Monthly Archives: September 2016

Mengenal Pohon Dipterocarp dan Manfaatnya

pohon-dipterocarp-yang-tumbuh-di-habitat-hidupnya-di-gunung-palung-foto-dok-yayasan-palung-gpocp-dan-tim-laman

Pohon Dipterocarp yang tumbuh di habitat hidupnya di Gunung Palung. Foto dok. Yayasan Palung, GPOCP dan Tim Laman

Di hutan tropis, lebih khusus di wilayah Kalimantan Barat, tumbuhan yang memiliki damar, dipterocarp demikian tumbuhan ini disebut. Pohon ini juga ternyata memiliki banyak banyak mantaat, selain itu juga penting dan menarik serta termasuk disukai oleh bagi banyak satwa, terutama orangutan yang sangat menyukai buah dari pohon ini.

Pohon dari keluarga Dipterocarpaceae memiliki beberapa jenis. Antara lain adalah jenis-jenis Meranti  (Shorea sp.) dan Keruing (Dipterocarpus sp.). Pohon-pohon Dipterocarp seperti meranti dan keruing memiliki ukuran bisa melebihi satu meter dan memiliki tinggi 30 hingga 60 meter. Pohon Dipterocarpaceae hidup dan tumbuh di datan rendah. Hal yang penting dan menarik dari pohon ini selain menjadi makanan dari banyak satwa. Menariknya, jika pohon tersebut (Dipterocarpaceae) berbuah, maka hampir dipastikan 90% pohon lainnya juga akan menyusul berbuah. Direktur Penelitian Yayasan Palung (GPOCP), Tri Wahyu Susanto yang juga merupakan salah seorang peneliti di Stasiun Penelitian Cabang Panti (SPCP), di Taman Nasional Gunung Palung (TNGP) mengatakan; Jika Pohon Dipterocarpaceae berbuah, maka akan menjadi penanda awal yang mana pohon-pohon buah yang lainnya seperti durian hutan, rambut hutan dan manggis akan menyusul berbuah pula,  biasanya disebut buah raya (mast fruit).

meranti-atau-shorea-sp-yang-sedang-berbuah-merupakan-jenis-pohon-dipterocarpaceae-foto-dok-yayasan-palung-gpocp-dan-tim-laman

Meranti atau Shorea sp. yang sedang berbuah, merupakan jenis pohon Dipterocarpaceae. Foto dok. Yayasan Palung, GPOCP dan Tim Laman

Wahyu demikian ia disapa sehari-hari, lebih lanjut mengatakan; pada saat musim buah raya tiba, selain buah Ficus (kayu ara), juga buah Dipterocarpaceae menjadi penting bagi satwa seperti orangutan. Seperti kelasi dan kelempiau juga memakan buah ini (Dipterocarpaceae) Biasanya buah raya akan terjadi dalam rentang waktu 4-5 tahun, dan menariknya, setelah buah raya berakhir dipastikan masa reproduksi (musim kawin) tiba. Berdasarkan hasil penelitian di Stasiun Riset Cabang Panti, satu tahun setelah musim buah selesai, akan ada bayi orangutan lahir. Menariknya lagi, pohon ini juga memiliki ciri khas selain tinggi dan ukurannya besar, tetapi juga memiliki tutupan kanopi (tutupan pohon). Seperti di Cabang Panti, Taman Nasional Gunung Palung (TNGP), hampir dipastikan 80% adalah tumbuhan Dipterocarpaceae.

Pohon Dipterocarpaceae, dikenal juga dengan nilai ekonominya yang tinggi dan merupakan tanaman yang langka karena keberadaannya yang semakin berkurang dari tahun ke tahun. Adapun sebaran dari jenis pohon ini tersebar juga di beberapa wilayah seperti di Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, Maluku, Bali, Lombok dan Papua.

dafrar-sebabaran-pohon-dipterocarpaceae-di-indonedafrar-sebabaran-pohon-dipterocarpaceae-di-indonesia-capture-data-dari-boy-marpaungsia-capture-data-dari-boy-marpaung

Dafrar sebabaran Pohon Dipterocarpaceae di IndoneDafrar sebabaran Pohon Dipterocarpaceae di Indonesia. Capture data dari Boy Marpaungsia. Capture data dari Boy Marpaung

Mengingat, menurut daftar IUCN, memasukan dafrar Dipterocarpaceae masuk dalam daftar sangat terancam punah (Red List/ RL) karena beberapa sebab, antara lain karena pembukaan lahan secara luas. Semoga saja, Pohon-pohon yang tersebar dibeberapa wilayah Indonesia ini masih dapat lestari hingga nanti.

Tulisan ini juga pernah ditulis di kompasiana selengkapnya dapat dilihat dilink : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/mengenal-pohon-dipterocarp-dan-manfaatnya_57ecdb8090fdfd8728c9d164

 

Yayasan Palung Ikut Membantu Lima Desa di kayong Utara Ajukan Bentuk Hutan Desa

yayasan-palung-saat-menyampaikan-persentasi-kepada-dinas-kehutanan-provinsi-kalbar-tentang-hasil-survei-di-sungai-paduan-foto-dok-yayasan-palung

Yayasan Palung saat menyampaikan persentasi kepada Dinas Kehutanan Provinsi, Kalbar tentang hasil survei di Sungai Paduan. Foto dok. Yayasan Palung

Demi mewujudkan hutan desa di lima desa itu belum lama ini Yayasan Palung Bertandang ke Provinsi Kalimantan Barat. Kita presentasikan hasil survai potensi hutan lindung Sungai Paduan.

Kelima desa tesebut adalah : Desa Penjalaan, Desa Padu Banjar, Desa Nipah Kuning, Desa Pulau Kumbang dan Desa Pemangkat.

Yayasan Palung Dampingi Masyarakat Bentuk Hutan Desa. Foto berita yang dimuat di Suara Pemred. dok. Yayasan Palung.jpg

Yayasan Palung Dampingi Masyarakat Bentuk Hutan Desa. Foto berita yang dimuat di Suara Pemred. dok. Yayasan Palung

data-hasil-survei-di-sungai-paduan-foto-berita-yang-dimuat-di-tribun-pontianak-cetak-dok-yayasan-palung

Data hasil Survei di Sungai Paduan. Foto berita yang dimuat di Tribun Pontianak Cetak. dok. Yayasan Palung.

tim-verifikasi-hutan-desa-berfoto-bersama-bupati-kayong-utara-foto-dok-desi-yayasan-palung

Tim Verifikasi Hutan Desa dari Pusat berfoto bersama Bupati Kayong Utara. Foto dok. Desi, Yayasan Palung

Untuk informasi lebih lanjut, dapat lihat di Link :

http://pontianak.tribunnews.com/2016/09/22/lima-desa-di-kayong-utara-ajukan-bentuk-hutan-desa

http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/ini-ragam-potensi-di-kawasan-hutan-lindung-sungai-paduan-untuk-keberlanjutan-semua-makhluk-hidup_57ea42731497737712033796

Asyiknya Belajar Bersama Relawan Tentang Radio, Menulis untuk Berbicara

peserta-pelatihan-radio-mendengarkan-penjelasan-dari-pemateri-pelatihan-foto-dok-yayayasan-palung

Peserta pelatihan radio mendengarkan penjelasan dari pemateri pelatihan. Foto dok. Yayayasan Palung

Asyiknya belajar bersama, setidaknya itulah yang kami rasakan saat kami belajar tentang radio bersama  Relawan Bentangor untuk Konservasi (REBONK) dan peserta undangan dari Yayasan ASRI. Kegiatan tersebut diadakan di Kantor Bentangor, Yayasan Palung di Desa Pampang Harapan, Kabupaten Kayong Utara, Kalbar, kegiatan dilaksanakan pada Sabtu hingga Minggu (17-18/9/ 2016), kemarin.

Dalam kata sambutannya, Edward Tang, selaku koordinator Pendidikan Lingkungan dan Media Kampanye mengatakan, adapun tujuan dari pelatihan tersebut  tidak lain adalah  pertama, Meningkatkan pengetahuan peserta dalam bidang lingkungan hidup. kedua, Melatih perserta pemula untuk bisa melakukan siaran di radio-radio lokal dan untuk meningkatkan peran serta relawan konservasi untuk dapat mendukung program kampanye Yayasan Palung, dan radio lokal Kabupaten Kayong Utara.

Pelatihan radio tersebut, mengetengahkan materi-materi dasar  tentang radio. Salah satunya adalah materi tentang visi dan misi penyiaran radio di Indonesia lebih khusus di daerah. Selanjutnya juga materi tentang teknik dasar siaran radio, pembuatan skript radio praktek sekaligus juga produksi siaran radio. Para pemateri menekankan kepada peserta pelatihan radio sebaiknya sesuai dengan skript (naskah) agar peserta saat siaran  tidak terpaku kepada naskah, bukan menulis untuk membaca, tetapi menulis untuk berbicara.

Selengkapnya dapat dilihat di link: http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/asyiknya-belajar-bersama-relawan-tentang-radio-menulis-untuk-berbicara_57e0e01b63afbd0119a7ee78

By : Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Bahaya! Daun Ketum Ternyata Masuk Kategori Narkotika

daun-ketum-atau-kratom-yang-telah-menjadi-eksrak-foto-2-dok-superadaherbs-mywebhome-ca

Daun Ketum atau kratom yang telah menjadi eksrak. foto dok. superadaherbs.mywebhome.ca

Ketum, begitu orang di kampung-kampung seperti di beberapa Kecamatan di Kabupaten Katapang, Kalbar, menyebutnya tidak sedikit yang menggantungkan hidup, menampung dan menjual daun ini.

Fantastis!! karena harga daun ketum harganya jika sudah di eksrak bisa mencapai Rp 17.000 per 1 kg, jauh lebih tinggi harganya mengalahkan harga karet yang harganya semakin anjlok. Akan tetapi, ternyata daun ketum tenyata berbahaya karena masuk kategori narkotika.

Ketum (keratom) kini menjadi bisnis musiman yang tiba-tiba muncul dan sangat populer saat ini. Daun Ketum dalam bahasa Inggrisnya dikenal dengan nama Kratom dan dalam bahasa latinnya dikenal dengan nama Mitragyna speciosa. Konon daun ini masuk dalam kategori (golongan) yang mengandung narkotika.

Di beberapa kecamatan seperti di Simpang Dua, Simpang Hulu, Laur dan Tayap, seperti di Matan Jaya beberapa waktu lalu, di mana kami pernah menjumpai secara langsung masyarakat yang sedang menjemur dan memasukannya ke karung. Selanjutnya keratom tersebut siap untuk diolah dengan cara mengeksraknya dan siap untuk menjualnya.

daun-ketum-atau-keratom-masuk-dalam-kategori-narkoba-foto-dok-yayasan-palung

Daun Ketum atau keratom masuk dalam kategori narkoba. Foto dok. Yayasan Palung

Menurut mereka, salah satu warga  yang enggan namanya disebut, berumur 43 tahun menuturkan harga ketum lebih menjanjikan saat ini. Bapak dari tiga anak tersebut agak was-was, karena menurutnya, dia juga pada dasarnya masih bertanya-tanya tentang kegunaan sesungguhnya daun ini, bahkan katanya “Saya agak takut jika nantinya daun ini memiliki kegunaan lain,” “Kejelasan di pasaran juga tidak begitu terdengar,” tuturnya. Mereka mengaku, dalam bentuk daun kering, harganya per 1 kg adalah Rp 8.000 dan daun basah dibeli dengan harga Rp 2.000 per kg.

Menurut pengakuan mereka pula, daun ketum kini bak jamur yang tumbuh di musim penghujan, karena tiba-tiba daun tersebut yang jarang terdengar kini dicari-cari pengepul dari Pontianak, demikian ungkap mereka.

Lain lagi menurut penuturan bapak L, berusia 45 tahun, bukan nama sebenarnya. L mengatakan, “Di tengah harga karet yang semakin anjlok, ibarat dewa penyelamat dengan hadirnya jual beli daun ketum ini,” L menambahkan, Ia sekali jual bisa mencapai 200 kg hingga 300 kg sekali jual, biasanya dalam satu bulan bisa mencapai 1000 kg. Sangat membantu untuk membiayai anaknya yang sedang kuliah, tegasnya lagi dengan semangat.

Pohon ketum atau kratom yang daunnya kini sedang menjadi primadona di wilayah masyarakat karena sebagai sumber mata pencaharian. Seperti diketahui, di wilayah Indonesia, lebih khusus Kalimantan Barat, hampir di sepanjang sungai dan pantai terdapat tumbuhan ini.  Selain itu sebaran ketum terdapat juga dibeberapa negara seperti di Amerika Serikat, Thailand dan Malaysia.

Di masing-masing negara tersebut menurut pengakuan dari para pencari daun Ketum di masyarakat mengatakan, “Daun ketum dicari-cari saat ini karena memiliki kasiat sebagai obat, salah satunya obat diabetes,” kata salah seorang yang mengakui sudah dua bulan mencari daun ini. Sejatinya secara tradisi, masyarakat tidak mengenali tumbuhan itu untuk dipergunakan atau diperjualbelikan, namun dalam kurun lima bulan terakhir daun ini menjadi fenomena baru di wilayah seperti disebutkan diatas (Kecamatan Simpang Dua dan Simpang Hulu). Para pencari daun ketum ini tersebar di pelosok-pelosok kampung. Ada pencari barang ini (daun ketum).

Pengepul mengaku, daun ketum sebagai bahan obat salah satunya untuk penghilang rasa sakit, obat diabetes, obat pemulih stamina bagi wanita setelah melahirkan, karena sebagai pemulih stamina, tidak hanya itu menurut penjual di kampung, pembuang rasa haus karena akan dibuat menjadi teh. Pengepul yang kelihatan sangat berhati-hati dan tertutup dalam jual beli barang ini tidak menyebutkan secara rinci manfaat dan fungsi atau legalitas jual belinya.

Ada apa dengan daun Ketum, Bolehkah di Perdagangkan di Indonesia? Daun Ketum, kratom berdasarkan beberapa literatur menyebutkan daunnya  memiliki kandungan di dalam daunnya merupakan bahan berbahaya karena mengandung zat mitraginin (Jenis Narkotika). Berawal sejak sebelas tahun lalu (tahun 2003) daun ini membuat salah seorang ketagihan. Disebutkan pula, berdasarkan regulasi 1989, larangan perdagangan (ekspor dan impor bahan-bahan terlarang), Poisons Act 1952 dan secara tegas pada tahun 2003 melarang daun tersebut diperjualbelikan. Dengan demikian hampir dipastikan ketum menjadi produk yang ilegal untuk diperjualbelikan.

Menurut penuturan masyarakat, daun kratom yang telah diekskrak bisa diseduh seperti teh atau juga dibakar seperti ganja bahwa daun ketum masuk dalam kategori narkotika. Bagaimana dengan Indonesia? Sepertinya, hingga saat ini, jenis ketum tersebut belum diatur dalam UU No 23 Tahun 2009 tentang Narkotika.

Adapun bahaya atau dampak negatif jika ketum digunakan/isap (konsumsi) diantaranya adalah bisa menyebakan penyusutan berat badan, insomnia (susah tidur), anoreksia (kehilangan selera makan), bibir menjadi kering, muka bisa menjadi lebam-lebam yang membahayakan pipi dan muka. Selain itu juga rasa nyeri pada otot dan sendi dan mata, hidung berair (dari berbagai sumber).

Namun, di tahun 2016 ini sepertinya para pembeli dan penjual ketum sudah tidak terlihat atau marak seperti di tahun-tahun sebelumnya, tahun 2015 dan 2014 yang mana daun ketum masih marak di perjualbelikan.

Mudah-mudahan saja, masyarakat yang menggantungkan nasibnya dari hasil daun ketum tidak terjebak dan harapan agar ada mereka menadapkan pemahaman tentang hal ini dari pihak-pihak terkait. Semoga saja….

Tulisan ini sebelumnya di muat di kompasiana.com. Selengkapnya dapat dilihat di : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/bahaya-daun-ketum-ternyata-masuk-kategori-narkotika_57d8dc66107f615a1117d888

Petrus Kanisius-Yayasan Palung 

 

SMPN 3 Matan Hilir Utara Melakukan Fieldtrip di Sungai Beringin

IMG_8611.JPG

Peserta fieldtrip dari SMPN 3 MHU membuat tenda. Foto dok. Yayasan Palung

Tanggal 26-28 Agustus 2016 bulan lalu, SMPN 3 Matan Hilir Utara yang merupakan sekolah dampingan Yayasan Palung melakukan fieldtrip di Sungai Beringin.

Beberapa materi diberikan kepada peserta fieldtrip seperti pengamatan satwa pada malam hari, survei satwa, analisa vegetasi dan pengamatan indikator air. Selain itu juga, peserta diajak untuk melakukan persentasi dari beberapa materi  dan praktek  yang mereka dapatkan.

Sebagai pemateri dalam kegiatan tersebut adalah dari Yayasan Palung dan Mahasiswa-mahasiswi  penerima beasiswa  orangutan (BOCS).

img_8730

Peserta fieldtrip saat mempresentasikan hasil dari pengamatan mereka. Foto dok. Yayasan Palung

IMG_8693.JPG

Peserta fieldtrip saat melakukan pengamatan vegetasi hutan. Foto dok. Yayasan Palung

Fieldtrip tersebut  tidak lain juga merupakan salah satu cara langsung para siswa-siswi  untuk belajar secara langsung di alam.

IMG_8634.JPG

Peserta saat melakukan pengamatan. Foto dok. Yayasan Palung

Adapun peserta yang hadir dalam kegiatan tersebut (fieldrip-red) berjumlah 46 orang peserta yang terdiri dari peserta dan pendamping.

IMG_8763.JPG

Peserta fieldtrip berfoto bersama setelah kegiatan selesai. Foto dok. Yayasan Palung

Kgiatan tersebut berjalan sesuai dengan rencana dan mendapat sambutan baik dari para peserta fieldtrip (kunjungan lapangan).

Pit- Yayasan Palung

Yayasan Palung Melakukan Ekspedisi Pendidikan Lingkungan di Empat Desa Wilayah Hutan Desa untuk Penyadartahuan

puppet-show-bertutur-tentang-orangutan-dan-habitatnya-di-sdn-10-nipah-kuning-simpang-hilir-kku-foto-dok-yayasan-palung

Puppet Show bertutur tentang orangutan dan habitatnya di SDN 10 Nipah Kuning, Simpang Hilir, KKU. Foto dok. Yayasan Palung

Berkeliling dari desa menuju desa lainnya, setidaknya itulah yang kami Yayasan Palung lakukan selama 5 hari  dalam bingkai ekspedisi pendidikan lingkungan di wilayah hutan desa di Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara, pada  tanggal 29 Agustus 2016 hingga  2 September 2016, pekan lalu.

Empat desa yang kami kunjungi diantaranya Desa Padu Banjar, Desa Pulau Kumbang, Desa Pemangkat dan Desa Nipah Kuning. Adapun rangkaian kegiatan yang kami lakukanantara lain adalah  Puppet show (panggung boneka) di sekolah-sekolah dasar (SD) dan pemutaran film lingkungan sebagai salah cara kampanye penyadartahuan tentang lingkungan dan satwa dilindungi secara langsung kepada masyarakat…..

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/melakukan-ekspedisi-pendidikan-lingkungan-di-empat-desa-wilayah-hutan-desa-untuk-penyadartahuan_57cfe21bfc22bddb44a24674