Monthly Archives: Maret 2017

Pembukaan Lahan Gambut di Sungai Putri Dihentikan, Angin Segar Bagi Habitat dan Orangutan untuk Terus Berlanjut

Pembangunan kanal di Sungai Putri mengancam habitat orangutan dan rentan kebakaran lahan. foto capture via BBC Indonesia.jpg

Pembangunan kanal di Sungai Putri mengancam habitat orangutan dan rentan kebakaran lahan. foto capture via BBC Indonesia

Dari judul diatas setidaknya menjadi kabar baik dan berita gembira bagi sebagian besar masyarakat dan beberapa lembaga lingkungan, sekaligus juga angin segar bagi habitat dan orangutan yang mendiami wilayah ini.

Angin segar dari penghentiaan pembukaan lahan yang sebagian besarnya gambut atau sekitar 50.000 ha lahan gambut tersebut menyimpan tidak sedikit cadangan sumber hidup bagi semua masa depan makhluk hidup tidak terkecuali manusia yang tinggal diwilayah tersebut. Mengingat, diwilayah tersebut didiami sekitar 1000 an lebih individu orangutan.

Benar saja, Gambut di Sungai Putri, Kec. Matan Hilir Utara, Ketapang, Kalbar merupan wilayah yang mana termasuk gambut dalam dan memiliki peranan penting bagi tidak sedikit makhluk hidup untuk berlanjut.

Di wilayah gambut inilah habitat ragam makhluk hidup dan orangutan. Foto dok. YIARI.jpg

Di wilayah gambut inilah habitat ragam makhluk hidup dan orangutan. Foto dok. YIARI

Kabar tersebut langsung dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menginstruksikan agar semua pembangunan di Sungai Putri, Kalimantan Barat, segera dihentikan karena masuk dalam Peta Indikatif Restorasi Gambut, (sumber; foresthints.news).

Iya benar saja, rata-rata kedalaman gambut di Sungai Putri adalah 6,62 meter, berdasarkan data HCV survei FFI tahun 2012. Dengan demikian boleh dikata gambut di Sungai Putri merupakan gambut dalam yang tidak sedikit memiliki arti penting bagi semua makhluk hidup yang mendiami wilayah ini untuk terus bisa berlanjut bila gambut ini tidak diganggu gugat.

Setidaknya dari data tentang kedalaman gambut ini (6,62 meter) merupakan setengah dari kedalaman tertinggi gambut yang paling dalam mencapai 12 meter. Gambut dalam (6,62 meter) di Sungai Putri menjadi salah satu alasan kuat sebagai wilayah yang harus dipertahankan. Tidak hanya sebagai keberlanjutan habitat (tempat hidup) bagi setidaknya kurang lebih seribuan lebih orangutan dan satwa lainnya, tetapi juga bagi manusia. Apabila wilayah ini dipertahankan sudah hampir pasti bisa menyelamatkan beragam satwa dan yang terpenting adalah tetap tersedianya sumber air.

Sebaliknya, bila wilayah gambut dibuka akan menimbulkan beberapa dampak yang tidak sedikit bagi masyarakat, antara lain; pertama, sumber air semakin sulit untuk didapat. Kedua, rentan terjadi kebakaran lahan. Mengingat, bila lahan gambut terbakar hampir pasti semakin sulit untuk dilakukan pemadamaman karena api yang tersulut dilahan gambut akan menyebar ke dasar  dan cenderung merambat. Hal lainnya adalah bila hilangnya gambut dalam menjadi kekhawatiran lainnya termasuk ancaman hilngnya bagi tidak sedikit makhluk hidup yang mendiami wilayah tersebut.

 

Seperti diberitakan sebelumnya, PT. Mohairson Pawan Khatulistiwa (PT. MPK) di wilayah ini sedang dibangun kanal sepanjang sembilan kilometer. Namun, setelah ada perintah penghentian dari pemerintah PT. MPK sudah berhenti beroperasinya diwilayah tersebut. (sumber; BBC Indonesia).

Hingga saat ini, belum diketahui pasti apakah PT. MPK akan diberi sanksi atau tidak oleh pihak pemerintah.

Mengingat juga wilayah gambut/hutan gambut memiliki arti penting bagi dunia konservasi (hutan rawa gambut memiliki nilai konservasi tinggi), tidak hanya sebagai tempat hidup dan berkembang biak makhluk hidup, tetapi juga sebagai penyimpan sumber air. Kabar baiknya apabila di wilayah ini bisa diselamatkan, setidaknya memberi harapan bagi semua makhluk hidup untuk terus berlanjut hingga nanti.

Semoga saja, lahan gambut yang ada di Sungai Putri ini dapat lestari dan menjadi tempat yang aman, nyaman bagi semua makhluk hidup hingga nanti. Berharap juga, wilayah-wilayah di Indonesia yang memiliki lahan gambut dapat terus untuk diselamatkan.

tulisan yang sama juga dapat dibaca di : Angin Segar bagi Habitat dan Orangutan dengan Dihentikannya Pembukaan Lahan Gambut di Sungai Putri

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

 

 

 

Iklan

Panen Madu Secara Lestari, Bersembunyi di Dalam Kelambu

Melindungi diri dengan kelambu saat panen lebah madu. Foto dok. Yayasan Palung

Melindungi diri dengan kelambu saat panen lebah madu. Foto dok. Yayasan Palung

Saat melakukan praktek pemanenan (panen) lebah madu peserta rela bersembuyi  di dalam kelambu untuk menghindari diri dari sengatan lebah. Hal inilah yang dilakukan oleh 5 Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) di Simpang Hilir, Kabupten Kayong Utara mengikuti pelatihan budidaya lebah madu secara lestari Senin (27/2) hingga Kamis (2/3/2017) pekan lalu.

Pelatihan tersebut dilakukan di dua Desa (Penepian Raya dan Ujung Said) di Kapuas Hulu, Kalbar. Kegiatan yang dilakukan selama empat hari tersebut setidaknya memberikan banyak manfaat bagi 5 LPHD yang ada di Kayong Utara. Mengingat, budidaya lebah madu bisa saja di adopsi oleh desa manapun sejatinya termasuk di Kayong Utara, potensi lebah madu secara lestari sangat memungkin dilakukan tidak hanya sebagai sumber penghasilan tetapi juga bagi keberlanjutan hutan. Demikian Ungkap Edi Rahman, dari Yayasan Palung yang juga sebagai pendamping dari lima LPHD yang ada di Desa-desa di Simpang Hilir (Desa Penjalaan, Desa Padu Banjar, Desa Nipah Kuning, Desa Pemangkat dan Desa Pulau Kumbang).

Selain itu menurut Edi, Sapaan akrabnya lebih lanjut mengatakan; dengan adanya panen lebah madu secara lestari sangat memungkinkan hutan tetap dijaga oleh masyarakat.  Seperti di dua Desa (melalui Lembaga Pengelolan Hutan Desa masing-masing) masyarakat sangat sadar dengan adanya budidaya lebah madu secara lestari/masyarakat sebagian besar menggantungkan hidup mereka di sana sebagai pembudidaya lebah madu dan dikatakan sangat berhasil.

Tentu ini juga sangat mungkin dikembangkan di daerah/wilayah 5 desa yang didampingi oleh Yayasan Palung, Pelatihan yang diikuti pun tidak lain semoga desa-desa di Simpang Hilir yang mengikuti pelatihan ini dapat mengikuti jejak dua desa (Ujung Said dan Penepian Raya) tempat dimana kami belajar, ungkap Edi lebih lanjut.

Ketika panen, selain berlindung didalam kelambu, si pemanen juga harus melindungi tangan dengan sarung tangan dan melindungi muka dengan jaring dimuka agar tidak disengat. Si pemanen harus mengusir lebah-lebah yang menempel disarang dengan cara pengasapan agar lebah terbang meninggalkan sarang dan panen madu bisa aman dilakukan.

Lebah yang bersarang di tikung. Foto dok. Yayasan Palung

Lebah yang bersarang di tikung. Foto dok. Yayasan Palung

Benar saja, mayoritas masyarakat di Desa Penepian Raya dan Ujung Said adalah desa yang saat ini telah berhasil mengembangkan desanya dengan sumber penghasilan dari hasil panen lebah madu. Menurut cerita dan pengakuan masyarakat di dua desa ini, setidaknya dalam setahun masyarakat dapat menghasilkan panen dengan rata-rata 1000 kg lebah madu pertahun. Bahkan saat tahun 2013 silam, di dua desa ini bisa panen hingga 23 ton, saat panen raya. Bayangkan saja betapa besar penghasilan dari mereka yang membudidaya lebah madu. Adapun hasil dari lebah madu tergantung bunga pohon di sekitar sarang. Setidaknya kisaran harga madu saat ini di hargai Rp 120 ribu/kg, berapa besar hasil yang mereka dapatkan melalui budidaya lebah madu secara lestari ini.

Saat melakukan pemanenan lebah madu. Foto dok. Yayasan Palung

Saat melakukan pemanenan lebah madu. Foto dok. Yayasan Palung

Saat melakukan pelatihan, peserta dari 5 desa, Kec. Simpang Hilir, KKU melakukan beragam pelatihan seperti pelatihan pembuatan tikung (tikung; kayu yang dibuatkan sebagai tempat bersarangnya lebah madu, biasanya papan yang dibuat agak cekung sebagai rongga tempat bersarangnya lebah madu). Tikung dibuat agar lebah-lebah mau bersarang dan menghasilkan madu. Tikung dibuat dari kayu yang nama lokalnya disebut kayu cempedak air. Setelah dibuatkan tikung, selanjutnya dipasang di ranting-ranting pohon di pinggiran sungai yang tingginya kurang lebih diketinggian 1,5-2 meter.

Biasanya, 3 minggu berselang hingga satu bulan lebah madu sudah mulai bersarang dan menghasilkan madu. Dalam satu sarang, saat panen beragam pula, ada yang 2 kg-8 kg.

Masyarakat di Desa Ujung Said dan Penepian Raya memiliki pekerjaan utama adalah sebagai budidaya lebah madu secara lestari dan nelayan ikan sungai. Hampir ribuan tikung dipasang ditepian-tepian sungai oleh masyaraka di dua desa ini. Tidak mudah memang untuk menjangkau kedua daerah ini (Ujung Said dan Penepian Raya) karena harus menyusuri jalan darat dan sebagian besar menyusuri jalur sungai untuk bisa sampai ke wilayah tersebut.

Beberapa desa di Kec. Simpang Hilir, KKU seperti Desa Penjalaan dan Desa Padu Banjar LPHDnya kini telah mencoba memasang setidaknya sekitar 60 tikung di sepanjang sungai Perawas.

Hadirnya budidaya lebah madu secara lestari ini juga boleh dikata sebagai salah satu bentuk (cara) masyarakat mengelola hutan secara berkelanjutan pula. Karena dengan masih utuhnya hutan (adanya pohon/hutan) di pesisir sungai otomatis lebah madu juga ada. Semoga saja, pelatihan yang diikuti ini dapat menular (berhasil) dikembangkan di desa-desa yang ada di Simpang Hilir, KKU yang mengikuti pelatihan ini. Semoga saja…

Baca juga tulisan yang sama di : Saat Panen Lebah Madu Secara Lestari, Bersembunyi Didalam Kelambu Takut Disengat

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

 

Kesling Demi Pelayanan Kesling, Rela Menyusuri Jalan Berlumpur

Jalan yang penuh lumpur yang kami lalui saat melakukan pelayanan Kesling di Dusun Pangkalan Jihing. Foto dok. Yayasan Palung

Jalan yang penuh lumpur yang kami lalui saat melakukan pelayanan Kesling di Dusun Pangkalan Jihing. Foto dok. Yayasan Palung

Mungkin kata itu yang cocok untuk saya gambarkan dan rasakan terkait keadaan jalan yang kami tempuh ketika kami dari Yayasan Palung bersama dengan Yayasan ASRI melakukan pelayanan kesling (kesehatan lingkungan) di Dusun Pangkalan Jihing, selama 3 hari (13-15 Maret 2016), kemarin.

Perjalanan panjang menyusuri waktu hingga rela menyusuri lumpur, memang tidak semua jalur atau jalan penuh lumpur. Akan tetapi, sejatinya hanya beberapa titik. Ada dua titik jalur jalan yang tergolong rusak cukup parah adalah jalur dari dusun Cali menuju dusun Pangkalan Jihing, Desa Pangkalan Teluk, Kec. Nanga Tayap, Kab. Ketapang, Kalbar. Selanjutnya titik jalan yang rusak di ruas jalan dari dusun Cali menuju ruas jalan ke arah Sumber Periangan, Desa Semblangaan, Nanga Tayap.

Salah satu jalur jalan yang cukup parah rusaknya dari Cali menuju Pangkalan Jihing. Foto dok. Yayasan Palung

Salah satu jalur jalan yang cukup parah rusaknya dari Cali menuju Pangkalan Jihing. Foto dok. Yayasan Palung

Dari jalur yang  rusak, kami mengalami dua kali amblas saat kami pulang dan pergi dari kegiatan. Kubangan lumpur tersebut cukup membuat kami harus bergaul, si driver mobil kami tidak hanya harus bergaul bercampur (rela sesekali turun dari mobil untuk memasang tali, menempelkan badan hingga tubuh, baju dan celana tertempel lumpur) untuk ditarik mobil. Amblas yang kami alami cukup memaakan waktu hingga puluhan menit. Sesekali kami mendorong mobil namun tetap amblas. Beruntung kami dibantu oleh mobil dari teman-teman dari Yayasan ASRI untuk menarik mobil yang kami tumpangi.

Menyusuri lumpur dan perjalan panjang, ya karena kami setidaknya kami harus menyusuri jalan tanah yang harus kami tempuh 2 jam  lebih perjalanan untuk tiba di dusun Pangkalan Jihing.

Saat teman-teman Yayasan ASRI melakukan pemeriksaan pasien yang berobat. Foto dok. Yayasan Palung

Saat teman-teman Yayasan ASRI melakukan pemeriksaan pasien yang berobat. Foto dok. Yayasan Palung

Untuk rangkaian kegiatan pelayanan Kesling (Kesehatan Lingkungan) di Dusun Cali, Yayasan Palung diajak oleh Yayasan ASRI atas kerjasama. Sesekali Yayasan Palung ikut dalam kegiatan Kesling yang dilakukan oleh Yayasan ASRI. Yayasan ASRI selalu rutin melakukan pelayanan kesehatan (pengobatan) bagi warga masyarakat di dusun Pangkalan Jihing setiap bulannya. Warga masyarakat yang berobat dibayar dengan bibit pohon. Sedangkan Yayasan Palung melakukan pemutaran film lingkungan dan puppet show (panggung boneka) sebagai kampanye penyadartahuan/sosialisasi perlindungan satwa di Tanah Kayong ke Sekolah-sekolah dan masyarakat.

Pada malam harinya, kami melakukan pemutaran film lingkungan, film lingkungan yang kami putar adalah film tentang keterancaman nasib hidup orangutan (film Mission Critical Orangutan on The Edge), Potret Keadaan Hutan Indonesia (State of Indonesia’s Forest) 2009-2013 dan film hiburan; Warkop DKI Reborn. Tampak masyarakat antusias dan senang dari film yang mereka tonton.

Pelayanan kesehatan bagi masyarakat, Yayasan ASRI melakukan pengobatan silih berganti kepada warga masyarakat. Ragam keluhan mayarakat yang berobat diantaranya batuk pilek ( flu), demam, periksa kandungan dan ada suntik KB. Setidaknya ada kurang lebih 20 orang pasien yang melakukan pemeriksaan.

