Orangutan di TNGP Menarik Minat BBC Untuk Film Dokumenter

20232002_10213756487534829_903233718350449524_o.jpg

Tim Laman beserta keluarga  dan BBC temu kangen dengan Keluarga Besar Yayasan Palung

Setelah Mendapat ijin dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Pusat Pengembangan Perfilman Indonesia, Tim Laman beserta rombongan bersiap untuk mengambil gambar (membuat/memproduksi) film tentang orangutan di Gunung Palung.

Rencana tersebut diketahui saat  Tim Laman  dan Cheryl Knott ( pasangan suami istri) mengadakan temu kangen bersama keluarga  besar Yayasan Palung.  Ternyata Tim Laman membawa serta keluarga dan rombongan British Broadcasting Corporation (BBC), Kamis (20/7) kemarin malam.

Kebersamaan, keseruan dan kehangatan sangat kami rasakan,  ini terlihat dari raut wajah semua yang hadir saat  temu kangen malam itu.

Baca Selengkapnya di : http://pontianak.tribunnews.com/2017/07/23/orangutan-di-tngp-tarik-minat-bbc-untuk-pembuatan-film-dokumenter

 

Ucapan Terima Kasih

Oleh2. Dok. YP.jpg

Oleh-oleh dari Disney Conservation FUND dan National Geographic

Kami dari Yayasan Palung  dan (Gunung Palung Orangutan Conservation Program) mengucapkan terima kasih kepada Disney Conservation FUND dan National Geographic atas oleh-olehnya berupa:

  • Buku
  • Baju
  • Topi
  • Pin
  • gantungan kunci
  • Note book dan Magnet Kulkas

 

Hendri Gunawan dari Yayasan Palung memakai topi dari Disney Conservation FUND.jpg

Hendri Gunawan dari Yayasan Palung memakai topi dari Disney Conservation FUND

Semoga semakin bermanfaat untuk konservasi alam liar (wild life).

 

Manfaat Lahan Gambut Bagi Kehidupan yang Kian Tergadai

Kebakaran hutan dan lahan yg terjadi di Desa Pelang, Ketapang, Kalbar tahun 2015.

Kebakaran hutan dan lahan pada tahun 2015 yang terjadi di Desa Pelang, Ketapang, Kalbar. Foto dok. Yayasan Palung

Indonesia  memiliki hutan dan lahan gambut terluas di dunia, setidaknya kata itu yang cocok untuk dikatakan. Tersedianya lahan gambut yang luasnya mencapai 21-22 juta hektar (sumber data; Mongabay Indonesia) tersebut  sudah pasti pula memiliki sedikit banyak manfaat bagi kehidupan semua makhluk hidup yang mendiami bumi ini.

Lahan gambut  atau tanah gambut memang ditakdirkan untuk tidak subur karena memiliki tingkat keasaman tanah yang tinggi, apa lagi jika diganti dengan tumbuhan atau tanaman lainnya, hanya tumbuhan yang cocoklah yang bisa tumbuh di lahan gambut. Adapun ragam tumbuhan yang dapat tumbuh baik di rawa gambut seperti meranti, punak, jelutung, kompas atau kempas  dan ramin adalah  tanaman asli gambut.

Selain juga tanaman sekunder yang cocok untuk tumbuh di lahan gambut seperti karet, nanas, sagu yang memiliki manfaat ekonomis sebagai alternatif pendapatan masyarakat secara berkelanjutan. Ketersediaan ragam tumbuhan asli gambut pun menyimpan tidak sedikit oksigen dan karbon yang salah satunya sebagai sumber hidup tidak sedikit bagi nafas makhluk hidup.

Bagi nafas dan keberlanjutan makhluk, ini yang menjadi tanda manfaat nyata tekait kondisi gambut saat ini. Luasan lahan gambut begitu banyak yang terampas, tergadai hingga menjelang terkikis habis. Kondisi inilah sejatinya menjadi sebuah tanda tanya, apakah  hutan dan lahan gambut terus menerus akan bisa bertahan dan dapat (di/ter)selamatkan?.

Apabila hutan dan lahan gambut dapat (di/ter)selamatkan, sudah pasti keberlanjutan nafas hidup semua makhluk hidup yang berada di wilayah gambut akan selalu memperoleh manfaat baik. Salah satunya terhindar dari kebakaran, tidak rentan terhadap banjir dan kebakaran lahan dan kabut asap. Hal yang sama juga terjadi baik adanya bagi makhluk hidup seperti satwa/primata, rumah atau habitat mereka (satwa) tetap terjaga.

Demikian juga halnya apabila lahan gambut kian digerus maka akan terjadi sebaliknya kita semua makhluk hidup akan menerima dampak langsung. Tidak sedikit contoh kasus. Lihat dampak kebakaran lahan dan kabut asap, berdasarkan data dari BBC Indonesia menyebutkan; setidaknya dampak ekonomi yang ditimbulkan akibat kabut asap mencapai 200 trilliun.(Sumber:http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/10/151026_indonesia_kabutasap ).

Hal yang sama juga terjadi, ketika hilangnya luasan hutan dan lahan gambut akan selalu berdampak tidak baik bagi lingkungan hidup dan makhluk hidup disekitarnya atau lingkungan lainnya. Hilangnya luasan hutan dan lahan gambut berarti juga menghilangkan tidak sedikit oksigen dan karbon. Sementara karbon yang ada sangat bermanfaat bagi lingkungan dan keberlangsungan makhluk hidup tidak terkeculi untuk mengatasi terjadinya peningkatan suhu di bumi.

Salah satu cara agar hutan ataupun lahan gambut dapat lestari dan berlanjut tidak lain dengan ada peran serta, perhatian dan tindakan nyata dari semua pihak, siapapun itu tanpa terkecuali. Dengan adanya perhatian dari semua pihak tersebut pula setidaknya mempermudah dalam bagaimana mengelola lahan secara bijaksana dan lestari.

Mengingat, hutan dan lahan gambut merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dalam tatanan kehidupan makhluk hidup. Tidak sedikit cara yang dapat dilakukan oleh semua untuk menjaga satu kesatuan makhluk hidup lebih khusus lahan gambut sebagai tempat (habitat hidup) semua makhluk hidup pula.

Apabila hutan dan lahan gambut dapat dikelola dengan bijaksana salah satunya agar ada tata aturan yang tegas dapat diberlakukan secara adil dan tidak memihak. Selain itu juga, tidak lagi membuka lahan baru berskala besar lebih khusus hutan gambut, rawa gambut atau lahan gambut  hampir pasti segala makhluk hidup yang mendiami bumi dapat bernyanyi riang dan dapat berlanjut sampai nanti dan lestari.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Ulasan Singkat Tentang Perubahan Iklim Sudah Terjadi di Indonesia

 

Peruhan iklim saat ini sudah kita rasakan (sudah terjadi) di Indonesia. Dampak dari perubahan iklim ditandai dengan adanya perubahan suhu bumi yang semakin panas dan cuaca tidak menentu.

Beberapa penyebab terjadinya perubahan iklim itandai adanya perubahan temperatur rerata harian, pola curah hujan, tinggi muka laut, dan variabilitas iklim (misalnya El Niño dan La Niña, Indian Dipole, dan sebagainya).

Beberapa dampak dari terjadinya perubahan iklim sedikit banyak berpengaruh kepada kehidupan sehari-hari lebih khusus semua penghuni bumi, tidak terkecuali manusia.

Berikut ulasan singkat tentang perubahan iklim, ulasan singkat sebagai media kampanye Yayasan Palung untuk peduli terhadap keberlanjutan bumi melalui media Radio.

Silakan klik untuk mendengarkan :https://soundcloud.com/yayasan-palung/pemanasan-global-dan-perubahan-iklim

Semoga bermanfaat, salam lastari.

Ini Cara yang Bisa Kita Dilakukan untuk Melindungi, Menjaga dan Memilihara Lahan Gambut

Setidaknya Ini Penyebab Deforestasi Hutan, lebih khusus lahan gambut di Indonesia dan Dampaknya. Foto dok. Yayasan Palung

Setidaknya Ini Penyebab Deforestasi Hutan, lebih khusus lahan gambut di Indonesia dan Dampaknya. Foto dok. Yayasan Palung

Keberadaan lahan gambut yang ada saat ini berada dalam kondisi memprihatinkan menjelang terkikis habis. Perlu untuk diingat, lahan gambut banyak menyimpan karbon. Tidak sedikit cara sejatinya yang dapat dilakukan oleh kita semua masyarakat ataupun lembaga, pihak pemerintah untuk melakukan perlindungan terhadap lahan gambut.

Dengan arti kata, segala upaya ataupun cara dari banyak pihak termasuk masyarakat memiliki kewajiban yang sama untuk melindungi, menjaga dan memilihara lahan gambut. Beragam cara juga setidaknya bisa dilakukan demi keberlanjutan gambut yang tentunya banyak manfaat bagi banyak makhluk hidup pula antara lain penyedia karbon untuk mengatasi peningkatan suhu bumi (pemanasan global).

Kobaran api yang melahap luasan hutan di Ketapang, tahun 2015. Foto dok. Yayasan Palung

Kobaran api yang melahap luasan hutan di Ketapang, tahun 2015. Foto dok. Yayasan Palung

Seperti diketahui, lahan gambut apabila semakin dalam kedalamannya maka akan menyimpan banyak keanekaragaman hayati (tumbuhan dan hewan), dengan demikian gambut yang dalamnya 50 cm dan gambut dalam  1 meter sampai mencapai 10 meter. Semakin dalam gambut, maka diusahakan lahan gambut tidak dibuka karena kaya sumber manfaat bagi makhluk hidup.

Ilustrasi drainase kubah lahan gambut via mongabay Indonesia, Sumber_ RAN

Ilustrasi drainase kubah lahan gambut via Mongabay Indonesia, Sumber : RAN

Indonesia adalah pemilik kawasan lahan gambut tropis terluas di dunia dengan luasan sekitar 21-22 juta hektar (1,6 kali luas pulau Jawa), kebanyakan tersebar di Kalimantan, Sumatera dan Papua.  Papua adalah yang terluas dengan lebih kurang sepertiga lahan gambut yang ada di Indonesia (Sumber data : Mongabay Indonesia).

Merunut dari data tersebut dapat dikatakan betapa luasnya wilayah lahan gambut yang ada di Indonesia, lebih khusus di tiga wilayah; Sumatera, Kalimantan dan Papua. Di tiga wilayah ini pula dimana luasan lahan gambut dari tahun ke tahun kondisinya selalu menjadi primadona para investor dalam melakukan investasi besar-besaran yang tak jarang mengorbankan lahan gambut itu sendiri dan menimbulkan terjadinya deforestasi dan tidak jarang pula berujung kepada keringnya lahan dan rentannya terjadi kebakaran hutan dan lahan.

Luas-lahan-gambut-indonesia. sumber data Mongabay Indonesia

Luas lahan gambut Indonesia, sumber data : Mongabay Indonesia

Dari kejadian tersebut pula berimbas juga munculnya kabut asap. Kerentanan lahan gambut yang mudah terbakar tersebutlah yang menjadi dasar mengapa setiap waktunya gambut harus selalu untuk dilindungi, dijaga dan dipelihara.

Tidak sedikit cara yang dilakukan oleh banyak pihak mulai dari pihak pemerintah, lembaga ataupun organisasi ataupun juga masyarakat yang bersentuhan langsung mencari cara  agar lahan gambut dapat menjadi penopang segenap segala bernyawa (seluruh makhluk hidup).

Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk melindungi, menjaga dan memilihara gambut antara lain  dengan cara antara lain;

Pertama, melakukan penanaman kembali hutan gambut yang telah terdegradasi menjadi salah satu cara yang harus dilakukan agar hutan tetap tumbuh  menjadi sumber utama penyedia karbon. Sedapat mungkin  ditanam dengan tanaman asli gambut seperti tanaman meranti, kompas/kempas, ramin, jelutong dan tumbuhan-tumbuhan seperti palem dan kantong semar.  Dengan demikian, tatanan kehidupan makhluk hidup yang hidup disekitar lahan gambut dapat terselamatkan termasuk kita manusia. Tanaman asli gambut seperti diketahui bila tetap tumbuh dapat menyimpan unsur hara gambut dan menampung banyak lagi oksigen dan karbon. Manfaat lainnya juga dengan masih adanya pohon dan tumbuh-tumbuhan di sekitar lahan gambut memungkinkan segala satwa seperti misalnya; orangutan (di Sumatera dan Kalimantan), bekantan (di Kalimantan), harimau sumatera (sumatera) monyet ekor panjang (Sumatera dan Kalimantan) dan ragam jenis ikan seperti toman, tapah ataupun reptil seperti buaya muara (buaya senyulong) tidak kehilangan rumah atau habitat mereka.  Sedangkan di Papua adalah tanaman pohon sagu yang menjadi sumber makanan pokok warga masyarakat.

Kedua, kanal-kanal buatan atau yang dibangun oleh perusahaan yang katanya tujuan untuk mengeringkan lahan gambut harus dibuat sekat kanal. Dibuatnya sekat kanal salah satu tujuannya agar air dapat mengalir dan gambut selalu dalam keadaan basah. Intinya lahan gambut jangan dibuat kanal. Namun, kanal-kanal yang ada sedapat mungkin disekat agar dapat menampung dan mengaliri yang ada dan berada didalam kanal agar lahan gambut tetap basah.

Pembuatan sekat kanal sebagai salah satu cara agar lahan gambut tetap basah untuk mencegah Kebakaran hutan dan lahan. Foto dok. Yayasan Palung.jpg

Pembuatan sekat kanal sebagai salah satu cara agar lahan gambut tetap basah untuk mencegah Kebakaran hutan dan lahan. Foto dok. Yayasan Palung

Klik link berikut untuk melihat Video Sekat Kanal

Ketiga, lahan gambut yang tersedia berupa hutan sekunder atau hutan tersier, bila telah ditanam sebaiknya di remajakan dan diganti dengan tanaman campuran yang seperti tanaman nanas, karet dan  kelapa (tanaman agroforestri). Tujuannya bila tanaman tersebut dapat menghasilkan buah maka dapat dijadikan sumber penghasilan atau pendapatan ekonomi masyarakat yang berkelanjutan.

Turun lapangan atau praktek lapangan saat pelatihan, melihat dan mengukur kedalaman gambut. Foto dok. Yayasan Palung.jpg

Turun lapangan atau praktek lapangan saat pelatihan, melihat dan mengukur kedalaman gambut. Foto dok. Yayasan Palung

Selanjutnya yang terpenting untuk melindungi, menjaga dan memilihara serta melestarikan lahan gambut diperlukan sosialisasi secara terus menerus terutama kampanye penyadartahuan kepada masyarakat salah satunya juga mencari solusi pendapatan yang berkelanjutan tanpa merusak lahan gambut. Selain juga, perlunya kerjasama semua pihak secara bersama agar lahan gambut di Indonesia dapat memberikan sumber penghidupan bagi semua makhluk hidup hingga selamanya dan lestari.  Semoga…

Penulis : Petrus Kanisius-Yayasan Palung  

Bahan dan sumber bacaan tulisan :

http://blog.cifor.org/26501/hilangnya-lahan-gambut-mengemisi-karbon-senilai-2-800-tahun-dalam-sekejap-mata-riset?fnl=id

http://readersblog.mongabay.co.id/rb/2017/03/17/sosialisasi-program-mitigasi-berbasis-lahan-dan-penyusunan-program-unggulan-yang-berkelanjutan

http://www.mongabay.co.id/2014/06/20/gambut-for-beginners-tujuh-jawaban-penting-untuk-pemula

 

Yayasan Palung Lakukan Safari Ramadhan di 5 Desa di Kec. Simpang Hilir, Kab. Kayong Utara

IMG-20170621-WA0001.jpg

Saat kegiatan Safari Ramadhan di 5 desa di Kec. Simpang Hilir, KKU, Foto dok. Hendri/YP

Untuk mengisi ragam kegiatan di bulan puasa, Yayasan Palung melakukan Safari Ramadhan dengan berbuka puasa bersama di 5 desa di Kecamatan Simpang Hilir, KKU, yang berlangsung dari tanggal 14-20 Juni 2017.

IMG-20170621-WA0003.jpg

Buka puasa bersama dalam rangkaian kegiatan Safari Ramadhan. Foto dok. Hendri/YP

Sebelum bukber (buka puasa bersama) dalam safari Ramadhan terlebih dahulu diisi dengan kegiatan antara lain sosialiasi tentang bahaya Karhutla yang disampaikan dari pihak kepolisian. Selanjutnya dilanjutkan dengan ceramah agama dengan tema “ Hubungan Manusia dengan Alam Menurut Pandangan Islam” yang disampaikan oleh Ustadz Hadiansyah, S.Pd.I

IMG-20170621-WA0002

Berfoto bersama setelah kegiatan safari Ramadhan selesai. Foto dok. Hendri/YP

Dalam ceramah agama tersebut disampaikan antara lain adalah; Peranan penting manusia untuk menjaga alam dan lingkungan. Mengingat, kerusakan alam yang terjadi acap kali dilakukan oleh/disebabkan oleh manusia itu sendiri.

Selanjutnya juga manusia harus berperilaku bijaksana dengan alam semesta.
Adapun lima desa yang disambangi dalam Safari Ramadhan tersebut antara lain dimulai dari Desa Penjalaan, Desa Padu Banjar, Desa Pulau Kumbang, Desa Pemangkat dan terakhir di Desa Nipah Kuning.

Seluruh rangkaian kegiatan berjalan sesuai dengan rencana dan mendapat sambutan baik dari masyarakat.

Pit- YP

Berkembang Biak Selama Bertahun-tahun, Namun Hidupnya Hanya 6 Bulan

Jenis Capung yang ada di TNGP. Foto dok. Weni

Jenis Capung yang ada di TNGP. Foto dok. Weni

Nama dari jenis serangga ini tidak lain adalah capung.  Lebih khususnya  jenis capung (ordo; Odonata). Jenis capung di dunia 75 % nya ada di Indonesia jelas Weni Julaika, Mahasiswi Fakultas MIPA, jurusan Biologi, Universitas Tanjungpura (UNTAN) Pontianak, saat mempresentasikan di Kantor Yayasan Palung terkait hasil penelitiannya di Stasiun Penelitian Cabang Panti, Taman Nasional Gunung Palung (TNGP)  untuk tugas akhir, Jumat (16/6/2017), pekan lalu.

Untuk membaca tulisan ini selengkapnya baca link: http://v20106.kompasiana.com/pit_kanisius/ia-berkembang-biak-selama-bertahun-tahun-namun-hidupnya-hanya-6-bulan_5948dd72e217d20ee6042322

Yuk, Berkenalan dengan Si Pengurai dan Penyuka Kotoran

Beberapa foto dari jenis kumbang. Foto capture dari presentasi Cacih

Beberapa foto dari jenis kumbang. Foto capture dari presentasi Cacih

Berdasarkan pemaparan dari presentasinya pada Jumat pekan lalu (16/6) di Kantor Yayasan Palung, Cacih demikian dia akrab di sapa menjelaskan tingkat keberagaman kumbang cukup banyak ia jumpai  dengan berhasil mengidentifikasi 19 jenis kumbang kotoran dari keluarga  Scarabaeinae.

