Adakan Seminar Public Speaking Bagi Perempuan Sebagai Pemilih Pemula

“Perempuan Sebagai Pemilih Pemula”

Komisioner KPUD Kabupaten Ketapang, Ari As’ari  ketika menyampaikan presentasi terkait siapa pemilih pemula dalam 
Seminar Public Speaking Pemilih Pemulapemilu legislatif dan presiden 2019. Foto dok : Yayasan Palung

Senin, 10 Desember 2018 pekan lalu, bertepatan dengan hari Hak Asasi Manusia (Hari HAM Sedunia), YayasanPalung, Duta Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Ketapang (DP3AK) dan FAMM-INDONESIA secara bersama-sama mengadakan Seminar Public Speaking Pemilih Pemulapemilu legislatif dan presiden 2019.

Rangkaian kegiatan tersebutdirasa perlu untuk dilakukan (disosialisasikan) kepada pemilih pemula yang padakesempatan tersebut mengundang adik-adik dari sekolah-sekolah yang ada diKabupaten Ketapang, lebih khusus bagi mereka yang berumur 17 tahun ke atas.


Peserta yang ikut ambil bagian dalam Seminar Public Speaking Pemilih Pemula pemilu legislatif dan presiden 2019. Foto dok : Yayasan Palung

Sebagai pemateri di sesi pertama dengan materi terkait bagaimana Tata Cara Pemilu dan sekaligus penyampaian sosialisasi pemilih pemula adalah dari Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Kabupaten Ketapang, yang pada kesempatan tersebut disampaikan oleh Komisionernya Ari As’ari.

Dalam penyampaian presentasinya, Komisioner KPU mengajak pemilih pemula untuk berpartisipasi saat pemilu legislatif dan pemilihan presiden pada tahun 2019 mendatang. Dengan kata lain, KPU berharap agar pemilih pemula dapat menggunakan hak pilihnya sebagai warga negara agar tidak golput.

Pada sesi kedua dilanjutkandengan materi presentasi tentang Analisa Gender dan Ketimpangan Gender dalamPengelolaan Sumber Daya Alam yang disampaikan oleh Monalisa Pasaribu darilembaga Aid Enviroment Indonesia. Pemaparan dari materi presentasi yangdisampaikan adalah terkait  gender. Termasukbagaimana realita hak-hak perempuan yang boleh dikata masih minim dalam hal focusperhatian untuk diakomodir sepertinya misalnya masih minimnya wakil rakyat didaerah lebih khusus di perempuan di berbagai sektor tidak terkecuali penentu kebijakan. Selain itu juga dijelaskan pula terkait masih adanya kekerasan terhadapperempuan.

Merujuk dari data  CATAHU Komnas Perempuan, tahun 2018 menyebutkan; Tahun 2017 jumlah kasus Kekerasanterhadap Perempuan (KTP) yang dilaporkan meningkat sebesar 74% dari tahun 2016yaitu 348.446, jumlah ini melonjak jauh dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebesar259.150. Dengan demikian, perlu adanya kesadaran kolektif masyarakat untukmenurunkan jumlah kejadian Kekerasan terhadap perempuan di Indonesia.

Beberapa pesan yang berhasil mereka buat pada saat diskusi. Foto dok : Yayasan Palung 

Pada Sesi terakhir, MariamahAchmad dari Yayasan Palung menyampaikan presentasi tentang bagaimana membuat PesanKampanye dan Public Speaking. Pada sesi ini, pemateri mengajak peserta yangterdiri dari 86 orang yang berasal dari 10 sekolah di tingkat SMA/MA dan SMK diKabupaten Ketapang tersebut diajak untuk membuat pesan-pesan kampanye sepertimembuat pesan kampanye tentang lingkungan, membuat pesan kampanye tentanghak-hak perempuan. Peserta dibagi menjadi beberapa kelompok dan mereka praktekmembuat pesan kampanye dan  selanjutnyamereka menyampaikannya melalui presentasi.

Beberapa pesan Kampanye yang berhasil mereka buat. Foto dok : Yayasan Palung

Dalam setiap sesi dipersilakankepada peserta untuk berdiskusi atau pun bertanya terkait materi yangdisampaikan.

Ko Susanti selaku ketua DP3AK berharap, semoga kegiatan seminar seperti ini bisa bermanfaat dan dapat meningkatkan kesadaran bagi perempuan untuk semakin menghargai pribadinya secara bijaksana dalam segala hal untuk maju dan berkembang menjadi perempuan yang tangguh.

Dalam kegiatan yang dimulai sejak pagi menjelang petang tersebut, peserta seminar diajak mengampanyekan kegiatan tanpa memakai wadah minuman kemasan plastik sekali pakai dengan menyediakan botol minuman wadah lama pakai BPA free untuk peserta, kata Mariamah Achmad.

Ini juga pesan yang ingin disampaikan secara bersama-sama. Foto dok : Yayasan Palung

Serangkaian kegiatan yangdiselenggarakan di ruang Aula Dinas Pertanian, Perkebunan dan PeternakanKabupaten Ketapang tersebut berjalan sesuai dengan rencana dan mendapatsambutan baik dari peserta.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Iklan

Kelompok LPHD Desa Nipah Kuning Olah Kelapa Menjadi Minyak yang Kaya Manfaat

“Olah Kelapa Menjadi Minyak yang Kaya Manfaat”

Ini sekelumit cerita dari masyarakat Desa Nipah Kuning, mereka berinovasi dan mengolah potensi yang ada di Desa mereka (Kelompok LPHD Desa Nipah Kuning, Kecamatan Simpang Hilir, Sukadana) mengolah kelapa menjadi minyak VCO yang kaya akan manfaat.

Video inovasi desa lainnya, ELIS mama Muda CANTIK- Srikandi Desa Penjalaan Penggerak EkonomiKreatif : https://www.youtube.com/watch?v=hbZzbY0Ll8s&t=150s

Berharap cerita mereka ini bisa menginspirasi kita semua, terima kasih.

Sumber informasi video dokumen dari Warta Kayong

Pit- Yayasan Palung

Pelatihan Kampanye Kesadaran Konservasi dengan Cara-cara Kreatif

peserta pelatihan menerapkan metode world cofe dari  materi public speaking. Yayasan Palung

“Kampanye Kesadaran Konservasi dengan Cara-cara Kreatif”

Bertempat di Canopy  Center Pontianak, mahasiswa-mahasiwi penerimaBeasiswa orangutan Kalimantan diberikan Pelatihan Kampanye Kesadaran Konservasiuntuk penerima BOCS (Bornean Orangutan Caring Scholarship) 2018, yang dilaksanakan selama tiga hari.

Kegiatan yang dilaksanakan selama 3 hari, 30 November 2018 sampai 02 Desember 2018 dan diikuti oleh 23 orang penerima BOCS angkatan 2014 sampai 2018.

Ada pun materi yang disampaikan dalam pelatihan tersebut antara lain seperti;

  • Berbicara yang baik di depan umum (Public Speaking),
  • Wawancara yang baik (Good Interview),
  • Advokasi penegakan hukum satwa liar,
  • Membuat CV profesional,
  • Merencanakan event kampanye dengan baik,
  • Pembiayaan perubahan iklim (Climate Change Finance),
  • Menentukan tujuan dengan metode SMART (Spesific, Measurable, Attainable, Relevant, Timely).

Pelatihan ini merupakan salah satu bentuk kegiatan yang dilakukan oleh Yayasan Palung untuk menyiapkan penerima beasiswa yang kreatif dalam melakukan kampanye untuk meningkatkan kesadaran konservasi orangutan dan habitat di tengah masyarakat, juga sebagai bekal keterampilan untuk mereka bekerja nantinya.

Sebagai pemateri dalam kegiatan tersebut adalah Terri Lee Breeden, Marimah Achmad, Simon Tampubolon (Yayasan Palung), Sri Ranti (Yayasan Planet Indonesia) dan Suhani (Yayasan Titian).

Semua rangkaian kegiatan yang dilakukan selama 3 hari tersebut berjalan dengan baik dan peserta penerima BOCS mendapatkan banyak pengalaman dan manfaat dari pelatihan ini.

Simon Tampubolon – Yayasan Palung

Editor : Petrus Kanisius-Yayasan Palung

@savegporangutans @orangutanrepublik

Untuk melihat lebih banyak Foto klik : https://www.instagram.com/p/Bq_9W_OAtWK

#BOCS #publicspeaking #worldcafe #borneanorangutancaringscolarship #training #pontianak #termofreference #interview #campaign #kampanye #advokasi #satwaliar #borneanorangutan #saveorangutan #climatefinance #mindmap #curriculumvitae #resume #icebreaking #creative

Laporan Tahunan Yayasan Palung Tahun 2017

Cover Depan Laporan Yayasan Palung tahun 2017

Mau tau apa saja yang Yayasan Palung kerjakan selama rentang waktu tahun 2017, berikut laporan tahunannya :

Klik link berikut untuk melihat laporan tahunan 2017 

Ajak Masyarakat Dusun Layang-layang Beternak Ikan Lele

 

Saat Yayasan Palung dan BTNGP berdiskusi bersama dengan masyarakat di Dusun Layang-layang, Desa Matan Jaya , untuk merencanakan beternak ikan lele. Foto dok : Yayasan Palung

Pada tanggal 27-29 November 2018 kemarin,Yayasan Palung bekerjasama dengan TNGP memulai program pemberdayaan masyarakat mengajakmasyarakat beternak ikan Lele, bertani pertanian organik dan pemanfaatan HHBK.

Adapun tujuan dengan adanya ajakan untuk beternak lele sebagai langkah agar masyarakat tidak bergantung lagi dengan mencari Kayu.

Wendy F. Tamariska, selaku manager program SL Yayasan Palung bersama pihak dari BTNGP bermelakukan diskusi sosialisasidan juga perencanaan untuk melanjutkan program beternak ikan Lele, bertanipertanian organik dan pemanfaatan HHBK. Dalam diskusi tersebut dihadiri oleh 20 orang perwakilan dari Dusun Layang-layang.

Kolam untuk rencana beternak ikan lele di Dusun Layang-layang, Desa Matan Jaya. Foto dok : Yayasan Palung

Kolam-kolam sudah jadi dan siap untuk diisi bibit Lele. Semoga berhasil budidaya lele dan juga program berjalan dengan lancar. Selanjutnya akan didatangkan trainer Budidaya Lele, sekaligus juga dengan bibit, dan obat vitamin, pakan lele tersebut.   

Seperti diketahui, Desa Matan Jaya merupakan desa yang berbatasan langsung dengan wilayah Taman Nasional yang hanya dibatasi Sungai. Terdapat 17 Kepala Keluarga (KK) yang terdiri dari 14 rumah di dusun tersebut, dan sebagian besar masyarakatnya bekerja sebagai pencari Kayu (Logger).  

Syahik Nurbani-Yayasan Palung

Peneliti Sosialisasikan Maksud Penelitian Mereka di Gunung Palung Ke Sekolah-sekolah

8

Alys Granados (manager peneliti) dan Yogi Saputra (asisten peneliti) saat menyampaikan sosialisasi program penelitian di Stasiun Penelitian Cabang Panti (SPCP), Taman Nasional Gunung Palung (TNGP) ke sekolah-sekolah di dua kabupaten; Ketapang dan Kayong Utara. Foto dok : Yayasan Palung

Peneliti Sosialisasikan Program Penelitian di Stasiun Penelitian Cabang Panti (SPCP), Taman Nasional Gunung Palung (TNGP), Kepada Beberapa Sekolah yang Ada di Kabupaten Kayong Utara dan Ketapang, ini disampaikan selama 3 hari ( 6-8 November 2018), awal bulan kemarin.

Alys Granados, selaku manager penelitian dan Yogi Saputra, asisten penelitian berkesempatan untuk menyampaikan sosialisasi terkait penelitian yang mereka lakukan di Stasiun Penelitian Cabang Panti (SPCP). Mereka (peneliti) didampingi oleh manager dari Tim Pendidikan Lingkungan dan media kampanye, Mariamah Achmad bersama staf pendidikan lingkungan Yayasan Palung, Simon Tampubolon dan Wawan Anggriyandi.

1

Saat Peneliti menyampaikan sosialisasi program penelitian di SMAN 1 MHU, Ketapang. Foto dok : Yayasan Palung

Pada kesempatan lecture (sosialisasi program) tersebut, peneliti menyampaikan beberapa hal, antara lain terkait pekerjaan/penelitian yang mereka lakukan di Stasiun Penelitian Cabang Panti (SPCP), Gunung Palung kepada siswa siswi di tiga (3) sekolah seperti di SMAN 3 Simpang Hilir, Kayong Utara, di SMAN 1 Simpang Matan Hilir Utara, Ketapang dan di SMAN 3 Sukadana, Kayong Utara.

Dalam sosialisasi, peneliti menyampaikan terkait penelitian yang mereka lakukan diantaranya;

  1. Mereka (peneliti) menceritakan tentang Stasiun Penelitian Cabang Panti (SPCP) di Taman Nasional Gunung Palung (TNGP) yang menjadi tempat penelitian bagi para peneliti dalam negeri (para mahasiswa-mahasiwi atau pun dosen) dan peneliti dari luar negeri yang sudah ada selama 30 tahun lebih.
  2. Peneliti menjelaskan apa-apa saja yang mereka lakukan terkait penelitian, misalnya peneliti dan asisten mengikuti orangutan dari bangun tidur hingga orangutan tidur lagi secara rutin setiap harinya.
  3. Para peneliti juga menjelaskan terkait ijin penelitian, mereka merupakan peneliti sah karena berasal dari perguruan tinggi dari luar negeri atau pun dari dalam negeri yang telah mendapat ijin untuk masuk kawasan dan meneliti di Stasiun Penelitian Cabang Panti (SPCP), Taman Nasional Gunung Palung (TNGP).
  4. Mereka (peneliti) menyampaikan siapa-siapa saja yang pernah meneliti di Gunung Palung, seperti misalnya Cheryl Knott dan Tim Gordon Laman, Andy Marshall pernah meneliti di Stasiun Penelitian Cabang Panti, hingga saat ini.
  5. Peneliti menjelaskan sekaligus menjawab pertanyaan, mengapa penelitian orangutan dilakukan secara terus menerus. Jawabannya adalah Karena manfaat dan fungsi orangutan sangat besar bagi keberlanjutan makhluk hidup karena orangutan merupakan si petani hutan.
  6. Penelitian terhadap orangutan merupakan salah satu cara bagi para ilmuan (peneliti) untuk mengetahui (mempelajari) perilaku dan kebiasaan orangutan seperti misalnya orangutan membuat sarang setiap harinya, DNA Orangutan mendekati manusia (96,4 % DNA orangutan sama dengan manusia).
  7. Peneliti juga menggunakan teknik ketika mereka melakukan, mengenal, pendekatan kepada dalam meneliti orangutan dan saat penelitian mereka (peneliti) menggunakan teknologi misalnya Ipad untuk menggantikan kertas yang rentan basah saat hujan.

Mengapa peneliti sangat penting untuk menyampaikannya kepada peserta para siswa-siswi di sekolah karena bisa menjadi ilmu pengetahuan bagi siswa-siswi di sekolah agar mereka bisa memahami mengapa orangutan menjadi sangat penting untuk diteliti.

5.jpg

Berfoto bersama setelah kegiatan sosialisasi  selesai di SMAN 3 Simpang Hilir, Kayong Utara. Foto dok : Yayasan Palung

Pada kesempatan pertama sosialisasi (6/11/2018) di SMAN 3 Simpang Hilir, Kayong Utara, dihadiri sekitar 48 orang siswa-siswi dari sekolah tersebut. Sedangkan di SMAN 1 Simpang Matan Hilir Utara, Ketapang dihadiri 50 orang siswa-siswi dan di SMAN 3 Sukadana, dihadiri 40 orang siswa-siswi.

Kegiatan tersebut berjalan sesuai rencana dan mendapat sambutan baik dari pihak sekolah.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

PPO 2018, Ajakan Kepada Semua Pihak untuk Peduli Lingkungan dan Perlindungan Orangutan

WhatsApp Image 2018-11-22 at 11.40.44

Yayasan Palung Memperingati Pekan Peduli Orangutan 2018 Sekaligus melakukan Ekspedisi Pendidikan Lingkungan ke Sekolah-sekolah di Jelai Hulu. Foto Dok : Yayasan Palung

Serangkaian kegiatan Pekan Peduli Orangutan (PPO) 2018 telah dilakukan oleh Yayasan Palung dengan para pihak (Para Relawan; Relawan Tajam dan REBONK, penerima beasiswa orangutan kalimantan dan dengan lembaga atau pun juga pihak sekolah) selama sepekan di bebapa tempat sejak tanggal 12-17 November 2017, pekan lalu.

Tidak hanya seru, tetapi juga serangkaian kegiatan PPO tahun ini diperingati oleh Yayasan Palung dibeberapa tempat. Kegiatan utama (kegiatan puncak) yang dilakukan oleh Yayasan Palung seperti di Kecamatan Jelai Hulu, pada tanggal 12-17 November 2018 dengan berbagai kegiatan antara lain; wokshop singkat dengan membuat pesan kampanye tentang lingkungan dan membuat bottle planter (membuat pot bunga dari botol plastik bekas) yang dilakukan SMA 1 Jelai Hulu.

WhatsApp Image 2018-11-22 at 11.56.36

Pekan Peduli Orangutan 2018. Foto dok : Yayasan Palung

Workshop  singkat dengan membuat pesan kampanye tentang lingkungan sebagai salah satu cara untuk menggugah kepedulian terhadap nasib lingkungan dan perlindungan orangutan. Sama halnya dengan kegiatan bottle planter sebagai salah satu ajakan untuk peduli lingkungan, lebih khusus botol plastik bekas yang sejatinya bisa dimanfaatkan menjadi barang yang berguna jika dikreasikan menjadi sesuatu seperti dijadikan pot bunga yang bisa menjadi hiasan dan dipajang di sekolah.

Untuk melihat lebih banyak foto PPO 2018 

Sedangkan Relawan REBONK Yayasan Palung di Sukadana, pada tanggal 18 November 2018, memperingati Pekan Peduli Orangutan dengan melakukan penanaman pohon bersama dengan Sispala TAPAL (SMKN 1 Simpang Hilir), setidaknya 20 orang yang ikut ambil bagian melakukan penanaman pohon tersebut. Penanam pohon buah dan bakti sosial (mengambil sampah) yang berlokasi halaman SMAN 2 Sukadana.

Setelah selesai penanaman dan baksos, saat menjelang siang  mereka kembali ke bentangor untuk melanjutkan kegiatan diskusi pengelolaan sampah non organik yang lebih tepatnya sampah plastik.  Selanjutnya sampah plastik tersebut dijadikan sebagai bata ringan (eco-brick) yang di sampaikan oleh Egi Iskandar dan Aggi Saputra (Relawan REBONK), dia menyampaikan bagaimana menggelola sampah plastik yang baik, seuatu yang sederhana namun punya manfaat positif. Beberapa plastik bekas dibersihkan dan kemudian di gunting kecil-kecil, selanjutnya dimasukan kedalam botol platik yang sudah bersih, kemudian plastik yang sudah dimasukan harus di pres menggunak tongkat kayu yang berfungsi untuk memadatkan dan tidak adanya ruang udara di dalam botol platik tersebut. Kita semua tau bahwa jika di bakar akan menimbulkan dampak negatif pada polusi udada, namun jika di biarkan begitu saja juga akan sulit terurai sehingga menjadi tumpukan yang sangat tidak enak di pandang oleh mata manusia. Dibuatnya eco-brick dengan maksud bisa dimanfaatkan sebagai bata ringan yang bisa dijadikan kursi, meja dan hiasan.

Pada kesempatan Pekan Peduli Orangutan 2018, di Pontianak, para pihak ikut bersama memperingati PPO, misalnya dengan melakukan aksi pesan kampanye, aksi teatrikal dan musik akustik yang dilakukan oleh Para Penerima Beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan BOCS di Taman Digulis Universitas Tanjungpura bersama dengan  Pongo Ranger Community (Relawan dari Yayasan IAR Indonesia) dan Yayasan Titian, Sabtu (17/11/2018), pekan lalu. Selain itu juga mereka melakukan pemutaran film dan diskusi tentang film Asimetris di Aboretum Sylva PC UNTAN.

Kegiatan lainnya dilakukan oleh Relawan Konservasi Taruna Penjaga Alam (RK-TAJAM) dan Yayasan Palung, mereka membuat film pendek tentang lingkungan dan orangutan. Selain itu juga, pada 21 November 2018, mereka membuat kreasi barang bekas untuk tong sampah dari kreasi bekas-bekas Kaleng cat plastik selanjutnya mereka kreasikan dan mereka cat bersama guru dan  siswa-siswi SDN 12 Delta Pawan. Selanjutnya tong-tong sampah tersebut dipasang di SDN 12 Delta Pawan. Kaleng cat plastik tersebut merupakan sumbangsih dari Putra Ranadiwangsa.

Mariamah Achmad, Manager Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung, mengatakan,  “Bagi pelajar yang ingin berbuat nyata untuk perlindungan orangutan, menanami pohon pakan orangutan di hutan mungkin belum sanggup, melarang orang dewasa berburu satwa liar di hutan mungkin tidak didengar, membuat kebijakan perlindungan orangutan dan habitat belum punya wewenang. Nah yang bisa dilakukan oleh para pelajar untuk memaknai nilai penting orangutan untuk menghindari kepunahan sesuai dengan tema PPO 2018 adalah melakukan hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari dan yang bisa dilakukan dalam kapasitas mereka,  misal kreasi barang bekas”.

Selanjutnya juga Mayi, demikian ia biasa disapa mengatakan, Yayasan Palung memfasilitasi hal tersebut dalam PPO 2018 ini dengan melakukan dua workshop, yakni membuat pot bunga dari bekas botol air mineral dan membuat pesan kampanye perlindungan orangutan untuk disebarkan melalui media sosial. Aksi ini dapat dimaknai sebagai sumbangsih para pelajar bagi upaya perlindungan lingkungan dan alam yang lebih besar.

Sedangkan Direktur Yayasan Palung, Terri Lee Breeden mengatakan, “Setiap tahun Yayasan Palung merayakan Pekan Peduli Orangutan. Tujuan acara ini adalah untuk meningkatkan kesadaran di seluruh dunia tentang penderitaan orangutan. Tema tahun ini adalah ‘Memaknai Nilai Penting Orangutan untuk Menghindari Kepunahan’, Karena penghancuran hutan hujan Indonesia, populasi orangutan menurun drastis. Kami telah kehilangan lebih dari 50% populasi mereka dalam beberapa dekade. Kerusakan ini terutama disebabkan oleh ekspansi cepat perkebunan kelapa sawit dan pertambangan di seluruh bentang alam”.

Lebih lanjut menurut Terri, beberapa langkah perlu dilakukan, kita perlu membuat pilihan yang berkelanjutan tentang bagaimana kita mengubah lanskap (bentang alam). Kerusakan ini memungkinkan orang kaya untuk menjadi lebih kaya, tetapi masyarakat lokal sering dibiarkan dengan dampak lingkungan yang merusak termasuk kualitas air yang buruk, banjir ekstrim, dan kebakaran. Kami membutuhkan komunitas-komunitas ini untuk mengadvokasi pengelolaan lanskap berkelanjutan yang akan bermanfaat bagi perusahaan, masyarakat dan orangutan yang menyebut Indonesia sebagai rumah.

Selain kegiatan PPO 2018, Yayasan Palung berkesempatan untuk berkunjung ke sekolah-sekolah di Kecamatan Jelai Hulu, seperti di SDN 1 dan SDN 17 di Kecamatan Jelai hulu, SDN 3 dan SDN 5 di Desa Tanggerang, Kec. Jelai Hulu. Beberapa kegiatan kami lakukan adalah puppet show (panggung boneka) terkait satwa dilindungi terutama orangutan. Selain itu juga kami melakukan diskusi dengan masyarakat terkait informasi kekinian yang ada di desa mereka sekaligus sosialisasi tentang perlindungan dan satwa-sawa dilindungi dan pemutaran film lingkungan.

Serangkaian kegian Pekan Peduli Orangutan 2018 berjalan sesuai rencana dan mendapat sambutan baik dari masyarakat dan pihak sekolah. Berharap, dengan diadakan kegiatan PPO 2018 dengan ragam kegiatan tersebut bisa menggugah masyarakat, pihak sekolah untuk semakin peduli lagi terhadap nasib lingkungan hidup dan orangutan.

Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di Tribun Pontianak :
http://pontianak.tribunnews.com/2018/11/23/ppo-2018-ajakan-kepada-semua-pihak-untuk-peduli-lingkungan-dan-perlindungan-orangutan.

 

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Berikut Ini Daftar Tumbuhan dan Satwa di Indonesia yang Dilindungi

 

 

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Keterangan  Foto: Enggang dan Orangutan merupakan satwa yang Sangat Terancam  di habitatnya (hutan). Foto dok. Yayasan Palung

Sebanyak 1.771 jenis burung di dunia diketahui berada di Indonesia, bahkan 562 jenis di antaranya berstatus dilindungi. Status ini ditetapkan berdasarkan Peraturan Menteri LHK No. P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018, tentang Jenis Tumbuhan Satwa yang Dilindungi, yang terbit pada tanggal 29 Juni 2018.

Selain jenis burung, dalam peraturan tersebut juga tercantum jenis lain yang dilindungi, yaitu 137 jenis mamalia, 37 jenis reptil, 26 jenis insekta, 20 jenis ikan, 127 jenis tumbuhan, 9 jenis dari krustasea, moluska dan xiphosura, serta satu jenis amfibi, sehingga total ada 919 jenis.