Dalam kegiatan puppet show, siswa-siswi Sekolah Dasar Negeri 20 Nanga Tayap yang ada di Dusun Pangkalan Jihing terlihat sangat antusias memainkan boneka satwa dilindungi yang kami mainkan. Kami juga menjelaskan tentang gambar-gambar satwa dilindungi seperti orangutan, bekantan, kelasi, kelempiau, burung enggang dan trenggiling di Tanah Kayong (KKU dan Ketapang) Kalbar.

Saat kami melakukan pendidikan lingkungan melalui media boneka. Foto dok. Yayasan Palung.jpg

Saat kami melakukan pendidikan lingkungan melalui media boneka. Foto dok. Yayasan Palung

Kami juga menceritakan melalui media boneka tentang; peranan penting satwa dilindungi terlebih habitatnya berupa hutan harus terus tetap ada dan lestari. Kami menceritakan, hutan sebagai sumber hidup bagi semua makhluk hidup. Termasuk hutan sebagai penyedia sumber air bersih dan pencegah segala gangguan akibat dari hilangnya hutan (bencana). Siswa-siswi kami ajak menyanyikan lagu Si Pongo; Si Pongo, Si Pongo dia tinggal hutan. Si Pongo, Si Pongo makan buah-buahan…. Hutan si Pongo kemana habisnya, dimana Si Pongo dapat makanannya… Jagalah hutan dan pepohonannya sebelum Si Pongo lapar dan punah….

Saat kami berada di dusun Pangkalan Jihing menemukan ada salah satu warga masyarakat yang memilihara satwa dilindungi. Satwa yang dipelihara tersebut adalah anak burung enggang. Menurut penutuan warga tersebut, anak burung enggang dipelihara karena kasihan sebab lobang kayu (dawak) tempat hidup anak enggang tersebut telah tumbang/roboh. Seperti terlihat, anak enggang tersebut diumpan dengan nasi oleh pemiliharanya.

Serangkaian kegiatan yang kami lakukan berjalan sesuai dengan rencana dan mendapat sambutan baik dari warga masyarakat di dusun Pangkalan Jihing. Selanjutnya, pada hari ketiga, kami mengakhiri rangkaian kegiatan dan kembali ke Kab. Ketapang, sedangkan teman-teman dari Yayasan ASRI kembali ke Kab. Kayong Utara. Dari Yayasan Palung yang hadir dalam kegiatan Kesling tersebut adalah Ranti Naruri, Petrus Kanisius dan dua orang anak magang; Ridho Pratama dan Maulina serta driver bang Panji. Sedangkan dari Yayasan ASRI adalah dr. Vita, Evans Juniansyah, Aulia dan  bang Okto.

Dalam perjalanan pulang menuju ke Ketapang, mobil yang kami tumpangi mengalami amblas lagi, karena jalan yang kami lewati rusak, berlumpur dalam sehingga mobil cukup sulit melaluinya, kami pun kembali ditarik. Namunpun demikian, kami tetap senang dalam melakukan rangkaian kegiatan tersebut.

Baca juga tulisan yang sama di Kesling Demi Pelayanan Kesling, Rela Menyusuri Jalan Berlumpur

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

 

 

 

 

 

 

Asyiknya Fieldtrip Bersama Para Pihak di Hutan Lubuk Baji Kawasan Penyangga TNGP

WS_Lubuk Baji_ 170321_074.JPG

Saat peserta Fieldtrip menuju Lubuk Baji. Foto dok. Wahyu Susanto

Tak hanya kunjungan lapangan (fieldtrip), namun menjelajahi hutan bisa dikata banyak hal yang dapat dilakukan diantaranya mengembangkan sinergisitas dengan para pihak. Setidaknyanya itulah yang Yayasan Palung (GPOCP) dan BTNGP dengan Para Pihak lakukan selama tiga hari (14-16 Maret 2017) kemarin, di Lubuk Baji yang merupakan Kawasan Penyangga Taman Nasional Gunung Palung.

Selama berkegiatan, terlihat capek dari raut wajah peserta yang baru pertama alias jaran mengunjungi hutan. Apabila boleh dikata, mereka terlihat capek, ngos-ngosan menjelajahi dan naik turun bukit selain jarang mengunjungi hutan juga karena faktor usia dan postur badan yang berisi. Hehehe…

Akan tetapi, rasa capek yang mereka rasakan dijamin terbayar lunas dengan hamparan hutan di sekitar kawasan menuju hingga saat berada (sampai) di kawasan Lubuk Baji, TNGP. Benar saja, ragam suara enggang, kelempiau sesekali akrab terdengar tak jauh dari kami, namun enggan menampakan dirinya. Demikian juga suara pancuran air terjun Lubuk Bengkik atau juga Riam Lubuk Baji begitu bergemuruh terdengar. Sesekali beberapa peserta tidak sabar untuk turun karena tergoda dan berkendak membasmi keringat yang telah menyatu saat dalam perjalanan dan melepas dahaga dengan segar dan sejuknya air yang terjun tiada berhenti turun dari ketinggian kurang lebih 10 meter tentu hal yang mengasyikan dan menyenangkan.

