Bertutur Tentang Satwa Dilindung dengan Media Boneka (Puppet Show) kepada Anak Sekolah

IMG_20181018_082807

Saat bercerita/bertutur dengan media boneka (Puppet Show) bercerita tentang satwa dilindungi kepada anak-anak di sekolah-sekolah. Foto dok : Yayasan Palung

Kamis (18/10) pagi, Yayasan Palung berkesempatan untuk bertutur kepada anak sekolah tentang satwa dilindungi di SDN 13 Sukabangun, Ketapang, Kalbar. Setelah Rabu(17/10) kemarin, kami juga bertutur di SDN 04 Delta Pawan, Ketapang.
Bertutur dengan media boneka tentang satwa dilindungi sebagai satu cara dari banyak cara yang bisa dilakukan saat ini kepada anak usia dini. Alasannya mereka dapat dengan mudah menerima informasi dari edukasi yang disampaikan dengan cara bertutur. Selain juga, sebagai salah satu  cara kami untuk melakukan pendidikan lingkungan dan penyadartahuan kepada anak usia dini.
Pada kempatan tersebut, kami bertutur  tentang kehidupan satwa dilindungi dialam liar. Mereka (satwa) juga memiliki peranan penting bagi makhluk hidup lainnya untuk terus berlanjut hingga nanti.
Ada pun tokoh-tokoh yg diceritakan dalam cerita tersebut antara lain satwa dilindungi dan terancam punah seperti orangutan, burung enggang/rangkong, kelempiau, selain itu ada bekantan yg tidak hanya dilindungi dan terancam punah tetapi juga satwa yang dikenal dengan sebutan si hidung mancung tersebut merupakan satwa khas (endemik) Kalimantan.
Pada cerita disebutkan satwa seperti orangutan dan enggang adalah petani hutan karena mereka sebagai prnyebar biji-bijian yg nantinya akan tumbuh menjadi tunas pohon-pohon baru (hutan) yang juga memiliki banyak manfaatnya bagi mahkluk hidup lainnya, sebagai contoh, adanya hutan adanya kehidupan, adanya hutan dapat memberi manfaat berupa nafas dan penyedia/penampung air serta penangkal terjadinya bencana seperti banjir dan tanah longsor.
Selain juga kami juga bertutur/bercerita bahwa satwa tidak boleh dipelihara dan kontak langsung seperti halnya orangutan karena bisa saja menyebarkan penyakit dan yang terpenting, satwa dilindungi diatur oleh undang-undang dan jika melanggar bisa terkena sanksi berupa denda atau pun hukuman penjara.
Terlihat, antusias dan semangat dari siswa-siswi kelas 4 yang mengikuti kegiatan tersebut.
Pada kesempatan tersebut, penutur yang bercerita dari Yayasan Palung adalah Haning Pertiwi, Petrus Kanisius, dan 4 siswa-siswi magang : Eti, Neneng dan Dewi  dari SMKN 1 Sukadana dan Iin dari SMKN 1 Ketapang.
Berharap dengan adanya puppet show tentang satwa dilindungi ini, siswa-siswi ada informasi dan pengetahuan baru. Selain itu, semoga saja ada tumbuh kecintaan mereka untuk menjaga dan melindungi satwa-satwa dilindungi dengan cara-cara sederhana.
(Petrus Kanisius – Yayasan Palung).
Iklan

Potret Buram Konflik dan Kejahatan terhadap Satwa Kian Merajalela di Indonesia

Si raja hutan ini ditemukan mati tergantung di pinggir jurang dengan tali sling melilit di pinggangnya

Harimau sumatera betina yang sedang bunting ditemukan mati akibat jeratan di Kabupaten Kuansing, Riau, Rabu (26/9/2018). Si raja hutan ini ditemukan mati tergantung di pinggir jurang dengan tali sling melilit di pinggangnya. Dok. BBKSDA Riau (Kompas.com/Idon Tanjung).

Konflik dan kejahatan terhadap satwa tampaknya kian merajalela terjadi di beberapa wilayah Indonesia. Tentu ini menjadi potret buram akan nasib dan keberlanjutan nafas hidup terhadap satwa-satwa dilindungi.

Iya benar saja, pada tahun 2018 saja, setidaknya ada dua peristiwa memilukan terjadi yaitu matinya harimau sumatera yang sedang bunting karena jerat pemburu, pada (27/9/2018), dan sebelumnya pada (6/1/2018), anak gajah Sumatera yang ditemukan mati di Kabupaten Pidie, Aceh.

Terjadinya konflik dan kejahatan terhadap dua satwa ini menjadi tanda nyata dan tanda tanya mengapa satwa seperti harimau dan gajah Sumatera menjadi primadona untuk diburu oleh para oknum pemburu? pada hal Undang-Undang sudah tegas mengatur dengan sanksi dan hukuman sebagai upaya memberikan efek jera kepada pelaku.

Merunut dari berbagai data yang tersaji, maraknya (merajalelanya) konflik dan kejahatan terhadap satwa antara lain karena:

Pertama, semakin meningkatnya permintaan pasar ilegal (pasar gelap) terhadap satwa dilindungi yang semakin merajalela dan semakin sulit dilacak karena berbagai modus.

Kedua, beberapa bagian tubuh dari satwa seperti hewan atau satwa dilindungi diminati sebagai bahan aksesoris yang selalu diminati.

Ketiga, masih minimnya pengetahuan atau pun penyadartahuan oleh pelaku kejahatan (pemburu satwa liar) terhadap satwa dilindungi.

Keempat, pelaku kejahatan satwa acap kali mengatasnamakan perburuan yang mereka lakukan sebagai kepentingan perut (sumber penghasilan) semata.

Kelima, hilangnya habitat satwa dilindungi berupa hutan menjadi satu ancaman yang tidak kalah hebatnya. Hilangnya sebagian besar luasan hutan sedikit banyak berdampak pada semakin sulitnya satwa-satwa dilindungi untuk berkembang biak dan melanjutkan nafas hidupnya.

Keenam, penegakan hukum yang masih minim terhadap pelaku kejahatan terhadap satwa dilindungi sehingga tidak ada efek jera oleh si pelaku.

Mengutip dari halaman news.detik.com menyebutkan, “Di Indonesia sendiri kejahatan satwa liar menduduki peringkat ketiga, setelah kejahatan narkoba dan perdagangan manusia, dengan nilai transaksi hasil penelusuran PPATK diperkirakan lebih dari Rp 13 triliun per tahun dan nilainya terus meningkat,” kata Siti Nurbaya dalam keterangan tertulis, pada Senin (30/4/2018) beberapa bulan lalu.

Hal lain sekiranya adalah pemberlakukan sanksi tegas bagi pelaku kejahatan terhadap satwa menjadi satu cara mujarab sebagai efek jera, mengingat selama ini pelaku kejahatan satwa hanya dihukum dengan sanksi ringan. Pada hal Undang-Undang No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Keanekaragaman Hayati dan Ekosistemnya, sudah mengatur jelas tentang hukuman dan konsekuensinya apabila melanggar.

Kejahatan terhadap satwa yang terjadi dan semakin masif sedikit banyak menjadi tantangan baru bagi para penegak hukum dan para lembaga yang peduli terhadap satwa dilindungi saat ini.

Di samping juga diperlukan langkah-langkah strategis seperti kampanye penyadartahuan kepada masyarakat luas yang harus terus menurus dilakukan oleh semua pihak. Mengingat, segala upaya perlindungan dan penyelamatan satwa sejatinya telah dilakukan oleh berbagai pihak antara lain BKSDA dan banyak lembaga atau organisasi lingkungan yang tersebar dibeberapa wilayah Indonesia harus didukung oleh semua pihak pula.

Selanjutnya juga yang tidak kalah pentingnya bagi masyarakat luas adalah jangan sekali-sekali membeli produk, bahan, aksesoris dan lain sebagainya dari bahan dasar hewan dilindungi atau bagian-bagiannya karena itu sama saja dengan mendukung aksi konflik dan kejahatan terhadap satwa.

Dengan kata lain, membeli atau pun mengkonsumsi produk atau barang-barang (bagian-bagian tubuh satwa) atau pun segala sesuatu yang berasal dari satwa dilindungi sama halnya dengan mendukung kepunahan terhadap satwa itu sendiri.

Tentu ini tidak bisa disangal dan menjadi potret buram yang setidaknya menjadi tantangan sekaligus menjadi keprihatinan semua sembari berharap ada langkah tepat agar tidak terjadi kembali kasus-kasus serupa terhadap satwa dilindungi yang saat ini nasibnya semakin kritis menjelang hilang alias punah.

Tidak kalah pentingnya juga terkait ruang bebas bagi satwa yaitu biarkan satwa-satwa dilindungi hidup di alam bebas tanpa terus dan harus terpenjara karena hewan memiliki hak yang sama untuk bebas dalam menjalani kehidupannya.

Biarlah hewan-hewan (satwa dilindungi) untuk hidup bebas di alamnya tanpa harus diusik atau terusik. Bukankah kita sesama makhluk harus selalu untuk saling menghargai satu sama lainnya dengan cara-cara yang bijaksana sehingga dengan demikian semua makhluk boleh hidup harmoni hingga lestari selamanya. Semoga saja…

Sumber tulisan ini : Diolah dari berbagai sumber

Tulisan ini sebelumnya telah dimut di Kompasiana : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/5bb70057ab12ae56ea177342/potret-buram-konflik-dan-kejahatan-terhadap-satwa-kian-merajalela-di-indonesia

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Ironis, 5 Burung yang Dulu Dilindungi Kini “Dikeluarkan”

Lima burung yang dikeluarkan dari daftar dilindungi. Grafis dok. Profauna

Lima burung yang dikeluarkan dari daftar dilindungi. Grafis dok. Profauna

Mulanya mereka ini ( lima burung) masuk dalam daftar dilindungi, namun kini nasib berkata lain mereka dikeluarkan dari daftar satwa dilindungi.

Mengutip dari halaman change.org terkait tentang; “Tolak P92/2018 dan Kembalikan Status Perlindungan 5 Jenis Burung ini!”, mengajak para pihak untuk menandatangani petisi untuk dukungan mengembalikan lima jenis burung ke dalam daftar dilindungi.

Iya, berdasarkan keluarnya Revisi  terkait Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No.92 Tahun 2018 (PermenLHK 92/2018) sebagai perubahan atas PermenLHK 20/2018.

Hanya dalam kurun waktu kurang dari 3 bulan, bukan hanya TIGA namun LIMA spesies burung dikeluarkan dari daftar, yaitu kucica hutan/murai batu, jalak suren, dan cucak rawa serta dua spesies tambahan lainnya yaitu anis-bentet kecil (Colluricincla megarhyncha) dan anis-bentet sangihe (Colluricincla sanghirensis), demikian disebutkan di petisi tersebut sekaligus juga mempertanyakan revisi dan mendesak untuk menggembalikan status 5 jenis burung agar tetap dalam daftar dilindungi.

Atas keluarnya peraturan menteri tersebut membuat ratusan lembaga konservasi kecewa. Benar saja, kekecewaan sangat beralasan sekali, menginggat sudah semestinya nasib dari kelima burung tersebut sejatinya harus tetap dilindungi.

(Ironis memang terkait status dilindungi sejatinya harus tetap disematkan kepada burung-burung tersebut), disatu sisi segala upaya yang terus dilakukan oleh lembaga konservasi untuk melindungi malah bertolak belakang dengan peraturan menteri  mengeluarkan burung-burung tersebut dari daftar dilindungi)

Ada pun 5 daftar nama burung tersebut adalah: Anis-bentet sangihe (Colluricincla sanghirensis), Cucak rawa, Kucica hutan/murai batu, Jalak Suren dan Anis-bentet kecil (Colluricincla megarhyncla).

Revisi itu dinilai tanpa kajian ilmiah yang mendalam sehingga menimbulkan kekecewaan ratusan organisasi konservasi terhadap kebijakan Menteri LHK, Siti Nurbaya yang merevisi peraturan menteri no.20 yang mengeluarkan 5 jenis satwa (burung) dari daftar satwa dilindungi tersebut. Dukungan untuk mengembalikan status dilindungi kepada kelima burung tersebut melalui petisi sudah semestinya harus dilakukan, Tolak P92/2018 dan Kembalikan Status Perlindungan 5 Jenis Burung ini!.

Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di kompasiana, untuk membaca lebih lengkap klik di link https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/5baddb62ab12ae0f23340267/ironisnya-nasibmu-lima-burung-dulu-dilindungi-tetapi-kini-dikeluarkan

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Liana si Penumpang pada Pohon dan Pemberi Manfaat bagi Satwa

Tumbuhan Liana yang menumpang pada pohon. Foto dok. Syahik Nur Bani,YP

Tumbuhan Liana yang menumpang pada pohon. Foto dok. Syahik Nur Bani,YP

Tumbuhan ini jika boleh dikata adalah tumbuhan Penumpang pada tumbuhan lain, mungkin itu kata yang cocok untuk dikatakan kepada tumbuhan liana. Tumbuhan ini pun sangat banyak sekali tumbuh dan hidup di wilayah hutan hujan tropis, tidak terkecuali di Taman Nasional Gunung  Palung (TNGP) yang diketahui banyak memberikan manfaat bagi satwa.

Ia bukan pohon, tetapi tumbuhan. Hidup menempel (menumpang) serta menjalar pada pohon sebagai penopangnya untuk mendapakan cahaya matahari. Tidak hanya itu, tumbuhan liana bukan tumbuhan parasit (tumbuhan yang merugikan tumbuhan lain) seperti ficus sp (kayu ara) misalnya.

Menariknya, tumbuhan liana ternyata banyak memberikan manfaat bagi satwa. Seperti misalnya akar liana yang menjalar atau menggantung bisa menjadi arena bermain bagi satwa dan buah dari liana menjadi makanan favorit satwa.

Tidak hanya buah, tetapi satwa seperti orangutan sangat suka memakan daun muda dan kulit dari liana. Untuk buah, orangutan sangat senang memakan buah liana jenis Willugbeia sp (buah jantak) karena rasanya manis.

Beberapa satwa seperti monyet ekor panjang, kelempiau, kelasi dan orangutan diketahui sangat menyukai tumbuhan liana sebagai makanan. Selain liana dari jenis akar kuning ada jenis lainnya yang dimanfaatkan oleh binatang disana seperti, tapal kaki kuda (Bahuinia sp), cakar elang/pancingan (Uncaria sp), Combretum spdan lain-lain.

Seperti diketahui, kelimpahan liana di Stasius Penelitian Cabang Panti (SPCP) di Taman Nasional Gunung Palung (TNGP) sangat padat baik dari dataran rendah hingga dataran tinggi. Diketahui pula, keberadaan tumbuhan liana sebagai penanda (ciri khas) bahwa hutan di Indonesia merupakan hutan hujan tropis.

“Tumbuhan liana merupakan tumbuhan yang memiliki batang yang keras namun untuk mendapatkan cahaya matahari untuk berfotosintesis (proses pertukaran CO2 dan O2). Liana membutuhkan lain seperti pohon. Akar liana  berbeda dengan Ficus sp.  Ficus  sp (kayu ara) organ tubuhnya menempel pada pohon.

Liana  merupakan salah satu tumbuhan parasit karena dapat memberi luka pada tumbuhan lain, tetapi liana bukanlah parasit yang ganas”, ujar Riduwan salah satu mahasiswa Kehutanan Universitas Tanjungpura yang melakukan penelitiannya selama 1 setengah bulan di Cabang Panti, Taman Nasional Gunung Palung ketika menyampaikan perentasi hasil penelitiannya di Kantor Yayasan Palung beberapa hari lalu.

Untuk membaca lebih lengkapnya, klik : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/5ba3411a43322f5cbf3ba9b3/liana-si-penumpang-pada-pohon-dan-pemberi-manfaat-bagi-satwa

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Asyiknya Bisa Tinggal Bersama di Cabang Panti dan Meneliti Feses (kotoran) Orangutan

IMG-20180910-WA0016

Isma Fatiha saat meneliti feses (kotoran) orangutan di laboratorium di Cabang Panti, TNGP. Foto dok : Isma/Yayasan Palung

Perkenalkan nama saya Ishma Fatiha, mahasiswa Biologi UIN Jakarta. Sudah 6 bulan saya tinggal di Kalimantan, pulau yang orang bilang “penuh cerita mistis”, tepatnya di Stasiun Riset Cabang Panti, Taman Nasional Gunung Palung. Awalnya gak kepikiran gimana harus tinggal 6 bulan di tengah hutan, waktu itu hanya pikir ya jalanin ajalah ya mau gimana juga. Sebelum datang pun sudah diberitahu bagaimana kondisi di CP, dari mulai jalan menuju ke sana yang harus jalan kaki 18 Km, bagaimana di camp, jarang ada sinyal juga dan sebagainya.

Pertama datang ke CP itu tanggal 11 Februari 2018. Mulai jalan dari Tanjung Gunung, sekitar jam 3 sore dan sampai di camp jam 8 malam. Saat itu sangat tidak menikmati perjalanan, mungkin karena baru pertama kali. Rasanya capek banget dan saat sampai di camp pun sudah tidak ada mood untuk lihat-lihat (gelap juga sih, ga bisa liat-liat). Intinya sampai camp langsung mandi, makan dan tidur. Dan keesokan paginya saat bangun dan keluar camp, baru sadar kalo sudah ditengah hutan dan itu indah banget.

IMG-20180910-WA0015

Isma saat melakukan pengecekan sampel feses orangutan di laboratorium. Foto dok : Isma/Yayasan Palung

Hari kedua di sana, hanya istirahat dan presentasi tentang penelitian yang mau dilakukan disana. Selain itu juga diajak lihat-lihat seluruh isi camp, mulai dari camp Cabang Panti, camp nyamuk, camp litho, gudang makanan, sungai tempat mandi dan lab. Sebenarnya paling ‘wow banget’ sama lab, karena aku kan pakai lab untuk proyek penelitianku dan ini lab lapangan paling lengkap yang pernah aku liat selama ini. Meskipun ya namanya juga di lapangan, ada aja kendalanya sih, tapi enjoy banget buat kerja disana bahkan sampai malam. Yang paling gak ngebosenin pas kerja di lab itu karena bisa sambil liat ke hutan sih. Kadang lagi kerja tiba-tiba sekelompok macaca datang dan makan di mangifera samping camp. Atau ada rangkong dan trogon yang bertengger di pohon sekitar camp, colugo entah dari mana muncul dan hinggap di batang pohon dan bahkan orangutan (re: Bibi-Bayas) yang seringkali datang buat makan mangifera dan cempedak dekat camp.

Pada waktu awal-awal datang di camp sedang tidak ada orangutan. Jadi hanya ikut asisten untuk cari orangutan sekalian menghafal trail (jejak) atau rintis yang ada di Cabang Panti. Saat pertama jalan disana semua rintis terlihat sama dan rasanya bakal tersesat terus kalau jalan sendiri. Tapi kelamaan malah lebih suka untuk cari orangutan sendiri. Karena lebih fokus dan bisa liat-liat hal lain juga yang kadang gak disadari pas jalan sama orang lain dan juga malah lebih cepat hafal rintis ketika jalan sendiri. Yaa.. karena mau gak mau harus cari jalan buat balik ke camp. Selama 6 bulan disana kayaknya hampir setiap hari pergi ke hutan buat cari orangutan, tapi frekuensi ketemunya sedikit banget. Sampai kadang lupa kalo kesana buat orangutan dan malah keasyikan liat rangkong (yang gak ada sih di tempatku), atau hal lain yang menarik disana.

Bicara ketemu orangutan, aku ingat pertama ketemu orangutan itu langsung ketemu 3 individu, Tari- Telur- Tawni. Mereka ibu- remaja- anak. Waktu itu sih yang ketemu pertama itu Brodie. Kemudian dia hubungi lewat radio. Jadi asisten tahu dimana orangutan itu dan bisa langsung follow. Aku inget mikir wow ternyata ini orangutan di hutan yang sebenarnya, dan disitulah pertama tau gimana rasanya ikut orangutan sampai ke sarangnya juga gimana susahnya ikut pergerakan mereka. Kalau pengalaman pertama ikut orangutan tanpa asisten itu ikut sama Tari-Tawni juga dan juvenil yang tidak dikenal. Waktu itu hanya berdua dengan Uci dan orangutan tidur sangat malam. Hasilnya, semua orang di camp panik karena kami masih baru dan belum hafal rintis, dan mereka pikir kami tersesat.

IMG-20180910-WA0017

Isma ketika mengambil sampel feses orangutan di hutan. Foto dok : Isma/Yayasan Palung

Setelah sekitar 3 minggu di camp, aku baru mulai ambil sampel feses dan kerja di lab untuk proyek penelitianku. Kenapa lama?, Ya karena harus menyesuaikan diri, latihan pakai alat lapangan dan lab dan juga karena sulitnya cari orangutan saat itu. Udah gitu ada orangutan pun belum tentu ada feses. Karena tidak bisa diprediksi apakah orangutan defekasi hari itu atau apa jumlahnya cukup untuk semua analisis. Dan hal yang jadi tantangan juga pas lagi koleksi sampel feses, mulai dari harus cari dimana fesesnya jatuh sampai resiko ketimpa feses orangutan. Pernah sekali ketimpa feses orangutan. Kesel sih, tapi seneng juga karena dapet sampel (btw harus hati-hati sama feses orangutan karena potensi zoonosis itu). Ya itu pelajaran juga sih harus liat-liat kalo mau ambil sampel. Analisis di lab juga jadi satu tantangan. Itu karena listrik hanya ada di sore hari dan alat lab butuh listrik juga. Jadi kadang ngelab sampai malam banget kalau lagi banyak sampel (dan kadang sendirian karena semua orang udah selesai kerja).

Tapi meski lama, enaknya disana semua orang mau bantu kami untuk belajar (banyak banget sih yang harus dipelajari) dan bahkan juga bantu proyek kami. Itusih yang buat betah banget. Ya karena hidup di tempat yang sama, dalam waktu yang lama, di hutan ketemu dia, di camp dia lagi, jadi kekeluargaannya kerasa banget. Semua orang berusaha agar satu sama lain tuh betah dan gak bosen. Ya kadang ngeselin sih karena bercandanya berlebihan, tapi mungkin itu jadi hal yang nanti bakal diingat pas sudah tidak di CP.

Sebenarnya susah banget buat nulis ini. Bingung, gak tau apa yang harus ditulis. Padahal 6 bulan tapi terasa singkat banget. I try to keep track of everything in my head, big things to little things, but its like trying to hold on to a fistful of sand. Meski rasanya banyak yang ingin diceritakan tapi bingung. Intinya i hope i will have a chance to come to CP again someday (saya berharap, saya punya kesempatan untuk berkunjung ke CP suatu hari nanti).

Penulis : Ishma Fatiha, Mahasiswa Biologi UIN Jakarta

Tidak Hanya Belajar di Kelas tetapi Turun Secara Langsung di Alam

IMG-20180824-WA0006

Saat belajar secara langsung dengan anak-anak di alam tentang tumbuhan (morfologi daun). Foto dok : Yayasan Palung

Tidak terasa perkulihan  pada semester dua di Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura (UNTAN) telah saya lalui, ketika liburan semester genap berlangsung sebagai salah seorang penerima BOCS (Bornean Orangutan Caring Scholarship) atau Beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan saya berkewajiban untuk magang. Seperti penerima-penerima BOCS sebelumnya, waktu dan tempat magang bagi penerima BOCS baru telah ditentukah dari pihak Yayasan Palung.

Hanya ada dua tempat lokasi magang, yaitu Kantor Yayasan Palung Ketapang dan Kantor Yayasan Palung (Bentangor). Untuk magang kali ini saya ditempatkan di Kantor Yayasan Palung (Bentangor) Kabupaten Kayong Utara.

Selama lebih dari tiga minggu magang (di bulan Agustus 2018), banyak pengalaman dan keseruan yang saya dapatkan. Saya telah melakukan berbagai kegiatan baik mengikuti program Sustainable Livelihoods (SL) atau program pemberdayaan dan pendampingan terhadap masyarakat, dan program Pendidikan Lingkungan (PL).

Pada minggu pertama, kegiatan saya awali dengan mengikuti acara Kayong Expo 2018 atau pameran di Pantai Pulau Datok. Kegiatan tersebut berlangsung selama lima hari. Yayasan Palung bekerja sama dengan Lembaga Pengolahan Hutan Desa (LPHD) membuka lapak produk Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) dari pengrajin dan petani binaan Yayasan Palung. Sebagai tenaga magang, saya bertugas menjaga lapak dan menjelaskan kepada pengunjung yang saya ketahui tentang produk-produk hasil olahan HHBK. Aktifitas ini menjadi sangat menarik karena antusias warga lokal atau luar yang sangat berminat untuk membeli produk-produk yang dipamerkan, seperti: tikar, lekar, tas, madu, minyak kelapa, dan lain-lain.

Sedangkan di minggu kedua, saya terfokus pada Program SL. Kegiatan yang kami lakukan adalah Pemetaan Damplot di  kebun durian petani Meteor Garden di Dusun Pampang, Desa Pampang Harapan, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Kayong Utara, selama tiga hari. Seperti yang kita ketahui kebun para petani Meteor Garden berbatasan langsung dengan kawasan Taman Nasional Gunung Palung (TNGP).

Sebagai daerah yang rawan konflik pemangku kepentingan, jadi perlu adanya pengambilan data sebagai penanda kebun durian milik para petani Meteor Garden. Sebagai asisten tim survey, saya bertugas mengambil data titik koordinat tanaman durian. Adapula kegiatan membibitan cabai di rumah pembibitan kelompok petani Meteor Garden. Disini saya membantu petani selama proses pembibitan. Mulai dari menggemburkan tanah dan mencampurnya dengan kompos organic, mengisi polibag, hingga pembibitan.

IMG-20180824-WA0005

Saat memberikan materi tentang satwa dilindungi kepada anak-anak dengan media boneka. Foto dok : Yayasan Palung

Kemudian pada minggu ketiga, saya mengikuti kegiatan Pendidikan Lingkungan (PL) di SD 19 Sukadana. Dalam kegiatan ini Yayasan Palung mengajak siswa-siswi belajar lingkungan melalui Puppet Show dan Fieldtrip. Bersama satu orang Relawan Konservasi REBONK dan kedua teman saya dari BOCS, kami mempertunjukan Puppet Show (atau pertujukan boneka satwa) dihadapan 60 orang siswa-siswi dari kelas satu hingga kelas empat. Materi yang kami sampaikan berupa pengenalan satwa dan status keterancaman satwa yang dilindungi, reperti orangutan, bekantan, enggang, dan teringgiling. Pendidikan lingkungan melalui Puppet Show dengan menggunakan boneka satwa disampaikan agar materi dapat terserap dengan mudah dan menarik. Selanjutnya kami melanjutkan kegiatan belajar di alam di jalur fieldtrip Yayasan Palung Bentangor. Saya juga berkesempatan untuk menyampaikan materi tentang morfologi daun, Hasil Hutan Buakn Kayu (HHBK), dan pupuk kompos.

Penulis : Ilham Pratama, Mahasiswa Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura, Penerima Beasiswa BOCS

Rayakan Hari Orangutan Internasional 2018, Yayasan Palung Lakukan Ragam Kegiatan untuk Menjaga Si Petani Hutan Melalui Budaya

Cerita tentang satwa dilindungi saat IOD 2018 (2).JPG

Relawan Tajam  Yayasan Palung Bercerita tentang satwa dilindungi saat acara IOD 2018 di Citimall Ketapang pada (19/8), kemarin. Foto dok : Yayasan Palung

Minggu (19/8/2018) kemarin, Dunia Internasional  memperingati Hari Orangutan Internasional atau International Orangutan Day (IOD)/ atau biasanya disebut juga World Orangutan Day (WOD)/Hari Orangutan Sedunia 2018. Tahun ini, Yayasan Palung bersama para relawan untuk bersama mengajak  untuk peduli terhadap si petani hutan (orangutan), salah satunya melalui budaya.

Dalam gelaran untuk merayakan hari orangutan internasional 2018 kemarin, Yayasan Palung bersama para relawan Tajam, RebonK dan Penerima Beasiswa Orangutan Kalimantan (BOCS) menyelenggarakan berbagai kegiatan yang dilaksanakan di Citimall Ketapang, diantaranya seperti panggung boneka (puppet show) yang disuguhkan oleh relawan Tajam, penampilan teater dari relawan Bentangor, dan lomba Syair gulung di tingkat Sekolah Dasar.

teater saat IOD.JPG

Aksi teatrikal (teater) yang ditampilkan oleh Relawan RebonK Yayasan Palung saat acara Hari Orangutan Internasional (19/8), kemarin. Foto dok : Yayasan Palung

Ada pun tema yang diketengahkan oleh Yayasan Palung pada Hari Orangutan Internasional tahun 2018 adalah; “Menjaga Si Petani Hutan Melalui Budaya”, Si Petani hutan yang dimaksud pun tidak lain adalah orangutan.  Menjaga si petani hutan melalui budaya menjadi satu ajakan kepada semua pihak untuk peduli terkait nasib dari orangutan saat ini karena berbagai ancaman yang ada pada satwa endemik tersebut.

Kegiatan dimulai pada pukul 13.00 Wib, dibuka secara resmi oleh Direktur Yayasan Palung. Ragam rangkaian kegiatan seperti perlombaan Syair Gulung, diselang seling dengan adanya suguhan penampilan panggung boneka (puppet show) yang bercerita tentang kehidupan satwa liar di hutan seperti orangutan, burung enggang dan bekantan. Orangutan sebagai satwa yang sangat terancam punah, dan burung enggang sebagai satwa penyebar biji (si petani hutan). Sedangkan bekantan merupakan satwa endemik yang hanya hidup di pulau Kalimantan saja.

Sedangkan atraksi aksi teatikal (teater) bercerita tentang menjaga  kehidupan di hutan. Dalam teater tersebut, relawan RebonK mengajak menjaga hutan  peninggalan nenek moyang. Sebagai tokoh dalam cerita, Pak Amat yang di Perankan oleh Egi, RebonK sebagai sosok penjaga hutan yang bijaksana serta tidak tergoda dengan bujuk rayu dan berhasil menangkal segala ancaman yang datang seperti penebangan liar atau pun ilegal loging dan perburuan liar live music  dari Egi’s & Friend yang menampilkan lagu-lagu tentang lingkungan.

Egi's and Friend band saat mengisi acara IOD.JPG

Egi’s and Friend band saat mengisi acara IOD 2018. Foto dok : Yayasan Palung

Pada perlombaan Syair Gulung, peserta lomba melantunkan syarir gulung yang merupakan bagian dari budaya. Peserta lomba syair sebagian besar menyampaikan pesan kepada khalayak (masyarakat luas) dan ajakan terkait pesan-pesan moral lingkungan, dan kecintaan mereka tanpa harus memiliki atau memilihara satwa dilindungi. Sebagai Pemenang pertama dalam lomba Syair Gulung adalah Uti Al Faldan, dari MIN Ketapang. Sedangkan pemenang kedua adalah Girink Clara Belo dari SDN 05 Delta Pawan, pemenang ketiga Syarif Levi Nasira Sahab dari SDN 04 Benua Kayong dan pemenang keempat adalah Safitri  Kirani dari SDN 20 Delta Pawan. Untuk hadiah, para pemenang mendapatkan hadiah berupa paket hadiah, plakat dan sertifikat.

peserta lomba berfoto bersama.JPG

Peserta lomba berfoto bersama setelah pengumuman lomba Syair Gulung dalam acara IOD 2018. Foto dok : Yayasan Palung

Sebagai juri dalam perlombaan Syair Gulung di tingkat Sekolah Dasar dalam rangka IOD 2018 tersebut adalah Raden Abdillah dan Wijaya.

