Tak Sekedar Fieldtrip, Mereka Juga Belajar Secara Langsung di Perpustakaan Alam 

Mereka tak sekedar fieldtrip, tetapi juga belajar secara langsung di Perpustakaan Alam yang ada di Lubuk Baji, Kawasan Penyangga Taman Nasional Gunung Palung, pada 8-10 Februari 2019.

Mereka adalah SMK Negeri 1 Ketapang jurusan UPW kelas XII. Saat fieldtrip mereka didampingi oleh Yayasan Palung dan dari BTNGP.

Peserta yang mengikuti fieldtrip pada kesempatan tersebut berjumlah 28 orang dan didampingi oleh guru pendamping 2 orang, 4 orang pendamping dari Yayasan palung, dari TNGP 2 orang dan dari Relawan Konservasi 2 orang.

Adapun tujuan dari mereka melakukan fieldtrip, yaitu sebagai sarana untuk menambah kapasitas siswa dibidang parawisata dan pengetahuan tentang  alam.

Obyek wisata Lubuk Baji terdapat di Desa Sedahan Jaya. Di sana terdapat berbagai macam flora dan fauna, seperti orangutan dan rangkong (burung enggang). Di wisata Lubuk Baji terdapat dua air terjun, yaitu air terjun Lubuk Bengkek dan Air terjun Lubuk Baji.

Pada pukul 07.00 Wib, Sebelum berangkat ke obyek wisata Lubuk Baji, mereka terlebih dahulu berkumpul di sekolah untuk pelepasan dari pihak kepala sekolah. Setelah itu, mereka langsung berangkat menggunakan mobil menuju Bentangor di Desa Pampang Harapan dengan waktu tempuh kurang lebih 2 jam perjalanan.

Sampainya di Bentangor, mereka beristirahat dan sholat Jum’at berjamaah di masjid terdekat. Setelah sholat, mereka berkumpul di ruangan bentangor untuk makan siang. Selesai makan, pukul 13.00 Wib mereka melanjutkan perjalanan menujur obyek wisata Lubuk Baji. Kurang lebih 30 menit di perjalanan, mereka pun sampai di obyek wisata lubuk baji dan mereka langsung berkumpul sesuai kelompok yang telah di bagikan, dan mendengarkan arahan dari pihak panitia dan TNGP.

Selesai pemberian arahan, mereka langsung memulai perjalanan menuju Camp Lubuk Baji dengan kelompok yang telah di tentukan dan di pandu oleh pihak TNGP. Di dalam perjalanan mereka mengamati flora dan fauna yang ada di wisata lubuk baji. Mereka merasa capek dengan medan yang cukup menanjak dan mereka meminta untuk beristirahat sejenak. Di saat melanjutkan perjalanan, asa salah satu dari siswa merasa sakit dan perjalanan terhenti cukup sejenak beberapa menit.

Kurang lebih dua jam perjalanan, mereka akhirnya sampai di Camp Lubuk Baji, mereka beristirahat sejenak dan bersiap-siap untuk sholat dan masak untuk makan malam.

Setelah sholat dan makan malam, mereka berdiskusi saling sharing dan evaluasi selama mereka di perjalanan menuju ke lubuk baji, dan kegiatan evaluasi dan sharing tersebut di pimpin oleh Noviasari, Egi Iskandar, dan Anggi Saputra. Kurang lebih 1 jam mereka berdiskusi, mereka pun beristirahat (tidur malam).

Pukul  04.00-07.00 Wib mereka berativitas seperti biasanya seperti sholat, mandi, masak dan sarapan. Setelah sarapan, mereka mengikuti kegiatan selanjutnya, yaitu pengamatan tumbuhan. Dalam pengamatan tersebut, materi di sampaikan oleh Simon Tampubolon dari Yayasan Palung. Setelah mereka mendengarkan materi, mereka di minta turun kelapangan untuk mengamati tumbuhan. Setelah pengamatan di lapangan, mereka diminta untuk mempresentasikan apa saja yang telah mereka lihat, dengar dan di dapat saat melakukan pengamatan.

Setelah pengamatan, mereka di ajak bermain game yaitu game rantai kata. Tujuan game itu agar mereka tidak asal menyampaikan informasi yang belum jelas kelastiannya supaya tidak menjadi informasi yang hoax.

Selesai main game, selanjutnya ISHOMA (Istirahat, Sholat, dan Makan). Setelah ISHOMA, selanjutnya mereka mengikuti kegiatan pengamatan satwa air yang di sampaikan oleh Wawan Anggriyandi. Setelah mereka mendengarkan materi dan arahan dari pemateri, mereka di minta turun kelapangan untuk mengamati satwa yang ada di air. Setelah mereka melakukan pengamatan di air, mereka di mingak untuk mempresentasikan hasil apa yang telah mereka amati.

Saat peserta fieldtrip melakukan pengamatan air. Foto dok : Anggi Relawan Konservasi RebonK/Yayasan Palung

Selesai melakukan pengamatan satwa air, mereka selanjutnya diajak untuk bermain game yang dipandu oleh Nurrahman dan Haning  Pertiwi.

Selesai mereka bermain (game), pukul 16.30 Wib, mereka bersiap-siap untuk masak, mandi dan sholat. Setelah sholat mereka makan bersama dengan lauk seadanya. Selesai makan, pukul 19.00 Wib, selanjutnya mereka melakukan pengamatan malam. Tetapi dikarenakan cuaca yang hujan, pengamatan malam diganti dengan penyampaian materi tentang Taman Nasional Gunung Palung yang disampaikan oleh Pihak TNGP yaitu Nurrahman dan Rama Matullah.

Dalam penyampaian materi, disebutkan; Taman Nasional Gunung Palung memiliki wilayah seluas 108 ribu hektare lebih. Di Taman Nasional Gunung Palung terdapat beberapa tempat wisata salah satunya Lubuk Baji, Bukit Begentar, Air Terjun Riam Berasap, dan Bukit Mandale.

Setelah penyampaian materi terkait tentang Taman Nasional Gunung Palung, peserta fieldtrip selanjutnya beristirahat tidur, untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan ke Batu Bulan pada esok harinya.

Pada pukul 04.00 Wib mereka bangun tidur, dan siap siap untuk sholat. Selesai sholat, pukul 05.00 Wib mereka langsung memulai perjalanan menuju Batu Bulan. Kurang lebih 30 menit di perjalanan, mereka pun sampai di Batu Bulan. Mereka (peserta fieldtrip) terlihat begitu menikmati indahnya pemandangan alam dari atas Batu Bulan, mereka juga dapat menyaksikan mentari pagi yang timbul dari balik Gunung Palung.

Pukul 07.00 Wib mereka pun melanjutkan perjalanan pulang menuju Camp Lubuk Baji dengan jalur perjalanan yang berbeda. Di perjalanan mereka menemukan sebuah pohon akar liana yang cukup besar dan batu batu yang berbentuk gerbang, batu tersebut disebut Batu Gerbang. Selain itu, mereka juga menemukan sarang orangutan, tetapi sayangnya kami tidak bertemu dengan orangutan.

Sampainya mereka di Camp, peserta selanjutnya sarapan pagi. Setelah mereka sarapan, mereka membereskan barang mereka untuk bersiap turun pulang. Sebelum pulang mereka bersama-sama membersihkan camp. Setelah membersihkan camp, mereka berkumpul sesuai kolompok yang telah di bagikan, dan mereka bersiap untuk turun pulang.

Kurang lebih 1 jam mereka di perjalanan, mereka beristirahat di Lubuk Bengkik untuk mandi. Setelah mandi, mereka melanjutkan perjalanan menuju Begasing. Sesampai di Begasing, mereka beristirahat sambil menungu mobil jemputan datang. Sampainya mobil jemputan datang, mereka langsung menuju ke Pantai Pulau Datok. Sampainya mereka di pantai, mereka makan bersama sambil menikmati suasana pantai.

Waktu menunjukkan pukul 16.00 Wib, mereka berkumpul menguncapkan terima kasih atas kegiatan fieldtrip yang berjalan lancar. Sebelum mengahiri kegiatan fieldtrip Mereka berdoa bersama-sama dan saling bersalaman atas berakhirnya kegiatan fieldtrip mereka.

Syarifudin, selaku Guru Parawisata SMK Negeri 1 Ketapang, mengungkapkan; “kegiatan ini adalah kegiatan dalam rangka fieldtrip, sebagai bagian dari pendidikan keparawisataan. Jadi, di jurusan UPW kegiatan ini tidak hanya dilakukan di dalam ruangan, tetapi juga melakukan kunjungan ke obyek wisata yang ada di Taman Nasional Gunung Palung. Kebetulan Taman Nasional Gunung Palung juga memikili kekayaan alam yang sangat indah, ini sangat baik untuk mengenalkan kepada siswa obyek wisata yang ada di Taman Nasional Gunung Palung”.

Whagea Saputra, Ketua kelas XII UPW SMK 1 Ketapang, mengatakan; Walaupun di  perjalanan sangat melelahkan, tetapi akhirnya terbayarkan oleh indahnya alam Lubuk Baji, selain juga kegiatan fieldtrip seperti ini membuat kami mendapatkan ilmu pengetahuan alam dan berbagai ekosistem yang belum pernah kami jumpai secara langsung.

Kegiatan Fieldtrip tersebut berjalan sesuai rencana dan mendapat sambutan baik dari peserta dan pihak sekolah.

Penulis: Egi Iskandar (Relawan Konservasi REBONK, angkatan 8)

Editor : Petrus Kanisius

Yayasan Palung

Iklan

Ketua Kelompok Usaha Tani dari Dusun Karya Bumi, Desa Pulau Kumbang, Kecamatan Simpang Hilir Menerima Penghargaan ProKlim dari KLHK


Berfoto bersama perwakilan dari Dinas Perkim-LH KKU saat menerima penghargaan ProKlim dari KLHK di halaman kantor Gubernur, Senin (28/1) kemarin. Foto dok : Yayasan Palung

“Ketua Kelompok Usaha Tani dari Dusun Karya Bumi, Desa Pulau Kumbang, Kecamatan Simpang Hilir Menerima Penghargaan ProKlim dari KLHK”

Hari ini, Senin (28/1/2019), Bang Erfan, Ketua Kelompok Usaha Tani dari Dusun Karya Bumi, Desa Pulau Kumbang, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara saat berfoto bersama perwakilan dari Dinas Perkim-LH KKU saat menerima penghargaan ProKlim dari KLHK di halaman kantor Gubernur.

Dengan ini maka Kelompok Usaha Tani tersebut akan didukung langsung oleh KLHK dan Pemda KKU melalui Dinas Perkim-LH melalui Program Kampung Iklim untuk kegiatan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.

Yayasan Palung dan Bidang Pengelolaan Lingkungan Hidup, Dinas Perkim-LH KKU bekerjasama sejak bulan Maret 2018 dalam melakukan identifikasi, pengusulan dan pendampingan terhadap kelompok tersebut untuk Program Kampung Iklim. Akan dibentuk Tim Pembina ProKlim di KKU dengan SK dari Bupati KKU, dan YP akan menjadi bagian dari Tim Pembina tersebut. (F. Wendy Tamariska -Yayasan Palung).

“Cerpen” Perkenalkan Aku Bekantan Satwa Endemik Kalimantan

Aku Satwa Endemik, Namaku Bekantan. Foto dok: Rizal Alqadrie

Perkenalkan, aku adalah Bekantan, aku berasal dari Kalimantan. Aku binatang endemik (aku hanya ada di Kalimantan saja lho, tidak ada di tempat lain). Aku seekor monyet berhidung mancung, Selain mancung, hidungku panjang dan besar. Karena hidungku yang mancung, aku disebut orang sebagai monyet belanda. Aku memiliki nama latin Nasalis Larvatus.

Aku (bekantan) berbeda dengan monyet biasanya, hidungku yang mancung membuatku lebih unik dari monyet biasanya. Hidungku yang mancung ini membuat bekantan betina tertarik akan memilihku untuk menjadi pasangannya.

O iya, ukuran panjang badanku kurang lebih 75 cm dengan berat mencapai 24 -30 kg. Sedangkan yang betina berukuran 60 cm dengan berat 12 kg. 

Aku (bekantan) lebih banyak menghabiskan waktu keseharianku di atas pohon, dan aku hidup secara berkelompok di pinggiran sungai. Di dalam satu kelompok ku terdiri dari satu bekantan jantan, beberap betina, dan anak-anakku. Aku sangat suka memakan sehingga perutku besar alias buncit. Aku sangat suka memakan pucuk daun (banyak dedaunan), aku juga suka memakan biji-bijian dan buah-buahan hutan di pinggir sungai.

Aku (bekantan) mempunyai kemampuan berenang dan dapat menyelam dalam beberape menit. Di sela-sela jari kakiku terdapat selaput yang dapat membantuku berenang, dan di hidungku terdapat katup yang dapat membantuku untuk menyelam.

Saat ini, keberadaan aku dan teman-temanku bekantan yang lain dalam keadaan terancam karena  rumah tempat tinggal kami berdiam semakin berkurang karena pembukaan lahan sehingga nafas alias nywa kami pun menjadi taruhannya. Kami takut, takut jikalau kami semakin terancam dan semakin langka bahkan punah.

Sampai saat ini aku (bekantan) ditetapkan sebagai hewan/satwa yang teracam punah dan di lindungi oleh undang-undang No. 5 tahun 1990 pasal 21 ayat 2. Barang siapa yang membunuh, menangkap, mengkonsumsi, memelihara dan memperjualbelikan aku (bekantan), akan di pidana paling lama 5 tahun penjara dan denda Rp 100 juta. Berharap aku bisa dilindungi dan bisa selalu hidup bebas di tepian sungai hingga hidup selamanya, hanya itu harapku.

Editor : Petrus Kanisius

Penulis: Egi Iskandar (Relawan Konservasi REBONK Yayasan Palung, angkatan 8)

Tahun ini, Yayasan Palung Siapkan 6 Beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan

Sejak 2012 Yayasan Palung (YP) dan Orangutan Republik Foundation (OURF) bekerjasama menyediakan beasiswa program S-1 melalui Program Peduli Orangutan Kalimantan (Bornean Orangutan Caring Scholarship). Pada tahun 2019, Yayasan Palung kembali menyediakan 6 (enam) beasiswa peduli orangutan kalimantan.

Program BOCS sudah memasuki tahun ke delapan. Penerima beasiswa akan dibiayai untuk kuliah di Universitas Tanjungpura.

Hingga tahun 2018 sudah terdapat 4 sarjana dan 27 mahasiswa aktif dari berbagai fakultas di Universitas Tanjungpura.

Syarat dan ketentuannya yakni calon mahasiswa berasal dari Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara. Diusulkan oleh pihak sekolah atau usulan siswa bersangkutan dengan meminta rekomendasi dari pihak sekolah.

Syarat selanjutnya bagi calon penerima beasiswa orangutan kalimantan antara lain sebagai  seperti ; Formulir pendaftaran dapat diperoleh di sekolah masing-masing atau menghubungi kontak Yayasan Palung, diisi dengan lengkap.

  1. Dengan menyertakan fotocopy berkas sebagai berikut:
    a. Fotocopy Raport dari semester 1 – 5 sebagai kualifikasi akademis,
    b. Surat pengantar dari kepala sekolah,
    c. Surat dukungan dari wali kelas / guru yang mengetahui keadaan siswa,
    d. Fotocopy Kartu Keluarga (KK).
  2. Membuat motivation letter atau pernyataan motivasi yang menceritakan tentang keadaan diri dan keluarga, pengalaman dan prestasi, cita-cita dan hubungannya dengan program studi yang dipilih, alasan harus diterima dan mengapa pantas sebagai penerima beasiswa. Minimum 200 kata, diserahkan sebanyak 3 (tiga) rangkap.
  3. Membuat Esai tentang manfaat pendidikan yang akan diterima bagi daerah [Ceritakan berangkat dari apa yang terjadi / keadaan alam dan lingkungan di daerah anda saat ini, apa peran pemerintah, swasta dan masyarakat terkait dengan keadaan tersebut. Berdasarkan keadaan tersebut, apa perbedaan yang akan Anda lakukan ketika sudah menjadi sarjana untuk konservasi di daerah Anda]. Esai dibuat dengan
    ketentuan: buah pikiran sendiri / orisinil dengan panjang 1000 kata, menggunakan gaya bahasa populer dengan kaidah 5 W 1 H (What, Who, When, Where, Why, How), jika mengutip dari tulisan orang lain harus mencantumkan daftar pustaka.
  4. Berkas pendaftaran dapat diserahkan langsung ke Yayasan Palung (Kantor Ketapang ataupun Bentangor Desa Pampang Kec. Sukadana) atau melalui jasa pengiriman paling lambat 13 Maret 2019.
  5. Tahap Penyeleksian
  6. Seleksi Tahap I: seleksi berkas, motivation letter dan esai. Hasil seleksi tahap I akan diberitahukan kepada pendaftar melalui telpon dan pesan singkat (sms / whatsapp) pada 16 Maret 2019.
  7. Seleksi Tahap Akhir: presentasi dan wawancara. Peserta diwajibkan mempresentasikan motivation letter, alasan memilih fakultas dan jurusan di UNTAN, dan esai, yang disajikan dalam power point (ppt), serta menjawab pertanyaan yang diajukan oleh tim juri. Seleksi ini akan dilaksanakan pada 28 Maret 2019di Kantor Yayasan Palung di Ketapang. Pengumuman seleksi tahap akhir akan disampaikan melalui surat resmi kepada pihak sekolah pada tanggal 28 Maret 2019.
  8. Penerima beasiswa yang lulus seleksi akan menandatangani Kesepakatan Penerima Beasiswa pada Malam Anugrah Beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan pada Mei 2019(jadwal masih tentatif).

Adapun hak penerima beasiswa orangutan kalimantan antara lain, setiap penerima beasiswa diberikan dana beasiswa dengan limit USD 1.500, untuk membiayai:

  • Daftar Masuk Universitas
  • Daftar Ulang selama 8 semester
  • Biaya Penelitian
  • Biaya Penulisan Skripsi
  • Biaya lain dipenuhi selama masih dalam limit dana beasiswa
  • Bagi Penerima Beasiswa yang mendapat UKT III, IV dan V, pembiayaan dihentikan jika sudah mencapai limit dana beasiswa, walaupun tidak memenuhi poin 1-4.
  • Peningkatan kapasitas dari Yayasan Palung

Berkas untuk pendaftaran sudah dikirim pihaknya ke sekolah-sekolah di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara(KKU). Berkas pendaftaran dapat diserahkan langsung atau melalui jasa pengiriman ke kantor YP di Ketapang. Dengan Alamat : Kantor Yayasan Palung, Jl. Kol. Sugiono, Gang H Ikram No 1  Ketapang, Telp/Fax: 3036367. Atau bisa juga di kirim ke Pusat Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung  di Dusun Pampang Desa Pampang Harapan Kecamatan Sukadana.

Setiap sekolah berhak mengusulkan dua siswa dan diutamakan yang kurang mampu secara ekonomi. Serta bersedia melakukan penelitian skripsi berkaitan aspek-aspek perlindungan dan penyelamatan Orangutan Kalimantan.  

Kemudian calon mahasiswa berencana kuliah di Untan Pontianak.  Memiliki prestasi yang baik dan berkomitmen untuk konservasi. Serta mempunyai motivasi tinggi untuk belajar atau kuliah hingga selesai.

Yayasan Palung sebagai lembaga non profit bekerja untuk konservasi orangutan dan habitat serta pengembangan masyarakat.  Maka YP bekerja dengan semua pihak yang mempunyai tujuan sama.

Terutama untuk perlindungan terhadap orangutan dan habitat di Ketapang dan KKU. Adapun tujuan program beasiswa orangutan tersebut meliputi beberapa hal di antaranya melahirkan generasi intelektual Ketapang dan KKU yang mempunyai komitmen dan kepedulian tinggi. Khususnyaterhadap upaya perlindungan dan penyelamatan Orangutan Kalimantan dan habitatnya.  Selain itu juga memberikan dukungan moril dan materil kepada generasi muda untuk meneruskan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Serta memajukan kerjasama pendidikan tentang potensi kekayaan alam lokal antara pihak-pihak di Ketapang dan KKU.

Hendri Gunawan, selaku Pembina Penerima Beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan (BOCS)  yang juga staf Yayasan Palung mengatakan; “Dengan adanya beasiswa peduli orangutan kalimantan ini tentunya kami berharap dapat membantu mewujudkan impian para siswa-siswi yang memiliki kesulitan ekonomi namun mempunyai keinginan tinggi untuk terus melanjutkan pendidikan ke jenjang perkuliahan, kemudian melalui beasiswa ini kami ingin menciptakan generasi muda yg intelektual dan memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan hidup serta lingkungan alam khususnya dalam konservasi orangutan dan habitatnya yang berada di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara”.

Brosur BOCS TAHUN 2019

YP_BOCS_formulir pendaftaran_ TAHUN 2019

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

22 Organisasi dan Komunitas di Kayong Utara Melakukan Aksi Peduli Tsunami Selat Sunda

Foto 1 : Beberapa dari peserta dari gabungan organisasi dan komunitas di Kayong Utara saat melakukan penggalangan dana untuk aksi peduli tsunami Selat Sunda, pada 2-3 Januari 2019, kemarin. Foto dok: Yayasan Palung

Tanggal 2-3 Januari 2019 kemarin, sejumlah organisasi dan komunitas di Kabupaten Kayong Utara melakukan aksi peduli  tsunami Selat Sunda. Aksi Kayong peduli tsunami Selat Sunda tersebut merupakan aksi peduli (penggalangan dana) untuk membantu meringankan beban saudara/saudari kita yang mengalami musibah.

Pada saat melakukan aksi peduli (penggalangan dana), peserta dari gabungan organisasi dan komunitas melakukan aksi di beberapa kecamatan yang ada di Kayong Utara, yaitu Kecamatan Sukadana, Kecamatan Simpang Hilir, dan Kecamatan Teluk Batang.

Aksi peduli tersebut dilakukan oleh dari 22 organisasi dan komunitas yang ada di kabupaten Kayong Utara.


Foto 2 : Beberapa dari peserta dari gabungan organisasi dan komunitas di Kayong Utara saat melakukan penggalangan dana untuk aksi peduli tsunami Selat Sunda, pada 2-3 Januari 2019, kemarin. Foto dok: Yayasan Palung

Adapun organisasi dan komunitas yang ikut serta dan berpartisipasi dalam aksi Kayong Utara peduli tersebut diikuti oleh 22 organisasi dan komunitas antara lain; Kayong Informasi Peduli, genPi kayong Utara, Ikatan Pemuda Surau Baitussalam, Kayong Visual ART, Friends Journey, Sispala Tapal, POM Kayong Utara, Kayong Mania, Content Creator KKU, Supermoto Kayong Utara, Penikmat Senja, Kayong Utara Skateboard, REBONK, Laskar Berkarya Kalbar, Siapala Grepala, Sispala Garda Pena, EAK, Amfibi Reptile Indonesia, BNP Chapter Kayong Utara, Pandara, Sispala LAND, dan Sispala Gana Sanda. 


Foto 3 : Peserta dari gabungan organisasi dan komunitas di Kayong Utara Berfoto bersama saat melakukan penggalangan dana untuk aksi peduli tsunami Selat Sunda, pada 2-3 Januari 2019, kemarin. Foto dok: Yayasan Palung

Aksi gabungan peduli tsunami Selat Sunda ini didukung oleh Kayong Informasi Instagram. Dari 22 organisasi dan komunitas yang berada di Kayong Utara di bagi dibeberapa titik pada saat melakukan penggalangan dana, yaitu di Sukadana, Simpang Hilir, dan Teluk Batang.