WS_Lubuk Baji_ 170321_117.JPG

Merasakan kesegaran air terjun Lubuk Baji. Foto dok. Wahyu Susanto

Satu setengah jam perjalanan dari Dam Begasing menuju Lubuk Baji. Setelah sampai, sebagian besar peserta fieldtrip para pihak bersiap membasuh tubuh alias mandi dengan segar dan sejuknya air sungai yang mengalir di dekat Camp Lubuk Baji.

Di hari pertama, beberapa kegiatan seperti pemaparan beberapa program kegiatan yang dilakukan oleh Yayasan Palung disampaikan kepada para pihak. Terri Breeden, selaku direktur Yayasan Palung mempresentasikan kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Yayasan Palung diantaranya melalui Program Perlindungan Satwa, Pendidikan Lingkungan dan media kampanye, Program Livelihood telah bersentuhan langsung dengan masyarakat. Seperti misalnya melalui beberapa program yang Yayasan Palung memiliki dampak postif dan bisa berlanjut hingga saat ini. Sedangkan presentasi tentang penelitian disampaikan oleh Wahyu Tri Susanto sebagai Direktur Penelitian Yayasan Palung. Wahyu, menjelaskan Gunung Palung, sebagai Taman Nasional, Gunung Palung memiliki  tipe habitat yang lengkap (8 tipe habitat hutan). monitoring satwa; tidak hanya orangutan, tetapi satwa lain seperti kelasi kelempiau dan keanekaraman tumbuhan bisa dijumpai ditempat ini. Jika pengunjung ramai dan agak ribut sedikit sulit untuk bersua/berjumpa dengan orangutan. Selain itu, di TNGP memiliki kelimpahan  satwa.

Demikian juga dengan TNGP menyampaikan presentasi kepada para pihak. Penjelasan terkait luas wilayah TNGP yang semula 90.000 ha, kini bertambah menjadi 108.000 ha. Dimana 80 % nya berada di wilayah KKU, 20 % nya berada di Ketapang. Lubuk Baji merupakan zona pemanfaatan; saat ini LB adalah untuk wisata. 3 prinsip dalam pengelolaan kawasan; perlindungan, pengawetan dan pemanfaatan. Harapan kedepannya, ada kesempatan bersama untuk tujuan rumusan sinergisitas antar pihak, demikian dipaparkan oleh Bapak Bambang selaku Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah 1 Sukadana.

Mengembangkan sinergisitas yang tidak lain sebagai upaya pelestarian dan perlindungan lingkungan hidup merupakan tanggung jawab bersama seluruh komponen di dalam sebuah negara yaitu masyarakat, organisasi non pemerintah, pemerintah dan pihak swasta yang berada di dua wilayah kabupaten (Kayong Utara dan Ketapang), Kalbar. Para pihak terutama pemerintah dan organisasi non pemerintah memiliki agenda masing-masing dalam upaya tersebut yang perlu disinergiskan agar dapat saling mengisi dan mendukung. Dengan kata lain kegiatan ini bertujuan; Pertama, Mengembangkan sinergisitas program antara Yayasan Palung, Stasiun Riset Cabang Panti (SPCP), Balai Taman Nasional Gunung Palung (BTNGP) dan SKPD Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara. Kedua, Meningkatkan kerjasama antara para pihak dan ketiga, Rekreasi dan Refreshing ke Taman Nasional Gunung Palung. Atau dengan kata lain tujuan dari kegiatan ini singkatnya adalah membangun sinergisitas para pihak untuk perlindungan kawasan dengan ragam kegiatan yang mungkin bisa disingkronkan untuk dilakukan secara bersama-sama pula.

WS_Lubuk Baji_ 170321_166.JPG

Terri Breeden saat menyampaikan presentasi kepada para pihak. Foto dok. Wahyu Susanto

Di hari kedua, peserta diajak untuk mendiskusikan apa-apa saja kegiatan yang bisa dilakukan secara bersama-sama para pihak. Mengingat, Kawasan TNGP dan masyarakat menjadi tanggungjawab semua pihak untuk perlindungan kawasan dan mengembangkan potensi-potensi yang ada di sekitar kawasan. Seperti misalnya, Lubuk Baji yang berada didalam kawasan penyangga yang tidak lain juga sebagai sebagai zona pemanfaatan untuk  ekowisata, penelitian dan pendidikan. Kawasan Lubuk Baji sangat berpotensi sebagai sumber air bersih karena kawasan hutan di wilayah ini masih terjaga. Demikian juga dengan ragam tumbuh-tumbuhan seperti anggrek dan satwa. Selanjutnya, dilanjutkan dengan diskusi rencana tindak lanjut (RTL) antara lain berupa kerjasama antara instansi yang hadir dan juga melibatkan instansi yang tidak hadir. Pentingnya kersama  dari berbagai pihak di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara ini sangat penting untuk perlindungan kawasan konservasi.

Para pihak yang mengikuti kegiatan ini menyambut baik dengan adanya rencana kerjasama (sinegisitas) bersama disekitar kawasan TNGP. Setelah penyusunan RTL, dilajutkan pembacaan puisi lingkungan oleh Yohanes Terang, Aktivis dan tokoh masyarakat, penulis buku; Menjaga Yang Tersisa, Beliau sekaligus juga sebagai Pembina Yayasan Palung. Puisi tentang, Gunung Palung Yang Agung Nafas Penyambung.

