Monthly Archives: Mei 2018

Manfaat Pohon Beringin Tak Terkira, tapi Dapat “Mematikan”

Rangkong badak atau rhinoceros hornbill (Buceros rhinoceros) sedang memakan buah Ficus stupenda. Foto dok. Tim Laman dan Yayasan Palung

Rangkong badak atau rhinoceros hornbill (Buceros rhinoceros) sedang memakan buah Ficus stupenda. Foto dok. Tim Laman dan Yayasan Palung

Memiliki banyak manfaat bagi kehidupan tetapi ada juga yang bisa merenggut kehidupan. Tidak bisa dielakkan, tidak sedikit makhluk hidup terbantu dan bisa bertahan hidup karena tumbuhan ini. Lalu pertanyaannya, tumbuhan apakah itu?

Kebanyakan orang menyebutnya kayu ara, atau nama ilmiahnya disebut Ficus spp., disebut fig trees atau figs dalam bahasa Inggris. Di Indonesia banyak sekali penamaan untuk pohon ini. Selain kayu ara, ada yang menyebutnya pohon beringin, kayu are atau keraye di Kalimantan Barat, lebih khusus di Tanah Kayong (sebutan untuk Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara).

Tumbuhan ini memiliki banyak manfaat bagi kehidupan mulai dari akar-akarnya bisa menampung air untuk mahluk hidup, hingga buahnya sebagai sumber pakan bagi burung enggang maupun jenis burung-burung kecil lainnya. Monyet dan orangutan juga gemar menyantap buahnya….

Tulisan ini sebelumnya dimuat di Kompasiana, Baca Selengkapnya : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/5b029c05f13344379c7b1b02/pohon-ini-memiliki-manfaat-tak-terkira-untuk-kehidupan-tetapi-ada-juga-yang-membunuh

Petrus Kanisius- Yayasan Palung

Iklan

Tidak Boleh Hilang, Ruang Lingkup Ini Berjalin Langsung dengan Manusia

Hutan yang terbakar atau dibakar pada tahun 2015 lalu di wilayah Sungai Laur. Foto dok. Yayasan Palung

Hutan yang terbakar atau dibakar pada tahun 2015 lalu, di wilayah Sungai Laur. Foto dok. Yayasan Palung

Berbicara tentang lingkungan hidup begitu luas, akan tetapi ruang lingkup manusia yang bersentuhan langsung dengan manusia setidaknya ada empat hal dan itu harus ada serta tidak boleh salah satunya terganggu atau hilang.

Apa sajakah 4 hal ruang lingkup yang harus ada bersentuhan langsung dengan manusia tersebut?

Pertama, udara. bagaimana jadinya bila manusia atau makhluk hidup tanpa udara? Udara sebagai nafas hidup makhluk hidup hingga kapan pun harus ada. Bagaimana pula apabila tidak ada udara di muka bumi ini? jawabanya manusia akan sulit bernafas. Tidak terkecuali misalnya ketika orang yang sedang sakit dan ketika ia kesulitan bernafas maka ia kakan dibantu oleh nafas buatan berupa oksigen.

Kedua, air. Air sebagai sumber hidup. Ketika membuat makan berkuah, minum, masak, mencuci, mandi maka sangat memerlukan air. Musim kemarau tiba, apabila sumber air tidak ada maka akan sulit mendapatkan air (air bersih) untuk pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari.  Tidak sedikit contoh wilayah yang gersang tidak memiliki cukup banyak sumber air dan itu menjadi tantangan berat bagi tidak sedit manusia sebagai pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari.

Ketiga, tanah. Tanah menjadi sesusatu yang paling penting dalam tatanan kehidupan makhluk hidup di bumi. Adanya tanah selain menjadi tempat untuk berdiam (rumah), tetapi juga sebagai tempat untuk bertani dan bercocok tanam.  Hal lainnya juga, tanah sebagai penyedia unsur hara (sumber vitamin dan sumber makanan bagi tumbuh-tumbuhan) dan penyuplai makanan bagi makhluk di dalam tanah seperti cacing misalnya.

Keempat, hutan; hutan menjadi tempat yang nyaman bagi kehidupan beragam satwa seperti orangutan, kelempiau, kelasi,  burung enggang/tingang. Adanya hutan juga sebagai penopang kehidupan.

Hadirnya hutan sebagai penyerap sumber air dan penghalau banjir serta tanah longsor, selain juga sebagai penyimpan oksigen. Adanya hutan juga sebagai penyedia sumber pakan (makanan) seluruh makhluk hidup yang mendiami hutan, termasuk manusia mendapat manfaat dari hutan berupa sandang pangan dan papan.

Bagaimana jika salah satu atau salah duanya hilang? Sudah pasti, keseimbagan ekosistem di bumi akan terganggu. Bila hutan yang rusak maka akan berdampak pada akan terjadinya banjir, banjir bandang, tanah longsor.

Apabila sumber air sudah sulit didapat maka mahluk hidup akan sulit atau kesulitan untuk bertahan hidup. demikian juga apabila tanah dan udara tidak tersedia maka semua makhluk hidup semakin sulit bertahan dalam tatanan kehidupannya.

Walaupun udara, tanah, air dan hutan masih ada, akan tetapi kondisinya kini jika boleh dikatakan sudah semakin berkurang dari tahun ke tahun dan sangat memprihatinkan keadaannya.

Tidak jarang terganggunya empat hal ruang lingkup yang bersentuhan langsung dengan manusia tersebut (tanah, air, udara dan hutan) sering kali mendera dan memperlihatkan kepada kita yang sejatinya mereka jangan sampai terganggu atau pun hilang, dengan kata lain harus ada.

Lihat dampak banjir, tanah longsor dan kejadian lainnya yang terjadi, tidak terkecuali hilangnya luasan tutupan hutan yang bedampak juga kepada satwa yang keadaannya semakin terhimpit dan diambang kepunahan.

Selain juga dampak dari terbakarnya hutan sangat berpengaruh kepada nadi kehidupan. Lihat dampak asap yang timbul karena adanya kebakaran lahan yang luas menyebabkan terganggunya transportasi dan kesehatan. Hilangnya tajuk-tajuk pepohonan (hutan) tidak sedikit berdampak pada semakin sulitnya manusia untuk mendapatkan sumber air bersih.

Keadaan empat hal ini sesungguhnya juga sudah dalam tahapan yang harus menjadi kewaspadaan oleh semua pihak dan harus ada langkah untuk mengatasinya. Tidak cukup hanya regulasi untuk melarang mengambil dan mengeksploitasi SDA secara berlebihan, tetapi juga bagaimana menegakkan tata aturan tersebut menjadi nyata sehingga dengan demikian pula akan ada efek jera dan hutan, tanah, air dan udara bisa terjaga dengan baik.

Hal lainnya adalah menjaga, merawat dan melestarikan ruang lingkup lingkungan hidup dengan cara sederhana seperti misalnya menanam dan memumpuknya dengan rasa cinta, kebijaksanaan dan dangan hal-hal kecil lainnya. Sebagai pengingat, empat ruang lingkup lingkungan hidup berupa hutan, tanah, air  dan udara menjadi tanggungjawab semua dan bersama pula untuk keberlanjutan yang harus tetap ada. Jika tidak, maka akan berdampak langsung kepada manusia apa yang disebut bencana.

Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di Kompasiana : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/5afe8502ab12ae619c077c63/ini-empat-ruang-lingkup-yang-bersentuhan-langsung-dengan-manusia-dan-harus-ada

Petrus Kanisius-Yayasan Palung 

 

 

Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Bagi Umat Muslim yang Menjalankannya

logo YP

Marhaban Ya Ramadhan

Kami keluarga Besar Yayasan Palung (Gunung Palung Orangutan Conservation Program) dan Gunung Palung Orangutan Project mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa bagi saudara-saudari umat Islam yang menjalankannya.
Semoga puasanya dilancarkan dan diberikan keberkahan. amin…
GBU for all…

