Monthly Archives: November 2017

 Puisi: Bumi Pertiwiku

gambar ilustrasi. Foto dok. Internet.jpg

Gambar ilustrasi. Foto dok. Internet

Bumi pertiwiku,

Tempat aku berdiam juga mencari

Berdiam bukan berarti berpangku tangan.

Mencari sesuatu yang belum pernah dicari,
tentang arti jati diri,

Ragam rasa sebagai penanda jiwa juga raga.

Pertiwiku tempat mengadu, bukan menghasut
Darah merah, tulang putih jiwa raga kita para anak bangsa

Menjadi satu tanpa rancu bersatu.
Menjadi seragam dalam berjuang, mengabdi, mencapai, meraih cita-cita bumi pertiwi

Karena kini bumi pertiwi semakin terlupakan

Terlupakan untuk selalu dijahit karena tak sedikit robet dan riak-riak kecil pemecah

Bukan pemecah tetapi satu untuk berpadu

Membangun pertiwi yang semakin mandiri
Semakin sehat dari sakit penyakit

Menjahit untuk merajut meraih mimpi, tak sekedar mandiri

Tetapi

Jua bersatu berarti bagi negeri

Janji moyang dan pertiwi untuk terus merawat negeri hingga nanti

Jangan sekedar janji namun realisasi pasti.
Bumi Pertiwiku,

Ragam satu kesatuan terbalut dalam dirimu,
Membalut sebagai pemersatu,
Bukan pemecah menjadi resah,

Riak bukan untuk diladeni tetapi disikapi dirajut.

Dirajut merajut dalam bingkai kesatuan membangun negeri

Bukan memecah dengan amarah

Bumi pertiwi sebagai inti.
Mencari asa seribu bahasa tetap satu bangsa untuk dijaga,

Ibu pertiwi menjadi kunci dan janji oleh pendiri agar nanti tak disakiti.

Tulisan ini juga dimuat di : https://student.cnnindonesia.com/inspirasi/20171110172058-454-254819/puisi-bumi-pertiwiku

Ketapang, Kalbar, 01 Nopember 2017
Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Iklan

Gubernur Kalbar Menyerahkan SK Perizinan Perhutanan Sosial Hutan Desa

gubernur-kalbar-cornelis_serahkan SK. Hutan Desa.jpg

Gubernur kalbar Cornelis Serahkan SK Perizinan Perhutanan Sosial Hutan Desa. Foto dok. Tribun Pontianak

Mengutip di laman TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, bertempat di Balai Petitih Kantor Gubernur, Jalan Ahmad Yani Pontianak, kamis (9/11/2017), pekan lalu,  Gubernur Provinsi Kalimantan Barat, Cornelis menyerahkan SK perizinan perhutanan sosial hutan desa, hutan kemasyarakatan dan hutan adat.

Baca Selengkapnya di : http://pontianak.tribunnews.com/2017/11/09/serahkan-sk-perizinan-gubernur-cornelis-jangan-dijual

Mengapa Kita Penting untuk Merayakan Pekan Peduli Orangutan?

Stiker PPO 2017. Foto dok. Yayasan Palung

Stiker PPO 2017. Foto dok. Tim Laman dan Yayasan Palung

Setiap tahun Pekan Peduli Orangutan (PPO) selalu diperingati setiap November. “Act Now Preserve to Future adalah tema yang diusung pada tahun ini, atau kurang lebih jika diterjemahkan “Bertindak Sekarang untuk Mempertahankan Masa Depan”.

Mengapa Pekan Peduli Orangutan Itu Perlu Dirayakan?

Terri Lee Breeden selaku Direktur Program Yayasan Palung mengatakan, Orangutan sangat terancam punah, artinya tidak banyak yang tersisa. Jika kita tidak bekerja sekarang untuk menyelamatkan orangutan dan habitatnya maka mereka akan punah dalam masa hidup kita. Tidak adil rasanya jika generasi mendatang tidak peduli dan mengusir hewan ini.

Lebih lanjut, Terri, demikian sapaannya sehari-hari mengatakan, Yayasan Palung mengajak orang-orang dari seluruh dunia, terutama di Ketapang dan Kayong Utara untuk mengikuti Pekan Peduli Orangutan. Tujuan kami adalah untuk melakukan penyadartahuan kepada semua lapisan masyarakat tentang mengapa orangutan sangat istimewa dan aktivitas sederhana yang dapat mereka lakukan untuk membantu menyelamatkan orangutan.

Tahun ini, Yayasan Palung sebagai lembaga konservasi orangutan bersama dengan para relawan dalam rangka memperingati PPO 2017 akan melakukan serangkaian kegiatan seperti lomba mewarnai gambar orangutan untuk anak-anak usia dini tingkat Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar di Desa Pampang Harapan, Sabtu (18/11/2017), pekan ini. Gambar-gambar orangutan hasil dari lomba mewarnai tersebut selanjutnya di posting di dalam media sosial dengan hastag (#) #OrangutanCaringWeek #OrangutanCaringWeek2017 #YayasanPalung #PPO #PPO2017

Tidak hanya itu, Relawan RebonK (Relawan Bentangor untuk Konservasi) juga akan menyuguhkan drama yang bercerita tentang kisah hidup orangutan di hutan.

Selanjutnya, pada malam harinya rencananya akan dilakukan pemutaran film lingkungan yang lokasinya di halaman Kantor Yayasan Palung tepatnya di samping kantor Desa Pampang Harapan. Rencananya film-film yang akan diputar adalah film konservasi dan satwa dilindungi tidak terkecuali film orangutan sekaligus juga melakukan sosialisasi tentang satwa dilindungi, ujar Hendri Gunawan, selaku panitia kegiatan dan pembina para relawan.

Di tempat yang berbeda, teman-teman Penerima Beasiswa Orangutan Kalimantan (BOCS) yang juga akan mengadakan serangkaian kegitan dalam rangka PPO 2017. Adapun kegiatan yang dilakukan adalah Pendidikan Lingkungan di Panti Asuhan “NURUL IMAN” Sungai Rengas, Pontianak, pada Minggu (19/11/2017). Di Panti Asuhan, teman-teman BOCS akan melakukan rangkaian kegiatan seperti Penyampaian materi tentang; Manusia, Hutan dan Orangutan. Dilanjutkan dengan Pemutaran film pendek dan diskusi, ujar Ranti Selaku pembina teman-teman BOCS.

Berharap, semoga kegiatan PPO 2017 dapat berjalan sesuai dengan rencana dan mendapat respon baik dari masyarakat sebagai sumber informasi dan penyadartahuan untuk peduli terhadap orangutan sebagai satwa endemik dan habitatnya.

Tulisan ini juga dimuat di Kompasiana

UC Media

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Pongo tapanuliensis, Spesies Baru Orangutan yang Baru Saja Ditemukan oleh Para Peneliti

Persamaan dan perbedaan orangutan tapanuli dengan orangutan kalimantan dan orangutan sumatera. Foto dok. di batangtoru.org

Persamaan dan perbedaan orangutan tapanuli dengan orangutan kalimantan dan orangutan sumatera. Foto dok. di batangtoru.org

Memiliki bulu yang tebal, lebih keriting dan memiliki kumis, setidaknya itulah keunikan atau ciri khas orangutan yang baru ditemukan. Orangutan tersebut berdasarkan hasil penelitian dari peneliti disebut sebagai spesies baru orangutan yang ada setelah orangutan Kalimantan dan orangutan Sumatera.

Pongo tapanuliensis itulah nama latinnya dan orangutan tapanuli demikian ia disebut dan dinamakan kini oleh para peneliti. Mengapa nama orangutan tapanuli ia disebut?. Setidaknya ini menjadi  kabar bahagia sekaligus tantangan baru dengan keberadaannya (orangutan tapanuli) yang katanya sangat endemik atau langka karena populasinya dan habitatnya yang sangat sedikit ditemukan di wilayah Tapanuli, lebih khusus di Batang Toru.

Hasil survei populasi terakhir dari kerjasama para peneliti yang terdiri dari antara Universitas Nasional, Institut Pertanian Bogor, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, University of Zurich, Switzerland, Yayasan Ekosistem Lestari (Sumatran Orangutan Conservation Programme) dan Yayasan Orangutan Sumatera Lestari (Orangutan Information Center) menyebutkan saat ini,  adanya kurang dari 800 Orangutan Tapanuli yang tersisa di Ekosistem Batang Toru (Wich et al. 2016). Tak banyak lagi,  menjadikan status Orangutan Tapanuli sebagai spesies kera besar terlangka di dunia. Dengan demikian konservasi jenis ini menjadi perhatian dunia, dimana fokus utamanya adalah mempertahankan habitatnya saat ini. Orangutan Tapanuli akan dimasukkan ke dalam daftar spesies “sangat terancam punah” (Critically Endangered) berdasarkan IUCN Red List.

Mulanya, Orangutan Tapanuli dianggap sebagai populasi orangutan paling selatan dari spesies Orangutan Sumatera, Pongo abelii(Wich et al. 2003; Utami-Atmoko et al. 2017). Di tahun 2015, berdasarkan studi sebagian bahan genetik (polimorfisme nukleotida tunggal daerah d-loop mitokondria dan alel spesifik mikrosatelit) populasi Orangutan Sumatera di Batang Toru menunjukkan besarnya perbedaan dengan populasi orangutannya di utara Danau Toba (Rianti et al. 2015, Rianti et al. in prep.) sehingga cukup diarahkan menjadi rujukan subspesies baru untuk spesies Orangutan Sumatera (Pongo abeliitapanuliensis; Rianti 2015).

Apakah Pongotapanuliensis atau Orangutan tapanuli memiliki perbedaan dan kesamaan yang menonjol dengan kedua spesies sebelumnya (Pongo pygmaeus dan Pongo abelii) ?.

Berdasarkan kerjasama penelitian secara lebih mendalam oleh kelompok peneliti Indonesia dan mancanegara dalam bidang genomik, morfologi, ekologi, dan perilaku, dihasilkan fakta bahwa Orangutan Tapanuli secara taksonomi lebih dekat dengan Orangutan Kalimantan, Pongo pygmaeusdan perbedaan yang cukup besar terhadap populasi Pongo abelii, populasi Orangutan Sumatera di Batang Toru diajukan sebagai spesies baru bernama Pongo tapanuliensis(Nater et al. 2017). Orangutan tapanuli memiliki ukuran tengkorak dan tulang rahangnya lebih kecil. Orangutan jantan melakukan “long calls” (panggilan jarak jauh) dengan durasi panjang dan keras; panggilan jarak jauh Orangutan Tapanuli memiliki teriakan yang berbeda dari panggilan jarak jauh yang dilakukan oleh Orangutan Sumatera dan Orangutan Kalimantan. Sedangkan frekwensi pembuatan sarang untuk istirahat atau tidur malam lebih rendah daripada Orangutan Sumatera dan hampir sama dengan Orangutan Kalimantan. (Laporan dari para peneliti tentang Pongo tapanuliensis, Sumber: batangtoru.org).

Adanya penemuan spesies baru orangutan tapanuli ini tidak bisa disangkal menjadi berita bahagia bagi masyarakat Indonesia terlebih bagi para peneliti dan semakin menambah daftar kekayaan anggota baru keluarga satwa yang ada di Indonesia bahkan di dunia. Selain juga menjadi salah satu harapan agar para pihak untuk semakin peduli untuk menjaga, melindungi populasi dan habitat orangutan tapanuli agar tetap terjaga dan lestari hingga nanti.

Baca juga tulisan ini di Kompasiana : Ini Dia Spesies, Baru Orangutan yang Baru Saja Ditemukan

Bacaan  lengkap tentang Pongo_tapanuliensis

Petrus Kanisius-Yayasan Palung