Bencana Akibat Perbuatan, Alam Kah yang Salah?

Banjir Jelai Hulu dan wilayah sekitarnya yang terjadi beberapa waktu lalu. Foto dok. Monga dari berbagai sumber

Banjir Jelai Hulu dan wilayah sekitarnya yang terjadi beberapa waktu lalu. Foto dok. Monga.id dari berbagai sumber

“Banjir dan bencana yang terjadi, ini sebagai tanda alam dan lingkungan mulai tidak bersahabat dengan kita manusia”, itulah kira-kira ungkapan sesorang ketika menyatakan kejadian atau peristiwa seperti banjir  dan bencana lain yang terjadi. Apakah sesungguhnya demikian?.

Rentetan berbagai bencana (banjir, banjir bandang, tanah longsor dan lain akibat perbuatan bukan secara alami) yang terjadi di negeri ini acap kali menjadi sebuah tanda tanya. Tanda tanya tersebut tidak lain kecenderungan tak sedikit orang yang menyalahkan alam (lingkungan) apabila terjadi bencana.

Ada sebab pasti ada akibat, setidaknya itu yang terjadi terkait apapun itu dalam tatananan kehidupan kita. Ketika kaki tersandung cukup keras ke tanah atau batu pasti kaki sakit bahkan bisa luka atau bengkak. Demikian pula halnya dengan alam (lingkungan), Yang Maha Kuasa (Tuhan/Allah) menciptakan langit dan bumi beserta isinya tentu memiliki nilai, guna dan  manfaat.

Bumi dan segala isinya diciptakan untuk suatu keharmonisan bukan untuk keserakahan. Bumi isinya untuk penyambung nyawa, pemberi tak sedikit manfaat. Bumi itu titipan bukan warisan. Tengok saja, bila kita manusia tidak harmonis atau semakin serakah memperlakukan alam wajar saja kita akan menerima akibat (dampak) apa yang ditimbulkan.

Dari dampak ataupun akibat/konsekuensi tersebut bukan berarti alam sebagai biang tetapi mengapa sehingga muncul dampak, apa yang menyebabkan dampak tersebut. Jadi dengan demikian alam (lingkungan)kah yang salah bila terjadi bencana?.

Dulu tidak bisa disangkal, alam dan lingkungan masih sangat harmonis, tapi kini acap kali manusia yang membuat jarak atau membuat jurang pemisah. Lihat, berapa banyak hutan dan segala isinya yang (di/ter)korbankan, dimusnahkan, terkikis menjelang habis. Indonesia dikatakan telah kehilangan 840.000 hektar (3.250 mil persegi) hutan pada tahun 2012, demikan laporan yang disebutkan jurnal Nature Climate Change, melaui rilis mereka pada tahun 2014 lalu. Tidak terelakan pula hilangnya jutaan hektar luasan tutupan hutan sebagai penyerap dan penampung air sedikit banyak berdampak terjadinya banjir, banjir bandang dan tanah longsor.

Melihat data dan fakta tersebut diatas tak benar kiranya alam dan lingkungan yang disalahkan. Salah satu alasannya, alam/lingkungan tidak mungkin membinasakan atau merugikan sekelilingnya. Mengingat, alam (lingkungan) justru menjaga dan memilihara serta memberi manfaat. Bayangkan bila tidak ada hutan sebagai penyedia oksigen, mungkin kita sulit bernafas atau boleh dikata untuk bernafas perlu biaya besar, bila tak ada hutan mungkin  akan kesulitan air bersih.

Bencana alam yang terjadi sejatinya tidaklah menjadi keinginan tetapi dampak yang timbul dari sebab menjadi akibat. Maka dari itu, tidak tepat pula kiranya seseorang menyatakan bila terjadi bencana itu alam yang salah (penyebabnya). Justru dari kita manusia yang acap kali menjadi biang dari sebab musabab yang juga menimbulkan sebab menjadi akibat adanya korban harta dan bahkan terkadang korban nyawa.

Luasan tutupan memang tidak bisa disangkal dari tahun ke tahun semakin berkurang namun banyak cara untuk menjaga, melindungi dan menanam kembali hutan yang telah hilang atau rusak agar bisa tegak berdiri kokoh sebagai penopang, pelindung, penyeimbang bagi semua yang mendiami bumi ini.

Alam (lingkungan) sejatinya telah ditakdirkan sebagai titipan bukan warisan, dengan demikian pula sudah menjadi kewajiban dari generasi ke generasi siapapun itu untuk selalu menjaga dan melestarikan lingkungan sebagai titipan hingga nanti. Semoga saja alam (lingkungan tidak selalu disalahkan) melainkan kita bisa berkaca pada bencana yang terjadi apa penyebabnya.

Lihat video Banjir  dok. santix leader, yang terjadi pekan lalu di daerah di Kec. Tumbang Titi dan Jelai Hulu

Banjir Air Mata Benuaq Tanjung (Film Dokumenter)

Tulisan ini juga dimuat di  Kompasiana: Bencana Akibt Perbuatan, Alam yang Salah?

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Iklan

About yayasanpalung

Yayasan Palung, berdiri sejak tahun 2002. Yayasan Palung (YP) merupakan lembaga non profit yang bekerja untuk konservasi orangutan dan habitat serta pengembangan masyarakat. Yayasan Palung bekerja dengan semua pihak yang mempunyai tujuan sama untuk perlindungan terhadap orangutan dan habitat di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara.

Posted on 8 September 2017, in Berita umum dan khusus, YP. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: