Monthly Archives: September 2018

Liana si Penumpang pada Pohon dan Pemberi Manfaat bagi Satwa

Tumbuhan Liana yang menumpang pada pohon. Foto dok. Syahik Nur Bani,YP

Tumbuhan Liana yang menumpang pada pohon. Foto dok. Syahik Nur Bani,YP

Tumbuhan ini jika boleh dikata adalah tumbuhan Penumpang pada tumbuhan lain, mungkin itu kata yang cocok untuk dikatakan kepada tumbuhan liana. Tumbuhan ini pun sangat banyak sekali tumbuh dan hidup di wilayah hutan hujan tropis, tidak terkecuali di Taman Nasional Gunung  Palung (TNGP) yang diketahui banyak memberikan manfaat bagi satwa.

Ia bukan pohon, tetapi tumbuhan. Hidup menempel (menumpang) serta menjalar pada pohon sebagai penopangnya untuk mendapakan cahaya matahari. Tidak hanya itu, tumbuhan liana bukan tumbuhan parasit (tumbuhan yang merugikan tumbuhan lain) seperti ficus sp (kayu ara) misalnya.

Menariknya, tumbuhan liana ternyata banyak memberikan manfaat bagi satwa. Seperti misalnya akar liana yang menjalar atau menggantung bisa menjadi arena bermain bagi satwa dan buah dari liana menjadi makanan favorit satwa.

Tidak hanya buah, tetapi satwa seperti orangutan sangat suka memakan daun muda dan kulit dari liana. Untuk buah, orangutan sangat senang memakan buah liana jenis Willugbeia sp (buah jantak) karena rasanya manis.

Beberapa satwa seperti monyet ekor panjang, kelempiau, kelasi dan orangutan diketahui sangat menyukai tumbuhan liana sebagai makanan. Selain liana dari jenis akar kuning ada jenis lainnya yang dimanfaatkan oleh binatang disana seperti, tapal kaki kuda (Bahuinia sp), cakar elang/pancingan (Uncaria sp), Combretum spdan lain-lain.

Seperti diketahui, kelimpahan liana di Stasius Penelitian Cabang Panti (SPCP) di Taman Nasional Gunung Palung (TNGP) sangat padat baik dari dataran rendah hingga dataran tinggi. Diketahui pula, keberadaan tumbuhan liana sebagai penanda (ciri khas) bahwa hutan di Indonesia merupakan hutan hujan tropis.

“Tumbuhan liana merupakan tumbuhan yang memiliki batang yang keras namun untuk mendapatkan cahaya matahari untuk berfotosintesis (proses pertukaran CO2 dan O2). Liana membutuhkan lain seperti pohon. Akar liana  berbeda dengan Ficus sp.  Ficus  sp (kayu ara) organ tubuhnya menempel pada pohon.

Liana  merupakan salah satu tumbuhan parasit karena dapat memberi luka pada tumbuhan lain, tetapi liana bukanlah parasit yang ganas”, ujar Riduwan salah satu mahasiswa Kehutanan Universitas Tanjungpura yang melakukan penelitiannya selama 1 setengah bulan di Cabang Panti, Taman Nasional Gunung Palung ketika menyampaikan perentasi hasil penelitiannya di Kantor Yayasan Palung beberapa hari lalu.

Untuk membaca lebih lengkapnya, klik : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/5ba3411a43322f5cbf3ba9b3/liana-si-penumpang-pada-pohon-dan-pemberi-manfaat-bagi-satwa

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Iklan

Asyiknya Bisa Tinggal Bersama di Cabang Panti dan Meneliti Feses (kotoran) Orangutan

IMG-20180910-WA0016

Isma Fatiha saat meneliti feses (kotoran) orangutan di laboratorium di Cabang Panti, TNGP. Foto dok : Isma/Yayasan Palung

Perkenalkan nama saya Ishma Fatiha, mahasiswa Biologi UIN Jakarta. Sudah 6 bulan saya tinggal di Kalimantan, pulau yang orang bilang “penuh cerita mistis”, tepatnya di Stasiun Riset Cabang Panti, Taman Nasional Gunung Palung. Awalnya gak kepikiran gimana harus tinggal 6 bulan di tengah hutan, waktu itu hanya pikir ya jalanin ajalah ya mau gimana juga. Sebelum datang pun sudah diberitahu bagaimana kondisi di CP, dari mulai jalan menuju ke sana yang harus jalan kaki 18 Km, bagaimana di camp, jarang ada sinyal juga dan sebagainya.

Pertama datang ke CP itu tanggal 11 Februari 2018. Mulai jalan dari Tanjung Gunung, sekitar jam 3 sore dan sampai di camp jam 8 malam. Saat itu sangat tidak menikmati perjalanan, mungkin karena baru pertama kali. Rasanya capek banget dan saat sampai di camp pun sudah tidak ada mood untuk lihat-lihat (gelap juga sih, ga bisa liat-liat). Intinya sampai camp langsung mandi, makan dan tidur. Dan keesokan paginya saat bangun dan keluar camp, baru sadar kalo sudah ditengah hutan dan itu indah banget.

