Monthly Archives: Desember 2016

Cerita tentang Kehidupan Orangutan

orangutan-nan-rawan-foto-capture-sampul-majalah-natgeo-indonesia

Keadaan (nasib) hidup orangutan saat ini dalam ancaman serius. Satwa endemik ini keberadaanny dialam bebas lebih khusus di hutan Kalimantan dan Sumatera semakin terancam punah.Orangutan Sangat Terancam Punah, Apa yang Harus Dilakukan

Bergantung di Dahan nan Lapuk

Perilaku yang sukar dipahami dan unik membuat orangutan selalu untuk selalu dinantikan oleh para peneliti baik dari dalam ataupun dari luar negeri. Mengingat, orangutan merupakan satwa yang memiliki peranan paling penting sebagai spesies payung.

Ini Istimewanya orangutan sebagai Spesies Payung

Tetapi, saat ini ancaman kepunahan selalu mengancam kehidupan oragutan dan satwa lainnya. Beberapa ancaman terhadap keberlanjutan makhluk hidup lebih khusus orangutan adalah semakin sempitnya area (wilayah) karena pembukaan lahan skala besar.

Perlu perhatian dari semua pihak untuk terus menjaga dan melindungi orangutan yang disebut juga sebagai kera besar yang ada di Asia, lebih tepatnya di hutan Kalimantan dan Sumatera (Indonesia).

Baca juga : (Dongeng) Namaku Pongo, Aku Tinggal di Hutan,

Selamatkan Hutan, Sayangi Orangutan

 

Bahan bacaan

Berikut beberapa bahan bacaan :

Persentasi  jamur di Stasiun Penelitian Cabang Panti, Taman Nasional Gunung Palung : presentation_ogi-mahasiswa-untan-yang-mengidentifikasi-jamur-di-cp-gunung-palung

Majalah Yayasan Palung MIas 20 Halaman

Brosur BOCS Brosur_brochure 2016  bocs-brosur_brochure-2016

Stiker PPO stiker PPO(1)

orangutan-caring-week-2016

baner-ppo-2016

Peraturan Menteri tentang Adiwiyata permen-adiwiyata

lampiran-iv-permen-adiwiyatalampiran-iii-permen-adiwiyatalampiran-ii-permen-adiwiyata

Laporan tahunan :  GPOCP ANNUAL REPORT 2014

Laporan tahunan Laporan tahunan Yayasan Palung, tahun 2015

Persentasi tentang orangutan manfaatnya bagi hutan dan manusia

 

Undang-Undang

Undang-undang tentang Perkebunan 121_uu-no-18-th-2004_perkebunan

Undang- undang ttg konservasi dan SDA dan Ekosistem undang-undang-tentang-konservasi-sumber-daya-alam-hayati-dan-ekosistem

Tentang Moratorium pinjam pakai suatu kawasan moratorium_ijin_pinjam_pakai_kawasan_hutan

uu_4_tahun_2009

uu_7_2004_sumber_daya_air

uu_24_2007_penanggulangan_bencana

uu32-2009

Yayasan dan Greenpeace Adakan Pelatihan GIS dan Investigasi Bagi Masyarakat Lokal

img-20161206-wa0003

Pemateri menyampaikan materi tentang investigasi dan GIS

Bertempat di kantor Yayasan Palung, sekitar 23 peserta  terlihat sangat antusias dan semangat ketika mengikuti pelatihan (belajar) Global Iinformation System (GIS) dan Investigasi sebagai panduan dasar bagi masyarakat lokal ketika bertugas di lapangan. Pelatihan yang diselenggarakan tersebut berlangsung sejak hari selasa hingga rabu (6-7 Desember 2016), kemarin.

Kegiatan yang terselenggara atas kerjasama yang terjalin antara Yayasan Palung dan Greenpeace tidak lain sebagai panduan singkat, pengetahuan dasar bagi peserta pelatihan untuk meningkatkan pengetahun bagi masyarakat lokal dengan harapan mampu menererpkannya ketika bertugas di lapangan.

Pengenalan tentang dasar-dasar GIS dan Investigasi diharapkan dapat berguna dan diaplikasikan ketika di lapangan melakukan pemetaan titik api, investigasi dan lain sebagainya. Demikian dikatakan oleh Sapta, salah satu pemateri pada saat pelatihan berlangsung.

Sebelum penyampaian materi pelatihan, diawali dengan maksud dan tujuan diadakannya pelatihan. Adapun maksud dan tujuan dari kegiatan ini tidak lain adalah, menciptakan SDM yang handal dalam bidang GIS serta menciptakan SDM yang mampu menerapkan informasi dan teknologi spasial secara profesional. Selain itu juga bertujuan untuk membangun SDM yang handal dibidang investigasi dalam mengungkap suatu kejadian atau fakta di lapangan serta menyiapkan tenaga-tenaga yang handal dalam menjalankan investigasi.

Dalam kegiatan tersebut, hari pertama, Selasa (6/12/2016), pemateri dari Greenpeace, Gex Alzaman menyampaikan materi terkait tehnik investigasi. Bagimana cara melakukan tugas investigasi yang baik salah satunya dengan melakukan berbagai cara seperti penyamaran. Selain itu juga dalam melakukan investigasi harus dilengkapi dengan berbagai alat pendukung antara lain seperti kamera dan Global Positioning System (GPS) dan perlengkapan lainnya termasuk bagaimana mengatasi resiko yang harus dihadapi ketika sedang bertugas di lapangan.

Pada hari ke dua pelatihan, Rabu (7/12/2016), peserta diajak untuk mengenal, menggunakan alat-alat seperti GPS, peserta pelatihan diajak mempraktekannya dengan mencari lokasi dan mengambil titik-titi koordinat yang telah ditentukan oleh pemateri melalui peta GPS yang ada di handphone. Selanjutnya peserta memasukan data yang dipraktekkan tersebut kedalam program GIS.

Dalam melakukan praktek peserta dibagi dalam tiga kelompok, ketiga kelompok diwajibkan dengan berjalan kaki, di tengah teriknya mentari untuk mengambil titik-titik koordinat sesuai petunjuk berdasarkan peta yang telah ditentukan dengan jarak pengambilan titik keseluruan di area 2-3 km di wilayah Ketapang (di mulai dari Jl. Kol. Sugiyono- Jembatan Pawan I). Para peserta tampak bersemangat ketika  diminta oleh panitia untuk mengambil titik-titik koordinat dan memotret tempat yang ditentukan titik, seperti misalnya; titik pertama pertama memulai pengambilan titik, penentuan titik jalan, bundaran ataupun tempat ibadah dan lain sebagainya. Tujuan dari praktek ini tidak lain, ketika di lapangan peserta pelatihan dapat mengambil titik dan menentukan titik koordinat suatu wilayah, tempat dan lain sebagainya sebagai sebuah data dalam melakukan investigasi selanjutnya masing-masing dari tiga kelompok mempresentasisikan hasil dari praktek pengambilan titik-titik koordinat mereka dimasukkan (ditransfer) kedalam peta data pada program GIS. Adapun sebagai pemateri di hari kedua adalah Sapta dari Greenpeace Indonesia.

Peserta yang ikut dan hadir sebagai peserta, terdiri dari masyarakat lokal seperti perwakilan dari Aliansi Masyarakat Adat (AMA) Kendawangan, Jelai Hulu, Pasukan Pemadam Api, Yayasan Palung dan Relawan, Yayasan IAR Indonesia dan Balai Konservasi Wilayah 1 Ketapang dan Manggala Agni.

Agus Trianto dari GPOCP/YP, salah seorang peserta pelatihan mengutarakan pendapatnya terkait pelatihan yang dia ikuti, “Pelatihan GIS dan Investigasi yang diselenggarakan ini sangat bermanfaat bagi peserta khususnya diri saya yang terkadang terlibat dengan kegiatan yang berkaitan dengan GIS”.

Selain itu menurut Nun Fauzen salah seorang peserta dari Relawan RebonK  mengatakan, “pelatihan ini sangat membantu masyarakat lokal khususnya saya karena hasil dari pelatihan ini bisa diterapkan dapat membantu masyarakat lokal dalam melindungi lahan dan hutan yang dikelola dan dijaga oleh masyarakat”.

Sedangkan Terri Breeden selaku Direktur Yayasan Palung, mengatakan; Yayasan Palung sangat senang bekerjasama dan berkoordinasi dengan Greenpeace Indonesia untuk memberikan pengetahuan tentang GPS dan GIS dan pelatihan Investigasi kepada masyarakat lokal. Selain itu, keahlian yang diperoleh dari pelatihan ini akan sangat menguntungkan masyarakat di Seluruh Kalbar dengan manajemen lahan yang lebih baik, ujar Terri lebih lanjut.

Pelatihan GIS dan Investigasi yang diselenggarakan selama dua hari tersebut mendapat sambutan baik dari para peserta dan berjalan sesuai dengan rencana. Selanjutnya juga Tim Yayasan Palung dan Greenpeace Indonesia mengadakan pelatihan bagi masyarakat lokal di wilayah hutan lindung Gambut Sungai Paduan diadakan pelatihan dan kampanye pemadaman api dari tanggal 9 hingga 14 Desember 2016.

Tulisan ini juga dapat dibaca di : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/masyarakat-lokal-belajar-gis-dan-investigasi-sebagai-panduan-singkat-ketika-bertugas_584a6ff709b0bde50e6f5bf2

Petrus Kanisius-Yayasan Palung