Monthly Archives: Januari 2015

Yayasan Palung Telah Berikan Delapan Beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan

penerima-bocs-2012

Penerima-bocs, tahun 2012, foto dok. YP

Selasa, 27 Januari 2015 22:09 WIB

Citizen Reporter
Petrus Kanisius
Yayasan Palung

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID – Yayasan Palung Sediakan Beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan. Keberadaan orangutan Kalimantan hingga saat ini mengalami penurunan, demikian pula yang terjadi dengan alam dan lingkungan yang mengalami kerusakan, sudah semakin sulit dicegah atau dalam artian di ambang kepunahan (terkikis habis).
Melalui beasiswa Peduli Orangutan sebagai salah satu program persiapan masa depan untuk peningkatan sumber daya manusia yang peduli terhadap keberlanjutan konservasi alam dan lingkungan untuk keseimbangan sistem kehidupan.
Tahun ini merupakan tahun ke-4 bagi Yayasan Palung untuk kembali menyediakan beasiswa program S-1 melalui Program Peduli Orangutan Kalimantan (Bornean Orangutan Caring Scholarship /BOCS) untuk dua wilayah di dua Kabupaten, Ketapang dan Kayong Utara.
Di tahun 2014 lalu, empat orang berhasil menjadi penerima beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan. Sedangkan tahun ini, Yayasan Palung (YP) bersama dengan Orangutan Republik Foundation (OURF) menyediakan 5 (lima) beasiswa program S-1.
Sedangkan dari tahun pertama hingga tahun ke-4, sudah delapan orang tercatat sebagai penerima beasiswa. Mereka kuliah diberbagai fakultas di Universitas Tanjungpura. Harapannya ketika mereka lulus kuliah, terdapat berbagai disiplin ilmu yang dapat dikembangkan untuk konservasi orangutan Kalimantan.
Mariamah Achmad, Manager Pendidikan dan Kampanye Kesadaran Konservasi, sekaligus penanggungjawab program BOCS mengatakan, untuk syarat-syarat penerima beasiswa ini, adalah calon mahasiswa/i yang berasal dari Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara, diutamakan yang kurang mampu secara ekonomi, diusulkan oleh pihak sekolah dan atau atas usulan siswa bersangkutan namun meminta rekomendasi dari pihak sekolah.
Setiap sekolah berhak mengusulkan 2 (dua) orang siswa. Bagi penerima beasiswa, mereka harus berkomitmen untuk konservasi serta mempunyai motivasi yang tinggi untuk kuliah serta bersedia melakukan penelitian skripsi berkaitan dengan aspek-aspek perlindungan dan penyelamatan Orangutan Kalimantan.
Selanjutnya, Mayi sapaan akrabnya menambahkan Beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan ini bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada pemuda yang sudah menamatkan pendidikan SMA-nya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S-1, terutama bagi mereka yang tidak mempunyai biaya untuk melanjutkan kuliah.
Yayasan Palung menyasar dua kabupaten yakni Ketapang dan Kayong Utara dikarenakan wilayah ini merupakan habitat Pongo pygmaeus wurmbii yang merupakan sub spesies orangutan yang sangat penting, yang kini hingga di masa depan perlu dilakukan upaya konservasi untuk keberlanjutan keberadaannya.
Para penerima beasiswa ini diharapkan dapat menjadi agen perubahan untuk keberlanjutan hutan dan keanekaragaman hayati di dua kabupaten tersebut, utamanya orangutan sebagai satwa endemik kebanggaan negara kita.
Dari tahun ke tahun, jumlah penerima beasiswa BOCS selalu bertambah jumlahnya. Mudah-mudahan di tahun-tahun mendatang program inidapat terus berlanjut sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama dan lingkungan sekitar lebih khusus terhadap konservasi lingkungan dan orangutan di Kalimantan.
Penulis: Stefanus Akim
Editor: Mirna Tribun
Sumber: Tribun Pontianak: http://pontianak.tribunnews.com/2015/01/27/yayasan-palung-telah-berikan-delapan-beasiswa-peduli-orangutan-kalimantan

Iklan

Sispala CARE Tanam 20 Bibit Pohon di Jalan

sispala-care-lakukan-diksar-dengan-menanam-20-bibit
Selasa, 23 Desember 2014 13:58 WIB
Citizen Reporter

Petrus Kanisius ‘Pit’
Yayasan Palung

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID – Dengan menempuh perjalanan cukup panjang, sekitar tiga jam perjalanan naik turun bukit dan sesekali menjumpai alur sungai di sepanjang jalur fieldtrip di Bukit Peramas menuju di Batu Penage (Kawasan Penyangga TNGP) tampak rombongan Sispala CARE, SMA Negeri 2 Ketapang melakukan pendidikan dasar (diksar) bagi anggota baru mereka dengan bermacam rangkaian kegiatan tersebut dari Rabu (17/12/2014) hingga Jumat (19/12/ 2014).

Sore, sekitar pukul 15.30 WIB, rombongan Sispala Care tiba yang berjumlah 28 orang tiba di hutan Pantai Penage. Setibanya di hutan Pantai Penage, panitia dan peserta mendirikan terlihat istirahat sejenak kemudian membangun tenda. Beberapa peserta dan panitia terlihat ada yang mempersiapkan ranting-ranting kayu dan batu untuk tungku memasak. Beberapa di antaranya ada mengambil air untuk menanak nasi. Setelah tenda berdiri, peserta dan panitia berkumpul dan berbaris untuk memulai kegiatan.

Dihari ke dua, kegiatan sispala Care dibekali materi THAB dengan memanfaatkan bahan tumbuh-tumbuhan dan buah disekitar hutan untuk teknik hidup dialam bebas. Beberapa dari peserta diksar diajarkan untuk mencari sayur-sayur, rebung sebagai rempah dan sayur. Sedangkan bambu digunakan sebagai wadah untuk memasak. Peserta terlihat tidak canggung memasak nasi dan sayur dengan menggunakan bambu.

Selanjutnya peserta dan panitia diajak untuk menjajal kemampuan dengan memanjat tebing di lokasi Batu Penage, Batu Penage tersebut setinggi 12 meter. Peserta clambing didampingi Rudi dari FPTI Ketapang sebagai instruktur satu persatu mencoba memanjat dan menuruni tebing batu tersebut. Satu persatu panitia dan peserta mencoba clambing dan reflingsecara bergiliran. Setelah rangkaian kegiatan panjat memanjat selesai di lanjutkan dengan pelantikan bagi peserta baru, Sispala Care angkatan ke-8 dilantik. Peserta kembali untuk berkemas dan keesokan harinya melanjutkan kegiatan di Desa Pampang Harapan.

Pada hari ke tiga, peserta diksar sispala Care melakukan bakti sosial dengan membersihkan lingkungan di sekitar kantor desa dan membersihkan lingkungan di Masjid Pampang Harapan, selanjutnya mereka menanam bibit sebanyak 20 bibit pohon yang berasal dari pembibitan pohon dari Yayasan Palung. Bibit tersebut di tanam di sekitar jalan.

Menurut Fadli Achmad sebagai guru pendamping Sispala Care mengatakan; Pemantapan materi keorganisasian, manajemen perjalanan, tehnik hidup di alam bebas (THAB), pemahaman koservasi, clambing (memanjat) dan rafling (menuruni tebing), navigasi darat dengan menggunakan kompasdan penanaman pohon serta bakti sosial di desa Pampang Harapan sebagai modal awal (materi dasar) dan kepedulian bagi 13 peserta angkatan baru (angkatan ke-8 Sispala Care) yang harus mereka miliki.

Selain itu, lebih lanjut Fadli menegaskan, kegiatan Diksar tersebut bertujuan sebagai pembentukan mental dan karakter untuk lebih peka terhadap lingkungan.
Dalam kegiatan Diksar tersebut, ikut serta Bedu Tri Nugroho dan Petrus Kanisius dari Yayasan Palung, bersama dengan Nur Rohman dari Relawan RebonK. Setelah rangkaian kegiatan selesai, peserta dan panitia kembali berkemas-kemas untuk pulang dengan menggunakan mobil Satpol PP Kabupaten Ketapang menuju Ketapang.

Penulis: Stefanus Akim
Editor: Mirna Tribun
Sumber: Tribun Pontianak : http://pontianak.tribunnews.com/2014/12/23/sispala-care-tanam-20-bibit-pohon-di-jalan

Laporan Tahunan 2013

Disini kami umumkan laporan tahunan dari 2013 agar kawan-kawan pembaca bisa lebih kenal pekerjaan Yayasan Palung. Semoga bermanfaat!

GPOCP ANNUAL REPORT 2014 Bahasa

Sispala Gersisma MAN 1 Ketapang Bertemu Orangutan Di Gunung Palung

THAB (tehnik hidup di alam bebas)

THAB (Tehnik Hidup di Alam Bebas), peserta fieldtrip. dok. Yayasan Palung.