Pada hari ketiga, kegiatan diisi dengan kegiatan santai karena hari terakhir berkegiatan. Sekitar pukul 05.30 Wib untuk melakukan Pengamatan Fauna dan Hunting Sunrise ke Batu Bulan. Dari Batu Bulan, jika cuaca bersahabat kita akan melihat pemandangan yang memanjakan mata antara lain melihatnya mentari yang muncul dan pemandangan persawahan masyarakat di Desa Sedahan Jaya, Kab. KKU dan tampak Gunung Palung didepan. Tidak jarang ada yang mengatakan dari Batu Bulan  tak ubah berada di negeri diatas awan.

Sekilas tentang asal usul Lubuk Baji

Nama Lubuk Baji berlatar belakang legenda seseorang pekerja yang kehilangan sebuah baji (pasak) di sekitar sebuah lubuk. Si pekerja terus melakukan pencaharian tetapi tidak ditemukan. Sejak saat itulah tempat ini dinamakan Lubuk Baji. Lubuk Baji memiliki ketinggian kurang lebih 10 meter, dengan suasana sejuk dikelilingi pepohonan menjadi tempat yang menarik untuk beristrahat dan sekedar berfoto.

Asal Usul Batu Bulan

Menurut masyarakat setempat, saat bulan purnama batu ini (batu bulan) seperti memantulkan cahaya bulan purnama bila dilihat dari arah perkampungan terdekat, sehingga masyarakat menamakan batu ini batu bulan.

Direktur Yayasan mengatakan; melalui fieldtrip ini merupakan sukses besar, ini sebagai kesempatan yang indah untuk semua organisasi yang bekerja untuk melindungi Kawasan Taman Nasional Gunung Palung dan lanskap sekitarnya untuk mengalami keindahan daerah ini yang ditawarkan. Kami mampu untuk keluar dari kantor dan bekerja sama untuk membuat komitmen baru untuk konservasi dan masyarakat lokal.

WS_Lubuk Baji_ 170321_255.JPG

Peserta Fieldtrip saat merasakan sunrise di Batu Bulan. Foro dok. Wahyu Susanto

Setidaknya ada 16 orang peserta fieldtrip para pihak yang terdiri dari BTNGP, Yayasan Palung, SPCP BKSDA SKW 1 Ketapang, Bappeda Kab. Ketapang dan Kab.Kayong Utara dan Kepolisian Resort KKU. Fieldtrip yang dilaksanakan oleh para pihak tersebut berjalan sesuai rencana, sebelum pulang kami menyempatkan diri untuk operasi semut (membersihkan sampah) dan berfoto bersama.

Baca juga tulisan yang sama di : Yayasan Palung bersama BTNGP Adakan Fieldtrip dengan Para Pihak

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

 

 

 

 

Lagu Si Pongo

Female = BethInfant = Benny

Female = Beth Infant = Benny

Lagu Si pongo

Lagu : SI PONGO

Lagu Ciptaan: Yayasan Palung

Si po-ngo  Si po-ngo dia tinggal di hutan
Si po-ngo  Si po-ngo makan buah bu-ahan
Si po-ngo  a-da-lah se ekor o-rang-u-tan
Si Po-ngo  Si po-ngo perlu te-man te-man

Pongo pu-nya ba-pak yang besar dan galak
Po-ngo tak se-ring berte-mu dia
Bapak pongo su-ka main sendirian
Di-a tidak ban-tu ibu dan anaknya

kembali ke reff;

Pongo punya i-bu yang baik dan pe-nyayang
Ibu me-ngajar-kan tentang kehidu-pan
Po-ngo dan i-bu  di hutan bersa-ma
Pongo tanpa i-bu sungguh kasihan

kembali ke reff;

Hu-tan si po-ngo kemana habisnya
Di ma-na si po-ngo dapat makanannya
Jaga lah hu-tan dan pepohonannya
Sebelum si Po-ngo lapar dan punah.

Potret Orangutan dalam Ancaman Nyata di Habitat Hidupnya

Stop!!! Merusak Hutan, Lindungi Kehidupan Orangutan. Foto dok. Yayasan Palung

Prihatin, sedih dan mungkin itu yang bisa dikatakan saat ini terhadap nasib orangutan. Keberlangsungan nafas hidup makhluk hidup saat ini tidak bisa di sangakal dalam ancaman nyata (sangat terancam) di habitat hidupnya berupa hutan. Hutan sebagai rumah kian sempit dan terhimpit dari hari ke hari hingga saat ini.

Ancaman nyata menyempitnya atau bahkan hilangnya habitat hidup orangutan salah satunya disebabkan beberapa hal diantaranya; perluasan lahan berskala besar digunakan untuk perkebunan, pertambangan, pertanian hingga pembangunan menjadi penyebab utama sangat terancamnya nasib hidup orangutan dan beberapa satwa lainnya.

Tidak hanya itu, kebakaran lahan dan ilegal logging tidak kalah hebatnya merampas hutan sebagai rumah dari orangutan. Selain juga masih maraknya perburuan dan perdagangan satwa menjadi persoalan yang boleh dikata seakan tidak berhenti terjadi.

Hilangnya luasan tutupan hutan menjadi ancaman serius bagi orangutan dan satwa lainnya (makhluk hidup) yang mendiami hutan.

Jika dibiarkan tanpa adanya perhatian dan kepedulian, bukan tidak mungkin orangutan dan satwa lainnya yang mendiami hutan akan hilang atau punah.

