Monthly Archives: Februari 2016

Yayasan Palung Lakukan Rapat Tahunan dan Penanaman Pohon

IMG_1663.JPG

IMG_1643.JPG

Yayasan Palung Lakukan Rapat Tahunan. Foto dok. YP

Senin hingga selasa kemarin (1-2 februari 2016), Yayasan Palung melakukan rapat tahunan. Dalam rapat tahunan tersebut beragam kegiatan penyusunan rencana program dan capaian ataupun kendala pada tahun 2015 lalu. Selain itu, seluruh karyawan YP dan GPOCP melakukan penanaman pohon di hutan belakang kantor (di area fieldtrip Siswa-siswi Sekolah Dasar).

IMG_1720.JPG

Penanaman Pohon di di hutan  (di area fieldtrip Siswa-siswi Sekolah Dasar) di belakang kantor Yayasan Palung. Foto dok. YP

Pada hari pertama, senin (1/2/2016), diadakan persentasi dari masing-masing program. Dari masing-masing program pun memaparkan capaian, kendala dan rencana di tahun 2016 dengan beberapa program yang sudah ada dan beberapa program-program baru.

Di hari ke dua, selasa (2/2/2016), kegiatan dilanjutkan dengan kegiatan diskusi untuk rencana program di tahun 2016.

Selanjutnya, setelah diskusi selesai kami melakukan penanaman pohon di hutan di belakang kantor.

Beberapa bibit yang kami tanam antara lain; tanaman seperti cempedak, manggis, tengkawang dan ubah. Setidaknya ada 30 bibit tanaman.

Keakraban, kebersamaan berbaur menjadi satu dalam rapat tersebut. Fokus dan serius pun tidak luput dari semua yang hadir. Bernyanyi, berjoget bersama juga kami lakukan dalam acara tersebut.

Kegiatan rapat tahunan yang Yayasan Palung laksanakan berjalan sesuai dengan rencana dan sukses. Kegiatan tersebut dihadiri oleh semua staf Yayasan Palung. (Pit-YP)

 

Iklan

Tahun Monyet : Mengenal  Monyet dan Bagaimana Nasib di Habitat Hidupnya?

Monyet Ekor Panjang saat makan & hujan menyapa. Foto dok. Tim Laman & Yayasan Palung.

Monyet Ekor Panjang saat makan & hujan menyapa. Foto dok. Tim Laman & Yayasan Palung

Tahun ini,  pada kalender China bertepatan dengan tahun monyet api. Jika kita membahas tentang monyet pasti tidak lepas dari perilakunya yang nakal dan cerdas dalam setiap gerak dan tingkah lakunya yang acap kali membuat banyak orang geram karena perilaku monyet tak jarang mencuri atau merusak tanaman dan buah-buahan dari pertanian atau kebun masyarakat. Nah, di tahun baru ini (pada kalender China), ada baiknya kita mengenal monyet dan bagaimana nasib mereka di habitat Hidupnya kini?.

Tingkah polah yang lucu, sedikit nakal dan cerdas. Setidaknya itulah perilaku utama yang dimiliki oleh monyet. Monyet merupakan salah satu anggota primata yang memiliki ekor. Ada monyet ekor panjang dan monyet ekor pendek. Monyet juga identik dengan pemakan buah hutan dan terkadang hingga ke pemukiman, pertanian dan perladangan masyarakat.

Ternyata di Asia Tenggara, lebih Khusus Indonesia, monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) dan  beruk (Macaca memestrina) cukup banyak tersebar di beberapa daerah atau wilayah seperti di Pulau Kalimantan,  Pulau Sumatera, Pulau Jawa dan beberapa tempat lainnya (hampir merata tersebar hampir tersebar di sejumlah pulau di Indonesia).  Sebaran dari monyet ekor panjang juga diperkirakan hampir tersebar di Seluruh Asia.

Populasi dan keberadaan monyet saat ini dapat dikatakan banyak karena perkembangan dan proses perkembangbiakannya cukup cepat. Binatang yang memiliki panjang tubuh kurang lebih 38-76 cm dan panjang ekor 61 cm serta berat badan bisa mencapai 6 kilogram tersebut memiliki masa kehamilan 5 bulan lebih atau (162 hari) dan rata-rata selang kelahiran 390 hari (sumber data; dari berbagai sumber). Makanan yang disukai oleh monyet adalah buah-buahan hutan, daun-daun muda, kepiting .

Monyet ekor panjang dan beruk (monyet ekor pendek), memiliki ekor kurang lebih  180 milimeter (mm), mereka (monyet) kerap kali dianggap sebagai hama karena sering kali merusak dan mengganggu tanaman para petani. Akan tetapi, peran dan fungsi dari monyet ekor panjang dan beruk ternyata cukup mulia. Mereka sebagai salah satu komponen yang cukup penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem karena sebagai penyebar biji-bijian dari kotoran yang mereka buang.

Selain itu ada proboscis monkey atau dalam istilah latinnya Nasalis larvatus  atau isilah lokalnya di sebut Bekantan, karena hidungnya mancung disebut  dengan monyet belanda. Bekantan habitat hidup mereka di tepian sungai. Mereka hidup secara berkelompok, hampir sama dengan monyet ekor panjang dan beruk. Bekantan habitat hidupnya hanya tersebar di wilayah Kalimantan.

