BKSDA Kalbar dan YIARI Rescue Satu Individu Bayi Orangutan di Kusik Pakit

Rescue OU di Jelai Hulu (2)

Tim BKSDA dan YIARI saat melakukan rescue satu individu orangutan di Pakit Kusik, Jelai Hulu, Ketapang . Foto. YP

Rabu (10/8/2016) pekan lalu, BKSDA Kalimantan Barat melalui Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Ketapang melakukan evakuasi 1 bayi Orangutan (Pongo pygmaeus) di Dusun Kusik Pakit, Desa Rangga Intan, Kecamatan Jelai Hulu, Ketapang, Kalbar. Bayi Orangutan yang  diselamatkan tersebut berusia ± 1 tahun, berkelamin jantan serta dalam kondisi baik, bayi Orangutan yang itu dipelihara oleh pemiliknya bapak Gampau, kurang lebih selama bulan itu selanjutnya diselamatkan (rescue).

Ruswanto selaku Kepala SKW I Ketapang menceritakan bahwa pada 25 Juli 2016 SKW I Ketapang, ia menerima laporan secara tertulis dari Yayasan Palung dengan nomor laporan 167/Lap-OU/PPS-Hukum/YP/VII/2016 tentang kasus pemeliharaan Orangutan. Selanjutnya melalui koordinasi dan diskusi maka BKSDA Kalbar melalui Tim Evakuasi dan Penyelamatan TSL SKW I Ketapang bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) melakukan evakuasi bayi Orangutan tersebut. Sebelum dilakukan evakuasi terlebih dahulu dilakukan pendekatan secara persuasif dan edukatif kepada pemilik (pemilihara) Orangutan. Setelah dilakukan pendekatan secara persuasif pemilik bayi Orangutan menyerahkannya kepada pihak yang berwewenang. Setelah dilakukan evakuasi, bayi Orangutan dibawa ke pusat rehabilitasi yang dikelola YIARI sebelum dilepasliarkan ke habitat aslinya.

Ruswanto berharap agar masyarakat turut serta membantu pemerintah melindungi satwa-satwa langka yang dilindungi undang-undang dengan tidak memelihara di rumah secara pribadi melainkan membiarkan hidup bebas di habitat aslinya. Terkait larangan ini sudah sangat jelas dan tegas diatur dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya Pasal 21 ayat 2 huruf (a) bahwa setiap orang dilarang menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup dan huruf (b) bahwa setiap orang dilarang menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup atau mati. Serta dalam pasal 41 ayat 2 bahwa Barang siapa dengan sengaja melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).

Triana, Direktur Yayasan Palung menambahkan bahwa hutan di kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara terutama hutan rawa gambut menjadi tempat yang nyaman bagi Orangutan untuk hidup. Namun sangat disayangkan hutan di dua kabupaten ini sudah sulit ditemukan kawasan hutan yang aman bagi hewan arboreal yang sebagian besar tinggal di atas pohon terutama hutan rawa dataran rendah. Selain itu juga, meskipun penyebaran isu penyelamatan Orangutan cukup besar dilakukan, namun pada kenyataannya praktek kejahatan terhadap satwa dilindung terutama kasus pemeliharaan masih terjadi hingga kini.

Orangutan bagai diserang dari berbagai sudut baik serangan terhadap individu Orangutan yang terus diburu, disayang dan diperdagangkan dalam usaha meraup keuntungan.  Bahkan sangat tragis juga terjadi pada habitat Orangutan yang terus dibuka untuk kepentingan perkebunan dan pertambangan. Kurangnya perhatian akan hak-hak hidup Orangutan membuat Orangutan terus tergusur dari habitat aslinya.

Bahkan hingga saat ini terdapat 100 lebih individu di pusat rehabitas yang dikelola YIARI. Ini harus mendapatkan perhatian kita semua termasuk perhatian pemerintah daerah untuk menyediakan kawasan hutan yang betul-betul aman dan nyaman sebagai kawasan pelepasliaran Orangutan. Juga perlu disadari bahwa membicarakan konservasi Orangutan tidak terlepas dari membicarakan kebijakan di tingkat pemerintah daerah. Karena kebijakan di tingkat daerah terutama kebijakan terkait pembangunan di segala bidang harus berwawasan lingkungan. Karena kebijakan yang tidak berwawasan lingkungan akan membawa dampak yang besar terhadap kelestarian Orangutan dan habitatnya.

Petrus Kanisius & Edi Rahman-Yayasan Palung

Yayasan Palung Bersama ASRI Lakukan Kegiatan Kesehatan Keliling dan Pendidikan Lingkungan

           

IMG_3562.JPG

Saat pemutaran film lingkungan (mobile cinema) Yayasan Palung di Dusun Cali. Foto dok. Yayasan Palung

Setidaknya kami (Yayasan Palung dan Yayasan ASRI) membutuhkan 8 jam perjalanan untuk sampai di tempat kami melakukan kegiatan kesehatan keliling (Kesling) dan pendidikan lingkungan di dua dusun Cali dan Pangkalan Jihing, Nanga Tayap, pada 9-10 Agustus 2016, kemarin. Rangkaian kegiatan tersebut juga sekaligus memperingati Hari Konservasi Alam Nasional 2016.

