Ini Cerita Menarik Saya Selama Enam Bulan Meneliti di Cabang Panti

Uci Agustina

Uci Agustina saat berada di lapangan (melakukan tugas penelitian). Foto dok : Uci Agustina/Yayasan Palung

Perkenalkan, nama saya Uci Agustina, mahasiswi dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Tahun ini, saya sudah memasuki tahap skripsi dimana saya harus melakukan penelitian terlebih dahulu. Alhamdulillah saya bisa melakukan penelitian di Cabang Panti, Taman Nasional Gunung Palung, Kalimantan Barat.

Ya, mulai sekarang dan enam bulan ke depan kami akan tinggal dan menjadi bagian dari keluarga Cabang Panti. Hari pertama kami disana tidak langsung turun ke lapangan, tapi kami belajar mengenal alat-alat di laboratorium terlebih dahulu. Keesokannya, kami ikut asisten untuk mencari orangutan sesuai dengan track yang sudah dibagi oleh manager. Pencarian orangutan dimulai pada pukul 07.30 Wib dan berakhir pada pukul 14.30 Wib. Biasanya kami membawa bekal makan siang secukupnya, kadang kami juga membawa mie instant untuk dijadikan camilan, tanpa di rebus terlebih dahulu.

Saya akan menceritakan pengalaman saya selama penelitian di sana. Saya ke sana dengan rekan mahasiswi saya bernama Ishma Fatiha yang juga satu jurusan dengan saya dan kami melaksanakan penelitian selama 6 bulan. Kami harus menempuh perjalanan kurang lebih 18 km atau 4-6 jam untuk tiba di Cabang Panti (capek banget, gila).

Saat itu, kami pergi bersama asisten orangutan, namanya Syainullah. Kami berangkat dari desa terakhir sekitar pukul 15.00 Wib dan sampai di camp jam 20.00 Wib. Sungguh melelahkan, apalagi kami belum pernah sekali pun menempuh perjalanan sejauh itu. Sesampainya di sana, kami berkenalan dengan penghuni camp. Ada staf Taman Nasional, ada asisten orangutan, asisten OFP (One Forest Project) dan juga juru masak.

DSC00214.JPG

Uci dan Para Asisten Peneliti  berfoto bersama dengan Ibu Cheryl Knott. Foto dok : Uci/Yayasan Palung

Jika kami menemukan orangutan, kami ikuti sampai orangutan membuat sarang. Biasanya orangutan diikuti sampai 5 hari berturut-turut. Jika sudah sampai 5 hari, maka orangutan dilepas. Saya sendiri mengambil data tentang perilaku makan orangutan yang berarti saya harus mengikuti orangutan selama 5 hari berturut-turut. Capek sih, tapi ya mau bagaimana lagi. Gak ikut berarti gak dapat data.

Saya pernah ikut full orangutan sampai 10 hari dan itu saat bulan puasa. 10 hari berturut-turut tanpa istirahat, pengalaman yang luar biasa sekali yaah. Asisten pun tidak pernah ikut orangutan sampai 10 hari berturut-turut, biasanya mereka bergantian kalau mau ikut, kecuali kalau banyak orangutan yang ditemukan. Selama disana, saya mendapatkan pengalaman baru, teman baru dan keluarga baru. Waktu pertama kali lihat orangutan rasanya senang banget, karena untuk melihat orangutan liar itu langka banget, di Jakarta hanya bisa melihat orangutan yang ada di kandang.

Di Camp Cabang Panti kebanyakan orang-orang lokal dan mayoritas orang islam. Sebelum saya ke Kalimantan, pikiran-pikiran negatif selalu muncul (tahunya orang Kalimantan itu mayoritas suku Dayak), takut di apa-apain ya kan. Ternyata anggapan saya terlalu berlebihan, kenyataannya orang Kalimantan tidak semuanya dari suku Dayak, kalaupun ada dari suku Dayak mereka baik-baik dan ramah. Di camp kebanyakan laki-laki, yang perempuan hanya sedikit, mungkin hanya sedikit dari kalangan perempuan yang suka kerja di hutan.