Adanya kumbang kotoran sedikit banyak membantu menguraikan kotoran yang ada. Beberapa jenis kumbang diketahui tersebar diseluruh daratan dunia kecuali di kutub dan lautan.Ternyata di dunia, tercatat tak kurang ada 35.000 hingga 400.000 spesies dari jenis serangga yang satu ini di Dunia. (Sumber; Biota- Unimed dan Wikipedia).

Baca Selengkapnya di Link : http://v20106.kompasiana.com/pit_kanisius/yuk-berkenalan-dengan-si-pengurai-dan-penyuka-kotoran_594a34d59178b226c15e10a3

Petrus Kanisius- Yayasan Palung

Ternyata Si Manis Ini Melahap 200 Ribu Semut Setiap Harinya

Si Manis javanica yang dijumpai di Bukit Tarak. Foto dok. Wawan, Pematang Gadung

Si Manis javanica yang dijumpai di Bukit Tarak. Foto dok. Wawan, Pematang Gadung

Bila setiap harinya Si Manis harus makan 200.000 semut, maka dalam satu tahun dipastikan lebih dari 7 juta semut dimakan.

Mengapa Si Manis memakan semut? Dan apakah Si Manis itu? Si Manis atau dalam bahasa latinnya Manis javanica (untuk lebih lengkap melihat profil Si Manis, bukaSi Manis)

Semut merupakan makanan pokok dari mamalia yang biasanya aktif di malam hari tersebut. Biasanya si manis atau trenggiling menggunakan lidahnya yang panjang untuk memakan semut. Tidak hanya semut, tetapi juga trenggiling memakan rayap. Rata-rata dalam sehari trenggiling mengonsumsi 200 ribu semut dan dalam setahun lebih dari 7 juta semut harus ia makan.

Karena semut sebagai makanan pokoknya, hampir dipastikan Si Manis mencari semut di sekitaran hutan yang masih baik. Mengingat, hutan yang baik masih terdapat banyak semut hutan. Demikian pula dengan serangga dan rayap.

Baca Selengkapnya di Link : http://v20106.kompasiana.com/pit_kanisius/ternyata-si-manis-ini-melahap-200-ribu-semut-setiap-harinya_594230aadd0fa87e8222f252

Petrus Kanisius- Yayasan Palung

Hutan Indonesia, antara “Lahan Perang, Eksploitasi, Eksplorasi dan Penelitian”

Kobaran api yang melahap luasan hutan di Ketapang, beberapa tahun lalu. Foto dok. Yayasan Palung

Kobaran api yang melahap luasan hutan di Ketapang, beberapa tahun lalu. Foto dok. Yayasan Palung

Tidak bisa disangkal hutan-hutan yang ada di wilayah Indonesia tidak terkecuali hutan Kalimantan selalu menjadi primadona. Menjadi primadona tidak lain karena selalu dinanti (semakin naik daun). Namunkeberadaan hutan Indonesia lebih khusus di Kalimantan saat ini jika boleh dikata antara “Lahan Perang, Eksploitasi dan Eksplorasi serta Penelitian“.

Tidak hanya tentang keindahannya, tetapi juga tentang manfaat yang dihasilkan dari hutan sehingga dengan demikian membuat orang-orang berlomba dan menjadikan hutan sebagai primadona saat ini.

Benar saja luasan tutupan Indonesia mencapai 162 juta hektar. Lahan hutan terluas itu ada di Papua (32,36 juta hektar luasnya). Kemudian hutan Kalimantan (28,23 juta hektar), Sumatera (14,65 juta hektar), Sulawesi (8,87 juta hektar), Maluku dan Maluku Utara (4,02 juta hektar), Jawa (3,09 juta hektar), serta Bali dan Nusa Tenggara (2,7 juta hektar), sumber data Kompas.

Dari luasan tutupan hutan Kalimantan yang mencapai 28, 23 juta Ha, terluas kedua setelah hutan Papua. Sebuah kekhawatiran saat ini, hutan menjadi primadona yang entah kapan berakhir karena selalu dinanti. Dinantinya luasan tutupan hutan di Kalimantan boleh jadi akan berimbas pada sendi-sendi kehidupan masyarakat pula di sekitar hutan.

Hutan dijadikan sebagai lahan perang umat manusia, hal ini tercermin dengan adanya eksploitasi, eksplorasi dan penelitian terhadap hutan.

Hutan tidak jarang dijadikan sebagai politik pemanfaatan yang berlebihan terhadap suatu dan tidak jarang tanpa melihat kepatutan dan hak-hak masyarakat akar rumput. Eksplorasi terhadap sumber kekayaan alam terlebih hutan yang dilakukan secara masif menjadi ketakutan tak berujung hingga nanti.

Mungkin saja, hutan Kalimantan akan tinggal cerita dan kenangan 10-20 tahun kedepan. Hal inilah yang menjadi sebuah tanya tentang masa depan hutan Indonesia. Data mencatat, hutan primer Indonesia paling cepat hilang dari masa ke masa pun bersinggungan langsung dengan masa depan kehidupan masyarakat lokal. Diperkirakan apabila hutan Kalimantan kehilangan 75% Hilangnya luasan tutupan hutan berdampak pada hilang atau habisnya ragam tumbuhan dan satwa endemik, kekhawatiran akan terkikisnya atau hilangnya adat tradisi masyarakat lokal juga diperkirakan akan terjadi.

Sumber konflik sudah hampir pasti hadir dalam hal ini. Tidak sedikit rentetan contoh kasus yang sering kali abai terhadap hak-hak masyarakat lokal di Nusantara ini. Tidak perlu menyebutkan secara runut kejadian per kejadian yang asal muasalnya karena perebutan batas lahan. Dengan kejadian tersebut pula tidak jarang akan memakan korban baik secara perorangan ataupun juga per wilayah.

Pribahasa setelah terantuk barulah tengadah acap kali hadir dalam setiap masyarakat kita. Setelah terjadinya sesuatu barulah repot-repot untuk mencari solusi tanpa dari awal melihat dampak, sebab dan akibat.

Tidak jarang hutan yang dikorbankan atau yang menjadi korban dari eksplorasi dan eksploitasi juga bertentangan dengan ranah hak-hak akar rumput.

Benar saja, hutan sebagai sumber keberlanjutan makhluk hidup juga sudah semestinya menjadi bahan untuk diteliti dengan maksud pula mencari cara bagaimana mempelajari dan menyelamatkan dari sisa-sisa hutan yang tersisa.

Hutan sebagai harta karun yang tak ternilai kini pun menjadi dilema. Dimanfaatkan namun juga diambang kehancuran menjelang terkikis habis. Satu-satunya harapan semoga hutan di Indonesia, lebih khusus di Kalimantan, Sumatera dan Papua masih boleh (di/ter) selamatkan dari sekarang hingga nanti.

Banyak cara untuk menyelamatkan hutan Indonesia dengan ragam kepedulian dari berbagai lembaga konservasi ataupun juga dari pemerintah mencari cara menyelamatkan hutan Indonesia. Tetapi juga terkadang nasib hutan tak jarang dikorbankan demi kepentingan bisnis dari para pengusaha dan penguasa yang acap kali lupa dari fungsi hutan yang sesungguhnya.

Hutan juga tak ubah sebagai buah simalakama; dimakan, bapak mati. Tidak dimakan ibu yang mati. Serba salah singkatnya. Disatu sisi hutan perlu dimanfaatkan namun jangan dimusahkan atau dikorbankan. Hutan perlu diselamatkan sebagai keberlanjutan semua makhluk hidup hingga nanti. Bila tidak diselamatkan, hutan akan menjadi kenangan dan kita akan menanggung resiko dari dampak yang ditimbulkan.

Tulisan ini sebelumnya dimuat di Kompasiana, baca di : http://v20106.kompasiana.com/pit_kanisius/hutan-indonesia-antara-lahan-perang-eksploitasi-eksplorasi-dan-penelitian_593fa5e1f27a6104368b7665

Petrus Kanisius-Yayasan Palung