Berikut daftar nama satwa yang dilindungi oleh Undang-Undang, Baca dan klik di : Daftar-Satwa-dan-Tumbuhan-Dilindungi-P20-2018

Selain itu, ada juga 10 Satwa yang terancam punah yang ada di Indonesia,

Berikut nama 10 satwa tersebut :

  1. Orangutan Kalimantan dan Sumatera

Orangutan merupakan salah satu bangsa kera yang sangat mirip dengan manusia. Di seluruh dunia, jumlah orangutan terus berkurang. Hingga saat ini, hanya tersisa sekitar 55 ribu individu saja. Banyak di antaranya yang hidup di pulau Kalimantan dan 200 lainnya di Sumatera.

Jumlah orangutan yang terus menurun diakibatkan populasi mereka yang membutuhkan hutan lebat. Tak hanya itu, habitat mereka direbut oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab untuk pembukaan lahan paksa.

  1. Komodo  di Pulau Komodo

Pada tahun 2017, jumlah spesies kadal raksasa ini hanya sekitar 3.012 ekor saja. Angka ini sudah termasuk peningkatan dari jumlah di tahun-tahun sebelumnya. Karena kelangkaannya, pemerintah menjadikan pulau Komodo di Nusa Tenggara Timur menjadi taman nasional dan habitat asli komodo.Salah satu yang membuat komodo sulit berkembang biak adalah proses perkawinan mereka.

  1. Penyu

Ada 7 spesies penyu, 6 spesies penyu diantanya hidup di Indonesia. Karena banyaknya spesies penyu yang berhasil hidup di Indonesia, pemerintah juga melindungi hewan ini dengan membuatkan penangkaran di berbagai daerah. Di antaranya adalah di pulau Tanjung Benoa-Bali, Kepulauan Seribu, dan Lombok.

Untungnya, masyarakat di Indonesia percaya bahwa penyu merupakan hewan pembawa keberuntungan. Sehingga, mereka juga banyak membantu dalam pemeliharaan penyu.

      4.Tarsius tarsier

Tarsius tarsier, primata langka yang hidup di Sulawesi dan Kalimantan. Primata ini memiliki ciri bertubuh kecil berwarna cokelat dengan mata besar, dan senang bergelantungan di ranting pohon mirip seperti koala. Tarsius tidak bisa menjejakkan kakinya di tanah, karena dia terus melompat dari satu pohon ke pohon yang lain.

Aksi pembukaan lahan hutan secara ilegal membuat populasi hewan ini makin berkurang. Alhasil, pemerintah menjadikan hewan kecil ini dilindungi. Tarsius dapat dijumpai di hutan-hutan yang ada di Sulawesi.

  1. Harimau Sumatera

Harimau Sumatera diperkirakan punah pada 2050. Paling mengkhawatirkan karena terancam punah, jumlah sub spesies harimau Sumatera hanya sekitar 300-400 saja yang hidup di alam bebas. Banyaknya pembukaan lahan kelapa sawit secara ilegal membuat habitat harimau terganggu. Bahkan, populasinya diperkirakan akan musnah pada 2050 jika dibiarkan.

  1. Badak Bercula Satu

Badak bercula satu merupakan satu dari lima spesies badak yang masih hidup di dunia. Di pulau Jawa, hewan ini hanya dapat ditemui di Taman Nasional Badak daerah Ujung Kulon, Banten. Karena dulunya banyak yang memburu culanya, jumlah spesies badak ini terus menurun. Kini hanya tersisa 50-60 ekor saja.

  1. Burung Cenderawasih

Burung cenderawasih, satwa kebanggaan khas Papua. Meski telah banyak dikirim keberbagai negara, keempat jenis burung cendrawasih hanya dapat ditemukan di Papua. Wisata pemantauan burung cendrawasih dapat dikunjungi pada Isio, Jalan Korea, dan Gantebang yang berada di distrik Nimbokrang, Kabupaten Jayapura.

  1. Anoa

Di Sulawesi, kamu bisa melihat Anoa, banteng terkecil di dunia. Anoa juga memiliki nama julukan yang diberikan masyarakat sekitar, yakni sapiutan. Artinya sapi yang hidup di hutan. Karena masih satu family dengan banteng, kecepatan berlarinya mencapai 10 km/jam.

Anoa memiliki sepasang tanduk yang menyerupai banteng. Hanya saja, ukuran anoa jauh lebih kecil dibandingkan banteng pada umumnya. Sayangnya, banyak pihak yang tak bertanggung jawab memburu hewan ini untuk dikonsumsi.

Kini, populasi anoa di Sulawesi hanya tersisa sekitar 2.469 ekor saja. Hal ini membuat anoa menjadi salah satu satwa yang dilindingi pemerintah Indonesia. Ada pun habitat hidupnya di hutan yang masih perawan, yakni di daerah Gunung Ambang.

  1. Burung Maleo

Spesies burung maleo hidup di dataran rendah dan perbukitan Sulawesi. Maleo senkawor masih sering dijumpai di daerah Gorontalo. Namun, jumlahnya tidak banyak, hanya sekitar 10.000 ekor saja. Menurunnya populasi maleo dikarenakan ukuran telurnya yang sangat besar, yakni 5 kalinya dibanding telur ayam.

Hal ini membuat banyak yang tertarik untuk mengambilnya. Untungnya, setelah dinobatkan menjadi satwa yang dilindungi, populasi burung ini mulai meningkat secara perlahan.

  1. Corak merak

Corak merak yang colorful  hanya ada di Jawa dan Sumatera. Merak memang dapat ditemui di Malaysia dan India. Hanya saja, ada yang berbeda dengan merak di Jawa dan Sumatera. Mereka memiliki bulu yang lebih berwarna dan sedap dipandang.  Di beberapa negara, merak hanya memiliki satu corak saja, seperti biru atau hijau. Sedangkan di Indonesia, coraknya lebih beragam, salah satunya merak putih.

Meski bukan pejabat pemerintahan, kita sebagai warga negara yang baik harus turut serta menjaga habitat dan ekosistem mereka dengan baik. Jangan sampai mereka punah di tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab.

“Terdapat penambahan daftar jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi dalam P.20/2018, yaitu sebanyak 241 jenis atau 26 persen dari daftar yang tercantum dalam lampiran Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 1999 (PP.7/1999), tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa,” jelas Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Wiratno dalam keterangan tertulis, Selasa (7/8/2018).

Masyarakat dapat menghubungi Call Center Direktorat KKH Gedung Manggala Wanabhakti Blok VII Lantai 7 Jalan Jenderal Gatot Subroto, Jakarta (telepon: 081315003113).

Tulisan diolah dari berbagai sumber

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Pekan Peduli Orangutan 2018, Memaknai Nilai Penting Orangutan untuk Menghindari Kepunahan

Orangutan Caring Week atau Pekan Peduli Orangutan 2018.jpg_1

Orangutan Caring Week atau Pekan Peduli Orangutan 2018.

Setiap tahun, pada tanggal 11-17 Nopember, warga dunia yang peduli pada pelestarian orangutan selalu menggelar rangkaian kegiatan Pekan Peduli Orangutan (PPO). Kegiatan ini dimaksudkan untuk terus mengingatkan kepada khalayak bahwa keberadaan satwa langka ini di alam liar harus terus diberikan perlindungan, Yayasan Palung rencananya juga akan memperingatinya pada  12 – 17 Nopember 2018, pekan depan.

Banyak faktor yang menyebabkan orangutan sangat terancam punah, tidak terkecuali luasan lahan yang semakin menyempit sebagai ekosistem dan keberlanjutan nafas hidup mereka. Selain juga terkait penegakan hukum yang masih lemah terhadap pelaku pelanggaran UU No. 5 Tahun 1990, tentang Keanekaragaman Hayati dan Ekosistem dan peraturan perundangan lainnya yang terkait dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya konservasi alam yang masih dalam tataran normatif belum banyak yang sampai kepada aksi nyata.

Yayasan Palung bersama banyak lembaga dan warga dunia pada tahun 2018 memperingati Pekan Peduli Orangutan dengan mengangkat tema: “Valuing Orangutans over Profits to Avoid Extinction” (Memaknai Nilai Penting Orangutan untuk Menghindari Kepunahan).

Lembaga-lembaga yang merayakan OCW atau PPO 2018

Lembaga-lembaga yang merayakan OCW atau PPO 2018. Foto dok. #OCW2018

Adapun rangkaian kegiatan untuk memperingati Pekan Peduli Orangutan tahun 2018, Yayasan Palung akan mengadakan serangkain kegiatan yang akan dilakukan di SMAN 1 Jelai Hulu, serangkaian kegiatan yang rencananya akan dilakukan seperti aksi kecil untuk pelestarian satwa kebanggaan Indonesia ini, dengan harapan walaupun kecil mudah-mudahan berdampak besar pada ingatan siswa dan semua yang terlibat.

Kegiatan ini (PPO 2018) rencananya akan dilakukan secara bersama antara staf Yayasan Palung, guru dan siswa SMAN 1 Jelai Hulu antara lain adalah Workshop Membuat “Bottle Planter”, dan Workshop Membuat Pesan Kampanye Perlindungan Orangutan Kalimantan, kegiatan tersebut akan diselenggarakan oleh Yayasan Palung di Jelai Hulu.

Selain itu juga, serangkaian kegian lainnya di sela-sela PPO 2018, kami juga akan melakukan serangkaian kegiatan seperti  berkunjung ke sekolah-sekolah untuk berbagi informasi terkait lingkungan. Selain itu, diadakan pemutaran film lingkungan diskusi bersama masyarakat kait isu-isu kekinian yang ada di wilayah yang kami kunjungi tersebut.

Mengingat, mengapa kita semua (semua pihak) perlu dan penting untuk menjaga dan melindungi satwa seperti orangutan, diantaranya adalah; Pertama, Populasi satwa di alam liar semakin tahun kian menurun akibat dari tekanan aktivitas manusia seperti perambahan hutan, penebangan kayu, pembukaan daerah pertanian dan masifnya pembukaan lahan untuk perkebunan sawit skala besar, hutan tanaman industri dan pertambangan.

Hal lainnya lagi diperparah oleh adanya perburuan satwa untuk diperdagangkan bagian-bagian tubuhnya, dipelihara atau pun juga bahkan ada yang dimakan. Selanjutnya juga, keberadaan satwa liar seperti orangutan di hutan, dapat membantu meregenerasi hutan sehingga tercipta kesinambungan manfaat hutan bagi kehidupan manusia.