Dalam kata sambutannya, Direktur Program Yayasan Palung, Terri Lee Breeden mengatakan; “Acara kami yang diadakan di Citi Mall untuk International Orangutan Day 2018 adalah sukses besar”.

Selain itu lebih lanjut menurut Terri, Ia merasa terkesan pada kapasitas para kelompok relawan, yang mana para relawan muda kami bekerja untuk mengatur dan melakukan pertunjukan yang hebat. Kami menjangkau khalayak luas dan dapat menyampaikan pesan tentang ancaman yang dihadapi orangutan saat ini dan apa yang dapat kita semua lakukan untuk membantu melindungi mereka dan habitat hutan mereka. Saya ingin berterima kasih kepada semua orang atas kerja keras mereka dan menantikan acara seperti ini di tahun-tahun mendatang’’, ujar Terri lagi.

Winda Lestari, Relawan Tajam angkatan pertama sekaligus sebagai ketua panitia kegiatan IOD 2018 mengatakan;  Kegiatan seperti ini (IOD/WOD 2018) sangat bagus sekali dilakukan karena rangkaian kegiatan sudah menjadi aksi kampanye untuk satwa yang dilindungi seperti perlombaan syair gulung pun tersaji dan tersirat pesan moral konservasi. Selain itu juga syair gulung menjadi aksi yang nyata melalui budaya.

Sementara itu, Junardi dari Mahasiswa penerima Beasiswa BOCS mengatakan, kegiatan hari orangutan internasional yang diselenggarakan sudah berjalan dengan sukses, berharap di tahun-tahun mendatang kegiatan seperti ini bisa lagi diselenggarakan dengan peserta yang lebih banyak dan di tempat-tempat yang strategis agar bisa menjangkau masyarakat.

Pada kegiatan tersebut, terlihat antusias dari para tamu undangan dan para peserta lomba yang ikut ambil bagian dalam acara IOD tersebut. Pada malam harinya, Yayasan Palung bersama para relawan dan Mahasiswa BOCS melakukan pemutaran film lingkungan di Citimall. Ada pun film lingkungan yang diputar sebagai media penyadartahuan/kampanye  dan hiburan kepada pengunjung. Ada pun film  yang di putar antara lain adalah film Asimetris, film Indonesia Diambang Kepunahan dan film Sampah Man.

Saat pemutaran film lingkungan dalam rangka IOD 2018 di Citimall Ketapang sebagai upaya kampanye penyadartahuan  (1).jpg

Saat pemutaran film lingkungan dalam rangka IOD 2018 di Citimall Ketapang sebagai upaya kampanye penyadartahuan kepada masyarakat luas. Foto dok : Yayasan Palung

Lewat IOD/WOD 2018 ajakan kepada semua untuk peduli pada satwa lebih khusus orangutan dan satwa dilindungi lainnya. Selain juga merupakan satu cara penyampaian kampanye penyadartahuan kepada masyarakat luas untuk ikut berperan serta ambil bagian berperan dan berharap ada semangat yang semakin tumbuh dari semua pihak untuk semakin peduli pada nasib hutan dan satwa sebelum terlambat. Berharap Si Petani Hutan bisa lestari hingga nanti. Semua rangkaian kegiatan Hari orangutan Internasional 2018 berjalan sesuai rencana dan sukses.

berfoto bersama setelah selesai kegiatan IOD atau WOD 2018.JPG

Berfoto bersama setelah selesai kegiatan IOD atau WOD 2018. Foto dok : Yayasan Palung

Sebelumnya berita terkait kegiatan Hari Orangutan Internasional (International Orangutan Day/IOD) 2018 yang digelar/dilakukan Yayasan Palung, dimuat di Tribun Pontianak online :

http://pontianak.tribunnews.com/2018/08/23/rayakan-peringatan-iod-2018-yp-gelar-beragam-kegaiatan-di-citimall-ketapang

Rekaman Radio di Radio GS tentang feature hari orangutan internasional 2018 di link :

https://soundcloud.com/yayasan-palung/feature-radio-gs-tentang-kegiatan-hari-orang-utan-sedunia-2018-dirayakan-oleh-ypmp3

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

 

 

Ini Cerita Menarik Saya Selama Enam Bulan Meneliti di Cabang Panti

Uci Agustina

Uci Agustina saat berada di lapangan (melakukan tugas penelitian). Foto dok : Uci Agustina/Yayasan Palung

Perkenalkan, nama saya Uci Agustina, mahasiswi dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Tahun ini, saya sudah memasuki tahap skripsi dimana saya harus melakukan penelitian terlebih dahulu. Alhamdulillah saya bisa melakukan penelitian di Cabang Panti, Taman Nasional Gunung Palung, Kalimantan Barat.

Ya, mulai sekarang dan enam bulan ke depan kami akan tinggal dan menjadi bagian dari keluarga Cabang Panti. Hari pertama kami disana tidak langsung turun ke lapangan, tapi kami belajar mengenal alat-alat di laboratorium terlebih dahulu. Keesokannya, kami ikut asisten untuk mencari orangutan sesuai dengan track yang sudah dibagi oleh manager. Pencarian orangutan dimulai pada pukul 07.30 Wib dan berakhir pada pukul 14.30 Wib. Biasanya kami membawa bekal makan siang secukupnya, kadang kami juga membawa mie instant untuk dijadikan camilan, tanpa di rebus terlebih dahulu.

Saya akan menceritakan pengalaman saya selama penelitian di sana. Saya ke sana dengan rekan mahasiswi saya bernama Ishma Fatiha yang juga satu jurusan dengan saya dan kami melaksanakan penelitian selama 6 bulan. Kami harus menempuh perjalanan kurang lebih 18 km atau 4-6 jam untuk tiba di Cabang Panti (capek banget, gila).

Saat itu, kami pergi bersama asisten orangutan, namanya Syainullah. Kami berangkat dari desa terakhir sekitar pukul 15.00 Wib dan sampai di camp jam 20.00 Wib. Sungguh melelahkan, apalagi kami belum pernah sekali pun menempuh perjalanan sejauh itu. Sesampainya di sana, kami berkenalan dengan penghuni camp. Ada staf Taman Nasional, ada asisten orangutan, asisten OFP (One Forest Project) dan juga juru masak.

DSC00214.JPG

Uci dan Para Asisten Peneliti  berfoto bersama dengan Ibu Cheryl Knott. Foto dok : Uci/Yayasan Palung

Jika kami menemukan orangutan, kami ikuti sampai orangutan membuat sarang. Biasanya orangutan diikuti sampai 5 hari berturut-turut. Jika sudah sampai 5 hari, maka orangutan dilepas. Saya sendiri mengambil data tentang perilaku makan orangutan yang berarti saya harus mengikuti orangutan selama 5 hari berturut-turut. Capek sih, tapi ya mau bagaimana lagi. Gak ikut berarti gak dapat data.

Saya pernah ikut full orangutan sampai 10 hari dan itu saat bulan puasa. 10 hari berturut-turut tanpa istirahat, pengalaman yang luar biasa sekali yaah. Asisten pun tidak pernah ikut orangutan sampai 10 hari berturut-turut, biasanya mereka bergantian kalau mau ikut, kecuali kalau banyak orangutan yang ditemukan. Selama disana, saya mendapatkan pengalaman baru, teman baru dan keluarga baru. Waktu pertama kali lihat orangutan rasanya senang banget, karena untuk melihat orangutan liar itu langka banget, di Jakarta hanya bisa melihat orangutan yang ada di kandang.

Di Camp Cabang Panti kebanyakan orang-orang lokal dan mayoritas orang islam. Sebelum saya ke Kalimantan, pikiran-pikiran negatif selalu muncul (tahunya orang Kalimantan itu mayoritas suku Dayak), takut di apa-apain ya kan. Ternyata anggapan saya terlalu berlebihan, kenyataannya orang Kalimantan tidak semuanya dari suku Dayak, kalaupun ada dari suku Dayak mereka baik-baik dan ramah. Di camp kebanyakan laki-laki, yang perempuan hanya sedikit, mungkin hanya sedikit dari kalangan perempuan yang suka kerja di hutan.

Saya dan Ishma pernah dipasangkan untuk mecari orangutan berdua dan hari itu kami menemukan orangutan, namanya Tari dan Tawni (orangutan ibu dan anak). Saat itu kami juga bertemu dengan Uteh  Randa yaitu staf OFP, beliau yang akan memberi tahu orang-orang di camp bahwa kami menemukan orangutan. Setelah sore hari, orangutan tak kunjung membuat sarang, kami pun kesal dibuatnya, orangutannya masih makan padahal cuacanya sudah gelap. Orangutan baru membuat sarang sekitar pukul 18.00 Wib. Setelah itu kami langsung cepat-cepat menandai pohon sarang dan menarik benang sampai rintis terdekat. Saat itu kami tidak membawa parang, hutannya rapat sekali, banyak rotan pula. Kami hanya bisa mengandalkan potongan kayu untuk menebas rotan-rotan ataupun liana agar kami bisa lewat (nebasnya gak banyak kok, seperlunya saja).

DSC00213.JPG

Isma, Ibu Cheryl dan Uci. Foto dok : Uci/Yayasan Palung

Setelah sampai di rintis, kami pun bergegas pulang. Awalnya kami bingung ingin melewati jalan yang mana, karena saya sempat melihat seperti ada pohon tumbang di depan. Kata Ishma, tidak ada pohon tumbang sama sekali (aneh sekali), kami sampai berdebat saat itu. Setelah beberapa menit, sayapun memberanikan diri untuk jalan ke arah rintis yang ada pohon tumbang tersebut dan benar sekali ternyata tidak ada pohon tumbang (kenapa bisa gitu ya? Aneh sekali). Setelah itu kamipun bergegas pulang dan kami jalannya cepat-cepat sekali karena sudah sangat malam. Di perjalanan kami mendengar suara-suara aneh dan kami hiraukan saja. Sesampainya kami di rintis SK-JM (Rintis dekat camp), kami mendengar suara teriakan “ada senter, ada senter”.

Kami pun bingung saat itu, orang-orang di camp kenapa ya (ngomong dalam hati). Sesampainya di camp kami langsung disambut oleh semua penghuni camp, ternyata mereka mengira kami tersesat di hutan, dan asisten-asisten sudah bersiap-siap untuk pergi ke hutan melakukan pencarian. Erin Kane sampai menangis saat itu. Erin Kane merupakan murid ibu Cheryl Knott dari Boston University. Saat itu dia menjadi manager sementara karena manager baru belum tiba di Cabang Panti.

Singkat cerita, bulan Agustus merupakan bulan terakhir kami melakukan penelitian disana, tepatnya tanggal 5 Agustus. Pada tanggal 4 Agustus kami presentasi hasil penelitian selama 6 bulan. Pada kesempatan itu kami juga pamitan dan mengutarakan kesan dan pesan kami selama penelitian di sana.

Kami tidak melakukan sesi foto sama sekali, camp sepi, hanya ada sebagian orang di sana. Asisten banyak yang turun karena saat Ibu Cheryl ke sana belum ada yang libur sama sekali. Keesokannya yaitu tanggal 5 Agustus 2018, kami pun turun bersama dengan 2 porter. Saat itu rasanya berat sekali mau meninggalkan camp, karena terlalu banyak kenangan di sana. Kami turun saat siang hari karena ingin berlama-lama di camp. Asisten orangutan saat itu sedang mengikuti 2 orangutan, jadi kami sudah berpamitan terlebih dahulu saat malam hari setelah presentasi.

 Uci Agustina, Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Keanekaragaman Tumbuhan Liana di  Cabang Panti (TNGP)

Jantak3

Buah Jantak jenis liana Willughbeia sp. Foto dok : Riduwan/YP

Perkenalkan nama saya Riduwan. Saat ini, saya sedang melakukan penelitian mengenai potensi tumbuhan liana di Stasiun Penelitian Cabang Panti, (Kawasan yang berada di Taman Nasional Gunung Palung). Ada pun tujuan penelitian saya adalah untuk tugas akhir/ skripsi. Penelitian dilakukan selama kurang lebih satu setengah bulan. Saat ini penelitian sudah berjalan selama kurang lebih 13 hari. Penelitian yang saya lakukan adalah pada 5 tipe habitat yang berbeda, diantaranya rawa gambut, batu berpasir, alluvial, granit dataran rendah, dan granit dataran tinggi.

Ada pun metode yang saya gunakan dalalam penelitian saya adalah setiap satu tipe habitat saya ambil 5 plot dengan cara diacak atau random sampling dengan panjang jalur utama 50 meter dan sub plot sebelah kanan dan kiri masing-masing 10 meter.

Pelaksaan di lapangan sudah saya selesaikan kurang lebih hampir 50%, ada beberapa liana yang telah saya temukan diantaranya dari genus : Combretum sp, Uncaria sp, Willughbeia sp, Strychnos sp, Bauhinia sp dan Gnetum sp. Keberadaan liana ini ternyata secara tidak langsung memiliki peran terhadap kehidupan binatang di sana, terutama binatang pemakan buah (Frugivora) seperti Orangutan, kelasi monyet ekor panjang dan kelempiau.

