Asyiknya Fieldtrip Bersama Para Pihak di Hutan Lubuk Baji Kawasan Penyangga TNGP

WS_Lubuk Baji_ 170321_074.JPG

Saat peserta Fieldtrip menuju Lubuk Baji. Foto dok. Wahyu Susanto

Tak hanya kunjungan lapangan (fieldtrip), namun menjelajahi hutan bisa dikata banyak hal yang dapat dilakukan diantaranya mengembangkan sinergisitas dengan para pihak. Setidaknyanya itulah yang Yayasan Palung (GPOCP) dan BTNGP dengan Para Pihak lakukan selama tiga hari (14-16 Maret 2017) kemarin, di Lubuk Baji yang merupakan Kawasan Penyangga Taman Nasional Gunung Palung.

Selama berkegiatan, terlihat capek dari raut wajah peserta yang baru pertama alias jaran mengunjungi hutan. Apabila boleh dikata, mereka terlihat capek, ngos-ngosan menjelajahi dan naik turun bukit selain jarang mengunjungi hutan juga karena faktor usia dan postur badan yang berisi. Hehehe…

Akan tetapi, rasa capek yang mereka rasakan dijamin terbayar lunas dengan hamparan hutan di sekitar kawasan menuju hingga saat berada (sampai) di kawasan Lubuk Baji, TNGP. Benar saja, ragam suara enggang, kelempiau sesekali akrab terdengar tak jauh dari kami, namun enggan menampakan dirinya. Demikian juga suara pancuran air terjun Lubuk Bengkik atau juga Riam Lubuk Baji begitu bergemuruh terdengar. Sesekali beberapa peserta tidak sabar untuk turun karena tergoda dan berkendak membasmi keringat yang telah menyatu saat dalam perjalanan dan melepas dahaga dengan segar dan sejuknya air yang terjun tiada berhenti turun dari ketinggian kurang lebih 10 meter tentu hal yang mengasyikan dan menyenangkan.

WS_Lubuk Baji_ 170321_117.JPG

Merasakan kesegaran air terjun Lubuk Baji. Foto dok. Wahyu Susanto

Satu setengah jam perjalanan dari Dam Begasing menuju Lubuk Baji. Setelah sampai, sebagian besar peserta fieldtrip para pihak bersiap membasuh tubuh alias mandi dengan segar dan sejuknya air sungai yang mengalir di dekat Camp Lubuk Baji.

Di hari pertama, beberapa kegiatan seperti pemaparan beberapa program kegiatan yang dilakukan oleh Yayasan Palung disampaikan kepada para pihak. Terri Breeden, selaku direktur Yayasan Palung mempresentasikan kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Yayasan Palung diantaranya melalui Program Perlindungan Satwa, Pendidikan Lingkungan dan media kampanye, Program Livelihood telah bersentuhan langsung dengan masyarakat. Seperti misalnya melalui beberapa program yang Yayasan Palung memiliki dampak postif dan bisa berlanjut hingga saat ini. Sedangkan presentasi tentang penelitian disampaikan oleh Wahyu Tri Susanto sebagai Direktur Penelitian Yayasan Palung. Wahyu, menjelaskan Gunung Palung, sebagai Taman Nasional, Gunung Palung memiliki  tipe habitat yang lengkap (8 tipe habitat hutan). monitoring satwa; tidak hanya orangutan, tetapi satwa lain seperti kelasi kelempiau dan keanekaraman tumbuhan bisa dijumpai ditempat ini. Jika pengunjung ramai dan agak ribut sedikit sulit untuk bersua/berjumpa dengan orangutan. Selain itu, di TNGP memiliki kelimpahan  satwa.

Demikian juga dengan TNGP menyampaikan presentasi kepada para pihak. Penjelasan terkait luas wilayah TNGP yang semula 90.000 ha, kini bertambah menjadi 108.000 ha. Dimana 80 % nya berada di wilayah KKU, 20 % nya berada di Ketapang. Lubuk Baji merupakan zona pemanfaatan; saat ini LB adalah untuk wisata. 3 prinsip dalam pengelolaan kawasan; perlindungan, pengawetan dan pemanfaatan. Harapan kedepannya, ada kesempatan bersama untuk tujuan rumusan sinergisitas antar pihak, demikian dipaparkan oleh Bapak Bambang selaku Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah 1 Sukadana.

Mengembangkan sinergisitas yang tidak lain sebagai upaya pelestarian dan perlindungan lingkungan hidup merupakan tanggung jawab bersama seluruh komponen di dalam sebuah negara yaitu masyarakat, organisasi non pemerintah, pemerintah dan pihak swasta yang berada di dua wilayah kabupaten (Kayong Utara dan Ketapang), Kalbar. Para pihak terutama pemerintah dan organisasi non pemerintah memiliki agenda masing-masing dalam upaya tersebut yang perlu disinergiskan agar dapat saling mengisi dan mendukung. Dengan kata lain kegiatan ini bertujuan; Pertama, Mengembangkan sinergisitas program antara Yayasan Palung, Stasiun Riset Cabang Panti (SPCP), Balai Taman Nasional Gunung Palung (BTNGP) dan SKPD Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara. Kedua, Meningkatkan kerjasama antara para pihak dan ketiga, Rekreasi dan Refreshing ke Taman Nasional Gunung Palung. Atau dengan kata lain tujuan dari kegiatan ini singkatnya adalah membangun sinergisitas para pihak untuk perlindungan kawasan dengan ragam kegiatan yang mungkin bisa disingkronkan untuk dilakukan secara bersama-sama pula.

WS_Lubuk Baji_ 170321_166.JPG

Terri Breeden saat menyampaikan presentasi kepada para pihak. Foto dok. Wahyu Susanto

Di hari kedua, peserta diajak untuk mendiskusikan apa-apa saja kegiatan yang bisa dilakukan secara bersama-sama para pihak. Mengingat, Kawasan TNGP dan masyarakat menjadi tanggungjawab semua pihak untuk perlindungan kawasan dan mengembangkan potensi-potensi yang ada di sekitar kawasan. Seperti misalnya, Lubuk Baji yang berada didalam kawasan penyangga yang tidak lain juga sebagai sebagai zona pemanfaatan untuk  ekowisata, penelitian dan pendidikan. Kawasan Lubuk Baji sangat berpotensi sebagai sumber air bersih karena kawasan hutan di wilayah ini masih terjaga. Demikian juga dengan ragam tumbuh-tumbuhan seperti anggrek dan satwa. Selanjutnya, dilanjutkan dengan diskusi rencana tindak lanjut (RTL) antara lain berupa kerjasama antara instansi yang hadir dan juga melibatkan instansi yang tidak hadir. Pentingnya kersama  dari berbagai pihak di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara ini sangat penting untuk perlindungan kawasan konservasi.

Para pihak yang mengikuti kegiatan ini menyambut baik dengan adanya rencana kerjasama (sinegisitas) bersama disekitar kawasan TNGP. Setelah penyusunan RTL, dilajutkan pembacaan puisi lingkungan oleh Yohanes Terang, Aktivis dan tokoh masyarakat, penulis buku; Menjaga Yang Tersisa, Beliau sekaligus juga sebagai Pembina Yayasan Palung. Puisi tentang, Gunung Palung Yang Agung Nafas Penyambung.

Pada hari ketiga, kegiatan diisi dengan kegiatan santai karena hari terakhir berkegiatan. Sekitar pukul 05.30 Wib untuk melakukan Pengamatan Fauna dan Hunting Sunrise ke Batu Bulan. Dari Batu Bulan, jika cuaca bersahabat kita akan melihat pemandangan yang memanjakan mata antara lain melihatnya mentari yang muncul dan pemandangan persawahan masyarakat di Desa Sedahan Jaya, Kab. KKU dan tampak Gunung Palung didepan. Tidak jarang ada yang mengatakan dari Batu Bulan  tak ubah berada di negeri diatas awan.

Sekilas tentang asal usul Lubuk Baji

Nama Lubuk Baji berlatar belakang legenda seseorang pekerja yang kehilangan sebuah baji (pasak) di sekitar sebuah lubuk. Si pekerja terus melakukan pencaharian tetapi tidak ditemukan. Sejak saat itulah tempat ini dinamakan Lubuk Baji. Lubuk Baji memiliki ketinggian kurang lebih 10 meter, dengan suasana sejuk dikelilingi pepohonan menjadi tempat yang menarik untuk beristrahat dan sekedar berfoto.

Asal Usul Batu Bulan

Menurut masyarakat setempat, saat bulan purnama batu ini (batu bulan) seperti memantulkan cahaya bulan purnama bila dilihat dari arah perkampungan terdekat, sehingga masyarakat menamakan batu ini batu bulan.

Direktur Yayasan mengatakan; melalui fieldtrip ini merupakan sukses besar, ini sebagai kesempatan yang indah untuk semua organisasi yang bekerja untuk melindungi Kawasan Taman Nasional Gunung Palung dan lanskap sekitarnya untuk mengalami keindahan daerah ini yang ditawarkan. Kami mampu untuk keluar dari kantor dan bekerja sama untuk membuat komitmen baru untuk konservasi dan masyarakat lokal.

WS_Lubuk Baji_ 170321_255.JPG

Peserta Fieldtrip saat merasakan sunrise di Batu Bulan. Foro dok. Wahyu Susanto

Setidaknya ada 16 orang peserta fieldtrip para pihak yang terdiri dari BTNGP, Yayasan Palung, SPCP BKSDA SKW 1 Ketapang, Bappeda Kab. Ketapang dan Kab.Kayong Utara dan Kepolisian Resort KKU. Fieldtrip yang dilaksanakan oleh para pihak tersebut berjalan sesuai rencana, sebelum pulang kami menyempatkan diri untuk operasi semut (membersihkan sampah) dan berfoto bersama.

Baca juga tulisan yang sama di : Yayasan Palung bersama BTNGP Adakan Fieldtrip dengan Para Pihak

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

 

 

 

 

Iklan

About yayasanpalung

Yayasan Palung, berdiri sejak tahun 2002. Yayasan Palung (YP) merupakan lembaga non profit yang bekerja untuk konservasi orangutan dan habitat serta pengembangan masyarakat. Yayasan Palung bekerja dengan semua pihak yang mempunyai tujuan sama untuk perlindungan terhadap orangutan dan habitat di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara.

Posted on 29 Maret 2017, in Berita umum dan khusus, Gunung Palung, Kegiatan Yayasan Palung, Penelitian, YP. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: