Monthly Archives: Agustus 2015

Mengenang Sosok Pak Udin Seorang Petani dan Pemilihara Lingkungan

Almarhum Jainuddin1

Almarhum Bapak Jainudin (Pak Udin) Semasa Hidup
Untuk seorang teman, sahabat, bapak dan guru bagi kami, Bapak Jainudin, yang akrab disapa Pak Udin. Beliau telah berpulang (meninggal dunia), pada; 25 Agustus 2015 karena sakit, di usianya yang ke 60. Kami Keluarga besar Yayasan Palung (GPOCP) sangat kehilangan dengan berpulangnya Pak Udin.
Kami keluarga besar dari Yayasan Palung sangat kehilangan dari seorang sosok Pak Udin. Sebagai teman; Pak Udin dikenal dengan kesederhanaannya, Keramahannya, kesetiaannya, keikhlasannya dan bersahaja serta keuletan dalam bekerja untuk membantu masyarakat.

Sebagai seorang bapak; Pak Udin dikenal ikhlas bersanda gurau dengan siapa saja termasuk anak muda dan siapa saja. Sebagai guru; banyak hal baik dan semangat yang beliau ajarkan kepada kami.

Organic Farming at Bentangor

Pak Udin saat merawat tanaman dan lingkungan

Organic Farming at Bentangor 3

Pak Udin dan berbagai bibit tanaman organik

Bapak Jainudin, dari awal hingga akhir hayatnya mencurahkan seluruh jiwa raganya untuk konservasi di Tanah Kayong. Bapak Jainudin pernah menjadi asisten peneliti di Stasiun Riset Cabang Panti, Gunung Palung, saat itu menjadi Asisten peneliti bagi Cheryl Knott dan Tim Laman dan beberapa peneliti lainnya selama kurang lebih 15 tahun. Pada tahun 2002- 2006; membantu Yayasan Palung di APLP (Arena Pembelajaran Lingkungan Peramas) yang sekarang menjadi pusat perkantoran Pemerintah Kab. Kayong Utara, beliau pada waktu itu membantu sebagai pemandu untuk jalur field trip anak-anak sekolah. Selanjutnya Pak Udin, dari tahun 2010- 2015; bekarja di Yayasan Palung sebagai Staf di program pertanian organik di Pusat Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung (Environmental Education Bentangor Pampang Center Yayasan Palung) di Desa Pampang Harapan.
Selamat jalan teman/kawan, sahabat, bapak dan guru kami Bapak Jainudin (Pak Udin), terima kasih dari kami dari Yayasan Palung (GPOCP) untuk semua pengabdianmu hingga akhir hayatmu.
Kami akan selalu mengenang segala jasa-jasamu dan semoga amal ibadahmu di terima oleh Allah SWT, bagi keluarga almarhum semoga tabah. Amin…

Merdeka Dimanakah Kita, Anak Muda?

indonesia-merdeka-55cda94a6023bdea07caf941

Foto dok. mobavatar.com, dlm berdikari.com

Tahun 2015, tepatnya tanggal 17 Agustus, Indonesia sudah memasuki usia yang ke-70 tahun sejak 1945 untuk memperingati hari kemerdekaannya. Beragam persiapan seperti upacara bendera bersama, perlombaan-perlombaan, refleksi dari makna kemerdekaan dan lain sebagainnya. Hal itu sepertinya menjadi ragam untuk menjadi rutinitas yang selalu dipersiapkan dan memaknai kemerdekaan negara tercinta Indonesia. Sebuah tanya, medeka dimanakah kita, anak muda?.
Tentu para pejuang bangsa ini tidak habis akal dan cara bagaimana mereka dulu berjuang dengan tetes darah penghabisan tetapi tidak pamrih. Sejatinya mereka hanya memikirkan bagaimana cara agar bangsa ini terbebas dari segala penjajahan. Keberhasilan menumpas penjajahan di medan perang mungkin telah usai, dan kita bisa sebut merdeka. Demikian juga setiap 17 Agustus selalu diperingati untuk mengenang jasa dan hasil para jerih payah pejuang dalam memperjuangkan bangsa ini hingga terbebas dari para penjajahan. Namun kini, kemerdekaan bangsa cenderung berbalik arah menjadi tanya merdeka dimanakah?. Jawabnya mungkin salah atau juga benar, secara kasat mata atau terselubung bisa dikatakan bangsa ini sejujurnya belumlah sepenuhnya merdeka.

Dimanakah kita belum merdekanya ?