Salam adil dan lestari

Puisi:  Cerita dan Pesanku Ibu Bumi untuk Anak Cucuku

Bumi sebagai ibu dan rumah bersama yang sudah semakin sakit. Foto dok. bobo.id

Bumi sebagai ibu dan rumah bersama yang sudah semakin sakit. Foto dok. bobo.id

Aku (ibu bumi) terlahir dititahkan Sang Pencipta sebagai Ibu

Ibu yang menjaga anak-anaknya

alam semesta raya itu awalnya aku

Sebagai ibu aku tak lupa memberi ruang dan nafas kepada segala makhluk

Aku sebagai titipan Ilahi diberi mandat

Aku jalankan mandat itu

Tetapi entah mengapa, terkadang aku dilahirkan tak serta merta merasa

Merasa memilikiku sebagai ibu ? ,

Tingkah polah dari sekian banyak anak dan cucuku, kalian terkadang pongah kepadaku.

Sakit derita itu sudah pasti, namun kutahan, ku mencoba bertahan semampuku, kurasakan saja.

Waktu terus berlalu, umurku sudah semakin tua menjelang renta,

Sikap peduli dari anak-anakku kurasa tak sebanding dari derita yang kurasa,

Tetapi, biarlah kurasakan saja semampuku,

Bila dikata bebanku sudah semakin berat, jawabanku; iya benar adanya demikian.

Rambut di kepalaku sudah semakin gugur dan memutih, tak tertahan karena uban diusiaku yang sudah semakin menua.

Belum lagi kutu-kutu loncat yang terus menggerogoti kepalaku. Terkadang sisiran rambutku disisir, namun aku tak suka rambutku disisir serapi itu. Aku lebih suka tak bersisir sama sekali karena aku ingin apa adanya.

Dulu semasa mudaku rambutku terurai panjang dan bisa melindungi anak cucuku ketika panas.

Sakit penyakit jua sering ku dengarkan dari anak cucuku terkadang mereka sulit mengambil air, sulit bercocok tanam dan tak mudah lagi berdiam dan berlindung karena rambut ibu tak lagi seperti dulu bisa melindungi.

Jika boleh dikata, sakitku kini sudah semakin banyak (penyakitku sudah komplikasi). Kepalaku yang sudah semakin sakit karena rambutku tak lagi mampu bertahan, terkadang berguguran. Demam panas sering juga kurasakan. Jantung dan hatiku pun sudah terasa sakitnya. Aku hanya takut jika aku serangan jantung tiba-tiba. Maag kronisku pun tak kalah hebatnya, sakit sekali rasanya. Rasa ditikam-tikam

Terkadang, tak terasa aku muntah-muntah. Karena perutku sudah semakin banyak cacing yang menggerogoti. Terkadang pula ku hanya bisa menangis saja akan nasibku ini.

Berharap anak cucuku yang masih punya rasa kasih sayang kepadaku untuk bisa meramu obat pereda sakitku. Karena aku rasa sakitku sudah semakin sulit sembuh namun masih ada harap aku ingin sembuh dari sakit penyakit yang kuderita. Aku hanya berpesan, jaga dan rawatlah aku semampu kalian anak cucuku. Dengan merawatku pula kalian bisa ku rawat. Karena aku hanya ingin senyum bahagia bersama kalian anak cucuku dan melihatku dan menemaniku di masa tuaku. Ku berharap pula semoga umurku panjang sehingga aku juga bisa melihat tidak hanya anak cucu, tetapi cicit-cicitku nanti.

Ketapang, Kalbar, 09/05/2018

Tulisan ini sebelumnya dimuat di Kompasiana : Pesan Ibu Bumi untuk Anak Cucu

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Yayasan Palung Gelar Aksi Bersih-bersih Sampah di Hutan Kota Ketapang

Suasana saat bersih-bersih di Hutan Kota Ketapang

Ketika kegiatan bersih-bersih sampah di Hutan Kota dalam rangka memperingati Hari Bumi 2018

Dalam rangka merayakan Hari Bumi 2018 Yayasan Palung (YP) melakukan aksi sosial bersih-bersih sampah.