Setibanya di Dusun Pangkalan Jihing pada pukul 14.00 WIB. Di Dusun tersebut, kami menginap di Rumah Kepala Dusun Pangkalan Jihing. Pada malam harinya, Yayasan ASRI melakukan pengobatan kepada masyarakat yang ada di dusun tersebut. Sedangkan Yayasan Palung melakukan pemutaran film lingkungan di dusun Cali, berlokasi di halaman sekolah SDN 33 Cali, Nanga Tayap.

Terlihat antusias masyarakat untuk berobat dan memeriksa kesehatan mereka. Diantara pasien ada yang memeriksa kesehatan diantaranya seperti sakit asma, demam panas, penyakit step, ada juga diantaranya ada yang sakit gigi ingin mencabut giginya. Namun belum bisa di cabut karena giginya masih sakit dan belum boleh dicabut.

Keesokan harinya (10/8/2016), Yayasan ASRI kembali melakukan pengobatan kepada masyarakat dan Yayasan Palung melakukan edukasi lingkungan di Sekolah Dasar Negeri 33 Cali, Nanga Tayap. Pada saat melakukan edukasi lingkungan, Yayasan Palung menyampaikan informasi tentang orangutan dan habitatnya melalui media boneka (orangutan, bekantan, kelasi, enggang, dan trenggiling), siswa kami libatkan aktif untuk bermain boneka agar mereka senang.

IMG_3603.JPG

Yayasan Palung saat memberikan materi lingkungan kepada anak-anak melalui media boneka (puppet show), Foto dok. YP

IMG_3672.JPG

Foto bersama-sama dengan pihak sekolah dan anak dari SDN 33 Nanga Tayap

Inti materi yang disampaikan tentang hubungan orangutan dan manusia baik itu terkait dengan keberadaannya terutama habitat, makanan, reproduksi, ancamanannya melalui media boneka (puppet show). Dalam puppet show tersebut diikuti oleh seluruh siswa 42 dari kelas I-VI. Agar siswa lebih memahami apa yang disampaikan, kami mensimulasikan dengan rambut yang dimliki dua orang siswa sebagai hutan. Dari perbedaan rambut yang lebat dan sedikit, mereka lebih paham dengan fungsi hutan sebagai pencegah banjir dan tanah longsor. Dan dihutan yang lebat akan banyak kemungkinan buah-buahan atau makanan satwa atau orangutan lebih banyak daripada rambut yang sedikit. Ketika kami mensimulasikan rambut semua siswa tertawa dan mereka lebih memahaminya. Kegiatan ini diakhiri dengan menyanyikan lagu si pongo dan foto bersama.

Adapun untuk menjangkau wilayah di Dusun  Cali dan Pangkalan Jihing cukup sulit dijangkau dan dilewati karena jalan di wilayah tersebut terbilang kurang terawat. Beberapa mobil truk pembawa bibit sawit terlihat berlalu lalang dan beberapa diantaranya membawa kayu olahan (kayu segi). Di dua tempat ini juga untuk berkomunikasi agak sedikit sulit karena signal hanya ada ditempat tertentu. Selain itu juga, di dua dusun ini belum ada penerangan umum yang menerangi.

IMG_3469.JPG

Kubangan lumpur (jalan rusak) salah satu kendala  utama di wilayah tersebut. Foto dok. YP

Dari Yayasan Palung yang ikut dalam kegiatan kesling dan pendidikan lingkungan tersebut adalah Ranti Naruri, Petrus Kanisius dan mahasiswa magang Sumihadi dan Hendri Gunawan (BOCS). Sedangkan dari Yayasan ASRI yang ikut antara lain adalah, dr. Lori Chow, merupakan relawan ahli bedah untuk ASRI, dr. Alvita Ratnasari, Nani Utari, Efan Juniansyah dan Usuf Hamdani. Kegiatan berjalan sesuai rencana dan mendapat sambutan baik dari masyarakat dan pihak sekolah. Kegiatan kami usai pada tengah hari, selanjutnya kami Yayasan Palung kembali untuk pulang ke Ketapang dan Yayasan ASRI ke Kayong Utara.

Tulisan Selengkapnya dapat dilihat dilink :

http://pontianakpost.com/gelar-kesling-dan-pendidikan-lingkungan

Petrus Kanisius- Yayasan Palung

Hari Orangutan Sedunia 2016 : Ini Cara Sederhana yang Yayasan Palung Bisa Lakukan

Kami Indonesia, Kami semua perlu hutan. Foto dok. Yayasan Palung

Kami Indonesia, Kami semua perlu hutan. Foto dok. Yayasan Palung

Jumat pekan lalu (19/8), Yayasan Palung bersama para relawan konservasi Tajam melakukan kampanye bersama dalam bingkai hari orangutan sedunia 2016, untuk mengingatkan kita semua dengan berbagai cara. Misalnya membuat pesan bersama yang mengajak instansi-instansi terkait seperti Dinas Kehutanan Ketapang, Balai Taman Nasional Gunung Palung (BTNGP), BKSDA melalui Manggala Agni dan kepolisian. Selain itu juga melibatkan masyarakat di sepanjang jalan, di emperan toko, pusat perbelanjaan, jalan raya dan siapa saja yang ingin menyampaikan pesan.