– Belum merdeka sepenuhnya dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN), tengok saja semakin banyak yang terjerat kasus korupsi bahkan hingga singgasana jabatan ada yang mencoba membuat dinasti. Ini sungguh-sungguh terjadi dan sedikit banyak mencederai bangsa ini.
– Tingkat kemiskinan masih saja tersebar dibeberapa provinsi di Indonesia. Tidak untuk mengoreksi pemerintah dari dulu hingga sekarang, namun sepertinya tingkat kemiskinan dan orang miskin semakin bertambah.
– Harga kebutuhan pokok semakin meroket, rakyat kecil semakin menjerit.
– Sumber Daya Alam semakin kritis dan terkikis. Kekayaan alam Indonesia hanya segelintir orang yang menikmati dan negara-negara luar. Kerusakan lingkungan semakin menghawatirkan. Banyak yang menyalahkan alam, tetapi sesungguhnya bukan alam semesta yang disalahkan.
– Ekonomi dan mata uang masih belum stabil. Banyak negara yang takut untuk investasi.
– Orang-orang pintar (SDM) lebih memilih kerja dan berkarya di luar negeri karena jarang dihargai. Demikian juga sebaliknya di daerah, putra daerah jarang diberi kesempatan untuk membangun daerahnya.
– Tidak sedikit para pejabat yang hanya memikirkan harta, tahta dan kepentingan duniawi demi diri ketimbang berderma untuk sesama yang lebih membutuhkan.
– UUD seperti semudah membalikan telapak tangan sehingga dipermainkan dan hanya untuk kepuasan semata yang mengatasnamakan untuk pemerataan pembangunan.
– Kekerasan fisik, terhadap anak, kurangnya penghargaan terhadap kaum difabel dan duafa kian menjamur diberbagai penjuru.
– Pemerataan pembangunan dan infrasuktur disegala bidang menjadi kendala utama karena wilayah Indonesia yang luas. Gedung pencakar langit vs gubuk-gubuk di tepi hutan dan tepian sawah.
– Masih ada masyarakat yang gelap gulita belum bisa menikmati penerangan, belum bisa sekolah karena tidak ada biaya dan tidak bisa berobat karena tidak ada medis. Ini benar-benar terjadi di pedalaman-pedalaman (mungkin dari Sabang sampai Merauke).
– Adat dan budaya terkadang jarang ditonjolkan akibat kalah bersaing di era modern saat ini. Anak muda lebih suka meniru hal-hal baru yang cenderung menghilangkan adat dan budayanya.
Satu kata tentang sebuah tanda tanya ini mungkin bisa dikata adalah pekerjaan rumah bangsa ini dan termasuk kita semua. Para pejuang menitipkan capaian kemerdekaan kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk saling bahu membahu dan membangun berkeinginan mejaga nama negara tercinta.
Semoga saja… Merdeka….!!!!.. bukan Mereka.
By : Petrus Kanisius-Yayasan Palung
Tulisan ini juga sebelumnya telah dimuat di kompasiana.com, link tulisan ; http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/merdeka-dimanakah-kita-anak-muda_55cdab2827b0bd690ef5ae53

Ekspedisi Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung

saat memberikan lekture tentang orangutan

Foto : saat memberikan lecture (ceramah lingkungan) di Tayap

Yayasan Palung melakukan Ekspedisi Pendidikan Lingkungan di Desa Batu Mas dan Desa Kayong Utara Kec. Nanga Tayap selama 5 hari pada 10 – 14 Juni 2015. Kami menjangkau masyarakat di perhuluan kabupaten Ketapang yang berdiam di sekitar kawasan penyangga Taman Nasional Gunung Palung. Kami melakukan diskusi masyarakat, pemutaran film di lapangan terbuka (di Desa Batu Mas kami menggunakan halaman SD setempat dan lapangan sepak bola di Desa Kayong Utara), puppet show di SD dan lecture di SMP di dua desa tersebut. Kami mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap keberadaan keanekaragaman hayati khususnya orangutan sebagai species kunci hutan dan perlindungan hutan itu sendiri.

Siswa SD dari kelas 1 hingga 5, SMP dari kelas 7 – 8, kepala sekolah dan para guru, kepala desa dan aparat desa di dua desa tersebut menyambut kedatangan kami dengan baik, begitu juga dengan masyarakatnya, mereka senang dengan kedatangan kami.

Murid-murid SD di Tayap yang mengikuti lecture

Murid-murid SD di Tayap yang mengikuti lecture

Kami sangat terkesan dengan dukungan yang diberikan oleh Kepala Desa Batu Mas (Ibu Yulita Suweli), dia pemimpin yang tegas, cerdas, cantik (pula) dan selalu berusaha hadir dalam aktifitas-aktifitas masyarakat di desanya termasuk hadir pada semua kegiatan kami, ini pertama kalinya dalam kegiatan Yayasan Palung di sekolah dihadiri oleh seorang kepala desa. Di Desa Batu Mas kami menginap di rumah Ibu Kepala Desa dengan keramahan yang tidak dapat dilupakan juga dari suami dan keluarganya. Demikian juga dengan Kepala Desa Kayong Utara (Bapak Kadorusno), seorang laki-laki muda yang mau mengurus desanya, dia membuat pekerjaan kami di desa ini berjalan dengan sukses. Kami menginap di rumahnya, dan merasa sangat terbantu dengan keramahan istrinya berinteraksi dengan kami.

Di Desa Batu Mas sudah terdapat dua perusahaan sawit yaitu PT. BGA dan PT. LHP yang membuat jarak hutan dari desa semakin jauh. Siswa tidak banyak yang tahu tentang orangutan, begitu juga masyarakatnya sudah jarang melihat orangutan di hutan, mereka juga merasakan kehilangan hutan karena tidak dapat lagi mencari sayur-sayuran di hutan dan desa terasa kering.

Desa Kayong Utara terletak di tengah hutan, belum ada listrik negara, menurut warga terlalu jauh untuk memasukkan gardu listrik hingga ke desa ini, dengan kata lain desa ini termasuk dalam desa terpencil dan terisolasi. Warga mendapatkan penerangan dari jam 6 sore hingga jam setengah sebelas malam dari generator yang dibiayai secara swadaya oleh mayarakat dan bantuan bahan bakar solar dua drum per bulan dari sebuah perusahaan pengusahaan hutan yang beroperasi di daerah ini (PT. SJM). Tidak berapa jauh dari desa ini terdapat sebuah perusahaan sawit yang sama dengan Desa Batu Mas yaitu PT. BGA. Namun kondisi hutan disini masih cukup baik, menghasilkan banyak hasil hutan bukan kayu seperti madu yang sangat menunjang perekonomian masyarakat. Pengetahuan siswa tentang orangutan juga cukup baik, dan masyarakat mengatakan ladang mereka tidak diserang hama seperti di desa lain yang jauh dari hutan karena hama seperti belalang sudah dimakan oleh binatang-binatang yang masih banyak terdapat di dalam hutan.

Perkebunan menjadi salah satu ancaman yang menakutkan terkait keberlanjutan hutan dan lingkungan sekitar saat ini. foto dok. YP

Perkebunan merupakan salah satu tantangan besar bagi satwa dan habitatnya. foto dok. YP

Perjalanan ini sangat menyenangkan, walaupun jalan yang dilewati dari Ketapang ke Nanga Tayap rusak dikarenakan musim hujan membuat jalan berlubang di banyak bagian yang membuat badan bergoyang *dumang* dengan serunya, tetapi terhibur dengan anak-anak penjaga “miting” di jalan-jalan yang rusak berat, perginya kami beri mereka upah uang Rp. 2.000,- – Rp. 3.000,- dan pulangnya kami beri biskuit tanggo sisa gift siswa. Juga banyak gurauan dari teman-teman selama perjalanan kami.

Dari Nanga Tayap ke Batu Mas selama 30 menit jalan aspal goreng mulus, tetapi dari Nanga Tayap – Dusun Riam Batu Desa Kayong Utara jalan tanah dengan sedikit pengerasan kerikil, ada bagian-bagian yang licin seperti licinnya minyak sawit, menanjak dan menurun (pula), sesuai dengan pemandangan di kanan kiri jalan tanaman sawit milik perusahaan sawit PT. BGA.

Seluruhnya ada 8 kegiatan yang kami lakukan dalam ekspedisi ini, jangan ditanya capeknya badan kami, tetapi kami senang bisa berkunjung ke daerah baru, bertemu dan berbagi pengetahuan dan wawasan bersama warga yang tinggal di sekitar hutan yang merupakan habitat Orangutan pygmaeus wurmbii. Kami mengucapkan terima kasih kepada Orangutan Outreach yang memungkinkan kami melakukan kegiatan ini dan special thanks kepada Deri Irawan, penerima beasiswa peduli orangutan Kalimantan asal Kecamatan Nanga Tayap yang sudah memulai debutnya “magang” di Yayasan Palung, bahkan sebelum dia mulai kuliah di Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura. Deri membantu mengkoordinasikan kegiatan ini kepada kepala desa dan kepala sekolah di dua desa tersebut, dia juga ikut serta dalam pelaksanaan kegiatan ini.

Tulisan by : Mariamah Achmad, Conservation Awareness and Environmental Education Manager of Yayasan Palung