Monthly Archives: Desember 2017

Budidayakan Padi Rawa dengan Metode Hazton untuk Tingkatkan Hasil Panen

IMG_20171209_095946.jpg

Saat Bapak Budiman menjelaskan kepada peserta yang mengikuti pelatihan terkait budidaya padi rawa dengan  metode Hazton. Foto dok. Yayasan Palung

Budidaya Padi Rawa lebih khusus dengan tata cara (metode hazton) dan perawatan baik setidaknya bisa dapat membantu para petani lebih khusus dari segi hasil, demikian kata Budiman.

Hal tersebut diketahui, ketika Bapak Budiman berbagi ilmu dan pengalaman dalam acara “Sosialisasi Integrasi Budidaya Padi Rawa dan Survei Lahan Pertanian” yang diselenggarakan Yayasan Palung (YP) berkerjasama dengan Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF) di dua Desa; Penjalaan dan Nipah Kuning, Kec. Simpang Hilir selama dua hari ( 9-10 Desember 2017) pekan lalu.

Seperti diketahui, Bapak Budiman merupakan salah seorang yang berhasil mengembangkan budidaya padi dengan metode Haston dan memperoleh hasil panen lebih dari cukup serta berhasil membuat KKU swasembada padi, lebih khusus di Desa Sedahan Jaya.

Kata Budiman, dalam presentasinya tentang pengembangan metode padi Hazton; yang utama adalah memilih bibit unggul (benih) padi. Karena menyangkut rasa dan aroma, padi Hazton lebih unggul dari padi lokal walau tidak bisa dipungkiri padi lokal ada yang unggul pula misalnya padi impari 32. Sebelum kita menanam (budidaya dengan metode Hazton) kita harus mengetahui antara lain: Kandungan keasaman tanah, kita jangan meninggalkan budaya lokal hal ini dimaksud agar para petani tidak sepenuhnya beralih kepada budaya modern dalam bertani, tuturnya lagi.

Lebih lanjut dalam presentasinya, Budiman menjelaskan; Pemeliharaan dan Perlakuan Benih. Tahapan yang dilakukan dalam pemeliharan benih padi sebelum di semai /tebar dapat dilakukan dengan perendaman benih kedalam larutan garam 3%  benih yang tenggelam menunjukan benih yang baik. Sebelum di sebar, benih di rendam selama 24 jam, kemudian diperam (disimpan) selam 24 jam.

Penjelasan dari pemateri saat perendaman benih menggunakan Bacto-Plus/Culiser. Perlakuan benih Mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman padi : jumlah akar menjadi lebih panjang dan lebih banyak, batang menjadi lebih kokoh dan kuat, daun menjadi lebih hijau, anakan menjadi lebih banyak; Mampu menghasilkan hormon pertumbuhan alami dan mampu meningkatkan imunitas/ketahanan tanaman padi terhadap penyakit. Kebutuhan  1Ha = 8 tablet  100/120 kg benih.

IMG_20171209_124006.jpg

Peserta melakukan survei lahan untuk rencana menanam padi Rawa. Foto dok. Yayasan Palung

Selanjutnya juga menurut Pak Budiman pegolahan lahan sangat diperlukan, misalnya;

Persiapan lahan 3 minggu sebelum menanam, sebarkan 250 kg pupuk kandang pada lahan  dan di semprot 3 Ltr biotren /Ha. Tanah di olah secara sempurna yaitu di bajak, di genangi air untuk pemupukan dasar.

1-2 HST taburkan Pupuk 100 Kg SP-36 di campur degan 4 sachet/Ha DECOPRIMA. Semprotkan 3 Ltr biotren / Ha.

Pak Budiman bercerita, perbandingan tanah di Jepang setelah di bom pada di lokasi Hirosima dan Nagasaki  dulunya sempat divonis tidak bisa ditanami, tetapi saat ini bisa ditanami setelah adanya teknologi untuk penumbuh unsur hara dan mikroorganisme sebagai pengurai, kini lahan di Jepang bisa subur dan bisa di tanam salah satunya karena ada cara atau metode, jelasnya lagi.

Saat ini, tanah di lokasi kita (Indonesia) tanahnya boleh dikatakan sangat subur namun usianya telah tua renta. Akan tetapi teknologi untuk penumbuh unsur hara dapat membantu jika untuk pertanian.

Untuk tanaman padi, persemaian dianjurkan menggunakan bactoplus yang dapat membuat tumbuhan menjadi lebih hijau. (Menggunakan Dekoprima) untuk mengurai/residu racun dalam akar dan menghancurkan sisa-sisa jerami.

Penjelasan lebih lanjut dari pemateri tentang syarat-syarat dalam melakukan penanaman menurut Budiman;

  • Umur tanaman 25-30 hari
  • Jarak tanam 25-30 cm
  • Dengan menggunakan sistem paper legowo
  • 20 rumpun dalam 1 lobang tanam pada kedalaman 1-2 cm.
  • Sedapat mungkin tanaman ditanam jarang-jarang agar subur, tanaman harus barat ke timur, tanaman tidak boleh dipotong-potong agar tanaman tidak luka dan tidak terserang penyakit.

