Hendri Gunawan: Asyiknya Mengunjungi Surga Hijau (Hutan Hujan Gunung Palung) di Tanah Borneo

FB_IMG_1533545050945

Hendri Gunawan bersama teman-temannya ketika kuliah lapangan di Taman Nasional Gunung Palung. Foto dok : Hendri G. / Yayasan Palung

Saya Hendri Gunawan, saya dilahirkan di sebuah pulau yang disebut orang sebagai paru-paru dunia, yaitu Kalimantan. Sebagai orang asli Kalimantan, saya sangat bangga dengan bentang alam yang sangat indah ini, salah satunya adalah Taman Nasional Gunung Palung (TNGP) yang berada di sebelah Barat pulau Kalimantan dan merupakan Taman Nasional Terlengkap di Indonesia.

Meskipun kecil, kita dapat menjumpai delapan tipe ekosistem hanya dalam satu kawasan saja dari hutan pegunungan hingga hutan mangrove di pantai serta terdapat ratusan jenis hewan dan ribuan jenis Tumbuhan yang menghuni Hutan ini. Keberagaman tersebut menyebabkan Taman Nasional Gunung Palung kaya akan keaneka ragaman hayati. Hal yang cukup mengejutkan bagi pendatang yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Taman Nasional ini.

Taman Nasional Gunung Palung memiliki sebuah stasiun riset yang merupakan stasiun riset tertua di Indonesia yang masih aktif saat ini bernama Stasiun Riset Cabang Panti (SRCP). Banyak mahasiswa dari dalam maupun luar negeri yang melakukan penelitian untuk meraih gelar S1 sampai S3 dan bahkan melahirkan beberapa Profesor. Tidak pernah terbesit dipikiran saya bahwa saya akan sampai ke SRCP, tidak semua orang dapat kesana karena akan melewati serangkaian perizinan yang rumit dan saya merupakan salah satu orang yang beruntung.

Kedatangan saya ke SRCP Taman Nasional Gunung Palung merupakan suatu rangkaian acara dari Kuliah Lapangan Ekologi Hutan Tropis dan Teknik Survei Vertebrata yang diselenggarakan oleh pihak SRCP bekerja sama dengan University Of Michigan USA yang dilaksanakan selama 12 hari. Rangkaian kegiatan ini terdiri dari berbagai kegiatan diantaranya ekologi tumbuhan dan vertebrata hutan hujan tropis, pemasangan camera trap, karakteristik tumbuhan, pengenalan penelitian ilmiah, orangutan dan pengambilan sampel serta statistik. Ada sekitar 15 orang yang terlibat dalam kuliah lapangan ini dan masing-masing memiliki keahliannya sendiri. Kami yang pada awalnya tidak saling mengenal tiba-tiba menjadi sangat akrab satu sama lain.

Banyak ilmu bermanfaat serta pengalaman berharga yang saya dapatkan selama hampir dua pekan berada di SRCP tersebut, berawal dari sebuah ungkapan singkat seorang profesor asal Universitas Michigan, Amerika bernama Andrew J. Marshall, (kami memanggilnya pak Andi); “saya merasa kembali ke rumah jika saya berada disini”, itu adalah kalimat yang terlontar, saat kami sedang menyaksikan presentasi beliau satu hari sebelum berangkat ke SRCP Taman Nasional Gunung Palung.

Saat itu saya semakin penasaran dengan ucapan beliau (Andrew J. Marshall), sebenarnya apa latar belakang yang membuat beliau berkata demikian. Ketika kami berangkat menuju SRCP kami melewati beberapa tipe ekosistem, mulai dari hutan rawa gambut, hutan rawa air tawar, kemudian hutan dataran rendah, kerangas hingga hutan dataran tinggi. Di dalam perjalan kami menjumpai banyak sekali jenis tumbuhan yang besar dengan kanopi yang sangat rapat hingga sinar matari sulit tembus sampai ke permukaan tanah, kami juga bertemu dengan beberapa sarang orangutan, juga banyak sekali suara burung yang merdu serta jangkrik yang tidak pernah putus mengiringi perjalan kami sampai ke Camp SRCP. Tiba di sana saya terkagum dengan suasana camp SRCP, di dalam hutan belantara terdapat 3 buah bangunan yang sederhana namun luas dengan fasilitas penelitian yang sangat mendukung untuk projek penelitian.

Camp tersebut dikelilingi oleh pohon-pohon raksasa sebagai rumah bagi satwa aboreal (mamalia yang hidup di atas pohon) penghuni hutan tersebut serta dibagian depan terdapat aliran sungai yang sangat jernih dengan terdapat banyak jenis ikan, mereka sebut sungai itu dengan nama Sungai Panti.

Dalam kuliah lapangan tersebut kami dibagi menjadi empat team, “fungi” itulah nama team kami. Dari berbagai kegiatan yang dilakukan, ada satu kegiatan favotit saya yaitu survei satwa, karena dalam kegiatan ini saya dapat berjalan mengelilingi hutan dengan menikmati udara yang segar dan menjumpai berbagai jenis satwa serta mendengar bermacam-macam suara satwa yang ada di kawasan SRCP, ini sangat menyenangkan bagi saya.

Saat itu, kami sedang melakukan survei satwa sekitar pukul 7:00 pagi, begitu indahnya alunan suara burung saat itu yang berpadu dengan  jangkrik ditambah dengan suara enggang  dan kelempiau dari kejauhan serta sesekali terdengar kelasi juga mengeluarkan suaranya sebagai menghuni rimba Borneo tersebut.

Team kami terlalu asyik menjalankan survei satwa dengan mengikuti suara kelempiau yang dikenal dengan sebutan sang sirine hutan, sehingga kami memutuskan untuk mengikuti kemana kelempiau itu pergi agar dapat melihat langsung sang sirine hutan tersebut. Kami terlalu menikmati suasana hutan sehingga kami tidak sadar bahwa kami telah sangat jauh melangkah dan membuat kami tersesat. Hari semakin siang dan kami belum menemukan jalan pulang, kami terus berjalan dan kami beremu dengan para asisten dan peneliti orangutan yang sedang mengamati tingkah laku orangutan.

Hal yang sangat jarang dijumpai, kali ini saya melihat langsung orangutan jantan yang bernama Bosman sedang kawin dengan orangutan betina yang bernama Walimah, mereka kawin diatas pohon yang besar yaitu pohon Mahang (Makaranga sp.) yang diselimuti oleh pohon Kayu Ara (Ficus sp.) dan satu individu orangutan betina bernama Brani di pohon lain. Sekitar 15 menit saya ikut mengamati sekaligus menggali informasi kepada asisten peneliti tentang perilaku orangutan yang saat ini lebih dari tiga dekade mereka teliti. Sangat menakjubkan, saya melihat 3 individu orangutan sekaligus dlam satu waktu. Terbayar sudah, ini kali pertama saya melihat orangutan dan tingkah lakunya dikehidupan alam liar.

IMG20180720144553.jpg

Hendri Gunawan ketika berkesempatan berfoto dengan pohon Dipterocarpaceae  (jenis  kayu meranti) di TNGP. Foto dok. Hendri G. / Yayasan Palung

Tidak hanya itu pengalaman menarik yang kami dapatkan selama berada di sana,  team kami juga memasang camera trap disebuah pohon kecil di tepi sungai, dan hasilnya kami merekam seekor kancil yang sedang melintas pada malam hari menuju sungai untuk minum. Keesokan harinya sang profesor Andew J. Marshall mengajak kami untuk melakukan perjalanan ke hutan dataran tinggi sehari penuh menuju puncak, kami mulai pagi sekali sekitar pukul 7.00 karena perjalanan cukup jauh dan mendaki, dalam perjalanan saya mendapatkan informasi bahwa terdapat lebih dari 90 jenis pohon Dipterocarpaceae atau dalam bahasa lokal orang menyebutnya meranti-merantian yang ada di Taman Nasional Gunung Palung dan tingginya dapat mencapai 30 meter. Wah, ini sangat mengagumkan sekaligus membuat saya semakin bingung dan penasaran.

Di ketinggian tertentu kami juga menjumpai jenis pohon Poteria dan beberapa jenis Cemara gunung, semakin tinggi kami melangkah semakin kecil pepohonan serta semakin banyak lumut tebal yang kami temui, semakin dingin suhu yang kami rasakan padahal saat itu tepat pukul 1:00 siang.

Ditengah perjalanan saya juga menemui sebuah tumbuhan yang menurut saya sangat unik yaitu sebuah tumbuhan yang memiliki batang, ruas, dan daun seperti bambu namun tumbuh menjalar seperti rotan, dan berbagai jenis pohon Liana yang yang mengakar dari dasar tanah menuju ranting-ranting pohon raksasa, sesekali juga bertemu dengan damar yang wangi seperti parfum,  juga menjumpai beberapa bekas cakar beruang yang terlihat pada batang pohon, dan menemui banyak jenis jamur.

IMG20180722160702

Indahnya hutan dan pemandangan di sekeliling, seperti dua pohon jenis Dipterocarpaceae ini. Foto dok. Hendri G. / Yayasan Palung

Begitu Indah Taman Nasional Gunung Palung dengan segala pesona dan ekosistem terlengkapnya, saya mendapatkan jawaban dari pertanyaan saya sendiri tentang mengapa seorang ilmuan bernama Andrew J. Marshall asal Amerika mengatakan bahwa dia merasa kembali kerumah jika sedang berada di Taman Nasional Gunung Palung. Ternyata Hutan Hujan Tropis Taman Nasional Gunung Palung merupakan hamparan Surga Hijau dari Borneo yang menyimpan sejuta keindahan flora dan fauna yang membuat mata saya terpana. Pengalaman saya ini hanyalah satu dari ribuan informasi yang mungkin belum saya ketahui dibalik indahnya Taman Nasional Gunung Palung. Semoga cerita saya dapat memperkaya sudut pandang kita dalam memaknai konservasi dan terus menjaga alam yang Indah ini.

Hendri Gunawan (Tim Pendidikan Lingkungan)-Yayasan Palung

Iklan

About yayasanpalung

Yayasan Palung, berdiri sejak tahun 2002. Yayasan Palung (YP) merupakan lembaga non profit yang bekerja untuk konservasi orangutan dan habitat serta pengembangan masyarakat. Yayasan Palung bekerja dengan semua pihak yang mempunyai tujuan sama untuk perlindungan terhadap orangutan dan habitat di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara.

Posted on 6 Agustus 2018, in Berita umum dan khusus, Gunung Palung, Info Orangutan, Kegiatan Yayasan Palung, Penelitian, YP. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: