Monthly Archives: November 2015

Media Informasi Pencinta Satwa

Majalah MIaS Yayasan Palung 2015

Majalah MIaS Yayasan Palung 2015

Pembaca setia, berikut ini merupakan Media Informasi Pencinta Satwa (MIaS) Yayasan Palung. MIaS kali ini merupakan edisi khusus tahun 2015.

silakan klik untuk membaca  :MIas 20 Halaman

Selamat membaca, Terima Kasih

 

 

Siswa-Siswi SMPN 3 Matan Hilir Utara Belajar Mengenal Daun di Hutan Secara Langsung

fieldtrip-smpn-3-matan-hilir-utara_20151124_153921

Fieldtrip SMPN 3 Matan Hilir Utara Saat Belajar Taksonomi Tumbuhan. foto dok. YP

Sejumlah 25 orang siswa-siswi SMPN 3 Matan Hilir Utara terlihat sangat antusias mengikuti kegiatan Fieldtrip (kunjungan lapangan) di hutan Beringin di Kawasan Reboisasi Taman Nasional Gunung Palung , Jumat (20/15/2015) hingga Minggu (22/11/2015), kemarin.

Untuk mencapai tempat fieldtrip, semua peserta harus melewati jalan setapak dan jalan berlumpur dan titian (jembatan mini dari papan seadanya) namun sangat menantang dan memacu semangat saat semua menaiki kendaraan bermotor untuk sampai di tempat tujuan.

Hujan cukup deras tidak menyurutkan peserta fieldtrip untuk belajar morfologi daun menjadi salah satu hal yang tampak menarik diikuti oleh peserta fieldtrip. Mereka secara seksama mendengarkan materi dan melakukan praktek identifikasi ciri-ciri fisik daun, jenis dan bentuk daun.

Peserta fieldtrip juga dikenalkan sejak dini dengan materi dan praktek pengamatan satwa. Kemudian dilanjutkan materi pengamatan indikator air. Adapun tujuan pemberian materi tersebut sebagai pengenalan awal kepada siswa-siswi untuk mengenali lingkungannya secara langsung.

Selama tiga hari melakukan kegiatan fieldrip, peserta juga diajak untuk bermain game (permainan) untuk kekompakan. Peserta dibagi dalam tiga kelompok (kelompok pertama; Si Beruk, kedua; Kelasi dan Kelompok bekantan) mereka bermain jaring laba-laba, menyanyi bersama, senam kesehatan di pagi hari.

Setiap kelompok fieldtrip mendirikan tenda masing-masing. Mereka juga membuat tungku perapian dan masak perkelompok. Pada malam harinya terakhirnya kegiatan, semua peserta berkumpul untuk menyampaikan persentasi dan dilanjutkan dengan acara bebas. Beberapa murid-murid tampak antusias untuk mengisi malam dengan nyanyian, puisi tentang alam dan lingkungan serta pesan dan kesan selama mengikuti fieldtrip.

Dalam melakukan 3 hari rangkaian fieldtrip tersebut, dari SMPN 3 MHU didampingi oleh bapak ibu guru mereka (Bapak David, Ibu Didit, bapak Woni Ordinator), sedangkan dari Yayasan Palung yang ikut bagian dalam kegiatan tersebut antara lain Mriamah Achmad, Edward Tang, Petrus Kanisius, Hadjral dan Wawan Ones (relawan sekaligus aktivis lingkungan).

Kegiatan fieldtrip tersebut berjalan sesuai dengan rencana dan keesokan harinya, Minggu (22/11/2015) kami menyudahi semua rangkaian kegiatan fieldrip. (Petrus Kanisius-Yayasan Palung).

Tulisan ini pernah dimuat di : http://pontianak.tribunnews.com/2015/11/24/25-siswa-smpn-3-matan-hilir-belajar-mengenal-daun-di-hutan

 

 

Penanaman 100 bibit Untuk Reboisasi Lahan Yang Terbakar Di Plerang

Penanaman 100 bibit Untuk Reboisasi Lahan Yang Terbakar Di Plerang_foto 1 (2)

Penanaman 100 bibit Untuk Reboisasi Lahan Yang Terbakar Di Plerang. foto dok. YP

Tidak kurang, 100 bibit  di tanam di lokasi sisa-sisa lahan yang terbakar. Penanaman tersebut dilakukan di lahan yang terbakar di Dusun Plerang, Desa Benawai Agung, KKU, minggu (22/11/2015), kemarin.

Penanaman 100 bibit Untuk Reboisasi Lahan Yang Terbakar Di Plerang_foto 2

Berfoto Bersama Sebelum Penanaman 100 bibit Untuk Reboisasi Lahan Yang Terbakar Di Plerang. foto dok. YP

Dari 100 bibit yang ditanam, bibit terdiri dari 15 bibit cempedak, 10 bibit rambai, 10 bibit durian, ubah 30 dan nyatoh 35 bibit pohon.

Adapun luasan yang dilakukan penanaman lahan yang terbakar tersebut  sekitat 5000m² (½ hektare).

Menurut Abdul Samad, dari program Sustainable Livelihood, Yayasan Palung; Program ini merupakan program rutin tiap bulan yang dilakukan oleh tim SL, Yayasan Palung dimana lokasi untuk penanaman maka akan langsung dilakukan baik itu permintaan masyarakat atau dari Sispala Land dan Rebonk.

 

Penanaman 100 bibit Untuk Reboisasi Lahan Yang Terbakar Di Plerang_foto 1

Berfoto Bersama Setelah Penanaman 100 bibit Untuk Reboisasi Lahan Yang Terbakar Di Plerang. foto dok. YP

Lebih lanjut,  Samad sapaan akrabnya menyebutkan, lokasi yang terbakar  memang sudah seharusnya ditanam karena di sekitar wilayah tersebut gersang.

Dalam penanaman untuk reboisasi lahan tersebut dilakukan oleh Yayasan Palung (Asbandi dan Abdul Samad),  Sispala Land, SMK 1 Sukadana (27 orang), SMAN 3 Sukadana (12 orang) dan Relawan RebonK (17 orang). (Petrus Kanisius- Yayasan Palung)

Tulisan ini pernah dimuat di : http://pontianak.tribunnews.com/2015/11/26/100-bibit-tanaman-ditanam-pada-bekas-lahan-terbakar-di-plerang

 

 

Berikut ini merupakan Kampanye Lingkungan Yayasan Palung melalui Media (Radio)

Siaran di radio RKK_YP dan ASRI

Foto : Siaran Yayasan Palung di RKK bersama Yayasan ASRI

Berikut ini merupakan Kampanye Lingkungan Yayasan Palung melalui Media (Radio)

Di Radio Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat (95,2 FM, 1044 AM).

Selamat mendengarkan

Klik di :

https://soundcloud.com/yayasan-palung/siaran-kebakaran-hutan-dan-lahan-desi-dan-cassie-2-nop-2015

https://soundcloud.com/yayasan-palung/perubahan-iklim-desi-5-november-2015

https://soundcloud.com/yayasan-palung/perubahan-iklim-9-nov-2015

https://soundcloud.com/yayasan-palung/perubahan-iklim-19-nov-2015-yayasan-palung-bersama-yayasan-asri

 

Yayasan Palung Bantu Menginisiasi Hutan Desa

penyusunan-rencana-kegiatan HD_20151119_191227

Penyusunan Rencana Kegiatan Hutan Desa. Foto dok. YP

Dengan dikeluarkannnya perauran tentang Hutan Desa dan telah beberapa kali dilakukan revisi dan terakhir dengan keluar Permenhut Nomor P. 89/Menhut-II/ 2014 Tentang Hutan Desa diharapkan memberikan akses dan peluang kepada masyarakat di sekitar kawasan hutan untuk mengusulkan kawasan hutan desa serta mengelola hutan desa secara lestari dan berkelanjutan. Serta di dalam Permenhut tersebut ada beberapa kawasan yang bisa diusulkan sebagai Hutan Desa yaitu Hutan Lindung (HL) dan Hutan Produksi (HP).

Beranjak dari peraturan tersebut saat ini Yayasan Palung membantu beberapa Desa di Kecamatan Simpang Hilir Kabupaten Kayong Utara mengusulkan hutan desa yaitu Desa Penjalaan yang kawasan hutan diusulkan sebagai Hutan Desa adalah Hutan Produksi (HP) Sungai Purang, Desa Nipah Kuning, Desa Pemangkat, Desa Pulau Kumbang dan Desa Padu Banjar mengusulkan kawasan Hutan Lindung Gambut (HLG) Sungai Paduan sebagai Hutan Desa.

Sedangkan proses pengusulan hutan desa itu sendiri telah disampaikan kepada Bupati Kabupaten Kayong utara pada tanggal 11 Nopember 2015 yang dilengkapi persyaratan pengusulan yaitu Surat usulan pembentukan Hutan desa, Berita Acara (BA) pembentukan Hutan Desa, Sket Lokasi Usulan Hutan Desa, Berita Acara Kesepakatan bersama pengusulan Hutan Lindung Sungai paduan dijadikan sebagai Hutan Desa serta rencana kegiatan dan bidang usaha hutan desa.

Sebelum penyampaian pengusulan Hutan Desa kepada Bupati Kabupaten Kayong Utara terlebih dahulu diadakan pertemuan sosialisasi Hutan desa di masing-masing desa yang fasilitasi oleh Yayasan Palung pada tanggal 29-30 September 2015, Sosialisasi Hutan Desa di Hotel Mahkota yang di fasilitasi BP. DAS Kapuas yang dilaksanakan pada tanggal 20-21 Oktober 2015 yang menghasilkan kesepakatan bersama antar desa untuk mengusulkan Hutan Lindung gambut (HGL) sebagai Hutan Desa dan yang terakhir adalah kegiatan penyusunan Rencana Kegiatan dan Bidang Usaha Hutan Desa yang dilaksanakan pada tanggal 09 Nopember 2015.

Menurut Desi Kuniawati (koordinator Hutan desa Yayasan Palung) bahwa dengan adanya pengusulan hutan desa diharapkan masayarakat bisa menjaga dan mengelola kawasan hutan desa secara bijaksana, lestari dan berkelanjutan, dapat memberikan kesejahteraan bagi masyarakat desa. Selain itu juga diharapkan kepada Pemerintah daerah Kabupaten Kayong dapat mendukung usulan Hutan desa yang disampaikan beberapa desa di Kecamatan Simpang hilir ini. (Edi Rahman- Yayasan Palung)

Tulisan ini juga dimuat di : http://pontianak.tribunnews.com/2015/11/19/bantu-menginisiasi-hutan-desa

Menciptakan Budidaya Pertanian yang Efisien, Menguntungkan, Berkelanjutan dan Ramah Lingkungan

 

Pelatihan pertanian Organik (14 Nop 2015) (23) Foto 1: Saat Pelatihan Pertanian Organik bagi LPHD di  Simpang Hilir, KKU, Kalbar beberapa waktu lalu.

Disadari atau tidak, sekarang ini masyarakat Indonesia selalu mengantungkan pertanian non organik yang secara langsung menyebabkan dampak yang secara perlahan menyerang bagi kesuburan tanah, berdampak terhadap lingkungan serta berdampak langsung terhadap kesehahatn masayarakat yang mengkosumsi hasil pertanian yang dihasilkan dari pertanian non organik.

Pelatihan pertanian Organik (14 Nop 2015) (27)

 Foto 2: Saat Pelatihan Pertanian Organik bagi LPHD di  Simpang Hilir, KKU, Kalbar beberapa waktu lalu.

Beranjak dari keprihatinan tersebut maka pada tanggal 14-15 Nopember 2015, Yayasan Palung menginisiasi dan memfasilitasi pelatihan pertanian Organik terhadap anggota Lembaga Pengelola Hutan Desa di Kecamatan Simpang Hilir Kabupaten Kayong Utara. Pelatihan tersebut di ikuti sebanyak 30 orang perserta yang berasal dari 5 desa yaitu Desa Penjalaan, Desa Nipah Kuning, Desa Pemangkat, Desa Pulau Kumbang dan Desa Padu Banjar. Dalam pelatihan tersebut menghadirkan 3 fasilitator dari Badan Penyuluhan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Kayong Utara (Bapak As’Adi, Bapak Budiman dan Bapak Eryudi).

Banyak manfaat yang dihasilkan dalam pelatihan tersebut dikarenakan selain materi disampaikan secara langsung juga fasilitator mengajak peserta mempraktekan berbagai metode pembuatan pupuk organik. Adapun materi-materi pembuatan pupuk organik yang disampaikan dalam pelatihan ini diantaranya Pembuatan Mikro Organisme Lokal (MOL) dari Sabut Kelapa, MOL dari Rebung Bambui, MOL dari Daun Bongkol Pisang, MOL dari daun Gamal, Furmulasi Pupuk dari Batang Pisang, pembuatan Zat Pengatur Tumbuhan (Auksin, Sitokinin dan Giberelin).

Menurut Bapak Asbandi yang merupakan salah salah satu staff Yayasan Palung bahwa selama ini kita tidak menyadari bahwa bahan-bahan pembuatan pupuk organik untuk tanaman banyak berada di sekitar kita  serta tidak memerlukan biaya yang cukup besar seperti pupuk non organik. Karena bahan-bahan mudah di dapat seperti Batang Pisang, Air Beras, Gula Merah, Rebung Bambu, Terasi. Asbandi menambahkan dengan adanya pelatihan ini diharapkan peserta dampat mempraktekannya di desa masing-masing serta mengurangi ketergantungan terhadap pupuk non organik. Selain itu jika menerapkan pertanian organik ini untuk menjaga keseimbangan ekologi, mencegah polusi dan menghasilkan produk yang sehat bagi masyarakat (Edi Rahman- Yayasan Palung).

Tulisan ini juga dimuat di: http://pontianak.tribunnews.com/2015/11/19/pupuk-organik-mudah-didapat-tak-butuh-biaya-mahal

Pekan Peduli Orangutan 2015: Inilah yang Dilakukan Yayasan Palung

Cap tangan untuk pekan peduli orangutan

Keterangan foto : Cap tangan untuk pekan peduli orangutan. foto dok. YP

Ekspedisi Pendidikan Lingkungan, saat foto bersama setelah memberikan materi lacture di SMAN 1 Sandai.

Siswa-siswi SMAN 1 Sandai sangat antusias saat mengikuti berbagai rangkaian kegiatan PPO 2015 yang diselenggarakan Yayasan Palung dan relawan Tajamlaksanakan sejak Sabtu (7/11/2015) hingga Minggu (15/11/2015).

Hal itu terlihat dari cap tangan dan jempol yang tergambar dalam Tree painting (melukis pohon), di mana mereka menuliskan pesan kampanye, mengisi teka-teki satwa dilindungi dan berbagai kegiatan lainnya. Setidaknya inilah Kampanye penyadaran untuk peduli terhadap nasib orangutan yang bisa kami lakukan.

Adapun dalam sepekan untuk pekan peduli orangutan kami melakukan ekspedisi pendidikan ke dua desa (Penjawaan dan Petai Patah) di Kecamatan Sandai. Selain itu, relawan TajamYayasan Palung juga melakukan kegiatan kampanye terhadap orangutan pada minggu (15/11/2015), kemarin.

anak belajar mendongeng tentang satwa melalui boneka

Keterangan foto : Anak-anak belajar mendongeng tentang satwa melalui boneka. foto dok. Tajam & YP

Antusis Siswa-siswi SMAN 1 Sandai untuk tree painting

Keterangan  foto : Siswa-siswi SMAN 1 Sandai melakukan tree painting dengan cap tangan dan cap jempol. foto dok. YP

foto bersama setelah lecture di smk 1 Sandai

Keterangan foto : Foto bersama setelah lecture di smk 1 Sandai. dok. YP

Antusias masyarakat saat menonton film lingkungan

Keterangan foto : Antusias masyarakat di desa Penjawaan, kec. sandai, Kab. Ketapang, saat menonton film lingkungan. dok. YP

Minggu kemarin (15/11/2015) merupakan puncak kegiataan PPO (Pekan Peduli Orangutan/ orangutan caring week) 2015. Kegiatan dengan mengusung tema Sandai4orangutan tersebut kegiatan di pusatkan di halaman sekolah SMAN 1 Sandai. Menuliskan pesan untuk kepedulian terhadap orangutan terlihat dari pesan yang mereka tuliskan.

Pagi harinya di mulai dengan senam masal dilanjutkan mendongeng cerita satwa melalui media boneka, menuliskan pesan-pesan untuk orangutan dan lingkungan, cap tangan dan cap jempol melaui tree painting.

Selain itu, murid-murid SMAN 1 Sandai melakukan selfi tentang harapan mereka melalui pesan-pesan mereka untuk orangutan dan lingkungan. Ratusan peserta terlihat sangat antusias mengikuti jalannya kegiatan.

Menurut Wakil Kepala Sekolah SMAN 1 Sandai, Dian Natalis mengatakan; mengucapkan terima kasih dengan adanya kegiatan seperti PPO ini. Dengan adanya pekan peduli orangutan memberikan pengetahuan dan penyadartahuan serta pendidikan kepada generasi muda terlebih tentang satwa dilindungi seperti orangutan dan lingkungan saat ini.

Lebih lanjut menurut Dian, dengan adanya kegiatan PPO 2015 yang dilaksanakan di sekolah mereka untuk selanjutnya ada kegiatan serupa di tahun-tahun mendatang.

Saat ditanyai tentang kegiatan, Wendi, siswa kelas 11, IPS 2,SMAN 1 Sandai mengutarakan kegiatan sangat seru, menarik dan pesan kampanye terutama saat menuliskan pesan-pesan untuk orangutan.

Sedangkan menurut Elisabet Egariati, kelas 10 B, mengungkapkan sangat senang, menurutnya melalui kegiatan PPO banyak ilmu pengetahuan yang ia peroleh.

Sedangkan kegiatan dalam rangka pekan peduli orangutan, Relawan Tajam Yayasan Palung juga melakukan kegiatan Menyampaikan pesan tentang orangutan kepada pengunjung di Taman Kota Ketapang terutama kepada anak usia sekolah. Suasana kegiatan terlihat ramai.

Sekitar ratusan pengunjung anak-anak (usia 3-10 tahun) yang hadir. Anak-anak menggambar, anak-anak terlihat didampingi oleh orangtuanya. Anak yang lebih dewasa (umur yang bisa membaca) buku-buku, komik tentang satwa, lingkungan yang telah disiapkan.

Selain buku bacaan dan kegiatan mewarnai pengunjung akan mendapatkan hiburan dan informasi tentang Orangutan melalui Puppet Show. Informasi yang disampaikan melalui Puppet Show dievaluasi dengan kegiatan Tanya jawab dari pemain Puppet Show kepada pengunjung. Bagi pengunjung yang bisa menjawab pertanyaan diberikan bingkisan sebagai kenang-kenangan.

Sebelumnya di hari pertama ekspedisi Pendidikan Yayasan Palung, pada selasa (10/11/2015), kami melakukan lecture (ceramah) di SMAN 1 Sandai. Yakni ceramah tentang orangutan dan habitatnya.

Dalam penjelasan materi orangutan dan habitat, Edward Tang (Yayasan Palung) menjelaskan morfologi (bentuk fisik) orangutan jantan yang memiliki bantalan pipi (cheek pad/flanged) dan orangutan tidak memilik bantalan pipi dan perilaku orangutan seperti membuat sarang, orangutan memiliki kecerdikan, peranan orangutan sebagai penyebar biji dan memakan buah-buahan melalui media pemutaran film singkat di kelas tentang yang didokumentasikan para peneliti Gunung Palung. Penjelasan lainnya adalah tentang perlunya perlindungan terhadap orangutan sebagai satwa langka dan dilindungi.

Hari Rabu (11/11/2015), kami melakukan persiapan untuk rapat kegiatan PPO 2015 bersama panitia SMAN 1 Sandai di sore harinya. Setelah rapat usai, kami mempersiapkan untuk melakukan ekspedisi untuk diskusi dengan masyarakat desa Penjawaan, Kec. Sandai.

Diskusi di Desa Penjawaan, Kamis, (12/11/2015). Sebelum diskusi, kami melakukan puppet show (panggung boneka) di SDN 3 Penjawaan, Kecamatan Sandai. Mengenalkan satwa-satwa dilindungi di Tanah Kayong seperti orangutan, bekantan, kelasi dan burung enggang. Selain itu, dalam puppet show tersebut kami mengenalkan satwa melalui cerita.

Dalam diskusi tersebut, kami mendapat sambutan baik dari pihak desa. Mereka bersyukur dengan adanya sosialisasi tentang dampak lingkungan di desa tersebut. Keterancaman orangutan di Desa mereka (Desa Penjawaan), sudah sangat jarang terlihat, mengingat saat ini mereka tidak lagi melihat orangutan di sekitar desa mereka.

Pada malam harinya, kami melakukan pemutaran film lingkungan sebagai penyadartahuan sekaligus melihat gambaran jelas kerusakan lingkungan dan ancaman habitat orangutan saat ini melalui media film.

Di Jumat (13/11) pagi, sekitar pukul 09.00 hingga 10.30 wib kami melakukan puppet show ke dua di SDN 5 Petai Patah, Kecamatan Sandai. Hal yang sama kami lakukan untuk memperkenalkan tentang orangutan dan habitat hidupnya. Sore harinya, pukul 14.00 wib hingga 17.00 wib, kami berdiskusi dengan masyarakat Desa Petai Patah.

Banyak hal yang menarik dari yang kami peroleh, diantaranya adalah di Desa mereka orangutan sudah tidak pernah lagi melihat sejak tahun 2005 atau sudah sekitar 10 tahun lalu mereka tidak pernah melihat orangutan lagi. Selain itu, masyarakat mengeluhkan harga karet yang tak kunjung naik harganya. Kini di Desa mereka sudah dikelilingi oleh perkebunan kelapa sawit.

Pada Sabtu (14/11/2015), Selanjutnya menyambangi SMKN 1 Sandai, untuk mengadakan lecture (ceramah lingkungan) tentang materi orangutan dan hutan sebagai habitat hidupnya serta ancaman saat ini.

Dalam kegiatan PPO 2015, ikut hadir dari Yayasan Palung adalah Mariamah Achmad, Edward Tang, Ranti Naruri, Petrus Kanisius dan Hadjral. Selama sepekan rangkaian kegiatan PPO 2015 yang dipusatkan di SMAN 1 Sandai mendapatkan sambutan baik dari pihak sekolah.

Terbukti dari masyarakat umum, SD, SMKN 1 dan SMAN 1 Sandai, Komunitas Fotographer Sandai (Focus) sangat antusias mengikuti dan melaksanakan kegiatan PPO 2015.

Kegiatan berjalan sesuai rencana dan mendapat sambutan baik dari masyarakat dan pihak sekolah. Pada perjalanan pulang menuju Ketapang, kami berjumpa dengan banyaknya belalang di tepi-tepi jalan di sepanjang jalan Sumber Periangan. Seperti diketahui, munculnya belalang sebagai bukti hilangnya predator berupa burung-burung sebagai akibat dari kerusakan hutan di sekitar wilayah tersebut.

stiker PPO(1)

By : Petrus Kanisius ‘Pit’-Yayasan Palung

Tulisan ini sebelumnya pernah dimuat di :

http://pontianak.tribunnews.com/2015/11/17/pekan-peduli-orangutan-2015-inilah-yang-dilakukan-yayasan-palung

Baca juga :http://pontianak.tribunnews.com/2015/11/05/peringati-pekan-peduli-orangutan-di-sandai

http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/setidaknya-inilah-yang-bisa-kami-sampaikan-untuk-pekan-peduli-orangutan_564c1aae307a619812b33684

 

 

Akankah Alam Selalu Disalahkan atau Manusianya?

Kabut asap yang melanda di Tanah Borneo berdampak juga pada satwa terlebih orangutan. foto Tim Laman

Kabut asap yang melanda di Tanah Borneo berdampak juga pada satwa terlebih orangutan. foto Tim Laman

“Apakah Aku, Dia dan Mereka Tak Ramah Lagi Dengan Alam Ini. Kenapa Alam Selalu Disalahkan?”

Aku, Dia dan mereka tak bisa disangkal-sangkal  merupakan satu dalam kesatuan yang mendiami bumi ini. Bumi dengan segala isinya seakan menjadi rangkaian untuk saling ramah.  Namun kini, masih ramahkah aku, dia dan mereka termasuk semua terhadap alam?. Terus mengapa alam selalu disalahkan?.

Rangkaian bencana seolah tak kunjung berhenti mendera. Kekeringan, kabut asap, iklim yang tidak menentu dan beragam kejadian alam  membuat sering kali alam selalu disalahkan.

Setiap adanya kejadian alam tak jarang pula alam yang selalu dan cenderung disalahkan. Celotehan yang sangat jelas mengatakan berbunyi; kenapa alam tidak bersahabat dengan kita?. Benarkah demikian adanya.

Sudah pasti, alam semesta raya yang diciptakan oleh Sang Pencipta (Tuhan/ Allah) memiliki arti yang tak terhingga. Tak sedikit alam semesta raya memberikan manfaatnya dari waktu ke waktu bagi sesamanya (manusia, satwa dan beberapa makhluk hidup lainnya).

Sesungguhnya, alam tidaklah salah. Justru manusia (aku, dia dan mereka) yang tidak ramah lagi dengan alam ini.

Tengok saja, kian hari hutan dan alam ini semakin menyusut adanya (terkikis habis). Tindakan dan perbuatan oleh tangan-tangan kelihatan dan tidak kelihatan terus saja terjadi bahkan terus berulang. Kerusakan hutan yang  dimulai sejak tahun 1970-an- hingga tahun 1990-an, terus berlanjut dan semakin menjadikan hutan yang berada diujung kehancuran. Tidak berhenti di situ, pada tahun 1997 hingga tahun 2000-an melalui illegal logging menunjukkan betapa nyatanya hutan dirambah dan dirampas hingga hari ini untuk perluasan perkebunan (tercatat sejak tahun 1980-an di Kabupaten Sanggau, Sekadau dan di Kabupaten Ketapang) dan pertambangan (awal hingga tahun 2000-an di Kabupaten Ketapang) hingga kini terus terjadi dan berulang setiap tahunnya.

Hilangnya sebagian besar tutupan hutan di wilayah Kalbar tentu menjadi titik perhatian. Mengingat, sejatinya bukan bencana alam namun sesungguhnya bencana yang disebabkan oleh tangan-tangan manusia dan alat berat (mesin).

Kerusakan hutan yang tiada henti melanda seakan membukakan mata secara langsung dan perlahahan-lahan. Sebagai contoh nyata; kekeringan, sulitnya air bersih, banjir menjadi satu dan berpadu. Tidak sedikit para petani sulit air untuk mengaliliri padi di sawah-sawah ataupun ladang mereka. Bila musim penghujan tiba, banjir siap menghadang dan musim kemarau panjang beberapa bulan terakhir terjadi menyebabkan kebakaran (lahan-lahan sudah/telah ditebang di/ter bakar) dan berujung kabut asap.

Dampak kabut asap yang terjadi memberi bukti, tak sedikit yang bertanya dan mencari keadilan. Betanya dan mencari keadilan tentunya menyangkut nafas dan nasib dari makhluk hidup. Penyakit ISPA, ruang gerak yang terbatas menjadi momok yang menakutkan karena kabut asap. Bahkan korban telah berjatuhan. Tidak hanya manusia, hewan (satwa-satwa) yang mendiami hutan sebagai habitat hidup tidak sedikit yang terkena dampaknya secara langsung (habitat hidup berupa hutan sudah semakin berkurang atau bahkan sudah mulai terkikis habis) bahkan dampak kabut asap pun satwa seperti orangutan mengalaminya. Lumpuhnya jalur transportasi darat, laut dan udara akibat jarak pandang yang terbatas menjadi tanda nyata ketika asap melanda kita semua manusia. Stabilitas ekonomi masyarakat juga tampak terganggu, tidak terkecuali aktifitas sekolah  yang harus sering libur akibat pekatnya kabut.

Saat ini,  hujan sudah mulai menghampiri.  Sebagian kabut mulai menghilang, namun masih terjadi, berharap semua kabut hilang lenyap. Dengan syarat kobaran api sisa-sisa pembakaran (terbakar) di lahan gambut sudah/telah benar padam. Jika tidak, bukan tidak mungkin hutan-hutan dan lahan akan terbakar kembali. Perubahan cuaca memang terkadang sulit diprediksi, hal ini menjadi kewaspadaan kita semua.

Kerusakan hutan di beberapa tempat terutama hutan di Kalimantan, Sumatera dan Papua yang terjadi menjadi isyarat baru. Isyarat baru tersebut menjadi jawaban sesungguhnya bahwa ; aku, dia dan mereka sudah tidak ramah lagi dengan alam dan lingkungan. Namun terkadang masih saja sering terlontar bahwa alam tidak lagi bersabat. Sejatinya alam selalu bersabat dengan siapapun tampa pilih kasih, justru manusia yang selalu menyakiti alam ini.

Tak banyak kata, proses yang terjadi selama ini (kerusakan alam dan sebab akibatnya) merupakan sumber dari kita manusia sebagai sumber utama atau pemicu yang selalu menyakiti alam ini. Sesungguhnya, tata aturan telah ada mengatur terkait hal ini (kebakaran hutan).

Berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan bila terjadi di areal perkebunan sawit terutama perusahaan yang sedang melakukan land clearing, maka dengan cara membakar lahan merupakan cara yang sangat praktis dan sangat menguntungkan bagi perusahaan. Ada beberapa keuntungan yang diperoleh oleh pihak perusahaan jika melakukan pembakaran lahan diantaranya akan menghemat pembiayaan karena kalau mengunakan peralatan berat maka akan membutuhkan biaya yang cukup besar, akan membunuh hama-hama yang ada di areal konsesi perkebunan sawit seperti hama tikus, belalang dan sebagainya serta keuntungan lain yang akan di dapat oleh perusahaan perkebunan sawit adalah lahan yang terbakar akan menjadi subur atau sebagai pupuk gratis. Jika lahan yang terbakar meluas ke areal lahan yang sudah ditanami sawit maka bisa dijadikan dasar claim asuransi.

