Monthly Archives: Januari 2016

Siapkan Diri Kamu Untuk Peruntungan Beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan (BOCS)Tahun 2016

BOCS 2016_1

Keterangan Foto:Profil Penerima BOCS

Kabar  gembira bagi kamu yang sekarang sedang duduk di kelas XII, Siswa-siswi ditingkat akhir SMA/ MA/ SMK di dua wilayah di dua kabupaten.

Yayasan Palung kembali membuka kesempatan beasiswa S1 untuk kamu melalui program Beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan  (BOCS). Pada tahun 2016 ini, kami menyediakan 6 beasiswa bagi kamu yang mengikuti seleksi program ini. Kamu yang lulus dalam seleksi program ini, akan menjadi bagian dari 13 penerima beasiswa yang sekarang sedang studi di Universitas Tanjungpura.

Bagi kamu yang sangat memerlukan beasiswa untuk dapat kuliah, jangan lewatkan kesempatan ini!! Daftarkan diri kamu!!!. Formulir pendaftaran dan informasi lengkap dapat kamu peroleh di sekolahmu. Silahkan share ke teman-temanmu yang membutuhkan. O ya, beasiswa ini hanya untuk kamu yang berada di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara ya….

Silakan Klik untuk melihat Persyaratan Pendaftaran + Profil(1)_2016BOCS Brosur_brochure 2016

Semoga bermanfaat dan Salam lestari, terima kasih.

Iklan

Sampai Kapan Aku (Hutan) Terus Disakiti?

sisa-sisa-pembersihan-lahan-land-clearing-dan-selanjutnya-di-atau-ter-bakar-foto-dok-yayasan-palung-568dfcedb17e61410783dd77

Sisa-sisa pembersihan lahan (land clearing) dan selanjutnya di atau ter bakar . Foto dok. Yayasan Palung

Dari dulu hingga kini (mungkin mendekati ratusan tahun) aku terus disakiti. Beragam bentuk dan cara digunakan oleh banyak orang untuk menyakitiku. Jika di rimba raya aku bebas tampa tersakiti. Namun semakin hari pula aku terus berjuang dengan rasa sakitku, jumlahku di rimba raya pun semakin berkurang jumlahnya. Bisa jadi, rimba raya yang tersisa kini tak banyak lagi diambang kritis terkikis habis demikian juga denganku dan beberapa sahabatku seisi rimba raya. Kini rambut-rambutku semakin botak. Mahkotaku bernama tubuhku dilucuti dan dikuliti. Baris berbarisku berdiri tidak kokoh lagi menahan panas ketika sesamaku terdahulu disuruh/dipaksa rebah. Tidak bisa disangkal pula selain dilucuti dan dikuliti, aku dipotong-potong. Setelah  dipotong-potong terkadang aku tidak luput untuk dijual bahkan rumahku kerap kali dibakar.

Sakit dan tersakiti ku sampaikan, aku telah sering kali mengadu kepada sesamaku manusia untuk terus melindungi dan menjagaku tetapi sering kali aduanku tentang rasa tersakitnya bertepuk sebelah tangan. Banyak diantara sesamaku manusia hanya memanfaatkanku saja, setelah itu aku disakiti. Tidak jarang pula potongan-potongan tubuhku dibuang diladang gersang atau semak belukar dan dibakar. Sejujurnya rambutku, tubuhku dan kakiku sebagai nafas bagi semua. Tidak terkecuali semua sesamaku makhluk hidup lainnya. Aku hanya termenung sejenak, bagaimana sesamaku tampa aku, atau mungkin sesamaku manusia sudah bisa hidup tampaku. Tetapi bagaimana dengan yang lainnya. Ku melihat, sesamaku manusia ada yang bahagia ketika aku tersakiti. Walau ada juga yang sedih dan menangis karena melihat nasibku. Tidak banyak yang kuminta, bisa kah kita semua untuk sama-sama menjaga. Bagaimana jika rumahmu disakiti, wahai manusia?. Aku bertanya dan terus bertanya sampai kapan aku terus disakiti?. Ku berharap pula, semoga aku bisa dirawat. Karena, kini aku sudah semakin tua dan renta. Bila aku tidak bisa berdiri kokoh lagi, aku tidak tahu apa yang terjadi nanti.

By : Petrus Kanisius- Yayasan Palung

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/sampai-kapan-aku-hutan-terus-disakiti_568e39d2c823bd5407e18dbf

Banyak yang Mencintai Hutan Tetapi Untuk Merusak, Bukan Merawat

 

orangutan-bersin-krn-asap-foto-dok-dari-berbagai-sumber-568dfc4dce7e6107070d5c31

 Orangutan bersin karena asap dan habitat hidup mereka berupa hutan hilang. foto dok. dari berbagai sumber

Hutan adat, hutan masyarakat, hutan negara, hutan desa yang di sebut dan diperuntukan sebagai perhutanan sosial, selain itu ada hutan konservasi, hutan wisata, hutan produksi dan hutan negara. Setidaknya itulah beberapa penyebutan tentang hutan. Sejujurnya hutan sebagai nafas keberlanjutan untuk terus dirawat hingga nanti. Keberadaan hutan tersebut sebagai salah satu tanda bahwa hutan memiliki peran dan fungsi yang sangat penting bagi kehidupan bagi semua makhluk hidup termasuk manusia. Namun celakanya, keberadaan hutan tersebut banyak yang mencintai tetapi untuk merusaknya bukan untuk merawat, menanam serta menjaganya

Tanda nyata mengapa hutan banyak yang mencintai tetapi untuk merusaknya. Beberapa fakta terpapar menyebutkan, rusaknya semua hutan tersebut akibat aktifitas manusia itu sendiri dan tangan-tangan tidak terlihat (mesin) oleh para oknum pengusaha dan penguasa.

Pertama, Kebijakan; Ijin tentang pembukaan lahan terus saja terbit, pembukaan lahan pun demikian adanya semakin luas. Hutan-hutan yang ada, apapun namanya seperti disebutkan diatas hari demi hari semakin berkurang diambang terkikis habis. Tidak terelakkan nasib tragis menimpa ribuan bahkan mungkin jutaan jenis satwa dan tumbuhan-tumbuhan. Penyempitan habitat hidup mereka (berkurangnya/menyempitnya/terusirnya) mereka di rumah mereka sendiri.

Kedua, Investasi; pembukaan lahan untuk ekonomi, bisnis yang acap kali tidak mengabaikan aspek-aspek kelestrian lingkungan. Tengok saja, hanya segelintiran (tidak banyak) saja proses investasi dari perusahaan pertambangan dan perkebunan yang mematuhi tata aturan dan undang-undangan sebagai kesepakat bersama. Mengingat, tata aturan yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak sering kali dilanggar. Tengok saja, pembakaran lahan hingga kasus asap yang merasakan dampak langsung masyarakat dimana investasi itu beroperasi. Tidak hanya itu, kerugian dampak sosial, kesehatan menjadi terabaikan. Bahkan hukum di negeri ini cenderung dipermainkan oleh para oknum-oknum pemilik kepentingan untuk memperkaya diri. Yang miskin semakin dipermiskin dan yang kaya semakin kaya serta merajalela. Masyarakat akar rumput semakin terjepit dan menjerit. Hutan yang ada ada dicintai tetapi memanfaatkan dan merusaknya saja tampa merawatnya, bahkan hutan diambang terkikis habis.

Ketiga, pembangunan; sektor pembangunan juga ikut memberi andil dalam mencintai hutan tetapi untuk merusaknya. Pembangunan pemukiman secara besar-besaran sering kali mengorbankan hutan. Perluasan areal lahan hutan dan digantikan dengan pemukiman penduduk dan transmigrasi sedikit banyak berdampak langsung ketersediaan hutan semakin berkurang. Dengan banyaknya luasan yang terampas tentu akan mengundang adanya banjir dan tanah longsor, sedangkan bila musim kemarau panjang tiba kering kerontang dan panas membakar tubuh siap menghadang. Dan masih banyak lagi yang lainnya.   Mencintai hutan namun hanya untuk merusaknya saja, itu gambaran jelas dengan apa yang terjadi di negeri kita Indonesia. Contoh yang sangat jelas, hutan yang ada dicintai/mencintai tetapi tingkah polah dengan kebijakan, investasi serta pembangunan sering kali tidak adil bagi mayoritas nafas hidup makhluk hidup. Banyak yang mencintai tetapi untuk merusaknya (merusak hutan) yang tujuannya untuk keuntungan semata ketimbang memiliharanya secara berkelanjutan. Setelah terantuk baru menengadah mungkin itu kata yang tepat tentang dampak dari  semakin berkurangnya jumlah tutupan hutan. Akan tetapi, sebelum terlambat, kita mencintai hutan tetapi sejatinya juga merawat dan menjaganya. Sebagai pengingat saja, jika pohon terakhir telah habis ditebang, barulah kita sadar bahwa uang tidak berguna.

By : Petrus Kanisius- Yayasan Palung

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/banyak-yang-mencintai-hutan-tetapi-untuk-merusak-bukan-merawat_568e084ed17a61fd0e935e26

Musim Buah Berkah bagi Masyarakat Sekaligus Merawat Kearifan Lokal dan Lingkungan

langsat-foto-dok-pribadi Pit.jpg

Langsat dari kebun masyarakat. Foto dok. Pribadi

Ketika musim buah tiba, dimulai sejak pertengahan, akhir bulan oktober tahun 2015 lalu dan diperkirakan puncak musim buah berakhir di bulan Februari. Lalu ada apa dengan musim buah sekaligus merawat kearifan lokal masyarakat? Di Kampung-kampung, hampir merata di beberapa wilayah yang ada di Kalimantan Barat ketika musim buah tiba. Seperti misalnya di Kabupaten Ketapang, Kabupaten Kayong Utara, dan beberapa daerah lainnya dihadapkan dengan musim buah. Musim buah identik dengan berkah atau rejeki nomplok bagi para pemilik tanaman buah-buahan. Benar saja, berbuahnya buah durian, pekawai, duku, langsat, mentawak, rambutan dan kandaria (satar) menjadi berkah karena sumber pendapatan tambahan masyarakat di tengah-tengah harga karet yang semakin anjlok dan meroketnya mayoritas harga kebutuhan sehari-hari. Beberapa buah-buahan tersebut di atas sedikit banyak harapan untuk menambah pemasukan sebagai pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Dengan adanya musim buah, tidak jarang di kampung-kampung dibanjiri buah-buahan yang terkadang jarang ditemui seperti buah teratong (sejenis buah durian berwarna merah, tetapi ada juga yang berwarna sama seperti durian). Jika musim buah tiba, terutama durian kerap kali sangat diminati untuk dijadikan tempoyak dan lempok. Tempoyak tidak lain merupakan hasil fermentasi dari durian yang dapat dijadikan sebagai penambah lauk, misalnya kebiasaan orang di Kampung, lebih khusus di Ketapang, Kalbar, sudah akrab dengan masakan ikan asam pedas tempoyak. Ikan asam pedas tempoyak pun menjadi salah satu masakan yang sejak dari dulu sudah ada. Jika disantap, masakan tersebut menggugah selera dan rasanya enak sekali. Tetapi bagi yang terbiasa, dan bagi yang belum terbiasa harus mencoba. Jika musim buah durian banjir (persediaan buah melimpah ruah) biasanya harga durian hanya dihargai 1.000 rupiah perbuah. Sedangkan jika persediaan tidak terlalu banyak, harganya kisaran 5.000-15.000 rupiah perbuah. Akan tetapi, apabila kita langsung menyandau (menunggu durian jatuh) biasanya gratis-tis-tis. Beberapa di antara masyarakat seperti di Kecamatan Simpang Dua, ada kelompok masyarakat yang mengolah buah durian untuk dijadikan lempok. Lempok-lempok yang mereka olah beberapa di antaranya dijual ke kota dan bahkan ada yang dijual ke Malaysia. Untuk buah-buahan lainya seperti  buah rambutan dijual dengan harga 4.500 rupiah per kilogramnya jika musim buah raya dan jika tidak musim buah raya harga kisaran 8.000-10.000 rupiah/kg. Sedangkan harga langsat saat ini kisaran harga 5.000 rupiah/kg. Sebelum buah raya tiba, bahkan harga langsat kisaran harga 15.000-20.000 rupiah/kg. Buah mentawak, per buahnya dihargai 5.000 rupiah. Sedangkan buah-buah lainnya seperti manggis dihargai 20.000 rupiah/kg, atau ada juga yang menjual buah manggis perbuahnya 500 rupiah-1.000 rupiah.

buah-langsat-dan-buah-satar-Dok. Pribadi Pit.jpg

buah langsat dan buah satar . Foto Dok. Pribadi Pit

Di Wilayah Kabupaten Kayong Utara, jika musim buah tiba adalah di Desa Sedahan Jaya. Bahkan di bulan Desember tahun 2015 lalu, di desa tersebut menyelenggarakan festival durian.

Mengingat di wilayah tersebut sebagai salah satu tempat yang masyarakatnya banyak menanam atau berkebun durian. Menariknya, sedikit banyak dari adanya buah hutan erat kaitannya dengan kearifan lokal masyarakat. Kearifan lokal yang dimaksud adalah hampir sebagian besar masyarakat di kampung memiliki kampung tembawang dan buah janah. Kampung tembawang tidak lain adalah kawasan kampung/pemukiman, sedangkan buah janah merupakan kebun buah. Seperti diketahui, kebiasaan masyarakat lokal seperti misalnya masyarakat dayak setelah mereka bercocok tanam (berladang) sudah pasti menyiapkan kampong tembawang dan buah janah dengan cara mereka (masyarakat lokal) menanam kembali dengan tanaman kebun buah dan juga kebun karet. Beberapa di antara juga menanam tanaman ramu tarang (tanaman untuk bahan rumah) seperti sungkai, merbau, ulin, bengkirai dan kayu lainnya yang nantinya jika telah besar digunakan untuk bahan bangunan (rumah) masyarakat.

Sedangkan jika dilihat dari fungsi merawat lingkungan, beberapa tanaman buah tidak semudahnya untuk menebang pohon buah tersebut. Pada tahapan kearifan lokal masyarakat, ada yang disebut fungsi menjaga di tanah adat, tanah desa ataupun tanah sesamanya secara sembarangan. Hukum adat (norma adat) berlaku jika merusak tanaman buah. Masyarakat tidak boleh sembarangan merusak kampung tembawang buah janah, mengingat kampung tembawang buah janah memiliki manfaat sebagai pemenuhan kebutuhan masyarakat itu sendiri. Misalnya dengan menjaga kampung tembawang, masyarakat sedikit banyak terbantu salah satunya ketersediaan buah yang memiliki nilai ekonomi dan sebagai pelestari budaya tradisi dan lingkungan. Pada masyarakat tertentu, kampung tembawang juga memiliki hubungan erat dengan cara pelestarian terhadap tanaman buah tertentu. Seperti misalnya, masyarakat di Desa Laman Satong, khususnya Dusun Manjau, Ketapang, Kalbar menganggap tanaman durian sebagai tanaman yang tidak boleh ditebang. Jika ditebang, masyarakat menganggap menebang pohon durian sama saja dengan membunuh tetua mereka (petinggi adat) di kampung tersebut. Pohon durian si pemilik boleh ditebang jika si pemilik tanaman (yang menanam meninggal dunia). Kampung tembawang secara kasat mata tidak bisa disangkal sebagai warisan nenek moyang (kearifan lokal) yang masih ada hingga kini. Dengan adanya buah-buahan dari tanaman buah menjadikan masyarakat lokal berbangga terhadap apa yang mereka lakukan yaitu menanam kebun buah mudah-mudahan hingga nanti buah-buahan bisa tetap ada dan terjaga serta lestari.

By : Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/musim-buah-berkah-bagi-masyarakat-sekaligus-merawat-kearifan-lokal-dan-lingkungan_568b4502d57a61d00ed00387

Ucapan Selamat Tahun Baru 2016

Ucapan Selamat Tahun Baru 2015

Kami dari Keluarga besar Yayasan Palung mengucapkan Selamat Tahun Baru 2016 Kepada seluruh Masyarakat di Wilayah Kerja Yayasan Palung di dua Kabupaten (Ketapang dan Kayong Utara), Kepada lembaga mitra,  Relawan dan masyarakat luas.

Semoga di Tahun 2016 ini, kita semua semakin baik dari tahun-tahun sebelumnya dan sukses selalu menyertai setiap langkah, cita-cita, karya dan tujuan serta harapan. Amin…