Monthly Archives: September 2015

Temuan Di Lapangan Tentang Kerusakan Lingkungan dan Perdagangan Gelap Bagian-bagian Satwa

Sisa-sisa pembersihan lahan (land clearing)

Sisa-sisa pembersihan lahan (land clearing). foto dok. Edward Tang, YP

Masih maraknya perdagangan (transaksi jual beli), lebih khusus ada pembeli dari Malaysia yang datang ke kampung untuk membeli satwa ataupun bagian-bagian tubuh satwa. Beberapa temuan itu tersaji saat Yayasan Palung melakukan ekspedisi pendidikan lingkungan, diskusi masyarakat dan pemutaran film lingkungan keliling kampung di Desa-desa di Kecamatan Sungai Laur, Kabupaten Ketapang, Kalbar, pada 13-17 september 2015, pekan lalu.

Sisa-sisa pembakaran utk peladangan masyarakat. foto dok. Edward Tang YP

Sisa-sisa pembakaran utk peladangan masyarakat. foto dok. Edward Tang YP

Bagian-bagian tubuh satwa yang di cari adalah seperti trenggiling hidup ataupun sisik trenggiling, geliga kelasi dan paruh enggang. Temuan dan informasi tersebut terungkap saat diskusi masyarakat berlangsung. Seorang bapak yang namanya enggan disebutkan mengatakan; “beberapa bulan lalu ada pembeli yang datang ke kampung-kampung dan mencari bila ada seperti geliga kelasi, paruh enggang dan trenggiling hidup”.

Persediaan sumber air semakin krisis berpengaruh pada biota sungai. foto dok. Edward Tang YP

Persediaan sumber air semakin krisis berpengaruh pada biota sungai. foto dok. Edward Tang YP

Adapun kisaran harga beli yang ditawarkan oleh pembeli dari Malaysia antara lain; untuk geliga kelasi harga per geliga kelasi dibeli dengan harga 300- 400 ribu rupiah. Sedangkan untuk harga paruh enggang dengan kisaran harga 500 ribu hingga 1 juta rupiah. Untuk harga trenggiling, perkilogramnya 400-450 ribu rupiah dalam keadaan hidup. tidak hanya itu, sisik trenggiling pun banyak dicari dengan kisaran harga 100-150 ribu rupiah per ons. Pada hal undang-undang telah jelas menerangkan bahwa satwa dan keanekaragaman hayati telah diatur dalam UU no. 5 tahun 1990, Pasal 21 ayat 1 dan 2 menyebutkan :
Ayat (1) Setiap orang dilarang untuk :
1. mengambil, menebang, memiliki, merusak, memusnahkan, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan tumbuhan yang dilindungi atau bagian-bagiannya dalam keadaan hidup atau mati;
2. mengeluarkan tumbuhan yang dilindungi atau bagian-bagiannya dalam keadaan hidup atau mati dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia.

Ayat (2) Setiap orang dilarang untuk :
1. menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup;
2. menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan mati;
3. mengeluarkan satwa yang dilindungi dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia;
4. memperniagakan, menyimpan atau memiliki kulit, tubuh, atau bagian-bagian lain satwa yang dilindungi atau barang-barang yang dibuat dari bagian-bagian tersebut atau mengeluarkannya dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia;
5. mengambil, merusak, memusnahkan, memperniagakan, menyimpan atau memiliki telur dan atau sarang satwa yang dillindungi.

Temuan lainnya adalah ketika kami mengadakan lecture di sekolah. Temuan tersebut adalah masih tingginya ancaman terhadap nasib hidup satwa dilindungi seperti orangutan. Salah seorang dari murid di salah satu SLTP mengatakan pernah melihat bahkan memakan orangutan dari hasil buruan sang ayahnya.

Tidak berhenti di situ, kondisi kerusakan lingkungan pun tersaji ketika kami melintasi beberapa ruas jalan menuju Kecamatan Laur. Adapun kondisi kerusakan lingkungan tersebut antara lain seperti adanya pembukaan atau perluasan lahan untuk perkebunan, (ke/ter/di) bakarannya lahan yang diduga untuk perkebunan dan perladangan masyarakat.
Hal lainnya terkait kerusakan lingkungan tidak lain adalah konversi lahan yang menanam tanaman sawit tak jauh berada (berhadapan) dengan sungai di Teluk Parak (Kec. Nanga Tayap). Jaraknya hanya beberapa meter saja, tidak sampai 100 meter. Tanaman sawit tersebut belum diketahui apakah milik perusahaan atau masyarakat. Persoalan mendasar tentang keberadaan tanaman sawit yang berada dekat sempadan sungai berimbas kepada dampaknya kekeringan yang berpengaruh pada keadaan ekologi, sosial, ekonomi budaya masyarakat.

Tanaman Sawit sangat dekat dengan sempadan sungai. dok. Edward Tang

Tanaman Sawit sangat dekat dengan sempadan sungai. dok. Edward Tang

Tidak bisa di sangkal, keberadaan tanaman sawit yang berada di dekat sungai tidak bisa dibenarkan karena membuat daya tampung air semakin berkurang bahkan sumber airnya mendangkal dan semakin kering. Biota sungai seperti ikan terancam mati dan potensi sumber hidup masyarakat untuk pemenuhan kebutuhan hidup berupa lauk pauk menjadi sangat berpengaruh. Seperti diketahui, ikan menjadi sumber lauk/makanan masyarakat menjadi tidak tersedia lagi, akibatnya masyarakat harus membeli dengan harga tinggi di tengah ekonomi sulit saat ini. Pengaruh sosial dan budaya masyarakat menjadi hilang karena sudah semakin jarang atau tidak ada rutinitas kebiasaan masyarakat untuk menjaga lingkungan menjadi terkikis oleh masuknya investasi yang tidak sisi-sisi lingkungan dan hak-hak masyarakat.

kobaran api di wilayah kecamatan sungai laur yg dijumpai, diperkirakan untuk perladangan atau perkebunan. foto dok. Ranti YP

kobaran api di wilayah kecamatan sungai laur yg dijumpai, diperkirakan untuk perladangan atau perkebunan. foto dok. Ranti YP

Selain itu, akumulasi dari dampak tersebut diatas secara menyeluruh dapat berakibat kepada kondisi alam dan manusia yang semakin tidak stabil dan krisis. Mengingat, tata aturan (peraturan pemerintah) melalui UU no 41 tahun 1999, pasal 50 ayat 3 yang jelas-jelas menyatakan; melarang setiap orang untuk menebang (membuka lahan) kiri dan kanan sungai dengan jarak 100 meter. Sedangkan untuk sanksi terhadap pelanggaran pasal 50 ayat 3 menyatakan; barang siapa dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud (pasal 50 ayat 3) tersebut diancam pidana 10 tahun dan denda 5 milyar rupiah.
Dari beberapa temuan tersebut, besar harapan agar adanya perhatian dari semua pihak untuk memberikan solusi terbaik. Jika tidak persoalan lingkungan yang semakin krisis tentu akan berpengaruh besar juga terhadap keberlangsungan hidup manusia secara berlanjut. Semoga saja..
By : Petrus Kanisius dan Edward Tang – Yayasan Palung

Tulisan ini pernah dimuat di : http://ceritaanda.viva.co.id/news/read/679879-kerusakan-lingkungan-dan-perdagangan-tubuh-satwa

Saat Yayasan Palung Melakukan Ekspedisi Pendidikan Lingkungan Kami Memperoleh Informasi Ada Pembeli Yang Cari Satwa Dilindungi

Saat diskusi masyarakat tentang orangutan dan ancamannya di desa  Riam Bunut, Sungai Laur

Saat diskusi masyarakat tentang orangutan dan ancamannya di desa Riam Bunut, Sungai Laur. Foto dok. Ranti/YP

Saat YP Melakukan Ekspedisi Pendidikan Lingkungan, Memperoleh Informasi Masih Maraknya Pembeli Dari Malaysia Mencari Geliga Kelasi, Paruh Enggang dan Trenggiling Hidup.
Kami banyak memperoleh informasi dari masyarakat tentang masih adanya pembeli khusus beberapa satwa dilindungi, adapun pembeli tersebut berasal dari Malaysia untuk mencari geliga kelasi, paruh enggang dan trenggiling terungkap saat diskusi dengan masyarakat di Desa Teluk Mutiara atau dulunya dikenal dengan nama Kenyauk. Hal tersebut tersaji saat Yayasan Palung melakukan ekspedisi pendidikan lingkungan, diskusi masyarakat dan pemutaran film lingkungan keliling kampung di Desa-desa di Kecamatan Sungai Laur, selama lima hari 13-17 september 2015.

Saat puppet show di SDN 1 Sungai Laur

Puppet show di SDN 1 Sungai Laur

Murid-murid SDN 1 sangat antusias mengikut puppet show. Foto dok. YP

Dalam diskusi tersebut, salah seorang peserta diskusi yang namanya enggan disebutkan mengungkapkan; “beberapa bulan lalu ada pembeli yang datang ke kampung-kampung dan mencari bila ada seperti geliga kelasi, paruh enggang dan trenggiling hidup”. Lebih lanjut dikatakan, untuk geliga kelasi harga per geliga kelasi dibeli dengan harga 300- 400 ribu rupiah. Sedangkan untuk harga paruh enggang dengan kisaran harga 500 ribu hingga 1 juta rupiah. Untuk harga trenggiling, perkilogramnya 400-450 ribu rupiah dalam keadaan hidup. tidak hanya itu, sisik trenggiling pun banyak dicari dengan kisaran harga 100-150 ribu rupiah per ons”, demikian jelasnya.

Saat diskusi dengan masyarakat di Desa Teluk Mutiara/Kenyauk. Foto dok. Ranti/YP

Saat diskusi dengan masyarakat di Desa Teluk Mutiara/Kenyauk. Foto dok. Ranti/YP

Tidak hanya itu, ternyata ancaman terhadap orangutan di Kecamatan Sungai Laur cukup tinggi. Perburuan masih terjadi. Yang cukup mengagetkan kami, saat kami bertanya dalam lecture di SMPN 01 Sungai Laur. Kagetnya kami adalah ketika kami bertanya; siapa yang pernah melihat langsung orangutan?. Tiba-tiba salah seorang murid mengaku dia pernah melihat bahkan makan orangutan kurang dari sebulan lalu. Menurutnya, orangutan yang ia makan tersebut didapatkan oleh ayahnya memburu di hutan sekitar Laur.
Pada saat ekspedisi pendidikan lingkungan, kami melakukan beberapa rangkaian kegiatan. Rangkaian kegiatan tersebut antara lain adalah melakukan lecture (ceramah lingkungan) di SMAN 1 Sungai Laur. Adapun materi yang di sampaikan antara lain tentang orangutan yang memiliki peranan besar terhadap kelestarian lingkungan dan manusia sebagai sumber hidup dan keberlanjutan nafas hidup. Selanjutnya pemutaran film lingkungan kami lakukan di desa Riam Bunut, Sungai Laur.
Di Pagi hari, pukul 08.00 Wib kami mengadakan puppet show (panggung boneka) di SDN 01 Sungai Laur. Adapun tujuan dari puppet show tersebut untuk menyampaikan informasi tentang orangutan sebagai satwa langka yang memiliki peranan besar bagi kehidupan masyarakat di sekitar hutan yang berbatasan dengan Taman Nasional Gunung Palung. Selanjutnya di sore hari sekitar pukul 16.00 Wib, kami mengadakan diskusi dengan masyarakat tentang apa ancaman habitat saat ini di desa mereka.

 

Saat pemutaran film di Desa Riam Bunut, Sungai Laur

Saat pemutaran film di Desa Riam Bunut, Kecamatan Sungai Laur. Foto dok. Ranti/YP.

Saat pemutaran film di Desa Teluk Mutiara, Sungai Laur

Saat pemutaran film di Desa Teluk Mutiara, Sungai Laur . Foto dok. YP

Di malam hari (16/9), kami melanjutkan pemutaran film lingkungan di Desa Teluk Mutiara. Adapun film lingkungan yang Kami putarkan antara lain adalah film dokumenter tentang hari esok yang menghilang dan beberapa film lingkungan lainnya serta film hiburan. Sebagian masyarakat tampak semangat dan sepertinya terhibur saat menonton film lingkungan yang kami suguhkan. Beberapa diantara mereka sesekali terlihat tertawa dan beberapa berkomentar sembari mengingat-ingat hal yang terjadi ketika masih maraknya perembahan hutan beberapa tahun lalu di kampung mereka. Sebelumnya di sore harinya kami melakukan juga diskusi masyarakat yang mana kami banyak mendapat informasi tentang ancaman dan masih adanya proses jual beli satwa.

Saat lecture di SMAN 1 Sungai Laur

Saat lecture di SMAN 1 Sungai Laur. Foto dok. YP

Keesokan harinya, tepatnya di hari kamis pagi (17/9/ 2015) di tengah kabut yang cukup tebal kami menyempatkan untuk kembali memberikan materi pendidikan lingkungan dengan mengadakan lecture di SDN 5 Teluk Mutiara. Di setiap sekolah yang kami kunjungi tersebut juga, kami memberikan free test dan pos test tentang orangutan. Tujuannya untuk mengukur pengetahuan dan daya serap serta pemahaman mereka sebelum dan sesudah materi yang kami sampaikan. Di setiap sekolah yang kami kunjungi juga, kami selalu menyanyikan lagu Pongo (lagu tentang orangutan).

 

Saat memberikan free test dan post test setelah materi

Saat memberikan free test dan post test setelah materi tentang orangutan. Foto dok. YP

Setelah lima hari, kami dari Tim Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung yang terdiri dari Mariamah Achmad, Edward Tang, Ranti Naruri dan Petrus Kanisius serta Herie Handoko salah seorang relawan kami menyudahi seluruh rangkaian kegiatan. Dalam perjalanan pulang menuju Ketapang, kami masih menjumpai kepulan asap dan kobaran api yang masih menyala dari sisa pembakaran lahan, diperkirakan untuk perladangan dan perkebunan dibeberapa wilayah di sepanjang perjalanan.

kobaran api di wilayah kecamatan sungai laur yg dijumpai, diperkirakan untuk perladangan atau perkebunan

Kobaran api di wilayah kecamatan sungai laur yg dijumpai, diperkirakan untuk perladangan atau perkebunan. Foto dok. YP

Tulisan ini sebelumnya dimuat di : http://pontianak.tribunnews.com/2015/09/19/ada-pembeli-yang-cari-paruh-enggang-ke-kampung
By : Petrus Kanisius ‘Pit’- Yayasan Palung