IMG-20180910-WA0015

Isma saat melakukan pengecekan sampel feses orangutan di laboratorium. Foto dok : Isma/Yayasan Palung

Hari kedua di sana, hanya istirahat dan presentasi tentang penelitian yang mau dilakukan disana. Selain itu juga diajak lihat-lihat seluruh isi camp, mulai dari camp Cabang Panti, camp nyamuk, camp litho, gudang makanan, sungai tempat mandi dan lab. Sebenarnya paling ‘wow banget’ sama lab, karena aku kan pakai lab untuk proyek penelitianku dan ini lab lapangan paling lengkap yang pernah aku liat selama ini. Meskipun ya namanya juga di lapangan, ada aja kendalanya sih, tapi enjoy banget buat kerja disana bahkan sampai malam. Yang paling gak ngebosenin pas kerja di lab itu karena bisa sambil liat ke hutan sih. Kadang lagi kerja tiba-tiba sekelompok macaca datang dan makan di mangifera samping camp. Atau ada rangkong dan trogon yang bertengger di pohon sekitar camp, colugo entah dari mana muncul dan hinggap di batang pohon dan bahkan orangutan (re: Bibi-Bayas) yang seringkali datang buat makan mangifera dan cempedak dekat camp.

Pada waktu awal-awal datang di camp sedang tidak ada orangutan. Jadi hanya ikut asisten untuk cari orangutan sekalian menghafal trail (jejak) atau rintis yang ada di Cabang Panti. Saat pertama jalan disana semua rintis terlihat sama dan rasanya bakal tersesat terus kalau jalan sendiri. Tapi kelamaan malah lebih suka untuk cari orangutan sendiri. Karena lebih fokus dan bisa liat-liat hal lain juga yang kadang gak disadari pas jalan sama orang lain dan juga malah lebih cepat hafal rintis ketika jalan sendiri. Yaa.. karena mau gak mau harus cari jalan buat balik ke camp. Selama 6 bulan disana kayaknya hampir setiap hari pergi ke hutan buat cari orangutan, tapi frekuensi ketemunya sedikit banget. Sampai kadang lupa kalo kesana buat orangutan dan malah keasyikan liat rangkong (yang gak ada sih di tempatku), atau hal lain yang menarik disana.

Bicara ketemu orangutan, aku ingat pertama ketemu orangutan itu langsung ketemu 3 individu, Tari- Telur- Tawni. Mereka ibu- remaja- anak. Waktu itu sih yang ketemu pertama itu Brodie. Kemudian dia hubungi lewat radio. Jadi asisten tahu dimana orangutan itu dan bisa langsung follow. Aku inget mikir wow ternyata ini orangutan di hutan yang sebenarnya, dan disitulah pertama tau gimana rasanya ikut orangutan sampai ke sarangnya juga gimana susahnya ikut pergerakan mereka. Kalau pengalaman pertama ikut orangutan tanpa asisten itu ikut sama Tari-Tawni juga dan juvenil yang tidak dikenal. Waktu itu hanya berdua dengan Uci dan orangutan tidur sangat malam. Hasilnya, semua orang di camp panik karena kami masih baru dan belum hafal rintis, dan mereka pikir kami tersesat.

IMG-20180910-WA0017

Isma ketika mengambil sampel feses orangutan di hutan. Foto dok : Isma/Yayasan Palung

Setelah sekitar 3 minggu di camp, aku baru mulai ambil sampel feses dan kerja di lab untuk proyek penelitianku. Kenapa lama?, Ya karena harus menyesuaikan diri, latihan pakai alat lapangan dan lab dan juga karena sulitnya cari orangutan saat itu. Udah gitu ada orangutan pun belum tentu ada feses. Karena tidak bisa diprediksi apakah orangutan defekasi hari itu atau apa jumlahnya cukup untuk semua analisis. Dan hal yang jadi tantangan juga pas lagi koleksi sampel feses, mulai dari harus cari dimana fesesnya jatuh sampai resiko ketimpa feses orangutan. Pernah sekali ketimpa feses orangutan. Kesel sih, tapi seneng juga karena dapet sampel (btw harus hati-hati sama feses orangutan karena potensi zoonosis itu). Ya itu pelajaran juga sih harus liat-liat kalo mau ambil sampel. Analisis di lab juga jadi satu tantangan. Itu karena listrik hanya ada di sore hari dan alat lab butuh listrik juga. Jadi kadang ngelab sampai malam banget kalau lagi banyak sampel (dan kadang sendirian karena semua orang udah selesai kerja).

Tapi meski lama, enaknya disana semua orang mau bantu kami untuk belajar (banyak banget sih yang harus dipelajari) dan bahkan juga bantu proyek kami. Itusih yang buat betah banget. Ya karena hidup di tempat yang sama, dalam waktu yang lama, di hutan ketemu dia, di camp dia lagi, jadi kekeluargaannya kerasa banget. Semua orang berusaha agar satu sama lain tuh betah dan gak bosen. Ya kadang ngeselin sih karena bercandanya berlebihan, tapi mungkin itu jadi hal yang nanti bakal diingat pas sudah tidak di CP.

