Yayasan Palung Lakukan Safari Ramadhan di 5 Desa di Kec. Simpang Hilir, Kab. Kayong Utara

IMG-20170621-WA0001.jpg

Saat kegiatan Safari Ramadhan di 5 desa di Kec. Simpang Hilir, KKU, Foto dok. Hendri/YP

Untuk mengisi ragam kegiatan di bulan puasa, Yayasan Palung melakukan Safari Ramadhan dengan berbuka puasa bersama di 5 desa di Kecamatan Simpang Hilir, KKU, yang berlangsung dari tanggal 14-20 Juni 2017.

IMG-20170621-WA0003.jpg

Buka puasa bersama dalam rangkaian kegiatan Safari Ramadhan. Foto dok. Hendri/YP

Sebelum bukber (buka puasa bersama) dalam safari Ramadhan terlebih dahulu diisi dengan kegiatan antara lain sosialiasi tentang bahaya Karhutla yang disampaikan dari pihak kepolisian. Selanjutnya dilanjutkan dengan ceramah agama dengan tema “ Hubungan Manusia dengan Alam Menurut Pandangan Islam” yang disampaikan oleh Ustadz Hadiansyah, S.Pd.I

IMG-20170621-WA0002

Berfoto bersama setelah kegiatan safari Ramadhan selesai. Foto dok. Hendri/YP

Dalam ceramah agama tersebut disampaikan antara lain adalah; Peranan penting manusia untuk menjaga alam dan lingkungan. Mengingat, kerusakan alam yang terjadi acap kali dilakukan oleh/disebabkan oleh manusia itu sendiri.

Selanjutnya juga manusia harus berperilaku bijaksana dengan alam semesta.
Adapun lima desa yang disambangi dalam Safari Ramadhan tersebut antara lain dimulai dari Desa Penjalaan, Desa Padu Banjar, Desa Pulau Kumbang, Desa Pemangkat dan terakhir di Desa Nipah Kuning.

Seluruh rangkaian kegiatan berjalan sesuai dengan rencana dan mendapat sambutan baik dari masyarakat.

Pit- YP

Berkembang Biak Selama Bertahun-tahun, Namun Hidupnya Hanya 6 Bulan

Jenis Capung yang ada di TNGP. Foto dok. Weni

Jenis Capung yang ada di TNGP. Foto dok. Weni

Nama dari jenis serangga ini tidak lain adalah capung.  Lebih khususnya  jenis capung (ordo; Odonata). Jenis capung di dunia 75 % nya ada di Indonesia jelas Weni Julaika, Mahasiswi Fakultas MIPA, jurusan Biologi, Universitas Tanjungpura (UNTAN) Pontianak, saat mempresentasikan di Kantor Yayasan Palung terkait hasil penelitiannya di Stasiun Penelitian Cabang Panti, Taman Nasional Gunung Palung (TNGP)  untuk tugas akhir, Jumat (16/6/2017), pekan lalu.

Untuk membaca tulisan ini selengkapnya baca link: http://v20106.kompasiana.com/pit_kanisius/ia-berkembang-biak-selama-bertahun-tahun-namun-hidupnya-hanya-6-bulan_5948dd72e217d20ee6042322

Yuk, Berkenalan dengan Si Pengurai dan Penyuka Kotoran

Beberapa foto dari jenis kumbang. Foto capture dari presentasi Cacih

Beberapa foto dari jenis kumbang. Foto capture dari presentasi Cacih

Berdasarkan pemaparan dari presentasinya pada Jumat pekan lalu (16/6) di Kantor Yayasan Palung, Cacih demikian dia akrab di sapa menjelaskan tingkat keberagaman kumbang cukup banyak ia jumpai  dengan berhasil mengidentifikasi 19 jenis kumbang kotoran dari keluarga  Scarabaeinae.

Adanya kumbang kotoran sedikit banyak membantu menguraikan kotoran yang ada. Beberapa jenis kumbang diketahui tersebar diseluruh daratan dunia kecuali di kutub dan lautan.Ternyata di dunia, tercatat tak kurang ada 35.000 hingga 400.000 spesies dari jenis serangga yang satu ini di Dunia. (Sumber; Biota- Unimed dan Wikipedia).

Baca Selengkapnya di Link : http://v20106.kompasiana.com/pit_kanisius/yuk-berkenalan-dengan-si-pengurai-dan-penyuka-kotoran_594a34d59178b226c15e10a3

Petrus Kanisius- Yayasan Palung

Ternyata Si Manis Ini Melahap 200 Ribu Semut Setiap Harinya

Si Manis javanica yang dijumpai di Bukit Tarak. Foto dok. Wawan, Pematang Gadung

Si Manis javanica yang dijumpai di Bukit Tarak. Foto dok. Wawan, Pematang Gadung

Bila setiap harinya Si Manis harus makan 200.000 semut, maka dalam satu tahun dipastikan lebih dari 7 juta semut dimakan.

Mengapa Si Manis memakan semut? Dan apakah Si Manis itu? Si Manis atau dalam bahasa latinnya Manis javanica (untuk lebih lengkap melihat profil Si Manis, bukaSi Manis)

Semut merupakan makanan pokok dari mamalia yang biasanya aktif di malam hari tersebut. Biasanya si manis atau trenggiling menggunakan lidahnya yang panjang untuk memakan semut. Tidak hanya semut, tetapi juga trenggiling memakan rayap. Rata-rata dalam sehari trenggiling mengonsumsi 200 ribu semut dan dalam setahun lebih dari 7 juta semut harus ia makan.

Karena semut sebagai makanan pokoknya, hampir dipastikan Si Manis mencari semut di sekitaran hutan yang masih baik. Mengingat, hutan yang baik masih terdapat banyak semut hutan. Demikian pula dengan serangga dan rayap.

Baca Selengkapnya di Link : http://v20106.kompasiana.com/pit_kanisius/ternyata-si-manis-ini-melahap-200-ribu-semut-setiap-harinya_594230aadd0fa87e8222f252

Petrus Kanisius- Yayasan Palung

Hutan Indonesia, antara “Lahan Perang, Eksploitasi, Eksplorasi dan Penelitian”

Kobaran api yang melahap luasan hutan di Ketapang, beberapa tahun lalu. Foto dok. Yayasan Palung

Kobaran api yang melahap luasan hutan di Ketapang, beberapa tahun lalu. Foto dok. Yayasan Palung

Tidak bisa disangkal hutan-hutan yang ada di wilayah Indonesia tidak terkecuali hutan Kalimantan selalu menjadi primadona. Menjadi primadona tidak lain karena selalu dinanti (semakin naik daun). Namunkeberadaan hutan Indonesia lebih khusus di Kalimantan saat ini jika boleh dikata antara “Lahan Perang, Eksploitasi dan Eksplorasi serta Penelitian“.

Tidak hanya tentang keindahannya, tetapi juga tentang manfaat yang dihasilkan dari hutan sehingga dengan demikian membuat orang-orang berlomba dan menjadikan hutan sebagai primadona saat ini.

Benar saja luasan tutupan Indonesia mencapai 162 juta hektar. Lahan hutan terluas itu ada di Papua (32,36 juta hektar luasnya). Kemudian hutan Kalimantan (28,23 juta hektar), Sumatera (14,65 juta hektar), Sulawesi (8,87 juta hektar), Maluku dan Maluku Utara (4,02 juta hektar), Jawa (3,09 juta hektar), serta Bali dan Nusa Tenggara (2,7 juta hektar), sumber data Kompas.

Dari luasan tutupan hutan Kalimantan yang mencapai 28, 23 juta Ha, terluas kedua setelah hutan Papua. Sebuah kekhawatiran saat ini, hutan menjadi primadona yang entah kapan berakhir karena selalu dinanti. Dinantinya luasan tutupan hutan di Kalimantan boleh jadi akan berimbas pada sendi-sendi kehidupan masyarakat pula di sekitar hutan.

Hutan dijadikan sebagai lahan perang umat manusia, hal ini tercermin dengan adanya eksploitasi, eksplorasi dan penelitian terhadap hutan.

Hutan tidak jarang dijadikan sebagai politik pemanfaatan yang berlebihan terhadap suatu dan tidak jarang tanpa melihat kepatutan dan hak-hak masyarakat akar rumput. Eksplorasi terhadap sumber kekayaan alam terlebih hutan yang dilakukan secara masif menjadi ketakutan tak berujung hingga nanti.

Mungkin saja, hutan Kalimantan akan tinggal cerita dan kenangan 10-20 tahun kedepan. Hal inilah yang menjadi sebuah tanya tentang masa depan hutan Indonesia. Data mencatat, hutan primer Indonesia paling cepat hilang dari masa ke masa pun bersinggungan langsung dengan masa depan kehidupan masyarakat lokal. Diperkirakan apabila hutan Kalimantan kehilangan 75% Hilangnya luasan tutupan hutan berdampak pada hilang atau habisnya ragam tumbuhan dan satwa endemik, kekhawatiran akan terkikisnya atau hilangnya adat tradisi masyarakat lokal juga diperkirakan akan terjadi.

Sumber konflik sudah hampir pasti hadir dalam hal ini. Tidak sedikit rentetan contoh kasus yang sering kali abai terhadap hak-hak masyarakat lokal di Nusantara ini. Tidak perlu menyebutkan secara runut kejadian per kejadian yang asal muasalnya karena perebutan batas lahan. Dengan kejadian tersebut pula tidak jarang akan memakan korban baik secara perorangan ataupun juga per wilayah.

Pribahasa setelah terantuk barulah tengadah acap kali hadir dalam setiap masyarakat kita. Setelah terjadinya sesuatu barulah repot-repot untuk mencari solusi tanpa dari awal melihat dampak, sebab dan akibat.

Tidak jarang hutan yang dikorbankan atau yang menjadi korban dari eksplorasi dan eksploitasi juga bertentangan dengan ranah hak-hak akar rumput.

Benar saja, hutan sebagai sumber keberlanjutan makhluk hidup juga sudah semestinya menjadi bahan untuk diteliti dengan maksud pula mencari cara bagaimana mempelajari dan menyelamatkan dari sisa-sisa hutan yang tersisa.

Hutan sebagai harta karun yang tak ternilai kini pun menjadi dilema. Dimanfaatkan namun juga diambang kehancuran menjelang terkikis habis. Satu-satunya harapan semoga hutan di Indonesia, lebih khusus di Kalimantan, Sumatera dan Papua masih boleh (di/ter) selamatkan dari sekarang hingga nanti.

Banyak cara untuk menyelamatkan hutan Indonesia dengan ragam kepedulian dari berbagai lembaga konservasi ataupun juga dari pemerintah mencari cara menyelamatkan hutan Indonesia. Tetapi juga terkadang nasib hutan tak jarang dikorbankan demi kepentingan bisnis dari para pengusaha dan penguasa yang acap kali lupa dari fungsi hutan yang sesungguhnya.

Hutan juga tak ubah sebagai buah simalakama; dimakan, bapak mati. Tidak dimakan ibu yang mati. Serba salah singkatnya. Disatu sisi hutan perlu dimanfaatkan namun jangan dimusahkan atau dikorbankan. Hutan perlu diselamatkan sebagai keberlanjutan semua makhluk hidup hingga nanti. Bila tidak diselamatkan, hutan akan menjadi kenangan dan kita akan menanggung resiko dari dampak yang ditimbulkan.

Tulisan ini sebelumnya dimuat di Kompasiana, baca di : http://v20106.kompasiana.com/pit_kanisius/hutan-indonesia-antara-lahan-perang-eksploitasi-eksplorasi-dan-penelitian_593fa5e1f27a6104368b7665

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

 

Video: Pesona Alam Liar di Gunung Palung

Klik Link Berikut untuk menonton : Pesona Alam Liar di Gunung Palung

Ini sedikit cerita tentang  Pesona Alam Liar di Gunung Palung (Taman Nasional Gunung Palung/TNGP) yang letaknya di 2 Kabupaten (Ketapang dan Kayong Utara) Kalimantan Barat yang di dokumentasikan lewat video.

Pesona Alam Liar yang ada di Gunung Palung atau lebih tepatnya kehidupan alam liar  ini merupakan hasil pendokumentasian dari teman-teman peneliti di Stasiun Peneliti Cabang Panti/SPCP. Setiap waktu mereka (para peneliti) melakukan aktivitas penelitian dari Subuh hingga senja menyapa.

Beberapa satwa yang hidup di alam liar yang bisa dijumpai di Gunung Palung antara lain; orangutan, kelempiau, enggang, kelasi dan enggang serta ragam kehidupan alam liar lainnya seperti ular, kura-kura ataupun juga keindahan kupu-kupu. Rimbunnya hutan dengan aneka ragam tumbuh-tumbuhan yang unik dan endemik seperti anggrek hitam terdapat di sini. Selain juga gemericik air jernih masih dapat  dijumpai di tempat ini.

Semoga pesona alam dan kehidupan alam liar di Gunung Palung dapat menjadi satu kesatuan yang dapat menjadi nilai tambah terutama ilmu pengetahuan dan kekayaan alam untuk kehidupan hingga nanti. Dengan demikian juga mejadi kewajiban kita bersama pula untuk menjaganya agar terus lestari.

Video dan Foto Pesona Alam Liar di Gunung Palung ini  beberapa dari sekian banyak kekayaan flora dan fauna yang ada. Berharap indahnya pesona alam liar ini bisa dan boleh berlanjut demi kehidupan yang harmoni dan berkelanjutan hingga nanti dan lestari.

Petrus Kanisius (Pit)-Yayasan Palung

 

#RainforestLive : Melihat Indahnya Alam Liar di Gunung Palung yang Berhasil Diabadikan oleh Peneliti

P5251969.JPG

Orangutan yang berdiam di Alam Liar Gunung Palung. Foto dok. Brodie Philp (YP/GPOCP)

Tak jarang, beberapa waktu sebelum matahari muncul para peneliti sudah harus bergegas dan berlomba dengan waktu untuk melalukan aktivitas mereka meneliti. Ya benar saja, bila peneliti meneliti dan mengikuti  orangutan mereka harus siap berangkat subuh untuk melihat tingkah laku/ perilaku orangutan di alam liar.

Kemarin (8/6) Gunung Palung Orangutan Project/Yayasan Palung bersama 9 lembaga lingkungan lainnya yang terdiri dari;  The Orangutan Tropical Peatland Project, Orangutan Land Trust, Orangutan Foundation UK, HUTAN Kinabatangan Orang-utan Conservation Program, Selamatkan Yaki, Sumatran Orangutan Conservation Program, Integrated Conservation, Burung Indonesia, Harapan Rainforest, Integrated Conservation dan Royal Society for the Protection of Birds memperingati #RainforestLive.

Tujuannya untuk mengajak kita semua untuk melihat apa saja dialam liar dan apa saja aktivitas (kegiatan), keseharian para peneliti di alam liar, dengan berbagi cerita dan apa saja yang berhasil para peneliti, menjelajahi hutan hujan seperti misalnya di Kalimantan dan Sumatera menjadi sebuah jawaban bahwa alam liar begitu menarik untuk dilihat, dijelajah dan di teliti. Di waktu sebelum terbitnya mentari hingga senja menyapa (malam hari) itulah waktu yang dipakai para peneliti untuk melakukan kegiatan mereka.

Seperti misalnya, para peneliti dari luar dan dalam negeri yang melakukan penelitian di Gunung Palung (Taman Nasional Gunung Palung), lebih tepatnya di Stasiun Penelitian Cabang Panti (SPCP) melakukan ragam penelitian seperti penelitian terhadap orangutan, kelempiau dan kelasi ataupun juga beragam penelitian lainnya seperti penelittian tumbuhan yang terdapat di Gunung Palung.

Aktivitas mereka (para peneliti) pun sudah pasti erat kaitannya dengan kegiatan seperti rutinitas penelitian dengan berbagai cara pula. Seperti misalnya Brodie Philp (Manager Peneneliti orangutan GPOCP), ia berhasil merekam berbagai tingkah polah satwa/hewan seperti orangutan saat makan, mendokumentasikan kura-kura, ular, serangga ataupun juga keindahan langit malam di hutan hujan.

Tidak hanya itu, keindahan jamur menyala di malam hari, cantiknya warna kupu-kupu yang hinggap di dedaunan indahnya aliran air yang mengalir dan foto para asisten peneliti yang mengikuti orangutan juga terangkum dalam foto-foto dokumentasi Brodie Philp (YP/GPOCP) berikut ini:

little snake.JPG

Ular yang dijumpai di alam liar Gunung Palung. Foto dok. Brodie Philp

IMG_0278.JPG

Serangga 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Suasana malam hari di alam liar

mush 4.jpg

Jamur 

Brodie Philp bersama dengan para peneliti lainnya dan didampingi pula oleh asisten peneliti serta para peneliti muda yang juga meneliti untuk tugas akhir melakukan penelitian setiap harinya. Tidak bisa disangkal keindahan alam liar yang berhasil diabadikan oleh para peneliti ini setidaknya memberikan gambaran yang jelas bahwa ciptaan dari Sang Pencipta begitu indah dan baik adanya untuk selalu dihargai sebagai sesama makhluk ciptaan hingga nanti karena harmoninya alam semesta memberi arti kita kita semua agar bisa menikmati/melihat dari keindahan tersebut dan dapat dijadikan sebagai sumber ilmu pengetahuan.

Semoga keindahan alam liar di banyak tempat dapat terekam dan diabadikan sebagai sumber dari ilmu pengetahuan hingga nanti. Semoga. #RainforestLive  #RainforestLive2017.

Tulisan ini juga dimuat di  Kompasiana, selengkapnya : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/melihat-indahnya-alam-liar-di-gunung-palung-yang-berhasil-diabadikan-oleh-peneliti_5938e72c139773871c9b9e98

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

 

6  Keluarga Baru Penerima Beasiswa Orangutan Kalimantan

Penerima Beasiswa BOCS berfoto bersama pengurus YP dan OURF di Ketapang, 23 mei 2017

Penerima Beasiswa BOCS berfoto bersama pengurus YP dan OURF di Ketapang, 23 mei 2017.

Malam (23/5/2017) Kemarin, selepas senja menyapa keenam orang remaja yang terdiri dari 5 perempuan dan 1 pria terlihat senyum semringah. Senyum semringah itu terpancar dari mereka bukan tanpa alasan, karena mereka baru saja resmi menjadi keluarga baru penerima beasiswa orangutan Kalimantan (Beasiswa BOCS tahun 2017).

Setelah empat bulan berlalu, keenam remaja yang berasal dari Dua Kabupaten: Kayong Utara dan Ketapang itu terdiri dari Ratiah berasal dari SMA Negeri 3 Simpang Hilir, Hanna Adelia Runtu dari SMA Negeri 3 Ketapang (mengambil jurusan Fakultas Kehutanan), Ilham Pratama dari SMA Negeri 2 Ketapang (Fakultas Kehutanan), Mita Anggraini dari MAN Ketapang (mengambil FISIP Hubungan Internasional), Siti Nurbaiti dari SMA Negeri 1 Sungai Laur (mengambil jurusan FMIPA Biologi) dan Rafikah dari SMA Negeri 3 Simpang Hilir (mengambil jurusan FKIP Sosiologi). Keenam penerima beasiswa BOCS akan kuliah di Universitas Tanjungpura Pontianak.

Dalam acara penganugerahan beasiswa BOCS 2017, diawali dengan makan malam bersama dengan para tamu undangan dan 6 penerima beasiswa selanjutnya penjelasan terkait beasiswa BOCS. BOCS adalah Program beasiswa yang dirancang untuk membiayai pendidikan mahasiswa yang berprestasi dengan tujuan menambah  Sumber Daya Manusia (SDM) dibidang konservasi orangutan dengan keahlian dari berbagai disiplin ilmu, demikian dikatakan Mariamah Achmad selaku manager Program Pendidikan Lingkungan dan media kampanye dari Yayasan Palung sekaligus juga yang menangani program BOCS ketika menjelaskan kepada tamu undangan saat penganugerahan beasiswa BOCS tahun 2017.

Hendri Gunawan, SH selaku penerima beasiswa BOCS yang telah selesai menyelesaikan studi berkat adanya beasiswa BOCS berkesempatan untuk memberikan pandangan sekaligus juga memberikan semangat dan motivasi bagi penerima beasiswa BOCS tahun 2017. Hendri, demikian sapaannya sehari-hari mengatakan, bila kuliah harus ada prioritas, semangat, kerja keras dan tekad yang kuat. Karena kuliah bukan hal yang mudah, namun jika ada prioritas, semangat dan kerja keras semua rintangan ketika kuliah bisa dilalui dengan mudah.

Garry Luis Shapiro, dari Orangutan Republik sekaligus sebagai motor adanya program BOCS  di Sumatera dan Kalimantan mengatakan dalam kata sambutannya saat malam penganugerahan beasiswa BOCS  (23/5) mengatakan; adanya beasiswa BOCS sebagai salah satu bentuk perhatiannya kepada generasi muda lebih khusus di Ketapang untuk terus semangat melanjutkan studi di perguruan tinggi. Lebih lanjut Garry menambahkan, tidak hanya asal kuliah tetapi penerima beasiswa BOCS harus memiliki tanggungjawab yang konsisten sebagai generasi penerus tidak terkecuali konservasi orangutan dan hutan dimanapun setelah mereka bermasyarakat nantinya ataupun juga kegiatan lainnya yang ada disekitar.

Garry juga menceritakan saat ini dia merasa sangat dan bergembira sekali. Gembiranya hingga saat ini telah ada 25 orang dari jumlah seluruh penerima beasiswa BOCS sejak pertama hingga tahun 2017 dan telah menamatkan 3 orang penerima beasiswa. Mereka yang lulus antara lain adalah; Rinta Islami, S.Hut, Risa Aprillia, S.Pd dan Hendri Gunawan, SH.

Pak Garry juga berharap di tahun-tahun yang akan datang penerima beasiswa dapat bertambah dan semakin banyak donatur yang bisa membantu, jelasnya lagi.

Menurut Terri Breeden, Direktur Yayasan Palung mengatakan; Program BOCS merupakan  salah satu program favorit saya, dengan adanya program BOCS ini memungkinkan dan menumbuhkan semangat konservasi yang terlatih di Kalimantan Barat.  Lebih lanjut menurutnya, 6 beasiswa yang diberikan dapat juga semoga dapat menciptakan mereka sebagai cendikiawan baru, saya sangat antusias untuk melihat masa depan  mereka lebih khusus konservasi.

Beasiswa BOCS terlaksana berkat adanya kerjasama antara Yayasan Palung, Orangutan Republik dan Orangutan Outreach.

Dalam acara malam penganugerahan beasiswa BOCS 2017 tersebut dihadiri oleh tamu undangan antara lain dari YIARI, Yayasan ASRI, BKSDA W 1 Ketapang, BTNGP, orangtua dari 6 penerima beasiswa dan Yayasan Palung. Kegiatan berjalan sesuai rencana dan diakhiri dengan berfoto bersama.

Petrus Kanisius- Yayasan Palung

Berita terkait BOCS dimuat di Tribun Pontianak, berikut linknya :

http://pontianak.tribunnews.com/2017/05/28/enam-pelajar-ketapang-dan-kayong-utara-terima-beasiswa-bocs

http://pontianak.tribunnews.com/2017/05/28/enam-pelajar-penerima-beasiswa-bocs-2017-diharapkan-jadi-cendikiawan-bersemangat-konservasi

 

Ini Video Unik Orangutan di Gunung Palung : Kiss Squeak dengan Daun


Unik dan menarik orangutan yang dimaksud adalah perilaku atau budaya terkait Kiss Squeak. Apa itu Kiss Squeak?. Pada umumnya, kiss squeak (budaya orangutan ketika merasa terancam di tempat hidupnya ketika ada orangutan lain yang berusaha mendekati wilayahnya, maka orangutan yang merasa terancam tersebut akan mengeluarkan suara Kiss Squeak).

Ini Videonya

Untuk informasi lebih lengkap dapat dibaca di : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/ini-fakta-unik-orangutan-di-gunung-palung_591d701e4423bd66479594fb

Petrus Kanisius- Yayasan Palung

Berbagi Cerita tentang Kehidupan Orangutan Lewat Radio

IMG-20170520-WA0006.jpg

Wahyu Susanto dan Desi Kurniawati saat berbagi cerita tentang orangutan lewat radio. Foto dok. Yayasan Palung

Kamis (18/5/2017) kemarin, lewat Radio Kabupaten Ketapang (RKK) teman-teman dari Peneliti orangutan yang meneliti di Stasiun Penelitian Cabang Panti (SPCP), Taman Nasional Gunung Palung (TNGP) berbagi Cerita tentang kehidupan orangutan di alam liar melalui penelitian.

Adalah Wahyu Susanto yang juga merupakan Direktur Penelitian Yayasan Palung berkesempatan hadir untuk berbagi cerita lewat radio yang disiarkan melalui radio RKK, FM 95.20 MHz- 1044 KHz gelombang 288 meter dan di pandu oleh Desi Kurniawati.

IMG-20170520-WA0004.jpg

Wahyu Susanto saat berbagi cerita di radio RKK. Foto dok. Yayasan Palung

Ragam cerita seperti rutinitas peneliti yang mengikuti kehidupan orangutan mulai dari pagi hingga sore hari, perilaku orangutan dan manfaat penting dari orangutan sebagai satwa endemik yang memiliki ragam manfaat bagi kehidupan satwa lainnya termasuk bagi manusia.

Diceritakan juga mengapa penelitian itu penting lebih khusus orangutan, salah satunya karena sebagai upaya agar orangutan bisa untuk terus berlaanjut hingga nanti (tidak punah) dan perlu adanya penelitian sebagai sumber ilmu pengetahuan.

Berbagi informasi terkait orangutan sangat perlu disampaikan kepada semua pihak, mengingat kehidupan orangutan di alam liar lebih khusus karena orangutan adalah satwa yang sudah sangat terancam punah yang harus dilestarikan hingga nanti.

Pit -Yayasan Palung