Pesan-pesan penting dan sederhana tentang keprihatinan terhadap nasib orangutan dan hutan menjadi salah satu cara sederhana yang bisa dituangkan dan bisa dilakukan melalui media foto dan pesan singkat dalam peringatan Hari Orangutan Sedunia (Worid Orangutan Day) 2016.

Adapun pesan dalam foto tersebut menggambarkan tentang kondisi hutan dan orangutan saat ini. dengan menyertakan hastag atau tanda tagar (#) seperti #WorldOrangutanDay2016 #HariOrangutanSedunia2016 #OrangutanIsUs #YayasanPalung #YP #GunungOrangutanConservationProgram #GPOCP  #SaveOrangutans #SaveOurForest #WorldOrangutanDay.

Semoga saja, dengan cara penyampaian pesan-pesan sederhana ini dapat menggugah kesadaran dari semua pihak untuk semakin peduli kepada nasib hidup hutan dan orangutan agar bisa lestari.

Tulisan yang sama selengkapnya dapat dibaca di link : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/selamatkan-hutan-untuk-orangutan-selamatkan-orangutan-untuk-hutan_57b73dfa90fdfd4348ea0dbe

By : Petrus Kanisius-Yayasan Palung

 

Pelatihan Membangunan Manajemen Hutan Secara Berkelanjutan dengan Pemanfaatan Tanaman Gaharu dari Hasil Budidaya yang Memiliki Potensi Nilai Tinggi

Pel. Gaharu (26)

Para peserta pelatihan gaharu sangat serius mendengarkan penjelasan dari pemateri pelatihan. Foto dok. Yayasan Palung

Tanaman Gaharu merupakan produk Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yang saat ini sudah mulai langka terutama Gaharu Alam. Ini akibat maraknya perburuan gaharu alam karena besarnya permintaan pasar. Bahkan orang-orang yang tidak berkompeten ikut memburu gaharu alam menyebabkan pohon gaharu yang tidak menghasilkan gaharu juga ikut ditebang dan tidak diimbangi dengan penanaman kembali. Bahkan kawasan hutan yang sudah banyak berubah menjadi areal perkebunan dan pertambangan juga menjadi faktor penyumbang kelangkaan gaharu Alam ini. Masyarakat tidak bisa lagi mengandalkan gaharu alam ini untuk memenuhi permintaan pasar sebab semakin langkanya gaharu alam serta adanya regulasi atau aturan yang menetapkan gaharu sebagai species dilindungi dan masuk dalam apendiks II yang tidak boleh diperdagangkan.

Untuk memenuhi tingginya permintaan pasar ini maka salah satu cara yang ditempuh adalah dengan mendorongnya masyarakat untuk membudidayakan tanaman gaharu. Untuk mendorong serta menggalakan budidaya gaharu ini maka melalui Dinas Kehutanan dan Perkebunan kabupaten Kayong Utara bekerjasama dengan Universitas Tanjungpura Pontianak dan Yayasan Palung mengadakan pelatihan kepada masyarakat sekitar kawasan hutan dengan melibatkan beberapa desa di kecamatan Sukadana, kecamatan Simpang Hilir serta beberapa Mahasiswa Magang dari Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura. Pelatihan ini mengambil tema “Membangun Manajemen Hutan Secara Berkelanjutan Dengan Pemanfaatan Tanaman Penghasil Gaharu Hasil Budidaya” yang dilaksanakan di Aula Pembibitan Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Kayong Utara, pada 11-12 Agustus 2016, pekan lalu.

Pel. Gaharu (41)

Peserta pelatihan melakukan inokulan (penyuntikan) pada gaharu. Foto dok. Yayasan Palung

Peserta yang diundang dalam pelatihan ini khususnya peserta dari Kecamatan Simpang Hilir Berkaitan adalah anggota Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) dan tokoh masyarakt dari Desa Penjalaan, Desa Nipah Kuning, Desa Pemangkat, Desa Pulau Kumbang dan Desa Padu Banjar. Desa-desa ini menjadi wilayah dampingan Yayasan Palung dalam program Hutan Desa dan pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK). Tak kurang, 40 orang peserta yang ikut dalam pelatihan tersebut.

Materi pelatihan ini disampaikan oleh Bapak Abdul Mu’in, Bapak Burhanuddin, Bapak Sudirman Mu’in, Ibu Dwi Astiani, Ibu Wiwik Ekyastuti, Ibu Emi Roslinda. Semua Fasilitator tersebut merupakan pengajar (Dosen) Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura. Materi yang disampaikan adalah terkait Teknik budidaya tanaman gaharu, hama tanaman penghasil gaharu, teknik pembentukan gubal gaharu, pemanenan dan penanganan pasca panen. Selain materi tersebut, juga disampaikan materi tentang hasil analisis vegetasi dan survey sarang Orangutan di kawasan Hutan Lindung Sungai Paduan yang disampaikan langsung oleh Yayasan Palung. Sekilas dari hasil survei, memastikan di darah tersebut (Sungai Paduan) merupakan salah satu habitat orangutan.

Pel. Gaharu (81).JPG

Para peserta pelatihan saat mendengaran pemaparan materi dari pemateri pelatihan. Foto dok. Yayasan Palung

Untuk lebih memahami bagaimana memperoleh gubal gaharu maka langsung dilakukan praktek Penyuntikan pohon gaharu.  Dalam praktek ini para peserta diajarkan langsung bagaimana melakuan penyuntikan pada pohon gaharu untuk memperoleh gubal gaharu (baik melakukan pengeboran di batang gaharu, kedalaman lubang pengeboran, jarak antar lubang di batang gaharu serta memasukan cairan inokulan serta bahan-bahan apa saja yang perlu disiapkan sebelum melakukan penyuntikan pada pohon gaharu.

Menurut Edi Rahman, dengan pelatihan ini diharapkan para peserta termasuk anggota LPHD dapat memahami bagaimana tehnik budidaya Gaharu, Mengetahui hama apa saja yang menyerang tanaman gaharu serta cara mengatasinya, bagaimana memperoleh gubal gaharu (gubal gaharu adalah kayu berwarna kehitaman dan mengandung resin khas yang dihasilkan oleh sejumlah spesies pohon dari marga/genus Aquilaria, terutama A. Malaccensis). Resin ini digunakan dalam industri wangi-wangian (parfum dan setanggi) karena berbau harum pada tanaman Gaharu. Bagaimana penanganan pasca panen terutama terkait pasaran dan nilai jualnya. Namun yang tidak kalah penting adalah dengan adanya pelatihan ini diharapkan anggota LPHD dapat membudidayakan tanaman gaharu karena sangat cocok dan mudah dibudidayakan di wilayah Kabupaten Kayong Utara, yang merupakan salah satu sumber altenatif pendapatan masyarakat karena memiliki nilai ekonomis dan harga tinggi serta peluang pasar yang besar. Saat ini seperti diketahui, ada beberapa negara yang menjadi pengimpor gaharu diantaranya seperti Saudi Arabia, Kuwait, Turki, Yaman, Amerika Serikat, Uni Emirat Arab, Singapura dan Jepang. (Tim PPS Yayasan Palung).

BKSDA Lepas Liarkan Penyu Sisik di Pantai Pulau Datok

Pelepasliaran Penyu

Petugas BKSDA Saat melepasliarkan Penyu Sisik. Foto dok. YP 

Minggu pekan lalu  (7/8/2016), Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat berserta Seksi Konservasi Wilayah I Ketapang melakukan pelepasliaran 1 ekor Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata) di Pantai Pulau Datok Kecamatan Sukadana Kayong Utara yang merupakan habitat aslinya. Sedangkan usia Penyu Sisik yang dilepasliarkan berusia ± 3 tahun.

Pelepasliaran itu sendiri langsung dihadiri oleh Bapak Ir. Sustyo Iriono, M.Si (Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam) Kalimantan Barat, Bapak Ruswanto (Kepala SKW I Ketapang), Daops Galaag Ketapang, Yayasan Palung dan Kontributor TVRI Kayong Utara.

Bapak Ruswanto menceritakan kronologis Penyu Sisik yang dilepasliarkan tersebut, bermula pada tanggal 03 Agustus 2016 petugas BKSDA Kalimantan Barat dalam ini Tim Gugus Tugas Evakuasi dan Penyelamat TSL Seksi Konservasi Wilayah I Ketapang bersama Daops Galaag Ketapang melakukan evakuasi 1 ekor Penyu Sisik hasil penyerahan dari Ibu Sonya di Taman Rekreasi Pantai Air Mata Permai, Ketapang.

Saat pelepasan penyu di pantai P. Datok

Foto saat pelepasliaran penyu sisik di Pantai Pulau Datok

Bahkan belum lama ini juga BKSDA Kalimanan Barat melalui SKW I Ketapang melakukan operasi terhadap telur penyu yang diperjualbelikan di Ketapang.

Edi Rahman dari Yayasan Palung menambahkan, Penyu sisik merupakan salah satu  sumberdaya hayati laut yang langka. Namun sangat disayangkan walaupun telah dimasukan ke dalam satwa dilindungi tetap saja terus mengalami penurunan populasi. Ini dikarenakan banyaknya perburuan telur Penyu serta perubahan bentangan alam yang menyebabkan terganggunya habitat hidup dan habitat peneluran penyu.

Di Kabupaten Ketapang terutama di pantai-pantai terlebih di Kecamatan Kendawangan merupakan salah satu habitat Penyu bertelur termasuk Penyu Sisik. Ada beberapa pulau yang menjadi lokasi Penyu bertelur termasuk Penyu sisik diantaranya Pulau Penambun, Pulau Batu Titi, Pulau Kelapa Condong, Pulau Gelam serta beberapa pulau lainnya. Pulau-pulau tersebut masuk dalam wilayah administratif Kecamatan Kendawangan. Namun saat ini, yang sangat disayangkan di beberapa pulau tersebut, banyak para nelayan yang selalu mampir untuk berburu telur Penyu untuk diperjualbelikan. Selain manusia yang menjadi ancaman terhadap telur Penyu adalah hewan predator seperti Anjing Laut dan biawak. (Pit-Yayasan Palung).

 

Tulisan ini juga dimuat dan bisa dibaca di :

http://pontianak.tribunnews.com/2016/08/11/bksda-lepaskan-penyu-sisik-ke-habitatnya-di-pulau-datok

http://pontianakpost.com/satu-penyu-sisik-dilepasliarkan

Malam Keakraban Keluarga Besar Yayasan Palung (GPOCP)

IMG_3109

Foto bersama Keluarga Besar Yayasan Palung (GPOCP). Foto dok. Yayasan Palung

IMG_3080.JPG

Cheryl Knott menyerahkan buku kepada Cassie Freund sebagai ucapan terima kasih dan kenang-kenangan. Foto dok. Yayasan Palung.

Senin (1/8/2016) kemarin, Keluarga besar Yayasan Palung makan malam bersama bertempat di Cafe Culinary, Ketapang.

Sebenarnya ini acara rutin yang diakan setiap tahun setiap kunjungan Direktur Eksekutif Yayasan Palung, DR. Cheryl Knott ke Indonesia. kekhususan dari makan malam kali ini adalah, Cheryl membawa seluruh keluarganya yaitu suaminya Tim Laman yang juga berulang tahun yang ke 55 pada malam itu, dan kedua anaknya yaitu Russel dan Jessica.

IMG_3032

Malam keakraban sekaligus merayakan Ulang tahun Tim Laman. Foto dok. Yayasan Palung 

Selain itu momen ini juga merupakan penyambutan terhadap Triana selaku Direktur Lapangan dan Terri selaku Direktur Program Yayasan Palung (YP) yang baru, menggantikan Ibu Cassie Freund yang sekaligus serah terima jabatan di YP pada malam itu secara resmi.

Cassie Freund selanjutnya akan melanjutkan pendidikan Strata-III  (S3) dan kembali ke Amerika. Adapun suasana makan malam sekaligus malam keakraban bersama ini bercampur aduk, ada gembira, haru sekaligus sedih.

Dalam sanbutannya, Cassie menyampaikan pesan kepada semua kawan-kawan agar semakin maju dan terus semangat dalam membangun Yayasan Palung di tahun-tahun mendatang. Sedangkan Ibu Cheryl mengucapkan terima kasih kepada Cassie yang telah melaksanakan tugas dengan baik selama memimpin Yayasan Palung.

Selain itu juga, dari beberapa staf menyampaikan pesan dan kepada Cassie selama kepemimpinannya yang boleh dikata sangat membantu dalam hal perbaikan-perbaikan dan terobosan baru bagi Yayasan Palung. Hampir semua keluarga besar Yayasan Palung hadir dalam acara tersebut.

By : Mayi & Edi- Yayasan Palung

Mengenal Satwa: Si Lutung Merah yang Cantik dan Dilindungi dari Kalimantan

Kelasi. Foto dok. gunungpalungnationalpark

 

Memiliki bulu berwarna kemerahan dan memiliki wajah berulas (bantalan pipi berkerut) kebiruan, memiliki jambul pendek sedikit berdiri. Sedidaknya itu yang menjadi ciri khusus dari salah satu spesies primata yang ada di Kalimantan, Indonesia.

Satwa yang disebut juga dengan nama lutung merah, yang dalam bahasa latinnya Presbytis rubicunda dan  termasuk keluarga (famili) Cercopithecidae.

Di seluruh wilayah hutan Kalimantan dan beberapa diantaranya terdapat di Sabah, Malaysia merupakan habitat hidup dari Satwa ini.

Menariknya lagi ciri khusus dari satwa ini, sewaktu masih bayi memiliki warna keputih-putihan dengan bercak hitam pada bagian bawah punggung dan melintang sebahu.

Seperti diketahui, biasanya lutung memiliki buru merah yang cantik. Hidup dari satwa ini adalah berkelompok, dalam satu kelompok 7-8 ekor dan dengan satu ekor jantan dewasa.

Sepanjang hari, kelasi atau lutung merah biasanya beraktivitas dan aktif di siang hari atau dalam kata lain termasuk satwa diurnal.

Si lutung merah, habitat hidupnya hutan-hutan primer dan sekunder. Tidak jarang mereka keluar dari hutan kemudian memasuki kawasan dan pemukiman warga untuk mencari makan apabila hutan tempat mereka berdiam telah rusak atau berkurang.

Adapun makanan favorit dari kelasi adalah dedaunan muda dan biji-bijian. Tidak jarang pula masyarakat yang memiliki kebun berbatasan langsung dengan kawasan hutan,  si lutung merah dianggap binatang nakal dan hama yang merusak tanaman mereka.

Ada cerita unik tentang kelasi di kalangan masyarakat di daerah Kayong (KKU dan Ketapang), Kalbar, Konon kalau menertawakan kelasi mengakibatkan cuaca menjadi hujan panas, namun cerita ini tidak terkonfirmasi sejak kapan mulanya beredar.

Sampai saat ini, keberadaan populasi lutung merah  di alam liar dari hari ke hari semakin terancam dikarenakan  beberapa penyebab utama seperti pembukaan lahan lahan berskala besar, kebakaran hutan, perburuan dan perdagangan satwa liar.

Sementara itu, perlindungan kelasi di Indonesia mengacu pada UU no 5 tahun 1990, tentang Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem, pasal 21 ayat 2 dan pasal 40 ayat 2. yang menyatakan; Dilarang menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memilihara, mengangkut, dan memperniagakan atau memperjualbelikan satwa dilindungi atau bagian-bagian lainnya dalam keadaan hidup atau mati, tertuang dalam (Pasal 21 ayat 2). Barangsiapa dengan sengaja melakukan pelanggaran sebagaimana ketentuan dimaksud akan dikenakan penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak 100 juta rupiah (pasal 40 ayat 2).

Selain itu juga, dalam Perundang-undangan Indonesia, kelasi dilindungi berdasarkan SK Mentan No. 247/Kpts/Um/4/1979 dan Peraturan Pemerintah  no. 7 tahun 1999.

Sedangkan dalam daftar Internasional, IUCN (International Union Conservation Nature), kelasi masuk dalam daftar resiko rendah( Lower Risk/least concern-LR/lc atau Apendiks II).

Semoga saja, kelasi si lutung merah dapat hidup dengan aman dan nyaman di habitatnya di pulau Kalimantan.

Sumber tulisan dari : Majalah Informasi Satwa (Majalah MiaS) Yayasan Palung, Buku Saku Pedoman jenis-jenis satwa liar yang dilindungi di Kalimantan dan dari berbagai sumber.

Baca juga tulisan di  http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/si-lutung-merah-yang-cantik-dan-dilindungi-dari-kalimantan_57a019078e7e61060cf0960b        

By : Petrus Kanisius- Yayasan Palung

   

 

Inilah Perbedaan antara Kera dan Monyet

Rayap dan serangga termasuk makanan orangutan. Foto dok. Tim Laman dan Yayasan Palung

Rayap dan serangga termasuk makanan orangutan. Foto dok. Tim Laman dan Yayasan Palung

Di beberapa tempat tersebutlah seperti Kalimantan dan Sumatera (Indonesia) terdapat satwa yang di sebut kera dan di negara lain seperti di Afrika, Ada pula monyet. Keberadaannya hampir tersebar di sebagian besar wilayah di Dunia.

kebanyakan ada yang menyebut kera dengan sebutan monyet dan sebaliknya. Lalu mana sesungguhnya kera dan mana pula yang disebut monyet? Lantas, apa perbedaan antara kedua satwa ini?.

Apa saja satwa yang disebut kera dan apa yang disebut monyet? Pada dasarnya, sebagian besar literatur dan fakta memperlihatkan satwa yang umumnya disebut Kera adalah beberapa satwa yang tidak memiliki ekor. Di Dunia, tercatat hanya ada empat kera besar yang tersisa atau masih bertahan hidup.

Empat kera besar yang ada di dunia tersebut terdapat di dua benua; Afrika dan Asia. Kera besar tersebut adalah Gorilla, Simpanse, Bonobo yang mendiami benua Afrika. Sedangkan kera besar lainnya adalah orangutan, yang terdapat di Asia, lebih tetapnya di Indonesia (Pulau Sumatera dan Kalimantan). Selain itu ada juga kera kecil seperti satwa bernama kelempiau atau owa. Mengapa disebut monyet? Pada dasarnya disebut monyet, karena satwa tersebut memiliki ekor panjang. Seperti lutung, kelasi, bekantan dan beruk.

Perbedaan kera dan monyet antara lain adalah:

  1. Kera :
  • Tidak memiliki ekor
  • Ukuran tubuh lebih besar
  • Pergerakan lebih lambat
  • Soliter (sendiri/menyendiri/tidak berkelompok)
  1. Monyet
  • Memiliki ekor
  • Ukuran tubuh lebih kecil dibandingkan kera
  • Pergerakan lebih cepat dan lincah Hidup berkelompok

Monyet memiliki ekor yang cukup panjang. Foto dok. Tim Laman dan Yayasan Palung

Monyet memiliki ekor yang cukup panjang. Foto dok. Tim Laman dan Yayasan Palung

Pada dasarnya, kera dan monyet merupakan satwa yang unik serta memiliki kehkasannya masing-masing. Seperti misalnya, monyet bernama kelasi yang memiliki bulu kemerahan dan si kera kecil bernama kelempiau yang sangat cepat dan lincah. Selain itu juga, orangutan si kera besar yang memiliki tingkat kecerdasan 96,4 % .

Sampai saat ini, beragam populasi dan habitat hidup kera dan monyet berupa hutan semakin tahun semakin berkurang, bahkan dapat dikatakan mereka terancam di habitat hidupnya. Dari tahun ke tahun, jumlah populasi mereka diambang kepunahan terlebih terhadap orangutan di Kalimantan dan Sumatera di (Indonesia) dan kera besar (Great apes) seperti Gorila, Simpanse, Bonobo di Afrika serta kera kecil (Lesser apes) seperti kelempiau owa.  Terhimpitnya (hilangnya) habitat hidup mereka berupa hutan menjadi salah satu alasan utama keberadaan kera dan monyet dari waktu ke waktu semakin berkurang atau menyusut drastis. Demikian juga yang terjadi pada monyet seperti bekantan dalam ancaman kepunahan, mengingat habitat hidup dari bekantan (Si Hidung Mancung/ Monyet Belanda) habitat hidupnya hanya terdapat pesisir sungai di Wilayah Kalimantan.

Semoga saja kera besar, kera kecil dan monyet serta satwa lainnya yang mendiami bumi ini bisa lestari hingga nanti. Dengan harapan kepedulian dari semua pihak menjadi pilihan utama saat ini yang tidak bisa tawar-tawar.

By : Pit-YP

Selengkapnya dapat dibaca di: http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/inilah-perbedaan-antara-kera-dan-monyet_57874263187b61dc0633344b

Dua Individu Kukang Kalimantan Diselamatkan di Sekitar Hutan Pantai

Kukang saat diselamatkan oleh  YIARI dan BKSDA SKW 1 Ketapang di kantor Yayasan Palung. Foto. dok. YP

Kukang saat diselamatkan oleh YIARI dan BKSDA SKW 1 Ketapang di kantor Yayasan Palung. Foto. dok. YP

Seperti diketahui satwa ini tinggal di hutan-hutan Kalimantan, Sumatera dan Jawa. Satwa ini sangat pemalu sesuai dengan namanya. Saat ini pula, keberadaan kukang atau si malu-malu di alam populasinya kian menyusut dan semakin langka dari tahun ke tahun. Minggu (24/7/2016) Kemarin, menjelang senja menyapa teman-teman dari FPTI Ketapang dan Sispala Care, SMAN 2 Ketapang yang saat itu berada di hutan dekat pantai secara tidak sengaja melihat dua primata tersebut tergeletak di tanah di sekitar Pantai Air Mata Permai Ketapang, Kalbar.

Merasa iba, mereka lalu menyelamatkan kedua primata yang bernama latin Nycticebus coucang tersebut dan langsung menyerahkannyan kepada Yayasan Palung (YP). Hingga saat ini tidak diketahui dengan pasti penyebab kedua primata tersebut berada diluar habitatnya.

Jpeg

Si malu-malu saat diselamatkan oleh teman-teman FPTI dan Sispala Care. Foto dok. FPTI & Sispala Care.

Selanjutnya, YP menghubungi Yayasan IAR Indonesia (YIARI) untuk mengambil si malu-malu. Si malu-malu yang dimaksud tidak lain adalah nama lain dari kukang karena sifatnya yang pemalu. Keesokan harinya (25/7/2016), YIARI bersama BKSDA SKW 1 Ketapang melakukan rescue satwa yang aktif di malam hari (nokturnal) tersebut di Kantor Yayasan Palung.

Sebelum melakukan rescue diadakan penandatanganan surat penyerahan kedua primata tersebut. Kedua kukang tersebut selanjutnya dibawa ke pusat rehabilitasi Yayasan IAR Indonesia (YIARI) di Desa Sungai Awan Kiri untuk direhabilitasi beberapa waktu hingga siap untuk dilepasliarkan kembali.

Saat ini, merunut dari daftar dari International Union for Conservation of Nature (IUCN), kukang Kalimantan (Niycticebus menagensis) dan kukang Sumatera(Nycticebus coucang) masuk dalam status rentan (vulnerable). Sedangkan kukang Jawa (Nycticebus javanicus) masuk dalam status kritis atau terancam punah (critically Endangered).

Menariknya lagi, satwa yang dikenal pemalu dan menyukai tempat gelap ini termasuk dalam kelompok kera kecil (Lesser ape) karena tidak memiliki ekor. Untuk penyebutan lebih cocoknya tidak dua ekor kukang, tetapi dua individu kukang. Dalam UU no 5 tahun 1990, tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem, kukang di masukan dalam daftar satwa yang dilindungi. Perdagagan dan perburuan ilegal menjadikan primata/satwa pemalu ini semakin berkurang jumlahnya dari tahun ke tahun termasuk habitat hidupnya berupa hutan yang semakin menyempit.

By : Pit-YP

Selengkapnya dapat dibaca juga di: http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/dua-individu-kukang-kalimantan-diselamatkan-di-sekitar-hutan-pantai_5796f544d17a61c8068b4577

 

Apa yang Menarik dari Orangutan dan Mengapa Orangutan Perlu Diselamatkan

???????????????

Orangutan yang ada di Gunung Palung. Foto dok. Tim Laman

Orangutan merupakan salah satu kera besar yang ada di Asia, lebih khusus di dua Pulau yaitu Pulau Sumatera dan Kalimantan. Sayangnya, orangutan yang merupakan satwa endemik saat ini sangat terancam punah keberadaannya di habitat hidupnya.

Selain itu, masih banyak lagi hal yang menarik dari orangutan seperti : Keberadaan Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) dan Orangutan Sumatera (Pongo abelii) adalah salah satu kebanggaan kita di Indonesia, lebih khusus di dua pulau (Sumatera dan Kalimantan). Kebanggaan tersebut tidak lain karena orangutan menjadi simbol (tanda) bahwa keberadaan hutan di Dua tempat yang di maksud memiliki keunikan dan kelengkapan keanekaragaman hayati yang melimpah. Namun, sayangnya saat ini keberadaan hutan tersebut mengalami penurunan drastis (deforestasi) akibat perluasan lahan.

Oranguatan (orang utan) orang yang tinggal di hutan. Jika boleh dikata, orangutan dan orang rimba (orang yang hidup tinggal di hutan/orang kampung/masyarakat adat; mereka yang tidak terpisahkan dari hutan, hutan sebagai sumber hidup) dan mereka adalah penjaga sejati hutan  di dua tempat ini (Sumatera dan Kalimantan).  Mereka (orangutan dan orang yang tinggal di sekitar hutan-red) tidak sedikit memiliki peran atau berperan besar sebagai penyebar dan penanam tumbuh-tumbuhan. Akan tetapi, saat ini orangutan dan orang yang tinggal di sekitar hutan mulai terhimpit di habitat hidup mereka, salah satunya karena kalah bersaing dengan maraknya investasi yang mengorbankan jutaan hektar hutan. Hal ini tidak jarang membuat makhluk hidup lain juga terancam.

Orangutan merupakan satwa endemik/ khas/ langka yang dimiliki oleh Indonesia (Sumatera dan Kalimantan) yang memiliki 96,4% kemiripan genetik dengan manusia. Salah satunya karena orangutan betina pada saat mengandung dalam rentang waktu rata-rata 8,5 bulan hingga ada yang 9 bulan. Sejatinya masih banyak lagi hal menarik lainnya dari orangutan.

Selengkapnya dapat dilihat di : http://bit.ly/2a4LfLz Selanjutnya, dari banyak hal yang menarik dari orangutan tersebut, tetapi  sesungguhnya menjadikan orangutan saat ini perlu diselamatkan. Diantaranya adalah karena keberadaan populasi orangutan yang mendiami kedua pulau tersebut terancam punah, diperkirakan keberadaan orangutan Kalimantan yang tersisa saat ini, diperkirakan 54.000 individu di seluruh wilayah Borneo (Kalimantan) dan kurang lebih 6.500-an individu orangutan yang tersisa di Sumatera, (Sumber data, dari WWF).

Dari tahun ke tahun keadaan orangutan sangat memprihatinkan keberadaannya di habitat hidupnya. Selain semakin sulitnya mereka untuk berkembang biak, juga keberadaan mereka yang tersisa berada dalam ancaman nyata. Tersebutlah, pembukaan lahan secara besar-besaran, masih maraknya perburuan dan perdagangan terhadap satwa liar terutama orangutan kian memprihatinkan. Tatanan regulasi (tata aturan perundang-undangan) yang mengatur terkait Undang-Undang nomor 1990 tentang Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem, masih saja terus dilanggar oleh berapa oknum di banyak tempat lebih khusus di dua wilayah yang menjadi sebaran dari habitat orangutan. Selain juga, para pelaku perburuan dan perdagangan satwa liar. Ditambah lagi dengan masih adanya industri perkayuan baik yang legal logging ataupun ilegal logging.

Kabar buruknya lagi, dalam daftar IUCN, (data terbaru IUCN)  yang diterbitkan tahun 2016 ini, memasukkan orangutan dalam daftar sangat terancam punah. Mengingat, sebelumnya orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) atau Borneo Orangutan berada dalam daftar terancam punah kini menjadi sangat terancam punah (red list/daftar merah). Berikut daftar satwa yang terancam punah, dapat dilihat di link  http://bit.ly/29UeVty dan daftar satwa yang sangat terancam punah di http://bit.ly/29GkxXl .

Saat ini, tidak sedikit lembaga konservasi dalam dan luar negeri ikut ambil bagian dalam menyelamatkan orangutan dari ancaman kepunahan. Selain juga pihak-pihak Swasta dan pemerintah beberapa diantaranya memiliki program untuk menyelamatkan hutan dan orangutan dari kepunahan. Semoga saja hutan bisa tetap lestari dan orangutan dapat terselamatkan. Semoga saja…

By : Pit- YP

Selengkapnya dapat dibaca di : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/apa-yang-menarik-dari-orangutan-dan-mengapa-orangutan-perlu-diselamatkan_5795ade324afbd210e4aa40f

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.