Alasan di Balik Larangan Pengunjung Memberi Makan Satwa di Hutan Kota Ketapang

foto-kelempiau-yang-memakan-sisa-sisa-makanan-nasi-dari-pengunjung-dan-tak-jarang-sampah-menjadi-berserakan-foto-dok-petrus-kanisius-5ae9660ccf01b477cf660902

Foto kelempiau yang memakan sisa-sisa makanan nasi dari pengunjung dan tak jarang sampah menjadi berserakan. Foto dok. Petrus Kanisius

Di Hutan Kota (Hutan Kota Teluk Akar Bergantung) Ketapang, Kalbar, menjadi salah satu tempat pilihan masyarakat untuk berkunjung dengan berbagai alasan dan tujuan seperti rekreasi, melihat dan belajar. Akan tetapi, sering kali terlihat beberapa diantara oknum pengunjung yang  tak jarang memberi makan kepada satwa. Sejatinya sangat dilarang untuk memberi makan kepada satwa.

Mengapa demikian?, ini alasannya:

Pertama, memberikan makan kepada satwa tentu sengat berpengaruh pada naluri alamiah hewan dalam mencari makan. Apabila dibiasakan diberi makan, maka satwa tersebut menjadi terbiasa dan manja sehingga mereka (satwa) hilang naluri alamiah kehewanannya.

Kedua, apabila dibiasakan diberikan makanan yang memang bukan makanannya satwa maka satwa-satwa tersebut menjadi terbiasa memakan makanan apa saja yang dimakan manusia seperti nasi, kue atau pun makanan lainnya. Seperti di huko (hutan kota), pengunjung terkadang juga memberi minum, air putih, kopi dan kacang.

Tak jarang pula selain kelempiau, satwa-satwa lain tak terkecuali monyet dan burung elang juga terbiasa makan makanan manusia menjadi terbiasa mengais-ngais makanan di tong sampah atau   satwa mencari dan meminta-minta makanan kepada pengunjung. satwa-satwa yang mengais sisa-sisa makanan di tong sampah sehingga membuat sampah berhamburan/pemicu munculnya sampah-sampah baru selain juga sampah-sampah tersebut berasal dari oknum pengunjung yang berkunjung di sekitaran hutan kota.

Ketiga, seperti beberapa kejadian yang telah terjadi, satwa yang terbiasa memakan makanan manusia tak segan-segan merampas tas ataupun makanan yang dibawa pengunjung yang sedang berkunjung di Hutan Kota Ketapang. Terhitung ada 3 kejadian, satwa (kelempiau) mencakar dan melukai pengunjung saat belajar di Hutan Kota Ketapang.

Keempat, kebiasaan memberi makan kepada satwa maka akan terjadi kontak fisik yang bisa saja berpengaruh kepada kebersihan si satwa yang berdampak kepada rentannya manusia tertular berbagai penyakit seperti rabies atau pun juga penyakit TBC dan penyakit lainnya. Sudah pasti, satwa yang berada di hutan belum tentu bersih dan aman untuk kontak secara langsung dengan manusia.

Menurut keterangan bapak Sebaan, seorang penjaga hutan kota mengatakan bahwa  di Hutan Kota ada 6 kelempiau dan ada puluhan monyet yang sering mengais makanan, kebiasaan karena sering diberikan makanan sehingga kelempiau ataupun monyet sering mencari makanan di tong sampah dan membuat sampah bertebaran kemana-mana. Selain kelempiau, ada juga puluhan  monyet yang tak jarang pula mengais makanan di tong sampah.

Sejatinya memang satwa-satwa tidak boleh diberikan makanan oleh pengunjung. Biarkan mereka secara nalurinya untuk mencari makan di hutan. Yang menjadi ketakutan adalah mereka akan tergantung pada manusia untuk memperoleh makanan sehingga dengan demikian mereka bisa saja tidak bisa bertahan hidup (satwa bisa mati) karena ketergantungannya kepada manusia.

Menurut Undang-undang no.18 tahun 2009 menyebutkan, istilah Animal Welfare sebagai perilaku kita terhadap hak satwa/hewan. Animal Welfare yang dimaksudkan adalah semua urusan kita yang berkaitan dengan keadaan fisik dan mental hewan menurut ukuran perilaku alami hewan yang perlu diterapkan dan ditegakkan untuk melindungi hewan dari perlakuan setiap orang yang tidak layak terhadap hewan yang dimanfaatkan manusia. Perilaku kita juga sejatinya wajib untuk menghormati hak asasi hewan.

Berharap kepada pengunjung agar tidak lagi memberi makanan kepada satwa-satwa yang tinggal dan hidup bebas di hutan alami atau pun di hutan kota sebaiknya biarkan mereka berprilaku layaknya hewan (satwa) dalam hal mencari makan. Selain juga biarkan mereka (satwa) berperilaku layaknya hewan. Yang terpenting kita menghormati hak-hak hewan salah satunya dengan tidak memberi makan kepada hewan. Mengingat, satwa-satwa tersebut sudah tersedia makanannya di hutan.

Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di kompasiana : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/5ae966f9f133447c9b4cc782/pengunjung-dilarang-memberi-makan-satwa-di-hutan-kota-ketapang dan

di monga : http://monga.id/2018/05/pengunjung-dilarang-memberi-makan-satwa-di-hutan-kota-ketapang-ini-alasannya

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Iklan

About yayasanpalung

Yayasan Palung, berdiri sejak tahun 2002. Yayasan Palung (YP) merupakan lembaga non profit yang bekerja untuk konservasi orangutan dan habitat serta pengembangan masyarakat. Yayasan Palung bekerja dengan semua pihak yang mempunyai tujuan sama untuk perlindungan terhadap orangutan dan habitat di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara.

Posted on 7 Mei 2018, in Berita umum dan khusus, Kegiatan Yayasan Palung, YP. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: