Monthly Archives: Mei 2017

Berbagi Cerita tentang Kehidupan Orangutan Lewat Radio

IMG-20170520-WA0006.jpg

Wahyu Susanto dan Desi Kurniawati saat berbagi cerita tentang orangutan lewat radio. Foto dok. Yayasan Palung

Kamis (18/5/2017) kemarin, lewat Radio Kabupaten Ketapang (RKK) teman-teman dari Peneliti orangutan yang meneliti di Stasiun Penelitian Cabang Panti (SPCP), Taman Nasional Gunung Palung (TNGP) berbagi Cerita tentang kehidupan orangutan di alam liar melalui penelitian.

Adalah Wahyu Susanto yang juga merupakan Direktur Penelitian Yayasan Palung berkesempatan hadir untuk berbagi cerita lewat radio yang disiarkan melalui radio RKK, FM 95.20 MHz- 1044 KHz gelombang 288 meter dan di pandu oleh Desi Kurniawati.

IMG-20170520-WA0004.jpg

Wahyu Susanto saat berbagi cerita di radio RKK. Foto dok. Yayasan Palung

Ragam cerita seperti rutinitas peneliti yang mengikuti kehidupan orangutan mulai dari pagi hingga sore hari, perilaku orangutan dan manfaat penting dari orangutan sebagai satwa endemik yang memiliki ragam manfaat bagi kehidupan satwa lainnya termasuk bagi manusia.

Diceritakan juga mengapa penelitian itu penting lebih khusus orangutan, salah satunya karena sebagai upaya agar orangutan bisa untuk terus berlaanjut hingga nanti (tidak punah) dan perlu adanya penelitian sebagai sumber ilmu pengetahuan.

Berbagi informasi terkait orangutan sangat perlu disampaikan kepada semua pihak, mengingat kehidupan orangutan di alam liar lebih khusus karena orangutan adalah satwa yang sudah sangat terancam punah yang harus dilestarikan hingga nanti.

Pit -Yayasan Palung

Stop Membeli Produk yang Berasal dari Hewan Dilindungi!

“Stop Membeli Produk yang Berasal dari Hewan Dilindungi! Karena Membeli sama dengan Mendukung Kejahatan dan Mempercepat Kepunahannya”

Petugas BKSDA Kalimantan Barat menunjukkan barang bukti yang disita dari sebuah toko aksesoris di Singkawang, Kalbar 22 April 2016 tahun lalu. Foto dok. KOMPAS.com, YOHANES KURNIA IRAWAN.jpg

Petugas BKSDA Kalimantan Barat menunjukkan barang bukti yang disita dari sebuah toko aksesoris di Singkawang, Kalbar 22 April 2016 tahun lalu. Foto dok. KOMPAS.com, YOHANES KURNIA IRAWAN

Jika kita sayang dia (satwa/hewan dilindungi) dan inginkan satwa/hewan dilindungi tetap ada tentu kita tidak mendukung adanya produk-produk yang dijual dipasaran. Membeli produk-produk yang berasal dari satwa dilindungi sama saja artinya dengan mendukung kejahatan dan mempercepat kepunahan mereka (satwa/hewan dilindungi).

Produk-produk yang berasal dari bagian-bagian/tubuh hewan dilindungi tentu saja tidak boleh sama sekali dilakukan. Apa lagi berkaca kepada penguatan UU no. 5 tahun 1990 tentang Perlindungan satwa dilindungi. Dalam UU no 5 tahun 1990 tersebut, menyebutkan bagi pelanggar/pelaku yang melakukan transaksi jual beli satwa/hewan dilindungi maka akan dikenakan sanksi 5 tahun penjara dan denda 100 juta rupiah.

