Monthly Archives: Juni 2016

Ayo! Semua Nonton Bareng Film Mission Critical : Orangutan on The Edge di Cafe Oxxy

Walimah 1 jadi

Stop!!! Merusak Hutan, Lindungi Kehidupan Orangutan. Foto dok. Yayasan Palung

Buat semua kawan atau siapa saja ayo!  Kita bersama menyaksikan/ nonton bareng (Nobar) tentang film; Mission Critical : Orangutan on The Edge yang betempat di Cafe Oxxy, kota Ketapang, pada hari jumat, 24 Juni 2016. Adapun nobar tersebut rencananya dilaksanakan pada pukul 20.30  Wib.

Bermula pada tahun 1980-an GPOP (Gunung Palung Orangutan Project) mengadakan penelitian Orangutan di Cabang Panti, Kawasan Taman Nasional Gunung Palung (TNGP) yang luasnya 2100 Ha. Penelitian tersebut dilakukan oleh Cheryl Knott dan Tim Laman beserta para asisten yang berasal dari wilayah Sukadana.

Dari pengalaman selama penelitian, melihat terdapat ancaman terhadap habitat dan orangutan di TNGP, GPOP kemudian membentuk sebuah lembaga non profit Yayasan Palung (Gunung Palung Orangutan Conservation Program-GPOCP) pada tahun 2002 dengan program awal yaitu Pendidikan Lingkungan untuk penyadartahuan kepada anak-anak dan masyarakat luas tentang konservasi Orangutan dan Habitatnya di dua Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara. Maka hadirnya film Mission Critical : Orangutan on The Edge, merupakan pengalaman panjang penelitian yang dilakukan di Stasiun Riset Cabang Panti untuk dikemas dalam sebuah film, yang pada tahun 2015 oleh Tim Laman dan Nat-Geo Wild membuat sebuah film dokumenter berseri dan bercerita tentang kehidupan orangutan di Gunung Palung.

Sekilas tentang Sinopsis film Mission Critical : Orangutan on The Edge atau kurang lebih boleh dikata (Misi Kritis: Misi Orangutan Di Bumi yang hampir punah):

Film tersebut bercerita tentang orangutan bernama Walimah yang hidup di Taman Nasional Gunung Palung. Film ini hadir dan menceritakan kehidupan alam liar orangutan yang mendiami kawasan Gunung Palung, lebih khusus Orangutan Walimah sejak usianya bayi hingga dewasa. Selain itu, dalam film tersebut menceritakan pula para peneliti, diantaranya pasangan Tim Laman dan Cheryl Knott yang mencurahkan hidup mereka untuk meneliti perilaku-perilaku orangutan yang sangat menarik serta syarat akan ilmu pengetahuan. Di bagian lain bercerita tentang keberadaan orangutan yang berada di luar kawasan konservasi dalam ancaman nyata. Sudah pasti film tersebut sangat menarik. Anda Penasaran??? Untuk lebih lengkapnya, saksikan secara langsung bersama kami di  Channel Nat-Geo Wild.

Semoga saja, kawan-kawan semua dapat meluangkan waktu untuk menyaksikan film dokumenter ini, dengan harapan semoga dengan hadirnya film ini juga ada tumbuh semangat konservasi terlebih terhadap orangutan dan hutan dapat lestari hidup dan terselamatkan dari ancaman kepunahan di muka bumi ini.

By : Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Iklan

Asyik Bersiaran Radio tentang Pandangan Agama Terhadap Konservasi

Talkshow dgn Dishut _Ir. Adi Mulya. ttg permasalahan kehutanan dan Hutan Desa (2)

Ilustrasi Foto, Desi Kurniawati saat talkshow di RKK pada beberapa waktu lalu. Foto dok. Yayasan Palung.

Pada hari Kamis pekan lalu (16/06/2016), Yayasan Palung melalui Radio RKK  melakukan siaran dengan mengetengahkan tema tentang, Pandangan Agama Terhadap Konservasi (Pelestarian alam, konservasi dan lingkungan dalam perspektif syariat Islam).

Adapun isi materi yang disampaikan dalam siaran antara lain terkait pandangan agama terhadap konservasi (lingkungan). Dalam siaran tersebut, hadir sebagai penyiar Desi Kurniawati dan Hapiya. Adapun sebagai narasumber adalah Ustadz Jalaludin via telepon.

Dalam penyampaian siaran tersebut, pembahasan utama adalah tentang pandangan terhadap lingkungan (kewajiban) semua agama terlebih penganutnya untuk menjalankan perintah dan larangan dari Sang Pencipta. Salah satunya menjaga seisi bumi dan tidak merusaknya. Demikian juga anjuran para nabi untuk  menjaga bumi untuk keberlajutan.

Selain itu juga radio membuka layanan SMS dan telepon bagi pendengar sebagai umpan balik (feedback) atau respon dari materi yang disampaikan. Beberapa respon dari pendengar, misalnya Fransiska menyatakan, menyiapkan lahan baru untuk ditanam atau dalam arti kata melestarikan tanaman-tanaman langka dengan cara menanam kembali. Mengingat, jangan sampai ada tanaman yang ada di bumi ini punah. Selain itu juga lebih lanjut Fransiska mengatakan, tumbuhan atau tanaman yang ada dibumi semoga generasi yang akan datang bisa mengenali dan menjaga tanaman sebagai sebuah bentuk pelestarian, dengan harapan tumbuhan, lingkungan dapat lesari.

Pada dasarnya, agama-agama menganjurkan untuk melestarikan lingkungan. Misalnya dalam perspektif Islam, Ustadz Jalal mengatakan; dalam Alquran menyebutkan, lingkungan merupakan suatu hal yang penting dalam tatanan kehidupan dan mengisyratkan agar manusia menjaga lingkungan. Kerusakan lingkungan/bumi merupakan ulah manusia. lantas bagaimana cara untuk menjaga lingkungan?. Yang paling utama adalah melakukan aksi nyata untuk menjaga lingkungan. Anjuran utama dalam Islam, adalah kebersihan terkait kebersihan diri dan lingkungan agar terus dijaga. Selanjutnya juga perlu perhatian dari semua unsur untuk menjaga bumi dari kerusakannnya agar tidak terjadi bencana seperti banjir dan tanah longsor, penebangan liar yang berdampak kepada semua orang. Perlu himbauan dan kepedulian dari semua kita tentang hal itu (kepedulian lingkungan).

Dalam layanan SMS, pendengar bernama Andi Lau mengirimkan pesan berupa pantun yang sangat bagus, tentang pantun lingkungan. Isi pantunnya adalah sebagai berikut;

Cabe merah rasanya pedas,

kalau makan jangan dikunyah

Hutan rusak,

berganti cadas

Sungai kering,

hewanpun punah.

Buat jalan di hutan belukar,

Pohon tumbang jadi tontonan

Hutan bukan untuk di Bakar,

Tetapi untuk Sumber kehidupan.

Selain itu juga, ada penelpon dari Mas Tejo dari WHW, beliau berpendapat bahwa lingkungan menjadi sangat penting, tanggungjawab semua orang untuk menjaganya untuk keberlanjutan di masa yang akan datang.

Agama dan konservasi juga merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dalam tatanan kehidupan saat ini, perlu perhatian dan kerjasama dari semua pihak pula untuk secara bersama-sama menjaga, dengan demikian lingkungan hidup, bumi dan konservasi meberikan manfaat bagi semua pula agar tetap lestari hingga nanti. Kegiatan talkshow tersebut berjalan dengan baik dan sesuai rencana.

By : Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Satu Individu Bayi Orangutan Diselamatkan di Sandai

Rescue Orangutan milik pemilihara Bapak Acuan di Sandai. Foto dok. Yayasan Palung

Rescue Orangutan milik pemilihara Bapak Acuan di Sandai. Foto dok. Yayasan Palung

Ancaman terhadap individu Orangutan di Kabupaten Ketapang khususnya terkesan tidak pernah berhenti baik ancaman lansung terhadap individu Orangutan itu sendiri maupun ancaman terhadap habitat orangutan itu sendiri yang di akibatkan oleh pembukaan areal perkebunan sawit, pertambangan secara besar-besaran. Belum lama ini, di Kecamatan Sandai telah diselamatkan satu individu Orangutan milik salah satu warga bernama Bapak Lim Khie Chuan alias Bapak Achuan.

Bayi Orangutan berusian ± 1,5 tahun, berjenis kelamin Jantan, orangutan tersebut diberi nama Didik. Proses rescue itu dilakukan oleh Seksi Konservasi Wilayah I Ketapang yang bekerjasama dengan YIARI dan Yayasan Palung setelah sebelumnya berkoordinasi dengan anggota Polsek Sandai.

Berdasarkan keterangan Bapak Acuan bahwa pada hari sabtu (11/6/ 2016) ada salah satu warga yang tidak dikenal nama dan asalnya membawa bayi orangutan yang kondisinya sangat lemah. Merasa prihatin maka Bapak Acuan langsung meyelamatkan.

Dalam masa perawatan yang dilakukan Bapak Acuan dan sebelum diserahkan kepada pihak yang berwewenang bayi Orangutan di beri minum madu dan susu dengan tujuan menyegarkan kondisi bayi orangutan yang awal diselamatkan dalam kondisi sangat lemah dan kritis.

Selanjutnya melalui bantuan anggota Polsek Sandai dan Pendeta Necery O. Kondoy memngkomunikasikan kepada SKW I Ketapang, YIARI dan Yayasan Palung untuk secepatnya diselamatkan. Hasil pemeriksaan terhadap bayi Orangutan ada indikasi mendapatkan dengan cara menembak induknya dan mengambil anak. Hal ini di perkuat adanya peluru senapan yang bersarang di bahu bayi Orangutan.

Proses penyerahan bayi Orangutan dilakukan pada hari selama selasa (14 Juni 2016) yang dilakukan oleh SKW I Ketapang, YIARI dan Yayasan Palung. Serta dalam proses penyerahan disaksikan beberapa tokoh masyarakat yang ada di Kecamatan Sandai termasuk Bapak Pendeta Necery O. Kondoy. Dalam hal ini Yayasan Palung memberikan perghargaan dan ucapan terima kasih kepada Bapak Necery O.

Kondoy yang telah membantu proses penyelamatan bayi Orangutan bahkan pada tahun 2010 juga telah membantu dalam penyelamatan 1 individu bayi Orangutan. Bahkan Bapak Pendeta Necery O. Kondoy sangat bersedia menyampaikan kepada tokoh-tokoh masyarakat agar tidak melakukan perburuan, pemeliharaan serta perdagangan satwa dilindungi termasuk Orangutan.

Yayasan Palung juga, mengucapkan terima kasih kepada Bapak Acuan dan keluarga yang telah menyelamatkan serta menyerahkan secara sukarela bayi Orangutan. Setelah proses penyerahan diselesai dilakukan yang di tuangkan dalam Berita Acara (BA) penyerahan, bayi Orangutan dibawa ke pusat rehabilitasi yang di kelola YIARI untuk dapat perawatan lebih baik sebelum dilepasliarkan kembali ke habitatnya. (Edi Rahman-Yayasan Palung)

Melihat Semangat Anak-anak Desa yang Memantik Kegembiraan

13433102_10208906780322955_3622197513239006454_o

Semangat dan keceriaan anak-anak membaca buku tentang lingkungan dan satwa. Foto dok. Yayasan Palung

Foto-foto ini diambil di Dusun Jelutung Desa Matan Jaya, Kab. Kayong Utara pada 8 Juni 2016, di pagi yang basah karena malamnya diguyur hujan lebat.

Ini kegiatan sederhana yang kami lakukan, kami membawa 1 box buku-buku bacaan pada saat kunjungan ke desa-desa.

Mengapa kami ke desa ini, desa ini belum ada fasilitas listrik negara, listrik menyala dari generator milik pribadi.

Desa ini dikepung perkebunan kelapa sawit, bauksit dan kawasan Taman Nasional Gunung Palung.

Dulu, desa ini terkenal sebagai penghasil kayu dari aktifitas penebangan kayu liar.

Cukup banyak anak berkumpul dengan saling mengajak diantara mereka di rumah dimana kami menginap, dan mereka senang membaca buku-buku tersebut.

Berikut foto-foto semangat dan kegembiraan anak-anak desa tersebut :

13458632_10208906780562961_6134475861800562558_o

13392043_10208906780362956_6782647931083706562_o

13415535_10208906779402932_2489812749765461369_o

13418653_10208906780282954_3911248543449414609_o

Buku-buku itu merupakan buku bacaan tentang pengenalan terhadap lingkungan dan satwa. Berharap mereka mengenal, mencintai lingkungan di masa yang akan datang.

Aku merasakan, ketika berada di desa ini adalah desa ini  menurutku terasa suram, hanya semangat anak-anak yang memantik kegembiraan. Ini merupkan kali kedua aku berada di desa tersebut.

By : Mariamah Achmad-Yayasan Palung

Yayasan Palung Mencari Direktur Lapangan, Mungkin Anda Orangnya?

logo YP

Yayasan Palung sebagai lembaga konservasi saat ini sedang mencari  satu orang direktur lapangan yang baru. Mungkin anda salah satunya!

Bagi yang berminat syarat utama adalah wajib menguasai  bahasa Inggris baik secara lisan maupun tulisan dan memiliki pengalaman bekerja di NGO, terutama di NGO International.

Untuk selengkapnya bagi yang berminat silakan lihat di link : http://savegporangutans.org/how-to-help/employment

Atas perhatian, terima kasih.

Stop Berfoto Selfie bareng Satwa Dilindungi!

stop-berfoto-selfie-bareng-binatang-dilindungi-foto-dok-kukangku

Stop berfoto selfie bareng binatang dilindungi. foto dok. Kukangku.

“Foto selfie bareng binatang peliharaan, terlebih satwa dilindungi justru berkontribusi mengajak kejahataan dan mengancam kepunahan pada satwa itu sendiri.”

Tidak bisa disangkal saat ini, kebanyakan para penyayang binatang dan komunitas acap kali memamerkan foto- foto mereka bersama binatang kesayangan atau peliharaan mereka (foto selfie bareng binatang). Namun sejatinya foto selfie bareng binatang peliharaan justru menuai ajakan atau malah mendukung kejahatan terhadap satwa itu sendiri, bahkan berujung pada ancaman kepunahan pada satwa itu sendiri, terlebih satwa dilindungi.

Sebuah pertanyaan tentu muncul. Ada apa dengan selfie bareng binatang peliharaan justru mengajak (mendukung), berkontribusi terhadap kejahatan satwa dan mengancam kepunahan terhadap satwa itu sendiri. Mengapa demikian? Bila boleh dikata, foto-foto selfie tersebut terlihat dan nampang (hadir/muncul) di media sosial yang acap kali mendorong membuat ajakan kepada banyak khalayak yang tentunya sangat tidak seharusnya terjadi.

Memang, foto-foto selfie tidak semuanya negatif. Akan tetapi, melihat maraknya kejadian atau peristiwa kejahatan terhadap satwa melalui perdagangan satwa di banyak media sosial sungguh sangat menyedihkan. Tak jarang, perdagangan satwa tersebut berawal dari seringnya postingan foto-foto selfie bareng binatang peliharaan dan berujung transaksi jual beli. Memang, binatang peliharaan seperti anjing, kucing, ayam atau kelinci boleh/bisa dimaklumi.

Sayangnya, banyak yang terjadi adanya transaksi jual beli (transaksi) binatang peliharaan melibatkan satwa-satwa dilindungi, langka (endemik). Banyak di antara penyayang binatang atau oknum komunitas yang dengan seleluasanya memamerkan binatang peliharaan mereka di tempat umum atau keramaian.

Seperti contoh, ada yang selfie bareng ular endemik, orangutan, kukang, kelempiau, burung-burung langka, kadal atau iguana dan lain sebagainya. Tentu saja, dengan semakin seringnya memajang foto-foto selfie bareng binatang tersebut berimbas pada kejahatan terhadap satwa dilindungi, hal ini ditandai dengan saling ketertarikan untuk rasa memiliki dan tak jarang pula ada transaksi-transaksi yang tentu saja menambah derita atau ancaman pada satwa dilindungi yang ada di habitat hidupnya di hutan.

Ancaman ini tentu saja hadir dan muncul jika kejahatan-kejahatan baru muncul, berupa ladang penghasilan bagi para pemburu liar yang sengaja mencari satwa atau binatang untuk dijual bagi para penadah (penampung) binatang-binatang peliharaan tersebut yang mereka ingini.

Data dari Pro Fauna menyebutkan, setidaknya dalam rentang tahun 2015 ada terdapat 5.000 kasus perdagangan gelap terhadap satwa yang terungkap melalui media sosial. Gambaran jelas dari data ini tentunya boleh dikata sangat berhubungan dengan adanya permulaan atau berawal dari foto-foto selfie dengan binatang yang berdampak pada kejahatan terhadap satwa melalui media sosial terjadi. Tidak berhenti di situ, foto selfie binatang juga menjadi penanda masih lemahnya tatanan kesadaran bagi para penyayang binatang yang memelihara dan memamerkan binatang. Menyayangi binatang tidak lantas memiliharanya ataupun juga memamerkan di tempat umum, terlebih binatang yang dilindungi. Mengingat, binatang atau satwa-satwa dilindungi habitat (tempat hidupnya) di hutan dan tidak untuk dipelihara.

Tingkat ancaman atau keterancaman terhadap satwa inilah yang tentunya menyedihkan dan juga menjadi kekhawatiran serta perhatian kita bersama, sejatinya foto-foto selfie bareng binatang tidak seharusnya terjadi lagi. Hanya ada kata: Stop berfoto selfie bareng binatang Dilindungi!! Stop perburuan dan perdagangan terhadap satwa dilindungi!!! Hak hidup bebas tiada batas bagi satwa menjadi hak yang harus kita hargai, tidak ada lagi kata binatang atau satwa terkungkung atau terjerat, sengsara di alam yang tidak ia kenal. Biarlah binatang (satwa-satwa) dilindungi hidup bebas di alamnya, karena mereka pun memiliki hak yang sama untuk hidup bebas di alamnya berupa hutan. Semoga saja…

By : Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Selengkapnya:http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/stop-berfoto-selfie-bareng-satwa dilindungi_5757a1d6d07a61d910080428

#‎RainforestLive: Mengenal Langsung Aktivitas di Hutan Hujan

Rainforest Live 2016 Foto logo dok. OUTROP

Rainforest Live 2016 Foto logo dok. OUTROP

Banyak cara yang digunakan untuk memperkenalkan masyarakat kepada lingkungan melalui berbagai pihak, seperti dari pemerintah dan pihak swasta melalui lembaga-lembaga, seperti lembaga sosial, kemasyarakatan dan konservasi. Apa yang bisa kita lakukan dan bagaimana kita menyikapinya?

Setiap tanggal 3 Juni diperingati sebagai Rainforest Live. Yayasan Palung (Gunung Palung Orangutan Project) sebagai lembaga konservasi, bersama 10 lembaga lainnya, yakni Zoological Society of London, Orangutan Foundation UK, Crees Foundation, Sumatran Orangutan Society, TEAM Network, Tamandua Expeditions, Orangutan Outreach, Swara Owa, Project Anoulak, Orangutan Tropical Peatland Project. Sebelas lembaga atau orangisasi yang tergabung melakukan kampanye untuk mengingatkan kita betapa pentingnya hutan hujan bagi tatanan kehidupan.

Tujuan utama dari kegiatan tersebut tidak lain bagi lingkungan, satwa, dan masyarakat dengan berbagai aktivitas atau kegiatan di banyak wilayah di dunia. Kampanye penyadartahuan melalui media sosial merupakan salah satu cara untuk menyelamatkan hutan hujan beserta satwa dan masyarakat secara langsung. Berbagai aktivitas dilakukan dari tahun ke tahun, seolah tidak pernah berhenti untuk terlibat langsung di hutan. Adapun berbagai aktivitas yang dilakukan, seperti penelitian, penyelamatan satwa  lebih orangutan dan keterlibatan langsung di masyarakat menjadi satu-kesatuan yang tidak terpisahkan saat ini. Salah satu cara dilakukan melalui kegiatan-kegiatan kemasyarakatan yang berkelanjutan dan tidak merusak hutan.

Bagaimana menyikapi dengan adanya (keberadaan hutan hujan) dan tindakan nyata secara langsung?  Mengingat wilayah hutan hujan (hutan tropis) yang berada di wilayah Kalimantan, lebih khusus di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara di Kalimantan Barat, seperti diketahui, di wilayah Kalimantan, dengan adanya hutan setidaknya terdapat sekitar 220 jenis mamalia, 420 jenis burung, 100 jenis hewan melata, dan 400 jenis ikan (Sumber data dari; Borneo wildlife). Dengan demikian, keberadaan keanekaraman hayati yang berada di wilayah tersebut sudah selayaknya untuk menjadi perhatian oleh semua pihak. Sama halnya dengan manusia perlu untuk kehidupan secara berlanjut.

Berdasarkan hasil penelitian di Stasiun Riset Cabang Panti, orangutan mengonsumsi lebih dari 300 jenis tumbuhan yang terdiri dari: 60% terdiri dari buah, 20% bunga, 10% daun muda dan kulit kayu serta 10% serangga (seperti rayap). Tumbuhan dominan yang dikonsumsi buahnya oleh orangutan adalah dari family Sapindaceae/sapindales (rambutan, kedondong, matoa dan langsat), Lauraceae (alpukat dan medang), Fagaceae (petai dan kacang kedelai atau termasuk jenis kacang-kacangan), Myrtaceae/myrtales (jenis jambu-jambuan), Moraceae (ficus/kayu ara) dll. Buah-buahan hutan tersebut setidaknya itulah yang paling digemari oleh burung enggang dan orangutan beserta satwa lainnya seperti kelempiau dan kelasi. Ketersediaan buah-buah hutan yang masih dapat dijumpai di Kalimantan, lebih khusus di Lubuk baji dan Taman Nasional Gunung Palung (TNGP) sedikit banyak sebagai penanda hutan di wilayah tersebut dapat dikatakan masih baik ini sebagai anugerah yang terindah bagi ragam satwa.

Seperti diketahui pula luasan tutupan hutan dari tahun ke tahun semakin berkurang. Misalnya pada tahun 2000-an, wilayah Kalimantan Barat ditutupi hutan seluas 7 juta hektar. Tahun 2011 luas hutan itu menyusut hingga tinggal 6,2 juta hektar. Penyempitan luas hutan itu terjadi karena hilangnya lahan akibat kebakaran, penebangan liar, dan pembukaan perkebunan sawit dan pertambangan, (Data dari Provinsi Kalbar). Berbagai ancaman, tantangan, kejadian yang terjadi pada hutan hujan dan segala isinya termasuk manusia sebagai penerima dampak langsung. Berbagai fakta terjadi seperti kerusakan lingkungan, seperti kebakaran, illegal logging, alih fungsi dan pembukaan lahan berskala besar yang berdampak pada hilangnya habitat bagi tidak sedikit satwa. Hal tersebut juga sangat berdampak langsung pada manusia dalam kehidupan sehari-hari dengan beragam bencana akibat ulah tangan manusia.

Keterancaman satwa begitu menyedihkan terjadi, Rekam jejak transaksi jual-beli satwa di pasar gelap kian marak dan berulang. Penindakan pun telah dilakukan, namun pelaku tidak pernah kapok. Dari tahun ke tahun fakta dan data menyuguhkan, hal dan perihal yang menyangkut ancaman nyata terhadap satwa dan tempat hidup mereka berupa hutan. Data dari Pro Fauna menyebutkan, setidaknya dalam rentang tahun 2015 ada terdapat 5.000 kasus perdagangan gelap terhadap satwa yang terungkap melalui media sosial.

Sumber kekayaan dan keanekaragaman hayati tersebut tak ubah boleh dikatakan sebagai surga bagi semua napas kehidupan. Berbagai cara dilakukan untuk mempertahankan, menjaga, melindungi serta menanam kembali wilayah hutan, meneliti berbagai satwa dan tumbuh-tumbuhan sebagai ilmu pengetahuan dan perpustakaan tak terhingga ternilainya yang sejatinya harus tetap ada dan lestari. Keterlibatan dalam memperingati Rainforest live 2016 dapat diikuti oleh semua pihak pula untuk bersama-sama mendukung demi hutan hujan, satwa dan manusia dapat berlanjut dengan cara berkampanye bersama di media sosial dengan #RainforestLive.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/rainforestlive-mengenal-langsung-aktivitas-di-hutan-hujan_57510af9db22bdc504eac98d

By : Petrus Kanisius- Yayasan Palung

 

Mengapa Satwa, Hutan dan Manusia Sama-sama Penting dalam Keharmonisan Kehidupan?

Anak orangutan yang dipelihara oleh masyarakat di Kec. Manis Mata, Ketapang. Foto YP
Anak orangutan yang dipelihara oleh masyarakat di Kec. Manis Mata, Ketapang. Foto dok. YP

Semua makhluk hidup menjadi satu kesatuan yang sejatinya tidak terpisahkan antara satu dengan yang lainnya (harmonis), namun saat ini apakah masih demikian adanya?. Beragam jenis satwa yang mendiami hutan seperti orangutan, bekantan, kelasi, burung enggang, kelasi dan kelempiau merupakan jenis satwa endemik yang kerap kali hidup berdampingan satu sama lainnya. Misalnya, orangutan yang mendiami wilayah Kalimantan kecuali Kalimantan Selatan sejak dahulu dikenal sebagai penyebar biji-bijian.

Demikian juga halnya orangutan yang ada di Sumatera. Seperti bekantan, kelasi, burung enggang, kelasi dan kelempiau serta jenis satwa lainnya seperti Gajah dan harimau di Sumatera, Cendrawasih dan Papua serta banyak lagi ragam satwa yang berada di wilayah lainnya di Indonesia begitu penting bagi kehidupan, lebih dari itu keberlanjutan tatanan kehidupan semua nafas segala bernyawa di planet ini. Bayangkan saja, bila tidak ada satwa yang menyebar biji-bijian buah hutan dari sisa mereka makan (kotoran satwa) yang selanjutnya tumbuh menjadi tajuk-tajuk pepohonan. Mampukah kita menanam berjuta-juta hektar hutan?.

Memang manusia bisa menanam, tetapi apakah mampu atau sanggup rutin setiap saat?. Mungkin jawabannya kita tidak mampu rutin setiap saat seperti satwa dalam hal konservasi hutan. Nah, bagaimana jika hutan itu tidak ada (tinggal tersisa sedikit) atau dalam artiaan lain diambang terkikis habis? Tidak sedikit fakta yang membukakan mata. Lihat betapa banjir, banjir bandang bersama tanah longsor kerap kali menghampiri. Bumi menghangat melebihi batas normal, manusia pun gerah sepanjang waktu saat ini. Dari hal yang terjadi tersebut pula, sudah barang tentu, satwa dan manusia menjadi satu kesatuan yang sangat penting (tidak terpisahkan) satu dengan yang lainnya. Bagaimana bila satwa, hutan dan manusia salah satunya rusak atau sakit bahkan hilang?.

Keterancaman dari satwa, manusia dan hutan sudah semakin nyata terjadi. Semakin berkurangnya ruang, jelajah dan habitat tempat mereka berdiam sama hal dengan manusia. Satwa kian terancam dengan ulah pemburu yang tidak segan memburu dan menghabisi nyawa satwa endemik yang mengatasnamakan kepentingan perut.  Gajah tidak berdosa diambil gadingnya, paruh enggang dan sisik trenggiling juga demikian adanya. Nasib harimau juga begitu tragis diburu untuk diambil kulitnya. Orangutan, bekantan, beruang madu, ayam hutan, kelempiau dan kelasi juga sudah semakin terjepit dihabitat hidupnya.

Adanya perdagangan gelap menjadi salah satu sebab akibat dari semua ini. Kini, keberadaan satwa sudah semakin langka, langka karena satwa tidak banyak lagi yang tersisa (diambang kepunahan). Demikian juga lahan nan luas berupa hutan kian tergadai. Mega keanekaragaman tumbuh-tumbuhan semakin hilang tidak berbekas. Petani sudah semakin sulit mencari lahan di pegunungan, tempat mereka bercocok tanam. Musim sudah semakin sulit diprediksi, petani sulit mencapai target walau di sawah. Bila kemarau tiba, kering kerontang mendera. Bila musim hujan, padi dan tanaman sayur mayur terendam.

Ini terjadi dan terus melanda ketika para petani menggantungkan hidup mereka dari hasil panen mereka. Hal yang sama pula terjadi pada para nelayan, cuaca tidak menentu berimbas pada daya tangkap dan hasil mereka.  Seisi lautan berupa ikan endemik seperti hiu semakin sulit bertahan hidup. para pemburu sirip semakin banyak menanti menyayat-nyayat sirip-sirip. Keindahan batu karang dan porak poranda oleh racun ikan oleh oknum nelayan yang tidak bertanggungjawab.

Tata aturan acap kali diabaikan oleh para pelaku. Sudah jelas, undang-undang terkait larangan berupa UU no. 5 tahun 1990 tentang: “Keanekaragaman hayati dan ekosistemnya” yang menyatakan; Dilarang menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memilihara, mengangkut, dan memperniagakan atau memperjualbelikan satwa dilindungi atau bagian-bagian lainnya dalam keadaan hidup atau mati, tertuang dalam (Pasal 21 ayat 2). Barangsiapa dengan sengaja melakukan pelanggaran sebagaimana ketentuan dimaksud akan dikenakan penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak 100 juta rupiah (pasal 40 ayat 2).

Banyak yang tertangkap dan dihukum karena melanggar undang-undang terkait kejahatan terhadap satwa dilindungi. Tetapi, bak jamur tumbuh di musim penghujan. Pelanggaran dan kasus perdagangan, perburuan dan pemeliharaan semakin menjamur.  Apakah ini menjadi pertanda lemahnya hukum atau kesadaran dari para oknum pelaku masih lemah?. Entahlah, tetapi yang pasti, keterancaman satwa (satwa endemik) menjadi tanda keharmonisan dalam kehidupan sudah semakin pudar. Bagaimana bila satu kesatuan antara satwa, hutan dan manusia ada yang hilang lenyap (punah)? Tentu hal ini tidak semua menghendaki. Mengingat, bila salah satu dari antaranya yang punah maka sudah pasti tatanan kehidupan, lebih khusus rantai makanan dan ekosistem akan terganggu. Saat ini pula rantai makanan sudah mulai rusak. Berharap, semoga rantai makanan dan satu kesatuan ekosistem yang ada masih dapat berjalan dengan baik. Salah satu caranya adalah dari kepedulian diri, kelompok dan yang lebih pasti pula adalah perlunya kepedulian dan perhatian dari semua pula.  Dengan demikian segala makhluk segala bernyawa termasuk manusia bisa aman dan nyaman di tempat hidupnya dimanapun dia berada, dengan demikian pula tatanan kehidupan bisa tetap harmonis dan berlanjut. Semoga saja…

By : Petrus Kanisius- Yayasan Palung

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/mengapa-satwa-hutan-dan-manusia-sama-sama-penting-dalam-keharmonisan-kehidupan_5735a9380223bd780734f356

Pantun Hutan

Foggy morning (Pagi berkabut) di Taman Nasional Gunung Palung. Foto dok. Tim Laman, Yayasan Palung

Foggy morning (Pagi berkabut) di Taman Nasional Gunung Palung. Foto dok. Tim Laman, Yayasan Palung

Ini hutan tidak sembarang hutan

Hutan ini hutan Kalimantan

Apaguna kita manusia menjaga juga memilihara

Untuk  masa boleh berlanjut bukan derita atau bencana

—————-0————–

Ikan belidak, ikan baung

Ikan tapah enak dirempah

Akan apa jadinya gaung

Seakan pepatah meniti latah

—————-00—————-

Rinai hujan menjelang Senja

Sungai tertelan berkubang nestapa

Perangai elang menerkam mangsa

Penyemai hilang menikam derita

——————000——————-

Rimba raya di hutan tropis

Menganga diterpa, ditelan hingga terkikis

Apa guna para aktivis

Berbicara hingga menangis

Menengok derita rimba yang kian habis

————-0000————-

Orangutan, orang kota

Melihat hutan semakin tak berdaya

Ada aturan ada pidana

Sedikit yang di rutan banyak yang tertawa

————-00000—————

Ketapang, 31 Mei 2016, menjelang senja menyapa,

by : Petrus Kanisius- Yayasan Palung

Selengkapnya http://fiksiana.kompasiana.com/pit_kanisius/pantunhutan_574d5ff302b0bd4006d9e021

Mengintip Aktivitas Si Penyemai, Pemelihara, dan Penjaga yang Tersisa dari Desa Laman Satong

Semaian aneka ragam bibit seperti gaharu, buah-buahan milik Yohanes Terang. Foto dok. YP

Semaian aneka ragam bibit seperti gaharu, buah-buahan milik Yohanes Terang. Foto dok. YP

Menyemai, memilihara, sekaligus sebagai penjaga hutan Laman Satong, lebih tepatnya hutan di kawasan Dusun Manjau. Setidaknya itu yang ia lakukan dalam mengisi hari-harinya. Kemarin, tepatnya tanggal 18 hingga 22 Mei 2016, saya berkesempatan untuk mengintip aktivitas si penyemai, pemelihara, dan penjaga yang tersisa. Lalu, siapakah sosok tersebut?.

Tanpa paksaan, tanpa disuruh ia terus melakukannya. Si penyemai, pemelihara yang tersisa tersebut adalah Yohanes Terang. Hari-harinya dikenal selalu bersyukur. Mengingat, setiap aktivitas Kek Alui begitu ia sehari-hari disapa karena cucu tertuanya bernama Alui selalu memulai dengan doa dan ucapan syukur kepada Sang Pencipta. Demikian pula saat tidur dan bangun tidur. Boleh dikata, beliau sangat religius.

Dikatakan sebagai penyemai hari-harinya menebarkan bibit-bibit yang telah siap ditanam dan menyemai kembali bibit-bibit tanaman kecil di polybag, tanaman pohon yang nantinya menjadi cikal bakal hutan nantinya. Pemelihara karena ia tanpa untuk memelihara, menjaga serta mempertahankan hutan yang tersisa. Sejatinya tidak hanya sekedar sebagai penyemai, pemelihara, dan penjaga, tetapi juga sebagai penabur kasih kepada bumi untuk berlanjut.

Hari pertama mengikuti aktivias Yohanes Terang, saya diajak untuk berkeliling tanaman buah-buahan, kebun pisang, dan ragam tanaman seperti durian, cempedak, dan tanaman gaharu (garu, demikian masyarakat setempat menyebutnya).

Tidak hanya itu, tanaman karet dan berhektar-hektar hutan di belakang rumahnya terlihat menjulang kokoh berjejer rapi, hutan tersebut miliknya. Kolam ikan dan beribu-ribu jenis bibit tertata rapi di tempat pembibitannya. Beragam bibitnya seperti tanaman gaharu, kopi, bibit tanaman buah serta bambu tertata, demikian pula dengan pepohonan rimbun yang tumbuh di sekitar rumahnya.

Bibit bambu milik Yohanes Terang. Foto dok. YP

 Bibit bambu milik Yohanes Terang. Foto dok. YP

Setiap pagi menjelang dan senja menyapa, Yohanes Terang selalu rutin untuk menyirami bibit-bibitnya. Di hari kedua, saya bersama dengan Yohanes Terang berkunjung di kebun pisangnya miliknya. Hari itu, kami memanen dua tandan pisang. Terlihat, beberapa pohon pisang sedang berbuah, tetapi belum semuanya matang. Ada pisang raja, ada pisang ambon, pisang nipah. Ketiga, di pagi hari, saya berkempatan untuk melihat karya-karya puisi yang ia tulis.

Bibit kopi milik Yohanes Terang. Foto dok. YP

Bibit kopi milik Yohanes Terang. Foto dok. YP

Saya juga berkesempatan untuk mengetikkan karyanya ke dalam bentuk dokumen. Karena, banyak karyanya yang ditulis tangan. Hari keempat, saya berkesempatan berkeliling-keliling, mungkin kata yang cocok. Berkeliling-keliling untuk melihat hamparan hutan miliknya dan beberapa tanaman buah yang keberadaannya berbatasan dengan perusahaan-perusahaan. Tercatat terdapat perusahaan perkebunan yang mendiami wilayah Laman Satong. Di hari terakhir, bertepatan dengan hari Minggu, saya mengikuti aktivitas Bapak Yohanes Terang untuk misa hari Minggu di Gua Kiderun. Setelah misa selesai, saya diajak melakukan panen buah jeruk bali dan melihat Viktor, Bapak Alui, anak sulung Pak Yohanes Terang saat melakukan penyuntikan (inokulasi) untuk beberapa gaharunya. Ia pun berharap, semoga ada hasil yang baik dari penyuntikan gaharunya satu tahun mendatang.

Berikut sekilas tentang Yohanes Terang, kakek usia  60 tahun tersebut sedikit banyak memberikan makna kata dan makna kehidupan yang tertuang beberapa karyanya dan perbuatan nyatanya di masyarakat lebih khusus di wilayah Desa Laman Satong. Boleh dikata, Bapak Yohanes Terang sebagai perintis pertama untuk mendiami wilayah Manjau dan mempertahankan beberapa wilayahnya dari himpitan sawit dan bauksit. Pak Terang juga sebelumnya di era 1980 hingga tahun 2006 pernah dipilih oleh masyarakatnya menjadi kepala desa selama dua periode. Saat ini beliau juga menjadi pengawas di Yayasan Palung.

Hutan, manusia dan satwa sejatinya merupakan satu kesatuan. Menurut Yohanes Terang, hutan sebagai sumber kehidupan bagian semua makhluk hidup. Demikian juga, bumi sebagai sumber hidup bagi makhluk yang mendiaminya. Lebih lanjut, ia berujar, dari hasil buah-buahan di hutan miliknya menjadikan kakek dari 4 orang cucunya itu merasa alam dan lingkungan sebagai sumber kehidupan. Cikal bakal hadirnya Hutan Desa Manjau juga tidak luput dari andilnya. Setidaknya, ada hutan desa 10.70 ha di sana dan beliau menjadi salah seorang yang memiliki keikhlasan untuk menyemai, memilihara, dan menjaga bumi untuk terus berlanjut melalui karya-karyanya.

Pak Yohanes Terang saat memanen Pisang di kebun miliknya. Foto dok. YP

Pak Yohanes Terang saat memanen Pisang di kebun miliknya. Foto dok. YP

Berikut beberapa renungan dan puisi Yohanes Terang yang sedikit banyak memiliki arti dan makna dalam tentang alam, karya dan kepedulian sosialnya :

Alam Menangis

Aku tercipta sangat sempurna tidak ada kepalsuan, semua sepuhan sejati. Aku gagah, megah, indah tak ada yang menandingi.

Aku segalanya bagi semua yang tercipta tanpa kecuali.

Aku merasa kini telah berubah, uzur dan lemah hampir terasa hampir mati.

Kini, tubuhku telah lemah lunglai tak berdaya dari hari kehari. Batinku menjerit, mataku tertusuk pisau berbisa hingga air mata tangis berhenti.

 Zonaku telah rapuh tertikam orang-orang yang tak punya hati dan tak tahu diri.

Nadiku telah putus terhunus pedang sehingga menderita mengeluar darah tak berhenti. Rambut, kumis, alis tercukur pisau oleh tangan yang tak tahu diri, menang sendiri, apa yang akan terjadi?.

 Bulu-bulu, rambut, kumis, alis telah terkikis habis.

Manjau, 25 Maret  2005 Penyampai pesan, Yohanes Terang

 

Hidup Lama Bersama Karya

 Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang.

Manusia mati meninggalkan nama dan karyanya.

Nama dan karya dua kata tak terpisakan yang memaknai pelaku dan hasil dalam karyanya yang nyata.

 Bagi orang bijak berpandangan luas dan jauh kedepan, berbuat sesuatu tidak semata bagi dirinya sendiri, tindakannya selalu berguna bagi sesama.

Segala tindakan, yang kurang bijak akan membuat seseorang, nama dan karya tahan lama.

Pejuang sejati, berbuat dengan hati, saling berbagi, mencari solusi menciptakan sesuatu bernilai tinggi dapat diingat dikenang generasi ke generasi, tak habis ditelan waktu, tak hilang digerus usia.

Hari ini, kita semua, tunjukan pada dunia tindakan nyata, menanam tanaman yang berguna pakanan satwa serta menghargai bumi dimana kita sekarang berada.

Laman Satong, 10 Februari 2015 Penyampai pesan, Yohanes Terang

 

Jalan Pintas

Sempurna adalah harapan setiap manusia tak peduli apapun caranya.

 Bagi yang lupa jalan pintas merupakan sebuah pilihan sederhana.

Budak oleh rasa cemas gelisah, kosong hampa dan putus asa.

Nirwana agung, racun, ketamakan orang-orang  buta  arti (narkoba) Bagi yang percaya “narkoba” sebuah bayangan hitam media pencabut nyawa.

 Derita panjang, kurang percaya diri, lemah, duka derita hina.

Bisa terjadi dimana-mana, kota sampai  desa  tak pilih  penguasa, kaya maupun papa.

Dampak dari lemahnya Iman, mencari surga sektika. Ibarat cancer ganas, virusnya menyebar kemana-mana.

Banyak cara yang dipakai untuk mencegahnya namun sia-sia. Orangtua, agama, aparatur negara, sekolah, sebuah baca dapat diguna untuk menghentikan itu semua.

Laman Satong, 10 November 2015 Penyampai pesan, Yohanes Terang (Berjuang tidak dengan kekerasan).            

Sebelumnya, satu karya kumpulan puisi dan renungan bapak Yohanes Terang pernah diterbitkan oleh Gramedia, tentang “Menjaga Yang Tersisa Dari Laman Satong”.

Siang menjelang sore, saya menyudahi mengikuti aktivitas Si penyemai, pemelihara dan penjaga yang tersisa dari Laman Satong dengan dibekali dengan buah-buahan seperti pisang dan buah srikaya naga untuk kembali ke Ketapang. Saya merasa beruntung bisa mengintip aktivitasnya dengan kesederhanaan, kepedulian dan kerendahan hati serta kepedulian yang belum tentu banyak orang yang memilikinya.

Tulisan ini juga dimuat di blog kompasiana, selengkapnya dapat dilihat di :

http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/mengintip-aktivitas-si-penyemai-pemelihara-dan-penjaga-yang-tersisa-dari-desa-laman-satong_5746a57ec222bdbe068e2dc7

By : Petrus Kanisius- Yayasan Palung