Perlu perhatian dari semua pihak tanpa terkecuali untuk kelestarian orangutan dan habitatnya demi keberlanjutan semua makhluk hidup termasuk kita manusia.

Dengan menyelamatkan orangutan dan hutan berarti juga menyelamatkan kehidupan agar lebih baik hingga selamanya dan lestari.

Lihat  Video : Nasib orangutan dan hutan yang hidupnya semakin terancam serta terampas. Video dok. GREEN a film by Patrick Rouxel.

Semoga saja…

Data Investigasi dan Penyelamatan Orangutan Oleh Yayasan Palung  di Tanah Kayong

dokumentasi-kasus-pemeliharaan-orangutan-foto-dok-yayasan-palung

Dokumentasi Kasus Pemeliharaan Orangutan. Foto dok. Yayasan Palung

Seperti diketahui, saat ini populasi Orangutan liar di Kalimantan Barat khususnya Kabupaten Ketapang dan Kabupaten kayong Utara hampir dipastikan secara terus menerus populasi orangutan dalam beberapa decade terakhir ini semakin menurun akibat hilangnya hutan dataran rendah. Berdasarkan rekapitulasi data investigasi dan penyelamatan dari Yayasan Palung dari tahun 2004-2016, menyebutkan  jumlah orangutan yang tidak sedikit yang diinvestigasi dan diselamatkan terkait berbagai ancaman terhadap populasi dan habitat orangutan.

 

Adapun data dari tahun ke tahun terkait  rekapitulasi investigasi dan penyelamatan terhadap orangutan di Kalimantan Barat, lebih khusus di dua Kabupaten, Ketapang dan Kayong Utara adalah 161 individu orangutan yang diinvestigasi dan diselamatkan (rescue) ada 150 individu orangutan.

Dari data tersebut, setidaknya hal ini terjadi erat terkaitnya dengan ancaman habitat dan populasi orangutan. Tidak bisa disangkal, kecepatan penurunan populasi orangutan dan habitatnya dengan ditandai masuknya investasi di kawasan hutan yang masih terdapat populasi orangutan diantaranya investasi pembukaan lahan berskala besar seperti perkebunan dan pertambangan.

Hal lain terkait ancaman orangutan di habitat adalah Di tengah upaya penyelamatan orangutan yang gencar didengungkan, tetapi praktek pemusnahan secara terselubung terus saja berlangsung. Perburuan dan perdagangan orangutan menjadi usaha untuk meraup keuntungan. Orangutan di dua Kabupaten ini selalu diburu, ditangkap untuk menjadi hewan peliharaan rumah, dan diperdagangkan. Meski ancaman hukuman bagi pelaku perburuan dan perdagangan orangutan cukup berat namun praktek ini masih marak terjadi.  Mengingat, dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dengan tegas menyebut, “Setiap orang dilarang menangkap, membunuh, memiliki, memelihara dan memperniagakan satwa dilindungi dalam keadaan hidup, mati atau bagianbagian tubuhnya. Pelanggaran terhadap Undang-undang ini dihukum 5 tahun penjara atau denda 100 juta rupiah”.

Kasus perburuan, pemeliharaan serta perdagangan Orangutan di dua Kabupaten ini (Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara) juga merupakan salah satu ancaman yang sangat serius bagi kelestarian Orangutan serta satwa lainnya. Perburuan Orangutan di dua kabupaten ini kebanyakan bersifat opurtunis artinya Orangutan bukan menjadi buruan utama para pemburu. Kasus perburuan sering terjadi ketika para pemburu mencari rusa, babi, kijang dan sebagainya secara kebetulan menjumpai Orangutan. Ketika hal itu terjadi biasanya Orangutanlangsung di buru dengan cara membunuh induk serta mengambil anak Orangutan baik untuk dipelihara maupun dijual kepada orang yang memiliki hoby memelihara. Sedangkan induk Orangutan yang mati kadang-kadang diambil untuk di kosumsi sebagai makanan.

Seperti misalnya pada tahun 2004-2014, Akibat masih terjadinya perburuan secara oportunis tersebut membawa dampak terhadap kasus pemeliharaan serta perdagangan Orangutan di Kabupaten
Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara. Berdasarkan hasil monitoring yang dilakukan Yayasan Palung sejak tahun 2004 s/d 2014 teridentifikasi 145 kasus pemeliharaan Orangutan, 89 Kelempiau, 28 satwa lainnya (Beruang Madu, Bekantan, Trenggiling, Burung Enggang, dan sebagainya) yang dilakukan masyarakat. Kasus pemeliharaan khususnya Orangutan terjadi baik di pemukiman masyarakat, areal perkebunan sawit, dan areal pertambangan.

Dari 117 satwa lainnya yang teridentifikasi pada tahun 2004 hingga tahun 2014 sebanyak 79 %, 89 ekor adalah Kelempiau. Hal ini membuktikan bahwa kera sangat terancam di daerah Ketapang dan Kayong Utara. Selain itu juga dilihat dari tabel 1 diatas bahwa hasil monitoring setiap tahunnya tidak bisa dijadikan kesimpulan bahwa tingkat kasus pemeliharaan menunjukkan tren penurunan atau kenaikan. Dimana pada tahun 2004, Yayasan Palung mulai melakukan monitoring seluruh wilayah kecamatan yang ada di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara baik wilayah yang berada di pesisir pantai maupun di wilayah pedalaman.

