Asyiknya Belajar Bersama Relawan Tentang Radio, Menulis untuk Berbicara

peserta-pelatihan-radio-mendengarkan-penjelasan-dari-pemateri-pelatihan-foto-dok-yayayasan-palung

Peserta pelatihan radio mendengarkan penjelasan dari pemateri pelatihan. Foto dok. Yayayasan Palung

Asyiknya belajar bersama, setidaknya itulah yang kami rasakan saat kami belajar tentang radio bersama  Relawan Bentangor untuk Konservasi (REBONK) dan peserta undangan dari Yayasan ASRI. Kegiatan tersebut diadakan di Kantor Bentangor, Yayasan Palung di Desa Pampang Harapan, Kabupaten Kayong Utara, Kalbar, kegiatan dilaksanakan pada Sabtu hingga Minggu (17-18/9/ 2016), kemarin.

Dalam kata sambutannya, Edward Tang, selaku koordinator Pendidikan Lingkungan dan Media Kampanye mengatakan, adapun tujuan dari pelatihan tersebut  tidak lain adalah  pertama, Meningkatkan pengetahuan peserta dalam bidang lingkungan hidup. kedua, Melatih perserta pemula untuk bisa melakukan siaran di radio-radio lokal dan untuk meningkatkan peran serta relawan konservasi untuk dapat mendukung program kampanye Yayasan Palung, dan radio lokal Kabupaten Kayong Utara.

Pelatihan radio tersebut, mengetengahkan materi-materi dasar  tentang radio. Salah satunya adalah materi tentang visi dan misi penyiaran radio di Indonesia lebih khusus di daerah. Selanjutnya juga materi tentang teknik dasar siaran radio, pembuatan skript radio praktek sekaligus juga produksi siaran radio. Para pemateri menekankan kepada peserta pelatihan radio sebaiknya sesuai dengan skript (naskah) agar peserta saat siaran  tidak terpaku kepada naskah, bukan menulis untuk membaca, tetapi menulis untuk berbicara.

Selengkapnya dapat dilihat di link: http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/asyiknya-belajar-bersama-relawan-tentang-radio-menulis-untuk-berbicara_57e0e01b63afbd0119a7ee78

By : Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Bahaya! Daun Ketum Ternyata Masuk Kategori Narkotika

daun-ketum-atau-kratom-yang-telah-menjadi-eksrak-foto-2-dok-superadaherbs-mywebhome-ca

Daun Ketum atau kratom yang telah menjadi eksrak. foto dok. superadaherbs.mywebhome.ca

Ketum, begitu orang di kampung-kampung seperti di beberapa Kecamatan di Kabupaten Katapang, Kalbar, menyebutnya tidak sedikit yang menggantungkan hidup, menampung dan menjual daun ini.

Fantastis!! karena harga daun ketum harganya jika sudah di eksrak bisa mencapai Rp 17.000 per 1 kg, jauh lebih tinggi harganya mengalahkan harga karet yang harganya semakin anjlok. Akan tetapi, ternyata daun ketum tenyata berbahaya karena masuk kategori narkotika.

Ketum (keratom) kini menjadi bisnis musiman yang tiba-tiba muncul dan sangat populer saat ini. Daun Ketum dalam bahasa Inggrisnya dikenal dengan nama Kratom dan dalam bahasa latinnya dikenal dengan nama Mitragyna speciosa. Konon daun ini masuk dalam kategori (golongan) yang mengandung narkotika.

Di beberapa kecamatan seperti di Simpang Dua, Simpang Hulu, Laur dan Tayap, seperti di Matan Jaya beberapa waktu lalu, di mana kami pernah menjumpai secara langsung masyarakat yang sedang menjemur dan memasukannya ke karung. Selanjutnya keratom tersebut siap untuk diolah dengan cara mengeksraknya dan siap untuk menjualnya.

daun-ketum-atau-keratom-masuk-dalam-kategori-narkoba-foto-dok-yayasan-palung

Daun Ketum atau keratom masuk dalam kategori narkoba. Foto dok. Yayasan Palung

Menurut mereka, salah satu warga  yang enggan namanya disebut, berumur 43 tahun menuturkan harga ketum lebih menjanjikan saat ini. Bapak dari tiga anak tersebut agak was-was, karena menurutnya, dia juga pada dasarnya masih bertanya-tanya tentang kegunaan sesungguhnya daun ini, bahkan katanya “Saya agak takut jika nantinya daun ini memiliki kegunaan lain,” “Kejelasan di pasaran juga tidak begitu terdengar,” tuturnya. Mereka mengaku, dalam bentuk daun kering, harganya per 1 kg adalah Rp 8.000 dan daun basah dibeli dengan harga Rp 2.000 per kg.

Menurut pengakuan mereka pula, daun ketum kini bak jamur yang tumbuh di musim penghujan, karena tiba-tiba daun tersebut yang jarang terdengar kini dicari-cari pengepul dari Pontianak, demikian ungkap mereka.

Lain lagi menurut penuturan bapak L, berusia 45 tahun, bukan nama sebenarnya. L mengatakan, “Di tengah harga karet yang semakin anjlok, ibarat dewa penyelamat dengan hadirnya jual beli daun ketum ini,” L menambahkan, Ia sekali jual bisa mencapai 200 kg hingga 300 kg sekali jual, biasanya dalam satu bulan bisa mencapai 1000 kg. Sangat membantu untuk membiayai anaknya yang sedang kuliah, tegasnya lagi dengan semangat.

Pohon ketum atau kratom yang daunnya kini sedang menjadi primadona di wilayah masyarakat karena sebagai sumber mata pencaharian. Seperti diketahui, di wilayah Indonesia, lebih khusus Kalimantan Barat, hampir di sepanjang sungai dan pantai terdapat tumbuhan ini.  Selain itu sebaran ketum terdapat juga dibeberapa negara seperti di Amerika Serikat, Thailand dan Malaysia.

Di masing-masing negara tersebut menurut pengakuan dari para pencari daun Ketum di masyarakat mengatakan, “Daun ketum dicari-cari saat ini karena memiliki kasiat sebagai obat, salah satunya obat diabetes,” kata salah seorang yang mengakui sudah dua bulan mencari daun ini. Sejatinya secara tradisi, masyarakat tidak mengenali tumbuhan itu untuk dipergunakan atau diperjualbelikan, namun dalam kurun lima bulan terakhir daun ini menjadi fenomena baru di wilayah seperti disebutkan diatas (Kecamatan Simpang Dua dan Simpang Hulu). Para pencari daun ketum ini tersebar di pelosok-pelosok kampung. Ada pencari barang ini (daun ketum).

Pengepul mengaku, daun ketum sebagai bahan obat salah satunya untuk penghilang rasa sakit, obat diabetes, obat pemulih stamina bagi wanita setelah melahirkan, karena sebagai pemulih stamina, tidak hanya itu menurut penjual di kampung, pembuang rasa haus karena akan dibuat menjadi teh. Pengepul yang kelihatan sangat berhati-hati dan tertutup dalam jual beli barang ini tidak menyebutkan secara rinci manfaat dan fungsi atau legalitas jual belinya.

Ada apa dengan daun Ketum, Bolehkah di Perdagangkan di Indonesia? Daun Ketum, kratom berdasarkan beberapa literatur menyebutkan daunnya  memiliki kandungan di dalam daunnya merupakan bahan berbahaya karena mengandung zat mitraginin (Jenis Narkotika). Berawal sejak sebelas tahun lalu (tahun 2003) daun ini membuat salah seorang ketagihan. Disebutkan pula, berdasarkan regulasi 1989, larangan perdagangan (ekspor dan impor bahan-bahan terlarang), Poisons Act 1952 dan secara tegas pada tahun 2003 melarang daun tersebut diperjualbelikan. Dengan demikian hampir dipastikan ketum menjadi produk yang ilegal untuk diperjualbelikan.

Menurut penuturan masyarakat, daun kratom yang telah diekskrak bisa diseduh seperti teh atau juga dibakar seperti ganja bahwa daun ketum masuk dalam kategori narkotika. Bagaimana dengan Indonesia? Sepertinya, hingga saat ini, jenis ketum tersebut belum diatur dalam UU No 23 Tahun 2009 tentang Narkotika.

Adapun bahaya atau dampak negatif jika ketum digunakan/isap (konsumsi) diantaranya adalah bisa menyebakan penyusutan berat badan, insomnia (susah tidur), anoreksia (kehilangan selera makan), bibir menjadi kering, muka bisa menjadi lebam-lebam yang membahayakan pipi dan muka. Selain itu juga rasa nyeri pada otot dan sendi dan mata, hidung berair (dari berbagai sumber).

Namun, di tahun 2016 ini sepertinya para pembeli dan penjual ketum sudah tidak terlihat atau marak seperti di tahun-tahun sebelumnya, tahun 2015 dan 2014 yang mana daun ketum masih marak di perjualbelikan.

Mudah-mudahan saja, masyarakat yang menggantungkan nasibnya dari hasil daun ketum tidak terjebak dan harapan agar ada mereka menadapkan pemahaman tentang hal ini dari pihak-pihak terkait. Semoga saja….

Tulisan ini sebelumnya di muat di kompasiana.com. Selengkapnya dapat dilihat di : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/bahaya-daun-ketum-ternyata-masuk-kategori-narkotika_57d8dc66107f615a1117d888

Petrus Kanisius-Yayasan Palung 

 

SMPN 3 Matan Hilir Utara Melakukan Fieldtrip di Sungai Beringin

IMG_8611.JPG

Peserta fieldtrip dari SMPN 3 MHU membuat tenda. Foto dok. Yayasan Palung

Tanggal 26-28 Agustus 2016 bulan lalu, SMPN 3 Matan Hilir Utara yang merupakan sekolah dampingan Yayasan Palung melakukan fieldtrip di Sungai Beringin.

Beberapa materi diberikan kepada peserta fieldtrip seperti pengamatan satwa pada malam hari, survei satwa, analisa vegetasi dan pengamatan indikator air. Selain itu juga, peserta diajak untuk melakukan persentasi dari beberapa materi  dan praktek  yang mereka dapatkan.

Sebagai pemateri dalam kegiatan tersebut adalah dari Yayasan Palung dan Mahasiswa-mahasiswi  penerima beasiswa  orangutan (BOCS).

img_8730

Peserta fieldtrip saat mempresentasikan hasil dari pengamatan mereka. Foto dok. Yayasan Palung

IMG_8693.JPG

Peserta fieldtrip saat melakukan pengamatan vegetasi hutan. Foto dok. Yayasan Palung

Fieldtrip tersebut  tidak lain juga merupakan salah satu cara langsung para siswa-siswi  untuk belajar secara langsung di alam.

IMG_8634.JPG

Peserta saat melakukan pengamatan. Foto dok. Yayasan Palung

Adapun peserta yang hadir dalam kegiatan tersebut (fieldrip-red) berjumlah 46 orang peserta yang terdiri dari peserta dan pendamping.

IMG_8763.JPG

Peserta fieldtrip berfoto bersama setelah kegiatan selesai. Foto dok. Yayasan Palung

Kgiatan tersebut berjalan sesuai dengan rencana dan mendapat sambutan baik dari para peserta fieldtrip (kunjungan lapangan).

Pit- Yayasan Palung

Yayasan Palung Melakukan Ekspedisi Pendidikan Lingkungan di Empat Desa Wilayah Hutan Desa untuk Penyadartahuan

puppet-show-bertutur-tentang-orangutan-dan-habitatnya-di-sdn-10-nipah-kuning-simpang-hilir-kku-foto-dok-yayasan-palung

Puppet Show bertutur tentang orangutan dan habitatnya di SDN 10 Nipah Kuning, Simpang Hilir, KKU. Foto dok. Yayasan Palung

Berkeliling dari desa menuju desa lainnya, setidaknya itulah yang kami Yayasan Palung lakukan selama 5 hari  dalam bingkai ekspedisi pendidikan lingkungan di wilayah hutan desa di Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara, pada  tanggal 29 Agustus 2016 hingga  2 September 2016, pekan lalu.

Empat desa yang kami kunjungi diantaranya Desa Padu Banjar, Desa Pulau Kumbang, Desa Pemangkat dan Desa Nipah Kuning. Adapun rangkaian kegiatan yang kami lakukanantara lain adalah  Puppet show (panggung boneka) di sekolah-sekolah dasar (SD) dan pemutaran film lingkungan sebagai salah cara kampanye penyadartahuan tentang lingkungan dan satwa dilindungi secara langsung kepada masyarakat…..

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/melakukan-ekspedisi-pendidikan-lingkungan-di-empat-desa-wilayah-hutan-desa-untuk-penyadartahuan_57cfe21bfc22bddb44a24674

BKSDA Kalbar dan YIARI Rescue Satu Individu Bayi Orangutan di Kusik Pakit

Rescue OU di Jelai Hulu (2)

Tim BKSDA dan YIARI saat melakukan rescue satu individu orangutan di Pakit Kusik, Jelai Hulu, Ketapang . Foto. YP

Rabu (10/8/2016) pekan lalu, BKSDA Kalimantan Barat melalui Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Ketapang melakukan evakuasi 1 bayi Orangutan (Pongo pygmaeus) di Dusun Kusik Pakit, Desa Rangga Intan, Kecamatan Jelai Hulu, Ketapang, Kalbar. Bayi Orangutan yang  diselamatkan tersebut berusia ± 1 tahun, berkelamin jantan serta dalam kondisi baik, bayi Orangutan yang itu dipelihara oleh pemiliknya bapak Gampau, kurang lebih selama bulan itu selanjutnya diselamatkan (rescue).

Ruswanto selaku Kepala SKW I Ketapang menceritakan bahwa pada 25 Juli 2016 SKW I Ketapang, ia menerima laporan secara tertulis dari Yayasan Palung dengan nomor laporan 167/Lap-OU/PPS-Hukum/YP/VII/2016 tentang kasus pemeliharaan Orangutan. Selanjutnya melalui koordinasi dan diskusi maka BKSDA Kalbar melalui Tim Evakuasi dan Penyelamatan TSL SKW I Ketapang bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) melakukan evakuasi bayi Orangutan tersebut. Sebelum dilakukan evakuasi terlebih dahulu dilakukan pendekatan secara persuasif dan edukatif kepada pemilik (pemilihara) Orangutan. Setelah dilakukan pendekatan secara persuasif pemilik bayi Orangutan menyerahkannya kepada pihak yang berwewenang. Setelah dilakukan evakuasi, bayi Orangutan dibawa ke pusat rehabilitasi yang dikelola YIARI sebelum dilepasliarkan ke habitat aslinya.

Ruswanto berharap agar masyarakat turut serta membantu pemerintah melindungi satwa-satwa langka yang dilindungi undang-undang dengan tidak memelihara di rumah secara pribadi melainkan membiarkan hidup bebas di habitat aslinya. Terkait larangan ini sudah sangat jelas dan tegas diatur dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya Pasal 21 ayat 2 huruf (a) bahwa setiap orang dilarang menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup dan huruf (b) bahwa setiap orang dilarang menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup atau mati. Serta dalam pasal 41 ayat 2 bahwa Barang siapa dengan sengaja melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).

Triana, Direktur Yayasan Palung menambahkan bahwa hutan di kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara terutama hutan rawa gambut menjadi tempat yang nyaman bagi Orangutan untuk hidup. Namun sangat disayangkan hutan di dua kabupaten ini sudah sulit ditemukan kawasan hutan yang aman bagi hewan arboreal yang sebagian besar tinggal di atas pohon terutama hutan rawa dataran rendah. Selain itu juga, meskipun penyebaran isu penyelamatan Orangutan cukup besar dilakukan, namun pada kenyataannya praktek kejahatan terhadap satwa dilindung terutama kasus pemeliharaan masih terjadi hingga kini.

Orangutan bagai diserang dari berbagai sudut baik serangan terhadap individu Orangutan yang terus diburu, disayang dan diperdagangkan dalam usaha meraup keuntungan.  Bahkan sangat tragis juga terjadi pada habitat Orangutan yang terus dibuka untuk kepentingan perkebunan dan pertambangan. Kurangnya perhatian akan hak-hak hidup Orangutan membuat Orangutan terus tergusur dari habitat aslinya.

Bahkan hingga saat ini terdapat 100 lebih individu di pusat rehabitas yang dikelola YIARI. Ini harus mendapatkan perhatian kita semua termasuk perhatian pemerintah daerah untuk menyediakan kawasan hutan yang betul-betul aman dan nyaman sebagai kawasan pelepasliaran Orangutan. Juga perlu disadari bahwa membicarakan konservasi Orangutan tidak terlepas dari membicarakan kebijakan di tingkat pemerintah daerah. Karena kebijakan di tingkat daerah terutama kebijakan terkait pembangunan di segala bidang harus berwawasan lingkungan. Karena kebijakan yang tidak berwawasan lingkungan akan membawa dampak yang besar terhadap kelestarian Orangutan dan habitatnya.

Petrus Kanisius & Edi Rahman-Yayasan Palung

Yayasan Palung Bersama ASRI Lakukan Kegiatan Kesehatan Keliling dan Pendidikan Lingkungan

           

IMG_3562.JPG

Saat pemutaran film lingkungan (mobile cinema) Yayasan Palung di Dusun Cali. Foto dok. Yayasan Palung

Setidaknya kami (Yayasan Palung dan Yayasan ASRI) membutuhkan 8 jam perjalanan untuk sampai di tempat kami melakukan kegiatan kesehatan keliling (Kesling) dan pendidikan lingkungan di dua dusun Cali dan Pangkalan Jihing, Nanga Tayap, pada 9-10 Agustus 2016, kemarin. Rangkaian kegiatan tersebut juga sekaligus memperingati Hari Konservasi Alam Nasional 2016.

Setibanya di Dusun Pangkalan Jihing pada pukul 14.00 WIB. Di Dusun tersebut, kami menginap di Rumah Kepala Dusun Pangkalan Jihing. Pada malam harinya, Yayasan ASRI melakukan pengobatan kepada masyarakat yang ada di dusun tersebut. Sedangkan Yayasan Palung melakukan pemutaran film lingkungan di dusun Cali, berlokasi di halaman sekolah SDN 33 Cali, Nanga Tayap.

Terlihat antusias masyarakat untuk berobat dan memeriksa kesehatan mereka. Diantara pasien ada yang memeriksa kesehatan diantaranya seperti sakit asma, demam panas, penyakit step, ada juga diantaranya ada yang sakit gigi ingin mencabut giginya. Namun belum bisa di cabut karena giginya masih sakit dan belum boleh dicabut.

Keesokan harinya (10/8/2016), Yayasan ASRI kembali melakukan pengobatan kepada masyarakat dan Yayasan Palung melakukan edukasi lingkungan di Sekolah Dasar Negeri 33 Cali, Nanga Tayap. Pada saat melakukan edukasi lingkungan, Yayasan Palung menyampaikan informasi tentang orangutan dan habitatnya melalui media boneka (orangutan, bekantan, kelasi, enggang, dan trenggiling), siswa kami libatkan aktif untuk bermain boneka agar mereka senang.

IMG_3603.JPG

Yayasan Palung saat memberikan materi lingkungan kepada anak-anak melalui media boneka (puppet show), Foto dok. YP

IMG_3672.JPG

Foto bersama-sama dengan pihak sekolah dan anak dari SDN 33 Nanga Tayap

Inti materi yang disampaikan tentang hubungan orangutan dan manusia baik itu terkait dengan keberadaannya terutama habitat, makanan, reproduksi, ancamanannya melalui media boneka (puppet show). Dalam puppet show tersebut diikuti oleh seluruh siswa 42 dari kelas I-VI. Agar siswa lebih memahami apa yang disampaikan, kami mensimulasikan dengan rambut yang dimliki dua orang siswa sebagai hutan. Dari perbedaan rambut yang lebat dan sedikit, mereka lebih paham dengan fungsi hutan sebagai pencegah banjir dan tanah longsor. Dan dihutan yang lebat akan banyak kemungkinan buah-buahan atau makanan satwa atau orangutan lebih banyak daripada rambut yang sedikit. Ketika kami mensimulasikan rambut semua siswa tertawa dan mereka lebih memahaminya. Kegiatan ini diakhiri dengan menyanyikan lagu si pongo dan foto bersama.

Adapun untuk menjangkau wilayah di Dusun  Cali dan Pangkalan Jihing cukup sulit dijangkau dan dilewati karena jalan di wilayah tersebut terbilang kurang terawat. Beberapa mobil truk pembawa bibit sawit terlihat berlalu lalang dan beberapa diantaranya membawa kayu olahan (kayu segi). Di dua tempat ini juga untuk berkomunikasi agak sedikit sulit karena signal hanya ada ditempat tertentu. Selain itu juga, di dua dusun ini belum ada penerangan umum yang menerangi.

IMG_3469.JPG

Kubangan lumpur (jalan rusak) salah satu kendala  utama di wilayah tersebut. Foto dok. YP

Dari Yayasan Palung yang ikut dalam kegiatan kesling dan pendidikan lingkungan tersebut adalah Ranti Naruri, Petrus Kanisius dan mahasiswa magang Sumihadi dan Hendri Gunawan (BOCS). Sedangkan dari Yayasan ASRI yang ikut antara lain adalah, dr. Lori Chow, merupakan relawan ahli bedah untuk ASRI, dr. Alvita Ratnasari, Nani Utari, Efan Juniansyah dan Usuf Hamdani. Kegiatan berjalan sesuai rencana dan mendapat sambutan baik dari masyarakat dan pihak sekolah. Kegiatan kami usai pada tengah hari, selanjutnya kami Yayasan Palung kembali untuk pulang ke Ketapang dan Yayasan ASRI ke Kayong Utara.

Tulisan Selengkapnya dapat dilihat dilink :

http://pontianakpost.com/gelar-kesling-dan-pendidikan-lingkungan

Petrus Kanisius- Yayasan Palung

Hari Orangutan Sedunia 2016 : Ini Cara Sederhana yang Yayasan Palung Bisa Lakukan

Kami Indonesia, Kami semua perlu hutan. Foto dok. Yayasan Palung

Kami Indonesia, Kami semua perlu hutan. Foto dok. Yayasan Palung

Jumat pekan lalu (19/8), Yayasan Palung bersama para relawan konservasi Tajam melakukan kampanye bersama dalam bingkai hari orangutan sedunia 2016, untuk mengingatkan kita semua dengan berbagai cara. Misalnya membuat pesan bersama yang mengajak instansi-instansi terkait seperti Dinas Kehutanan Ketapang, Balai Taman Nasional Gunung Palung (BTNGP), BKSDA melalui Manggala Agni dan kepolisian. Selain itu juga melibatkan masyarakat di sepanjang jalan, di emperan toko, pusat perbelanjaan, jalan raya dan siapa saja yang ingin menyampaikan pesan.

Pesan-pesan penting dan sederhana tentang keprihatinan terhadap nasib orangutan dan hutan menjadi salah satu cara sederhana yang bisa dituangkan dan bisa dilakukan melalui media foto dan pesan singkat dalam peringatan Hari Orangutan Sedunia (Worid Orangutan Day) 2016.

Adapun pesan dalam foto tersebut menggambarkan tentang kondisi hutan dan orangutan saat ini. dengan menyertakan hastag atau tanda tagar (#) seperti #WorldOrangutanDay2016 #HariOrangutanSedunia2016 #OrangutanIsUs #YayasanPalung #YP #GunungOrangutanConservationProgram #GPOCP  #SaveOrangutans #SaveOurForest #WorldOrangutanDay.

Semoga saja, dengan cara penyampaian pesan-pesan sederhana ini dapat menggugah kesadaran dari semua pihak untuk semakin peduli kepada nasib hidup hutan dan orangutan agar bisa lestari.

Tulisan yang sama selengkapnya dapat dibaca di link : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/selamatkan-hutan-untuk-orangutan-selamatkan-orangutan-untuk-hutan_57b73dfa90fdfd4348ea0dbe

By : Petrus Kanisius-Yayasan Palung

 

Pelatihan Membangunan Manajemen Hutan Secara Berkelanjutan dengan Pemanfaatan Tanaman Gaharu dari Hasil Budidaya yang Memiliki Potensi Nilai Tinggi

Pel. Gaharu (26)

Para peserta pelatihan gaharu sangat serius mendengarkan penjelasan dari pemateri pelatihan. Foto dok. Yayasan Palung

Tanaman Gaharu merupakan produk Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yang saat ini sudah mulai langka terutama Gaharu Alam. Ini akibat maraknya perburuan gaharu alam karena besarnya permintaan pasar. Bahkan orang-orang yang tidak berkompeten ikut memburu gaharu alam menyebabkan pohon gaharu yang tidak menghasilkan gaharu juga ikut ditebang dan tidak diimbangi dengan penanaman kembali. Bahkan kawasan hutan yang sudah banyak berubah menjadi areal perkebunan dan pertambangan juga menjadi faktor penyumbang kelangkaan gaharu Alam ini. Masyarakat tidak bisa lagi mengandalkan gaharu alam ini untuk memenuhi permintaan pasar sebab semakin langkanya gaharu alam serta adanya regulasi atau aturan yang menetapkan gaharu sebagai species dilindungi dan masuk dalam apendiks II yang tidak boleh diperdagangkan.

Untuk memenuhi tingginya permintaan pasar ini maka salah satu cara yang ditempuh adalah dengan mendorongnya masyarakat untuk membudidayakan tanaman gaharu. Untuk mendorong serta menggalakan budidaya gaharu ini maka melalui Dinas Kehutanan dan Perkebunan kabupaten Kayong Utara bekerjasama dengan Universitas Tanjungpura Pontianak dan Yayasan Palung mengadakan pelatihan kepada masyarakat sekitar kawasan hutan dengan melibatkan beberapa desa di kecamatan Sukadana, kecamatan Simpang Hilir serta beberapa Mahasiswa Magang dari Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura. Pelatihan ini mengambil tema “Membangun Manajemen Hutan Secara Berkelanjutan Dengan Pemanfaatan Tanaman Penghasil Gaharu Hasil Budidaya” yang dilaksanakan di Aula Pembibitan Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Kayong Utara, pada 11-12 Agustus 2016, pekan lalu.

Pel. Gaharu (41)

Peserta pelatihan melakukan inokulan (penyuntikan) pada gaharu. Foto dok. Yayasan Palung

Peserta yang diundang dalam pelatihan ini khususnya peserta dari Kecamatan Simpang Hilir Berkaitan adalah anggota Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) dan tokoh masyarakt dari Desa Penjalaan, Desa Nipah Kuning, Desa Pemangkat, Desa Pulau Kumbang dan Desa Padu Banjar. Desa-desa ini menjadi wilayah dampingan Yayasan Palung dalam program Hutan Desa dan pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK). Tak kurang, 40 orang peserta yang ikut dalam pelatihan tersebut.

Materi pelatihan ini disampaikan oleh Bapak Abdul Mu’in, Bapak Burhanuddin, Bapak Sudirman Mu’in, Ibu Dwi Astiani, Ibu Wiwik Ekyastuti, Ibu Emi Roslinda. Semua Fasilitator tersebut merupakan pengajar (Dosen) Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura. Materi yang disampaikan adalah terkait Teknik budidaya tanaman gaharu, hama tanaman penghasil gaharu, teknik pembentukan gubal gaharu, pemanenan dan penanganan pasca panen. Selain materi tersebut, juga disampaikan materi tentang hasil analisis vegetasi dan survey sarang Orangutan di kawasan Hutan Lindung Sungai Paduan yang disampaikan langsung oleh Yayasan Palung. Sekilas dari hasil survei, memastikan di darah tersebut (Sungai Paduan) merupakan salah satu habitat orangutan.

Pel. Gaharu (81).JPG

Para peserta pelatihan saat mendengaran pemaparan materi dari pemateri pelatihan. Foto dok. Yayasan Palung

Untuk lebih memahami bagaimana memperoleh gubal gaharu maka langsung dilakukan praktek Penyuntikan pohon gaharu.  Dalam praktek ini para peserta diajarkan langsung bagaimana melakuan penyuntikan pada pohon gaharu untuk memperoleh gubal gaharu (baik melakukan pengeboran di batang gaharu, kedalaman lubang pengeboran, jarak antar lubang di batang gaharu serta memasukan cairan inokulan serta bahan-bahan apa saja yang perlu disiapkan sebelum melakukan penyuntikan pada pohon gaharu.

Menurut Edi Rahman, dengan pelatihan ini diharapkan para peserta termasuk anggota LPHD dapat memahami bagaimana tehnik budidaya Gaharu, Mengetahui hama apa saja yang menyerang tanaman gaharu serta cara mengatasinya, bagaimana memperoleh gubal gaharu (gubal gaharu adalah kayu berwarna kehitaman dan mengandung resin khas yang dihasilkan oleh sejumlah spesies pohon dari marga/genus Aquilaria, terutama A. Malaccensis). Resin ini digunakan dalam industri wangi-wangian (parfum dan setanggi) karena berbau harum pada tanaman Gaharu. Bagaimana penanganan pasca panen terutama terkait pasaran dan nilai jualnya. Namun yang tidak kalah penting adalah dengan adanya pelatihan ini diharapkan anggota LPHD dapat membudidayakan tanaman gaharu karena sangat cocok dan mudah dibudidayakan di wilayah Kabupaten Kayong Utara, yang merupakan salah satu sumber altenatif pendapatan masyarakat karena memiliki nilai ekonomis dan harga tinggi serta peluang pasar yang besar. Saat ini seperti diketahui, ada beberapa negara yang menjadi pengimpor gaharu diantaranya seperti Saudi Arabia, Kuwait, Turki, Yaman, Amerika Serikat, Uni Emirat Arab, Singapura dan Jepang. (Tim PPS Yayasan Palung).

BKSDA Lepas Liarkan Penyu Sisik di Pantai Pulau Datok

Pelepasliaran Penyu

Petugas BKSDA Saat melepasliarkan Penyu Sisik. Foto dok. YP 

Minggu pekan lalu  (7/8/2016), Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat berserta Seksi Konservasi Wilayah I Ketapang melakukan pelepasliaran 1 ekor Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata) di Pantai Pulau Datok Kecamatan Sukadana Kayong Utara yang merupakan habitat aslinya. Sedangkan usia Penyu Sisik yang dilepasliarkan berusia ± 3 tahun.

Pelepasliaran itu sendiri langsung dihadiri oleh Bapak Ir. Sustyo Iriono, M.Si (Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam) Kalimantan Barat, Bapak Ruswanto (Kepala SKW I Ketapang), Daops Galaag Ketapang, Yayasan Palung dan Kontributor TVRI Kayong Utara.

Bapak Ruswanto menceritakan kronologis Penyu Sisik yang dilepasliarkan tersebut, bermula pada tanggal 03 Agustus 2016 petugas BKSDA Kalimantan Barat dalam ini Tim Gugus Tugas Evakuasi dan Penyelamat TSL Seksi Konservasi Wilayah I Ketapang bersama Daops Galaag Ketapang melakukan evakuasi 1 ekor Penyu Sisik hasil penyerahan dari Ibu Sonya di Taman Rekreasi Pantai Air Mata Permai, Ketapang.

Saat pelepasan penyu di pantai P. Datok

Foto saat pelepasliaran penyu sisik di Pantai Pulau Datok

Bahkan belum lama ini juga BKSDA Kalimanan Barat melalui SKW I Ketapang melakukan operasi terhadap telur penyu yang diperjualbelikan di Ketapang.

Edi Rahman dari Yayasan Palung menambahkan, Penyu sisik merupakan salah satu  sumberdaya hayati laut yang langka. Namun sangat disayangkan walaupun telah dimasukan ke dalam satwa dilindungi tetap saja terus mengalami penurunan populasi. Ini dikarenakan banyaknya perburuan telur Penyu serta perubahan bentangan alam yang menyebabkan terganggunya habitat hidup dan habitat peneluran penyu.

Di Kabupaten Ketapang terutama di pantai-pantai terlebih di Kecamatan Kendawangan merupakan salah satu habitat Penyu bertelur termasuk Penyu Sisik. Ada beberapa pulau yang menjadi lokasi Penyu bertelur termasuk Penyu sisik diantaranya Pulau Penambun, Pulau Batu Titi, Pulau Kelapa Condong, Pulau Gelam serta beberapa pulau lainnya. Pulau-pulau tersebut masuk dalam wilayah administratif Kecamatan Kendawangan. Namun saat ini, yang sangat disayangkan di beberapa pulau tersebut, banyak para nelayan yang selalu mampir untuk berburu telur Penyu untuk diperjualbelikan. Selain manusia yang menjadi ancaman terhadap telur Penyu adalah hewan predator seperti Anjing Laut dan biawak. (Pit-Yayasan Palung).

 

Tulisan ini juga dimuat dan bisa dibaca di :

http://pontianak.tribunnews.com/2016/08/11/bksda-lepaskan-penyu-sisik-ke-habitatnya-di-pulau-datok

http://pontianakpost.com/satu-penyu-sisik-dilepasliarkan

Malam Keakraban Keluarga Besar Yayasan Palung (GPOCP)

IMG_3109

Foto bersama Keluarga Besar Yayasan Palung (GPOCP). Foto dok. Yayasan Palung

IMG_3080.JPG

Cheryl Knott menyerahkan buku kepada Cassie Freund sebagai ucapan terima kasih dan kenang-kenangan. Foto dok. Yayasan Palung.

Senin (1/8/2016) kemarin, Keluarga besar Yayasan Palung makan malam bersama bertempat di Cafe Culinary, Ketapang.

Sebenarnya ini acara rutin yang diakan setiap tahun setiap kunjungan Direktur Eksekutif Yayasan Palung, DR. Cheryl Knott ke Indonesia. kekhususan dari makan malam kali ini adalah, Cheryl membawa seluruh keluarganya yaitu suaminya Tim Laman yang juga berulang tahun yang ke 55 pada malam itu, dan kedua anaknya yaitu Russel dan Jessica.

IMG_3032

Malam keakraban sekaligus merayakan Ulang tahun Tim Laman. Foto dok. Yayasan Palung 

Selain itu momen ini juga merupakan penyambutan terhadap Triana selaku Direktur Lapangan dan Terri selaku Direktur Program Yayasan Palung (YP) yang baru, menggantikan Ibu Cassie Freund yang sekaligus serah terima jabatan di YP pada malam itu secara resmi.

Cassie Freund selanjutnya akan melanjutkan pendidikan Strata-III  (S3) dan kembali ke Amerika. Adapun suasana makan malam sekaligus malam keakraban bersama ini bercampur aduk, ada gembira, haru sekaligus sedih.

Dalam sanbutannya, Cassie menyampaikan pesan kepada semua kawan-kawan agar semakin maju dan terus semangat dalam membangun Yayasan Palung di tahun-tahun mendatang. Sedangkan Ibu Cheryl mengucapkan terima kasih kepada Cassie yang telah melaksanakan tugas dengan baik selama memimpin Yayasan Palung.

Selain itu juga, dari beberapa staf menyampaikan pesan dan kepada Cassie selama kepemimpinannya yang boleh dikata sangat membantu dalam hal perbaikan-perbaikan dan terobosan baru bagi Yayasan Palung. Hampir semua keluarga besar Yayasan Palung hadir dalam acara tersebut.

By : Mayi & Edi- Yayasan Palung