Melihat Indahnya Ragam Hayati Karya Sang Pencipta di Lubuk Baji

Anggrek cantik

Anggrek Cantik yang dijumpai di Lubuk Baji. foto dok. Ranti Naruri, YP

Melihat secara langsung indahnya ragam hayati (keanekaraman hayati) di Lubuk Baji merupakan salah satu karya Sang Pencipta yang sayang untuk dilewatkan. Indahnya karya Sang pencipta itu tertuang dalam gambar berupa foto-foto jepretan teman-teman saat berkegiatan pada 4-6 September 2015, pekan lalu.
Lubuk Baji yang merupakan salah kawasan zona pemanfaatan di Taman Nasional Gunung Palung (TNGP). Di kawasan ini, beragam kegiatan sering dilakukan seperti salah satunya adalah pendidikan lingkungan. Hampir setiap bulan Yayasan Palung berkesempatan mendampingi dan memberikan materi pendidikan lingkungan untuk beberapa sekolah yang ada di wilayah Kabupaten Kayong Utara dan Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.
20 orang dari Sispala Repatones, SMA PL. St. Yohanes dan dua orang guru pendamping bersama Yayasan Palung melakukan kegiatan pendidikan lingkungan. Kegiatan tersebut adalah Fieldtrip (kunjungan lapangan). Ragam kegiatan seperti pengamatan tumbuh-tumbuhan, pengamatan satwa dan beberapa materi tentang lingkungan seperti metode pengamatan satwa menjadi salah satu materi yang disampaikan.

Saat diskusi ttg daun

Sispala Repatones saat persentasi dan diskusi tentang klasifikasi daun. dok. M. Rizal Alqadrie, YP

Selama berkegiatan, banyak hal menarik yang dijumpai. Mengingat, mereka bisa belajar secara langsung di alam. Indahnya keanekaragaman hayati seperti anggrek cantik yang tumbuh di tanah diperkirakan anggrek ini jenis baru. Selain itu juga bertemu jamur, katak hijau kekuning-kuningan di atas daun dan katak bintik-bintik berwarna cokelat, berkepala segitiga dan sejenis tumbuhan Amorphophallus titanum. Hal menarik lainnya, mereka bertemu dengan burung julang emas (Aceros undulatus). Burung julang emas termasuk jarang dan sulit dijumpai.

Bila beruntung, sesekali orangutan bisa dijumpai di Lubuk Baji. Kelempiau, kelasi dan beberapa satwa lainnya. Namun kali ini, peserta tidak berjumpa dengan orangutan di tempat tersebut.
Keindahan dari karya Sang Pencipta tersebut mengingatkan akan nafas hidup yang tidak hanya manusia tetapi juga ragam tumbuh-tumbuhan dan satwa sebagai satu kesatuan bisa untuk diceritakan.

Berikut beberapa ragam foto yang cukup menarik hasil dari jepretan teman-teman saat melakukan pengamatan tumbuhan dan satwa di Lubuk Baji :

Julang Emas_ Foto Rizal_2

Burung julang emas (Aceros undulatus). Foto dok. M. Rizal Alqadrie, YP

 

 

Kodok hijau kekuning2an

Kodok hijau kekuning-kuningan. Foto dok. M. Rizal Alqadrie, YP

tumbuhan sejenis Amorphophallus titanum

Tumbuhan sejenis Amorphophallus sp. Foto dok. M. Rizal Alqadrie, YP

Jamur yang dijumpai di lubuk baji

Burung julang emas (Aceros undulatus). Foto dok. M. Rizal Alqadrie, YP

Kodok kepala segitiga_ warnanya menyerupai daun kering

Kodok kepala segitiga, warnanya menyerupai daun kering. Foto dok. M. Rizal Alqadrie, YP

Ragam kekayaan hayati ini juga menjadi sebuah tanda akan nafas keberlanjutan. Berharap karya sang Pencipta di Lubuk Baji menjadi realita nyata untuk dipelihara, dijaga dan mudah-mudahan bisa lestari hingga nanti dan selamanya. Semoga saja…

Tulisan yang sama juga dapat dilihat di :
http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/melihat-indahnya-ragam-hayati-karya-sang-pencipta-di-lubuk-baji_55efe74b8f7a618214985938

http://pontianak.tribunnews.com/2015/09/07/bertemu-julang-emas-saat-fieldtrip-di-lubuk-baji

By : Petrus Kanisius- Yayasan Palung