Permasalahan tersebut diatas ditambah lagi keterbatasan peralatan yang dimiliki oleh pemerintah khususnya alat pemadam kebakaran, masih gencarnya oknum masyarakat dan perusahaan perkebunan yang melakukan pembakaran hutan menbuat sebaran api semakin parah. Seharusnya juga pemerintah mengambil kebijakan yang tegas terutama sanksi tegas kepada pihak perusahaan perkebunan sawit. Ini dikarenakan sudah jelas ada himbauan dan larangan kepada pihak perusahaan tidak melakukan land clearing dengan cara membakar. Selain itu juga pihak perusahaan mengkesampingkan dalam hal penanggulangan kebakaran hutan dan lahan diareal konsesinya. Ada beberapa kewajiban yang harus dipatuhi oleh pihak perusahaan perkebunan dalam penaanggulangan kebakaran hutan diantaranya dalam areal konsesi harus ada tower pemantau api, harus memiliki peralatan pemadam kebakaran, ada tim patroli kebakaran yang memang wajib di bentuk oleh pihak perusahaan. Kewajiban tersebut tertuang dalam Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2014 yaitu Pasal 56 ayat (1) berbunyi Setiap Pelaku Usaha Perkebunan dilarang membuka dan/atau mengolah lahan dengan cara membakar serta ayat (2) berbunyi;  Setiap pelaku usaha perkebunan berkewajiban memiliki sistem, sarana, dan prasarana pengendalian kebakaran lahan dan kebun. Pihak penegak hukum sebenarnya bisa menjerat pelaku pembakaran lahan dan hutan terutama kepada pihak peruahaan perkebunan dengan menghitung kerugian akibat kerusakan lingkungan akibat pembakaran hutan dan lahan yang dikaitkan dengan Peraturan Menteri Nomor 13 Tahun 2011 tentang Ganti Kerugian Akibat Pencemaran dan atau Kerusakan Lingkungan Hidup serta Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 7 Tahun 2014 Tentang Kerugian Lingkungan Hidup Akibat Pencemaran dan/atau Kerusakan Lingkungan Hidup.

Selain itu juga ada beberapa peraturan terhadap pemberian sanksi kepada pelaku pembakaran hutan dan lahan diantaranya :

  • Pasal 48 Undang Undang Nomor 18 tahun 2004  Tentang Perkebunan disebutkan bahwa setiap orang yang dengan sengaja membuka dan atau mengolah lahan dengan cara pembakaran yang berakibat terjadinya pencemaran dan kerusakan fungsi lingkungan hidup sebagaimana dimaksud dalam pasal 26, di ancam dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp 10.000.000.000 ,-  (sepuluh milyar). Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat 1 mengakibatkan orang mati atau luka berat, pelaku di ancam dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun di denda paling  banyak 15.000.000.000,-  (lima belas milyar rupiah).
  • Pasal 108 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup disebutkan bahwa Setiap orang yang melakukan pembakaran lahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 69 ayat (1) huruf h, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling sedikit Rp 3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah) dan paling banyak Rp 10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah). Sedangkan pasal 69 huruf (h) sendiri berbunyi setiap orang dilarang melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar.
  • Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 dan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2013 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Kerusakan terutama pasal 50 ayat (3) huruf d berbunyi setiap orang dilarang membakar lahan dan Pasal 78 ayat (4) berbunyi bahwa ”Barang siapa karena kelalainnya melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 50 ayat (3) huruf d, diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 1.500.000.000 (Satu Milyar Lima Ratus Juta Rupiah ).
  • Kitap Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) BAB VII : Kejahatan yang Membahayakan Keamanan umum Bagi Orang atau Barang terutama pasal 187 disebutkan Barang siapa dengan sengaja menimbulkan kebakaran, ledakan atau banjir, diancam : Dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun, jika karena perbuatan tersebut diatas timbul bahaya umum bagi barang. Dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun jika karena perbuatan tersebut diatas timbul bahaya bagi nyawa orang lain. Dengan pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu paling lama dua puluh tahun, jika karena perbuatan tersebut diatas timbul bahaya bagi nyawa orang lain dan mengakibatkan orang mati.

Semoga saja, dengan turunnya hujan asap bisa mereda bahkan menghilang. Namun yang terpenting adalah usut tuntas pelaku pembakaran hutan dan lahan. Mengingat saat ini diperlukan penegakkan hukum seadil-adilnya dan nudah-mudahan alam tidak lagi disalahkan. Jika tidak, persoalan asap dan persoalan lingkungan akan terus berulang. Semoga saja.

By : Petrus Kanisius- Yayasan Palung

Tulisan ini juga dimuat di Tribun Pontianak : http://pontianak.tribunnews.com/2015/11/04/akankah-alam-selalu-disalahkan-atau-manusianya