Sebut saja, produk-produk yang berasal dari tubuh-tubuh hewan/hewan dilindungi tidak sedikit kita jumpai dijual bebas dipasaran, bahkan ada bagian tubuh/hewan yang dijual secara online pula. Berbagai alasan dan cara yang ditawarkan oleh oknum ataupun pelaku yang menjajakan bagian-bagian dari satwa dilindungi seperti tanpa beban dan itu seharus tidak boleh terjadi. Kondisi seperti ini tentunya sangat disayangkan dan memprihatinkan terjadi…

Baca Selengkapnya di : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/stop-membeli-produk-yang-berasal-dari-hewan-dilindungi_591003c42123bdda0f1fce40
Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Berjumpa Ragam Peninggalan Tradisi Budaya Leluhur di Desa Demit, Ketika Kami Melaksanakan Ekspedisi Pendidikan Lingkungan

Teronong warisan kakek-nenek, untuk tempat menyimpan lebah madu. Foto dok. Pit Yayasan Palung

Teronong warisan kakek-nenek, untuk tempat menyimpan lebah madu. Foto dok. Pit Yayasan Palung

Ragam jenis anyaman-anyaman tradisional budaya leluhur seperti bahan dari bahan baku bambu masih kami jumpai di Desa Demit. Anyaman seperti Kampik, ragak atau bakul dengan beraneka motif tersebut menurut masyarakat setempat termasuk sudah jarang dijumpai mengingat orang tua yang menganyam beraneka motif tersebut sudah tidak banyak lagi yang bisa menganyamnya karena kesulitan menganyam motifnya dan beberapa peninggalan tradisi leluhur lainnya. Hal tersebut saya dan kawan-kawan dari Yayasan Palung menjumpainya ketika melakukan ekspedisi di beberapa desa di Kecamatan Sandai, Ketapang, Kalbar  (25-29 April 2017), bulan lalu.

Keberadaan aneka anyaman tersebut selain beruntung kami jumpai, tetapi juga karena ada sosok pelestari budaya tradisi masyarakat setempat (di desa Demit). Tidak hanya anyam-anyaman, tetapi juga beberapa ciri khas alat (perlengkapan) bagi masyarakat dalam menjalani kehidupan sehari-hari di  desa tersebut pula. Sosok yang boleh dikata pelestari budaya tersebut adalah bapak Alteban, 44 tahun.

Secara tidak sengaja, kata itulah yang dapat saya katakan. Tidak sengajanya, ketika kami kami ngobrol-ngobrol ringan bapak 3 anak tersebut bercerita tentang keseharian beliau sedang membuat/menganyam uncang (kerepai) tempat atau wadah yang dulu adalah tempat peluru senapan. Tetapi uncang (kerepai) yang ia buat saat ini tidak lagi digunakan untuk wadah untuk peluru senapan tetapi hanya untuk aksesoris seperti gantungan kunci, untuk tempat (wadah ) rokok, dompet ataupun juga untuk tempat handpone. Uncang/kerepai, bahan-bahannya terbuat dari kulit kayu gentoli dan rotan.

Kulit kayu dibentuk selanjutnya dibalut dengan anyaman rotan. Bila boleh dikata, uncang/kerepai adalah tas jaman dulu yang sekarang mulai dilesarikan lagi karena bentuknya yang unik dan menarik. Adapun untuk harga, uncang/kerepai yang ukurannya kecil (untuk gantungan kunci) harganya 50 ribu rupiah. Ukuran sedang untuk tempat handpone/tempat dompet harganya 200 ribu rupiah dan ukuran yang paling besar (bisa digunakan untuk tempat laptop) harganya 500-600 ribu rupiah.

Aneka anyaman tersebut boleh dikata sudah langka karena sudah tidak banyak lagi, generasi muda tidak bisa lagi menganyam motif rumit tersebut. Tercatat menurut pengakuan bapak Alteban, saat ini di desanya tersisa 1 orang generasi yang bisa menganyam motif dari aneka anyaman tersebut. Adapun motif anyaman yang dimaksud adalah motif paku ikan (motif anyaman berbentuk tanaman paku-pakuan). Beberapa anyaman ragak/bakul/kampik saat masyarakat menugal padi, anyaman ini sebagai wadah benih padi. Dikata sebagai pelestari budaya, Alteban juga menunjukan beberapa barang-barang yang merupakan budaya tradisional masyarakat yang sudah dikatakan langka. Barang-barang tradisional (peninggalan jaman dulu) dari nenek-kakek ujar bapak Alteban. Bapak Alteban memperlihatkan barang-barang peninggalan nenek-kakek yang lainnya adalah Tronong, demikian masyarakat  Demit menyebutnya.
Menurut cerita Alteban, Tronong merupakan wadah (tempat) menyerupai penangkin. Bagi masyarakat setempat, dulunya Tronong digunakan oleh masyarakat untuk tempat menyimpan madu saat memanjat/menjatak lebah madu. Saat mengambil lebah madu, seseorang harus membawa tronong dan tebaok. Tebaok adalah bahan yang terbuat dari jenis kayu akar nama kayunya kebak (tebaok digunakan untuk pengasapan sarang lebah madu), ujar Alteban.

Saya dan kawan-kawan yang berkesempatan datang ke Desa Demit juga diberi oleh-oleh buah hutan, buah kekupak namanya. Menurut masyarakat setempat, buah kekupak sangat berguna untuk penangkal roh jahat. Dengan kata lain, buah kekupak memiliki fungsi untuk menangkal roh jahat dan menghindari dari marabahaya. Sebagian besar anak kecil di Desa Demit menggunakan kekupak untuk dijadikan kalung sebagai penjaga agar terhindar dari penyakit dan marabahaya serta sebagai pelindung semangat jiwanya.

Lebih lanjut Alteban bercerita tebaok yang digunakan untuk pengusir lebah madu saat mengambil madu, ternyata di masyarakat setempat tebaok dipercaya untuk mengusir ragam penyakit. Caranya, tebaok yang dibakar, abunya diusapkan kebagian tubuh (badan yang sakit).

Alteban juga memperlihatkan tombak yang menurut ceritanya peninggalan dari Sang Kakeknya, adapula mandau. Bagi masyarakat di Demit, bapak Alteban selalu diundang saat ada acara kampungnya atau di Sandai ketika ada tamu datang karena selain sebagai sosok pelestari budaya, Alteban juga sangat trampil menari. Sebagian besar, masyarakat di Demit adalah petani padi dan penoreh getah (penyadap karet). Beberapa masyarakatnya juga adalah pekerja dan pekerja di perkebunan sawit. Ada juga masyarakat yang membuat sengkalan (tempat untuk mengiris bawang/bumbu dapur) dapat juga digunakan untuk alas pemotong daging. Sangkalan dibuat dari sisa-sisa potongan batang kayu leban dan ulin. Bila leban harganya 20 ribu rupiah. Sedangkan sengkalan dari kayu ulin harganya 40-50 ribu rupiah.

Saat kami lecture, materi yang kami sampaikan adalah manfaat hutan dan orangutan bagi manusia. Saat bermain boneka/panggung boneka di Sekolah Dasar (SD) kami bertutur tentang hutan dan orangutan yang kondisinya semakin terhimpit.
Sedangkan diskusi, kami mendengar keluh kesah ataupun juga potensi yang ada didesa. Saat pemutaran film, kami juga  menyampaikan sosialisasi tentang satwa dilindungi seperti orangutan, kelempiau, bekantan, trenggiling, enggang dan lain sebagainya.

Adapun asal usul nama Desa Demit, menurut masyarakat setempat awalnya karena di desa tersebut kala itu 3 kali pindah kampung dan akhirnya menetap di Desa Demit. Menurut cerita Pak Jamin, salah seorang tokoh masyarakat di desa Demit menuturkan; dulu,  karena wabah penyakit berupa diare dan ada satu kejadian dalam waktu singkat 5 ibu-ibu kala itu melahirkan bayi, tetapi bayinya meninggal. Sebagian besar masyarakat menganggap peristiwa tersebut sebagai wabah penyakit hantu (demit). Dari dulu hingga sekarang telah berumur 30 tahun. Untuk menjangkau daerah ini (Desa Demit) dilalaui dengan jarak tempuh 105,97 km dari Ketapang.

Semua rangkaian kegiatan ekspedisi ke desa-desa yang kami Yayasan Palung lakukan berjalan sesuai dengan rencana dan lancar dan mendapat sambutan baik dari masyarakat.

Petrus Kanisius – Yayasan Palung

Tulisan Selengkapnya dapat dibaca di : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/berjumpa-ragam-peninggalan-tradisi-budaya-leluhur-di-desa-demit_590a9fa81fafbdb6083a9e58

Berbagi Cerita Saat di Stasiun Penelitian Cabang Panti, Gunung Palung    

DSCN0558.JPG

Foto ketika memproses sampel feses dengan metode FPS. Foto  dok. Becky C.