Serta pemasangan plang larangan membuang sampah sembarangan di dalam area Hutan Kota Ketapang, Minggu (29/4).

Aksi sosial itu dilakukan bersama para pihak seperti Dinas Pemukiman Perumahan dan Lingkungan Hidup Ketapang. Kemudian KPH Ketapang Selatan, Relawan RebonK, Relawan Tajam dan siswa pencinta alam (Sispala) di Ketapang.

“Sispala Care dari SMAN 2 Ketapang, Sispala Repatones dari SMA PL St. Yohanes Ketapang dan Sispala Kompasta dari SMAN 3 Ketapang. Serta Perwakilan dari siswa- siswi SMAN 1 Ketapang dan pihak pengelola Hutan Kota Ketapang.

“Kegiatan kita mulai sejak pukul 07.00 WIB diawali dengan menentukan rute pengambilan titik-titik sampah di jalur Hutan Kota bagi semua peserta.

Setidaknya ada empat titik fokus jalur Hutan Kota yang dibersihkan. Pertama jalur utama yakni gerbang utama masuk. Kedua di jalur tengah, ketiga jalur kanan hingga ke dekat danau dan jalur ujung Hutan Kota Ketapang.

“Semua panitia dan peserta membaur untuk ambil bagian. Semuanya sangat antusias untuk membersihkan sampah-sampah yang didominasi oleh sampah plastik tersebut.

Menurutnya sampah-sampah tersebut diperkirakan berasal dari pengunjung yang datang ke Hutan Kota Ketapang. Khususnya pengunjung yang tidak membuang sampah tidak pada tempatnya sehingga sampah-sampah bertebaran.

“Bahkan sampah bekas minuman berupa botol-botol cukup banyak. Bahkan banyak juga mengapung di danau yang letaknya tak jauh dari jalur pengunjung. Jadi kita sampai harus memakai perahu untuk membersihkannya.
Tulisan ini dimuat di Tribun Pontianak : http://pontianak.tribunnews.com/2018/05/01/yayasan-palung-gelar-aksi-bersih-bersih-sampah-di-hutan-kota-ketapang

http://pontianak.tribunnews.com/2018/05/01/ditemukan-banyak-sampah-berserakan-di-hutan-kota-ketapang

http://pontianak.tribunnews.com/2018/05/01/bersihkan-lingkungan-agus-harus-rutin-gotong-royong

http://pontianak.tribunnews.com/2018/05/01/rizal-semua-pihak-harus-peduli-terhadap-persoalan-sampah

http://pontianak.tribunnews.com/2018/04/30/peringati-hari-bumi-gelar-bersih-bersih-di-hutan-kota-ketapang

Pit-YP

Alasan di Balik Larangan Pengunjung Memberi Makan Satwa di Hutan Kota Ketapang

foto-kelempiau-yang-memakan-sisa-sisa-makanan-nasi-dari-pengunjung-dan-tak-jarang-sampah-menjadi-berserakan-foto-dok-petrus-kanisius-5ae9660ccf01b477cf660902

Foto kelempiau yang memakan sisa-sisa makanan nasi dari pengunjung dan tak jarang sampah menjadi berserakan. Foto dok. Petrus Kanisius

Di Hutan Kota (Hutan Kota Teluk Akar Bergantung) Ketapang, Kalbar, menjadi salah satu tempat pilihan masyarakat untuk berkunjung dengan berbagai alasan dan tujuan seperti rekreasi, melihat dan belajar. Akan tetapi, sering kali terlihat beberapa diantara oknum pengunjung yang  tak jarang memberi makan kepada satwa. Sejatinya sangat dilarang untuk memberi makan kepada satwa.

Mengapa demikian?, ini alasannya:

Pertama, memberikan makan kepada satwa tentu sengat berpengaruh pada naluri alamiah hewan dalam mencari makan. Apabila dibiasakan diberi makan, maka satwa tersebut menjadi terbiasa dan manja sehingga mereka (satwa) hilang naluri alamiah kehewanannya.

