Monthly Archives: Maret 2016

Mengenalkan Satwa Melalui Media Panggung Boneka (Puppet Show) Bagi Anak-anak

IMG_1883

Panggung boneka (puppet show)  Mengenalkan satwa di Sekolah bagi anak-anak usia dini. Foto dok. Yayasan Palung

Sejak tahun 2003 Silam, Yayasan Palung telah melakukan kampanye (mengenalkan satwa) melalui media panggung boneka (puppet show). Ragam satwa seperti orangutan, bekantan, kelasi dan kelempiau sebagai satwa dilindungi acapkali dilakukan ketika berkegiatan seperti ekspedisi lingkungan ke kampung-kampung.

Cerita orangutan, kelempiau, kelasi dan juga enggang tidak lupa dituturkan melalui panggung boneka. Panggung boneka biasanya bisa dimainkan oleh 1 hingga 6 orang. Tergantung berapa banyak boneka tangan yang tersedia.

becerita tentang orangutan dengan media boneka atau puppet show di TK St Theresia Ketapang.jpg_foto 2

Becerita tentang orangutan dengan media boneka atau puppet show di TK St Theresia Ketapang. Foto dok. YP.

Di Yayasan Palung, Tim Pendidikan Lingkungan (PL) yang selalu memainkan boneka melakukan puppet show. Sebagai panduan bercerita jika ceritanya panjang biasanya menggunakan skrip.  Ragam cerita seperti hutan, buah-buah hutan sebagai salah satu hal yang tidak terpisahkan bagi satwa ketika mereka hidup dan makan di hutan.

puppet-show-sdn-19-delta-pawan

Bertutur tentang satwa dan hutan dengan menggunakan media boneka (puppet show) di Sekolah Dasar. Foto dok. YP.

Melalui puppet show juga bertujuan untuk mengenalkan satwa kepada anak-anak pada usia dini. Dengan kata lain, panggung boneka seperti yang Yayasan Palung lakukan diperuntukan bagi anak-anak usia dini (anak TK dan SD).

Sebagai pemain utama Puppet show, sebagai pemain yang pasih memainkan, menggerakan dan bertutur/bercerita boneka adalah Ranti Naruri.

Semoga dengan media boneka, anak-anak bisa mengenal satwa-satwa dilindungi sejak dini dan mudah-mudahan ada tumbuh rasa untuk melindungi dan mencintai satwa dilingi di habitat hidupnya (hutan). Selamat hari pertunjukan/ panggung boneka (puppet show) sedunia 2016. (Pit-YP).

 

Iklan

Puisi, Hari Puisi  21 Maret 2016 : “Hutan Tanah Air Mengadu”

pesan-utk-alam-setelah-pohon-terakhir-kita-tebang-barulah-kita-tahu-bahwa-duit-tidak-bisa-kita-makan-5695dbd88f7a61cc06dde183

Ilustrasi gambar, tentang cerita pohon/hutan. Foto dok. Yayasan Palung

Rimbunmu tidak ternilai bagi tersedianya nafas segala bernyawa banyak rebah tak berdaya melawan para tamak dan congkaknya duniawi

Sejengkal tanah hingga tidak terhingga menjadi  tempat berdiam,  beranak pinak sebagai pertanda habitat kian terhimpit melanda pertiwi

Air sebagai sumber segala, kian kering entah dimana lagi tersedia dan tersisa. Jika ada kian surut mendangkal hingga kering kerontang

Genderang kegaduhan jiwa-jiwa acap kali menghampiri, seakan ingin selalu menantang

Menantang jikalau rimbun berganti bersisir hingga gundul

Gersang padang ilalang bersama padi jerami berpadu dengan semak belukar tersisa tunggul

Deru langkah mesin dan gerobolan mengalahkan tegak kokoh berdiri dari megahnya jambul-jambul hingga tunggul bercokol

Hela nafas kian sesak dan tersedak bila Si jago merah mengamuk segenap penjuru nusantara hingga tetangga

Tak terhingga tanah, idaman para pemodal menanti pundi-pundi investasi penimbun harta benda manati benda

Mengadu Karena, bukan menangada tetapi nyata, tentang;

Hutan  Semakin terhimpit, panas membakar tubuh

Tanah Kering Kerontang, dahaga jiwa kian meronta Air Keruh lautan samudera, derai tangis mengaduh gaduh

Rimba raya menanti jiwa kasih tanpa mengeluh  mendera masa.

 @ Ketapang, Kalbar 21/3/2016, Selamat hari puisi. By : Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Puisi ini dimuat juga di kompasiana, selengkapnya : http://fiksiana.kompasiana.com/pit_kanisius/puisi-hari-puisi-21-maret-2016-hutan-tanah-air-mengadu_56ef936b1fafbd3d07cda63d

Berharap Air akan Setia Mengalir Sampai Nanti, Bagaimana Caranya Tapi?

73 %  dari 53 sungai utama di Indonesia tercemar limbah industri maupun limbah rumah tangga, data tahun 2014_capture dari sumber youtube

73 % dari 53 sungai utama di Indonesia tercemar limbah industri maupun limbah rumah tangga, data tahun 2014. Sumber data capture dari sumber youtube.com

Bagaimana jika hidup tanpa air?. Masih bolehkah air akan selalu setia mengalir dan menyediakannya bagi kehidupan?.

Bertepatan  dengan hari air internasional (hari air sedunia 2016) yang diperingati setiap tanggal 22 maret, mengingatkan kita semua kepada fungsi dan peran penting air bagi kehidupan. Setidaknya refleksi pertanyaan diatas memberikan rambu-rambu kepada kita semua agar air tetap mengalir dengan bagaimana cara dan langkah semua untuk mengatasi hal ini.

Mungkin jika boleh berujar, hingga akhir hayat pun semua makhluk hidup terlebih manusia masih akan selalu membutuhkan atau memerlukan air dalam tatanan kehidupan sehari-hari.  Dari tahun ke tahun sudah dipastikan kebutuhan akan air, terutama air bersih sangat diperlukan (kebutuhan utama). Bagi kita manusia saat  mandi, mencuci, minum, memasak dan untuk menyiram tanaman (pertanian) tidak terlepas dari air. Dengan kata lain air merupakan salah satu unsur utama masyarakat sehari-hari, terutama bapak dan ibu rumah tangga, petani, industri dan transpotasi sungai atau laut. Demikian juga halnya dengan hewan dan tumbuh-tumbuhan ketika mereka melepas dahaga dan bertahan hidup.

Sumber air sangat melimpah berada di wilayah Indonesia, sejatinya. Akan tetapi, saat ini keberadaan sumber air terutama air bersih sudah semakin tahun semakin berkurang jumlahnya. Alasannya karena sumber resapan air berupa hutan sudah semakin jauh berkurang (hutan semakin sedikit) sehingga air sudah semakin sulit ditemukan (mata air/ sumber air bersih), keberadaan air sungai pun tidak melimpah lagi, ditambah lagi dengan adanya pencemaran di sana sini akibat aktivitas masyarakat dan lain sebagainya termasuk pabrik dan industri.

Pencemaran air yang terjadi di Indonesia berdasarkan data menyebutkan, 73 persen dari 53 sungai utama di Indonesia  sudah tercemar limbah industri maupun limbah rumah tangga, data tahun 2014, capture dari sumber youtube.  Artinya, sebagian besar keberadaan sungai yang ada di Indonesia sangat rentan tercemar.

Tentu hal ini menjadi salah satu langkah bagi kita semua untuk bagaimana caranya agar air dapat terjaga dan tidak tercemar. Tata aturan tentang AMDAL dan tata aturan ijin usaha bagi pelaku usaha/bisnis terutama industri, perusahaan sejatinya harus taat dan sejatinya harus tunduk pada regulasi ini. Demikian juga perilaku bijak terhadap penggunaan air bagi kebutuhan sehari-hari oleh masyarakat sudah sepatutnya dilakukan dengan berhemat menggunakan air.

73 % dari 53 sungai utama di Indonesia tercemar limbah industri maupun limbah rumah tangga, data tahun 2014. Foto capture dari video air sumber youtube. Selain itu, dari data dari US Embassy dan FAO menyatakan, 75 persen kebutuhan air di dunia didapat dari hutan.  Dari data ini, setidaknya dapat dikatakan antara air dan hutan merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Ada hutan air pun ada, mungkin demikian kata singkatnya. Setidaknya 75 % kebutuhan air tawar di dunia didapat/tersedia dari hutan. Sumber data dari FOA Wikipedia via info U.S. Embassy, Jakarta.

Sudah barang tentu, Pasal 33 UUD 1945, terutama ayat 3 yang menyebutkan Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Bumi, air dan kekayaan alam yang menjadi poin penting bagi kemakmuran masyarakat seharusnya menjadikan patokan. Namun apakah sudah berjalan seiring sejalan?.

Rusaknya bumi, air dan hutan menjadi bukti nyata kini. Sehingga tidak jarang bumi, air dan hutan sudah semakin sulit untuk kemakmuran rakyat (masyarakat). Tidak bisa disagkal, semakin berkurangnya hutan sama halnya dengan ketersediaan air, terutama air bersih bagi pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari semua unsur kehidupan.

Tidak bisa ditawar-tawar lagi, jika ingin air terus mengalir sebagai pemenuhan kebutuhan primer masyarakat mau tidak mau, harus mau bersama-sama  menanam, merawat, memupuk hutan sebagai daya resap (ketersediaan air). Jika hutan ada banyak tumbuh dan bertahan, maka dengan sendirinya air akan melimpah dan tersedia mengalir sampai nanti (selama-lamanya). Akan tetapi apabila hutan tidak banyak berdiri kokoh maka hampir dipastikan air akan semakin sulit didapatkan dan kering kerontang siap menghadang. Semoga ketersediaan air selalu ada dan dapat mengalir tanpa  hambatan.

Bukankah benar adanya jika tanpa air, maka tidak ada kehidupan. Selamat hari air Sedunia. Semoga kita bisa berhemat, bijak dalam memanfaatkan air sebagai pemenuhan kebutuhan hidup (Sumber hidup/Kehidupan). Semoga saja…

By : Petrus Kanisius- Yayasan Palung

Tulisan ini dimuat di kompasina: http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/berharap-air-akan-setia-mengalir-sampai-nanti-bagaimana-caranya-tapi_56f0d3db43afbdab103cc8aa

Lihat juga tulisan terkait tentang air di: http://www.pontianakpost.com/andai-kata-hidup-kehidupan-tanpa-air-apa-jadinya

Selamat Hari Hutan Sedunia 2016 : Surga Terakhir, Bagaimana Nasibmu Kini?

1929380_10153826503075219_1711052432491012841_n

Sumber Foto dok. FAO dan U.S. Embassy, Jakarta-Indonesia, tentang hari hutan sedunia 2016

Tanggal 21 Maret 2015 ditetapkan sebagai hari Hutan Sedunia. Mengapa kita harus memperingati hari hutan dan mengapa hutan itu penting serta bagamana nasib hutan kini?.

Hutan ibarat sebagai  tempat ataupun rumah yang aman, nyaman bagi semua unsur kehidupan tidak terkecuali manusia. Hutan yang menjadi rumah bagi semua makhluk segala bernyawa itupun tidak terelak usianya sudah semakin tua renta hingga semakin kian terkikis menjalang habis.

Keberadaan hutan yang semakin terkikis setidaknya memberikan arti mengapa kita harus memperingati hari hutan sedunia tersebut. Selain itu, mengapa hutan itu penting bagi keberlanjutan makhluk hidup termasuk manusia?. Setidaknya cukup banyak contoh yang terjadi berkaitan dengan nasib hutan kini keadaan dan keberadaannya semakin memprihatinkan.

Mengingat, selain sebagai sumber hidup dan rumah bagi semua makhluk, hutan juga memiliki peran penting dalam proses keseimbangan ekosistem. Adanya hutan  juga menjadikan ragam tumbuhan dan makhluk hidup  seperti  hewan  dapat hidup berkembangbiak dengan baik adanya. Hutan sebagai paru-paru dunia, pelindung sekaligus penjaga dan penyedia. Oksigen, dengan mudahnya kita peroleh ketika hutan masih tersedia. Bagaimana jika tidak ada lagi hutan yang tersisa?. Selain itu, hutan menjadi penyedia sumber air dan pelindung dari segala ancaman seperti banjir, tanah longsor dan perubahan iklim.

Tidak hanya itu, hutan juga sebagai penyaring dari beberapa aktivitas kegiatan manusia dan mesin. Hutan dapat menyaring polusi dari asap kendaraan dan pabrik. Dengan adanya hutan dapat mengurangi laju perubahan iklim. Satwa, tumbuh-tumbuhan dan manusia tidak terdampak, namun jika hutan masih tersisa.

Ragam tumbuh-tumbuhan yang tersedia di hutan sebagai sumber obat-obatan herbal dan tradisional masyarakat bagi manusia bahkan bagi dunia kesehatan.

Akan tetapi, dari tahun ke tahun tidak bisa di sangkal. Hutan semakin kritis menjelang terkikis habis. Hutan tropis dunia termasuk yang ada di Indonesia dan masih tersisa selain hutan di Brazil dan Kongo yang kini menjadi surga terakhir.

Data Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) menyebutkan, Saat ini Indonesia termasuk negara dengan tingkat kerusakan hutan yang paling tinggi di dunia atau dapat dikatakan  mencapai sekitar 680.000 hektar per tahun, (dalam tulisan Kompas, 21/3/16).

Forest Watch Indonesia, mencatat;  kerusakan hutan di Indonesia dari tahun  ke tahun terus meningkat. Hingga saat ini, kerusakan hutan Indonesia sudah mencapai 2.000.000 hektar per tahun.

Dari data tersebut, sudah barang tentu hutan dan beragam flora dan fauna dalam ancaman nyata. Tidak terkecuali manusia. Semakin sedikitnya hutan yang tersisa memberikan ancaman baru yang nyata. Tengok saja banjir, longsor, tumbuhan dan satwa semakin sulit berkembangbiak dan bertahan. Hal yang sama juga telah kita rasakan secara langsung, semakin tidak menentunya iklim berdampak besar bagi sebagian besar aktivitas sehari-hari. Banjir, tanah longsor yang terjadi selain sebagai penghambat, juga sebagai pemicu perlambatan ekonomi masyarakat (negara). Berapa kerugian akibat banjir dan tanah longsor?. Yang pasti sangat besar. Arus transportasi terhenti, demikian juga aktivitas lainnya seperti pendidikan, kesehatan, perkantoran dan masih banyak lagi aktivitas-aktivitas masyarakat di luar ruangan seperti petani dan nelayan sudah pasti tidak bisa berjalan.

Sumber kekayaan hutan di Indonesia seperti yang ada di Papua, Kalimantan, Sumatera, Jawa, Maluku dan Bali kini menanti (di) selamatkan. Hutan yang tersisa menjadi surga terakhir bagi keberlanjutan anak cucu hingga nanti menanti untuk dirawat, dijaga, ditanam dan dipupuk kembali. Semua berkewajiban untuk hutan agar tetap berdiri kokoh, tumbuh rimbun sebagai pelindung dan penyedia nafas segala bernyawa yang tak ternilai.  Bila tidak, hanya menunggu waktu hutan akan hilang lenyap. Semoga hutan tetap tumbuh rimbun, menjadi rimba raya. Semoga….

Tulisan ini  juga dimuat di : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/selamat-hari-hutan-sedunia-2016-surga-terakhir-bagaimana-nasibmu-kini_56efc032c222bd7908c0206a

By : Petrus Kanisius- Yayasan Palung

Sweet Seventeen Kampanye Lingkungan Yayasan Palung Melalui Radio, Melakukan Survei Pendengar

Talkshow di RKK dgn Dishut Ir. Adi Mulya, beberapa waktu lalu ttg permasalahan kehutanan dan Hutan Desa.JPG

Talkshow di Radio Kabupaten Ketapang, Desi K. dari Yayasan Palung bersama Dishut Ir. Adi Mulya, beberapa waktu lalu ttg permasalahan kehutanan dan Hutan Desa

Yayasan Palung melakukan survei online untuk mengetahui hasil siaran, jangkauan terkini dan jumlah pendengar Radio Kabupaten Ketapang (RKK) 95,2 FM,1044 AM 288 Meter, yang mendengarkan program siaran (Acara) “BINCANG HIJAU” dan acara lainnya. Adapun acara Bincang Hijau, merupakan kampanye lingkungan  Yayasan Palung melalui siaran radio.

Survei dilakukan secara online dan akan dimulai dari tanggal 18 Maret dan ditutup pada tanggal 30 April  2016. Mengingat, Yayasan Palung telah aktif melakukan kampanye lingkungan melalui media radio  bekerjasama dengan Radio Kabupaten Ketapang sejak tahun 1999 hingga saat ini (telah berumur 17 tahun/Sweet Seventeen”).

Seperti diketahui, program siaran (acara) Bincang Hijau secara rutin dilakukan secara rutin dua kali siaran dalam satu minggu ( setiap hari senin dan kamis) pukul 13.00 – 14.00 Wib.

Strategi kampanye radio yang efektif kedepanya tentunya sangat kami harapankan. Dengan diadakan survei secara online tersebut juga menjadi landasan dasar bagi kami dari Yayasan Palung dan Radio Kabupaten Ketapang (RKK) untuk mendapatkan saran dan kritik ataupun masukan/umpan balik (feedback) dari pendengar dan yang tidak atau belum pernah mendengarkan siaran radio.

Dengan diadakan survei online juga, kami ingin mengetahui secara pasti tentang pendengar, terkait berapa sering pendengar mendengarkan acara Bincang Hijau dan bagaimana dampak dari siaran tersebut.

Besar harapan kami dalam survei online ini, bagi masyarakat luas secara khusus yang berada di wilayah Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara untuk mengisi survei online yang disediakan. Dalam survei tersebut, kami juga akan memilih 3 orang peserta terbaik yang mengisi survei ini akan mendapatkan hadiah menarik berupa alas piring yang terbuat dari produk hasil hutan bukan kayu (HHBK) hasil kreasi pengrajin dampingan Yayasan Palung. Atas Perhatian dan kerjasamanya, diucapkan terima kasih.

Silakan untuk mengisi survei pendengar Radio Kabupaten Ketapang di link berikut ini : https://www.surveymonkey.com/r/933DTCH

Para Peneliti Di Stasiun Penelitian Cabang Panti, (TNGP) Sudah Mengikuti Orangutan Selama 23 tahun, 70.000 Jam

Orangutan bernama Dewi, di Cabang Panti, TNGP saat memakan juicy bagian dari lembar pandan ini. Disebut  fallback foods, Termasuk epiphytes seperti pandan. Foto dok. Yayasan Palung dan GPOCP.

Orangutan bernama Dewi, di Cabang Panti, TNGP saat memakan juicy bagian dari lembar pandan ini. Disebut fallback foods, Termasuk epiphytes seperti pandan. Foto dok. Yayasan Palung dan GPOCP.

Tidak kurang selama 23 tahun, para peneliti dari GPOCP telah menghabiskan lebih dari 70.000 jam untuk mengikuti, belajar dan  meneliti orangutan liar yang ada di Stasiun Riset Cabang Panti, TNGP. Hal ini tercatat dan terhitung, saat para peneliti melakukan penelitian mereka terhadap orangutan.

Selain meneliti perilaku, aktivitas dan nutrisi orangutan, beberapa di antaranya meneliti pakan (makanan) orangutan dan beberapa penelitian lainnya terkait kelempiau, kelasi. Selain itu juga  ada peneliti yang meneliti tumbuh-tumbuhan. Sebagian besar peneliti  berasal dari luar negeri seperti dari Harvard University, Boston University, Michigan University, (USA), Cambridge University (UK). Ada juga peneliti dari dalam negeri (Indonesia) termasuk asisten peneliti yang ikut membantu di Stasiun Penelitian Cabang Panti. Dari data yang ada, tercatat sebayak 91 orang dari Indonesia yang meneliti di Stasiun Penelitian Cabang Panti dan 83 orang peneliti dari luar negeri. Jika di total telah ada 174 peneliti yang meneliti di Kawasan TNGP, (data peneliti dari tahun 1986-2015, data Yayasan Palung (GPOCP) dan BTNGP).

Selama 23 tahun, peneliti dari GPOCP telah menghabiskan lebih dari 70,000 jam belajar dan orangutan liar. Foto dok. Yayasan Palung dan GPOCP.

Selama 23 tahun, peneliti dari GPOCP telah menghabiskan lebih dari 70,000 jam belajar dan orangutan liar. Foto dok. Yayasan Palung dan GPOCP.

Tim Laman, Cheryl Knott, Jessica Laman dan Russell saat mengamati orangutan di Gunung Palung. Foto dok. Trevor Frost

Tim Laman, Cheryl Knott, Jessica Laman dan Russell saat mengamati orangutan di Gunung Palung. Foto dok. Trevor Frost.

Yang menarik, beberapa peneliti seperti Timothy Gordon Laman atau lebih dikenal dengan Tim Laman, dari Harvard University (USA) melakukan penelitian dengan rentang waktu penelitian (tahun 1987-1988). Campbell Owen Webb, dari Dartmouth College (UK) melakukan penelitian (1991-sekarang), Andrew John Marshall, dari Harvard University dan Michigan University (USA) melakukan penelitian dari (tahun 1996-sekarang). Selain itu ada juga Cheryl Denise Knott, dari Boston University (USA) melakukan penelitian dari tahun (1991-sekarang). Mereka masih rutin untuk selalu berkunjung dan masih aktif meneliti di kawasan TNGP, lebih tepatnya di Stasiun Riset Cabang Panti. Beberapa penelitian menarik mereka adalah meneliti perilaku, reproduksi dan nutrisi orangutan, seperti yang diteliti oleh Cheryl Knott. Tim Laman melakukan penelitian, pelatihan manajemen hutan; pertanian, kehutanan sebagai teknik konservasi, sedangkan Andrew John Marshall dan Campbell Owen Webb melakukan penelitian tumbuh-tumbuhan, ekologi dan perilaku orangutan.

Camp Cabang Panti_foto 1 dok. Mayi (2).jpg
Camp  Stasiun Penelitian Cabang Panti (TNGP). foto dok. Mariamah Achmad
Beberapa perilaku, reproduksi dan tingkat kecerdasan dari orangutan menjadi minat para peneliti. Mengingat, orangutan sebagai kera besar memiliki kemiripan 96,4 % dengan manusia. Orangutan betina juga mengalami datang bulan (menstruasi) dan mengandung 8,5 bulan- hingga ada yang 9bulan. Hal yang menarik lainnya dari Taman Nasional Gunung Palung, karena; di kawasan ini merupakan satu-satunya kawasan hutan tropika Dipterocarpaceae (jenis kayu meranti) yang terbaik dan terluas di Kalimantan. Taman Nasional Gunung Palung memiliki 7 tipe hutan tropis dan 9 tipe habitat secara keseluruhan. Sedangkan beberapa peneliti dari Indonesia yang melakukan penelitian sebagian besar adalah mahasiswa-mahasiswi dari berbagai universitas seperti dari Universitas Tanjungpura, Universitas Nasional, Universitas Gadjah Mada dan beberapa universitas lainnya. Selain itu, ada juga dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Willughbeia sp Fam Apocynaceae buah Jantak Liana (7)

Willughbeia sp Fam Apocynaceae (buah Jantak) Liana,merupakan makanan kesukaan orangutan. Foto dok. Mariamah Achmad.

Adapun menurut data pada tahun 2001, jumlah populasi orangutan yang mendiami kawasan TNGP kurang lebih berjumlah 2.500 individu orangutan, data Yayasan Palung dan BTNGP. Belum ada data terbaru ataupun survei lagi untuk menghitung populasi di sana. Untuk menjangkau Stasiun Penelitian Cabang Panti, Kawasan TNGP diperlukan waktu 7-8 jam perjalanan dengan berjalan kaki. Sedangkan jika menggunakan sampan bermesin bisa ditempuh dengan waktu 6-8 jam. Hingga saat ini, para peneliti masih melakukan penelitian mereka di Stasiun Riset Cabang Panti (SRCP) di Kawasan Taman Nasional Gunung Palung (TNGP). Para peneliti sangat terbantu karena adanya kerjasama yang baik dengan pihak Balai Taman Nasional Gunung Palung (BTNGP). Berharap semoga saja mereka bisa memberikan kontribusi bagi dunia ilmu pengetahuan (science), selanjutnya juga semoga orangutan tetap ada, terjaga dan tidak punah. Semoga saja…

Petrus Kanisius ‘Pit’-Yayasan Palung

Tulisan ini pernah dimuat di kompasiana. Lihat tulisanSelengkapnya : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/23-tahun-70-000-jam-mengikuti-orangutan_56d96c8950937361132be344