Aksi gabungan tersebut dilakukan pada waktu pagi dari pukul 07.00-11.00 WIB dan dilanjut pada pukul 14.00-16.00 WIB. Di hari pertama, kegiatan aksi gabungan peduli tsunami selat sunda, mereka melakukan brifing dan pembagian lokasi selama 15 menit. Di daerah Sukadana terdapat beberapa titik lokasi yaitu di bundaran Tugu Durian, Simpang Empat, Pantai Pulau Datok, dan Gang Serong. Di Simpang Hilir terdapat 2 titik yaitu di tugu simpang empat Polsek, dan Simpang 3 pasar, dan di daerah Teluk Batang terdapat 2 titik yaitu pelabuhan dan simpang empat.


Beberapa dari peserta dari gabungan organisasi dan komunitas di Kayong Utara saat melakukan penggalangan dana untuk aksi peduli tsunami Selat Sunda, pada 2-3 Januari 2019, kemarin.

Selama melakukan aksi peduli pada tanggal 2-3 januari 2019 kemarin, ada sesuatu yang unik dari salah satu organisasi saat melakukan aksi, seperti yang dilakukan organisasi REBONK (Relawan Bentangor untuk Konservasi), saat mereka melakukan aksi peduli (penggalangan dana) dengan memakai topeng dengan bentuk salah satu hewan yang dilindungi oleh undang-undang. Alasan mereka memakai topeng pada saat aksi peduli adalah agar terlihat lebih unik dan dapat menghibur masyarakat yang memberi sumbangan.

Selain memakai topeng, organisasi REBONK mempunyai ide untuk melakukan aksi peduli, yaitu dengan cara menghibur pengunjung yang berada di pantai Pulau Datok dengan memainkan gitar dan bernyanyi. Masyarakat Kayong Utara dan sekitanya begitu antusias dengan aksi Kayong Utara peduli tsunami Selat Sunda tersebut, terlihat banyak masyarakat yang menyumbangkan uang mereka dengan iklas saat kami melakukan penggalangan dana, bahkan ada juga masyarakat memberi makanan dan minuman kepada pemuda yang melakukan aksi peduli.

Hari terakhir aksi gabungan Kayong Utara peduli tsunami Selat Sunda pada tanggal 3 Januari 2019, pukul 11.00 WIB, mereka berkumpul di pantai pulau datok untuk melakukan penghitungan dana yang telah terkumpul selama dua hari aksi peduli pada tanggal 2-3 Januari 2019 di tiga titik kecamatan yang ada di kabupaten Kayong Utara. Hasil perhitungan (rekapitulasi) aksi gabungan Kayong Utara peduli tsunami Selat Sunda yang diikuti 22 organisasi dan komunitas yang ada di kabupaten Kayong Utara pada 2-3 Januari 2019 adalah Total dari keseluruhan dana yang terkumpul sebanyak Rp 35.592.600 dan keseluruhan dana yang terkumpul akan disalurkan melalui Rumah Zakat Provinsi Kalbar, agar bisa sampai kepada saudara-saudari kita di Selat Sunda.

Maskur, yang merupakan salah satu panitia aksi peduli mengatakan; Alhamduillah kegiatannya cukup sukses dan hasilnya memuaskan, untuk kedepannya semoga tidak ada lagi bencana yang menimpa Negara Indonesia.

Penulis : Egi Iskandar – Relawan REBONK, Angkatan 8

Editor : Petrus Kanisius – Yayasan Palung

Adakan Seminar Public Speaking Bagi Perempuan Sebagai Pemilih Pemula

“Perempuan Sebagai Pemilih Pemula”

Komisioner KPUD Kabupaten Ketapang, Ari As’ari  ketika menyampaikan presentasi terkait siapa pemilih pemula dalam 
Seminar Public Speaking Pemilih Pemulapemilu legislatif dan presiden 2019. Foto dok : Yayasan Palung

Senin, 10 Desember 2018 pekan lalu, bertepatan dengan hari Hak Asasi Manusia (Hari HAM Sedunia), YayasanPalung, Duta Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Ketapang (DP3AK) dan FAMM-INDONESIA secara bersama-sama mengadakan Seminar Public Speaking Pemilih Pemulapemilu legislatif dan presiden 2019.

Rangkaian kegiatan tersebutdirasa perlu untuk dilakukan (disosialisasikan) kepada pemilih pemula yang padakesempatan tersebut mengundang adik-adik dari sekolah-sekolah yang ada diKabupaten Ketapang, lebih khusus bagi mereka yang berumur 17 tahun ke atas.


Peserta yang ikut ambil bagian dalam Seminar Public Speaking Pemilih Pemula pemilu legislatif dan presiden 2019. Foto dok : Yayasan Palung

Sebagai pemateri di sesi pertama dengan materi terkait bagaimana Tata Cara Pemilu dan sekaligus penyampaian sosialisasi pemilih pemula adalah dari Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Kabupaten Ketapang, yang pada kesempatan tersebut disampaikan oleh Komisionernya Ari As’ari.

Dalam penyampaian presentasinya, Komisioner KPU mengajak pemilih pemula untuk berpartisipasi saat pemilu legislatif dan pemilihan presiden pada tahun 2019 mendatang. Dengan kata lain, KPU berharap agar pemilih pemula dapat menggunakan hak pilihnya sebagai warga negara agar tidak golput.

Pada sesi kedua dilanjutkandengan materi presentasi tentang Analisa Gender dan Ketimpangan Gender dalamPengelolaan Sumber Daya Alam yang disampaikan oleh Monalisa Pasaribu darilembaga Aid Enviroment Indonesia. Pemaparan dari materi presentasi yangdisampaikan adalah terkait  gender. Termasukbagaimana realita hak-hak perempuan yang boleh dikata masih minim dalam hal focusperhatian untuk diakomodir sepertinya misalnya masih minimnya wakil rakyat didaerah lebih khusus di perempuan di berbagai sektor tidak terkecuali penentu kebijakan. Selain itu juga dijelaskan pula terkait masih adanya kekerasan terhadapperempuan.

Merujuk dari data  CATAHU Komnas Perempuan, tahun 2018 menyebutkan; Tahun 2017 jumlah kasus Kekerasanterhadap Perempuan (KTP) yang dilaporkan meningkat sebesar 74% dari tahun 2016yaitu 348.446, jumlah ini melonjak jauh dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebesar259.150. Dengan demikian, perlu adanya kesadaran kolektif masyarakat untukmenurunkan jumlah kejadian Kekerasan terhadap perempuan di Indonesia.

Beberapa pesan yang berhasil mereka buat pada saat diskusi. Foto dok : Yayasan Palung 

Pada Sesi terakhir, MariamahAchmad dari Yayasan Palung menyampaikan presentasi tentang bagaimana membuat PesanKampanye dan Public Speaking. Pada sesi ini, pemateri mengajak peserta yangterdiri dari 86 orang yang berasal dari 10 sekolah di tingkat SMA/MA dan SMK diKabupaten Ketapang tersebut diajak untuk membuat pesan-pesan kampanye sepertimembuat pesan kampanye tentang lingkungan, membuat pesan kampanye tentanghak-hak perempuan. Peserta dibagi menjadi beberapa kelompok dan mereka praktekmembuat pesan kampanye dan  selanjutnyamereka menyampaikannya melalui presentasi.

Beberapa pesan Kampanye yang berhasil mereka buat. Foto dok : Yayasan Palung

Dalam setiap sesi dipersilakankepada peserta untuk berdiskusi atau pun bertanya terkait materi yangdisampaikan.

Ko Susanti selaku ketua DP3AK berharap, semoga kegiatan seminar seperti ini bisa bermanfaat dan dapat meningkatkan kesadaran bagi perempuan untuk semakin menghargai pribadinya secara bijaksana dalam segala hal untuk maju dan berkembang menjadi perempuan yang tangguh.

Dalam kegiatan yang dimulai sejak pagi menjelang petang tersebut, peserta seminar diajak mengampanyekan kegiatan tanpa memakai wadah minuman kemasan plastik sekali pakai dengan menyediakan botol minuman wadah lama pakai BPA free untuk peserta, kata Mariamah Achmad.

Ini juga pesan yang ingin disampaikan secara bersama-sama. Foto dok : Yayasan Palung

Serangkaian kegiatan yangdiselenggarakan di ruang Aula Dinas Pertanian, Perkebunan dan PeternakanKabupaten Ketapang tersebut berjalan sesuai dengan rencana dan mendapatsambutan baik dari peserta.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Kelompok LPHD Desa Nipah Kuning Olah Kelapa Menjadi Minyak yang Kaya Manfaat

“Olah Kelapa Menjadi Minyak yang Kaya Manfaat”

Ini sekelumit cerita dari masyarakat Desa Nipah Kuning, mereka berinovasi dan mengolah potensi yang ada di Desa mereka (Kelompok LPHD Desa Nipah Kuning, Kecamatan Simpang Hilir, Sukadana) mengolah kelapa menjadi minyak VCO yang kaya akan manfaat.

Video inovasi desa lainnya, ELIS mama Muda CANTIK- Srikandi Desa Penjalaan Penggerak EkonomiKreatif : https://www.youtube.com/watch?v=hbZzbY0Ll8s&t=150s

Berharap cerita mereka ini bisa menginspirasi kita semua, terima kasih.

Sumber informasi video dokumen dari Warta Kayong

Pit- Yayasan Palung

Pelatihan Kampanye Kesadaran Konservasi dengan Cara-cara Kreatif

peserta pelatihan menerapkan metode world cofe dari  materi public speaking. Yayasan Palung

“Kampanye Kesadaran Konservasi dengan Cara-cara Kreatif”

Bertempat di Canopy  Center Pontianak, mahasiswa-mahasiwi penerimaBeasiswa orangutan Kalimantan diberikan Pelatihan Kampanye Kesadaran Konservasiuntuk penerima BOCS (Bornean Orangutan Caring Scholarship) 2018, yang dilaksanakan selama tiga hari.

Kegiatan yang dilaksanakan selama 3 hari, 30 November 2018 sampai 02 Desember 2018 dan diikuti oleh 23 orang penerima BOCS angkatan 2014 sampai 2018.

Ada pun materi yang disampaikan dalam pelatihan tersebut antara lain seperti;

  • Berbicara yang baik di depan umum (Public Speaking),
  • Wawancara yang baik (Good Interview),
  • Advokasi penegakan hukum satwa liar,
  • Membuat CV profesional,
  • Merencanakan event kampanye dengan baik,
  • Pembiayaan perubahan iklim (Climate Change Finance),
  • Menentukan tujuan dengan metode SMART (Spesific, Measurable, Attainable, Relevant, Timely).

Pelatihan ini merupakan salah satu bentuk kegiatan yang dilakukan oleh Yayasan Palung untuk menyiapkan penerima beasiswa yang kreatif dalam melakukan kampanye untuk meningkatkan kesadaran konservasi orangutan dan habitat di tengah masyarakat, juga sebagai bekal keterampilan untuk mereka bekerja nantinya.

Sebagai pemateri dalam kegiatan tersebut adalah Terri Lee Breeden, Marimah Achmad, Simon Tampubolon (Yayasan Palung), Sri Ranti (Yayasan Planet Indonesia) dan Suhani (Yayasan Titian).

Semua rangkaian kegiatan yang dilakukan selama 3 hari tersebut berjalan dengan baik dan peserta penerima BOCS mendapatkan banyak pengalaman dan manfaat dari pelatihan ini.

Simon Tampubolon – Yayasan Palung

Editor : Petrus Kanisius-Yayasan Palung

@savegporangutans @orangutanrepublik

Untuk melihat lebih banyak Foto klik : https://www.instagram.com/p/Bq_9W_OAtWK

#BOCS #publicspeaking #worldcafe #borneanorangutancaringscolarship #training #pontianak #termofreference #interview #campaign #kampanye #advokasi #satwaliar #borneanorangutan #saveorangutan #climatefinance #mindmap #curriculumvitae #resume #icebreaking #creative

Laporan Tahunan Yayasan Palung Tahun 2017

Cover Depan Laporan Yayasan Palung tahun 2017

Mau tau apa saja yang Yayasan Palung kerjakan selama rentang waktu tahun 2017, berikut laporan tahunannya :

Klik link berikut untuk melihat laporan tahunan 2017 

Ajak Masyarakat Dusun Layang-layang Beternak Ikan Lele

 

Saat Yayasan Palung dan BTNGP berdiskusi bersama dengan masyarakat di Dusun Layang-layang, Desa Matan Jaya , untuk merencanakan beternak ikan lele. Foto dok : Yayasan Palung

Pada tanggal 27-29 November 2018 kemarin,Yayasan Palung bekerjasama dengan TNGP memulai program pemberdayaan masyarakat mengajakmasyarakat beternak ikan Lele, bertani pertanian organik dan pemanfaatan HHBK.

Adapun tujuan dengan adanya ajakan untuk beternak lele sebagai langkah agar masyarakat tidak bergantung lagi dengan mencari Kayu.

Wendy F. Tamariska, selaku manager program SL Yayasan Palung bersama pihak dari BTNGP bermelakukan diskusi sosialisasidan juga perencanaan untuk melanjutkan program beternak ikan Lele, bertanipertanian organik dan pemanfaatan HHBK. Dalam diskusi tersebut dihadiri oleh 20 orang perwakilan dari Dusun Layang-layang.

Kolam untuk rencana beternak ikan lele di Dusun Layang-layang, Desa Matan Jaya. Foto dok : Yayasan Palung

Kolam-kolam sudah jadi dan siap untuk diisi bibit Lele. Semoga berhasil budidaya lele dan juga program berjalan dengan lancar. Selanjutnya akan didatangkan trainer Budidaya Lele, sekaligus juga dengan bibit, dan obat vitamin, pakan lele tersebut.   

Seperti diketahui, Desa Matan Jaya merupakan desa yang berbatasan langsung dengan wilayah Taman Nasional yang hanya dibatasi Sungai. Terdapat 17 Kepala Keluarga (KK) yang terdiri dari 14 rumah di dusun tersebut, dan sebagian besar masyarakatnya bekerja sebagai pencari Kayu (Logger).  

Syahik Nurbani-Yayasan Palung