Monthly Archives: Juli 2015

Satu Individu Bayi Orangutan Jantan Berhasil Diselamatkan dari Kawasan Konsesi

Tim gabungan; BKSDA Kalbar SKW 1 Ketapang, YIARI dan Yayasan Palung saat melakukan Rescue bayi orangutan di Sungai Besar. foto dok. Edi/YP

Tim gabungan; BKSDA Kalbar SKW 1 Ketapang, YIARI dan Yayasan Palung saat melakukan Rescue bayi orangutan di Sungai Besar. foto dok. Edi/YP

Satu individu bayi orangutan Kembali berhasil diselamatkan (rescue) oleh BKSDA Kalimantan Barat Seksi Konservasi Wilayah I Ketapang bersama YIARI dan Yayasan Palung dari kawasan konsesi yang letaknya di Desa Sungai Besar Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kabupaten Ketapang, Kalbar, pada Senin siang kemarin (27 /7/2015).
Dalam proses rescue orangutan ini, tim rescue berangkat ke lokasi dari kantor Seksi Wilayah I Ketapang dengan jarak tempuh kurang lebih 21 kilometer, sekitar pukul 9.30 WIB.
Setelah sampai ke lokasi, tim langsung menuju rumah pemilik bayi orangutan dengan disaksikan beberapa warga yang tinggal di sekitar pemilik bayi orangutan. Adapun bayi orangutan berjenis kelamin jantan dan berusia kurang lebih lima bulan.

Menurut keterangan Maman (pemilik bayi orangutan) mengatakan, bayi orangutan tersebut ditemukan ketika saat dia sedang memancing ikan gabus di danau yang berada di dekat kawasan hutan Sungai Besar, tiga minggu lalu.
Lebih lanjut menurut Maman, selang beberapa waktu Ia mendengar suara setelah dicari arah suara tersebut ternyata ditemukan 1 individu bayi orangutan yang ditinggalkan induknya dan memanjat pohon kayu yang sudah mati.

Karena merasa iba (kasihan) serta dikhawatirkan bayi orangutan itu mati, bayi orangutan tersebut langsung ia bawa pulang dan diberi minum susu. Selang beberapa hari Bapak Maman meminta bantuan kepada beberapa warga untuk memberitahu kepada pihak yang berwewenang serta menyampaikan kepada Yayasan Palung bahwa bayi orangutan ini akan diserahkan untuk mendapatkan perawatan lebih baik.
Setelah dilakukan serah terima dan penandatangan Berita Acara (BA) serah terima dan kemudian bayi orangutan dibawa ke pusat rehabilitasi YIARI.
Proses rescue tersebut disaksikan oleh banyak warga, maka momentum ini dimanfaatkan oleh pihak BKSDA yang diwakili Adi Susilo untuk menyampaikan himbauan kepada warga untuk tidak memelihara, memburu serta memperdagangkan satwa dilindungi termasuk orangutan.
Selain itu juga, menurut keterangan beberapa warga bahwa di lokasi ditemukannya bayi orangutan ini sering warga menjumpai orangutan yang masuk dan merusak tanaman milik masyarakat bahkan beberapa bulan terakhir pihak BKSDA bersama YIARI telah me-rescue beberapa individu orangutan dari lokasi tersebut.
Edi Rahman, Manager Program Perlindungan Satwa (PPS) dari Yayasan Palung, menambahkan; memang di lokasi ditemukan bayi orangutan ini terdapat kawasan hutan dengan status kawasan Hutan Produksi (HP) dan Hutan Produksi Konversi (HPK) dan telah ditetapkan oleh Kementerian Republik Indonesia sebagai Hutan Desa (HD) Sungai Besar berdasarkan Surat Keputusan Nomor: 586/Menhut-II/2011 dengan luas ± 6.825 Hektare (HP ± 4.825 Hektare dan HPK ± 2.000 Hektare). Kawasan hutan ini merupakan habitat orangutan serta masih terdapat populasi orangutan tetapi di sekitar kawasan hutan ini terdapat berbagai ancaman yang cukup tinggi baik ancaman pembukaan perkebunan sawit, pertambangan illegal, kebakaran hutan dan illegal logging.

Sebelumnya tulisan ini telah masuk dibeberapa media cetak dan online seperti di Pontianak Post, Tribun Pontianak, Suara Pemred dan kompasiana.com. Link tulisan di kompasiana : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/satu-individu-bayi-orangutan-jantan-berhasil-diselamatkan-dari-kawasan-konsesi_55b9aac7397b613c2b29e81e

By :Petrus Kanisius- Yayasan Palung

Iklan

Namaku Ned dari Taman Nasional Gunung Palung

Orangutan baru, bernama Ned_ Foto dok. Kat Sccott

Orangutan baru di TNGP, bernama Ned. Foto dok. Kat Sccott

Aku tinggal tak jauh dari habiatku di hutan tropis di Borneo tepatnya di Gunung Palung yang letaknya di dua kabupaten Ketapang dan Kayong Utara, Kalbar.
Bertahun-tahun aku tinggal bergelantungan ke sana kemari mengitar sepanjang hutan itu.
Hari-hariku dari pagi hingga senja menyapa aku berkelayapan untuk mencari makan berupa buah-buahan, serangga, umbi-umbian, kulit kayu.
Sore harinya aku selalu menyiapkan tempat istrihatku berupa sarang, setiap hari aku selalu membuat sarang dari daun-daun dan bekas ranting kayu.
Menjelang pertengahan tahun ini aku sengaja menampakan diriku dan bergabung dengan teman-temanku di tempat ini.
Sebelum-sebelumnya aku tidak punya nama, namun sahabat peneliti menemukanku saat aku sedang bermain-main, kemudian mereka memberiku nama.
Aku bersyukur karena aku sekarang sudah memiliki nama sama seperti teman-temanku yang sudah lama bergabung dan tinggal di Stasiun Riset Cabang Panti, Taman Nasional Gunung Palung.
Ragam jenis tumbuh-tumbuhan sering ku jumpai sama halnya dengan satwa-satwa lainnya.
Dalam arti namaku, aku tidak ada arti lain dari namaku itu, cukup panggil aku Ned.
Nama Ned tidak lain adalah Ned itu sendiri dan Aku Ned ialah orangutan jantan yang baru saja diemukan tinggal di Gunung Palung.
Mudah-mudahan aku bisa tinggal lama di TNGP dan TNGP tempat dimana aku tinggal bisa terus ada.

By : Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Sebelumnya tulisan ini ditulis di kompasiana.com, lihat link : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/namaku-ned-dari-taman-nasional-gunung-palung_55af5551d07a613e2c5d39da