Saat ini, berdasarkan peraturan pemerintah nomor 7 tahun 1999, monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) dan  beruk (Macaca memestrina) termasuk 2 jenis primata yang belum dilindungi. Berdasarkan data The International Union for the Conservation of Nature (IUCN), Red List memasukkan monyet ekor panjang dalam kategori resiko rendah (Least Concern) dan rentan (vulnerable) untuk  beruk. Sedangkan Conservation on International  Trade in Endangered Spesies (CITES) memasukkan keduanya dalam appendix II (belum terancam punah) namun jika perdagangan, perburuan dan kerusakan hutan terus terjadi (hutan terus berkurang) bisa mengancam keberadaan dan keberlanjutan si monyet atau dengan kata lain, jika habitatnya terus hilang mereka pun terancam punah.

Tahun 2000,  IUCN Red List menetapkan bekantan dalam status terancam punah (Endangered) dan dalam status CITES memasukkan bekantan dalam daftarx I (tidak boleh diperdagangkan).Tidak hanya itu, monyet lainnya ada juga Si Lutung Merah (Kelasi) dalam istilah latinnya disebut Presbytis rubicunda. Untuk status kelasi, memasukkan kelasi kedalam daftar lower Risk (LR)/Least Concern (LC)- resiko rendah. Akan tetapi kini, kebakaran hutan, pembukaan lahan skala besar sedikit banyak memberi ancaman baru dan keberadaan mereka diambang kepunahan. Si Lutung merah (kelasi) dapat dijumpai di hutan primer dan sekunder terutama di wilayah Kalimantan.

Keberadaan Primata dalam hal ini monyet, keberadaan populasi mereka masih cukup banyak di habitat mereka di hutan Kalimantan, Sumatera dan beberap tempat lainnya. Namun keberadaan seperti bekantan dan kelasi saat ini populasi mereka semakin sedikit dikarenakan perburuan dan semakin sempitnya habitat mereka. Bukan tidak mungkin kera ekor panjang, beruk, bekantan dan kelasi akan terncam punah jika semua orang tidak ikut memiliki kepedulian untuk melindungi mereka di habitat hidupnya, karena sama halnya dengan kita manusia, mereka (primata/satwa) juga sama perlu makan dan hidup di rumah mereka berupa hutan yang masih tersisa. Semoga saja.

By : Petrus Kanisius- Yayasan Palung

Baca Selengkapnya di : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/tahun-monyet-ada-baiknya-kita-mengenal-monyet-dan-bagaimana-nasib-di-habitat-hidupnya_56b97aa5167b614f07e80136

 

 

 

Bermain Boneka  Di Sekolah, Sembari Belajar Tentang Orangutan

puppet-show-sdn-19-delta-pawan

Puppet Show SDN 19 Delta Pawan. Foto dok. Yayasan Palung

Anak-anak sekolah dasar terlihat antusias untuk memainkan boneka, mereka sangat senang saat mendengarkan dengan seksama cerita tentang orangutan, pagi hingga menjelang tengah hari di hari kamis, (21/1/2013).

Bermain boneka bersama anak-anak di sekolah sembari belajar tentang orangutan itulah yang dilakukan Tim Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung lakukan di dua sekolah Dasar yang ada di Ketapang. Adapun dua sekolah yang kami kunjungi  tersebut adalah SDN 10 Delta Pawan dan SDN 19 Delta Pawan.

Puppet Show (panggung boneka), dengan media boneka yang Yayasan Palung lakukan untuk belajar bersama tentang orangutan. Salah satu tujuan untuk memberikan informasi tentang orangutan sebagai satwa yang dilindungi melalui cerita dengan media boneka.

Dalam penyampaian materi belajar tentang pengenalan orangutan, siswa-siswi diajak untuk mengenal seperti orangutan merupakan satwa langka yang hanya terdapat di dua pulau yaitu di Pulau Kalimantan dan Sumatera. Ciri-ciri fisik orangutan warnanya coklat kemerah-merahan, badannya besar dan termasuk dalam kelompok kera besar, dan satu-satunya kera besar yang ada di Asia.

Selain itu, dalam cerita dengan media boneka tersebut diceritakan bahwa orangutan tidak boleh dipelihara, orangutan dilindungi oleh undang-undang. Dalam bermain boneka tersebut juga diceritakan tentang orangutan sebagai spesies payung karena berperan sebagai penyebar biji dan penyeimbang ekosistem. Selanjutnya juga, siswa-siswi diajak bernyanyi lagu pongo (lagu tentang orangutan).

Menyaksikan film pendek tentang perilaku orangutan tidak dilewatkan, film tersebut bercerita tentang perilaku orangutan sehari-hari seperti membuat sarang, memakan buah hutan dan melindungi diri dari hujan dengan dedaunan ketika hujan turun. Siswa- siswi juga diberi kesempatan untuk bertanya jawab dari materi yang disampaikan.

Sekolah pertama yang kami sambangi adalah di SDN 10 Delta Pawan, Kelurahan Sukaharja. Tiga siswa ikut terlibat (bergabung) atau berperan ikut memainkan boneka dalam bercerita. Mereka bertiga berperan menjadi Bekantan, Kelasi dan orangutan jantan. Sebelum bercerita, murid-murid dibagikan pre-test dan pos test untuk mengukur pengetahun mereka tentang materi yang disampaikan. Tidak kurang 118 orang siswa-siswi kelas 4, 5 dan 6 yang ikut ambil bagian dalam belajar tentang orangutan tersebut. Kegiatan berlangsung dari pukul 08.00-09.30 Wib.

Selanjutnya sekolah dasar negeri 19 Delta Pawan, yang kami kunjungi. 41 siswa-siswi kelas 4 dan 5 ikut dalam kegiatan puppet show tersebut. Puppet show kami lakukan pukul 10.00- 11.45 Wib. Materi yang kami sampaikan pun sama belajar tentang orangutan. Dari Yayasan Palung yang ikut dalam kegiatan Puppet show tersebut antara lain Mayi Achmad, Ranti Naruri, Rudi Hartono dan Petrus Kanisius.

Kegiatan Puppet Show merupakan kegiatan rutin dari program pendidikan lingkungan Yayasan Palung yang dilakukan ke sekolah-sekolah yang ada di dua Kabupaten; Ketapang dan Kayong Utara.

Setelah bermain boneka sembari belajar tentang orangutan, kami pun menyudahi kegiatan tersebut. Kegiatan berjalan sesuai dengan rencana dan mendapat sambutan baik dari sekolah. Sebelum pulang, kami menyempatkan juga untuk membagikan kalender tentang orangutan dan Media Informasi Satwa (MiaS). By: Petrus Kanisius-Yayasan Palung.

Sumber Tribun Pontianak, baca selengkapnya di: http://pontianak.tribunnews.com/2016/01/25/bermain-boneka-di-sekolah-sembari-belajar-tentang-orangutan

 

Inilah Kisah Seorang Nenek Tukang Batu Beralih Jadi Pengrajin Tikar di Kayong Utara

 

 IMG_1788

Ibu Vina (pengrajin anyaman pandan), A. Samad (Yayasan Palung) dan Hatta (Suami ibu Vina). Foto dok. Yayasan Palung

Dulu kerja batu, kerja pasir namun kini berubah profesi menjadi pengrajin tikar pandan tanpa merusak hutan (untuk keberlanjutan hutan), itulah profesi baru Savina sehari-harinya. Jumat (3/2/2015) lalu, saya berkesempatan berkunjung ke rumahnya untuk mengobrol ringan tentang profesi barunya itu.

Panas terik, terkadang hujan itulah yang Vina (45) rasakan saat-saat kerja batu dan pasir dulu. Jarang di rumah dan terkadang mengikuti suaminya dari satu tempat ke tempat yang lainnya diKayong Utara.

Ia bersama suaminya Hata (52) dari tahun ke tahun melakoni pekerjaan ini hingga tahun 2014. Waktu jarang di rumah, terkadang membuat Vina tidak sering bertemu cucunya karena terkadang Ia bersama suaminya berada di tempat lainnya dan jauh dari rumah. Rasa itu menjadi salah satu alasannya untuk beralih profesi menjadi pengrajin tikar pandan.

Sejatinya, Vina telah sejak kecil menganyam sejak usia remaja. Ia diajari oleh ibunya menganyam ketika itu. Dulu, menurut Nenek empat cucu tersebut semua remaja harus bisa menganyam, jika tidak bisa menganyam belum boleh menikah atau berkeluarga.

Awal mula Vina berubah kerja atau alih profesi dari kerja batu dan pasir menjadi pengrajin adalah ketika bertemu dengan Ida dan diajak untuk bergabung menjadi kelompok untuk menganyam.

IMG_1786

Tas Pandan hasil kreasi anyaman dari Ibu Vina. Foto dok. Yayasan Palung

Sudah kurang lebih satu tahun Vina bersama Ida menganyam aneka anyaman tikar pandan, anting-anting pandan, gelang pandan dan tas pandan serta aksesoris lainnya seperti tempat tisu dan juga gantungan kunci.

Hata sebagai suami Vina mengaku sangat mendukung dan senang Istrinya menjadi pengrajin tikar pandan. Lebih lanjut, Hata berujar menganyam tikar pandan kegiatan yang positif dan halal sebagai mata pencarian alternatif.

Seperti diketahui, Ida merupakan salah seorang pengrajin yang memiliki keahlian menganyam (pelatih) mampu serta mau mengajarkan (belajar bersama) menganyam dan berinovasi dalam menganyam di Kayong Utara. Ida juga sering kali dipercaya untuk melatih di beberbagai tempat seperti di Papua tahun lalu.

pertemuaan-para-pengrajin_20160203_161547

pertemuaan-para-pengrajin_20160203_162014

Pertemuan rutin para pengrajin anyaman tikar pandan di kantor Yayasan Palung di Desa Pampang Harapan, KKU. Foto dok. Yayasan Palung

Seperti diketahui, Ida juga sebagai salah seorang ketua kelompok pengrajin di Tanah Kayong (KKU) yang mulanya didampingi oleh Yayasan Palung dan didukung penuh oleh dekranasda bersama Pemerintah Daerah KKU. Kini kelompok Ida telah memiliki wadah atau tempat dengan nama Ida Craft.

Vina bercerita, selama bergabung dengan kelompok Ida dan kawan-kawan yang berjumlah 12 orang, Ia tidak lagi harus kerja berat menjadi tukang batu ataupun menambang pasir. Menganyam menjadi pekerjaan yang ringan dan tidak harus kerja keras.

Sudah kurang lebih satu tahun Vina bersama Ida menganyam aneka anyaman tikar pandan, anting-anting pandan, gelang pandan dan tas pandan serta aksesoris lainnya seperti tempat tisu dan juga gantungan kunci.

Hata sebagai suami Vina mengaku sangat mendukung dan senang Istrinya menjadi pengrajin tikar pandan. Lebih lanjut, Hata berujar menganyam tikar pandan kegiatan yang positif dan halal sebagai mata pencarian alternatif.

Seperti diketahui, Ida merupakan salah seorang pengrajin yang memiliki keahlian menganyam (pelatih) mampu serta mau mengajarkan (belajar bersama) menganyam dan berinovasi dalam menganyam di Kayong Utara. Ida juga sering kali dipercaya untuk melatih di beberbagai tempat seperti di Papua tahun lalu.

Seperti diketahui, Ida juga sebagai salah seorang ketua kelompok pengrajin di Tanah Kayong (KKU) yang mulanya didampingi oleh Yayasan Palung dan didukung penuh oleh dekranasda bersama Pemerintah Daerah KKU. Kini kelompok Ida telah memiliki wadah atau tempat dengan nama Ida Craft.

Vina bercerita, selama bergabung dengan kelompok Ida dan kawan-kawan yang berjumlah 12 orang, Ia tidak lagi harus kerja berat menjadi tukang batu ataupun menambang pasir. Menganyam menjadi pekerjaan yang ringan dan tidak harus kerja keras.

Cerita sukses Ibu Vina sedikit banyak memberi kontribusi penting bagi keberlanjutan hutan di sekitar kawasan hutan dan habitat orangutan di Taman Nasional Gunung Palung (TNGP).

Tidak hanya itu, keberhasilan ibu Vina menjadi pengrajin anyaman pandan murni kesadaran dari dirinya dan penyemangat bahwa menjadi pengrajin anyaman tikar pandan sebagai salah satu alternatif tanpa harus merusak hutan.

Ibu Vina mengaku, Ia selalu senang belajar bersama. Keberhasilan lainnya dari Ibu Vina adalah, ia berhasil mengajak orang di sekitarnya untuk mengubah profesi dari pekerjaan tukang batu/kerja batu menjadi pengrajin tikar. Salah satu pengrajin baru yang berhasil diajak oleh ibu Vina adalah Ibu Susi (34 tahun).

Untuk penghasilan dari menganyam tikar pandan, ibu Vinamengaku sangat membantu penghasilannya sehari-hari atau bisa dikata, pengahsilan bekerja batu sama dengan penghasilan ia menganya.

Selain menganyam tidak kerja berat (ringan) dibanding bekerja batu dan pasir yang sangat berat dan beresiko tinggi, ujarnya. Dengan kata lain, dengan menganyam, mereka (pengrajin) menjaga tanaman di sekitar hutan terlebih tanaman pandan. Sampai saat ini, para pengrajin anyaman hasil hutan bukan kayu (hhbk) di Kayong Utara mendapt perhatian khusus dari pemerintah daerah, Yayasan Palung dan dekranasda KKU.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Sumber: Tribun Pontianak; http://pontianak.tribunnews.com/2016/02/03/inilah-kisah-seorang-nenek-kuli-batu-beralih-jadi-pengrajin-tikar-di-kayong-utara

Tragis, Maskot Kalimantan Barat Itu Nasibnya Kini Diambang Kepunahan

Nasib Tragis, Paruhnya Enggang yang diburu oleh para pemburu, foto dok. Yayasan Palung, Nop 2014.jpg

 Nasib Tragis, Paruhnya Enggang yang diburu oleh para pemburu, foto dok. Yayasan Palung, Nop 2014

Tagis, mungkin kata itu yang cocok untuk dikatakan. Ya, benar saja, berdasarkan rilis terbaru IUCN (International Union for Conservation of Nature) mengeluarkan data terbaru tentang enggang gading yang menyebutkan status terbaru burung enggang atau Rangkong, yang tergolong pada kelompok Aves (burung) yang masuk daftar diambang kepunahan (daftar merah/red list). Tentunya hal ini sangat mengagetkan. Mengingat dengan dikeluarkannya data tersebut semakin memperpanjang daftar red list terhadap beberapa spesies makhluk hidup yang mendiami bumi dan hutan belantara ini. Sebelumnya daftar red list mengeluarkan data terbaru yang menyebutkan daftar 25 primata paling terancam punah di dunia 2014-2016.

Dari ke 25 primata yang paling terancam, di wilayah Asia, tiga diantaranya dari Indonesia, Orangutan Sumatera (Pongo abelii), Sumatera, Indonesia. Kukang jawa (Nycticebus javanicus), Jawa, Indonesia dan Lutung hidung pesek ekor babi (Simias concolor), Mentawai, Indonesia. Sebagian besar masyarakat Kalimantan Barat setidaknya pernah mendengar nama burung enggang. Lebih khususnya lagi enggang gading (Rhinoplax vigil), kini enggang statusnya ditetapkan Kritis (Critically Endangered) atau bisa dikatakan diambang kepunahan di alamnya (hutan). Tentunya ini sangat menyedihkan dan tragis bagi nasib enggang ini, mengingat bagi masyarakat Kalimantan Barat, enggang adalah maskot (lambang/icon). Bila nasib burung enggang diambang kepunahan lalu langkah apa yang bisa dilakukan?.

Hutan Kalimantan disebut sebagai salah satu tempat yang nyaman bagi enggang,  demikian juga di hutan Kalimantan itu berasal selain jenis-jenis lainnya di tempat lain di Indonesia. Semakin berkurangnya luasan tutupan hutan menjadi persoalan utama nasib enggang semakin terancam punah (kritis) keberadaannya di alam bebas. Yang sangat menyedihkan adalah habitat hidup burung enggang berupa hutan kini semakin kritis diambang terkikis habis. Sudah menjadi rahasia umum, sedikit banyak nasib tragis yang dialami oleh burung enggang disebabkan oleh beberapa sebab salah satunya perburuan, pemiliharaan dan perdagangan paruhnya yang kini masih saja terjadi dan semakin menggila.

Persoalan perdagangan paruh enggang yang semakin menggila dan melanggar peraturan perundang-undangan konservasi sumber daya alam, UU no 5 tahun 1990, pasal 21 ayat 2 yang menyebutkan; melarang membunuh, melukai, memilihara dan memperjualbelikan bagian-bagian dari binatang/hewan/ satwa. Hal ini juga diperkuat dengan Pasal 40 ayat 2 yang menyebutkan jika melanggar ketentuan dari pelanggaran tersebut maka akan dipidanakan dengan 5 tahun penjara dan denda 100 juta rupiah.

Beberapa pelanggar terhadap pelaku jual beli paruh enggang ada yang telah ditangkap namun masih banyak juga kasus perdagangan dan perburuan burung enggang hingga kini belum atau tidak tersentuh hukum. Tidak hanya itu, beberapa diantara masyarakat lokal ada yang menggunakan paruh enggang untuk kegiatan budaya. Namun tidak separah kasus perdagangan/jualbeli paruh enggang yang jumlahnya hingga ratusan paruh. Perburun dalam jumlah besar terhadap enggang inilh yang menjadikan enggang semakin kritis jumlahnya di alam bebas.

Jika memang kasus-kasus perdagangan dan perburuan terhadap burung enggang ini terus terjadi maka bukan tidak mungkin, burung enggang yang dijadikan sebagi maskot propinsi Kalbar akan tinggal cerita (dari terancam punah hingga punah). Akan tetapi perhatian semua pihak sudah seharusnya diambil.

Langkah tegas, penerapan dan penegakkan tata aturan yang berlaku sudah barang tentu untuk dilaksanakan secara tegas dan tampa pandang bulu selain itu juga perhatian, perlindungan serta konservasi terhadap enggang sudah seharunya untuk terus dilaksanakan oleh siapapun juga. Sebuah harap semoga saja, enggang gading masih bisa tersisa di alam bebas dan maskot Kalimantan Barat akan tetap ada hingga selamanya. Semoga…

By : Petrus Kanisius- Yayasan Palung

Baca Selengkapnya di : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/tragis-maskot-kalimantan-barat-itu-nasibnya-kini-diambang-kepunahan_56726666b17e61011ce650d7

http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/menilik-jejak-ancaman-populasi-rangkong-enggang-di-tanah-kayong_56bae0f88823bdf01e58d0e6

Inilah Ragam Buah Hutan Yang Paling Disukai Oleh Enggang, Orangutan dan Satwa Lainnya Di Hutan Kalimantan

ragam-buah-buahan-hutan-yang-menjadi-kesukaan-orangutan-dan-burung-enggang-foto-dok-yayasan-palung-5673935ab17e610e0737a6c7

Ragam buah-buahan hutan yang menjadi kesukaan orangutan dan burung enggang foto dok. Yayasan Palung

Ragam jenis tumbuhan berpadu menjadi satu dengan ragam buah-buahan hutan di hutan tropis Kalimantan, lebih tepatnya di Lubuk Baji (Zona pemanfaatan Taman Nasional Gunung Palung). Ragam Tumbuhan dan buah-buahan hutan inilah menjadikan sumber makanan yang paling disukai oleh penghuni hutan itu.

Keberadaan dan ketersediaan buah-buahan hutan menjadi salah satu tanda, hutan yang dimaksud masih baik adanya dan keberadaannya. Jika musim buah tiba walaupun tidak musim buah raya, keberadaan buah-buah hutan tersebut sebagai pelengkap dan pendukung keberlanjutan nafas hidup yang baik bagi satwa di wilayah itu (Lubuk Baji).

Buah asam kalimantan, rambutan hutan, durian hutan, cempedak hutan, buah Ficus sp (kayu ara), buah pelanjau dan buah kapul setidaknya itulah yang tersedia di beberapa wilayah Kalimantan. Selain itu,   beberapa buah-buahan hutan tersebut diantaranya seperti Dillenia borneensis (Simpur Laki),Connarus sp (Belungai), Baccaurea dulcis (rambai hutan), Artocarpus elasticus (terap), Aporosa nitida (Belian air), merupakan makanan kesukaan orangutan dan Dysoxylum cyrtobotryum (Lantupak), merupakan makanan kesukaan orangutan dan burung enggang. Ada juga buah pala hutan dan buah tengkawang yang sangat di sukai oleh burung enggang.

Berdasarkan hasil penelitian di Stasiun Riset Cabang Panti, orangutan mengkonsumsi lebih dari 300 jenis tumbuhan yang terdiri dari: 60% terdiri dari buah, 20% bunga, 10% daun muda dan kulit kayu serta 10% serangga (seperti rayap). Tumbuhan dominan yang dikonsumsi buahnya oleh orangutan adalah dari family Sapindaceae/sapindales (rambutan, kedondong, matoa dan langsat), Lauraceae (alpukat, dan medang), Fagaceae (petai dan kacang kedelai atau termasuk jenis kacang-kacangan), Myrtaceae/myrtales (jenis jambu-jambuan), Moraceae (ficus/kayu ara) dll. Kesemua buah-buahan hutan tersebut, setidaknya itulah yang paling digemari oleh burung enggang dan orangutan beserta satwa lainnya seperti kelempiau dan kelasi.

Ketersediaan buah-buah hutan yang masih dapat dijumpai di Kalimantan, lebih khusus di Lubuk baji dan Taman Nasional Gunung Palung (TNGP) sedikit banyak sebagai penanda hutan di wilayah tersebut dapat dikatakan masih baik ini sebagai anugerah yang terindah bagi ragam satwa. Mengingat, ragam satwa dan jenis burung masih betah, mudah dan nyaaman untuk memperoleh makanan mereka di habitat hidup mereka.

Mengapa buah-buahan hutan begitu penting bagi satwa?. Salah satu jawabannya adalah buah-buahan banyak mengandung nutrisi seperti lemak, protein dan karbohidrat yang fungsinya untuk energi daya jelajah dan untuk meningkatkan hormon bagi perkembangbiakan mereka (orangutan dan beberapa satwa lainnya). Rutinitas memakan buah-buah hutan seperti yang dilakukan oleh satwa/primata ibarat seperti bermain bergelantungan dari pohon satu ke pohon lainnya. Demikian juga enggang, kepak sayap dan teriakan suara khas yang menjadi tanda sorak sorai mereka saat memakan buah-buahan seperti buah kayu ara.

Ragam tumbuh-tumbuhan seperti anggrek hutan menjadi pelengkap keindahan alam ketika tumbuh mekar berpadu menjadi satu dengan tumbuh-tumbuhan yang berbuah.

Untuk mencapai wilayah Lubuk Baji, diperlukan waktu untuk sampai kurang lebih 1,5- 2 jam perjalanan dari Dusun Begasing, Desa Sedahan Jaya, Kabupaten Kayong Utara (KKU), Kalbar. Di Lubuk Baji, Pesona Alam lainnya dapat dijumpai seperti Air terjun dan pemandangan dari Batu Bulan begitu memnjakan mata untuk melihat sebagian KKU dari jarak ketinggian 800 meter  dari permukaan laut. Di Lubuk Baji, kerap kali dijadikan tempat untuk fieldtrip dan belajar secara langsung di alam oleh banyak pihak seperti sekolah dan pengunjung wisata dari dalam dan luar negeri.

Ketersediaan buah-buahan hutan yang masih ada dan masih tersisa ini setidaknya menjadi tanda nyata tumbuh-tumbuhan, buah-buahan hutan dan satwa masih bisa hidup saling berdampingan, bisa terus ada hingga nanti dan lestari. semoga saja…

By : Petrus Kanisius- Yayasam Palung

Baca Selengkapnya di : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/inilah-ragam-buah-hutan-yang-paling-disukai-oleh-enggang-orangutan-dan-satwa-lainnya-di-hutan-kalimantan_5673994edb9373000752a863

Sekali Lagi, Masih Layakkah Aku Disebut Hutan?

pesan-utk-alam-setelah-pohon-terakhir-kita-tebang-barulah-kita-tahu-bahwa-duit-tidak-bisa-kita-makan-5695dbd88f7a61cc06dde183

“Pesan utk alam, Setelah pohon terakhir kita tebang barulah kita tahu bahwa Duit tidak bisa kita makan.”. Foto dok. YP

Hutan di sebut sebagai salah satu sumber untuk penopang hidup.  Apapun bentuknya hutan tersebut tetaplah hutan. Tetapi,  Kini aku (hutan) masih layak kah di sebut hutan kini?. Dari waktu ke waktu hingga kini tidak bisa disangkal-sangkal,  Aku hutan selalu menjadi incaran banyak kalangan yang juga dimanfaatkan untuk berbagai bisnis dan keuntung saja tanpa melihat nafas hidupku secara berlanjut.

Aku tidak meminta imbalan dalam aku tumbuh berkembang hingga menjadi tajuk-tajuk yang rimbun, tentu Yang Kuasa mengirimku untuk hidup dan melindungi semua.

Kita diciptakan tidak untuk saling menyakiti, tatapi untuk menyayangi dan mencintai hingga jaman berganti jaman, abad berganti abad dan tahun berganti tahun kita seutuhnya sama saling menjaga.

Entah sadar, tersadar atau tidak sadar. Aku hutan sebagai paru-paru dari nafas hidup segala bernyawa. Setahu aku itu kegunaanku berdasarkan titah Sang Kuasa kepadaku.

Sejatinya aku hutan,  tetapi masih layak kah aku disebut hutan.Mungkinkah aku mengadu tentang jati diriku sebagai hutan?.

Jika aku hutan, aku sudah pasti dipupuk, ditanam, dijaga(dirawat), dilindungi dan dipelihara.

Mengapa kini aku terus bernasib seperti ini?. Digusur diusir, diperdebatkan, dimusnakan dari tempat aku berasal dan berada. Adapula yang membakar tubuhku, mencabik-cabik kulitku, memotong rambutku hingga mahkotaku hilang.

Banyak yang bilang, tubuhku begitu banyak orang yang berlomba untuk membeliku jika aku berkualitas kelas satu, bertubuh tambun dan kokoh berdiri. Tetapi jika aku tidak dibutuhkan aku dibuang hanya diperlukan ditungku perapian dan semak belukar.

Tetapi kini, lihatlah, rambutku kian rontok dan botak karena selain sering dicukur, rambutku enggan untuk tumbuh kembali. Dihabitatku pula aku merasa sudah semakin terhimpit, terhimpit sebangsa baru tetapi bukan aku yang tumbuh bersisir rapi. Akupun kekurangan asupan makanan, sering kali aku tidak kebagian karena rebutan. Demikian pula dengan tumbuh dan kembangku yang tidak sampai dewasa, algojo-algojo selalu memancungku. Terkadang aku tumbuh seadanya, jika dikatakan hidup segan mati sudah pasti.

Banyak pula yang mengatakan bahwa jika suatu saat nanti aku tidak bisa berdiri kokoh, rebah tak berdaya maka banyak yang tidak terlindungi. Ada pula yang mengatakan jika tidak bisa berdiri kokoh berjejer dan berbaris, bumi akan menghangat dan panas terik bersama kering kerontang.

Jika aku hutan, maka aku tidak untuk di sakiti, tidak dipotong-potong dan dicincang, tidak untuk dibotaki atau disisir rapi. Aku ingin tetap menjadi diriku sendiri. Aku tahu, aku sebagai hutan sangat diperlukan dan dibutuhkan. Namun sekiranya, jangan musnahkan kami. Jika aku rusak, disakiti, dimusnakan atau dipotong-potong sekiranya aku tanam, disiram kembali jika kalian anggap perlu. Sisakan sedikit kami untuk hidup dan keberlanjutan kalian dan kita semua kini dan nanti. Akankah semua orang lupa kepadaku?. Sekali lagi, Masih layakkah aku di sebut hutan jika seperti ini?.

By : Petrus Kanisius- Yayasan Palung

Baca Selengkapnya di : http://fiksiana.kompasiana.com/pit_kanisius/sekali-lagi-masih-layakkah-aku-disebut-hutan_5695dc8f2e7a61f109b0fdf2

Banyak Yang Menyebut Orangutan Dengan Sebutan Ekor, Padahal Bukan Itu Penyebutannya

orangutan-dan-bayinya-di-tngp-foto-dok-yayasan-palung-dan-tim-laman-5698bdcf149373dc04b4bd31.jpg

Keterangan foto: induk orangutan dan anaknya di Taman Nasional Gunung Palung. Foto dok: Yayasan Palung dan Tim Laman.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/banyak-yang-menyebut-satuan-orangutan-dengan-sebutan-ekor-benarkah_5698bee445afbd86077e39cc

Sering kali saya mendengarkan kebanyakan orang menyebutkan sebutan orangutan dengan sebutan ekor. Seperti misalnya ada yang menyebutkan satu ekor orangutan terperangkap di kawasan pemukiman masyarakat. Sejatinya penyebutan (sebutan) ekor kuranglah tepat untuk di sebutkankan. Lalu apa sebutan tepat untuk oranguan?.

Sebelum kita  membahas apa yang cocok untuk penyebutan orangutan, ada baiknya kita mengenal satwa atau primata ini. Satwa langka yang hanya terdapat dan dapat hidup dihabitatnya di  pulau Kalimantan dan Sumatera tersebut  memang memiliki ragam hal yang menarik, keunikan dan keistimewaan. Keistimewaan orangutan adalah karena orangutan sebagai spesies dasar bagi konservasi disebut umbrella species karena hilangnya orangutan mencerminkan hilangnya ratusan spesies tanaman dan hewan pada ekosistem hutan hujan. Untuk lebih lengkap mengenal orangutan lihat di : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/apa-saja-yang-menarik-dari-orangutan_55e021c55697736714b8caa3

Orangutan adalah penyebar biji, memegang peranan sangat penting bagi regenerasi hutan melalui buah-buahan dan biji-bijian yang mereka makan. Hutan primer dunia yang tersisa merupakan dasar kesejahteraan manusia, dan kunci dari planet yang sehat adalah keanekaragaman hayati, menyelamatkan orangutan turut menolong mamalia, burung, reptil, amfibi, serangga, tanaman, dan berbagai macam spesies lainnya yang hidup di hutan hujan Indonesia.

Nah, Kita kembali pada pembahasan utama kita tentang penyebutan apa yang cocok bagi orangutan. Tidak banyak yang lupa atau belum tahu atau belum mendengarkan istilah yang cocok (tepat) untuk penyebutan orangutan adalah individu. Di Dunia konservasi, menyepakati bahwa untuk penyebutan orangutan dengan sebutan individu. Penyebutan individu tidak lebih dikarenakan orangutan hidupnya tidak berkelompok (menyendiri).

Mengapa orangutan disebut individu dan bukan ekor?. Orangutan, baik itu jantan atau betina tidak memiliki ekor. Orangutan termasuk kera besar yang ada di dunia selain Gorila, Simpanse dan Bonobo. Dan jenis kera kecil adalah kelempiau. Sedangkan yang memiliki ekor adalah jenis monyet seperti monyet, kelasi dan beruk.

Penyebutan yang cocok (tepat) untuk orangutan adalah individu. Misalnya, satu individu orangutan ditemukan di pemukiman warga saat di selamatkan (rescue).

Tidak untuk menyalahkan, namun untuk kesepakatan dan fakta bahwa orangutan tidak memiliki ekor. Semoga bermanfaat.

By: Petrus Kanisius ‘Pit’-Yayasan Palung   

Baca Selengkapnya di : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/banyak-yang-menyebut-satuan-orangutan-dengan-sebutan-ekor-benarkah_5698bee445afbd86077e39cc

 

Apa Dosa Satwa Sehingga Kini Kian Terancam?

kelempiau-yang-dipilihara-oleh-masyarakat-di-pasar-sandai-kec-sandai-ketapang-kalbar-foto-tahun-2015-dok-yayasan-palung-56b453bb60afbd3a0839bb38

Kelempiau yang dipilihara oleh masyarakat di Pasar Sandai, Kec. Sandai, Ketapang, Kalbar. Foto tahun 2015, dok. Yayasan Palung.

Ancaman dan kejahahatan terhadap satwa terus saja terjadi. Entah apa yang menjadi sesungguhnya tentang hal ini?. Apa dosa mereka (satwa) ?.

Bisa dikata, dari dulu hingga kini ancaman terhadap satwa terus saja terjadi dan tidak henti-hentinya (semakin marak). Ancaman satwa tersebut terus terjadi di negeri ini, terlebih di wilayah Kalimantan, Sumatera, Jawa dan Papua. Apa penyebab utama dari persoalan tersebut?. Bila dilihat secara kasat mata begitu nyata terlihat, namun yang terselubung pun begitu juga terjadi (tidak kalah hebatnya) berlomba-lomba mengurangi jumlah luasan ataupun isi bumi pertiwi.

Nasib satwa yang hidup dan tumbuh berkembang di habitus/habitat hidupnya pun kian dalam ancaman nyata. Benar saja, hutan sebagai tempat hidup jumlahnya semakin terbatas jumlahnya (berkurang/menjelang terkikis habis).Tangan-tangan tidak terlihat begitu masif menjamah hutan dan tanah air serta bumi pertiwi entah kapan berhenti mengusik.

Tercatat, dari tahun kasus perburuan, perdagangan dan pemiliharaan satwa masih saja terjadi. Paruh enggang, sisik trenggiling, pemiliharaan primata seperti orangutan, kelempiau masih berlangsung. Perburuan terhadap rusa, perburuan kelasi untuk diambil geliganya menjadi informasi dan kasus baru di Kalimantan Barat. Demikian juga halnya dengan bekantan yang jumlahnya semakin berkurang. Menurut informasi yang di peroleh oleh Yayasan Palung dari masyarakat ada terjadi di beberapa tempat seperti di Wilayah Riam Bunut, Kecamatan Sungai Laur pada tahun 2014-2015 lalu ada para pembeli yang sengaja mencari geliga kelasi, geliga dan enggang dan sisik trenggiling. Para pembeli tersebut berasal dari Luar (luar negeri/Malaysia).  Nasib tragis juga terjadi pada beruang madu dan beruang rambai, sering kali diburu untuk diambil empedu dan dikonsumsi.

Hal lain yang tidak kalah menyedihkan adalah proses penegakan hukum yang bisa dikata masih lemah. Terutama menyangkut pengawasan dan penegakan hukum. Mengapa demikian?. Berbicara tentang pengawasan, acap kali para pemburu sekaligus pembeli/pengoleksi bagian-bagian tubuh satwa tidak pernah berhenti menyeludupkan barang-barang tersebut ke luar negeri. Kulit harimau, gading gajah di Sumatera, paruh enggang di Kalimantan Barat, Burung-burung endemik dari Papua seperti  burung surga (Cendrawasih), perburuan terhadap kangguru juga ada terjadi. Demikian juga dengan beragam jenis burung langka yang masih marak diperjualbelikan di pasar gelap melalui dunia maya. Pemiliharaan terhadap burung hantu dan ayam hutan. Kukang Jawa, kukang Sumatera dan Kalimantan pun begitu sering diperdagangkan di pasar bebas gelap. Yang kerap kali disebut, Tiongkok menjadi penadah dari pasar gelap perdagangan satwa.

Nasib Pongo (Orangutan) juga begitu banyak yang tragis nasibnya. Lahan gambut yang terus berkurang akibat kebakaran tahun lalu sangat berpengaruh membuat orangutan menghampiri pemukiman dan perkebunan warga. Sumber pakan dan makanan sudah semakin sulit mereka (orangutan dan satwa lainnya)  dapatkan. Derita banyak satwa terus berulang dan tak berujung, mengingat dari dulu banyak satwa terlebih orangutan sebagai spesies payung kian terhimpit di habitat hidupnya hingga kini. Data ProFauna, tahun 2015 menyebutkan; setidaknya ada terdapat 50 kasus perburuan, termasuk yang diunggah di media sosial. Sekitar 95 persen primata yang dijual di pasar bebas merupakan hasil perburuan. Kebanyakan, orang berburu itu untuk dijual kembali.

Efek jera terhadap para pelanggar dan pelaku kejahatan terhadap satwa dan kehutanan masih dianggap tidak maksimal. Hukuman ringan terhadap pelanggar tidak membuat jera para pelaku kejahatan. Tata aturan terhadap UU no. 5 tahun 1990, tentang Sumber Daya hayati dan Ekosistem sering kali terabaikan dalam pelaksanaannya.

Kampanye, penyadartahuan dan beberapa edukasi tentang perlindungan terhadap satwa terus dilakukan dari hari ke hari oleh banyak lembaga, institusi dan yayasan, namun pelanggaran terhadap satwa terus terjadi. Ancaman terhadap satwa seolah semakin sulit untuk dihentikan. Kesadaran dari pelaku untuk melindungi masih terbilang minim, alasan yang selalu di utarakan karena  tuntutan perut.

Persoalan tentang ancaman terhadap satwa sejatinya bisa dibendung jika adanya kesadaran, kerjasama yang baik dari seluruh pemegang kebijakan, pengusaha, penegak hukum dan para pemerhati lingkungan. Tata kelola, penegakan hukum dan regulasi yang jelas dan tidak memihak salah satu kepentingan menjadi pilihan yang harus dilakukan.  Menjadi hal yang harus diproritaskan. Apabila tidak, satwa semakin terancam dan akan punah. Mengingat, saat ini dari 44 jenis spesies satwa yang ada, setidaknya 21 diantaranya endemik dan terancam punah (baca; status 25 primata terancam punah 2014-2016 dalam Primates in Peril: The world’s 25 most endangered primates). Sejatinya, satwa dilindungi tidak memiliki dosa namun mereka menanggung derita, termasuk manusia yang bertanggungjawab karena sama-sama mendiami bumi ini. Coba kita selidiki, apa dosa satwa-satwa yang terancam?.

Mungkin jika satwa memiliki akal dan pikiran yang sama dengan manusia bisa saja satwa berdemontrasi kepada manusia. Dampak dan ancaman dengan semakin sedikitnya satwa, jenis burung, tumbuhan dan hutan dapat kita rasakan. Cuaca tidak menentu, banjir siap menghadang jika penghujan datang, demikian pula bila kemarau tiba, ancaman kekeringan dan kurangnya air bersih menjadi persoalan utama saat ini. Rantai makanan mulai ada yang terputus, ada beberap jenis satwa yang kesulitan makanan/pakannya. Kini, tinggal bertanya sebaliknya. Siapa sesungguhnya berdosa dengan semakin terancamnya satwa dan hutan saat ini?.

By : Petrus Kanisius- Yayasan Palung

Baca Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/apa-dosa-satwa-sehingga-kini-kian-terancam_56b455c2c4afbd22094193fa