Sebenarnya susah banget buat nulis ini. Bingung, gak tau apa yang harus ditulis. Padahal 6 bulan tapi terasa singkat banget. I try to keep track of everything in my head, big things to little things, but its like trying to hold on to a fistful of sand. Meski rasanya banyak yang ingin diceritakan tapi bingung. Intinya i hope i will have a chance to come to CP again someday (saya berharap, saya punya kesempatan untuk berkunjung ke CP suatu hari nanti).

Penulis : Ishma Fatiha, Mahasiswa Biologi UIN Jakarta

Tidak Hanya Belajar di Kelas tetapi Turun Secara Langsung di Alam

IMG-20180824-WA0006

Saat belajar secara langsung dengan anak-anak di alam tentang tumbuhan (morfologi daun). Foto dok : Yayasan Palung

Tidak terasa perkulihan  pada semester dua di Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura (UNTAN) telah saya lalui, ketika liburan semester genap berlangsung sebagai salah seorang penerima BOCS (Bornean Orangutan Caring Scholarship) atau Beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan saya berkewajiban untuk magang. Seperti penerima-penerima BOCS sebelumnya, waktu dan tempat magang bagi penerima BOCS baru telah ditentukah dari pihak Yayasan Palung.

Hanya ada dua tempat lokasi magang, yaitu Kantor Yayasan Palung Ketapang dan Kantor Yayasan Palung (Bentangor). Untuk magang kali ini saya ditempatkan di Kantor Yayasan Palung (Bentangor) Kabupaten Kayong Utara.

Selama lebih dari tiga minggu magang (di bulan Agustus 2018), banyak pengalaman dan keseruan yang saya dapatkan. Saya telah melakukan berbagai kegiatan baik mengikuti program Sustainable Livelihoods (SL) atau program pemberdayaan dan pendampingan terhadap masyarakat, dan program Pendidikan Lingkungan (PL).

Pada minggu pertama, kegiatan saya awali dengan mengikuti acara Kayong Expo 2018 atau pameran di Pantai Pulau Datok. Kegiatan tersebut berlangsung selama lima hari. Yayasan Palung bekerja sama dengan Lembaga Pengolahan Hutan Desa (LPHD) membuka lapak produk Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) dari pengrajin dan petani binaan Yayasan Palung. Sebagai tenaga magang, saya bertugas menjaga lapak dan menjelaskan kepada pengunjung yang saya ketahui tentang produk-produk hasil olahan HHBK. Aktifitas ini menjadi sangat menarik karena antusias warga lokal atau luar yang sangat berminat untuk membeli produk-produk yang dipamerkan, seperti: tikar, lekar, tas, madu, minyak kelapa, dan lain-lain.

Sedangkan di minggu kedua, saya terfokus pada Program SL. Kegiatan yang kami lakukan adalah Pemetaan Damplot di  kebun durian petani Meteor Garden di Dusun Pampang, Desa Pampang Harapan, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Kayong Utara, selama tiga hari. Seperti yang kita ketahui kebun para petani Meteor Garden berbatasan langsung dengan kawasan Taman Nasional Gunung Palung (TNGP).

Sebagai daerah yang rawan konflik pemangku kepentingan, jadi perlu adanya pengambilan data sebagai penanda kebun durian milik para petani Meteor Garden. Sebagai asisten tim survey, saya bertugas mengambil data titik koordinat tanaman durian. Adapula kegiatan membibitan cabai di rumah pembibitan kelompok petani Meteor Garden. Disini saya membantu petani selama proses pembibitan. Mulai dari menggemburkan tanah dan mencampurnya dengan kompos organic, mengisi polibag, hingga pembibitan.

IMG-20180824-WA0005

Saat memberikan materi tentang satwa dilindungi kepada anak-anak dengan media boneka. Foto dok : Yayasan Palung

Kemudian pada minggu ketiga, saya mengikuti kegiatan Pendidikan Lingkungan (PL) di SD 19 Sukadana. Dalam kegiatan ini Yayasan Palung mengajak siswa-siswi belajar lingkungan melalui Puppet Show dan Fieldtrip. Bersama satu orang Relawan Konservasi REBONK dan kedua teman saya dari BOCS, kami mempertunjukan Puppet Show (atau pertujukan boneka satwa) dihadapan 60 orang siswa-siswi dari kelas satu hingga kelas empat. Materi yang kami sampaikan berupa pengenalan satwa dan status keterancaman satwa yang dilindungi, reperti orangutan, bekantan, enggang, dan teringgiling. Pendidikan lingkungan melalui Puppet Show dengan menggunakan boneka satwa disampaikan agar materi dapat terserap dengan mudah dan menarik. Selanjutnya kami melanjutkan kegiatan belajar di alam di jalur fieldtrip Yayasan Palung Bentangor. Saya juga berkesempatan untuk menyampaikan materi tentang morfologi daun, Hasil Hutan Buakn Kayu (HHBK), dan pupuk kompos.

Penulis : Ilham Pratama, Mahasiswa Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura, Penerima Beasiswa BOCS