Puisi:  Cerita dan Pesanku Ibu Bumi untuk Anak Cucuku

Bumi sebagai ibu dan rumah bersama yang sudah semakin sakit. Foto dok. bobo.id

Bumi sebagai ibu dan rumah bersama yang sudah semakin sakit. Foto dok. bobo.id

Aku (ibu bumi) terlahir dititahkan Sang Pencipta sebagai Ibu

Ibu yang menjaga anak-anaknya

alam semesta raya itu awalnya aku

Sebagai ibu aku tak lupa memberi ruang dan nafas kepada segala makhluk

Aku sebagai titipan Ilahi diberi mandat

Aku jalankan mandat itu

Tetapi entah mengapa, terkadang aku dilahirkan tak serta merta merasa

Merasa memilikiku sebagai ibu ? ,

Tingkah polah dari sekian banyak anak dan cucuku, kalian terkadang pongah kepadaku.

Sakit derita itu sudah pasti, namun kutahan, ku mencoba bertahan semampuku, kurasakan saja.

Waktu terus berlalu, umurku sudah semakin tua menjelang renta,

Sikap peduli dari anak-anakku kurasa tak sebanding dari derita yang kurasa,

Tetapi, biarlah kurasakan saja semampuku,

Bila dikata bebanku sudah semakin berat, jawabanku; iya benar adanya demikian.

Rambut di kepalaku sudah semakin gugur dan memutih, tak tertahan karena uban diusiaku yang sudah semakin menua.

Belum lagi kutu-kutu loncat yang terus menggerogoti kepalaku. Terkadang sisiran rambutku disisir, namun aku tak suka rambutku disisir serapi itu. Aku lebih suka tak bersisir sama sekali karena aku ingin apa adanya.

Dulu semasa mudaku rambutku terurai panjang dan bisa melindungi anak cucuku ketika panas.

Sakit penyakit jua sering ku dengarkan dari anak cucuku terkadang mereka sulit mengambil air, sulit bercocok tanam dan tak mudah lagi berdiam dan berlindung karena rambut ibu tak lagi seperti dulu bisa melindungi.

Jika boleh dikata, sakitku kini sudah semakin banyak (penyakitku sudah komplikasi). Kepalaku yang sudah semakin sakit karena rambutku tak lagi mampu bertahan, terkadang berguguran. Demam panas sering juga kurasakan. Jantung dan hatiku pun sudah terasa sakitnya. Aku hanya takut jika aku serangan jantung tiba-tiba. Maag kronisku pun tak kalah hebatnya, sakit sekali rasanya. Rasa ditikam-tikam

Terkadang, tak terasa aku muntah-muntah. Karena perutku sudah semakin banyak cacing yang menggerogoti. Terkadang pula ku hanya bisa menangis saja akan nasibku ini.

Berharap anak cucuku yang masih punya rasa kasih sayang kepadaku untuk bisa meramu obat pereda sakitku. Karena aku rasa sakitku sudah semakin sulit sembuh namun masih ada harap aku ingin sembuh dari sakit penyakit yang kuderita. Aku hanya berpesan, jaga dan rawatlah aku semampu kalian anak cucuku. Dengan merawatku pula kalian bisa ku rawat. Karena aku hanya ingin senyum bahagia bersama kalian anak cucuku dan melihatku dan menemaniku di masa tuaku. Ku berharap pula semoga umurku panjang sehingga aku juga bisa melihat tidak hanya anak cucu, tetapi cicit-cicitku nanti.

Ketapang, Kalbar, 09/05/2018

Tulisan ini sebelumnya dimuat di Kompasiana : Pesan Ibu Bumi untuk Anak Cucu

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Iklan

About yayasanpalung

Yayasan Palung, berdiri sejak tahun 2002. Yayasan Palung (YP) merupakan lembaga non profit yang bekerja untuk konservasi orangutan dan habitat serta pengembangan masyarakat. Yayasan Palung bekerja dengan semua pihak yang mempunyai tujuan sama untuk perlindungan terhadap orangutan dan habitat di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara.

Posted on 9 Mei 2018, in Berita umum dan khusus, Kegiatan Yayasan Palung, Laporan Umum, YP. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: