Monthly Archives: Februari 2017

Berikut Beberapa Jenis Satwa Dilindungi di Tanah Kayong

Rayap dan serangga termasuk makanan orangutan. Foto dok. Tim Laman dan Yayasan Palung

Orangutan Jantan yang ada di Gunung Palung. Foto dok. Tim Laman

Satwa dilindungi sudah sepatutnya kita jaga dan lindungi di habitat hidupnya. Mengingat, keberadaan populasinya terancam ataupun sangat terancam punah di habitat hidupnya akibat beragam kegiatan ataupun aktivitas manusia seperti pembukaan lahan  berskala besar.

satwa-dilindungi-di-tanah-kayong-foto-dok-yayasan-palung

 

Foto data dok. Yayasan Palung

Perlu peran dari semua pihak untuk menjaga dan melindungi satwa yang masih ada dan tersisa di Tanah Kayong  (sebutan untuk Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara), Kalimantan Barat, Indonesia.

satwa-dilindungi-di-tanah-kayong-foto-dok-yayasan-palung-2

Foto data dok. Yayasan Palung

Melestarikan dan menjaga hutan agar tetap lestari, berarti juga memberikan juga kehidupan bagi banyak makhluk hidup tidak terkecuali banyak primata (satwa) dilindungi yang saat ini.

Sedangkan satwa langka yang menjadi prioritas di Indonesia saat ini ada 25 satwa endemik/terancam punah.

25-satwa-langka-prioritas-sumber-data-dok-klhk

Semoga saja satwa dilindungi dapat terlindungi dan lestari di habitat hidupnya di seluruh wilayah Indonesia.

Ini Suasana Keakraban Kami Yayasan Palung (GPOCP) dan  GPOP dalam Rapat Tahunan

img-20170216-wa0011

Ini Keakraban kami saat rapat tahunan beberapa waktu lalu. Foto dok. Wahyu Susanto

Inilah keakraban kami Yayasan Palung/GPOCP  dan GPOP (Tim Konservasi dan Tim Peneliti) disela-sela rutinitas dan aktivitas.

Foto ini adalah saat kami Rapat tahunan untuk merencanakan apa yang akan kami kerjakan di tahun-tahun berikutnya.

Semoga segala rencana dan harapan dapat dituai.

Amin…

Mengenal Lebih Dekat Stasiun Penelitian Cabang Panti dan Ini yang Menarik Disana

Kantong Semar biasanya hidup di hutan rawa gambut dan di hutan pegunungan Gunung Palung. Foto dok GPOCP dan Yayasan Palung.jpg

Kantong Semar biasanya hidup di hutan rawa gambut dan di hutan pegunungan Gunung Palung. Foto dok GPOCP dan Yayasan Palung

Tidak bisa disangkal, beragam jenis hutan yang tersebar di wilayah hutan tropis Gunung Palung, tidak hanya hutan tetapi juga satwanya. Salah satunya adalah orangutan sebagai salah satu satwa endemik yang ada di Dunia.

Setidaknya itulah yang menjadi daya tarik bagi para ilmuan baik dari dalam atau pun luar negeri untuk mengunjungi tempat ini, lebih tepatnya di Stasiun Penelitian Cabang Panti (SPCP), Taman Nasional Gunung Palung.

camp-cabang-panti-di-tngp-sebagai-tempat-rumah-bagi-para-peneliti-yang-melakukan-penelitian-foto-dok-yayasan-palung

Camp Cabang Panti, di TNGP sebagai tempat (rumah) bagi para peneliti yang melakukan penelitian. Foto dok.Yayasan Palung

Tentu, hal ini menjadi kekayaan sekaligus unik dan terlengkap  yang mungkin di tempat lain belum tentu ada. Apa saja kah yang unik dari hutan di Cabang Panti, Gunung Palung?.

Pertama, Di Gunung Palung  setidaknya terdapat tujuh jenis hutan dari 8 tipe hutan yang berbeda, hutan yang dimaksud adalah; 1. hutan rawa gambut di ketinggian 5-10 mdpl,  2. Kedua, hutan rawa air tawar di ketinggian 5-10 mdpl, 3. Hutan tanah alluvial di ketinggian 10-50 mdpl, 4. Hutan batu berpasir dataran rendah di ketinggian di 20-200 mdpl, 5. Hutan granit dataran rendah di ketinggian  200-400 mdpl, 6. Hutan granit dataran tinggi di ketinggian  350- 800 mdpl,  7. Hutan Pegunungan di ketinggian 750-1100 mdpl (Marshall, Andrew j, 2008) dan 8. Hutan kerangas yang paling sedikit luasannya yaitu 7,6 ha dari total luas Cabang Panti. Lokasi ini merupakan lokasi yang cocok untuk menganalisa perilaku reproduksi tumbuhan berkayu di level alpha dan beta dari keberagaman jenis tumbuhan. Selain itu, bisa meneliti perilaku beragam satwa seperti orangutan dan beberapa satwa lainnya seperti kelempiau, kelasi serta satwa lainnya. Burung endemik seperti enggang, ayam hutan dan satwa lainnya.

orangutan-dan-bayinya-di-tngp-foto-dok-yayasan-palung-dan-tim-laman-5698bdcf149373dc04b4bd31

Orangutan Betina dan Bayinya di Gunung Palung. Foto dok. Tim Laman

Sebagian besar kawasan SPCP merupakan hamparan perbukitan dan gunung. Hanya rawa gambut dan rawa air tawar yang merupakan hamparan dataran rendah. Di area SPCP terdapat hamparan Gunung Palung dengan ketinggian 1.116 mdpl dan Gunung Panti dengan ketinggian  1.050  mdpl. Keunikan jenis dan tipe hutan tersebut memiliki banyak manfaat bagi keberlangsungan makhluk hidup dan manusia lebih khusus sebagai perpustakaan yang paling penting bagi ilmu pengetahuan  dan penelitian. Kedua,tidak hanya penelitian yang menyangkut ekologi dan biologi satwa dan tumbuhan seperti primata terutama orangutan tetapi juga pendataan  jenis tumbuhan  di TNGP tetapi juga penelitian jenis-jenis tumbuhan dipterocarp (meranti dan balau/Shorea, mersawa/Anisoptera, keruing/Dipterocarpus dan kapur/Dryobalanops).
meranti-atau-shorea-sp-yang-sedang-berbuah-merupakan-jenis-pohon-dipterocarpaceae-foto-dok-yayasan-palung-gpocp-dan-tim-laman

Tumbuhan dipterocarpaceae yang ada di Gunung Palung. Foto dok. YP, GPOCP dan Tim Laman

Selain itu juga terdapat tumbuh-tumbuhan obat, jenis lumut, paku-pakuan, jenis palem, liana dan kantong semar serta tumbuhan lainnya. Obyek lainnya yang menarik adalah jenis fauna diantaranya jenis-jenis herpetofauna, serangga, ikan dan jenis mamalia  seperti  beruang madu,  kucing dan jenis tupai salah satunya tupai vampir.

Sedangkan Hasil dari penelitian di Stasiun Riset Cabang Panti, TNGP menyebutkan setidaknya ada ditemukan tumbuhan dan pohon yang menjadi pakan atau makan orangutan di Gunung Palung. Orangutan mengkonsumsi lebih dari 300 jenis tumbuhan yang terdiri dari: 60% terdiri dari buah, 20% bunga, 10% daun muda dan kulit kayu serta 10% serangga (seperti rayap). Tumbuhan dominan yang dikonsumsi buahnya oleh orangutan dan beberapa satwa lainnya adalah dari family Sapindaceae/sapindales (rambutan, kedondong, matoa dan langsat), Lauraceae (alpukat dan medang), Fagaceae (petai dan kacang kedelai atau termasuk jenis kacang-kacangan), Myrtaceae/myrtales (jenis jambu-jambuan), Moraceae (ficus/kayu ara) dan lain-lainnya.

Menurut Wahyu Susanto, selaku Direktur penelitian GPOCP/Yayasan Palung mengatakan, di Gunung Palung terdapat kurang lebih 2500 individu orangutan. Sedangkan orangutan yang teridentifikasi mendiami area penelitian Cabang Panti berdasarkan penelitian dan pemberian nama oleh para peneliti sejak tahun  2008-2016 tercatat ada 98 individu orangutan. Adapun lokasi penelitian SPCP sekitar 2100 hektar. Sedangkan luasan Taman Nasional Gunung Palung adalah 90.000 hektar.

