Melihat Hutan Hujan sebagai Nafas yang Mulai Menghilang

Batu Daya yang semakin tak berdaya karena semakin terhimpit dan sempit. Foto dok. Petrus Kanisius

Batu Daya yang semakin tak berdaya karena semakin terhimpit dan sempit. Foto dok. Petrus Kanisius

Melihat, tetapi juga merasakan tajuk-tajuk pepohonan yang mulai menghilang, setidaknya itu yang kualami  dan kulalui ketika melewati sepajang jalan mudik  menuju kampung halaman untuk  mengisi hari libur panjang di bulan Juni yang juga bertepatan dengan hari libur Idul Fitri, kemarin.

Tajuk-tajuk yang dimaksud tak lain adalah rebahnya pepohonan yang semakin sulit dan kalah bersaing untuk berdiri kokoh. Sama halnya dengan batu daya yang sudah semakin terhimpit tak berdaya. Hal ini mengingatkanku kepada World Rainforest Day (hari hutan hujan dunia) yang diperingati pada 22 Juni, besok.

Alasannya tak lain, seluas mata memandang ketika melewati jalur alternatif (jalan perusahaan) begitu tampak terlihat tajuk-tajuk pepohonan semakin rebah tak berdaya kalah bersaing dengan tanaman pengganti yang bukan tanaman asli.  Sedih, itu rasa yang kurasakan. Namun, sedih itu tak bertepi, apa mungkin hutan-hutan itu bisa kembali tumbuh menjulang tinggi?. Entahlah… hanya bisa berharap, hutan-hutan masih bisa nantinya menjulang tinggi untuk berjuta-juta kehidupan boleh berlanjut hingga nanti.

Pemandangan yang kontras dan ironi, itu sebagai penanda tanda. Iya, kontras dan ironinya di sekitar area tajuk-tajuk pepohonan yang rebah tak berdaya itu ada pemandangan yang sangat menarik yaitu Batu Daya. Dibalik keindahannya tetapi juga ancaman nyata mulai nyata terlihat. Ancaman apa itu?. Satu yang pasti, balutan batu yang dulunya berpadu indah dengan berdiri kokohnya tajuk-tajuk pepohonan kini sudah semakin sempit terhimpit.

Andai kata hutan-hutan (tajuk-tajuk pepohonan) itu menghilang bagaimana nasib-nasib ragam kehidupan lain tidak terkecuali manusia, tumbuhan dan hewan (satwa/primata) yang berada di wilayah tersebut. Seperti di ketahui, Batu Daya, letaknya di Kec. Simpang Dua, Kabupaten Ketapang, Kalbar.

Batu Daya, sedikit memikat dengan panoramanya sebagai para penikmat keindahan, namun  sudah sedikit dirusak keindahannya dan keutuhannya, bukan tak mungkin batu yang berdiri kokok itu semakin tegak berdirinya. Apabila boleh dikata, Batu Daya yang sudah kehilangan daya. Andai kata hutan terkikis habis, tak sedikit dampak yang mengancam. Dampak kekeringan mungkin itu yang pasti terjadi ketika hutan tak bersisa, banjir juga mungkin akan menghampiri bila tajuk-tajuk itu jikalau nantinya tinggal cerita.

Bukan tidak mungkin primata seperti orangutan, kelempiau dan kelasi akan terkena pula imbasnya.  Demikian juga nasib enggang dan satwa lainnya. hal yang sama pula pasti terjadi pada tumbuhan atau pun tanaman endemik yang ada di wilayah tersebut.

Satu harapan agar hutan hujan boleh berlanjut dengan syarat ada perhatian dari semuanya secara bersama pula. Perhatian sederhana dari hal-hal kecil dan kepedulian mungkin sebagai satu cara seperti penanaman dan aturan tata kelola yang berkelanjutan. Serta hal yang terpenting lainnya adalah tidak membuka lahan baru lagi di kawasan itu.

Apabila hal tersebut bisa dilakukan maka hutan hujan tropis yang juga letaknya tak jauh dari Taman Nasional Gunung Palung tersebut sebagai penyangga yang kiranya juga sayang rasanya jika hilang tak bersisa di kemudian hari.

Banyak contoh yang terjadi ketika hutan hujan tak lagi bersisa, banjir, tanah longsor, kekeringan dan kebakaran sudah menunjuk taringnya serta kita terkena imbasnya.

Mengingat, hutan hujan memiliki fungsi yang tak terkira bagi tatanan kehidupan semua makhluk hingga kapanpun. Nafas hidup semua makhluk hidup tergantung kepada keadaan hutan hujan tropis saat ini. Tidak terbayangkan apabila tatanan kehidupan tanpa hutan hujan apakah bisa berlanjut atau tidak. Semoga ada asa untuk menyelamatkan hutan hujan yang semakin terhimpit dan sempit ini agar nafas bisa berlanjut.

Tulisan ini sebelumnya dimuat di Kompasiana : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/5b2b3175ab12ae20a855af22/melihat-hutan-hujan-sebagai-nafas-yang-mulai-menghilang-dan-tak-berdaya

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

 

Iklan

About yayasanpalung

Yayasan Palung, berdiri sejak tahun 2002. Yayasan Palung (YP) merupakan lembaga non profit yang bekerja untuk konservasi orangutan dan habitat serta pengembangan masyarakat. Yayasan Palung bekerja dengan semua pihak yang mempunyai tujuan sama untuk perlindungan terhadap orangutan dan habitat di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara.

Posted on 25 Juni 2018, in Berita umum dan khusus, Gunung Palung, Kegiatan Yayasan Palung, Penelitian, YP and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: