Monthly Archives: Oktober 2016

Tim Laman Menjadi Pemenang Fotografer Satwa Liar Tahun 2016

tim-laman-saat-menerima-penghargaan-wildlife-photographer-of-the-year-2016-foto-dok-cvfznkbxgaausgd-58088da0be22bd7451632b7e

Tim Laman Saat Menerima penghargaan Wildlife Photographer of the Year 2016. Foto dok. CvFZNkbXgAAuSGd

Foto orangutan yang sedang memanjat kayu ara atau pohon beringin (Ficus) di Kawasan Taman Nasional Gunung Palung. Orangutan itu bernama Net. Kegagahannya Net memanjat pohon itulah yang berhasil diabadikan seorang fotografer satwa liar (alam liar) Tim Laman dan foto tersebut mengantarkan Pak Tim, demikian dia disapa sehari-hari menjadi pemenang fotografer satwa liar tahun 2016. Mengabadikan banyak foto tentang keindahan alam dan satwa memang telah lama dilakoni oleh Tim Laman.

orangutan-yang-memanjat-pohon-di-hutan-hujan-gunung-palung-foto-inilah-yang-menghantarkan-tim-laman-sebagai-pemenang-dok-tim-laman

Orangutan yang memanjat pohon di hutan hujan Gunung Palung. Foto inilah yang menghantarkan Tim Laman sebagai pemenang dok. Tim Laman

Untuk Membaca lebih lanjut artikel ini, selengkapnya dapat dilihat dilink : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/potret-orangutan-indonesia-bawa-fotografer-natgeo-raih-penghargaan_58088eae707a61251e4d8b4d

Iklan

Si Manis Pemakan Semut Itu Kini Terancam Punah

si-manis-javanica-yang-dijumpai-di-bukit-tarak-foto-dok-wawan-pematang-gadung

Si Manis javanica yang dijumpai di Bukit Tarak. Foto dok. Wawan Pematang Gadung

Si Manis bersisik yang unik. Disebut unik karena hewan ini bisa menggulungkan badannya hingga bulat tak ubah seperti bola, membuat sarang di tanah dan memakan semut dan rayap. Sayangnya nasibnya kini sangat terancam punah. Mungkin ada yang tahu dan bisa menebak nama hewan yang dimaksud?

Untuk Membaca Lebih lanjut, selengkapnya  di :http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/si-manis-pemakan-semut-itu-kini-terancam-punah_5805db55a723bd8e158b456b

Puisi : Mengintip Semesta

tentang-hutan-sebagai-penyambung-nyawa-foto-dok-petrus-kanisius

Tentang hutan sebagai penyambung nyawa. Foto dok. Petrus Kanisius

Aku adalah aku yang tidak lain adalah semesta, tempat berdiam ragam nafas. Kosmos yang kini dalam ruang dan waktu yang tak menentu.

Tetapi, apakah aku mampu tanpa dia atau mereka

Aku, karena aku bukan siapa-siapa, aku dicipta di hari pertama dalam kisah penciptaan.

Aku tak lain tak bukan sebagai tempatku hidup yang menjadi alfa dan omega.

Tetapi, Aku tercipta bukan hanya untuk aku semata melainkan untukmu, untuk kita, kita semua juga bersama.

Aku terlahir untuk nafas segala bernyawa hingga waktu entah kapan berakhir.

Tanyaku dalam diam, Sakit, jika terus (ter/di)sakiti mungkin kah masih ada rasa?.

Adakah saling peduli?.

Aku tercipta untuk pemenuhan, pemenuhan akan keberlanjutan.

Cakrawala terkadang meredup ketika bias tingkah polah nafas yang tak kenal ampun.

Ragam yang dikata sebagai bencana kerap menghampiri seolah enggan berlalu.

Embun pagi tak lagi menyejukan jiwa karena menjelma menjadi butiran debu panas menyengat keringat.

Dia, mereka, kita semua akankah ingat akan aku?.

Tentang aku terlahir apa tujuan sesungguhnya.

Menyana, tertera, terlukis, tergambar hingga tersiar, tentang aku semakin rebah terkulai layu. Apakah engkau bahagia, menegokku dengan situasi begini?.

Prihatin?. Peduli?. Atau diam membisu?.

Entahlah hanya Dia, mereka yang tahu. Harapku, senenap nafas segala bernyawa masih boleh bernyanyi jua bersukacita.

@Ketapang, Kalbar 10 Oktober 2016

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Selengkapnya : http://fiksiana.kompasiana.com/pit_kanisius/mengintip-semesta_57fb6502567b616f221e2cd9

Tim dari Pusat Lakukan Verifikasi Hutan Desa di Kayong Utara

tim-dari-pusat-lakukan-verifikasi-hutan-desa-di-kayong-utara-foto-dok-yp

Tim dari pusat lakukan verifikasi Hutan Desa di Kayong Utara. Foto dok. YP

Kedatangan Tim Verifikasi Hutan Desa ini menindaklanjuti Surat Rekomendasi Bupati Kabupaten Kayong Nomor: 522/829/Hutbun-C tertanggal 23 Agustus 2016 Perihal Usulan Penetapan Areal Kerja (PAK) Hutan Desa. Tim yang berjumlah 22 orang tersebut, terdiri dari enam orang dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, 10 orang dari Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan (PSKL) Zona Kalimantan, satu orang dari BPKH Wilayah III Kalimantan Barat, dua orang mewakili Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Barat, dan tiga orang dari Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Kayong Utara.

Selengkapnya dapat dibaca di : http://www.pontianakpost.com/hutan-desa-segera-terealisasi

Masyarakat Kayong Lestarikan Lingkungan dengan Membuat Tikar Pandan

tikar-pandan-foto-dok-yayasan-palung

Tikar Pandan, anyaman dari pengrajin. Foto dok. Yayasan Palung

Dahulu kala, tikar pandan dalam masyarakat Melayu di Kabupaten Kayong Utara (KKU) merupakan salah satu bukti nyata bahwa seorang wanita dinyatakan siap menikah apabila wanita tersebut sudah bisa menganyam tikar pandan dan begitu juga sebaliknya wanita tersebut tidak boleh menikah kalau belum bisa menganyam tikar pandan.

Di tahun 2016 ini rata-rata penghasilan dari masing-masing pengrajin yang ada di kelompok Ibu Ida atau “Ida Craft” adalah sebesar Rp.1,500,000/ bulan dari penjualannya kepada pemerintah, selain juga beberapa tas anyaman dari pandan dipesan dari pengrajin untuk gawean (acara) Sail Karimata 2016.

Baca Selengkapnya di : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/masyarakat-kayong-lestarikan-lingkungan-dengan-membuat-tikar-pandan_57eb895d0f93730e14090303