Pembukaan Lahan Gambut di Sungai Putri Dihentikan, Angin Segar Bagi Habitat dan Orangutan untuk Terus Berlanjut

Pembangunan kanal di Sungai Putri mengancam habitat orangutan dan rentan kebakaran lahan. foto capture via BBC Indonesia.jpg

Pembangunan kanal di Sungai Putri mengancam habitat orangutan dan rentan kebakaran lahan. foto capture via BBC Indonesia

Dari judul diatas setidaknya menjadi kabar baik dan berita gembira bagi sebagian besar masyarakat dan beberapa lembaga lingkungan, sekaligus juga angin segar bagi habitat dan orangutan yang mendiami wilayah ini.

Angin segar dari penghentiaan pembukaan lahan yang sebagian besarnya gambut atau sekitar 50.000 ha lahan gambut tersebut menyimpan tidak sedikit cadangan sumber hidup bagi semua masa depan makhluk hidup tidak terkecuali manusia yang tinggal diwilayah tersebut. Mengingat, diwilayah tersebut didiami sekitar 1000 an lebih individu orangutan.

Benar saja, Gambut di Sungai Putri, Kec. Matan Hilir Utara, Ketapang, Kalbar merupan wilayah yang mana termasuk gambut dalam dan memiliki peranan penting bagi tidak sedikit makhluk hidup untuk berlanjut.

Di wilayah gambut inilah habitat ragam makhluk hidup dan orangutan. Foto dok. YIARI.jpg

Di wilayah gambut inilah habitat ragam makhluk hidup dan orangutan. Foto dok. YIARI

Kabar tersebut langsung dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menginstruksikan agar semua pembangunan di Sungai Putri, Kalimantan Barat, segera dihentikan karena masuk dalam Peta Indikatif Restorasi Gambut, (sumber; foresthints.news).

Iya benar saja, rata-rata kedalaman gambut di Sungai Putri adalah 6,62 meter, berdasarkan data HCV survei FFI tahun 2012. Dengan demikian boleh dikata gambut di Sungai Putri merupakan gambut dalam yang tidak sedikit memiliki arti penting bagi semua makhluk hidup yang mendiami wilayah ini untuk terus bisa berlanjut bila gambut ini tidak diganggu gugat.

Setidaknya dari data tentang kedalaman gambut ini (6,62 meter) merupakan setengah dari kedalaman tertinggi gambut yang paling dalam mencapai 12 meter. Gambut dalam (6,62 meter) di Sungai Putri menjadi salah satu alasan kuat sebagai wilayah yang harus dipertahankan. Tidak hanya sebagai keberlanjutan habitat (tempat hidup) bagi setidaknya kurang lebih seribuan lebih orangutan dan satwa lainnya, tetapi juga bagi manusia. Apabila wilayah ini dipertahankan sudah hampir pasti bisa menyelamatkan beragam satwa dan yang terpenting adalah tetap tersedianya sumber air.

Sebaliknya, bila wilayah gambut dibuka akan menimbulkan beberapa dampak yang tidak sedikit bagi masyarakat, antara lain; pertama, sumber air semakin sulit untuk didapat. Kedua, rentan terjadi kebakaran lahan. Mengingat, bila lahan gambut terbakar hampir pasti semakin sulit untuk dilakukan pemadamaman karena api yang tersulut dilahan gambut akan menyebar ke dasar  dan cenderung merambat. Hal lainnya adalah bila hilangnya gambut dalam menjadi kekhawatiran lainnya termasuk ancaman hilngnya bagi tidak sedikit makhluk hidup yang mendiami wilayah tersebut.

 

Seperti diberitakan sebelumnya, PT. Mohairson Pawan Khatulistiwa (PT. MPK) di wilayah ini sedang dibangun kanal sepanjang sembilan kilometer. Namun, setelah ada perintah penghentian dari pemerintah PT. MPK sudah berhenti beroperasinya diwilayah tersebut. (sumber; BBC Indonesia).

Hingga saat ini, belum diketahui pasti apakah PT. MPK akan diberi sanksi atau tidak oleh pihak pemerintah.

Mengingat juga wilayah gambut/hutan gambut memiliki arti penting bagi dunia konservasi (hutan rawa gambut memiliki nilai konservasi tinggi), tidak hanya sebagai tempat hidup dan berkembang biak makhluk hidup, tetapi juga sebagai penyimpan sumber air. Kabar baiknya apabila di wilayah ini bisa diselamatkan, setidaknya memberi harapan bagi semua makhluk hidup untuk terus berlanjut hingga nanti.

Semoga saja, lahan gambut yang ada di Sungai Putri ini dapat lestari dan menjadi tempat yang aman, nyaman bagi semua makhluk hidup hingga nanti. Berharap juga, wilayah-wilayah di Indonesia yang memiliki lahan gambut dapat terus untuk diselamatkan.

tulisan yang sama juga dapat dibaca di : Angin Segar bagi Habitat dan Orangutan dengan Dihentikannya Pembukaan Lahan Gambut di Sungai Putri

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

 

 

 

Iklan

About yayasanpalung

Yayasan Palung, berdiri sejak tahun 2002. Yayasan Palung (YP) merupakan lembaga non profit yang bekerja untuk konservasi orangutan dan habitat serta pengembangan masyarakat. Yayasan Palung bekerja dengan semua pihak yang mempunyai tujuan sama untuk perlindungan terhadap orangutan dan habitat di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara.

Posted on 29 Maret 2017, in YP. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: