Video Keragaman Satwa di Gunung Palung

Banyak hal yang telah dilakukan oleh para peneliti saat mereka melakukan aktivitas penelitian di Kawasan Taman Nasional Gunung Palung. Salah satunya keragaman satwa yang berhasil di dokumentasikan lewat video.

Terima kasih kepada Brodie Philp (Manager Penelitian OH) yang telah mendokumentasikan aktivitas satwa melalui video. Terima Kasih juga kepada Rizal Alqadrie yang telah menjahitnya (mengeditnya) menjadi film singkat. Selamat menyaksikandan semoga bermanfaat sebagai sumber informasi dan ilmu pengetahuan.

Pit-Yayasan Palung

Iklan

Tahun 2018 : Kami Kembali Menyediakan Enam Beasiswa Orangutan Kalimantan

Beberapa Penerima BOCS yang terdahulu melakukan kampanye bersama dalam rangka Pekan Peduli Orangutan di Pontianak. Foto dok. Yayasan Palung

Beberapa Penerima BOCS yang terdahulu melakukan kampanye bersama dalam rangka Pekan Peduli Orangutan di Pontianak. Foto dok. Yayasan Palung

Tahun 2018 ini, Yayasan Palung kembali menyediakan enam beasiswa orangutan Kalimantan. Pemberian beasiswa kami lakukan sejak 2012 Yayasan Palung (YP) dan Orangutan Republik Foundation (OURF) bekerjasama menyediakan beasiswa program S-1 melalui Program Peduli Orangutan Kalimantan (Bornean Orangutan Caring Scholarship).

Mengingat Yayasan Palung sebagai lembaga non profit profit yang bekerja untuk konservasi orangutan dan habitat serta pengembangan masyarakat. Yayasan Palung bekerja dengan semua pihak yang mempunyai tujuan sama untuk perlindungan terhadap orangutan dan habitat di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara, Kalimantan Barat.

Adapun tujuan program beasiswa orangutan tersebut antara lain adalah : Pertama, Melahirkan generasi intelektual Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara yang mempunyai komitmen dan kepedulian yang tinggi terhadap upaya perlindungan dan penyelamatan Orangutan Kalimantan dan habitatnya. Kedua, Memberikan dukungan moril dan materil kepada generasi muda untuk meneruskan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Ketiga, Memajukan kerjasama pendidikan tentang potensi kekayaan alam lokal antara pihak-pihak di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara.

Setiap penerima beasiswa diberikan dana beasiswa dengan limit USD 1.500, untuk membiayai:

  1. Daftar Masuk Universitas
  2. Daftar Ulang selama 8 semester
  3. Biaya Penelitian
  4. Biaya Penulisan Skripsi
  5. Biaya lain dipenuhi selama masih dalam limit dana beasiswa
  6. Bagi Penerima Beasiswa yang mendapat UKT III, IV dan V, pembiayaan dihentikan jika sudah mencapai limit dana beasiswa, walaupun tidak memenuhi poin 1-4.
  7. Peningkatan kapasitas dari Yayasan Palung

Syarat dan ketentuan pendaftaran dapat di unduh dan dibaca di Blog Yayasan Palung: https://yayasanpalung.wordpress.com. Lihat di link Brosur : Brosur Beasiswa Orangutan Kalimantan (BOCS)_ 2018_pdf,  Lihat syarat dan ketentuan : YP_BOCS_Bahan Brosur_Borneo Orangutan Caring Scholarship_2018

Berkas pendaftaran dapat diserahkan langsung ke Yayasan Palung (kantor Ketapang atau Bentangor Desa Pampang Kec. Sukadana) atau melalui jasa pengiriman paling lambat 14 Maret 2018.

Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi:

  • Yayasan Palung, Jl. Kol. Sugiono Gg. H. Tarmizi No. 5 Ketapang. Telp/Fax: 3036367
  • Pusat Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung / Bentangor, Dusun Pampang Desa Pampang Harapan, Kec. Sukadana, KKU
  • Ranti Naruri: 0852-4563-4919
  • Hendri Gunawan: 0896-9346-9745

Yayasan Palung

 

 

 

 

Cerita Pendek : Kindness (Kebaikan)

Orangutan yang mendiami hutan Gunung Palung. Foto dok. Brodie Philp, Yayasan Palung

Orangutan yang mendiami hutan Gunung Palung. Foto dok. Brodie Philp, Yayasan Palung

Alkisah, tinggallah satu induk Orangutan bersama anaknya, yang bernama Pongo. Suatu kali, Pongo ingin merasakan buah Ara tepat di depan matanya. Sambil digendong ibu nya, Pongo bertanya, “Bu, bolehkah Pongo ambil buah itu?”. Ibu nya yang mendengar itu lantas berkata, “Tentu saja. Jangan lupa untuk meminta izin terlebih dahulu”. Pongo mengerennyutkan dahinya, “ Pohon saja tidak bisa berbicara, bagaimana Pongo tahu jika dia mengizinkan ku?”

“ Jika dia menggoyangkan daunnya,maka dia mengizinkan mu”.

Pongo yang mendengar itu lantas meminta izin pada pohon Ara yang besar nan lebat tersebut. Sungguh mustahil menurutnya jika pohon itu berinteraksi dengannya.

“Hai, Pohon Ara, bolehkah Pongo meminta buah mu yang lezat ini?”

Tak lama berselang, pohon ara pun menggoyahkan daunnya. Pongo yang melihat itu awalnya ragu, lalu memetik 4 buah ara, termasuk untuk ibunya.

“Ibu benar!…. Ia mengizinkanku!”… seru Pongo.

“Baguslah jika begitu,” balas Ibu nya.

Setelah memberi buah itu, Pongo mencoba untuk mengetahui kenapa pohon bisa begitu. Dia sangat penasaran.

“Bu, kenapa bisa begitu? Kenapa dia bisa hidup? Sedangkan dia saja tak bisa berbicara”

Pongo harus tahu, jika awalnya, pohon tidak seperti itu,”

Mulailah Ibu Pongo berdongeng tentang Kisah Pohon dan Alam. Dulu dulu dulu sekali, mereka hidup bahagia. Bahkan bisa berbicara satu sama lain. Namun, pohon yang berperilaku angkuh, merasa diri nya lah yang paling hebat.

“Apa kalian ini?! Tanpa keberadaan ku, kalian tak bisa hidup. bahkan Alam tak sanggup menanggung semua keperluan hidup kalian. Karena aku, kalian bisa makan! Kalian bisa tetap bernafas! Kalian terhindar dari tanah longsor! Kalian bisa tetap mendapatkan air yang jernih karena penyaringan yang dilakukan akar ku!”, ucap pohon songong.

Alam yang mendengar itu murka, tak terima telah direndahkan oleh pohon, dia langsung berseru;

“Hei, Pohon! Kuperingatkan kau! Karena aku, kau masih bisa hidup sampai sekarang. Kau pikir, siapa yang sudah memberi mu air untuk minum?. Siapa yang memberimu cahaya untuk berfotosintesis?. Siapa yang memberi mu tanah untuk tinggal dan bertahan?. Siapa yang memberi mu angin untuk menyebarkan serbuk sari mu agar generasi mu tetap ada di muka bumi ini?. Tanpa aku, kau bukanlah apa-apa!”.

Pohon dan alam bertengkar, hingga turunlah Tuhan ke Bumi. Dia tampak marah dengan perilaku pohon dan alam yang egois.

“Hei, Pohon dan Alam! Sesengguhnya, Aku-lah yang menciptakan kalian agar saling melengkapi kekurangan kalian. Karena kalian bersikap demikian, akan kucabut kelebihan kalian dalam  berbicara!”.

Akhirnya, Pohon dan Alam tak dapat lagi berbicara. Pongo yang mendengar Kisah itu hanya mengangguk. Paham apabila hidup tak senantiasa tentang kelebihan, namun juga saling melengkapi kekurangan. Ibu Pongo yang telah menceritakan kisah itu, memeluk Pongo dengan erat.

“Apapun yang terjadi, tetaplah lakukan kebaikan. Hindari sikap angkuh mu dan perhatikan sekitar mu, Nak”, nasihat Ibu Pongo pada buah hati tercintanya.

Pongo hanya tersenyum dan memeluk Ibunya lebih erat.

 

—TAMAT—

 

Minggu, 17 Desember 2017

Desa Pampang Harapan, Kabupaten Kayong Utara, Kalbar

Mega Oktavia G., (Relawan TAJAM Yayasan Palung, Sekolah di SMKN 1 Ketapang)

Relawan TABONK Bergabung di Tanah Kayong untuk Suarakan Konservasi

Keseruan saat peserta RelawanTabonK (Tajam -RebonK) mengikuti kegiatan untuk suarakan konservasi di Tanah Kayong. Foto dok. Yayasan Palung

Keseruan saat peserta RelawanTabonK (Tajam -RebonK) mengikuti kegiatan untuk suarakan konservasi di Tanah Kayong. Foto dok. Yayasan Palung

Walaupun rangkaian acara kegiatan tersebut berlangsung pada bulan Desember tahun lau, namun sayang untuk dilewati karena berbagi keseruan dan kebersamaannya yang tak lain memiliki misi khusus suarakan konservasi di Tanah Kayong.

Tampak terlihat antusias dari para peserta yang mengikuti kegiatan yang dikhususkan bagi Relawan Tajam dan RebonK (TABONK) tersebut. Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari (15-18 Desember 2017) tahun lalu diadakan di Kantor Yayasan Palung, Desa Pampang Harapan, Kabupaten Kayong Utara, Kalbar.

Saat  peserta berdiskusi dan belajar bersama. Foto dok. Yayasan Palung

Saat peserta berdiskusi dan belajar bersama. Foto dok. Yayasan Palung

Rangkaian kegiatan yang mereka ikuti antara lain seperti manajemen organisasi, dasar-dasar kerelawanan, berbagi ilmu dan diskusi tentang organisasi Tajam dan Rebonk serta rangkaian kegiatan lainnya.

 

Sesuai dengan sloganTabonK; “Yom Kite Begabong”, selama tiga hari kegitan tersebut, ragam keceriaan dan ide mereka satukan yang terbingkai dalam diskusi untuk belajar bersama terkait apa yang terjadi saat ini dan mungkin yang akan terjadi di masa depan terkait lingkungan.

Tak sedikit ide dan paparan terkait diskusi yang dilakukan, adapun tema yang diangkat dalam diskusi tersebut adalah “Dampak Kerusakan Hutan”.

Adapun Diskusi dalam kegiatan tersebut dipandu oleh Haris Munandar selaku pembina para relawan.

Dalam diskusi yang dilaksanakan tersebut, berbagai aspek dari apa yang terjadi jika lingkungan rusak dan dampak-dampak yang disebabkan oleh kerusan lingkungan seperti; Dampak sosial, ekonomi, lingkungan, politik dan dampak secara menyeluruh, tidak terkecuali pemanasan global telah terjadi di seluruh dunia.

Tidak hanya itu, dalam diskusi tersebut juga ada beberapa tawaran dari hasil diskusi yang bisa dilakukan untuk mengatasi dampak kerusakan hutan antara lain; melakukan reboisasi (penanaman kembali), Tidak menebang pohon dan Penegakan hukum dari negara untuk mengatasi persoalan lingkungan.

Relawan dibekali ilmu baru seperti Public Speaking sebagai bekali untuk berani tampil dan percaya diri. Foto dok. Yayasan Palung

Relawan dibekali ilmu baru seperti Public Speaking sebagai bekali untuk berani tampil dan percaya diri. Foto dok. Yayasan Palung

Beberapa rangkaian kegiatan lainnya seperti muatan saling belajar seperti dilakukan diantaranya seperti publik speaking, belajar menulis (dasar-dasar jurnalistik), materi terkait bijaksana dalam menggunakan media sosial dalam penyebaran informasi kepada publik dan membangun kebersamaan, toleransi dan keberagaman.

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, sebagai pemateri adalah dari tim pendidikan lingkungan Yayasan Palung.

Kegiatan yang diikuti 50 orang yang tergabung dalam RelawanTabonK tersebut terlihat tidak hanya soal keseruan, keakrababan dan kebersamaan, namun juga soal ilmu baru yang mereka dapatkan serta tawaran apa yang mereka bisa lakukan untuk konservasi lingkungan melalui hal-hal sederhana yang mereka lakukan di Tanah Kayong (sebutan untuk dua Kabupaten; Ketapang dan Kayong Utara).

Berharap, semoga TabonK bisa mengajak semua bergabung untuk suarakan konservasi. (Petrus Kanisius – Yayasan Palung).

 

 

 

Budidayakan Padi Rawa dengan Metode Hazton untuk Tingkatkan Hasil Panen

IMG_20171209_095946.jpg

Saat Bapak Budiman menjelaskan kepada peserta yang mengikuti pelatihan terkait budidaya padi rawa dengan  metode Hazton. Foto dok. Yayasan Palung

Budidaya Padi Rawa lebih khusus dengan tata cara (metode hazton) dan perawatan baik setidaknya bisa dapat membantu para petani lebih khusus dari segi hasil, demikian kata Budiman.

Hal tersebut diketahui, ketika Bapak Budiman berbagi ilmu dan pengalaman dalam acara “Sosialisasi Integrasi Budidaya Padi Rawa dan Survei Lahan Pertanian” yang diselenggarakan Yayasan Palung (YP) berkerjasama dengan Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF) di dua Desa; Penjalaan dan Nipah Kuning, Kec. Simpang Hilir selama dua hari ( 9-10 Desember 2017) pekan lalu.

Seperti diketahui, Bapak Budiman merupakan salah seorang yang berhasil mengembangkan budidaya padi dengan metode Haston dan memperoleh hasil panen lebih dari cukup serta berhasil membuat KKU swasembada padi, lebih khusus di Desa Sedahan Jaya.

Kata Budiman, dalam presentasinya tentang pengembangan metode padi Hazton; yang utama adalah memilih bibit unggul (benih) padi. Karena menyangkut rasa dan aroma, padi Hazton lebih unggul dari padi lokal walau tidak bisa dipungkiri padi lokal ada yang unggul pula misalnya padi impari 32. Sebelum kita menanam (budidaya dengan metode Hazton) kita harus mengetahui antara lain: Kandungan keasaman tanah, kita jangan meninggalkan budaya lokal hal ini dimaksud agar para petani tidak sepenuhnya beralih kepada budaya modern dalam bertani, tuturnya lagi.

Lebih lanjut dalam presentasinya, Budiman menjelaskan; Pemeliharaan dan Perlakuan Benih. Tahapan yang dilakukan dalam pemeliharan benih padi sebelum di semai /tebar dapat dilakukan dengan perendaman benih kedalam larutan garam 3%  benih yang tenggelam menunjukan benih yang baik. Sebelum di sebar, benih di rendam selama 24 jam, kemudian diperam (disimpan) selam 24 jam.

Penjelasan dari pemateri saat perendaman benih menggunakan Bacto-Plus/Culiser. Perlakuan benih Mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman padi : jumlah akar menjadi lebih panjang dan lebih banyak, batang menjadi lebih kokoh dan kuat, daun menjadi lebih hijau, anakan menjadi lebih banyak; Mampu menghasilkan hormon pertumbuhan alami dan mampu meningkatkan imunitas/ketahanan tanaman padi terhadap penyakit. Kebutuhan  1Ha = 8 tablet  100/120 kg benih.

IMG_20171209_124006.jpg

Peserta melakukan survei lahan untuk rencana menanam padi Rawa. Foto dok. Yayasan Palung

Selanjutnya juga menurut Pak Budiman pegolahan lahan sangat diperlukan, misalnya;

Persiapan lahan 3 minggu sebelum menanam, sebarkan 250 kg pupuk kandang pada lahan  dan di semprot 3 Ltr biotren /Ha. Tanah di olah secara sempurna yaitu di bajak, di genangi air untuk pemupukan dasar.

1-2 HST taburkan Pupuk 100 Kg SP-36 di campur degan 4 sachet/Ha DECOPRIMA. Semprotkan 3 Ltr biotren / Ha.

Pak Budiman bercerita, perbandingan tanah di Jepang setelah di bom pada di lokasi Hirosima dan Nagasaki  dulunya sempat divonis tidak bisa ditanami, tetapi saat ini bisa ditanami setelah adanya teknologi untuk penumbuh unsur hara dan mikroorganisme sebagai pengurai, kini lahan di Jepang bisa subur dan bisa di tanam salah satunya karena ada cara atau metode, jelasnya lagi.

Saat ini, tanah di lokasi kita (Indonesia) tanahnya boleh dikatakan sangat subur namun usianya telah tua renta. Akan tetapi teknologi untuk penumbuh unsur hara dapat membantu jika untuk pertanian.

Untuk tanaman padi, persemaian dianjurkan menggunakan bactoplus yang dapat membuat tumbuhan menjadi lebih hijau. (Menggunakan Dekoprima) untuk mengurai/residu racun dalam akar dan menghancurkan sisa-sisa jerami.

Penjelasan lebih lanjut dari pemateri tentang syarat-syarat dalam melakukan penanaman menurut Budiman;

  • Umur tanaman 25-30 hari
  • Jarak tanam 25-30 cm
  • Dengan menggunakan sistem paper legowo
  • 20 rumpun dalam 1 lobang tanam pada kedalaman 1-2 cm.
  • Sedapat mungkin tanaman ditanam jarang-jarang agar subur, tanaman harus barat ke timur, tanaman tidak boleh dipotong-potong agar tanaman tidak luka dan tidak terserang penyakit.

Selanjutnya kata pria kelhiran tahun 1971 tersebut, setelah tanaman tumbuh diperlukan perawatan. Dalam perawatan diperlukan penyemprotan hama salah satunya dengan spieder dan boleh dicampur dengan merek lain untuk mengusir hama yang ada pada padi.

Tanaman perlu dipupuk asam kumat misalnya diberi Ponska, pupuk urea 50 kg, MPK 100 kg, diberi nomine juga. Perlu juga dilakukan penyiangan dan pengendalian pengganggu tanaman (OPT) misalnya Ally plus, CBA-6. Di dalam tanah terdapat 16 unsur hara, 3 yang tidak bisa dibuat; air, sinar mata hari dan udara.

Bapak Budiman berbagi cerita, saat menanam padi Hazton dengan bibit 10 kilogram bibir dan meghasilkan panen 16 ton 800 kilogram.

Biasanya pengganggu tanaman adalah telur kupu-kupu yang menempel pada tanaman sangat berbahaya karena ulatnya bisa membunuh padi. Jika itu terjadi, cepat atasi dengan semprot dengan pembasmi hama yaitu spider.

Penjelasan dari Pemateri tentang keunggulan padi dengan metode Hazton :

Keunggulan Metode Hazton: (Berdasarkan pengamatan, hasil riset, dan testimoni petani)

  • Produksi panen tinggi (hasil berlipat)
  • Mudah dalam penanamannya
  • Tanaman cepat beradaptasi/tdk stres setelah tanam
  • Relatif tahan terhadap hama keong mas dan orong-orong.
  • Sedikit bahkan tidak ada penyulaman
  • Sedikit bahkan tidak ada penyiangan
  • Umur panen lebih cepat (+15 hari)
  • Mutu gabah tinggi (sedikit hampa)
  • Rendemen beras kepala tinggi (prosentase beras pecah rendah).

Kelemahan Metode Hazton : Memerlukan tambahan benih dari biasanya (keperluan benih metode hazton 100-120 kg/ha), Karena tanaman rimbun perlu dikawal dengan agencia hayati (imunisasi padi, penggunaan decomposer/sterilisasi lahan, dan bio fungisida) dan perlu pupuk (organik/anorganik) tambahan dari dosis normal/anjuran.

untuk mendapatkan bibit padi impari 32 dapat diperoleh di KKU, atau bisa hubungi Bapak Budiman dengan harga bibit padi 10 ribu rupiah perkilogramnya.

IMG_20171209_133815.jpg

Peserta pelatihan berfoto bersama setelah kegiatan selesai. foto dok. Yayasan Palung

Setelah Pelatihan, mereka (peserta pelatihan) di dua desa; Penjalaan dan Nipah Kuning berencana menanam (budidaya) padi dengan metode Hazton sebagai praktek di dua desa dibuat demplot masing-masing di 1 hektare sebagai percontohan. Pelatihan tersebut, mendapat sambutan baik dari para peserta dan di dua desa tersebut pula, mereka juga memohon dampingan dari Yayasan Palung dan Bapak Budiman saat mereka bertani nantinya (budidaya padi jenis rawa lebih khusus metode Hazton). Berharap, semoga apa yang direncanakan oleh para petani dapat terlaksana dengan baik.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

GPOCP Menyuarakan Perbaikan Lingkungan di Jerman

Aksi Mariamah Achmad, aktivis perempuan dan lingkungan di ajang People_s Climate Summit dalam rangkaian kegiatan Conference of the Parties (COP 23), November lalu. (Dok. Survival Media

Aksi Mariamah Achmad, aktivis perempuan dan lingkungan di ajang People’s Climate Summit dalam rangkaian kegiatan Conference of the Parties (COP 23), November lalu. (Dok. Survival Media)

Pada bulan November lalu, di Jerman diselenggarakan People’s Climate Summit dalam rangkaian kegiatan Conference of the Parties (COP 23). Dalam kesempatan tersebut, Gunung Palung Orangutan Concervation Program (GPOCP) atau Yayasan Palung melalui salah satu Manager Program Pendidikan Lingkungan sekaligus juga aktivis perempuan, Mariamah Achmad ikut hadir dan menyuarakan keadilan iklim.

Selama dua pekan berada di sana, banyak hal yang ia dapatkan dan cukup menarik untuk simak serta dibagikan kepada pembaca. Berikut cerita singkat selama dua pekan saat mengikuti kegiatan (COP 23) di Jerman, seperti yang ditulis oleh Mariamah Achmad:

Saya diundang untuk menghadiri People’s Climate Summit dalam rangkaian kegiatan Conference of the Parties (COP 23) di Jerman, yang mungkin adalah kesempatan sekali seumur hidup saya. Saya telah menjadi aktivis yang membawa kesadaran tentang hak lingkungan dan hak perempuan selama hampir dua dekade dan perjalanan ini seakan menjadi puncak dari semua yang telah saya lakukan.

FAMM Indonesia dan JASS Southeast Asia -kedua organisasi yang bekerja untuk memperkuat kapasitas dan pemberdayaan aktivis perempuan muda- mendukung perjalanan saya secara finansial. Prosesnya dimulai dengan sebuah wawancara dan seminggu kemudian saya menemukan bahwa saya akan segera menuju Frankfurt, Bonn, dan Bruehl, Jerman.