Saya dan Ishma pernah dipasangkan untuk mecari orangutan berdua dan hari itu kami menemukan orangutan, namanya Tari dan Tawni (orangutan ibu dan anak). Saat itu kami juga bertemu dengan Uteh  Randa yaitu staf OFP, beliau yang akan memberi tahu orang-orang di camp bahwa kami menemukan orangutan. Setelah sore hari, orangutan tak kunjung membuat sarang, kami pun kesal dibuatnya, orangutannya masih makan padahal cuacanya sudah gelap. Orangutan baru membuat sarang sekitar pukul 18.00 Wib. Setelah itu kami langsung cepat-cepat menandai pohon sarang dan menarik benang sampai rintis terdekat. Saat itu kami tidak membawa parang, hutannya rapat sekali, banyak rotan pula. Kami hanya bisa mengandalkan potongan kayu untuk menebas rotan-rotan ataupun liana agar kami bisa lewat (nebasnya gak banyak kok, seperlunya saja).

DSC00213.JPG

Isma, Ibu Cheryl dan Uci. Foto dok : Uci/Yayasan Palung

Setelah sampai di rintis, kami pun bergegas pulang. Awalnya kami bingung ingin melewati jalan yang mana, karena saya sempat melihat seperti ada pohon tumbang di depan. Kata Ishma, tidak ada pohon tumbang sama sekali (aneh sekali), kami sampai berdebat saat itu. Setelah beberapa menit, sayapun memberanikan diri untuk jalan ke arah rintis yang ada pohon tumbang tersebut dan benar sekali ternyata tidak ada pohon tumbang (kenapa bisa gitu ya? Aneh sekali). Setelah itu kamipun bergegas pulang dan kami jalannya cepat-cepat sekali karena sudah sangat malam. Di perjalanan kami mendengar suara-suara aneh dan kami hiraukan saja. Sesampainya kami di rintis SK-JM (Rintis dekat camp), kami mendengar suara teriakan “ada senter, ada senter”.

Kami pun bingung saat itu, orang-orang di camp kenapa ya (ngomong dalam hati). Sesampainya di camp kami langsung disambut oleh semua penghuni camp, ternyata mereka mengira kami tersesat di hutan, dan asisten-asisten sudah bersiap-siap untuk pergi ke hutan melakukan pencarian. Erin Kane sampai menangis saat itu. Erin Kane merupakan murid ibu Cheryl Knott dari Boston University. Saat itu dia menjadi manager sementara karena manager baru belum tiba di Cabang Panti.

Singkat cerita, bulan Agustus merupakan bulan terakhir kami melakukan penelitian disana, tepatnya tanggal 5 Agustus. Pada tanggal 4 Agustus kami presentasi hasil penelitian selama 6 bulan. Pada kesempatan itu kami juga pamitan dan mengutarakan kesan dan pesan kami selama penelitian di sana.

Kami tidak melakukan sesi foto sama sekali, camp sepi, hanya ada sebagian orang di sana. Asisten banyak yang turun karena saat Ibu Cheryl ke sana belum ada yang libur sama sekali. Keesokannya yaitu tanggal 5 Agustus 2018, kami pun turun bersama dengan 2 porter. Saat itu rasanya berat sekali mau meninggalkan camp, karena terlalu banyak kenangan di sana. Kami turun saat siang hari karena ingin berlama-lama di camp. Asisten orangutan saat itu sedang mengikuti 2 orangutan, jadi kami sudah berpamitan terlebih dahulu saat malam hari setelah presentasi.

 Uci Agustina, Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Iklan

About yayasanpalung

Yayasan Palung, berdiri sejak tahun 2002. Yayasan Palung (YP) merupakan lembaga non profit yang bekerja untuk konservasi orangutan dan habitat serta pengembangan masyarakat. Yayasan Palung bekerja dengan semua pihak yang mempunyai tujuan sama untuk perlindungan terhadap orangutan dan habitat di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara.

Posted on 28 Agustus 2018, in Berita umum dan khusus, Gunung Palung, Info Orangutan, Kegiatan Yayasan Palung, Penelitian, YP and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: