Monthly Archives: Desember 2015

Berjumpa Keindahan Tumbuhan, Satwa dan  Buah Hutan Saat Fiedltrip di Lubuk Baji

Belajar Taksonomi tumbuhan_2

Belajar Taksonomi tumbuhan secara langsung di hutan. Foto dok. YP

Saat pengamatan satwa

Pengamatan satwa saat fieldtrip bersama Sispala Repatones, SMA PL. St. Yohanes di Lubuk Baji. Foto dok. YP

Suguhan menarik tidak bisa kami sembunyikan saat kami berjumpa sekaligus belajar tentang tumbuh-tumbuan, mendengarkan suara kelempiau saat menari-nari di pepohonan saat kami melakukan pengamatan satwa pada malam dan subuh hari dan beberapa kegiatan lainnya ketika melakukan Fieldtrip di Lubuk Baji, bersama Sispala Repatones, SMA PL. St. Yohanes pada kamis (10/12/2015) hingga sabtu (12/12/2015), pekan lalu.

peserta fieldtrip

Peserta Fieldtrip dari Sispala Repatones, SMA PL. St. Yohanes. Foto dok. YP

Dalam melakukan kegiatan fieldtrip tersebut, selain kami disuguhi dengan hal-hal menarik seperti tumbuhan dan berjumpa dengan satwa juga kami belajar mengamati keduanya (tumbuhan dan satwa) secara langsung.

Pengamatan satwa kami lakukan ketika pagi hari sekitar pukul 05.30 Wib. Perilaku satwa ketika bergelantungan dari pohon satu ke pohon lainnya sempat kami saksikan. Bahkan yang menariknya kami melihat kelempiau (Hylobates muelleri) sedang menari-nari sembari bersuara. Kami melihat kelempiau tersebut sekitar setengah jam dari waktu kami mulai melakan pengamatan atau sekitar pukul 06.00 Wib. Sesekali kepak sayap burung enggang terdengar sekaligus terlihat hinggap di dahan pohon dan terlihat sedang memakan buah kayu ara (Ficus crassiramea).

Tidak hanya itu, belajar bersama tentang taksonomi tumbuhan dan pengamatan air  (untuk mengetahui indikator air apakah bersih atau tidak). Dalam pengamatan tumbuhan tersebut, Sispala Repatones diajak untuk belajar bersama untuk melakukan praktek identifikasi ciri-ciri fisik daun, jenis dan bentuk daun. Sebelum melakukan identifikasi tumbuhan, peserta dari Sispala Repatones yang berjumlah 21 orang tersebut diberikan materi tentang taksonomi tumbuhan oleh Edward Tang dari Yayasan Palung.

Yang sangat menariknya, kami juga banyak menjumpai buah-buahan hutan yang sedang berbuah. Beberapa buah hutan tersebut terlihat ada yang tidak utuh karena telah dimakan oleh satwa-satwa terlebih khusus pakan/makanan orangutan yang mendiami tempat tersebut. Beberapa buah-buahan hutan tersebut diantaranya seperti Dillenia borneensis (Simpur Laki), Connarus sp (Belungai), Baccaurea dulcis (rambai hutan), Artocarpus elasticus (terap), Aporosa nitida (Belian air) dan Dysoxylum cyrtobotryum (Lantupak), merupakan makanan kesukaan burung enggang.

Baccaurea dulcis (rambai hutan)

Baccaurea dulcis (rambai hutan) yang merupakan makan kesukaan orangutan. Foto dok. YP 

Dysoxylum cyrtobotryum (Lantupak)

Dysoxylum cyrtobotryum (Lantupak). Foto dok. YP

Dillenia borneensis (Simpur Laki)

Dillenia borneensis (Simpur Laki). Foto dok. YP

Connarus sp (Belungai)

Connarus sp (Belungai). Foto dok. YP

Artocarpus elasticus (terap)

Artocarpus elasticus (terap). Foto dok. YP

Aporosa nitida (Belian air)

Aporosa nitida (Belian air). Foto dok. YP

 

Sebagian besar buah-buahan hutan tersebut merupakan pakan utama bagi sebagian besar primata dan beberapa burung di wilayah hutan lubuk baji (zona penyangga dari Taman Nasional Gunung Palung).

Saat kami melakukan pengamatan pada malam hari, kami banyak berjumpa dengan jenis serangga, kumbang hutan, semut dan kodok unik yang ukurannya terbilang kecil (kurang lebih sebesar kelingking orang dewasa). Kami juga berjumpa dengan jamur bercahaya di malam hari, jamur tersebut memperlihatkan cahayanya ketika lampu senter dimatikan.

IMG_8232

 

Pengamatan indikator air. Foto dok. YP

Esok harinya, sebelum matahari bersinar, kami bergegas bersama untuk melihat sinarnya memancar di Batu Bulan, Lubuk Baji dan melihat indahnya persawahan masyarakat di Desa Sedahan dan KKU. Setelah kami melihat matahari bersinar, selanjutnya kami kembali ke Camp Lubuk Baji. Setibanya kami kembali di Camp, kegiatan selanjutnya adalah bersih-bersih sampah di sekitar tempat kami berkegiatan berlanjut dan bersiap berkemas-kemas untuk persiapan pulang.

Dalam fieldtrip (kunjungan lapangan) tersebut, 21 orang dari Sispala Repatones, SMA PL. St. Yohanes, 2 guru pendamping ( Hendri dan Agnes), dari Yayasan Palung ( Edward Tang, Petrus Kanisius, Hadjral) dan Wawan, relawan Yayasan Palung.

Kegiatan tersebut berjalan sesuai dengan rencana dan mendapat sambutan baik dari peserta fieldtrip. (Petrus Kanisius- Yayasan Palung)

Tulisan ini pernah dimuat di http://pontianak.tribunnews.com/2015/12/15/pesona-keindahan-tumbuhan-dan-satwa-di-lubuk-hijau

 

 

 

Iklan

Temu Kenal dan Berbagi Cerita Dari Pengrajin HHBK KKU Dengan Lembaga Mitra

pertemuan tahunan kelompok penganyam se-kalimantan (jaringan craft kalimantan), foto dok. Yayasan Palung

Pertemuan tahunan kelompok penganyam se-kalimantan (jaringan craft kalimantan), foto dok. Yayasan Palung

Tiga pengrajin hasil hutan bukan kayu (hhbk) dari  Kabupaten Kayong Utara, terlihat sangat bersemangat untuk temu kenal dan berbagi cerita pengrajin (shearing) dengan berbagai lembaga mitra dan pihak pemerintah  bertempat di kantor Yayasan Palung Ketapang, senin (30/11/ 2015), kemarin.

Dalam temu kenal dan berbagi cerita terlontor dari pengrajin hhbk seperti misalnya Ibu Ida, pengrajin menganyam berbagai bentuk kreasi anyaman seperti tikar pandan bermotif pucuk rebung, kreasi tikar pandan yang dipadukan dengan anyaman lekar untuk dijadikan lampu hias.

Tidak hanya itu, kreasi anyaman pandan ada yang dibikin menjadi aksesoris seperti anting, gelang, tas, dompet dan kalung. Bahkan ada sajadah yang dibuat dari tikar pandan dengan beberapa motif lainnya seperti motif pagar. Ada juga kopiah dari pandan.

Ketiga pengrajin yang diwakili oleh Ibu Ida, Ibu Hatimah dan bapak Darwani juga berbagi cerita diantaranyamereka pernah diberi kepercayaan menjadi pelatih anyaman dibeberapa tempat seperti di beberapa tempat di beberapa kabupaten di Kalbar bahkan hingga ke Papua.

Beberapa produk hasil dari hhbk seperti lekar tikar, gelang, anting dan lekar dari lidi nipah. foto dok. Yayasan Palung_ foto 1

Beberapa produk hasil dari hhbk seperti lekar tikar, gelang, anting dan lekar dari lidi nipah. foto dok. Yayasan Palung

Dari pengrajin, ada success story (cerita sukses) dari pengrajin. Salah satunya adalah Ibu Vina (37 tahun), di Dusun Pasir Mayang, Desa Pampang Harapan. Sebelum menjadi pengrajin ibu Vina pekerjaan sehari-harinya sebagai penambang batu. Namun kini, ibu Vina menjadi pengrajin tikar pandan. Dengan kata lain, cerita sukses ibu Vina ikut berkontribusi untuk perlindungan kawasan dan habitat orangutan di sekitar kawasan Taman Nasional Gunung Palung (TNGP).

Hal yang menarik lainnya dari pengrajin hhbk di Kabupaten Kayong Utara (KKU) menjadi tempat belajar bagi generasi muda, khususnya siswa-siswi SMKN 1 Sukadana. Bahkan pihak sekolah berencana menjadikan anyaman hhbk sebagai muatan lokal (mulok) atau prakarya di sekolah mereka. Kini, siswa-siswi SMKN 1 Sukadana sudah aktif belajar langsung ke rumah-rumah pengrajin. Mengingat, anyaman tikar pandan sebagai warisan leluhur tradisional di wilayah KKU.

Workshop Training Kerajinan, SMKN 1 Sukadana. foto dok. Yayasan Palung

Workshop Training Kerajinan, SMKN 1 Sukadana. foto dok. Yayasan Palung

Monitoring HHBK di Desa Batu Barat, foto dok. Yayasan Palung (1)

Ibu-ibu Sedang Menganyam Tikar  HHBK di Desa Batu Barat, foto dok. Yayasan Palung 

Menurut Frederik Wendy Tamariska, Manager Sustainable Livelihoods Yayasan Palung mengatakan; Ini merupakan pertemuan testimonial yang diadakan di Ketapang. Testimonial para pengrajin yang sudah berjalan selama 4 tahun. Selain itu juga, pertemuaan ini selain menceritakaan pengalaman penjualan produk tetapi juga, pengrajin memaparkan mengenai partisipasinya sebagai kom lokal dalm perlindungan Orangutan dan kawasan TNGP melalui aktivitas kerajinan hhbk. Harapannya semua pihak bisa mendukung inisiatif lokal dalam membangun kesempatan bagi masyarakat lokal untuk terlibat dalam setiap aspek pembangunan. Pengajin pernah menjadi pengrajin di Menyumbung, Kecamatan Sandai, Ketapang. Selanjutnya juga, pengrajin hhbk dari KKU yang merupakan binaan Yayasan Palung  terlibat aktif dalam  Craft Kalimantan; Barat, Tengah dan Timur.

Dalam rangka promosi, sementara ini pengrajin Yayasan Palung aktif terlibat dalam pameran tingkat lokal dan nasional. Untuk kedepan, Anyaman dari pengrajin berpartisipasi dalam pameran internasional di Santa Fe, New Mexico atau IFAM (nama pamerannya-red) yang diadakan setiap bulan juli.

Pada temu kenal dan berbagi cerita senin kemarin (13/11),  beberapa lembaga mitra melakui perwakilannya ikut hadir seperti BTNGP, JICA-REDD+, pihak sekolah (SMA Yohanes Ketapang), Disperindagkop Kabupaten Ketapang,  Dishut Ketapang, Relawan Konservasi Tajam ikut hadir.

Acara yang dimulai sekitar pukul 13.00 wib tersebut, mendapat sambutan baik dari peserta undangan. Danel Maryono, selaku Kasi bimbingan industri dan pencegah dan pencemaran bidang industri dinas koperasi, ukm, perindustrian dan perdagangan Kabupaten Ketapang mengatakan; menyambut baik, mendukung kegiatan seperti yang dilakukan oleh pengrajin. Lebih lanjut menurutnya, pengrajin anyaman pandan, lekar tradisional sebagai pewaris budaya lokal yang harus dilestarikan dan berkelanjutan (ada generasi penerus).

Produk tradisional seperti anyaman-anyaman tradisional hhbk dengan aneka kreasi anyaman yang cukup menjanjikan sebagai penambah pendapatan sehari-hari. Tidak hanya itu, kualitas dari anyaman dari pengrajin hhbk binaan YP juga mendapat dukukungan dari berbagai pihak seperti dekranasda KKU, BTNGP dan beberapa lembaga seperti JICA-REDD+ dan pihak lainnya.

Foto SaatTemu Kenal dan Berbagi Cerita Dari Pengrajin HHBK KKU Dengan Lembaga Mitra dan Pemerintah Di Ketapang, bertempat di Yayasan Palung

Saat temu kenal dan berbagi cerita dari pengrajin HHBK KKU dengan Lembaga Mitra dan Pemerintah di Ketapang, bertempat di Yayasan Palung

 

Dari temu kenal dan berbagi cerita tersebut sebagai permintaan dari pengrajin untuk berbagi informasi kepada lembaga mitra. Kegiatan tersebut berakhir sekitar pukul 15.20 wib sesuai dengan rencana. (Petrus Kanisius- Yayasan Palung)

Tulisan ini juga pernah dimuat di : http://pontianak.tribunnews.com/2015/12/01/cerita-sukses-pengrajin-asal-kayong-utara