Bunga Gnetum (2).jpg

Bunga Gnetum, Foto dok : Riduwan/YP

Ada beberapa tumbuhan liana yang dapat menghasilkan buah seperti liana dari genus Willughbeia sp atau  dikenal dengan nama buah jantak, Strychnos sp, dan Combretum sp. Tumbuhan ini ternyata bisa tumbuh diketinggian 40 -700 mdpl ini berdasarkan penelitian yang saya lakukan di SPCP, dan keberadaan tumbuhan liana ini dapat menambah kekayaan vegetasi yang ada di Taman Nasional Gunung Palung.

Stasiun Penelitian Cabang Panti atau biasa di singkat SPCP merupakan suatu kawasan yang letaknya berada di zona ini taman nasional gunung palung dengan luas sekitar 2.100 ha. Saat ini kawasan SPCP memiliki 8 tipe habitat yang berbeda, diantaranya yaitu : rawa gambut, rawa air tawar, kerangas, batu berpasir, alluvial (tanah sedikit berpasir/kaya akan unsur hara), granit dataran rendah, granit dataran tinggi, dan pegunungan.

Stasiun Penelitian Cabang Panti kaya akan flora maupun faunanya, baik yang statusnya masih melimpah maupun yang sudah di lindungi. Salah satu kekayaan flora yang berada disana adalah tumbuhan liana. Tumbuhan liana adalah tumbuhan yang hidupnya membutuhkan penopang tumbuhan lain seperti pohon guna untuk menjulang keatas dengan tujuan untuk memperoleh cahaya matahari, namun akar dari tumbuhan ini masih menempel pada tanah. Berbeda dengan tumbuhan ficus yang 100% hidupnya menempel pada pohon.

Menurut saya, liana menurut saya sangat bermanfaat bagi manusia salah satunya adalah akar kuning bermanfaat untuk obat dalam. Akar kuning direbus lalu airnya diminum. Buah dari jenis liana ini dimanfaatkan oleh binatang seperti orangutan, kelasi, kelempiau, dan monyet ekor panjang. Selain liana dari jenis akar kuning ada jenis lainnya yang dimanfaatkan oleh binatang disana seperti, buah jantak (Willugbeia sp), tapal kaki kuda (Bahuinia sp), cakar elang/pancingan (Uncaria sp), Combretum sp, dll. Saya menemukan liana disana kurang lebih 10 jenis liana.

Bauhinia

Tapal (tapak kaki kuda)/Bauhinia. Foto dok : Riduwan/YP

Diketahui pula, Keberadaan tumbuhan liana sebagai penanda (ciri khas) bahwa hutan di Indonesia merupakan hutan hujan tropis.

Kelimpahan liana di SPCP sangat padat baik dari dataran rendah hingga dataran tinggi. Liana yang ada ini harus tetap terjaga kelestariannya. Seperti diketahui, bahwa tumbuhan liana ini sangat banyak manfaatnya terutama untuk satwa primata selain untuk sumber pakan bagi primata ternyata batang liana dimanfaatkan oleh orangutan untuk bermain, seperti untuk pindah dari tempat satu ke tempat lainnya.

Tak salah kiranya bila tumbuhan ini patut untuk dilestarikan keberadaannya karena memiliki banyak manfaat dan fungsi bagi kehidupan.

Penulis : Riduwan, (Mahasiswa Untan Fakultas Kehutanan, Penerima Beasiswa Orangutan Kalimantan/BOCS)

 

 

 

 

Berbagi Cerita Bersama Penerima Beasiswa BOCS di Radio Kabupaten Ketapang tentang Konservasi

Berfoto bersama setelah kegiatan siaran radio di Radio Kabupaten Ketapang (RKK) selesai. Foto dok. BOCS

Berfoto bersama setelah kegiatan siaran radio di Radio Kabupaten Ketapang (RKK) selesai. Foto dok :  BOCS

Sebuah pengalaman luar biasa bagi kami selaku penerima beasiswa BOCS (Bornean Orangutans Caring Schoolarship) dimana pada hari kamis 9 agustus 2018 tepatnya, kami melakukan siaran di RKK (Radio Kabupaten Ketapang) sebagai narasumber. Siaran yang betajuk Bincang Hijau ini di pandu oleh Kak Via selaku penyiar di RKK. Tujuan dari siaran ini yaitu membahas tentang beasiswa BOCS itu sendiri dan juga peran kami sebagai penerima beasiswa terhadap konservasi.

Siaran dimulai pada pukul 12.00 Wib-12.45 Wib untuk sesi rekaman yang mana hasilnya akan di siarkan pada pukul 14.00 pada hari itu. Kami (Erina Safitri, Siti Nurbaiti, Hanna Adelia Runtu, Mita Anggraini) mengawali siaran dengan berkenalan dengan para pendengar radio sekaligus memerkenalkan jurusan yang kami ambil serta hubungan jurusan dengan konservasi orangutan itu sendiri. Selama siaran banyak hal yang kami ceritakan mulai dari menjelaskan tentang beasiswa BOCS yang mungkin masih jarang sekali orang yang mengetahuinya.

Di pertengahan sesi tanya jawab kami juga ditanya tentang peran kami untuk konservasi orangutan dan habitatnya dan juga lingkungan. Disini kami menjelaskan bahwa kami sebagai generasi muda memiliki peran yang sangat besar akan konservasi mulai dari penyadaran diri sendiri tentang menjaga keaslian lingkungan juga terkadang melakukan motivasi-motivasi untuk menjaga lingkungan melalu media sosial.

Siaran tidak berakhir disitu saja,selanjutnya disesi akhir kak Via juga bertanya tentang persiapan kami untuk Hari Orangutan Sedunia yang akan diadakan pada tanggal 19 Agustus 2018,

Selanjutnya sampailah pada sesi penutup dimana kami menyampaikan pesan terhadap lingkungan. Pesan kami adalah ”lingkungan bukan miliku, lingkungan juga bukan milik kalian, tetapi lingkungan adalah milik kita bersama, maka marilah kita menjaganya bersama-sama agar kita bisa nyaman tiggal didalamnya”. Dengan disampaikannya pesan itu berakhirlah siaran kami pada hari itu. Kami merasa senang karena akhirnya siaran berjalan dengan lancar tanpa kendala.

 Penulis : Teman-teman Penerima Beasiswa BOCS (Erina Safitri, Siti Nurbaiti, Hanna Adelia Runtu, Mita Anggraini)