tetap saja akan merusak ekologis.

Fakta selokan mampet, saluran air tak mengalir dan menggenang hingga terjadinya banjir pun jika boleh dikata satu diantaranya disebabkan oleh persoalan sampah. Belum lagi kasus ikan, penyu dan burung yang mati atau terkontaminasi sampah-sampah terbuang sia-sia di lautan.

Memang, ada beberapa petugas kebersihan dan pengais sampah yang selalu siap dan memperdulikan sampah, tetapi itu tidak sebanding dengan sampah yang tercipta setiap harinya. Setiap orang dari kita sudah pasti menciptakan sampah setiap harinya. Apabila tidak dengan kesadaran dan kepedulian kita, iya itu tadi lagi dan lagi mengapa persoalan sampah ini tak kunjung terselesaikan sampai kapan pun.

Tata aturan terkait larangan membuang sampah pun sejatinya sudah ada. Bahkan di tempat-tempat umum lainnya plang larangan sudah tak terhingga dipasang sebagai pengingat. 

Namun terkadang larangan tersebut tak jarang hanya sebatas slogan tanpa diperdulikan dan tanpa disadari bahwa itu sebagai pengingat barang kali lupa. Tetapi tetap saja, sampah-sampah selalu saja tetap ada dan malah semakin menumpuk bahkan menggunung berseliweran kesana dan kemari.

Lalu, siapa yang salah atau disalahkan? Jika untuk mengatakannya semua oknum pebuang sampah sembarangan adalah yang salah. Akan tetapi, sering kali pula semua warga kita (Indonesia) disalahkan oleh warga dunia karena membuang sampah sembarangan (buang sampah di kolong jembatan, di selokan, di sungai, di jalan dan dilautan) dimana-mana sampah. 

Sejatinya malu, tetapi ya mau bagaimana lagi sudah itu faktanya. Hal ini sudah membudaya pada oknum-oknum penyuka pembuang sampah sembarangan yang tidak lain sebagian besar adalah masyarakat kita. 

Padahal banyak cara yang bisa dilakukan untuk peduli dan menjadi sahabat sampah. Satu-satunya adalah memilah, memilih dan memanfaatkan sampah-sampah menjadi sesuatu yang bisa bermanfaat bahkan menghasilkan, tentunya banyak cara kreatif untuk mengelola sampah.

Saat ini, banyak lembaga, organisasi mengajak semua masyarakat kita untuk diet plastik (mengurangi sampah plastik) dan berperilaku bijaksana dengan lingkungan sekitar. Termasuk edukasi, penyadartahuan, kampanye atau apa pun namanya untuk mengajak, menumbuhkan kembali kesadaran agar bisa mengurangi sampah terutama plastik.

Apakah bisa? Entahlah, semoga saja ada tumbuh kesadaran hingga boleh kiranya peduli dan menjadi sahabat dan peduli sampah. Dengan demikian, kita tidak lagi menganggap sampah adalah musuh. 

Berharap ada tumbuh kesadaran dari kita semua untuk bersama-sama peduli dan bijak terhadap sampah. Mengingat, jika tidak dimulai dari sekarang (harus ada tumbuhkesadaran dan kepedulian terhadap sampah) maka bumi tempat kita berpijak ini semakin dipenuhi sampah dan kita akan sering terkena dampak sampah.

Sebelumnya tulisan ini dimuat di : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/5c82243112ae940bfc6f2a43/sampah-antara-musuh-atau-sahabat?page=all

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Ajarkan Siswa-siswi Membuat Pupuk Kompos 


Saat Siswa-siswi SMPN 8 Ketapang Belajar membuat pupuk kompos (4/3) pekan lalu. Foto dok: Yayasan Palung

Seperti terlihat, siswa-siswi SMPN 8 Ketapang sangat antusias belajar membuat pupuk kompos, Senin (4/3/2019), pekan lalu.

Pada kesempatan tersebut Yayasan Palung bersama pihak sekolah SMPN 8 Ketapang dengan mengajak siswa-siswi membuat pupuk kompos sebagai satu cara bijaksana ramah terhadap lingkungan.

Saat praktek pembuatan pupuk kompos, Asbandi dari program Suistainable Livelihood (SL) Yayasan Palung sebagai pemateri mengajak sekaligus menjelaskan kepada siswa-siswi dan kemudian mempraktikkan pembuatan pupuk kompos secara bersama-sama.