Butuh banyak koordinasi untuk mendapatkan visa dan dokumen prasyaratnya dalam waktu singkat. Saya sangat berterima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dan memberikan kesempatan tersebut.

Gawai lingkungan ini berlangsung dari 3-16 Nopember 2017. Saya menghadiri hingga 10 November 2017.

Hari pertama dimulai dengan kegiatan solidaritas Pasifik bersama Pacific Climate Warriors. Pulau-pulau kecil di Kepulauan Pasifik telah banyak dipengaruhi oleh perubahan iklim. Mereka memiliki kata-kata motivasi yang kuat untuk didengar oleh dunia: “We are not drowning, we are fighting!” (Kami tidak tenggelam, kami berjuang!).

Hari kedua adalah aksi global untuk keadilan iklim yang pada COP 23 ini fokus pada membawa kesadaran tentang penambangan batubara dan energi kotor. Pawai ini diikuti lebih dari 350 organisasi dari seluruh dunia yang hadir di sana.

Pada hari ketiga, kami mengunjungi tambang batubara yang telah menggali 4.000 hektare lahan hingga kedalaman 450 meter sejak tahun 1978. Pemandangan di sana tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Sejauh mata memandang bumi dikeruk hingga tak bersisa.

Beberapa hari berikutnya, saya menghadiri berbagai lokakarya tentang keadilan iklim, makanan, energi, dan hak-hak perempuan. Di sini saya berbicara tentang tantangan yang kita hadapi di Indonesia dan bagaimana kita dapat melawan perubahan iklim sebagai gerakan dunia dan menjamin hak-hak perempuan.

Saya berbicara tentang bagaimana wanita secara tradisional mencari makanan dan buah-buahan di hutan, mendapatkan ikan di sungai, dan merawat keluarga mereka dari alam.

Sudah sekian lama, banyak dari hutan ini dengan cepat telah digantikan oleh perkebunan kelapa sawit, tambang, atau telah ditebang secara legal maupun ilegal. Perubahan ini telah mengubah tanah dan mencemari air dan sungai. Para perempuan ini tidak bisa lagi mengumpulkan makanan untuk memberi makan keluarga mereka, menyebabkan mereka harus memperoleh penghasilan di luar rumah untuk memenuhi kebutuhan dasar.

Kadang-kadang meninggalkan anak-anaknya dengan tetangga atau dengan sedikit atau tanpa pengawasan orang dewasa. Karena bahan kimia yang digunakan di perkebunan industri ini, airnya tidak lagi cukup bersih untuk diminum dan menyebabkan reaksi kulit yang parah saat digunakan untuk mandi. Perubahan lahan secara drastis ini telah menciptakan banyak masalah bagi keluarga yang hidup di sekitar perkebunan kelapa sawit baik secara ekonomi dan sosial, maupun budaya, dan dalam hal kesehatan mereka.

Saya dapat berbagi cerita tentang keberhasilan pekerjaan yang kami lakukan di GPOCP termasuk program pendidikan lingkungan kami dalam berbagai kesempatan, di mana kami menjangkau lebih dari 5.000 siswa per tahun yang mengajarkan pentingnya lingkungan yang sehat. Saya juga mendiskusikan pekerjaan kami dengan masyarakat untuk melindungi 7.500 hektare hutan secara legal, yang mencegah usaha perkebunan berskala besar mengubah fungsi hutan untuk melindungi kepentingan masyarakat dalam jangka panjang terhadap alam, seperti penyerapan karbon dan air.

Sepuluh hari tetpatnya waktu kami berkegiatan di Jerman. Ini terasa singkat, namun merupakan kehormatan bagi saya untuk mewakili GPOCP, perempuan Indonesia berdiri bersama aktivis iklim dari seluruh dunia. Dengan tulus saya mengucapkan terima kasih kepada FAMM Indonesia, JASS, dan GPOCP atas motivasi, dukungan, dan kepercayaan mereka terhadap saya. Saya telah berteman dengan orang-orang yang berpikiran serupa dari seluruh dunia dan memiliki harapan baru akan kebaikan dunia tempat kita tinggal.

Tulisan ini sebelumnya dimuat di  https://student.cnnindonesia.com : Menyuarakan Perbaikan Lingkungan di Jerman

Petrus Kanisius- Yayasan Palung

 

 

Ada Banyak Cara yang Bisa Dilakukan untuk Merawat Tradisi

Perajin tikar pandan sedang menganyam dan diliput salah satu media nasional. Yayasan Palung.jpeg

Perajin tikar pandan sedang menganyam dan diliput salah satu media nasional. Yayasan Palung

Banyak cara, mungkin kata itu yang bisa dikatakan terkait adat tradisi saat ini. Merawat tradisi bila boleh dikata berarti ikut andil dan peran untuk meneruskan, mewarisi, menjaganya hingga nanti dan mungkin juga menjadi inspirasi yang patut untuk dicontoh oleh siapa saja.

Ya, merawat tradisi yang dimaksud tidak lain adalah soal perajin tikar pandan di Tanah Kayong, lebih khususnya di Kabupaten Kayong Utara. Mereka (perajin tikar pandan) tidak hanya memanfaatkan pandannya saja, namun ada kepedulian mereka untuk melestarikan tumbuhan ini.

Tidak hanya soal ekonomi, tetapi ini soal adat dan tradisi untuk mewarisi terkait anyaman pandan sebagai sebuah upaya budaya tradisi masyarakat boleh berlanjut hingga nanti. Mengingat, Budaya sebagai identitas lokal yang telah lama ada dan ini harus dihidupkan namun harus diwarisi kembali bagi kita semua di jaman ini.

Tidak pula soal menganyamnya, tetapi juga soal motif-motif yang anyaman. Motif-motif khas masyarakat setempat (Tanah Koyong) seperti motif pucuk rebung sebagai ciri khas dan motif-motif anyaman lainnya sesuai keinginan selera perajin. Misalnya ada kreasi anyaman pagar dan tugu durian serta kreasi anyaman lainnya bahkan dijadikan asesoris cantik. Ada pula anyaman lekar yang terbuat (memanfaatkan) lidi nipah.

Hal lain juga, mungkin bila boleh dikata dapat menjadi inspirasi bagi banyak orang untuk ikut terlibat dalam hal merawat tradisi khususnya anyaman tikar pandan di masyarakat. Dengan harapan, tradisi menganyam boleh lestari hingga nanti.

Seperti misalnya kelompok perajin tikar pandan, Ibu Ida bersama rekan-rekannya beserta Yayasan Palung, Dekranasda dan pemerintah daerah saling bersinergis yang berusaha bagaimana mau berbagi ilmu dari tingkat sekolah hingga keliling untuk berbagi pengalaman juga ilmunya dalam menganyam, tak lain sebagai cara sederhana dan tak pelit pula tetapi memiliki andil sebagai pelestari karifan lokal. Lebih khusus dalam hal menganyam berbagai kreasi anyaman boleh berkelanjutan.

Berharap kreasi anyaman tikar pandan bisa menjadi sumber inspirasi dan dapat dijadikan sebagai penghasilan alternatif  masyarakat yang ramah lingkungan serta bisa dicontoh dan mendunia serta lestari hingga nanti.

Sebelumnya, tulisan ini dimuat di Kompasiana

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

 

 Puisi: Bumi Pertiwiku

gambar ilustrasi. Foto dok. Internet.jpg

Gambar ilustrasi. Foto dok. Internet

Bumi pertiwiku,

Tempat aku berdiam juga mencari

Berdiam bukan berarti berpangku tangan.

Mencari sesuatu yang belum pernah dicari,
tentang arti jati diri,

Ragam rasa sebagai penanda jiwa juga raga.

Pertiwiku tempat mengadu, bukan menghasut
Darah merah, tulang putih jiwa raga kita para anak bangsa

Menjadi satu tanpa rancu bersatu.
Menjadi seragam dalam berjuang, mengabdi, mencapai, meraih cita-cita bumi pertiwi

Karena kini bumi pertiwi semakin terlupakan

Terlupakan untuk selalu dijahit karena tak sedikit robet dan riak-riak kecil pemecah

Bukan pemecah tetapi satu untuk berpadu

Membangun pertiwi yang semakin mandiri
Semakin sehat dari sakit penyakit

Menjahit untuk merajut meraih mimpi, tak sekedar mandiri

Tetapi

Jua bersatu berarti bagi negeri

Janji moyang dan pertiwi untuk terus merawat negeri hingga nanti

Jangan sekedar janji namun realisasi pasti.
Bumi Pertiwiku,

Ragam satu kesatuan terbalut dalam dirimu,
Membalut sebagai pemersatu,
Bukan pemecah menjadi resah,

Riak bukan untuk diladeni tetapi disikapi dirajut.

Dirajut merajut dalam bingkai kesatuan membangun negeri

Bukan memecah dengan amarah

Bumi pertiwi sebagai inti.
Mencari asa seribu bahasa tetap satu bangsa untuk dijaga,

Ibu pertiwi menjadi kunci dan janji oleh pendiri agar nanti tak disakiti.

Tulisan ini juga dimuat di : https://student.cnnindonesia.com/inspirasi/20171110172058-454-254819/puisi-bumi-pertiwiku

Ketapang, Kalbar, 01 Nopember 2017
Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Gubernur Kalbar Menyerahkan SK Perizinan Perhutanan Sosial Hutan Desa

gubernur-kalbar-cornelis_serahkan SK. Hutan Desa.jpg

Gubernur kalbar Cornelis Serahkan SK Perizinan Perhutanan Sosial Hutan Desa. Foto dok. Tribun Pontianak

Mengutip di laman TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, bertempat di Balai Petitih Kantor Gubernur, Jalan Ahmad Yani Pontianak, kamis (9/11/2017), pekan lalu,  Gubernur Provinsi Kalimantan Barat, Cornelis menyerahkan SK perizinan perhutanan sosial hutan desa, hutan kemasyarakatan dan hutan adat.

Baca Selengkapnya di : http://pontianak.tribunnews.com/2017/11/09/serahkan-sk-perizinan-gubernur-cornelis-jangan-dijual

Mengapa Kita Penting untuk Merayakan Pekan Peduli Orangutan?

Stiker PPO 2017. Foto dok. Yayasan Palung

Stiker PPO 2017. Foto dok. Tim Laman dan Yayasan Palung

Setiap tahun Pekan Peduli Orangutan (PPO) selalu diperingati setiap November. “Act Now Preserve to Future adalah tema yang diusung pada tahun ini, atau kurang lebih jika diterjemahkan “Bertindak Sekarang untuk Mempertahankan Masa Depan”.

Mengapa Pekan Peduli Orangutan Itu Perlu Dirayakan?

Terri Lee Breeden selaku Direktur Program Yayasan Palung mengatakan, Orangutan sangat terancam punah, artinya tidak banyak yang tersisa. Jika kita tidak bekerja sekarang untuk menyelamatkan orangutan dan habitatnya maka mereka akan punah dalam masa hidup kita. Tidak adil rasanya jika generasi mendatang tidak peduli dan mengusir hewan ini.

Lebih lanjut, Terri, demikian sapaannya sehari-hari mengatakan, Yayasan Palung mengajak orang-orang dari seluruh dunia, terutama di Ketapang dan Kayong Utara untuk mengikuti Pekan Peduli Orangutan. Tujuan kami adalah untuk melakukan penyadartahuan kepada semua lapisan masyarakat tentang mengapa orangutan sangat istimewa dan aktivitas sederhana yang dapat mereka lakukan untuk membantu menyelamatkan orangutan.

Tahun ini, Yayasan Palung sebagai lembaga konservasi orangutan bersama dengan para relawan dalam rangka memperingati PPO 2017 akan melakukan serangkaian kegiatan seperti lomba mewarnai gambar orangutan untuk anak-anak usia dini tingkat Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar di Desa Pampang Harapan, Sabtu (18/11/2017), pekan ini. Gambar-gambar orangutan hasil dari lomba mewarnai tersebut selanjutnya di posting di dalam media sosial dengan hastag (#) #OrangutanCaringWeek #OrangutanCaringWeek2017 #YayasanPalung #PPO #PPO2017

Tidak hanya itu, Relawan RebonK (Relawan Bentangor untuk Konservasi) juga akan menyuguhkan drama yang bercerita tentang kisah hidup orangutan di hutan.

Selanjutnya, pada malam harinya rencananya akan dilakukan pemutaran film lingkungan yang lokasinya di halaman Kantor Yayasan Palung tepatnya di samping kantor Desa Pampang Harapan. Rencananya film-film yang akan diputar adalah film konservasi dan satwa dilindungi tidak terkecuali film orangutan sekaligus juga melakukan sosialisasi tentang satwa dilindungi, ujar Hendri Gunawan, selaku panitia kegiatan dan pembina para relawan.

Di tempat yang berbeda, teman-teman Penerima Beasiswa Orangutan Kalimantan (BOCS) yang juga akan mengadakan serangkaian kegitan dalam rangka PPO 2017. Adapun kegiatan yang dilakukan adalah Pendidikan Lingkungan di Panti Asuhan “NURUL IMAN” Sungai Rengas, Pontianak, pada Minggu (19/11/2017). Di Panti Asuhan, teman-teman BOCS akan melakukan rangkaian kegiatan seperti Penyampaian materi tentang; Manusia, Hutan dan Orangutan. Dilanjutkan dengan Pemutaran film pendek dan diskusi, ujar Ranti Selaku pembina teman-teman BOCS.

Berharap, semoga kegiatan PPO 2017 dapat berjalan sesuai dengan rencana dan mendapat respon baik dari masyarakat sebagai sumber informasi dan penyadartahuan untuk peduli terhadap orangutan sebagai satwa endemik dan habitatnya.

Tulisan ini juga dimuat di Kompasiana

UC Media

Petrus Kanisius-Yayasan Palung