Kedua, apabila dibiasakan diberikan makanan yang memang bukan makanannya satwa maka satwa-satwa tersebut menjadi terbiasa memakan makanan apa saja yang dimakan manusia seperti nasi, kue atau pun makanan lainnya. Seperti di huko (hutan kota), pengunjung terkadang juga memberi minum, air putih, kopi dan kacang.

Tak jarang pula selain kelempiau, satwa-satwa lain tak terkecuali monyet dan burung elang juga terbiasa makan makanan manusia menjadi terbiasa mengais-ngais makanan di tong sampah atau   satwa mencari dan meminta-minta makanan kepada pengunjung. satwa-satwa yang mengais sisa-sisa makanan di tong sampah sehingga membuat sampah berhamburan/pemicu munculnya sampah-sampah baru selain juga sampah-sampah tersebut berasal dari oknum pengunjung yang berkunjung di sekitaran hutan kota.

Ketiga, seperti beberapa kejadian yang telah terjadi, satwa yang terbiasa memakan makanan manusia tak segan-segan merampas tas ataupun makanan yang dibawa pengunjung yang sedang berkunjung di Hutan Kota Ketapang. Terhitung ada 3 kejadian, satwa (kelempiau) mencakar dan melukai pengunjung saat belajar di Hutan Kota Ketapang.

Keempat, kebiasaan memberi makan kepada satwa maka akan terjadi kontak fisik yang bisa saja berpengaruh kepada kebersihan si satwa yang berdampak kepada rentannya manusia tertular berbagai penyakit seperti rabies atau pun juga penyakit TBC dan penyakit lainnya. Sudah pasti, satwa yang berada di hutan belum tentu bersih dan aman untuk kontak secara langsung dengan manusia.

Menurut keterangan bapak Sebaan, seorang penjaga hutan kota mengatakan bahwa  di Hutan Kota ada 6 kelempiau dan ada puluhan monyet yang sering mengais makanan, kebiasaan karena sering diberikan makanan sehingga kelempiau ataupun monyet sering mencari makanan di tong sampah dan membuat sampah bertebaran kemana-mana. Selain kelempiau, ada juga puluhan  monyet yang tak jarang pula mengais makanan di tong sampah.

Sejatinya memang satwa-satwa tidak boleh diberikan makanan oleh pengunjung. Biarkan mereka secara nalurinya untuk mencari makan di hutan. Yang menjadi ketakutan adalah mereka akan tergantung pada manusia untuk memperoleh makanan sehingga dengan demikian mereka bisa saja tidak bisa bertahan hidup (satwa bisa mati) karena ketergantungannya kepada manusia.

Menurut Undang-undang no.18 tahun 2009 menyebutkan, istilah Animal Welfare sebagai perilaku kita terhadap hak satwa/hewan. Animal Welfare yang dimaksudkan adalah semua urusan kita yang berkaitan dengan keadaan fisik dan mental hewan menurut ukuran perilaku alami hewan yang perlu diterapkan dan ditegakkan untuk melindungi hewan dari perlakuan setiap orang yang tidak layak terhadap hewan yang dimanfaatkan manusia. Perilaku kita juga sejatinya wajib untuk menghormati hak asasi hewan.

Berharap kepada pengunjung agar tidak lagi memberi makanan kepada satwa-satwa yang tinggal dan hidup bebas di hutan alami atau pun di hutan kota sebaiknya biarkan mereka berprilaku layaknya hewan (satwa) dalam hal mencari makan. Selain juga biarkan mereka (satwa) berperilaku layaknya hewan. Yang terpenting kita menghormati hak-hak hewan salah satunya dengan tidak memberi makan kepada hewan. Mengingat, satwa-satwa tersebut sudah tersedia makanannya di hutan.

Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di kompasiana : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/5ae966f9f133447c9b4cc782/pengunjung-dilarang-memberi-makan-satwa-di-hutan-kota-ketapang dan

di monga : http://monga.id/2018/05/pengunjung-dilarang-memberi-makan-satwa-di-hutan-kota-ketapang-ini-alasannya

Petrus Kanisius-Yayasan Palung