Selain itu, satwa yang ada di Indonesia merupakakan kekayaan flora dan fauna Indonesia yang tidak ternilai harganya. Keberadaan satwa liar menjadi kekayaan alam Indonesia yang keberadaannya menjadi sumber pengetahuan dan ispirasi serta kebanggaan bangsa Indonesia.

Keberagaman keanekaraman hayati yang terdapat di wilayah Indonesia tidak terkecuali satwa menjadi dasar kuat yang harus terus menerus untuk dilindungi, dijaga, dan dilestarikan. Bukan malah mengorbankannya dengan merelakan mereka malang, miris, menangis, atau pun membiarkan mereka mati terbunuh sia-sia, sengaja atau pun tak sengaja atau pula bahkan hilang regenerasi (punah) dimakan zaman.

Foto-foto dari serangkaian kegiatan dan foto para siswa yang melaksanakan kegiatan PPO 2018 juga akan diunggah ke media sosial, baik secara individu oleh siswa maupun oleh Yayasan Palung dengan menyertakan hastag/tagar #OrangutanCaringWeek2018 #yayasanpalung #SMAN1JelaiHulu #GoGreen #GreenCraft #JelaiHulu4Orangutans #OrangutanKalimantan sehingga aksi peringatan PPO ini tersebar secara luas, dan terkumpul informasinya dengan warga dunia yang melakukan aksi yang sama di belahan dunia yang lain /secara global.

Beberapa rangkaian kegian yang dilakukan ini, setidaknya sebagai bentuk penyadartahuan kepada pihak sekolah dan masyarakat luas terkait perlunya semua pihak untuk peduli sejak dini terhadap keberlanjutan nasib hidup dan terhindar dari kepunahan.

Dengan cara-cara sederhana berhrap orangutan dapat lestari dan diselamatkan dari ancaman kepunahan. Berharap pula, semoga rangkaian kegiatan Pekan Peduli Orangutan (PPO) 2018 yang akan diadakan di Jelai Hulu dapat berjalan sesuai rencana.

Tulisan ini juga dimuat di : Tribun Pontianak 

dan Kompasiana.com

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Survei Bentang Alam Daya Dukung Daya Tampung Kabupaten Kayong Utara di 8 Desa

 

IMG_20181029_153502

Saat tim survei (Perkim LH, Bapeda KKU dan YP melakukan Ground Check di lokasi. Foto dok : Yayasan Palung

Untuk membantu menyelesaikan draft akhir kajian DDDT Kabupaten Kayong Utara 2018, Yayasan Palung dan Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (PerkimLH) Kabupaten Kayong Utara melakukan Ground Check (survei lapangan) di 8 lokasi desa, yang dilaksanakan selama 3 hari (29 – 31 Oktober 2018) kemarin.

IMG_20181029_153610

Saat tim survei (Perkim LH, Bapeda KKU dan YP melakukan Ground Check di lokasi. Foto 2 dok : Yayasan Palung

Bersama Tim DDDT KKU yang lain (Dinas LH, Pihak Konsultan dan Bapeda KKU). Lokasi survei ada 8 lokasi di Kecamatan Seponti, Simpang Hilir, Sukadana dan Teluk Batang. Kajian Daya Dukung dan Daya Tampung (DDDT) Kabupaten Kayong Utara 2018. DDDT ini merupakan salah satu bagian dari strategi Yayasan Palung (YP) untuk bekerjasama dan mendukung langsung Pemerintah Daerah KKU dalam menjalankan rencana pembangunan daerah yang searah dengan visi dan misi  Yayasan Palung.

Hal ini dibuktikan dalam draft dokumen akhir DDDT ini, Yayasan Palung berperan menjadi sumber data untuk mengisi poin keanekaragaman hayati dan memperlihatkan langsung sebaran orangutan yang ada diluar kawasan.

Disamping itu, Yayasan Palung juga akan berperan dalam penguatan peran komunitas atau masyarakat untuk analisis jasa pangan dan jasa lingkungan di Kabupaten Kayong Utara. Inilah yang kemudian yang saya sebut sebagai strategi dalam mendorong kebijakan pemerintah yang pro dan tepat sasaran terhadap konservasi orangutan dan masyarakat setempat.

IMG_20181030_144636

Saat tim survei (Perkim LH, Bapeda KKU dan YP melakukan Ground Check di lokasi. Foto 3 dok : Yayasan Palung

Dokumen DDDT ini menjadi salah satu dokumen strategis pemerintah daerah untuk menentukan RPJMD/ Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah selama per 5 tahun. Sederhananya, apabila konservasi orangutan dan habitatnya masuk dalam Dokumen DDDT maka secara hukum, RPJMD wajib menyusun rencana pembangunan yang tidak melanggar acuan DDDT karena pelanggaran tersebut akan masuk dalam kategori korupsi.

Dengan demikian, maka DDDT akan mendorong pemerintah daerah untuk menerapkan pembangunan yang berkelanjutan/SDG’s (Sustainable Development Goals), karena nasib orangutan dan masyarakat lokal secara langsung ada ditangan pemerintah daerah, bukan pemerintah pusat.

Penulis : Wendy F. Tamariska dan Syahik Nur Bani- Yayasan Palung