Orangutan Borneo merupakan salah satu jenis primata yang menjadi bagian penting dari kekayaan keanekaragaman hayati dan merupakan satu-satunya kera besar yang hidup di Asia. Orangutan Borneo sebagian besar mendiami hutan dataran dan hutan rawa di Sabah, bagian barat daya Sarawak, Kalimantan Timur, serta bagian barat daya Kalimantan antara Sungai Kapuas dan Sungai Barito. Oleh karena itu, populasi Orangutan Borneo disepakati dibedakan menjadi tiga sub spesies yaitu Pongo pygmaeus pygmaeus yang terdapat di bagian barat laut Kalimantan yaitu Utara dari Sungai Kepuas sampai ke timur laut Sarawak, Pongo pygmaeus wurmbii yang hidup dibagian selatan dan barat daya Kalimantan yaitu antara sebelah selatan Sungai Kapuas dan barat Sungai Barito dan Pongo pygmaeus morio yang hidup di Sabah sampai Sungai Mahakam di Kalimantan Timur.

Seperti di ketahui, penyelamatan orangutan dan habitatnya berarti menyelamatkan ekosistem dari kehancuran yang bisa memberi bencana bagi masyarakat luas. Menyelamatkan orangutan dan habitatnya berarti menjamin kesejahteraan masyarakat di masa yang akan datang karena habitat orangutan yang terpelihara dengan baik akan menjamin kelangsungan jasa ekologi yang penting yang diutuhkan oleh masyarakat luas. Sampai saat ini, yang menjadi persoalan lain adalah tempat hidup baru bagi orangutan yang telah diselamatkan. Seperti diketahui, saat ini orangutan yang diselamatkan (rescue) kesulitan rumah baru mereka berupa hutan. Banyak kawasan hutan yang telah terbuka dan tidak layak untuk tempat pelepasliaran orangutan.

Oleh karena itu kepada semua pihak yang terlibat, baik pemerintah pusat, provinsi, Kabupaten pihak swasta serta masyarakat luas harus benar-benar melaksanakan komitmen penyelamatan Orangutan di Kalimantan Barat khususnya di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara. Semoga orangutan di Tanah Kayong (Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara) dapat terjaga  dan semua pihak dalam mendukung konservasi Orangutan sebagai makhluk ciptaan Yang Maha Kuasa yang juga sebagai satwa endemik dapat lestari hingga nanti.

Tulisan ini juga sebelumnya pernah dimuat di Kompasiana : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/ini-data-investigasi-dan-penyelamatan-orangutan-tahun-2004-2016-ditanah-kayong_58747d3e4f7a61c9125e61fa

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

 

Orangutan Dilindungi tetapi Sangat Terancam di Habitatnya

orangutan-di-tipe-sarang-a-saat-beristirahat-di-hutan-hujan-gunung-palung-foto-dok-tim-laman-dan-yayasan-palung

Mungkin kata itu yang cocok untuk dikatakan terkait mereka (satwa atau primata) dilindungi yang saat ini keberadaannya sangat terancam punah. Hal ini nyata adanya, ragam jenis satwa sudah semakin sulit dan sempit keberadaannya salah satunya di habitat hidupnya.

Mereka bukan karena tidak diperhatikan, malah mereka menjadi prioritas utama. Dengan kata lain, satwa atau primata  yang dilindungi justru keberadaanya dalam ancaman nyata (semakin terancam) serius di habitatnya berupa hutan.

Di hutan tropis Indonesia, setidaknya terdapat  sekitar 40.000 jenis tumbuhan, 350.000 jenis hewan, 5.000 jenis jamur, dan 1.500 jenis Monera. Bahkan banyak jenis makhluk hidup yang merupakan makhluk hidup endemik. (sumber data; Ilmu Hutan). Dengan demikian ragam satwa, tumbuhan menjadi satu kesatuan yang sejatinya tidak terpisahkan. Apabila satu kesatuan ekosistem diantara mereka terganggu makan akn berdampak pada yang lainnya. misalnya saja keberadaan hutan sangat berpengaruh kepada jumlah populasi satwa yang mendiami wilayah tersebut. Hutan menipis maka satwa/primata akan semakin sulit untuk bertahan hidup, termasuk populasi mereka yang sulit berkembang biak hingga populasi mereka semakin menurun/berkurang jumlahnya yang menyebabkan mereka harus dilindungi.

Mengapa mereka (primata atau satwa) dilindungi tetapi Terancam dan terhimpit di Habitatnya?

Beberapa alasan primata/satwa dilindungi salah satunya karena jumlah populasi sudah langka atau semakin langka. Atau dengan kata lain, tidak sedikit jumlah satwa yang dikatakan mendapat predikat terancam, sangat terancam dan mungkin yang lebih parahnya lagi adalah punah di habitat hidupnya, tetapi jangan sampai terjadi di Indonesia. Di beberapa wilayah di Indonesia misalnya persebaran satwa dilindungi yang sangat terancam punah adalah orangutan (orangutan kalimantan dan orangutan sumatera).

Untuk membaca selengkapnya dapat lihat di link yang ditulis sebelumnya di kompasiana : Orangutan Dilindungi tetapi Sangat Terancam dan Terhimpit di Habitatnya