Citizen Reporter
Oleh : Petrus Kanisius- Ketapang

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID – Beruntung, mungkin kata itulah yang cocok untuk dikatakan kepada siswa – siswi Sispala Gersisma Madrasah Aliyah Negeri 1 Ketapang, Kalbar. Beruntungnya mereka karena bisa bertemu langsung dengan salah satu satwa endemik Kalimantan. Adalah tiga individu orangutan yang menjadi keberuntungan mereka di ketinggian sekitar 7 meter diatas pohon, ditengah derasnya hujan ketika mereka dalam perjalanan untuk melakukan pendidikan dasar dan pelantikan pada 2-4 Desember 2014, pekan lalu di Lubuk Baji (kawasan penyangga Taman Nasional Gunung Palung).
Dimulai dengan melewati dam air berukuran besar, memasuki tipe hutan tersier, sekunder dan primer. Disepanjang perjalan siswa melakukan pengamatan flora dan fauna, banyak sekali yang mereka jumpai seperti kelasi, burung enggang, burung pelatuk, dan beberapa suara binatang. Untuk tumbuhan selain ulin atau belian, siswa juga banyak menemukan pohon medang, kayu malam.
Setidaknya dua jam perjalanan ditempuh untuk tiba di Lubuk Baji. Dua jam perjalanan tersebut di mulai dari Dusun Segua, di Desa Pampang Harapan, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Kayong Utara. Sebelumnya mereka membutuhkan dua jam perjalanan pula dari Kabupaten Ketapang menuju sukadana dengan menggunakan kendaraan roda empat.
Dani, salah seorang peserta sekaligus panitia pelantikan anggota baru dari Sispala Gersisma menuturkan; terasa sekali perjalanan cukup melelahkan karena melewati bebukitan yang menanjak, tetapi terobati dengan pemandangan yang indah dan air terjun yang mengalir begitu deras. Sesampai di lokasi camp, peserta membuat BIVAK atau tenda, dan membuat api, sembari istirahat dan menunggu waktu untuk melakukan sholat magrib dan sholat isya berjamaah. Keesokan harinya barulah mereka memulai kegiatan.
Menurut Bedu Tri Nugroho, dari Yayasan Palung selaku pendamping saat Sispala Gersisma melakukan kegiatan, menuturkan; Adapun ketiga orangutan jenis pongo wrumbii yang mereka jumpai tersebut adalah satu induk dan dua anak orangutan yang diperkirakan berusia masih berusia dua bulan dan empat tahun di saat mereka belajar lingkungan di alam secara langsung di Lubuk Baji yang merupakan kawasan penyangga Taman Nasional Gunung Palung. Mereka menjumpai orangutan itu saat melakukan pengamatan satwa di Subuh hari sekitar pukul 04.00 wib, ujar pria yang akrab di sapa Bedu tersebut.

Keberuntungan mereka bertambah dan tidak berhenti di situ, karena tidak semua orang yang datang ke Lubuk Baji bisa beruntung dan bisa melihat secara langsung si Pongo (orangutan). Pada hari kedua pengamatan, mereka berjumpa lagi dengan lima sarang orangutan yang tergolong masih baru. Hal menarik dari keberuntungan lainnya saat dimana mereka secara tidak disangka-sangka menyaksikan secara langsung dua ekor burung enggang di saat terbang rendah dan hinggap di sebatang pepohonan yang tak jauh pula jaraknya dari mereka. Selain itu, ternyata mereka juga menjumpai buah rambai hutan yang tengah berbuah, rambai hutan diketahui sebagai makanan favorit burung-burung dan satwa.

Dalam tiga hari berkegiatan dengan Sispala Gersisma, Bedu mengatakan; banyak sekali kegiatan yang mereka lakukan, selain mempraktekan materi – materi yang telah mereka dapat di sekolah, seperti manajemen perjalanan, materi konservasi, game (permainan), pengamatan satwa malam, pengamatan flora dan fauna. Dalam praktek materi THAB, siswa diarahkan untuk memasak menggunakan bambu (cara memasak yang praktis tampa menggunakan alat masakan seperti periuk dan kuali). Hal ini juga mengajarkan kepada mereka untuk mempraktekan THAB (tehnik hidup alam bebas) sekaligus juga erat kaitannya dengan mempelajari budaya lokal setempat yang pernah ada dan sudah mulai jarang digunakan lagi karena kalah akibat perubahan jaman. Tampak dari beberapa diantara peserta yang mencoba dan mempraktekan sembari sesekali bertanya bagaimana cara menanak nasi dan sayur dengan menggunakan bambu. Dari panitia pun terlihat secara terperinci menjelaskan kepada peserta tentang cara-cara memasak dengan media bambu dengan baik dan benar. Seperti misalnya ruas-ruas bambu tersebut disiapkan dan diisi dengan beras di tambah dengan air terus ditanak dengan api seperti dipanggang. Demikian juga memasak sayur, peserta menanaknya dengan memasukan bumbu-bumbu kedalam ruas bambu selanjutnya dijejerkan dan di tanak (istilah kampungnya di pansuh atau memansuh sayur dengan bambu).

Pada kegiatan diksar dan pekantikan Sispala Gersisma tersebut yang hadir terdiri dari terdiri dari tujuh orang anggota baru sispala, tiga anggota terdahulu dan lima orang pendamping dari Yayasan Palung.
Setelah selesai melakukan berbagai kegiatan di kawasan Lubuk Baji, peserta pun diajak secara bersama-sama untuk berkemas dan melakukan operasi semut dengan membersihkan sisa-sisa sampah di sekitar Camp dan sepanjang perjalanan yang dilalui.
Seperti diketahui Lubuk Baji merupakan kawasan penyangga Taman Nasional Gunung Palung yang terdapat di dua Desa (Sedahan dan Pampang Harapan). Sampai saat ini wilayah Lubuk Baji belum di ketahui persis luasannya. Akan tetapi indahnya pesona dan keberagaman dari keanekaragaman hayati juga satwa menjadi daya tarik tersendiri bagi mereka yang pernah dan akan mengunjungi wilayah ini.

Editor: Galih Nofrio Nanda
SumberTribun Pontianak : http://pontianak.tribunnews.com/2015/01/10/sispala-gersisma-man-1-ketapang-bertemu-orangutan-di-gunung-palung