Monthly Archives: Juni 2018

Membuat Racun Rumput dengan Campuran Air Kelapa dan bahan lainnya

WhatsApp Image 2018-06-28 at 15.14.23

Asbandi, kamis (28/6) kemarin, ketika membuat racun rumput dengan bahan air kelapa dan bahan lainnya. Foto dok : Yayasan Palung

Ada cara efektif untuk mengurangi biaya belanja. Salah satunya dengan membuat racun rumput dengan campuran air kelapa dan bahan lainnya.

Cara ini dilakukan oleh Asbandi dari tim SL Yayasan Palung , ia bersama Wawan Angriandi  yang juga dari Yayasan Palung membuat racun rumput  dengan mencampurkan air kelapa dan ragi dan dipermentasikan minimal dua minggu (semakin lama lebih baik).

Berikut bahan-bahan untuk membuat racun rumput :

  • 1 liter racun roundup
  • 5 liter air kelapa
  • Garam; 2,5 ons
  • 1 botol cuka makan
  • Ragi : 2 bungkus besar ragi (200 biji ragi); terlebih dahulu ragi ditumbuk hingga halus.

Semua bahan-bahan tersebut dicampur dan diaduk pada suatu wadah atau tempat hingga merata. Selanjutnya, racun rumput ditutup rapat (dipermentasikan). Setelah 2 minggu racun rumput dengan campuran air kelapa siap untuk dipakai.

Cara penggunaan racun rumput :

Racun tumput tersebut dapat digunakan untuk membasmi rumput, kita terlebih dahulu menakar/mencampurkan 3 gelas racun  dengan air untuk 1 tangki penyemprot.

Untuk takaran 1 liter indukan racun rumput dapat digunakan pada lahan 1 hektar sawah yang telah dibuka (sawah jadi).

Pit-Yayasan Palung

 

Iklan

Kreasi Komunitas Bentangor Kids Membuat Kerajinan Tangan dari Tali Kur

WhatsApp Image 2018-06-28 at 16.36.55

Anak-anak Bentangor Kids Belajar membuat kerajinan tangan. Foto dok. Yayasan Palung

Banyak cara dan kreasi anak-anak belajar sembari bermain, salah satunya membuat kerajinan tangan (making craft) dari bahan Tali Kur, Kamis (28/6/2018) di saung Kantor Yayasan Palung Bentangor Pampang Center, KKU, Kalbar.

Setidaknya ada 9 orang anak yang tergabung dalam Bentangor Kids ikut serta dalam pembuatan kerajinan tangan dari bahan tali kur tersebut.

Pada kesempatan tersebut anak-anak yang  memerlukan waktu  2 jam mereka  dan berhasil membuat 12 gelang yang anak-anak anyam dan dijadikan gelang tangan.

Anak-anak terlihat antusias mebuat tali kur yang dianyam dan dijadikan gelang tangan.

WhatsApp Image 2018-06-29 at 11.49.13

Anak-anak Bentangor Kids dan Gelang Tangan hasil kreasi mereka. Foto dok. Yayasan Palung

Anak-anak dalam proses pembuatan kerajinan didampingi oleh Simon Tampubolon dari Yayasan Palung.

Berharap anak-anak semakin berkembang untuk berkreasi belajar sembari bermain. Minggu sebelumnya, mereka belajar tentang bahasa Inggris belajar Self indoduction (perkenalan diri).

Pit-Yayasan Palung

Melihat Hutan Hujan sebagai Nafas yang Mulai Menghilang

Batu Daya yang semakin tak berdaya karena semakin terhimpit dan sempit. Foto dok. Petrus Kanisius

Batu Daya yang semakin tak berdaya karena semakin terhimpit dan sempit. Foto dok. Petrus Kanisius

Melihat, tetapi juga merasakan tajuk-tajuk pepohonan yang mulai menghilang, setidaknya itu yang kualami  dan kulalui ketika melewati sepajang jalan mudik  menuju kampung halaman untuk  mengisi hari libur panjang di bulan Juni yang juga bertepatan dengan hari libur Idul Fitri, kemarin.

Tajuk-tajuk yang dimaksud tak lain adalah rebahnya pepohonan yang semakin sulit dan kalah bersaing untuk berdiri kokoh. Sama halnya dengan batu daya yang sudah semakin terhimpit tak berdaya. Hal ini mengingatkanku kepada World Rainforest Day (hari hutan hujan dunia) yang diperingati pada 22 Juni, besok.

Alasannya tak lain, seluas mata memandang ketika melewati jalur alternatif (jalan perusahaan) begitu tampak terlihat tajuk-tajuk pepohonan semakin rebah tak berdaya kalah bersaing dengan tanaman pengganti yang bukan tanaman asli.  Sedih, itu rasa yang kurasakan. Namun, sedih itu tak bertepi, apa mungkin hutan-hutan itu bisa kembali tumbuh menjulang tinggi?. Entahlah… hanya bisa berharap, hutan-hutan masih bisa nantinya menjulang tinggi untuk berjuta-juta kehidupan boleh berlanjut hingga nanti.

Pemandangan yang kontras dan ironi, itu sebagai penanda tanda. Iya, kontras dan ironinya di sekitar area tajuk-tajuk pepohonan yang rebah tak berdaya itu ada pemandangan yang sangat menarik yaitu Batu Daya. Dibalik keindahannya tetapi juga ancaman nyata mulai nyata terlihat. Ancaman apa itu?. Satu yang pasti, balutan batu yang dulunya berpadu indah dengan berdiri kokohnya tajuk-tajuk pepohonan kini sudah semakin sempit terhimpit.

Andai kata hutan-hutan (tajuk-tajuk pepohonan) itu menghilang bagaimana nasib-nasib ragam kehidupan lain tidak terkecuali manusia, tumbuhan dan hewan (satwa/primata) yang berada di wilayah tersebut. Seperti di ketahui, Batu Daya, letaknya di Kec. Simpang Dua, Kabupaten Ketapang, Kalbar.

Batu Daya, sedikit memikat dengan panoramanya sebagai para penikmat keindahan, namun  sudah sedikit dirusak keindahannya dan keutuhannya, bukan tak mungkin batu yang berdiri kokok itu semakin tegak berdirinya. Apabila boleh dikata, Batu Daya yang sudah kehilangan daya. Andai kata hutan terkikis habis, tak sedikit dampak yang mengancam. Dampak kekeringan mungkin itu yang pasti terjadi ketika hutan tak bersisa, banjir juga mungkin akan menghampiri bila tajuk-tajuk itu jikalau nantinya tinggal cerita.

Bukan tidak mungkin primata seperti orangutan, kelempiau dan kelasi akan terkena pula imbasnya.  Demikian juga nasib enggang dan satwa lainnya. hal yang sama pula pasti terjadi pada tumbuhan atau pun tanaman endemik yang ada di wilayah tersebut.

Satu harapan agar hutan hujan boleh berlanjut dengan syarat ada perhatian dari semuanya secara bersama pula. Perhatian sederhana dari hal-hal kecil dan kepedulian mungkin sebagai satu cara seperti penanaman dan aturan tata kelola yang berkelanjutan. Serta hal yang terpenting lainnya adalah tidak membuka lahan baru lagi di kawasan itu.

Apabila hal tersebut bisa dilakukan maka hutan hujan tropis yang juga letaknya tak jauh dari Taman Nasional Gunung Palung tersebut sebagai penyangga yang kiranya juga sayang rasanya jika hilang tak bersisa di kemudian hari.

Banyak contoh yang terjadi ketika hutan hujan tak lagi bersisa, banjir, tanah longsor, kekeringan dan kebakaran sudah menunjuk taringnya serta kita terkena imbasnya.

Mengingat, hutan hujan memiliki fungsi yang tak terkira bagi tatanan kehidupan semua makhluk hingga kapanpun. Nafas hidup semua makhluk hidup tergantung kepada keadaan hutan hujan tropis saat ini. Tidak terbayangkan apabila tatanan kehidupan tanpa hutan hujan apakah bisa berlanjut atau tidak. Semoga ada asa untuk menyelamatkan hutan hujan yang semakin terhimpit dan sempit ini agar nafas bisa berlanjut.

Tulisan ini sebelumnya dimuat di Kompasiana : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/5b2b3175ab12ae20a855af22/melihat-hutan-hujan-sebagai-nafas-yang-mulai-menghilang-dan-tak-berdaya

Petrus Kanisius-Yayasan Palung