Dalam penyampaian materinya, Asbandi menjelaskan cara-cara pembuatan pupuk dan bahan-bahan apa saja yang harus disiapkan. Ada pun beberapa bahan yang harus disiapkan untuk membuat pupuk kompos antara lain adalah seperti sekam, rumput kering, daun kering, kotoran sapi, sebuk kayu, Mol EE4 dan Dekoprima.

Sebelum dicampurkan dan diaduk secara merata, rumput kering terlebih dahulu harus dicincang/dipotong halus. Apabila semua bahan-bahan tersebut telah dicampurkan dan diaduk secara merata, selanjutnya ditutup dan dibiarkan selama tujuh minggu. Setelah tujuh minggu, pupuk kompos siap untuk digunakan sebagi penyubur tanaman terutama agar tanaman yang berbunga tidak mudah gugur.

“Penggunaan pupuk sangat baik karena ramah lingkungan, selain juga bisa menghemat biaya bila dibandingkan dengan menggunakan pupuk kimia, juga kita bisa memanfaatkan sesuatu yang ada di sekitar kita seperti rumput, kotoran sapi serbuk kayu dan sekam menjadi sesuatu yang berguna (bermanfaat) satu diantanya adalah membuat pupuk kompos”, saat pak Asbandi menyampaikan penjelasannya kepada siswa-siswi di SMPN 8 Ketapang.

Saat membuat proses membuat pupuk kompos, terlihat satu persatu siswa-siswi bergantian mengaduk pupuk kompos hingga merata. Beberapa diantara mereka juga terlihat bekerjasama memotong rumput kering.

Setelah pupuk kompos jadi, pihak sekolah bersama siswa-siswi akan mencoba pupuk kompos di kebun sekolah mereka. Selanjutnya juga mereka akan terus membuat pupuk kompos di sekolah secara berkelanjutan.

Adapun harapan dari sekolah, dengan adanya pupuk kompos mereka bisa bertani organik di sekolah dan bisa apliksikan ke mata pelajaran. Selain itu juga, mereka (siswa-siswi) diharapkan pula bisa mandiri membuat pupuk kompos untuk kemandirian yang mudah-mudahan juga menumbuhkan kesadaran dan perilaku bijaksana untuk peduli terhadap lingkungan sekitar.

Seperti yang dikatakan oleh Mariamah Achmad dari Yayasan Palung, materi tentang lingkungan dan ramah lingkungan sangat perlu diberikn kepada siswa- siswi di sekolah termasuk membuat kompos dan yang terpenting lagi died menggunakan kantong plastik.

Ketika mengajak mereka membuat kompos, dihadiri oleh guru-guru dari sekolah dan dari tim pendidikan dan media kampanye Yayasan Palung, Mariamah Achmad, Simon dan Petrus Kanisius.

Seperti diketahui, SMPN 8 Ketapang merupakan sekolah Adiwiyata yang berkerjasama dengan Yayasan Palung.

Tulisan ini juga dimuat di Pontianak Post Cetak dan Online : https://www.pontianakpost.co.id/ajarkan-siswa-membuat-pupuk-kompos

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Melihat Surga Kecil yang Tersembunyi di Gunung Palung

Foto bersama di Cabang Panti, Gunung Palung. Foto dok : Yayasan Palung

Ragam tumbuhan, pohon dan satwa berpadu menyatu. Tak ubah melihat surga kecil yang tersembunyi. Hal tersebut saya rasakan ketika bersama rekan-rekan Yayasan Palung berkesempatan berkunjung  ke Stasiun Penelitian Cabang Panti, Taman Nasional Gunung Palung (TNGP) selama sepekan di minggu pertama, bulan Februari kemarin.

Kebersamaan, keseruan yang kami rasakan tidak lain karena alasan kami semua bisa membaur menjadi satu untuk berkegiatan (Rapat Tahunan) sekaligus juga melihat surga kecil yang ada di Taman Nasional Gunung Palung. 

Kebersamaan lainnya, ketika kami menempuh perjalanan menuju ke sana (Cabang Panti) membutuhkan perjuangan dan tenaga lebih, mengingat rata-rata kami menempuh perjalanan panjang menyusuri waktu (kurang lebih 4-5 jam perjalanan) dengan berjalan kaki. 

Semua dari kami boleh dikata saling menyemangati satu sama lain, ketika di perjalanan menuju tujuan yang ingin tuju (tempat tujuan kami). Serunya kami bisa saling membaur dari beragam suku, agama dan ras berbeda, bercanda gurau dengan teman-teman peneliti di waktu sengang mereka. 

Makhlum, beberapa dari peneliti adalah dari luar negeri biasanya waktu mereka banyak dipakai untuk meneliti orangutan, kelempiau dan tumbuh-tumbuhan yang ada di Taman Nasional Gunung Palung.

Sesampainya di Camp Stasiun Penelitian Cabang Panti (TNGP), kami disambut hujan berkat. Kami, harus rela basah-basahan, tetapi segar walau pun nafas tersengal-sengal mungkin karena faktor sudah jarang ke hutan dan lainnya karena pengaruh usia (tetapi sejujurnya relatif, karena teman-teman yang diatas usia saya mereka tampak semangat dan kuat untuk berjalan sejauh itu).

Saat malam pertama kami berada di Camp Penelitian Cabang Panti, setelah makan malam, teman-teman peneliti mengajak kami untuk bernyanyi bersama yang pasti nyanyi untuk mengisi waktu dan menyegarkan segala pemikiran dari hiruk pikuk kota. 

Setelah bernyanyi, kami melanjutkan untuk menonton film hiburan dan film lingkungan. Beberapa teman-teman ada  juga yang bermain remi box dan gaplek dan ada pula yang memilih tidur awal karena capek dalam perjalanan.

Ini Video keseruan kami Yayasan Palung (GPOCP) saat rapat tahunan 2019 di Cabang Panti Gunung Palung

Selama 2 hari kami melaksanakan rapat tahunan sekaligus merencanakan untuk kegiatan 1 tahun kedepan. Sisa waktu setelah rapat tahunan, kami diberikan kesempatan untuk ikut peneliti mengikuti/meneliti orangutan yang ada di jalur-jalur yang ada di Taman Nasional Gunung Palung.

Beberapa teman-teman bertemu dengan kelempiau, kelasi suara enggang, ayam hutan tetapi sayang tidak bisa mendokumentasikannya. Sayangnya juga kami tidak bisa berjumpa dengan orangutan karena musim buah raya telah berakhir, jadi sedikit sulit untuk melihat orangutan dengan bebas menampakan dirinya. 

Yang paling sering menampakan diri kepada kami adalah jenis burung kecil seperti raja udang, trogon dan ada pula tupai dan bajing. Ada pula teman yang berjumpa secara tidak sengaja dengan ular hijau.

Ular Hijau yang dijumpai di Gunung Palung. Foto dok : Simon Tampubolon-Yayasan Palung

Hari berikutnya, Selasa (5/2/2019), kami berkesempatan untuk berkunjung ke air terjun. Teman-teman diminta untuk memilih berkunjung ke 2 air terjun (jalur RH dan jalur LC). 

Jalur RH merupakan air terjun yang jaraknya cukup jauh, sekitar satu jam setengah dari Camp Cabang Panti. Sedangkan jalur LC jalurnya cukup dekat dari Camp dan ketinggiannya lebih rendah dari RH.

Tak hanya indah dan segarnya air terjun, tetapi beragam tumbuhan dan pohon tumbuh di sekitar air terjun. Air terjun di RH ketinggiannya 10 meter. Beberapa teman-teman pun berani untuk melompat air terjun tersebut. 

Saat kami menikmati air terjun di jalur RH di Gunung Palung. Foto dok : Yayasan Palung

Sangat menantang adu nyali. “mungkin 1 detik nyawa sempat hilang ketika melompat di air terjun”, ujar Hendri Gunawan. Hal yang sama juga dirasakan Simon, selain adu nyali, rasa hilang semua rasanya, pas kena air baru sadar.

Ragam tumbuhan, pohon dan satwa tak ubah surga kecil yang tersembunyi di Cabang Panti, TNGP

Surga kecil yang tersenbunyi, indahnya ragam keanekaraman hayati berupa flora dan fauna ada di Taman Nasional Gunung Palung. Buah-buah hutan tersedia di sana, buah kapul, cempedak, buah teratung dan buah belimbing darah ada di sana dari sisa-sisa buah raya.

Ratusan, ribuan bahkan jutaan tumbuhan Shorea spp (meranti), tumbuhan dari suku Dipterocarpaceae banyak terdapat di sana. Tunas-tunas baru tanaman meranti terlihat tanpa ragu tumbuh dan ragu dan malu menghiasi sekitar hutan. tumbuhan anggrek juga banyak tumbuh di sana. 

Ada pula buah kembang semangkok yang banyak tersebar di sana. Buah kembang semangkuk/semangkok (Shaphium) yang dipercaya bisa menyembuhkan demam panas. Tumbuhan liana pun tak sedikit tumbuh di sana.