Selanjutnya kata pria kelhiran tahun 1971 tersebut, setelah tanaman tumbuh diperlukan perawatan. Dalam perawatan diperlukan penyemprotan hama salah satunya dengan spieder dan boleh dicampur dengan merek lain untuk mengusir hama yang ada pada padi.

Tanaman perlu dipupuk asam kumat misalnya diberi Ponska, pupuk urea 50 kg, MPK 100 kg, diberi nomine juga. Perlu juga dilakukan penyiangan dan pengendalian pengganggu tanaman (OPT) misalnya Ally plus, CBA-6. Di dalam tanah terdapat 16 unsur hara, 3 yang tidak bisa dibuat; air, sinar mata hari dan udara.

Bapak Budiman berbagi cerita, saat menanam padi Hazton dengan bibit 10 kilogram bibir dan meghasilkan panen 16 ton 800 kilogram.

Biasanya pengganggu tanaman adalah telur kupu-kupu yang menempel pada tanaman sangat berbahaya karena ulatnya bisa membunuh padi. Jika itu terjadi, cepat atasi dengan semprot dengan pembasmi hama yaitu spider.

Penjelasan dari Pemateri tentang keunggulan padi dengan metode Hazton :

Keunggulan Metode Hazton: (Berdasarkan pengamatan, hasil riset, dan testimoni petani)

  • Produksi panen tinggi (hasil berlipat)
  • Mudah dalam penanamannya
  • Tanaman cepat beradaptasi/tdk stres setelah tanam
  • Relatif tahan terhadap hama keong mas dan orong-orong.
  • Sedikit bahkan tidak ada penyulaman
  • Sedikit bahkan tidak ada penyiangan
  • Umur panen lebih cepat (+15 hari)
  • Mutu gabah tinggi (sedikit hampa)
  • Rendemen beras kepala tinggi (prosentase beras pecah rendah).

Kelemahan Metode Hazton : Memerlukan tambahan benih dari biasanya (keperluan benih metode hazton 100-120 kg/ha), Karena tanaman rimbun perlu dikawal dengan agencia hayati (imunisasi padi, penggunaan decomposer/sterilisasi lahan, dan bio fungisida) dan perlu pupuk (organik/anorganik) tambahan dari dosis normal/anjuran.

untuk mendapatkan bibit padi impari 32 dapat diperoleh di KKU, atau bisa hubungi Bapak Budiman dengan harga bibit padi 10 ribu rupiah perkilogramnya.

IMG_20171209_133815.jpg

Peserta pelatihan berfoto bersama setelah kegiatan selesai. foto dok. Yayasan Palung

Setelah Pelatihan, mereka (peserta pelatihan) di dua desa; Penjalaan dan Nipah Kuning berencana menanam (budidaya) padi dengan metode Hazton sebagai praktek di dua desa dibuat demplot masing-masing di 1 hektare sebagai percontohan. Pelatihan tersebut, mendapat sambutan baik dari para peserta dan di dua desa tersebut pula, mereka juga memohon dampingan dari Yayasan Palung dan Bapak Budiman saat mereka bertani nantinya (budidaya padi jenis rawa lebih khusus metode Hazton). Berharap, semoga apa yang direncanakan oleh para petani dapat terlaksana dengan baik.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Iklan

GPOCP Menyuarakan Perbaikan Lingkungan di Jerman

Aksi Mariamah Achmad, aktivis perempuan dan lingkungan di ajang People_s Climate Summit dalam rangkaian kegiatan Conference of the Parties (COP 23), November lalu. (Dok. Survival Media

Aksi Mariamah Achmad, aktivis perempuan dan lingkungan di ajang People’s Climate Summit dalam rangkaian kegiatan Conference of the Parties (COP 23), November lalu. (Dok. Survival Media)

Pada bulan November lalu, di Jerman diselenggarakan People’s Climate Summit dalam rangkaian kegiatan Conference of the Parties (COP 23). Dalam kesempatan tersebut, Gunung Palung Orangutan Concervation Program (GPOCP) atau Yayasan Palung melalui salah satu Manager Program Pendidikan Lingkungan sekaligus juga aktivis perempuan, Mariamah Achmad ikut hadir dan menyuarakan keadilan iklim.

Selama dua pekan berada di sana, banyak hal yang ia dapatkan dan cukup menarik untuk simak serta dibagikan kepada pembaca. Berikut cerita singkat selama dua pekan saat mengikuti kegiatan (COP 23) di Jerman, seperti yang ditulis oleh Mariamah Achmad:

Saya diundang untuk menghadiri People’s Climate Summit dalam rangkaian kegiatan Conference of the Parties (COP 23) di Jerman, yang mungkin adalah kesempatan sekali seumur hidup saya. Saya telah menjadi aktivis yang membawa kesadaran tentang hak lingkungan dan hak perempuan selama hampir dua dekade dan perjalanan ini seakan menjadi puncak dari semua yang telah saya lakukan.