Jika boleh dikata, Stasiun Penelitian Cabang Panti merupakan rumah bagi jutaan spesies hewan dan tumbuhan hidup didalamnya. Stasiun penelitian yang terletak di Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat. Cabang Panti, memiliki luas wilayah 2.100 hektare dengan 7 jenis hutan yang tersebar di dalamnya seperti; rawa air tawar, rawa gambut, batuan berpasir dataran rendah, granit dataran tinggi, pegunungan, kerangas dan tanah alluvial. Fakta-fakta menakjubkan tersebut yang membuat saya terkagum-kagum.

Bermula ketika saya ditawari program magang di Stasiun Penelitian Cabang Panti, saya sanggupi itu karena sudah sejak lama saya dengar tentang Stasiun Penelitian dan saya belum pernah kesampaian untuk pergi kesana. Untuk perjalanan pertama saya naik kesana tanggal 8 April 2017 yang lalu, butuh waktu cukup lama kurang lebih sekitar 7 jam perjalanan. Saya berangkat menuju tempat yang dimaksud bersama Beth Barrow, Manajer Proyek KKL, Becky Curtis, (Asisten manager Orang Hutan), dan Terry Breden, Direktur Program Yayasan Palung . Tawaran itu menurut saya sangat menyenangkan.

Ketika sampai di Cabang Panti, saya semakin kagum dengan paparan pemandangan yang indah dimana banyak bangunan-bangunan sederhana ditengah hutan lebat ini dengan banyak orang ramah didalamnya, menakjubkan dan salah satu bangunan tersebut seperti camp besar, camp nyamuk, camp litho dan camp pantai.

DSCN0427.JPG

Salah satu bangunan di Cabang Panti (camp litho dan camp nyamuk). Foto dok. M.Syainullah

Hari berganti hari dan saya masih bersemangat untuk belajar di sana sampai saya mulai terbiasa untuk berjalan sendiri dihutan.

Beragam hal yang saya pelajari selama disana seperti mengikuti orangutan dari mulai bangun pagi sekali sekitar pukul setengah 3 pagi untuk bersiap-siap turun kehutan dan berharap bisa sampai disarangnya sebelum dia (orangutan) bangun dan mulai beraktifitas.

DSCN0956.JPG

Walimah, salah satu orangutan yang saya ikuti selama di Cabang Panti. Foto dok. M. Syainullah

Untuk mengambil sampel urin dan feses (kotoran orangutan) idealnya ketika orangutan pertama kali bangun pagi karna setiap dia bangun pagi orangutan langsung buang air besar dan kecil sehingga memudahkan saya untuk mengambil sampel tersebut setelah itu saya memproses sampel urin dan feses tersebut di camp dengan metode-metode yang telah diajarkan kepada saya salah satunya seperti metode FPS dan metode pembekuan sampel urin.

Mungkin banyak yang penasaran untuk apa saya capek-capek memproses sampel kotoran dari mulai di lapangan hingga di laboraturium, jawabanya adalah, banyak seperti untuk identifikasi orangutan dengan proses identifikasi DNA dan untuk mengetahui seberapa luas penyebaran biji yang dilakukan oleh orangutan. Lalu pada malam harinya saya istirahat dan bersiap untuk beraktifitas esok hari dan saya rasa setiap hari adalah hari yang menakjubkan ketika saya berada di Cabang Panti.

DSCN0249.JPG

Saat mengikuti orangutan di Cabang Panti

Salah satu orangutan yang saya ikuti adalah Walimah, orangutan betina ini seperti sudah terbiasa dengan adanya manusia yang mengamati disekelilingnya. Seperti ketika orangutan mengeluarkan suara kiss squeak (budaya orangutan ketika merasa terancam jika ada orangutan lain yang berusaha mendekati wilayahnya). Biasanya suara tersebut terdengar seperti suara kecupan yang nyaring.

Selama disana ketika belajar bagaimana cara memahami budaya orangutan, saya sadar bahwa penting untuk melindungi orangutan dengan melihat peranan orangutan yang begitu penting bagi hutan sebagai salah satu penyebar biji sebagai cikal bakal hutan tetap ada bagi kehidupan serta bermanfaat sebagai penjabaran ilmu pengetahuan, salah satunya seperti penelitian dan konservasi.

Muhammad Syainullah-Relawan Konservasi TAJAM