Hingga saat ini tercatat setidaknya 150 peneliti dalam dan luar negeri yang melakukan penelitian di SPCP. Untuk menjangkau Stasiun Penelitian Cabang Panti melalui dua akses; jalaur air dan jalur darat. Jalur air melalui Sungai Rantau Panjang dengan menggunakan sampan atau longboat. Jalur ini digunakan untuk mengangkut logistik yang dikirim melalui Melano, dusun Semanjak, dengan jarak tempuh 7 sampai 12 jam. Lama atau tidaknya jarak tempuh tergantung kondisi air, apabila kemarau sungai kering sehingga waktu tempuh bisa semakin lama. Sedangkan jalur darat menuju SPCP melalui dusun Tanjung Gunung dengan berjalan kaki dengan jarak kurang lebih 16 km dan bisa ditempuh dengan  dalam waktu 4 hingga 6 jam perjalanan.

Apabila para peneliti ingin melakukan penelitian terlebih dahulu mengajukan SIMAKSI (Surat Ijin Masuk Kawasan Konservasi) terlebih dahulu kepada Balai Taman Nasional Gunung Palung.

Bahan tulisan ini merupakan ringkasan yang sumbernya dari : buku saku (booklet) BTNGP yang berjudul; Stasiun Penelitian Cabang Panti “The Heaven of Science”, ditulis oleh Endro Setiawan,tebal buku 29 halaman, cetak tahun 2015.

Baca juga tulisan ini di Kompasiana Ini yang Unik dan Menarik di Stasiun Penelitian Cabang Panti

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Resensi Buku : “Menjaga yang Tersisa”, Mari Merawat Bumi dan Isinya untuk Selamanya

Cover Buku, Menjaga yang Tersisa, Foto Dok. YP.jpg

Cover Buku, Menjaga yang Tersisa, Foto Dok. YP

Tidak bisa disangkal, bumi beserta segala isinya (makhluk hidup) tidak terkecuali hutan dan satwa serta manusia merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dalam kehidupan ini. Bagaimana bila bumi yang tersisa dibiarkan begitu saja tanpa diperhatikan dan tidak untuk dijaga, bayangkan bila bumi tidak tersisa.

Buku yang ditulis oleh Yohanes Terang  Menjaga yang Tersisa;  Sajak dan Renungan dari Laman Satong,  sedikit banyak menjadi pengingat sekaligus ajakan bagi kita semua tanpa terkeculi untuk merenungkan tentang keadaan dan keberadaan bumi yang saat ini keadaannya (nasibnya) terletak pada tanggungjawab dan kebijaksanaan kita. Mengingat,  bumi sudah semakin renta, rimba raya dan satwa kian memprihatinkan keberadaannya. Hutan semakin menyusut, satwa semakin sempit dan sulit untuk bertahan hidup. Terkadang kita manusia pun tidak luput dari apa dampak dari semakin menipisnya luasan tutupan hutan.

Ungkapan sajak, renungan dan puisi yang tersaji dibuku yang tebalnya 115 halaman tersebut berkisah tentang awal mulanya sebaagung  namun kini dunia telah renta. Seperti pada halaman  11,  dituliskan Dunia Telah renta.

Semula semula  kujumpa serbaagung

Gunung-gunung menjulang hijau tinggi membusung

Jurang-jurang panjang dalam menerima suara gaung

Air yang gemericik, satwa  bersenandung.

Menunjukkan besarnya kuasa Sang Pencipta

Namun, tiba-tiba berubah seketika

Akibat tidak ada lagi cinta  tersimpan dalam dada

Kini pohon-pohon raksasa tak lagi dijumpa

Berjuta-juta tanaman kecil merana tertimpa

Oleh ibu bapanya.

Kicauan satwa tak lagi terdengar

Telah sirna entah kemana

Seolah-olah bisu tanpa kata

Habitatnya terobrak-abrik

Ketenangan tercabik-cabik

Semuanya tak ada lagi yang menarik

Terlihat semua sudah sikap menampik

Kini masih adakah?

Yang berjiwa mulia?

Untuk mempertahankan yang tersisa

Agar tak lagi terjadi seperti yang ada.

Kini kucoba untuk melakukannya sampai aku dijemput oleh-Nya.

Ungkapan ketulusan dari hati yang terdalam bapak Yohanes Terang secara nyata bercerita tentang fakta yang terjadi sesuai realita yang terjadi (menimpa) dunia.

Agar tidak lupa, seperti pada halaman 16, pembaca diingatkan kembali dengan renungan;

Awal mula bumi diciptakan sempurna  tak ada yang palsu

Pencipta menciptakan atau menyertakan berjuta rupa, bentuk, arti dan warna

Satu diantranya adalah manusia sebagai pewaris, pelindung dan penajaga agar tidak habis bagi anak cucu.

Dengan berjalannya waktu dan bergantinya hari, tak terasa telah terjadi degradasi dengan berkurangnya nilai, bentuk dan rasa

Kemanusiaan, bukit, lautan, flora, fauna telah telah ternoda  oleh kekuasaan, kepentingan.

Uang yang membuat manusia lupa. Kita dengar dalam cerita, kita pantau lewat media, kita lihat dengan mata tentang semua peristiwa yang mendera.

Hai manusia ingatlah rentetan peristiwa yang memilukan yang menyayat banyak hati, tanda-tanda akan terjadi isak tangis, gertak gigi, pabila kita tak sanggup menyelamatkan bumi tempat kita berada.

Ajakan kepada para pemimpinpun disampaikan untuk peduli pada bumi ibu pertiwi sebagai tempat dan keberlanjutan nafas hidup hingga nanti. Seperti yang dituliskan pada halaman 110.

 Jabatanmu seorang  petinggi,

Menjunjung tinggi sumpah janji seorang abdi.

 Berbuat selau mendengarkan suara hati 

Terobosan  yang tepat mencari solusi

Mengurangi degradasi

Mengangkat derajat negeri ini

Agar sejajar dengan bangsa lain di atas bumi.

Di halaman 108, pembaca diajak untuk bersukaria, bila alam terjaga lestari selamanya maka  hutan kembali menghijau, satwa kembali berkicau, pikiran pun tak lagi galau. Kita semua suka,  kita semua bahagia bila semuanya bisa lestari untuk selamanya.

Buku ini sangat direkomendasikan bagi semua kalangan karena sangat syarat makna dan pesan moral tentang ajaran hidup/kehidupan berupa bumi tempat berpijak. Menjaga yang Tersisa (hutan, satwa dan segala isi) bumi menjadi tanggungjawab kita semua secara bersama pula pula. Bumi yang tersisa ini sebagai tempat hidup sudah sejati untuk dijaga, dipelihara dan dilestarikan hingga nanti. Mari merawat bumi hingga nanti (selamanya) sebelum terlambat, demi kehidupan yang lebih baik.

Judul Buku : Menjaga yang Tersisa;  Sajak dan Renungan dari Laman Satong

Penulis : Yohanes Terang

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Tebal : 115 Halaman

ISBN : 978-602-03-1499-0

Tulisan ini sebelumnya dimuat di sesawi.net Menjaga yang Tersisa, Mari Merawat Bumi dan Isinya Selamanya

Petrus Kanisius, Yayasan Palung

 

 

Berikut Beberapa Tumbuhan dan Satwa Endemik yang Berasal dari Kalimantan

tumbuhan sejenis Amorphophallus titanum

Foto :Tumbuhan sejenis Amorphophallus sp. Foto dok. M. Rizal Alqadrie, YP

Tumbuhan dan satwa merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan di lingkungannya yang tidak lain adalah hutan, tidak terkecuali di daerah hutan hujan seperti di Kalimantan. Tentunya, tumbuhan, hutan dan satwa begitu penting bagi keberlanjutan bumi hingga nanti.  Bayangkan bila tumbuhan, hutan dan satwa tidak ada apa yang terjadi?.

Beberapa tumbuhan dan satwa  endemik yang ada di Kalimantan antara lain adalah :

Tumbuhan endemik yang berasal dari Borneo (Kalimantan); anggrek hitam (Coelogyne pandurata), bunga bangkai (Amorphpophallus titanium). Sedangkan tumbuhan buah seperti durian hutan, teratong, durian burung, pekawai, jantak /jatak, Melinsum/linsum (salak Kalimantan) dan Asam maram. Beberapa tumbuhan-tumbuhan ini sangat istimewa bagi manusia dan satwa. Dari buah-buahan tumbuhan ini manusia bisa terbantu dari segi ekonomi dengan memanfaatkannya sebagai penghasilan. Hal yang sama juga, dari tersedianya buah-buahan dari tumbuhan hutan menjadikan satwa/hewan dapat bertahan hidup.

Sedangkan satwa/hewan endemik asal Kalimantan antara lain adalah; Orangutan, Bekantan, Burung enggang. Ketiga satwa ini keadaannya dari hari kehari semakin memprihatinkan keberadaannya dikarena habitat hidup mereka berupa hutan kian semakin sempit.

Rayap dan serangga termasuk makanan orangutan. Foto dok. Tim Laman dan Yayasan Palung

Orangutan Jantan yang ada di Gunung Palung. Foto dok. Tim Laman

Orangutan misalnya, satwa endemik yang disebut kera besar ini mendiami dua pulau (Sumatera dan Kalimantan)  dan memiliki kemiripan DNA dengan manusia mencapai 96,4 %. Saat ini orangutan masuk dalam status IUCN dalam daftar sangat terancam punah.

Monyet belanda, demikian monyet yang memiliki hidung mancung disebut. Habitat hidup dari bekantan adalah di sekitar hutan  tepian sungai. Keberadaan satwa ini juga sangat dilindungi karena satwa ini hanya terdapat di pulau Kalimantan.

Sedangkan nasib dari burung enggang tidak kalah terancamnya. Dari tahun ke tahun kepak sayap dari burung enggang yang menjadi ikon kota Pontianak ini kian sayup terdengar karena sering diburu paruhnya. Sepanjang tahun nasib hidup burung enggang kian tragis dialamnya berupa hutan. hal yang sama juga bagi kelempiau, kelasi dan beberapa satwa lainnya tidak terkecuali tarsius dan kukang.

Beberapa tumbuhan dan satwa yang berdiam di hutan sebagai habitat hidupnya tidak terkecuali memiliki fungsi merupakan rantai makanan (penyeimbang ekosistem). Adanya tumbuhan, hutan dan satwa memiliki peranan penting bagi keberlanjutan atau keharmonisan makhluk hidup lainnya yang sayang jika tidak berlanjut.

Tumbuhan, hutan dan satwa juga memiliki peranan penting bagi satukesatuan bagi semua makhuk hidup lainnya. Tidak bisa disangkal, tumbuhan, hutan dan satwa sangat berguna/bermanfaat bagi manusia dan lingkungan. Hutan dan tumbuhan memiliki peran bagi tersediannya oksigen, penyedia perpustakaan bagi ilmu pengetahuan dan sebagai pencegah terjadinya berbagai ancaman yang bisa saja mendera seperti banjir, longsor dan kekeringan.

Demikian juga halnya satwa endemik seperti orangutan dan burung enggang yang memiliki fungsi sebagai penyembang (spesies payung). Mengapa? Disebut sebagai spesies payung karena satwa yang dimasud adalah sebagai penyebar biji-bijian sebagai cikal bakal reboisasi hutan secara alami. Tumbuhan pun begitu penting bagi tatanan kehidupan lainnya (makhluk lainnya) sama halnya dengan hutan. Tumbuhan memiliki peranan penting bagi penyedia obat-obatan alami (obat-obat tradisional).

Adanya satwa dan tumbuhan sebagai indikator (penanda) hutan sebagai habitat hidup masih baik adanya. Sebaliknya bila hutan, tumbuhan dan satwa sudah semakin berkurang atau bahkan sangat terancam punah/hilang pasti keberlanjutan makhluk hidup termasuk manusia dijamin akan sulit bertahan (berlanjut) secara lestari bila tidak ada tumbuhan, hutan dan satwa.

Perlu perhatian semua pihak jika tumbuhan, hutan dan satwa boleh berlanjut. Salah satunya kepedulian, kebijaksanaan serta perlindungan. Dengan demikian tumbuhan, hutan dan satwa dapat terjaga dengan baik pula demi keberlanjutan makhluk hidup terlebih kita manusia.

Tulisan ini sebelumnya dimuat di Blog mongabay Indonesia Berikut Beberapa Tumbuhan dan Satwa Endemik yang Berasal dari Borneo

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Prihatin, Ada Pembantaian Keji Terhadap Orangutan di Kapuas

orangutan-yang-dibunuh-dan-di-konsumsi-oleh-pemburu-borneonews_-roni-sahala

Orangutan yang dibunuh dan di konsumsi oleh pemburu. Borneonews/Roni Sahala

Tidak hanya dibunuh, kejamnya lagi, daging orangutan tersebut mereka  makan (para pemburu) beramai-ramai. Tentu perbuatan seperti ini tidak seharusnya dilakukan dan terjadi. Selain juga tindakan (perbuatan) tersebut keji dan melanggar hukum, hal ini terjadi di Kapuas, Kalteng, (14/2/2017) kemarin.

Mengutip dari laman detik.com, peristiwa  itu diketahui setelah masyarakat melaporkan  kejadian tersebut kepada Wakil Ketua Komisi IV DPR Daniel Johan. Komisi IV sendiri memang membidangi masalah kehutanan.

Baca;https://news.detik.com/berita/d-3422098/anggota-dpr-terima-aduan-orangutan-di-kalteng-dibunuh-dan-dimasak dan http://www.borneonews.co.id/berita/52114-ngeri-bangkai-orangutan-ini-diolah-untuk-dimakan .

Sebagai satwa yang sangat terancam punah (endemik) atau dengan kata lain masuk dalam daftar merah/red list dan dilindungi oleh Undang-undang  sudah sepatutnya untuk terus dijaga dan dilindungi apa lagi membunuh atau memakan orangutan sebagai satwa yang dilindungi tersebut. Baca;http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/orangutan-sangat-terancam-punah-apa-yang-harus-dilakukan_5822e879cb23bd1023027133.

Peristiwa yang terjadi ini pun seakan menambah derita panjang tentang nasib satwa yang dilindungi keadaannya (kondisinya) kini semakin terancam akibat semakin menyempit untuk perluasan lahan berskala besar dan diperparah lagi dengan kasus perburuan yang juga masih saja masif terjadi.

Suatu tidakan yang boleh dikatakan keji tersebut sudah seharusnya untuk dikecam dan berharap harus ada sangsi tegas dan tindakan untuk efek jera terhadap pelaku sesuai dengan sanksi tata aturan yang berlaku. Dengan harapan tidak ada lagi terjadi kasus-kasus seperti ini secara berulang dan jangan sampai terjadi pada satwa-satwa dilindungi terlebih orangutan sebagai satwa endemik.

Mengingat, satwa dilindungi semakin terancam dan semakin langka menjelang terkikis habis termasuk habitat satwa berupa hutan. Maka dari itu, perlu upaya-upaya perlindungan dan kelestarian satwa-satwa dilindungi dengan ragam pendekatan kepada masyarakat seperti sosialisasi (penyadartahuan) tentang satwa dilindungi, edukasi dan informasi satwa dilindungi  dan beragam kegiatan lainnya yang mungkin bisa untuk mencegah hal ini agar tidak terjadi lagi.

Selain itu juga harus ada sanksi tegas terhadap para pelaku yang melakukan kejahatan terhadap satwa dilindungi. Tentunya, diperlukan peran serta dari semua pihak secara bersama pula tanpa terkecuali untuk menjaga dan melestarikannya (pelestarian), termasuk perlindungan terhadap hak hidup dari satwa dilindungi lainnya.

Nasib hidup satwa dilindungi untuk terus berlanjut dan lestari  ada pada kepedulian dari kita semua tidak hanya pemerintah, lembaga-lembaga konservasi lingkungan dan lembaga yang focus pada kelestarian satwa serta siapa saja. Apabila tidak, maka akan dikhawatirkan kasus-kasus seperti ini akan terulang dan satwa dilindungi akan semakin terancam punah bahkan punah di alamnya dalam waktu  singkat. Berharap, semoga aparat penegak hukum bertindak tegas dan segera memproses secara hukum supaya kasus seperti ini tidak terulang lagi.

Tulisan ini juga sebelumnya telah dimuat di Kompasiana :Astaga, Ada Pembantaian Keji terhadap Orangutan di Kapuas

Petrus Kanisius-Yayasan Palung