FAMM Indonesia dan JASS Southeast Asia -kedua organisasi yang bekerja untuk memperkuat kapasitas dan pemberdayaan aktivis perempuan muda- mendukung perjalanan saya secara finansial. Prosesnya dimulai dengan sebuah wawancara dan seminggu kemudian saya menemukan bahwa saya akan segera menuju Frankfurt, Bonn, dan Bruehl, Jerman.

Butuh banyak koordinasi untuk mendapatkan visa dan dokumen prasyaratnya dalam waktu singkat. Saya sangat berterima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dan memberikan kesempatan tersebut.

Gawai lingkungan ini berlangsung dari 3-16 Nopember 2017. Saya menghadiri hingga 10 November 2017.

Hari pertama dimulai dengan kegiatan solidaritas Pasifik bersama Pacific Climate Warriors. Pulau-pulau kecil di Kepulauan Pasifik telah banyak dipengaruhi oleh perubahan iklim. Mereka memiliki kata-kata motivasi yang kuat untuk didengar oleh dunia: “We are not drowning, we are fighting!” (Kami tidak tenggelam, kami berjuang!).

Hari kedua adalah aksi global untuk keadilan iklim yang pada COP 23 ini fokus pada membawa kesadaran tentang penambangan batubara dan energi kotor. Pawai ini diikuti lebih dari 350 organisasi dari seluruh dunia yang hadir di sana.

Pada hari ketiga, kami mengunjungi tambang batubara yang telah menggali 4.000 hektare lahan hingga kedalaman 450 meter sejak tahun 1978. Pemandangan di sana tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Sejauh mata memandang bumi dikeruk hingga tak bersisa.

Beberapa hari berikutnya, saya menghadiri berbagai lokakarya tentang keadilan iklim, makanan, energi, dan hak-hak perempuan. Di sini saya berbicara tentang tantangan yang kita hadapi di Indonesia dan bagaimana kita dapat melawan perubahan iklim sebagai gerakan dunia dan menjamin hak-hak perempuan.

Saya berbicara tentang bagaimana wanita secara tradisional mencari makanan dan buah-buahan di hutan, mendapatkan ikan di sungai, dan merawat keluarga mereka dari alam.

Sudah sekian lama, banyak dari hutan ini dengan cepat telah digantikan oleh perkebunan kelapa sawit, tambang, atau telah ditebang secara legal maupun ilegal. Perubahan ini telah mengubah tanah dan mencemari air dan sungai. Para perempuan ini tidak bisa lagi mengumpulkan makanan untuk memberi makan keluarga mereka, menyebabkan mereka harus memperoleh penghasilan di luar rumah untuk memenuhi kebutuhan dasar.

Kadang-kadang meninggalkan anak-anaknya dengan tetangga atau dengan sedikit atau tanpa pengawasan orang dewasa. Karena bahan kimia yang digunakan di perkebunan industri ini, airnya tidak lagi cukup bersih untuk diminum dan menyebabkan reaksi kulit yang parah saat digunakan untuk mandi. Perubahan lahan secara drastis ini telah menciptakan banyak masalah bagi keluarga yang hidup di sekitar perkebunan kelapa sawit baik secara ekonomi dan sosial, maupun budaya, dan dalam hal kesehatan mereka.

Saya dapat berbagi cerita tentang keberhasilan pekerjaan yang kami lakukan di GPOCP termasuk program pendidikan lingkungan kami dalam berbagai kesempatan, di mana kami menjangkau lebih dari 5.000 siswa per tahun yang mengajarkan pentingnya lingkungan yang sehat. Saya juga mendiskusikan pekerjaan kami dengan masyarakat untuk melindungi 7.500 hektare hutan secara legal, yang mencegah usaha perkebunan berskala besar mengubah fungsi hutan untuk melindungi kepentingan masyarakat dalam jangka panjang terhadap alam, seperti penyerapan karbon dan air.

Sepuluh hari tetpatnya waktu kami berkegiatan di Jerman. Ini terasa singkat, namun merupakan kehormatan bagi saya untuk mewakili GPOCP, perempuan Indonesia berdiri bersama aktivis iklim dari seluruh dunia. Dengan tulus saya mengucapkan terima kasih kepada FAMM Indonesia, JASS, dan GPOCP atas motivasi, dukungan, dan kepercayaan mereka terhadap saya. Saya telah berteman dengan orang-orang yang berpikiran serupa dari seluruh dunia dan memiliki harapan baru akan kebaikan dunia tempat kita tinggal.

Tulisan ini sebelumnya dimuat di  https://student.cnnindonesia.com : Menyuarakan Perbaikan Lingkungan di Jerman

Petrus Kanisius- Yayasan Palung