Tumbuhan
Shorea spp (meranti) yang tumbuh di Gunung Palung. Foto dok : Pit-Yayasan Palung

Saat mandi, walau pun sejuk dan jernihnya air tak kuasa rasa untuk menolak. Jenis-jenis ikan seperti ikan Adung/adong, ikan baung/baong, ikan tebalang, ikan seluang, ikan patung dan ikan gabus acap kali menampakan diri mereka saat kami mandi.

Di Stasiun Penelitian Cabang Panti (SPCP) Taman Nasional Gunung Palung, ada 6 Camp (rumah/bangunan untuk persinggahan/penginapan). Ada Camp Iduk (untuk semua berkumpul, makan dan pertemuan), Camp Litho (Camp yang ditempati oleh teman-teman dari Balai Taman Nasional Gunung Palung). Camp Nyamuk (Ditempati oleh Asisten Peneliti), Camp Senang (Ditempati oleh peneliti), Camp Rumah Senang (ditempati oleh peneliti) dan Camp AP 15 (ditempati oleh peneliti).

Banyak informasi yang bisa diperoleh dari papan informasi terkait tentang sejarah Taman Nasional Gunung Palung dan Stasiun Penelitian Cabang Panti. 

Ada informasi tentang berdirinya Stasiun Penelitian, luasan Taman Nasional, ada informasi jalur-jalur penelitian, informasi tentang keanekaragaman hayati terkait flora dan fauna yang ada di sana. 

Ada pula dipajang foto-foto orangutan dari hasil jepretan para peneliti. Setidaknya ada 70 foto-foto orangutan yang dipajang di Camp Litho.

Pengalaman selama sepekan berada di Cabang Panti, banyak hal baru yang didapat pastinya, setidaknya itu yang saya dan teman-teman rasakan. Pengalaman, pengetahuan dan kebersamaan/keakraban, teman baru serta keseruaan itu yang kami rasakan. O ya, selama kami di Cabang Panti, yang paling banyak berinteraksi dengan kami adalah pacat, banyak diantara kami yang digigit/disap pacat. Cukup banyak pacat karena di sana keadaannya sangat lembab.  

Terima kasih kepada teman-teman peneliti di Cabang Panti dan kawan-kawan semua Yayasan Palung, dan rekan-rekan dari Balai Taman Nasional Gunung Palung atas kebersamaan kita. Berharap ada kesempatan lagi untuk berkunjung ke surga kecil yang tersembunyi tersebut.

Sebelumnya tulisan ini juga dimuat di :

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Si Manis yang Nasibnya Kini Tak Lagi Manis 

Si Manis javanica yang dijumpai di Bukit Tarak. Foto dok : Wawan Pematang Gadung,Yayasan Palung

Si Manis atau dalam bahasa latinnya Manis javanica dan dalam Bahasa Inggrisnya disebut dengan nama Sunda Pangolin atau Malayan Pangolin, yang dalam bahasa Indonesia disebut trenggiling, saat ini (kini) nasibnya tak lagi manis.

Sabtu (16/2/2019) kemarin, Dunia selalu memperingati dan mengingatkan kepada kita terkait Hari Trenggiling (Pongolin Day). Banyak hal di hari Pongolin Day ini kita diingatkan terkait banyak yang menyebabkan si manis nasibnya kini tak lagi manis kini. Persoalan utama hewan pemakan rayap dan semut tersebut tak lain diambang terancam punah karena habitat dan populasi mereka dari tahun ke tahun semakin menurun.

Hilangnya sebagian besar luasan tutupan hutan menjadi penyebab utama si manis kini nasibnya semakin memprihatinkan karena mereka sudah semakin sulit untuk hidup di rumahnya. Hal lainnya lagi diperparah oleh masih seringnya terjadi kasus-kasus perburuan, perdagangan serta nasib tragisnya lagi daging-daging trenggiling dikonsumsi dan sisik-sisiknya diperjualbelikan.

Perdagangan sisik si manis (trenggiling) yang semakin masif dan merajalela terjadi, demikian juga para pemburu yang tanpa ragu terus mencari dan memburu seolah tanpa ada menaruh rasa iba dan rasa akan nasib keberlanjutan mereka (si manis/trenggiling) nantinya.

Mengutip dari laman tirto.id, terkait perdagangan tehadap si manis menyebutkan; Data yang dikumpulkan oleh peneliti dari berbagai sumber menyatakan ada 111 catatan penyitaan terhdap trenggiling dalam jangka waktu 6 tahun. Indonesia disebut sebagai negara pemasok, tempat penyitaan, dan dalam satu kasus, sebagai negara tujuan. Dari catatan tersebut, terhitung ada 35.632 ekor trenggiling yang diselundupkan atau rata-rata 321 ekor per penyitaan. Sayangnya, dari jumlah tersebut, diperkirakan hanya 2.884 trenggiling ditemukan dalam keadaan hidup. Sebagian besar penyitaan, yakni 79 persen, merupakan spesimen mati atau merupakan potongan bagian tubuh. Penelitian sebelumnya pada 2002 dan 2008 menemukan 49.662 ekor trenggiling diperdagangkan hanya dari 18 penyitaan. Rata-rata per sekali penyitaan sekitar 2.759 ekor trenggiling.

Yang lebih parahnya lagi, sisik-sisik dari hewan nokturnal tersebut digunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab untuk digunakan sebagai bahan narkoba yang tentu sangat negatif dan melanggar undang-undang serta sangat berbahaya. Dua hal yang boleh dikata, dengan terus meningkatnya permintaan akan sisik trenggiling maka akan ada dua makhluk yang menjadi korban (trenggiling  dan manusia). Populasi trenggiling sering diminati berarti juga mendukung kejahatan narkotika.

Permintaan dengan harga yang terus menerus semakin tinggi dari pasar gelap (ilegal) menjadikan si manis semakin tak manis (diambang kepunahan). Maka tak heran, status si manis (trenggiling) masuk dalam daftar merah (red list) yaitu Critically Endangered (CR) atau keadaannya saat ini keadaaanya Kritis. Dengan kata lain, nasib hidup trenggiling menghadapi resiko tinggi atau sangat terancam punah di habitat hidupnya. Naik satu tingkat lagi maka trenggiling dikhawatirkan akan punah di alam liar (di habitat hidup mereka berupa hutan).

Status IUCN Trenggiling_Manis Javanicus_Sunda Pangolin. Capture dari data IUCN Red List

Pemerintah Indonesia juga menetapkan si manis (trenggiling) sebagai hewan yang dilindungi oleh Undang-undang No. 5 tahun 1990 Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya. Dalam UU tersebut secara jelas melarang siapa untuk memelihara dan memperjualbelikan satwa dilindungi. Bagi yang melanggar ketentuan akan dipidana penjara 5 tahun dan denda 100 juta rupiah.

Nafas kehidupan semua makhluk hidup satu dengan yang lainnya memiliki peranan yang tidak terpisahkan satu dengan sama lainnya. Satu kesatuan makhluk hidup tidak bisa disangkal harus terus menerus berkesinambungan dan tak terpisahkan. Bila ada yang tersisih dari rantai satu kesatuan kebersamaan semua makhluk pasti akan berdampak juga kepada lingkungan global.

Victoria Gehrke,Asisten Direktur Yayasan Palung, mengatakan; Trenggiling merupakan satwa yang luar biasa dan merupakan satwa asli kebanggaan Indonesia.

Lindungi dan jaga mereka dari berbagai ancaman yang ada. Salah satu cara dengan tidak memburu, tidak mengkonsumsi dan tidak memperdagangkan satwa ini, apalagi dengan tidakan-tidakan ekstrim. 

Tanggal Februari 16 Dunia konservasi memperingatinya sebagai hari trenggiling (Pangolin Day), mari kita semua berperan serta menjaga dan melindungi satwa cantik ini dengan semangat kesadaran dari kita semua untuk mencegah/menghentikan tindakan-tindakan kejahatan terhadap satwa dilindungi lebih yang mengerikan tersebut. 

Jika Anda mengetahui adanya perdagangan satwa liar seperti  (Pangolin/Trenggiling)  yang dijual di mana saja, pastikan untuk melaporkannya ke Yayasan Palung di savegporangutans@gmail.com  atau 05343036367 dan kami akan melindungi identitas pelapor”.

Berharap si manis bisa tetap hidup manis di tempat hidup asli mereka di mana pun, tidak terkecuali di hujan tropis dataran rendah. Biarkan mereka tetap lestari hingga nanti dengan syarat ada penghargaan dan kesadaran dari kita tidak terkecuali pemburu agar berhenti berburu trenggiling.

Artikel sebelumnya dimuat di Tribun Pontianak, monga dan Kompasiana di link berikut :

Petrus Kanisius-Yayasan Palung